NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonda Otome Gēmu no Akuyaku Mobu desu ga ⁓ Danzai wa Iya na no de Mattō ni Ikimasu Volume 10 Chapter 2

Chapter 2

Pertempuran Benteng Hazama: Malam Sebelum Peperangan


Sekembalinya ke Benteng Hazama, aku, Amon, dan Capella segera menuju ruangan Ayah.

"……Demikian laporannya. Meski kita belum bisa memastikannya sebelum melihat pergerakan besok, bisa dibilang pertemuan dengan Lafa Grandork berakhir sukses."

Setelah mendengar laporan kami, Ayah mengangguk pelan.

"Begitu ya, kerja bagus."

"Renovasi benteng pun secara garis besar sudah selesai sesuai rencana. Sekarang, beristirahatlah dengan baik."

"Kami mengerti. Kalau begitu, kami permisi dulu."

Saat kami hendak melangkah keluar, Ayah memanggilku.

"Reed."

"Iya, Ayah. Ada apa?"

Aku menoleh dan mendapati Ayah sedang menunjukkan raut wajah yang serba salah.

Ada apa ya? Saat aku memiringkan kepala kebingungan, Ayah menggeleng.

"Tidak, bukan apa-apa. Maaf sudah menghentikanmu."

"……? Baik, Ayah."

Meski tidak mengerti maksudnya, aku pun keluar ruangan dan berjalan menuju tempat anggota Divisi Ksatria Kedua menunggu.

"Ayah... kira-kira tadi dia mau bilang apa ya?"

"Mungkin beliau sedang mengkhawatirkan keselamatan Tuan Reed."

Capella menjawab gumamanku saat kami menyusuri koridor. Aku terus melangkah sambil meliriknya dari sudut mata.

"Kalau memang begitu, seharusnya bilang langsung saja."

"Mengingat posisi Tuan Rainer, hal itu mungkin sulit dilakukan."

"Kenapa?"

Kali ini aku benar-benar menghentikan langkah dan bertanya balik, membuat Capella membungkuk hormat.

"Mohon maaf jika lancang, secara pribadi Tuan Rainer pasti tidak ingin Tuan Reed yang masih semuda ini pergi ke garis depan. Namun, kekuatan Tuan Reed sangat dibutuhkan dalam pertempuran melawan keluarga Grandork. Sebagai pelindung negara dan wilayah, beliau pasti memiliki perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya."

"Ah……"

Aku tersentak menyadarinya.

Bagi Ayah, aku masihlah seorang anak kecil. Sekalipun demi melindungi negara dan wilayah, mengirim anak sendiri ke medan perang pasti terasa sangat menyesakkan dada.

"Kalian benar-benar ayah dan anak yang hebat ya. Aku iri melihatnya."

Amon yang sejak tadi memperhatikan interaksi kami tiba-tiba tertawa kecil dan tersenyum lembut.

"I-iya. Terima kasih. Besok, aku akan mencoba bicara sedikit dengan Ayah sebelum berangkat."

"Saya rasa itu ide yang bagus."

Capella membungkuk mantap, sementara Amon terus tersenyum.

Aku merasa sedikit malu dan menggaruk pipi untuk menutupi kecanggunganku.

"Ah, omong-omong, kita harus segera menemui yang lain."

Aku berujar seolah mencoba mengalihkan pembicaraan dan berjalan cepat menuju tujuan. Samar-samar, aku merasa mendengar suara tawa geli dari kedua orang di belakangku.

Setibanya di perkemahan Divisi Ksatria Kedua di dalam benteng, aku meminta Diana untuk mengumpulkan setiap pemimpin regu dan wakilnya di salah satu ruangan.

Di dalam ruangan sudah ada Curtis selaku komandan Divisi Ksatria Kedua, serta Stein dan Raymond yang bertugas sebagai asistennya. Setelah semua duduk mengelilingi meja, aku berdehem untuk menarik perhatian mereka.

"Terima kasih atas bantuan kalian merenovasi benteng. Kerja bagus semuanya. Sekarang, ada yang ingin kulaporkan."

Di bawah tatapan penuh ketegangan dari semua orang yang menahan napas, aku menyampaikan poin utamanya.

"Besok, kita akan menjalankan operasi sesuai dengan rencana awal."

"Ooh……!?"

