Chapter 1
Pertempuran Benteng Hazama: Pertemuan di Malam
Hari
Begitu
matahari terbenam dan kegelapan mulai menyelimuti sekitar, aku, Amon, dan
Capella, bersama beberapa anggota Divisi Ksatria Kedua, bergerak menuju sebuah
lokasi tertentu.
Benteng
Hazama, sebagai fasilitas militer, memiliki berbagai rancangan cerdik dan
lorong rahasia.
Salah
satu lorong tersebut terhubung ke hutan lebat, yang memungkinkan seseorang
masuk ke wilayah suku Foxman secara rahasia.
Meski
begitu, di dunia yang tidak memiliki satu pun lampu listrik seperti ini,
menyusuri hutan lebat di mana cahaya bulan sulit menembus tanah adalah hal yang
sangat berbahaya.
Namun,
segalanya bisa teratasi dengan adanya anak-anak dari ras Catman yang tergabung
dalam Divisi Ksatria Kedua.
Pasalnya,
ras Catman konon bisa melihat pemandangan di kegelapan malam hampir sejelas di
siang hari, asalkan ada sedikit saja cahaya bulan. Sepertinya nama ras 'Cat'
(Kucing) itu bukan cuma pajangan.
"Tuan
Reed. Kita hampir sampai di lokasi yang ditentukan. Ah, maksud saya,
sudah sampai."
"Sekarang kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan gaya
bahasamu. Terima kasih sudah memandu jalan, Mia."
Gadis yang memimpin jalan itu menggerakkan telinganya dan
menggaruk pipi dengan malu-malu.
"Haha, tidak
bisa begitu. Nanti saya bisa dimarahi oleh Kak Diana."
Mia menoleh ke
arahku sambil menunjukkan gigi putihnya, dan di tengah malam buta itu, satu
matanya yang tersembunyi di balik poni bersinar tajam. Ya, itu jelas pupil mata
kucing.
Omong-omong,
pakaian yang kami kenakan saat ini adalah jubah hitam legam yang dilengkapi
tudung untuk menutupi seluruh tubuh.
Tujuannya agar
kami bisa menyatu dengan malam, menyembunyikan identitas, dan sulit ditemukan.
Di malam pekat
yang hanya diterangi cahaya bulan, menggunakan pakaian hitam pekat membuat kami
hampir mustahil terlihat dari jauh.
Karena kami
melangkah tanpa suara, aku merasa seperti menjadi ninja.
"Ah,
sebentar lagi kita keluar dari hutan. Tidak, kita akan keluar."
Tepat saat Mia
melangkah, ujung pepohonan hutan mulai terlihat.
Setelah keluar
dari hutan dengan penuh kewaspadaan, kami tiba di padang rumput yang terbuka.
Di kejauhan, aku
bisa melihat titik-titik cahaya kecil yang kemungkinan besar adalah kamp
keluarga Grandork.
"Untuk
sebuah ajakan di malam hari, tempat ini agak membosankan ya. Kalau mau mengajak
wanita, carilah tempat yang sedikit lebih beratmosfer."
Tiba-tiba sebuah
suara menyahut, dan saat aku berbalik, sesosok bayangan manusia muncul samar di
kegelapan malam. Udara
di tempat itu seketika menegang, dan para pengawal kami langsung bersiap siaga.
Di tengah
ketegangan itu, cahaya bulan menyelinap dari sela-sela awan.
Saat
bayangan itu perlahan tersingkap cahaya, tampak seorang wanita suku Foxman yang
menawan dengan rambut putih yang berkibar sedang berdiri sambil tersenyum.
Di
sampingnya, ada seorang wanita suku Foxman berambut hitam panjang dan bermata
gelap yang sepertinya adalah pengawalnya.
Aku
melepas tudungku dan maju ke depan.
"Perkenalkan,
namaku 'Reed Baldia'. Jika tidak salah, Anda adalah Nona 'Lafa Grandork', benar
begitu?"
"Ya,
benar sekali. Dan dia adalah
pengawalku. Jangan terlalu dipikirkan ya."
"Nama saya
Peony."
Setelah wanita
berambut hitam itu memperkenalkan diri, mata Lafa berpendar dengan aura
misterius.
"Ini mungkin
kali 'kedua' kita bertemu seperti ini ya. Jadi, apa 'hal yang ingin
dibicarakan' yang ada di dalam 'surat panah' yang jatuh dari langit itu?"
