Chapter 4
Bagian SMP Kelas 2 – Selesai
Apa-apaan
barusan?
Aku tidak bisa
menyembunyikan kekalutanku saat narasi monolog tadi menyebutkan kemampuan aneh
lain yang mendadak tumbuh dalam diriku.
Halo, aku Netora
Reiko.
Sudah cukup aku
punya kekuatan tidak masuk akal seperti memanipulasi darah, jadi tolong
berhenti menambah atribut aneh padaku. Jangan pakai operasi penjumlahan. Pakai
pengurangan saja.
Aku ini kan
pahlawan wanita dari komedi romantis sekolah yang sangat, saaaaangat biasa?
Artinya, meski aku terlihat tegar, sebenarnya aku hanyalah manusia lemah yang
rapuh.
Tapi ya... justru
karena manusia itu lemahlah, mereka bisa menyayangi orang lain di sisinya.
Mereka bisa melangkah maju sambil saling menggenggam tangan.
Memang yang
terpenting itu adalah ikatan, ya. Manusia yang dengan mudah membuang orang lain
demi kepentingannya sendiri tidak akan punya masa depan.
Orang yang hanya
memikirkan untung-rugi diri sendiri dan melakukan seleksi terhadap hubungan
manusia adalah sampah. Mereka adalah monster yang kehilangan hati nurani. Tidak
bisa dimaafkan, kan?
Contohlah aku.
Aku yang mencintai semua kandidat NTR dengan adil dan setara ini.
Fuu, lega
rasanya. Aku sudah mengatakan semua yang ingin kukatakan, jadi aku merasa lega.
Karena sudah
lega, mari kita masuk ke semester kedua.
Setelah
menghancurkan otak Kota-kun untuk sekadar mengganjal perut, aku menghabiskan
sisa liburan musim panas dengan relatif tenang.
Berhubung aku
sudah mengadopsi Chi-chan ke dalam rute NTR, aku perlu merombak ulang
rencana, jadi aku sedikit membatasi agenda kegiatan musim panas bersama Yuu-kun
dan yang lainnya.
Yah, meski begitu
kami tetap pergi ke festival musim panas dan berenang di pantai bersama-sama,
sih.
Karena tidak ada
kejadian yang benar-benar spesial untuk dicatat, bagian penggambarannya aku
potong saja.
Ya, begitulah.
Memang ada sedikit kejadian—benar-benar cuma sedikit—di mana aku mengacak-acak
emosi mereka, atau bermesraan tipis dengan Yuu-kun untuk merusak otak
Fuyuki-kun dan yang lainnya.
Tapi itu cuma
level kejadian selingan di bagian akhir yang bisa dilewati begitu saja.
Kalau levelnya
cuma segitu, anggap saja tidak terjadi apa-apa. Oke, sepakat.
"Ya,
semuanya kumpul—"
Saat aku sedang
asyik melamun, suara peluit guru olahraga yang menggema di lapangan memaksaku
untuk kembali fokus ke realitas.
Waktu sudah
beranjak sore, saat-saat di mana pelajaran olahraga usai.
"Baik,
sampai di sini untuk hari ini. Hmm, karena hari ini banyak bola yang dikeluarkan... Netora, maaf, bisa
bantu merapikannya?"
"Baik,
Pak."
Aku
mengangguk patuh dan mulai memindahkan bola-bola yang terkumpul di pojok
lapangan ke dalam keranjang pengangkut. Di saat itulah, Yuri-chan memanggilku.
"Rei-chan,
aku bantu ya."
"Terima kasih, Yuri-chan. Tapi ini sebentar lagi
selesai kok, jadi tidak apa-apa. Lagipula,
bukankah sore ini kamu ada jadwal konsultasi masa depan?"
"……Ah, benar
juga!"
"Fufu, di
sini aman kok, lebih baik kamu segera ganti baju."
"Iya. Maaf
ya, Rei-chan……"
Mendengar
perkataanku, Yuri-chan menunduk merasa bersalah lalu bergabung dengan kelompok
siswa yang kembali ke gedung sekolah.
Aku juga harus
segera menyelesaikan ini dan pergi bermain dengan Yuu-kun.
◆◆◆
"Ini bola terakhir…… selesai."
Setelah selesai
memindahkan semua bola ke gudang, aku melakukan peregangan ringan untuk
melemaskan otot.
Nah, kehidupan
SMP sudah mencapai titik tengah.
Seperti halnya
Yuri-chan tadi, sudah saatnya mulai menyusun rencana masa depan secara konkret.
Tentu saja, untuk
diriku sendiri, baik nilai akademik maupun poin perilaku tidak ada masalah.
Jadi yang perlu
diperhatikan di sini adalah parameter para kandidat NTR seperti Yuu-kun
dan yang lainnya.
……Yah, kalau
Fuyuki-kun sih sejak awal aku tidak khawatir. Yuu-kun dan Yuri-chan juga sudah
kujinakkan dengan teliti dan mendalam sejak kelas satu, jadi dalam setengah
tahun lagi mereka pasti bisa mencapai zona aman untuk masuk ke Akademi Mikage.
Aku juga sudah melakukan mind control agar mereka
memilih sekolah tersebut.
Masalahnya adalah Kanda-kun…… Secara akademik, anehnya dia
hanya sedikit di bawah Fuyuki-kun dan masuk kategori jenius.
Hambatan
terbesarnya adalah poin perilaku yang buruk di kelas satu.
Kalau ini sih
jujur saja tidak bisa diapa-apakan, tapi sejak naik kelas dua, Kanda-kun sudah
berubah menjadi mild yankee yang cuma agak kasar bicaranya. Yah, pasti
ada jalan keluarnya.
Lagipula, jika
keadaan mendesak, aku tinggal membuang Kanda-kun dan mencari stok berandalan
baru.
Berbeda dengan
posisi "teman masa kecil" seperti Fuyuki-kun, posisi "berandalan
penikung" itu bisa dibilang sangat mudah digantikan.
Aku memang
menyukai Kanda-kun, tapi aku tidak akan melakukan kesalahan bodoh dengan
terbawa perasaan hingga kehilangan tujuan utama.
Hanya orang bodoh
yang tidak bisa mengolah emosi yang akan gagal seperti itu.
Seorang yang
lembek dan tidak bisa melakukan seleksi hubungan manusia tidak akan pernah bisa
mewujudkan ambisi besar. Mereka yang bersandar pada hal ambigu seperti
"ikatan" adalah mereka yang akan kalah pada akhirnya. Itulah
kenyataannya.
Aku pun
menyunggingkan senyum lebar hingga memperlihatkan gusi, seolah yakin akan masa
depanku yang cerah.
"……Lho?"
Setelah
mengembalikan ekspresi wajahku ke mode default, aku memegang pintu
gudang olahraga.
Namun, pintu besi
yang tebal itu hanya mengeluarkan suara decitan yang memekakkan telinga tanpa
ada tanda-tanda akan terbuka.
◆◆◆
"……Hmm?"
Setelah pelajaran
olahraga usai, aku—Kurushima Fuyuki—yang baru kembali dari toilet menuju kelas,
memanggil Yuki yang tampak kebingungan menoleh ke sana kemari.
"Ada apa,
Yuki?"
"Ah,
Fuyuki-kun…… itu, apa kamu lihat Rei-chan?"
"Rei?
Nggak, tuh. Dia belum kembali?"
Yuki
mengangguk, lalu menatap tas Rei yang masih tergeletak di mejanya dengan
ekspresi cemas.
"Bukankah
Shirase harusnya tahu?"
"Shirase-san
sedang konsultasi masa depan dengan guru. Saat aku kembali, dia sudah tidak ada di
tempat……"
Melihat Yuki yang
tidak bisa menyembunyikan kecemasannya, Koichi yang baru kembali membawa jus
kotak dari mesin penjual otomatis menyentil kepala Yuki dengan gemas.
"Paling juga
ke toilet atau semacamnya. Tachibana, kamu itu terlalu khawatir."
"I-iya sih…… tapi, tetap saja……"
"……Ya sudah, tunggu sebentar lagi. Kalau tetap tidak
kembali, aku akan bantu mencarinya. Nih, minum dulu biar tenang."
Sambil berkata begitu, Kanda menyodorkan salah satu jus
kotaknya pada Yuki.
"……Iya.
Terima kasih, Kanda-kun."
"Koichi~
mana buatku?"
"Mana
kutahu. Beli sendiri sana."
Mendengar candaan
aku dan Koichi, Yuki tampak sedikit lebih tenang dan tersenyum tipis.
"Kalau
begitu, aku juga mau beli minum sebentar."
"Yo."
"Iya,
hati-hati."
Mendengar jawaban
Yuki dan Koichi, aku melangkah keluar kelas.
Di depan mesin
penjual otomatis yang ada di koridor penghubung, aku hendak mengeluarkan
dompet—namun gerakanku terhenti.
"……Jangan-jangan."
Tiba-tiba, sudut
mataku menangkap penampakan gudang olahraga di pojok lapangan melalui kaca
jendela. Merasakan
firasat buruk yang aneh, aku langsung berlari menuju ke sana.
◆◆◆
"Haa, haa…… Nggak mungkin sih ada kejadian klise kayak
di manga……"
Sambil mengatur napas yang sedikit memburu karena berlari,
aku sampai di depan gudang olahraga di pinggir lapangan.
"Kuncinya
nggak terpasang, tapi—ugh!? Keras
banget! Apa-apaan ini!?"
Meskipun
seharusnya tidak terkunci, pintu itu sama sekali tidak mau bergerak. Di saat aku sedang terperangah,
terdengar suara teredam dari dalam gudang.
"A-anu! Apa
ada orang di sana!? Pintunya tidak bisa dibuka……!"
"Rei!?
Aku sempat curiga, tapi ternyata beneran ada di dalam……"
"Fuyuki-kun?
Sy-syukurlah. Aku terjebak di dalam…… itu, tolong bantu aku……"
"Iya, tunggu
sebentar. Gnuuuu……! Sial, gimana sih engselnya!?"
Aku cukup percaya
diri dengan kekuatanku, tapi untuk pintu di depanku ini, rasanya aku tidak akan
sanggup membukanya sendirian.
Meski agak kesal,
mungkin lebih baik aku memanggil bantuan—
"……Hiks."
"—!"
Terdengar suara
isakan kecil.
Gadis yang
kucintai sedang menangis di depanku.
Hanya
dengan itu, pikiranku langsung menjadi kosong.
"Buka,
sialaaaaan……! TERBUKALAHHHH!"
Aku
mengerahkan seluruh tenaga dan semangat hingga rasanya ada beberapa pembuluh
darah di kepalaku yang mau pecah.
Detik
berikutnya, seolah sesuatu yang menahan pintu itu mendadak hilang, lempengan
besi itu bergeser ke samping dengan sangat mudah.
