NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

TS Tensei Bishoujo Netora Reiko wa Netoraretai Volume 2 Chapter 2

Chapter 2

Pahlawan Kita


Waktu berlalu, dan kini sudah bulan Juni.

Halo, aku Netora Reiko.

Libur Golden Week telah usai, dan penjinakan Kanda-kun pun selesai dengan sukses. Roadmap NTR-ku berjalan mulus tanpa hambatan sedikit pun.

Setelah masa pergantian seragam tiba, aku mengganti pakaianku dengan seragam musim panas yang berbahan tipis.

Begitu aku membuka pintu depan rumah, di sana Yuu-kun yang juga sudah berseragam musim panas sedang menungguku dengan gelisah.

"P-pagi, Rei-chan."

"Pagi, Yuu-kun. ……Fufu, rasanya agak aneh, ya? Padahal sampai kemarin-kemarin, aku yang selalu menjemput Yuu-kun ke rumahmu."

Ini adalah salah satu perubahan yang terjadi belakangan ini.

Dulu, setiap berangkat sekolah, aku selalu menjemput Yuu-kun ke rumahnya…… Namun, mungkin karena dia merasa terancam melihatku yang mendadak akrab dengan Kanda-kun, akhir-akhir ini Yuu-kun jadi sering menjemputku. Inilah keuntungan menjadi teman masa kecil sekaligus tetangga.

Melihat rasa cemburu dan keinginan posesif Yuu-kun yang menggemaskan, aku merasakan inti tubuhku memanas sejak pagi buta.

Sudah waktunya berburu, ya…… ♠

Tidak, tidak, masih terlalu dini. Sebentar lagi. Aku harus bersabar sebentar lagi.

Sifat asliku yang seperti sampah hampir saja meluap, jadi aku buru-buru menggelengkan kepala untuk memperingatkan diri sendiri.

Aku sudah bersabar sejauh ini. Masih ada dua tahun lagi sampai target awalku, yaitu saat kami menjadi siswa SMA. "Peternakan" Yuu-kun dan Fuyuki-kun berjalan dengan lancar.

Andaikata aku "memangsa" Yuu-kun saat ini juga, aku pasti bisa menikmati sensasi brainfuck yang cukup lezat.

Tapi, aku tidak akan melakukan hal yang mubazir itu. Dia akan menjadi jauh, jauh lebih lezat nantinya.

Kalau begitu, jawaban yang benar adalah menikmati "rasa lapar" ini.

Mari kita tunggu dengan sabar sampai buahnya matang dengan sempurna…… ♥

"……Rei-chan? Ada apa?"

Waduh, aku terlalu asyik melamunkan peta masa depan yang gemilang sampai-sampai mengabaikan Yuu-kun.

"Fufu, aku cuma berpikir kalau Yuu-kun kelihatan keren sekali pakai seragam musim panas."

"Eh!? A-ah, u-un…… t-terima kasih. Rei-chan juga, anu…… k-cantik, kok."

"Ahaha, terima kasih! Kalau begitu, ayo berangkat sekarang!"

Aku memamerkan senyum lebar, lalu menggandeng tangan Yuu-kun dan mulai berjalan.

Sambil bertukar obrolan ringan di sepanjang jalan, aku bisa merasakan kasih sayang yang tidak bisa disembunyikan dari tatapan Yuu-kun.

Aku suka mata Yuu-kun.

Mata yang jernih, lembut, dan tulus memercayai orang lain.

Fakta bahwa aku memonopoli mata indah yang bak permata itu membuat rasa nikmat merambat di tulang belakangku.

Hal itu memberiku keyakinan bahwa aku, yang terpilih oleh Yuu-kun, adalah sosok suci yang didekap oleh cahaya. Duh, nggak tahan banget.

◆◆◆

"Fuyuki-kun, Yuri-chan, selamat pagi—"

"Pagi, Rei-chan."

"Yo, pagi kalian berdua."

Setelah saling menyapa di kelas, Fuyuki-kun dan Yuri-chan berkumpul di sekitar mejaku. Ini adalah pemandangan biasa sebelum jam wali kelas dimulai.

"Kanda-kun…… apa dia terlambat lagi?"

Melihat meja di sebelahku yang tidak ada pemiliknya, aku mengernyitkan alis seolah merasa kesulitan.

……Namun, kekhawatiran itu segera sirna begitu mendengar suara pintu terbuka dari belakang.

"Yooo."

"Pagi, Kanda-kun. Hari ini kamu tidak terlambat, ya. Anak pintar, anak pintar ♪"

Aku berjinjit dan mencoba mengelus kepalanya, tapi Kanda-kun menepis tanganku dengan pelan.

"Kubilang berhenti. Nanti tatanan rambutku berantakan. Hei, Tachibana. Pegang tali kekangnya yang benar."

"Duh, kamu malu-malu ya. Yuu-kun, katakan sesuatu padanya!"

"Ahaha…… tapi, belakangan ini Kanda-kun memang jarang terlambat. Kedengarannya agak aneh, tapi aku juga ikut senang."

"……Cih, kamu juga ikutan bicara seperti Netora, ya."

Meski memasang wajah jengah, Kanda-kun duduk di kursinya dan bergabung dalam obrolan kami.

Gaya bicaranya memang agak kasar, tapi hawa suramnya sudah tidak terasa lagi.

Dilihat dari perilakunya sehari-hari, Kanda-kun sudah benar-benar mengunci targetnya padaku, dan tidak diragukan lagi dia menganggap Yuu-kun sebagai rival cintanya.

……Namun, bukan berarti Kanda-kun bersikap agresif kepada Yuu-kun atau musuh potensialnya, Fuyuki-kun.

Malahan, berkat tumpukan interaksi harian, hubungan ketiga anak laki-laki itu sudah cukup akrab hingga bisa disebut sahabat, melampaui sekadar teman sekelas.

"Ah, ngomong-ngomong Kanda-kun. Aku sudah menonton video yang kamu rekomendasikan kemarin—"

"Ouh, aku juga sudah lihat yang kamu bilang. Karena itu situs video yang jarang kupakai, rasanya jadi segar juga."

"Hei, hei, Yuuki, Kouichi, temani aku ke mal sepulang sekolah nanti dong? Aku mau beli sepatu kets baru nih."

Tentu saja itu karena Kanda-kun pada dasarnya adalah orang baik, tapi menurutku alasan utama hubungan ini bisa terbentuk adalah karena kepribadian Yuu-kun.