Dia perlahan
mengeluarkan surat panah yang kami kirim dari balik pakaiannya. 'Surat panah
yang jatuh dari langit' itu adalah pesan yang dilepaskan ke kamp Lafa oleh Aria
dan Saria dari ras Birdman atas instruksiku sebelum matahari benar-benar
tenggelam.
Aku sempat ragu
apakah dia akan menanggapi pertemuan ini, tapi Amon menegaskan bahwa dia pasti
akan datang.
"Melihat
sifat Kakak, dia pasti datang. Meminjam istilah Kak... maksudku, Marbas, dia
itu seperti seorang 'Hedonis Epikurean'. Selain itu, Kakak sangat menyukai Tuan
Reed dan menilaimu tinggi. Tidak mungkin Kakak melewatkan surat dari Tuan Reed.
Dia pasti akan datang dengan perasaan riang."
Tentu saja,
pertanyaan 'menyukai dalam arti apa' langsung terlintas di benakku, tapi aku
sengaja tidak mengungkitnya karena rasanya akan jadi rumit.
"Be-begitu
ya. Baiklah. Aku akan bersiap sebaik mungkin dan melakukan apa yang aku
bisa."
Itu adalah dewan
perang pertama yang diadakan di wilayah Baldia setelah Amon memantapkan
tekadnya untuk bangkit bersama Ayah dan yang lainnya.
Sejak saat itu,
dia sudah mengatakan bahwa 'Lafa Grandork' memiliki kemungkinan untuk
menanggapi pertemuan, jadi negosiasi ini layak dicoba. Karena itulah kami
melepaskan 'surat panah' dan datang ke sini meski sadar akan bahayanya.
Jujur saja, jika
keluarga Grandork dan Baldia beradu secara frontal, sulit dipungkiri bahwa kami
berada di posisi kalah jumlah. Sehebat apa pun strategi nyeleneh yang
digunakan, ada kemungkinan kami akan hancur tergilas jumlah musuh.
Untuk mengecoh
musuh, tidak ada jalan lain selain menciptakan situasi yang tak terduga secara
sengaja. Negosiasi dengan Lafa adalah salah satu 'Strategi Nyeleneh' untuk
tujuan tersebut.
Sambil
mengenang hal itu, aku menarik napas dalam-dalam dan menatapnya tajam.
"Pertama-tama,
saya ingin mengucapkan terima kasih karena Anda telah bersedia datang ke sini.
Namun, sebelum masuk ke topik utama, ada seseorang yang ingin saya perkenalkan
kepada Anda."
"Aduh,
perasaan aku tidak punya kenalan di keluarga Baldia."
Di depan Lafa
yang mengangkat bahu sambil bercanda, Amon maju dan perlahan melepas tudungnya.
Lafa tidak tampak
terkejut, dia hanya menyeringai kecil.
"Ada pepatah
'jika tidak bertemu tiga hari, lihatlah dengan seksama', tapi meski belum lewat
tiga hari, wajahmu jadi terlihat lebih bagus ya, Amon. Apa kau habis mencicipi
kepahitan hidup?"
Lafa bicara
dengan nada provokatif seolah tak tahu apa-apa, tapi Amon tidak memedulikannya.
"Kakak. Aku
bermaksud memenuhi wasiat mendiang Rick dan yang lainnya. Aku akan bangkit
dengan meminjam kekuatan Baldia."
"Wah,
akhirnya kau membulatkan tekad ya. Tapi, begitu ya... Rick dan yang
lainnya sudah mati."
Dia mendekati
Amon dan perlahan mengusap pipinya.
"Kasihan
sekali. Fufu, kau terlalu lambat mengambil keputusan. Makanya hasilnya jadi
penyesalan. Padahal aku sudah berbaik hati memberimu peringatan, sayang sekali
ya."
"……Benar."
Amon
mengangguk dan menggenggam lengan Lafa. Kemudian, dia menatap balik dengan mata
yang tajam penuh tekad.
"Fakta
bahwa mereka mati tidak lain karena ketidakberdayaanku. Karena itu, agar hal
seperti ini tidak terulang kembali, aku akan mengalahkan Gareth dan Elba."
"Ah, tatapan
itu. Tatapan seperti itulah yang ingin kulihat darimu."
Dia memicingkan
mata, lalu menepis tangan Amon dan mengalihkan pandangan padaku.
