Chapter 2
Pertempuran Benteng Hazama: Malam Sebelum
Peperangan
Sekembalinya
ke Benteng Hazama, aku, Amon, dan Capella segera menuju ruangan Ayah.
"……Demikian
laporannya. Meski kita belum bisa memastikannya sebelum melihat pergerakan
besok, bisa dibilang pertemuan dengan Lafa Grandork berakhir sukses."
Setelah
mendengar laporan kami, Ayah mengangguk pelan.
"Begitu
ya, kerja bagus."
"Renovasi
benteng pun secara garis besar sudah selesai sesuai rencana. Sekarang,
beristirahatlah dengan baik."
"Kami
mengerti. Kalau begitu, kami permisi dulu."
Saat kami
hendak melangkah keluar, Ayah memanggilku.
"Reed."
"Iya, Ayah. Ada apa?"
Aku menoleh dan mendapati Ayah sedang menunjukkan raut wajah
yang serba salah.
Ada apa ya? Saat aku memiringkan kepala kebingungan, Ayah
menggeleng.
"Tidak,
bukan apa-apa. Maaf sudah menghentikanmu."
"……? Baik,
Ayah."
Meski tidak
mengerti maksudnya, aku pun keluar ruangan dan berjalan menuju tempat anggota
Divisi Ksatria Kedua menunggu.
"Ayah...
kira-kira tadi dia mau bilang apa ya?"
"Mungkin
beliau sedang mengkhawatirkan keselamatan Tuan Reed."
Capella menjawab
gumamanku saat kami menyusuri koridor. Aku terus melangkah sambil meliriknya
dari sudut mata.
"Kalau
memang begitu, seharusnya bilang langsung saja."
"Mengingat
posisi Tuan Rainer, hal itu mungkin sulit dilakukan."
"Kenapa?"
Kali ini aku
benar-benar menghentikan langkah dan bertanya balik, membuat Capella membungkuk
hormat.
"Mohon maaf
jika lancang, secara pribadi Tuan Rainer pasti tidak ingin Tuan Reed yang masih
semuda ini pergi ke garis depan. Namun, kekuatan Tuan Reed sangat dibutuhkan
dalam pertempuran melawan keluarga Grandork. Sebagai pelindung negara dan
wilayah, beliau pasti memiliki perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya."
"Ah……"
Aku tersentak
menyadarinya.
Bagi Ayah, aku
masihlah seorang anak kecil. Sekalipun demi melindungi negara dan wilayah,
mengirim anak sendiri ke medan perang pasti terasa sangat menyesakkan dada.
"Kalian
benar-benar ayah dan anak yang hebat ya. Aku iri melihatnya."
Amon yang
sejak tadi memperhatikan interaksi kami tiba-tiba tertawa kecil dan tersenyum
lembut.
"I-iya.
Terima kasih. Besok, aku akan mencoba bicara sedikit dengan Ayah sebelum
berangkat."
"Saya
rasa itu ide yang bagus."
Capella
membungkuk mantap, sementara Amon terus tersenyum.
Aku
merasa sedikit malu dan menggaruk pipi untuk menutupi kecanggunganku.
"Ah,
omong-omong, kita harus segera menemui yang lain."
Aku
berujar seolah mencoba mengalihkan pembicaraan dan berjalan cepat menuju
tujuan. Samar-samar, aku merasa mendengar suara tawa geli dari kedua orang di
belakangku.
◇
Setibanya
di perkemahan Divisi Ksatria Kedua di dalam benteng, aku meminta Diana untuk
mengumpulkan setiap pemimpin regu dan wakilnya di salah satu ruangan.
Di dalam
ruangan sudah ada Curtis selaku komandan Divisi Ksatria Kedua, serta Stein dan
Raymond yang bertugas sebagai asistennya. Setelah semua duduk mengelilingi
meja, aku berdehem untuk menarik perhatian mereka.
"Terima
kasih atas bantuan kalian merenovasi benteng. Kerja bagus semuanya. Sekarang,
ada yang ingin kulaporkan."
Di bawah tatapan
penuh ketegangan dari semua orang yang menahan napas, aku menyampaikan poin
utamanya.
"Besok, kita
akan menjalankan operasi sesuai dengan rencana awal."
"Ooh……!?"
Ketegangan di
ruangan itu sedikit mencair, digantikan oleh gumaman lega. Aku memang sudah
memberikan dua pilihan rencana kepada mereka sebelumnya.
