Chapter 3
Pertempuran Benteng Hazama: Perang Dimulai
Dini hari
setelah pertemuan dengan Lafa Grandork.
Terjadi
pergerakan pada suku Foxman yang telah bersiaga di depan Benteng Hazama.
Pasukan
musuh yang tadinya terdiri dari tiga divisi berkekuatan masing-masing lima ribu
orang yang berbaris sejajar, kini berubah menjadi empat divisi berkekuatan
masing-masing sepuluh ribu orang.
Di
belakang mereka, tampak dua divisi berbaris vertikal dengan kekuatan
masing-masing sepuluh ribu orang, serta dua divisi berkekuatan seribu orang
yang bersiaga jauh di lini belakang.
Pasukan
berkekuatan enam puluh ribu orang yang berbaris di depan benteng itu tampaknya
dipimpin oleh pasukan "Marbas Grandork" yang bersiaga di posisi
belakang.
Di
belakang Marbas, pasukan di bawah komando Lafa mengambil posisi seolah-olah
sebagai pasukan cadangan. Dan di posisi paling belakang, berdiri markas Gareth
dan Elba yang berbaris vertikal dengan kekuatan seribu orang.
Demi
meruntuhkan Benteng Hazama, keluarga Grandork akhirnya mengerahkan kekuatan
tempur Gareth dan Elba yang selama ini disimpan. Sepertinya mereka berniat
menyelesaikan semuanya hari ini.
Saat
informasi ini disampaikan melalui pengintaian udara Aria dan kawan-kawan, aku
dan Ayah menghela napas lega.
Sebab, pergerakan
dan formasi musuh saat ini persis seperti "Permintaan" yang kuajukan
pada Lafa saat pertemuan kemarin, sekaligus memang menjadi target kami.
Begitu
mengonfirmasi posisi musuh, kami segera melancarkan langkah selanjutnya.
Di hadapan
sekitar enam puluh ribu pasukan musuh yang berbaris di depan Benteng Hazama,
aku, Ayah, dan Amon berdiri sejajar di posisi yang mudah terlihat oleh mereka.
Di tengah
kegaduhan para prajurit Foxman yang bertanya-tanya ada apa, Amon melangkah
maju.
"Aku adalah
putra dari Kepala Suku Foxman saat ini, Gareth Grandork. Namaku Amon
Grandork!"
Begitu dia
memperkenalkan diri, raut kebingungan mulai terpancar di wajah para prajurit.
"Semuanya,
tolong dengarkan aku! Yang mencoba membunuhku bukanlah keluarga Baldia,
melainkan ayahku, Gareth, dan kakakku, Elba!"
Amon kemudian
menjelaskan dengan suara lantang alasan pecahnya perang antara suku Foxman dan
keluarga Baldia. Dia menyatakan bahwa tirani dan penindasan keluarga Grandork
tidak boleh dimaafkan.
"……Oleh
karena itu, aku, Amon Grandork, memutuskan untuk bangkit! Dengan meminjam
kekuatan keluarga Baldia, demi masa depan suku Foxman, aku akan mengalahkan
Gareth Grandork dan menjadi Kepala Suku yang baru! Jika ada di antara kalian
yang setuju denganku, letakkan senjata kalian dan pergilah dari tempat
ini!"
"Seperti
yang kalian dengar. Kami, keluarga Baldia, mendukung kebangkitan Tuan Amon
Grandork yang menjunjung keadilan. Bagi yang tidak ingin berperang,
mundurlah!"
Menyusul ucapan
Amon, suara Ayah menggema di lini depan musuh. Para prajurit Foxman mulai
tampak goyah, tidak tahu harus berbuat apa.
"Jangan
panik!"
Sebuah teriakan
lantang bergema dari kedalaman barisan musuh.
"Apa kalian
sudah lupa dengan apa yang dikatakan Ayahanda Gareth dan Kakakda Elba? Adikku,
Amon, sudah mati! Orang yang berdiri di sana tidak lain adalah replika rendah
yang disiapkan oleh keluarga Baldia! Saudara-saudaraku, sekaranglah saatnya
membalaskan dendam Amon dan membebaskan kaum kita dari perbudakan!"
