Chapter
2
Korban
yang Terus Bertambah
Jadi, sekarang kita masuk ke babak masa SMP.
Hari ini cuaca sangat bersahabat, benar-benar hari
yang sempurna untuk upacara penerimaan siswa baru.
Setelah mengenakan seragam pelaut yang masih baru,
aku bersama ibu pergi menjemput Yuu-kun.
Begitu aku menekan bel rumahnya, tak lama kemudian
Yuu-kun yang mengenakan gakuran muncul dari balik pintu bersama ibunya.
"Selamat pagi, Yuu-kun! Tante!"
"Selamat
pagi, Reiko."
"Selamat
pagi, Reiko-chan. Aduh, ampun, kamu cantik sekali memakai seragam pelaut
itu~"
"Ufufu, terima kasih. Yuu-kun juga terlihat sangat
keren memakai seragam itu ♪"
"I-iya. Terima kasih..."
Menerima pujian langsung dariku ditambah serangan telak
dari penampilanku yang imut dengan seragam pelaut ini, pipi Yuu-kun langsung
merona merah sejak pagi buta.
Aaah~~ Rasanya ingin segera menghancurkan otak Yuu-kun
yang imut ini~~
Ngomong-ngomong, soal Yuu-kun yang jadi keren itu memang
kenyataan.
Mungkin sejak pertengahan kelas 6 SD. Entah perubahan apa
yang terjadi pada mentalnya, dia tiba-tiba mulai serius belajar dan olahraga.
Ditambah lagi dia sedang dalam masa pertumbuhan, tubuhnya
yang dulu agak berisi kini berubah menjadi tinggi dan berotot. Tahu-tahu dia
sudah menjadi anak laki-laki yang berpenampilan rapi.
Dia juga mulai memperhatikan gaya dan perawatan diri,
jadi bisa dibilang dia sudah menjadi pemuda yang cukup tampan.
...Atau mungkin lebih tepat disebut "terlanjur
tampan".
Jujur, bagiku Yuu-kun yang penampilannya cupu seperti
dulu jauh lebih menguntungkan.
Aku sudah mencoba menggoyahkannya dengan kata-kata manis
seperti "Jangan memaksakan diri" atau "Yuu-kun yang apa adanya
saja sudah cukup, lho."
Tapi dia malah menepisnya dengan berkata, "Ini
persiapan penting supaya aku bisa terus berdiri di samping Reiko." Cih.
Karena aku menyerah membujuknya untuk kembali seperti
dulu, aku mengubah taktik dan memilih untuk menanam budi padanya.
Aku membimbingnya soal selera berpakaian, perawatan
kulit, bahkan menemaninya joging. Aku tidak segan-segan membantu Yuu-kun
menjadi pria tampan.
"Hah...! Hah...!"
"Ayo, Yuu-kun! Satu putaran lagi! Semangat ❤️ Semangat ❤️"
"Re-Reiko... semangatmu itu rasanya agak
aneh..."
"Laki-laki juga harus pakai tabir surya, tahu? Sini,
biar kupakaikan. Hadap sini?"
"G-geli, Reiko..."
Sambil menyelam minum air, aku memanfaatkan "Proyek
Pengembangan Yuu-kun" ini untuk bermesraan demi menabung poin kesukaan
darinya.
Tentu saja, ini semua hanyalah foreshadowing
sebelum penghancuran mental dimulai.
Berkat kerja kerasku, Yuu-kun sukses menjadi pria tampan.
Biasanya kalau seseorang mendadak percaya diri dengan
penampilannya, dia akan menjadi sombong.
Namun berkat hasil cuci otak... maksudku hasil didikanku,
sifatnya tetap rendah hati dan lembut. Yah, namanya juga calon pria yang akan
direbut kekasihnya.
Sementara aku bernostalgia, upacara penerimaan siswa baru
berjalan dengan lancar.
Setelah mendengarkan pidato template dari kepala
sekolah dan melakukan sesi foto kelas, kami pun diperbolehkan pulang saat siang
hari.
"Senang ya kita bisa sekelas lagi, Yuu-kun!"
"Iya, aku juga senang bisa sekelas lagi dengan
Reiko."
Setelah pulang, aku dan ibu makan siang bersama
Yuu-kun dan tanteku di sebuah restoran keluarga.
Karena hubungan kami sangat akrab, keluarga Netora
dan keluarga Tachibana menjalin hubungan yang sangat baik antar keluarga.
Bahkan ibu Yuu-kun tampaknya sudah menganggapku
sebagai calon menantunya di masa depan, dan aku pun melakukan roleplay
sekuat tenaga untuk itu.
Yah, pada akhirnya aku berniat merebut dirinya dengan
cara yang paling kejam dan menghancurkan otak Yuu-kun sampai berkeping-keping.
Hubungan kedua keluarga kami pasti akan menjadi sangat
canggung nanti. Aku benar-benar wanita pembawa bencana.
"Fuyuki-kun juga sekelas dengan kita, jadi mari kita
berjuang bertiga lagi ya ♪"
"Benar juga. Syukurlah aku tidak sendirian di kelas
lain. Kalau tidak ada kalian berdua, mungkin aku tidak bisa mencari
teman..."
"Duh, jangan bicara lemah begitu. Yuu-kun kan punya
banyak kelebihan, jadi meski tidak ada aku atau Fuyuki-kun, kamu pasti bisa
punya banyak teman baru."
Sebagai orang yang dicintai oleh Dewa NTR, tentu saja aku
berhasil mendapatkan kelas yang sama dengan Yuu-kun.
Yah, kalaupun kelas kami terpisah, aku masih punya banyak
cara lain, tapi kalau sekelas tentu akan lebih mudah.
Ditambah lagi Fuyuki-kun, sang kandidat sahabat perebut
kekasih, juga berada di kelas yang sama. Benar-benar sebuah keberuntungan.
Aku akan memperbanyak kesempatan untuk kami bergerak
bersama dan membentuk cinta segitiga yang rumit.
Persiapkan mental kalian. Dalam waktu dekat, kekasih
kalian akan direbut.
Aku akan menanamkan trauma. Aku akan mengirimkan video
pesan tanpa ampun. Bersiaplah untuk menangis tersedu-sedu!
Kamu adalah pria yang akan direbut. Nantikanlah saat
otakmu hancur lebur nanti. Mengerti!?
"...Ngomong-ngomong, Yuu-kun? Apa tidak ada yang
ingin kamu katakan padaku?"
"Eh?"
"Ih... padahal aku sudah berusaha tampil maksimal
hari ini, tahu?"
Sambil berkata begitu, aku menggembungkan pipi seolah
merajuk dan memainkan pita seragamku dengan sengaja.
Akhirnya, Yuu-kun menyadari apa yang kuinginkan. Sambil menggaruk pipi dengan malu-malu, dia pun bicara.
"...Anu, Reiko."
"Iya. Ada apa?"
"Se-seragamnya. Sangat cocok untukmu."
"...Cuma itu?"
"Uu... ka-kamu terlihat sangat cantik."
"Hmph, bagus."
Mendengar kata-kata Yuu-kun, aku tersenyum puas.
Melihat hal itu, ibu dan tante pun mulai cekikikan.
"Aduh, aduh... sepertinya Yuuki bakal jadi
suami-suami takut istri di masa depan nanti ya~"
"Maafkan putriku ya. Yuuki-kun, kalau kamu tidak
suka, katakan saja dengan tegas. Anak ini sepertinya lebih suka tipe
yang agresif."
"I-Ibu! Jangan bicara yang aneh-aneh pada
Yuu-kun!"
Maaf ya, Ibu. Itu kan masalah selera dalam skenario
NTR-ku nanti.
Beberapa hari setelah kehidupan SMP dimulai.
Aku sedang asyik mengobrol dengan teman-teman
perempuan di kelas saat jam pulang sekolah.
"Reiko-chan, sudah menentukan mau masuk klub
apa?"
"Hmm, sebenarnya aku masih bingung. Aku berniat
masuk klub budaya, sih..."
Ke depannya, demi rute NTR, aku harus mengurung dua pria
tampan, Yuu-kun dan Fuyuki-kun.
Kalau aku melakukannya secara biasa, aku pasti akan
dicemburui oleh para gadis.
Demi menghindari masalah yang tidak perlu, aku
menggunakan kemampuan komunikasi yang kupupuk di kehidupan sebelumnya untuk
segera masuk ke jajaran atas hierarki sekolah.
Bukan tanpa alasan aku di kehidupan sebelumnya sering
merebut pacar orang. Heh, dasar sampah manusia.
"Eeeh? Padahal Reiko-chan kan jago olahraga, lho?
Sayang sekali, kan? Padahal kamu sudah diajak masuk klub basket dan voli oleh
para senior."
"Ahaha, yah, mungkin aku memang sedikit jago
olahraga, tapi aku merasa tidak punya tekad sekuat itu untuk menjadikannya
kegiatan klub."
"Halah, rendah hati sekali sih~"
Mendengar candaan salah satu gadis yang ceria itu, aku
hanya bisa tersenyum bingung.
Para gadis di sekitar dan para laki-laki populer yang
tidak canggung berkomunikasi dengan lawan jenis pun ikut menimpali, setengah
memujiku dan setengah menggodaku.
Dilihat sekilas ini adalah pemandangan yang menghangatkan
hati, namun di dalam otak aku menganalisis situasi dengan dingin.
Anak-anak pun bisa menghitung untung rugi.
Setelah aku memukul mereka dengan level kecantikan
wajah dan topeng kepribadian baik yang kupoles sejak kecil, sebagian besar
gadis di kelas memutuskan untuk tidak memusuhiku dan lebih memilih berada di
bawah naunganku demi keuntungan mereka sendiri.
Apalagi para laki-laki, tidak perlu ditanya lagi.
Saat aku sedang memikirkan hal itu, Fuyuki-kun, sang
kandidat sahabat perebut, dan Yuu-kun, pria tercintaku yang akan direbut, ikut
bergabung dalam percakapan kami.
"Yah, andai ada klub sepak bola putri, mungkin
aku bisa latihan bareng Reiko~"
"Reiko-chan dan Fuyuki-kun kan sering main sepak
bola bareng dulu."
"Kalian tahu tidak? Reiko itu, meski perempuan,
sebenarnya lebih jago main bola daripada aku, lho."
"Itu kan cerita lama. Sekarang aku mana mungkin bisa
menang melawan Fuyuki-kun."
"...Tapi serius, menurutku sayang sekali kalau Reiko
tidak ikut kegiatan olahraga. ...Atau begini saja. Bagaimana kalau kamu jadi
manajer klub sepak bola?"
Oho, ini dia aroma NTR yang harum.
Menjadi manajer klub sepak bola, lalu di belakang Yuu-kun
menjalin hubungan gelap yang becek dan menjijikkan dengan Fuyuki-kun...
sebenarnya aku tidak keberatan.
Tapi sayang sekali, aku tidak berencana untuk direbut di
masa SMP, jadi dengan berat hati aku menolaknya. Improvisasi yang ceroboh bisa
merusak rencana. Apa boleh buat.
"Hmm, manajer ya... Bukannya
aku tidak tertarik, sih..."
"Reiko-chan kan punya pengetahuan hebat soal
manajemen nutrisi dan coaching. Kalau jadi manajer, Fuyuki-kun dan semua
anggota klub pasti senang, kan?"
Yuu-kun, yang tahu aku punya banyak pengetahuan
semacam itu berkat "Proyek Pengembangan Yuu-kun", malah ikut
memberikan dukungan tembakan.
Dia sepertinya sama sekali tidak menyadari niat
terselubung Fuyuki-kun. Benar-benar ceroboh dan tidak peka, sangat cocok
menjadi pria yang akan direbut. Aku suka.
Memang benar, aku punya kepercayaan diri soal pengetahuan
coaching-ku.
Demi latihan khusus Yuu-kun, aku telah melahap banyak
buku referensi dan bahkan melakukan eksperimen pada tubuhku sendiri untuk
memastikan keamanannya.
Wanita bahan NTR kelas satu tidak akan berkompromi soal
pengetahuan. Yah, bukan berarti aku berniat memamerkannya, sih.
"Pengetahuanku soal coaching itu kan cuma
sekadar hobi. Tidak mungkin bisa menandingi guru pembimbing atau para senior
yang sudah belajar dengan serius. Maaf ya, Fuyuki-kun. Sepertinya aku tetap
akan masuk klub budaya saja. Lagipula hari ini aku berniat pergi
berkeliling melihat klub bareng Yuu-kun."
"Begitu ya. Yah, aku tidak bisa memaksa juga,
sih. Semoga kamu dan Yuuki bisa menemukan klub yang bagus
ya."
"Iya, terima kasih! Kalau begitu, ayo kita pergi,
Yuu-kun."
Setelah berkata begitu, aku menggandeng tangan Yuu-kun
dan melangkah keluar dari kelas.
"Re-Reiko. Kita kan sudah SMP, melakukan hal seperti
ini..."
"Tidak apa-apa. Aku
tidak keberatan."
"Ta-tapi aku yang merasa tidak enak..."
"............"
Fuyuki-kun menatap kepergian kami yang terlihat
sangat mesra dengan raut wajah yang pedih.
Wajah tampan yang sedang menderita itu benar-benar
menggoda. Terima kasih atas hidangannya.
◆◆◆
"...Haaah."
Aku—Fuyuki Kurushima, menghela napas panjang seolah ingin
membuang semua perasaan gelap yang mengendap di dasar hatiku saat melihat
punggung Yuuki dan Reiko menjauh.
Baik Yuuki maupun Reiko adalah teman yang berharga. Aku
benar-benar tulus memikirkan hal itu, dan aku pikir hubungan ini akan terus
berlanjut selamanya.
...Namun, melihat Reiko yang semakin hari semakin cantik,
dan Yuuki yang menjadi semakin kuat demi mengejar gadis itu, tanpa sadar aku
mulai menanam rasa iri yang bisa dibilang sebagai dendam sepihak.
Andai aku bertemu Reiko lebih dulu daripada Yuuki.
Andai akulah teman masa kecilnya, dan bukan Yuuki.
Mungkin orang yang menggandeng tangan kecil itu di
sampingnya sekarang adalah aku, bukan Yuuki.
Sambil merasakan rasa benci pada diri sendiri yang amat
sangat akibat pikiran kotor itu, aku pun mendongak menatap langit.
"Netora-san dan Tachibana-kun benar-benar akrab
sekali ya~"
"Iya nih, dengan jarak sedekat itu mereka pasti
sudah pacaran. Benar-benar terlihat seperti suami istri."
Begitu Yuuki dan Reiko keluar dari kelas, para gadis
yang tadi mengerumuni Reiko mulai bergosip.
Berhenti. Jangan biarkan aku mendengar hal-hal
seperti itu.
"Hei, hei, Kurushima-kun. Kamu satu sekolah dasar
kan dengan Netora-san? Apa mereka benar-benar pacaran?"
"...Ah, tidak. Mereka tidak seperti itu. Reiko hanya
terlalu memanjakan Yuuki secara sepihak saja. Hubungan mereka lebih terasa
seperti kakak dan adik daripada pacar."
Aku mengucapkan kata-kata buruk yang mencampuradukkan
kenyataan dan keinginan pribadiku itu sambil merasakan rasa benci pada diri
sendiri yang membakar.
◆◆◆
Aku—Yuuki Tachibana, punya teman masa kecil yang sangat,
sangat manis.
"Maaf ya sudah membuatmu menemaniku, Yuu-kun. Tapi,
kamu tidak perlu mengikutiku, lho. Pilih saja klub yang kamu suka."