Yaitu rencana
jika pertemuan dengan Lafa berhasil, dan jika gagal. Pernyataanku barusan
berarti pertemuan itu sukses, sehingga besok kami akan bergerak dengan rencana
yang memiliki peluang menang lebih tinggi. Wajar jika mereka merasa lega.
"Kalau
begitu, mari kita lakukan konfirmasi terakhir untuk pergerakan besok."
"Kami
mengerti."
Aku kembali
menjelaskan detail operasi kepada Capella, Diana, Curtis, dan para anggota yang
matanya kini berkilat penuh semangat tempur. Setelah konfirmasi strategi dan
persiapan selesai, terdengar ketukan sopan di pintu.
"Tuan Reed,
ini Rubens. Bolehkah saya masuk?"
"Iya,
silakan."
Begitu
aku menjawab, Rubens masuk sambil berujar "Permisi". Namun, dia
tampak terkejut melihat banyaknya orang di dalam ruangan dan berkedip
berkali-kali. Karena mendadak menjadi pusat perhatian, Rubens terlihat agak
salah tingkah.
"……?
Ada apa?"
"Ah,
tidak……"
Rubens
menggaruk pipi dengan malu-malu sambil melirik Diana sekilas. Kemudian, dia
berdehem dan tiba-tiba menegakkan tubuhnya dengan gagah.
"Sebenarnya,
per hari ini, saya telah ditunjuk oleh Tuan Rainer sebagai 'Wakil Komandan
Divisi Ksatria Pertama Baldia'. Sekali lagi, mohon bantuannya mulai
sekarang."
"Eh……?"
Aku
sempat melongo mendengar laporan mendadak itu, tapi segera menyadari maknanya
dan membelalakkan mata kegirangan.
"Hebat!
Selamat ya, Rubens!"
Aku
bertepuk tangan merayakan kenaikan jabatannya, diikuti oleh semua orang di
ruangan yang turut memberi selamat.
"Te-terima
kasih banyak."
Wajah Rubens
memerah.
"La-lalu,
anu, ada satu hal yang ingin saya minta……" Dia menggaruk kepalanya dengan
raut sungkan.
"Iya, apa
itu?"
"Bolehkah
saya berbicara berdua saja dengan Diana?"
Tepat saat dia
melirik Diana, atmosfer di ruangan itu mendadak berubah menjadi manis dan penuh
godaan. Semua pasang mata tertuju pada mereka berdua, kecuali Stein dan Raymond
yang tampak sedikit tidak puas.
Pipi Diana juga
sedikit merona, sepertinya dia tidak keberatan. Namun, dia berdehem dan menggelengkan kepala.
"Rubens.
Kenaikan jabatanmu sebagai Wakil Komandan adalah hal yang patut dirayakan, tapi
pembicaraan itu bisa dilakukan nanti. Sekarang perhatikanlah situasi dan
tempatnya."
"Be-benar
juga."
Setelah
disemprot begitu, Rubens langsung tertunduk lesu.
Melihatnya
yang tampak seperti anjing yang sedang dimarahi hingga telinganya layu, aku pun
tertawa terbahak-bahak.
"Tuan
Reed?"
Keduanya
memiringkan kepala secara bersamaan. Saat aku melirik sekitar, ternyata semua
orang juga sedang gemetar menahan tawa.
Karena
hanya aku yang secara posisi diizinkan untuk tertawa terang-terangan, ya mau
bagaimana lagi. Jika
interaksi mereka berlanjut, otot perut semua orang di sini bisa kram.
"Ah, maaf,
maaf. Interaksi kalian lucu sekali sih."
"Ha-hah……?"
Rubens
dan Diana saling pandang, sepertinya mereka belum menyadari situasi di sekitar
mereka. Aku berdehem lagi dan menatap mereka kembali.
"Pekerjaan
konfirmasi untuk besok sudah hampir selesai. Diana, rayakanlah kenaikan jabatan Rubens."
"Ta-tapi……"
Diana
tampak bingung dengan mata membulat, tapi aku langsung memotongnya.
"Ini adalah
'Perintah'. Ayo, kalian berdua segera pergi."
"Ba-baik,
saya mengerti. Kalau begitu, kami permisi."
Karena
aku bicara dengan tegas, Diana akhirnya membungkuk meski tampak enggan.
Namun,
langkah kakinya terasa ringan dan dia terlihat senang. Sepertinya aku harus
mendorong punggung Rubens sedikit lagi seperti biasanya.
