NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

TS Tensei Bishoujo Netora Reiko wa Netoraretai Volume 1 Chapter 3

Chapter 3

Hari-hari Musim Panas


"Aku ingin punya kandidat perebut yang lebih muda, deh..."

Aku baru saja memulai monolog yang paling rendah dan tidak bermoral. Halo, aku Netora Reiko.

Aku sendiri sampai terpana menyadari betapa manusia bisa begitu jujur pada nafsunya sendiri, tapi apa mau dikata, kalau aku menginginkannya ya aku ingin.

Tiba-tiba punya adik tiri gitu tidak bisa ya?

Ayah, tidak punya anak simpanan? Aku tidak keberatan membantumu membujuk Ibu, lho?

Sambil memikirkan hal semacam itu, aku duduk di dalam mobil yang berguncang selama beberapa jam. Begitu memasuki liburan musim panas, aku pergi ke rumah kakek dan nenek yang lokasinya jauh dari kampung halamanku. Ah~ pemandangan serba hijau yang menyebalkan.

"Nenek—! Aku datang main—!"

"Walah, capek ya datang jauh-jauh. Ayo masuk, masuk."

Nenek yang menyambutku melihat wajahku dan langsung memasang senyum ramah yang disukai banyak orang, lalu melontarkan pujian klise.

"Reiko-chan, baru sebentar tidak bertemu, kamu jadi makin cantik ya."

"Aduh, Nenek. Itu kan selalu Nenek katakan setiap tahun kita bertemu?"

"Hahaha. Kalau anak perempuan makin cantik, dipuji berapa kali pun boleh, kan. Sini, sini, teh gandumnya sudah dingin. Istirahatlah."

Mengikuti ajakan Nenek, aku melepas sepatu dan naik ke ruang tengah.

"————Ugh."

Seorang anak laki-laki yang sedang bersantai sambil memegang ponsel di ruang tengah langsung memasang wajah tidak suka begitu melihatku.

Di sisi lain, aku justru memasang senyum lebar karena telah menemukan mainan terbaik di desa terpencil yang tidak ada apa-apanya ini.

"Aah—! Chi-chan sudah sampai ya—!"

"Jangan panggil Chi-chan! Dasar Rei bodoh!"

Anak kecil sok tangguh di depanku ini adalah Chi-chan, alias Yamasanka Chihiro-kun. Dia sepupuku yang usianya satu tahun lebih muda.

"Jahatnya, padahal dulu kamu sering menempel padaku sambil memanggil 'Kakak, Kakak'..."

"Itu cerita zaman kapan, sih! Kamu cuma beda satu tahun dariku, jangan bersikap sok seperti kakak!"

Chihiro-kun memang sedang berapi-api, tapi bagiku, bocah di depanku ini imut sekali.

Tipe shota sok galak... tipe yang tidak ada di sekitarku di kampung halaman.

"Muu, aku sih tidak masalah, tapi bicara begitu pada orang yang lebih tua itu tidak baik, lho? Kalau kamu bicara begitu terus, aku tidak mau mandi bareng lho."

"Haah!? Bo... bodoh ya kamu!? Kamu kan sudah SMP!?"

"Eh, apa hubungannya? Sampai beberapa waktu lalu kita masih mandi bareng, kan. Chi-chan benci mandi bareng aku?"

"B............ benci lah! Aku sudah kelas enam SD, tahu!"

Jedanya lama banget, Dek.

Seperti yang kalian lihat, di balik kata-katanya yang kasar, terlihat jelas bahwa dia sebenarnya tidak membenciku. Ini benar-benar "bahan" yang sangat bagus.

Sambil menjilat bibir dalam hati, aku memasang wajah polos dan menempel pada Chi-chan.

"Ahaha, begitu ya. Chi-chan juga tahun depan sudah SMP. Mungkin sudah mulai malu kalau mandi bareng kakak."

"Pa-panas tahu! Jangan menempel! ...Lagipula Rei tidak berubah sama sekali ya. Kamu benar-benar sudah lulus SD?"

"Su-sudah kok! Nih, lihat! Penampilanku saat memakai seragam pelaut!"

Aku menunjukkan foto diriku dalam balutan seragam sekolah saat upacara masuk sekolah dari galeri ponselku pada Chi-chan.

"He-hee... yah, pakaian memang bisa mengubah penampilan siapa pun, ya."

"Ih, padahal kamu bisa memuji 'cantik' dengan jujur gitu..."

Lalu aku menyerahkan ponselku pada Chi-chan, dan dia mulai menggeser-geser foto-foto itu atas kemauannya sendiri.

Tentu saja ini adalah jebakan.

"Hm..."

Melihat banyak sekali foto berdua dengan Yuu-kun yang terselip di galeri ponselku, ekspresi Chi-chan berubah menjadi tajam. "Dapat..." gumamku pelan dengan suara yang tidak terdengar oleh Chi-chan, sambil menyeringai lebar.

"...Rei, laki-laki ini siapa...?"

"Ah, itu Yuu-kun! Itu lho, teman masa kecilku! Apa aku belum pernah cerita pada Chi-chan?"

"He-hee... jadi dia..."

Chi-chan menatap ponsel itu dengan wajah tajam selama beberapa saat, lalu bertanya padaku.

"Anu... apa orang ini... pacar Rei?"

"——Eeeh!? Bu-bukan, bukan! Yu-Yuu-kun itu, um, bukan yang seperti itu!"

Aku memerah dan membantah ucapan Chi-chan secara berlebihan.

Setelah menunjukkan gelagat yang jelas-jelas menunjukkan kebohongan, aku bertanya padanya sambil tersenyum malu-malu.

"...A-anu, Chi-chan. Menurutmu, aku dan Yuu-kun... terlihat seperti sepasang kekasih, ya...?"

"————! ...Hah! Sama sekali tidak terlihat begitu! Lagipula, anak kecil sepertimu mana pantas punya pacar!"

Aah~~ tidak tahan rasanya~~

Rasa cemburu murni khas anak-anak yang tidak suka kalau wanita lebih tua yang disukainya terlihat dekat dengan pria lain! Tidak berlebihan jika aku bilang aku pulang kampung demi hal ini.

Ternyata usahaku merayu Chi-chan dalam berbagai aspek setiap kali pulang kampung setiap tahun tidak sia-sia. Ini adalah semacam festival tahunan bagiku.

Selama tidak bisa bertemu Yuu-kun dan yang lainnya, aku akan mengambil nutrisi sebanyak-banyaknya dari Chi-chan.

"Ja-jahat! Ah—! Aku terluka! Sebagai hukuman karena bicara kasar pada Kakak, Chi-chan harus jadi bantal gulingku sampai makan malam nanti—!"

"Haah!? Bo-bodoh, hentikan! Ada yang menempel lho!?"

Dia sepupu yang hanya bisa kutemui sekali atau dua kali setahun. Mari kita acak-acak emosinya dengan sedikit gaya spartan.

◆◆◆

Aku—Yamasanka Chihiro, punya seorang kakak sepupu yang berbahaya.

"Hoamm— Nenek, selamat pagi—"

Kegiatan rutin liburan musim panas, yaitu pulang ke rumah kakek dan nenek.

Aku terbangun dengan perasaan sedikit bersemangat karena merasakan aroma pepohonan yang pekat, sesuatu yang tidak bisa kurasakan di kotaku.

"Selamat pagi, Chihiro. Rajin sekali kamu bangun sepagi ini."

Nenek tertawa melihatku yang keluar dengan lunglai dari kamar tidur yang disediakan untukku.

Yah, bangun pagi itu membuat hari terasa lebih panjang dan menguntungkan, lagipula pagi hari terasa lebih sejuk dan nyaman.

"Kita akan sarapan kalau Reiko-chan sudah pulang dari 'joging', ya."

"...Dia lari lagi? Padahal bukan anggota klub olahraga, tapi rajin amat."

Sambil bergumam sedikit mengejek, aku mengambil teko teh gandum dingin dari kulkas dan menuangkannya ke dalam botol minum yang baru dicuci.

Setelah memastikan tutup botolnya rapat, aku membawanya di ketiak, memakai sandal, dan keluar dari rumah satu lantai itu.

Angin sejuk menyapu aspal yang belum menyerap panas matahari.

Setelah berjalan sedikit, aku duduk di sebuah tempat istirahat yang entah siapa yang menggunakannya, hanya ada mesin penjual otomatis dan bangku.

"...Sudah waktunya, ya."

Aku bergumam sambil memeriksa waktu di ponsel.

Tak lama kemudian, seorang gadis yang mengenakan pakaian olahraga tipis—yaitu si 'sepupu berbahaya' tadi—muncul dari sudut jalan sambil mengatur napasnya yang sedikit memburu.

"—Eh, Chi-chan? Selamat pagi, kamu bangun pagi ya."

"Padahal ini liburan musim panas, rajin amat. Di rumahmu juga setiap hari joging tanpa absen, kan? Kenapa tidak istirahat saja selama di rumah nenek."

"Soalnya sudah jadi kebiasaan. Kalau tidak lari malah merasa tidak tenang. Lagipula di sini jarang ada orang atau mobil, udaranya juga bersih jadi lari terasa enak. Nanti sore aku lari lagi, Chi-chan mau ikut tidak?"

"Nggak, makasih. ...Nih."

Aku menyodorkan botol minum yang tadi kutaruh di bangku kepada sepupu berbahayaku—Netora Reiko.

"Eh, apa ini?"

"...Teh gandum. Aku bawa dari rumah nenek, tapi karena aku tidak minum, jadi buat kamu saja."

"Eh, kamu sengaja membawakannya untukku!? Senangnya~~! Terima kasih, Chi-chan!"

Melihat Rei yang sangat gembira hanya karena hal sepele, aku jadi malu dan memalingkan wajah sambil beralasan.

"Bu-bukan buat Rei, kok! Aku tadinya mau minum sambil jalan-jalan, tapi ternyata lebih sejuk dari dugaanku jadi tidak butuh!"

"Tetap saja aku senang. Aku minum ya?"

Rei memiringkan botol minum itu dan meneguk isinya.

Melihat leher putih yang berkeringat itu bergerak-gerak terasa sangat menggairahkan, hingga aku tanpa sadar memperhatikannya.

"...Fuuuh. Ah, Chi-chan mau minum juga?"

Sepertinya Rei salah paham dengan tatapanku, dia menyodorkan botol itu ke arahku.

...Dia ini, apa tidak memikirkan soal ciuman tidak langsung atau semacamnya?

Jujur saja, tanganku hampir saja meraih botol itu, tapi harga diri dan rasa maluku tidak mengizinkannya. Aku pun menolak tawaran Rei dengan tegas.

"...Ti-tidak usah. Aku tidak haus."

"Eh, begitu ya? Kalau begitu ayo pulang. Habis lari aku jadi lapar."

...Pulang sih boleh saja, tapi tangan apa yang kamu ulurkan itu? Jangan-jangan kamu menyuruhku menggandeng tanganmu?

"...Aku bukan anak kecil lagi. Tidak usah gandengan tangan juga tidak apa-apa."

"Eeh— Chi-chan dingin sekali—"

Sambil menggerutu, Rei berlari mendekat ke sampingku yang berjalan lebih dulu.

...Sejujurnya, berdiri di samping Rei itu agak menyebalkan.

Aku tidak terlalu tinggi. Aku termasuk yang terpendek kalau dihitung dari bawah di kelasku.

Kenyataan bahwa aku harus menengadah untuk melihat wajah Rei di sampingku terasa seperti menusuk-nusuk harga diri kecilku sebagai laki-laki.

Apalagi kalau orang yang harus kutengadah itu adalah wanita yang aku sukai, rasanya makin menyedihkan saja.

"Sarapan apa ya nanti— Umbusu (plum kering) buatan Nenek itu rasanya seperti buah dan bikin makan nasi jadi lahap banget~~"

Melihat si bodoh yang tidak peka itu sama sekali tidak menyadari perasaanku, aku jadi kesal dan melontarkan kata-kata kasar.

"Nanti gemuk lho."

"............Fu-fufu—! Tidak masalah kok! Kamu pikir buat apa aku setiap pagi dan sore lari setiap hari?"

"Suaramu bergetar lho."

"Tidak bergetar. Aku ini punya otot perut yang cukup hebat, tahu! Aku juga tidak pernah absen melakukan plank setiap hari!"

"Hoo, masa?"

"Aah—! Chi-chan tidak percaya! Kamu meragukan kata-kata kakakmu sendiri—!"

Melihatnya yang ekspresinya berubah-ubah karena perkataanku itu sangat imut, aku menggigit bagian dalam pipiku untuk menyembunyikan senyum yang hampir pecah.

——Lalu, sepupu ini tiba-tiba melakukan hal yang luar biasa.

"Benaran lho! Nih, lihat Chi-chan! Memang bukan six-pack, tapi ada garis otot perutnya!"

"——Pfftt!?"

Rei menyingkap ujung pakaian olahraganya dan memperlihatkan bagian perutnya padaku, membuat kesadaranku hampir menghilang sejenak.

Kulit putih mulus tanpa noda, serta pinggang ramping kencang yang dia banggakan tadi.

Aku terpesona tanpa bisa memalingkan mata melihat garis tipis otot perut dan pusar berbentuk lonjong yang indah itu.

Salah paham lagi dengan reaksimu, si bodoh ini malah mendengus bangga dan mengatakan hal yang makin bikin pusing kepala.

"Fufu—! Hebat, kan. Nih, mau coba sentuh?"

"...Da-dasar bodoh!"

"Aduh!?"

Sambil menahan sekuat tenaga tanganku yang hampir saja menyentuh perut Rei, aku memukul kepala si bodoh itu dengan keras.

"Si-siapa yang pamer perut di depan laki-laki di tengah jalan begini, dasar bodoh!"

"...Eh, laki-laki? ...Di mana?"

DI SINI TAHU!!

Kami sudah cukup lama saling mengenal, tapi wanita ini memang selalu begini.

Padahal dia sangat baik dan suka menolong, tapi penjagaannya terhadap hal-hal seksual sangatlah longgar. Aku tidak akan pernah mengatakannya langsung padanya, tapi jujur penampilannya itu setara idol.