"Nah, bisa
kau beri tahu topik utamanya sekarang? Ataukah kau sengaja datang cuma untuk
memberi tahu kalau Amon masih hidup dan akan bangkit? Kalau cuma itu,
membosankan sekali."
Lafa tampak
santai, tapi dia sama sekali tidak menunjukkan celah. Namun, pertarungan yang
sesungguhnya dimulai dari sini. Kami juga tidak boleh menunjukkan celah.
Seluruh masa depan bergantung pada pertemuan ini.
Aku menarik napas
dalam-dalam tanpa kentara, lalu tersenyum manis.
"Tentu saja
bukan hanya soal kebangkitan Amon. Capella, keluarkan barangnya."
"Dimengerti."
Sesuai
instruksiku, dia melepas tudungnya lalu mengeluarkan 'kotak kecil' dan 'botol
besar' dari tas yang digendongnya dengan hati-hati.
Begitu aku
menerima kotak kecil itu dan membuka tutupnya, aroma asam manis menggelitik
hidung.
"Aroma yang
lezat ya. Itu apa?"
"Ini adalah
masakan baru yang dikembangkan di keluarga kami, namanya 'Inari Sushi', dan ini
adalah 'Sake'. Silakan dicicipi."
Seolah tidak bisa
menebak maksudku, alis Lafa dan Peony berkedut.
"Ah, tapi
tentu perlu ada pengetesan racun ya. Jika Anda berkenan, silakan pilih satu
Inari Sushi dari dalam kotak. Saya yang akan memakannya terlebih dahulu."
Mendengar itu,
Lafa menyunggingkan senyum geli dan melangkah ke hadapanku.
"Menarik
juga cara mainmu. Kalau begitu, biar aku yang memilihkan dan menyuapimu."
Dia memilih satu
Inari Sushi dan mengambilnya, lalu menyodorkannya ke arahku.
"Ayo,
buka mulutmu dan bilang 'aaa'."
"Ka-kalau
begitu..."
Di bawah tatapan
semua orang, cara makan seperti ini agak memalukan. Namun, demi kelancaran
negosiasi, aku perlu membuat kesan yang baik di mata mereka, sekecil apa pun
itu.
Meski ini
kejadian di luar dugaan, aku memakan 'Inari Sushi' yang dia ambil,
mengunyahnya, lalu menelannya dengan mantap.
"Fuu. Nah,
silakan Anda mencicipinya."
"Baiklah.
Kalau begitu, aku makan ya."
Setelah Lafa
mengambil satu, aku mengalihkan pandanganku.
"Mumpung ada
di sini, Nona Peony juga silakan."
Saat aku
mengajaknya, dia mengerutkan kening dan menunjukkan kecurigaan yang jelas.
"Ini niat
baik dari mereka. Kau coba juga," perintah Lafa.
"Dimengerti.
Kalau begitu, saya juga akan mencicipinya."
Sesuai instruksi,
Peony dengan enggan mengambil satu Inari Sushi. Setelah saling pandang sejenak,
mereka berdua mencicipi sedikit sushi tersebut secara bersamaan.
Meskipun aku
sudah melakukan tes racun, sepertinya mereka tetap tidak lengah.
Yah, padahal aku
tidak menaruh racun sama sekali.
"Heh,
rasa asam manisnya menyebar di dalam mulut ya. Ini enak sekali."
"Benar
sekali, Nona. Ini rasa dan tekstur yang belum pernah saya rasakan
sebelumnya."
Bagus, Lafa dan
Peony tampak sangat menikmati rasanya. Untuk melancarkan serangan berikutnya,
aku memberi isyarat mata pada Capella.
"Saya senang
jika Anda menyukainya. Nah, selanjutnya silakan cicipi 'Sake' ini. Karena
faktor usia, saya belum boleh minum alkohol. Jadi, tes racun akan dilakukan
olehnya."
Capella
menuangkan Sake ke dalam cawan kayu berbentuk kotak yang dibawanya hingga
meluap, lalu meminumnya dalam sekali teguk.
Kadar alkoholnya
seharusnya cukup tinggi, apa dia tidak apa-apa? Aku sempat khawatir, tapi dia
mengembuskan napas panjang "Fuu..." dan bergumam "Masih selezat
biasanya," lalu kembali menuangkan Sake hingga penuh ke cawan tersebut.
Melihat cara
minum yang begitu gagah, Lafa tertawa geli, sementara Peony menatap dengan
pandangan heran.
