Chapter 3
Reiko-chan Edisi Terbatas Liburan Musim Panas
"Pak Hifuno,
terima kasih atas kerja keras Bapak selama ini! Ini ada pesan-pesan
kenang-kenangan dari teman-teman sekelas."
"Terima
kasih banyak. Meski singkat, saya juga merasa senang bisa menghabiskan waktu
bersama kalian semua."
Saat jam wali
kelas sepulang sekolah.
Tuan Hifuno
menerima papan shikishi berisi tulisan tangan kami dengan senyum lembut
yang ramah, disambut riuh tepuk tangan yang memenuhi ruang kelas.
Halo, aku Netora
Reiko.
Segala keributan
yang melibatkan aplikasi hipnosis telah tuntas, dan masa praktik mengajar Tuan
Hifuno pun berakhir dengan sukses.
Meski ingatan dan
kepribadiannya dipelintir paksa oleh kekuatan Alpha, sejauh
pengamatanku, sepertinya tidak ada hambatan berarti dalam kehidupan
sehari-harinya. Syukurlah.
Ngomong-ngomong,
sebagai catatan tambahan, setelah insiden dengan Tuan Hifuno, sebuah robot
berbentuk manusia dengan desain jahat yang menyebut dirinya "Beta"
sempat menghubungiku.
Sepertinya
dugaanku benar, benda itu bukanlah AI yang muncul secara alami, melainkan ada
pencipta yang mengendalikannya di belakang layar.
◆◆◆
"Namaku Beta.
Aku berterima kasih karena kau telah membereskan Alpha yang mengkhianati
kami dan melarikan diri. Bagaimana kalau kau bertemu dengan Tuan kami?
Kekuatanmu, mentalitasmu yang unik. Asal-usulmu benar-benar menarik—"
Aku mencopot
kepala Beta dan meremukkannya.
Manusia harus
melangkah maju demi masa depan yang bercahaya. Para perampok makam yang mencoba
mengulik masa lalu yang tak perlu harus dikubur dalam kegelapan.
Aku memantapkan
tekadku kembali.
◆◆◆
Kejadian itu
terjadi beberapa hari yang lalu.
Setelah itu,
entah karena mereka ketakutan melihat hati keadilanku yang membara, atau karena
tidak mau mendekati wanita berbahaya yang hobi mencopot kepala tanpa banyak
bicara, hari-hariku berlanjut dengan damai tanpa masalah terkait AI.
Meskipun belum
pernah berdialog langsung, aku tidak menaruh kepercayaan sedikit pun pada
pengembang AI tersebut. Ke depannya, meskipun ada tawaran dari pihak mereka,
aku tidak akan pernah menjalin hubungan kerja sama.
Perbuatan iblis
yang menginjak-injak martabat manusia…… orang yang menciptakan aplikasi
hipnosis mana mungkin manusia normal. Dia bukan tipe yang bisa sejalan
denganku, sang pahlawan super keadilan yang suci dan bersih.
Menginjak-injak perasaan orang lain…… adalah salah satu hal
yang paling tidak bisa kumaafkan.
Apalagi orang yang mengembangkan aplikasi seperti Alpha
dan mempermainkan perasaan mulia seseorang yang sedang jatuh cinta, dia
benar-benar sampah. Tidak bisa dimaafkan, kan?
Aku bergidik ngeri membayangkan eksistensi kejahatan sejati
yang bergerak di balik bayang-bayang masyarakat. Saat pertempuran menentukan itu tiba suatu hari
nanti, akankah aku sanggup menahan invasi kekuatan kegelapan?
Akan kulindungi.
Yang berhak menghancurkan otak Yuu-kun hanyalah aku.
Sambil membawa
firasat akan datangnya badai, semester pertama tahun kedua SMP-ku yang kedua
pun berakhir, dan libur musim panas pun dimulai.
◆◆◆
"—Lho, Yamada-kun?"
"Eh…… Ne, Netora-san!?"
Beberapa hari setelah libur musim panas dimulai.
Aku—Yamada Minoru—yang sedang memalingkan muka dari tumpukan
tugas dan berkeliling mal dekat rumah sambil bergumam membosankan, langsung
melotot kaget saat mendengar suara merdu bak denting lonceng dari arah
belakang.
Saat aku menoleh dengan gerakan kaku, di sana berdiri
seorang gadis cantik dengan pakaian santai berupa jaket hoodie dan rok
denim—dia adalah Netora Reiko, gadis yang kusukai, sedang melambai sambil
tersenyum.
"Yahho,
rasanya sudah lama ya. Sejak kita beda kelas di kelas dua, kita jadi jarang
punya kesempatan mengobrol."
"A-ah, iya. Be-benar juga……"
Aku buru-buru mengembalikan majalah anime yang sedang kubaca
di pojok toko buku ke raknya, lalu menjawab Netora-san sambil memalingkan
pandangan dengan gugup.
Saat Netora-san mendekat ke sampingku tanpa kewaspadaan,
aroma manis yang tercium darinya membuatku merasa bersalah sekaligus sangat
grogi.
"……Anu, aku tadi sedang menganggur, jadi cuma
jalan-jalan tidak jelas…… Kalau Netora-san sendiri?"
"Hmm, aku juga kurang lebih sama. Jadwal temanku tidak
ada yang cocok. Sayang juga kalau cuma berdiam diri di rumah sendirian, jadi
aku jalan-jalan sebentar."
"Be-begitu ya……"
Rasanya agak mengejutkan. Kupikir kelompok berkilau di
puncak hierarki sekolah seperti dia akan menghabiskan setiap hari di libur
musim panas bersama seseorang.
Saat aku mengutarakan hal itu secara tersirat, Netora-san
tertawa kecil sambil menggelengkan kepala dan tangannya.
"Ahaha,
prasangkamu parah sekali. Aku juga punya waktu untuk sendirian, tahu—"
"Ugh…… ma-maaf."
"Tidak apa-apa, aku tidak marah kok. ……Lebih dari itu,
Yamada-kun juga sedang menganggur, kan?"
"A-ah…… yah, iya. Begitulah……"
Ditunjukkan secara langsung oleh gadis impianku bahwa aku
sedang menghabiskan liburan sendirian dengan kesepian, aku merasa ingin
mengecilkan tubuh karena malu.
"……Kalau
begitu,"
Tiba-tiba
Netora-san menggenggam tanganku.
Sentuhan
lembut dan mulus di telapak tanganku membuat seluruh tubuhku tersentak, tapi
dia tidak peduli dan malah memberikan senyum ceria ke arahku.
"Mau
kencan denganku?"
"……Heah!?"
Aku panik
mendengar kata-katanya yang tiba-tiba, tapi Netora-san tetap menggandeng
tanganku dan mulai berjalan tanpa ragu.
◆◆◆
"Selamat
makan."
"Se-selamat
makan……"
Di food court
pusat perbelanjaan, aku sedang menikmati makan siang yang sedikit lebih awal
bersama Yamada-kun yang kebetulan kutemui.
Halo, aku Netora
Reiko.
Yah, meskipun
libur musim panas sudah dimulai, menghabiskan setiap hari bersama Yuu-kun dan
yang lainnya adalah hal yang tidak realistis jika dipikirkan dari sisi
penyesuaian tingkat kesukaan.
Oleh karena itu,
hari ini adalah "Hari Istirahat NTR". Karena bosan dan berjalan-jalan
sendirian, aku menemukan Yamada-kun yang sedang "tergeletak" di
pinggir jalan, jadi aku memutuskan untuk mencicipinya sedikit.
"Setelah
makan kita mau apa? Yamada-kun punya toko yang ingin dikunjungi?"
Aku melemparkan
pertanyaan sambil menggigit burger, membuat gerakan sumpit Yamada-kun yang
sedang memakan udon terhenti dengan wajah berpikir.
"Hmm…… aku sih tidak ada tujuan khusus. Tadinya cuma mau membunuh waktu karena tidak ada
kerjaan. Netora-san sendiri mau ke mana?"
"Aku? Hmm~……
bagaimana ya. Ehehe, sebenarnya aku tadi mengajakmu secara spontan, jadi aku
tidak memikirkan apa pun."
Bohong.
Sebenarnya aku sudah menyusun jadwal detail hingga hitungan menit.