Aku selalu khawatir setiap tahun bertemu dengannya, jangan-jangan dia akan terjebak oleh laki-laki jahat.

Aku menghela napas panjang sambil merasakan kelelahan yang luar biasa sejak pagi hari.

...Pusar tadi, apa bisa kulupakan ya?

Lekukan menggoda di perut kakak sepupuku yang sudah terekam di mataku itu berusaha kuhapus paksa dari kepalaku dengan rasa suci khas anak perjaka, yang malah membuat wajahku memerah seperti banteng.

◆◆◆

Aku ingin punya kandidat perebut yang lebih muda, deh...

Aku—Netora Reiko, sedang memikirkan hal itu hingga ke ujung semesta sambil menyantap makan malam yang disiapkan Nenek.

Sejak pulang ke rumah nenek dan kakek, menghabiskan hari dengan bermain bersama Chi-chan membuat keinginanku memiliki pria simpanan yang lebih muda makin kuat dari hari ke hari.

Memanfaatkan sifat "lebih muda" untuk berpura-pura "aku tidak menganggapmu sebagai lawan jenis lho~", rasanya sangat menyenangkan mencoba perintah-perintah genit yang berbau seksual yang ragu kulakukan pada Yuu-kun atau Fuyuki-kun. Rasanya seperti ada pekerjaan (job) baru yang diimplementasikan di game online.

Poin bagusnya adalah, aku bisa memberikan kesenangan pada Chi-chan berupa 'keuntungan karena statusnya sebagai adik', sekaligus memberikan keputusasaan karena 'dirinya sama sekali tidak dianggap sebagai laki-laki'. Sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui.

Namun, mengelola pria simpanan yang lebih muda itu ternyata sulit.

Entah bagaimana bagi orang dewasa, tapi bagi pelajar, perbedaan satu tahun itu menciptakan jarak dunia yang lebih besar daripada angka tersebut.

Sederhananya, jika tingkatan kelasnya berbeda, pola hidup dan menyesuaikan jadwal juga sulit, dan saat musim kelulusan tiba, kami akan terpisah sekolah selama satu tahun. Jika sudah begini, pengelolaan rencana yang mendetail hampir mustahil dilakukan.

Mempertimbangkan berbagai hal tersebut, aku jadi ragu untuk mengamankan kandidat pria simpanan yang lebih muda.

Kalau memang aku sangat menginginkannya, apa nanti saat kelas dua SMA aku goda saja adik kelas?

Aku percaya diri bisa merayu orang yang baru pertama kali kutemui, tapi itu terlalu mudah dan kurang berseni bagi seorang perebut.

Dalam hal itu, Chi-chan bisa dibilang punya spesifikasi yang sangat unggul.

Memanfaatkan posisi sebagai sepupu, aku berhasil membangun hubungan kepercayaan dengan perlahan dan teliti, dan sikapnya yang tidak bisa menyembunyikan rasa suka seperti tsundere murahan benar-benar merangsang nafsu makanku.

Hanya saja, sayangnya lokasi tempat tinggal kami terlalu jauh.

Jarak alamatnya sampai harus melewati jalan tol untuk bertemu, terlalu sulit untuk dimasukkan ke dalam rencana. Sayangnya Chi-chan mungkin hanya akan berakhir sebagai "camilan" sebelum hidangan utama Yuu-kun.

Tapi tetap saja aku menginginkannya.

"...Aku ingin Chi-chan, deh."

"Pfftt!?"

Chi-chan tersedak. Gawat, keinginanku bocor lewat mulut.

"Bo... ha!? Tiba-tiba bicara apa sih, Rei bodoh!?"

"Maaf, maaf. Tadi aku terpikir ingin punya adik seperti Chi-chan, eh malah terucap."

Ayah Chi-chan—pamanku—ikut campur sambil tertawa melihat tingkah kami.

"Kalau begitu, mau jadi anakku saja, Reiko-chan? Istriku dan Chihiro pasti akan menyambutmu dengan tangan terbuka."

"Ahaha♪ Ide bagus ya. ...Chi-chan, apa kamu mau menjadikanku istrimu?"

"Si-siapa juga yang mau! Terima kasih makanannya! A-aku mau mandi dulu!"

Saat aku bertingkah manja secara terang-terangan pada Chi-chan, dia langsung memerah dan melarikan diri. Sangat kental dengan aroma perjaka, bagus sekali.

Nanti kalau aku sudah mulai pacaran dengan Yuu-kun, kamu adalah orang pertama yang akan kukabari, jadi siapkanlah rasa BSS yang terbaik untukku, ya.

"Ahaha, apa aku terlalu sering menggodanya ya...?"

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Dia cuma malu saja kok."

"Syukurlah kalau begitu... Terima kasih makanannya."

Selesai makan, aku duduk di teras samping untuk menikmati angin sore.

"Nah, sekarang..."

Aku mengeluarkan ponsel dan melakukan panggilan telepon kepada Yuu-kun.

◆◆◆

Panggilan telepon yang tiba-tiba dari Rei-chan membuat jantungku—Tachibana Yuuki—terasa melonjak.

Sejak dia pulang ke kampung halamannya, kami memang beberapa kali bertukar pesan di grup, tapi ini pertama kalinya dia meneleponku secara pribadi.

Mendengar dia bilang, "Aku rindu suara Yuu-kun...", aku mencoba menahan perasaanku yang serasa terbang ke langit sambil bertukar kabar harian yang tidak penting dengannya.

"—Kira-kira begitulah di sini. Yuu-kun sendiri bagaimana?"

"Aku sih seperti biasa saja. Kadang bertemu Fuyuki-kun atau Shirase-san, tapi biasanya cuma bersantai di dalam rumah."

"Ahaha, baguslah kalau begitu. Sangat mirip Yuu-kun."

Suaranya yang terdengar dari ponsel terasa menggelitik telingaku dengan manis.

——Bagaimana ini. Aku tidak bisa menahan perasaan sukamu padanya.

"Ah, tapi tugas liburan musim panas harus dikerjakan juga lho? Terutama tugas matematika, jumlahnya banyak sekali jadi harus dicicil setiap hari——"

"...Rei-chan."

"Umm, ada apa?"

Seperti air yang tumpah dari gelas, hatiku ingin sekali menyampaikan cintaku padanya.

"Anu, sepertinya ini bukan hal yang pantas dikatakan di telepon, tapi..."

"Fufu, ada apa? Tiba-tiba jadi serius begitu."

"...Rei-chan, aku——"

"(Rei—, kamar mandinya sudah kosong nih—)"

…………Di balik telepon, terdengar suara lain selain suara Rei-chan.

Sepertinya ada yang mengajaknya bicara.

...Laki-laki yang tidak kukenal.

"Iyaaa. Chi-chan jahat banget deh, padahal aku sudah bilang mau mandi bareng, tapi kamu selalu mandi sendirian duluan."

——Hah? Mandi bareng? Rei-chan? Dengan siapa?

"(Ha-haah!? Kamu itu, tadi bilang soal jadi istri lah, sekarang ini, benar-benar jangan ngaco——)"

"Maaf ya, Yuu-kun. Aku harus segera mandi biar tidak gantian kelamaan, jadi aku tutup dulu ya?"

"Eh, ah, iya, umm. ...Anu, Rei-chan. Anak laki-laki di sana itu siapa——"

"Aku senang bisa mendengar suaramu. Kalau begitu, selamat malam."

Menenggelamkan suaraku yang bingung, telepon darinya terputus.

Perasaan gembira sampai beberapa menit yang lalu lenyap tanpa bekas, berganti dengan rasa dingin yang membuat seluruh tubuhku gemetar menyelimutiku.

◆◆◆

"Chi-chan tahu tidak? Tanaman tomat dalam pot itu kalau diberi sedikit air garam akan menghasilkan tomat yang sangat manis, lho?"

"...Hah? Kamu bicara apa sih?"

"Intinya bukan cuma dimanjakan, sesekali diberi sedikit 'cambukan' itu akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik."

"?"

Chi-chan memiringkan kepalanya karena tidak mengerti maksudku.

Memang bagus menumbuhkan cinta dengan kemesraan yang murni, tapi sesekali menghancurkan otaknya seperti ini akan memperkuat obsesinya padaku dan memberikan cita rasa yang lebih dalam pada NTR-nya nanti.

◆◆◆

"………………Panasnya."

Di tengah pantai yang terpanggang sinar matahari yang menyengat, aku—Yamasanka Chihiro—menunggu dengan gelisah dan tidak tenang.

Bersenang-senang di pantai yang hanya berjarak beberapa menit jalan kaki dari rumah kakek dan nenek adalah salah satu kegiatan rutin setiap tahun.

Kesempatan untuk masuk ke laut hanya ada saat pulang kampung, dan aku pun tidak benci berenang.

...Tapi, yang paling kunantikan adalah——

"Chi-chan! Maaf menunggu lama!"

"……!"

Mendengar suaranya yang kunanti-nanti dari belakang, aku mengeraskan tubuh dan berbalik dengan kaku.

"La-lama sekali, Rei——"

Begitu berbalik, kali ini aku benar-benar mematung sepenuhnya.

"Ahaha, maaf, maaf. Karena belum terbiasa dengan baju renang ini, jadi agak lama memakainya."

Baju renang yang dipakai Rei bukanlah tipe one-piece sambung yang sering dia pakai sampai tahun lalu, melainkan baju renang tipe bikini yang terdiri dari atasan dan bawahan.

Dengan kulit yang terbuka lebih banyak daripada tipe one-piece, aku menahan diri sekuat tenaga agar tidak menatap pusarnya yang sejak kejadian tempo hari terekam jelas di mataku.

"Chi-chan? Ada apa?"

Entah dia menyadarinya atau tidak, Rei mencondongkan wajahnya ke arahku yang sedang mematung dengan rasa penasaran.

Nah, seperti yang sudah kujelaskan sebelumnya, tinggiku jauh lebih rendah dari Rei.

Saat dia mencondongkan wajahnya padaku, otomatis posisinya menjadi sedikit membungkuk.

Belahan dada Rei yang sejak tahun lalu mulai terbentuk seperti wanita dewasa, terpampang tepat di depanku——

"——Bu-bukan apa-apa kok! Da-daripada itu ayo cepat renang! Aku kepanasan menunggumu tahu!"

"Eits. Tidak boleh, tidak boleh, harus pemanasan dulu dengan benar."

Aku ingin segera masuk ke laut untuk menyembunyikan bagian bawah tubuhku yang mulai bermasalah, tapi Rei menghentikanku dengan alasan yang sangat masuk akal.

"Umm~~"

Rei mengangkat kedua tangannya ke atas kepala dan meregangkan tubuh bagian atasnya untuk melemaskan otot.

Da-dadanya... ketiaknya... pusarnya...!

Rasanya aku hampir gila. Tolong seseorang amankan wanita liar ini.

"...Ih, Chi-chan? Kamu terlalu banyak melihat."

Sepertinya dia akhirnya menyadari tatapan mesumku, Rei memasang wajah sedikit marah dan menutupi tubuhnya dengan tangan. Tidak menutupi apa-apa, tahu. Malah makin terlihat menggairahkan.

"——Hah!? A-ah, ti-tidak, ini..."

Melihatku yang tidak bisa beralasan dan terbata-bata, Rei memasang senyum masam yang penuh teka-teki.

"Chi-chan kan juga laki-laki. Tertarik pada tubuh perempuan itu bukan hal buruk, tapi... kalau terlalu sering melotot nanti kamu dibenci oleh orang yang kamu sukai, lho?"

"Ugh."

Secara tidak langsung dia bilang bahwa aku berada di luar jangkauan cintanya, dan itu menusuk hatiku dengan telak.

"...Tapi, mumpung ada kesempatan, aku tanya Chi-chan saja ya?"

"Ta-tanya apa?"

"Baju renang ini bagaimana? Aku sudah berusaha keras memilihnya, tapi menurut pandangan laki-laki, apa ini bikin berdebar?"

Menusuk banget, tahu. Bilah nyawaku sudah berwarna merah sekarang.

Karena tidak mungkin mengatakannya dengan jujur, aku berbohong dengan kata-kata yang tidak jelas.

"Ya-yah, untuk ukuran Rei sih lumayan, kan?"

"Cara bicaramu agak mencurigakan... Tapi ya sudahlah, melihatmu melotot seperti tadi, sepertinya tidak buruk ya~?"

"Kakak, demi masa depan, tolong lupakan kejadian memalukan tadi."

Melihat kakak sepupuku yang terus menggodaku, aku melakukan dogeza di atas pasir pantai. Lutut dan dahi ini terasa panas, lho.

"...Fufu. Apa Yuu-kun bakal senang melihat baju renang ini ya..."

——Kata-kata itu membuat otakku seketika membeku.

Lagi.

Laki-laki itu lagi.

Saat aku mengangkat pandangan, gadis yang kusukai itu sedang memerah karena memikirkan laki-laki yang bukan diriku.

"——!"

"Kyaa! Chi-chan?"

Tanpa sadar aku menarik tangannya dengan kasar dan berlari menuju tepi ombak.

"——Be-berisik banget sih dari tadi! Ada laut di depan mata, cepat berenang!"

Sembari menyembunyikan rasa cemburu yang menjijikkan dengan alasan seperti anak kecil, aku menyeret Rei masuk ke permukaan air.

"Wapuh! Ih—! Rasakan ini!"

Gadis dengan rambut hitam basah itu tertawa ceria sambil memercikkan air laut ke arahku dengan kedua tangannya.

Benar.

Sekarang, yang ada di depanmu bukan laki-laki bernama Yuu itu. Tapi aku.

Jangan melihat ke tempat lain.

Seolah ingin membuang kNetoran yang menumpuk di hati, aku bermain air bersamanya dengan sangat heboh lebih dari biasanya.

◆◆◆

"...Fuuuh."

Di tengah asyiknya bermain laut, aku disuruh oleh Rei yang mengaku haus untuk pergi ke mesin penjual otomatis.

Yah, karena dia juga mentraktirku, jadi aku tidak protes.

Sambil membawa dua botol minuman olahraga untukku dan Rei, aku kembali ke pasir pantai.