Melihatnya tersenyum kecut seolah merasa bersalah di
sampingku, aku harus menggigit bagian dalam pipiku agar tidak terlihat seperti
orang bodoh karena terlalu terpesona.
Namanya Reiko Netora.
Seorang gadis yang sangat penting bagiku, yang telah
menghabiskan waktu bersamaku sejak taman kanak-kanak.
"Tidak, jangan dipikirkan. Aku juga berniat masuk
klub budaya, jadi aku terbantu bisa berkeliling bareng Reiko. Kalau sendirian,
aku mungkin akan sedikit malu untuk berkeliling melihat-lihat..."
"Haaah...
Yuu-kun? Sifat rendah hatimu itu memang bagus, tapi kita sudah SMP, jadi kamu
harus sedikit lebih agresif."
"Ahaha... yah, aku akan mencoba berusaha."
Sambil merasakan rasa sayang saat melihatnya
menggembungkan pipi karena jawabanku yang ambigu, aku berjalan menyusuri
koridor gedung klub tempat berbagai klub budaya berada.
"Bagaimana? Kita sudah berkeliling cukup banyak, apa
ada klub yang menarik perhatianmu?"
"Hmm, klub berkebun atau klub kerajinan tangan
sepertinya menarik, tapi aku bingung... Kalau Reiko bagaimana?"
"Aku? Aku... sepertinya... aku ingin masuk klub yang
sama dengan Yuu-kun saja~ ...He-bercanda..."
Melihat Reiko tertawa dengan malu-malu, dadaku rasanya
seperti diremas-remas.
Kalau ini bukan sekadar rasa percaya diri yang
berlebihan, sepertinya dia memang memiliki perasaan padaku... kurasa.
Tentu saja aku juga sangat menyukai Reiko, dan
dibandingkan dulu, aku sudah sedikit punya rasa percaya diri. Jika bisa, aku
ingin kami menjadi kekasih. Namun aku takut merusak hubungan "teman masa
kecil yang akrab" ini, sehingga aku tidak bisa melangkah lebih jauh.
"Kalau begitu, selanjutnya di sini."
Saat aku sedang berpikir, dia tiba-tiba berhenti.
Aku memeriksa papan nama di depan ruangan klub
tersebut.
[Literature Club]
Sebenarnya ini sedikit memalukan dan aku
merahasiakannya dari siapa pun kecuali Reiko dan Fuyuki, tapi sejak dulu aku
suka membaca kumpulan puisi dan lagu.
Karena itulah, klub sastra sebenarnya adalah target
utamaku.
"Permisi—"
Setelah mengetuk, Reiko membuka pintu ruangan klub.
"Hya-hyaii!?"
Sesaat setelah pintu terbuka, suara tumpukan sesuatu yang
roboh bergema di dalam ruangan.
Aku dan Reiko menoleh ke arah sumber suara—di sudut
ruangan klub.
Di sana, di tengah tumpukan buku yang roboh, ada sebuah
tangan kecil yang terulur ke atas, persis seperti salah satu adegan di film
zombie.
"To... tolong..."
Mendengar suara lirih dari balik tumpukan buku, kami pun
bergegas menghampirinya.
"Ma-maaf! Apa Anda tidak apa-apa!?"
"Yuu-kun, pokoknya ayo kita singkirkan buku-bukunya
dulu!"
Setelah melakukan proses "penggalian" selama
beberapa menit, aku dan Reiko berhasil menyelamatkan seorang gadis dari
tumpukan buku tersebut.
"Te-terima kasih. Tadi saya sedang merapikan rak
buku, tapi saya kaget karena ada orang datang..."
Gadis berkacamata yang sedang menyusutkan tubuhnya karena
merasa bersalah itu, sepertinya adalah anggota klub sastra.
Melihat pandangannya yang gemetar karena malu, aku
merasakan atmosfer pendiam yang membuatku merasa sangat akrab dengannya.
...Hmm? Tunggu, anak ini—
"...Lho? Kamu Shirase-san, kan? Yang sekelas dengan
kami."
"A...
i-iya. Benar. Anu, saya tidak menyangka kamu tahu nama saya..."
"Ya wajar saja, kan. Kita kan sekelas."
Mendengar kata-kata Reiko di sampingku, akhirnya aku bisa
mengingat wajah dan namanya.
Yuri Shirase.
Dia memang sekelas dengan kami, tapi... bagaimana ya, dia
anak yang kehadirannya tipis, dan ingatanku tentangnya hanya sebatas gadis
pendiam yang selalu membaca buku sendirian saat jam istirahat. Aku bahkan baru
tahu kalau dia anggota klub sastra.
"Wah, ternyata Shirase-san anggota klub sastra ya.
Aku baru tahu karena kita jarang bicara."
"I-iya... sejak dulu aku memang su-suka membaca.
Anu, aku pikir kalau bisa punya teman dengan hobi yang sama, aku bakal
se-senang..."
"Begitu ya! Aku juga cukup sering membaca buku, lho~
Duh, andai aku bicara dengan Shirase-san lebih awal."
"Be-benarkah?
...Anu, aku juga... sejak dulu... ingin mengobrol dengan Netora-san..."
Reiko
sama sekali tidak mendesak Shirase-san yang bicaranya terbata-bata, dia justru
mendengarkannya dengan senyum ceria. Rasanya seperti melihat diriku yang dulu
bersama Reiko, sangat menghangatkan hati.
Sepertinya
Reiko memang tipe orang yang tidak bisa mengabaikan anak-anak pemalu seperti
aku atau Shirase-san.
"—Ah!
Ngomong-ngomong, tadi tidak apa-apa? Di antara buku yang jatuh tadi ada buku
asing bersampul tebal yang cukup berat, lho... kepalamu tidak terbentur?"
"~~!?"
Reiko
yang terlihat khawatir menangkup pipi Shirase-san dan menatap wajahnya dari
dekat. Hal itu membuat wajah Shirase-san memerah padam dan dia sedikit mundur
ke belakang.
Iya, aku sangat mengerti perasaan Shirase-san. Aku juga
sering didekati wajahnya secara tiba-tiba oleh Reiko. Karena dia punya wajah
yang sangat cantik, rasanya tidak cuma senang, tapi benar-benar tidak baik
untuk kesehatan jantung.
"Hya-hyaii! Ti-tidak apa-apa k-kok!?"
"Benarkah? Hmm... tapi kalau kepala yang kena aku
takut terjadi apa-apa, jadi biar kupastikan sebentar ya?"
"Fue!? Ti-tidak usah! Tidak usah! Be-benar-benar tidak ada
yang..."
"Nah,
diam ya?"
"A-awawa...
ba-baunya harum sekali... fuhih."
Reiko memeluk kepala Shirase-san untuk memastikan apakah
ada luka atau tidak.
...Yah, karena sesama perempuan mungkin tidak perlu
dipermasalahkan, tapi dada Reiko yang mulai membesar itu benar-benar menempel
di wajah Shirase-san.
Bukannya aku iri, sungguh, tapi apa memang jarak sepasang
perempuan itu seperti ini ya? Napas
Shirase-san yang terdengar agak berat juga sedikit membuatku penasaran.
———— Slurp.
Tiba-tiba
saja, aku merasa mendengar suara seperti lumpur yang menggelegak dari arah
Reiko.
Yah, dia kan titisan malaikat suci, jadi telingaku pasti
sedang bermasalah. Abaikan saja.
Setelah melepaskan pelukannya, Reiko menggenggam erat
tangan kecil Shirase-san.
"Shirase-san. Aku sangat ingin bergabung dengan
klub sastra, boleh kan?"
"Re-Reiko?"
Reiko tiba-tiba memutuskan untuk masuk klub sastra.
Akibat tindakannya yang impulsif, wajah Shirase-san
memerah padam seperti apel. Dia sepertinya dihajar habis-habisan oleh jarak
kedekatan Reiko yang tidak normal sampai-sampai aku khawatir dia akan pingsan.
"A-awawawa... sa-saya sangat
menyambutnyaaa..."
Aku tidak tahu apa alasan utamanya bergabung, tapi
jika itu dia, pasti ada alasan mendalam yang tidak bisa kupahami.
Karena aku sangat memercayai matanya, ditambah
minatku pada klub sastra dan sedikit niat terselubung ingin berada di klub yang
sama dengannya, aku pun mengisi formulir pendaftaran klub sastra di tempat itu
juga.
"Target rute NTR lesbian berhasil
didapatkan......"
"Hmm, kamu bicara sesuatu? Reiko?"
"—Hmm? Aku tidak bicara apa-apa, kok?"
Saat aku merasa mendengar sesuatu, Reiko hanya
memiringkan kepalanya dengan imut. Benar-benar sangat manis.
◆◆◆
Sesuatu yang penting dalam NTR! Itu adalah
"Hati" yang memikirkan pasangan!!
Halo, aku Reiko Netora.
Mungkin kalian berpikir "beraninya mulut itu
bicara begitu", tapi ini adalah hal yang serius.
Dikhianati oleh orang yang tidak kita pedulikan, atau
dicaci maki lewat pesan video... itu hanya akan memicu amarah atau keinginan
membunuh.
NTR justru menjadi sebuah ruang penghancur otak yang
luar biasa karena adanya rasa cinta dan persahabatan yang telah dibangun antara
pria yang direbut dan wanita yang merebut. Itu adalah kosmos badai di dalam
roda gigi yang berputar.
Singkatnya, "Cinta" adalah hal yang krusial
dalam NTR. Mencintai seseorang dan menghancurkan otaknya adalah dua
sisi dari koin yang sama.
Aku sendiri mulai tidak paham dengan apa yang
kubicarakan, tapi intinya tujuanku adalah menuangkan "Racun Cinta"
kepada seseorang dan membuat mereka kecanduan padaku.
Dengan membuat mereka sangat bergantung pada cintaku, aku
bisa menumpulkan kemampuan berpikir dan penilaian mereka, sehingga hak atas
hidup dan mati mereka berada di tanganku. Itulah taktik dasarku untuk
mengendalikan segala sesuatu sesuai keinginanku.
Jangan biarkan hak atas hidup dan matimu dipegang orang
lain!
Begitulah peringatanku dalam hati. Karena sudah
kuperingatkan, jika nanti hak hidup dan matimu dipegang olehku, itu adalah
tanggung jawabmu sendiri. Aku sudah benar-benar gila. Yah, tidak aneh juga sih
sekarang.
Nah, saat aku sedang meniti garis antara kewarasan dan
kegilaan itu, aku berhasil menemukan mangsa baru (kandidat pria perebut) tak
lama setelah kehidupan SMP dimulai.
◆◆◆
Aku—Yuri Shirase. Sejak kapan ya aku mulai merasa tidak
nyaman dengan anak laki-laki?
Mungkin sejak masa TK, saat Kazu-kun tetanggaku mengejek
kacamataku.
Mungkin sejak masa SD, saat teman laki-laki sekelas
menyembunyikan bukuku sebagai bahan candaan.
Atau mungkin saat aku memasuki masa pubertas, dan mulai
merasakan tatapan menjijikkan ke arah dadaku yang mulai membesar tanpa alasan.
Satu per satu mungkin hanyalah luka kecil yang sepele,
tapi rasa benci yang menumpuk perlahan itu menyatu dengan hati yang sensitif di
masa remaja, tumbuh menjadi ketakutan ringan terhadap laki-laki.
Lama-kelamaan, sikap orang-orang di sekitarku berubah
seperti sedang menghadapi barang pecah belah. Bukannya aku dirundung, tapi
lebih ke arah "dia orang yang merepotkan, jadi sebaiknya jangan terlibat
terlalu dalam". Aku pun merasa, jika ada orang sepertiku di dekatku, aku
pasti akan melakukan hal yang sama.
Setelah menjadi siswi SMP, aku mulai berjalan membungkuk
demi menyembunyikan lemak di dadaku yang selalu menarik perhatian menjijikkan
dari sekitar. Aku pun menenggelamkan diri ke dunia buku seolah menolak kontak
yang tidak perlu dari dunia luar.
Buku itu luar biasa. Mereka tidak akan mengatakan hal-hal
jahat padaku, dan tidak akan mengejekku meski aku bicara terbata-bata atau
tidak mahir mengobrol. Mereka memberiku cerita dan pengetahuan sebanyak yang
kuminta. Selama ada buku, aku tidak butuh teman. Mungkin itu hanya gertakan,
tapi aku merasa itu bukan kebohongan.
"Semuanya, selamat pagi—!"
...Bahkan orang sepertiku pun memiliki sosok yang
dikagumi.
Hanya dengan dia melangkah masuk ke kelas, suasana
seketika berubah menjadi terang dan ceria.
Kulit putih tanpa noda dengan rambut hitam yang berkilau.
Fitur wajah yang rupawan serta sepasang mata besar yang indah.
Sambil menyembunyikan pipi yang memanas dan detak jantung
yang kian cepat di balik buku, aku mencuri pandang ke arahnya yang baru saja
masuk.
——Namanya Reiko Netora-san.
Dia idola semua orang; cantik, baik hati, namun tetap
ramah dan tidak sombong... Sosok sempurna yang seolah melompat keluar dari
sebuah cerita ini dalam sekejap menjadi dambaan bagiku.
Aku tidak berani bermimpi muluk untuk menjadi
sepertinya. Namun, jika aku bisa berteman dengannya... itu saja pasti sudah
menjadi kenangan terbaik dalam kehidupan SMP-ku.
...Tapi, itu hanyalah angan.
Di sekelilingnya selalu ada orang-orang yang
bersinar, mereka yang berada di puncak hierarki sekolah. Tidak ada celah bagi
orang sepertiku yang sangat membosankan dan suram untuk masuk ke sana.
Lagipula, dia pasti tidak akan ingat nama orang sepertiku
yang hanya pernah bertukar kata sekali atau dua kali saja.
Namun, itu saja sudah cukup. Hanya dengan memandangi
sosoknya yang selalu ceria dan cantik dari kejauhan, aku merasa sudah cukup
terhibur. Aku mendapatkan semangat darinya. Jika aku mengharapkan lebih, pasti
hanya hal buruk yang akan terjadi.
Begitulah pikirku.
Sepulang sekolah, aku menyendiri di ruang klub sastra,
melarikan diri ke dunia buku.
Jujur saja, aku tidak ingin masuk klub mana pun, tapi
karena sekolah ini mewajibkan siswanya bergabung dalam kegiatan klub, mau tidak
mau aku memilih klub sastra yang dekat dengan hobiku.
Mungkin aku sempat bermimpi sedikit kalau aku bisa
mendapatkan teman membaca... tapi dunia tidaklah semanis itu.
Sepertinya, klub sastra ini hanyalah tempat berkumpulnya
orang-orang berpikiran serupa, dan sebagian besar anggotanya adalah anggota
hantu yang hanya numpang nama. Karena itu, orang yang datang ke
ruang klub hari ini pun hanya aku sendiri.
Guru pembimbingnya juga penganut paham kebebasan,
jadi aku tidak pernah mengobrol serius dengannya selain saat menyerahkan
formulir pendaftaran.
Sebagai hasil kegiatan, katanya aku bebas melakukan
apa saja selama bisa menghasilkan satu karya entah itu puisi atau novel dalam
sebulan. Memang santai dan membantu, tapi apa klub ini akan baik-baik saja?
"...Nn."
Tiba-tiba, mataku tertuju pada rak buku di sudut ruangan.
Entah guru pembimbing atau anggota lain yang datang
sebelumnya, isi rak bukunya sedikit berantakan.