"Silakan,
Anda bisa mencicipi ini."
Saat Lafa hendak
mengambil cawan berisi Sake yang disodorkan Capella, Peony menyela,
"Tunggu sebentar."
"Nona Lafa.
Untuk berjaga-jaga, biarkan saya yang meminumnya terlebih dahulu."
"Aduh,
kurasa tidak apa-apa kok. Tapi ya sudahlah, kalau kau bersikeras,
silakan."
"Mohon maaf
atas kelancangan saya."
Dia mendahului
Lafa, menerima cawan dari Capella, lalu menyesapnya dengan hati-hati.
"……!?"
Mata Peony
berkedip cepat, lalu dia menyesapnya lagi, dan lagi, sampai tiga kali.
Tahu-tahu, cawan
itu sudah kosong.
"……Hanya
sebanyak ini, saya belum tahu apakah ini benar-benar aman. Berikan saya segelas
lagi."
"E-eh, boleh
saja sih. Tapi ini alkohol yang kuat, jadi tolong berhati-hati jangan sampai
terlalu banyak minum ya."
Karena istilah
'kadar alkohol' mungkin sulit dipahami, aku menggantinya dengan 'alkohol yang
kuat'. Benar-benar tidak apa-apa ya dia?
Sake yang kami
berikan ini berbahan dasar 'Beras' yang diimpor dari Lenaloot. Ini adalah
produk minuman keras yang baru saja selesai dikembangkan dan belum beredar di
pasar.
Dalam ingatan
kehidupanku sebelumnya, ada 'Nihonshu' dan 'Sake'.
Cara pembuatannya
sama, tapi 'Nihonshu' harus menggunakan bahan 'Beras' dan 'Koji Beras' asli
Jepang. Oleh karena itu, di dunia ini yang bisa direproduksi hanyalah 'Sake'.
"Ah, aku
lupa. Mumpung kita di sini, minuman ini akan jadi lebih enak jika diminum
bersama ini. Capella, berikan itu juga."
"Dimengerti."
Capella
mengeluarkan 'bubuk putih' dari tasnya, lalu aku menempelkannya di tangan dan
menjilatnya. Agak asin.
"Ini
hanyalah garam biasa. Cobalah meminumnya setelah menempelkan ini di pinggiran
cawan. Rasanya akan jadi lebih nikmat."
"Heh,
menarik juga. Seperti katanya, cobalah minum gelas kedua dengan menempelkan
garam di pinggirannya. Sekalian tes racun juga."
"……Dimengerti.
Kalau begitu, saya terima tawarannya."
Sesuai
instruksi Lafa, Peony menyesap kembali Sake dengan garam. Kali ini dia tidak
ragu sama sekali.
"I-ini……!?"
Matanya
membelalak, dan dia terus menempelkan bibirnya di pinggiran cawan yang bergaram
itu berkali-kali. Dalam sekejap, gelas kedua Sake sudah ludes. Jika
diperhatikan baik-baik, pipi Peony mulai merona merah dan tatapannya mulai
sedikit sayu.
"Nona
Lafa, ini gawat. Anda tidak boleh... tidak boleh mengetahui rasa ini."
"Wah, sampai
kau begitu menyukainya ya. Tapi, kau tahu kan aku tidak akan mendengarkan
peringatan seperti itu?"
Meski Peony
menggelengkan kepala mencoba menghentikannya, Lafa merampas cawan itu darinya.
"Nah, bisa
kau tuangkan untukku juga?"
"Dimengerti.
Bagaimana dengan garamnya?" tanya Capella.
"Aku tipe
yang menyimpan kesenangan untuk belakangan. Biarkan aku mencicipi rasa aslinya
dulu."
Capella
mengangguk dan menuangkan Sake hingga penuh ke cawan Lafa.
"Baiklah,
aku minum ya."
Begitu
berkata demikian, Lafa menenggak Sake yang meluap di cawan itu.
Seiring
dengan cara minumnya yang gagah, tetesan alkohol mengalir dari sudut mulutnya.
Tetesan itu melewati lehernya dan menghilang di balik belahan dadanya yang
besar.
"Haa……"
Setelah
menghabiskan Sake-nya, Lafa menunjukkan ekspresi sayu yang mempesona.
"Aha, aku
mengerti kenapa Peony sampai begitu menyukainya. Ini pertama kalinya aku minum
alkohol selezat ini. Nah, selanjutnya boleh aku mencicipinya dengan
'Garam'?"