"...Hm?"

Di dekat Rei yang terlihat di kejauhan, ada sosok asing. Sepertinya sekelompok laki-laki muda berdua.

Mereka terlihat sedang bicara sesuatu dengan Rei, tapi dilihat dari mana pun mereka tidak terlihat seperti kenalannya.

"............"

Merasakan firasat buruk, aku berlari mendekatinya.

Tepat sebelum salah satu laki-laki itu hendak merangkul bahu Rei dengan sok akrab, aku berdiri menghalangi jalan mereka.

"Maaf menunggu lama, Rei. Ayo pergi."

"Chi, Chi-chan?"

Sambil tetap memegang tangannya dengan paksa, aku mencoba meninggalkan tempat itu.

"Eh, tunggu dulu dong. Dek, kamu adiknya? Kami lagi ngobrol sebentar sama si Kakak ini..."

Mendengar kata-kata laki-laki yang terlihat brengsek itu, aku melirik ke arah Rei.

Melihat ekspresinya yang sedikit ketakutan, aku menegaskan pada kedua laki-laki itu.

"Maaf ya. 'Pacarku' sepertinya sudah lelah, jadi aku mau menyuruhnya istirahat. Sampai jumpa."

Mendengar kata-kataku, kedua laki-laki itu memasang wajah melongo.

Di saat itulah aku dan Rei segera pergi dari sana.

"...Ah— maaf. Minuman yang kamu minta tadi tertinggal."

"Ti-tidak apa-apa kok soal itu..."

Setelah kedua laki-laki yang mengganggu Rei tadi tidak terlihat lagi, aku membuka mulut untuk mencairkan suasana canggung.

"Sekadar memastikan, apa yang tadi itu kenalanmu?"

"Mana mungkin. Itu cuma orang yang mengajak kenalan (nanpa). Tadi mereka agak maksa jadi aku bingung. ...Aku terbantu sekali karena Chi-chan datang."




Sepertinya dia teringat ketakutan saat diganggu tadi, karena tangan yang kugenggam sedikit gemetar.

……Benar juga. Aku sering lupa karena pembawaannya yang santai, tapi dia pun hanyalah gadis biasa. Dikepung dua pria yang lebih besar darinya, mustahil dia tidak merasa takut.

"……Sudah tidak apa-apa, tenanglah."

"Eh?"

Demi menenangkan Rei, aku mengusap kepalanya pelan.

Sosokku yang sedikit berjinjit ini pasti terlihat sangat payah jika dilihat dari luar. Aku benar-benar mengutuk tubuh pendek ini.

Tapi, sepertinya itu cukup untuk meringankan perasaan Rei.

Dia memasang senyum yang tampak nyaman, membiarkanku terus mengusap kepalanya.

"Ternyata kamu memang laki-laki, ya. Aku sempat merasa sedikit berdebar."

"……Hah, hari ini kamu jadi penurut sekali. Sedang merencanakan apa?"

"Fufu, aku tidak bercanda, ini sungguhan. Chi-chan keren banget tadi. 'Jangan sentuh pacarku'—setiap perempuan pasti ingin mendengarnya setidaknya sekali seumur hidup."

……Dasar wanita ini. Kenapa dia pintar sekali menggoyahkan hati orang?

"……Fufu, ya, ya. Chi-chan, benar-benar, benar-benar ———— Terlihat Lezat."

"Hm? Maaf, kamu bilang sesuatu?"

"Aku bilang, gadis yang jadi pacar Chi-chan pasti akan bahagia."

"Hee hee, terima kasih banyak kalau begitu."

Begitulah, satu hari di musim panas berakhir.

◆◆◆

Mungkin, aku—Netora Reiko—sedikit lebih licik daripada orang lain. Mungkin aku sedikit lebih egois daripada orang lain.

Meski aku menertawakan diri sendiri sebagai sampah atau orang rendah, di suatu tempat di lubuk hatiku, aku berpikir, "Aku tidak seburuk sampah yang kukatakan, kan?"

Aku menganggap diriku sebagai sosok tragis yang memiliki alasan menyedihkan layaknya seorang dark hero.

Dan aku sadar bahwa aku adalah tipe manusia yang merendahkan orang yang tidak bisa bersimpati padaku sebagai orang picik yang miskin hati.

Sekalipun aku menertawakan diri sendiri sebagai monster jahat, aku ingin orang-orang di sekitarku berkata, "Kau adalah manusia."

Aku ingin mereka berpikir bahwa di balik semua kejahatanku, pasti ada alasan menyedihkan yang mendasarinya, dan hal itu adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Manusia adalah makhluk yang melakukan kesalahan. Dengan kata lain, manusia adalah makhluk yang melakukan kejahatan.

Tapi, meski seseorang salah jalan, yang bisa memaafkannya adalah sesama manusia juga. Orang bisa memulai hidup baru berkali-kali. Bencilah dosanya, jangan orangnya. Kalimat yang bagus.

Karena itu, jangan membenciku meski aku melakukan kesalahan. Orang yang melakukan hal itu adalah monster jahat yang kehilangan sisi kemanusiaannya. Tak bisa dimaafkan, bukan? Q.E.D. (Terbukti).

Yah, aku malah memulai monolog yang agak melankolis, tapi itu wajar saja.

Hari perpisahan dengan Chi-chan, yang belakangan ini telah menghibur hatiku, akhirnya tiba.

"Uuuugh~~ Chi-chaaan......"

Di samping Ayah dan Ibu yang sedang memasukkan barang-barang ke bagasi mobil, aku memeluk Chi-chan seolah tak ingin berpisah.

"Astaga... apa kamu harus melakukan ini setiap tahun agar merasa puas, Rei?"

Biasanya dia akan memerah dan melawan, tapi karena sekarang aku benar-benar berakting menangis, dia diam saja membiarkanku memeluknya. Gampang sekali dipengaruhi.

"Habisnya aku kesepian! Kita tidak akan bertemu lagi selama setahun, lho!?"

Ini adalah kejujuran.

Belakangan ini aku sibuk menghancurkan emosi Chi-chan dengan kontak fisik berlebihan layaknya manga erotis bertema onee-shota, lalu menikmati emosi negatif yang meluap darinya saat aku menyinggung keberadaan Yuu-kun. "Ah~~ enak banget, enak banget," batinku. Tapi kesenangan itu harus ditunda selama satu tahun lagi. Aku sungguh sedih.

"Satu tahun itu cuma sebentar tahu. Tahun depan aku pasti akan melampaui tinggimu."

"Eh, ah, iya, semangat ya?"

"Jangan langsung pasang wajah datar begitu dong! Apa emosimu sudah rusak, hah!? Sial, tahun depan aku pasti bakal lebih dari 160 senti!"

Saat kami sedang beradu argumen, orang tuaku memanggil. Berat rasanya, tapi ini benar-benar perpisahan.

Aku mengeluarkan ponsel dan mengaktifkan kamera depan.

"Kalau begitu, ini terakhir kalinya aku melihat Chi-chan yang kecil dan imut, ayo foto kenang-kenangan!"

"Mau cari ribut ya, Rei bodoh?"

"Sudahlah, ayo. Sini, lebih dekat lagi."

Aku menariknya paksa hingga pipi kami bersentuhan. Sebelum Chi-chan yang telinganya memerah padam sempat melawan, cekrek.

"Aku kirim fotonya ke aplikasi pesanmu, ya. Boleh lho dijadikan wallpaper!"

"Mana mau, bodoh! Nanti teman sekelasku salah paham!"

"……Eh? Bukannya mereka cuma akan menganggap kita sepupu yang akrab? Salah paham bagaimana?"

Saat aku memasang wajah karakter utama yang tidak peka, Chi-chan menyadari dia baru saja menggali kuburannya sendiri dan wajahnya memerah padam. Ah~~ enak banget, enak banget.

"Sudah sana! Pergi cepat! Bibi dan yang lain sudah menunggu dari tadi!"

"Iya, iya. Kalau begitu, sampai jumpa tahun depan."

Sebagai penutup, aku memeluk Chi-chan sekali lagi dengan ringan dan berbisik di telinganya.

"……Tahun depan, tunjukkan Chi-chan yang jauh lebih keren padaku, ya? Aku akan menantikannya."

"Ha, haah!?"

Yah, kurasa penghancuran emosinya sudah cukup sampai di sini. Kuharap dia akan berjuang keras demi cinta yang tak akan berbuah ini.

Karena BSS (Sudah Punya Pasangan) masih kerabat dengan NTR, aku bisa menikmatinya dengan lezat.

"Daaah—! Sampai jumpa lagi—!"

Aku melambai dari mobil kepada Chi-chan dan kakek-nenek.

Meski sedih berpisah dengan Yuu-kun dan yang lain, kepulangan kali ini benar-benar memuaskan.

◆◆◆

"……Sialan."

Setelah mobil yang ditumpangi Rei menghilang dari pandangan, aku—Yamasanka Chihiro—mengumpat pelan.

"……Satu tahun itu cuma sebentar. Aku tidak punya waktu buat santai-santai......"

Jika aku hanya diam saja, sepupuku yang berbahaya itu pasti akan segera pergi ke tempat yang tidak bisa kujangkau.

Apa yang bisa dilakukan anak kecil sepertiku memang terbatas.

Namun itu juga berarti, sekecil apa pun hal itu, pasti ada sesuatu yang bisa dilakukan.

"Cara agar bisa sekolah di daerah asalnya...... coba kucari tahu, deh."

Mungkin mustahil. Mungkin tidak akan keburu. Mungkin hanya akan berakhir sia-sia.

Segunung realitas negatif muncul di benakku.

Namun, semua itu bukan alasan bagiku untuk menyerah.

Aku menatap foto berdua dengan Rei yang dikirim ke ponselku.

"Untuk saat ini, mari berjuang dalam belajar."

Pindah sekolah menengah pertama ke sana memang tidak realistis.

Tapi jika sekolah menengah atas, aku bisa. Jika aku belajar dengan sungguh-sungguh sampai mati, aku pasti bisa memilih sekolah favorit di kota.

Selama aku mengincar sekolah yang lebih tinggi sehingga orang tuaku tidak kecewa, mereka mungkin akan terkejut tapi tidak akan melarangku.

"……Tunggu aku, Rei. Aku akan menunjukkan diriku yang paling keren padamu......!"

Di dalam hati sang anak laki-laki, mulai membara semangat juang yang tidak kalah panas dari terik matahari musim panas.

◆◆◆

Beberapa waktu berlalu sejak liburan musim panas dimulai.

Aku—Shirase Yuri—sedang menunggu seseorang di sebuah pusat perbelanjaan besar.

"……Apa tidak aneh, ya?"

Aku menjadikan kaca besar sebagai cermin untuk memastikan pakaianku, lalu mengecek riasan dengan cermin saku pemberian teman berhargaku—bukan, wanita berhargaku—sambil merasa gelisah menunggu kehadirannya.

'Waktu menunggu juga bagian dari kenikmatan kencan.' Ternyata cerita yang pernah kulihat di televisi itu benar, batinku sambil merasakan perasaan aneh antara takut dan melayang.

……Yah, karena dia mungkin tidak menganggap ini kencan, ini benar-benar hanya perasaanku sepihak saja.

"——Eh, wah! Kamu sudah datang!? Yuri-chan, maaf menunggu lama!"

Mendengar suara yang kunantikan, jantungku melonjak.

Saat menoleh ke arah suara, aku melihat orang yang kutunggu—Rei-chan—datang dengan langkah cepat sambil sedikit terengah.

"Maaf! Apa aku membuatmu menunggu lama?"

"U-umm, tidak kok, aku juga baru saja sampai......"

Itu bohong.

Sebenarnya aku sudah sampai satu jam lebih awal dari waktu janji temu.

Namun, karena Rei-chan juga datang tiga puluh menit lebih awal, aku jadi hampir besar kepala dan berpikir bahwa mungkin dia juga menantikan jalan-jalan denganku.

"Aah—! Kalimat 'aku juga baru sampai' itu kan bagianku!"

"Eh, ah, anu, maaf ya......?"

"Ahaha, aku bercanda kok. Tapi aku merasa sudah datang cukup awal, memangnya Yuri-chan sudah menunggu sejak kapan? ……Jangan-jangan kamu datang satu jam lebih awal ya?"

Jawaban Rei-chan yang tepat sasaran membuatku kaget, tapi aku berusaha keras agar tidak menunjukkannya. Aku tidak mau dianggap sebagai wanita yang "berat"......

"Be-benar kok, aku baru saja sampai......"

"Hmmmmmmm......"

"Uuuh, Rei-chan meragukanku......"

"Maaf, maaf. Kalau begitu, ayo pergi! Aku sudah menantikan 'kencan' dengan Yuri-chan setelah sekian lama, lho."

Kata-katanya yang santai itu membuat dadaku terasa sesak.

Dia pasti mengatakannya sebagai candaan, tapi tetap saja, aku merasa sangat tertarik padanya karena dia memberikan kata-kata yang sangat kuinginkan.

"……Anu, Rei-chan. Apa tidak apa-apa kita tidak mengajak Tachibana-kun dan Kurishima-kun?"

Bukan hanya aku yang ingin bertemu dengannya setelah dia pulang dari rumah neneknya.

Aku memang senang bisa memilikinya sendirian seperti ini, tapi ada rasa bersalah terhadap kedua laki-laki itu sehingga aku tanpa sadar bertanya.

"……Yaa, kurasa mengajak laki-laki ikut berbelanja hari ini agak kasihan, kan?"

"Ugh... ka-kalau dipikir-pikir benar juga......"

Tujuan utama belanja hari ini adalah persiapan untuk pergi ke kolam renang berempat nanti...... intinya, membeli baju renang baru.

Meski sebenarnya Rei-chan sudah membeli baju renang baru saat pulang kampung, jadi yang memilih hanya aku saja.

"Hah, padahal baju renang tahun lalu sudah tidak muat lagi......"

"Soalnya Yuri-chan punya bentuk tubuh yang bagus, sih. Padahal itu hal yang patut dibanggakan, tidak perlu malu lho."

Sambil melihat-lihat deretan baju renang, Rei-chan memilihkan beberapa kandidat dengan mempertimbangkan tren tahun ini dan koordinasi warna.