Saat
mereka hendak keluar, aku memanggil Rubens lagi.
"Ah, Rubens sebentar saja."
"……? Baik."
"Kalau
begitu, saya permisi duluan," ujar Diana sambil berlalu keluar. Rubens pun
mendekatiku dengan wajah bingung.
Aku menyipitkan
mata dan berbisik pelan di telinganya.
"Kau kan
baru saja naik jabatan jadi Wakil Komandan. Ini kesempatan bagus. Cepatlah
melamarnya."
"Apa……!?
Ta-tanpa disuruh pun aku memang berniat begitu!"
Matanya
membelalak, wajahnya memerah padam, dan dia berteriak spontan.
"Ah,
gawat……!?"
Rubens
yang baru tersadar langsung memucat dan melihat sekeliling, tapi nasi sudah
menjadi bubur.
Seluruh
orang di ruangan itu menatap Rubens dengan pandangan yang sangat menggoda. Curtis dan Amon bahkan sudah tidak bisa
menahan tawa mereka lagi.
"Mungkin
caraku bicara yang salah, tapi reaksimu tidak perlu sampai berteriak sekeras
itu kan?"
"Ugh!?
Mo-mohon maaf."
Kepada Rubens
yang bahunya merosot lemas, aku kembali berbisik.
"Aku
menantikan kabar baik dari kalian berdua."
"Terima
kasih banyak. Tapi Tuan Reed, Anda ini selalu saja bicara satu kata lebih
banyak dari yang diperlukan."
Rubens menghela
napas panjang, merapikan sikapnya, lalu berujar "Saya juga permisi
dulu" dan meninggalkan ruangan.
Hening
sejenak, lalu para anggota ksatria langsung meledak tertawa secara serentak.
Bagi mereka, Rubens dan Diana adalah atasan.
Tampaknya
mereka sudah mati-matian menahan tawa sejak tadi karena tidak sopan jika
tertawa di depan yang bersangkutan.
Meski terkadang
tegas, Diana dan Rubens sangat disukai oleh para anggota ksatria. Tawa mereka
adalah bukti betapa mereka telah membuka hati.
Namun,
pembicaraan ini tidak akan maju jika dibiarkan terus.
"Nah, mari
kita kembali ke topik," ujarku untuk menarik kembali perhatian.
"Rencana
sudah kujelaskan seperti tadi, apakah ada pertanyaan?"
"Kalau
begitu, ada satu hal yang ingin saya tanyakan. Bolehkah?"
Yang mengangkat
tangan adalah Kalua dari ras Bearman.
"Iya, ada
apa?"
"Saya
mengerti isi rencananya, tapi mengenai kebijakan 'jangan mengejar mereka yang
lari, bertarunglah hanya dengan mereka yang melawan', bukankah itu sedikit
terlalu lembek?"
Mendengar itu,
Ovelia dari ras Rabbitman menyahut.
"Haha, benar
juga ya."
"Mereka yang
lari pasti akan mengangkat senjata lagi dan mengincar nyawa kita, desu. Kita
harus menghabisi semua musuh yang menyerang. Jika membiarkan musuh hidup,
mereka akan kembali ke medan perang. Berikutnya, mungkin kitalah yang akan
terbunuh, desu. Benar begitu kan, Master Elf?"
"Itu juga
ada benarnya."
Curtis
mengangguk, lalu bicara dengan raut wajah serius.
"Pertempuran
bukanlah hal yang bisa diselesaikan hanya dengan rasa kemanusiaan. Jika kalah,
negara akan hancur, dan mereka yang bertahan hidup tidak hanya kehilangan
kampung halaman dan posisi, tapi dalam skenario terburuk bisa menjadi budak
dari negara pemenang. Benar begitu kan, Tuan Reed?"
Pertanyaan itu
membuat seluruh perhatian tertuju padaku.
"Iya. Apa
yang dikatakan Kalua, Ovelia, dan Curtis secara garis besar memang benar."
Aku menjeda
kalimatku, lalu melanjutkan, "Tapi……"
"Ada
perbedaan antara 'Perang' dan 'Pembantaian'. Pertempuran kali ini juga
mempertimbangkan masa depan suku Foxman dan Baldia. Lawan yang harus kita
kalahkan bukanlah 'Suku Foxman'. Lawan yang sebenarnya harus kita tumbangkan
adalah 'Keluarga Grandork saat ini' yang memerintah dengan kejam. Jika kita
membantai suku Foxman, meskipun kita menang, masa depan akan tertutup. Menang
saja tidak cukup. Kita butuh kemenangan yang bisa menghubungkan kita ke masa
depan."
