Penerjemah: Flykitty
Proofreader: Flykitty
Chapter 7
Onigiri yang Bentuknya Aneh, dan
Tamagoyaki yang Terlalu Asin
──Kiiiin kooon kaaan kooon──
Ah,
ngantuk. Ngantuk banget…
Semalam
aku main game terus-terusan sama Morishita.
Aku
baru benar-benar tidur jam empat pagi.
Ini
mah sudah bisa dibilang pagi, kan…
Sambil
mengucek mata yang berat, aku duduk di aula mendengarkan pidato panjang kepala
sekolah.
"Di
semester baru ini, kemungkinan kalian terbentang tanpa batas. Usaha, tantangan,
dan hati yang kuat yang tidak mudah menyerah──"
(Ah…
liburan benar-benar sudah selesai ya…)
Benar.
Hari ini adalah upacara pembukaan semester. Akhirnya, semester baru dimulai.
Pengen
cepat pulang dan tidur…
Dengan
pikiran seperti itu, begitu sampai di kelas aku langsung menjatuhkan diri di
atas meja.
Siswa
lain kelihatan ribut dan bersemangat.
Wajar
saja, setelah liburan musim panas bakal ada festival olahraga dan festival
budaya—banyak acara menanti.
Tapi…
buat aku yang pola hidupnya sudah berantakan total, semangat semester baru itu
sama sekali tidak terasa.
Ini
hari upacara pembukaan, tapi kenapa langsung pelajaran biasa dari awal sih.
Anehnya, di hari-hari super ngantuk seperti ini, waktu terasa berjalan lebih
lambat.
Jam
pertama, jam kedua, jam ketiga berlalu pelan-pelan, dan akhirnya aku sedang
mengikuti pelajaran jam keempat.
"Ah,
tinggal 30 menit… sedikit lagi bertahan…"
◆◇◆
Dan
akhirnya—waktu istirahat makan siang.
Jujur
saja, aku hampir tidak ingat apa-apa sampai titik ini.
Bukan
berarti aku tidur… tapi kalau ditanya apa aku ingat isi pelajarannya, rasanya
tidak yakin.
Malam
ini aku harus benar-benar membenahi ritme hidupku…
Grrrr…
(Sial…
lapar sih lapar, tapi ngantuknya parah banget sampai tidak bisa bergerak…
rasanya mustahil bisa sampai ke kantin… pejamkan mata sebentar saja kali ya…)
Begitu
terpikir begitu, aku langsung menyerah soal makan siang dan memutuskan tidur.
Tak
lama kemudian, ada seseorang yang memanggil namaku.
"Shintarou…"
…Hm?
Apa tadi? Rasanya ada yang memanggil.
Tapi
aku terlalu mengantuk… kepala melayang dan mata tidak mau terbuka…Mungkin cuma
perasaanku saja.
Tidur
sedikit lagi lah…
"Hei,
Shintarou!"
Sambil
menggoyang-goyangkan tubuhku, dia memanggil lagi.
"Hmm…
apaan sih?"
Saat
aku mengangkat kepala, di sana ada Miu.
Sambil
berkata "nih!", dia menyodorkan secarik kertas kecil—seperti sobekan
dari pinggir buku catatan.
Miu
menaruh jarinya di depan mulut, ekspresinya jelas-jelas menyuruh diam, lalu
memberi isyarat supaya aku segera membaca kertas itu.
Di
situ tertulis: Keluar kelas 5 menit lagi, datang ke atap. Pokoknya.
Kenapa
harus repot-repot nulis begini sih? Padahal bilang langsung juga bisa…
Sambil
mikir begitu, aku tetap memutuskan menuruti kata-katanya. Kalau dibiarkan,
sudah jelas nanti aku bakal dimarahi.
Padahal
rencanaku adalah menghabiskan jam istirahat dengan tidur, tapi karena ada
urusan mendadak, aku mengangkat tubuh yang berat ini dan keluar kelas tepat
lima menit kemudian.