"Rei! Kamu
tidak apa-apa!?"
"……Ah."
Di balik pintu
yang terbuka, Rei yang masih memakai baju olahraga duduk bersimpuh di lantai
dengan air mata yang menggenang di matanya.
"……Fu."
"Fu?"
"Fuyuki-gunnnn!"
"Owa!?"
Detik
berikutnya, Rei yang menangis tersedu-sedu langsung menghambur ke pelukanku.
Aku
sempat mematung karena kejadian mendadak ini, tapi melihat gadis di depanku
yang sangat kacau melebihi diriku, aku malah menjadi tenang.
Untuk
sementara, aku mencoba menenangkannya dengan lembut, sambil dengan ragu-ragu
mengelus rambut hitamnya yang indah.
"Haa…… sudah tidak apa-apa, tenanglah. Oke?"
"Uuuu…… a-aku pikir aku tidak akan bisa keluar
lagi……"
"Mana
mungkin. Sudah, jangan menangis."
Aku menyeka air
mata yang jatuh dari mata besarnya dengan tanganku.
……Merasakan
kehangatan dari tetesan air mata itu, aku mencoba menyembunyikan detak
jantungku yang kian cepat dan tersenyum lembut pada Rei.
"Hiks…… Fuyuki-kun, terima kasih banyak. Sudah datang
mencariku……"
"……Ah, benar juga. Yuki sangat khawatir karena kamu tidak kunjung kembali. Ayo cepat
kita balik ke kelas."
"Eh!? Awawawa…… ta-tapi wajahku pasti jelek sekali
sekarang…… aku tidak mau Yuu-kun melihatku seperti ini……"
"Apa-apaan itu. Jadi tidak apa-apa kalau aku yang
melihat wajah jeleknu?"
Melihat Rei yang sedang membuang ingus di depanku, aku
tertawa pahit. Gadis itu kemudian mengerutkan dahi dan mengerucutkan bibirnya
karena merasa tidak enak.
"Ka-kalau
Fuyuki-kun sih tidak apa-apa! Kamu kan teman spesial yang sudah bersamaku sejak lama. Aku tidak keberatan meski kamu melihat
sisi memalukanku sedikit."
"……Suatu
kehormatan bagiku."
Aku
mengacak rambut Rei dengan sedikit kasar.
"Wawa!
A-apa-apaan!?"
"Sudah,
ayo pulang. Kalau lelet, nanti Shirase dan Koichi juga ikut khawatir."
Lagipula, aku
juga tidak ingin melihat sisi memalukanmu dilihat orang lain.
Agar wajahku yang
memerah karena kata-katanya tidak terlihat, aku berjalan mendahului Rei.
◆◆◆
--- Waktu diputar
mundur sedikit.
"……Fuyuki-kun
belum kembali juga, ya."
Di dalam kelas
setelah jam sekolah usai, Yuki dan Koichi sedang menyeruput jus kotak mereka
dengan tatapan kosong.
"Mungkin dia
tertangkap oleh guru atau anak klub olahraga? Aku dengar klub sepak bola libur hari ini,
tapi……"
"……Aku
akan coba mencarinya sebentar."
"Oke.
Aku tunggu di sini saja biar tidak repot kalau nanti malah papasan sama Netora
atau Fuyuki."
Sambil
menjawab Koichi, Yuki berjalan menuju mesin penjual otomatis di koridor
terdekat dari kelas. Namun, sosok Fuyuki tidak terlihat di mana pun.
"Pesan
di ponselnya juga tidak dibalas…… Fuyuki-kun ke mana, sih—"
Tanpa sengaja,
Yuki mengalihkan pandangannya ke jendela yang menghadap ke lapangan. Dan di
sanalah, dia melihat pemandangan itu.
"Rei-chan,
Fuyuki-kun……?"
Di sudut
lapangan, di depan gudang olahraga, ada dua orang laki-laki dan perempuan yang
sedang berpelukan—mereka adalah gadis yang Yuki cintai dan sahabatnya sendiri.
Meskipun jaraknya
jauh, sosok mereka tidak mungkin salah lihat. Tenggorokan Yuki terasa kering dan perih.
"Ha,
eh? Kenapa……?"
Fuyuki
menyeka air mata yang mengalir di pipi gadis yang sedang menangis itu dengan
ujung jarinya. Dengan akrabnya, Fuyuki mengelus rambut gadis itu.
Setiap
gerakan mereka membuat Yuki mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya menusuk
telapak tangannya.
"……Jahat
sekali. Fuyuki-kun. Padahal kamu tahu kalau aku menyukai Rei-chan."
Kepalanya terasa
sakit.
Yuki yang
terhuyung-huyung bersandar pada pilar bangunan sekolah, seolah ingin
menyembunyikan diri dari mereka berdua.
"Padahal
kamu bilang akan mendukungku."
Yuki
menggigit kuku jempolnya. Hatinya yang bergejolak tidak kunjung tenang.
"Padahal
aku yang lebih dulu mengkhawatirkan Rei-chan. Padahal aku yang lebih dulu
menyukai Rei-chan."
Padahal kita
berteman. Padahal kamu sahabatku. Kenapa kamu melakukan hal yang kubenci?
"Curang."
Kepalanya, terasa
sangat sakit.
"Curangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurang……"
◆◆◆
Saat senja tiba,
di sebuah sudut kawasan perumahan.
Seorang anak
laki-laki—Tachibana Yuki—berdiri di depan pintu rumah kediaman Netora dan
menekan bel pintu.
Tak lama
kemudian, Yuki menunjukkan senyum ramah ke arah pintu yang terbuka.
"Selamat
malam, Tante."
"Selamat
datang, Yuki-kun. Ayo, silakan masuk."
Atas ajakan ibu
Reiko, Yuki melangkah masuk ke dalam rumah.
"Permisi.
Maaf ya, Tante, saya jadi merepotkan terus……"
"Duh,
tidak perlu sungkan begitu, kan? Keluarga kita sudah berteman lama sekali. Tante sudah menganggap Yuki-kun
seperti anak sendiri, lho."
Karena kedua
orang tua Yuki sama-sama bekerja, terkadang ibunya pulang terlambat. Di saat
seperti itulah, Yuki sesekali diundang untuk makan malam di rumah kediaman Netora.
"……Malahan,
Tante tidak keberatan kalau kamu beneran jadi menantu Tante, tahu?"
"Ta-Tante!?
S-saya dan Rei-chan tidak punya hubungan seperti itu……"
Baru saja kalimat
itu terucap, ingatan tentang kejadian tempo hari kembali terbayang di kepala
Yuki.
Sosok Reiko dan
sahabatnya yang sedang berpelukan di sudut lapangan sekolah.
Bayangan itu
membuat Yuki merasa sesuatu yang gelap dan berat mulai memenuhi relung hatinya.
"Aku……"
"Yuu-kun!
Selamat datang!"
Sebelum bagian
dalam dirinya benar-benar terwarnai oleh kegelapan, sebuah suara ceria
membuyarkannya.
Reiko yang datang
dari arah ruang tengah menunjukkan senyum secerah matahari, lalu menyambar
tangan Yuki dan menariknya dengan penuh semangat.
"Malam ini
menunya kari! Aku juga bantu Ibu memasaknya, lho. Makan yang banyak ya,
Yuu-kun!"
"I-iya. Haha…… a-aku tidak sabar mencicipinya……"
Merasakan senyum Reiko dan suhu tubuhnya yang tidak
memancarkan setitik pun kegelapan atau noda, Yuki berpura-pura tenang agar
hatinya yang buruk tidak terlihat oleh siapa pun.
Benar. Dia tidak boleh menyadari perasaanku ini. Perasaan
yang gelap dan menyimpang ini.
Rei-chan adalah milikku.
Daripada diambil
oleh orang lain, lebih baik sekalian saja aku paksa—
"Yuu-kun?"
"……Ah, a-ada
apa? Rei-chan?"
"Anu,
apa kamu sedang tidak enak badan? Habisnya, wajahmu terlihat menakutkan tadi……"
Mendengar ucapan
Reiko, Yuki buru-buru menggelengkan kepalanya dan memaksakan diri untuk
terlihat ceria.
"Enggak,
kok. Bukan apa-apa. ……Itu, mungkin karena aku sangat lapar, jadi wajahku
terlihat agak suram?"
"……Begitu
ya! Kalau begitu, ayo kita segera makan!"
"Iya. Tapi
sebelumnya, aku mau cuci tangan dulu. Bisa tunggu sebentar?"
Setelah berkata
demikian, Yuki masuk ke kamar mandi.
Sepasang mata
yang terpantul di cermin itu tampak seperti mata yang kehilangan nyawa, seolah
cahayanya telah padam.
◆◆◆
"Eh! Yuu-kun
juga mau masuk ke Akademi Mikage!?"
Selesai makan,
Reiko dan Yuki berdiri bersisian mencuci piring.
Sudah menjadi
tradisi sejak mereka kecil, jika makan bersama, anak-anaklah yang bertugas
membereskan peralatan makan.
……Yah, sebenarnya
ini adalah bentuk campur tangan orang dewasa yang agak berlebihan karena ingin
mendekatkan kedua anak yang terlihat saling menyukai ini.
Sambil mengelap
peralatan makan yang sudah bersih, Yuki menjawab ucapan Reiko.
"Iya. Yah,
kalau melihat nilaiku sekarang mungkin agak sulit, sih…… tapi aku ingin mencoba
berusaha."
"Begitu
ya~…… kalau beneran masuk, kita bisa terus bersama Yuu-kun sampai SMA nanti!
Aku pasti akan mendukungmu! Kalau ada masalah apa pun, bilang saja ya!"
"Haha,
terima kasih. Aku juga dengar Shirase-san mengincar Mikage. Kalau bisa satu
sekolah lagi dengan semuanya, aku pasti senang."
Selesai mencuci
seluruh peralatan makan, Yuki melepas celemeknya dan bertanya pada Reiko dengan
nada santai.
"……Ngomong-ngomong,
saat hari konsultasi masa depan Shirase-san. Rei-chan, kamu lama sekali baru
kembali ke kelas setelah pelajaran olahraga, ya?"
"Eh? Ah,
iya. Sedikit, sih. Ada banyak urusan……"
Melihat Reiko
yang tampak ragu bicara, Yuki mempertahankan senyumnya dan membuka mulut.
"……Sepertinya
kamu sedang bersama Fuyuki-kun di depan gudang olahraga."
Mendengar
kata-kata itu, bahu Reiko tampak bergetar hebat.
"A-ah…… itu, sebenarnya waktu itu aku terjebak di dalam
gudang olahraga. Kebetulan Fuyuki-kun lewat, jadi dia membantuku."
"Begitu ya. ……Hei, Rei-chan. Kenapa kamu merahasiakan
hal itu dariku?"