Ruangan itu
menjadi hening seketika. Semua orang menahan napas sambil menatapku.
"Aku
mengerti bahwa aku mengatakan hal yang sulit di tengah situasi genting ini, dan
mungkin terdengar seperti omong kosong atau idealisme belaka. Meski begitu, aku percaya bahwa bersama
kalian semua di sini, kita bisa melakukannya. Jadi, meski aku tahu ini
permintaan yang nekat, tolong. Besok, patuhilah kebijakan 'jangan mengejar yang
lari, bertarunglah hanya dengan yang melawan', dan hindarilah pembunuhan
sia-sia yang merendahkan nilai nyawa. Ini adalah permintaanku kepada kalian
semua."
Saat aku
membungkukkan kepala dalam-dalam, gumaman pecah di seisi ruangan.
Aku sadar bahwa
aku meminta hal yang mustahil kepada mereka yang akan mempertaruhkan nyawa
besok. Namun, meskipun mereka musuh di medan perang, mereka juga pasti punya
keluarga yang menunggu kepulangan mereka.
Jika kita menang
dengan membantai suku Foxman, keluarga yang ditinggalkan akan membenci Baldia
selamanya. Jika itu terjadi, masa depan di mana kedua keluarga bisa hidup
berdampingan akan tertutup rapat.
Tentu saja,
membiarkan orang-orang yang mengabdi pada keluarga Baldia terbunuh adalah hal
yang tidak bisa diterima. Itulah sebabnya aku mencanangkan kebijakan ini.
Demi mengurangi
dendam setelah perang usai. Tapi, ini akan memberikan beban yang sangat berat bagi mereka yang
bertarung.
Di medan
perang, nyawa bisa melayang dalam hitungan detik. Mengeluarkan instruksi
'jangan meremehkan nyawa musuh' di tempat kejam di mana keputusan sekejap
menentukan hidup mati, bisa membuat keraguan muncul.
Betapa
egoisnya permintaanku ini. Saat aku perlahan mengangkat kepala, Lagard dari
suku Foxman tertawa kecil.
"Hehe."
"Benar-benar gaya Tuan Reed. Di situasi seperti ini pun, 'menang saja tidak
cukup' ya? Baguslah. Mari kita lakukan."
Kata-kata Lagard
menjadi pemicu, satu per satu suara "Dengan senang hati" mulai
bersahutan di dalam ruangan.
"Semuanya,
terima kasih."
Selama ada
mereka, pertempuran besok pasti bisa dimenangkan. Tidak, aku pasti akan menang.
Tepat saat aku
merasa bersemangat karena sekutu-sekutu yang handal ini, Capella berbisik di
telingaku.
"Tuan Reed.
Sepertinya ini waktu yang tepat untuk memberikan 'itu' kepada mereka."
"Ah, benar
juga."
Aku mengangguk
lalu menatap semuanya.
"Sebenarnya,
hari ini aku sudah menyiapkan seragam baru untuk kalian."
"Ooh!"
Semua orang
tampak antusias.
"Yah,
meskipun disebut seragam baru, aku sebenarnya hanya menambahkan 'Lambang
Satuan' saja."
Semua orang
saling pandang dan memiringkan kepala.
"Lambang...
satuan?"
Aku pun mulai
menjelaskan secara singkat.
Lambang satuan
adalah tanda yang menunjukkan unit tempat seseorang bernaung dalam organisasi
seperti militer atau kepolisian.
Di 'Divisi
Ksatria Pertama Baldia' yang lama, unitnya tidak terbagi secara mendetail
sehingga tidak menggunakan lambang satuan.
Namun, karena
Divisi Ksatria Kedua terdiri dari empat organisasi besar, aku sudah
mempertimbangkan penggunaan lambang ini sejak lama.
Di tengah-tengah
itu, insiden penyerangan wilayah Baldia terjadi. Untuk memperkuat kerja sama
dan kekuatan organisasi antara divisi pertama dan kedua, diputuskanlah
penggunaan lambang satuan ini.
Aku sudah memesan
seragam baru dengan lambang satuan ke Serikat Dagang Christy, tapi sejak Chris
diculik, aku belum sempat mengecek progresnya karena situasi yang kacau.
Namun ternyata,
saat aku sedang rapat tadi, Emma memimpin rombongan dagang dan mengantarkannya
bersama barang bantuan lainnya.
