NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

TS Tensei Bishoujo Netora Reiko wa Netoraretai Volume 2 Chapter 4

Chapter 4

Bagian SMP Kelas 2 – Selesai


Apa-apaan barusan?

Aku tidak bisa menyembunyikan kekalutanku saat narasi monolog tadi menyebutkan kemampuan aneh lain yang mendadak tumbuh dalam diriku.

Halo, aku Netora Reiko.

Sudah cukup aku punya kekuatan tidak masuk akal seperti memanipulasi darah, jadi tolong berhenti menambah atribut aneh padaku. Jangan pakai operasi penjumlahan. Pakai pengurangan saja.

Aku ini kan pahlawan wanita dari komedi romantis sekolah yang sangat, saaaaangat biasa? Artinya, meski aku terlihat tegar, sebenarnya aku hanyalah manusia lemah yang rapuh.

Tapi ya... justru karena manusia itu lemahlah, mereka bisa menyayangi orang lain di sisinya. Mereka bisa melangkah maju sambil saling menggenggam tangan.

Memang yang terpenting itu adalah ikatan, ya. Manusia yang dengan mudah membuang orang lain demi kepentingannya sendiri tidak akan punya masa depan.

Orang yang hanya memikirkan untung-rugi diri sendiri dan melakukan seleksi terhadap hubungan manusia adalah sampah. Mereka adalah monster yang kehilangan hati nurani. Tidak bisa dimaafkan, kan?

Contohlah aku. Aku yang mencintai semua kandidat NTR dengan adil dan setara ini.

Fuu, lega rasanya. Aku sudah mengatakan semua yang ingin kukatakan, jadi aku merasa lega.

Karena sudah lega, mari kita masuk ke semester kedua.

Setelah menghancurkan otak Kota-kun untuk sekadar mengganjal perut, aku menghabiskan sisa liburan musim panas dengan relatif tenang.

Berhubung aku sudah mengadopsi Chi-chan ke dalam rute NTR, aku perlu merombak ulang rencana, jadi aku sedikit membatasi agenda kegiatan musim panas bersama Yuu-kun dan yang lainnya.

Yah, meski begitu kami tetap pergi ke festival musim panas dan berenang di pantai bersama-sama, sih.

Karena tidak ada kejadian yang benar-benar spesial untuk dicatat, bagian penggambarannya aku potong saja.

Ya, begitulah. Memang ada sedikit kejadian—benar-benar cuma sedikit—di mana aku mengacak-acak emosi mereka, atau bermesraan tipis dengan Yuu-kun untuk merusak otak Fuyuki-kun dan yang lainnya.

Tapi itu cuma level kejadian selingan di bagian akhir yang bisa dilewati begitu saja.

Kalau levelnya cuma segitu, anggap saja tidak terjadi apa-apa. Oke, sepakat.

"Ya, semuanya kumpul—"

Saat aku sedang asyik melamun, suara peluit guru olahraga yang menggema di lapangan memaksaku untuk kembali fokus ke realitas.

Waktu sudah beranjak sore, saat-saat di mana pelajaran olahraga usai.

"Baik, sampai di sini untuk hari ini. Hmm, karena hari ini banyak bola yang dikeluarkan... Netora, maaf, bisa bantu merapikannya?"

"Baik, Pak."

Aku mengangguk patuh dan mulai memindahkan bola-bola yang terkumpul di pojok lapangan ke dalam keranjang pengangkut. Di saat itulah, Yuri-chan memanggilku.

"Rei-chan, aku bantu ya."

"Terima kasih, Yuri-chan. Tapi ini sebentar lagi selesai kok, jadi tidak apa-apa. Lagipula, bukankah sore ini kamu ada jadwal konsultasi masa depan?"

"……Ah, benar juga!"

"Fufu, di sini aman kok, lebih baik kamu segera ganti baju."

"Iya. Maaf ya, Rei-chan……"

Mendengar perkataanku, Yuri-chan menunduk merasa bersalah lalu bergabung dengan kelompok siswa yang kembali ke gedung sekolah.

Aku juga harus segera menyelesaikan ini dan pergi bermain dengan Yuu-kun.

◆◆◆

"Ini bola terakhir…… selesai."

Setelah selesai memindahkan semua bola ke gudang, aku melakukan peregangan ringan untuk melemaskan otot.

Nah, kehidupan SMP sudah mencapai titik tengah.

Seperti halnya Yuri-chan tadi, sudah saatnya mulai menyusun rencana masa depan secara konkret.

Tentu saja, untuk diriku sendiri, baik nilai akademik maupun poin perilaku tidak ada masalah.

Jadi yang perlu diperhatikan di sini adalah parameter para kandidat NTR seperti Yuu-kun dan yang lainnya.

……Yah, kalau Fuyuki-kun sih sejak awal aku tidak khawatir. Yuu-kun dan Yuri-chan juga sudah kujinakkan dengan teliti dan mendalam sejak kelas satu, jadi dalam setengah tahun lagi mereka pasti bisa mencapai zona aman untuk masuk ke Akademi Mikage.

Aku juga sudah melakukan mind control agar mereka memilih sekolah tersebut.

Masalahnya adalah Kanda-kun…… Secara akademik, anehnya dia hanya sedikit di bawah Fuyuki-kun dan masuk kategori jenius.

Hambatan terbesarnya adalah poin perilaku yang buruk di kelas satu.

Kalau ini sih jujur saja tidak bisa diapa-apakan, tapi sejak naik kelas dua, Kanda-kun sudah berubah menjadi mild yankee yang cuma agak kasar bicaranya. Yah, pasti ada jalan keluarnya.

Lagipula, jika keadaan mendesak, aku tinggal membuang Kanda-kun dan mencari stok berandalan baru.

Berbeda dengan posisi "teman masa kecil" seperti Fuyuki-kun, posisi "berandalan penikung" itu bisa dibilang sangat mudah digantikan.

Aku memang menyukai Kanda-kun, tapi aku tidak akan melakukan kesalahan bodoh dengan terbawa perasaan hingga kehilangan tujuan utama.

Hanya orang bodoh yang tidak bisa mengolah emosi yang akan gagal seperti itu.

Seorang yang lembek dan tidak bisa melakukan seleksi hubungan manusia tidak akan pernah bisa mewujudkan ambisi besar. Mereka yang bersandar pada hal ambigu seperti "ikatan" adalah mereka yang akan kalah pada akhirnya. Itulah kenyataannya.

Aku pun menyunggingkan senyum lebar hingga memperlihatkan gusi, seolah yakin akan masa depanku yang cerah.

"……Lho?"

Setelah mengembalikan ekspresi wajahku ke mode default, aku memegang pintu gudang olahraga.

Namun, pintu besi yang tebal itu hanya mengeluarkan suara decitan yang memekakkan telinga tanpa ada tanda-tanda akan terbuka.

◆◆◆

"……Hmm?"

Setelah pelajaran olahraga usai, aku—Kurushima Fuyuki—yang baru kembali dari toilet menuju kelas, memanggil Yuki yang tampak kebingungan menoleh ke sana kemari.

"Ada apa, Yuki?"

"Ah, Fuyuki-kun…… itu, apa kamu lihat Rei-chan?"

"Rei? Nggak, tuh. Dia belum kembali?"

Yuki mengangguk, lalu menatap tas Rei yang masih tergeletak di mejanya dengan ekspresi cemas.

"Bukankah Shirase harusnya tahu?"

"Shirase-san sedang konsultasi masa depan dengan guru. Saat aku kembali, dia sudah tidak ada di tempat……"

Melihat Yuki yang tidak bisa menyembunyikan kecemasannya, Koichi yang baru kembali membawa jus kotak dari mesin penjual otomatis menyentil kepala Yuki dengan gemas.

"Paling juga ke toilet atau semacamnya. Tachibana, kamu itu terlalu khawatir."

"I-iya sih…… tapi, tetap saja……"

"……Ya sudah, tunggu sebentar lagi. Kalau tetap tidak kembali, aku akan bantu mencarinya. Nih, minum dulu biar tenang."

Sambil berkata begitu, Kanda menyodorkan salah satu jus kotaknya pada Yuki.

"……Iya. Terima kasih, Kanda-kun."

"Koichi~ mana buatku?"

"Mana kutahu. Beli sendiri sana."

Mendengar candaan aku dan Koichi, Yuki tampak sedikit lebih tenang dan tersenyum tipis.

"Kalau begitu, aku juga mau beli minum sebentar."

"Yo."

"Iya, hati-hati."

Mendengar jawaban Yuki dan Koichi, aku melangkah keluar kelas.

Di depan mesin penjual otomatis yang ada di koridor penghubung, aku hendak mengeluarkan dompet—namun gerakanku terhenti.

"……Jangan-jangan."

Tiba-tiba, sudut mataku menangkap penampakan gudang olahraga di pojok lapangan melalui kaca jendela. Merasakan firasat buruk yang aneh, aku langsung berlari menuju ke sana.

◆◆◆

"Haa, haa…… Nggak mungkin sih ada kejadian klise kayak di manga……"

Sambil mengatur napas yang sedikit memburu karena berlari, aku sampai di depan gudang olahraga di pinggir lapangan.

"Kuncinya nggak terpasang, tapi—ugh!? Keras banget! Apa-apaan ini!?"

Meskipun seharusnya tidak terkunci, pintu itu sama sekali tidak mau bergerak. Di saat aku sedang terperangah, terdengar suara teredam dari dalam gudang.

"A-anu! Apa ada orang di sana!? Pintunya tidak bisa dibuka……!"

"Rei!? Aku sempat curiga, tapi ternyata beneran ada di dalam……"

"Fuyuki-kun? Sy-syukurlah. Aku terjebak di dalam…… itu, tolong bantu aku……"

"Iya, tunggu sebentar. Gnuuuu……! Sial, gimana sih engselnya!?"

Aku cukup percaya diri dengan kekuatanku, tapi untuk pintu di depanku ini, rasanya aku tidak akan sanggup membukanya sendirian.

Meski agak kesal, mungkin lebih baik aku memanggil bantuan—

"……Hiks."

"—!"

Terdengar suara isakan kecil.

Gadis yang kucintai sedang menangis di depanku.

Hanya dengan itu, pikiranku langsung menjadi kosong.

"Buka, sialaaaaan……! TERBUKALAHHHH!"

Aku mengerahkan seluruh tenaga dan semangat hingga rasanya ada beberapa pembuluh darah di kepalaku yang mau pecah.