"Eh? Rahasia?"
Yuki tetap memasang senyum di wajahnya sambil menatap lurus
ke dalam mata Reiko.
"Apa ada
alasan yang tidak bisa kamu katakan padaku? Rei-chan, apa terjadi sesuatu
antara kamu dan Fuyuki-kun?"
"Eeeh!?
Bu-bukan begitu! Itu, aku hanya tidak ingin membuat Yuu-kun khawatir yang
bukan-bukan, makanya aku……"
Melihat Reiko
yang tampak panik secara kasatmata, Yuki yakin bahwa gadis itu sendiri tidak
memiliki niat buruk apa pun.
Karena Yuki
sendiri memiliki watak yang mudah menyimpan rasa bersalah dan keraguan, dia
menjadi lebih peka daripada orang lain terhadap gelagat semacam itu.
Dari Reiko, dia
tidak merasakan hawa gelap seperti keraguan atau rasa bersalah sedikit pun.
Kenyataan itu membuat Yuki menghela napas lega dalam hati.
"……Maaf. Aku
bicara seolah sedang menginterogasimu."
"I-iya,
tidak apa-apa……"
"Memang
benar, kalau aku mendengar cerita tadi, mungkin aku akan khawatir yang tidak
perlu. Aku malah membuat Rei-chan dan Fuyuki-kun jadi tidak enak hati,
ya?"
"Aku juga
yang salah karena menyembunyikannya dengan cara yang aneh, malah membuat
Yuu-kun jadi tidak tenang. Maafkan aku ya……"
Yuki mengelus
pelan kepala Reiko yang tertunduk lesu.
"Jangan pasang wajah sedih begitu. Rei-chan dan Fuyuki-kun merahasiakannya kan hanya
demi aku."
"Yuu-kun……"
"……Tapi, itu
karena aku ini tidak bisa diandalkan, kan?"
Mendengar
ucapan Yuki, Reiko tersentak dan mengangkat wajahnya.
"Karena
itulah, aku jadi makin mengkhawatirkan Rei-chan. Aku takut kalau ada hal berat
yang menimpamu, kamu malah akan menyembunyikannya demi aku."
"Yu-Yuu-kun……?"
"Rei-chan.
Aku bukan lagi anak kecil yang tidak bisa apa-apa tanpa bersembunyi di
belakangmu. Kalau ada sesuatu, aku bisa melindungimu. Aku punya tekad untuk
melakukan apa pun demi kamu."
Tangan yang tadi
mengelus rambut hitam gadis itu kini berpindah ke pipinya yang lembut.
"Tapi karena
Rei-chan itu baik hati. Biarpun aku bicara begini, kalau terjadi sesuatu pasti
kamu akan menanggungnya sendirian agar aku tidak khawatir. Kalau begitu,
sekalian saja……"
Yuki melanjutkan
dengan suara tenang, tanpa menghilangkan senyum dari wajahnya.
"Agar
Rei-chan tidak mengalami hal berbahaya lagi…… bagaimana kalau aku ikat saja kamu, supaya kamu
tidak bisa pergi atau lari dari sisiku?"
Perasaan
menyimpang si anak laki-laki itu sudah tidak terbendung lagi.
"——Aku tidak
suka hal seperti itu."
Kata-kata
penolakan. Terhadap kata-kata buruk Yuki yang berlumuran obsesi posesif, Reiko
menjawab demikian.
Yah, itu wajar
saja. Orang yang dengan senang hati menerima kebebasannya dikekang oleh orang
lain pada dasarnya hanyalah minoritas. Hal itu tidak terkecuali bagi gadis di
depannya ini, yang memiliki hati sebersih malaikat dan selalu mengutamakan
orang lain.
"……Maaf,
Rei-chan."
Yuki sudah
menduga dia akan mendapatkan reaksi seperti itu. Meski begitu, sang anak
laki-laki merasa benci pada dirinya sendiri karena merasa terluka secara egois
oleh penolakan tersebut.
(……Aku sudah
tahu. Rei-chan pasti akan bereaksi seperti itu. Meski begitu—)
Meski dia dibenci
olehnya, atau dipandang rendah oleh teman-temannya, keinginannya untuk mengikat
Reiko di sisinya sama sekali tidak goyah. Ya, malahan kalau bisa sekarang juga—
"Soalnya,
Yuu-kun sama sekali tidak terlihat senang."
"……Eh?"
Perlahan,
tangan si gadis mengusap pipi Yuki. Seolah sedang menyeka air mata yang tak
terlihat.
"Yuu-kun
selalu begitu. Makin merasa menderita dan sesak, kamu malah makin memaksakan
diri untuk tersenyum. Mumpung lagi begini aku bilang ya, itu kebiasaan buruk,
tahu?"
"Fugah."
Seolah ingin
melenturkan senyum kaku sang anak laki-laki, ujung jari Reiko yang halus
menarik-narik pipinya.
"Re-Rei-chan?"
"……Aku tidak
tahu apa yang terjadi, tapi sejak tadi Yuu-kun terlihat seperti sedang menahan
tangis sambil berpikir 'sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini'…… wajahmu
terlihat seperti itu, lho?"
"—!"
Mendengar
kata-kata Reiko yang menohok tepat ke inti masalahnya, Yuki terkesiap.
Benar. Sebenarnya
aku tidak ingin mengabaikan keinginan Reiko dan melakukan hal seperti
mengurungnya dalam sangkar bernama diriku. Aku tidak ingin mencurigai atau
mencemburui Fuyuki—sahabatku sendiri. Aku tidak ingin melakukan hal yang
membuat teman-temanku muak.
——Dan yang
terpenting, aku tidak ingin menjadi manusia yang tidak bisa membanggakan diri
di hadapannya!
"Fufu,
Yuu-kun yang biasanya sudah kembali."
Begitu Reiko
melepas jarinya yang mempermainkan pipi Yuki, sang anak laki-laki merasa
hatinya menjadi lega seolah kabut gelap yang mengendap telah sirna. Pikirannya
menjadi jernih, dan menyadari betapa buruknya emosi yang dia tumpahkan pada si
gadis tadi, Yuki mencoba meminta maaf dengan terbata-bata.
"Rei-chan. Itu, maafkan aku. Aku……"
"Kalau itu
hal yang tidak ingin kamu lakukan, tidak perlu dipaksakan. Kamu boleh lari dari hal-hal yang
tidak ingin kamu hadapi. Apa
pun yang terjadi, aku paaaaaaasti akan selalu ada di pihak Yuu-kun. Oke?"
"……Haha,
sepertinya itu terlalu memanjakanku. Aku kan sudah empat belas tahun."
"Tidak
apa-apa, kan? Sejak masuk SMP Yuu-kun jadi terlihat dewasa sekali, aku jadi
agak merasa kesepian. Sesekali bermanjalah pada teman masa kecilmu ini."
Benar-benar deh,
sepertinya aku tidak akan pernah bisa menang dari gadis ini seumur hidupku.
Yuki kembali meyakini kenyataan itu dengan perasaan yang cerah.
"……E-etoo,
Yuu-kun."
"Iya, ada
apa Rei-chan?"
Tiba-tiba si
gadis mendekatkan wajahnya ke telinga Yuki, lalu berbisik dengan suara yang
sangat pelan.
"Itu,
aku memang bilang begitu tadi…… tapi kalau itu hal yang benar-benar ingin Yuu-kun lakukan…… aku akan
melakukan apa pun untukmu. Oke?"
"—Eh, ha!?
Re-Rei-chan……!"
Mendengar
pernyataan luar biasa dari si gadis, Yuki spontan memegang telinganya dan
menoleh. Wajah Reiko memerah padam sampai terlihat kasihan, dan dia melanjutkan
dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ja-jadi, itu…… kalau aku juga punya hal yang ingin
kulakukan pada Yuu-kun, saat itu…… apa kamu mau menerimanya?"
"U…… umm……"
Di tengah ketegangan yang membuat jantungnya serasa mau
melompat keluar, Yuki mengangguk pada ucapan Reiko sambil terengah-engah.
"……Aku
mengerti. Aku berjanji. Jika Rei-chan punya hal yang ingin dilakukan padaku,
aku akan menerima apa pun itu."
Kata-kata penuh
tekad dari si anak laki-laki. Mendengar itu, Reiko tersenyum lembut dan mengucapkan rasa terima
kasih.
"Fufu,
Yuu-kun memang baik ya. Te-ri-ma-ka-sih."
◆◆◆
"Sial! Aku
kena!"
Setelah makan
malam. Setelah mengantar Yuu-kun pulang, aku memegangi kepala sambil
menelungkup di meja kamarku.
Selamat malam,
aku Netora Reiko.
Nah, ini adalah
kegagalan besar setelah sekian lama. Sepertinya aku terlalu banyak menaikkan
tingkat kesukaan Yuu-kun, sampai-sampai atribut yandere muncul dalam
dirinya.
Menurutku,
laki-laki yang kena NTR itu pada dasarnya harus memiliki rasa yang
"polos" tanpa kepribadian yang menonjol. Gara-gara kegagalanku di
masa kecil saja Yuu-kun sudah tumbuh jadi laki-laki tampan. Kalau ditambah
atribut yandere lagi, rasa asli dari NTR itu sendiri akan menjadi
kacau.
Padahal tadinya
aku berencana memberikan atribut yandere pada kandidat penikung seperti
Fuyuki-kun atau Yuri-chan, tapi malah muncul pada si laki-laki yang ditikung,
Yuu-kun…… benar-benar salah perhitungan.
Bacalah suasana
dong~~. Bacalah suasanaku~~.
Yah, kalau
setelah ini semuanya berjalan tanpa cela sih tidak masalah. Aku segera
mengganti pola pikir. Lagipula kejadian kali ini bisa jadi pelampiasan yang
bagus bagi Yuu-kun yang sedang menimbun frustrasi di dalam hatinya. Kalau
dianggap sebagai kelonggaran untuk rencana NTR ke depannya, ini bukan
hal yang sepenuhnya buruk.
Tapi tetap saja,
Yuu-kun benar-benar lucu ya~~. Aku menjilat bibirku sambil membayangkan Yuu-kun
yang tadinya yandere kini telah kembali ke jalan yang benar di atas
telapak tanganku.
Aku sadar Yuu-kun
melihatku sedang berpelukan dengan Fuyuki-kun, tapi kalau dia sampai kepikiran
sejauh itu, harusnya dia langsung menyergap kami di tempat kejadian perkara.
Karena dia tidak melakukannya, Yuu-kun itu meskipun dibilang yandere,
dia tetap tipe yang sangat-sangat manis. Bagiku, dia cuma seperti anjing
Pomeranian yang lucu.
Jangan berikan
aku waktu untuk bersiap-siap dong~~.