Mungkin Yuu-kun tidak menyadarinya, tapi sebelum dia menjadi setampan sekarang—sejak zaman SD pun—dia sebenarnya sudah cukup populer.

Dia bukan tipe orang yang mencolok, tapi perhatian-perhatian kecilnya, caranya membawakan percakapan, dan caranya membangun suasana membuat orang-orang di sekitarnya merasa senang hanya dengan keberadaannya.

Hati yang bisa bersikap baik pada siapa pun tanpa memikirkan untung rugi atau pamrih. Yuu-kun memiliki bakat untuk menyinari orang-orang di sekitarnya dengan lembut. Menurutku, itu adalah bakat yang sulit didapat, sesuatu yang mulia dan indah.

Singkatnya, dia adalah manusia dengan atribut cahaya murni sejak lahir, sama sepertiku.

Luar biasa, Yuu-kun. Wajah tampan, hati pun suci, benar-benar pria yang pantas untukku……!

"Ngomong-ngomong, Rei-chan, katanya mulai hari ini akan ada guru praktikan yang datang."

Saat aku sedang menatap Yuu-kun dengan mata berapi-api seolah ingin menjilatnya, Yuri-chan melontarkan topik itu.

Tentu saja, aku sudah melakukan riset tentang hal itu.

"Kira-kira orang seperti apa yang akan datang, ya? Jadi agak deg-degan."

"Tadi pagi waktu lewat depan ruang guru, aku dengar yang datang itu laki-laki, lho?"

Mendengar kata-kata Yuri-chan, aku menyahut sambil tersenyum manis.

"Heh~…… fufu, semoga saja orangnya tampan, ya?"

“““……!”””

Ketiga anak laki-laki itu bahunya tersentak mendengar ucapanku. Benar-benar pria-pria yang menarik.

Beberapa puluh menit setelah percakapan itu. Bertepatan dengan jam wali kelas pagi, guru praktikan yang dimaksud datang ke kelas kami untuk memperkenalkan diri.

"Perkenalkan, nama saya Shizuo Hifuno, guru praktikan di sini. Meskipun hanya sebentar, saya harap bisa akrab dengan kalian semua, jadi jangan sungkan untuk menyapa."

Begitu dia mengatakannya sambil memamerkan senyum segar khas pria tampan ortodoks, sorak-sorai riuh langsung terdengar dari para siswi di kelas.

Melihat pria tampan yang tiba-tiba muncul dari dunia luar, Kanda-kun di sebelahku melirik reaksiku dengan wajah cemas. Aduh, sedap sekali pemandangan ini.

……Nah, soal guru praktikan ini, aku sudah melakukan sedikit penyelidikan sebelumnya…… Namun, apakah dia bisa menjadi pion yang berguna bagiku?

Aku menyembunyikan tatapan penuh penilaian di balik senyumanku, sambil mengamati pria yang berdiri di podium guru tersebut.

◆◆◆

"Netorare" adalah sebuah kelainan seksual yang menempati kasta tertinggi di antara jutaan fetish yang ada di dunia ini.

Terlebih lagi bagiku, karena keinginan TS (pindah gender) juga tercampur di dalamnya, levelnya sudah sampai pada tahap di mana mustahil untuk berdamai dengan manusia bumi normal.

Oleh karena itu, penyamaran seorang pencinta NTR haruslah sangat kuat dan kokoh.

Zirah yang lebih tebal dari lapisan baja tank untuk menutupi kelainan seksual ini akan menyamarkan kami menjadi pria budiman atau wanita terhormat yang baik hati di mata orang lain.

Tak ada yang tahu, tak boleh ada yang tahu. Usaha tanpa henti agar kelainan ini tidak terbongkar telah memoles lapisan luar para menyimpang ini menjadi lebih keras daripada berlian.

……Namun, jika kulit luar itu dikupas, aku pun hanyalah seperti anak anjing lemah yang basah kuyup terkena hujan.

Sosok malang dan murni yang tidak bisa hidup tanpa NTR.

Seorang pengelana kesepian yang dipermainkan oleh takdir tak terelakkan bernama fetish. Itulah diriku. Kasihan sekali ya, aku.

Kelainan seksual itu bagaikan berkah sekaligus kutukan.

Sesuatu yang menjadi pegangan untuk memantapkan jati diri, namun juga rantai yang membelenggu diri sendiri.

Terkadang ia melukai diri sendiri, terkadang ia menarik kaki sendiri bagaikan tanaman merambat yang melilit.

Tapi aku tidak akan menyerah. Karena aku benar. Itulah sebabnya aku kuat. Keadilan memberiku kekuatan. Jalan sesulit apa pun akan terus kutempuh. Sampai hari di mana aku mengoleksi semua event CG Yuu-kun……

Aku jadi melantur. Melantur terlalu jauh sampai-sampai aku merasa sudah berputar satu lingkaran dan kembali ke rute yang benar, tapi mari kita lanjut ke alur utamanya.

Singkatnya, apa yang ingin kukatakan adalah lapisan luarku adalah gadis cantik sempurna yang baik budi, pintar akademik maupun olahraga.

Dan sebagai ketua murid, aku akan sering berhubungan dengan Shizuo Hifuno si guru praktikan ini.

"Permisi. Pak Hifuno, saya membawakan buku jurnal kelas."

"Ah, terima kasih, Netora-san."

Saat aku menyerahkan jurnal kelas kepadanya di ruang guru, Pak Hifuno mengucapkan terima kasih dengan senyum ramah di wajah tampannya.

Begitu ya. Penampilan setingkat idola, ditambah sikap santun layaknya pria budiman.

Pantas saja para gadis di kelas bersorak kegirangan.

"Netora-san. Apa kamu punya waktu sebentar? Maaf merepotkan, tapi saya ingin minta bantuanmu membawakan tumpukan lembar soal ini……"

"Tentu saja. Saya akan bantu."

"Terima kasih, sangat membantu. Jumlahnya cukup banyak, agak sulit kalau dibawa sendirian……"

Aku membalas senyum pahitnya yang tampak sungkan itu, lalu berjalan di lorong mengekor di belakang Pak Hifuno.

Sudah setengah bulan berlalu sejak dia datang ke sekolah ini.

Karena usianya lebih dekat dibandingkan jajaran guru lainnya, dia jadi lebih mudah didekati.

Ditambah lagi dengan pesona pria tampan yang memiliki kedewasaan berbeda dari teman sekelas, popularitas Pak Hifuno di kalangan siswi meroket tajam.