Detik berikutnya, seolah sesuatu yang menahan pintu itu mendadak hilang, lempengan besi itu bergeser ke samping dengan sangat mudah.

"Rei! Kamu tidak apa-apa!?"

"……Ah."

Di balik pintu yang terbuka, Rei yang masih memakai baju olahraga duduk bersimpuh di lantai dengan air mata yang menggenang di matanya.

"……Fu."

"Fu?"

"Fuyuki-gunnnn!"

"Owa!?"

Detik berikutnya, Rei yang menangis tersedu-sedu langsung menghambur ke pelukanku.

Aku sempat mematung karena kejadian mendadak ini, tapi melihat gadis di depanku yang sangat kacau melebihi diriku, aku malah menjadi tenang.

Untuk sementara, aku mencoba menenangkannya dengan lembut, sambil dengan ragu-ragu mengelus rambut hitamnya yang indah.

"Haa…… sudah tidak apa-apa, tenanglah. Oke?"

"Uuuu…… a-aku pikir aku tidak akan bisa keluar lagi……"

"Mana mungkin. Sudah, jangan menangis."

Aku menyeka air mata yang jatuh dari mata besarnya dengan tanganku.

……Merasakan kehangatan dari tetesan air mata itu, aku mencoba menyembunyikan detak jantungku yang kian cepat dan tersenyum lembut pada Rei.

"Hiks…… Fuyuki-kun, terima kasih banyak. Sudah datang mencariku……"

"……Ah, benar juga. Yuki sangat khawatir karena kamu tidak kunjung kembali. Ayo cepat kita balik ke kelas."

"Eh!? Awawawa…… ta-tapi wajahku pasti jelek sekali sekarang…… aku tidak mau Yuu-kun melihatku seperti ini……"

"Apa-apaan itu. Jadi tidak apa-apa kalau aku yang melihat wajah jeleknu?"

Melihat Rei yang sedang membuang ingus di depanku, aku tertawa pahit. Gadis itu kemudian mengerutkan dahi dan mengerucutkan bibirnya karena merasa tidak enak.

"Ka-kalau Fuyuki-kun sih tidak apa-apa! Kamu kan teman spesial yang sudah bersamaku sejak lama. Aku tidak keberatan meski kamu melihat sisi memalukanku sedikit."

"……Suatu kehormatan bagiku."

Aku mengacak rambut Rei dengan sedikit kasar.

"Wawa! A-apa-apaan!?"

"Sudah, ayo pulang. Kalau lelet, nanti Shirase dan Koichi juga ikut khawatir."

Lagipula, aku juga tidak ingin melihat sisi memalukanmu dilihat orang lain.

Agar wajahku yang memerah karena kata-katanya tidak terlihat, aku berjalan mendahului Rei.

◆◆◆

--- Waktu diputar mundur sedikit.

"……Fuyuki-kun belum kembali juga, ya."

Di dalam kelas setelah jam sekolah usai, Yuki dan Koichi sedang menyeruput jus kotak mereka dengan tatapan kosong.

"Mungkin dia tertangkap oleh guru atau anak klub olahraga? Aku dengar klub sepak bola libur hari ini, tapi……"

"……Aku akan coba mencarinya sebentar."

"Oke. Aku tunggu di sini saja biar tidak repot kalau nanti malah papasan sama Netora atau Fuyuki."

Sambil menjawab Koichi, Yuki berjalan menuju mesin penjual otomatis di koridor terdekat dari kelas. Namun, sosok Fuyuki tidak terlihat di mana pun.

"Pesan di ponselnya juga tidak dibalas…… Fuyuki-kun ke mana, sih—"

Tanpa sengaja, Yuki mengalihkan pandangannya ke jendela yang menghadap ke lapangan. Dan di sanalah, dia melihat pemandangan itu.

"Rei-chan, Fuyuki-kun……?"

Di sudut lapangan, di depan gudang olahraga, ada dua orang laki-laki dan perempuan yang sedang berpelukan—mereka adalah gadis yang Yuki cintai dan sahabatnya sendiri.

Meskipun jaraknya jauh, sosok mereka tidak mungkin salah lihat. Tenggorokan Yuki terasa kering dan perih.

"Ha, eh? Kenapa……?"

Fuyuki menyeka air mata yang mengalir di pipi gadis yang sedang menangis itu dengan ujung jarinya. Dengan akrabnya, Fuyuki mengelus rambut gadis itu.

Setiap gerakan mereka membuat Yuki mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya.

"……Jahat sekali. Fuyuki-kun. Padahal kamu tahu kalau aku menyukai Rei-chan."

Kepalanya terasa sakit.

Yuki yang terhuyung-huyung bersandar pada pilar bangunan sekolah, seolah ingin menyembunyikan diri dari mereka berdua.

"Padahal kamu bilang akan mendukungku."

Yuki menggigit kuku jempolnya. Hatinya yang bergejolak tidak kunjung tenang.

"Padahal aku yang lebih dulu mengkhawatirkan Rei-chan. Padahal aku yang lebih dulu menyukai Rei-chan."

Padahal kita berteman. Padahal kamu sahabatku. Kenapa kamu melakukan hal yang kubenci?

"Curang."

Kepalanya, terasa sangat sakit.

"Curangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurangcurang……"




◆◆◆

Saat senja tiba, di sebuah sudut kawasan perumahan.

Seorang anak laki-laki—Tachibana Yuki—berdiri di depan pintu rumah kediaman Netora dan menekan bel pintu.

Tak lama kemudian, Yuki menunjukkan senyum ramah ke arah pintu yang terbuka.

"Selamat malam, Tante."

"Selamat datang, Yuki-kun. Ayo, silakan masuk."

Atas ajakan ibu Reiko, Yuki melangkah masuk ke dalam rumah.

"Permisi. Maaf ya, Tante, saya jadi merepotkan terus……"

"Duh, tidak perlu sungkan begitu, kan? Keluarga kita sudah berteman lama sekali. Tante sudah menganggap Yuki-kun seperti anak sendiri, lho."

Karena kedua orang tua Yuki sama-sama bekerja, terkadang ibunya pulang terlambat. Di saat seperti itulah, Yuki sesekali diundang untuk makan malam di rumah kediaman Netora.

"……Malahan, Tante tidak keberatan kalau kamu beneran jadi menantu Tante, tahu?"

"Ta-Tante!? S-saya dan Rei-chan tidak punya hubungan seperti itu……"

Baru saja kalimat itu terucap, ingatan tentang kejadian tempo hari kembali terbayang di kepala Yuki.

Sosok Reiko dan sahabatnya yang sedang berpelukan di sudut lapangan sekolah.

Bayangan itu membuat Yuki merasa sesuatu yang gelap dan berat mulai memenuhi relung hatinya.

"Aku……"

"Yuu-kun! Selamat datang!"

Sebelum bagian dalam dirinya benar-benar terwarnai oleh kegelapan, sebuah suara ceria membuyarkannya.

Reiko yang datang dari arah ruang tengah menunjukkan senyum secerah matahari, lalu menyambar tangan Yuki dan menariknya dengan penuh semangat.

"Malam ini menunya kari! Aku juga bantu Ibu memasaknya, lho. Makan yang banyak ya, Yuu-kun!"

"I-iya. Haha…… a-aku tidak sabar mencicipinya……"

Merasakan senyum Reiko dan suhu tubuhnya yang tidak memancarkan setitik pun kegelapan atau noda, Yuki berpura-pura tenang agar hatinya yang buruk tidak terlihat oleh siapa pun.

Benar. Dia tidak boleh menyadari perasaanku ini. Perasaan yang gelap dan menyimpang ini.

Rei-chan adalah milikku.

Daripada diambil oleh orang lain, lebih baik sekalian saja aku paksa—

"Yuu-kun?"

"……Ah, a-ada apa? Rei-chan?"

"Anu, apa kamu sedang tidak enak badan? Habisnya, wajahmu terlihat menakutkan tadi……"

Mendengar ucapan Reiko, Yuki buru-buru menggelengkan kepalanya dan memaksakan diri untuk terlihat ceria.

"Enggak, kok. Bukan apa-apa. ……Itu, mungkin karena aku sangat lapar, jadi wajahku terlihat agak suram?"

"……Begitu ya! Kalau begitu, ayo kita segera makan!"

"Iya. Tapi sebelumnya, aku mau cuci tangan dulu. Bisa tunggu sebentar?"

Setelah berkata demikian, Yuki masuk ke kamar mandi.

Sepasang mata yang terpantul di cermin itu tampak seperti mata yang kehilangan nyawa, seolah cahayanya telah padam.

◆◆◆

"Eh! Yuu-kun juga mau masuk ke Akademi Mikage!?"

Selesai makan, Reiko dan Yuki berdiri bersisian mencuci piring.

Sudah menjadi tradisi sejak mereka kecil, jika makan bersama, anak-anaklah yang bertugas membereskan peralatan makan.

……Yah, sebenarnya ini adalah bentuk campur tangan orang dewasa yang agak berlebihan karena ingin mendekatkan kedua anak yang terlihat saling menyukai ini.

Sambil mengelap peralatan makan yang sudah bersih, Yuki menjawab ucapan Reiko.

"Iya. Yah, kalau melihat nilaiku sekarang mungkin agak sulit, sih…… tapi aku ingin mencoba berusaha."

"Begitu ya~…… kalau beneran masuk, kita bisa terus bersama Yuu-kun sampai SMA nanti! Aku pasti akan mendukungmu! Kalau ada masalah apa pun, bilang saja ya!"

"Haha, terima kasih. Aku juga dengar Shirase-san mengincar Mikage. Kalau bisa satu sekolah lagi dengan semuanya, aku pasti senang."

Selesai mencuci seluruh peralatan makan, Yuki melepas celemeknya dan bertanya pada Reiko dengan nada santai.

"……Ngomong-ngomong, saat hari konsultasi masa depan Shirase-san. Rei-chan, kamu lama sekali baru kembali ke kelas setelah pelajaran olahraga, ya?"

"Eh? Ah, iya. Sedikit, sih. Ada banyak urusan……"

Melihat Reiko yang tampak ragu bicara, Yuki mempertahankan senyumnya dan membuka mulut.

"……Sepertinya kamu sedang bersama Fuyuki-kun di depan gudang olahraga."

Mendengar kata-kata itu, bahu Reiko tampak bergetar hebat.

"A-ah…… itu, sebenarnya waktu itu aku terjebak di dalam gudang olahraga. Kebetulan Fuyuki-kun lewat, jadi dia membantuku."