Yah, seumpama dia
menangkap basah kami pun, aku pasti bisa mengatasinya. Lagipula atribut semacam
yandere hanyalah bug kecil yang lahir dari ilusi bernama cinta.
Itu tidak akan mempan padaku yang berpegang teguh pada kebenaran hakiki manusia
bernama "kebencian yang tak kunjung padam".
Dengan begini,
aku berhasil menghapus atribut yandere dari Yuu-kun dengan selamat.
Mengubah kepribadian seseorang itu gampang sekali. Tidak ada yang sulit.
Sebab diriku
sendiri adalah contoh nyata. Sebagai pahlawan wanita terbaik yang cocok untuk
komedi romantis murni Yuu-kun, aku telah berkali-kali merombak tubuh dan
jiwaku…… mungkin ini adalah efek sampingnya. Kemanusiaanku sudah benar-benar
hancur total.
Artinya aku ini
adalah korban dari laki-laki penggoda yang ditikung bernama Yuu-kun……?
Berani-beraninya membuatku jadi menyimpang begini. Dasar laki-laki penuh dosa.
Mungkin aku
adalah sampah terendah yang punya hasrat untuk ditikung. Demi situasi NTR,
bermain kaki dua atau tiga adalah hal biasa, dan aku mungkin sampah yang tidak
punya rasa tanggung jawab sedikit pun atas hidup orang lain.
Tapi ya, Yuu-kun
yang seperti itu pun bilang dia akan menerimaku apa adanya. Aku tidak sanggup
menginjak-injak perasaan Yuu-kun yang seperti itu……!
Yah, aku tidak
menceritakan detail apa pun pada Yuu-kun, jadi kalau sampai masuk pengadilan
aku pasti kalah telak. Inilah yang disebut trik narasi. Tapi cinta itu kan
bukan pertarungan hukum. Yang terpenting adalah janji lisan dan hati yang mempercayai pasangan.
◆◆◆
Sekarang
waktunya kumpul-kumpul perempuan di rumah Yuri-chan. Mengumpulkan beberapa anak
perempuan yang lumayan akrab di kelas, kami menikmati obrolan seru sambil
menikmati teh dan camilan.
Mengelola
kebencian antar perempuan dan mengumpulkan berbagai informasi melalui
perkumpulan perempuan adalah salah satu tugas pentingku. Wanita penikung kelas
wahid haruslah menjadi nomor satu dalam pergaulan sosial.
"—Tapi
sebenarnya bagaimana, Reiko? Kasihan kan kalau Tachibana-kun dibiarkan menunggu
terlalu lama?"
"Eh, e-eeh? A-aku dan Yuu-kun kan tidak punya hubungan
seperti itu…… lagipula, aku inginnya pihak laki-laki yang menyatakan
duluan……"
Melihat reaksiku yang polos, gadis-gadis itu berteriak
"Kyaa!" dengan heboh. Gadis-gadis di sini adalah mereka yang tidak
punya perasaan cinta khusus pada Yuu-kun atau Fuyuki-kun. Jadi, mereka adalah
tipe yang akan memberikan simpati jika aku menunjukkan hubungan yang malu-malu
kucing seperti ini. Ikut campur dalam urusan asmara orang lain adalah salah
satu hiburan universal umat manusia.
"Yah, Tachibana-kun memang tipe begitu ya~. Dia baik
sih, tapi…… agak plin-plan, atau mungkin terlalu pemalu."
"Setuju banget. Dia tampan sih, tapi kurang agresif
gitu lho~."
"Tapi Reiko kan suka tipe pemakan tumbuhan begitu, kan?
Kalau begitu Reiko-lah yang
harus lebih agresif menyerang—"
"Ah,
sudah cukup! Jangan bahas aku terus! Hei hei, Yuri-chan sendiri tidak punya
cowok yang disukai?"
"Eh, e-eeh!? A-aku, itu……"
Yuri-chan
yang mendadak ditanya langsung tersentak kaget. Reaksi seperti hewan kecil itu
memicu jiwa sadis gadis-gadis lain, sehingga target interogasi berpindah dariku
ke Yuri-chan.
"Bener
juga~. Aku penasaran nih. Yuritchi tidak pernah cerita soal cowok sama
sekali."
"Bagaimana
dengan Kurushima-kun? Kalian kan selalu bersama."
"Belakangan
ini kamu juga akrab dengan Kanda-kun, kan~?"
"U-uuu…… Re-Rei-chan, tolong aku……"
Yuri-chan yang terdesak oleh gadis-gadis itu pun bersembunyi
di belakangku.
"Fufu, apa
boleh buat. Sini kemari."
Yuri-chan
langsung menghambur ke pelukanku saat aku merentangkan kedua tangan.
"Reiko
dan Yuritchi beneran akrab banget ya~."
"Jangan-jangan,
saingan Tachibana-kun itu malah Shirase-san……"
"Eeh~? Fufu,
bagaimana ini Yuri-chan? Katanya kita terlihat seperti itu, lho?"
Aku ikut menggoda
Yuri-chan dan melakukan ago-kui (mengangkat dagunya). Melihat Yuri-chan
menatap wajahku dari jarak dekat sambil menelan ludah, senyumku semakin dalam.
Benar,
terobsesilah padaku lebih dalam lagi. Rebutlah aku dari Yuu-kun~~.
Tempo hari
gara-gara kegagalanku, Yuu-kun malah punya atribut yandere, tapi aslinya
bakat ke arah sana harusnya lebih unggul di pihak Yuri-chan. Ayo segera
tumbuhkan atribut itu.
Atribut yandere
sangat berguna bagi posisi penikung. Untuk melakukan tindakan tidak bermoral
seperti menikung pasangan orang, atribut yandere yang membuat logika
terbang karena cinta berlebihan sangatlah menguntungkan bagiku. Soalnya mereka
jadi gampang diarahkan pikirannya.
Kata-kata seperti
"Aku sudah berusaha sekuat tenaga meskipun gagal" itu tidak ada
nilainya. Yang penting itu bukan proses, tapi hasil. Hasil di mana kamu
berhasil merebutku yang tercinta ini dari tangan Yuu-kun. Usaha tanpa hasil itu
cuma kepuasan diri sendiri saja~~.
Bukankah tidak
adil kalau Yuri-chan yang sudah berusaha keras tidak mendapatkan imbalan? Oleh
karena itu, aku akan membuang bagian-bagian tidak berguna seperti nurani dan
etika dari diri Yuri-chan dengan bersih. Betapa baiknya aku.
Tapi, sepertinya
ada penghalang niat baikku yang bersembunyi di rumah Yuri-chan.
"Waf!"
"Ah, Samo-chan! Lucunya~"
"Mungkin dia khawatir majikannya mau direbut ya~?"
Seekor makhluk berbulu putih menyerbu masuk ke kamar
Yuri-chan tempat kami berkumpul.
Itu adalah anjing
peliharaan keluarga Shirase, Samo-chan si Samoyed. Anjing besar bertubuh hampir
60 cm itu menyusupkan moncongnya di antara aku dan Yuri-chan.
Aku
menyembunyikan keinginan untuk berdecak kesal dan memberikan senyum pada si
anjing.
"Ahaha,
Samo-chan sayang sekali ya sama Yuri-chan~?"
"Grrrr……"
Saat aku mencoba
mengelus kepalanya, dia menunjukkan taringnya sambil menggeram. Rahasia kecil,
aku sebenarnya sangat, saaaaangat dibenci oleh anjing ini. Yuri-chan buru-buru
menegur anjing kesayangannya yang terus mengintimidasiku.
"H-hei!
Samo!"
"Tidak
apa-apa kok. Mungkin dia cemburu karena aku menempel terus pada majikan
kesayangannya?"
"Grrrruuuuu~~"
Sialan, dia sama
sekali tidak mau membuka hati. Aku memang belum pernah digigit, tapi Samo-san
ini sangat mewaspadaiku sampai mati.
Anjing ini kalau
disentuh gadis lain selalu menebar pesona dengan senyum khas Samoyed, tapi
begitu aku mengulurkan tangan, taring dan pupil matanya langsung terbuka lebar.
Tapi, aku
tidak akan marah karena hal sepele begitu. Orang yang baik hati itu pasti suka
binatang, kan? Secara paradoks, berarti aku ini suka binatang. Hei peeeeet. Ayo
berteman dong~~?
"Uyu
uyu~, Samo-chan bulunya lembut banget ya hari ini~?"
"Grrrgrrrgrrr……!"
"Samo! Hei
Samo! Kenapa cuma sama Rei-chan kamu galak begitu!"
Fufufu! Melihat
anjing yang sama sekali tidak mau tunduk padaku ini, aku malah jadi merasa
senang.
Dipikir-pikir,
sejak bereinkarnasi ke tubuh ini, mungkin ini pertama kalinya aku merasakan
permusuhan yang begitu nyata.
Tatapan penuh
kebencian yang tajam yang sudah lama tidak kurasakan……! Insting biologisku jadi terangsang
nih~~. Akan kubuat kamu tunduk……!
Pertarunganku
dengan si anjing pun dimulai.
◆◆◆
Sore
hari. Di depan pintu rumah keluarga Shirase, aku dan gadis-gadis teman sekelas
melambaikan tangan pada Yuri-chan.
"Kami
pulang dulu ya~. Yuri-chan, sampai jumpa lagi~."
"Uuu…… Rei-chan, maaf ya soal Samo tadi……"
"Ahaha,
tidak apa-apa kok. Samo-chan, ayo main lagi ya?"
"Grrr……"
Akhirnya,
aku tidak berhasil membuat si anjing tunduk. Meski musuh, aku memuji Samo-san dalam hati. Kalau
aku menghajarnya dengan kekerasan mungkin ceritanya akan beda, tapi tentu saja
aku tidak bisa memukul peliharaan di depan pemiliknya, jadi anggap saja skornya
seri?
Yah, meski gagal
tapi aku sudah berusaha sekuat tenaga, jadi aku puas. Yang penting itu bukan
hasil, melainkan proses usahanya sendiri. Aku segera mengganti telapak tanganku
menjadi bor (pindah prinsip).
"……Ngomong-ngomong,
ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada kalian."
Setelah berjalan
beberapa menit dari rumah Shirase, aku mengutarakan "tujuan asli"
dari kumpul-kumpul hari ini kepada gadis-gadis di sekitarku.
"Ada
apa Reiko? Kok tiba-tiba serius banget."
"Eeto, ini soal Yuri-chan……"
Melihat ekspresi seriusku, wajah gadis-gadis itu pun menjadi
tegang.
"……Tidakkah menurut kalian belakangan ini tingkah
Yuri-chan agak aneh?"
◆◆◆
"—Begitu ya.
Terima kasih, Morita-san."
"I-iya.