Para prajurit
yang tadinya bingung kembali sadar, lalu melemparkan tatapan penuh kebencian ke
arah kami.
Namun, kami tidak
memedulikannya. Tujuan kami sudah tercapai.
"Yang
berteriak tadi adalah kakakku, Marbas."
"Begitu ya.
Terima kasih sudah memberitahuku."
Sesaat setelah
Amon berbisik padaku, aku melihat "asap sinyal" membubung dari markas
musuh yang jauh. Para prajurit Foxman satu per satu meneriakkan sorak perang
dan mulai bergerak maju menuju benteng.
Detik ini juga,
tirai Pertempuran Benteng Hazama resmi dibuka. Namun, jika mereka berpikir
benteng ini masih sama seperti kemarin, mereka salah besar. Kami telah
menyiapkan mekanisme di malam hari yang membuat pasukan sebesar apa pun tidak
akan mudah meruntuhkannya.
Sambil bergerak
bersama Ayah dan yang lain untuk bersiap menghadapi langkah berikutnya, aku
mengaktifkan sihir komunikasi.
(Aria,
beritahu aku situasi perang yang terlihat dari langit.)
(Siaaap!
Anu... musuh sedang berusaha keras mendaki tanjakan yang dibuat Kalua dan
kawan-kawan. Tapi
mereka sepertinya panik karena panah dan sihir yang ditembakkan dari benteng.)
(Dimengerti.
Sepertinya semua
berjalan sesuai rencana tanpa masalah.)
(Iya. Tapi,
Kakak benar-benar jahat ya kalau dipikir-pikir.)
Mendengar suara
Aria yang terdengar masygul, aku memiringkan kepala.
(Eh, kenapa?)
(Habisnya,
Kakak membiarkan mereka berjalan di tanjakan yang sudah diatur sudut tembak dan
garis serangnya, lalu menembaki mereka dari benteng. Terus, meski mereka sudah
susah payah mendaki, tiba-tiba di depan mereka terbentang 'parit kering' dan
'jembatan'. Kakak
pasti punya kepribadian yang buruk.)
(Sekarang
kan situasi darurat. Anggap
saja itu sebagai pujian.)
(Eeeh, aneh
deh. Ah, musuhnya banyak yang jatuh ke parit kering. Wah, kelihatannya sakiit~)
Aria hanya
melihat dari langit tinggi, dan aku pun bicara sambil bergerak sehingga tidak
melihat langsung kejadian di lapangan.
Pasti lini depan
benteng saat ini sudah menjadi gambaran neraka.
Dari kejauhan,
bagian depan benteng tampak tidak berubah dari hari sebelumnya. Namun, berkat
pengerjaan Divisi Ksatria Kedua, jalan datar telah berubah menjadi tanjakan,
membuat orang yang berjalan sulit melihat ke depan.
Selain itu, garis
serang panah dan sihir dari benteng telah dikalkulasi agar bisa mengenai
sasaran dengan tepat.
Bahkan jika
mereka berhasil melewati tanjakan dengan susah payah, mereka akan dihadapkan
pada "parit kering" dan "jembatan" yang mematikan bagi
siapa pun yang baru pertama kali melihatnya.
Dengan
mekanisme ini, benteng akan menjadi lebih kokoh. Dan kami seharusnya bisa
mengulur waktu.
(Kak,
seluruh pasukan musuh terus merangsek maju. Rasanya mereka mau menekan kita dengan jumlah
personel.)
(Dimengerti.
Aku akan segera memberi instruksi selanjutnya pada yang lain, jadi aku putus
komunikasinya ya.)
(Siaaap!)
Setelah
mengakhiri komunikasi dengan Aria, aku menyampaikan instruksi melalui Salvia
kepada anggota Divisi Ksatria Kedua yang bisa menggunakan "sihir atribut
air".
Tak lama
kemudian, suara gemuruh air yang dahsyat mulai terdengar dari arah depan
benteng.
(Aria, operasi
dimulai.)
(Dimengerti,
Kak. Kalau begitu, kami semua akan melakukannya bersamaan!)
Ada jeda singkat
setelah jawaban itu, lalu suaranya kembali menggema di benakku.
(Sentinel.