Karena aku adalah tipe orang yang tidak bisa membiarkan
hal seperti itu begitu menyadarinya, aku pun mulai merapikan rak buku tersebut.
"Gunuuu...!"
Tanganku tidak cukup sampai ke baris paling atas rak
buku.
Seharusnya aku mengambil tangga lipat, tapi karena malas,
aku malah menjinjit dan memaksakan tanganku menjangkau ke atas.
Padahal untuk ukuran perempuan, tinggi badanku ini
termasuk tinggi yang tidak berguna. Karena tinggiku lebih dari 160 cm, biasanya
aku lebih tinggi daripada anak laki-laki seusiaku. Ditambah dengan dada yang
besarnya berlebihan dan mudah menarik perhatian orang, bagiku hal ini pada
dasarnya hanya memberikan kerugian, namun di saat seperti ini memang cukup
membantu.
"Sedikit, lagi...!"
Tok, tok.
Di belakangku yang sedang berdiri berjinjit, terdengar
suara ketukan pintu.
"Permisi—"
"———-!?!"
Suara itu terdengar.
Suara dambaanku. Suara
yang indah dan merdu.
"Hya, hya-ii!?!"
Detik berikutnya, aku yang kehilangan ketenangan pun
hilang keseimbangan, lalu tertelan oleh longsoran buku yang meluap dari rak.
◆◆◆
"...Lho? Kamu Shirase-san, kan? Yang sekelas
denganku."
"————-S-ssst,
a... i-iya. Benar, begitu..."
——Apakah aku sedang bermimpi?
Netora-san yang kukagumi tiba-tiba datang ke klub
sastra, dan dia ingat nama orang sepertiku yang bahkan jarang berbicara
dengannya...
"Wah~
Ternyata Shirase-san anggota klub sastra ya. Aku baru
tahu karena kita jarang punya kesempatan mengobrol."
"I-iya... karena sejak dulu, anu, a-aku suka buku.
Jadi, aku pikir kalau bisa punya teman dengan hobi yang sama, a-aku akan
se-senang..."
Dia mendengarkan ceritaku yang terbata-bata dan payah itu
dengan senyuman ceria yang tampak menyenangkan, bahkan berkata seharusnya kami
berbicara lebih awal...
"Shirase-san. Aku ingin sekali bergabung dengan klub
sastra, bolehkah?"
——Apa-apaan ini. Ini terlalu indah untuk jadi kenyataan.
Oh, Tuhan, kumohon.
Jika ini mimpi, tolong bunuh aku sekarang juga.
Daripada harus kembali ke kenyataan setelah mencicipi
racun semanis ini, lebih baik aku mati saja.
Namun, mimpi ini belum berakhir dan masih terus
berlanjut.
"Eemm...
Hei, Shirase-san. Di bagian ini sebaiknya tulis apa ya?"
Netora-san yang mulai menulis formulir pendaftaran di
ruang klub pun duduk di sampingku dengan wajah kebingungan.
Dekat dekat dekat dekat! Bahu kami bersentuhan! Terasa
empuk! Dan baunya sangat wangi!
"E-eyitu, di sana tulis alasan masuk klub, tapi
karena guru pembimbingnya santai, mungkin dikosongkan juga tidak
apa-apa..."
Kepada aku yang berusaha keras memberi instruksi tanpa
menunjukkan rasa guncang maupun hasrat di wajah, Netora-san memberikan senyum
lebar sambil berterima kasih.
"Terima
kasih, Yuri-chan! ...Ah."
"Fue!?
Yu, Yuri-cha...!?!"
"Ma-maaf
Shirase-san! A-aku terlalu sok akrab ya...?"
Melihat
Netora-san yang tampak lesu karena tidak sengaja memanggil nama depanku, aku
pun bergegas menghiburnya.
"Ti-tidak apa-apa! Benar-benar tidak masalah!
...Malah, kalau Netora-san tidak keberatan, anu, aku akan senang jika kamu
memanggilku Yuri."
"Benarkah!? Kalau begitu, panggil aku Rei juga
ya, Yuri-chan ♪"
Makhluk apa yang licik tapi imut ini!? Dia terlalu
manis, tahu!
"...Kurasa, Shirase-san dan Reiko-chan
benar-benar lupa kalau ada aku, Yuuki, di sini..."
"——Ya. Sisanya tinggal cap stempel lalu
kumpulkan, maka semuanya beres."
"Berarti aku harus membawanya pulang dulu sekali
ya. Mungkin baru besok bisa kuserahkan ke guru pembimbing. Terima kasih banyak
sudah memberitahuku banyak hal, Yuri-chan!"
"U-ung. Jangan dipikirkan, anu... Rei-chan."
——Sudah
berapa lama ya sejak terakhir kali aku memanggil seseorang dengan nama
depannya?
Terlepas
dari rasa kagum atau perasaan semacam itu, hatiku dipenuhi oleh rasa gembira
yang aneh karena akhirnya mendapatkan teman baru setelah sekian lama.
"Kalau begitu, sampai jumpa besok di kelas ya!"
Sesaat setelah berkata begitu, dia tiba-tiba merentangkan
kedua tangannya dan memelukku erat.
"Hyuk!?"
Saat aku merasa jantungku hampir berhenti saking
kagetnya, anak laki-laki yang menemaninya tadi... eetto, siapa ya namanya?
Karena otakku penuh dengan Rei-chan, aku sampai lupa, tapi pokoknya anak
laki-laki itu melayangkan protes.
"Reiko-chan, sekadar mengingatkan, pelecehan seksual
itu bisa terjadi meski terhadap sesama jenis, lho?"
"Apa sih yang kamu bicarakan, Yuu-kun. Kalau sesama
perempuan, hal begini kan biasa?"
Begitukah?
Setidaknya bagiku yang selalu menyendiri,
"kebiasaan" seperti ini tidak pernah ada.
Tapi yah, jika dia yang mengatakannya, pasti memang
begitulah biasanya.
Tepat saat aku nyaris meyakini hal itu——
"...Fufu, benar. Karena ini hal biasa. Jadi Yuri
tidak perlu sungkan sedikit pun, mengerti...?"
"!!?"
Suara bisikan yang begitu menggoda sampai membuat
merinding itu menggelitik telingaku.
Detik berikutnya, Rei-chan yang langsung menjauh dariku
memasang senyum polos seperti biasanya, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kalau begitu, ayo kita pulang? Yuu-kun."
"Iya. Shirase-san, sampai jumpa besok."
Aku hanya bisa terpaku melihat mereka berdua meninggalkan
gedung sekolah.
"...Biasa. Ini adalah, hal yang, biasa...?"
Sambil menempelkan tangan ke telingaku seolah mencari
sisa-sisa suaranya yang berbisik tadi.
Aku merasa mendengar suara runtuhnya "Sesuatu"
yang selama ini tersembunyi jauh di dasar hatiku.
◆◆◆
——Semua sesuai rencana.
Aku—Reiko Netora, merasa sangat puas dengan hasil hari
ini setelah sampai di rumah.
Karena aku berhasil mendapatkan Yuri Shirase sebagai NTR-wati
kategori sesama jenis, alias pemeran selingkuhan lesbian yang statusnya SSR.
Aku sudah tahu sejak awal masuk sekolah kalau dia punya
kecenderungan menyukai sesama jenis.
Kenapa? Karena di kehidupan sebelumnya sebagai pezina,
aku bahkan pernah merebut pasangan sesama jenis. Ya, di kehidupan lalu aku
melakukan dosa besar kedelapan umat manusia, yaitu menjadi pria yang menyelinap
di antara hubungan yuri.
Dengan mata pengamatanku ini, tentu saja aku sudah tahu
kalau tatapan Yuri Shirase padaku itu sedikit "berbeda".
Aku adalah wanita yang peduli pada keberagaman. Bahkan
jika dia penyuka sesama jenis, aku akan tetap memasukkannya ke dalam pusaran NTR
di era baru ini, jadi aku sangat ingin menjadikannya salah satu bidakku.
Kenyataan bahwa dia anggota klub sastra juga sangat
menguntungkan. Karena aku memang berencana masuk klub budaya, aku pun
menggiring Yuu-kun untuk ikut meninjau klub sastra. Sisanya tinggal melakukan
improvisasi untuk menciptakan pertemuan romantis yang pas, dan jadilah seperti
ini! Dalam sekejap, posisi selingkuhan lesbian sudah kudapatkan.
Aku memang melakukan godaan yang agak berlebihan dan
sedikit keluar dari karakter asliku kepada Yuri-chan, tapi untuk memicu NTR
yang melampaui tembok gender, memang sulit jika tidak menggunakan cara yang
agak agresif.
Yuu-kun pasti tidak menyadarinya, jadi ini termasuk biaya
operasional. Anggap saja sebagai collateral damage.
Nah, sekarang posisi selingkuhan sudah terisi dua oleh
Fuyuki-kun dan Yuri-chan, tapi ini masih belum cukup.
Plus Ultra.
Karena NTR-ku tidak mengenal batas.
◆◆◆
——Maka dari itu, aku akan melakukan operasi modifikasi
pada Yuri-chan.
"Eh,
a-anu, Rei-chan?"
"Ufufu,
jangan khawatir Yuri-chan? Nah, lemaskan tubuhmu..."
"Fa... i-iyaaa..."
Sepulang sekolah, aku mengundang Yuri-chan ke rumahku dan
mendudukkannya di kursi kamarku.
Sambil memasang senyum provokatif, aku menyentuh pipi
Yuri-chan dengan gerakan jemari yang halus seolah sedang memegang barang pecah
belah.
"Kulitmu benar-benar indah... begitu kenyal, sampai
aku ingin terus menyentuhnya."
"Awawawa...
Re-Rei-chan, anu, sebentar lagi..."
"Fufu, maaf-maaf. Kalau begitu... ayo kita
mulai?"
"M-mohon bantuannya..."
Apa yang aku lakukan? Tentu saja operasi manusia
super——maksudku, memberikan panduan school makeup.
Kejadiannya bermula beberapa jam yang lalu.
"Yuri-chan, apa kamu pernah memakai makeup?"
"M-makeup? U-ung, aku sama sekali tidak paham
soal itu... lagipula, bukankah dandan itu dilarang di sekolah?"
"Gaya dandan yang mencolok seperti gaya gyaru
memang dilarang, tapi kalau yang natural, guru tidak akan menegur dengan keras.
Di kelas kita pun banyak kok yang melakukannya—"
Di tengah obrolan santai di ruang klub sastra sepulang
sekolah, aku melempar topik itu pada Yuri-chan.
Ngomong-ngomong, Yuu-kun sepertinya pergi ke pusat
permainan bersama anak-anak laki-laki di kelas, termasuk Fuyuki-kun.
Dalam hubungan NTR sahabat, hubungan antara pria
yang direbut dan sang perebut juga sangat penting, jadi sesekali biarlah mereka
memperdalam persahabatan sesama lelaki (senyum licik).
"Hei, hei, kalau boleh, mau tidak aku mendandanimu,
Yuri-chan?"
"Ueee!? Ma-mana mungkin... meski orang suram
sepertiku berdandan, aku hanya akan ditertawakan karena dianggap sok
bergaya..."
"Duh, jangan bicara begitu. Yuri-chan itu sangat
cantik, tahu? Postur tubuhmu pun sangat bagus, jujur aku sampai merasa
iri."
Ini adalah fakta.
Meskipun sulit terlihat karena gaya rambut yang kuno dan
postur tubuh yang buruk, Yuri-chan sebenarnya adalah gadis yang cukup cantik.
Kulitnya mulus, dan bentuk tubuhnya pun punya lekukan yang proporsional. Jika
diberikan sedikit sentuhan, dia pasti akan berubah drastis sampai membuat orang
pangling.
Sebagai orang yang tidak pernah absen mengumpulkan
informasi tentang selingkuhan maupun selingkuhwati incaranku, tentu saja aku
sudah meriset informasi Yuri-chan sejak zaman SD. Seorang
wanita bahan NTR yang sempurna tidak akan lengah dalam perang informasi.
Berdasarkan penyelidikanku, Yuri-chan di masa SD
pernah mengalami semacam pengucilan halus dari teman-teman sebayanya, meski
belum sampai tahap perundungan parah.
Yah, kemungkinan besar penyebabnya adalah kecemburuan
dari para siswi terhadap fisik Yuri-chan yang diberkahi, atau keisengan dari
para siswa laki-laki yang tidak bisa jujur pada perasaan mereka. Hal-hal itulah
yang memicu kerumitan mentalnya hingga dia menjadi gadis sastra yang introver
seperti sekarang... namun jujur saja, jika dia terus seperti ini, aku pun akan
kesulitan.
Kebencian yang muncul akibat aku mengurung Yuu-kun
dan Fuyuki-kun bisa kutangani dengan caraku bertindak, namun situasinya akan
berbeda jika Yuri-chan ikut masuk ke dalam grup kami.
Yuri-chan tidak bisa dibilang mahir berkomunikasi,
dan meskipun cantik, dia punya penampilan yang sekilas tidak menonjol. Jika dia
bergabung dalam grup kami, dia pasti akan langsung menjadi sasaran serangan
siswi lain.
Ada batasnya bagiku untuk terus menjadi penahan
serangan dalam mengontrol kebencian orang lain, dan jika hal itu terus terjadi,
Yuri-chan pasti akan merasa tertekan dan menjauh dari grup kami dalam waktu
dekat.
Mungkin karena Yuri-chan juga sedikit menyadari
kekhawatiran itu, dia jarang mempedulikanku selain di dalam ruang klub sastra. Kasihan.
——Tentu saja, aku bukan wanita bahan NTR yang
malas dan mau menerima keadaan begitu saja.
Intinya, aku hanya perlu memperkuat Yuri-chan hingga
kehadirannya di grup kami tidak lagi terasa aneh.
"Kumohon! Aku berjanji akan membuatmu jadi imut
banget!"
"Uuu... u-ung. Jika Rei-chan sampai bicara
begitu..."
Melihatku yang memohon-mohon, Yuri-chan pun akhirnya
mengangguk meski tampak ragu.
Gampang banget, ya.
"Hore! Kalau begitu, ayo ke rumahku!"
"Ke-ke
rumah Rei-chan!?"
"Kalau di sekolah rasanya tidak bisa tenang,
kan? ...Fufu, apa kamu sedang mengharapkan sesuatu yang aneh?"
Saat aku tersenyum penuh arti, wajah Yuri-chan
langsung memerah padam dan dia mulai panik.
Bagus, bagus. Aku akan terus melancarkan serangan
sebelum dia bisa membuat keputusan dengan tenang. Teknik merebut pasangan dari
masa lalu tetap berguna meski sekarang aku menjadi pihak yang akan direbut.
◆◆◆
"————Nah, sudah jadi!"
"Fa... lu-luar biasa... Rei-chan,
apa kamu sedang belajar untuk menjadi penata rias?"
"Kamu berlebihan. Itu karena dasarmu memang sudah
bagus, kok."
Proses modifikasi selesai...
Setelah berhasil membujuk Yuri-chan dengan berbagai
alasan, sekalian saja aku merapikan rambutnya sedikit.
Aku pernah belajar cara memotong rambut demi membuat
Yuu-kun jadi tampan dalam rencanaku dulu. Bahkan sampai sekarang, sesekali aku
masih merapikan rambutnya sekalian untuk menyesuaikan tingkat kesukaannya
padaku.
Yuri-chan yang telah menyelesaikan operasi modifikasi ini
kini telah menjadi gadis cantik di level yang akan membuat orang di jalan
menoleh. Yah, aku tidak menampik kalau mungkin ada sedikit penilaian subjektif
di sini.