"Dimengerti."
Capella kembali
menuangkan Sake hingga penuh, kali ini dia mengoleskan garam dengan rapi di
pinggiran cawan sebelum menyerahkannya.
"Nona Lafa.
Jika diminum bersama Inari Sushi yang tadi, rasanya akan jadi jauh lebih lezat
lho."
"Fufu,
baru kali ini aku menghadiri pertemuan yang begitu menyenangkan."
Dia
memicingkan mata, lalu berkali-kali menyesap Sake dari cawan bergaram itu
hingga kering. Tak lupa dia
juga memakan Inari Sushi sedikit demi sedikit sebagai pendamping minumannya.
Dalam sekejap,
Lafa sudah menghabiskan isi cawan dan melahap habis Inari Sushi-nya. Namun,
ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah sejak awal. Sesuai dengan apa yang
kudengar dari Amon sebelumnya, Lafa sepertinya memang seorang peminum berat.
"Terima
kasih atas hidangannya. Tapi, ada apa sebenarnya dengan alkohol dan makanan
lezat ini?"
"Iya.
Alkohol dan makanan yang baru saja Anda nikmati adalah simbol dari lompatan
perkembangan besar yang bisa didapat jika Baldia dan suku Foxman bekerja sama.
Serta menunjukkan adanya kemungkinan-kemungkinan baru."
Meskipun alis
mereka sedikit bergerak, keduanya tetap diam dan mendengarkan kata-kataku.
"Saya tidak
tahu masa depan seperti apa yang diincar oleh Kepala Suku saat ini, Tuan Gareth
dan Tuan Elba. Namun, selama mereka terus memimpin suku, akan sulit bagi
keluarga kami dan keluarga Anda untuk menjalin hubungan baik. Jika itu terjadi,
barang-barang yang baru saja Anda nilai 'lezat' itu akan sulit untuk didapatkan
kembali. Tentu saja, apa yang dihasilkan keluarga kami bukan hanya alkohol dan
makanan. Saat Tuan Amon menjadi kepala suku, kami bermaksud melakukan 'Technology
Transfer' dan bekerja sama untuk memajukan suku Foxman."
"Technology Transfer, ya. Fufu, kau berani juga
bicara begitu."
Mata Lafa
berpendar dengan aura misterius.
"Itu
artinya, wilayah suku Foxman juga bisa mencapai perkembangan seperti Baldia,
begitu kan?"
"Tepat
sekali."
Saat aku
mengangguk dengan hormat, dia memicingkan mata dengan geli.
"Amon.
Sepertinya tujuanmu memang berada di jalur kerja sama dengan Baldia ya."
"Benar.
Seperti yang sudah aku sampaikan sebelumnya, Kakak pasti sudah tahu betul
tentang 'perkembangan' di wilayah Baldia. Apakah suku Foxman akan maju, ataukah akan merosot
dan ditelan oleh suku lain... saat inilah yang akan menjadi persimpangan jalan
bagi masa depan kita."
Amon menunjukkan
tatapan serius yang penuh tekad.
"Kakak, aku
bicara apa adanya. Tolong, bantu aku."
Di tengah suara
Amon yang bergema dalam kesunyian malam, Lafa tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
"Fufufu... Aha, ahahaha!"
"Masa depan
di mana suku Foxman dan Baldia bekerja sama ya. Begitu, kedengarannya menarik
juga. Tapi sayang sekali, aku tidak bisa membantumu. Karena tidak ada harapan
bagi kalian untuk menang melawan pasukan Kak Marbas."
Seketika, tawa
menghilang dari wajahnya.
"……Aku tidak
sebodoh itu sampai mau membantu pihak yang sudah jelas akan kalah."
Niat membunuh
yang dilepaskan Lafa bersamaan dengan kata-katanya begitu luar biasa, membuat
semua orang di sini menahan napas.
Statusnya sebagai
orang terkuat kedua setelah Elba bukan cuma isapan jempol. Ternyata dia memang
sosok yang harus benar-benar dibujuk dengan cara apa pun.
Aku menarik napas
dalam-dalam, menatap mata Lafa yang mengancam, lalu mulai bicara.
"Mungkin ada
sedikit salah paham dengan kata 'bantu aku' yang diucapkan Tuan Amon.
Sebenarnya kami datang ke sini untuk menyampaikan 'sebuah permintaan' kepada
Nona Lafa."