Sama seperti saat dia mengajariku riasan dulu, pengetahuannya benar-benar luar biasa.

Bukan hanya soal gaya dan pelajaran, aku pernah melihatnya mengobrol soal kedokteran olahraga dengan Kurishima-kun. Rasanya tidak ada hal yang tidak dia ketahui.

Aku pernah bertanya, 'Kenapa kamu tahu banyak hal?', dan dia menjawab malu-malu, 'Ini diperlukan untuk impian yang ingin aku wujudkan bagaimanapun caranya.'

Dia tidak memberitahuku detailnya karena 'memalukan', tapi sosoknya yang berjuang keras demi impian terlihat sangat menyilaukan di mataku.

"Hmm. Bagaimana kalau kita coba desain yang sama denganku? Aku ingin mencoba gaya anak kembar."

"Re-Rei-chan, baju renangmu kan bikini yang cukup berani, kan? A-aku sih agak......"

"Padahal aku yakin Yuri-chan pasti cocok memakainya."

Mengingat foto baju renang Rei-chan yang dikirim di grup, wajahku memerah.

[REIKO: Laut di rumah Nenek! Cantik sekali!]

Saat melihat fotonya yang sedang berpose double peace dengan baju renang sambil terlihat senang, aku merasa cukup terkejut.

Mungkin dia tidak menyadarinya, tapi mengirim foto baju renang ke grup yang juga dilihat oleh Tachibana-kun dan Kurishima-kun itu terlalu ceroboh menurutku.

Laki-laki di grup hanya memberi tanda read dan terdiam beberapa saat, suasananya sempat canggung, tahu?

……Yah, aku tidak akan bilang kalau aku juga punya keinginan untuk memiliki foto baju renang Rei-chan hanya untuk diriku sendiri.

"Muu~…… Oke, kurasa ini yang paling cocok, bagaimana?"

"U-um. Aku juga berpikir ini yang terbaik."

Akhirnya yang dipilihkan Rei-chan adalah baju renang one-piece dengan desain menyerupai pakaian yang menyatu dengan rok.

Kulit yang terbuka memang sedikit, tapi desainnya imut dan modis sesuai seleraku. Dan fakta bahwa dia yang memilihkan untukku sudah cukup menjadikannya barang favoritku.

Meski pergi ke kolam renang dengan teman sekelas laki-laki sedikit memalukan, aku jadi menantikannya karena bisa bermain bersama Rei-chan. Aku memeluk baju renang yang baru kubeli itu seperti harta karun.

◆◆◆

"Fuuuh......"

"Tidak apa-apa, Yuri-chan? Lelah ya?"

Setelah selesai belanja, aku dan Rei-chan beristirahat di kedai kopi di dalam mall.

"Tidak, aku tidak apa-apa kok. Daripada itu, apa yang akan kita lakukan sekarang?"

"Hmm, Yuri-chan ada waktu? Bagaimana kalau menonton film?"

"Film? Aku sih boleh saja, tapi sekarang sedang tayang apa ya......"

Saat aku bertanya, Rei-chan menunjukkan situs web bioskop di dalam mall lewat ponselnya.

"Bagaimana kalau yang ini? Adaptasi film dari novel yang dibaca Yamada-kun lho."

"Ah, sepertinya aku pernah dengar namanya."

Yang ditunjukkan Rei-chan adalah film anime orisinal dari novel.

Ceritanya tentang drama masa muda di sekolah. Aku belum pernah membaca novelnya, tapi sepertinya film ini cukup populer dibicarakan.

"Reputasinya tidak buruk, sepertinya bagus kan?"

"Kalau begitu, sudah diputuskan! Aku akan memesan tiketnya secara online, jadi mari kita habiskan waktu di sini sampai filmnya mulai."

"Iya. Aku tidak sabar, Rei-chan."

Belanja bersama, minum teh bersama, menonton film bersama......

Rasanya benar-benar seperti kencan, pikirku.

……Hari di mana aku bisa melakukan 'kencan sesungguhnya' dengan Rei-chan pasti tidak akan pernah datang.

Karena yang memandangnya dengan 'tatapan seperti itu' hanyalah aku.

Meski merasa kesepian, aku tidak berniat mengubahnya. Aku akan membawa perasaan jujur ini sampai ke liang lahat.

Karena aku ingin terus menjadi teman berharganya selamanya.

"Ngomong-ngomong, rumah nenek Yuri-chan itu tempat seperti apa?"

"Eeto, cuma ada gunung dan tidak ada apa-apa, tapi belakangan ini banyak orang yang datang ke perkemahan di dekat sana......"

Sambil terpesona melihat senyumnya yang tidak tahu apa-apa, aku bersikeras pada posisi sebagai 'teman'.

Daripada kehilangan posisi ini, menyembunyikan satu atau dua perasaan cinta yang menjijikkan bukanlah apa-apa.

……Karena itu, begini saja sudah cukup.

(——Padahal aku berpikir begitu! Tapi apa-apaan film ini!?)

Aku ingin memukul diriku sendiri beberapa puluh menit lalu yang berteriak ceria 'aku tidak sabar menonton filmnya' bersama Rei-chan.

Bukannya filmnya tidak menarik. Ceritanya menarik, visualnya indah, dan menurutku ini termasuk kategori film yang bagus.

——Hanya saja, skenarionya cukup radikal.

Adegan mesra antara laki-laki dan perempuan sih tidak masalah.

Masalahnya adalah persahabatan yang berlebihan antara sesama perempuan——ah, sudahlah, berhenti berpura-pura.

Kandungan lesbian-nya terlalu pekat. Bukan tipe yuri yang bernuansa indah atau puitis, tapi aku merasa emosi mentah yang basah dan nyata dilemparkan ke arahku dari layar.

"…………"

Aaaaaaa, Rei-chan di sebelahku juga terlihat merasa canggung.

Seharusnya aku memeriksa konten filmnya lebih dalam lagi, tapi nasi sudah menjadi bubur.

Padahal baru saja aku bersumpah akan membawa rahasia orientasiku ke liang lahat, tapi kenapa aku malah diberi cobaan seperti ini. Aku merasa sedang dipermainkan oleh dewa jahat.

"——————"

——Dua siswi di layar sedang berciuman dengan sangat mesra.

Sadar bahwa aku secara tidak sengaja menggantikan mereka dengan diriku dan Rei-chan, aku diserang rasa benci pada diri sendiri yang luar biasa.

……Dua jam penyiksaan itu berakhir. Di dalam teater yang perlahan mulai terang, aku menghela napas panjang dalam diam.

Fakta bahwa filmnya sendiri menarik justru membuatku makin kesal. Dan aku takut melihat wajah Rei-chan di sampingku. Yah, aku sebenarnya tidak melakukan kesalahan apa pun, sih.

"……Re, Rei-chan? Ayo keluar."

Memberanikan diri, aku mengajak Rei-chan. Namun, tidak ada respons darinya.

"……Rei-chan?"

Merasa aneh, aku menyentuh bahunya.

"——Hyaah!?"

Seketika itu juga, tubuhnya melonjak kaget.

Melihat dia yang biasanya tenang dan santai bergerak tidak seperti biasanya, aku pun ikut panik.

"Re, Rei-chan!? A-ada apa?"

"Eh, ah, Yu, Yuri-chan? Ah— anu, eh, eeto......"

Rei-chan yang tampak sangat bingung secara tidak wajar menarik perhatian orang-orang yang masih tersisa di dalam teater, meski sebagian besar sudah keluar. Ini tidak baik.

"Ki-kita keluar dulu yuk? Bisa jalan?"

"U-umm... maaf ya, Yuri-chan......"

Untuk saat ini, aku memutuskan untuk membawa Rei-chan keluar secara paksa.

◆◆◆

"Ini, air. ……Sudah tenang?"

"Iya. Maaf ya, Yuri-chan......"

Setelah meminum air dari botol plastik yang kuberikan, Rei-chan sepertinya sudah mulai tenang.

Di bagian belakang mall, di tempat istirahat yang sepi dan hanya ada bangku, aku dan Rei-chan duduk berdampingan.

"……Anu, film tadi itu, saat aku menontonnya,"

Seolah sedang bermonolog, Rei-chan mulai bercerita sedikit demi sedikit.

"Aku jadi teringat masa lalu."

"Masa lalu......?"

Saat aku mengulangi kata-katanya, Rei-chan mengangguk.

"Iya, aku, itu... tadinya aku pikir sudah sembuh, tapi kalau ketahuan, mungkin Yuri-chan, Yuu-kun dan yang lain bakal membenciku, jadi......"

Kata-kata yang tidak jelas maksudnya.

Suasananya seperti dia memiliki kNetoran yang menumpuk di dada dan terasa menyakitkan, dia ingin memuntahkannya tapi tidak bisa......

"Yuri-chan......?"

Aku memberanikan diri menggenggam tangan Rei-chan yang gemetar.

"……Ka-kalau Rei-chan tidak mau cerita, ti-tidak usah dipaksa. Tapi kalau bicara bisa membuatmu lebih tenang, aku akan mendengarkan apa pun."

Mendengar kata-kataku yang terbata-bata, Rei-chan tersenyum tipis, lalu seolah sudah memantapkan hati, dia membuka mulutnya.

"Waktu SD——bukan, mungkin bahkan sebelumnya. Aku, itu………… aku bisa menyukai laki-laki maupun perempuan, 'keduanya'."

"…………Hyoh?"

Rei-chan bilang apa barusan?

"……Keduanya bisa jadi objek cintaku. Sebelum masuk SMP, aku merasa itu aneh, dan aku berusaha sadar untuk hanya menyukai laki-laki saja... tapi saat menonton film tadi, sepertinya itu kembali lagi...... Aah! Ja-jangan salah paham ya!? Aku mendekati Yuri-chan bukan dengan perasaan tidak murni atau semacamnya, benar-benar bukan!"

Singkatnya, Rei-chan sepertinya punya kecenderungan biseksual.

——Eh, kalau begitu ada kesempatan bagiku, dong?

Di dalam otakku, aku merasa ada cahaya pelangi yang memantul secara acak, diiringi suara gemuruh terompet kemenangan yang sangat konyol.

◆◆◆

Menyeringai lebaaar……

Yah, kira-kira begini lah.

Sambil menatap Yuri-chan yang sudah menjadi seperti kucing luar angkasa (bingung), aku—Netora Reiko—yakin bahwa rencana ini berjalan dengan lancar.

Terhadap Yuri-chan yang ternyata lebih pasif dari dugaanku, aku sangat puas bisa meletakkan batu pijakan NTR yang lebih kuat.

Yuri-chan yang tadinya memiliki rasa bersalah terhadap orientasi sesama jenisnya, kini setelah tahu bahwa aku pun berada di pihak yang sama, dia pasti akan menjadi sedikit lebih agresif mulai sekarang.

Wah, aku jadi tidak sabar menunggu acara kolam renang bersama nanti. Seringai licik.




◆◆◆

"─Yo, Yuki!"

"Ah, Fuyuki-kun! Selamat pagi!"

Di tengah teriknya cuaca yang seolah membakar kulit dan silau matahari puncak musim panas, aku─Fuyuki Kijima─bersama sahabatku, Yuki, mengunjungi sebuah kolam renang rekreasi yang terletak beberapa stasiun dari rumahku.

"Mana Rei-chan dan Shirase-san?"

Tentu saja, ini bukan cerita pengap tentang dua laki-laki yang pergi ke kolam renang berdua. Kami pergi berempat bersama dua gadis yang memang sering menghabiskan waktu bersama kami.

Mendengar pertanyaan Yuki, aku segera mengirim pesan lewat aplikasi di ponsel untuk menanyakan keberadaan mereka. Tak lama kemudian, balasan pun tiba.

"Katanya bentar lagi sampai. Mereka minta kita tunggu di lobi dulu. Panas banget, nih, ayo cepat masuk ke dalam."

Setelah melewati pintu otomatis dan merasakan embusan AC yang sejuk, aku membeli air mineral dari mesin penjual otomatis untuk membunuh waktu.

"Sudah berapa lama ya sejak terakhir kali kita ke kolam renang bareng Fuyuki-kun dan Rei-chan? Sejujurnya, aku sudah menantikan hari ini."

"Terakhir kali kita ke sini waktu masih awal SD... berarti sudah sekitar empat tahun yang lalu?"

"Sepertinya sekarang atraksinya makin banyak. Ada water athletic, terus ada seluncuran air yang besar juga."

Melihat Yuki yang begitu polos kegirangan sambil memegang pamflet dari pintu masuk, sisi jahilku tiba-tiba muncul.

"Menantikan, ya... Yah, aku juga tidak sabar, sih. Terutama melihat Rei dan Shirase pakai baju renang."

"Eh!? Fu-Fuyuki-kun!? A-Aku tidak bermaksud begitu...!"

"Kekeke, sesama cowok jangan jaimlah. Ingat foto bikini Rei yang dikirim di grup tempo hari? Sekarang kita bisa lihat langsung, lho."

"Shirase juga ternyata punya 'aset' yang hebat, wajar saja kalau laki-laki punya ekspektasi lebih."

Saat aku sedang asyik menggoda Yuki yang wajahnya sudah semerah kepiting rebus, terdengar suara yang sangat familier dari kejauhan.

Sepertinya, orang yang kami tunggu sudah tiba.

"Kalian berdua, maaf ya sudah menunggu lama!"

"Tachibana-kun, Kijima-kun, selamat siang."

Shirase yang mengenakan blus longgar dan rok panjang, serta Rei yang bergaya sangat klise dengan one-piece putih dan topi jerami, berjalan menghampiri kami.

Melihat penampilan santai kedua gadis itu, aku dan Yuki sempat terpaku sejenak sebelum akhirnya berusaha bersikap tenang dan membalas sapaan mereka.

"Iya. Rei-chan, Shirase-san, selamat siang juga."

"Yo, terima kasih ya sudah datang jauh-jauh di tengah cuaca panas begini."

Rei tentu saja cantik, tapi Shirase yang belakangan ini dipoles habis-habisan oleh Rei juga menjelma menjadi gadis yang sangat manis tanpa perlu subjektivitas apa pun.