"Terlepas dari potong rambutnya, cara makeup-nya
sendiri mudah, kan? Aku tidak pakai alas bedak, dan alat-alatnya pun hanya
barang yang bisa dibeli di toko serba sepuluh ribu atau toko kosmetik murah,
jadi kurasa sangat ramah di dompet."
"U-ung. Kalau ini, sepertinya aku pun bisa..."
Berbeda dengan saat aku menggodanya, pipi Yuri-chan
merona kemerahan karena rasa antusias dan kegembiraan.
Sip, kalau begini sepertinya dia akan mulai berdandan
atas kemauannya sendiri tanpa perlu kusuruh lagi.
"Selama belum terbiasa, pokoknya gunakan sedikit
saja. Kalau terlalu lama berdandan, biasanya keseimbangannya malah jadi aneh,
jadi selesaikan dengan cepat saja. Sisanya tinggal masalah kebiasaan."
"A-aku mengerti! Aku akan berusaha!"
Melihat binar di mata Yuri-chan yang tidak bisa
menyembunyikan kegembiraannya, aku pun tanpa sadar ikut merasa senang. Ternyata
usahaku tidak sia-sia.
Sering kali terjadi kesalahpahaman, tapi sebenarnya aku
sangat menyukai dan mencintai semuanya secara adil; baik itu Yuu-kun sang pria
yang akan direbut, maupun para perebutnya seperti Fuyuki-kun dan Yuri-chan.
Hanya saja, karena bentuk ekspresi cintaku ini sedikit
menyimpang, pada akhirnya aku tetap ingin menghancurkan otak mereka. Kalau soal
yang satu ini, maaf saja, aku tidak bisa menyerah.
Istilahnya adalah "Aku ingin membunuhnya, tapi aku
tidak ingin dia mati". Jika dipikir-pikir lagi, monster menyedihkan macam
apa aku ini.
Jika aku adalah tokoh utama novel Isekai zaman
sekarang, dia pasti akan merangkul dan menghibur sifat malangku ini dengan hati
yang penuh belas kasih. Tidak, tapi kalau aku bertemu sampah sepertiku, aku
pasti akan langsung membasminya dengan serangan cepat. Memang dunia tidak
selalu berjalan sesuai keinginan.
"Kalau begitu, ini sebagai kenang-kenangan debut makeup
Yuri-chan."
Saat dia hendak pulang, aku menghadiahi Yuri-chan sebuah
cermin rias kecil.
Itu hanya barang murah yang kebetulan berlebih di
kamarku, tapi ini hanyalah bentuk perhatian berlebihanku supaya dia punya
kebiasaan rajin melihat cermin.
"Ma-mana boleh begitu! Aku jadi merasa tidak enak
pada Rei-chan! Padahal aku sudah dibantu banyak hal..."
"Ahaha, ini bukan barang mewah yang sampai harus
membuatmu segan begitu. Cuma barang murah biasa, kok."
"Ta-tapi..."
"Benar-benar jangan dipikirkan. Aku hanya ingin
memamerkan pada Yuri-chan lewat cermin itu bahwa 'Lihat, teman baikku Yuri-chan
secantik ini lho'."
"Ukh... d-duh! Rei-chan terlalu sering
menggodaku! ...Tapi, terima kasih. Aku akan menjaganya baik-baik,
ya?"
Setelah berkata begitu, Yuri-chan memeluk cermin rias
pemberianku ke dadanya seolah itu adalah harta karun. Karena itu benar-benar
barang murah, aku jadi merasa sedikit tidak enak, tapi yah, yang penting dia
senang.
——Bahwa keesokan harinya seluruh kelas mendadak gempar
melihat sosok Yuri-chan yang berubah drastis, itu adalah cerita di lain waktu.
"Yuri-chan, selamat pagi!"
"Se-selamat pagi Rei-chan. ...Anu, bagaimana menurutmu?"
"Ung, ung. Sudah kuduga, temanku memang yang
paling manis di seluruh dunia ♪"
◆◆◆
Nah, sekarang saatnya memperbaiki celah dalam
rencana.
Masalahnya, akibat kesalahanku dalam mengatur jadwal,
tanpa sadar Yuu-kun sang pria yang akan direbut malah menjadi tampan, sehingga
setelah masuk SMP, jumlah siswi yang mendekatinya jadi meningkat drastis.
Untuk sementara, aku memang selalu bermesraan dengan
Yuu-kun di setiap ada kesempatan dan secara gamblang menunjukkan aura
"saling suka" untuk memperingatkan sekitar, namun tetap saja ada
siswi-siswi yang seolah berkata "tidak peduli, aku ingin bertarung"
dan terus mendekati Yuu-kun.
Sejauh ini semuanya masih aman karena Yuu-kun menolak
semua siswi yang menyatakan cinta padanya satu per satu.
——Kenapa aku bisa tahu hal itu? Tentu saja karena aku
menguntit Yuu-kun. Gunakan akal sehatmu. Wanita bahan NTR kelas satu
tidak akan pernah lengah.
Meski begitu, tidak bisa dimungkiri kalau situasinya
terlalu berbahaya jika dibiarkan begitu saja.
Jika seandainya Yuu-kun sampai direbut oleh orang lain,
aku punya kepercayaan diri bahwa aku akan memohon padanya tanpa mempedulikan
rasa malu atau harga diri.
Ditambah lagi, jika seandainya aku sampai memohon
padanya, aku hanya bisa menahannya dengan berkata, "Kamu bisa merasakan
pengalaman penghancuran otak yang paling klimaks bersama aku, lho". Tidak
mungkin. Aku merasa tidak punya peluang sedikit pun untuk menahannya.
Belakangan ini, karena aku sering menempel dengan sesama
perempuan demi mengumpulkan kekuatan NTR Yuri-chan, aku sadar bahwa
perhatianku pada Yuu-kun jadi agak terabaikan. Sebaiknya aku menanamkan
pengaruh yang agak kuat pada Yuu-kun di sini.
◆◆◆
"Haaah... sebentar lagi ujian tengah semester
ya..."
Saat jam makan siang, aku—Yuuki Tachibana, sedang membuka
bekal bersama Rei-chan, Fuyuki-kun, dan Shirase-san yang belakangan ini jadi
akrab dengan Rei-chan, ketika Fuyuki-kun bergumam sambil menghela napas.
"Apa kamu sebegitu tidak sukanya? Fuyuki-kun
bukannya tergolong pintar belajar?"
Rei-chan memiringkan kepalanya dengan heran melihat
ekspresi Fuyuki-kun yang tampak tertekan.
"Kalau cuma sekadar mendapat nilai rata-rata sih aku
yakin bisa tanpa harus belajar, tapi kan urusan suka atau tidak suka itu beda
lagi? Kegiatan klub juga jadi libur, kan."
"Yah, benar juga sih. Aku pun tidak bisa bilang
kalau aku suka belajar."
Mendengar Rei-chan yang setuju dengan perkataan
Fuyuki-kun, Shirase-san menatap Rei-chan dengan ekspresi terkejut.
"Be-benarkah? Padahal Rei-chan sangat pintar, aku
punya kesan kalau kamu sangat suka belajar."
"Ahaha, apa aku terlihat seperti itu? Kalau bicara
soal itu, Yuri-chan juga punya kesan cerdas, tapi ternyata kamu kurang jago
belajar ya—?"
"Heh~ Shirase ternyata tidak terlalu pintar ya?
Padahal pakai kacamata?"
Mendengar perkataan Fuyuki-kun yang terlalu blak-blakan
itu, Shirase-san yang tampak menciut langsung mengerucutkan bibirnya untuk
protes.
"Uuu, i-itu prasangka buruk terhadap pengguna
kacamata tahu..."
"Benar itu. Fuyuki-kun dan Rei-chan, kalian agak
berlebihan."
"Ah— maaf. Aku
tidak bermaksud mengejekmu, sih..."
"Ehehe, maaf, maaf. Jangan marah ya
Yuri-chaaan."
"Hyak! A-aku tidak marah, kok... fuhih."
Berbeda dengan Fuyuki-kun yang meminta maaf dengan
rasa bersalah, Rei-chan justru memeluk Yuri-chan sambil tertawa ceria. Jarak
mereka berdua ini benar-benar dekat ya. Aku ir... aku ir... sangat
menghangatkan hati.
Rei-chan yang punya reputasi sebagai salah satu dari
lima siswi tercantik di sekolah memang sudah luar biasa, tapi Shirase-san yang
belakangan ini mendadak terlihat makin modis juga membuat suasana di antara
mereka berdua menjadi sangat berkilau.
"...Ah, benar juga!"
Rei-chan yang tadi sedang memeluk Shirase-san
tiba-tiba memasang ekspresi seolah baru saja mendapat ide cemerlang dan
memberikan usul kepada kami.
"Bagaimana kalau kita mengadakan belajar
bersama?"
"
" "Belajar bersama?" " "
Kata-kata spontan Rei-chan membuat suara kami bertiga
kompak bersahutan.
"Aku sebenarnya agak mendambakan momen berkumpul
dengan teman-teman untuk belajar menghadapi ujian, lho."
Sambil mengatakan itu, Rei-chan menatap kami dengan
mata yang berbinar-binar.
Imut sekali. Rasanya aku ingin menikahinya sekarang juga.
"Ah, aku agak paham maksud Reiko. Hal seperti itu kan sering ada di drama atau manga. Lagipula kegiatan
klub sedang libur, jadi aku tidak keberatan, sih."
"A-aku juga, kalau yang lain setuju..."
Setelah Fuyuki-kun dan Shirase-san menyatakan persetujuan
mereka, ketiganya pun mengalihkan pandangan ke arahku.
Yah, jawaban atas ajakan Rei-chan sudah pasti sudah
ditentukan, tapi ada baiknya aku mengatakannya dengan jelas.
"Tentu saja aku juga ikut."
"Hore! Aku sayang kalian semua—!"
Melihat kasih sayang dan senyuman tulus dari Rei-chan,
tanpa sadar wajahku terasa mulai memerah.
...Ah, aku benar-benar sangat menyukai Rei-chan.
Dia mungkin tidak tahu, tapi sejak masuk SMP, aku sudah
ditembak oleh beberapa siswi.
Aku menolaknya dengan alasan "ada orang lain yang
kusukai", tapi mereka sungguh luar biasa. Mereka jauh lebih hebat dariku
yang penakut dan selalu merasa ngeri untuk sekadar menyampaikan perasaan kepada
orang yang dicintai.
Aku menggunakan Rei-chan sebagai alasan untuk menepis
perasaan mereka. Kalau begitu, setidaknya aku harus mendekatinya sedikit demi
sedikit. Anggap saja itu sebagai bentuk kesungguhanku kepada gadis-gadis yang
sudah mau menembak orang sepertiku.
"Pasti seru ya! Yuu-kun!"
"Ahaha... yah, lebih baik belajar sambil
bersenang-senang, kan, Rei-chan?"
Aku membalas senyumannya dengan tawa kecil yang agak
canggung.
Dalam
sesi belajar bersama ini pun, jika bisa, aku ingin memperpendek jarak di antara
kami... Pikiran yang sedikit tidak murni itu sempat melintasi benakku.
N I
C H A A A ……
◆◆◆
"Ah,
semuanya! Selamat datang!"
Beberapa
hari setelah Rei-chan mengusulkan belajar bersama untuk ujian tengah semester,
akhir pekan pun tiba.
Bersama
Fuyuki-kun dan Shirase-san, aku pun diundang ke rumah Rei-chan.
Alasan
rumah Rei-chan terpilih sebagai lokasi hanyalah karena letak geografisnya yang
paling mudah dijangkau oleh semua orang.
"Pe-permisi..."
"Wah,
sudah lama ya aku tidak main ke rumah Reiko."
"Permisi.
Ah, Rei-chan. Ini ada titipan dari ibuku untuk dimakan bersama."
Sambil
melepas sepatu, aku menyerahkan kantong kertas yang kubawa kepada Rei-chan.
Isinya adalah yokan yang dijual di toko kue tradisional dekat rumah.
"Wah, terima kasih! Nanti kita makan bersama saat
istirahat ya ♪"
Rei-chan yang tampak sangat ceria karena bisa belajar
bareng teman-teman terlihat begitu manis dan menggemaskan.
...Hanya saja, anu, pakaiannya hari ini agak
membuatku bingung harus membuang muka ke mana.
Musim sudah hampir memasuki bulan Juni. Suhu udara
mulai naik, dan hari-hari di mana matahari membuat tubuh sedikit berkeringat
pun semakin sering terjadi.
Pakaian Rei-chan hari ini adalah kemeja putih tanpa
lengan dengan kerah, serta celana pendek yang memberikan kesan sejuk dan
santai.
Berbeda dengan penampilannya yang biasanya terlihat
seperti siswi teladan, gaya yang energik dan ceria ini sangat cocok dan manis
untuknya.
Namun, karena luas area kulit yang terlihat cukup
banyak, bukan hanya aku, tapi Fuyuki-kun dan Shirase-san pun tampak sedikit
salah tingkah.
...Eh? Fuyuki-kun sih aku paham, tapi kenapa sampai
Shirase-san juga begitu?
Sambil memiringkan kepala karena merasa aneh, kami pun
diantar menuju kamar pribadi Rei-chan.
"Sekarang di rumah cuma ada kita saja, jadi santai
saja ya."
"Lho? Om dan Tante ke mana?"
"Ibu dan Ayah sedang kencan berdua dengan alasan
'biar tidak mengganggu kalian belajar'. Sepertinya mereka baru pulang sore
nanti. Aku akan ambilkan minum dulu, apa teh gandum saja tidak apa-apa?"
"Ah,
Rei-chan. Aku bantu ya."
"Oh ya? Kalau begitu, kalian para lelaki, silakan
siapkan buku pelajaran masing-masing ya~"
Begitu Rei-chan dan Shirase-san keluar dari kamar, aku
berniat menyiapkan perlengkapan ujian sesuai perintah, tapi tiba-tiba
Fuyuki-kun mencengkeram bahuku dengan kuat.
"...Hei, Yuuki."
"Hm, ada apa Fuyuki-kun?"
Melihat ekspresi Fuyuki-kun yang sangat serius, aku pun
memasang wajah heran. Dia memberi isyarat padaku untuk mendekat, dan aku pun
mendekatkan wajahku padanya.
"...Kamu lihat, kan?"
"Eh, lihat apa?"
"Itu lho... itu. Pakaian Reiko hari ini."
"Hah? Ya aku lihat, sih...?"
Mendengar kata-kata Fuyuki-kun yang tidak jelas intinya,
aku hanya bisa memasang tanda tanya di kepala, sampai kemudian dia membisikkan
sesuatu yang mengejutkan.
"...Tadi warnanya merah muda, kan."
"Hah?"
"Maksudku pakaian dalamnya. Punya Reiko. Tembus
pandang lewat kemejanya, kan?"
"Buh—!?"
Apa-apaan yang baru saja dikatakan orang ini!?
"Hah!?
Anu, tu-tunggu... F-Fuyuki-kun!?"
"Bodoh, suaramu terlalu keras! Jangan sok suci deh.
Kamu juga lihat, kan?"
"I-itu... ya, maksudku itu kan karena keadaan yang
tidak terhindarkan, aku sama sekali tidak berniat melihatnya dengan
sengaja..."
"Lagipula,
apa dada Reiko bertambah besar lagi? Meski tidak sebesar punya Shirase,
sih."