Namun, aku ingin
rencana kencan ini tidak terlihat seperti buatanku, melainkan sesuatu yang kami
pikirkan bersama. Hal-hal seperti ini justru terasa menyenangkan jika dilakukan
sambil berdiskusi satu sama lain.
Jika semua
rencana sudah disiapkan secara matang, psikologi pihak laki-laki justru akan
merasa terintimidasi, kan? Duh, aku benar-benar wanita yang sangat peka.
Aku mengeluarkan
pamflet berisi peta lantai mal dari tas.
"Tadaaa,
peta lantai. Ayo kita pikirkan mau ke mana? Kan ini kencanku dan
Yamada-kun."
"K-kencan…… u-un. Benar juga."
"Fufu, kalau ada ide yang menarik bilang saja ya?
Rencana yang bagus biasanya muncul kalau kita berdiskusi."
Meskipun ide yang muncul paling juga cuma segitu-gitu saja. Aku tertawa licik di dalam hati.
Sangat
mudah memprediksi rencana yang dipikirkan Yamada-kun yang pemula dalam kencan
dan tidak terbiasa dengan perempuan.
Apalagi lokasinya
di dalam mal, pilihannya sangat terbatas. Menuntun pemikiran Yamada-kun ke
rencana yang sudah kusiapkan sebelumnya adalah hal yang sangat mudah.
Sambil
mempertahankan pilihan klasik seperti toko pernak-pernik atau bioskop, jika
Yamada-kun mencoba memaksakan diri mengusulkan tempat yang "cewek
banget", aku akan mengarahkan jalurnya kembali secara halus. Hal-hal
seperti itu biasanya malah membosankan bagi laki-laki.
"Ah, aku
ingin pergi ke toko anime ini. Aku mau melihat merchandise dari game
yang dulu pernah kita mainkan bersama."
"Eh, ah,
yah, boleh saja…… tapi, apa kamu sedang mencoba berempati padaku?"
"Aku memang
ingin ke sana, kok. Tentu saja, kalau Yamada-kun tidak keberatan."
Seperti yang
kubilang tadi, ini adalah kencan kami berdua. Tidak ada artinya kalau hanya aku
yang senang, dan intinya aku sedang menjamu Yamada-kun agar dia merasa senang.
Seperti yang
pernah kukatakan sebelumnya (lihat volume 1), aku tidak berniat menjadikan
Yamada-kun sebagai penikung utama. Dia hanyalah camilan di saat aku sedang
merasa bosan.
Namun, jika ada
peluang satu banding sejuta, situasi kehancuran otak Yuu-kun yang paling
sempurna, peluang untuk menjadikan Yamada-kun sebagai penikung tetaplah ada.
Jadi, untuk saat ini aku putuskan untuk merayunya saja.
Intinya ini sama
seperti gacha terbatas di game. Meskipun saat ini tidak terlalu butuh,
kalau dibilang kesempatan ini tidak akan datang dua kali, manusia adalah
makhluk yang akan tetap memutar gacha dengan tiket gratisan. Singkatnya,
aku tidak salah.
Selagi aku
memikirkan hal itu, rencana kencan bersama Yamada-kun pun diputuskan. Hampir
sama persis dengan rencana awal yang kupikirkan, tapi itu murni kebetulan
belaka. Jika hasilnya sama, fakta bahwa aku telah menuntun pikirannya bukanlah
masalah besar.
"Kalau
begitu, ayo berangkat! Yamada-kun!"
"U-un."
Aku berjalan di
samping Yamada-kun sambil tersenyum lebar. Sambil melirik Yamada-kun yang
berjalan dengan kaku di sampingku, aku menjilat bibirku dalam hati merasakan
perasaan cinta yang menggemaskan darinya.
◆◆◆
……Dan, waktu yang
terasa seperti mimpi itu berakhir dalam sekejap mata.
"Aah,
serunya!"
Sambil melirik
Netora-san yang sedang meregangkan tubuh dengan puas setelah menyelesaikan
semua rencana kencan kami, aku—Yamada Minoru—merasakan sensasi aneh yang
bercampur antara rasa bahagia dan rasa tidak rela.
……Yah, meskipun
dia bilang kencan, sepertinya bagi Netora-san "laki-laki dan perempuan
main bareng = kencan", jadi mungkin tidak ada makna romantis sama sekali……
……Namun, tetap
saja.
"Tadi
menyenangkan sekali, ya……"
Kata-kata dari
lubuk hatiku itu terucap begitu saja secara alami. Mendengar itu, Netora-san
tersenyum ke arahku dengan wajah bahagia.
"……Syukurlah.
Karena aku benar-benar senang hari ini. Aku berpikir akan sangat bahagia jika Yamada-kun juga menikmatinya."
Di bawah cahaya
matahari terbenam, Netora-san yang tersenyum seperti itu terlihat sangat
cantik. Aku jadi terbawa suasana dan sedikit berani.
"A-aku…… kalau bersama Netora-san, apa pun akan terasa
menyenangkan."
"—Eh?"
Netora-san memasang wajah heran mendengar ucapanku. ……Gawat.
Aku melakukan kesalahan.
Setelah mengucapkannya, rasa penyesalan menyerangku seperti
badai karena ucapanku terdengar sangat menjijikkan. Aku jadi terlihat seperti
cowok menyedihkan yang langsung baper hanya karena diperlakukan baik oleh
perempuan.
……Sedihnya, itu
semua fakta. Tapi kata-kataku tadi bukan bermaksud begitu. Bukan karena ada
niat terselubung, tapi memang hari ini terasa sangat menyenangkan. Aku hanya
ingin menyampaikan itu……
"Duh! Sudah,
dong! Yamada-kun,
jangan tiba-tiba bilang hal aneh begitu! Aku kan jadi kaget!"
Seolah
ingin mencairkan suasana yang mendadak canggung, Netora-san mengeluh sambil
memukul dadaku pelan berkali-kali.
……S-setidaknya,
syukurlah dia tidak terlihat merasa jijik secara terang-terangan. Kalau sampai
gadis yang baru saja asyik bermain bersamaku memasang wajah jijik, aku
benar-benar tidak akan bisa bangkit lagi.
Pokoknya,
aku membuka mulut untuk meminta maaf atas ucapanku yang ceroboh.
"Ma-ma—"
"……Tadi
itu sedikit membuatku berdebar, tahu."
"……Eh?"
Netora-san
bergumam dengan suara yang sangat kecil. Apa maksudnya itu—
"K-kalau
begitu, aku pulang dulu ya! Dadah,
Yamada-kun!"
"Eh, ah, un.
Sa-sampai jumpa, Netora-san!"
Dengan pipi yang
merona merah—jelas bukan karena warna matahari terbenam—Netora-san langsung
melangkah pergi dengan cepat.
……Eh, apa-apaan
reaksi tadi. Aku hanya bisa berdiri mematung melepas punggungnya yang menjauh,
lalu aku memegang kepalaku sendiri.
"Uuuh~~…… J-jangan salah paham, Minoru. Tadi itu bukan apa-apa. Netora-san tidak bermaksud begitu……"
Meskipun
aku berusaha meyakinkan diri sendiri, detak jantungku tetap berdegup kencang
tanpa tanggung jawab. ……M-mungkinkah, Netora-san juga menyukaiku……
"Sudah
dibilang, bukan begitu!"
Aku
berusaha keras menekan pikiran yang mencoba mencari pembenaran yang
menguntungkan diriku sendiri. Hari itu adalah hari libur musim panas yang diisi
dengan kegelisahan yang lebih panas dari suhu udara musim panas.
◆◆◆
"Lihat,
lihat, Chi-chan! Di halamannya ada kolam renang juga! Glamping ternyata
luar biasa ya—"
"Ja-jangan
berisik di dekat telingaku! Panas, tahu!"
Aku—Sanchazaka
Chihiro—berusaha keras bersikap tenang sambil merasa grogi karena sensasi
sepupuku yang menempel di lenganku.
Libur musim
panas. Agenda rutin tahunan pulang ke kampung halaman. Tahun ini, selama
periode tersebut, keluarga aku dan keluarga Rei pergi menginap di sebuah hotel outdoor
terdekat selama beberapa hari. Ini adalah hasil persekongkolan ayahku yang
ingin sesekali melakukan servis keluarga dengan ayahnya Rei.
"Maaf ya
Chihiro-kun. Rei sepertinya sangat menantikan bisa bertemu denganmu, makanya
dia jadi agak bersemangat begitu."