"Haa…
aku lagi ngantuk begini lho… haduh…"
Sambil
menggerutu, aku sendiri heran kenapa aku selalu nurut kalau Miu yang minta.
Eh…
rasanya kejadian seperti ini pernah terjadi juga dulu… ah, mungkin cuma
perasaanku.
Begitu
sampai di atap, aku langsung mencari sosok Miu.
(Ada
apa sih sebenarnya? Ngomong-ngomong, ini mungkin pertama kalinya aku ke atap…
kok kayak masa muda banget ya)
"Hei,
Miu. Aku datang nih—hei, Miu—"
Akhirnya
dia menyadari kehadiranku. Dari balik sudut, Miu menampakkan wajahnya dan
melambai-lambaikan tangan, menyuruhku mendekat. Di tangannya ada tas gantung.
Sepertinya
dia ada di sisi yang berlawanan dari pintu.
"Ah,
datang juga! Cuma Shintarou saja?"
"Iya,
tentu."
"Syukurlah♪
Operasi berhasil~♪"
…??
Kok kelihatan senang banget. Jarang-jarang lihat dia begini.
"Ta-daa!
Selamat datang di lokasi makan siang Miu-chan~♪"
"Hah?
Apaan ini!?"
Di
sana terbentang alas piknik kecil yang lucu, dan dua kotak bento dengan ukuran
pas. Bahkan ada sebotol teh untukku. Benar-benar lengkap—seperti piknik… atau
lebih tepatnya, acara makan siang.
"Keren
banget! Ini kejutan ya…?"
"Iya♪
Gimana? Kaget kan?"
"Iya…
dipanggil ke atap kupikir ada apa, tidak nyangka bakal acara makan siang!"
"Acara
makan siang apaan, tidak imut tau… bilangnya kencan makan siang dong!! Lagian,
jangan cuma berdiri, cepat duduk."
"I-izin
duduk… eh!? Itu bekal ya… buat aku?"
"Ya
jelas dong!! Emangnya ada siapa lagi di sini!?"
"Serius!?
Senang banget! Kebetulan aku lapar parah…"
"Hehe♪
Aku tahu kau biasanya makan di kantin, jadi kalau tidak cepat kupanggil, pasti
keburu ke sana. Tadi maaf ya, agak terburu-buru."
"Tapi
kenapa harus ngasih tahu diam-diam pakai kertas begitu…?"
"E-eto…
itu karena…… aku mau berdua saja sama kamu."
"Maksudnya?"
"Soalnya…
Morishita-kun kan selalu nempel di sampingmu."
"Oh…
jadi itu sebabnya kau nulis di kertas dan tidak bilang ke siapa pun…"
"Ya
begitu."
Sambil
menunduk, Miu menggenggam kotak bekalnya erat-erat. Kelihatan agak malu.
"Bekal
ini… apa Momo-nee yang bikinin, termasuk punyaku…?"
"B-bukan!
…Aku yang bikin…!"
"Hah,
serius!? Kamu… bisa masak…!?"
Aku
refleks menjawab dengan ekspresi kaget setengah kaku. Soalnya sejak aku lahir
sampai sekarang, aku tidak pernah sekalipun melihat Miu memasak.
"Susah
dipercaya… kau yang masak…"
Terdengar
bunyi "tch" seperti decakan lidah, dan seolah-olah ada percikan api.
"Denger
ya! Dari tadi aku diam saja dengar omonganmu… ini aku buat susah payah demi
kamu, tahu nggak sih!!"
"Hiii!!"
Dengan
sedikit gemetar, aku menerima kotak bekal yang disodorkan.
Ternyata
cukup berat. Isinya apa ya… entah kenapa aku jadi agak berdebar.
"Aku
bikin banyak lho? Semoga cocok di lidahmu… ah! Aku sendiri jadi
deg-degan!"
Sambil
berkata begitu, Miu menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Oh
begitu… jadi dia bangun pagi-pagi dan masak ini… dan banyak lagi…? Padahal
bekal buatan tangan saja sudah repot, dari beratnya kelihatan jelas jumlah
lauknya juga tidak sedikit.