"Permintaan?
Memangnya apa bedanya itu dengan 'pengkhianatan' atau 'minta bantuan'?"
"Soal itu,
akan saya jelaskan sekarang."
Sepertinya rasa
ingin tahunya terusik, mata Lafa kembali memancarkan binar misterius.
Kunci untuk
menjadikannya sekutu adalah seberapa besar kita bisa menghiburnya.
Dengan
mempertimbangkan sifatnya yang aku tangkap dari percakapan sejauh ini, aku
mengoreksi tawaran yang sudah kusiapkan dalam kepala.
Dengan tambahan
penjelasan dari Capella dan Amon, aku menyampaikan 'sebuah permintaan' itu
dengan sangat hati-hati.
◇
"……Demikian
penjelasannya. Bagaimana menurut Anda? Dengan cara ini, Nona Lafa tidak akan
dianggap mengkhianati keluarga Grandork."
Setelah aku
selesai menjelaskan, Lafa menyeringai penuh percaya diri.
"Menarik,"
gumamnya. "Tapi, apa kau benar-benar berpikir hal sepele seperti itu bisa
membuatmu menang?"
"Aneh
sekali. Itu tidak terdengar seperti Kakak yang biasanya," potong Amon
sambil mengangkat bahu dengan nada provokatif.
"Bukankah
Kakak selalu bilang 'ingin melihat Kak Elba kalah'? Jika Kak Elba sampai kalah
oleh hal sepele seperti ini, berarti kemampuannya memang hanya sampai di
situ."
"Aduh, Amon
sekarang sudah pintar bicara ya. Baiklah, bagaimana enaknya ya..."
Tepat saat Lafa
menempelkan jari ke bibir sambil memiringkan kepala, sebuah suara bergema dari
belakangku.
"Ini
adalah benih yang Anda tanam sendiri. Anda harus menerima tawaran Tuan Reed."
Aku tersentak dan
menoleh. Ternyata Noir dan Lagard sudah melepas tudung mereka dan melangkah
maju.
Sebelumnya,
mereka berdua bersikeras ingin ikut dalam pertemuan ini. Noir sempat
membocorkan alasannya 'hanya kepadaku', yang ternyata berkaitan erat dengan
asal-usulnya.
Karena memahami
perasaan mereka dan merasa pertemuan dengan Lafa mungkin akan memberikan titik
terang, aku mengizinkan mereka ikut sebagai pengawal.
"Maafkan
kelancangan saya yang tiba-tiba. Tuan Reed, izinkan saya bicara sedikit."
"Baiklah.
Lakukan sesukamu, Noir."
"Terima
kasih."
Noir membungkuk
singkat, lalu melangkah mantap ke hadapan Lafa.
"Tuan Reed,
siapa sebenarnya dia?" tanya Amon heran.
"Yah, suatu
saat nanti aku harus menceritakannya padamu."
"……?"
Di saat Amon
masih bingung, Noir berdiri tegak dengan tatapan tajam di depan Lafa.
"Wah, wajahmu sepertinya tidak asing."
"Saya ingin memberitahukan nama ibu saya kepada Anda.
Mohon dengarkan baik-baik."
Lafa berjongkok agar Noir bisa membisikkan sesuatu ke
telinganya.
"……!? Apa
katamu?"
Mata Lafa
membelalak. Dia menatap wajah Noir lekat-lekat, lalu tiba-tiba tertawa
terbahak-bahak.
"Luar biasa!
Bisa-bisanya ada kebetulan seperti ini. Kau benar, ini memang 'benih' yang aku
tanam sendiri."
Lafa sepertinya
sudah paham situasinya. Dia menoleh ke arahku sambil memicingkan mata dengan
geli.
"Jika—dan
ini hanya jika—kalian berhasil menang, kalian harus menjamuku dengan 'Inari
Sushi' dan 'Sake' yang banyak, ya."
"Tentu saja."
Bagus, rencananya berhasil.
Aku
membungkuk hormat sambil diam-diam mengepalkan tangan. Dengan ini, peluang
kemenangan Baldia dalam pertempuran besok meningkat drastis.
Jika
bicara ekstrem, peluang yang tadinya hanya sepuluh persen kini sudah setara,
atau bahkan lebih tinggi. Meski tidak boleh lengah, ini adalah kemajuan besar.