"Aah…… tidak apa-apa, Tante. Sudah biasa setiap tahun,
jadi saya sudah terbiasa."
Mendengar kata-kata ibunya Rei, aku berusaha menyembunyikan
jantungku yang berdebar kencang.
Meskipun aku tahu itu tidak bermakna romantis, fakta bahwa
gadis yang kusukai merasa begitu senang bertemu denganku sudah cukup untuk
mengacak-acak hati remaja ini.
"Hei, hei, Ibu. Setelah menaruh barang, bolehkah aku
pergi jalan-jalan sebentar dengan Chi-chan?"
"Duh, ya sudah kalau begitu…… Chihiro-kun, maaf ya,
bisa minta tolong jagakan dia?"
Ja-jalan-jalan
berdua saja dengan Rei……
Agar rasa ingin
melompat kegirangan karena perkembangan yang sangat diharapkan ini tidak
ketahuan, aku menjawab ibunya Rei dengan wajah datar.
"Iya, tidak
apa-apa. Kami akan kembali sebelum makan siang."
"Terima
kasih, ya. Rei juga, jangan merepotkan Chihiro-kun, ya?"
"Mengerti~! Chi-chan, ayo cepat-cepat!"
"Tunggu sebentar, siapkan dulu obat antinyamuknya yang
benar."
Aku
menahan Rei yang menarik-narik lenganku dengan menyodorkan botol semprot
antinyamuk. Benar-benar orang yang tidak bisa diam. Padahal di sekolah
katanya dia dikenal sebagai murid teladan yang berkelakuan baik, sepertinya dia
memang sangat ahli dalam memakai topeng.
Sambil menatap Rei yang menyemprotkan obat ke bagian dada
gaunnya dan lengannya yang terbuka, tiba-tiba Rei menyodorkan botol semprot itu
kepadaku.
"Chi-chan, bisa tolong bagian belakang leherku?"
Rei menyibakkan rambut hitamnya, menunjukkan tengkuk
putihnya yang terekspos saat meminta hal itu.
"Ya-ya
sudah, sini……"
"Fufu,
makasih—"
Aroma sampo yang
tercium lembut dari rambut Rei dan kilau kulit putihnya yang transparan membuat
kesadaranku hampir melayang, namun aku berusaha menahannya dengan mengatupkan
gigi.
……Benar-benar
wanita tanpa pertahanan. Padahal laki-laki itu makhluk yang sangat mudah salah
paham…… apa dia tidak apa-apa bersikap begini? Meski mungkin dia tidak
bermaksud buruk, aku hanya bisa menghela napas pelan melihat sepupuku yang
secara tidak sadar mengacak-acak emosi laki-laki di sekitarnya.
"Aduh, aduh.
Kalau begini, jadi tidak ketahuan siapa yang lebih tua antara Rei dan
Chihiro-kun ya."
Ibunya
Rei berkata begitu dengan santainya. Sebenarnya tante ini juga sama saja, terlalu santai. Meskipun sepupu, apa
dia tidak merasa bahaya melihat anak perempuannya yang begitu tanpa pertahanan
terhadap laki-laki yang hanya beda usia satu tahun. Yah, mungkin itu artinya
aku sangat dipercaya……
"Kalau
begitu kami berangkat dulu ya, Bu."
"Jangan
pergi terlalu jauh, ya—"
Sambil mendengar
suara ibunya Rei dari belakang, aku dan Rei meninggalkan tenda yang sudah
seperti kamar hotel itu.
◆◆◆
"Ini musim
panas, tadinya kukira akan lebih panas, tapi ternyata cukup sejuk ya—"
"Karena di
sini dataran tinggi. Kalau di tempat teduh, biasanya tidak perlu AC."
Sambil bertukar
obrolan ringan, aku dan Rei berjalan menyusuri area yang dipenuhi tanaman liar
pegunungan.
"Tendanya
luas, ada pemandian besar juga, rasanya jadi tidak seperti sedang
berkemah."
"Kalau
nyaman kan bagus. Bagiku acara BBQ saja sudah cukup sebagai ciri khas
berkemah."
"Hmm, aku
sih tidak keberatan kalau sedikit lebih tidak nyaman. Berkemah yang dulu
kulakukan bersama Yuu-kun, meskipun sulit tapi tetap menyenangkan."
"……Hmph."
……Lagi-lagi,
si bajingan itu. "Yuu-kun".
Dia
adalah pria yang sepertinya mendapatkan perasaan spesial dari gadis di depanku
ini. Katanya mereka berteman sejak kecil, tapi kalau soal durasi perkenalan,
aku pun seharusnya tidak kalah.
"Ayahnya
Yuu-kun itu seorang camper. Waktu kecil aku sering diajak bersama
Yuu-kun—"
Sambil memberikan
sahutan sekenanya pada cerita Rei, aku merasakan perasaan gelap mulai
bergejolak di dadaku. ……Perbedaan antara aku dan dia seharusnya hanyalah soal
lokasi tempat tinggal, apakah dekat dengan Rei atau jauh. Padahal akulah
yang jauh, jauh lebih dulu…… akulah yang seharusnya lebih dulu menyukai Rei.
◆◆◆
"Kalo aku
udah gede, aku mau nikah sama Kak Rei!"
Memori masa
kecil. Meskipun samar, itu adalah awal mula cinta yang tidak pernah kulupakan.
Terhadap perasaan polos dan ambiguku kepada gadis yang lembut dan cantik itu,
Rei hanya tersenyum hangat.
"Ahaha, aku
senang mendengarnya. Kalau begitu, saat Chi-chan sudah besar nanti, jemput
Kakak, ya?"
"Iya!
Kalo udah gede, aku bakal datang buat melamar Kak Rei!"
"Ufufu.
Terima kasih, Chi-chan. Kakak akan menantikannya……K-a-r-e-n-a A-k-u A-k-a-n
M-e-n-u-n-g-g-u-m-u."
Senyum gadis itu saat itu, dan giginya yang putih bersinar,
masih bisa kuingat dengan jelas hingga sekarang seolah baru terjadi kemarin.
◆◆◆
"—Duh, Chi-chan? Kamu dengerin nggak sih?"
"……Ah, sori.
Aku nggak denger sama sekali."
"Ya ampun! Kasar banget sih memperlakukan
cewek! Kalau begitu terus, nanti kamu bakal dicuekin sama cewek yang kamu suka
lho!"
Dicuekin,
ya?
"……Nggak
peduli. Kalau dia nggak mau menoleh ke sini, bakal kupegang kepalanya dan
kupaksa menoleh."
"Hmm?
Chi-chan, kamu bilang sesuatu?"
"Bukan
apa-apa. Sudah hampir siang, ayo balik, aku lapar."
Sambil berkata
begitu, aku menarik tangan Rei dan kembali ke jalan semula.
"Wah.
Rasanya sudah lama ya Chi-chan mau menggandeng tanganku begini."
"……Kalau
tidak mau, aku lepas."
"Nggak
kok, nggak apa-apa begini…… fufu, jadi teringat waktu kecil ya."
……Kalau
mau mengingat, ingat jugalah janji lamaran waktu kecil itu.
Dengan
begitu, setidaknya wanita tidak peka ini akan sedikit menyadari keberadaanku.
Sambil
memikirkan hal-hal yang tidak berguna, aku berjalan di padang rumput yang
ditiup angin sejuk.
◆◆◆
"Ahhhhhh……"
Di
fasilitas glamping tersebut, setelah menikmati aktivitas luar ruangan
bersama Rei, dan menghabiskan makan malam BBQ, aku mengunjungi pemandian
terbuka yang letaknya sedikit terpisah dari tenda penginapan.
Saat
merendam tubuh di air yang ternyata lebih panas dari dugaanku, sensasi
menyengat yang membuat kulit berdesir membuatku tanpa sadar mengerang seperti
binatang.
Meskipun
tindakanku sedikit kurang sopan, kurasa tidak masalah.
Pemandian terbuka
ini adalah pemandian keluarga—singkatnya, sudah disewa secara pribadi.
Meskipun aku
tidak akan melakukan hal bodoh seperti berenang di sini, setidaknya tidak
masalah jika aku menghela napas tanpa perlu sungkan.
"……Bintangnya
keren banget."
Sambil membiarkan
tubuhku terapung oleh gaya angkat air, aku menatap langit malam dengan
pandangan kosong sambil terlentang.