Saat mereka berdua berjalan bersisian, mereka benar-benar menarik perhatian. Aku merasakan sedikit rasa bangga saat melihat orang-orang di sekitar mencuri pandang ke arah kami, hingga tiba-tiba Rei melirik botol minum di tanganku.

"Ah, Fuyuki-kun bawa minuman enak. Boleh minta satu teguk?"

"Eh... ya, boleh saja sih."

...Ciuman tidak langsung. Ah, tidak, gadis ini mana mungkin memikirkan hal-hal romantis seperti itu.

Rei memang tipe yang sangat tidak waspada terhadap orang yang sudah dianggapnya sebagai orang dekat.

Kalau aku bereaksi aneh di sini, suasananya malah akan jadi canggung. Jadi, aku mencoba bersikap sewajar mungkin sambil menyerahkan botol itu padanya.

"Fuyuki-kun, makasih! ...Hmmph."

Tanpa ragu sedikit pun, bibir Rei menyentuh bibir botol tersebut.

Merasa agak canggung melihat pemandangan itu, aku sedikit mengalihkan pandanganku ke bawah.

...Tunggu, aku melihat sesuatu yang sulit dipercaya.

Sepertinya Yuki juga menyadarinya, karena wajahnya kini memerah sampai ke telinga.

Si bodoh ini, kenapa dia pakai one-piece putih tapi tidak pakai dalaman untuk mencegah terawang, sih!?

Melihat pakaian dalam Rei yang samar-samar terlihat menembus kainnya, rasanya kepalaku mau pecah.

Bra maupun celana dalamnya bisa terlihat jelas kalau diperhatikan sedikit saja. Bodoh sekali.

Maksudku, Shirase kan juga perempuan, harusnya dia sadar! Sesama perempuan harusnya saling mengingatkan hal seperti ini!

"─Fuuh. Makasih ya, Fuyuki-kun."

Tanpa tahu gejolak di hatiku, Rei mengembalikan botol itu dengan senyum santai.

...Gawat, ini benar-benar tidak benar.

Kalau cuma aku yang lihat sih tidak apa─eh, salah.

Aku tidak rela kalau dia dilihat orang lain selain aku─eh, salah lagi.

...Rei kan bukan anak kecil yang tidak tahu apa-apa lagi. Aku benar-benar harus memperingatkannya. Dengan berat hati, aku memutuskan untuk mengambil peran yang tidak mengenakkan ini.

"Anu, Rei. ...Itu, kelihatan, lho."

"Eh? Apanya?"

"...Pakaian dalammu, tembus banget dari balik gaun itu. Kalau mau pergi jauh, setidaknya punyalah rasa waspada sedikit─"

"Oh, kalau itu sih tidak apa-apa. Soalnya, ini bukan pakaian dalam."

"...Hah?"

Di saat aku kebingungan dengan maksud ucapannya, Rei justru menarik bagian dada gaunnya dan memperlihatkan apa yang ada di baliknya kepadaku dan Yuki.

Apa-apaan gadis ini!?

"Lihat, aku sudah pakai baju renang di dalam! Tentu saja aku tidak lupa bawa pakaian dalam ganti, dan untuk pulangnya aku sudah bawa baju dalaman supaya tidak terawang!"

"Persiapanku sempurna!" Begitulah arti senyumannya sambil berpose double peace. Aku yang mulai merasa pusing hanya bisa menatap Shirase dengan tatapan, 'Bagaimana sih pendidikan seks temanmu ini'. Shirase justru membuang muka. Oi.

Saat aku menoleh ke samping, Yuki sedang menengadah ke langit seolah sedang menahan mimisan.

◆◆◆

"Kalau begitu, sampai jumpa nanti!"

Meski sempat ada keributan kecil di awal pertemuan, aku dan Yuki berpisah dengan Rei dan yang lainnya untuk menuju ruang ganti.

Yah, bagi laki-laki, ganti baju itu simpel saja. Tinggal lepas dan pakai, selesai dalam sekejap.

Setelah selesai ganti baju, aku dan Yuki menunggu Rei dan Shirase di depan pintu masuk kolam renang.

"...Aku sudah merasakannya sejak di kolam renang sekolah, tapi perut Fuyuki-kun hebat juga, ya..."

"Jangan bicara seperti Rei, dong. Kamu sendiri juga sudah jauh lebih atletis dibanding waktu SD dulu, Yuki."

Mendengar pujianku, Yuki menggaruk pipinya sambil tertawa kecut.

"Ah, itu karena aku sering lari bareng Rei-chan. Dia jago banget melihat batasan kemampuan orang lain, sampai aku merasa mau mati setiap kali latihan. Itu agak traumatis buatku..."

"Entah kenapa teknik coaching-nya bisa setinggi itu. Harusnya dia jadi manajer sekalian saja..."

...Meski kami mengobrol sambil tertawa, jauh di lubuk hatiku, aku merasakan sesuatu yang mengganjal melihat betapa protektifnya Rei terhadap Yuki.

Padahal, sebenarnya aku ingin lebih sering bersama Rei─

"Maaf lama!"

"Ma-Maaf ya membuat kalian menunggu..."

Tepat saat rasa cemburu mulai merasuki pikiranku, suara Rei dan Shirase membuyarkannya.

Rei berdiri dengan percaya diri, sementara Shirase bersembunyi di belakangnya.

...Yah, sesuai dugaan, mereka berdua terlihat sangat menawan.

Rei mengenakan bikini berwarna biru muda cerah yang memberikan kesan segar, persis seperti di foto.

Sedangkan Shirase mengenakan baju renang one-piece yang lebih tertutup dan mirip pakaian biasa.

Keduanya benar-benar cocok, sampai-sampai aku berpikir klise kalau mereka terlihat seperti model majalah.

Meski mataku sulit berpaling dari kulit mereka yang terekspos, aku berusaha tetap tenang agar tidak bereaksi berlebihan. Namun, sepertinya Yuki tidak bisa melakukan hal yang sama.

"Wa... e-etto, Rei-chan. Anu... itu..."

"Oh, kalian berdua cocok sekali pakai itu. Manis banget."

Karena Yuki terbata-bata, aku mencoba membantunya. Rei langsung memamerkan senyum secerah matahari.

"Fuyuki-kun dapat nilai seratus! Cara memujimu yang tanpa malu-malu itu poin plus buatku! ...Yuu-kun, kamu harus lebih berusaha lagi, ya?"

"Uuuh, maaf. Rei-chan... tapi, aku juga merasa itu sangat cocok untukmu. Begitu juga dengan Shirase-san."

Melihat Yuki yang berusaha keras memeras kata-kata pujian, Rei mengangkat bahu sambil tertawa kecil.

"Hmm... yah, kurasa itu nilai standar minimal?"

"Memangnya kamu ini siapa, hah?"

Saat aku melontarkan protes, Rei tertawa kecil dan mulai melakukan pemanasan ringan.

"Nah, kalau sudah sedikit meregangkan otot, ayo kita berenang! Mau mulai dari mana?"

"Ayo kita jelajahi satu per satu. Untuk awal, kita bisa keliling lewat kolam arus dulu untuk melihat area lainnya. Waktu kita masih banyak, kok."

Hari masih pagi.

Karena Rei dan Yuki sangat bersemangat, kami berkumpul hampir bersamaan dengan jam buka kolam renang, jadi kami punya banyak waktu untuk bermain. Kalau kami bermain habis-habisan sekarang, mungkin di tengah jalan kami sudah kehabisan tenaga.

"Kalau begitu, ayo berangkat."

"Oooke!" sahut ketiganya serempak. Aku hanya bisa tersenyum kecut sambil melangkah menuju pintu masuk kolam arus.

◆◆◆

"He~, ada seluncuran sebesar itu sekarang. Terakhir kali kita bertiga ke sini, sepertinya belum ada, ya?"

Setelah mampir di water athletic dan kolam ombak, sebuah bangunan raksasa yang sangat mencolok muncul di depan kami saat kami sedang mengapung santai di kolam arus.

"Kalau tidak salah, itu seluncuran air besar untuk dua orang. Mau coba, Rei-chan?"

"Iya, ayo ayo! Yuri-chan, ayo bareng─"

Rei menoleh ke arah Shirase yang sedang berpegangan pada ban renang, namun gadis itu menggelengkan kepalanya dengan wajah pucat.

"Ma-Maaf ya, Rei-chan. Aku tidak kuat dengan ketinggian..."

"Ah... kalau begitu mau bagaimana lagi. Kita coba seluncurannya lain kali saja─"

"Ti-Tidak apa-apa! Jangan pedulikan aku, naik saja! Aku akan menunggu di bawah."

Yah, melihat sifat Shirase, dia pasti akan lebih merasa bersalah kalau Rei tidak bisa menikmati kolam renang gara-gara dirinya.

"Itu untuk dua orang, kan? Kalau begitu aku akan menemani Shirase, jadi kamu naiklah berdua dengan Yuki─"

"Hom-pim-pa!"

"Hah?"

Mendengar aba-aba Rei, secara refleks aku menjulurkan tanganku yang mengepal. Yuki pun sama, dia secara refleks menjulurkan telapak tangan.

Dan Rei menjulurkan kepalan tangan yang sama denganku.

"Kalau begitu, aku naik bareng Fuyuki-kun dulu ya?"

"Hah? Eh, tidak, aku..."

"Yah, padahal aku juga ingin naik..."

"Nanti Yuu-kun langsung dapat giliran, terus tinggal hompimpa lagi denganku atau Fuyuki-kun."

Sebelum aku sempat memprotes, keputusan sudah diambil begitu saja.

...Apa Rei tidak keberatan? Padahal dia bisa naik dengan Yuki, tapi malah denganku.

Aku juga tidak sebodoh itu. Aku tahu kalau Rei punya perasaan lebih dari sekadar teman kepada Yuki.

Itulah sebabnya, terlepas dari perasaanku sendiri, aku berniat mengalah kepada Yuki dalam banyak hal...

"Anu, Rei?"

"Ada apa, Fuyuki-kun?" tanya Rei saat kami menaiki tangga menuju wahana seluncuran.

"Maksudku, tidak apa-apa bukan dengan Yuki? Maksudku, naik seluncuran ini bersamaku."

"Eh? Tentu saja aku ingin naik dengan Yuu-kun."

"............"

...Jawaban yang sudah bisa kutebak itu membuatku merasa sedikit sesak karena keegoisanku sendiri.

Tentu saja, Rei pasti lebih memilih bersama Yuki daripada aku─

"─Makanya, aku merasa beruntung bisa naik dengan Fuyuki-kun lebih dulu! Karena aku jago hompimpa, maaf ya Fuyuki-kun, tapi nanti giliran berikutnya aku akan naik bareng Yuu-kun!"

"...Hah?"

"Habisnya, aku juga ingin naik seluncuran ini bareng Fuyuki-kun. Ah, tentu saja bareng Yuri-chan juga!"

"...Cih, apa-apaan itu. Dasar serakah."

"Biarin. Kita kan sudah lama tidak ke kolam renang bareng, wajar saja kalau aku sedikit bersemangat."

Melihat Rei yang memanyunkan pipinya, aku hanya bisa tersenyum lega.

Jujur saja aku tidak mengerti soal urusan asmara, tapi aku tahu kalau Rei menganggapku dan Yuki sama-sama berharga baginya.

...Kalau begitu, sepertinya terlalu dini bagiku untuk menyerah begitu saja, kan?

Langkah kakiku terasa sedikit lebih ringan saat akhirnya kami sampai di puncak tangga seluncuran.

"Wah... ternyata lebih tinggi dari yang kukira ya, Fuyuki-kun..."

"Di pamflet tertulis tingginya 20 meter. Kurasa ini salah satu seluncuran dengan perbedaan ketinggian paling ekstrem di Jepang."

"...Meskipun aku bukan Yuri-chan, tapi aku mulai merasa sedikit ngeri."

Meski berkata begitu, Rei tampak sangat bersemangat. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya sambil bersiap menaiki perahu karet yang berbentuk seperti dua ban yang tersambung.

"Rei mau duduk di depan atau belakang?"

"Tentu saja depan! Mau hompimpa dulu?"

"Tidak usah, aku di belakang saja tidak masalah."

Sambil mengobrol begitu, kami menunggu aba-aba keberangkatan dari petugas pengawas.

...Sepertinya aliran airnya cukup deras.

Dengan sedikit rasa tegang, aku naik ke bagian belakang perahu mengikuti Rei.

"Hya, fufufu, geli tahu, Fuyuki-kun!"

"...Ah, maaf."

...Karena struktur perahu karetnya, kaki orang yang duduk di belakang harus diselipkan di bawah ketiak orang yang duduk di depan.

Meski hanya kaki, aku merasa sangat gugup saat bersentuhan dengan tubuh Rei yang lembut.

Yah, sepertinya Rei sama sekali tidak keberatan, jadi hanya aku yang merasa canggung sendiri...

Di saat aku memikirkan hal itu, tanda "GO" dari pengawas akhirnya diberikan.

"Fuyuki-kun! Berangkaaat!"

"Yo, jangan sampai terpental, ya!"

Seketika, perahu karet kami meluncur kencang menuju permukaan tanah.

"Uwahhhh─!!"

"Ternyata lebih ekstrem dari kelihatannya...!"

Sambil mendengarkan teriakan gembira Rei, aku memfokuskan kesadaranku pada perahu yang terombang-ambing ke kanan dan ke kiri.

Mungkin hanya butuh waktu beberapa menit. Perahu kami yang sudah mencapai kecepatan maksimal akhirnya menghantam permukaan air di garis finis dengan cipratan air yang sangat besar.

"Wapuh!"

"─Buhah! Haa, Rei? Kamu tidak apa-apa─"

Setelah mengusap wajahku yang basah kuyup karena cipratan air, aku memanggil Rei.

"Ahaha, tadi seru banget ya! Fuyuki-kun!"

Sambil menyibakkan rambutnya yang basah, Rei menoleh ke arahku dengan senyum lebar. Seketika, tubuhku membeku.

"A, ga...!??"