"Begitu ya. ……Hei, Rei-chan. Kenapa kamu merahasiakan hal itu dariku?"

"Eh? Rahasia?"

Yuki tetap memasang senyum di wajahnya sambil menatap lurus ke dalam mata Reiko.

"Apa ada alasan yang tidak bisa kamu katakan padaku? Rei-chan, apa terjadi sesuatu antara kamu dan Fuyuki-kun?"

"Eeeh!? Bu-bukan begitu! Itu, aku hanya tidak ingin membuat Yuu-kun khawatir yang bukan-bukan, makanya aku……"

Melihat Reiko yang tampak panik secara kasatmata, Yuki yakin bahwa gadis itu sendiri tidak memiliki niat buruk apa pun.

Karena Yuki sendiri memiliki watak yang mudah menyimpan rasa bersalah dan keraguan, dia menjadi lebih peka daripada orang lain terhadap gelagat semacam itu.

Dari Reiko, dia tidak merasakan hawa gelap seperti keraguan atau rasa bersalah sedikit pun. Kenyataan itu membuat Yuki menghela napas lega dalam hati.

"……Maaf. Aku bicara seolah sedang menginterogasimu."

"I-iya, tidak apa-apa……"

"Memang benar, kalau aku mendengar cerita tadi, mungkin aku akan khawatir yang tidak perlu. Aku malah membuat Rei-chan dan Fuyuki-kun jadi tidak enak hati, ya?"

"Aku juga yang salah karena menyembunyikannya dengan cara yang aneh, malah membuat Yuu-kun jadi tidak tenang. Maafkan aku ya……"

Yuki mengelus pelan kepala Reiko yang tertunduk lesu.

"Jangan pasang wajah sedih begitu. Rei-chan dan Fuyuki-kun merahasiakannya kan hanya demi aku."

"Yuu-kun……"

"……Tapi, itu karena aku ini tidak bisa diandalkan, kan?"

Mendengar ucapan Yuki, Reiko tersentak dan mengangkat wajahnya.

"Karena itulah, aku jadi makin mengkhawatirkan Rei-chan. Aku takut kalau ada hal berat yang menimpamu, kamu malah akan menyembunyikannya demi aku."

"Yu-Yuu-kun……?"

"Rei-chan. Aku bukan lagi anak kecil yang tidak bisa apa-apa tanpa bersembunyi di belakangmu. Kalau ada sesuatu, aku bisa melindungimu. Aku punya tekad untuk melakukan apa pun demi kamu."

Tangan yang tadi mengelus rambut hitam gadis itu kini berpindah ke pipinya yang lembut.

"Tapi karena Rei-chan itu baik hati. Biarpun aku bicara begini, kalau terjadi sesuatu pasti kamu akan menanggungnya sendirian agar aku tidak khawatir. Kalau begitu, sekalian saja……"

Yuki melanjutkan dengan suara tenang, tanpa menghilangkan senyum dari wajahnya.

"Agar Rei-chan tidak mengalami hal berbahaya lagi…… bagaimana kalau aku ikat saja kamu, supaya kamu tidak bisa pergi atau lari dari sisiku?"

Perasaan menyimpang si anak laki-laki itu sudah tidak terbendung lagi.

"——Aku tidak suka hal seperti itu."

Kata-kata penolakan. Terhadap kata-kata buruk Yuki yang berlumuran obsesi posesif, Reiko menjawab demikian.

Yah, itu wajar saja. Orang yang dengan senang hati menerima kebebasannya dikekang oleh orang lain pada dasarnya hanyalah minoritas. Hal itu tidak terkecuali bagi gadis di depannya ini, yang memiliki hati sebersih malaikat dan selalu mengutamakan orang lain.

"……Maaf, Rei-chan."

Yuki sudah menduga dia akan mendapatkan reaksi seperti itu. Meski begitu, sang anak laki-laki merasa benci pada dirinya sendiri karena merasa terluka secara egois oleh penolakan tersebut.

(……Aku sudah tahu. Rei-chan pasti akan bereaksi seperti itu. Meski begitu—)

Meski dia dibenci olehnya, atau dipandang rendah oleh teman-temannya, keinginannya untuk mengikat Reiko di sisinya sama sekali tidak goyah. Ya, malahan kalau bisa sekarang juga—

"Soalnya, Yuu-kun sama sekali tidak terlihat senang."

"……Eh?"

Perlahan, tangan si gadis mengusap pipi Yuki. Seolah sedang menyeka air mata yang tak terlihat.

"Yuu-kun selalu begitu. Makin merasa menderita dan sesak, kamu malah makin memaksakan diri untuk tersenyum. Mumpung lagi begini aku bilang ya, itu kebiasaan buruk, tahu?"

"Fugah."

Seolah ingin melenturkan senyum kaku sang anak laki-laki, ujung jari Reiko yang halus menarik-narik pipinya.

"Re-Rei-chan?"

"……Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sejak tadi Yuu-kun terlihat seperti sedang menahan tangis sambil berpikir 'sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini'…… wajahmu terlihat seperti itu, lho?"

"—!"

Mendengar kata-kata Reiko yang menohok tepat ke inti masalahnya, Yuki terkesiap.

Benar. Sebenarnya aku tidak ingin mengabaikan keinginan Reiko dan melakukan hal seperti mengurungnya dalam sangkar bernama diriku. Aku tidak ingin mencurigai atau mencemburui Fuyuki—sahabatku sendiri. Aku tidak ingin melakukan hal yang membuat teman-temanku muak.

——Dan yang terpenting, aku tidak ingin menjadi manusia yang tidak bisa membanggakan diri di hadapannya!

"Fufu, Yuu-kun yang biasanya sudah kembali."

Begitu Reiko melepas jarinya yang mempermainkan pipi Yuki, sang anak laki-laki merasa hatinya menjadi lega seolah kabut gelap yang mengendap telah sirna. Pikirannya menjadi jernih, dan menyadari betapa buruknya emosi yang dia tumpahkan pada si gadis tadi, Yuki mencoba meminta maaf dengan terbata-bata.

"Rei-chan. Itu, maafkan aku. Aku……"

"Kalau itu hal yang tidak ingin kamu lakukan, tidak perlu dipaksakan. Kamu boleh lari dari hal-hal yang tidak ingin kamu hadapi. Apa pun yang terjadi, aku paaaaaaasti akan selalu ada di pihak Yuu-kun. Oke?"

"……Haha, sepertinya itu terlalu memanjakanku. Aku kan sudah empat belas tahun."

"Tidak apa-apa, kan? Sejak masuk SMP Yuu-kun jadi terlihat dewasa sekali, aku jadi agak merasa kesepian. Sesekali bermanjalah pada teman masa kecilmu ini."

Benar-benar deh, sepertinya aku tidak akan pernah bisa menang dari gadis ini seumur hidupku. Yuki kembali meyakini kenyataan itu dengan perasaan yang cerah.

"……E-etoo, Yuu-kun."

"Iya, ada apa Rei-chan?"

Tiba-tiba si gadis mendekatkan wajahnya ke telinga Yuki, lalu berbisik dengan suara yang sangat pelan.

"Itu, aku memang bilang begitu tadi…… tapi kalau itu hal yang benar-benar ingin Yuu-kun lakukan…… aku akan melakukan apa pun untukmu. Oke?"

"—Eh, ha!? Re-Rei-chan……!"

Mendengar pernyataan luar biasa dari si gadis, Yuki spontan memegang telinganya dan menoleh. Wajah Reiko memerah padam sampai terlihat kasihan, dan dia melanjutkan dengan mata yang berkaca-kaca.

"Ja-jadi, itu…… kalau aku juga punya hal yang ingin kulakukan pada Yuu-kun, saat itu…… apa kamu mau menerimanya?"

"U…… umm……"

Di tengah ketegangan yang membuat jantungnya serasa mau melompat keluar, Yuki mengangguk pada ucapan Reiko sambil terengah-engah.

"……Aku mengerti. Aku berjanji. Jika Rei-chan punya hal yang ingin dilakukan padaku, aku akan menerima apa pun itu."

Kata-kata penuh tekad dari si anak laki-laki. Mendengar itu, Reiko tersenyum lembut dan mengucapkan rasa terima kasih.

"Fufu, Yuu-kun memang baik ya. Te-ri-ma-ka-sih."

◆◆◆

"Sial! Aku kena!"

Setelah makan malam. Setelah mengantar Yuu-kun pulang, aku memegangi kepala sambil menelungkup di meja kamarku.

Selamat malam, aku Netora Reiko.

Nah, ini adalah kegagalan besar setelah sekian lama. Sepertinya aku terlalu banyak menaikkan tingkat kesukaan Yuu-kun, sampai-sampai atribut yandere muncul dalam dirinya.

Menurutku, laki-laki yang kena NTR itu pada dasarnya harus memiliki rasa yang "polos" tanpa kepribadian yang menonjol. Gara-gara kegagalanku di masa kecil saja Yuu-kun sudah tumbuh jadi laki-laki tampan. Kalau ditambah atribut yandere lagi, rasa asli dari NTR itu sendiri akan menjadi kacau.

Padahal tadinya aku berencana memberikan atribut yandere pada kandidat penikung seperti Fuyuki-kun atau Yuri-chan, tapi malah muncul pada si laki-laki yang ditikung, Yuu-kun…… benar-benar salah perhitungan.

Bacalah suasana dong~~. Bacalah suasanaku~~.

Yah, kalau setelah ini semuanya berjalan tanpa cela sih tidak masalah. Aku segera mengganti pola pikir. Lagipula kejadian kali ini bisa jadi pelampiasan yang bagus bagi Yuu-kun yang sedang menimbun frustrasi di dalam hatinya. Kalau dianggap sebagai kelonggaran untuk rencana NTR ke depannya, ini bukan hal yang sepenuhnya buruk.

Tapi tetap saja, Yuu-kun benar-benar lucu ya~~. Aku menjilat bibirku sambil membayangkan Yuu-kun yang tadinya yandere kini telah kembali ke jalan yang benar di atas telapak tanganku.

Aku sadar Yuu-kun melihatku sedang berpelukan dengan Fuyuki-kun, tapi kalau dia sampai kepikiran sejauh itu, harusnya dia langsung menyergap kami di tempat kejadian perkara. Karena dia tidak melakukannya, Yuu-kun itu meskipun dibilang yandere, dia tetap tipe yang sangat-sangat manis. Bagiku, dia cuma seperti anjing Pomeranian yang lucu.

Jangan berikan aku waktu untuk bersiap-siap dong~~.