Aku ingin
menyapanya, tapi sepertinya dia segera meninggalkan Benteng Hazama bersama
rombongannya, jadi aku tidak sempat bertemu. Aku juga sudah memberikan 'sebuah
permintaan' kepadanya untuk masa depan, jadi dia pasti sedang sibuk mengurus
hal itu.
"……Karena
itulah, lambang ini menunjukkan unit asal kalian di Divisi Ksatria Kedua.
Dengan memperjelas unit kalian, efisiensi pelaporan dan koordinasi di lapangan
diharapkan bisa meningkat."
"Hee~……"
Terdengar
jawaban-jawaban yang kurang meyakinkan dari sana-sini. Sepertinya banyak yang
belum terlalu paham.
"Melihat
sekali lebih baik daripada mendengar seratus kali. Lebih baik kalian lihat langsung. Aria, bisa
ke sini sebentar?"
"Iya!"
Gadis
dari ras Birdman itu menjawab dengan semangat dan mendekat dengan penuh rasa
ingin tahu. Aku menerima seragam baru dari Capella dan memperlihatkannya agar
Aria dan yang lainnya bisa melihat.
Struktur
dasarnya sama, dengan lambang keluarga Baldia di bahu kanan dan 'Lambang
Satuan' di bahu kiri. Karena hasilnya terlihat lebih keren dari yang
kubayangkan, semua orang langsung mencondongkan tubuh dengan antusias.
"Kakak...
eh bukan. Tuan Reed, apakah benda seperti 'Pita' ini adalah lambang
satuannya?"
"Iya,
benar."
Lambang
satuan untuk Pasukan Udara adalah gambar burung dan simbol $\infty$ di dalam
lingkaran.
"Ini
artinya, Pasukan Udara tempat Aria bernaung bisa terbang bebas di langit luas
selamanya. Lihat, simbol $\infty$ ini kan bisa ditulis tanpa putus
selamanya."
Saat aku
menggambar simbol $\infty$ di udara dengan jari, Aria yang tadinya bingung
langsung mengerti maksudnya dan tersenyum lebar.
"Hebat! Ini
sangat cocok untuk kami di Pasukan Udara. Pita yang membentang di langit ya. Ehehe, Tuan
Reed. Terima kasih atas seragam baru dan lambang satuannya."
"Aku
senang kau menyukainya. Nanti
bagian yang lain akan kubagikan juga ya."
"Baik, saya
mengerti!"
Saat Aria kembali
ke tempat duduknya, saudara-saudaranya yaitu Elia dan Silia juga tampak senang
mengecek lambang satuan mereka.
"Tuan Reed!
Perlihatkan 'Lambang Satuan' kami juga, desu!"
Ovelia
mengangkat tangan sambil mencondongkan tubuh.
"Hentikanlah.
Nanti juga kau bisa melihatnya," tegur Sheryl, gadis dari ras Wolfman yang
duduk di sampingnya.
"Apa
sih, Sheryl. Memangnya kau tidak ingin melihatnya cepat-cepat?"
"I-itu...
bukannya tidak mau. Tapi aku bilang perhatikan situasi dan tempatnya!"
Karena
ditanya balik oleh Ovelia, Sheryl menunjukkan wajah yang serba salah.
"Aku senang
kalian tertarik. Kalau begitu, mari kita tunjukkan 'Lambang Satuan' untuk
Pasukan Darat. Capella, bisa tolong keluarkan?"
"Dimengerti."
"Mumpung ada
di sini, ayo semuanya maju ke depan."
Sambil
menerima seragam baru, aku memanggil mereka. Semua orang pun berdiri dan
berkumpul mengelilingiku.
"Baiklah. Inilah 'Lambang Satuan' untuk Pasukan Darat
Divisi Ksatria Kedua Baldia!"
"Ooh!?"
Semua mata berkilat penuh minat menatap seragam baru yang
dibentangkan. Meski awalnya tujuanku adalah untuk memperkuat koordinasi, aku
tidak menyangka mereka akan sesenang ini.
Namun, aku menyadari mereka semua tiba-tiba mengerutkan
kening sambil menatap lambang itu.
"Eh, ada apa?"
"Tuan Reed. Mohon maaf jika lancang, tapi apakah ini
gambar 'Naga' atau 'Ular'?" tanya Kalua dengan nada ragu.
"Ahaha. Mana
mungkin Naga atau Ular punya 'Kaki' sebanyak ini."