(Terima
kasih, Miu… ternyata kau punya sisi imut juga ya…)
Mataku
sampai terasa panas.
"Kalau
begitu… boleh kubuka?"
"Silakan♪"
"Baiklah…
permisi."
────
Pak.
"…Hm?"
Pemandangan
di dalam kotak bekal itu… agak berbeda dari yang kubayangkan.
"Ini…
luar biasa… bekalnya unik sekali…"
"Ya
kan~♪! Aku semangat bikinnya~♪ Hehe♪"
Ukuran
kotak bentonya sekitar 15 cm…
Di
dalam kotak persegi itu, penuh sesak onigiri yang bentuknya agak aneh, dan
tamagoyaki dengan penampilan yang terlihat seperti baru pertama kali dibuat.
Hanya dua itu saja.
Sepertinya
rasa berat tadi jelas berasal dari nasi. Sampai-sampai aku hampir mengira ini
buatanku sendiri—benar-benar masakan ala lelaki.
Tentu
saja aku tidak mungkin mengucapkan itu. Yang paling penting, aku harus
berterima kasih karena dia sudah repot-repot membuatkannya untukku.
Lagipula,
masakan itu bukan soal tampilan, tapi rasa!!
"Ah,
aku lapar banget! Langsung… boleh kumakan?"
"Ah!
Tunggu!!"
Sambil
berkata begitu, dia merebut sumpit dari tanganku.
"Nih♡
Beginian itu harus disuapi, kan?♪"
"Hah!?
Serius!?"
"Ngapain
malu. Cuma segini doang. Ayo, a—n♡"
Dia
menjepit tamagoyaki dengan sumpit, lalu perlahan membawanya ke dekat mulutku.
Uuh…
serius… disuapi Miu itu agak…
"Cepat!!"
"I-iya!
A-ahn…"
──
Hap.
Hmmm!?
Tanpa
perlu mengunyah pun aku langsung tahu… di ujung lidah terasa… asin banget…
Uooooooohhhhhhh!!!!
Asiiinnnnnn
bangettttt!!!!
"Gimana♡?
Gimana? Enak kan?"
Dengan
mata berbinar, Miu menunggu pendapat dariku tanpa sabar.
Mengatakan
bahwa tamagoyaki ini keasinan parah jelas mustahil kulakukan… tapi bukankah
mengatakan yang sebenarnya juga bentuk kasih sayang…!?
"Hei,
kenapa mukamu ditekuk begitu sih~. Dasar! Kalau begitu, aku juga coba satu
gigitan…… amu."
(Bagaimana…!!
Reaksinya bakal gimana…!! Miu!)
"……Asiinnn
banget!!"
Uoooooh!
Syukurlah, pendapatnya normal… kalau dia tidak sadar di sini, aku tidak tahu
bakal jadi apa…
"Kalau
sebanyak itu masuknya sekaligus, ya jelas jadi asin… hmm. Memasak memang dalam
ilmunya… gnnn."
Sepertinya
Miu mendapatkan pengalaman dari kegagalan ini. Tapi tetap saja, sebenarnya
sebanyak apa garam yang masuk ya? Dan kenapa dia tidak kepikiran untuk membuat
ulang…
Yah,
bukan sampai tidak bisa dimakan sih. Kalau dipikir-pikir, mungkin justru pas
jadi lauk onigiri.
"Bagus
kok, kan ini pertama kalinya kamu masak."
"I-iya…
tapi tidak usah dipaksakan dimakan juga tidak apa-apa, kan? Kandungan garamnya
kelihatan bahaya…"
"Tidak,
enak kok! Nih! Habis!"
Karena
memang lapar juga (mungkin), aku menghabiskannya tanpa sisa, bahkan tidak
menyisakan satu butir nasi pun.
Melihat
itu, Miu…
"Ahhh!
Aku benar-benar suka!! Sisi kamu yang kayak gitu, aku benar-benar suka!"
Sambil
berkata begitu, dia langsung memelukku erat.