Yah, seumpama dia menangkap basah kami pun, aku pasti bisa mengatasinya. Lagipula atribut semacam yandere hanyalah bug kecil yang lahir dari ilusi bernama cinta. Itu tidak akan mempan padaku yang berpegang teguh pada kebenaran hakiki manusia bernama "kebencian yang tak kunjung padam".

Dengan begini, aku berhasil menghapus atribut yandere dari Yuu-kun dengan selamat. Mengubah kepribadian seseorang itu gampang sekali. Tidak ada yang sulit.

Sebab diriku sendiri adalah contoh nyata. Sebagai pahlawan wanita terbaik yang cocok untuk komedi romantis murni Yuu-kun, aku telah berkali-kali merombak tubuh dan jiwaku…… mungkin ini adalah efek sampingnya. Kemanusiaanku sudah benar-benar hancur total.

Artinya aku ini adalah korban dari laki-laki penggoda yang ditikung bernama Yuu-kun……? Berani-beraninya membuatku jadi menyimpang begini. Dasar laki-laki penuh dosa.

Mungkin aku adalah sampah terendah yang punya hasrat untuk ditikung. Demi situasi NTR, bermain kaki dua atau tiga adalah hal biasa, dan aku mungkin sampah yang tidak punya rasa tanggung jawab sedikit pun atas hidup orang lain.

Tapi ya, Yuu-kun yang seperti itu pun bilang dia akan menerimaku apa adanya. Aku tidak sanggup menginjak-injak perasaan Yuu-kun yang seperti itu……!

Yah, aku tidak menceritakan detail apa pun pada Yuu-kun, jadi kalau sampai masuk pengadilan aku pasti kalah telak. Inilah yang disebut trik narasi. Tapi cinta itu kan bukan pertarungan hukum. Yang terpenting adalah janji lisan dan hati yang mempercayai pasangan.

◆◆◆

Sekarang waktunya kumpul-kumpul perempuan di rumah Yuri-chan. Mengumpulkan beberapa anak perempuan yang lumayan akrab di kelas, kami menikmati obrolan seru sambil menikmati teh dan camilan.

Mengelola kebencian antar perempuan dan mengumpulkan berbagai informasi melalui perkumpulan perempuan adalah salah satu tugas pentingku. Wanita penikung kelas wahid haruslah menjadi nomor satu dalam pergaulan sosial.

"—Tapi sebenarnya bagaimana, Reiko? Kasihan kan kalau Tachibana-kun dibiarkan menunggu terlalu lama?"

"Eh, e-eeh? A-aku dan Yuu-kun kan tidak punya hubungan seperti itu…… lagipula, aku inginnya pihak laki-laki yang menyatakan duluan……"

Melihat reaksiku yang polos, gadis-gadis itu berteriak "Kyaa!" dengan heboh. Gadis-gadis di sini adalah mereka yang tidak punya perasaan cinta khusus pada Yuu-kun atau Fuyuki-kun. Jadi, mereka adalah tipe yang akan memberikan simpati jika aku menunjukkan hubungan yang malu-malu kucing seperti ini. Ikut campur dalam urusan asmara orang lain adalah salah satu hiburan universal umat manusia.

"Yah, Tachibana-kun memang tipe begitu ya~. Dia baik sih, tapi…… agak plin-plan, atau mungkin terlalu pemalu."

"Setuju banget. Dia tampan sih, tapi kurang agresif gitu lho~."

"Tapi Reiko kan suka tipe pemakan tumbuhan begitu, kan? Kalau begitu Reiko-lah yang harus lebih agresif menyerang—"

"Ah, sudah cukup! Jangan bahas aku terus! Hei hei, Yuri-chan sendiri tidak punya cowok yang disukai?"

"Eh, e-eeh!? A-aku, itu……"

Yuri-chan yang mendadak ditanya langsung tersentak kaget. Reaksi seperti hewan kecil itu memicu jiwa sadis gadis-gadis lain, sehingga target interogasi berpindah dariku ke Yuri-chan.

"Bener juga~. Aku penasaran nih. Yuritchi tidak pernah cerita soal cowok sama sekali."

"Bagaimana dengan Kurushima-kun? Kalian kan selalu bersama."

"Belakangan ini kamu juga akrab dengan Kanda-kun, kan~?"

"U-uuu…… Re-Rei-chan, tolong aku……"

Yuri-chan yang terdesak oleh gadis-gadis itu pun bersembunyi di belakangku.

"Fufu, apa boleh buat. Sini kemari."

Yuri-chan langsung menghambur ke pelukanku saat aku merentangkan kedua tangan.

"Reiko dan Yuritchi beneran akrab banget ya~."

"Jangan-jangan, saingan Tachibana-kun itu malah Shirase-san……"

"Eeh~? Fufu, bagaimana ini Yuri-chan? Katanya kita terlihat seperti itu, lho?"

Aku ikut menggoda Yuri-chan dan melakukan ago-kui (mengangkat dagunya). Melihat Yuri-chan menatap wajahku dari jarak dekat sambil menelan ludah, senyumku semakin dalam.

Benar, terobsesilah padaku lebih dalam lagi. Rebutlah aku dari Yuu-kun~~.

Tempo hari gara-gara kegagalanku, Yuu-kun malah punya atribut yandere, tapi aslinya bakat ke arah sana harusnya lebih unggul di pihak Yuri-chan. Ayo segera tumbuhkan atribut itu.

Atribut yandere sangat berguna bagi posisi penikung. Untuk melakukan tindakan tidak bermoral seperti menikung pasangan orang, atribut yandere yang membuat logika terbang karena cinta berlebihan sangatlah menguntungkan bagiku. Soalnya mereka jadi gampang diarahkan pikirannya.

Kata-kata seperti "Aku sudah berusaha sekuat tenaga meskipun gagal" itu tidak ada nilainya. Yang penting itu bukan proses, tapi hasil. Hasil di mana kamu berhasil merebutku yang tercinta ini dari tangan Yuu-kun. Usaha tanpa hasil itu cuma kepuasan diri sendiri saja~~.

Bukankah tidak adil kalau Yuri-chan yang sudah berusaha keras tidak mendapatkan imbalan? Oleh karena itu, aku akan membuang bagian-bagian tidak berguna seperti nurani dan etika dari diri Yuri-chan dengan bersih. Betapa baiknya aku.

Tapi, sepertinya ada penghalang niat baikku yang bersembunyi di rumah Yuri-chan.

"Waf!"

"Ah, Samo-chan! Lucunya~"

"Mungkin dia khawatir majikannya mau direbut ya~?"

Seekor makhluk berbulu putih menyerbu masuk ke kamar Yuri-chan tempat kami berkumpul.

Itu adalah anjing peliharaan keluarga Shirase, Samo-chan si Samoyed. Anjing besar bertubuh hampir 60 cm itu menyusupkan moncongnya di antara aku dan Yuri-chan.

Aku menyembunyikan keinginan untuk berdecak kesal dan memberikan senyum pada si anjing.

"Ahaha, Samo-chan sayang sekali ya sama Yuri-chan~?"

"Grrrr……"

Saat aku mencoba mengelus kepalanya, dia menunjukkan taringnya sambil menggeram. Rahasia kecil, aku sebenarnya sangat, saaaaangat dibenci oleh anjing ini. Yuri-chan buru-buru menegur anjing kesayangannya yang terus mengintimidasiku.

"H-hei! Samo!"

"Tidak apa-apa kok. Mungkin dia cemburu karena aku menempel terus pada majikan kesayangannya?"

"Grrrruuuuu~~"

Sialan, dia sama sekali tidak mau membuka hati. Aku memang belum pernah digigit, tapi Samo-san ini sangat mewaspadaiku sampai mati.

Anjing ini kalau disentuh gadis lain selalu menebar pesona dengan senyum khas Samoyed, tapi begitu aku mengulurkan tangan, taring dan pupil matanya langsung terbuka lebar.

Tapi, aku tidak akan marah karena hal sepele begitu. Orang yang baik hati itu pasti suka binatang, kan? Secara paradoks, berarti aku ini suka binatang. Hei peeeeet. Ayo berteman dong~~?

"Uyu uyu~, Samo-chan bulunya lembut banget ya hari ini~?"

"Grrrgrrrgrrr……!"

"Samo! Hei Samo! Kenapa cuma sama Rei-chan kamu galak begitu!"

Fufufu! Melihat anjing yang sama sekali tidak mau tunduk padaku ini, aku malah jadi merasa senang.

Dipikir-pikir, sejak bereinkarnasi ke tubuh ini, mungkin ini pertama kalinya aku merasakan permusuhan yang begitu nyata.

Tatapan penuh kebencian yang tajam yang sudah lama tidak kurasakan……! Insting biologisku jadi terangsang nih~~. Akan kubuat kamu tunduk……!

Pertarunganku dengan si anjing pun dimulai.

◆◆◆

Sore hari. Di depan pintu rumah keluarga Shirase, aku dan gadis-gadis teman sekelas melambaikan tangan pada Yuri-chan.

"Kami pulang dulu ya~. Yuri-chan, sampai jumpa lagi~."

"Uuu…… Rei-chan, maaf ya soal Samo tadi……"

"Ahaha, tidak apa-apa kok. Samo-chan, ayo main lagi ya?"

"Grrr……"

Akhirnya, aku tidak berhasil membuat si anjing tunduk. Meski musuh, aku memuji Samo-san dalam hati. Kalau aku menghajarnya dengan kekerasan mungkin ceritanya akan beda, tapi tentu saja aku tidak bisa memukul peliharaan di depan pemiliknya, jadi anggap saja skornya seri?

Yah, meski gagal tapi aku sudah berusaha sekuat tenaga, jadi aku puas. Yang penting itu bukan hasil, melainkan proses usahanya sendiri. Aku segera mengganti telapak tanganku menjadi bor (pindah prinsip).

"……Ngomong-ngomong, ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada kalian."

Setelah berjalan beberapa menit dari rumah Shirase, aku mengutarakan "tujuan asli" dari kumpul-kumpul hari ini kepada gadis-gadis di sekitarku.

"Ada apa Reiko? Kok tiba-tiba serius banget."

"Eeto, ini soal Yuri-chan……"

Melihat ekspresi seriusku, wajah gadis-gadis itu pun menjadi tegang.

"……Tidakkah menurut kalian belakangan ini tingkah Yuri-chan agak aneh?"

◆◆◆

"—Begitu ya. Terima kasih, Morita-san."