"Ah, Fuyuki-kun juga berpikir begitu? Lagipula
Rei-chan tidak pernah memakai baju dalaman tambahan, jadi kalau di sekolah pun
sering tembus lewat seragam musim panasnya. Apa sebaiknya diberitahu saja
ya?"
"Ternyata kamu jauh lebih mesum dari dugaanku
ya..."
Karena ini adalah pertama kalinya aku punya kesempatan
membicarakan hal mesum tentang orang yang kukenal dekat, aku jadi terbawa
suasana yang aneh.
Aku sempat ingin berbagi pendapat dengan Fuyuki-kun soal
seberapa seksi Rei-chan, namun suara pintu kamar yang terbuka membuat kami
berdua tersadar seketika.
"—Gek! Gawat!"
"Uwah!? F-Fuyuki-kun!?"
Karena sebelumnya kami menempel berdua sambil
berbisik-bisik, saat kami berdua berusaha menjauh dengan terburu-buru, aku
kehilangan keseimbangan dan berakhir dalam posisi seperti ditindih oleh
Fuyuki-kun.
"Maaf membuat kalian menung—ha?"
Rei-chan yang membawa nampan berisi gelas teh gandum
seketika mematung melihat kami.
Eh, kenapa reaksinya begitu?
Apa dia begitu syok hanya karena kami belum
menyiapkan peralatan belajar?
"Ti-tidak
mungkin... Aku, sang ahli ini, malah akan melihat Yuu-kun direbut oleh seorang
laki-laki...!?"
Rei-chan
menggumamkan sesuatu dengan suara lirih, namun aku dan Fuyuki-kun yang tidak
bisa mendengarnya hanya bisa memasang tanda tanya di kepala.
◆◆◆
Tenanglah~
JUST CHILL. Aku—Reiko Netora, sudah kembali tenang.
Sesaat
tadi, aku sempat merasa sedikit bergairah membayangkan situasi Yuu-kun akan
direbut, tapi ini pasti cuma salah paham.
Justru karena aku menguntit Yuu-kun setiap hari, aku tahu
betul kalau Yuu-kun itu heteroseksual tulen. Segala macam bookmark di
ponselnya pun berisi konten-konten sehat selayaknya remaja laki-laki, seperti
kakak-kakak tipe polos atau kisah romantis teman masa kecil, jadi aku tidak
salah lagi.
Kenapa aku bisa tahu isi bookmark ponsel Yuu-kun? Tentu saja karena social
hacking biasa.
Sebaiknya
jangan gunakan tanggal lahir sebagai PIN kunci ponsel, tahu? Aku
memberikan nasihat itu kepada Yuu-kun di dalam hati. Karena sudah
kuperingatkan, maka jika ke depannya aku mengintip ponselnya lagi, itu adalah
tanggung jawab Yuu-kun sendiri. Begitulah aturannya.
"Duh, kalian berdua ini sedang main apa, sih? Cepat
siapkan perlengkapan ujian!"
Setelah bangkit dari kondisi membeku, aku pun membagikan
teh gandum dari nampan dan menyuruh mereka bersiap seolah tidak terjadi
apa-apa.
Ngomong-ngomong, posisi tempat duduk kami adalah
Yuri-chan di sampingku, Yuu-kun tepat di depanku, dan Fuyuki-kun di posisi
miring depan.
Menempatkan para lelaki di depanku adalah bagian dari
penyesuaian tingkat kesukaan.
Kemeja putih yang kupakai hari ini cukup tipis, jadi
pakaian dalam merah mudaku yang imut itu terlihat samar-samar. Anak laki-laki
di usia penuh rasa penasaran biasanya mencampuradukkan nafsu seksual dengan
perasaan cinta, jadi memberikan sedikit layanan seksi akan memberikan buff
pada tingkat kesukaan mereka dengan sangat mudah.
Ini adalah bentuk perhatian dariku; jika aku berpura-pura
fokus belajar dan menundukkan pandangan ke meja, kedua orang di depanku akan
lebih mudah mengintip. Sementara itu, untuk Yuri-chan di
sampingku, aku akan merespons dengan banyak kontak fisik. Aku rasa
ini adalah cara yang paling efisien.
"Kalau begitu, mari kita mulai!"
"
" "Okee." " "
Begitulah, setelah sesi belajar berlangsung sekitar
tiga jam. Karena cakupan materi ujian tidak terlalu banyak, kami berhasil
menyelesaikannya dengan cepat.
Sekarang kami sedang bermain gim bersama sambil
menyantap yokan oleh-oleh dari Yuu-kun.
Yah, ujian tengah semester semester pertama kelas
satu SMP hanyalah tutorial untuk ajang ujian berkala yang sesungguhnya. Sejak
awal pun tujuanku bukan belajar serius, melainkan rekreasi, jadi semuanya
berjalan sesuai rencana.
Ngomong-ngomong, urutan peringkat kemampuan akademik kami
adalah:
Aku > Fuyuki-kun > Yuu-kun > Yuri-chan
Sungguh mengejutkan, gadis berkacamata ternyata berada di
peringkat terbawah. Meski begitu, kemampuan akademik Yuri-chan hanya sedikit di
bawah rata-rata, jadi tidak akan ada masalah jika aku membantunya.
Sebagai tambahan, Yuu-kun berada di level sedikit di atas
rata-rata. Sedangkan aku dan Fuyuki-kun sepertinya masuk dalam jajaran sepuluh
besar di sekolah.
Tentu saja aku curang karena membawa modal dari kehidupan
sebelumnya, namun Fuyuki-kun yang baru menjalani kehidupan pertamanya
benar-benar seorang manusia super yang berbakat dalam bidang akademik maupun
olahraga.
Wajahnya pun tampan dan segar, jadi wajar saja jika aku
mendapatkan kebencian dari siswi lain karena mengurung aset berharga seperti
dia tanpa menjadikannya pacar.
Dia pun sepertinya sudah cukup terpengaruh oleh racunku,
sehingga kabarnya dia telah menolak semua gadis yang menyatakan cinta padanya.
Aku memang sedikit merasa kasihan pada gadis-gadis yang patah hati itu, namun
sebagai orang yang serius mengincar rute NTR, aku tidak bisa menyerah di
sini.
Apa aku harus membohongi diri sendiri dengan alasan tidak
logis seperti 'NTR itu kelainan seksual' atau 'pikirkan perasaan orang yang
pasangannya direbut'? Maaf saja, aku tidak sudi melakukan itu.
Kalau begitu, saatnya memulai rencana untuk tujuan utama
sesi belajar ini—menciptakan sebuah "ikatan" antara aku dan Yuu-kun.
◆◆◆
Belajar bersama—meskipun waktu bermainnya terasa jauh
lebih lama, namun akhirnya perkumpulan aku—Yuuki Tachibana dan Rei-chan harus
berakhir saat senja tiba.
"Ah, seru sekali! Mari berkumpul lagi ya,
Yuu-kun."
"Ahaha... padahal tujuannya kan untuk belajar
bersama, lho?"
"Ih, kita kan juga sudah belajar tadi!"
Mendengar keluhanku yang bercampur tawa kecil, Rei-chan
menggembungkan pipinya untuk memprotes.
Tentu saja kami tidak benar-benar merasa tidak puas, ini
hanyalah candaan biasa, namun Shirase-san mencoba membela Rei-chan.
"U-ung. Cara mengajar Rei-chan sangat bagus,
jadi sangat mudah dimengerti..."
"Yuri-chan memang jujur dan imut ya~ Yuu-kun
belakangan ini jadi sok dewasa dan tidak jujur sama sekali!"
Shirase-san yang dipeluk dan diusap kepalanya oleh
Rei-chan hanya bisa mengerjap bingung dengan wajah merah padam.
Shirase-san yang sebelumnya tampak tidak nyaman
berdekatan denganku dan Fuyuki-kun—atau mungkin lebih tepatnya dengan laki-laki
secara umum—sepertinya sudah mulai terbiasa berkat upaya Rei-chan yang selalu
mengajak kami berkegiatan dalam grup berempat.
Kudengar,
perubahan penampilan Shirase-san pun ada campur tangan Rei-chan di dalamnya.
Aku jadi merasa tersentuh karena sifatnya yang ingin menarik orang keluar ke
tempat yang terang tidak pernah berubah sejak dulu.
"...Dia
memang terlalu baik, atau mungkin lebih tepatnya terlalu suka ikut
campur..."
"Hm,
Yuu-kun bilang sesuatu?"
"Aku
bilang, lepaskan Shirase-san sekarang. Meski rumah kalian semua masih dalam
jarak jalan kaki, jika pulang terlalu larut, orang tua Shirase-san pasti akan
khawatir karena dia kan anak perempuan."
"Oh,
benar juga. Yuri-chan, sampai jumpa lagi di sekolah ya."
"U-ung. Terima kasih untuk hari ini, Rei-chan. A-aku
senang diajak ikut."
Rei-chan dan Shirase-san saling mengaitkan jari seolah
enggan berpisah. Mereka benar-benar akrab ya...
"Kalau begitu, maaf ya, tolong antarkan Yuri-chan
pulang ya? Yuu-kun, Fuyuki-kun."
"Oke, lagipula jalan pulangku searah. Hari sudah
mulai gelap, aku masih punya cukup tanggung jawab untuk mengantar
perempuan."
"Kalau begitu, ayo kita berangkat,
Shirase-san."
"Te-terima kasih. Kurushima-kun, Tachibana-kun.
Dadah Rei-chan."
"Iya. Sampai jumpa di sekolah ya~"
Begitulah, seiring matahari yang kian tenggelam, kami pun
meninggalkan rumah Rei-chan.
Setelah berjalan beberapa menit, Shirase-san yang tadinya
hanya menyahuti obrolan santaiku dan Fuyuki-kun tiba-tiba angkat bicara.
"...Anu, Tachibana-kun."
"Hm, ada apa Shirase-san?"
"Apa... Tachibana-kun dan Rei-chan sedang
berpacaran?"
"Uek!? Hah, eeeh!?"
"Wah, kamu langsung nembak ke intinya ya,
Shirase..."
Kepada aku yang hampir tersedak dan Fuyuki-kun yang
memasang wajah setengah heran, Shirase-san pun bergegas menambahkan.
"Ma-maafkan aku! A-anu, maksudku bukan yang
aneh-aneh! C-cuma, aku merasa khawatir jangan-jangan aku malah jadi pengganggu
di antara Rei-chan dan Tachibana-kun. Jadi, anu..."
"Ahaha... tidak apa-apa kok. Aku cuma kaget saja.
Eemm, yah, aku dan Rei-chan tidak punya hubungan seperti itu. Jadi Shirase-san
bukan pengganggu atau semacamnya, jangan khawatir ya?"
"Kalau begitu, caramu bicara barusan membuatku jadi
orang ketiga yang tidak tahu diri juga dong. Apa kamu melihatku seperti itu,
Shirase?"
"Aeeh!? Ah, m-maafkan aku! A-aku sama sekali tidak
bermaksud begitu...!"
Melihat kepanikan Shirase-san yang berlebihan, aku dan
Fuyuki-kun pun tertawa lepas.
Setelah itu, sepanjang jalan pulang Fuyuki-kun terus
menjahili Shirase-san. Meski seleranya agak buruk, berkat itu aku merasa
hubungan kami berempat menjadi lebih akrab, jadi anggap saja impas.
"Begitu
ya... Rei-chan ternyata tidak sedang berpacaran..."
"Rei
dan Yuuki itu... yah, bisa dibilang sudah seperti keluarga atau kakak-adik,
kan? Ya kan, Yuuki?"
Obrolan
mengalir dengan seru, dan setelah mengantar Shirase-san sampai ke rumahnya, tak
lama kemudian aku dan Fuyuki-kun pun berpisah di jalan pulang masing-masing.
Setelah
selesai makan malam, aku sedang berbaring di tempat tidur sambil memainkan
ponsel ketika sebuah notifikasi pesan memotong layar.
Pesan
itu datang dari Rei-chan.
【REIKO:
Yuu-kun, apa sedang sibuk?】
【YUUKI:
Cuma sedang main gim saja, kok. Ada apa?】
【REIKO:
Aku ingin memastikan sesuatu, apa mungkin buku catatan yang kita pakai belajar
tadi tertukar antara aku dan Yuu-kun?】
Dalam
foto yang dilampirkan pada pesan itu, terlihat Rei-chan sedang memegang buku
catatanku.
Aku pun
segera memeriksa tas, dan benar saja, di sana ada sebuah buku catatan dengan
tulisan 'Reiko Netora'.
【YUUKI:
Maaf! Sepertinya aku tidak sengaja membawa pulang buku catatan Rei-chan!】
【REIKO:
Aduh, ternyata benar ya—】
【REIKO:
Maaf merepotkan, tapi apa boleh aku ke rumah Yuu-kun sekarang untuk
mengambilnya?】
【REIKO: Ada materi yang harus aku pastikan sekarang juga!】
【REIKO: Terima kasih!】
【REIKO: Aku berangkat sekarang ya】
【YUUKI: Tung─】
Belum sempat aku membalas 'tunggu', suara bel pintu
sudah terdengar di telingaku.
Aku bergegas keluar kamar dan membuka pintu depan,
dan di sana telah berdiri gadis yang baru saja bertukar pesan denganku sambil
tersenyum nakal.
"Aku datang ❤️"
Sambil merasa terpesona oleh keimutan Rei-chan yang
menjulurkan lidah, aku mencoba menguatkan hati dan mendaratkan sebuah chop
pelan ke kening indahnya.
"Aduh."
"Rei-chan? Meski rumahku cuma berjarak lima
menit jalan kaki, tapi anak perempuan tidak baik berkeliaran sendirian selarut
ini, tahu?"
"Uuu... padahal Yuu-kun yang tidak sadar buku
catatannya tertukar juga ikut bersalah..."
"Aku memang salah untuk itu, tapi jika kamu
bilang, aku kan bisa mengantarkannya ke rumah Rei-chan. Lagipula, kamu pasti
sudah berdiri di depan pintu sebelum mengirim pesan itu, kan?"
Melihat Rei-chan yang kembali menjulurkan lidah untuk
mencari alasan, aku kembali mendaratkan chop pelan. Imut
sekali.
"Yuuki~? Ada apa ribut-ribut di depan pintu... Lho,
Reiko-chan."
Mungkin karena mendengar keributan, Ibu pun memunculkan
wajahnya dari ruang tengah.
"Selamat malam, Tante. Maaf mengganggu selarut ini."
"Tadi waktu belajar bareng siang-siang, buku catatan
kita tertukar, jadi aku datang mau mengambilnya."
"Oalah, kalau begitu bilang saja pada Yuuki, biar
dia yang mengantarkannya ke rumahmu."
"Aku juga niatnya begitu, tapi..."
"Yuuki, nanti jangan lupa antar Rei-chan pulang,
ya?"
"Tentu saja, aku memang berencana begitu."
Setelah aku memberikan jawaban tanda mengerti, Ibu
pun kembali melangkah menuju ruang tengah.
"Tunggu sebentar ya, aku ambilkan dulu
bukunya..."
"Permisi~"
"Eh,
sebentar... Rei-chan!"
Tanpa
menunggu jawabanku, dia melepas sepatunya dan melangkah mantap masuk ke kamarku
seolah itu adalah rumahnya sendiri.
"Wah—
sudah agak lama ya sejak terakhir kali aku main ke kamar Yuu-kun."
"Haa... Terserah kau saja, sih. Tapi ini kan cuma
mau mengembalikan buku, memangnya perlu sampai masuk ke kamar?"
"Rasanya tidak adil kalau cuma kamarku saja yang
dilihat, kan?"