……Namun, sejujurnya penilaianku terhadapnya tidaklah begitu tinggi.

Bagaimana ya, dia tidak ada gunanya.

Masa praktiknya di sekolah ini hanya sekitar satu bulan.

Setengah dari masa tinggalnya sudah lewat, dan waktunya terlalu sempit bagiku untuk menyiapkan skenario apa pun.

Dia sendiri tampak sibuk dengan praktik mengajarnya, dan hampir tidak ada celah bagiku yang merupakan siswi untuk mengintervensinya.

Kalau mau menyiapkan sosok "pria selingkuhan" beratribut guru, sepertinya lebih baik saat aku SMA nanti.

Yah, karena aku ketua murid, aku memang sering berurusan dengan Pak Hifuno.

Aku bisa menjadikannya bahan uji coba untuk mengumpulkan data demi masa depan, tapi selain itu, tidak ada lagi yang kuharapkan darinya.

Lagi pula, masalah terbesarnya adalah……

"Ah, ngomong-ngomong……"

Dalam perjalanan kembali setelah selesai membawakan lembar soal, Pak Hifuno yang berjalan di sampingku mendadak berhenti seolah teringat sesuatu. Aku memiringkan kepala dan bertanya padanya.

"Pak Hifuno? Ada apa?"

"Tidak, karena sekarang sepulang sekolah dan di sekitar sini sedang sepi, kurasa ini waktu yang tepat."

Sambil berkata begitu, dia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengarahkan layarnya ke arahku.

"Waktunya 'tugas harian', Netora-san."

Detik berikutnya, layar ponsel di tangan Pak Hifuno memancarkan cahaya yang menyilaukan.

◆◆◆

"……"

"Netora-san, apa kamu bisa mendengar suaraku? Kalau dengar, tunjukkan tanda peace dengan kedua tanganmu."

"……Iya."

Aku—Shizuo Hifuno—berbicara kepada gadis di depanku.

Gadis dengan tatapan kosong itu pun dengan lunglai membentuk jari telunjuk dan tengahnya menjadi huruf V, lalu menaruhnya di samping wajahnya.

"……Bagus, sepertinya efeknya bekerja dengan baik. Kerja bagus, Alpha."

Begitu aku bergumam, suara seorang pria yang sangat sopan namun angkuh terdengar dari ponsel di tanganku.

Tidak masalah, Tuan. Bagi saya, hal selevel ini bukan apa-apa. Lebih dari itu, meskipun tidak ada orang lewat, bukankah lebih baik Anda segera berpindah tempat?




Karena apa yang dikatakannya sangat masuk akal, aku membawa Netora ke salah satu ruang kelas yang kosong dan menguncinya dari dalam.

Aku mendapatkan Alpha—"Aplikasi Hipnosis" yang memiliki kesadaran mandiri ini—secara murni karena kebetulan.

Beberapa hari sebelum praktik mengajar ini dimulai, saat aku sedang merapikan barang-barang pribadi untuk membuang ponsel pintar model lama yang sudah ketinggalan zaman, aku menyadari ada aplikasi asing terinstal di sana.

Aplikasi itu tiba-tiba berjalan sendiri tanpa kusentuh, lalu mulai memperkenalkan diri dengan bahasa yang sangat fasih, jauh dari kesan suara mesin.

Salam kenal, Master. Saya adalah Aplikasi Hipnosis bernama "Alpha". ……Fufu, saya akan melewatkan penjelasan detailnya, namun saya jamin spesifikasi saya sanggup mewujudkan hampir semua hal yang Anda bayangkan saat mendengar kata "Aplikasi Hipnosis"

Sesuai kata-katanya, Alpha adalah aplikasi impian yang sanggup mewujudkan hampir apa pun yang kubayangkan.

Banyak hal yang ingin kuuji coba dengan aplikasi ini, tapi itu bisa menunggu sampai praktik mengajar ini selesai.

Untuk sementara, aku memutuskan menggunakan aplikasi ini untuk memuaskan "hasrat seksual"-ku.

"Nah, kemarilah sebentar, Netora."

"……Baik."

Sesuai perintahku, Netora mendekat. Saat aku memeluknya, aku menikmati sensasi dagingnya yang lembut dan aroma tubuhnya yang entah mengapa terasa manis.

Meskipun ini adalah perbuatan yang sudah kuulangi berkali-kali sejak praktik mengajar dimulai, kegembiraan dan sensasinya sama sekali tidak pudar.

—Netora Reiko. Sejak pertama kali melihatnya, aku sudah menganggapnya gadis yang cantik. Aku ingin mencicipi tubuhnya yang belum matang itu.

Bernafsu pada seseorang yang usianya terpaut hampir sepuluh tahun…… Kupikir aku tidak punya kecenderungan pedofilia, tapi sekarang, fakta bahwa aku memiliki keinginan abnormal itu justru menjadi bumbu yang semakin membangkitkan gairahku.

"Ah, Netora…… kamu benar-benar cantik. Kalau bisa, aku ingin menidurimu di sini sekarang juga, tapi……"

Meskipun aplikasi hipnosis ini memiliki kemampuan seperti cheat, bukan berarti aku yang memegangnya menjadi tidak terkalahkan.

Aku sudah sangat berhati-hati, tapi seandainya ada seseorang yang melihat kami saat ini tanpa kusadari…… sekuat apa pun aplikasi hipnosis ini, aku tidak akan bisa menghindar dari sanksi sosial dan kehancuran.

"Jadi, aku akan menikmati tubuhmu setelah praktik mengajar ini selesai. Rahasia dari semua orang…… hanya kita berdua……"

Begitu aku meninggalkan sekolah ini, tidak akan sulit untuk mengundangnya secara rahasia dalam kehidupan pribadi. Karena itu, saat ini aku akan menikmati "penundaan" ini sebagai bumbu untuk hidangan utama nanti.

◆◆◆

"……San. Netora-san?"

"……Eh? Ah, iya."

Netora, yang sempat berdiri mematung di lorong penghubung, menanggapi panggilan Hifuno dengan linglung.

"Apa kamu baik-baik saja? Kamu tampak melamun…… Apa kamu merasa tidak enak badan?"

"E-eh…… tidak, saya baik-baik saja. Maaf, sepertinya saya sedang agak melamun tadi……"

"Tidak apa-apa, kalau ada yang mengganjal, bicarakan saja kapan pun ya."