Melihat Rei─tepatnya, melihat bagian tubuh atas Rei yang "tidak mengenakan apa-apa"─aku hanya bisa mengerang dengan suara yang sangat menyedihkan.

Sejak masuk SMP, lekuk tubuh Rei memang menjadi semakin feminin.

Saat aku terpaku tanpa bisa memalingkan mata dari gumpalan dada dan bagian pucuknya yang berwarna merah muda, Rei akhirnya menundukkan pandangan dan menyadari kondisinya sendiri.




"――Hea? ......E-Eh, ah, bohong, kan!? Fu-Fuyuki-kun! Jangan lihat!?"

"Te-Tenanglah――Uwoh!?"

Guncangan dari Rei yang mendadak bergerak karena panik membuat perahu karet yang kami tumpangi terbalik dengan sempurna.

Meskipun kedalaman airnya hanya sepinggang, Rei yang sedang terguncang tampak meronta-ronta karena panik, jadi aku bergegas menghampirinya.

"Oi, Rei!?"

"――Puha! Eho, koho!"

Saat aku menariknya dengan paksa, Rei yang masih terbatuk ringan memelukku tanpa pikir panjang.

...Jika sudah begitu, mau tidak mau dada Rei pun menempel dengan sensasi "kenyal" padaku....

Rasanya kesadaranku hampir melayang, namun aku berusaha mati-mati membayangkan wajah kakek dan nenekku di dalam kepala agar aliran darah tidak berkumpul di bagian bawah tubuhku.

Mungkin karena sudah kembali sadar sepenuhnya, Rei bergumam pelan dengan wajah merah sampai ke telinga.

"......A-Anu, Fuyuki-kun. Ka-Kalau sekarang dilepaskan, nanti macam-macamnya bakal kelihatan...... bolehkah kita tetap seperti ini sebentar lagi......?"

Sambil berkata begitu, Rei semakin memelukku erat seolah sengaja menekan dadanya.

Ampun, deh....

Sensasi dada Rei yang terasa di dadaku membuat bayangan wajah kakek dan nenek di kepalaku sirna seketika.

Kijima Fuyuki, hari ini kau akan mati di sini.

"――――Ah."

Rei mengeluarkan suara pelan seolah menyadari sesuatu yang buruk.

Ya iyalah, kalau menempel seerat ini, sudah pasti ketahuan kalau bagian bawah perutku sedang dalam keadaan "luar biasa". Tanpa kata, aku menutupi wajahku dengan kedua tangan.

"A-Anu, maaf ya? Fu-Fuyuki-kun juga laki-laki, sih............ E-Etto, itu...... ku-kurasa menjadi gagah seperti itu adalah hal yang bagus, lho!"

"Bunuh saja aku......"

Beberapa puluh detik kemudian. Shirase dan Yuki yang melihat situasi kami dari daratan bergegas datang setelah mengambil atasan Rei yang sempat hanyut, dan akhirnya aku terbebas dari surga sekaligus neraka ini.

◆◆◆

Sebenarnya, ini semua sudah direncanakan.

Aku――Reiko Netora――tersenyum lebar seperti bulan sabit sambil memeluk Fuyuki-kun.

Saat dalam perjalanan meluncur ke bawah, aku melonggarkan ikatan atasan baju renangku dengan kecepatan tangan yang tak terlihat oleh mata, dan berhasil menghancurkan emosi Fuyuki-kun dengan sempurna.

Sekalian juga, dengan aku yang berakting malu karena merasakan "milik" Fuyuki-kun, aku sudah selesai memberikan impresi bahwa 'Aku benar-benar melihatmu sebagai seorang laki-laki'. Benar-benar sempurna.

Memang tidak sia-sia aku melakukan survei lokasi sendirian ke kolam renang ini tanpa memberi tahu Yuki dan yang lainnya. Tadi aku bilang sudah empat tahun tidak ke sini? Itu bohong.

Aku adalah wanita yang rela berkorban demi tujuan yang mulia.

Demi masa depan Netorare yang indah, aku tidak keberatan membuang baju renangku dan memperlihatkan atau menekan satu atau dua payudaraku padanya.

Setelah membiarkan "milik" Fuyuki-kun bergesekan di perut bawahku untuk beberapa saat, Yuki dan yang lainnya membawakan baju renangku yang hanyut.

Aku mengenakan atasan yang diberikan oleh Yuri-chan, lalu berterima kasih pada Yuki dan yang lainnya.

"Ahaha...... Anu, terima kasih ya Yuki-kun, Yuri-chan. Tadi aku agak panik......"

"U-Um......"

"E-Etto, intinya syukurlah kalau tidak terjadi apa-apa, ya......"

Dua orang yang baru saja melihatku memeluk Fuyuki-kun itu tampak sangat terguncang.

Ah~~ Ini benar-benar tak tertahankan.

◆◆◆

"Seru banget ya! Iya kan, semuanya!"

Saat senja tiba. Aku menyapa Yuki dan yang lainnya dengan riang sambil berjalan menuju stasiun terdekat dari kolam renang.

"Haha, memang seru sih...... tapi besok otot-ototku mungkin akan sangat sakit......"

"Hoahm...... Habis berenang itu bawaannya jadi mengantuk, ya."

"Aku juga...... Khawatir bakal ketiduran di kereta saat pulang nanti......"

Setelah kejadian "baju lepas" di seluncuran air tadi, suasana di antara kami memang sempat agak canggung. Namun, karena si pelaku yang memamerkan dada ini bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, saat pulang suasananya sudah kembali normal di permukaan.

"............A-Apa sih, Rei."

Yah, Fuyuki-kun memang tidak bisa menyembunyikan batinnya yang cukup panik, sih.

Tidak sia-sia aku berkorban tubuh. Lezat sekali.

"Hmm? Aku cuma berpikir, kalau kita semua ketiduran sampai ke stasiun terakhir, rasanya pasti seru dan berjiwa muda gitu."

"Jangan, jangan. Jangan pasang flag aneh-aneh."

"Ufufu, kalau Yuri-chan ketiduran, aku akan memotret wajah tidurmu."

"Eeh, ja-jangan dong, Rei-chan."

"Ah, benar juga. Bicara soal foto......"

Sambil bercanda mesra dengan Yuri-chan, aku mengutak-atik ponselku dan mengirimkan foto ke grup.

"Hm? Rei-chan, apa yang kamu kirim?"

"Foto kenang-kenangan yang kita ambil di kolam renang. Tadi belum sempat kukirim."

Di layar obrolan terpampang foto kami berempat di kolam renang.

Yuri-chan yang tersenyum malu karena aku menempel padanya.

Fuyuki-kun yang menunjukkan senyum segar, seolah sudah terbiasa dengan foto seperti ini.

Yuki-kun yang tertular suasana dan berpose peace dengan agak malu-malu.

――Ya. Tidak buruk.

"......Foto yang bagus ya, Rei-chan."

"Kan? Cuma dengan ini saja, aku sudah merasa senang bisa datang ke kolam renang bareng kalian."

Aku memberikan senyum lembut pada Yuki-kun.

Teman-teman yang benar-benar berharga. Orang-orang penting. Kenangan satu musim panas yang aku habiskan bersama mereka.

Pasti, setiap kali aku melihat foto ini, aku akan teringat kembali berkali-kali.

Dinginnya air kolam.

Rasa makan siang yang kami makan bersama.

Aroma angin senja saat kami berjalan bersisian.

Senyum orang-orang tersayang.

"Kenangan" masa muda yang tak tergantikan ini...... adalah "hidangan pembuka" dari hidangan lengkap NTR-ku......

Ngomong-ngomong, hidangan lengkapku mulai dari sini akan menyajikan menu-menu terburuk seperti 'Keputusasaan Yuki-kun' atau 'Rasa Bersalah Fuyuki-kun'. Aku sendiri merasa kalau aku ini benar-benar sampah yang tidak tertolong.

Sambil membayangkan rasa hidangan lengkap yang akan kusantap suatu saat nanti dengan perasaan takjub, kami pun menaiki kereta pulang yang baru saja tiba di peron stasiun.

◆◆◆

"Hoahm......"

Merasakan guncangan kereta yang terasa nyaman, aku――Fuyuki Kijima――menguap lebar untuk kesekian kalinya.

"Fuyuki-kun kalau mengantuk boleh tidur, lho? Aku pasti akan membangunkanmu nanti."

Karena Yuki dan Shirase sudah tidur terlelap, yang masih bangun hanya aku dan Rei.

Mendengar suara lembut dan melihat senyumnya itu membuat jantungku berdebar, namun aku sengaja mengangkat bahu dan tertawa sinis.

"Kau pasti berniat memotretku kalau aku tidur, kan? Seleramu agak buruk, Rei."

"Ketahuan ya? Aku sudah memotret Yuki-kun dan Yuri-chan, jadi tinggal Fuyuki-kun saja supaya koleksiku lengkap."

Aku tertawa kecut melihat Rei yang mengutak-atik ponselnya sambil tertawa geli.

......Sial. Aku benar-benar jadi sadar akan kehadirannya.

Kejadian di kolam renang tadi benar-benar seperti obat keras bagi seorang siswa SMP laki-laki yang sehat.

Meskipun aku mencoba melupakannya, tanpa sadar mataku tertuju pada bagian dada Rei, dan bentuk serta sensasi dada Rei terus menari-nari di dalam pikiranku.

"......Fu-Fuyuki-kun mesum......"

"Pffft!?"

Rei yang menyadari tatapan mesumku menutupi dadanya dengan kedua tangan.

"Padahal aku sudah bilang untuk melupakannya......"

"......Bukannya apa-apa, aku benar-benar merasa bersalah, tapi otak manusia itu bukan smartphone. Tidak bisa menghapus atau membuang ingatan semudah itu......"

"Uuu~~! Menempelkan 'barang itu' ke pusar orang lain lalu bersikap tidak tahu malu begitu, kurasa itu benar-benar tidak baik!"

"Berhenti! Serius, aku bisa mati karena rasa bersalah dan malu! La-Laki-laki tidak bisa mengendalikan hal semacam itu! Punyamu tadi juga sempat jadi agak keras, kan!"

"Pa-Paling payah!? I-Itu karena air kolamnya dingin......!"

Saat kami sedang ribut, kami berdua langsung terdiam saat melihat Yuki dan Shirase sedikit bergerak dalam tidurnya.

"......Mari kita berhenti. Aku tidak ingin Yuri-chan atau Yuki-kun mendengar perdebatan bodoh seperti ini."

"......Benar juga. Ah, itu...... Aku benar-benar merasa bersalah, dan mungkin aneh kalau menyebutnya sebagai permintaan maaf, tapi kalau ada yang bisa kulakukan untukmu, aku akan menurutinya. Jadi tolong maafkan aku, ya?"

Melihat wajahku yang sangat bingung, Rei sedikit tersenyum lalu memberikan satu syarat.

"Kalau begitu, minggu depan aku ingin kamu pergi menemaniku ke festival musim panas di distrik perbelanjaan. Dengan begitu, aku akan memaafkanmu."

"Eh, ah...... itu maksudnya......"

Apa ini ajakan kencan?

Pikiran melayang seperti itu sempat terlintas di kepalaku, tapi tentu saja gadis ini bukanlah tipe orang yang punya pikiran romantis seperti itu.

"Aku juga akan mengajak Yuki-kun dan Yuri-chan, jadi ayo kita main berempat lagi. Liburan musim panas juga sebentar lagi berakhir, kan."

Ah, iya, iya. Sudah kuduga, sialan.

Tapi, menghabiskan kenangan terakhir liburan musim panas bersama-sama di festival musim panas bukanlah ide yang buruk.

"Baik, baik, dengan hormat saya terima perintahnya."

"Umu, bagus. Kalau begitu, dengan ini kita berbaikan, ya."

Sambil berkata begitu, Rei tertawa polos dan mengulurkan satu tangannya padaku.

Aku menjabat tangan kecilnya yang putih itu, lalu mengayunkannya pelan ke atas dan ke bawah.

"Lagi pula kita tidak sedang bertengkar, sih."

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Hal seperti ini kan masalah perasaan."

Rambutnya yang sedikit lembap berkilauan terkena sinar matahari terbenam yang masuk dari jendela kereta.

――Sial, aku benar-benar tidak ingin menyerah.

Benih cinta yang selama ini kupendam terus bersinar dengan redup.

◆◆◆

"Kalau begitu, aku berangkat ya, Ibu."

"Iya, jangan pulang terlalu larut ya."

Setelah berpamitan pada ibuku, aku――Yuki Tachibana――keluar dari rumah.

Tujuan utamaku adalah jalan besar di distrik perbelanjaan. Itu adalah tempat diselenggarakannya festival musim panas di daerah kami.

Seperti biasa, atas usulan Rei-chan, aku, Fuyuki-kun, dan Shirase-san memutuskan untuk pergi ke festival musim panas bersama-sama.

Mengingat ucapannya yang bilang, 'Aku akan datang memakai yukata bersama Yuri-chan, jadi nantikan ya', aku menuju ke distrik perbelanjaan dengan perasaan riang.

"――Oh, kau cepat juga, Yuki."

Di pintu masuk distrik perbelanjaan yang merupakan tempat pertemuan kami, Fuyuki-kun muncul lebih dulu saat aku sedang asyik mengutak-atik ponsel.

"Aku tidak enak kalau sampai membuat Rei-chan dan yang lainnya menunggu."

"Benar juga. Rei dan Shirase punya penampilan yang mencolok. Tidak lucu kalau mereka diganggu orang aneh lalu malah jadi masalah."

"Begitulah. Aku tidak ingin merusak kenangan terakhir liburan musim panas ini."

Sambil mengobrolkan hal itu, kami berdua menunggu.

Karena festival musim panas di distrik perbelanjaan ini adalah acara besar yang menutup jalan utama, aku juga melihat beberapa siswa dari SMP kami yang datang bermain.

"Ah, ada Kijima-kun dan Tachibana-kun."

"Yo, selain kita, aku juga melihat banyak murid sekolah kita yang datang."

Ada juga beberapa anak yang menyapa kami seperti ini.

Setelah menyapa sekelompok siswi kelas kami yang memakai yukata, mereka mengajak kami untuk bermain bersama.

"Maaf, kami sedang menunggu orang lain."