"I-iya. Kalau cuma segini sih tidak masalah…… e-eto, Netora-san. Hal yang aku bicarakan tadi……"

"Aku mengerti. Aku tidak akan bilang pada siapa pun, jadi tenang saja ya?"

Aku melepas kepergian gadis yang tadi bicara rahasia denganku di kelas kosong dengan senyuman. Gadis itu pergi dengan terburu-buru dan tampak tidak enak hati.

……Nah, aku sudah menduga masalah seperti ini pasti akan terjadi suatu saat nanti. Aku duduk di meja guru di kelas kosong itu sambil berpikir.

Kejadiannya bermula beberapa minggu lalu. Menyadari Yuri-chan yang tampak lelah dan tertekan, aku mencoba bertanya padanya secara halus.

Namun, Yuri-chan selalu mengelak pertanyaanku dengan lembut tanpa mau menceritakan detailnya.

Pada titik ini aku sudah punya dugaan kasar, jadi aku segera bergerak mencari bukti.

Tidak terbatas di kelasku di mana aku membangun sistem monarki absolut, aku juga mengumpulkan informasi dari siswa kelas lain, adik kelas, kakak kelas, laki-laki maupun perempuan, terkadang dengan cara negosiasi informasi.

Dan benar saja, kenyataannya sesuai dugaanku.

Sepertinya Yuri-chan sedang menjadi korban perundungan ringan oleh gadis dari kelas lain.

"Takane-san dari kelas 2-C, ya. Harusnya kami tidak punya hubungan khusus…… yah, aku memang mencolok, sih."

Dari hasil pengumpulan informasi, target asli dari Takane-san—si otak perundungan—sebenarnya adalah aku.

Tapi karena aku tidak punya celah sedikit pun, dia menyerah dan mengganti sasarannya ke Yuri-chan yang merupakan temanku.

Bentuk perundungannya masih tergolong ringan, seperti memasukkan sampah kaleng ke dalam loker sepatu Yuri-chan atau membicarakannya dengan suara keras agar terdengar.

Tapi hal seperti ini biasanya akan menjadi semakin ekstrem seiring berjalannya waktu. Mari kita bereskan segera.

Aku sudah menarik gadis-gadis pengikut Takane-san ke pihakku.

Morita-san yang baru saja memberiku informasi adalah salah satunya.

Sebagai orang yang sangat menjunjung tinggi empati, aku tahu betul apa yang paling dibenci oleh seseorang.

Setelah menyentuh titik itu dan melakukan "permintaan" secara tidak langsung, mereka sepertinya tergerak oleh keadilan dalam hatiku yang membara dan dengan mudah berpindah dari kelompok Takane-san ke pihakku.

Inilah yang disebut kembali ke jalan yang benar.

Nah, setelah semua benteng luar sudah kuhancurkan, saatnya menyerang benteng utama.

Aku menjilat bibirku, lalu memprediksi pola gerakan Takane-san untuk menangkap basah perundungannya.

◆◆◆

Aku dan Yuri-chan adalah teman perempuan yang paling dekat—bisa dibilang sahabat. Jadi, aku bisa menebak alasan kenapa dia tidak meminta tolong padaku. Yuri-chan itu anak yang baik, dia pasti takut melibatkan aku dalam perundungan itu. Dia berpikir "biar aku saja yang terluka".

……Tapi, meskipun itu adalah bentuk kebaikannya, aku merasa kesepian. Seolah dia berkata "ini bukan urusanmu". Aku ingin dia lebih mengandalkanku. Aku ingin dia meminta bantuan saat menderita, dan memelukku sambil berkata "tetaplah di sisiku" saat merasa kesepian.

Karena kami adalah teman. Demi teman—demi Yuri-chan, apa yang bisa kulakukan. Aku berpikir sangat, sangat dalam.

Hasil dari pemikiranku, aku menculik Takane-san dan mencuci otaknya.

"Pasti berat ya Takane-san. Belajar untuk ujian tidak berjalan lancar, di rumah ayah dan ibu selalu bertengkar, kamu merasa kesepian kan? Makanya kamu jadi cemburu padaku dan Yuri-chan yang selalu terlihat senang? Tapi meskipun begitu, tidak boleh lho menyakiti orang lain. Tidak apa-apa. Mulai sekarang aku akan ada di sisimu. Seburuk apa pun Takane-san, sebodoh apa pun kamu, aku akan menerimamu. Kamu senang, kan? Kamu ingin aku lebih senang lagi, kan? Kalau begitu Takane-san harus membuktikan. Buktikan bahwa kamu adalah orang yang berguna bagiku. Buatlah aku senang. Kalau kamu melakukannya, aku akan makin mencintaimu. Aku akan mengakuimu. Untuk sementara, bagaimana kalau berhenti merundung Yuri-chan? Kamu bisa minta maaf dengan benar, kan? Karena Takane-san ingin membuatku senang. Karena kamu ingin dicintai. Kalau kamu bisa melakukannya, aku akan mengelus-elus kepalamu. Kamu senang, kan? Ayo, kalau senang tersenyumlah? Smile? Nah, lucunya~~"

"Ah♥ Ah♥ Ah♥"

Takane-san yang terikat di kursi gemetar hebat sambil meneteskan air liur dengan senyum lebar di wajahnya.

Tentu saja aku tidak menggunakan obat-obatan. Ini murni teknik bicara.

Wanita penikung kelas wahid bisa melakukan apa saja. Teknik cuci otak itu level dasar.

Meskipun aku sudah menguasai teknik ini sejak kehidupan sebelumnya, sekarang aku menambahinya dengan manipulasi darah untuk menyesuaikan nada suara dan ritme gerakanku menjadi 1/f fluctuation.

Semacam healing voice, lah.

Seperti yang sering ada di manga-manga itu. Untuk detailnya silakan Googling sendiri.

Kalau aku serius ingin mencuci otak sekarang, sebagian besar orang tidak akan bisa melawan dan akan menjadi pengikut setiaku.

Yah, aku tidak berniat menggunakannya secara sembarangan karena membuat orang yang cuma bisa bilang "Yes" itu tidak asyik.

"Kalau begitu, jika aku mengucap 'Keikatsu', Takane-san akan menjalankan perintahku sebagai prioritas utama selama satu menit. Dan kamu akan melupakan semua percakapan ini. Mengerti?"

"Fai…… faya mengerti……♥"

Yah, karena sudah telanjur dicuci otaknya, kalau keadaan darurat aku bisa menjadikannya tameng daging.




Manusia adalah makhluk yang menjunjung tinggi persahabatan.

Di saat sulit, mereka akan saling bergandengan tangan, saling mendukung, dan saling membantu untuk bertahan hidup.

Artinya, yang harus menanggung kerugian adalah siapa pun asalkan bukan aku. Itu yang namanya kerja sama tim.

Begitulah cara aku menyelesaikan masalah perundungan Yuri-chan dengan kecepatan kilat.

Perfect Communication!

◆◆◆

"Yuri-chan, tadi itu orang-orang dari mana?"

Sepulang sekolah, aku—Shirase Yuri—yang baru saja kembali setelah dipanggil oleh sekelompok siswi kelas lain, melemparkan senyuman pada Rei-chan yang tampak khawatir.

"Bukan apa-apa, kok. Kami cuma mengobrol sedikit saja."

"Hmm, kalau Yuri-chan bilang begitu sih tidak apa-apa, tapi……"

Melihat Rei-chan yang menggembungkan pipinya karena tidak puas, aku merasa gemas sambil merenungkan kembali kejadian pemanggilan tadi.

◆◆◆

Saat dipanggil ke belakang gedung sekolah yang sepi, aku sempat sedikit waspada. Namun, kata-kata pertama yang keluar dari mulut mereka adalah permohonan maaf yang sangat putus asa.

Mereka mengakui bahwa merekalah pelaku perundungan selama ini.

Mereka sangat menyesal dan bersumpah tidak akan mengulanginya lagi.

Bahkan, mereka menyatakan siap dipukul sampai aku puas jika itu yang kuinginkan.

Melihat mereka yang hampir bersujud di tanah, aku sempat agak ragu, namun akhirnya menerima permintaan maaf tersebut.

Salah satu dari mereka, yang tampak lega, kemudian berkata padaku:

"Anu, tolong sampaikan juga pada Netora-san, ya. Bilang kalau kami benar-benar minta maaf……"

"Eh?"

"……Eh?"

……Tampaknya, di balik permintaan maaf yang tiba-tiba ini, ada dia yang bergerak di balik layar.

Agar tidak membuat dia yang baik hati merasa khawatir, aku sengaja diam soal perundungan belakangan ini…… tapi ternyata dia sudah tahu segalanya.

"Benar-benar deh, aku tidak bisa menang darinya……"

◆◆◆

Sejak pertama kali bertemu, dia adalah sosok yang kukagumi, temanku, dan orang yang berharga bagiku. Tapi sekarang, perasaanku padanya jauh lebih besar dari sebelumnya—

"……Rei-chan."

"Hmm, ada apa?"

"Aku…… sepertinya aku benar-benar…… sangat menyukai Rei-chan……"

Mendengar ucapanku yang tiba-tiba, dia tertegun sejenak sebelum mata besarnya berbinar cerah.

"Aku senang sekali! Aku juga sangat menyukai Yuri-chan!"

"Uhyah!?"

Saat dia menerjang dan memelukku, detak jantungku berpacu kencang.

Senyumannya terlalu menyilaukan hingga aku tidak sanggup menatapnya secara langsung.

"Yuri-chan, mulai sekarang mohon bantuannya, ya?"

"Iya……"

Untuk menyembunyikan perasaan yang meluap-luap ini, aku mengalihkan pandangan ke arah jendela yang terpapar sinar matahari terbenam.

Aku senang. Aku suka. Suka sekali. Aku menyukai Rei-chan.

Aku menginginkannya. Aku ingin memilikinya. Aku ingin dia menjadi cahayaku seorang. Rei-chan milikku sendiri. Milikku, seorang—

Nyachaaaaa…… (Seringai licik)

◆◆◆

"Selamat Natal!"

"Yeeeeeey!"

Musim berganti, dan sekarang sudah bulan Desember.

Di sebuah fasilitas hiburan besar yang berjarak beberapa stasiun dari sekolah, suara ledakan cracker dan sorak-sorai bergema di dalam salah satu ruang karaoke.

"Ayo, Yuu-kun. Kita bersulang?"

"Iya. Selamat ya Rei-chan, sudah bekerja keras sebagai ketua kelas tahun ini."