Kalau cuma segini sih tidak masalah…… e-eto, Netora-san. Hal yang aku bicarakan
tadi……"
"Aku
mengerti. Aku tidak akan bilang pada siapa pun, jadi tenang saja ya?"
Aku
melepas kepergian gadis yang tadi bicara rahasia denganku di kelas kosong
dengan senyuman. Gadis itu pergi dengan terburu-buru dan tampak tidak enak
hati.
……Nah, aku sudah
menduga masalah seperti ini pasti akan terjadi suatu saat nanti. Aku duduk di
meja guru di kelas kosong itu sambil berpikir.
Kejadiannya
bermula beberapa minggu lalu. Menyadari Yuri-chan yang tampak lelah dan
tertekan, aku mencoba bertanya padanya secara halus.
Namun, Yuri-chan
selalu mengelak pertanyaanku dengan lembut tanpa mau menceritakan detailnya.
Pada titik ini
aku sudah punya dugaan kasar, jadi aku segera bergerak mencari bukti.
Tidak terbatas di
kelasku di mana aku membangun sistem monarki absolut, aku juga mengumpulkan
informasi dari siswa kelas lain, adik kelas, kakak kelas, laki-laki maupun
perempuan, terkadang dengan cara negosiasi informasi.
Dan benar saja,
kenyataannya sesuai dugaanku.
Sepertinya
Yuri-chan sedang menjadi korban perundungan ringan oleh gadis dari kelas lain.
"Takane-san
dari kelas 2-C, ya. Harusnya kami tidak punya hubungan khusus…… yah, aku memang
mencolok, sih."
Dari hasil
pengumpulan informasi, target asli dari Takane-san—si otak
perundungan—sebenarnya adalah aku.
Tapi karena aku
tidak punya celah sedikit pun, dia menyerah dan mengganti sasarannya ke
Yuri-chan yang merupakan temanku.
Bentuk
perundungannya masih tergolong ringan, seperti memasukkan sampah kaleng ke
dalam loker sepatu Yuri-chan atau membicarakannya dengan suara keras agar
terdengar.
Tapi hal seperti
ini biasanya akan menjadi semakin ekstrem seiring berjalannya waktu. Mari kita
bereskan segera.
Aku sudah menarik
gadis-gadis pengikut Takane-san ke pihakku.
Morita-san yang
baru saja memberiku informasi adalah salah satunya.
Sebagai orang
yang sangat menjunjung tinggi empati, aku tahu betul apa yang paling dibenci
oleh seseorang.
Setelah menyentuh
titik itu dan melakukan "permintaan" secara tidak langsung, mereka
sepertinya tergerak oleh keadilan dalam hatiku yang membara dan dengan mudah
berpindah dari kelompok Takane-san ke pihakku.
Inilah yang
disebut kembali ke jalan yang benar.
Nah, setelah
semua benteng luar sudah kuhancurkan, saatnya menyerang benteng utama.
Aku menjilat
bibirku, lalu memprediksi pola gerakan Takane-san untuk menangkap basah
perundungannya.
◆◆◆
Aku dan Yuri-chan
adalah teman perempuan yang paling dekat—bisa dibilang sahabat. Jadi, aku bisa
menebak alasan kenapa dia tidak meminta tolong padaku. Yuri-chan itu anak yang
baik, dia pasti takut melibatkan aku dalam perundungan itu. Dia berpikir "biar
aku saja yang terluka".
……Tapi, meskipun
itu adalah bentuk kebaikannya, aku merasa kesepian. Seolah dia berkata
"ini bukan urusanmu". Aku ingin dia lebih mengandalkanku. Aku ingin
dia meminta bantuan saat menderita, dan memelukku sambil berkata "tetaplah
di sisiku" saat merasa kesepian.
Karena kami
adalah teman. Demi teman—demi Yuri-chan, apa yang bisa kulakukan. Aku berpikir
sangat, sangat dalam.
Hasil dari
pemikiranku, aku menculik Takane-san dan mencuci otaknya.
"Pasti berat
ya Takane-san. Belajar untuk ujian tidak berjalan lancar, di rumah ayah dan ibu
selalu bertengkar, kamu merasa kesepian kan? Makanya kamu jadi cemburu padaku
dan Yuri-chan yang selalu terlihat senang? Tapi meskipun begitu, tidak boleh lho
menyakiti orang lain. Tidak apa-apa. Mulai sekarang aku akan ada di sisimu.
Seburuk apa pun Takane-san, sebodoh apa pun kamu, aku akan menerimamu. Kamu senang, kan? Kamu ingin aku
lebih senang lagi, kan? Kalau begitu Takane-san harus membuktikan. Buktikan
bahwa kamu adalah orang yang berguna bagiku. Buatlah aku senang. Kalau kamu melakukannya, aku
akan makin mencintaimu. Aku akan mengakuimu. Untuk sementara, bagaimana kalau
berhenti merundung Yuri-chan? Kamu bisa minta maaf dengan benar, kan? Karena
Takane-san ingin membuatku senang. Karena kamu ingin dicintai. Kalau kamu bisa
melakukannya, aku akan mengelus-elus kepalamu. Kamu senang, kan? Ayo, kalau
senang tersenyumlah? Smile? Nah, lucunya~~"
"Ah♥ Ah♥
Ah♥"
Takane-san yang
terikat di kursi gemetar hebat sambil meneteskan air liur dengan senyum lebar
di wajahnya.
Tentu saja aku
tidak menggunakan obat-obatan. Ini murni teknik bicara.
Wanita penikung
kelas wahid bisa melakukan apa saja. Teknik cuci otak itu level dasar.
Meskipun aku
sudah menguasai teknik ini sejak kehidupan sebelumnya, sekarang aku
menambahinya dengan manipulasi darah untuk menyesuaikan nada suara dan ritme
gerakanku menjadi 1/f fluctuation.
Semacam healing
voice, lah.
Seperti yang
sering ada di manga-manga itu. Untuk detailnya silakan Googling sendiri.
Kalau aku serius
ingin mencuci otak sekarang, sebagian besar orang tidak akan bisa melawan dan
akan menjadi pengikut setiaku.
Yah, aku tidak
berniat menggunakannya secara sembarangan karena membuat orang yang cuma bisa
bilang "Yes" itu tidak asyik.
"Kalau
begitu, jika aku mengucap 'Keikatsu', Takane-san akan menjalankan perintahku
sebagai prioritas utama selama satu menit. Dan kamu akan melupakan semua
percakapan ini. Mengerti?"
"Fai…… faya mengerti……♥"
Yah, karena sudah telanjur dicuci otaknya, kalau keadaan darurat aku bisa menjadikannya tameng daging.
Manusia adalah makhluk yang menjunjung tinggi persahabatan.
Di saat sulit, mereka akan saling bergandengan tangan,
saling mendukung, dan saling membantu untuk bertahan hidup.
Artinya, yang harus menanggung kerugian adalah siapa pun
asalkan bukan aku. Itu yang namanya kerja sama tim.
Begitulah cara aku menyelesaikan masalah perundungan
Yuri-chan dengan kecepatan kilat.
Perfect Communication!
◆◆◆
"Yuri-chan, tadi itu orang-orang dari mana?"
Sepulang sekolah, aku—Shirase Yuri—yang baru saja
kembali setelah dipanggil oleh sekelompok siswi kelas lain, melemparkan
senyuman pada Rei-chan yang tampak khawatir.
"Bukan
apa-apa, kok. Kami cuma mengobrol sedikit saja."
"Hmm, kalau
Yuri-chan bilang begitu sih tidak apa-apa, tapi……"
Melihat Rei-chan
yang menggembungkan pipinya karena tidak puas, aku merasa gemas sambil
merenungkan kembali kejadian pemanggilan tadi.
◆◆◆
Saat dipanggil ke
belakang gedung sekolah yang sepi, aku sempat sedikit waspada. Namun, kata-kata
pertama yang keluar dari mulut mereka adalah permohonan maaf yang sangat putus
asa.
Mereka mengakui
bahwa merekalah pelaku perundungan selama ini.
Mereka
sangat menyesal dan bersumpah tidak akan mengulanginya lagi.
Bahkan, mereka
menyatakan siap dipukul sampai aku puas jika itu yang kuinginkan.
Melihat mereka
yang hampir bersujud di tanah, aku sempat agak ragu, namun akhirnya menerima
permintaan maaf tersebut.
Salah satu dari
mereka, yang tampak lega, kemudian berkata padaku:
"Anu, tolong
sampaikan juga pada Netora-san, ya. Bilang kalau kami benar-benar minta
maaf……"
"Eh?"
"……Eh?"
……Tampaknya, di
balik permintaan maaf yang tiba-tiba ini, ada dia yang bergerak di balik layar.
Agar tidak
membuat dia yang baik hati merasa khawatir, aku sengaja diam soal perundungan
belakangan ini…… tapi ternyata dia sudah tahu segalanya.
"Benar-benar
deh, aku tidak bisa menang darinya……"
◆◆◆
Sejak pertama
kali bertemu, dia adalah sosok yang kukagumi, temanku, dan orang yang berharga
bagiku. Tapi sekarang, perasaanku padanya jauh lebih besar dari sebelumnya—
"……Rei-chan."
"Hmm, ada apa?"
"Aku…… sepertinya aku benar-benar…… sangat menyukai
Rei-chan……"
Mendengar ucapanku yang tiba-tiba, dia tertegun sejenak
sebelum mata besarnya berbinar cerah.
"Aku senang
sekali! Aku juga sangat menyukai Yuri-chan!"
"Uhyah!?"
Saat dia
menerjang dan memelukku, detak jantungku berpacu kencang.
Senyumannya
terlalu menyilaukan hingga aku tidak sanggup menatapnya secara langsung.
"Yuri-chan,
mulai sekarang mohon bantuannya, ya?"
"Iya……"
Untuk
menyembunyikan perasaan yang meluap-luap ini, aku mengalihkan pandangan ke arah
jendela yang terpapar sinar matahari terbenam.
Aku senang. Aku
suka. Suka sekali. Aku menyukai Rei-chan.
Aku
menginginkannya. Aku ingin memilikinya. Aku ingin dia menjadi cahayaku seorang.
Rei-chan milikku sendiri. Milikku, seorang—
Nyachaaaaa…… (Seringai licik)
◆◆◆
"Selamat
Natal!"
"Yeeeeeey!"
Musim
berganti, dan sekarang sudah bulan Desember.
Di sebuah
fasilitas hiburan besar yang berjarak beberapa stasiun dari sekolah, suara
ledakan cracker dan sorak-sorai bergema di dalam salah satu ruang
karaoke.
"Ayo,
Yuu-kun. Kita bersulang?"
"Iya.
Selamat ya Rei-chan, sudah bekerja keras sebagai ketua kelas tahun ini."
Ting!