Long Range Attack!)
Dari balik awan
putih yang melayang di langit, kilatan cahaya melesat dan jatuh ke tanah
bersama suara gemuruh. Itu benar-benar terlihat seperti "Sambaran
Petir".
Sambaran petir
itu tidak berakhir sekali, melainkan jatuh berkali-kali secara beruntun ke
tanah. Terlebih lagi, petir itu mengincar "Jenderal" suku Foxman
dengan akurasi yang tepat.
"……Pemandangan
yang mengerikan. Hanya melihatnya saja sudah membuat kudukku merinding."
"Jika Ayah
menilainya seperti itu, berarti 'Strategi Melawan Pasukan Besar' ini
sukses."
Bahkan pasukan
raksasa dengan jumlah prajurit yang melimpah pun memiliki kelemahan dalam
rantai komando dan penyampaian informasi.
Umumnya, jumlah
ideal orang yang bisa dikelola secara efektif oleh satu komandan adalah lima
sampai delapan orang. Jika satu orang mengelola terlalu banyak orang, instruksi
tidak akan tersampaikan dengan baik dan akan menghambat komando maupun
operasional.
Lalu, bagaimana
pengelolaan pasukan besar dilakukan?
Jawabannya
sebenarnya sederhana.
Pertama, tentukan
orang yang mengelola lima sampai delapan prajurit di tingkat paling bawah.
Kemudian,
tentukan jenderal yang mengelola orang tersebut... dengan cara inilah
"organisasi berbentuk piramida" dibuat untuk mengefisiensikan
pengelolaan.
Namun, apa yang
terjadi jika para pengelola itu tidak bisa menjalankan fungsinya? Jawabannya
juga mudah.
Rantai komando
akan hancur, informasi tidak tersampaikan, dan karena jumlah pasukannya yang
besar, mereka malah tidak bisa berfungsi dengan baik. Justru semakin besar
jumlah pasukannya, kekacauan rantai komando bisa menjadi luka yang fatal.
Di medan perang
depan Benteng Hazama, para jenderal musuh yang memimpin di lapangan satu per
satu menjadi mangsa Magic Spear Bow Sentinel yang ditembakkan Aria dan
kawan-kawan dari langit.
Bahkan dari
kejauhan, terlihat pasukan musuh yang kehilangan jenderalnya jatuh ke dalam
kekacauan hebat dan formasi mereka hancur berantakan.
Sebentar lagi,
rantai komando keluarga Grandork akan lumpuh total, dan pasukan besar itu akan
berubah menjadi "gerombolan tidak teratur" yang kehilangan kekuatan
organisasi.
"Memang
benar segalanya berjalan lancar, tapi kita tidak boleh lengah. Kita juga harus
bergegas."
"Dimengerti.
Kalau begitu, aku akan segera menginstruksikan langkah selanjutnya kepada
'mereka'."
Aku berkata
demikian lalu mengaktifkan sihir komunikasi.
(Salvia.
Transisi ke operasi berikutnya. Biarkan 'kami' berangkat dari benteng.)
(Dimengerti.
Akan segera saya sampaikan kepada anggota Badan Intelijen Khusus yang siaga di
Benteng Hazama.)
Tak lama
setelah komunikasi berakhir, terjadi pergerakan baru di Benteng Hazama.
Saat aku
memastikannya dengan teropong di tangan, gerbang benteng mulai terbuka.
Kemudian, Komandan Ksatria Dinas berdiri di barisan terdepan dengan memegang
gada berduri di satu tangan.
Pasukan
gabungan Divisi Ksatria Pertama dan Kedua Baldia mulai merangsek maju dengan
dipimpin oleh "aku", "Ayah", dan "Amon" untuk
menyerang markas Marbas.
Para
prajurit Foxman yang kehilangan jenderal dan sedang panik terpecah menjadi
mereka yang kabur karena melihat sosok Amon dan pasukan ksatria yang menyerang,
serta mereka yang menyerang secara membabi buta.
Mereka kehilangan
koordinasi dan jatuh ke dalam kekacauan yang semakin parah.
Dinas dan pasukan
ksatria yang keluar dari benteng adalah yang asli.