"Nona
Lafa, Anda serius?" Peony berteriak dengan mata terbelalak, namun Lafa
hanya tertawa santai.
"Tidak
apa-apa, Peony. Menuruti 'permintaan' mereka tidak akan menggoyahkan kemenangan
Kak Elba dan yang lainnya."
"Ta-tapi……!?"
"Seperti
kata Amon. Jika Kak Elba kalah karena hal semacam ini, berarti memang
kemampuannya cuma segitu. Lagipula, apa pun hasilnya nanti, kita tetap bisa
bersenang-senang, kan? Jadi tidak masalah."
"Haa... saya
benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Anda."
"Ahaha! Kau
saja yang terlalu serius, Peony."
Entah kenapa,
interaksi mereka terasa akrab di telingaku. Setelah selesai bicara dengan
Peony, Lafa kembali menatapku.
"Lagipula,
semua ini persis seperti yang dikatakan Meldy-chan."
Mendengar nama
Mel tiba-tiba disebut, jantungku berdegup kencang. Namun, aku tahu jika aku
langsung bereaksi berlebihan, aku bisa kehilangan kendali dalam negosiasi ini.
Sambil menahan keringat yang membasahi tangan dan tenggorokan yang terasa
kering, aku mulai bicara perlahan.
"……Apa
yang terjadi dengan adikku?"
Meski aku
mencoba bicara dengan nada tajam yang mengancam, dia malah tersenyum sinis.
"Aku
yang bertanggung jawab mengawasi Meldy-chan dan yang lainnya."
Mendengar
jawaban itu, aku mengerutkan kening dalam-dalam. Namun, aku tidak boleh
gegabah.
Aku
sangat ingin menyelamatkan Mel secepat mungkin, tapi jika pertemuan ini gagal,
masa depan Baldia bisa musnah. Aku harus tetap berhati-hati.
Seolah
mengerti posisiku, Lafa melanjutkan.
"Meldy-chan
menceritakan banyak hal padaku. Terutama tentang betapa 'nyelenehnya' dirimu.
Kau harus berterima kasih padanya saat bertemu nanti. Kalau aku tidak mendengar
ceritanya, mungkin aku sudah menolak 'permintaan' kalian."
Aku ingin sekali
bertanya apa saja yang Mel ceritakan, tapi itu bukan prioritas sekarang. Aku
menarik napas panjang untuk meredam emosi, lalu memaksakan senyum.
"Begitu
ya. Kalau begitu, Anda harus benar-benar menepati 'janji' jika kami
menang."
"Tentu saja.
Tapi, kalau soal Chris—si Elf itu—Kak Elba sangat menyukainya. Dia tidak ada
bersamaku."
"Aku tidak
bisa mengabaikan itu. Apa maksud Anda?"
"Sesuai
ucapanku. Kak Elba menginginkan keahlian dan serikat dagang yang dikelola Elf
itu. Dia bahkan merayunya dengan berkata, 'Jadilah wanitaku'."
"Apa……!?"
Semua orang,
termasuk aku, terkejut bukan main.
Tak disangka Elba
akan melakukan hal semacam itu. Meski aku tidak yakin Chris akan setuju, ada
kemungkinan dia terpaksa karena Mel dan anggota serikat dagang lainnya
dijadikan sandera. Di tengah rasa cemas yang merayapi benakku, Lafa mulai
tertawa geli.
"Tapi
dia menolaknya! Dan itu benar-benar momen yang luar biasa."
Dia mulai
menceritakan kejadian saat itu dengan nada riang.
'Christy Saffron.
Jadilah wanitaku.'
Saat Elba
mengatakannya langsung di depan wajah Chris, Chris menolaknya mentah-mentah.
'Atau apa? Anda
sesumbar memintaku jadi wanita Anda, tapi berniat menggunakan Tuan Putri Meldy
dan yang lainnya sebagai sandera untuk menundukkanku? Jika benar begitu,
berarti kualitas orang yang disebut sebagai calon Kepala Suku dan Beast King
selanjutnya hanya sebatas itu saja,' begitu katanya dengan berani.
Mendengar
serangan kata-kata yang tegas itu, Elba mengerutkan kening dan bergumam, 'Apa
katamu...'. Chris tidak mau kalah dan balik menatapnya tajam. Setelah mereka
saling melotot sejenak, Elba akhirnya tersenyum tipis.