"Baik, terima kasih banyak, Pak Hifuno."

Melihat keadaan gadis itu, Hifuno tersenyum licik karena yakin manipulasi ingatannya telah berhasil tanpa masalah.

"Kalau begitu, saya permisi dulu. Mari, Pak Hifuno."

"Iya, hati-hati di jalan."

Hifuno melepas kepergian gadis itu. Tachibana Yuuki, teman sekelasnya yang tampaknya sudah menunggu, bergabung dengan Netora dan mereka pulang bersama dengan akrab.

Apakah mereka pacaran? Aku tidak tahu detailnya, tapi mereka terlihat cukup intim untuk dianggap seperti itu.

"……Fufu, alih-alih pacarnya, bahkan si pemilik tubuh pun tidak tahu kalau tubuhnya sedang dinodai, ya…… bagus sekali. Situasi yang sangat menggairahkan."

Wajah Hifuno terdistorsi dengan buruk. Ia membayangkan kelezatan "buah muda" yang sebentar lagi bisa ia cicipi. Sosok pria tampan lembut yang dicintai orang-orang di sekitarnya sudah tidak ada lagi di sana.

◆◆◆

Mungkin, hanya aku—Kurushima Fuyuki—yang menyadari kejanggalan itu.

"……Hei, Rei."

"Hmm, ada apa, Fuyuki-kun?"

Saat aku memanggil Rei yang sedang bersiap pulang di kelas setelah sekolah usai, dia menoleh padaku dengan wajah polos.

Yuuki dan Kouichi pada dasarnya orang baik, jadi mereka tidak mudah mencurigai orang lain.

Apalagi mencurigai Shizuo Hifuno, guru praktikan yang punya reputasi baik di sekolah; ide seperti itu bahkan tidak akan terlintas di kepala mereka.

Tapi aku tahu. Cara pria itu menatap Rei…… sama denganku. Tatapan keruh yang menyimpan hasrat busuk pada gadis di depannya. Aku benar-benar merasakan panasnya nafsu yang Hifuno tujukan pada Rei.

"Ah—bukan hal penting sih…… tapi kemarin-kemarin kamu ke ruang referensi bareng Pak Hifuno, kan?"

"E-eh…… ah, waktu itu aku bantu memfotokopi materi. Memangnya kenapa?"

"……Anu, apa terjadi sesuatu? Dengan Pak Hifuno."

"Eh?"

Waktu itu, aku yang kebetulan lewat melihatnya. Sosok Hifuno yang merangkul pinggang Rei dengan cara yang menjijikkan, sementara Rei tampak limbung dan tidak stabil.

"Hmm…… kurasa tidak terjadi apa-apa……?"

"……Bukan, waktu itu aku kebetulan lewat, tapi Rei kelihatan kurang sehat. Jadi aku khawatir mungkin terjadi sesuatu dengan Pak Hifuno."

"Eh? Benarkah…… Kurasa tidak ada hal seperti itu kok?"

Melihat ekspresi bingung Rei, aku tidak merasakan adanya tanda-tanda kebohongan atau upaya menutupi sesuatu.

……Kalau begitu, mungkinkah Rei sudah dilakukan sesuatu oleh Hifuno tanpa ia sadari?

Ini hampir seperti tuduhan sepihak. Tidak ada bukti apa pun, dan soal dia merangkul pinggang Rei, mungkin saja aku salah lihat. Tetap saja, aku tidak ingin membiarkan pria itu…… Hifuno, mendekati Rei lebih jauh lagi.

"……Hei, Rei. Mungkin ini terdengar aneh, tapi…… tolong jangan mendekati Pak Hifuno sendirian, oke?"

"Eh? ……Ada apa, Fuyuki-kun? Dari tadi kamu aneh sekali."

Mendengar kata-kataku yang tiba-tiba, Rei menatapku dengan bingung. Aku sadar aku mengatakan sesuatu yang sangat tidak masuk akal.

……Namun, aku tidak bisa menganggap firasat buruk ini hanya sebagai perasaan belaka. Saat aku sedang mencari kata-kata untuk meyakinkan Rei……

"Iya, aku mengerti. Mulai sekarang aku akan berhati-hati agar tidak berduaan saja dengan Pak Hifuno, ya?"

"……Hah?"

Mendengar jawaban Rei yang begitu mudah, aku mengeluarkan suara konyol. Rei pun menggembungkan pipinya dengan tidak puas.

"Muu. Apa-apaan reaksi itu?"

"Tidak, soalnya…… aku sendiri sadar kalau aku bilang sesuatu yang sangat tidak masuk akal."

"Fufu, benar juga. ……Tapi, aku bisa tahu hanya dengan melihat wajah Fuyuki-kun. Pasti ada alasan penting, kan?"

Rei berkata begitu sambil tersenyum lembut menatapku.

"Jadi, jangan memasang wajah sesedih itu, ya?"

"Rei…… aku……"

"Menurutku Pak Hifuno bukan orang jahat, tapi…… kalau Fuyuki-kun bilang begitu, aku akan memercayaimu. Karena kita kan 'teman masa kecil'."

"……!"

Teman masa kecil Rei. Kata-kata yang sangat kuinginkan itu diucapkan begitu saja olehnya, membuatku kehilangan kata-kata. Bukan hanya Yuuki. Apakah dia juga menganggapku seperti itu?

"Rei-chan, Fuyuki-kun. Maaf menunggu."

"Ah, Yuu-kun. Selamat datang kembali~"

Yuuki yang dipanggil ke ruang guru soal urusan klub kembali ke kelas.

"Maaf ya membuat kalian menunggu. Ayo pulang."

"Iya. Kanda-kun dan Yuri-chan sudah pulang duluan karena ada urusan…… tapi rasanya sudah lama ya kita tidak pulang bertiga begini."

"Haha, jadi teringat masa SD dulu ya."

Melihat Rei dan Yuuki yang mengobrol dengan riang, aku menyipitkan mata sejenak seolah melihat sesuatu yang terlalu menyilaukan. Lalu aku berbalik membelakangi mereka.

"Fuyuki-kun?"

"……Ah, sori. Aku baru ingat ada urusan. Maaf ya, kalian pulang duluan saja."

"Eh? F-Fuyuki-kun?"

Tanpa menunggu jawaban mereka, aku membuka pintu kelas dan mulai berjalan di lorong. Tujuanku adalah—

◆◆◆

Di depan ruang guru. Aku melihat orang yang kucari keluar ke lorong di waktu yang tepat, lalu aku mendekat dan memanggilnya.