Aku—Tachibana
Yuki—menyentuhkan gelas plastik murahku ke gelas gadis yang duduk di
sebelahku, lalu membasahi bibir dengan jus.
Semester
kedua yang sibuk telah berakhir. Setelah upacara penutupan, kami anggota kelas 2-B berkumpul untuk merayakan
pesta Natal.
"Tahun
depan kita pasti akan sibuk belajar untuk ujian masuk, jadi tidak akan sempat
begini. Natal yang benar-benar bisa dinikmati ya cuma tahun ini, lho~?"
Berdasarkan
kesadaran yang mengerikan namun benar tersebut, pesta Natal yang dipimpin oleh
Rei-chan—yang sudah seperti sosok karismatik di kelas—berlangsung dengan sangat
meriah.
"Hah, ujian
ya……"
Aku bergumam
pelan agar tidak terdengar oleh orang di sekitar.
Tentu saja
belajar untuk ujian itu sendiri menyebalkan, tapi yang lebih memberikan tekanan
berat di hatiku adalah kenyataan bahwa jika aku gagal masuk ke Akademi
Mikage, aku akan terpisah dari Rei-chan selama tiga tahun.
Memang
meskipun sekolahnya berbeda, kami bertetangga. Hubungan kami tidak akan
terputus begitu saja.
……Tetap
saja, membayangkan tempat belajar di mana seorang siswa menghabiskan sebagian
besar waktunya sehari-hari akan berbeda, terasa menakutkan bagiku yang selama
ini selalu bersamanya.
Tanpa
kacamata kuda sebagai teman masa kecil pun, Rei-chan adalah malaikat sempurna
yang cantik, imut, ceria, dan baik hati.
Alasan kenapa
tidak ada bayangan kekasih di sekitarnya sampai sekarang, mohon maaf sekali,
tapi mungkin karena aku selalu ada di sampingnya.
Karena kami sudah
dianggap seperti pasangan yang hampir resmi oleh orang-orang di sekitar, tidak
ada laki-laki yang berani mendekati Rei-chan.
……Namun, jika
sekolah kami berbeda, asumsi itu akan hancur seketika.
Mengingat
Rei-chan yang sama sekali tidak punya rasa waspada terhadap lawan jenis, tidak
sulit membayangkan tindakan provokatif apa yang mungkin dia lakukan secara
tidak sadar di depan siswa SMA laki-laki yang otaknya cuma berisi hal mesum.
Jika saat itu aku
tidak ada di sampingnya, berapa banyak orang yang akan menembaknya? Dan
bagaimana jika Rei-chan merasa ada salah satu dari mereka yang merupakan
takdirnya—
Hanya
membayangkannya saja sudah membuat otakku serasa menjadi abu karena ketakutan
yang luar biasa. Seluruh tubuhku gemetar.
……Tidak, aku
tahu. Kalau memang begitu, aku tinggal menyatakan cinta saja pada Rei-chan
secepatnya. Sebenarnya, aku sudah mencoba menembaknya berkali-kali.
Saat festival
budaya, festival olahraga, aku sudah mencoba membangun suasana versiku sendiri
berkali-kali. Malahan, jika ini bukan sekadar kepercayaan diriku yang
berlebihan, ada banyak momen di mana Rei-chan sepertinya juga ingin menyatakan
cinta padaku.
——Namun, setiap
kali itu terjadi, selalu ada gangguan.
Fuyuki-kun atau
Shirase-san tiba-tiba memotong pembicaraan, atau ditegur oleh guru piket dan
satpam, atau mendadak ada telepon masuk di saat yang tepat……
Seolah-olah sudah
diatur oleh seseorang, setiap kali aku atau Rei-chan ingin menyatakan perasaan,
pasti selalu ada gangguan.
Setelah
berkali-kali tekadku dipatahkan, memalukan memang, tapi rasa pengecut yang
berkedok "kehati-hatian" mulai muncul.
Mungkin kalau aku
menembaknya, hampir pasti akan diterima. Tapi seandainya, cuma seandainya, dia
menolak—
"……Eeto,
maaf ya Yuu-kun. Aku tidak bermaksud begitu…… itu, bagaimana kalau kita
tetap jadi teman baik saja?"
Kalau itu
terjadi, kami tidak akan pernah bisa berteman lagi. Malahan, pengakuan cinta
itu bisa menjadi pemicu kerenggangan hubungan kami.
Aku
benar-benar tidak mau itu terjadi. Daripada begitu, lebih baik tetap menjadi
teman masa kecil yang akrab seperti sekarang. Akibat tertiup angin perhitungan
dan kepengecutan ini, aku masih belum bisa memajukan hubunganku dengan
Rei-chan.
"Yah, mumpung sebentar lagi ujian masuk…… aku merasa
tidak enak kalau menyatakan cinta sekarang dan malah menambah beban pikiran
bagi Rei-chan……"
"Apa yang kamu gumamkan terus, Yuki?"
Saat aku sedang terjebak dalam pikiran yang tidak berguna,
Fuyuki-kun tiba-tiba merangkul bahuku dengan kasar.
"Nih, mik. Berikutnya aku masukkan lagu duet, kita
nyanyi berdua!"
"Ueeh!? F-Fuyuki-kun! Kamu tahu kan aku tidak pintar
dalam hal beginian!"
"Kalau tidak
begini, kamu cuma akan jadi penonton saja sejak tadi. Kamu tidak buta nada,
jadi tidak usah dipikirkan."
Dipaksa memegang
mikrofon oleh Fuyuki-kun, aku ditarik berdiri di samping layar yang menampilkan
judul lagu.
"Eh,
Tachibana-kun mau menyanyi!? Semangat ya—!"
"Duet pria
tampan 2-B ya, kalau direkam pasti bisa buat pamer~♪"
"Kurushima!
Jangan cuma cari perhatian!"
Mendengar sorakan
para gadis dan ejekan dari para lelaki, aku menyerah dan mendekatkan mikrofon
ke mulut.
"Yuu-kun,
Fuyuki-kun, kalian keren~♪"
Melihat Rei-chan
yang tampak sangat bersemangat, aku tersenyum kecut tepat saat intro lagu
dimulai. ……Untuk sekarang, mari nikmati saja.
Ini kan pesta
Natal yang berharga. Terlepas dari urusan asmara, tidak mungkin salah untuk
membuat kenangan indah bersama teman masa kecil yang penting.
◆◆◆
"Ah!"
"Geh……"
Di sudut mesin
penjual otomatis di samping lorong, seorang siswa laki-laki yang sedang duduk
di bangku tampak menunjukkan wajah tidak senang secara terang-terangan. Melihat
itu, siswi yang menemukannya mengernyitkan dahi dan berdiri tegak di
hadapannya.
"Aduh,
Kanda-kun! Gara-gara kamu tiba-tiba menghilang, aku kira kamu pulang tanpa
pamit!"
"Memangnya
aku ini karakter macam apa di matamu, Netora…… Aku tidak sebego itu sampai
tidak bisa membaca suasana. Aku cuma istirahat sebentar."
Siswa
yang menggaruk kepalanya dengan malas itu—Kanda Koichi—berkata demikian
sambil melempar kaleng minuman kosong ke tempat sampah.
◆◆◆
"Harusnya
aku yang tanya, kamu boleh meninggalkan ruangan?"
"Hmm, tidak
apa-apa kok. Semua orang juga bergerak bebas, yang penting nanti berkumpul saat
waktu pulang."
Di area istirahat
samping mesin penjual otomatis, aku—Kanda Koichi—dan Netora beristirahat
sejenak sambil memegang kaleng jus.
"Tahun
kedua sebentar lagi berakhir, ya. Aku dapat banyak teman baru, menyenangkan
sekali."
"Ah,
benar juga."
Saat aku
menyahut begitu, Netora menatapku dengan wajah terkejut.
"……Apa?"
"……Kaget
saja. Aku kira Kanda-kun bakal bilang 'siapa juga yang senang' dengan gaya sok
ketusmu itu."
"……Kamu
juga punya kepribadian yang cukup 'menarik', ya. Aku jadi paham setelah bergaul
hampir setahun denganmu."
"Ufu,
aku dipuji ya. Kanda-kun yang seperti itu sebenarnya punya sisi yang cukup
manis, lho—"
"Berisik……"
Mendengar
sindiranku, Netora tertawa kecil sambil membuang kaleng kosongnya ke tempat
sampah.
"……Sebenarnya,
aku agak khawatir. Apa Kanda-kun mau datang ke pesta Natal hari ini."
"Seluruh
kelas ikut, tahu. Kalau aku kabur sendirian, itu namanya tidak tahu diri."
"Iya sih…… tapi, aku khawatir kalau sebenarnya kamu
tidak suka tapi memaksakan diri untuk ikut……"
Melihat Netora yang menatapku dengan cemas sambil
mengernyitkan dahi, aku menghela napas dan mengacak-acak rambutnya dengan
kasar.
"Kyaa!? Hei,
Kanda-kun! Rambutku jadi berantakan!"
"Berisik.
Habisnya Netora bicara hal bodoh sih."
Sambil memegangi
rambutnya dan menatapku dengan kesal, aku menyeringai tipis.
"Memangnya
aku kelihatan seperti orang yang terlalu baik sampai mau ikut perkumpulan yang
tidak kusukai cuma demi formalitas?"
"Eh?
Kelihatannya sih begitu?"
"……Jangan
memotong pembicaraan. Intinya,
aku datang karena aku memang ingin datang. Jangan khawatirkan hal bodoh."
Untuk
menyembunyikan rasa malu, aku melakukan lemparan jarak jauh kaleng kosongku ke
tempat sampah.
Kaleng
itu membentuk garis parabola yang sempurna dan masuk ke dalam dengan suara
dentingan pelan.
"……Yah, intinya begitulah. Berkat kamu, Tachibana……
juga Fuyuki dan Shirase yang ikut campur urusanku, aku jadi bisa berbaur dengan
kelas sekarang, dan dapat teman baru. Makanya aku memutuskan datang hari ini. Jangan sok perhatian begitu."
"……Begitu
ya. Syukurlah."
Melihat Netora
yang tersenyum lega dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, jantungku tiba-tiba
berdegup kencang. Di sini sepi. Aku merasa terdorong untuk merangkul bahunya
yang mungil itu dengan kuat.
……Tapi, sekarang
bukan saatnya. Aku tidak boleh melakukannya.
"……Kalau
begitu, ayo kembali. Kalau ratu kelas tidak ada, semua orang bakal cemas."
"Aduh,
jangan panggil aku dengan sebutan aneh begitu!"
Aku menyukai Netora.
Jika memungkinkan, aku ingin berdiri di sampingnya sebagai kekasih.
——Tapi lebih dari
itu, dia adalah penyelamatku. Alasan aku bisa berbaur di sekolah, alasan
hubungan buruk dengan orang tuaku membaik, semuanya berkat dia.