"Hei,
hei! Berlebihan amat! Panas tahu, jangan nempel-nempel!"
"Ah
masa~♡ Kamu itu pemalu banget sih, Shintarou♪"
"Kamu
ini…!"
"Haa~
tapi aku benar-benar senang, tahu? Kamu itu selalu memuji masakan Onee-chan.
Enak, enak, sampai nambah berkali-kali… jujur saja, aku lihatnya iri
banget."
"Apa
sih itu… (haha)"
"Mungkin
buat kamu itu tidak penting! Tapi aku juga… ingin dipuji sama kamu."
Sambil
berkata begitu, Miu menatapku dengan mata berkaca-kaca. Dia masih memelukku,
dan entah kenapa, aku seperti bisa merasakan detak jantungnya…
Gawat…
suasananya mulai jadi aneh…
"Miu…
sudah waktunya kamu lepas, kan……"
Saat
aku mencoba melepaskan tangannya—
──Gashan!
Di
atap yang seharusnya kosong, terdengar suara keras pintu besi tertutup.
"Apa
itu!?"
Kami
refleks saling menjauh.
"Eh…
bukannya atap ini tidak boleh dimasuki ya…? Kalau ketahuan sensei, gawat, kan?
Aku cek duluan."
"Eh…
i-iya."
Gawat,
aku cuma bisa membayangkan masa depan dimarahi…
Sambil
berpikir begitu, aku perlahan membuka pintu.
Dan
di balik pintu itu ada……
"Whoa!
Kaget!"
"A-apa
yang kamu lakukan di sini…"
Yang
ada di sana bukan sensei, tapi Morishita. Tapi tetap saja, kenapa kamu yang
kaget!?
"Ya
soalnya, kamu tiba-tiba pergi sendiri, jadi aku ikutin. Eh, tidak nyangka
sampai di sini… hehe."
"Hah?
Jadi dari tadi kamu di sini!?"
"Tidak
juga. Aku sempat ke kantin makan dulu. Lapar soalnya. Terus balik ke kelas kamu
masih tidak ada, jadi aku cari."
"H-haah……"
Ini
anak sebenarnya sayang banget apa sih sama aku.
"Ngomong-ngomong,
kamu ngapain di tempat begini?"
"Ah,
itu… tidur siang. Iya, tidur siang."
"Pasti!
Sudah kuduga! Ya sudah, jam istirahat juga hampir selesai, balik ke kelas
yuk?"
"Iya…
aku ada yang ketinggalan sedikit, kamu duluan saja."
"Siap!"
Begitu
menjawab, Morishita langsung turun tangga dengan penuh semangat.
Dasar…
tidak ada celah sama sekali.
"…Hei."
Miu
berbisik pelan. Di tangannya ada tas gantung yang cukup besar. Sepertinya saat
aku bicara dengan Morishita, dia sudah membereskan semuanya.
"Shintarou,
tadi kamu kelihatannya ngobrol sama seseorang, itu siapa?"
"Oh…
Morishita. Tidak ngomong apa-apa kok."
"Hmm,
begitu. Ya sudah, kita juga balik ke kelas yuk."
"Iya…
oh ya, bekalnya enak. Terima kasih."
"Hehe…
sama-sama."
"Lain
kali buatkan lagi ya."
"Eeh~,
gimana ya~♪"
Miu
tersenyum lebar dengan ekspresi jahil.
"Anggap
saja latihan calon pengantin♪ Aku bikinin lagi, jadi kita kencan makan siang
lagi ya~♡"
"H-hey,
jangan ngomong begitu!"
"Kenapa!
Ini kan kencan!"
"Malu
deh, berhenti!"
"Kencan♡
Kencan♡"
"Aduh,
ya sudah deh~!"
"Oh
iya, akhir pekan ini, kamu ingat kan, kita ke onsen. Jangan bangun
kesiangan."
"Jelas
dong. Kalau waktunya serius, aku juga bisa serius."
"Eh,
gitu ya~."



Post a Comment