Ketegangan di ruangan itu sedikit mencair, digantikan oleh gumaman lega. Aku memang sudah memberikan dua pilihan rencana kepada mereka sebelumnya.

Yaitu rencana jika pertemuan dengan Lafa berhasil, dan jika gagal. Pernyataanku barusan berarti pertemuan itu sukses, sehingga besok kami akan bergerak dengan rencana yang memiliki peluang menang lebih tinggi. Wajar jika mereka merasa lega.

"Kalau begitu, mari kita lakukan konfirmasi terakhir untuk pergerakan besok."

"Kami mengerti."

Aku kembali menjelaskan detail operasi kepada Capella, Diana, Curtis, dan para anggota yang matanya kini berkilat penuh semangat tempur. Setelah konfirmasi strategi dan persiapan selesai, terdengar ketukan sopan di pintu.

"Tuan Reed, ini Rubens. Bolehkah saya masuk?"

"Iya, silakan."

Begitu aku menjawab, Rubens masuk sambil berujar "Permisi". Namun, dia tampak terkejut melihat banyaknya orang di dalam ruangan dan berkedip berkali-kali. Karena mendadak menjadi pusat perhatian, Rubens terlihat agak salah tingkah.

"……? Ada apa?"

"Ah, tidak……"

Rubens menggaruk pipi dengan malu-malu sambil melirik Diana sekilas. Kemudian, dia berdehem dan tiba-tiba menegakkan tubuhnya dengan gagah.

"Sebenarnya, per hari ini, saya telah ditunjuk oleh Tuan Rainer sebagai 'Wakil Komandan Divisi Ksatria Pertama Baldia'. Sekali lagi, mohon bantuannya mulai sekarang."

"Eh……?"

Aku sempat melongo mendengar laporan mendadak itu, tapi segera menyadari maknanya dan membelalakkan mata kegirangan.

"Hebat! Selamat ya, Rubens!"

Aku bertepuk tangan merayakan kenaikan jabatannya, diikuti oleh semua orang di ruangan yang turut memberi selamat.

"Te-terima kasih banyak."

Wajah Rubens memerah.

"La-lalu, anu, ada satu hal yang ingin saya minta……" Dia menggaruk kepalanya dengan raut sungkan.

"Iya, apa itu?"

"Bolehkah saya berbicara berdua saja dengan Diana?"

Tepat saat dia melirik Diana, atmosfer di ruangan itu mendadak berubah menjadi manis dan penuh godaan. Semua pasang mata tertuju pada mereka berdua, kecuali Stein dan Raymond yang tampak sedikit tidak puas.

Pipi Diana juga sedikit merona, sepertinya dia tidak keberatan. Namun, dia berdehem dan menggelengkan kepala.

"Rubens. Kenaikan jabatanmu sebagai Wakil Komandan adalah hal yang patut dirayakan, tapi pembicaraan itu bisa dilakukan nanti. Sekarang perhatikanlah situasi dan tempatnya."

"Be-benar juga."

Setelah disemprot begitu, Rubens langsung tertunduk lesu.

Melihatnya yang tampak seperti anjing yang sedang dimarahi hingga telinganya layu, aku pun tertawa terbahak-bahak.

"Tuan Reed?"

Keduanya memiringkan kepala secara bersamaan. Saat aku melirik sekitar, ternyata semua orang juga sedang gemetar menahan tawa.

Karena hanya aku yang secara posisi diizinkan untuk tertawa terang-terangan, ya mau bagaimana lagi. Jika interaksi mereka berlanjut, otot perut semua orang di sini bisa kram.

"Ah, maaf, maaf. Interaksi kalian lucu sekali sih."

"Ha-hah……?"

Rubens dan Diana saling pandang, sepertinya mereka belum menyadari situasi di sekitar mereka. Aku berdehem lagi dan menatap mereka kembali.

"Pekerjaan konfirmasi untuk besok sudah hampir selesai. Diana, rayakanlah kenaikan jabatan Rubens."

"Ta-tapi……"

Diana tampak bingung dengan mata membulat, tapi aku langsung memotongnya.

"Ini adalah 'Perintah'. Ayo, kalian berdua segera pergi."

"Ba-baik, saya mengerti. Kalau begitu, kami permisi."

Karena aku bicara dengan tegas, Diana akhirnya membungkuk meski tampak enggan.