Sebentar
lagi belajar untuk ujian akan dimulai dengan serius.
Di saat
yang penting seperti ini, aku tidak ingin menjadi orang yang tidak tahu malu
dengan menembak Netora cuma karena mengikuti emosi dan malah memberinya beban
tambahan.
Aku sadar aku
bicara terlalu santai. Di sekitarnya ada Tachibana dan Fuyuki.
Selagi aku
berdiam diri, mungkin salah satu dari mereka akan mulai berpacaran dengannya.
……Kalau itu terjadi, aku tidak keberatan.
Tachibana dan
Fuyuki adalah laki-laki yang jauh lebih baik dariku. Mereka pasti bisa
membuat Netora bahagia. Saat itu terjadi…… mungkin aku akan merasa sedikit
kesepian, tapi aku yakin bisa memberkati mereka dengan tulus.
——Tapi, jika. Seandainya aku dan Netora sudah menjadi siswa
SMA, dan saat itu Netora masih sendirian. Saat itulah……
"Ah! Sebelum kembali, boleh intip ke sana
sebentar?"
"Hmm?"
Yang ditunjuk Netora adalah salah satu sudut area
permainan…… area yang dipenuhi mesin pencapit boneka (crane game).
"Ah, ini
sudah jadi hadiah ya. Lucu sekali."
Di dalam mesin
yang didekati Netora, terdapat boneka-boneka kucing dan kelinci yang
dideformasi menjadi imut.
"……Kamu suka
itu?"
"Iya. Tapi,
uang sakuku bulan ini agak mepet jadi aku akan menahannya."
"He~h……"
……Kalau posisinya
begini, sepertinya bisa. Cring, aku memasukkan koin yang kuambil dari
saku ke lubang koin.
"Eh,
Kanda-kun?"
"Bentar.
Aku lagi konsentrasi, tunggu saja."
Lengan
pencapit yang kugerakkan dengan mahir mengaitkan label yang dijahit pada
boneka, lalu menjatuhkannya tepat ke lubang hadiah.
"Eeeh!? Hebat!"
"Ini hasil sering main ke game center. Bukan
sesuatu yang patut dibanggakan, sih…… nih."
Aku
langsung menyodorkan boneka yang kuambil tadi pada Netora.
"……Eh?
B-boleh buatku?"
"Yah, ini
kan Natal."
"Waaa!
Terima kasih Kanda-kun! Aku senang sekali!"
"Jangan
terlalu senang cuma gara-gara hadiah seharga satu koin. Murahan sekali ya
kamu."
"Ih, ngomong
begitu lagi! ……Aha,
aku senang……"
Sambil
memeluk boneka yang diberikan, Netora sepertinya memikirkan ide bagus dan
tersenyum lebar.
"Benar
juga! Ayo foto kenang-kenangan! Kebetulan ada Purikura (mesin foto
stiker) juga, aku yang bayar sebagai ganti bonekanya—"
"Hah?
Hei, tunggu dulu!"
Setelah
berkata begitu, Netora menarik tanganku dan mendorongku masuk ke dalam bilik
mesin foto stiker. Karena
panik berada di ruang sempit berdua saja, aku mencoba menghentikannya.
"I-itu, hei,
jangan dipaksakan. Tadi
katanya uang sakumu mepet, kan?"
"Tidak
apa-apa. Kalau aku mencoba mengambil boneka tadi sendiri pasti habis lebih dari
seribu yen, jadi kalau cuma buat foto stiker sih masih cukup."
Netora
mengabaikan kata-kataku begitu saja, dan panduan suara pemotretan pun dimulai.
"Ayo,
Kanda-kun. Lebih menempel lagi?"
"K-kamu
ini benar-benar ya…… beneran deh, sifatmu yang begitu itu lho……"
Bukan
cuma bahu yang bersentuhan, Netora bahkan sampai bersandar padaku. Aku merasa
telingaku memanas dan mencoba protes. Tapi Netora sendiri malah memasang wajah
polos seolah tidak mengerti maksudku sama sekali.
"Eh, sifatku
yang mana?"
"Hah,
kasihan juga si Tachibana……"
Setelah itu, aku
diberikan setengah dari lembar foto yang dicetak oleh Netora. Sambil memainkan
lembaran di tanganku, aku tersenyum pahit.
"……Benar-benar
deh, kado Natal yang merepotkan."
Foto berdua
dengan orang yang kusukai secara sepihak kini ada di tanganku. Apakah ini akan
menjadi kenangan masa muda yang pahit atau tidak, aku yang sekarang masih belum
tahu jawabannya.
◆◆◆
"—Kalau
begitu, sampai ketemu lagi saat kunjungan kuil pertama tahun baru ya! Semuanya,
dadah—!"
Dalam perjalanan
pulang setelah pesta Natal berakhir. Rei-chan yang berdiri di sampingku—Tachibana
Yuki—melambaikan tangan pada Fuyuki-kun dan yang lainnya.
"Iya, Rei
juga hati-hati jangan sampai kena flu karena dingin ya—"
"Tachibana
juga. Sudah gelap, antarkan Netora sampai rumah dengan benar."
Mendengar
kata-kata Fuyuki-kun dan Kanda-kun, aku juga melambaikan tangan kecil sebagai
balasan.
"Iya.
Fuyuki-kun dan Kanda-kun juga hati-hati di jalan."
"Yuri-chan juga. Harus benar-benar diantar sampai rumah
oleh mereka berdua, ya? Akhir tahun begini banyak orang aneh."
"I-iya. Kalau begitu sampai jumpa di tahun baru, kalian
berdua."
Begitulah, setelah berpisah jalan dengan tiga orang lainnya,
aku dan Rei-chan mulai berjalan di jalanan yang sudah benar-benar gelap.
"Pesta
Natalnya seru ya, Yuu-kun!"
"Benar.
Karaoke, boling, sampai batting cage—sepertinya kita agak terlalu
bersemangat ya."
"Fufu,
tidak apa-apa, kan. Ini kan hiburan terakhir sebelum ujian."
"Ukh…… aku jadi teringat hal yang menyebalkan……"
Melihat ekspresiku yang melankolis, Rei-chan tertawa kecil.
"Semangat ya, Yuu-kun. Fuyuki-kun dan yang lainnya juga
bilang pilihan pertamanya Mikage, aku tidak mau kalau cuma Yuu-kun yang
sekolahnya berbeda."
"Tentu saja aku juga ingin begitu. ……Itu, aku ingin
satu sekolah dengan Rei-chan."
"Aha, kalau begitu harus semangat belajarnya! Tenang
saja, aku juga akan membantumu."
"Eh, aku senang sih…… tapi Rei-chan juga harus belajar
sendiri, lho? Meskipun Rei-chan mungkin bisa masuk lewat jalur
rekomendasi……"
Sambil mengobrol santai, tanpa terasa kami sudah sampai di
depan rumah Rei-chan.
"Terima
kasih sudah mengantar, Yuu-kun."
"Iya. Sampai
jumpa lagi, Rei-cha…… hatchee!"
Karena tiupan
angin dingin yang tiba-tiba, aku bersin tanpa sengaja dan tubuhku menggigil.
Harusnya aku
memakai baju yang lebih tebal tadi…… karena siangnya terik dan hangat, aku jadi
sedikit lengah. Melihat keadaanku, Rei-chan menatapku dengan cemas.
"Kamu tidak
apa-apa, Yuu-kun?"
"Sret…… huft, cuma begini sih tidak apa-apa. Agak
dingin sih, tapi kalau langsung pulang tanpa mampir-mampir pasti segera sampai
rumah."
"Aduh, sudah Desember tapi pakainya setipis itu……
Yuu-kun, coba menunduk sebentar?"
"Eh? ……Begini?"
Mengikuti arahan
Rei-chan, aku sedikit menundukkan badan. Detik berikutnya, sesuatu yang lembut dan
beraroma manis melilit leherku.
"Syal. Aku
pinjamkan, jangan dilepas sampai kamu sampai rumah, ya?"
……Tampaknya
Rei-chan melilitkan syal yang tadi dia pakai ke leherku. Saat menyadari hal
itu, rasa dingin yang kurasakan tadi seketika sirna, dan aku merasa wajahku
memanas.
"Hei, eh,
tunggu……!"
"Kembalikan
saja saat kunjungan kuil nanti. Kalau begitu, selamat malam, Yuu-kun."
Sebelum aku
sempat berkata apa-apa, Rei-chan sudah masuk ke dalam rumah sambil tersenyum
manis. ……Bagaimana ini.
"……Aroma
Rei-chan."
Tanpa sadar aku menggumamkan hal itu. Aku segera menggelengkan kepala sekuat tenaga untuk mengusir pikiran mesum. Memang aku sudah tidak merasa dingin lagi, tapi sekarang aku malah khawatir akan pingsan karena darah naik ke kepala……
◆◆◆
Yah, kurasa
penyesuaian tingkat kesukaan Yuu-kun cukup sampai di sini.
Dari jendela
kamarku, aku memandangi sosok Yuu-kun yang berjalan menjauh sambil meraba-raba
syal pemberianku dengan penuh perasaan. Sembari menatapnya, aku mulai menyusun
strategi untuk rencana ke depan.
Selamat malam,
namaku Netora Reiko.
Nah, semester
kedua tahun kedua SMP telah berakhir. Jika ingin mengincar sekolah dengan nilai
standar kompetensi yang tinggi, sudah saatnya untuk mulai serius belajar demi
ujian masuk.
Yah, karena aku
dan Fuyuki-kun sepertinya bisa mendapatkan jalur rekomendasi, yang perlu
kupantau ketat adalah Yuu-kun dan Yuri-chan. Kalau Kanda-kun, tingkat
akademisnya saja sudah cukup tinggi tanpa perlu kukhawatirkan.
Meski begitu, aku
sudah melatih mereka berdua sedikit demi sedikit sejak tahun pertama. Selama
tidak melakukan kesalahan konyol, kurasa mereka berada di jalur yang aman untuk
lulus ke SMA Mikage.
Ya, asalkan aku
tidak salah perhitungan saat "mencicipi" mereka sedikit dan malah
menghancurkan otak mereka berdua sampai berkeping-keping.
Sudah hampir lima
belas tahun aku menderita sejak bereinkarnasi ke dunia ini. Aku benar-benar
sudah berjuang keras.
Aku mati-matian
menahan diri untuk tidak menumpahkan madu ke atas "hidangan kelas
atas" bernama Yuu-kun. Aku juga menekan hasratku untuk meninggalkan luka
abadi di hati Fuyuki-kun, Yuri-chan, dan yang lainnya.
Sosok jahat
sepertiku selalu mengincar Yuu-kun dan kawan-kawan yang murni dan polos.
Keseharian mereka yang damai sebenarnya berpijak di atas lapisan es yang sangat
tipis.