"Kan Rei-chan sendiri yang mengajukan diri jadi
tuan rumah waktu itu."
Aku menghela napas pendek, lalu mengambil buku
catatan miliknya dari dalam tas yang tergeletak di sudut kamar.
"Oh, makasih ya~"
...Begitu aku berbalik, dia sudah merebahkan diri
dengan santainya di atas tempat tidurku.
Rasanya... gimana ya... sesuatu banget.
...Sesuatu yang bikin berdebar, tapi kalau begini
terus, dia benar-benar harus diceramahi.
"……Rei-chan."
"Ada apa, Yuu-kun?"
"Duduk
tegak."
"He?"
"Cepat."
"Ah,
iya."
Mendengar
kata-kataku, Rei-chan langsung duduk bersimpuh dengan raut wajah patuh di atas
tempat tidur.
"Rei-chan.
Kita ini sudah SMP. Memang sih masih anak-anak, tapi bukankah kita sudah di
usia yang perlu menjaga batasan antara laki-laki dan perempuan?"
"Eh,
ah, umm?"
Melihat
Rei-chan yang tampak tidak terlalu mengerti maksud ucapanku, aku melanjutkan
bicara sambil memijat kerutan di antara alisku.
"Rei-chan itu, maksudku... kamu kan anak perempuan.
Masuk ke kamar laki-laki dengan santai begini, apalagi sampai tiduran di
kasur... tidak baik kalau terlalu lengah di depan laki-laki."
"Muu, aku juga tidak bakal melakukan hal begini
pada sembarang orang, tahu? Aku melakukannya karena aku percaya kalau itu
Yuu-kun."
...Apakah itu artinya aku tidak dianggap sebagai
laki-laki di matanya?
Sejujurnya, dikatakan seperti itu oleh gadis yang kusukai
rasanya cukup menyakitkan. Aku hampir ingin menangis.
"……Tapi, maaf ya. Sudah membuat Yuu-kun khawatir.
Aku sedikit menyesal."
"Cuma 'sedikit', ya. Ya sudahlah... Daripada itu, apa terjadi sesuatu? Rei-chan
hari ini agak aneh, mulai dari datang tanpa kabar sampai semangatmu yang
terlalu tinggi."
Saat
aku bertanya begitu, dia menggaruk pipinya dengan canggung.
"Ahaha...
Sebenarnya, belajar bareng tadi siang itu terlalu menyenangkan, terus... begitu
semuanya pulang, aku merasa sedikit kesepian. Makanya,
aku pikir aku mau minta ditemani Yuu-kun."
"Haa... Rei-chan ternyata gampang merasa kesepian,
ya."
"Begini-begini, aku ini kan gadis remaja yang
sensitif."
Aku hanya bisa tersenyum kecut melihat Rei-chan yang
bercanda dengan gaya sok anggun.
Meskipun tidak dianggap sebagai 'laki-laki', bagian
dari diriku merasa sangat senang sampai ingin berteriak karena dipilih menjadi
tempatnya bersandar saat merasa kesepian. Aku pun payah juga, ya.
"Iya, iya. Cukup bercandanya, ayo pulang. Aku
antar sampai rumah, cepat berdiri."
"Iyaaa."
Begitu aku bertepuk tangan untuk mendesaknya,
Rei-chan mencoba beranjak dari posisi bersimpuhnya di atas kasur.
"—Ah?"
Entah karena kakinya kesemutan, atau karena pijakan
di atas kasur yang tidak stabil. Mungkin keduanya. Rei-chan kehilangan
keseimbangan dan hampir terjatuh dari tempat tidur.
"Rei-chan!?"
Refleks aku berlari mendekat untuk menyanggahnya.
Rei-chan secara spontan memegang tubuhku, namun
karena sudah terlanjur kehilangan keseimbangan, dia jatuh terjengkang sambil
tetap menarikku.
"Uwaa!?"
"Hyaaa!?"
Sadar-sadar, posisi kami sudah seperti adegan klise;
dia terlentang di atas kasur, dan aku berada tepat di atasnya, menindihnya.
"A-ah,
itu... Re-Rei-chan? Kamu terluka...?"
Aku
merasakan wajahku memanas hebat, lalu mencoba bertanya padanya untuk menutupi
kegugupan.
"…………E-eh, anu, i-itu, Yu-Yuu-kun…………"
—Wajahnya yang berada tepat di depan hidungku, pasti
sudah memerah sama hebatnya denganku, atau bahkan lebih.
"……Ta-ta...
Yuu-kun, tanganmu...!"
"He?"
Mengikuti arahannya, aku mengalihkan pandangan ke
tanganku sendiri.
Tangan kananku menyentuh bagian dadanya yang mulai tumbuh
menonjol.
"——————!!"
Gawat. Ini buruk.
Segera singkirkan tanganmu.
Lalu menjauh darinya dan lakukan dogeza (sujud
minta maaf).
Logikaku membunyikan alarm peringatan sekuat tenaga,
namun sepertinya aku adalah manusia yang jauh lebih lemah terhadap nafsu
daripada yang kukira.
Alih-alih menyingkirkan tangan atau menjauh, aku malah
membeku dan lebih memprioritaskan merasakan kehangatan tubuhnya.
"…………I-iyaa...!"
Dia membocorkan suara lirih yang terdengar ketakutan.
—Ah, cinta pertamaku berakhir sudah.
Dan itu berakhir dengan cara yang paling buruk yang
bisa dibayangkan.
Mendengar gumaman penolakan itu, aku merasakan
sensasi seolah bagian belakang otakku mendingin dengan cepat. Sambil menatapku
yang begitu menjijikkan dan memalukan, bibirnya bergerak.
"M-mandi. Aku belum mandi, jadi, jangan
sekarang......"
——————Nnn-haaa!?
Melihatnya bergumam tidak jelas dengan pipi yang
memerah, otakku berhenti beroperasi.
Ucapannya tidak masuk akal bagiku, hanya lewat begitu
saja sebagai suara di telingaku.
Beberapa detik setelah getaran udara itu merangsang
otakku, barulah sirkuit berpikirku mulai bergerak kembali dengan kaku.
...Itu artinya, kalau persiapannya sudah siap,
Rei-chan tidak keberatan melakukan "hal seperti itu" denganku—
Pipipipipipi!
““————!?””
Suara elektronik tiba-tiba menggema di dalam ruangan
yang tadinya sunyi saat kami saling menatap.
Setelah akhirnya kembali sadar, aku meloncat menjauh
dari Rei-chan seolah terpental.
"A-ah,
i-itu ponselku... Aku angkat dulu, ya?"
Sambil merapikan rambutnya yang berantakan, Rei-chan
menempelkan ponsel ke telinganya.
"Ha-halo?
Ibu? ...Iya, masih di rumah Yuu-kun. Iya, susu? Oke. Nanti aku beli di
minimarket sebelum pulang."
Sepertinya peneleponnya adalah ibunya.
Meski tidak terjadi apa-apa yang aneh-aneh dengan
Rei-chan, aku merasa canggung yang tidak bisa dijelaskan.
Selesai menelepon, dia menoleh padaku dengan tatapan
yang tidak fokus.
"Anu, kalau begitu, a-aku pulang sekarang
ya?"
"U-um..."
Setelah bertukar kata-kata kaku, dia memasukkan buku
catatan yang menjadi tujuan awalnya ke dalam tas dan hendak keluar kamar.
"…………"
"……Rei-chan?"
Rei-chan yang sempat berhenti di depan pintu,
berbalik ke arahku dengan wajah yang tampak sedikit marah.
"……Tidak mau mengantarku?"
"Eh, anu... Boleh?"
"Memangnya kamu tega membiarkan anak perempuan
pulang sendirian jam segini?"
"U-um, oke. Ayo berangkat?"
"Um......"
Aku pikir setelah kejadian tadi dia akan merasa jijik
berduaan denganku, tapi sepertinya tidak begitu.
Antara merasa takut dan senang, perasaanku campur
aduk hingga pusing sendiri saat mengantarnya pulang.
◆◆◆
"Sesuai Rencana."
Aku—Netora Reiko, sambil menghapus menu 'Alarm' di
ponsel, memasang wajah licik di sudut yang tidak terlihat oleh Yuu-kun.
Seluruh rangkaian kejadian ini adalah tujuan
sebenarnya dari acara belajar bersama kali ini.
Tujuanku adalah membuat Yuu-kun sadar bahwa 'Secara
teknis, aku sudah dipesan olehmu', dan mengikatnya agar tidak berpaling ke
perempuan lain.
Meskipun Yuu-kun sudah kujinakkan lewat 'pencucian
otakku' menjadi pemuda herbivora yang tidak akan macam-macam di situasi tadi,
dia tetaplah anak SMP laki-laki di masa puber. Menurut
pengamatanku, kemungkinan dia jatuh ke pelukan perempuan lain secara tidak
sengaja tidaklah rendah.
Karena itu, aku perlu memberikan satu dobrakan: 'Kalau
Yuu-kun mau, kamu bisa meniduri perempuan ini lho'. Ini adalah bentuk
pengendalian pikiran agar dia tidak melirik perempuan lain.
Dengan begini, mengingat sifat Yuu-kun, tidak akan sulit
untuk mengarahkan mentalnya agar terus mempertahankan hubungan yang
menggemaskan dan membuat frustrasi ini, karena secara teknis kami sudah saling
suka.
Asalkan dia punya sedikit keberanian, dia bisa
mendapatkan gadis yang sudah lama dia dambakan. Mencuci otaknya agar tidak
tergoda perempuan lain selain aku adalah hal yang sangat mudah.
Seorang wanita NTR kelas satu juga harus menjadi
ahli dalam teknik pencucian otak.
Kalau ditanya dari mana semua ini dimulai, jawabannya
adalah: semuanya sudah diatur sejak awal.
Aku yang menukar buku catatan kami, dan saat jatuh ke
kasur, aku menggunakan teknik bela diri aliran Netora untuk memancing Yuu-kun
agar menindihku. Puncaknya, aku menggunakan fitur alarm ponsel seolah-olah ada
telepon masuk agar adegan itu terinterupsi di saat yang tepat.
Rasanya seperti menjadi orang kaya kegelapan yang sedang
mempermainkan peserta Death Game. Ugh, benar-benar sampah yang tidak
bisa dimaafkan.
Tapi, bedanya aku dengan orang kaya kegelapan itu, aku
tidak menganggap Yuu-kun sebagai mainan sekali pakai, melainkan mencintainya
sebagai 'Tumbal' sekaligus pasangan yang sangat berharga. Singkatnya, aku
mungkin terlihat seperti sisi kegelapan, tapi hakikatku adalah entitas di sisi
cahaya.
Cukup basa-basinya.
Mungkin cara ini terlihat sangat berputar-putar, tapi
bukannya aku takut atau ragu untuk melakukan hubungan fisik. Ini semua demi
mengikuti route yang sudah kupastikan dengan benar.
Melakukan 'itu' dengan Yuu-kun di titik ini bukannya
buruk, tapi karena aku sudah memutuskan untuk melakukan eksekusi NTR di
masa SMA nanti, kalau kami jadi pacar sekarang, rasanya pasti akan menjadi
hambar di tengah jalan.
Perasaan itu punya masa kedaluwarsa.
Waktu tiga tahun sudah lebih dari cukup untuk mengubah
api cinta yang membara menjadi lilin yang redup. Perasaan itu, baik atau buruk,
akan mati seiring berjalannya waktu.
Makna sebenarnya dari Mind Break (Penghancuran
Pikiran) bukanlah sebuah kondisi statis, melainkan dinamika perubahan—momen di
saat harapan berubah menjadi keputusasaan.
Kehangatan lembut seperti cahaya matahari di sela
pepohonan tidak akan cukup. NTR itu adalah ketika api cinta yang
membakar tubuh dibekukan dalam sekejap.
Aku ingin merasakannya... rasa keputusasaan yang segar
dan kehancuran mental Yuu-kun yang murni...
Beberapa baris sebelumnya aku mengaku sebagai entitas
sisi cahaya, tapi perkataanku barusan hampir sepenuhnya terdengar seperti
makhluk atribut kegelapan.
Yah, intinya kalau jadi pacar terlalu cepat, masalahnya
adalah kemesraan kami akan mereda sebelum eksekusi NTR dilakukan.
Demi bisa direbut di puncak kebahagiaan saat baru jadian,
aku ingin menggoda Yuu-kun sedikit lebih lama lagi.
Satu hal lagi yang membuatku pening adalah: aku masih
agak ragu apakah aku harus melakukan seks dengan Yuu-kun atau tidak.
Agar rute tidak meleset ke arah BSS (Sudah Punya
Tapi Direbut), sudah dipastikan aku akan menjadi pacar Yuu-kun, tapi setelah
itu yang jadi masalah.
Setelah berhubungan dengan Yuu-kun lalu direbut oleh pria
lain dan berkata "Dia lebih hebat darimu...♥" itu memang jalur utama
yang luar biasa, tidak perlu diragukan lagi.
Namun, membayangkan Yuu-kun yang hancur mentalnya karena
keperawananku diambil oleh pria lain selain dirinya sambil berpikir "Andai
saja aku punya keberanian lebih awal...", itu juga sangat menggiurkan
sampai aku hampir mencapai klimaks hanya dengan membayangkannya.
Sial! Kenapa!
Kenapa aku tidak punya kemampuan loop atau kembali
dari kematian seperti di Isekai!?
Kalau aku punya itu, aku bisa merasakan segala jenis NTR!!
Tak akan kumaafkan kau, Dewa Reinkarnasi!! Aku membara
dalam kemarahan yang adil.
Yah, percuma saja menginginkan hal yang tidak ada. Hidup
itu harus dimainkan dengan kartu yang sudah dibagikan. Aku pun memantapkan
tekad.
““…………””
Dalam perjalanan pulang berdampingan dengan Yuu-kun.
Untuk saat ini, aku akan mulai dengan memanfaatkan kartu
'Wajah Gadis Polos'-ku untuk membuat Yuu-kun deg-degan. Perjalanan seribu mil
dimulai dari satu langkah kecil.
◆◆◆
"Baru saja ujian tengah semester selesai, sudah
langsung latihan? Fuyuki-kun benar-benar suka sepak bola, ya."
Hari terakhir ujian periodik.
Aku—Kurishima Fuyuki, yang pulang lebih awal di pagi hari
dan sedang memainkan bola sendirian di taman, didatangi olehnya—Netora Reiko.
"Kalau malas-malasan, gerakanku bakal tumpul. Selama
masa ujian aku juga sempat menyentuh bola sedikit, tapi sudah lama rasanya
tidak menendang dengan bebas tanpa memedulikan pandangan orang, hap!"
Melihatnya mengenakan pakaian olahraga, aku menendang
bola agak tinggi dan mengoper padanya.
"Hup, yak."
"Hebat. Memang kontrol bolamu bagus, Rei."
Rei menahan bola yang terbang dengan dadanya, lalu
beralih melakukan juggling tanpa kesulitan.
Melihat gerakannya yang mulus, aku memberikan pujian
tulus, dan dia membalasnya dengan senyum penuh percaya diri.
"Fufu, terpesona ya?"
"Jangan ngaco. Aku sudah lihat banyak orang yang
lebih jago darimu, mana mungkin aku terpesona cuma karena level segitu."
...Agar perasaan tersembunyiku tidak terbongkar, aku
terpaksa menertawakannya dengan kata-kata pedas, yang membuatnya menggembungkan
pipi dengan imut.
"Muu, sejak jadi anak SMP, Fuyuki-kun dan Yuu-kun
jadi sok dewasa. Benar-benar tidak imut!"