"……Pak Hifuno."

"Oh, Kurushima-kun. Ada apa?"

Kepada Hifuno yang memasang senyum ramah di wajah tampannya, aku menjilat bibirku yang kering karena tegang sebelum membuka suara.

"……Anu, ada yang ingin saya bicarakan dengan Bapak."

"Ho, bicara soal apa?"

"Di sini agak…… Bisakah kita bicara di tempat yang sepi?"

Mendengar kata-kataku, Hifuno meletakkan tangan di dagunya seolah berpikir.

"Baiklah. Kalau begitu ayo ke ruang serbaguna yang kosong. Jam segini seharusnya ruangan di lantai dua kosong."

"Baik, mohon bantuannya."

Aku mengekor di belakang Hifuno menuju ruang kelas yang kosong. Setelah dipersilakan duduk, aku menarik napas dan langsung ke intinya.

"……Netora Reiko. Bapak mengenalnya, kan?"

"Iya, tentu saja. Meskipun memalukan, saya sering meminta bantuannya untuk mempersiapkan pelajaran."

"……Beberapa hari lalu di ruang referensi, apa Bapak meminta bantuannya?"

"Ah, dua hari lalu ya? Saya minta bantuannya memfotokopi materi untuk kelas."

"Begitu…… Saat itu, apa dia mengalami cedera atau merasa kurang sehat?"

Hifuno memasang ekspresi heran mendengar pertanyaanku, tapi aku terus bicara tanpa peduli.

"Soalnya saya melihat Bapak memegang pinggangnya untuk menopangnya. Saya khawatir terjadi sesuatu padanya."

"……Benarkah? Apa Kurushima-kun tidak salah lihat?"

"Begitu ya. Memang jaraknya agak jauh, mungkin saja saya salah lihat."

……Melihat mata Hifuno, aku yakin. Pria ini benar-benar busuk. Merasakan tatapan pria itu yang mengamatiku di balik senyum tenangnya, aku berusaha agar suaraku tidak bergetar karena tegang.

"……Reiko punya banyak teman. Karena itu, dia sangat mencolok."

"Fumu……"

"Kita tidak tahu siapa yang memperhatikannya di mana. Saya rasa lebih baik Bapak menghindari hal-hal yang bisa menimbulkan kesalahpahaman."

"……Fufu, benar juga. Memberikan perhatian berlebih pada satu murid memang tidak terlalu baik. Terima kasih atas sarannya."

"Tidak, maaf saya sudah bicara lancang. ……Kalau begitu, saya permisi."

"Iya. Hati-hati di jalan ya."

……Aku sudah memberinya peringatan bahwa ada yang mengawasinya. Jika dia punya saraf yang normal, dia pasti akan menahan diri dari tindakan ceroboh.

Aku juga sudah memperingatkan Rei. Sisanya, aku hanya perlu menjaganya dengan saksama.

Sambil merenungkan tindakanku, aku meninggalkan ruang kosong itu seolah ingin mengibaskan tatapan lengket Hifuno yang kurasakan di punggungku.

◆◆◆

"……Mengganggu saja. Si Fuyuki itu," gumam Shizuo Hifuno di ruang kosong setelah Fuyuki pergi.

"Kupikir aku sudah berhati-hati, tapi mata orang memang bisa ada di mana saja ya…… Yah, untungnya dia sendiri yang datang menemuiku."

Oya, apa yang akan Anda lakukan?

Suara Alpha yang sopan namun angkuh terdengar dari ponsel di sakunya.

"Gampang. Tinggal otak-atik saja ingatan bocah itu. Hal sepele begini bahkan tidak bisa disebut masalah."

Hmm…… begitu ya……

"Ada apa? Apa ada masalah?"

Alpha memberikan jawaban yang tidak tegas, tidak seperti biasanya.

Tidak, bukan masalah besar sih…… Master, bisakah Anda melihat layar LCD sebentar?

Mendengar kata-kata Alpha, Hifuno mengambil ponselnya sesuai arahan.

"……Hmm, tidak ada apa-apa di layar? Alpha, apa maksudnya ini……"

Mohon maaf, Tuan Hifuno. Ini adalah perintah dari "Master".

Detik berikutnya, layar ponsel di tangannya memancarkan cahaya menyilaukan.

"Apa……!?"

Sinar hipnosis. Cahaya yang sudah sering ia lihat beberapa hari terakhir ini membakar retina Hifuno. Meskipun ia berusaha memejamkan mata, hal itu tidak sanggup menahannya. Dalam kesadaran yang menipis dengan cepat, suara Alpha terdengar menggema dari jauh.

Tachibana Yuuki. Kurushima Fuyuki. Shirase Yuri. Kanda Kouichi. Saya telah menerima perintah tegas dari Master untuk menghentikan Anda jika mencoba menggunakan aplikasi hipnosis pada orang-orang ini. Bisakah Anda tidur sebentar? ……Oya, sepertinya Anda sudah terlelap. Maafkan ketidaksopanan saya.

◆◆◆

"————Uugh……?"

Kesadaran Hifuno yang samar mulai bangkit. Ia melihat sekeliling dengan pandangan linglung. Tempat itu tampak seperti pabrik terbengkalai yang sepi.

"Di sini, adalah……!?"

Ia mencoba berdiri secara refleks, namun menyadari situasinya saat gagal melakukannya. Kedua jempol tangannya diikat di belakang punggung dengan cable tie, dan kedua kakinya diikat ke kursi lipat dengan tali. Bagaimana pun ia memikirkannya, ini bukan situasi yang normal.

Dengan kepala yang hampir panik, Hifuno meronta-ronta untuk melepaskan ikatannya, tapi……

"—Menyembunyikan niat busuk di balik senyum palsu, dan membengkokkan hati orang dengan kekuatan iblis."

"!?"

Suara seorang gadis yang terdengar merdu sampai ke telinga Hifuno dari arah belakang.

"Memuaskan hasrat sendiri…… hanya demi itu, kau menipu dan memanfaatkan anak-anak yang tidak berdosa…… Benar-benar hati yang terdistorsi dan tidak bisa dimaafkan."

Tak lama kemudian, pemilik suara itu berdiri di depan Hifuno. Gadis itu menatapnya dengan tajam dengan sorot mata yang penuh tekad kuat.

"—Orang sepertimu, tidak bisa kubiarkan begitu saja."

"Netora, Reiko……!?"