Ting!

Aku—Tachibana Yuki—menyentuhkan gelas plastik murahku ke gelas gadis yang duduk di sebelahku, lalu membasahi bibir dengan jus.

Semester kedua yang sibuk telah berakhir. Setelah upacara penutupan, kami anggota kelas 2-B berkumpul untuk merayakan pesta Natal.

"Tahun depan kita pasti akan sibuk belajar untuk ujian masuk, jadi tidak akan sempat begini. Natal yang benar-benar bisa dinikmati ya cuma tahun ini, lho~?"

Berdasarkan kesadaran yang mengerikan namun benar tersebut, pesta Natal yang dipimpin oleh Rei-chan—yang sudah seperti sosok karismatik di kelas—berlangsung dengan sangat meriah.

"Hah, ujian ya……"

Aku bergumam pelan agar tidak terdengar oleh orang di sekitar.

Tentu saja belajar untuk ujian itu sendiri menyebalkan, tapi yang lebih memberikan tekanan berat di hatiku adalah kenyataan bahwa jika aku gagal masuk ke Akademi Mikage, aku akan terpisah dari Rei-chan selama tiga tahun.

Memang meskipun sekolahnya berbeda, kami bertetangga. Hubungan kami tidak akan terputus begitu saja.

……Tetap saja, membayangkan tempat belajar di mana seorang siswa menghabiskan sebagian besar waktunya sehari-hari akan berbeda, terasa menakutkan bagiku yang selama ini selalu bersamanya.

Tanpa kacamata kuda sebagai teman masa kecil pun, Rei-chan adalah malaikat sempurna yang cantik, imut, ceria, dan baik hati.

Alasan kenapa tidak ada bayangan kekasih di sekitarnya sampai sekarang, mohon maaf sekali, tapi mungkin karena aku selalu ada di sampingnya.

Karena kami sudah dianggap seperti pasangan yang hampir resmi oleh orang-orang di sekitar, tidak ada laki-laki yang berani mendekati Rei-chan.

……Namun, jika sekolah kami berbeda, asumsi itu akan hancur seketika.

Mengingat Rei-chan yang sama sekali tidak punya rasa waspada terhadap lawan jenis, tidak sulit membayangkan tindakan provokatif apa yang mungkin dia lakukan secara tidak sadar di depan siswa SMA laki-laki yang otaknya cuma berisi hal mesum.

Jika saat itu aku tidak ada di sampingnya, berapa banyak orang yang akan menembaknya? Dan bagaimana jika Rei-chan merasa ada salah satu dari mereka yang merupakan takdirnya—

Hanya membayangkannya saja sudah membuat otakku serasa menjadi abu karena ketakutan yang luar biasa. Seluruh tubuhku gemetar.

……Tidak, aku tahu. Kalau memang begitu, aku tinggal menyatakan cinta saja pada Rei-chan secepatnya. Sebenarnya, aku sudah mencoba menembaknya berkali-kali.

Saat festival budaya, festival olahraga, aku sudah mencoba membangun suasana versiku sendiri berkali-kali. Malahan, jika ini bukan sekadar kepercayaan diriku yang berlebihan, ada banyak momen di mana Rei-chan sepertinya juga ingin menyatakan cinta padaku.

——Namun, setiap kali itu terjadi, selalu ada gangguan.

Fuyuki-kun atau Shirase-san tiba-tiba memotong pembicaraan, atau ditegur oleh guru piket dan satpam, atau mendadak ada telepon masuk di saat yang tepat……

Seolah-olah sudah diatur oleh seseorang, setiap kali aku atau Rei-chan ingin menyatakan perasaan, pasti selalu ada gangguan.

Setelah berkali-kali tekadku dipatahkan, memalukan memang, tapi rasa pengecut yang berkedok "kehati-hatian" mulai muncul.

Mungkin kalau aku menembaknya, hampir pasti akan diterima. Tapi seandainya, cuma seandainya, dia menolak—

"……Eeto, maaf ya Yuu-kun. Aku tidak bermaksud begitu…… itu, bagaimana kalau kita tetap jadi teman baik saja?"

Kalau itu terjadi, kami tidak akan pernah bisa berteman lagi. Malahan, pengakuan cinta itu bisa menjadi pemicu kerenggangan hubungan kami.

Aku benar-benar tidak mau itu terjadi. Daripada begitu, lebih baik tetap menjadi teman masa kecil yang akrab seperti sekarang. Akibat tertiup angin perhitungan dan kepengecutan ini, aku masih belum bisa memajukan hubunganku dengan Rei-chan.

"Yah, mumpung sebentar lagi ujian masuk…… aku merasa tidak enak kalau menyatakan cinta sekarang dan malah menambah beban pikiran bagi Rei-chan……"

"Apa yang kamu gumamkan terus, Yuki?"

Saat aku sedang terjebak dalam pikiran yang tidak berguna, Fuyuki-kun tiba-tiba merangkul bahuku dengan kasar.

"Nih, mik. Berikutnya aku masukkan lagu duet, kita nyanyi berdua!"

"Ueeh!? F-Fuyuki-kun! Kamu tahu kan aku tidak pintar dalam hal beginian!"

"Kalau tidak begini, kamu cuma akan jadi penonton saja sejak tadi. Kamu tidak buta nada, jadi tidak usah dipikirkan."

Dipaksa memegang mikrofon oleh Fuyuki-kun, aku ditarik berdiri di samping layar yang menampilkan judul lagu.

"Eh, Tachibana-kun mau menyanyi!? Semangat ya—!"

"Duet pria tampan 2-B ya, kalau direkam pasti bisa buat pamer~♪"

"Kurushima! Jangan cuma cari perhatian!"

Mendengar sorakan para gadis dan ejekan dari para lelaki, aku menyerah dan mendekatkan mikrofon ke mulut.

"Yuu-kun, Fuyuki-kun, kalian keren~♪"

Melihat Rei-chan yang tampak sangat bersemangat, aku tersenyum kecut tepat saat intro lagu dimulai. ……Untuk sekarang, mari nikmati saja.

Ini kan pesta Natal yang berharga. Terlepas dari urusan asmara, tidak mungkin salah untuk membuat kenangan indah bersama teman masa kecil yang penting.

◆◆◆

"Ah!"

"Geh……"

Di sudut mesin penjual otomatis di samping lorong, seorang siswa laki-laki yang sedang duduk di bangku tampak menunjukkan wajah tidak senang secara terang-terangan. Melihat itu, siswi yang menemukannya mengernyitkan dahi dan berdiri tegak di hadapannya.

"Aduh, Kanda-kun! Gara-gara kamu tiba-tiba menghilang, aku kira kamu pulang tanpa pamit!"

"Memangnya aku ini karakter macam apa di matamu, Netora…… Aku tidak sebego itu sampai tidak bisa membaca suasana. Aku cuma istirahat sebentar."

Siswa yang menggaruk kepalanya dengan malas itu—Kanda Koichi—berkata demikian sambil melempar kaleng minuman kosong ke tempat sampah.

◆◆◆

"Harusnya aku yang tanya, kamu boleh meninggalkan ruangan?"

"Hmm, tidak apa-apa kok. Semua orang juga bergerak bebas, yang penting nanti berkumpul saat waktu pulang."

Di area istirahat samping mesin penjual otomatis, aku—Kanda Koichi—dan Netora beristirahat sejenak sambil memegang kaleng jus.

"Tahun kedua sebentar lagi berakhir, ya. Aku dapat banyak teman baru, menyenangkan sekali."

"Ah, benar juga."

Saat aku menyahut begitu, Netora menatapku dengan wajah terkejut.

"……Apa?"

"……Kaget saja. Aku kira Kanda-kun bakal bilang 'siapa juga yang senang' dengan gaya sok ketusmu itu."

"……Kamu juga punya kepribadian yang cukup 'menarik', ya. Aku jadi paham setelah bergaul hampir setahun denganmu."

"Ufu, aku dipuji ya. Kanda-kun yang seperti itu sebenarnya punya sisi yang cukup manis, lho—"

"Berisik……"

Mendengar sindiranku, Netora tertawa kecil sambil membuang kaleng kosongnya ke tempat sampah.

"……Sebenarnya, aku agak khawatir. Apa Kanda-kun mau datang ke pesta Natal hari ini."

"Seluruh kelas ikut, tahu. Kalau aku kabur sendirian, itu namanya tidak tahu diri."

"Iya sih…… tapi, aku khawatir kalau sebenarnya kamu tidak suka tapi memaksakan diri untuk ikut……"

Melihat Netora yang menatapku dengan cemas sambil mengernyitkan dahi, aku menghela napas dan mengacak-acak rambutnya dengan kasar.

"Kyaa!? Hei, Kanda-kun! Rambutku jadi berantakan!"

"Berisik. Habisnya Netora bicara hal bodoh sih."

Sambil memegangi rambutnya dan menatapku dengan kesal, aku menyeringai tipis.

"Memangnya aku kelihatan seperti orang yang terlalu baik sampai mau ikut perkumpulan yang tidak kusukai cuma demi formalitas?"

"Eh? Kelihatannya sih begitu?"

"……Jangan memotong pembicaraan. Intinya, aku datang karena aku memang ingin datang. Jangan khawatirkan hal bodoh."

Untuk menyembunyikan rasa malu, aku melakukan lemparan jarak jauh kaleng kosongku ke tempat sampah.

Kaleng itu membentuk garis parabola yang sempurna dan masuk ke dalam dengan suara dentingan pelan.

"……Yah, intinya begitulah. Berkat kamu, Tachibana…… juga Fuyuki dan Shirase yang ikut campur urusanku, aku jadi bisa berbaur dengan kelas sekarang, dan dapat teman baru. Makanya aku memutuskan datang hari ini. Jangan sok perhatian begitu."

"……Begitu ya. Syukurlah."

Melihat Netora yang tersenyum lega dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Di sini sepi. Aku merasa terdorong untuk merangkul bahunya yang mungil itu dengan kuat.

……Tapi, sekarang bukan saatnya. Aku tidak boleh melakukannya.

"……Kalau begitu, ayo kembali. Kalau ratu kelas tidak ada, semua orang bakal cemas."

"Aduh, jangan panggil aku dengan sebutan aneh begitu!"

Aku menyukai Netora. Jika memungkinkan, aku ingin berdiri di sampingnya sebagai kekasih.

——Tapi lebih dari itu, dia adalah penyelamatku. Alasan aku bisa berbaur di sekolah, alasan hubungan buruk dengan orang tuaku membaik, semuanya berkat dia.

