NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Toshiue Osananajimi to Saikai Shitara ~ Shimai de Ore no Toriai ga Hajimatta. Docchi ga Iika ~ Tameshite Miru? Volume 1 Chapter 7

Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Chapter 7

Onigiri yang Bentuknya Aneh, dan Tamagoyaki yang Terlalu Asin


──Kiiiin kooon kaaan kooon──

 

Ah, ngantuk. Ngantuk banget…

 

Semalam aku main game terus-terusan sama Morishita.

 

Aku baru benar-benar tidur jam empat pagi.

 

Ini mah sudah bisa dibilang pagi, kan…

 

Sambil mengucek mata yang berat, aku duduk di aula mendengarkan pidato panjang kepala sekolah.

 

"Di semester baru ini, kemungkinan kalian terbentang tanpa batas. Usaha, tantangan, dan hati yang kuat yang tidak mudah menyerah──"

 

(Ah… liburan benar-benar sudah selesai ya…)

 

Benar. Hari ini adalah upacara pembukaan semester. Akhirnya, semester baru dimulai.

 

Pengen cepat pulang dan tidur…

 

Dengan pikiran seperti itu, begitu sampai di kelas aku langsung menjatuhkan diri di atas meja.

 

Siswa lain kelihatan ribut dan bersemangat.

 

Wajar saja, setelah liburan musim panas bakal ada festival olahraga dan festival budaya—banyak acara menanti.

 

Tapi… buat aku yang pola hidupnya sudah berantakan total, semangat semester baru itu sama sekali tidak terasa.

 

Ini hari upacara pembukaan, tapi kenapa langsung pelajaran biasa dari awal sih. Anehnya, di hari-hari super ngantuk seperti ini, waktu terasa berjalan lebih lambat.

 

Jam pertama, jam kedua, jam ketiga berlalu pelan-pelan, dan akhirnya aku sedang mengikuti pelajaran jam keempat.

 

"Ah, tinggal 30 menit… sedikit lagi bertahan…"

 

◆◇◆

 

Dan akhirnya—waktu istirahat makan siang.

 

Jujur saja, aku hampir tidak ingat apa-apa sampai titik ini.

 

Bukan berarti aku tidur… tapi kalau ditanya apa aku ingat isi pelajarannya, rasanya tidak yakin.

 

Malam ini aku harus benar-benar membenahi ritme hidupku…

 

Grrrr…

 

(Sial… lapar sih lapar, tapi ngantuknya parah banget sampai tidak bisa bergerak… rasanya mustahil bisa sampai ke kantin… pejamkan mata sebentar saja kali ya…)

 

Begitu terpikir begitu, aku langsung menyerah soal makan siang dan memutuskan tidur.

 

Tak lama kemudian, ada seseorang yang memanggil namaku.

 

"Shintarou…"

 

…Hm? Apa tadi? Rasanya ada yang memanggil.

 

Tapi aku terlalu mengantuk… kepala melayang dan mata tidak mau terbuka…Mungkin cuma perasaanku saja.

 

Tidur sedikit lagi lah…

 

"Hei, Shintarou!"

 

Sambil menggoyang-goyangkan tubuhku, dia memanggil lagi.

 

"Hmm… apaan sih?"

 

Saat aku mengangkat kepala, di sana ada Miu.

 

Sambil berkata "nih!", dia menyodorkan secarik kertas kecil—seperti sobekan dari pinggir buku catatan.

 

Miu menaruh jarinya di depan mulut, ekspresinya jelas-jelas menyuruh diam, lalu memberi isyarat supaya aku segera membaca kertas itu.

 

Di situ tertulis: Keluar kelas 5 menit lagi, datang ke atap. Pokoknya.

 

Kenapa harus repot-repot nulis begini sih? Padahal bilang langsung juga bisa…

 

Sambil mikir begitu, aku tetap memutuskan menuruti kata-katanya. Kalau dibiarkan, sudah jelas nanti aku bakal dimarahi.

 

Padahal rencanaku adalah menghabiskan jam istirahat dengan tidur, tapi karena ada urusan mendadak, aku mengangkat tubuh yang berat ini dan keluar kelas tepat lima menit kemudian.