"Iya. Maaf ya sudah mengajak kami."

Mendengar kata-kata kami, mereka berpura-pura kecewa dengan nada bercanda.

"Yah, kita ditolak, deh."

"Kalau kalian berubah pikiran, panggil kami ya. Kami masih bakal main di sini sebentar."

Setelah berkata begitu, mereka melambaikan tangan dan pergi.

Dalam hati aku merasa lega karena tidak dipaksa, namun di sampingku Fuyuki-kun menyeringai jahil sambil menyikutku.

"Wah, diajak duluan, ya? Populer banget kamu, Yuki?"

"Itu mah pasti mereka mengincar Fuyuki-kun. Aku palingan cuma dianggap sebagai hewan peliharaan yang lucu saja."

"――Tidak perlu rendah hati begitu, kan? Yuki-kun juga cukup populer di kalangan perempuan, tidak kalah dari Fuyuki-kun, lho."

Mendengar suara dari belakang, aku dan Fuyuki-kun menoleh.

Di sana berdirilah Rei-chan yang mengenakan yukata bermotif bunga telang, dan Shirase-san yang memakai yukata bermotif ikan koki.

"Maaf menunggu, kalian berdua."

"Maaf ya kami telat. Aku tadi agak kesulitan memakai yukatanya......"

"Kalau dadanya besar, memang sulit memakai yukata supaya terlihat rapi."

"Re-Rei-chan! Malu tahu, jangan bilang begitu!"

Melihat mereka berdua yang sedang bercanda mesra, aku mengucapkan kata-kata yang sudah kulatih diam-diam.

"U-Um. Ka-Kalian berdua, yukatanya sangat cocok, lho."

"Wah, aktingnya kaku banget."

"Ugh."

Saat aku merasa sangat terpukul karena ucapan tajam Rei-chan, Shirase-san memberikan dukungan padaku.

"Re-Rei-chan. Tachibana-kun sudah berusaha keras, jadi bicaralah lebih halus......"

"Ahaha, maaf, maaf. Aku senang kok kamu memujiku! Terima kasih ya, Yuki-kun."

"U-Um."

Sambil terpesona melihat sosok Rei-chan dalam balutan yukata, aku berusaha keras menjaga ekspresi wajahku agar tidak terlihat bodoh.

"Ngomong-ngomong, padahal kami sudah bersusah payah dandan begini, tapi kalian para laki-laki malah pakai baju biasa~?"

"Laki-laki mah pakai apa saja tidak masalah, kan?"

"Bagiku, karena ini festival musim panas, aku ingin para laki-laki setidaknya pakai jinbei atau semacamnya. Fuyuki-kun pasti bakal cocok memakainya."

"Iya, iya, kalau aku ingat sampai tahun depan, bakal kupikirkan deh."

Fuyuki-kun dan Rei-chan saling bertukar kata-kata ejekan ringan seperti itu.

......Entah kenapa, aku merasa jarak antara mereka berdua menjadi sedikit lebih dekat sejak kejadian di kolam renang tempo hari. Apa itu hanya perasaanku saja?

"Tachibana-kun? Ada apa?"

"――Ah, tidak. Tidak ada apa-apa, Shirase-san."

Shirase-san menyapa aku yang tanpa sadar menunjukkan wajah cemas. Aku buru-buru bersikap tenang dan memberi tahu dia bahwa tidak ada masalah.

――Tidak apa-apa. Aku hanya terlalu banyak berpikir.

Karena Fuyuki-kun tahu kalau aku menyukai Rei-chan.

Dulu saat SD, ketika aku mulai menyimpan perasaan cinta yang tak sebanding pada Rei-chan, Fuyuki-kun-lah yang selalu menyemangati dan mendukungku, kan?

'Tidak apa-apa. Yuki itu orang yang sangat baik, dan Rei juga tahu banyak tentang kebaikanmu, kan.'

'Tapi, aku tidak sekeren Fuyuki-kun......'

'Rei itu menganggapmu jauh lebih berharga daripada yang kau bayangkan. Semangatlah!'

Setiap kali Rei-chan ditembak oleh seseorang dan aku merasa sedih karena kurang percaya diri, Fuyuki-kun selalu menyemangatiku. Meragukan teman seperti dia benar-benar adalah tindakan yang sangat tidak tahu terima kasih.

Aku menggelengkan kepala pelan untuk mengusir rasa bersalah. Meskipun kecurigaan yang lengket itu sulit hilang dari kepalaku, setidaknya aku sudah cukup tenang untuk mengalihkan perasaan.

"Kalau begitu, ayo pergi! Ayo, Yuki-kun. Bahaya kalau terpisah, jadi ayo gandengan tangan?"

"Re-Rei-chan...... berhentilah memperlakukanku seperti anak kecil......"

Aku bukanlah anak kecil yang akan terus kau urus selamanya.

Aku ingin kau melihatku sebagai seorang "pria" yang layak berdiri di sampingmu.

Perasaan itu pun melebur ke dalam keriuhan festival.

◆◆◆

"............"

Krit, krit, krit, krit, krit

"Etto...... Rei-chan?"

Prak

"Aah!? Padahal tinggal sedikit lagi!"

Rei-chan yang sedang asyik menusuk-nusuk lempengan merah muda dengan paku payung berteriak kecewa.

Aku hanya bisa tersenyum kecut melihatnya yang sangat terpikat dengan permainan katanuki (mencetak bentuk), lalu meletakkan tanganku di bahunya.

"Ahaha, sayang sekali ya."

"Yu-Yuki-kun, sekali lagi! Izinkan aku coba sekali lagi!"

Rei-chan yang memasukkan potongan permen berbentuk tulip yang patah di bagian tangkainya ke dalam mulutnya karena kesal, dihentikan oleh tanda silang dari jari Fuyuki-kun.

"Jangan main permainan yang memakan waktu lama sejak awal, dong. Kita bahkan belum maju sepuluh meter dari pintu masuk distrik perbelanjaan ini."

"Kijima-kun benar, ayo kita main katanuki lagi nanti?"

"Uuuh, kalau Yuri-chan bilang begitu......"

Setelah dibujuk oleh semua orang, Rei-chan akhirnya meninggalkan kedai katanuki dengan wajah masih tidak rela.

"Hah, padahal aku ingin menambah modal perang di sini."

"Sudahlah. Paman di kedai itu teliti banget. Kalau cuma satu atau dua lembar mungkin dia mau menukarnya dengan hadiah, tapi kalau lebih dari itu dia pasti bakal mencari-cari kesalahan supaya tidak lulus."

"Ahaha, dulu aku dan Fuyuki-kun juga sering mengalami hal buruk di sana......"

Karena alasan itulah, aku dan Fuyuki-kun hanya berhasil menyelesaikan satu lembar katanuki di awal dan berhasil mendapatkan sedikit uang receh. Ngomong-ngomong, karena Shirase-san sama sekali tidak terampil dengan tangannya, dia hanya menjadi pemandu sorak untuk Rei-chan.

Dan Rei-chan pun mengalami kekalahan telak karena nekat mencoba bentuk dengan tingkat kesulitan tinggi demi mendapatkan hadiah besar, sehingga kelompok perempuan tidak mendapatkan hasil apa pun. Nanti aku harus mentraktir mereka sesuatu.

"Nah, sekarang mau ke mana? Untuk makan malam sepertinya masih terlalu pagi, bagaimana kalau kita keliling dulu dari ujung?"

"Ide bagus. Sambil jalan kita bisa menandai kedai mana yang kelihatannya enak, baru nanti kita beli."

Kami semua setuju dengan usulan Fuyuki-kun, lalu mulai berjalan di tengah keriuhan festival.

Mungkin karena banyak orang yang tidak ingin melewatkan akhir musim panas, distrik perbelanjaan ini cukup dipadati oleh kerumunan orang. Kalau tidak waspada, kami bisa saja terpisah dengan mudah.

"Yuri-chan, karena ramai banget, ayo gandengan tangan?"

"U-Um. Terima kasih, Rei-chan."

Mendengar kata-kata Rei-chan, Shirase-san mengangguk patuh lalu menggandeng tangannya. Rei-chan tampak puas melihat itu, lalu dia memberikan senyum jahil padaku.

"Fufu, Yuri-chan benar-benar penurut dan manis, ya~. Yuki-kun sudah sok dewasa sekarang, dia tidak mau lagi gandengan tangan denganku."

"B-Bukannya aku tidak mau......"

Saat aku sibuk mencari-cari alasan, Rei-chan tampak puas dan menunjukkan senyum polosnya.

"Bercanda, kok. Yuri-chan juga pasti merasa keberatan kalau harus gandengan dengan laki-laki, dan kalau kita bertiga gandengan tangan, nanti jadi sulit berjalan, jadi mau bagaimana lagi."

Sambil mengobrolkan hal-hal seperti itu dan kemajuan tugas liburan musim panas kami, kami pun menikmati festival musim panas.

Mulai dari kupon berhadiah yang konon tidak pernah ada hadiahnya, menangkap ikan koki, hingga menembak sasaran, kami menghabiskan waktu sekitar satu jam berkeliling di sepanjang jalan yang meriah itu.

"Nah, sudah capek jalan dan perut sudah lapar, bagaimana kalau kita beli makan sekarang?"

"Setujuuuuu. Kebetulan tempat istirahatnya ada di sana, ayo kita cari tempat duduk."

Rei-chan setuju dengan perkataan Fuyuki-kun, lalu kami menuju tempat istirahat yang berisi barisan meja dan kursi di bawah tenda pipa.

Setelah beruntung mendapatkan tempat untuk empat orang, kami beristirahat sejenak, lalu Rei-chan menunjukkan foto-foto kedai makanan yang sempat dia ambil sepanjang jalan di ponselnya.

"Mau makan apa? Tentu saja takoyaki dan yakisoba tidak boleh dilewatkan, kan~"

"Aku juga penasaran dengan kedai kebab tadi."

"Rei-chan, tadi aku juga melihat kedai tapioka di sana."

"Eh, benarkah!?"

Sambil ribut-ribut, kami menentukan menu makanan sambil menyesuaikan dengan anggaran yang ada.

"Yah, begitulah. Kalau begitu, aku dan Yuki akan pergi membeli makanan, kalian para perempuan tunggu di sini saja untuk menjaga tempat――"

"Tunggu sebentar, Fuyuki-kun. Biar aku dan Yuki-kun yang pergi beli, Fuyuki-kun tunggu di sini saja bareng Yuri-chan."

Mendengar kata-kata Rei-chan, kami semua menunjukkan wajah heran, lalu Rei-chan menjelaskan alasan pemilihan orangnya.

"Kalau cuma dua perempuan yang diam di sini, nanti malah dipanggil orang-orang aneh dan jadi repot, kan? Yuri-chan juga sepertinya agak lelah karena banyak jalan, jadi aku ingin Fuyuki-kun jadi ksatria di sini."

"Hm, yah tidak masalah sih......"

"Iya, tolong ya? Kalau begitu, ayo jalan, Yuki-kun."

"Eh, ah, iya."

Setelah berkata begitu, Rei-chan berdiri dan menggenggam tanganku, lalu kami mulai berjalan menembus kerumunan.

――Meskipun aku sempat merasakan sedikit paksaan yang aneh dalam gerakannya, rasa janggal itu segera meleleh dan hilang saat melihat wajah Rei-chan yang tertawa gembira.

◆◆◆

"............"

"Kijima-kun?"

"――Hm, ah, maaf. Aku melamun sedikit. Ada apa, Shirase?"

"Eh, etto, bukannya apa-apa, sih...... cuma wajahmu tadi terlihat agak seram, jadi aku khawatir......"

"Oh? Apa wajahku seseram itu? Maaf, bukannya aku sedang marah atau apa――"

Di belakang, Fuyuki-kun dan Shirase-san membicarakan sesuatu, namun isi pembicaraannya tenggelam oleh keriuhan dan tidak sampai ke telingaku.

――――――Nicha.

 

"Yuki-kun, lihat, lihat, warnanya stroberi."

Melihat Rei-chan yang menunjukkan lidah merahnya karena sirup es serut, aku merasa bernafsu...... eh, salah. Berdenyut...... salah lagi. Ber――berdebar, namun aku tetap menjentik kepalanya pelan.

"Aduh."

"Sopan santunmu buruk, Rei-chan."

"Muuu, kurasa tidak ada aturan tata krama meja saat makan di festival, deh."

Setelah selesai membeli bahan makanan, kami berempat sedang makan bersama di tempat istirahat.

Perut sudah kenyang, dan suasana pun menjadi santai.

"Berapa lama lagi ya sampai kembang apinya mulai?"

Saat Rei-chan menanyakan waktu kembang api yang akan dinyalakan sebagai penutup festival, Fuyuki-kun menyalakan layar ponselnya.

"Hmm, sekitar sepuluh menit lagi. Mau pindah tempat?"

"Pasti tempat-tempat bagus sudah diambil orang semua. Dari sini juga kelihatan, kok, santai saja di sini."

Karena kami sudah sedikit lelah bermain, kami setuju dengan kata-katanya dan mulai mengobrol ringan sambil menunggu kembang api dinyalakan.

"Tidak disangka, ternyata kalian semua sudah menyelesaikan tugas liburan musim panas dengan baik, ya."

"Itu karena ada seseorang yang cerewet menyuruh Reiko-san untuk melakukannya secara terencana."

"Yah, karena sudah jadi anak SMP, rasanya agak malu kalau dimarahi guru gara-gara tugas liburan."

"......Liburan musim panas akan segera berakhir, ya."

Rei-chan bergumam dengan nada sedikit sedih.

Mendengar itu, Shirase-san menunjukkan wajah heran.

"Kukira Rei-chan akan bilang, 'Aku senang bisa bertemu kalian semua setiap hari lagi'?"

"Itu juga benar, tapi ketika acara besar seperti ini berakhir, aku merasa waktu di mana aku bisa tetap menjadi seorang 'anak-anak' telah berkurang lagi...... rasanya jadi agak sedih."

"Rei-chan......?"

Melihat tatapannya yang sayu dan kata-katanya yang penuh makna, aku merasa sedikit cemas.