Namun, "kami
bertiga" yang ada di sana tidak lain adalah pemeran pengganti, yaitu Dan,
Zab, dan Lou dari ras Tanukiman anggota Badan Intelijen Khusus Divisi Ksatria
Kedua, yang mengubah wujud mereka dengan "sihir penyamaran".
Tentu saja,
pertahanan benteng setelah Dinas dan yang lainnya berangkat juga sudah
dipastikan keamanannya. Curtis yang berpengalaman memegang komando lini depan,
sementara asistennya, Stein dan Raymond, bertugas menjaga benteng.
Jika ada jenderal
musuh yang tenang dengan kemampuan koordinasi tinggi dan mampu melihat medan
perang secara objektif, dia pasti akan merasa ada yang aneh dengan pasukan yang
dipimpin Dinas.
Dan jika dia
mengoordinasikan pasukan besar kebanggaan suku Foxman untuk menghadapinya, maka
hampir mustahil bagi ksatria Baldia untuk menembus barisan musuh.
Namun,
"jenderal musuh" yang kompeten itu sudah tidak tersisa lagi di
barisan musuh. Alasan utamanya tidak lain karena kilatan cahaya yang terus
melesat dari langit, menyebabkan asap ledakan akibat sambaran petir terjadi
terus-menerus di medan perang.
Aria dan
kawan-kawan di udara selalu memantau medan perang dengan benda yang sama dengan
teropong yang kugunakan sekarang.
Selain itu, di
Benteng Hazama juga ada anggota ksatria yang memantau markas musuh dengan
teropong, dan mereka berbagi informasi dengan Aria melalui sihir komunikasi.
Jika ada tentara
musuh yang mencoba mengoordinasikan pasukan sedikit saja, aku memberikan
instruksi agar mereka ditembak tanpa ampun dari langit menggunakan Magic
Spear Bow Sentinel.
Tentara musuh di
medan perang pasti sudah menyadarinya. Bahwa "Jenderal" yang memimpin
pasukan sedang diincar oleh sambaran petir.
Para tentara
musuh yang melihat langsung kenyataan bahwa "jika mencoba mengoordinasikan
pasukan, maka akan tertembak petir" menjadi ketakutan dan membeku.
Jika sudah
begini, pasukan Foxman bukan lagi disebut pasukan besar. Mereka hanyalah
gerombolan orang-orang yang sama sekali tidak memiliki koordinasi.
Saat aku
mengarahkan teropong ke markas Marbas yang diserahi tanggung jawab komando lini
depan, aku melihat seorang perwira Foxman bergegas kembali ke markas.
Sesaat kemudian,
guntur menggelegar, cahaya dari Magic Spear Bow berkilat menimbulkan asap
ledakan, dan perwira itu jatuh tersungkur dalam kondisi hangus.
Marbas muncul
dari dalam markas yang dibuat agar tidak terlihat dari luar. Dia menunjuk ke
langit sambil meneriakkan kemarahan, lalu sejumlah besar sihir atribut api dan
panah dilepaskan ke arah langit.
Dengan tembakan
antipesawat setingkat itu, tidak mungkin bisa mengenai Aria dan kawan-kawan.
Rasanya seperti "daripada tidak melakukan apa-apa sama sekali".
Saat terus
memantau keadaan Marbas, dia kembali meneriakkan kemarahan sambil menunjuk ke
arah belakang.
Sepertinya dia
sedang meminta bantuan kepada Lafa yang bersiaga di belakang.
Aku pun
mengarahkan teropong ke markas Lafa, namun di sana sunyi senyap, sangat kontras
dengan kekacauan di lini depan.
"……Sepertinya,
dia benar-benar menuruti semua permintaan kita ya."
"Tampaknya
begitu."
Ayah, yang juga
sedang menatap markas musuh dengan teropong sepertiku, mengangguk.
Ada tiga hal yang
kuminta pada Lafa saat pertemuan kemarin.
Pertama,
memusatkan pasukan di depan Benteng Hazama.
Kedua, membiarkan
Marbas memegang komando lini depan.
Ketiga, Lafa
tetap menjadi penonton sampai situasi pertempuran kedua keluarga menjadi jelas.