Langit berbintang
yang tidak terganggu oleh lampu kota ini benar-benar terasa seperti kotak
permata, meskipun terdengar klise.
Saat aku
memejamkan mata untuk menikmati sisa cahaya bintang, aku merenungkan kejadian
hari ini.
Berjalan di alam
terbuka yang tidak biasa, bermain sepuasnya, makan dengan lahap, hari yang
benar-benar menyenangkan.
……Dan, di setiap
fragmen kejadian itu, di sisiku selalu ada gadis yang kucintai—Rei……
"……Baguslah
aku datang."
Perasaan tulus
itu terucap begitu saja dari mulutku sambil tetap memejamkan mata.
"Iya, iya,
benar sekali ya."
"……Hah?"
Mendengar balasan
atas gumamanku, aku mengeluarkan suara konyol dan membuka mata.
"Yahho.
Pemandiannya besar ya. Sepertinya masuk berempat pun masih cukup luas."
Aku menoleh ke
arah suara—ke dekat pintu masuk pemandian. ……Di sana ada Rei yang hanya
melilitkan handuk di tubuhnya, sedang melambai padaku.
"————Hah!?
Na, na-na-na……!? Ba…… wo-woi……!?"
"Ssst,
jangan keras-keras suaranya. Meskipun ini disewa pribadi jadi tidak ada
pelanggan lain, tapi bisa mengganggu orang yang menginap di dekat sini,
kan?"
Melihat aku yang
tanpa sadar mundur di dalam bak mandi, sepupuku itu menegurku dengan santai
seolah bukan masalah besar, lalu dia melangkah mendekat.
Dari kulit gadis
itu yang hanya tertutupi selembar handuk, aku mengerahkan seluruh rasio untuk
memalingkan muka sekuat tenaga, lalu melancarkan protes keras pada si bodoh di
depanku ini.
"B-Bodoh!
Bodoh kuadrat! Apa sih yang ada di pikiranmu, hah!?"
"Duh, sudah kubilang diam…… fufu, padahal siang tadi
sudah main begitu banyak, kamu benar-benar bersemangat ya, Chi-chan?"
"Jawab
pertanyaanku! Aku kelas satu SMP! Kamu kelas dua! Kamu beneran nggak waras
ya!?"
Sambil merasa
sebagian tubuhku mulai menjadi "bersemangat" secara real-time,
aku membentaknya dengan emosi yang meledak-ledak kepada sepupuku yang
kemungkinan besar telah meninggalkan akal sehatnya di suatu tempat.
"Eeh? Tapi
kan ini pemandian keluarga. Lagipula kita kan sepupu, tidak apa-apa kan?"
"Bukan
masalah boleh karena sepupu atau bukan…… ah, sial! Apa kamu tidak punya rasa
malu sama sekali!? Kamu itu dilihat laki-laki telanjang, tahu!?"
"Eh?
Telanjang……?"
Mendengar
kata-kataku, Rei sempat memasang wajah heran sejenak, lalu dia memamerkan
senyuman nakal—tidak, senyuman menggoda yang membuat bulu kuduk berdiri.
"……Hmm. Chi-chan penasaran, ya?"
"A-apa yang……"
"Di
balik handuk ini. Fufu, Chi-chan kan anak laki-laki. Pasti sudah masuk usia di mana kamu penasaran
dengan hal-hal seperti ini."
Jari-jari Rei
tersangkut di bagian dada handuknya, seolah hendak menariknya turun.
—Hah?
Eh, serius?
A-apa respons
yang benar untuk situasi ini!?
Instingku
berteriak, "Aku mau lihat meski harus bersujud sekarang juga!", tapi
melihat kulit gadis yang kucintai dalam situasi di mana aku jelas-jelas sedang
dipermainkan begini, rasanya sangat tidak terhormat bagi seorang laki-laki.
……Meskipun aku
tahu aku akan diuntungkan.
Meskipun aku tahu
aku tidak dianggap sebagai target romantis olehnya, aku tidak ingin membuang
harga diri cintaku.
"—T-Tidak pe—"
Berusaha
mengerahkan sisa-sisa akal sehat yang ada, aku mencoba merangkai kata-kata
penolakan.
Namun, seolah
jawaban itu pun sudah masuk dalam perkiraan Rei, dia justru memperdalam
senyumannya.
"……Sayang
sekali. Waktunya habis."
"Woi……
ja, jangan—!?"
Sret. Handuk mandi yang menyelimutinya jatuh
begitu saja ke lantai pemandian.
"Ba, baju
renang……?"
Di balik handuk
itu, Rei ternyata mengenakan baju renang tipe bikini yang entah sejak kapan
sudah ia pakai di dalam.
Melihatku yang
bengong tidak karuan, Rei memasang wajah sedikit heran sambil mengangkat
telunjuknya.
"Duh.
Chi-chan ini menganggapku apa, sih? Seberani-beraninya aku, kalau aku
benar-benar telanjang bulat, Chi-chan juga bakal repot, kan? Aku ini tahu
aturan TPO (Time, Place, Occasion), tahu."
Rasanya aku ingin
protes dan bilang, 'Memangnya siapa yang tadi mancing-mancing duluan', tapi
sebelum aku sempat bersuara, Rei sudah melenggang pergi menuju area pancuran
untuk membilas diri.
"……Tidak,
kalau dipikir-pikir, ini kan tidak menyelesaikan masalah sama sekali!?"
Meskipun aku
sudah terbiasa melihat Rei memakai baju renang saat bermain di pantai, tapi
karena lokasinya adalah pemandian air panas…… visual tidak biasa dari baju
renang di dalam pemandian air panas ini justru menusuk bagian otakku yang entah
sebelah mana.
Aliran darahku
yang sudah dipompa cepat karena berendam kini mulai berkumpul di satu titik,
membuatku buru-buru menutupinya dengan handuk.
Melihat hal itu,
Rei yang baru kembali mengernyitkan dahi dengan kesal.
"Hei, Chi-chan. Memasukkan handuk ke dalam bak mandi
itu melanggar etika, lho."
"Eksistensimu
itulah yang melanggar etika!?"
Kali ini
aku benar-benar marah.
Pertarunganku
untuk melindungi handuk yang melilit pinggang dari sepupuku yang terlalu
meremehkan hasrat remaja laki-laki ini pun dimulai.
◆◆◆
"………………"
"Chi, Chi-chan. Maaf, deh. Jangan marah begitu, dong."
Aku
sedang merajuk di dalam bak mandi sambil membuang muka.
Di
sampingku, Rei menempel padaku dengan wajah yang sulit dijelaskan—antara
bingung, panik, dan merasa bersalah.
Sepertinya
dia sadar kalau permainannya tadi keterlaluan, karena begitu aku menunjukkan
sikap marah yang jelas, Rei langsung panik dan berkali-kali meminta maaf.
Melihat
sepupuku yang biasanya selalu tenang ini memohon-mohon dengan wajah sedih
sebenarnya cukup membangkitkan…… salah. Maksudku, ini pengalaman yang cukup
langka.
Merasa
amarahku sedikit mereda, aku menggaruk kepala dan menghela napas panjang.
"……Haa, ya
sudah. Aku maafkan, jadi jangan dipikirkan lagi."
Mendengar
kata-kataku, ekspresi Rei langsung cerah seketika.
……Yah,
sejujurnya aku tidak semarah itu, malah sebenarnya aku yang diuntungkan di
sini…… tapi harga diriku sebagai laki-laki tidak mengizinkanku untuk
mengakuinya begitu saja.
Lagipula, kalau
aku terlalu lunak padanya, Rei pasti akan semakin menjadi-jadi. Aku tidak mau
mengetes sampai mana batas kewarasan rasioku sanggup bertahan.
"Lagian,
sebenarnya kamu ke sini mau ngapain, sih?"
"Hmm? Tentu
saja untuk membantu menggosok punggung Chi-chan."
Mendengar jawaban
Rei, aku menghela napas lebih dalam lagi.
"Kamu ini…… apa sudah lupa apa yang membuatku marah
tadi? Bermain-main dengan laki-laki
itu ada batasnya—"
"Bu-bukan
bermaksud begitu, tahu!"
Rei
buru-buru menggelengkan kepalanya mendengar perkataanku, lalu tangannya
menyentuh bahu kananku dengan lembut.