Rei membalas bolaku dengan tendangan volley
sambil melompat.
...Kemampuan atletik perempuan ini benar-benar gila.
Kenapa dia malah masuk klub sastra?
"Mana Yuuki dan Shirase?"
"Mereka berdua tumbang karena kelelahan ujian, jadi
hari ini aku sendirian—"
"Oi, oi, ujian tengah semester semester satu kan
tidak seberat itu. Mereka berdua tidak apa-apa?"
"Mungkin mereka cuma kelelahan mental karena
acara yang tidak biasa bagi mereka. Ujiannya sendiri sih mereka pasti aman. ...Mungkin."
"Tolong
katakan dengan yakin. Aku jadi cemas kalau begitu."
Kami
saling mengoper bola sambil berbincang ringan dan tertawa.
Sentuhan bola.
Aroma angin.
Percakapan biasa dengan Rei.
Semuanya terasa begitu nyaman sampai-sampai sudut bibirku
terangkat secara alami.
—Sekarang, aku sedang memonopolinya. Kegembiraan kelam
semacam itu membakar diriku bersamaan dengan rasa benci pada diri sendiri.
"—Terus, apa kau sedang bertengkar dengan
Yuuki?"
"……He?"
Mendengar operan kata-kataku yang tiba-tiba, bola
terjatuh tepat di atas kepalanya yang sedang termangu.
"Aduh.
……Umm, kenapa tanya begitu?"
"Aku kan sudah lama berteman denganmu dan Yuuki.
Kalau dilihat-lihat, aku bisa tahu kalau suasananya sedang kaku."
"Ahaha, jeli juga ya......"
Dia menggaruk pipinya sambil tersenyum kecut. Sepertinya
dugaanku tepat sasaran.
"Jadi? Apa yang terjadi?"
"Umm~~...
Bukannya sedang bertengkar sih. Cuma suasananya jadi agak canggung......"
"Apaan
tuh?"
Mendengar
jawaban Rei yang tidak jelas, aku hanya bisa tersenyum simpul.
"Ya kalau tidak mau cerita tidak apa-apa sih. Tapi
bagiku, kau itu teman yang sama berharganya dengan Yuuki, tahu? Jangan anggap
aku orang luar dong."
...Bohong. Sebenarnya, aku hanya tidak tahan dengan
kenyataan bahwa ada rahasia yang hanya diketahui oleh Rei dan Yuuki berdua.
Aku menutupi rasa cemburu yang menjijikkan itu dengan
kedok mencemaskan teman.
"Ah— yah, kalau Fuyuki-kun sih tidak apa-apa...
Sebenarnya bukan cerita besar, sih......"
"Owh."
"I-itu... kemarin, Yuu-kun... menyentuh...
dadaku......"
"………………Ha?"
Suara yang keluar dari mulutku terdengar sangat dingin,
bahkan aku sendiri tidak percaya.
Di saat yang sama, muncul perasaan mengerikan terhadap
Yuuki yang seharusnya adalah sahabatku.
...Aku pun terburu-buru mengubah ekspresi dan nada
suaraku menjadi seolah-olah heran, seakan berkata 'Cuma masalah begitu saja'.
Untungnya, Rei tidak menyadari keanehanku.
Dia malah memerah dan menggerakkan kedua tangannya ke
sana kemari seolah ingin memberi alasan.
"T-tentu saja dia tidak bermaksud macam-macam, itu
cuma kecelakaan, tahu!? Tapi,
ya, namanya juga malu, tetap saja malu... Makanya, belakangan ini aku jadi agak
kaku kalau di depan Yuu-kun...!"
"Haaa~~...
Entah kenapa, aku malah lega karena alasannya jauh lebih konyol dari
bayanganku."
"K-konyol
apanya! Fuyuki-kun juga pasti bakal canggung kalau tidak sengaja menyentuh
dadaku, kan!?"
"Mana mungkin. Kau pikir sudah berapa lama kita
berteman? Di titik ini, mana mungkin hubungan kita jadi aneh cuma gara-gara
menyentuh dada."
Melihatnya yang ngotot terasa sangat imut—bukan, karena
saat ini Rei sedang menatapku secara langsung tanpa melalui Yuuki, aku merasa
dia begitu manis hingga aku jadi ingin menggodanya.
"Yah, kalau dada Rei sebesar punya Shirase, mungkin
aku akan sedikit memikirkannya."
"P-parah banget!? Jadi kamu melihat Yuri-chan dengan
cara begitu!? Di kelas gayamu saja seperti atlet yang segar, ternyata kamu cuma
bocah mesum! ...Lagipula, jangan bicara seolah aku tidak punya dada!"
"Setidaknya lebih kecil dari Shirase, kan?"
"Kalau standarnya Yuri-chan, hampir semua anak
perempuan itu masuk kategori rata!"
Saat aku tertawa melihat interaksi yang seperti komedi
itu, Rei tiba-tiba menggenggam tanganku.
"————Ha?"
Lalu, tanganku yang dia genggam itu ditempelkan ke
dadanya.
"Fuyuki-kun, matamu masih nempel di wajah tidak!?
Aku juga punya, tahu!"
Melalui pakaian olahraga tipis yang dia kenakan, aku
merasakan tekstur lembut yang tersalurkan. Otakku terasa seperti mau meledak
karena ketegangan, hingga aku hanya bisa bergumam lirih.
"Ha, o-oi, bodoh, apa yang......!?"
"Eh?
…………Ah."
Sepertinya
dia baru tersadar. Wajah Rei memucat, dia melepas tanganku dan langsung
melakukan dogeza di tempat.
"……M-maafkan atas kelakuan memalukan ini... Mohon
jangan lapor polisi......"
"Hentikan, Bodoh. Malah
aku yang bakal dilaporkan nanti."
Aku segera menyuruhnya berdiri, lalu menggaruk
kepalaku keras-keras untuk menyembunyikan keguncanganku dan menghela napas yang
dibuat-buat.
"Pokoknya, cepatlah baikan dengan Yuuki.
Menurutku kondisi mentalmu sekarang sedang tidak beres."
"Aku tidak bisa membantah itu......"
"Haa... Gara-gara melakukan hal konyol, aku jadi
haus. Tunggu di sini, aku mau ke mesin penjual otomatis
sebentar."
"A, u-um......"
Agar dia tidak menyadari degup jantungku yang rasanya mau
copot, aku membalikkan punggung pada Rei dan berjalan menuju mesin penjual
otomatis di sudut taman.
"…………"
Seolah ingin meresapi suhu tubuh dan kelembutannya yang
terbawa ke dalam mimpi, aku mengepalkan tangan yang baru saja menyentuh tubuh
Rei.
...
"…………Apa tadi terlalu berlebihan? Tidak, untuk anak
laki-laki di masa puber, memang butuh dampak sebesar itu. Sip."
Di kejauhan, Rei menggumamkan sesuatu, namun isinya
terbawa angin dan tidak sampai ke telingaku.
◆◆◆
Nah, setelah menyelesaikan event 'Laki-Ske' (Lucky
Sukebe) di rumah Yuu-kun tempo hari, aku—Netora Reiko, sedang memikirkan
rencana ke depan.
Untuk saat ini, aku sudah menunjukkan sinyal 'saling
suka' sekuat itu. Seharusnya aku tidak perlu khawatir Yuu-kun akan direbut
perempuan lain untuk sementara waktu.
Justru yang bahaya adalah jika affection point-nya
terlalu tinggi, Yuu-kun bisa-bisa melangkah terlalu jauh dan menembakku lebih
awal. Itu bisa jadi blunder.
Aku ingin mulai pacaran dengan Yuu-kun saat SMA nanti,
tapi kalau dia menembakku sekarang, aku yang selama ini terus memancingnya
tidak akan punya pilihan selain menerimanya. Sepertinya untuk sementara aku
harus membatasi kontak fisik yang berlebihan dengan Yuu-kun.
Kalau begitu, untuk saat ini aku akan fokus menyeleksi
kandidat 'pria simpanan' dan meningkatkan affection point untuk peran
yang akan direbut—yaitu Fuyuki-kun dan Yuri-chan.
"Selamat pagi—!"
Sambil memikirkan hal itu, aku masuk ke kelas dan menyapa
semua orang dengan senyum yang ceria.
"Pagi,
Netora-san."
"Yo,
Netora—"
"Pagi-pagi
sudah semangat ya, padahal panas begini~"
Aku membalas sapaan teman-teman kelas dengan lambaian
tangan ringan. Menjaga popularitas di kelas juga merupakan rutinitas penting
bagi seorang wanita NTR.
Gadis populer yang ceria dan disukai semua orang. Gadis
sehebat itu ternyata di belakang Yuu-kun perlahan dikorupsi oleh pria lain...
Ahh~ benar-benar menggairahkan.
Nah, mumpung ada kesempatan, sebelum duduk di bangku
sendiri, aku akan mengambil 'camilan' dulu.
Tujuanku adalah sudut kelas, tempat duduk Yamada-kun,
teman sekelas yang sedang asyik membaca buku sendirian.
"Sela-mat pa-gi, Yamada-kun!"
"O-oh,
pagi. Netora-san......"
Bertubuh rata-rata. Penampilan biasa saja dengan sifat
pemalu.
Kalau saja rencanaku membangun Yuu-kun tidak berhasil,
mungkin Yuu-kun saat SMP akan terlihat seperti dia. Aku meletakkan kedua
tanganku di mejanya dan mengajaknya bicara dengan mata berbinar.
"Dengar, dengar! Light Novel yang kemarin dibaca
Yamada-kun, aku coba baca juga dan ternyata bagus banget! Aku sampai menangis
lho pas membacanya~"
"Eh, ah... k-kamu benaran baca ya. Aku kira kamu
cuma mau menggodaku saja tadi..."
"Ahaha, apaan sih. Jahat banget. Daripada itu, aku
sudah baca semua volume yang terbit, jadi kalau ada yang seru lagi, kasih tahu
ya!"
"Eh, anu... kalau begitu, ada yang dari label yang
sama sih......"
Saat aku sedang asyik mengobrol dengan Yamada-kun,
seorang siswi teman sekelasku ikut nimbrung.
"Reiko, belakangan ini kamu akrab banget ya sama
Yamada-kun~"
"Iya. Yamada-kun tahu banyak buku seru, jadi ngobrol
dengannya itu asyik. Iya kan?♪"
Begitu aku memberikan senyuman manis, Yamada-kun sedikit
memerah dan menggaruk kepalanya.
"Eh,
a, u-um......"
"Ah,
maaf ya. Pagi-pagi sudah berisik."
"I-iya,
tidak apa-apa kok. Aku juga, itu, senang ngobrol dengan Netora-san—"
"Selamat
pagi, Rei-chan."
Dari
belakangku, terdengar suara Yuu-kun yang baru datang.
Aku
menggunakan kontrol aliran darah untuk membuat pipiku merona, lalu memasang
wajah 'Gadis yang sedang jatuh cinta' sebelum berbalik menatap Yuu-kun.
Bagi
wanita NTR kelas wahid, mengendalikan aliran darah itu hal sepele. Apa
aku ini benar-benar manusia ya?
"Ah, Yuu-kun pagi! Kalau begitu, sampai nanti ya
Yamada-kun."
"U-um. Sampai nanti, Netora-san......"
Saat aku pergi bersama Yuu-kun, Yamada-kun mengantar kami
dengan tatapan yang bercampur antara kepasrahan dan kesedihan.
Seolah-olah dia sedang meyakinkan dirinya sendiri:
"Sejak awal dunia kami memang berbeda. Jangan memimpikan hal yang tidak
pantas." Keputusasaan yang tenang tampak menyelimutinya.
Fuuu, pagi-pagi sudah dapat asupan yang
lezat tanpa diduga. Terima kasih, Yamada-kun.
Nanti aku akan datang mengganggumu lagi, jadi saat itu
tolong nikmati gaya bicara 'Gal yang ramah pada Otaku' dariku sepuasnya. Oagariyo!
(Silakan dinikmati!)
Ngomong-ngomong, sayangnya Yamada-kun tidak lolos seleksi
sebagai kandidat pria simpanan. Cowok tipe pemalu dan biasa saja itu adalah
atribut untuk pria yang 'direbut', sedangkan untuk peran sebagai 'perebut' (interceptor),
dia kurang tenaga.
Seandainya Yamada-kun punya sifat menyimpang yang
brengsek, dia mungkin bisa masuk kategori NTR jalur cowok suram, tapi
karena dia dasarnya orang baik, dia cuma jadi kategori 'camilan' untukku. Kongo tomo yoroshiku... (Mohon kerja samanya ke
depan...)
"Yo, Rei."
"Selamat pagi, Rei-chan."
"Fuyuki-kun dan Yuri-chan juga, pagi—"
Kelompok empat orang seperti biasanya berkumpul di
sekitar mejaku. Ini adalah salah satu pemandangan rutinitas pagi sebelum jam
pelajaran dimulai.
"Hari ini panas banget ya. Katanya
bakal lewat dari 30 derajat?"
"Ugh, malas banget."
"Yah, kalau agak panas begini, pelajaran renang
jadi terasa segar, kan?"
"Ah, benar juga."
Ya, hari ini adalah jadwal pembukaan kolam renang.
Sebagai wanita NTR, ini adalah salah satu event yang wajib
dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Pertama-tama, mari kita mulai dengan serangan pembuka.
"Jada-ng! Karena jam pertama itu olahraga renang,
aku sudah pakai duluan di dalam."
Tanpa ragu aku mengangkat rokku sedikit, memperlihatkan
baju renang sekolah (sukumizu) yang kupakai di balik seragam. Yuu-kun dan yang lainnya langsung memerah dengan sangat memuaskan.
Kuota affection point terpenuhi.
...
Setelah itu, aku kena omel habis-habisan oleh Yuu-kun
dan yang lain.
Kenapa diomeli? Tentu saja soal aksi pamer baju
renang dengan mengangkat rok tadi.
"Rei-chan? Menurutku tidak baik kalau anak perempuan
melakukan hal seperti itu."
"Rei, kamu itu benar-benar ya, jangan begitu
terus."
"Aku setuju dengan pendapat Tachibana-kun dan
Kurishima-kun."
Diceramahi oleh mereka bertiga membuatku tertunduk lesu. Syunn.
Ya mau bagaimana lagi, heroine NTR itu dasarnya
punya pertahanan seksual yang rendah, dan rasa moralitasnya juga longgar.
Meskipun dipaksa secara kasar oleh pria simpanan atau
diraba-raba di depan umum, paling-paling dia cuma bisa protes lemah seperti
"Hentikan...", tanpa pernah terpikir untuk menuntut ke jalur hukum.
Begitu sucinya (atau bodohnya) seorang heroine NTR.
Tentu saja perasaan itu tidak kupelihatkan sama sekali, dan aku hanya berpura-pura merenung dengan patuh sambil menjawab, "Iyaaa, maaf."
"Kalian ini, sok serius sekali sih, dasar anak-anak
kucing. Aku tahu lho, waktu aku angkat rok tadi, pandangan kalian bertiga
langsung tertuju ke tubuh bagian bawahku."
Yah, terlepas dari itu, sekarang waktunya pelajaran
renang.
Di ruang ganti, aku melakukan rutinitas wajib seperti
jualan momen yuri dengan memuji "Yuri-chan, punyamu be-saaaaa-r
banget ya", sambil mengumpulkan poin kesukaan darinya sebelum kami menuju
tepi kolam.