Saat aku sedang ragu harus berkata apa padanya, suara letusan yang seolah mengosongkan udara bergema di langit malam.

"――Ah."

Suara ledakan.

Diiringi dengan sensasi udara yang bergetar, kembang api mekar di kegelapan malam.

"Wah......"

"Memang harus ada ini ya kalau musim panas."

Meskipun tidak semegah kembang api di festival besar, namun bunga-bunga api yang menerangi langit malam itu tetap sangat indah hingga membuatku menghela napas kagum.

"――Indah sekali ya, Yuki-kun."

Perlahan, di bawah meja, tangannya menggenggam tanganku.

Bukannya genggaman kuat yang biasa menuntunku, melainkan genggaman lemah yang seolah takut-takut saat menautkan jari dengan jariku. Aku tanpa sadar memalingkan wajah dari kembang api dan menatap Rei-chan.

"Rei-chan......?"

"......Cukup selama kembang api ini saja."

Melihat senyumnya yang tenang namun juga tampak sedih dan rapuh, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya bisa kembali menatap ke langit.

Dan setelah kembang api yang sangat besar diledakkan sebagai penutup, terdengar suara pengumuman berakhirnya kembang api dengan suara yang agak pecah.

Jari-jari Rei-chan yang bertautan dengan jariku pun terlepas dengan lembut, seolah-olah itu hanyalah mimpi belaka.

"Ah~ sayang sekali ya sudah berakhir."

Di sana berdirilah sosok dirinya yang seperti biasa, ceria dan baik hati.

"――Kalau begitu, kita mungkin baru akan bertemu lagi di sekolah, ya?"

"Yo, Rei, Yuki, jalannya gelap jadi hati-hati saat pulang ya."

Dalam perjalanan pulang dari festival musim panas.




Setelah mengantar Shirase dan berpisah dengan Fuyuki-kun, aku dan Rei-chan berjalan berdua saja menyusuri jalan pulang.

"Tadi seru banget ya, Yuu-kun!"

"Iya, tahun depan kita semua harus datang ke sini lagi."

Sosok Rei yang seolah menyimpan kegelapan saat melihat kembang api tadi kini telah menghilang sepenuhnya.

Saking cerianya dia sekarang, aku sampai berpikir kalau yang kulihat tadi hanyalah salah lihat belaka.

"…………"

Meskipun begitu, sensasi ujung jari-jarinya yang masih membekas di tanganku seolah menegaskan bahwa apa yang terjadi tadi bukanlah sebuah ilusi.

"Yuu-kun, terima kasih ya sudah mengantarku."

"Eh, ah, iya..."

Tanpa sadar, kami sudah tiba di depan rumah Rei-chan.

Aku baru saja hendak mengucapkan terima kasih karena telah mengajakku ke festival musim panas dan berpamitan, saat dia menghentikanku.

"...Hei, Yuu-kun. Masih punya waktu sebentar?"

"Eh?"

Suaranya yang seolah menahanku membuatku berhenti melangkah. Dia bergegas masuk ke dalam rumah, lalu tak lama kemudian kembali lagi ke hadapanku.

"Mau ronde tambahan... sebentar saja?"

Di tangannya, dia menggenggam sebuah korek api gas panjang dan sebungkus kembang api senko hanabi.

◆◆◆

Setelah menyetujui ajakan Rei-chan, aku berjalan bersamanya menuju sebuah taman kecil yang berjarak beberapa menit dari rumahnya dengan kembang api di tangan.

"Sudah lama sekali ya tidak ke sini."

"Waktu TK dulu, kita sering main di taman ini ya, Yuu-kun."

Taman sepi yang hanya berisi kotak pasir kecil dan sedikit mainan itu tampak tidak populer di kalangan anak-anak, persis seperti kesan kumuhnya.

Namun, justru karena itulah hanya aku dan Rei-chan yang sering bermain di sini. Bagiku yang dulu, taman yang serasa milik kami berdua ini sama sekali tidak buruk.

"Nah, kembang apinya kita bagi dua ya."

Setelah mengambil air dari keran taman menggunakan ember kecil yang dibawa dari rumah Rei-chan, kami pun menyiapkan segalanya.

"Ini, Rei-chan."

"Terima kasih, Yuu-kun."

Aku menyalakan kembang api di tangan Rei-chan dengan korek api gas. Setelah memastikan percikan api kecil mulai berderak, aku pun menyalakan milikku sendiri.

Dibandingkan dengan kembang api besar di festival tadi, kembang api ini memang sangat kecil hingga rasanya bodoh jika dibandingkan. Namun, kembang api mungil ini memiliki keindahan tersendiri yang tidak buruk.

"...Hei, Yuu-kun."

Cahaya remang dari kembang api dan lampu jalan yang redup menyinari wajah Rei-chan secara samar.

"Aku tuh, pas jadi anak SMP, selalu berpikir 'pengin lebih akrab lagi sama Yuu-kun'."

"Itu..."

Aku pun merasakan hal yang sama. Aku ingin lebih akrab dengan Rei-chan. ...Jika mungkin, lebih dari sekadar teman.

Sebelum aku sempat mengutarakan isi hatiku, dia melanjutkan kata-katanya.

"...Tapi, setelah berteman dengan Yuri-chan, dan jadi makin akrab sama Fuyuki-kun... ditambah lagi, Yuu-kun selalu ada di sisiku. Sekarang setiap harinya terasa sangat menyenangkan. Aku selalu berpikir kalau aku ini bahagia banget."

Percikan senko hanabi di tangan Rei-chan perlahan melemah, seolah mencerminkan perasaan hatinya saat ini.

"Aku ingin lebih akrab dengan Yuu-kun. ...Tapi, karena sekarang sudah terlalu bahagia, dan rasanya menyenangkan sekali saat bersama kalian sampai-sampai aku ingin menangis... aku takut jika aku melakukan sesuatu, saat-saat ini akan berakhir..."

"Rei-chan..."

Kembang api yang telah habis masa pakainya itu terdiam dalam kehitaman, lalu ujungnya jatuh ke tanah dengan bunyi pelan.

"...Aku takut. Aku takut, Yuu-kun... Aku takut jika segalanya berubah... hiks."

Aku pun memeluk Rei-chan yang menunduk gemetar.

"Rei-chan."

"Yuu-kun...?"

"...Aku tidak bisa bilang kalau kamu tidak perlu berubah. Karena aku sendiri bisa berubah berkat dirimu."

Dulu, akulah yang tenggelam dalam rasa rendah diri dan keputusasaan. Dan yang mengubahku─yang menyelamatkanku─adalah dia. Jadi, kali ini giliranku untuk menariknya ke atas.

─Persis seperti yang dia lakukan padaku dulu!

"─Bagiku, kamu adalah gadis yang paling berharga dan tak tergantikan. Sejak hari pertama kita bertemu, selalu begitu..."

"Yuu, kun..."

"Ayo kita berubah bersama, Rei-chan. Aku yakin, masa depan nanti pasti akan menjadi hari-hari yang lebih menyenangkan dan indah."

Aku sedikit mempererat pelukanku pada bahunya.

"Ada aku─ada kami yang bersamamu."

...Yah, bagian di mana aku tidak bisa bilang 'hanya ada aku' memang kebiasaan burukku, sih. Tapi aku yakin, Fuyuki-kun dan Shirase-san pasti merasakan hal yang sama denganku. Kami tidak bisa selamanya menjadi anak-anak.

Kalau begitu, mari berubah bersama. Menuju hari esok yang lebih baik. Menuju masa depan yang lebih cerah.

"...Padahal cuma Yuu-kun, tapi sok tahu banget."

"Habisnya aku selalu dipermainkan oleh Rei-chan, kan. Sesekali boleh dong?"

Aku memasang senyum jahil seolah sedang memprovokasinya. Meskipun itu akting yang sangat transparan, dia tetap menyambutnya seolah memahami niatku.

"Benar-benar nggak ada manis-manisnya! Sejak kapan kamu jadi cowok nakal begini!"

"Ahaha, kalau sudah bisa marah begitu berarti sudah tidak apa-apa, ya. Nah, ayo lanjut main kembang apinya."

Sambil menatap Rei-chan yang menunjukkan ekspresi rumit antara marah dan senang, kami pun menghabiskan sisa kembang api yang ada. Wajah sampingnya yang disinari cahaya bulan dan percikan api itu benar-benar terlihat cantik.

◆◆◆

"...Aku takut. Aku takut, Yuu-kun... Aku takut jika segalanya berubah... hiks."

Sambil memegang kembang api yang sudah padam, aku─Reiko Netora─menundukkan wajah. Ini bukanlah akting, melainkan isi hatiku yang paling jujur tanpa kepalsuan.

─Aku benar-benar merasa ketakutan akan "perubahan".

Ya, dengan adanya Yuki-kun, Fuyuki-kun, dan Yuri-chan sekarang, aku sudah memiliki aktor NTR berkualitas tinggi. Aku sangat takut jika aku menambah kandidat selingkuhan lagi sekarang, bagan rencana progresku akan menjadi berantakan.

Memang benar, penyaringan kandidat selingkuhan tidak berjalan secepat rencana awal. Aku masih butuh tipe preman, si kuper mesum, dan si otot besi. Aku juga belum mendapatkan tipe cowok playboy yang bisa menggoda siswi adik kelas.

...Tapi, apakah Fuyuki-kun dan Yuri-chan saja tidak cukup? Daripada memaksakan diri memperluas jaringan lalu segalanya hancur, bukankah lebih aman jika aku fokus mempertahankan status quo?

Mengurangi risiko, meniadakan kesalahan, dan mengincar "kesempurnaan" jelas bukanlah hal yang salah. Ini bukan sekadar permainan atau hobi. Ini adalah proyek raksasa yang mempertaruhkan nyawaku.

Aku tidak sedang main-main di sini, tahu!! Kalau saja Yuki-kun tidak ada di sampingku, aku pasti sudah bersinar warna merah muda dan melolong kencang.

Saat aku sedang dilanda pergulatan batin itu, tiba-tiba Yuki-kun memelukku.

"...Aku tidak bisa bilang kalau kamu tidak perlu berubah. Karena aku sendiri bisa berubah berkat dirimu."

Maaf ya, Yuki-kun. Aku lagi mikir serius nih, bisa nanti saja nggak? Namun, aku adalah wanita yang tahu cara menempatkan diri berdasarkan situasi dan kondisi.

Aku pun membaca suasana dan mendengarkan ucapan Yuki-kun dengan wajah khusyuk. Anak pintar. Aku pun memuji diriku sendiri dalam hati.

"─Bagiku, kamu adalah gadis yang paling berharga dan tak tergantikan. Sejak hari pertama kita bertemu, selalu begitu..."

"――――――kh."

Kata-kata itu adalah kutipan dari kalimat yang pernah kuucapkan padanya dulu. Benar. Itu adalah kata-kataku saat aku masih begitu membabi buta mengejar mimpi tanpa rasa takut akan kegagalan─

"Yuu, kun..."

Dengan bibir gemetar, aku memanggil namanya seolah terengah.

"Ayo kita berubah bersama, Rei-chan. Aku yakin, masa depan nanti pasti akan menjadi hari-hari yang lebih menyenangkan dan indah."

─Aaah, benar juga.

Mendengar kata-kata Yuki-kun yang percaya pada kemungkinan masa depan, aku menyadari kesalahanku. Mempertahankan status quo demi kesempurnaan itu tidak ada artinya.

Jika sudah "sempurna", maka tidak akan ada kemajuan lagi. Tidak akan ada ruang untuk "kreasi", yang berarti kecerdasan dan bakat tidak punya celah untuk masuk. Rasanya ini bukan dialog yang pantas diucapkan pahlawan wanita komedi romantis, tapi ya sudahlah.

Intinya, yang kubutuhkan sekarang bukanlah "kesempurnaan". Melainkan masa depan NTR yang lebih baik dari kemarin! Kemungkinan selingkuhan yang lebih luar biasa dari sekarang! Kehancuran mental yang lebih berkilau dari status quo!

Inilah impian manusia! Keinginan manusia! Karma manusia!!

Aku pun mengubah selera mesumku menjadi masalah umat manusia secara keseluruhan. Jahat sekali ya yang namanya umat manusia itu. Ternyata aku juga hanyalah korban malang dari karma yang dipikul manusia. Jadi, kasihanilah aku. Anggaplah aku lebih malang lagi. Jangan mem-bully orang lemah!!

Tanpa memperlihatkan sedikit pun kalau aku sedang melakukan lompatan logika sampah dan pembenaran diri busuk di dalam otak, aku menikmati kembang api bersama Yuki-kun lalu memintanya mengantarku sampai ke depan rumah.

"E-Etto, anu, Yuki-kun..."

"U-Um."

"Anu, aku senang. Saat kamu bilang kalau aku berharga. ...A-Aku juga, soal Yuki-kun..."

"Rei~? Sudah pulang?"

““!?””

Karena suara Ibu terdengar di waktu yang sangat tepat, aku memutuskan untuk mengakhiri event festival musim panas dengan Yuki-kun sampai di sini saja. Aku merasa sangat puas dengan "interupsi dewa" yang membuat situasi nyaris pengakuan cinta ini menjadi menggantung. Nichari (Seringai mesum).

"Ka-Kalau begitu, selamat tidur, Yuki-kun! Terima kasih ya sudah menemaniku sampai larut!"

"Eh, ah, iya! Se-Selamat tidur!"

Aku memanipulasi aliran darahku hingga pipiku merona merah, lalu memutus pembicaraan secara paksa dan bergegas pergi dari hadapan Yuki-kun.

Terima kasih, Yuki-kun. Berkat dirimu, aku bisa kembali ke titik awal.

Meskipun ini sebenarnya nggak boleh! Meskipun ini hal yang kejam...!

Aku butuh lima orang selingkuhan lagi! ─Bahkan kalau bisa sepuluh orang!! Aku ingin menghancurkan mentalmu lebih banyaaaaaak!!

Fuuh, leganya. Kalau begitu, mari berjuang lagi di semester kedua.

Karena perasaanku sudah lega, aku memutuskan untuk berjuang di semester kedua nanti. Liburan musim panas pun telah berakhir.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close