Karena tentara
musuh terpusat di lini depan, serangan penembakan yang dilakukan Aria dan
kawan-kawan memberikan efek yang luar biasa.
Kami sukses
membuat musuh jatuh ke dalam kekacauan hebat. Dan fakta bahwa Marbas yang
memegang komando lini depan juga menjadi penyebab markas musuh selalu terlambat
bertindak.
Dari informasi
yang didapat dari Amon, kami tahu bahwa Marbas minim pengalaman perang dan
sangat menginginkan "prestasi militer".
Seseorang yang
haus prestasi kemungkinan besar akan mengambil langkah gegabah meskipun harus
menanggung sedikit kerugian. Kami memasang perangkap di sana.
Dengan taktik
pengepungan melalui renovasi benteng, kami membuat pasukan musuh tertahan di
depan benteng.
Lalu melalui
penembakan jenderal musuh oleh Aria dan kawan-kawan, kami melumpuhkan kekuatan
organisasi dan koordinasi mereka.
Sebagai
penyelesaian, kami mengacaukan lini depan dengan pemeran pengganti.
Bagi
Marbas yang minim pengalaman tempur, mustahil baginya untuk memulihkan lini
depan. Begitu menyadari lini
depan tidak bisa dikendalikan, dia pasti akan meminta bantuan.
Namun, Lafa yang
berada tepat di belakangnya telah memutuskan untuk menjadi "penonton"
sampai situasi perang dipastikan berkat pertemuan kami. Itulah gaya Lafa. Saat
ini, dia pasti sedang menikmati pemandangan pertempuran ini dari markasnya sendiri.
"Reed. Mari kita juga bergerak."
"Baik. Dimengerti."
Saat aku mengangguk, Ayah mengalihkan pandangannya pada
Kros, Diana, Capella, dan yang lainnya yang ada di dekat kami.
"Kalian
semua. Aku titipkan Reed pada kalian."
"Dimengerti.
Kami akan melindunginya meski harus mempertaruhkan nyawa."
Kros menjawab
mewakili yang lain, sementara Diana dan Capella membungkuk dalam.
"Hmm. Kalau
begitu, waktu dimulainya operasi adalah sepuluh menit dari sekarang. Semuanya,
ambil posisi masing-masing!"
Setelah berkata
demikian, Ayah kembali menatapku.
"Jangan
berbuat nekat. Dalam perang ini, jika aku dan Tuan Amon berhasil mengambil
kepala Gareth, maka kitalah pemenangnya. Peran pasukanmu hanyalah untuk menahan
lawan. Kau mengerti, kan?"
Dari ucapan Ayah,
aku bisa merasakan betapa dia sangat mengkhawatirkanku.
Dalam skenario
terburuk, ini mungkin menjadi perpisahan terakhir kami di dunia ini. Memikirkan
hal itu, dadaku rasanya seperti sesak. Namun, aku menunjukkan deretan gigi
putihku dan tersenyum.
"Iya, aku
tidak akan nekat. Tapi, jangan khawatir, apa pun yang terjadi aku tidak akan
membiarkan 'Elba' pergi ke tempat Ayah dan Tuan Amon."
"Tuan
Reed. Kakak... tidak, Elba itu kuat."
Amon yang
berdiri di samping Ayah angkat bicara dengan raut wajah cemas.
"Jika
menahan lawan terasa sulit, mundurlah sejenak dan atur kembali formasi.
Hadapilah secara fleksibel. Orang itu benar-benar tidak bisa diremehkan."
"Iya, aku
mengerti. Tapi, aku punya 'semuanya' yang bisa diandalkan. Aku pasti akan
mengatasinya."
Di belakangku
berdiri Capella dan Diana, lalu para anggota Divisi Ksatria Pertama yang
dipimpin Kros, serta para pemimpin regu pilihan dari Divisi Ksatria Kedua.
"Ah, satu
lagi. Tidak perlu pakai 'Tuan'. Panggil saja Reed dengan santai."
"Begitu ya.
Kalau begitu, panggil aku 'Amon' juga."
"Oke, Amon.
Kalau begitu, sampai jumpa nanti."
"Ya, Reed.
Aku pasti akan menghabisi Gareth."