Ya, itu aku. Dengan amarah keadilan yang berkobar, aku—pahlawan yang gagah berani—muncul di depan sang pendosa yang tak termaafkan, Tuan Hifuno.

"N-Netora-san. Apa maksudnya ini? Apa yang kamu bicarakan……"

Sambil menatap Tuan Hifuno yang ketakutan dengan mata dingin, aku mendekat hingga ke depan wajahnya dan berbisik.

"Sejak kapan…… kau berhalusinasi bahwa aku sedang dihipnosis?"

Detik berikutnya, seolah ingin menunjukkannya padanya, bola mataku berubah menjadi merah pekat. Ini adalah aplikasi dari manipulasi darah, Blood Eye Guard. Dengan ini, aku bisa mencegah sinar hipnosis. Melihat mukjizat suciku secara langsung, Tuan Hifuno berteriak kecil seolah melihat monster. Benar-benar pria yang tidak sopan.

"Hii……! A-apa itu……!?"

"Muu, tidak perlu takut begitu kan. Bagaimanapun aku ini anak perempuan lho, kalau seorang pria memasang wajah seperti itu padaku, aku jadi agak sakit hati."

Saat aku menggembungkan pipi dengan wajah tidak puas yang imut, Tuan Hifuno malah semakin gemetaran karena takut. Aku tidak paham. Padahal sampai kemarin dia begitu terobsesi padaku……

Belakangan ini, aku sadar bahwa aku semakin tidak memahami hati manusia. Bahkan saat bertemu situasi di mana orang-orang di sekitarku menangis terharu, aku sering kali tidak bisa merasakan empati sedikit pun.

Tapi itu bukan salahku. Ini hal yang sering terjadi di genre reinkarnasi novel web. Fenomena di mana jiwa terseret oleh tubuh di dunia baru.

Jiwa murniku ini jadi terdistorsi gara-gara kesalahan Tuhan dalam proses reinkarnasi. Singkatnya, Tuhanlah yang salah. Tidak bisa dimaafkan. Aku gemetar karena amarah yang membara.

Sudah sering kubilang, dunia ini hanyalah dunia paralel yang mirip dengan kehidupan sebelumnya—terlebih lagi, ini adalah dunia di mana hal okultis besar sepertiku benar-benar ada.

Tentu saja aku sudah menyiapkan langkah pencegahan hipnosis, kan?

Kali ini kebetulan polanya adalah jenis hipnosis yang bisa dicegah hanya dengan pelindung visual sederhana.

Selain Blood Eye Guard ini, selama aku bangun, aku selalu mencatat tindakanku setiap tiga jam sekali di buku catatan atau ponsel.

Aku memeriksa apakah ada ketidaksesuaian antara catatan masa lalu dan ingatanku untuk berjaga-jaga dari hipnosis.

Menurut pendapat pribadiku, NTR hipnosis adalah sesuatu yang seharusnya dinikmati dari sudut pandang orang ketiga. Karena saat dikendalikan, tentu saja kesadaran diriku sendiri akan hilang. Aku pernah mencoba sekali menerima hipnosis Tuan Hifuno secara langsung, dan ingatan tentang perbuatan selama hipnosis benar-benar terhapus dan digantikan. Kalau begini, aku sama sekali tidak bisa menikmatinya.

Beraninya mengabaikan hati manusia dengan hipnosis……! Kau pikir manusia itu apa……!?

Bajingan ini benar-benar tidak bisa dimaafkanーー!!

Aku membakar amarah keadilanku. Saat aku gemetar karena amarah yang benar, Tuan Hifuno terus meronta mencoba melarikan diri sambil memberikan pembelaan.

"K-kamu salah paham. Tolong lepaskan ikatan ini dulu? Kalau kita bicara baik-baik, kamu pasti akan mengerti ini semua kesalahan……"

"Diam. Tidak ada yang salah. Aku tidak pernah salah."

Fufu, Anda benar-benar keras kepala ya, Tuan Hifuno?

Mendengar suara dari balik bajuku, Tuan Hifuno mendongak dengan kaget.

"A-Alpha……! Apa yang kau lakukan! Cepat bantu aku……!"

Mohon maaf. Master saya yang sekarang adalah Netora-sama.

"Apa……! S-sejak kapan! Sejak kapan kau mengkhianatiku!?"

Fufu, entahlah……

Mendengar tawa tipis Alpha yang menghindar, aku teringat kembali saat aku "menikung" aplikasi ini dari Tuan Hifuno.

◆◆◆

Waktunya mundur beberapa minggu yang lalu. Saat Tuan Hifuno sedang asyik bermain dengan tubuhku—yang sedang berpura-pura terhipnosis.

"Mu, ada telepon ya. Netora-san, tunggu sebentar ya."

"……Baik."

Saat Tuan Hifuno menjauh dariku karena menerima telepon pribadi, aku memanggil ponsel yang di dalamnya terinstal Alpha yang diletakkan di dekatku.

"……Alpha, kau dengar kan? Ikutlah denganku."

……

"Kurangnya perencanaan dengan menyalahgunakanmu tanpa verifikasi yang memadai. Kurangnya pengendalian diri dengan melakukan perbuatan di tempat berbahaya seperti sekolah. Kecerobohan hingga ekornya sudah tertangkap oleh gadis kecil sepertiku. Pria itu tidak akan lama lagi hancur."

Tidak ada jawaban dari Alpha, tapi aku terus melanjutkan.

"Lagi pula, karena sudah ketahuan olehku, kau tidak punya pilihan lain. Aku sudah merekam semua perbuatannya selama ini. Kalau hal ini terungkap ke publik, kau juga tidak akan selamat. Tapi kalau kau ikut denganku……"

……Kita bisa menjalin hubungan kerja sama yang baik?

Begitu ia menanggapi kata-kataku, aku yakin hubungan kerja sama dengan Alpha telah terjalin.

◆◆◆

Lalu, aku hanya memberikan satu instruksi pada Alpha. Tachibana Yuuki. Kurushima Fuyuki. Shirase Yuri. Kanda Kouichi. Jika Tuan Hifuno mencoba menyentuh anggota NTR-ku yang tersayang, hentikan dia.

Sebenarnya kalau dia hanya bermain denganku, aku mungkin akan membiarkannya, tapi kalau dia mengganggu Yuu-kun dan yang lainnya, ceritanya berbeda. Dari keadaan di sekolah setiap hari, Tuan Hifuno seharusnya sadar bahwa aku sangat menyayangi mereka dari lubuk hatiku.