 

"Haa… aku lagi ngantuk begini lho… haduh…"

 

Sambil menggerutu, aku sendiri heran kenapa aku selalu nurut kalau Miu yang minta.

 

Eh… rasanya kejadian seperti ini pernah terjadi juga dulu… ah, mungkin cuma perasaanku.

 

Begitu sampai di atap, aku langsung mencari sosok Miu.

 

(Ada apa sih sebenarnya? Ngomong-ngomong, ini mungkin pertama kalinya aku ke atap… kok kayak masa muda banget ya)

 

"Hei, Miu. Aku datang nih—hei, Miu—"

 

Akhirnya dia menyadari kehadiranku. Dari balik sudut, Miu menampakkan wajahnya dan melambai-lambaikan tangan, menyuruhku mendekat. Di tangannya ada tas gantung.

 

Sepertinya dia ada di sisi yang berlawanan dari pintu.

 

"Ah, datang juga! Cuma Shintarou saja?"

 

"Iya, tentu."

 

"Syukurlah♪ Operasi berhasil~♪"

 

…?? Kok kelihatan senang banget. Jarang-jarang lihat dia begini.

 

"Ta-daa! Selamat datang di lokasi makan siang Miu-chan~♪"

 

"Hah? Apaan ini!?"

 

Di sana terbentang alas piknik kecil yang lucu, dan dua kotak bento dengan ukuran pas. Bahkan ada sebotol teh untukku. Benar-benar lengkap—seperti piknik… atau lebih tepatnya, acara makan siang.

 

"Keren banget! Ini kejutan ya…?"

 

"Iya♪ Gimana? Kaget kan?"

 

"Iya… dipanggil ke atap kupikir ada apa, tidak nyangka bakal acara makan siang!"

 

"Acara makan siang apaan, tidak imut tau… bilangnya kencan makan siang dong!! Lagian, jangan cuma berdiri, cepat duduk."

 

"I-izin duduk… eh!? Itu bekal ya… buat aku?"

 

"Ya jelas dong!! Emangnya ada siapa lagi di sini!?"

 

"Serius!? Senang banget! Kebetulan aku lapar parah…"

 

"Hehe♪ Aku tahu kau biasanya makan di kantin, jadi kalau tidak cepat kupanggil, pasti keburu ke sana. Tadi maaf ya, agak terburu-buru."

 

"Tapi kenapa harus ngasih tahu diam-diam pakai kertas begitu…?"

 

"E-eto… itu karena…… aku mau berdua saja sama kamu."

 

"Maksudnya?"

 

"Soalnya… Morishita-kun kan selalu nempel di sampingmu."

 

"Oh… jadi itu sebabnya kau nulis di kertas dan tidak bilang ke siapa pun…"

 

"Ya begitu."

 

Sambil menunduk, Miu menggenggam kotak bekalnya erat-erat. Kelihatan agak malu.

 

"Bekal ini… apa Momo-nee yang bikinin, termasuk punyaku…?"

 

"B-bukan! …Aku yang bikin…!"

 

"Hah, serius!? Kamu… bisa masak…!?"

 

Aku refleks menjawab dengan ekspresi kaget setengah kaku. Soalnya sejak aku lahir sampai sekarang, aku tidak pernah sekalipun melihat Miu memasak.

 

"Susah dipercaya… kau yang masak…"

 

Terdengar bunyi "tch" seperti decakan lidah, dan seolah-olah ada percikan api.

 

"Denger ya! Dari tadi aku diam saja dengar omonganmu… ini aku buat susah payah demi kamu, tahu nggak sih!!"

 

"Hiii!!"

 

Dengan sedikit gemetar, aku menerima kotak bekal yang disodorkan.

 

Ternyata cukup berat. Isinya apa ya… entah kenapa aku jadi agak berdebar.

 

"Aku bikin banyak lho? Semoga cocok di lidahmu… ah! Aku sendiri jadi deg-degan!"

 

Sambil berkata begitu, Miu menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

 

Oh begitu… jadi dia bangun pagi-pagi dan masak ini… dan banyak lagi…? Padahal bekal buatan tangan saja sudah repot, dari beratnya kelihatan jelas jumlah lauknya juga tidak sedikit.