"Sip. Oh
iya, titip Noir dan Lagard juga ya. Mereka berdua juga sering nekat soalnya."
"Siap.
Serahkan padaku."
Setelah
mengangguk dan menjawab begitu, Amon menatap dua orang yang berada dalam
pasukan yang sama dengannya.
Dalam
perang kali ini, hanya Noir dan Lagard yang akan mendampingi Amon untuk ikut
serta dalam misi penumpasan Gareth.
Sebenarnya,
Noir adalah satu-satunya penyintas yang mewarisi darah "Greas
Grandork". Ibunya, wanita bernama "Marichel", kabarnya sudah
meninggal karena sakit.
Noir dan
Lagard kabarnya hidup bersembunyi di wilayah suku Foxman dengan menyembunyikan
asal-usul mereka. Sambil berharap suatu saat nanti bisa membalaskan dendam
orang tua dan klan mereka yang dihukum.
Namun,
kenyataan begitu pahit. Mereka tertangkap oleh pedagang budak dan dijual ke
Balust, hingga secara tidak sengaja sampai ke keluarga Baldia.
Aku baru
diberitahu soal ini baru-baru ini, dan aku benar-benar terkejut. Aku juga sudah
menyampaikan latar belakang mereka pada Amon.
Dia pun
terkejut sekaligus terharu mengetahui anak dari pamannya, Greas, ternyata masih
hidup.
Mereka
bertiga, sebagai orang-orang yang memiliki ambisi yang sama untuk menumpas
Gareth, langsung merasa cocok satu sama lain.
Tekad dan
semangat tempur mereka luar biasa, sehingga diputuskan bahwa Noir dan
kawan-kawan akan mendampingi Amon.
Tentu saja,
tujuannya bukan hanya untuk meningkatkan semangat tempur. Keputusan itu diambil
setelah mempertimbangkan berbagai hal untuk masa depan.
"Tuan Reed.
Terima kasih telah mendengarkan keegoisan kami. Kami pasti akan membalaskan
'penyesalan' ini."
"Noir. Aku
mengerti perasaanmu, tapi jangan dipaksakan ya. Lagard, kau harus melindunginya dengan
benar."
"Baik. Saya
pasti akan melindunginya."
Setelah
pembicaraan dengan mereka berdua selesai, aku mengalihkan pandangan pada
"dia" yang sejak pagi tadi terus berada dalam atmosfer canggung
dengan Diana.
"Rubens. Titip Ayah ya."
"Baik. Saya
juga akan melindunginya meski harus mempertaruhkan nyawa."
Saat dia
membungkuk hormat, Ayah menggelengkan kepala.
"Aku belum
setua itu sampai harus dilindungi. Kau sendiri, pikirkanlah keselamatan dirimu
sendiri sebagai prioritas utama. Mengerti?"
"Ba-baik.
Dimengerti."
Setelah Rubens
disemprot begitu, tawa pecah di antara para anggota ksatria.
Di tengah suasana
itu, aku mendekat ke sampingnya dan berbisik.
"Hei,
Rubens. Soal tadi malam, apa terjadi sesuatu dengan Diana?"
"Eeh!? A-Anda melihatnya?"
"Nggak
kok, bukan gitu. Pas aku lihat ke luar jendela, kebetulan saja aku lihat kalian
berdua sedang canggung. Terus,
hari ini sejak pagi suasana kalian berdua juga aneh……"
"Ugh……!? Aku
melamarnya karena terbawa suasana setelah naik jabatan jadi Wakil Komandan,
tapi……"
Dia melirik Diana
sekilas dan melanjutkan dengan raut wajah serba salah.
"Dia malah
memarahiku sambil bilang, 'Melamar tepat sebelum perang penentuan, apa Anda
berniat mati agar tidak punya penyesalan? Itu pertanda buruk. Lagipula, melamar
di saat seperti ini adalah perbuatan pengecut. Sejujurnya, saya kecewa. Dasar
pria lembek'."
"Ah, jadi
begitu ya."
"Haa...
Padahal Kros-san juga sudah bilang 'sampaikanlah perasaanmu dengan benar'. Tak disangka bakal jadi
begitu……"
Rubens
pun tertunduk lesu dengan bahu merosot.