Namun, langkah kakinya terasa ringan dan dia terlihat senang. Sepertinya aku harus mendorong punggung Rubens sedikit lagi seperti biasanya.

Saat mereka hendak keluar, aku memanggil Rubens lagi.

"Ah, Rubens sebentar saja."

"……? Baik."

"Kalau begitu, saya permisi duluan," ujar Diana sambil berlalu keluar. Rubens pun mendekatiku dengan wajah bingung.

Aku menyipitkan mata dan berbisik pelan di telinganya.

"Kau kan baru saja naik jabatan jadi Wakil Komandan. Ini kesempatan bagus. Cepatlah melamarnya."

"Apa……!? Ta-tanpa disuruh pun aku memang berniat begitu!"

Matanya membelalak, wajahnya memerah padam, dan dia berteriak spontan.

"Ah, gawat……!?"

Rubens yang baru tersadar langsung memucat dan melihat sekeliling, tapi nasi sudah menjadi bubur.

Seluruh orang di ruangan itu menatap Rubens dengan pandangan yang sangat menggoda. Curtis dan Amon bahkan sudah tidak bisa menahan tawa mereka lagi.

"Mungkin caraku bicara yang salah, tapi reaksimu tidak perlu sampai berteriak sekeras itu kan?"

"Ugh!? Mo-mohon maaf."

Kepada Rubens yang bahunya merosot lemas, aku kembali berbisik.

"Aku menantikan kabar baik dari kalian berdua."

"Terima kasih banyak. Tapi Tuan Reed, Anda ini selalu saja bicara satu kata lebih banyak dari yang diperlukan."

Rubens menghela napas panjang, merapikan sikapnya, lalu berujar "Saya juga permisi dulu" dan meninggalkan ruangan.

Hening sejenak, lalu para anggota ksatria langsung meledak tertawa secara serentak. Bagi mereka, Rubens dan Diana adalah atasan.

Tampaknya mereka sudah mati-matian menahan tawa sejak tadi karena tidak sopan jika tertawa di depan yang bersangkutan.

Meski terkadang tegas, Diana dan Rubens sangat disukai oleh para anggota ksatria. Tawa mereka adalah bukti betapa mereka telah membuka hati.

Namun, pembicaraan ini tidak akan maju jika dibiarkan terus.

"Nah, mari kita kembali ke topik," ujarku untuk menarik kembali perhatian.

"Rencana sudah kujelaskan seperti tadi, apakah ada pertanyaan?"

"Kalau begitu, ada satu hal yang ingin saya tanyakan. Bolehkah?"

Yang mengangkat tangan adalah Kalua dari ras Bearman.

"Iya, ada apa?"

"Saya mengerti isi rencananya, tapi mengenai kebijakan 'jangan mengejar mereka yang lari, bertarunglah hanya dengan mereka yang melawan', bukankah itu sedikit terlalu lembek?"

Mendengar itu, Ovelia dari ras Rabbitman menyahut.

"Haha, benar juga ya."

"Mereka yang lari pasti akan mengangkat senjata lagi dan mengincar nyawa kita, desu. Kita harus menghabisi semua musuh yang menyerang. Jika membiarkan musuh hidup, mereka akan kembali ke medan perang. Berikutnya, mungkin kitalah yang akan terbunuh, desu. Benar begitu kan, Master Elf?"

"Itu juga ada benarnya."

Curtis mengangguk, lalu bicara dengan raut wajah serius.

"Pertempuran bukanlah hal yang bisa diselesaikan hanya dengan rasa kemanusiaan. Jika kalah, negara akan hancur, dan mereka yang bertahan hidup tidak hanya kehilangan kampung halaman dan posisi, tapi dalam skenario terburuk bisa menjadi budak dari negara pemenang. Benar begitu kan, Tuan Reed?"

Pertanyaan itu membuat seluruh perhatian tertuju padaku.

"Iya. Apa yang dikatakan Kalua, Ovelia, dan Curtis secara garis besar memang benar."

Aku menjeda kalimatku, lalu melanjutkan, "Tapi……"

"Ada perbedaan antara 'Perang' dan 'Pembantaian'. Pertempuran kali ini juga mempertimbangkan masa depan suku Foxman dan Baldia. Lawan yang harus kita kalahkan bukanlah 'Suku Foxman'. Lawan yang sebenarnya harus kita tumbangkan adalah 'Keluarga Grandork saat ini' yang memerintah dengan kejam. Jika kita membantai suku Foxman, meskipun kita menang, masa depan akan tertutup. Menang saja tidak cukup. Kita butuh kemenangan yang bisa menghubungkan kita ke masa depan."