 

(Terima kasih, Miu… ternyata kau punya sisi imut juga ya…)

 

Mataku sampai terasa panas.

 

"Kalau begitu… boleh kubuka?"

 

"Silakan♪"

 

"Baiklah… permisi."

 

──── Pak.

 

"…Hm?"

 

Pemandangan di dalam kotak bekal itu… agak berbeda dari yang kubayangkan.

 

"Ini… luar biasa… bekalnya unik sekali…"

 

"Ya kan~♪! Aku semangat bikinnya~♪ Hehe♪"

 

Ukuran kotak bentonya sekitar 15 cm…

 

Di dalam kotak persegi itu, penuh sesak onigiri yang bentuknya agak aneh, dan tamagoyaki dengan penampilan yang terlihat seperti baru pertama kali dibuat. Hanya dua itu saja.

 

Sepertinya rasa berat tadi jelas berasal dari nasi. Sampai-sampai aku hampir mengira ini buatanku sendiri—benar-benar masakan ala lelaki.

 

Tentu saja aku tidak mungkin mengucapkan itu. Yang paling penting, aku harus berterima kasih karena dia sudah repot-repot membuatkannya untukku.

 

Lagipula, masakan itu bukan soal tampilan, tapi rasa!!

 

"Ah, aku lapar banget! Langsung… boleh kumakan?"

 

"Ah! Tunggu!!"

 

Sambil berkata begitu, dia merebut sumpit dari tanganku.

 

"Nih♡ Beginian itu harus disuapi, kan?♪"

 

"Hah!? Serius!?"

 

"Ngapain malu. Cuma segini doang. Ayo, a—n♡"

 

Dia menjepit tamagoyaki dengan sumpit, lalu perlahan membawanya ke dekat mulutku.

 

Uuh… serius… disuapi Miu itu agak…

 

"Cepat!!"

 

"I-iya! A-ahn…"

 

── Hap.

 

Hmmm!?

 

Tanpa perlu mengunyah pun aku langsung tahu… di ujung lidah terasa… asin banget…




Uooooooohhhhhhh!!!!

 

Asiiinnnnnn bangettttt!!!!

 

"Gimana♡? Gimana? Enak kan?"

 

Dengan mata berbinar, Miu menunggu pendapat dariku tanpa sabar.

 

Mengatakan bahwa tamagoyaki ini keasinan parah jelas mustahil kulakukan… tapi bukankah mengatakan yang sebenarnya juga bentuk kasih sayang…!?

 

"Hei, kenapa mukamu ditekuk begitu sih~. Dasar! Kalau begitu, aku juga coba satu gigitan…… amu."

 

(Bagaimana…!! Reaksinya bakal gimana…!! Miu!)

 

"……Asiinnn banget!!"

 

Uoooooh! Syukurlah, pendapatnya normal… kalau dia tidak sadar di sini, aku tidak tahu bakal jadi apa…

 

"Kalau sebanyak itu masuknya sekaligus, ya jelas jadi asin… hmm. Memasak memang dalam ilmunya… gnnn."

 

Sepertinya Miu mendapatkan pengalaman dari kegagalan ini. Tapi tetap saja, sebenarnya sebanyak apa garam yang masuk ya? Dan kenapa dia tidak kepikiran untuk membuat ulang…

 

Yah, bukan sampai tidak bisa dimakan sih. Kalau dipikir-pikir, mungkin justru pas jadi lauk onigiri.

 

"Bagus kok, kan ini pertama kalinya kamu masak."

 

"I-iya… tapi tidak usah dipaksakan dimakan juga tidak apa-apa, kan? Kandungan garamnya kelihatan bahaya…"

 

"Tidak, enak kok! Nih! Habis!"

 

Karena memang lapar juga (mungkin), aku menghabiskannya tanpa sisa, bahkan tidak menyisakan satu butir nasi pun.

 

Melihat itu, Miu…

 

"Ahhh! Aku benar-benar suka!! Sisi kamu yang kayak gitu, aku benar-benar suka!"