"……Tsu!"
Rasa
perih yang menyengat membuatku mengerang kecil.
Mendengar
suara itu, Rei mengernyitkan dahi dengan ekspresi khawatir.
"Benar, kan.
Kejadian tadi siang, ya? Sepertinya uratmu sedikit terkilir……"
"Nggak
apa-apa, kok. Besok juga sembuh."
"……Maafkan
aku. Itu gara-gara kamu melindungiku waktu itu, kan?"
"Bukan,
itu……"
……Melihat wajah
sedihnya, aku mengutuk diriku sendiri yang tidak pandai merangkai alasan bagus
di saat mendesak.
Kejadian itu
terjadi siang tadi saat aku dan Rei sedang berjalan-jalan di area perkemahan.
Sepertinya Rei
hampir tersandung akar pohon, dan saat aku spontan menahannya, urat lenganku
terasa sedikit sakit.
Karena tidak
terasa sakit jika digerakkan biasa dan aku tidak ingin membuat keluarga atau
Rei khawatir berlebihan, aku berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa dan diam
saja……
"Kamu sadar
juga, ya."
"Tentu saja.
Ini kan tentang Chi-chan."
"……O-oh."
Mendengar dia
mengucapkannya seolah itu hal yang wajar, hatiku terasa sesak.
Fakta bahwa dia
memperhatikanku sampai menyadari perubahan sekecil itu memicu rasa sakit yang
manis di dadaku, membuatku lupa akan rasa sakit di urat lenganku.
"……A-ah,
maaf sudah membuatmu khawatir, tapi ini benar-benar bukan masalah besar. Kamu
tidak perlu merasa bersalah."
Ini jujur dari
lubuk hatiku.
Hanya Rei saja
yang melebih-lebihkan, cedera yang bahkan tidak bisa disebut luka seperti ini
adalah makanan sehari-hari saat jam olahraga atau kegiatan klub. Tapi, Rei
tetap tidak terima.
"Aku tetap
kepikiran! Bagiku, Chi-chan itu jauh, jaaaaauuuh lebih berharga dari yang kamu
bayangkan…… karena aku sangat menyayangimu, tahu?"
"S-sshh……!
Kamu ini, benar-benar deh……"
Meskipun aku tahu
kata "sayang" itu tidak lebih dari sekadar kasih sayang saudara, aku
tetap membuang muka untuk menyembunyikan wajahku yang memanas karena ungkapan
perasaan yang begitu blak-blakan.
"Pokoknya."
Sambil berkata
begitu, Rei bangkit dari bak mandi dan berjalan menuju area pancuran.
Dia duduk di
kursi kecil yang dilengkapi cermin dan pancuran, lalu memberikan isyarat padaku
dengan tangannya.
"Aku tidak
bisa membiarkan Chi-chan memaksakan diri lebih jauh hari ini. Dengan lengan begitu, pasti sulit
mencuci badan sendiri, kan? Sini, biar aku yang cucikan."
"E-eh,
tidak perlu! Kan sudah kubilang aku tidak apa-apa! Aku bukan anak kecil lagi,
aku bisa sendiri……!"
"……Tidak
boleh?"
……Melihat
Rei yang memiringkan kepalanya dengan tatapan mata memohon yang menyedihkan,
aku tidak sanggup berkata apa-apa lagi.
"……Tolong
bantuannya."
"Sip!
Serahkan padaku!"
Di belakangku
yang sudah duduk di kursi pancuran, Rei mulai menyabuni handuk mandi dengan
wajah penuh kegembiraan.
Hanya orang yang
sanggup menolak saat ditawari dicucikan badannya oleh gadis yang dicintainya
yang memakai baju renanglah yang boleh melempar batu padaku.
◆◆◆
Mempermainkan
Chi-chan memang yang terbaikkkk~~!
Sambil menggosok
kepalanya dengan sampo hingga berbusa, gigiku yang terbuka tampak berkilau di
bawah cahaya bulan.
Selamat malam,
aku Netora Reiko.
Aku sedang
menikmati hidangan tahunan, yaitu emosi Chi-chan yang berantakan tidak karuan.
Rasanya benar-benar lezat, mantap jiwa.
"Ada bagian
yang gatal?"
"N-nggak……"
"Dari dulu
aku berpikir, rambut Chi-chan itu halus banget, ya. Iri deh."
"Nggak juga,
ah. Dibandingkan aku,
rambut Rei itu…… anu, jauh lebih cantik."
"Kalau
aku kan memang rajin merawatnya. Chi-chan tidak melakukan perawatan apa-apa, kan? Enak ya, bakat
alami."
Sambil mengobrol
ringan, setiap kali aku melakukan kontak fisik secara halus, tubuh Chihiro
tersentak kecil. Melihat reaksi khas cowok polos yang begitu murni, aku
berusaha keras mengontrol otot wajahku agar tidak terlihat seperti monster
pemakan berondong.
"Nah,
sekarang kepalanya mau dibilas, tutup mata dan tunduk ya—"
"Memangnya
aku balita? Kamu terlalu protektif."
"Fufu,
bukankah tadi sudah kubilang? Bagiku, Chi-chan itu sangat, saaaaangat
berharga."
Ini adalah
kejujuran tanpa dusta. Aku
benar-benar menganggap Chihiro sangat penting.
Yang
artinya, aku tidak akan memberinya informasi yang tidak perlu.
Bisa
dibilang ini seperti Kids Filter. Dia tidak perlu tahu kalau aku
melihatnya sebagai "camilan" untuk melengkapi skenario penghancuran
otak.
Duh, aku
benar-benar penuh kasih sayang ya.
"Oke,
selanjutnya cuci badan, ayo hadap sini—"
"Bo-bodoh!
Kan sudah kubilang bagian depan biar aku sendiri saja!"
Tapi ya,
Chi-chan ini benar-benar punya nilai teknis yang tinggi.
Dari
ikatan darah, banyaknya kenangan masa kecil, rasa akrab yang pas, hingga
kepolosan. Perasaan cinta yang tidak bisa dia sembunyikan dariku, ditambah
sifat tsundere karena tidak bisa jujur mengatakannya. Dia adalah
pion NTR tipe all-rounder yang sempurna dalam segala kemampuan.
……Namun, meski begitu, aku tidak berniat memasukkan Chi-chan
ke dalam kategori "pria penikung utama".
Selain sulit memasukkannya ke dalam bagan rencana, rasanya
kurang etis kalau selama ini aku memperlakukannya sebagai camilan, lalu
tiba-tiba bilang 'Aku berubah pikiran, kamu jadi penikung saja'. Itu namanya
tidak punya integritas. Meskipun Chihiro sendiri tidak tahu-menahu soal rencana
ini.
Intinya ini masalah konsistensi. Orang yang gampang mengubah
prinsip dan opininya sesuai suasana hati itu tidak keren.
Aku tidak akan
menarik kembali kata-kataku. Itulah jalan ninjaku.
"……Hei,
Rei."
"Ada apa,
Chi-chan?"
Sambil menyeka
punggung Chihiro dengan handuk berbusa, aku mendengarkan perkataannya.
"Apa
kamu bakal lanjut ke SMA lokal sini?"
"Hmm,
rencananya begitu. Aku mau masuk ke Akademi Mikage, kamu tahu tempat itu?"
"Ah…… bukankah itu sekolah unggulan yang ketat banget?
Kamu mau masuk ke tempat hebat begitu, ya."
"Ahaha, tidak sehebat itu, kok. Kasarnya sih, kalau
dilihat secara keseluruhan, itu cuma level menengah ke atas. Mengingat
kemampuanku, sepertinya itu pilihan yang pas."
"Hmm…… Mikage, ya……"
Yah, meskipun begitu, sekolah itu cukup terkenal sampai
Chihiro yang beda distrik sekolah pun tahu.
Jika Yuu-kun atau Yuri-chan belajar dengan serius, itu
adalah target yang sanggup mereka capai. Kehidupan SMP sudah mencapai titik
tengah. Sudah waktunya aku mulai bergerak serius untuk mendukung kemampuan
akademik mereka.
……Hmm? Tunggu,
alur pembicaraan ini jangan-jangan……
"Tapi,
kok tiba-tiba tanya begitu? Chi-chan
kan masih kelas satu, bukankah terlalu cepat memikirkan masa depan……"
"……Aku sudah
putuskan. Aku juga akan masuk ke Mikage."