'Wanita
yang bersemangat. Kalau tidak begitu, tidak akan menarik. Baiklah, aku akan
ikuti permainanmu. Aku tidak akan menyentuh kalian, termasuk Meldy Baldia,
sampai aku berhasil menghancurkan keluarga Baldia. Berjuanglah sekuat tenaga.'
Elba
tertawa terbahak-bahak, lalu menyerahkan pengawasan Mel dan Chris sepenuhnya
kepada Lafa.
"Jadi ada
kejadian seperti itu ya..."
"Fufu, hebat
sekali, kan?"
Chris, kau nekat
sekali.
Tapi, dia memang
hebat. Sepertinya dia memahami karakter Elba dan sengaja memancingnya dengan
kata-kata agar bisa mengamankan keselamatan teman-temannya yang diculik.
Setelah Lafa
selesai bercerita, Amon menyela, "Tapi Kakak."
"Kenapa Kak
Elba membawa Nona Chris bersamanya dalam perang kali ini?"
"Dia ingin
mematahkan semangat Chris dengan memperlihatkan kehancuran Baldia di depan
matanya. Kak Elba memang suka 'mematahkan hati' orang lain."
Lafa mengangkat
bahu sambil bercanda, lalu memicingkan mata dengan aura misterius.
"Nah,
pertemuan kita berakhir di sini. Aku akan menuruti 'permintaan' kalian. Aku
penasaran sejauh mana kalian bisa berjuang melawan Kakak. Aku akan
menantikannya."
"Tentu,
silakan nantikan aksi kami. Dan tolong, jangan lupakan 'janji' kita."
Setelah
aku menegaskan hal itu, dia mengangguk mantap.
"Iya, tentu
saja. Sampai jumpa, Reed, Amon. Mari bertemu lagi... jika kalian masih hidup,
sih."
Sambil tersenyum,
dia menghilang ke dalam kegelapan malam diikuti oleh Peony. Begitu keberadaan
mereka benar-benar hilang, seluruh tenagaku serasa merosot. Aku terduduk lemas
di tempat.
"Hah...
akhirnya pertemuannya sukses juga."
"Tuan
Reed, Anda luar biasa."
Capella
mengeluarkan botol air dari tasnya dan menuangkannya ke gelas.
"Terima
kasih. Sebenarnya tenggorokanku kering sekali sedari tadi."
Aku langsung
menenggak air itu dalam sekali teguk.
"Tapi tetap
saja, luar biasa kau bisa memancing Kakak sejauh itu. Benar-benar
mengagumkan," puji Amon.
"Ini bukan
cuma berkat kekuatanku. Ini hasil dari kerja keras semua orang dan berbagai
elemen yang saling mendukung."
Aku menjawab Amon
dengan senyum getir, dan itu adalah perasaan jujurku.
Meski aku sudah
menyiapkan tawaran dan kata-kata berdasarkan hobi Lafa yang kudengar dari Amon,
aku tidak tahu keputusan apa yang akan dia ambil. Sejujurnya, aku sangat
gelisah.
Aku menyeka
keringat di dahi, lalu memantapkan hati untuk berdiri.
"Ayo, kita
tidak punya waktu untuk bersantai. Masih banyak yang harus dilakukan di benteng. Mia, tolong pandu jalan pulangnya ya."
"Siap!"
Mia memberi
hormat, lalu mulai berlari menuju hutan.
Saat yang lain
mulai bergerak menyusul, aku berhenti sejenak dan menatap cahaya yang berpendar
dari kamp keluarga Grandork.
"Mel, Chris.
Dan semuanya. Tunggu sebentar lagi, aku pasti akan menyelamatkan kalian."
"Tuan Reed,
mari bergegas."
"Iya,
maaf. Aku segera datang."
Menjawab
panggilan Capella, aku pun mulai berlari kencang.
Dalam perjalanan
kembali ke benteng, Amon sempat bertanya tentang Noir, tapi aku hanya tertawa
dan mengalihkan pembicaraan karena "ini bukan waktu yang tepat untuk
mengobrol".
Kemungkinan
besar, Noir juga akan menjadi kunci dalam pertempuran kali ini.
Sisanya, aku
hanya bisa berdoa agar Lafa melaksanakan 'permintaan' kami besok... tidak, aku
belum melakukan segala upaya semaksimal mungkin.
Berdoa itu dilakukan setelah semua usaha dikerahkan. Aku memantapkan hati dan terus berlari menembus hutan di malam yang pekat.
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment