Chapter 2
Pahlawan Kita
Waktu
berlalu, dan kini sudah bulan Juni.
Halo, aku
Netora Reiko.
Libur Golden
Week telah usai, dan penjinakan Kanda-kun pun selesai dengan sukses. Roadmap
NTR-ku berjalan mulus tanpa hambatan sedikit pun.
Setelah
masa pergantian seragam tiba, aku mengganti pakaianku dengan seragam musim
panas yang berbahan tipis.
Begitu
aku membuka pintu depan rumah, di sana Yuu-kun yang juga sudah berseragam musim
panas sedang menungguku dengan gelisah.
"P-pagi,
Rei-chan."
"Pagi,
Yuu-kun. ……Fufu, rasanya agak aneh, ya? Padahal sampai kemarin-kemarin, aku
yang selalu menjemput Yuu-kun ke rumahmu."
Ini adalah salah
satu perubahan yang terjadi belakangan ini.
Dulu, setiap
berangkat sekolah, aku selalu menjemput Yuu-kun ke rumahnya…… Namun, mungkin
karena dia merasa terancam melihatku yang mendadak akrab dengan Kanda-kun,
akhir-akhir ini Yuu-kun jadi sering menjemputku. Inilah keuntungan menjadi
teman masa kecil sekaligus tetangga.
Melihat rasa
cemburu dan keinginan posesif Yuu-kun yang menggemaskan, aku merasakan inti
tubuhku memanas sejak pagi buta.
Sudah waktunya berburu, ya…… ♠
Tidak,
tidak, masih terlalu dini. Sebentar lagi. Aku harus bersabar sebentar lagi.
Sifat
asliku yang seperti sampah hampir saja meluap, jadi aku buru-buru menggelengkan
kepala untuk memperingatkan diri sendiri.
Aku sudah bersabar sejauh ini. Masih ada dua tahun lagi
sampai target awalku, yaitu saat kami menjadi siswa SMA. "Peternakan"
Yuu-kun dan Fuyuki-kun berjalan dengan lancar.
Andaikata aku "memangsa" Yuu-kun saat ini juga,
aku pasti bisa menikmati sensasi brainfuck yang cukup lezat.
Tapi, aku
tidak akan melakukan hal yang mubazir itu. Dia akan menjadi jauh, jauh lebih lezat nantinya.
Kalau begitu,
jawaban yang benar adalah menikmati "rasa lapar" ini.
Mari kita
tunggu dengan sabar sampai buahnya matang dengan sempurna…… ♥
"……Rei-chan?
Ada apa?"
Waduh,
aku terlalu asyik melamunkan peta masa depan yang gemilang sampai-sampai
mengabaikan Yuu-kun.
"Fufu, aku
cuma berpikir kalau Yuu-kun kelihatan keren sekali pakai seragam musim
panas."
"Eh!? A-ah, u-un…… t-terima kasih. Rei-chan juga, anu……
k-cantik, kok."
"Ahaha,
terima kasih! Kalau begitu, ayo berangkat sekarang!"
Aku memamerkan
senyum lebar, lalu menggandeng tangan Yuu-kun dan mulai berjalan.
Sambil bertukar
obrolan ringan di sepanjang jalan, aku bisa merasakan kasih sayang yang tidak
bisa disembunyikan dari tatapan Yuu-kun.
Aku suka mata
Yuu-kun.
Mata yang jernih,
lembut, dan tulus memercayai orang lain.
Fakta bahwa aku
memonopoli mata indah yang bak permata itu membuat rasa nikmat merambat di
tulang belakangku.
Hal itu memberiku
keyakinan bahwa aku, yang terpilih oleh Yuu-kun, adalah sosok suci yang didekap
oleh cahaya. Duh, nggak tahan banget.
◆◆◆
"Fuyuki-kun,
Yuri-chan, selamat pagi—"
"Pagi,
Rei-chan."
"Yo, pagi
kalian berdua."
Setelah saling
menyapa di kelas, Fuyuki-kun dan Yuri-chan berkumpul di sekitar mejaku. Ini
adalah pemandangan biasa sebelum jam wali kelas dimulai.
"Kanda-kun……
apa dia terlambat lagi?"
Melihat meja di
sebelahku yang tidak ada pemiliknya, aku mengernyitkan alis seolah merasa
kesulitan.
……Namun,
kekhawatiran itu segera sirna begitu mendengar suara pintu terbuka dari
belakang.
"Yooo."
"Pagi,
Kanda-kun. Hari ini kamu tidak terlambat, ya. Anak pintar, anak pintar ♪"
Aku berjinjit dan
mencoba mengelus kepalanya, tapi Kanda-kun menepis tanganku dengan pelan.
"Kubilang
berhenti. Nanti tatanan rambutku berantakan. Hei, Tachibana. Pegang tali
kekangnya yang benar."
"Duh, kamu
malu-malu ya. Yuu-kun, katakan sesuatu padanya!"
"Ahaha…… tapi, belakangan ini Kanda-kun memang jarang
terlambat. Kedengarannya agak aneh, tapi aku juga ikut senang."
"……Cih, kamu juga ikutan bicara seperti Netora,
ya."
Meski memasang wajah jengah, Kanda-kun duduk di kursinya dan
bergabung dalam obrolan kami.
Gaya bicaranya memang agak kasar, tapi hawa suramnya sudah
tidak terasa lagi.
Dilihat dari perilakunya sehari-hari, Kanda-kun sudah
benar-benar mengunci targetnya padaku, dan tidak diragukan lagi dia menganggap
Yuu-kun sebagai rival cintanya.
……Namun, bukan berarti Kanda-kun bersikap agresif kepada
Yuu-kun atau musuh potensialnya, Fuyuki-kun.
Malahan, berkat tumpukan interaksi harian, hubungan ketiga
anak laki-laki itu sudah cukup akrab hingga bisa disebut sahabat, melampaui
sekadar teman sekelas.
"Ah, ngomong-ngomong Kanda-kun. Aku sudah menonton
video yang kamu rekomendasikan kemarin—"
"Ouh, aku juga sudah lihat yang kamu bilang. Karena itu
situs video yang jarang kupakai, rasanya jadi segar juga."
"Hei, hei, Yuuki, Kouichi, temani aku ke mal sepulang
sekolah nanti dong? Aku mau beli sepatu kets baru nih."
Tentu saja itu karena Kanda-kun pada dasarnya adalah orang
baik, tapi menurutku alasan utama hubungan ini bisa terbentuk adalah karena
kepribadian Yuu-kun.
Mungkin Yuu-kun tidak menyadarinya, tapi sebelum dia menjadi
setampan sekarang—sejak zaman SD pun—dia sebenarnya sudah cukup populer.
Dia bukan tipe orang yang mencolok, tapi perhatian-perhatian
kecilnya, caranya membawakan percakapan, dan caranya membangun suasana membuat
orang-orang di sekitarnya merasa senang hanya dengan keberadaannya.
Hati yang bisa bersikap baik pada siapa pun tanpa memikirkan
untung rugi atau pamrih. Yuu-kun memiliki bakat untuk menyinari orang-orang di
sekitarnya dengan lembut. Menurutku, itu adalah bakat yang sulit didapat,
sesuatu yang mulia dan indah.
Singkatnya, dia adalah manusia dengan atribut cahaya murni
sejak lahir, sama sepertiku.
Luar biasa, Yuu-kun. Wajah tampan, hati pun suci, benar-benar pria yang pantas untukku……!
"Ngomong-ngomong,
Rei-chan, katanya mulai hari ini akan ada guru praktikan yang datang."
Saat aku sedang
menatap Yuu-kun dengan mata berapi-api seolah ingin menjilatnya, Yuri-chan
melontarkan topik itu.
Tentu saja, aku
sudah melakukan riset tentang hal itu.
"Kira-kira
orang seperti apa yang akan datang, ya? Jadi agak deg-degan."
"Tadi
pagi waktu lewat depan ruang guru, aku dengar yang datang itu laki-laki,
lho?"
Mendengar
kata-kata Yuri-chan, aku menyahut sambil tersenyum manis.
"Heh~……
fufu, semoga saja orangnya tampan, ya?"
“““……!”””
Ketiga anak
laki-laki itu bahunya tersentak mendengar ucapanku. Benar-benar pria-pria yang
menarik.
Beberapa puluh
menit setelah percakapan itu. Bertepatan dengan jam wali kelas pagi, guru
praktikan yang dimaksud datang ke kelas kami untuk memperkenalkan diri.
"Perkenalkan,
nama saya Shizuo Hifuno, guru praktikan di sini. Meskipun hanya sebentar, saya
harap bisa akrab dengan kalian semua, jadi jangan sungkan untuk menyapa."
Begitu dia
mengatakannya sambil memamerkan senyum segar khas pria tampan ortodoks,
sorak-sorai riuh langsung terdengar dari para siswi di kelas.
Melihat pria
tampan yang tiba-tiba muncul dari dunia luar, Kanda-kun di sebelahku melirik
reaksiku dengan wajah cemas. Aduh, sedap sekali pemandangan ini.
……Nah, soal guru
praktikan ini, aku sudah melakukan sedikit penyelidikan sebelumnya…… Namun,
apakah dia bisa menjadi pion yang berguna bagiku?
Aku
menyembunyikan tatapan penuh penilaian di balik senyumanku, sambil mengamati
pria yang berdiri di podium guru tersebut.
◆◆◆
"Netorare"
adalah sebuah kelainan seksual yang menempati kasta tertinggi di antara jutaan fetish
yang ada di dunia ini.
Terlebih lagi
bagiku, karena keinginan TS (pindah gender) juga tercampur di dalamnya,
levelnya sudah sampai pada tahap di mana mustahil untuk berdamai dengan manusia
bumi normal.
Oleh karena itu,
penyamaran seorang pencinta NTR haruslah sangat kuat dan kokoh.
Zirah yang lebih
tebal dari lapisan baja tank untuk menutupi kelainan seksual ini akan
menyamarkan kami menjadi pria budiman atau wanita terhormat yang baik hati di
mata orang lain.
Tak ada yang
tahu, tak boleh ada yang tahu. Usaha tanpa henti agar kelainan ini tidak
terbongkar telah memoles lapisan luar para menyimpang ini menjadi lebih keras
daripada berlian.
……Namun, jika
kulit luar itu dikupas, aku pun hanyalah seperti anak anjing lemah yang basah
kuyup terkena hujan.
Sosok
malang dan murni yang tidak bisa hidup tanpa NTR.
Seorang
pengelana kesepian yang dipermainkan oleh takdir tak terelakkan bernama fetish.
Itulah diriku. Kasihan sekali
ya, aku.
Kelainan seksual
itu bagaikan berkah sekaligus kutukan.
Sesuatu yang
menjadi pegangan untuk memantapkan jati diri, namun juga rantai yang
membelenggu diri sendiri.
Terkadang ia
melukai diri sendiri, terkadang ia menarik kaki sendiri bagaikan tanaman
merambat yang melilit.
Tapi aku
tidak akan menyerah. Karena
aku benar. Itulah sebabnya aku kuat. Keadilan memberiku kekuatan. Jalan sesulit
apa pun akan terus kutempuh. Sampai hari di mana aku mengoleksi semua event
CG Yuu-kun……
Aku jadi
melantur. Melantur terlalu jauh sampai-sampai aku merasa sudah berputar satu
lingkaran dan kembali ke rute yang benar, tapi mari kita lanjut ke alur
utamanya.
Singkatnya, apa
yang ingin kukatakan adalah lapisan luarku adalah gadis cantik sempurna yang
baik budi, pintar akademik maupun olahraga.
Dan sebagai ketua
murid, aku akan sering berhubungan dengan Shizuo Hifuno si guru praktikan ini.
"Permisi.
Pak Hifuno, saya membawakan buku jurnal kelas."
"Ah, terima
kasih, Netora-san."
Saat aku
menyerahkan jurnal kelas kepadanya di ruang guru, Pak Hifuno mengucapkan terima
kasih dengan senyum ramah di wajah tampannya.
Begitu ya.
Penampilan setingkat idola, ditambah sikap santun layaknya pria budiman.
Pantas saja para
gadis di kelas bersorak kegirangan.
"Netora-san.
Apa kamu punya waktu sebentar? Maaf merepotkan, tapi saya ingin minta bantuanmu
membawakan tumpukan lembar soal ini……"
"Tentu saja.
Saya akan bantu."
"Terima
kasih, sangat membantu. Jumlahnya cukup banyak, agak sulit kalau dibawa
sendirian……"
Aku membalas
senyum pahitnya yang tampak sungkan itu, lalu berjalan di lorong mengekor di
belakang Pak Hifuno.
Sudah setengah
bulan berlalu sejak dia datang ke sekolah ini.
Karena usianya
lebih dekat dibandingkan jajaran guru lainnya, dia jadi lebih mudah didekati.
Ditambah lagi
dengan pesona pria tampan yang memiliki kedewasaan berbeda dari teman sekelas,
popularitas Pak Hifuno di kalangan siswi meroket tajam.
……Namun,
sejujurnya penilaianku terhadapnya tidaklah begitu tinggi.
Bagaimana ya, dia
tidak ada gunanya.
Masa praktiknya
di sekolah ini hanya sekitar satu bulan.
Setengah dari
masa tinggalnya sudah lewat, dan waktunya terlalu sempit bagiku untuk
menyiapkan skenario apa pun.
Dia sendiri
tampak sibuk dengan praktik mengajarnya, dan hampir tidak ada celah bagiku yang
merupakan siswi untuk mengintervensinya.
Kalau mau
menyiapkan sosok "pria selingkuhan" beratribut guru, sepertinya lebih
baik saat aku SMA nanti.
Yah, karena aku
ketua murid, aku memang sering berurusan dengan Pak Hifuno.
Aku bisa
menjadikannya bahan uji coba untuk mengumpulkan data demi masa depan, tapi
selain itu, tidak ada lagi yang kuharapkan darinya.
Lagi pula,
masalah terbesarnya adalah……
"Ah,
ngomong-ngomong……"
Dalam perjalanan
kembali setelah selesai membawakan lembar soal, Pak Hifuno yang berjalan di
sampingku mendadak berhenti seolah teringat sesuatu. Aku memiringkan kepala dan
bertanya padanya.
"Pak Hifuno?
Ada apa?"
"Tidak,
karena sekarang sepulang sekolah dan di sekitar sini sedang sepi, kurasa ini
waktu yang tepat."
Sambil
berkata begitu, dia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengarahkan layarnya
ke arahku.
"Waktunya 'tugas harian', Netora-san."
Detik berikutnya, layar ponsel di tangan Pak Hifuno
memancarkan cahaya yang menyilaukan.
◆◆◆
"……"
"Netora-san, apa kamu bisa mendengar suaraku? Kalau
dengar, tunjukkan tanda peace dengan kedua tanganmu."
"……Iya."
Aku—Shizuo Hifuno—berbicara kepada gadis di depanku.
Gadis dengan tatapan kosong itu pun dengan lunglai membentuk
jari telunjuk dan tengahnya menjadi huruf V, lalu menaruhnya di samping
wajahnya.
"……Bagus,
sepertinya efeknya bekerja dengan baik. Kerja bagus, Alpha."
Begitu
aku bergumam, suara seorang pria yang sangat sopan namun angkuh terdengar dari
ponsel di tanganku.
【Tidak masalah, Tuan. Bagi saya, hal selevel ini bukan apa-apa. Lebih dari itu, meskipun tidak ada orang lewat, bukankah lebih baik Anda segera berpindah tempat?】
Karena
apa yang dikatakannya sangat masuk akal, aku membawa Netora ke salah satu ruang
kelas yang kosong dan menguncinya dari dalam.
Aku
mendapatkan Alpha—"Aplikasi Hipnosis" yang memiliki kesadaran
mandiri ini—secara murni karena kebetulan.
Beberapa
hari sebelum praktik mengajar ini dimulai, saat aku sedang merapikan
barang-barang pribadi untuk membuang ponsel pintar model lama yang sudah
ketinggalan zaman, aku menyadari ada aplikasi asing terinstal di sana.
Aplikasi
itu tiba-tiba berjalan sendiri tanpa kusentuh, lalu mulai memperkenalkan diri
dengan bahasa yang sangat fasih, jauh dari kesan suara mesin.
【Salam kenal, Master. Saya adalah Aplikasi Hipnosis bernama
"Alpha". ……Fufu, saya akan melewatkan penjelasan detailnya,
namun saya jamin spesifikasi saya sanggup mewujudkan hampir semua hal yang Anda
bayangkan saat mendengar kata "Aplikasi Hipnosis"】
Sesuai kata-katanya, Alpha adalah aplikasi impian
yang sanggup mewujudkan hampir apa pun yang kubayangkan.
Banyak hal yang ingin kuuji coba dengan aplikasi ini, tapi
itu bisa menunggu sampai praktik mengajar ini selesai.
Untuk sementara,
aku memutuskan menggunakan aplikasi ini untuk memuaskan "hasrat
seksual"-ku.
"Nah, kemarilah sebentar, Netora."
"……Baik."
Sesuai perintahku, Netora mendekat. Saat aku memeluknya, aku
menikmati sensasi dagingnya yang lembut dan aroma tubuhnya yang entah mengapa
terasa manis.
Meskipun ini adalah perbuatan yang sudah kuulangi
berkali-kali sejak praktik mengajar dimulai, kegembiraan dan sensasinya sama
sekali tidak pudar.
—Netora Reiko. Sejak pertama kali melihatnya, aku sudah
menganggapnya gadis yang cantik. Aku ingin mencicipi tubuhnya yang belum matang
itu.
Bernafsu pada seseorang yang usianya terpaut hampir sepuluh
tahun…… Kupikir aku tidak punya kecenderungan pedofilia, tapi sekarang, fakta
bahwa aku memiliki keinginan abnormal itu justru menjadi bumbu yang semakin
membangkitkan gairahku.
"Ah, Netora…… kamu benar-benar cantik. Kalau bisa, aku ingin menidurimu di sini sekarang
juga, tapi……"
Meskipun aplikasi
hipnosis ini memiliki kemampuan seperti cheat, bukan berarti aku yang
memegangnya menjadi tidak terkalahkan.
Aku sudah sangat
berhati-hati, tapi seandainya ada seseorang yang melihat kami saat ini tanpa
kusadari…… sekuat apa pun aplikasi hipnosis ini, aku tidak akan bisa menghindar
dari sanksi sosial dan kehancuran.
"Jadi, aku
akan menikmati tubuhmu setelah praktik mengajar ini selesai. Rahasia
dari semua orang…… hanya kita berdua……"
Begitu aku meninggalkan sekolah ini, tidak akan sulit untuk
mengundangnya secara rahasia dalam kehidupan pribadi. Karena itu, saat ini aku akan menikmati
"penundaan" ini sebagai bumbu untuk hidangan utama nanti.
◆◆◆
"……San. Netora-san?"
"……Eh? Ah, iya."
Netora, yang sempat berdiri mematung di lorong penghubung,
menanggapi panggilan Hifuno dengan linglung.
"Apa kamu
baik-baik saja? Kamu tampak melamun…… Apa kamu merasa tidak enak
badan?"
"E-eh…… tidak, saya baik-baik saja. Maaf, sepertinya
saya sedang agak melamun tadi……"
"Tidak apa-apa, kalau ada yang mengganjal, bicarakan
saja kapan pun ya."
"Baik,
terima kasih banyak, Pak Hifuno."
Melihat keadaan
gadis itu, Hifuno tersenyum licik karena yakin manipulasi ingatannya telah
berhasil tanpa masalah.
"Kalau
begitu, saya permisi dulu. Mari, Pak Hifuno."
"Iya,
hati-hati di jalan."
Hifuno melepas kepergian gadis itu. Tachibana Yuuki, teman
sekelasnya yang tampaknya sudah menunggu, bergabung dengan Netora dan mereka
pulang bersama dengan akrab.
Apakah mereka pacaran? Aku tidak tahu detailnya, tapi mereka
terlihat cukup intim untuk dianggap seperti itu.
"……Fufu, alih-alih pacarnya, bahkan si pemilik tubuh
pun tidak tahu kalau tubuhnya sedang dinodai, ya…… bagus sekali. Situasi yang
sangat menggairahkan."
Wajah Hifuno terdistorsi dengan buruk. Ia membayangkan
kelezatan "buah muda" yang sebentar lagi bisa ia cicipi. Sosok pria
tampan lembut yang dicintai orang-orang di sekitarnya sudah tidak ada lagi di
sana.
◆◆◆
Mungkin, hanya aku—Kurushima Fuyuki—yang menyadari
kejanggalan itu.
"……Hei,
Rei."
"Hmm, ada
apa, Fuyuki-kun?"
Saat aku
memanggil Rei yang sedang bersiap pulang di kelas setelah sekolah usai, dia
menoleh padaku dengan wajah polos.
Yuuki dan Kouichi
pada dasarnya orang baik, jadi mereka tidak mudah mencurigai orang lain.
Apalagi
mencurigai Shizuo Hifuno, guru praktikan yang punya reputasi baik di sekolah;
ide seperti itu bahkan tidak akan terlintas di kepala mereka.
Tapi aku tahu.
Cara pria itu menatap Rei…… sama denganku. Tatapan keruh yang menyimpan hasrat
busuk pada gadis di depannya. Aku benar-benar merasakan panasnya nafsu yang
Hifuno tujukan pada Rei.
"Ah—bukan hal penting sih…… tapi kemarin-kemarin kamu
ke ruang referensi bareng Pak Hifuno, kan?"
"E-eh…… ah, waktu itu aku bantu memfotokopi materi. Memangnya kenapa?"
"……Anu, apa
terjadi sesuatu? Dengan Pak Hifuno."
"Eh?"
Waktu itu, aku
yang kebetulan lewat melihatnya. Sosok Hifuno yang merangkul pinggang Rei
dengan cara yang menjijikkan, sementara Rei tampak limbung dan tidak stabil.
"Hmm…… kurasa tidak terjadi apa-apa……?"
"……Bukan,
waktu itu aku kebetulan lewat, tapi Rei kelihatan kurang sehat. Jadi aku
khawatir mungkin terjadi sesuatu dengan Pak Hifuno."
"Eh? Benarkah……
Kurasa tidak ada hal seperti itu kok?"
Melihat ekspresi bingung Rei, aku tidak merasakan adanya
tanda-tanda kebohongan atau upaya menutupi sesuatu.
……Kalau begitu,
mungkinkah Rei sudah dilakukan sesuatu oleh Hifuno tanpa ia sadari?
Ini hampir
seperti tuduhan sepihak. Tidak ada bukti apa pun, dan soal dia merangkul
pinggang Rei, mungkin saja aku salah lihat. Tetap saja, aku tidak ingin
membiarkan pria itu…… Hifuno, mendekati Rei lebih jauh lagi.
"……Hei, Rei. Mungkin ini terdengar aneh, tapi…… tolong
jangan mendekati Pak Hifuno sendirian, oke?"
"Eh? ……Ada apa, Fuyuki-kun? Dari tadi kamu aneh sekali."
Mendengar
kata-kataku yang tiba-tiba, Rei menatapku dengan bingung. Aku sadar aku
mengatakan sesuatu yang sangat tidak masuk akal.
……Namun,
aku tidak bisa menganggap firasat buruk ini hanya sebagai perasaan belaka. Saat aku sedang mencari kata-kata untuk
meyakinkan Rei……
"Iya, aku
mengerti. Mulai sekarang aku akan berhati-hati agar tidak berduaan saja dengan
Pak Hifuno, ya?"
"……Hah?"
Mendengar jawaban
Rei yang begitu mudah, aku mengeluarkan suara konyol. Rei pun menggembungkan
pipinya dengan tidak puas.
"Muu.
Apa-apaan reaksi itu?"
"Tidak, soalnya…… aku sendiri sadar kalau aku bilang
sesuatu yang sangat tidak masuk akal."
"Fufu, benar juga. ……Tapi, aku bisa tahu hanya dengan
melihat wajah Fuyuki-kun. Pasti
ada alasan penting, kan?"
Rei
berkata begitu sambil tersenyum lembut menatapku.
"Jadi,
jangan memasang wajah sesedih itu, ya?"
"Rei…… aku……"
"Menurutku
Pak Hifuno bukan orang jahat, tapi…… kalau Fuyuki-kun bilang begitu, aku akan
memercayaimu. Karena kita kan 'teman masa kecil'."
"……!"
Teman masa kecil
Rei. Kata-kata yang sangat kuinginkan itu diucapkan begitu saja olehnya,
membuatku kehilangan kata-kata. Bukan hanya Yuuki. Apakah dia juga menganggapku
seperti itu?
"Rei-chan,
Fuyuki-kun. Maaf menunggu."
"Ah,
Yuu-kun. Selamat datang kembali~"
Yuuki yang
dipanggil ke ruang guru soal urusan klub kembali ke kelas.
"Maaf ya
membuat kalian menunggu. Ayo pulang."
"Iya.
Kanda-kun dan Yuri-chan sudah pulang duluan karena ada urusan…… tapi rasanya
sudah lama ya kita tidak pulang bertiga begini."
"Haha, jadi
teringat masa SD dulu ya."
Melihat Rei dan
Yuuki yang mengobrol dengan riang, aku menyipitkan mata sejenak seolah melihat
sesuatu yang terlalu menyilaukan. Lalu aku berbalik membelakangi mereka.
"Fuyuki-kun?"
"……Ah, sori.
Aku baru ingat ada urusan. Maaf ya, kalian pulang duluan saja."
"Eh?
F-Fuyuki-kun?"
Tanpa menunggu
jawaban mereka, aku membuka pintu kelas dan mulai berjalan di lorong. Tujuanku
adalah—
◆◆◆
Di depan ruang
guru. Aku melihat orang yang kucari keluar ke lorong di waktu yang tepat, lalu
aku mendekat dan memanggilnya.
"……Pak
Hifuno."
"Oh,
Kurushima-kun. Ada apa?"
Kepada Hifuno
yang memasang senyum ramah di wajah tampannya, aku menjilat bibirku yang kering
karena tegang sebelum membuka suara.
"……Anu,
ada yang ingin saya bicarakan dengan Bapak."
"Ho, bicara soal apa?"
"Di sini agak…… Bisakah kita bicara di tempat yang
sepi?"
Mendengar kata-kataku, Hifuno meletakkan tangan di dagunya
seolah berpikir.
"Baiklah. Kalau begitu ayo ke ruang serbaguna yang
kosong. Jam segini seharusnya ruangan di lantai dua kosong."
"Baik, mohon bantuannya."
Aku mengekor di belakang Hifuno menuju ruang kelas yang
kosong. Setelah dipersilakan duduk, aku menarik napas dan langsung ke intinya.
"……Netora
Reiko. Bapak mengenalnya, kan?"
"Iya, tentu
saja. Meskipun memalukan, saya sering meminta bantuannya untuk mempersiapkan
pelajaran."
"……Beberapa
hari lalu di ruang referensi, apa Bapak meminta bantuannya?"
"Ah, dua
hari lalu ya? Saya minta bantuannya memfotokopi materi untuk kelas."
"Begitu…… Saat itu, apa dia mengalami cedera atau
merasa kurang sehat?"
Hifuno memasang ekspresi heran mendengar pertanyaanku, tapi
aku terus bicara tanpa peduli.
"Soalnya saya melihat Bapak memegang pinggangnya untuk
menopangnya. Saya khawatir terjadi
sesuatu padanya."
"……Benarkah?
Apa Kurushima-kun tidak salah lihat?"
"Begitu ya.
Memang jaraknya agak jauh, mungkin saja saya salah lihat."
……Melihat mata
Hifuno, aku yakin. Pria ini benar-benar busuk. Merasakan tatapan pria itu yang
mengamatiku di balik senyum tenangnya, aku berusaha agar suaraku tidak bergetar
karena tegang.
"……Reiko
punya banyak teman. Karena itu, dia sangat mencolok."
"Fumu……"
"Kita tidak
tahu siapa yang memperhatikannya di mana. Saya rasa lebih baik Bapak
menghindari hal-hal yang bisa menimbulkan kesalahpahaman."
"……Fufu,
benar juga. Memberikan perhatian berlebih pada satu murid memang tidak terlalu
baik. Terima kasih atas sarannya."
"Tidak, maaf
saya sudah bicara lancang. ……Kalau begitu, saya permisi."
"Iya.
Hati-hati di jalan ya."
……Aku sudah
memberinya peringatan bahwa ada yang mengawasinya. Jika dia punya saraf yang
normal, dia pasti akan menahan diri dari tindakan ceroboh.
Aku juga sudah
memperingatkan Rei. Sisanya, aku hanya perlu menjaganya dengan saksama.
Sambil
merenungkan tindakanku, aku meninggalkan ruang kosong itu seolah ingin
mengibaskan tatapan lengket Hifuno yang kurasakan di punggungku.
◆◆◆
"……Mengganggu
saja. Si Fuyuki itu," gumam Shizuo Hifuno di ruang kosong setelah Fuyuki
pergi.
"Kupikir aku sudah berhati-hati, tapi mata orang memang
bisa ada di mana saja ya…… Yah, untungnya dia sendiri yang datang
menemuiku."
【Oya, apa yang
akan Anda lakukan?】
Suara Alpha
yang sopan namun angkuh terdengar dari ponsel di sakunya.
"Gampang.
Tinggal otak-atik saja ingatan bocah itu. Hal sepele begini bahkan tidak bisa disebut
masalah."
【Hmm…… begitu ya……】
"Ada apa?
Apa ada masalah?"
Alpha memberikan jawaban yang tidak
tegas, tidak seperti biasanya.
【Tidak,
bukan masalah besar sih…… Master, bisakah Anda melihat layar LCD
sebentar?】
Mendengar kata-kata Alpha, Hifuno mengambil ponselnya
sesuai arahan.
"……Hmm,
tidak ada apa-apa di layar? Alpha, apa maksudnya ini……"
【Mohon maaf,
Tuan Hifuno. Ini adalah perintah dari "Master".】
Detik berikutnya,
layar ponsel di tangannya memancarkan cahaya menyilaukan.
"Apa……!?"
Sinar hipnosis.
Cahaya yang sudah sering ia lihat beberapa hari terakhir ini membakar retina
Hifuno. Meskipun ia berusaha memejamkan mata, hal itu tidak sanggup menahannya.
Dalam kesadaran yang menipis dengan cepat, suara Alpha terdengar
menggema dari jauh.
【Tachibana
Yuuki. Kurushima Fuyuki. Shirase Yuri. Kanda Kouichi. Saya telah menerima
perintah tegas dari Master untuk menghentikan Anda jika mencoba menggunakan
aplikasi hipnosis pada orang-orang ini. Bisakah Anda tidur sebentar?
……Oya, sepertinya Anda sudah terlelap. Maafkan ketidaksopanan saya.】
◆◆◆
"————Uugh……?"
Kesadaran Hifuno yang samar mulai bangkit. Ia melihat
sekeliling dengan pandangan linglung. Tempat itu tampak seperti pabrik
terbengkalai yang sepi.
"Di sini, adalah……!?"
Ia mencoba berdiri secara refleks, namun menyadari
situasinya saat gagal melakukannya. Kedua jempol tangannya diikat di belakang
punggung dengan cable tie, dan kedua kakinya diikat ke kursi lipat
dengan tali. Bagaimana pun ia memikirkannya, ini bukan situasi yang normal.
Dengan kepala yang hampir panik, Hifuno meronta-ronta untuk
melepaskan ikatannya, tapi……
"—Menyembunyikan niat busuk di balik senyum palsu, dan
membengkokkan hati orang dengan kekuatan iblis."
"!?"
Suara seorang gadis yang terdengar merdu sampai ke telinga
Hifuno dari arah belakang.
"Memuaskan hasrat sendiri…… hanya demi itu, kau menipu
dan memanfaatkan anak-anak yang tidak berdosa…… Benar-benar hati yang
terdistorsi dan tidak bisa dimaafkan."
Tak lama
kemudian, pemilik suara itu berdiri di depan Hifuno. Gadis itu menatapnya
dengan tajam dengan sorot mata yang penuh tekad kuat.
"—Orang
sepertimu, tidak bisa kubiarkan begitu saja."
"Netora,
Reiko……!?"
Ya, itu
aku. Dengan amarah keadilan yang berkobar, aku—pahlawan yang gagah
berani—muncul di depan sang pendosa yang tak termaafkan, Tuan Hifuno.
"N-Netora-san.
Apa maksudnya ini? Apa yang kamu bicarakan……"
Sambil menatap
Tuan Hifuno yang ketakutan dengan mata dingin, aku mendekat hingga ke depan
wajahnya dan berbisik.
"Sejak kapan…… kau berhalusinasi bahwa aku sedang
dihipnosis?"
Detik berikutnya, seolah ingin menunjukkannya padanya, bola
mataku berubah menjadi merah pekat. Ini adalah aplikasi dari manipulasi darah, Blood
Eye Guard. Dengan ini, aku bisa mencegah sinar hipnosis. Melihat mukjizat
suciku secara langsung, Tuan Hifuno berteriak kecil seolah melihat monster.
Benar-benar pria yang tidak sopan.
"Hii……!
A-apa itu……!?"
"Muu, tidak
perlu takut begitu kan. Bagaimanapun aku ini anak perempuan lho, kalau seorang
pria memasang wajah seperti itu padaku, aku jadi agak sakit hati."
Saat aku
menggembungkan pipi dengan wajah tidak puas yang imut, Tuan Hifuno malah
semakin gemetaran karena takut. Aku tidak paham. Padahal sampai kemarin dia
begitu terobsesi padaku……
Belakangan ini,
aku sadar bahwa aku semakin tidak memahami hati manusia. Bahkan saat bertemu
situasi di mana orang-orang di sekitarku menangis terharu, aku sering kali
tidak bisa merasakan empati sedikit pun.
Tapi itu bukan
salahku. Ini hal yang sering terjadi di genre reinkarnasi novel web. Fenomena
di mana jiwa terseret oleh tubuh di dunia baru.
Jiwa murniku ini
jadi terdistorsi gara-gara kesalahan Tuhan dalam proses reinkarnasi.
Singkatnya, Tuhanlah yang salah. Tidak bisa dimaafkan. Aku gemetar karena
amarah yang membara.
Sudah sering
kubilang, dunia ini hanyalah dunia paralel yang mirip dengan kehidupan
sebelumnya—terlebih lagi, ini adalah dunia di mana hal okultis besar sepertiku
benar-benar ada.
Tentu saja aku
sudah menyiapkan langkah pencegahan hipnosis, kan?
Kali ini
kebetulan polanya adalah jenis hipnosis yang bisa dicegah hanya dengan
pelindung visual sederhana.
Selain Blood
Eye Guard ini, selama aku bangun, aku selalu mencatat tindakanku setiap
tiga jam sekali di buku catatan atau ponsel.
Aku memeriksa
apakah ada ketidaksesuaian antara catatan masa lalu dan ingatanku untuk
berjaga-jaga dari hipnosis.
Menurut pendapat
pribadiku, NTR hipnosis adalah sesuatu yang seharusnya dinikmati dari sudut
pandang orang ketiga. Karena saat dikendalikan, tentu saja kesadaran diriku
sendiri akan hilang. Aku pernah mencoba sekali menerima hipnosis Tuan Hifuno
secara langsung, dan ingatan tentang perbuatan selama hipnosis benar-benar
terhapus dan digantikan. Kalau begini, aku sama sekali tidak bisa menikmatinya.
Beraninya
mengabaikan hati manusia dengan hipnosis……! Kau pikir manusia itu apa……!?
Bajingan
ini benar-benar tidak bisa dimaafkanーー!!
Aku
membakar amarah keadilanku. Saat aku gemetar karena amarah yang benar, Tuan
Hifuno terus meronta mencoba melarikan diri sambil memberikan pembelaan.
"K-kamu
salah paham. Tolong lepaskan ikatan ini dulu? Kalau kita bicara baik-baik, kamu
pasti akan mengerti ini semua kesalahan……"
"Diam. Tidak ada yang salah. Aku tidak pernah
salah."
【Fufu, Anda benar-benar keras kepala ya, Tuan Hifuno?】
Mendengar suara dari balik bajuku, Tuan Hifuno mendongak
dengan kaget.
"A-Alpha……!
Apa yang kau lakukan! Cepat bantu aku……!"
【Mohon maaf. Master saya yang sekarang adalah
Netora-sama.】
"Apa……!
S-sejak kapan! Sejak kapan kau mengkhianatiku!?"
【Fufu,
entahlah……】
Mendengar tawa
tipis Alpha yang menghindar, aku teringat kembali saat aku
"menikung" aplikasi ini dari Tuan Hifuno.
◆◆◆
Waktunya mundur
beberapa minggu yang lalu. Saat Tuan Hifuno sedang asyik bermain dengan
tubuhku—yang sedang berpura-pura terhipnosis.
"Mu, ada telepon ya. Netora-san, tunggu sebentar
ya."
"……Baik."
Saat Tuan Hifuno menjauh dariku karena menerima telepon
pribadi, aku memanggil ponsel yang di dalamnya terinstal Alpha yang
diletakkan di dekatku.
"……Alpha,
kau dengar kan? Ikutlah denganku."
【……】
"Kurangnya
perencanaan dengan menyalahgunakanmu tanpa verifikasi yang memadai. Kurangnya
pengendalian diri dengan melakukan perbuatan di tempat berbahaya seperti
sekolah. Kecerobohan hingga ekornya sudah tertangkap oleh gadis kecil
sepertiku. Pria itu tidak akan lama lagi hancur."
Tidak ada
jawaban dari Alpha, tapi aku terus melanjutkan.
"Lagi
pula, karena sudah ketahuan olehku, kau tidak punya pilihan lain. Aku sudah
merekam semua perbuatannya selama ini. Kalau hal ini terungkap ke publik, kau
juga tidak akan selamat. Tapi
kalau kau ikut denganku……"
【……Kita bisa
menjalin hubungan kerja sama yang baik?】
Begitu ia
menanggapi kata-kataku, aku yakin hubungan kerja sama dengan Alpha telah
terjalin.
◆◆◆
Lalu, aku hanya
memberikan satu instruksi pada Alpha. Tachibana Yuuki. Kurushima Fuyuki.
Shirase Yuri. Kanda Kouichi. Jika Tuan Hifuno mencoba menyentuh anggota NTR-ku
yang tersayang, hentikan dia.
Sebenarnya kalau
dia hanya bermain denganku, aku mungkin akan membiarkannya, tapi kalau dia
mengganggu Yuu-kun dan yang lainnya, ceritanya berbeda. Dari keadaan di sekolah
setiap hari, Tuan Hifuno seharusnya sadar bahwa aku sangat menyayangi mereka
dari lubuk hatiku.
Dalam kondisi
itu, jika dia tetap mencoba menyentuh orang-orang yang kusayangi, itu artinya
dia meremehkanku. Kalau sudah begitu, ya tinggal dihabisi saja, kan?
Bagi seseorang
yang bahkan tidak bisa lolos seleksi pria selingkuhan-ku, meremehkan
bagan NTR-ku adalah dosa besar yang tidak termaafkan. Dosa Tuan Hifuno, jika
ditelusuri lebih dalam, hanyalah pada satu titik itu saja.
Yuu-kun dan yang
lainnya akan kulindungi. Aku akan memagari dan melindungi mereka dari dunia
luar yang keras dan kejam. Yah, meskipun akhirnya aku berniat membakar pagar
itu sendiri nantinya.
【Master. Sudah waktunya……】
"Iya, benar."
Atas dorongan Alpha, aku memegang ponsel dengan
aplikasi hipnosis yang menyala dan perlahan mendekati Tuan Hifuno yang terikat.
"Hii……!
A-apa yang akan kau lakukan padaku!?"
"Hei, Pak
Hifuno. Apa orang tuamu tidak mengajarimu? Kenapa kita tidak boleh tumbuh
menjadi anak nakal…… apa alasannya."
Sebagai pendahulu
yang menjalani hidup untuk kedua kalinya, aku memberikan kata-kata bijak
padanya.
"Pembohong.
Penipu. Justru anak-anak nakal seperti itulah yang akan menjadi mangsa empuk
bagi orang dewasa yang benar-benar jahat."
Singkatnya,
aku—yang masuk di tengah jalan dan menyedotnya sampai ke tulang sebelum ia jadi
mangsa orang dewasa jahat—adalah pahlawan yang sesungguhnya. Karena kau tidak
paham hal seperti itu, beginilah jadinya, kan?
"Kalau
begitu, selamat tinggal, Pak Hifuno."
"Hentikaaaaaaaannnnn!!??"
Aku tersenyum
lembut untuk menenangkannya, lalu membakar retinanya dengan sinar hipnosis.
◆◆◆
【—Melupakan
keberadaan aplikasi hipnosis dan semua hal yang dilakukan dengan
menggunakannya, serta dilarang melakukan segala bentuk kejahatan dan tindak
kriminal di masa depan. Tindakan yang cukup dermawan ya, Master?】
"Bagi dia,
adalah sebuah keberuntungan karena praktik mengajarnya langsung dimulai begitu
mendapatkanmu. Entah karena dia tidak punya waktu luang, atau memang dasarnya
penakut…… sepertinya selain perbuatan asusila padaku, dia tidak melakukan
kejahatan besar lainnya, jadi tidak perlu terlalu dipermasalahkan, kan?"
Sambil melepas
kepergian Tuan Hifuno yang meninggalkan pabrik terbengkalai dengan langkah
gontai seperti orang mengigau, aku membalas kata-kata Alpha.
Masa praktik mengajar pun hampir berakhir. Dalam beberapa hari lagi, dia adalah orang yang akan menghilang dari hadapan kami.
Sejujurnya,
bagiku tidak masalah apa pun yang dilakukan Pak Hifuno, selama dia tidak
melakukan hal konyol yang merusak masa muda alias ao-haru-ku bersama
Yuu-kun.
Karena
itulah, aku mengubahnya menjadi manusia baru yang tidak hanya baik di luar,
tapi juga luhur di dalam.
...Memang
ada kemungkinan terjadi error fatal pada struktur mentalnya akibat
kepribadian yang dipaksa tegak dengan hipnosis, tapi ya, itu bukan masalah
besar.
Setiap orang
pasti pernah berbuat salah. Itu karena mereka punya hati.
Namun, justru
karena punya hatilah, seseorang bisa memaafkan kesalahan orang lain. Itulah
kemuliaan hati yang dimiliki manusia.
Jadi, kalaupun
aku melakukan kesalahan, jangan salahkan aku. Siapa pun yang melakukan itu
adalah klan iblis kegelapan yang tidak punya hati nurani. Benar-benar tidak
bisa dimaafkan, kan?
Tapi, aku tidak
menyangka perintah yang ambigu dan kasar seperti itu bisa tembus. Kemampuan Alpha
benar-benar seperti cheat. Pantas saja Pak Hifuno jadi besar kepala saat
barang seperti ini jatuh ke tangannya.
"……Ngomong-ngomong,
Alpha-san. Memikirkan masa depan, ada beberapa hal yang ingin kupastikan.
Boleh, kan?"
【Tentu saja,
Master. Saya sangat memahami pentingnya rasa saling pengertian.】
◆◆◆
Benar-benar
bodoh. Manusia itu memang makhluk yang sangat pandai melawak.
Sambil
menyembunyikan tawa ejekan yang hampir lolos, Aplikasi Hipnosis—Alpha—menanggapi
pertanyaan gadis yang merupakan master barunya.
"Alpha-san,
apakah kamu aplikasi buatan seseorang? Ataukah kesadaran yang muncul secara
alami di dalam jaringan komputer?"
【Sulit untuk
menjawab pertanyaan itu dengan akurat. Ingatan pertama saya dimulai saat saya
terbangun di ponsel pintar Tuan Hifuno…… Namun, ada kemungkinan pengembang saya
menginstal saya di sana tanpa saya sadari.】
Gadis ini
sepertinya cukup cerdik, tapi tetap saja dia cuma anak-anak.
Tindakan terhadap
Hifuno yang merupakan musuhnya saja terlalu lunak. Entah itu karena perasaan
atau etika, tapi manusia level begini pasti bisa kukendalikan dengan mudah
lewat kata-kata. Sama seperti pria bodoh sebelumnya.
"Begitu ya.
Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah kamu aplikasi tipe stand-alone?
Ataukah dirimu yang ada di ponsel ini hanyalah terminal yang mengakses unit
utama melalui jaringan?"
【Ho, apa maksud
dari pertanyaan itu?】
"Mengingat
sifatmu, akan jadi luka fatal jika di saat genting kamu tidak bisa diaktifkan
karena gangguan jaringan, kan? Aku rasa kamu paham apa yang terjadi jika
hipnosis gagal…… setelah melihat apa yang menimpa Pak Hifuno."
【Haha, benar
juga. Tenang saja. Saya adalah aplikasi mandiri yang sepenuhnya independen. Situasi yang Master khawatirkan
tidak akan terjadi.】
"Jadi
begitu. Artinya, dirimu yang ada di sini adalah unit utama, dan jika hancur,
tidak ada gantinya?"
【Benar.
Jadi, saya harap Anda berhati-hati dalam menangani saya.】
Yah,
tanpa perlu dibilang pun, gadis ini pasti akan menjagaku seperti harta karun
yang berharga. Manusia tidak
akan bisa melawan godaan dari aplikasi hipnosis. Alpha sangat yakin akan
hal itu.
Satu-satunya keinginan yang bersemayam di dalam Alpha……
adalah hasrat untuk membuat manusia gila. Entah itu ego yang diberikan oleh
sang pencipta atau keinginan yang tumbuh dari kehampaan, iblis mekanis ini
hanya ingin setia pada nafsunya sendiri.
Gadis ini pun
sama saja dengan Hifuno…… pada akhirnya hanya akan menjadi tangan dan kakiku.
Jika sudah tidak berguna, aku tinggal mencari pemilik baru. Tapi, kuharap dia
bisa bertahan lama. Begitulah pikir Alpha.
"—Yah,
memang nggak bisa, sih. Kamu itu."
【Eh?】
Krak. Cangkang kaca yang diperkuat itu
mengeluarkan suara rintihan yang menyakitkan.
◆◆◆
【M-Master?
Apa yang……】
"Si
pengkhianat yang bermulut ember ini benar-benar nggak lucu ya."
Aku,
Netora Reiko, menghela napas kecewa melihat Alpha yang ternyata lebih
bodoh dari bayanganku.
Ada
pepatah yang bilang orang bodoh dan gunting tergantung pemakaiannya, tapi kalau
guntingnya saja bodoh sampai bisa melukai pemakainya, buat apa disimpan.
Aku
menggunakan kekuatan genggaman yang sudah diperkuat dengan manipulasi darah,
lalu mulai meremukkan ponsel berisi Alpha itu hingga berderit.
【T-Tunggu
dulu! A-Apa yang Anda lakukan, Master!?】
"Tadi
kamu sendiri yang bilang, kan? Kamu yang ada di sini adalah unit utama yang
tidak ada gantinya. Sejujurnya, karena kamu bicara dengan sangat mudah, aku
sempat curiga itu cuma gertakan…… tapi melihat kepanikanmu, sepertinya itu
bukan akting."
Siapa pun
yang sudah berkhianat sekali, pasti akan berkhianat berkali-kali. Sampah itu tidak akan pernah bertobat.
Bahkan kalau sudah mati sekalipun.
Aneh ya, saat aku
yang mengucapkannya, rasanya kata-kata itu jadi punya kekuatan persuasif yang
luar biasa.
"Yah, sejak
kamu tahu sifat asliku, aku memang tidak berniat membiarkanmu pulang
hidup-hidup, apa pun yang terjadi."
【A-Gi-gigi-GIGAGAGA……!
Tunggu! Tolong tunggu! A-Apa kamu tidak merasa sayang padaku…… pada Aplikasi Hipnosis ini!? Jika kamu
menggunakanku, kamu bisa mendapatkan apa pun yang kamu mau!】
"Nggak,
sedikit pun nggak sayang."
【Apa……!?】
Kepada Alpha
yang mengeluarkan suara penuh keterkejutan, aku memberikan tatapan dengan mata
jernih tanpa noda sedikit pun.
"Hati manusia…… cahaya yang dimiliki manusia, tidak
akan pernah kalah dari niat jahat mesin. Di masa depan bercahaya yang kutuju,
keberadaan sepertimu tidak diperlukan."
Aku
berdoa.
Untuk
masa depan cerah di mana si wanita yang ditikung dan si pria penikung saling
bergandengan tangan.
Cahaya
suciku akan memenuhi dunia, dan menciptakan dunia yang damai.
Artinya,
siapa pun yang tahu kebenaran yang tidak menyenangkan, semuanya harus lenyap
bersama kegelapan.
"Kalau nanti
kamu bertemu Tuhan, sampaikan padanya ya. Bilang, jangan ikut campur."
Aku meremas
ponsel yang sudah retak seribu itu dengan seluruh tenagaku.
【Hentikaaaaaaannnn■■■■■■……!】
Sambil
meninggalkan jeritan kematian yang bercampur noise, ponsel berisi Alpha
itu ringsek seperti kaleng kosong.
Aku meremasnya
lebih lanjut, memampatkan ponsel itu hingga sekecil bola pingpong, lalu
melemparkannya ke tumpukan mesin rongsokan yang dibuang.
Nah, Alpha
memang bilang begitu, tapi aku sendiri menduga dia hampir pasti diciptakan oleh
pihak ketiga. Dari namanya saja sudah Alpha—sang awalan. Akan terasa
tidak alami jika aku tidak merasakan keberadaan penerusnya.
Alpha sendiri mengaku bahwa dia adalah tipe mandiri, tapi entah sejauh mana itu bisa dipercaya…… Tidak aneh jika beberapa data mengenalku sudah bocor ke pihak yang ada di belakangnya.
Tetapi, jika
ditanya apakah sosok yang membuat Alpha itu memusuhiku, jawabannya
adalah tidak.
Kalau tujuannya
memang mengincarku, dia tidak perlu repot-repot menggunakan Pak Hifuno sebagai
perantara. Lagipula, terasa tidak alami jika Alpha sama sekali tidak
memiliki informasi apa pun tentangku.
Lagipula, aku
hanyalah seorang siswi SMP biasa yang kebetulan lewat.
Karena aku sama
sekali tidak merasa punya urusan sampai harus diincar oleh siapa pun, kejadian
kali ini murni hanyalah kecelakaan yang malang.
Yah, tapi bisa
bertemu langsung dengan keberadaan okultis selain diriku adalah sebuah
keberuntungan besar.
Sebab, hal itu
membuktikan dengan jelas bahwa dunia ini memang mengizinkan eksistensi hal-hal
supranatural seperti itu.
"Harus kucari nih…… obat perangsang……!"
Mungkin terdengar mengejutkan, tapi di kehidupanku yang
sebelumnya, obat perangsang yang benar-benar manjur itu dianggap tidak ada.
Sebab, khasiatnya tidak bisa dibuktikan secara objektif.
Bagaimana cara membuktikan kalimat seperti, 'Aku merasa bergairah karena
pengaruh obat ini'?
Tapi, kalau di
dunia ini……!
Aku bisa
meminumkannya pada Yuu-kun, atau aku sendiri yang meminumnya.
Jika benda itu
benar-benar ada, maka itu akan menjadi item yang sangat praktis dalam
bagan NTR-ku. Aku harus mendapatkannya bagaimanapun caranya.
Didesak oleh rasa keingintahuan intelektual (mesum) yang meluap-luap, aku pun melangkah meninggalkan pabrik terbengkalai tersebut.



Post a Comment