Aku juga bisa
memahami perasaan Diana. Jika melamar tepat sebelum perang penentuan lalu
berkata "kalau perang ini selesai, aku akan menikah", itu adalah death
flag jika dalam sebuah cerita.
Pasti
kata-katanya itu dimaksudkan untuk memberinya semangat dengan caranya sendiri. Tapi, ya begitulah Rubens.
Sepertinya dia tidak menyadari niat tersebut.
"Diana juga
repot ya seperti biasanya."
"Eh,
maksudnya?"
Kepada Rubens
yang memiringkan kepala kebingungan, aku melanjutkan bisikanku.
"Dengar ya.
Mana mungkin Diana tidak mau menikah denganmu. Dia hanya ingin kau tetap hidup
melewati perang ini. Makanya dia membalas dengan kata-kata yang tajam."
"Ah……!?"
Rubens tersentak
dan membelalakkan matanya.
"Lagi pula,
dia menolak dengan alasan 'melamar di saat seperti ini adalah perbuatan
pengecut', kan? Berarti, kalau di waktu normal dia bakal 'menerima lamaran
itu', bukan? Seperti yang pernah kukatakan, cobalah pikirkan niat asli
Diana."
"……!?
Be-benar juga. Saya mengerti. Sekarang, saya hanya akan memikirkan cara untuk
tetap hidup dalam pertempuran ini. Tuan Reed, terima kasih banyak!"
Tepat saat dia
kembali bersemangat dan mengangkat wajahnya, suara Ayah terdengar pelan,
"Rubens, gerakkan pasukan!"
"Dimengerti!
Kalau begitu, Tuan Reed, saya permisi. Diana, sampai jumpa nanti ya!"
Setelah memberi
hormat, dia diam-diam mengikuti Ayah dan memberikan instruksi pada pasukannya.
Diana menundukkan kepala dan bergumam pelan seolah melepas kepergian Rubens,
"Semoga keberuntungan menyertai Anda."
"……Padahal
bilang saja supaya dia dengar."
Meski aku
yang berada di dekatnya bisa mendengar, tapi suaranya pasti tidak sampai ke
telinga Rubens yang sudah berlari pergi. Omong-omong, pakaiannya saat ini
adalah kostum ksatria, bukan pelayan.
Diana mengangkat
wajahnya lalu menggelengkan kepala pelan.
"Tidak
apa-apa. Prioritas utama kami saat ini bukan urusan pribadi. Lagi pula, kalau
dia diperlakukan seperti itu, dia justru akan berusaha lebih keras."
"Begitu
ya. Kalau gitu, dia pasti bakal mencetak prestasi militer yang hebat."
"Iya. Saya
yakin dia bisa melakukannya."
Diana bergumam
kesepian dengan ekspresi wajah seperti biasanya, sambil terus mengikuti sosok
Rubens dengan matanya.
Saat aku ikut
melihat, di samping Rubens berdiri Nels, teman masa kecilnya, yang mendampingi
sebagai asisten.
Sesuai instruksi
mereka berdua, pasukan mereka mulai bergerak menuju lokasi yang sedikit
menjauh.
"Kalau
begitu, aku juga harus segera berangkat. Reed, aku doakan keberuntungan
menyertaimu."
"Iya.
Ayah juga, semoga beruntung."
"Hmm."
Ayah
mengangguk sambil tersenyum, lalu berdiri di barisan terdepan pasukan yang
terdiri dari Amon, Noir, Lagard, dan Rubens, kemudian mulai bergerak menembus
hutan.
Tak lama
kemudian, sosok Ayah dan yang lainnya sudah tidak terlihat lagi.
"Tuan
Reed. Waktu kita tidak banyak. Mari kita juga bergerak."
"……Ya,
kau benar."
Mengangguk
pada ucapan Kros, Diana dan Capella yang berpusat padanya mulai memberikan
instruksi kepada seluruh anggota pasukan.
Setelah
berpindah ke lokasi di mana markas Elba bisa terlihat, kami mengatur barisan di
dalam hutan dan menunggu saat dimulainya operasi.
Tiga
menit lagi.