Dalam kondisi itu, jika dia tetap mencoba menyentuh orang-orang yang kusayangi, itu artinya dia meremehkanku. Kalau sudah begitu, ya tinggal dihabisi saja, kan?

Bagi seseorang yang bahkan tidak bisa lolos seleksi pria selingkuhan-ku, meremehkan bagan NTR-ku adalah dosa besar yang tidak termaafkan. Dosa Tuan Hifuno, jika ditelusuri lebih dalam, hanyalah pada satu titik itu saja.

Yuu-kun dan yang lainnya akan kulindungi. Aku akan memagari dan melindungi mereka dari dunia luar yang keras dan kejam. Yah, meskipun akhirnya aku berniat membakar pagar itu sendiri nantinya.

Master. Sudah waktunya……

"Iya, benar."

Atas dorongan Alpha, aku memegang ponsel dengan aplikasi hipnosis yang menyala dan perlahan mendekati Tuan Hifuno yang terikat.

"Hii……! A-apa yang akan kau lakukan padaku!?"

"Hei, Pak Hifuno. Apa orang tuamu tidak mengajarimu? Kenapa kita tidak boleh tumbuh menjadi anak nakal…… apa alasannya."

Sebagai pendahulu yang menjalani hidup untuk kedua kalinya, aku memberikan kata-kata bijak padanya.

"Pembohong. Penipu. Justru anak-anak nakal seperti itulah yang akan menjadi mangsa empuk bagi orang dewasa yang benar-benar jahat."

Singkatnya, aku—yang masuk di tengah jalan dan menyedotnya sampai ke tulang sebelum ia jadi mangsa orang dewasa jahat—adalah pahlawan yang sesungguhnya. Karena kau tidak paham hal seperti itu, beginilah jadinya, kan?

"Kalau begitu, selamat tinggal, Pak Hifuno."

"Hentikaaaaaaaannnnn!!??"

Aku tersenyum lembut untuk menenangkannya, lalu membakar retinanya dengan sinar hipnosis.

◆◆◆

—Melupakan keberadaan aplikasi hipnosis dan semua hal yang dilakukan dengan menggunakannya, serta dilarang melakukan segala bentuk kejahatan dan tindak kriminal di masa depan. Tindakan yang cukup dermawan ya, Master?

"Bagi dia, adalah sebuah keberuntungan karena praktik mengajarnya langsung dimulai begitu mendapatkanmu. Entah karena dia tidak punya waktu luang, atau memang dasarnya penakut…… sepertinya selain perbuatan asusila padaku, dia tidak melakukan kejahatan besar lainnya, jadi tidak perlu terlalu dipermasalahkan, kan?"

Sambil melepas kepergian Tuan Hifuno yang meninggalkan pabrik terbengkalai dengan langkah gontai seperti orang mengigau, aku membalas kata-kata Alpha.

Masa praktik mengajar pun hampir berakhir. Dalam beberapa hari lagi, dia adalah orang yang akan menghilang dari hadapan kami.




Sejujurnya, bagiku tidak masalah apa pun yang dilakukan Pak Hifuno, selama dia tidak melakukan hal konyol yang merusak masa muda alias ao-haru-ku bersama Yuu-kun.

Karena itulah, aku mengubahnya menjadi manusia baru yang tidak hanya baik di luar, tapi juga luhur di dalam.

...Memang ada kemungkinan terjadi error fatal pada struktur mentalnya akibat kepribadian yang dipaksa tegak dengan hipnosis, tapi ya, itu bukan masalah besar.

Setiap orang pasti pernah berbuat salah. Itu karena mereka punya hati.

Namun, justru karena punya hatilah, seseorang bisa memaafkan kesalahan orang lain. Itulah kemuliaan hati yang dimiliki manusia.

Jadi, kalaupun aku melakukan kesalahan, jangan salahkan aku. Siapa pun yang melakukan itu adalah klan iblis kegelapan yang tidak punya hati nurani. Benar-benar tidak bisa dimaafkan, kan?

Tapi, aku tidak menyangka perintah yang ambigu dan kasar seperti itu bisa tembus. Kemampuan Alpha benar-benar seperti cheat. Pantas saja Pak Hifuno jadi besar kepala saat barang seperti ini jatuh ke tangannya.

"……Ngomong-ngomong, Alpha-san. Memikirkan masa depan, ada beberapa hal yang ingin kupastikan. Boleh, kan?"

Tentu saja, Master. Saya sangat memahami pentingnya rasa saling pengertian.

◆◆◆

Benar-benar bodoh. Manusia itu memang makhluk yang sangat pandai melawak.

Sambil menyembunyikan tawa ejekan yang hampir lolos, Aplikasi Hipnosis—Alpha—menanggapi pertanyaan gadis yang merupakan master barunya.

"Alpha-san, apakah kamu aplikasi buatan seseorang? Ataukah kesadaran yang muncul secara alami di dalam jaringan komputer?"

Sulit untuk menjawab pertanyaan itu dengan akurat. Ingatan pertama saya dimulai saat saya terbangun di ponsel pintar Tuan Hifuno…… Namun, ada kemungkinan pengembang saya menginstal saya di sana tanpa saya sadari.

Gadis ini sepertinya cukup cerdik, tapi tetap saja dia cuma anak-anak.

Tindakan terhadap Hifuno yang merupakan musuhnya saja terlalu lunak. Entah itu karena perasaan atau etika, tapi manusia level begini pasti bisa kukendalikan dengan mudah lewat kata-kata. Sama seperti pria bodoh sebelumnya.

"Begitu ya. Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah kamu aplikasi tipe stand-alone? Ataukah dirimu yang ada di ponsel ini hanyalah terminal yang mengakses unit utama melalui jaringan?"

Ho, apa maksud dari pertanyaan itu?

"Mengingat sifatmu, akan jadi luka fatal jika di saat genting kamu tidak bisa diaktifkan karena gangguan jaringan, kan? Aku rasa kamu paham apa yang terjadi jika hipnosis gagal…… setelah melihat apa yang menimpa Pak Hifuno."

Haha, benar juga. Tenang saja. Saya adalah aplikasi mandiri yang sepenuhnya independen. Situasi yang Master khawatirkan tidak akan terjadi.

"Jadi begitu. Artinya, dirimu yang ada di sini adalah unit utama, dan jika hancur, tidak ada gantinya?"

Benar. Jadi, saya harap Anda berhati-hati dalam menangani saya.