Ruangan itu menjadi hening seketika. Semua orang menahan napas sambil menatapku.

"Aku mengerti bahwa aku mengatakan hal yang sulit di tengah situasi genting ini, dan mungkin terdengar seperti omong kosong atau idealisme belaka. Meski begitu, aku percaya bahwa bersama kalian semua di sini, kita bisa melakukannya. Jadi, meski aku tahu ini permintaan yang nekat, tolong. Besok, patuhilah kebijakan 'jangan mengejar yang lari, bertarunglah hanya dengan yang melawan', dan hindarilah pembunuhan sia-sia yang merendahkan nilai nyawa. Ini adalah permintaanku kepada kalian semua."

Saat aku membungkukkan kepala dalam-dalam, gumaman pecah di seisi ruangan.

Aku sadar bahwa aku meminta hal yang mustahil kepada mereka yang akan mempertaruhkan nyawa besok. Namun, meskipun mereka musuh di medan perang, mereka juga pasti punya keluarga yang menunggu kepulangan mereka.

Jika kita menang dengan membantai suku Foxman, keluarga yang ditinggalkan akan membenci Baldia selamanya. Jika itu terjadi, masa depan di mana kedua keluarga bisa hidup berdampingan akan tertutup rapat.

Tentu saja, membiarkan orang-orang yang mengabdi pada keluarga Baldia terbunuh adalah hal yang tidak bisa diterima. Itulah sebabnya aku mencanangkan kebijakan ini.

Demi mengurangi dendam setelah perang usai. Tapi, ini akan memberikan beban yang sangat berat bagi mereka yang bertarung.

Di medan perang, nyawa bisa melayang dalam hitungan detik. Mengeluarkan instruksi 'jangan meremehkan nyawa musuh' di tempat kejam di mana keputusan sekejap menentukan hidup mati, bisa membuat keraguan muncul.

Betapa egoisnya permintaanku ini. Saat aku perlahan mengangkat kepala, Lagard dari suku Foxman tertawa kecil.

"Hehe."

"Benar-benar gaya Tuan Reed. Di situasi seperti ini pun, 'menang saja tidak cukup' ya? Baguslah. Mari kita lakukan."

Kata-kata Lagard menjadi pemicu, satu per satu suara "Dengan senang hati" mulai bersahutan di dalam ruangan.

"Semuanya, terima kasih."

Selama ada mereka, pertempuran besok pasti bisa dimenangkan. Tidak, aku pasti akan menang.

Tepat saat aku merasa bersemangat karena sekutu-sekutu yang handal ini, Capella berbisik di telingaku.

"Tuan Reed. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk memberikan 'itu' kepada mereka."

"Ah, benar juga."

Aku mengangguk lalu menatap semuanya.

"Sebenarnya, hari ini aku sudah menyiapkan seragam baru untuk kalian."

"Ooh!"

Semua orang tampak antusias.

"Yah, meskipun disebut seragam baru, aku sebenarnya hanya menambahkan 'Lambang Satuan' saja."

Semua orang saling pandang dan memiringkan kepala.

"Lambang... satuan?"

Aku pun mulai menjelaskan secara singkat.

Lambang satuan adalah tanda yang menunjukkan unit tempat seseorang bernaung dalam organisasi seperti militer atau kepolisian.

Di 'Divisi Ksatria Pertama Baldia' yang lama, unitnya tidak terbagi secara mendetail sehingga tidak menggunakan lambang satuan.

Namun, karena Divisi Ksatria Kedua terdiri dari empat organisasi besar, aku sudah mempertimbangkan penggunaan lambang ini sejak lama.

Di tengah-tengah itu, insiden penyerangan wilayah Baldia terjadi. Untuk memperkuat kerja sama dan kekuatan organisasi antara divisi pertama dan kedua, diputuskanlah penggunaan lambang satuan ini.

Aku sudah memesan seragam baru dengan lambang satuan ke Serikat Dagang Christy, tapi sejak Chris diculik, aku belum sempat mengecek progresnya karena situasi yang kacau.