Sebentar lagi belajar untuk ujian akan dimulai dengan serius.

Di saat yang penting seperti ini, aku tidak ingin menjadi orang yang tidak tahu malu dengan menembak Netora cuma karena mengikuti emosi dan malah memberinya beban tambahan.

Aku sadar aku bicara terlalu santai. Di sekitarnya ada Tachibana dan Fuyuki.

Selagi aku berdiam diri, mungkin salah satu dari mereka akan mulai berpacaran dengannya. ……Kalau itu terjadi, aku tidak keberatan.

Tachibana dan Fuyuki adalah laki-laki yang jauh lebih baik dariku. Mereka pasti bisa membuat Netora bahagia. Saat itu terjadi…… mungkin aku akan merasa sedikit kesepian, tapi aku yakin bisa memberkati mereka dengan tulus.

——Tapi, jika. Seandainya aku dan Netora sudah menjadi siswa SMA, dan saat itu Netora masih sendirian. Saat itulah……

"Ah! Sebelum kembali, boleh intip ke sana sebentar?"

"Hmm?"

Yang ditunjuk Netora adalah salah satu sudut area permainan…… area yang dipenuhi mesin pencapit boneka (crane game).

"Ah, ini sudah jadi hadiah ya. Lucu sekali."

Di dalam mesin yang didekati Netora, terdapat boneka-boneka kucing dan kelinci yang dideformasi menjadi imut.

"……Kamu suka itu?"

"Iya. Tapi, uang sakuku bulan ini agak mepet jadi aku akan menahannya."

"He~h……"

……Kalau posisinya begini, sepertinya bisa. Cring, aku memasukkan koin yang kuambil dari saku ke lubang koin.

"Eh, Kanda-kun?"

"Bentar. Aku lagi konsentrasi, tunggu saja."

Lengan pencapit yang kugerakkan dengan mahir mengaitkan label yang dijahit pada boneka, lalu menjatuhkannya tepat ke lubang hadiah.

"Eeeh!? Hebat!"

"Ini hasil sering main ke game center. Bukan sesuatu yang patut dibanggakan, sih…… nih."

Aku langsung menyodorkan boneka yang kuambil tadi pada Netora.

"……Eh? B-boleh buatku?"

"Yah, ini kan Natal."

"Waaa! Terima kasih Kanda-kun! Aku senang sekali!"

"Jangan terlalu senang cuma gara-gara hadiah seharga satu koin. Murahan sekali ya kamu."

"Ih, ngomong begitu lagi! ……Aha, aku senang……"

Sambil memeluk boneka yang diberikan, Netora sepertinya memikirkan ide bagus dan tersenyum lebar.

"Benar juga! Ayo foto kenang-kenangan! Kebetulan ada Purikura (mesin foto stiker) juga, aku yang bayar sebagai ganti bonekanya—"

"Hah? Hei, tunggu dulu!"

Setelah berkata begitu, Netora menarik tanganku dan mendorongku masuk ke dalam bilik mesin foto stiker. Karena panik berada di ruang sempit berdua saja, aku mencoba menghentikannya.

"I-itu, hei, jangan dipaksakan. Tadi katanya uang sakumu mepet, kan?"

"Tidak apa-apa. Kalau aku mencoba mengambil boneka tadi sendiri pasti habis lebih dari seribu yen, jadi kalau cuma buat foto stiker sih masih cukup."

Netora mengabaikan kata-kataku begitu saja, dan panduan suara pemotretan pun dimulai.

"Ayo, Kanda-kun. Lebih menempel lagi?"

"K-kamu ini benar-benar ya…… beneran deh, sifatmu yang begitu itu lho……"

Bukan cuma bahu yang bersentuhan, Netora bahkan sampai bersandar padaku. Aku merasa telingaku memanas dan mencoba protes. Tapi Netora sendiri malah memasang wajah polos seolah tidak mengerti maksudku sama sekali.

"Eh, sifatku yang mana?"

"Hah, kasihan juga si Tachibana……"

Setelah itu, aku diberikan setengah dari lembar foto yang dicetak oleh Netora. Sambil memainkan lembaran di tanganku, aku tersenyum pahit.

"……Benar-benar deh, kado Natal yang merepotkan."

Foto berdua dengan orang yang kusukai secara sepihak kini ada di tanganku. Apakah ini akan menjadi kenangan masa muda yang pahit atau tidak, aku yang sekarang masih belum tahu jawabannya.

◆◆◆

"—Kalau begitu, sampai ketemu lagi saat kunjungan kuil pertama tahun baru ya! Semuanya, dadah—!"

Dalam perjalanan pulang setelah pesta Natal berakhir. Rei-chan yang berdiri di sampingku—Tachibana Yuki—melambaikan tangan pada Fuyuki-kun dan yang lainnya.

"Iya, Rei juga hati-hati jangan sampai kena flu karena dingin ya—"

"Tachibana juga. Sudah gelap, antarkan Netora sampai rumah dengan benar."

Mendengar kata-kata Fuyuki-kun dan Kanda-kun, aku juga melambaikan tangan kecil sebagai balasan.

"Iya. Fuyuki-kun dan Kanda-kun juga hati-hati di jalan."

"Yuri-chan juga. Harus benar-benar diantar sampai rumah oleh mereka berdua, ya? Akhir tahun begini banyak orang aneh."

"I-iya. Kalau begitu sampai jumpa di tahun baru, kalian berdua."

Begitulah, setelah berpisah jalan dengan tiga orang lainnya, aku dan Rei-chan mulai berjalan di jalanan yang sudah benar-benar gelap.

"Pesta Natalnya seru ya, Yuu-kun!"

"Benar. Karaoke, boling, sampai batting cage—sepertinya kita agak terlalu bersemangat ya."

"Fufu, tidak apa-apa, kan. Ini kan hiburan terakhir sebelum ujian."

"Ukh…… aku jadi teringat hal yang menyebalkan……"

Melihat ekspresiku yang melankolis, Rei-chan tertawa kecil.

"Semangat ya, Yuu-kun. Fuyuki-kun dan yang lainnya juga bilang pilihan pertamanya Mikage, aku tidak mau kalau cuma Yuu-kun yang sekolahnya berbeda."

"Tentu saja aku juga ingin begitu. ……Itu, aku ingin satu sekolah dengan Rei-chan."

"Aha, kalau begitu harus semangat belajarnya! Tenang saja, aku juga akan membantumu."

"Eh, aku senang sih…… tapi Rei-chan juga harus belajar sendiri, lho? Meskipun Rei-chan mungkin bisa masuk lewat jalur rekomendasi……"

Sambil mengobrol santai, tanpa terasa kami sudah sampai di depan rumah Rei-chan.

"Terima kasih sudah mengantar, Yuu-kun."

"Iya. Sampai jumpa lagi, Rei-cha…… hatchee!"

Karena tiupan angin dingin yang tiba-tiba, aku bersin tanpa sengaja dan tubuhku menggigil.

Harusnya aku memakai baju yang lebih tebal tadi…… karena siangnya terik dan hangat, aku jadi sedikit lengah. Melihat keadaanku, Rei-chan menatapku dengan cemas.

"Kamu tidak apa-apa, Yuu-kun?"

"Sret…… huft, cuma begini sih tidak apa-apa. Agak dingin sih, tapi kalau langsung pulang tanpa mampir-mampir pasti segera sampai rumah."

"Aduh, sudah Desember tapi pakainya setipis itu…… Yuu-kun, coba menunduk sebentar?"

"Eh? ……Begini?"

Mengikuti arahan Rei-chan, aku sedikit menundukkan badan. Detik berikutnya, sesuatu yang lembut dan beraroma manis melilit leherku.

"Syal. Aku pinjamkan, jangan dilepas sampai kamu sampai rumah, ya?"

……Tampaknya Rei-chan melilitkan syal yang tadi dia pakai ke leherku. Saat menyadari hal itu, rasa dingin yang kurasakan tadi seketika sirna, dan aku merasa wajahku memanas.

"Hei, eh, tunggu……!"

"Kembalikan saja saat kunjungan kuil nanti. Kalau begitu, selamat malam, Yuu-kun."

Sebelum aku sempat berkata apa-apa, Rei-chan sudah masuk ke dalam rumah sambil tersenyum manis. ……Bagaimana ini.

"……Aroma Rei-chan."

Tanpa sadar aku menggumamkan hal itu. Aku segera menggelengkan kepala sekuat tenaga untuk mengusir pikiran mesum. Memang aku sudah tidak merasa dingin lagi, tapi sekarang aku malah khawatir akan pingsan karena darah naik ke kepala……




◆◆◆

Yah, kurasa penyesuaian tingkat kesukaan Yuu-kun cukup sampai di sini.

Dari jendela kamarku, aku memandangi sosok Yuu-kun yang berjalan menjauh sambil meraba-raba syal pemberianku dengan penuh perasaan. Sembari menatapnya, aku mulai menyusun strategi untuk rencana ke depan.

Selamat malam, namaku Netora Reiko.

Nah, semester kedua tahun kedua SMP telah berakhir. Jika ingin mengincar sekolah dengan nilai standar kompetensi yang tinggi, sudah saatnya untuk mulai serius belajar demi ujian masuk.

Yah, karena aku dan Fuyuki-kun sepertinya bisa mendapatkan jalur rekomendasi, yang perlu kupantau ketat adalah Yuu-kun dan Yuri-chan. Kalau Kanda-kun, tingkat akademisnya saja sudah cukup tinggi tanpa perlu kukhawatirkan.

Meski begitu, aku sudah melatih mereka berdua sedikit demi sedikit sejak tahun pertama. Selama tidak melakukan kesalahan konyol, kurasa mereka berada di jalur yang aman untuk lulus ke SMA Mikage.

Ya, asalkan aku tidak salah perhitungan saat "mencicipi" mereka sedikit dan malah menghancurkan otak mereka berdua sampai berkeping-keping.

Sudah hampir lima belas tahun aku menderita sejak bereinkarnasi ke dunia ini. Aku benar-benar sudah berjuang keras.

Aku mati-matian menahan diri untuk tidak menumpahkan madu ke atas "hidangan kelas atas" bernama Yuu-kun. Aku juga menekan hasratku untuk meninggalkan luka abadi di hati Fuyuki-kun, Yuri-chan, dan yang lainnya.

Sosok jahat sepertiku selalu mengincar Yuu-kun dan kawan-kawan yang murni dan polos. Keseharian mereka yang damai sebenarnya berpijak di atas lapisan es yang sangat tipis.