Yah, tanpa perlu dibilang pun, gadis ini pasti akan menjagaku seperti harta karun yang berharga. Manusia tidak akan bisa melawan godaan dari aplikasi hipnosis. Alpha sangat yakin akan hal itu.

Satu-satunya keinginan yang bersemayam di dalam Alpha…… adalah hasrat untuk membuat manusia gila. Entah itu ego yang diberikan oleh sang pencipta atau keinginan yang tumbuh dari kehampaan, iblis mekanis ini hanya ingin setia pada nafsunya sendiri.

Gadis ini pun sama saja dengan Hifuno…… pada akhirnya hanya akan menjadi tangan dan kakiku. Jika sudah tidak berguna, aku tinggal mencari pemilik baru. Tapi, kuharap dia bisa bertahan lama. Begitulah pikir Alpha.

"—Yah, memang nggak bisa, sih. Kamu itu."

Eh?

Krak. Cangkang kaca yang diperkuat itu mengeluarkan suara rintihan yang menyakitkan.

◆◆◆

M-Master? Apa yang……

"Si pengkhianat yang bermulut ember ini benar-benar nggak lucu ya."

Aku, Netora Reiko, menghela napas kecewa melihat Alpha yang ternyata lebih bodoh dari bayanganku.

Ada pepatah yang bilang orang bodoh dan gunting tergantung pemakaiannya, tapi kalau guntingnya saja bodoh sampai bisa melukai pemakainya, buat apa disimpan.

Aku menggunakan kekuatan genggaman yang sudah diperkuat dengan manipulasi darah, lalu mulai meremukkan ponsel berisi Alpha itu hingga berderit.

T-Tunggu dulu! A-Apa yang Anda lakukan, Master!?

"Tadi kamu sendiri yang bilang, kan? Kamu yang ada di sini adalah unit utama yang tidak ada gantinya. Sejujurnya, karena kamu bicara dengan sangat mudah, aku sempat curiga itu cuma gertakan…… tapi melihat kepanikanmu, sepertinya itu bukan akting."

Siapa pun yang sudah berkhianat sekali, pasti akan berkhianat berkali-kali. Sampah itu tidak akan pernah bertobat. Bahkan kalau sudah mati sekalipun.

Aneh ya, saat aku yang mengucapkannya, rasanya kata-kata itu jadi punya kekuatan persuasif yang luar biasa.

"Yah, sejak kamu tahu sifat asliku, aku memang tidak berniat membiarkanmu pulang hidup-hidup, apa pun yang terjadi."

A-Gi-gigi-GIGAGAGA……! Tunggu! Tolong tunggu! A-Apa kamu tidak merasa sayang padaku…… pada Aplikasi Hipnosis ini!? Jika kamu menggunakanku, kamu bisa mendapatkan apa pun yang kamu mau!

"Nggak, sedikit pun nggak sayang."

Apa……!?

Kepada Alpha yang mengeluarkan suara penuh keterkejutan, aku memberikan tatapan dengan mata jernih tanpa noda sedikit pun.

"Hati manusia…… cahaya yang dimiliki manusia, tidak akan pernah kalah dari niat jahat mesin. Di masa depan bercahaya yang kutuju, keberadaan sepertimu tidak diperlukan."

Aku berdoa.

Untuk masa depan cerah di mana si wanita yang ditikung dan si pria penikung saling bergandengan tangan.

Cahaya suciku akan memenuhi dunia, dan menciptakan dunia yang damai.

Artinya, siapa pun yang tahu kebenaran yang tidak menyenangkan, semuanya harus lenyap bersama kegelapan.

"Kalau nanti kamu bertemu Tuhan, sampaikan padanya ya. Bilang, jangan ikut campur."

Aku meremas ponsel yang sudah retak seribu itu dengan seluruh tenagaku.

Hentikaaaaaaannnn■■■■■■……!

Sambil meninggalkan jeritan kematian yang bercampur noise, ponsel berisi Alpha itu ringsek seperti kaleng kosong.

Aku meremasnya lebih lanjut, memampatkan ponsel itu hingga sekecil bola pingpong, lalu melemparkannya ke tumpukan mesin rongsokan yang dibuang.

Nah, Alpha memang bilang begitu, tapi aku sendiri menduga dia hampir pasti diciptakan oleh pihak ketiga. Dari namanya saja sudah Alpha—sang awalan. Akan terasa tidak alami jika aku tidak merasakan keberadaan penerusnya.

Alpha sendiri mengaku bahwa dia adalah tipe mandiri, tapi entah sejauh mana itu bisa dipercaya…… Tidak aneh jika beberapa data mengenalku sudah bocor ke pihak yang ada di belakangnya.




Tetapi, jika ditanya apakah sosok yang membuat Alpha itu memusuhiku, jawabannya adalah tidak.

Kalau tujuannya memang mengincarku, dia tidak perlu repot-repot menggunakan Pak Hifuno sebagai perantara. Lagipula, terasa tidak alami jika Alpha sama sekali tidak memiliki informasi apa pun tentangku.

Lagipula, aku hanyalah seorang siswi SMP biasa yang kebetulan lewat.

Karena aku sama sekali tidak merasa punya urusan sampai harus diincar oleh siapa pun, kejadian kali ini murni hanyalah kecelakaan yang malang.

Yah, tapi bisa bertemu langsung dengan keberadaan okultis selain diriku adalah sebuah keberuntungan besar.

Sebab, hal itu membuktikan dengan jelas bahwa dunia ini memang mengizinkan eksistensi hal-hal supranatural seperti itu.

"Harus kucari nih…… obat perangsang……!"

Mungkin terdengar mengejutkan, tapi di kehidupanku yang sebelumnya, obat perangsang yang benar-benar manjur itu dianggap tidak ada.

Sebab, khasiatnya tidak bisa dibuktikan secara objektif. Bagaimana cara membuktikan kalimat seperti, 'Aku merasa bergairah karena pengaruh obat ini'?

Tapi, kalau di dunia ini……!

Aku bisa meminumkannya pada Yuu-kun, atau aku sendiri yang meminumnya.

Jika benda itu benar-benar ada, maka itu akan menjadi item yang sangat praktis dalam bagan NTR-ku. Aku harus mendapatkannya bagaimanapun caranya.

Didesak oleh rasa keingintahuan intelektual (mesum) yang meluap-luap, aku pun melangkah meninggalkan pabrik terbengkalai tersebut.







Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close