Namun ternyata, saat aku sedang rapat tadi, Emma memimpin rombongan dagang dan mengantarkannya bersama barang bantuan lainnya.

Aku ingin menyapanya, tapi sepertinya dia segera meninggalkan Benteng Hazama bersama rombongannya, jadi aku tidak sempat bertemu. Aku juga sudah memberikan 'sebuah permintaan' kepadanya untuk masa depan, jadi dia pasti sedang sibuk mengurus hal itu.

"……Karena itulah, lambang ini menunjukkan unit asal kalian di Divisi Ksatria Kedua. Dengan memperjelas unit kalian, efisiensi pelaporan dan koordinasi di lapangan diharapkan bisa meningkat."

"Hee~……"

Terdengar jawaban-jawaban yang kurang meyakinkan dari sana-sini. Sepertinya banyak yang belum terlalu paham.

"Melihat sekali lebih baik daripada mendengar seratus kali. Lebih baik kalian lihat langsung. Aria, bisa ke sini sebentar?"

"Iya!"

Gadis dari ras Birdman itu menjawab dengan semangat dan mendekat dengan penuh rasa ingin tahu. Aku menerima seragam baru dari Capella dan memperlihatkannya agar Aria dan yang lainnya bisa melihat.

Struktur dasarnya sama, dengan lambang keluarga Baldia di bahu kanan dan 'Lambang Satuan' di bahu kiri. Karena hasilnya terlihat lebih keren dari yang kubayangkan, semua orang langsung mencondongkan tubuh dengan antusias.

"Kakak... eh bukan. Tuan Reed, apakah benda seperti 'Pita' ini adalah lambang satuannya?"

"Iya, benar."

Lambang satuan untuk Pasukan Udara adalah gambar burung dan simbol $\infty$ di dalam lingkaran.

"Ini artinya, Pasukan Udara tempat Aria bernaung bisa terbang bebas di langit luas selamanya. Lihat, simbol $\infty$ ini kan bisa ditulis tanpa putus selamanya."

Saat aku menggambar simbol $\infty$ di udara dengan jari, Aria yang tadinya bingung langsung mengerti maksudnya dan tersenyum lebar.

"Hebat! Ini sangat cocok untuk kami di Pasukan Udara. Pita yang membentang di langit ya. Ehehe, Tuan Reed. Terima kasih atas seragam baru dan lambang satuannya."

"Aku senang kau menyukainya. Nanti bagian yang lain akan kubagikan juga ya."

"Baik, saya mengerti!"

Saat Aria kembali ke tempat duduknya, saudara-saudaranya yaitu Elia dan Silia juga tampak senang mengecek lambang satuan mereka.

"Tuan Reed! Perlihatkan 'Lambang Satuan' kami juga, desu!"

Ovelia mengangkat tangan sambil mencondongkan tubuh.

"Hentikanlah. Nanti juga kau bisa melihatnya," tegur Sheryl, gadis dari ras Wolfman yang duduk di sampingnya.

"Apa sih, Sheryl. Memangnya kau tidak ingin melihatnya cepat-cepat?"

"I-itu... bukannya tidak mau. Tapi aku bilang perhatikan situasi dan tempatnya!"

Karena ditanya balik oleh Ovelia, Sheryl menunjukkan wajah yang serba salah.

"Aku senang kalian tertarik. Kalau begitu, mari kita tunjukkan 'Lambang Satuan' untuk Pasukan Darat. Capella, bisa tolong keluarkan?"

"Dimengerti."

"Mumpung ada di sini, ayo semuanya maju ke depan."

Sambil menerima seragam baru, aku memanggil mereka. Semua orang pun berdiri dan berkumpul mengelilingiku.

"Baiklah. Inilah 'Lambang Satuan' untuk Pasukan Darat Divisi Ksatria Kedua Baldia!"

"Ooh!?"

Semua mata berkilat penuh minat menatap seragam baru yang dibentangkan. Meski awalnya tujuanku adalah untuk memperkuat koordinasi, aku tidak menyangka mereka akan sesenang ini.

Namun, aku menyadari mereka semua tiba-tiba mengerutkan kening sambil menatap lambang itu.

"Eh, ada apa?"

"Tuan Reed. Mohon maaf jika lancang, tapi apakah ini gambar 'Naga' atau 'Ular'?" tanya Kalua dengan nada ragu.

"Ahaha. Mana mungkin Naga atau Ular punya 'Kaki' sebanyak ini."