"…………Eh?"
Oho! Serius nih anak!?
"Ke-kenapa
tiba-tiba, Chi-chan? Mendadak sekali……"
"Nggak mendadak, kok. Sudah kupikirkan sejak lama.
……Aku juga, anu, ingin dekat dengan Rei—i-inggak, maksudku, aku ingin lanjut
sekolah di kota. Kalau memikirkan
masa depan, di sana pilihannya akan lebih luas, kan?"
"Be-begitu,
ya……"
Aku berusaha
mati-matian menahan sudut bibirku agar tidak naik terlalu tinggi sampai
terlihat seperti hantu mulut robek.
Ini
benar-benar di luar dugaan. Tapi dalam artian yang membahagiakan.
Seberapa
besar pun perasaan cinta Chihiro padaku, pada akhirnya dia tetaplah anak SMP
kelas satu. Aku sempat meremehkannya dan mengira dia tidak akan berani
mengambil keputusan untuk meninggalkan kampung halaman…… tapi siapa sangka dia
akan menunjukkan sisi jantannya di sini. Mantap banget!
……Tentu saja, jalannya belum tentu mulus. Dia harus
meyakinkan orang tuanya untuk tinggal jauh dari mereka, dan belum tentu dia
lulus ujian masuk.
Meskipun aku tadi merendah, Akademi Mikage tetap termasuk
sekolah kategori sulit. Jika usaha
Chihiro kurang, ada kemungkinan besar dia akan gagal.
……Namun, tetap
saja.
Jika ini berarti
aku bisa mendapatkan kartu super kuat bernama Chi-chan untuk mengisi posisi
"penikung berondong" yang tadinya hampir kurelakan, ini alasan yang
lebih dari cukup untuk bertaruh!
"Chi-chan……"
Aku bergumam
dengan suara serak, lalu memeluk Chihiro dari belakang.
"Ha……!?
Na-na-na, Re, Rei!?"
"……Aku
akan menunggumu. Kamu harus, benar-benar harus datang ya?"
Aku membisikkannya tepat di telinganya.
"Aku
benar-benar ingat janji itu, tahu."
"…………!?"
Oleh karena itu,
ada perubahan rencana.
Aku memutuskan
untuk bergerak ke arah mengadopsi Chi-chan sebagai kandidat penikung berondong.
Konsistensi hanyalah alasan bagi orang-orang yang malas berpikir. Yang
terpenting adalah fleksibilitas yang bisa beradaptasi dengan situasi.
"Rei, kamu…… ingat—wapu!?"
Tanpa mendengarkan ucapan Chi-chan sampai habis, aku
menyiramkan air hangat ke kepalanya.
"Nah, selesai! Biar tidak masuk angin, aku naik duluan ya?"
"Keho! Hei!
Tunggu, Rei!"
"Nggak mau~.
Chi-chan harus mengeringkan badan dulu sebelum naik—"
Menilai bahwa aku
tidak bisa lagi menyembunyikan wajahku yang menyeringai licik, aku segera
meninggalkan pemandian seolah-olah sedang menutupi rasa malu.
Bintang-bintang
yang bertebaran di langit membuat gigiku yang menyeringai berkilau terang. Itu
adalah pemandangan indah, seolah bintang-bintang sedang memberkati masa depanku
yang penuh cahaya.
◆◆◆
Dini hari
di libur musim panas.
Waktu
yang sedikit lebih awal sebelum gelombang panas akibat perubahan iklim, yang
mencetak rekor suhu tertinggi setiap tahunnya, mulai menunjukkan kegarangannya.
Sambil merasakan
angin dingin yang menyentuh pipi, seorang anak laki-laki berjalan menuju taman
terdekat.
"Fua…… ngantuknya……"
Waktu baru menunjukkan lewat pukul enam pagi.
Bagi anak laki-laki SD pada umumnya, bangun jauh lebih awal
dari jam sekolah biasa adalah sebuah penderitaan tersendiri.
Nama anak laki-laki yang menahan kantuk dan mengucek matanya
yang mengantuk itu adalah "Kota". Seorang bocah kelas enam SD yang
sangat biasa.
Adapun alasan mengapa dia mengabaikan godaan tidur malas dan
menuju taman pagi-pagi sekali adalah…… tujuannya untuk berpartisipasi dalam
"Senam Radio Libur Musim Panas".
Meskipun senam radio libur musim panas belakangan ini
berkurang karena berbagai alasan, di lingkungan Kota, sepertinya pemerintah
setempat cukup antusias sehingga diadakan sebagai agenda tahunan yang rutin.
"Fuu, sampai juga."
Setibanya di lapangan tempat senam diadakan, dia melihat
sekeliling. Lansia, paman, dan bibi. Beberapa anak yang tampaknya masih duduk
di kelas rendah SD, lebih muda dari Kota.
Seperti
biasa, tempat ini tidak bisa dibilang ramai. Karena partisipasinya tidak wajib,
teman sekelasnya tidak ada yang terlihat. Yah, jika hadiah bagi yang rajin
datang hanya berupa paket jajanan murah atau alat tulis, mungkin daya tariknya
kurang bagi anak-anak zaman sekarang.
Tentu saja, Kota
tidak mengincar jajanan atau alat tulis itu, apalagi peduli soal kesehatan.
Lalu, mengapa
Kota menahan kantuk untuk ikut senam radio? Alasannya adalah—
~~♪ ~~♪ ~~♪
Saat Kota sedang
melamunkan hal-hal tidak penting itu, musik yang familiar mulai terdengar.
Setelah
menyelesaikan gerakan ringan selama tiga menit mengikuti musik, dia
mengeluarkan kartu stempel absensinya.
Dia
mengantre di barisan tunggu stempel bersama anak-anak lainnya.
"Ya, terima
kasih sudah datang hari ini juga."
"Kakak,
makasih ya—"
Kepada anak yang
sudah diberi stempel di depan barisan, kakak perempuan petugas stempel itu
memberikan senyum ramah.
Hanya dengan
melihat senyum itu, hanya dengan mendengar suaranya yang merdu bagai denting
lonceng, jantung Kota berdegup tidak karuan.
Begitu giliran
Kota tiba, ekspresi kakak petugas stempel itu tampak semakin cerah.
"Ah,
Kota-kun! Kamu datang lagi hari ini!"
"I-iya……"
Benar, alasannya
mengikuti senam radio adalah agar bisa bertemu dengan kakak petugas stempel
ini.
Dia adalah siswi
kelas dua SMP yang bersekolah di dekat sini, dan sepertinya menjadi sukarelawan
untuk membantu petugas senam radio.
Cantik,
baik hati, dan sedikit jenaka. Kota sangat terobsesi dengan gadis cantik ini
yang memancarkan "kedewasaan" yang berbeda dari teman sekelas
perempuannya.
"Nah, cap!
Kota-kun sampai sekarang rajin terus ya. Pintar, pintar♪"
"Te-terima
kasih……"
Setelah stempel
ditekan, Kota memberanikan diri berbicara padanya dengan suara yang sedikit
bergetar karena gugup.
"A-anu, itu,
Kak. Hari ini seperti biasa, boleh?"
"Tentu saja
boleh. Begitu beres-beres selesai aku langsung ke sana, jadi tolong tunggu dan
siapkan di sebelah sana ya?"
"I-iya!"
Kota merasakan
kegembiraan yang meluap-luap karena berhasil mendapatkan waktu berduaan dengan
gadis itu, lalu berlari menuju sudut taman—area lapangan dengan ring basket.
Sambil memegang
bola basket yang sudah disiapkan sebelumnya, dia menunggu gadis itu, dan tak
lama kemudian dia pun datang.
Melihat gadis itu
dengan pakaian olahraga tipis yang menonjolkan garis tubuhnya, Kota memalingkan
wajahnya dengan kaku sambil menundukkan kepala.
"M-mohon
bantuannya!"
"Sama-sama.
Kota-kun makin lama makin jago, sebentar lagi mungkin Kakak bakal kalah
nih~"
Bagaimana awalnya
kejadian ini?
Dalam perjalanan
pulang dari senam radio yang terpaksa dia ikuti karena disuruh orang tuanya,
dia melihat lapangan basket yang biasanya ramai sedang kosong, jadi dia iseng
mulai latihan menembak bola…… dan di situlah awal interaksinya saat kebetulan
dilihat oleh kakak tersebut.