 

Sambil berkata begitu, dia langsung memelukku erat.

 

"Hei, hei! Berlebihan amat! Panas tahu, jangan nempel-nempel!"

 

"Ah masa~♡ Kamu itu pemalu banget sih, Shintarou♪"

 

"Kamu ini…!"

 

"Haa~ tapi aku benar-benar senang, tahu? Kamu itu selalu memuji masakan Onee-chan. Enak, enak, sampai nambah berkali-kali… jujur saja, aku lihatnya iri banget."

 

"Apa sih itu… (haha)"

 

"Mungkin buat kamu itu tidak penting! Tapi aku juga… ingin dipuji sama kamu."

 

Sambil berkata begitu, Miu menatapku dengan mata berkaca-kaca. Dia masih memelukku, dan entah kenapa, aku seperti bisa merasakan detak jantungnya…

 

Gawat… suasananya mulai jadi aneh…

 

"Miu… sudah waktunya kamu lepas, kan……"

 

Saat aku mencoba melepaskan tangannya—

 

──Gashan!

 

Di atap yang seharusnya kosong, terdengar suara keras pintu besi tertutup.

 

"Apa itu!?"

 

Kami refleks saling menjauh.

 

"Eh… bukannya atap ini tidak boleh dimasuki ya…? Kalau ketahuan sensei, gawat, kan? Aku cek duluan."

 

"Eh… i-iya."

 

Gawat, aku cuma bisa membayangkan masa depan dimarahi…

 

Sambil berpikir begitu, aku perlahan membuka pintu.

 

Dan di balik pintu itu ada……

 

"Whoa! Kaget!"

 

"A-apa yang kamu lakukan di sini…"

 

Yang ada di sana bukan sensei, tapi Morishita. Tapi tetap saja, kenapa kamu yang kaget!?

 

"Ya soalnya, kamu tiba-tiba pergi sendiri, jadi aku ikutin. Eh, tidak nyangka sampai di sini… hehe."

 

"Hah? Jadi dari tadi kamu di sini!?"

 

"Tidak juga. Aku sempat ke kantin makan dulu. Lapar soalnya. Terus balik ke kelas kamu masih tidak ada, jadi aku cari."

 

"H-haah……"

 

Ini anak sebenarnya sayang banget apa sih sama aku.

 

"Ngomong-ngomong, kamu ngapain di tempat begini?"

 

"Ah, itu… tidur siang. Iya, tidur siang."

 

"Pasti! Sudah kuduga! Ya sudah, jam istirahat juga hampir selesai, balik ke kelas yuk?"

 

"Iya… aku ada yang ketinggalan sedikit, kamu duluan saja."

 

"Siap!"

 

Begitu menjawab, Morishita langsung turun tangga dengan penuh semangat.

 

Dasar… tidak ada celah sama sekali.

 

"…Hei."

 

Miu berbisik pelan. Di tangannya ada tas gantung yang cukup besar. Sepertinya saat aku bicara dengan Morishita, dia sudah membereskan semuanya.

 

"Shintarou, tadi kamu kelihatannya ngobrol sama seseorang, itu siapa?"

 

"Oh… Morishita. Tidak ngomong apa-apa kok."

 

"Hmm, begitu. Ya sudah, kita juga balik ke kelas yuk."

 

"Iya… oh ya, bekalnya enak. Terima kasih."

 

"Hehe… sama-sama."

 

"Lain kali buatkan lagi ya."

 

"Eeh~, gimana ya~♪"

 

Miu tersenyum lebar dengan ekspresi jahil.

 

"Anggap saja latihan calon pengantin♪ Aku bikinin lagi, jadi kita kencan makan siang lagi ya~♡"

 

"H-hey, jangan ngomong begitu!"

 

"Kenapa! Ini kan kencan!"

 

"Malu deh, berhenti!"

 

"Kencan♡ Kencan♡"

 

"Aduh, ya sudah deh~!"

 

"Oh iya, akhir pekan ini, kamu ingat kan, kita ke onsen. Jangan bangun kesiangan."

 

"Jelas dong. Kalau waktunya serius, aku juga bisa serius."

 

"Eh, gitu ya~."




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close