Aku
mengecek jam saku di pinggang, lalu menatap seluruh anggota pasukan yang
bersiaga di belakangku.
Para
ksatria yang mengenakan zirah memakai jubah agar keberadaan mereka tidak
ketahuan musuh.
Meski mereka
menahan napas, namun aura penuh hawa membunuh dan semangat tempur yang memancar
terasa sangat perkasa.
Tentu saja, aku
juga mengenakan zirah. Hanya saja, bukan zirah berat yang membuat pergerakan
menjadi kaku.
Ini adalah baju
zirah spesial yang ringan namun kokoh, buatan Ellen, Alex, dan kawan-kawan.
Kabarnya zirah
ini dibuat dari paduan logam dan kain khusus yang mereka kembangkan, yaitu Shape-Shifting
Magic Alloy dan Shape-Shifting Magic Synthetic Fabric.
Katanya ini
adalah inovasi agar zirah ini bisa terus dipakai meskipun aku bertambah usia
dan tubuhku tumbuh besar. Menurut mereka, logam dan kain ajaib itu akan
menyerap atau melepaskan kekuatan sihir penggunanya untuk mengubah ukurannya.
Aku menerima
"produk jadi" yang kupakai sekarang ini tepat sebelum berangkat dari
kediaman utama.
Kabarnya Ellen
dan Alex menerima pesanan rahasia dari Ayah, dan mereka menyelesaikannya tepat
waktu.
Meski fitur
"perubahan bentuk" itu terdengar meragukan, tapi karena tidak ada
waktu untuk mencobanya, aku hanya manggut-manggut setuju.
"Tuan Reed.
Sisa satu menit. Sebentar
lagi."
"Ya.
Aku mengerti."
Mengangguk
pada bisikan Kros, aku menarik napas dalam-dalam.
Kekuatan
militer yang ada di sini sekitar dua ribu orang, termasuk anak-anak pemimpin
regu Divisi Ksatria Kedua.
Kekuatan
militer Ayah di pasukan terpisah juga sekitar dua ribu orang.
Kekuatan
militer yang ditinggalkan di Benteng Hazama sekitar lima ribu orang.
Karena Baldia
telah mengerahkan seluruh kekuatan tempur yang bisa disiapkan untuk pertahanan
Benteng Hazama, maka tidak ada kesempatan kedua bagi kami.
Renovasi
benteng, penembakan jenderal musuh oleh Aria dan kawan-kawan, pengacauan dengan
pemeran pengganti, serta negosiasi dengan Lafa.
Semua pergerakan
sejauh ini adalah persiapan untuk operasi yang akan dilakukan sekarang.
Sampai sejauh
ini, segalanya berjalan lancar. Dengan satu serangan berikutnya, seluruh hasil akhir perang ini akan
ditentukan.
"Tuan Reed,
waktunya tiba. Mari kita berangkat."
Mendengar ucapan
Kros, aku berdiri lalu menoleh ke arah semuanya.
"Segalanya
telah berjalan sesuai rencana. Sisanya, tinggal kita yang akan memberikan titik
akhir pada pertempuran ini!"
"Ooh!"
Para ksatria
menanggalkan jubah mereka, memperlihatkan sosok berzirah merah menyala, lalu
mengangkat tinggi panji yang bergambar lambang keluarga Baldia dan gambar
Lipan.
"Ayo
semuanya! Terjang sampai ke markas utama musuh, dan fokuslah hanya untuk
mengalahkan Elba Grandork! Jika kalah di sini, tidak akan ada hari esok bagi Baldia!"
Tepat saat aku
berseru lantang, seekor anak kucing menghampiri kakiku dari sela-selah kaki
para ksatria.
"Cookie?"
Kapan dia ikut?
Saat aku memiringkan kepala heran, dia membesarkan tubuhnya seperti singa dan
membiarkanku naik ke punggungnya.
"……!?
Kau mau ikut bertarung bersamaku?"
Dia
mengangguk lalu mengaum kencang.
"Baiklah.
Semuanya, serbuuu!"
Sambil meneriakkan sorak perang, kami keluar dari hutan dan berlari kencang di medan perang menuju markas musuh di mana Elba berada.



Post a Comment