◆◆◆
"……Hei kamu.
Maaf kalau lancang, tapi kalau kamu menahan napas sejenak setelah masuk ke
posisi shooting, gerakannya bakal jauh lebih bagus lho."
"Eh?"
Diajak bicara
oleh kakak perempuan cantik yang lebih tua saja sudah cukup mengejutkan, tapi
saat dia bergerak sesuai sarannya, akurasi gerakannya meningkat drastis,
membuat Kota takjub.
"Ooh, jadi
Kota-kun anggota klub basket ya. Rajin banget latihan mandiri pagi-pagi begini—"
"I-nggak
kok. Cuma karena lapangannya kosong, jadi kepikiran ingin main bola
sebentar……"
Setelah
mendapatkan pelatihan singkat, Kota mengobrol dengan gadis itu sambil
beristirahat.
Saat dia
memperhatikan wajah lawan bicaranya, dia menyadari bahwa itu adalah kakak yang
tadi memberikan stempel di senam radio. Sejak hari berikutnya,
Kota jadi
rajin ikut senam radio demi bertemu dengannya.
Kota
merasa dirinya cukup dangkal, tapi sebagai remaja yang terbakar api cinta
monyet, dia memberanikan diri menyapanya setiap selesai senam.
Karena
pihak lawan cukup supel, dan mereka memiliki kesamaan minat dalam bola basket,
tanpa disadari Kota dan gadis itu jadi sering melakukan One on One
setelah senam radio.
◆◆◆
"Yossh,
hari ini aku menang lagi!"
"Ugh……!"
Mendengar
suara kakak itu yang sedikit terengah-engah, Kota mengerang kesal.
"Be-berikutnya
aku tidak akan kalah!"
"Fufu, aku
nantikan ya, Kota-kun."
Rasanya malu jika
harus menatap langsung kakak yang tersenyum manis itu, jadi Kota berpura-pura
mencari handuk di dalam tasnya untuk mengalap keringat.
"……Lho?"
"Ada apa,
Kota-kun?"
Meskipun sudah
mencari sampai ke dasar tas, handuk yang dicarinya tidak ada. Sepertinya dia
lupa membawanya.
"Ah, tidak,
sepertinya aku lupa memasukkan handuk ke dalam tas……"
Yah, mau
bagaimana lagi. Meskipun rasa keringat di kulitnya tidak nyaman, dia bisa mandi
sesampainya di rumah. Saat Kota sedang berpikir begitu, sesuatu yang lembut dan
beraroma manis menutupi kepalanya.
"Hah?"
"Pakai
handukku saja. Belum dipakai kok, jadi tidak kotor."
Begitu menyadari
benda di kepalanya adalah handuk milik si kakak, wajah Kota memerah seketika.
"I-nggak!
N-nggak enak kalau begitu!"
"Nggak
apa-apa kok, cuma handuk saja. Ini handuk cadangan. Kamu bisa mengembalikannya
besok saat senam radio."
Sambil
berkata begitu, si kakak menggosok-gosok kepala Kota dengan gemas dari balik
handuk.
Terbungkus oleh
handuk yang memiliki aroma manis yang sama dengan si kakak, Kota merasa pusing,
bukan karena cuaca panas musim panas, melainkan karena alasan lain.
"Kalau
begitu, aku pergi dulu ya."
"Eh, ah,
iya……"
Sambil
melambaikan tangan, Kota hanya bisa terpaku melepas kepergiannya. Menatap
punggung gadis itu yang menjauh, Kota meremas handuk pinjamannya dengan erat.
"……"
Sensasi lembut
itu memunculkan perasaan aneh di tubuh Kota yang belum pernah dia rasakan
sebelumnya, namun dia baru akan menyadari jati diri perasaan itu di waktu yang
sedikit lebih lama lagi.
◆◆◆
Yah, itu aku,
Reiko.
Setelah menjauh
dari pandangan Kota-kun, wajahku bersinar licik di bawah matahari musim panas.
Berhubung aku
memutuskan untuk secara resmi mengadopsi Chi-chan sebagai penikung berondong,
aku merasa kurang asupan emosi negatif dari anak laki-laki di kampung halaman
tahun ini, jadi aku memutuskan untuk "mencicipi" anak laki-laki lain
secara asal.
Karena itu, aku
mencari acara yang bisa mengumpulkan mangsa dengan mudah dan mendaftar jadi
petugas senam radio, dan yang tersangkut di jaringku adalah Kota-kun yang tadi.
Untuk saat ini,
sebagai persiapan, emosi Kota-kun sedang diacak-acak oleh sosok "kakak
perempuan yang baik hati".
Cuma sedikit
trauma untuk hati anak laki-laki yang penuh harapan akan masa depan, kok.
Benar-benar cuma sedikit. Paling-paling cuma trauma ringan yang bertahan
sekitar setahun.
Kalau dibulatkan
per tahun, setahun itu hampir sama dengan nol, jadi anggap saja tidak ada. Aku
sudah selesai membela diri.
Tapi,
dipikir-pikir aku memang wanita dengan keinginan yang sampah ya.
Kenapa aku bisa
jadi begini?
Aku sama sekali
tidak ingat alasannya.
Sudah di level
sampah yang jika tidak ada kilas balik kejadian menyedihkan di masa lalu atau
episode tragis, ceritanya bakal hancur.
Aku tidak boleh
begini. Padahal aku ini tipe protagonis yang seharusnya bisa membuat pembaca
berempati.
Aku tidak ingat
sekarang, tapi pasti ada masa lalu yang pedih dan menyedihkan yang menimpaku.
Nanti kupikirkan
saja pengaturannya. Begitulah suasana salah satu hari di libur musim panas.
◆◆◆
"P-permisi.
Saya beli yang ini."
Hari itu,
Kota membuat keputusan besar dan mengunjungi toko pernak-pernik yang biasanya
dia lewati begitu saja.
Meskipun
merasa gentar dengan suasana lantai yang penuh dengan wanita modis dan
pasangan, anak itu menaruh produknya di meja kasir.
Pelayan
toko yang merasa gemas melihat tingkah polos anak itu melayaninya dengan lebih
ramah dari biasanya.
"Apakah ini
untuk hadiah? Mau kami bungkuskan?"
"I-iya. Tolong ya."
"Fufu, baiklah. Bagaimana jika dengan kertas kado warna merah muda ini?"
"E-eh…… iya, yang itu saja."
Maka, anak itu membawa kantong plastik berisi kado dan
segera meninggalkan toko.
Isi bungkusannya adalah barang yang menempati peringkat satu
"Hadiah yang disukai wanita" menurut pencarian internet Kota selama
beberapa hari terakhir: krim tangan yang agak mahal.
Tentu saja, itu bukan untuk dia gunakan sendiri, dan ibunya
juga tidak sedang berulang tahun.
"……Apakah
kakak itu akan senang?"
Benar, benda di
tangan anak itu adalah hadiah untuk gadis yang baru-baru ini menjadi teman
basketnya, sekaligus gadis yang membuat jantungnya berdebar-debar.
Libur musim panas
sudah mencapai pertengahan. Fakta bahwa senam radio, satu-satunya tempat dia
bisa bertemu gadis itu, akan berakhir besok, mendorong keberanian anak itu
bersamaan dengan rasa cemas.
Meskipun mereka
sudah akrab lewat bola basket, mereka hanyalah siswi SMP dan siswa SD yang
bahkan tidak satu sekolah.
Jika senam radio
berakhir, tidak sulit membayangkan bahwa interaksinya dengan gadis itu akan
terputus.
Dia tidak ingin
interaksi ini hanya berakhir sebagai kenangan musim panas.
Oleh karena itu,
Kota rela membayar dengan uang yang tidak sedikit bagi ukuran anak SD, untuk
menyampaikan rasa terima kasih dan…… keinginan untuk menjadi lebih akrab kepada
gadis itu bersama hadiahnya.
"……Lalu,
kalau aku bisa menyampaikannya setelah menang main basket melawan kakak itu,
pasti akan terlihat sangat keren……"
Dalam One on One
yang menjadi awal interaksi mereka, Kota selalu kalah.
Terlepas dari
perasaan cinta, dia merasa murni kesal, dan sebagai laki-laki dia merasa harga
dirinya jatuh jika terus-terusan dipermainkan oleh lawan jenis meskipun lebih
tua.