Namun, aku ingin
kalian berhenti sejenak dan memikirkannya.
Memang
benar, dari segi asal-usul, aku mungkin sosok yang unik karena seorang
reinkarnator. Bisa dibilang aku ini karakter figuran yang eksentrik.
Tapi, aku
bukanlah seorang jenius, bukan pula protagonis novel Narou yang memiliki
kemampuan curang.
Bahkan
jika aku memiliki beberapa kelebihan dibanding orang biasa, aku tetaplah
manusia yang masih berada dalam batas kewajaran. Paling-paling, aku berada di
posisi sahabat karib dari protagonis jenius.
Dunia ini
luas. Apa yang kupikirkan pasti pernah terpikirkan oleh orang lain juga.
Artinya, selain
diriku, pasti ada sosok jahat sejati yang berencana menghancurkan otak Yuu-kun.
Aku tidak
ingin terlalu tinggi menilai diriku sendiri. Merasa bahwa aku adalah makhluk
paling jahat di dunia ini hanyalah bentuk kesombongan belaka.
Masih
banyak manusia yang jauh lebih sampah dariku di luar sana.
Lagipula,
aku hanyalah penjahat kelas teri yang punya fantasi NTR dan keinginan TS
(perpindahan gender), serta sedikit licik. Ya, semacam villain yang
tidak bisa dibenci, begitulah.
Para
penjahat sejati yang belum tertangkap basah olehku pasti sedang menertawakanku
dari kegelapan. Mereka pasti mengejek tindakan "pura-pura merebut"
yang kulakukan.
"Kalau
aku, aku bisa menghancurkan otaknya dengan lebih lihai lagi," pasti begitu
pikir mereka.
Benar-benar
orang-orang yang jahat. Tidak bisa dimaafkan. Amarahku membara memikirkan para
penjahat sejati yang masih enggan menampakkan diri di panggung utama itu.
Alasan mereka
belum menyentuh Yuu-kun dan yang lainnya adalah semata-mata karena aku selalu
berkeliaran di sekitar Yuu-kun.
Ibarat komplotan
pencuri jenius yang sudah menyusun rencana matang untuk mencuri harta karun,
mereka terpaksa menunda aksinya karena melihat preman pasar sedang merampok
minimarket tepat di depan mata mereka pada hari eksekusi.
Kebenaran selalu
berada dalam kegelapan yang lebih dalam daripada malam. Secara tidak langsung,
aku telah melindungi Yuu-kun dan kawan-kawan dari realitas yang kejam.
Waduh, apa
Reiko-chan ini sebenarnya adalah seorang malaikat? Bukankah ini sudah setara
dengan sosok malaikat yang tinggal di sebelah rumah?
Berlagak jahat
tapi tanpa sadar malah menyelamatkan orang lain... Bukankah itu tipe dark
hero yang bakal populer kalau dibuatkan cerita spin-off? Jadi malu,
deh.
Pokoknya, aku
harus melindungi Yuu-kun dan yang lainnya dari kejahatan besar yang bersembunyi
di kegelapan.
Jika aku
sembarangan melakukan improvisasi dengan "mencicipi" rute NTR
dan memperlihatkan celah, Yuu-kun dan yang lainnya akan langsung menjadi mangsa
para penjahat sejati.
Saat ini adalah
waktu untuk bersabar meski terasa berat. Jika aku bisa melewati ini, dunia baru
yang ideal telah menantiku.
Demi hal itu,
langkah pertama adalah mendukung ujian masuk Yuu-kun dan yang lainnya.
Untuk sementara,
aku akan membedah tren soal dari ujian tahun-tahun lalu SMA Mikage, lalu
memberitahu mereka poin-poin pentingnya.
Aku akan
berjuang.
Aku pun
memantapkan tekadku kembali.
◆◆◆
Aku sudah
berjuang keras.
Dan dengan
begitu, ujian masuk SMA pun berakhir.
Mengejutkan, bukan? Lompatan waktu yang sangat berani...
Kalau bukan aku, kalian pasti akan melewatkannya.
Singkat cerita,
tentu saja aku lulus. Tapi berkat dukunganku, para anggota "NTR
All-Stars" lainnya juga berhasil lulus ke SMA Mikage dengan selamat.
Berhasil, cuy!
Mulai bulan
April, kami resmi menjadi murid SMA.
Artinya, prolog
panjang yang jika dijadikan novel fisik mungkin akan menghabiskan dua volume
ini telah berakhir. Akhirnya, cerita utama akan dimulai.
Selama masa SD
dan SMP, aku sudah menutup semua jalan keluar bagi Yuu-kun dan yang lainnya
dengan sangat rapi. Persiapannya sudah sempurna. Benar-benar wanita yang penuh
perhatian, ya, aku ini.
Beberapa hari
yang lalu, seragam resmi SMA Mikage berupa blazer dan rok telah tiba di rumah. Aku mencobanya dan berputar sekali
di depan cermin besar di kamarku.
Yup, imut
banget. Inilah perlengkapan terakhirku, seragam JK (siswi SMA).
Aku
mengambil foto selfie dengan ponselku, lalu mengirimkan foto sosok JK-ku
kepada Yuu-kun bersama sebuah pesan. Dengan rok yang tingginya kupendekkan
sedikit tanpa terlihat murahan, perasaan Yuu-kun pasti akan langsung
porak-poranda.
Sekalian
kukirimkan juga ke Chi-chan. Selamat menikmati!
Nah... sekali
lagi kuulangi, mulai dari sinilah cerita utamanya. Aku akan mulai bergerak
menuju perkembangan NTR yang sesungguhnya.
Artinya, Yuu-kun
yang telah kubesarkan dengan penuh kasih sayang dan ketelitian ini akan
kujatuhkan ke dasar jurang keputusasaan.
Aduh, dadaku
terasa sakit banget, lho~. Aku menggunakan Blood Manipulation untuk
meremas dadaku sendiri agar terasa sakit. Aduh, duh, duh.
...Aku
benar-benar menyukai Yuu-kun. Aku berani bersumpah bahwa aku mencintainya tanpa
ada kebohongan.
Setiap
gerak-gerik kecil Yuu-kun membuatku terpikat. Setiap kali aku merasakan tatapan
penuh kasih darinya, dadaku terasa memanas.
Yah, mungkin saja
bagiku Yuu-kun adalah pria yang "nyaman", dan tidak menutup
kemungkinan aku melihatnya dengan kacamata penuh ilusi... Tapi soal itu, mari
kita sisihkan dulu. Namanya juga cinta itu buta.
Jika aku
membiarkan hubungan ini berakhir dengan ciuman bahagia bersama Yuu-kun, kami
pasti akan mendapatkan akhir yang indah seperti di dalam buku gambar.
Namun, semuanya
demi pencapaian cita-cita besar, yaitu NTR terbaik. Aku akan mengubah
hatiku menjadi sekeras iblis.
Ini adalah
perkembangan yang sering ada di manga. Di mana sang protagonis ditanya,
"Apakah kamu punya kesiapan untuk menanggung dosa?"
Sebagai orang
yang berkepribadian luhur sepertiku, aku bisa menanggung dosa sebanyak apa pun.
Sudah seperti layanan langganan streaming saja.
Bagi orang yang
berintegritas sepertiku, mengubah hati menjadi iblis itu perkara sepele.
Jika ada orang
yang bilang "mau direbus atau dibakar terserah kamu", aku tidak akan
ragu untuk langsung memasukkannya ke dalam kuali.
Aku bisa
memikirkan cara-cara tidak manusiawi tanpa batas untuk menyerang titik lemah
Yuu-kun agar dia merasakan luka yang paling dalam. Aku juga punya kesiapan
untuk melaksanakannya tanpa keraguan.
Bagian tidak
berguna seperti hati nurani atau etika bisa kupasang dan kulepas dengan
mudahnya. Sebenarnya bagaimana struktur mental yang kupunya ini? Aku merasa
ngeri sendiri dengan kedalaman kegelapan yang kupikul.
...Mungkin saja,
aku sedikit lebih licik dibanding manusia normal.
Sudah terlalu
banyak alasan yang membuatku pantas dipanggil sampah, sampai rasanya bodoh jika
aku mencoba menyangkalnya.
Mungkin aku yang
ternoda oleh dosa ini tidak pantas berada di sisi Yuu-kun dan yang lainnya...
Aku memeluk
diriku sendiri layaknya anak kecil yang gemetar dalam kesendirian.
Eh, tapi tunggu
dulu?
Setiap manusia
pasti punya sisi depan dan sisi belakang.
Manusia itu
adalah makhluk yang punya sisi baik dan sisi buruk. Bukankah itu adalah episode
yang sering muncul di manga atau anime?
Hanya melihat
sisi buruk orang lain... itu adalah perbuatan orang yang miskin hatinya. Aku
menolak cara hidup yang menyedihkan seperti itu.
Jadi, jangan
hanya melihat sisi burukku. Lihatlah sisi baikku juga. Contohnya...
Anu, saat ini aku
belum terpikirkan, tapi mustahil kalau jumlahnya nol.
Hanya karena
tidak ingin dibenci Yuu-kun, lalu berpura-pura baik di permukaan itu pasti
salah.
Menyembunyikan
kebenaran dan menipu orang... rasanya mau muntah.
Itu menunjukkan
kurangnya ketulusan. Hadapilah aku dengan jujur. Hormatilah keberagaman.
Cintailah semuanya, baik kegelapan maupun cahaya. Oke, pembelaan diriku
selesai.
Apapun yang
terjadi, inilah kehidupan SMA.
Tak perlu
dikatakan lagi, ruang lingkup tindakan siswa SMA jauh lebih luas dibanding saat
masih SMP.
Aku bisa bekerja
paruh waktu, dan kalau pintar mencari celah, aku bisa pergi tamasya atau
menginap di luar tanpa pendamping orang tua.
Tentu saja, rute NTR
juga akan berkembang menjadi lebih kompleks, beraroma, dan mendalam.
Bekerja paruh
waktu bersama Yuu-kun, lalu aku dirayu secara sembunyi-sembunyi oleh senior
yang bergaya playboy sepertinya seru juga.
Atau dilatih oleh
pelatih klub yang badannya seperti gorila juga menarik.
Jika aku
menemukan pria yang bisa dimanfaatkan, aku juga ingin berupaya mengamankan slot
"pria simpanan yang lebih tua" yang sempat kutahan selama masa SMP.
Impianku tak terbatas.
Aku mulai merasa
bergairah. Masa depan yang cerah membuat dunia ini tampak berkilau di mataku~.
Akan
kuperlihatkan padamu... bahwa Yuu-kun cukup menjadi tempat pelampiasan hasratku
saja...!
Demikianlah, masa SMP-ku berakhir. Waktu pertempuran sudah dekat...



Post a Comment