Namun, aku ingin kalian berhenti sejenak dan memikirkannya.

Memang benar, dari segi asal-usul, aku mungkin sosok yang unik karena seorang reinkarnator. Bisa dibilang aku ini karakter figuran yang eksentrik.

Tapi, aku bukanlah seorang jenius, bukan pula protagonis novel Narou yang memiliki kemampuan curang.

Bahkan jika aku memiliki beberapa kelebihan dibanding orang biasa, aku tetaplah manusia yang masih berada dalam batas kewajaran. Paling-paling, aku berada di posisi sahabat karib dari protagonis jenius.

Dunia ini luas. Apa yang kupikirkan pasti pernah terpikirkan oleh orang lain juga.

Artinya, selain diriku, pasti ada sosok jahat sejati yang berencana menghancurkan otak Yuu-kun.

Aku tidak ingin terlalu tinggi menilai diriku sendiri. Merasa bahwa aku adalah makhluk paling jahat di dunia ini hanyalah bentuk kesombongan belaka.

Masih banyak manusia yang jauh lebih sampah dariku di luar sana.

Lagipula, aku hanyalah penjahat kelas teri yang punya fantasi NTR dan keinginan TS (perpindahan gender), serta sedikit licik. Ya, semacam villain yang tidak bisa dibenci, begitulah.

Para penjahat sejati yang belum tertangkap basah olehku pasti sedang menertawakanku dari kegelapan. Mereka pasti mengejek tindakan "pura-pura merebut" yang kulakukan.

"Kalau aku, aku bisa menghancurkan otaknya dengan lebih lihai lagi," pasti begitu pikir mereka.

Benar-benar orang-orang yang jahat. Tidak bisa dimaafkan. Amarahku membara memikirkan para penjahat sejati yang masih enggan menampakkan diri di panggung utama itu.

Alasan mereka belum menyentuh Yuu-kun dan yang lainnya adalah semata-mata karena aku selalu berkeliaran di sekitar Yuu-kun.

Ibarat komplotan pencuri jenius yang sudah menyusun rencana matang untuk mencuri harta karun, mereka terpaksa menunda aksinya karena melihat preman pasar sedang merampok minimarket tepat di depan mata mereka pada hari eksekusi.

Kebenaran selalu berada dalam kegelapan yang lebih dalam daripada malam. Secara tidak langsung, aku telah melindungi Yuu-kun dan kawan-kawan dari realitas yang kejam.

Waduh, apa Reiko-chan ini sebenarnya adalah seorang malaikat? Bukankah ini sudah setara dengan sosok malaikat yang tinggal di sebelah rumah?

Berlagak jahat tapi tanpa sadar malah menyelamatkan orang lain... Bukankah itu tipe dark hero yang bakal populer kalau dibuatkan cerita spin-off? Jadi malu, deh.

Pokoknya, aku harus melindungi Yuu-kun dan yang lainnya dari kejahatan besar yang bersembunyi di kegelapan.

Jika aku sembarangan melakukan improvisasi dengan "mencicipi" rute NTR dan memperlihatkan celah, Yuu-kun dan yang lainnya akan langsung menjadi mangsa para penjahat sejati.

Saat ini adalah waktu untuk bersabar meski terasa berat. Jika aku bisa melewati ini, dunia baru yang ideal telah menantiku.

Demi hal itu, langkah pertama adalah mendukung ujian masuk Yuu-kun dan yang lainnya.

Untuk sementara, aku akan membedah tren soal dari ujian tahun-tahun lalu SMA Mikage, lalu memberitahu mereka poin-poin pentingnya.

Aku akan berjuang.

Aku pun memantapkan tekadku kembali.

◆◆◆

Aku sudah berjuang keras.

Dan dengan begitu, ujian masuk SMA pun berakhir.

Mengejutkan, bukan? Lompatan waktu yang sangat berani... Kalau bukan aku, kalian pasti akan melewatkannya.

Singkat cerita, tentu saja aku lulus. Tapi berkat dukunganku, para anggota "NTR All-Stars" lainnya juga berhasil lulus ke SMA Mikage dengan selamat. Berhasil, cuy!

Mulai bulan April, kami resmi menjadi murid SMA.

Artinya, prolog panjang yang jika dijadikan novel fisik mungkin akan menghabiskan dua volume ini telah berakhir. Akhirnya, cerita utama akan dimulai.

Selama masa SD dan SMP, aku sudah menutup semua jalan keluar bagi Yuu-kun dan yang lainnya dengan sangat rapi. Persiapannya sudah sempurna. Benar-benar wanita yang penuh perhatian, ya, aku ini.

Beberapa hari yang lalu, seragam resmi SMA Mikage berupa blazer dan rok telah tiba di rumah. Aku mencobanya dan berputar sekali di depan cermin besar di kamarku.

Yup, imut banget. Inilah perlengkapan terakhirku, seragam JK (siswi SMA).

Aku mengambil foto selfie dengan ponselku, lalu mengirimkan foto sosok JK-ku kepada Yuu-kun bersama sebuah pesan. Dengan rok yang tingginya kupendekkan sedikit tanpa terlihat murahan, perasaan Yuu-kun pasti akan langsung porak-poranda.

Sekalian kukirimkan juga ke Chi-chan. Selamat menikmati!

Nah... sekali lagi kuulangi, mulai dari sinilah cerita utamanya. Aku akan mulai bergerak menuju perkembangan NTR yang sesungguhnya.

Artinya, Yuu-kun yang telah kubesarkan dengan penuh kasih sayang dan ketelitian ini akan kujatuhkan ke dasar jurang keputusasaan.

Aduh, dadaku terasa sakit banget, lho~. Aku menggunakan Blood Manipulation untuk meremas dadaku sendiri agar terasa sakit. Aduh, duh, duh.

...Aku benar-benar menyukai Yuu-kun. Aku berani bersumpah bahwa aku mencintainya tanpa ada kebohongan.

Setiap gerak-gerik kecil Yuu-kun membuatku terpikat. Setiap kali aku merasakan tatapan penuh kasih darinya, dadaku terasa memanas.

Yah, mungkin saja bagiku Yuu-kun adalah pria yang "nyaman", dan tidak menutup kemungkinan aku melihatnya dengan kacamata penuh ilusi... Tapi soal itu, mari kita sisihkan dulu. Namanya juga cinta itu buta.

Jika aku membiarkan hubungan ini berakhir dengan ciuman bahagia bersama Yuu-kun, kami pasti akan mendapatkan akhir yang indah seperti di dalam buku gambar.

Namun, semuanya demi pencapaian cita-cita besar, yaitu NTR terbaik. Aku akan mengubah hatiku menjadi sekeras iblis.

Ini adalah perkembangan yang sering ada di manga. Di mana sang protagonis ditanya, "Apakah kamu punya kesiapan untuk menanggung dosa?"

Sebagai orang yang berkepribadian luhur sepertiku, aku bisa menanggung dosa sebanyak apa pun. Sudah seperti layanan langganan streaming saja.

Bagi orang yang berintegritas sepertiku, mengubah hati menjadi iblis itu perkara sepele.

Jika ada orang yang bilang "mau direbus atau dibakar terserah kamu", aku tidak akan ragu untuk langsung memasukkannya ke dalam kuali.

Aku bisa memikirkan cara-cara tidak manusiawi tanpa batas untuk menyerang titik lemah Yuu-kun agar dia merasakan luka yang paling dalam. Aku juga punya kesiapan untuk melaksanakannya tanpa keraguan.

Bagian tidak berguna seperti hati nurani atau etika bisa kupasang dan kulepas dengan mudahnya. Sebenarnya bagaimana struktur mental yang kupunya ini? Aku merasa ngeri sendiri dengan kedalaman kegelapan yang kupikul.

...Mungkin saja, aku sedikit lebih licik dibanding manusia normal.

Sudah terlalu banyak alasan yang membuatku pantas dipanggil sampah, sampai rasanya bodoh jika aku mencoba menyangkalnya.

Mungkin aku yang ternoda oleh dosa ini tidak pantas berada di sisi Yuu-kun dan yang lainnya...

Aku memeluk diriku sendiri layaknya anak kecil yang gemetar dalam kesendirian.

Eh, tapi tunggu dulu?

Setiap manusia pasti punya sisi depan dan sisi belakang.

Manusia itu adalah makhluk yang punya sisi baik dan sisi buruk. Bukankah itu adalah episode yang sering muncul di manga atau anime?

Hanya melihat sisi buruk orang lain... itu adalah perbuatan orang yang miskin hatinya. Aku menolak cara hidup yang menyedihkan seperti itu.

Jadi, jangan hanya melihat sisi burukku. Lihatlah sisi baikku juga. Contohnya...

Anu, saat ini aku belum terpikirkan, tapi mustahil kalau jumlahnya nol.

Hanya karena tidak ingin dibenci Yuu-kun, lalu berpura-pura baik di permukaan itu pasti salah.

Menyembunyikan kebenaran dan menipu orang... rasanya mau muntah.

Itu menunjukkan kurangnya ketulusan. Hadapilah aku dengan jujur. Hormatilah keberagaman. Cintailah semuanya, baik kegelapan maupun cahaya. Oke, pembelaan diriku selesai.

Apapun yang terjadi, inilah kehidupan SMA.

Tak perlu dikatakan lagi, ruang lingkup tindakan siswa SMA jauh lebih luas dibanding saat masih SMP.

Aku bisa bekerja paruh waktu, dan kalau pintar mencari celah, aku bisa pergi tamasya atau menginap di luar tanpa pendamping orang tua.

Tentu saja, rute NTR juga akan berkembang menjadi lebih kompleks, beraroma, dan mendalam.

Bekerja paruh waktu bersama Yuu-kun, lalu aku dirayu secara sembunyi-sembunyi oleh senior yang bergaya playboy sepertinya seru juga.

Atau dilatih oleh pelatih klub yang badannya seperti gorila juga menarik.

Jika aku menemukan pria yang bisa dimanfaatkan, aku juga ingin berupaya mengamankan slot "pria simpanan yang lebih tua" yang sempat kutahan selama masa SMP. Impianku tak terbatas.

Aku mulai merasa bergairah. Masa depan yang cerah membuat dunia ini tampak berkilau di mataku~.

Akan kuperlihatkan padamu... bahwa Yuu-kun cukup menjadi tempat pelampiasan hasratku saja...!

Demikianlah, masa SMP-ku berakhir. Waktu pertempuran sudah dekat...




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close