"Kalau begitu, ini……" gumam Truba dari ras Bullman
seolah mengonfirmasi.
"Ah,
ternyata kalian sadar ya. Benar, ini adalah 'Lipan'."
Meskipun aku
menjawab dengan senyuman, entah kenapa atmosfer ruangan mendadak menjadi suram.
Mungkin hanya
perasaanku saja, tapi bahu semua orang tampak merosot lemas.
"Ta-tapi,
kenapa Anda memilih 'Lipan'?"
Scara dari ras
Monkeyman mengeluarkan suara ceria untuk memecah keheningan yang suram.
"Pertanyaan
bagus. Sebenarnya……"
Aku tersenyum dan
mulai menceritakan alasan di balik pemilihan 'Lipan'.
Lipan
memiliki insting untuk 'tidak pernah mundur'. Dengan menjadikannya lambang
satuan, itu melambangkan bahwa Pasukan Darat adalah pasukan pantang menyerah
yang akan terus maju melawan musuh sekuat apa pun.
Dalam
ingatan kehidupanku sebelumnya, para samurai di zaman Sengoku juga menggunakan
Lipan sebagai panji perang mereka. Lipan juga dianggap sebagai pengikut atau
utusan dari 'Bishamonten', dewa perang dan kemenangan.
Lambang
ini sangat cocok untuk Pasukan Darat Divisi Ksatria Kedua yang akan menghadapi
berbagai kesulitan bersamaku, bukan hanya untuk perang kali ini saja.
Yah,
sebenarnya saat pertama kali aku mengusulkan Lipan, Chris dan Diana juga
menunjukkan wajah yang sulit dijelaskan. Namun setelah kujelaskan makna dan filosofinya, akhirnya mereka bisa
mengerti.
"……Begitulah
alasannya. Bagaimana, sangat cocok untuk Pasukan Darat kan?"
Setelah selesai
bercerita dan tersenyum, semua orang malah saling pandang dengan raut wajah
pasrah. Ada yang menghela napas, menggelengkan kepala, atau mengangkat bahu.
"Benar-benar gaya Tuan Reed."
"Iya, sangat mirip Tuan Reed."
"Memang
Tuan Reed yang nyeleneh."
Bisikan-bisikan
kecil mulai terdengar dari berbagai sudut ruangan.
Kalian ini, tidak
sopan sekali ya.
"Awalnya
kami terkejut karena tidak tahu maknanya, tapi ternyata begitu ya. Ini lambang
satuan terbaik untuk kami!"
Mia dari ras
Catman berseru riang sambil tersenyum, yang kemudian diikuti anggukan dari
Geding dari ras Horseman.
"……Benar
kata Mia. Tuan Reed, terima kasih dari lubuk hati terdalam karena telah
memberikan lambang ini. Dalam pertempuran besok, akan kami tunjukkan kengerian
kami yang menyandang lambang ini ke seluruh benua."
"Ooh, keren
sekali kata-katamu! Tuan Reed, aku juga akan menunjukkan kengerian 'Lipan'
ini!"
Mendengar
kata-kata Ovelia yang bersemangat, yang lain pun ikut mengangguk mantap.
"I-iya.
Aku senang kalian
menyukainya. Nanti akan kubagikan, jadi tolong pakai ini untuk besok ya."
"Kami
mengerti!"
Mereka memberi
hormat dengan gagah lalu kembali ke tempat duduk.
"Ah,
omong-omong, ada juga lambang untuk Bengkel Pengembangan dan Badan Intelijen
Khusus. Aku akan memperkenalkannya juga."
Setelah sesi
pengenalan lambang dan pembagian seragam selesai, konfirmasi akhir strategi
juga berakhir dengan sukses. Aku meminta semua orang untuk beristirahat total
demi hari esok, dan rapat pun ditutup.
Aku
menatap ke luar jendela. Langit malam tanpa awan itu dihiasi oleh taburan
bintang dan bulan yang bersinar terang.
"Besok
sepertinya akan cerah."
Gumamanku
terhenti saat pandanganku jatuh ke bawah. Aku melihat Diana dan Rubens sedang berjalan
berdampingan di luar. Namun, ada yang aneh. Diana tampak membuang muka,
sementara Rubens tertunduk lesu dengan wajah pucat pasi.
"……Mari
kita anggap tidak melihat apa-apa."
Aku menggelengkan kepala dan berjalan menuju kamarku di dalam benteng.



Post a Comment