"Kalau begitu, ini……" gumam Truba dari ras Bullman seolah mengonfirmasi.

"Ah, ternyata kalian sadar ya. Benar, ini adalah 'Lipan'."

Meskipun aku menjawab dengan senyuman, entah kenapa atmosfer ruangan mendadak menjadi suram.

Mungkin hanya perasaanku saja, tapi bahu semua orang tampak merosot lemas.

"Ta-tapi, kenapa Anda memilih 'Lipan'?"

Scara dari ras Monkeyman mengeluarkan suara ceria untuk memecah keheningan yang suram.

"Pertanyaan bagus. Sebenarnya……"

Aku tersenyum dan mulai menceritakan alasan di balik pemilihan 'Lipan'.

Lipan memiliki insting untuk 'tidak pernah mundur'. Dengan menjadikannya lambang satuan, itu melambangkan bahwa Pasukan Darat adalah pasukan pantang menyerah yang akan terus maju melawan musuh sekuat apa pun.

Dalam ingatan kehidupanku sebelumnya, para samurai di zaman Sengoku juga menggunakan Lipan sebagai panji perang mereka. Lipan juga dianggap sebagai pengikut atau utusan dari 'Bishamonten', dewa perang dan kemenangan.

Lambang ini sangat cocok untuk Pasukan Darat Divisi Ksatria Kedua yang akan menghadapi berbagai kesulitan bersamaku, bukan hanya untuk perang kali ini saja.

Yah, sebenarnya saat pertama kali aku mengusulkan Lipan, Chris dan Diana juga menunjukkan wajah yang sulit dijelaskan. Namun setelah kujelaskan makna dan filosofinya, akhirnya mereka bisa mengerti.

"……Begitulah alasannya. Bagaimana, sangat cocok untuk Pasukan Darat kan?"

Setelah selesai bercerita dan tersenyum, semua orang malah saling pandang dengan raut wajah pasrah. Ada yang menghela napas, menggelengkan kepala, atau mengangkat bahu.

"Benar-benar gaya Tuan Reed."

"Iya, sangat mirip Tuan Reed."

"Memang Tuan Reed yang nyeleneh."

Bisikan-bisikan kecil mulai terdengar dari berbagai sudut ruangan.

Kalian ini, tidak sopan sekali ya.

"Awalnya kami terkejut karena tidak tahu maknanya, tapi ternyata begitu ya. Ini lambang satuan terbaik untuk kami!"

Mia dari ras Catman berseru riang sambil tersenyum, yang kemudian diikuti anggukan dari Geding dari ras Horseman.

"……Benar kata Mia. Tuan Reed, terima kasih dari lubuk hati terdalam karena telah memberikan lambang ini. Dalam pertempuran besok, akan kami tunjukkan kengerian kami yang menyandang lambang ini ke seluruh benua."

"Ooh, keren sekali kata-katamu! Tuan Reed, aku juga akan menunjukkan kengerian 'Lipan' ini!"

Mendengar kata-kata Ovelia yang bersemangat, yang lain pun ikut mengangguk mantap.

"I-iya. Aku senang kalian menyukainya. Nanti akan kubagikan, jadi tolong pakai ini untuk besok ya."

"Kami mengerti!"

Mereka memberi hormat dengan gagah lalu kembali ke tempat duduk.

"Ah, omong-omong, ada juga lambang untuk Bengkel Pengembangan dan Badan Intelijen Khusus. Aku akan memperkenalkannya juga."

Setelah sesi pengenalan lambang dan pembagian seragam selesai, konfirmasi akhir strategi juga berakhir dengan sukses. Aku meminta semua orang untuk beristirahat total demi hari esok, dan rapat pun ditutup.

Aku menatap ke luar jendela. Langit malam tanpa awan itu dihiasi oleh taburan bintang dan bulan yang bersinar terang.

"Besok sepertinya akan cerah."

Gumamanku terhenti saat pandanganku jatuh ke bawah. Aku melihat Diana dan Rubens sedang berjalan berdampingan di luar. Namun, ada yang aneh. Diana tampak membuang muka, sementara Rubens tertunduk lesu dengan wajah pucat pasi.

"……Mari kita anggap tidak melihat apa-apa."

Aku menggelengkan kepala dan berjalan menuju kamarku di dalam benteng.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close