NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

TS Tensei Bishoujo Netora Reiko wa Netoraretai Volume 1 Short Story

Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Begitulah Kata Netora Ontora


Dan sekarang, saatnya bonus untuk kalian yang sudah membeli edisi e-book!

"Yo, apa kabar? Reiko Netora di sini."

"Ini hitungannya kayak bonus track, paham kan? Mirip film anime original yang bikin penonton mikir, 'Lho, kalau orang ini ada di tim, bukannya berarti bos itu sudah kalah? Terus jagoannya sudah awakening, tapi si brengsek itu kok masih hidup? Ini garis waktunya gimana, sih?'"

"Dengar ya, jangan dipikirkan hal-hal sepele begitu. Lihat situasi dong, oke? Read the room."

Aku menghempaskan diri ke kursi lipat di ruang klub sastra, memulai obrolan.

"Hmph... Mumpung ada kesempatan, boleh jugalah ya perkenalan diri sedikit, ala-ala di balik layar gitu. Enggak sering-sering kan kalian dapat momen komentar karakter kayak begini."

Aku mengacungkan jempol ke arah dadaku sendiri sambil menyeringai.

"Reiko Netora."

"Satu-satunya protagonis sekaligus avatar kalian di cerita ini. Itulah aku, Sayang."

"Gadis pekerja keras yang penuh gairah dan pantang menyerah demi impian, pahlawan cahaya bersinar yang diakui semua orang sebagai perwujudan dari persahabatan, usaha, dan kemenangan. Pasti kalian merasa sangat relate denganku, kan? Ayo, puji aku sepuasnya!"

"Ngomong-ngomong, hari ini kami ada pertemuan klub sastra, tapi Yuu-kun dan Yuri-chan agak telat karena ada urusan."

Karena merasa bosan setengah mati, aku mengambil buku asal dari rak ruang klub dan mulai membolak-baliknya tanpa benar-benar membacanya.

"...Sumpah, aku enggak pernah menyangka hal ini bakal benar-benar jadi buku."

Pikiranku melayang kembali ke bagaimana semua ini bisa terjadi.

"Cerita ini dipungut dari ajang HJ Novel Award, mengubah web novel-ku jadi buku beneran. Tapi, yah, kalian tahu sendiri kan versi web-nya itu... anggap saja unik. Ibarat bikin pesta BBQ di halaman belakang rumah orang tanpa izin. Ya, aku enggak bakal jelasin lebih detail—pikirkan saja sendiri. Read the room."

"Waktu kontrak bukunya deal, orang-orang di sekitarku pada bilang, 'Kamu serius?' atau 'Bebaskan keluarga para juri!'. Mereka benar-benar berpesta pora di internet. Tenang saja, Kawan—para sanderanya sudah bebas sekarang."

Aku menutup buku itu—lagian aku tidak bisa fokus—dan menatap langit-langit sambil menghela napas pendek.

"...Entah rencana besarku untuk merusak otak Yuu-kun dengan aura NTR bakal tercapai atau tidak, aku pun tak tahu."

"Bagaimanapun, ini kan karya komersial. Kalau aku enggak bisa kasih makan editor-ku, Pak A, mungkin aku harus membelah perutku sendiri secara jantan, paham kan?"

"Tapi aku tidak akan menyerah. Tak peduli seberapa terjal jalannya, aku akan terus merangkak maju."

"Ini ceritaku, dan aku punya tanggung jawab moral sebagai penciptanya, kalian paham kan maksudku?"

"Hasrat membara untuk menghancurkan kewarasan manusia dan menjerumuskan mereka ke dalam keputusasaan... tak ada yang boleh merenggut kebebasan itu dariku. Aku takkan memaafkan monster keji mana pun yang mencoba menginjak-injak kebebasan orang lain. Hargai diversitas, sialan! Jangan diskriminasi aku!"

Pendirianku tidak berubah, entah di kehidupan lalu atau sekarang. Aku akan terus maju sampai tindakanku membuahkan hasil.

Aku mencengkeram pergelangan tangan kananku dengan tangan kiri, menatap tajam ke arah langit biru di balik jendela.

"Tak peduli zamannya, aku akan selalu mengejar kebebasan. Itulah artinya menjadi—"

"Rei-chan, maaf kami telat!"

"A-anu, tadi kami ditahan sebentar oleh guru..."

Wah, itu Yuu-kun dan Yuri-chan.

Begitu mereka berdua mendobrak pintu ruang klub, aku langsung memasang senyum yang sangat menyilaukan.

"Hei, semangat ya kalian berdua! Aku juga baru sampai kok, jadi enggak perlu buru-buru."

Senyum malaikatku membuat mereka luluh, seolah mereka baru saja menggigit buah yang sangat manis.

Ya ampun, orang-orang ini manis sekali... Kalau aku bisa menutupi mata mereka dengan keputusasaan, mereka pasti akan berkilau lebih indah dari permata mana pun. Benar-benar menggoda.

Dan begitulah, sementara aku sibuk menyusun rencana untuk menyeret orang-orang baik yang menggemaskan ini ke dasar neraka, pertemuan klub sastra pun dimulai.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close