"Oke!
Besok aku akan menang basket melawan kakak…… lalu, itu…… tolong
bertemanlah denganku! K-kita mulai dari teman dulu!"
Dengan semangat yang lebih panas dari matahari musim panas,
keesokan harinya Kota menuju senam radio dengan tekad penuh.
◆◆◆
"Kota-kun,
selamat ya sudah rajin ikut senam radio terus! Nah, ini hadiah bagi yang
rajin datang. Pintar, pintar!"
"Te-terima
kasih……"
Sambil merasa
malu karena kepalanya dielus oleh gadis itu, Kota menerima hadiahnya dan
mengucapkan kata-kata yang biasa dia ucapkan.
"Kak. Hari
ini main basket juga, boleh?"
"Tentu saja!
Ah, tunggu sebentar ya. Begitu persiapan selesai, kita ke lapangan bareng,
yuk?"
Sesuai ucapannya,
setelah selesai beres-beres, dia berjalan bersama Kota menempuh jarak pendek
menuju lapangan.
"Hmm,
rasanya senam radio kali ini cepat sekali ya berlalu."
"Begitukah?
Karena sudah dua minggu, menurutku cukup lama."
"Mungkin
karena main basket bareng Kota-kun menyenangkan ya? Fufu, terima kasih ya sudah
menemani selama ini."
"……Be-begitu,
ya."
Hentikan. Jangan
bicara seolah-olah ini yang terakhir. Aku ingin lebih lama lagi bersama kakak—
"—K-Kak!
Hari ini aku tidak akan kalah!"
"Ooh,
Kota-kun bersemangat ya~. Kalau begitu, aku juga harus serius nih!"
Maka, duel antara
anak laki-laki dan gadis itu pun dimulai.
◆◆◆
(Satu bola lagi,
aku menang……!)
Awalnya ini hanyalah One on One main-main tanpa
aturan ketat. Jadi tidak ada aturan detail, hanya kesepakatan sederhana
"siapa yang dapat 10 poin duluan dia menang". Dan sekarang, poin
keduanya sama-sama sembilan.
Di antara kemenangan dan kekalahan, Kota menatap gadis di
depannya sambil merasakan ketegangan yang membuat tengkuknya merinding.
"Fufu,
Kota-kun beneran makin jago ya?"
"……Karena
aku dilatih oleh Kakak!"
"Eh……!?"
Sambil
terengah-engah, Kota menunjukkan gerakan yang selama ini dia latih secara
rahasia tanpa sepengetahuan gadis itu.
Dengan
membelakangi gadis itu dan berputar untuk membuka jalan, Kota merasa yakin akan
kemenangannya.
(Aku akan
menang. Aku akan menang dan bilang padanya. Bahwa aku ingin main basket lebih
lama lagi dengan Kakak. Ingin jadi lebih akrab lagi!)
"Belum
selesai!"
"Ugh……!"
Perbedaan
fisik karena usia—bukan, lebih dari itu, gadis yang memiliki bakat atletik luar
biasa ini secara paksa mengejar gerakan Kota dengan kelincahannya.
(Mundur dulu? ……Nggak, aku sudah sampai sini. Aku akan terus maju!)
"Aku akan
menang……! Aku pasti menang! Hari ini! Aku akan menang melawan Kakak dan—!"
"Rei-chan,
semangat!"
"Fue!?
Yu-Yuu-kun!?"
Mendengar suara
laki-laki dari luar lapangan, gerakan gadis itu langsung mematung.
"————Hah?"
Kota, yang dengan
mudah melewati sisi gadis yang penuh celah itu dan memasukkan bola,
mengeluarkan suara konyol karena akhir yang terlalu antiklimaks.
"Aaah!
Karena Yuu-kun tiba-tiba memanggil, aku jadi kalah kan!"
"Eh…… aku kan cuma menyemangati Rei-chan……"
Menghadapi keluhan tidak adil dari gadis itu, laki-laki yang
dipanggil "Yuu-kun" itu masuk ke lapangan sambil tersenyum pahit.
"Nah, ini
handuk dan minuman olahraga. Belakangan ini pagi pun sudah panas, jadi hidrasi
itu penting……"
"Wawa!
I-ini, aku sedang berkeringat, jadi jangan terlalu dekat!"
Gadis itu
sedang berbicara akrab dengan laki-laki yang tidak dikenal. Kota hanya bisa terpaku menatap
pemandangan itu.
"Haha, tidak
perlu peduli hal begitu kok."
"A-aku yang
peduli! Yuu-kun nggak punya kepekaan!"
Kakak yang
biasanya tenang dan memancarkan "pesona dewasa" itu kini terlihat
panik dengan ekspresi yang belum pernah Kota lihat sebelumnya. Apa-apaan ini.
Wajah seperti itu, padahal dia tidak pernah menunjukkannya padaku sekalipun—
"Anu, anak
itu siapa……?"
"Ah, ini
Kota-kun temanku. Dia jago banget main basket lho! Akhir-akhir ini, setelah
senam radio kami selalu main bareng."
"Heh, begitu
ya. Anu, Kota-kun? Terima kasih ya sudah menemani Rei-chan main."
Laki-laki yang
membungkuk sedikit untuk menyamakan pandangan dengannya itu membuat Kota
membalas dengan tatapan kosong.
"A…… i-nggak. Saya cuma……"
"Muu, kalau bicara begitu seolah aku yang ditemani main
oleh Kota-kun dong?"
Melihat interaksi
akrab antara laki-laki itu dan si kakak, hati Kota terasa membeku seperti musim
dingin, kontras dengan teriknya matahari musim panas.
"—Kalau
begitu, aku pergi dulu ya. Dadah, Kota-kun."
"Eh, ah…… iya……"
Kakak yang mendekat itu tersenyum manis dan mengelus kepala
Kota dengan lembut. Itu seolah-olah—
"Terima kasih untuk semuanya ya. Main basket bareng Kota-kun seru banget!"
—Itu
seolah-olah gerakan orang dewasa yang sedang menenangkan anak kecil dengan
lembut.
Setelah
si kakak dan si laki-laki pergi bersama dengan akrab, Kota memungut kantong
kertas yang dia sembunyikan di tempat teduh lapangan—hadiah yang seharusnya dia
berikan kepada si kakak.
"……Ha,
haha. Seperti orang bodoh saja."
Sambil
memegang kotak kado yang dibungkus dengan kertas warna merah muda yang lucu,
anak itu berjongkok di sudut lapangan.
"Ternyata
aku tidak dianggap sama sekali."
Suara yang
gemetar dan kekuatan yang tanpa sadar dia kerahkan membuat kertas kado itu
kusut berantakan.
"Yang suka…… cuma aku sendiri."
Dia merasa seolah-olah dirinya di masa lalu yang serius
memikirkan hadiah apa yang akan disukai gadis itu sedang ditertawakan oleh
seluruh orang di dunia.
"Ba-basket.
Aku padahal serius. Tapi bagi
Kakak, itu cuma sambilan. Hanya karena dipanggil orang itu saja, dia langsung hilang fokus."
Seluruh
waktu dan perasaan yang dia habiskan bersama gadis itu terasa seperti
kesalahpahaman. Terasa seperti kesalahan.
"Pa-padahal hari ini…… a-adalah…… yang
terakhir……!"
Setelah
itu, dia tidak sanggup lagi bersuara. Sambil mengeluarkan rintihan penderitaan, anak laki-laki itu menelan
pahitnya patah hati pertama.
◆◆◆
—Kemampuan Reiko
adalah memberikan rasa euforia yang tak tertandingi bahkan oleh narkoba saraf
kepada dirinya sendiri dengan cara mengkhianati perasaan cinta target yang
masuk ke dalam pandangannya.
Ketulusan murni
yang ditujukan target kepada dirinya sendiri. Reiko menolak itu.
"Terima
kasih, Kota-kun. Berkat kamu yang begitu murni dan polos—"
Namun, untuk
mengaktifkannya, ada syarat bawah sadar yang tidak bisa dia penuhi secara
sengaja.
"Sepertinya
aku bisa makin mencintai Yuu-kun."
Yaitu, targetnya
haruslah sangat menyukai dirinya (si Jalang Bajingan).
UNTRUE LOVE —Cinta Tidak Murni—



Post a Comment