Kata
Penutup
Salam kenal untuk semuanya. Nama saya Nihonme Kaiten Man.
Saya merasa sangat terhormat bisa memenangkan penghargaan dalam kategori
"Let's Become Novelists" pada ajang HJ Novel Award ke-4 periode awal.
Besar harapan saya agar kisah ini—sebuah komedi romantis
masa muda yang menyegarkan tentang Reiko Netora, gadis yang berjuang keras
mengejar impian masa kecilnya, serta orang-orang baik hati yang
mendukungnya—bisa berkesan di hati kalian semua.
Biasanya, bagian "Setelah Kata" adalah tempat
bagi penulis untuk membocorkan rahasia di balik layar karyanya. Namun, sebelum
masuk ke sana, izinkan saya menyampaikan rasa terima kasih terlebih dahulu.
Pertama, kepada tim editorial HJ Bunko dan HJ Novels
yang terlibat dalam proses seleksi. Saya benar-benar minta maaf karena
telah membuat kegaduhan selama penjurian akhir. Berkat ketajaman mata kalian,
buku ini akhirnya bisa terbit ke dunia. Saya sangat berterima kasih. Jika karya
ini sampai dituntut, tolong temani saya melakukan seppuku.
Kepada
editor saya, Pak Araga. Saya tidak bisa cukup berterima kasih atas kesabaran
Anda dalam menghadapi amatir seperti saya. Bekerja dengan Anda menyadarkan saya
bahwa novel-novel yang biasa saya baca ternyata dibuat dengan darah, keringat,
dan air mata para editor. Saya berdoa saat buku ini sampai di rak toko, sebuah
S●itch 2 sudah ada di tangan Anda (sebagai catatan, saya sendiri belum
mendapatkannya). Jika karya ini sampai dituntut, tolong temani saya
melakukan seppuku.
Kepada ilustrator, Pote Satou-sensei, yang telah
memberikan desain karakter yang luar biasa cantik. Momen saat saya melihat para
karakter "hidup" dalam ilustrasi Anda adalah sesuatu yang takkan
pernah saya lupakan. Terima kasih banyak. Satou-sensei tidak lain adalah rekan
kreator Reiko Netora. Saya akan berusaha lebih keras agar perwujudan Reiko ini
tidak menjadi "tato digital" yang Anda sesali di masa depan.
Dan untuk para pembaca yang telah mendukung karya ini
sejak masih berupa web novel. Kata-kata hangat kalian untuk cerita
ini dan untuk Reiko telah menjadi bahan bakar utama bagi saya untuk terus
menulis. Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada mengetahui kalian akan
terus menyemangatinya saat ia melompat dari dunia internet ke dunia nyata. Jika karya ini sampai dituntut, tolong bela karya ini di forum anonim
dan media sosial.
Nah, ini dia bagian puncaknya. Editor saya, Pak
Araga, menuntut lima halaman penuh untuk bagian "Setelah Kata" ini.
Jumlah teks ini bahkan lebih banyak daripada cerita pendek eksklusif untuk
edisi e-book! Rasanya mau gila saja. Jadi, bertahanlah bersama saya
selagi saya menghabiskan tiga halaman sisa untuk membocorkan rahasia dapur.
Mari kita putar balik waktu ke tiga tahun lalu, musim
panas 2022. Saat semua orang kepanasan karena suhu rekor tertinggi, web
novel yang menjadi cikal bakal buku ini mulai diunggah diam-diam di sudut
internet. Sebelumnya, saya lebih banyak menulis high fantasy, jadi rom-com
sekolah dengan latar Jepang modern adalah percobaan pertama saya di genre ini.
Saat menulis—bukan cuma cerita ini, tapi secara umum—saya
punya prinsip utama: hindari poin plot yang membuat pembaca merasa sakit atau
menderita. Tentu, skenario dramatis di mana protagonis menderita akibat rencana
jahat musuh atau diperlakukan tidak adil bisa menjadi tensi yang penting. Tapi
sebagai pembaca sekaligus penulis, melihat karakter yang sudah kita sayangi
mengalami penderitaan yang menguras emosi itu sangat melelahkan. Memulihkan
energi emosional itu tidak mudah, apalagi dalam web novel di mana
pembaca bisa berhenti kapan saja.
Karena cerita ini berlatar di Jepang modern, kemalangan
yang digambarkan berisiko terasa terlalu nyata dan mentah. Nasib buruk yang
salah penanganan bisa membuat pembaca menjauh, dan saya bisa membayangkan
banyak orang meninggalkan cerita ini karenanya. Saya ingin protagonis saya
berada di dunia yang lembut dan empuk, terlindung dari ancaman—sebuah filosofi
yang mungkin bentrok dengan nilai hiburan tertentu, tapi saya rasa beberapa
dari kalian merasakan hal yang sama.
Di sisi lain, saya punya sebuah pengakuan: saya suka
karakter gadis brengsek. Kalian tahu tipenya—gadis yang memanfaatkan
orang-orang baik yang polos demi keuntungan sendiri, benar-benar tidak punya
empati. Tapi jika saya menaruh monster seperti itu ke dalam cerita, sang
protagonis pasti akan hancur lebur. Bahkan jika mereka akhirnya menang melawan
kejahatan, perjalanannya akan menjadi rentetan kejadian yang menyakitkan. Itu
tidak boleh terjadi—itu melanggar prinsip saya.
Lalu, sebuah inspirasi muncul. "Bagaimana kalau si
brengsek yang keterlaluan itu kujadikan protagonisnya saja, lalu dikelilingi
oleh orang-orang yang baik?" Dan begitulah Reiko Netora, sang pahlawan
wanita dalam cerita ini, lahir.
Saya rasa jumlah halamannya sudah terisi dengan cukup
baik, jadi saya akan mengakhiri obrolan di balik layar ini di sini.
Saat saya menulis ini, belum jelas apakah buku ini akan mendapatkan sekuel atau tidak. Memang ada angka "1" di pojok kanan bawah sampulnya, tapi siapa yang tahu? Mungkin itu tergantung pada angka-angka milik orang dewasa dan apakah karya ini tidak dituntut nantinya. Jika ada kesempatan berikutnya, saya berharap bisa bertemu kalian lagi di "Setelah Kata" lainnya. Sampai jumpa!



Post a Comment