Area kolam dibagi menjadi dua sisi untuk laki-laki dan
perempuan dengan tali lintasan sebagai pembatasnya, dan para siswa berbaris di
area masing-masing.
"Wah, otot perut Fuyuki-kun ngeri banget. Yuri-chan,
lihat deh."
"A-aku tidak mau lihat! Uuuh, aku benci baju renang
karena tidak bisa menyembunyikan bentuk tubuh..."
"Yuri-chan kan punya tubuh yang bagus, harusnya
lebih percaya diri dong~"
Sambil melakukan interaksi manis sesama perempuan, aku
memberikan lambaian tangan kecil pada Yuu-kun dan Fuyuki-kun saat mata kami
bertemu. Tidak lupa pada Yamada-kun juga.
"Dada Shirase gila juga ya..."
"Kaki Netora-san panjang banget..."
"Dada Shirase-san luar biasa..."
"Pinggang Rei-chan ramping sekali..."
"Shirase be-saaaaa-r banget..."
Sambil berpura-pura tidak menyadari tatapan penuh nafsu
para lelaki, aku memberikan senyum ramah sambil melakukan senam pemanasan.
Pelajaran dibagi menjadi jalur pemula hingga mahir
berdasarkan laporan mandiri. Aku sebenarnya jago berenang, tapi di sini aku
memilih jalur pemula demi menemani Yuri-chan. Lagipula lebih santai.
"Rei-chan, aku kira kamu bakal ambil jalur
mahir..."
"Yuri-chan, tutup mulutmu! Kan tidak apa-apa karena
ini sistem lapor mandiri. Lagipula aku ingin berenang bersamamu."
Begitulah, kami menghabiskan beberapa puluh menit
mengapung santai menggunakan papan seluncur.
"Baik, sisa waktunya boleh bebas!"
Mendengar kata-kata guru pengawas, sorakan gembira
meledak dari sisi laki-laki.
Para siswi memasang wajah 'Laki-laki memang seperti anak
kecil ya', tapi ya sudahlah, mereka kan baru lulus SD tahun lalu, wajar saja.
"Rei, kenapa kau malah di jalur pemula?"
Di dekat tali lintasan pembatas area, Fuyuki-kun
memanggilku yang sedang mengapung santai.
Umpan datang sendiri, nih. Ghehehe.
Menyembunyikan isi hati yang seperti sampah, aku
memasang wajah cantik dan mengobrol dengan Fuyuki-kun melewati tali pembatas.
"Biarkan saja, kan tidak sedang lomba
lari."
"Cih,
padahal aku ingin balas dendam soal lomba waktu SD dulu."
Sambil bicara, Fuyuki-kun menatap wajahku dengan sangat
lurus, hampir terasa tidak alami.
Mungkin dia berusaha keras agar tidak melihat dadaku.
Benar-benar pria sejati, tapi karena tatapannya terkunci begitu, malah jadi
terlihat kaku. Tapi jujur, tipe perebut yang tulus seperti ini sangat bagus. Iyes!
"Yuu-kun mana?"
"Noh, di sana sedang latihan renang gaya
punggung. Mau kupanggilkan?"
"Tidak usah, jangan ganggu dia. Fuyuki-kun
kalau mau berenang ke sana juga tidak apa-apa lho?"
"Aku tidak seperti seseorang yang memalsukan
kemampuannya demi malas-malasan, aku sudah berenang maksimal tadi, jadi
sekarang santai saja."
Mendengar candaan Fuyuki-kun, aku menggembungkan pipi
dengan imut.
Yah, karena Yuu-kun tidak ada di dekat sini, dia pasti
lebih memprioritaskan mengobrol denganku yang sedang memakai baju renang.
Semuanya sesuai perhitungan.
"Ngomong-ngomong, perut Fuyuki-kun hebat ya.
Kotak-kotak banget."
"……Hei, itu kedengarannya seperti pelecehan seksual,
tahu."
"Aku tidak mau dengar itu dari seseorang yang
kemarin bilang aku tidak punya dada."
"Kalau kau bahas itu, aku tidak bisa balas apa-apa
lagi kan......"
"Ahaha, maaf, maaf. Tapi benar-benar hebat lho.
Menurutku itu bagus, terasa sangat laki-laki."
Sambil tersenyum tipis, aku mengulurkan tangan dan
menyentuh otot perut Fuyuki-kun.
"Fuaa!? O-oi, apa yang kau......!?"
"Wah— benar-benar keras. Kamu minum protein juga
ya?"
Sambil terus tersenyum, aku memainkan ujung jariku di
atas perut Fuyuki-kun.
Tujuannya? Tentu saja menghancurkan orientasi seksualnya.
Fuyuki-kun itu cukup populer, dan banyak siswi yang
mendekatinya.
Yah, meski sebagai 'kandidat perebut' aku tidak keberatan
kalau dia pacaran dengan orang lain sebelum akhirnya merebutku... tapi kalau
dia tetap jomlo, itu juga menguntungkan bagiku.
"Bukannya sombong, tapi aku juga cukup menjaga
bentuk perutku lho. Mau coba sentuh?"
"~~~~!!"
Begitulah, aku mencoba menghancurkan pertahanan mental
Fuyuki-kun dengan situasi sok polos, berharap dia jadi tidak bisa 'puas' selain
denganku. Tapi sepertinya rencanaku harus tertunda.
"Ya— waktu bebas habis! Semuanya naik ke
permukaan!"
"Yah, waktu habis."
Mendengar suara guru, aku menendang air dan menjauh dari
Fuyuki-kun. Aku adalah wanita yang tahu kapan harus mundur.
"Sampai nanti ya, Fuyuki-kun."
"………………"
Melihat Fuyuki-kun yang wajahnya merah padam butuh waktu
lama untuk naik dari kolam, aku merasa sedikit bersalah. Sepertinya mencoba menghancurkan mental orang di kolam renang itu
terlalu liar. Maaf ya.
"……Ah, aku lupa bawa celana dalam."
"Rei-chan!?"
Yuri-chan melotot mendengar gumamanku di ruang ganti.
Umm, kalau ini benar-benar murni kecerobohanku.
Karena terlalu fokus memikirkan cara mengacak-acak
emosi semua orang dengan aksi angkat rok tadi, aku jadi melupakan hal penting
lainnya. Benar-benar kegagalan. Aku menyesal.
"Tenang saja, aku bakal pakai celana olahraga di
balik seragam untuk menutupi, jadi aman."
"A-apa benar tidak apa-apa?"
"Yah, selama tidak bergerak terlalu heboh.
Mungkin."
Kalau Yuri-chan yang melakukan ini mungkin bakal
gawat karena ukurannya yang 'be-saaaaa-r', tapi untungnya aku saat ini bertubuh
ramping. Selama tidak melompat-lompat, harusnya aman.
"—Begitulah ceritanya, makanya sekarang aku
tidak pakai celana dalam."
"Kenapa kau malah bilang begitu pada kami
berdua!?"
Mumpung ada kesempatan, aku sekalian saja mengacak-acak
emosi Yuu-kun dan Fuyuki-kun. Benar-benar teladan wanita NTR yang bisa
mengubah kecerobohan menjadi peluang.
◆◆◆
Satu Bulan Kemudian
"A-akhirnya selesai......"
"Yuu-kun, selesai dalam arti yang mana?"
Ujian akhir semester telah berakhir dengan selamat,
dan liburan musim panas sudah di depan mata.
Ngomong-ngomong, kali ini pun kami berempat tetap
melakukan belajar bersama, dan aku berhasil membantu meningkatkan nilai
akademik Yuu-kun dan Yuri-chan. Aku ingin kami semua masuk SMA yang sama.
Terutama masuk SMA yang sama dengan Yuu-kun adalah poin wajib dalam bagan
rencana NTR-ku.
Meski begitu, soal masa depan juga bergantung pada
orang tua Yuu-kun dan Yuri-chan.
Akan lebih aman jika menghindari sekolah yang terlalu
mudah atau yang biaya sekolahnya terlalu mahal.
Tujuanku adalah SMA negeri favorit. Mungkin terdengar
mengejutkan, tapi SMA favorit biasanya lebih cenderung membiarkan siswanya
karena menganggap mereka sudah pintar... atau lebih tepatnya, menghargai
otonomi siswa dengan budaya sekolah yang bebas. Bagiku, itu sangat
menguntungkan karena memberikan banyak kelonggaran dalam rencana NTR-ku.
Bagi orang tua pun, mereka tidak akan tega mematahkan
semangat anak yang ingin mengejar cita-cita yang tinggi.
Jujur saja, dengan kemampuan saat ini, kalau aku dan
Fuyuki-kun sih aman, tapi Yuu-kun dan Yuri-chan memang agak berat.
Tapi tenang, waktu masih banyak. Dengan bantuanku
yang punya tabungan pengetahuan dari kehidupan sebelumnya, harusnya tidak ada
masalah. Apalagi jika ditambah dengan bumbu komedi romantis untuk memicu rasa
cinta dan gairah, aku yakin itu cukup.
"Kalau begitu, mau mengadakan pesta perayaan?"
Meskipun soal sekolah adalah hal penting, tidak perlu
membahasnya sekarang dan merusak suasana setelah ujian berakhir. Aku pun
mengusulkan perayaan pada semuanya.
"Boleh juga. Mau ke restoran keluarga?"
"Aku ingin menggerakkan badan sedikit."
"A-aku... ke mana saja asal bersama
kalian......"
Hmm. Tempat yang bisa makan sekaligus menggerakkan badan,
ya.
Kalau begitu, lebih baik ke fasilitas hiburan terpadu
yang ada boling atau karaoke saja.
"Bagaimana kalau ke tempat itu? Yang baru buka dan punya banyak fasilitas olahraga."
"Ah, yang ada game center dan karaokenya
itu ya. Boleh juga."
Karena semua setuju, kami pun sepakat untuk berpisah
sementara demi berganti pakaian yang lebih santai.
Begitulah, kami sampai di fasilitas hiburan terpadu.
"A-aku baru pertama kali datang ke tempat
seperti ini......"
"Banyak olahraga aneh yang bisa dimainkan lho,
asyik. Mau mulai dari mana ya—"
Nah, dalam situasi klise, biasanya aku akan mengincar
kejadian Lucky Sukebe akibat gerakan olahraga yang tidak biasa. Tapi
karena aku sudah sering menunjukkan kalau aku jago olahraga di depan Yuu-kun,
itu akan terasa tidak alami dan terlalu dibuat-buat.
Jadi, di sini aku akan berpura-pura membantu Yuri-chan
untuk mendapatkan poin NTR sesama jenis lewat kontak kulit.
"A-awaaa...!
Re-Rei-chan! To-tolong......!"
"Tidak apa-apa, ayo pegang tanganku."
Aku dengan penuh dedikasi membantu Yuri-chan yang
sedang gemetaran seperti anak rusa yang baru lahir saat bermain sepatu roda.
Beberapa kali aku sengaja membiarkan diriku tertindih
oleh Yuri-chan saat dia jatuh, dan membiarkan dadanya menyentuhku.
"Ma-maaf ya Rei-chan! Kamu tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa kok. Aa~... tapi, posisi tanganmu
itu, ya?"
"—Hyaaa!? Bu-bukan! Aku tidak
sengaja......"
"Fufu, Yuri-chan panik banget sih. Kita kan sesama
perempuan, tidak perlu dipikirkan lho?"
Bagus, bagus. Event genit seperti ini benar-benar
bagus.
Melihat mata Yuri-chan yang terkadang berubah seperti
'binatang buas' juga sangat memuaskan!
Bisa melihat orang-orang yang sedang menahan gairah dari
kursi VIP adalah hak istimewa seorang wanita NTR. Bagiku, ini seperti
menonton film secara langsung......
"Ahaha, kalian benar-benar akrab ya, Rei-chan dan
Shirase-san."
"……Benar."
Oho, Fuyuki-kun mulai sedikit waspada pada Yuri-chan. Aku
benci anak kecil (atau teman) yang instingnya tajam.
Tolong jangan sampai para kandidat perebut saling
menghancurkan satu sama lain. Kalian tahu tidak betapa susahnya aku mengamankan
kandidat pria simpanan ini? Bacalah suasana. Suasanaku.
"Ah, itu sepertinya seru."
Untuk mencairkan suasana tidak enak itu, aku menaiki
mesin rodeo.
Dengan gerakan naik-turun yang membuat dua laki-laki di
sana harus membungkuk untuk menahan diri, aku berhasil menimpa keraguan
Fuyuki-kun dengan pemandangan lain.
"Sebentar lagi liburan musim panas ya—"
Setelah puas menikmati berbagai permainan, kami
beristirahat sejenak di food court.
Kami membicarakan rencana masing-masing untuk liburan
musim panas yang sudah dekat.
"Aku akan sibuk dengan klub. Tapi cuma sekitar empat
hari seminggu sih."
"Eh? Ternyata sedikit ya. Aku kira kamu bakal
latihan setiap hari."
"Jujur saja, klubku bukan tipe yang mengincar
juara turnamen tingkat nasional. Tentu saja aku bakal serius, tapi aku lebih
mengutamakan kesenangan dalam bermain sepak bola daripada menjadikannya
profesi."
Sambil mendengar pandangan sepak bola Fuyuki-kun yang
ternyata cukup santai, aku juga mendengarkan jadwal yang lain.
"Aku paling cuma pulang kampung ke rumah nenek
saat libur Obon nanti."
"Kalau aku, Ayah sedang merengek ingin pergi
berkemah, jadi sepertinya aku akan menemaninya."
"Ahaha, Ayah Yuu-kun memang suka berkemah dari dulu
ya. Dulu aku juga sering diajak lho."
"Yah, aku juga tidak benci sih. Rei-chan
sendiri?"
"Aku mirip dengan Yuri-chan, paling cuma main ke
rumah orang tua Ayah."
Sambil memakan kentang goreng yang sudah mulai
dingin, aku tersenyum dengan wajah yang tampak sedikit kesepian.
"Liburan musim panas memang menyenangkan, tapi
kalau tidak bisa bertemu kalian setiap hari, rasanya agak kesepian...... Hehe,
bercanda kok......"
"Ahaha, Rei-chan memang gampang merasa kesepian
ya."
"U-um. Aku memang merasa Rei-chan punya sisi
seperti itu......"
"Mau
bagaimana lagi ya~... Nih, aku sudah buat jadwal di aplikasi pesan, ayo
masukkan hari libur kalian. Kalau tahu hari luang masing-masing, kan jadi
gampang kalau mau kumpul."
Fuyuki-kun
mengusap-usap kepalaku dengan gemas melihatku yang tampak termangu.
"Lagipula, ini kan liburan panjang, sudah pasti
kita bakal main bareng, kan?"
"Iya, iya. Mari kita pergi ke berbagai tempat
bersama."
"U-um. Aku ingin coba pakai yukata bareng
Rei-chan......"
"Kalian......"
Aku memalingkan wajah dengan mata yang sedikit
berkaca-kaca.
Oke, misi sukses.
Sambil menyeringai lebar di sudut yang tidak terlihat
oleh mereka, aku tertawa dalam hati karena berhasil mengamankan waktu bersama
para kandidat NTR untuk liburan musim panas nanti dengan alur yang
sangat alami.
"Oh, kamu menangis ya? Terharu karena kekuatan
persahabatan kita?"
"……Ih! Aku benci bagian itu dari Fuyuki-kun!"
"Sudah, sudah. Fuyuki-kun juga jangan terlalu sering
menggoda Rei-chan."
Maaf ya teman-teman. Sebenarnya yang sedang bermain-main dengan kalian itu adalah aku.



Post a Comment