Cerita Sampingan 2
Riak yang Bergejolak
Informasi
mengenai invasi keluarga Grandoke ke wilayah Baldia segera mengguncang seluruh
negeri Zubeera.
Namun,
keesokan harinya, sebuah kabar baru muncul dan membuat semua orang meragukan
telinga mereka sendiri.
Kepala
Suku Foxman, Gareth Grandoke, dikabarkan telah ditumbangkan oleh Amon Grandoke
yang bangkit dengan bantuan kekuatan keluarga Baldia. Dengan kata lain, Gareth
tewas di tangan putra ketiganya sendiri.
Putra
sulung yang digadang-gadang sebagai calon Beast King berikutnya, Elba Grandoke,
beserta putra kedua yang menjadi asistennya, Malbus Grandoke, dinyatakan
melarikan diri dan menghilang.
Putri
sulung, Rapha Grandoke, mengambil posisi mendukung Amon.
Dikabarkan
bahwa suku Foxman mulai bergerak untuk menyusun struktur pemerintahan baru di
bawah kepemimpinan Kepala Suku yang baru.
Tentu saja,
masalah ini sampai ke telinga para Kepala Suku di negeri Beastman tersebut.
Di sebuah ruangan
mewah di dalam kastil kerajaan yang terletak di ibu kota, para Kepala Suku
selain dari suku Foxman tengah berkumpul mengelilingi meja bundar.
"Rekan-rekan
sesama pemimpin suku. Terima kasih telah berkumpul di sini meskipun aku
memanggil kalian secara mendadak. Pertama-tama, izinkan aku menyampaikan rasa
terima kasih."
Para Kepala Suku
mengangguk mendengar kata-kata dari Beast King, Sekhmetos, yang duduk di kursi
paling megah di ujung ruangan dengan separuh wajah tertutup topeng besi.
Namun, tidak ada
satu pun dari mereka yang melontarkan ejekan atau gurauan seperti biasanya.
Sekhmetos
memancarkan aura intimidasi yang kuat, lalu perlahan mulai berbicara.
"Melihat
reaksi kalian, aku yakin kalian sudah mendengarnya. Kepala Suku Foxman, Gareth
Grandoke, telah ditumbangkan oleh pemberontakan putra ketiganya, Amon
Grandoke."
"Apakah
informasi itu akurat?"
Jackass, Kepala
Suku Beast-Wolf, memberikan tatapan tajam yang penuh keraguan.
"Ya. Aku pun
terkejut, tapi itu pasti. Baru saja aku menerima surat pribadi yang ditujukan
kepadaku."
Sekhmetos
mengeluarkan amplop dari balik pakaiannya dan membacakan isinya.
Singkatnya, isi
surat itu adalah: "Upacara pemakaman mantan Kepala Suku Gareth Grandoke
akan dipimpin oleh Kepala Suku yang baru, Amon Grandoke."
"……Demikian
isinya. Dan dalam pemakaman ini, aku akan hadir sebagai 'Beast King'."
Saat dia
tersenyum penuh percaya diri, suara gumaman terdengar dari para Kepala Suku
lainnya.
Amon yang mengaku
sebagai Kepala Suku Foxman yang baru akan memimpin pemakaman ayahnya, dan Beast
King Sekhmetos akan menghadirinya.
Itu artinya, Sang Beast King telah mengakui Amon Grandoke
sebagai Kepala Suku berikutnya secara sah.
Kehadiran raja dalam upacara tersebut juga mengandung maksud
untuk mengumumkan pengakuan itu kepada negara-negara tetangga.
"Lalu, bagaimana dengan kalian?"
Mendengar pertanyaan Beast King, para Kepala Suku
menunjukkan ekspresi yang sulit.
Jika mereka tidak menghadiri pemakaman, itu berarti mereka
menentang keinginan Beast King. Hal tersebut bisa dianggap sebagai pernyataan
bahwa mereka tidak mengakui Amon Grandoke dan memilih untuk bermusuhan.
"Baiklah.
Aku juga akan ikut, Sekhmetos."
Yang pertama kali
angkat bicara adalah Gyoubu, Kepala Suku Beast-Raccoon yang duduk sambil
menyilangkan tangan dan kaki.
"Gareth dan Amon…… atau lebih tepatnya, Baldia, ya.
Karena wilayahku bertetangga dengan suku Foxman, aku sengaja pergi ke tempat
yang bisa memantau medan perang untuk melihat aliran pertempurannya. Dan coba
tebak apa yang kulihat?"
Gyoubu mengangkat bahu dan merentangkan kedua tangannya.
"Strategi
keluarga Baldia benar-benar luar biasa. Aku sama sekali tidak menyangka mereka
bisa menumbangkan Gareth dan membuat Elba serta Malbus melarikan diri. Sepertinya, kita harus menjalin hubungan
'persahabatan' dengan mereka."
Mengikuti
perkataan Gyoubu, para Kepala Suku lainnya satu per satu mulai menyatakan
persetujuan mereka.
"Hmm.
Tersisa Azteca dan Holst, ya. Apakah kalian berdua berniat tidak hadir?"
Mendengar
pertanyaan Sekhmetos yang penuh penekanan, Azteca, Kepala Suku Beast-Horse,
mengerutkan keningnya dengan curiga.
"……Aku tidak
peduli apa yang terjadi pada Gareth atau Elba. Tapi, apa yang akan kau lakukan
dengan wilayah suku Foxman?"
"Apa
maksudmu?"
Ketika Luva,
Kepala Suku Beast-Mouse bertanya balik, Azteca hanya bisa menggelengkan kepala
dengan lesu.
"Pengelolaan
wilayah yang dilakukan Gareth dan Elba demi memperkuat militer itu benar-benar
kacau. Sebagai tetangga yang melihatnya langsung, menurutku wilayah itu sudah
hancur lebur. Tidak ada seorang pun di sini yang menginginkan tanah seperti itu.
Butuh uang dan tenaga yang sangat besar untuk memulihkannya. Jangan-jangan,
mengakuinya si bocah Amon sebagai Kepala Suku hanyalah kedok. Sebenarnya kau
berniat menguras pundi-pundi kami dengan memaksa kami mengeluarkan dana bantuan
nantinya, kan, Sekhmetos?"
"Benar juga.
Aku memang setuju, tapi aku tidak sudi membuang-buang uang. Aku juga ingin
mendengar bagaimana pemikiranmu soal ini."
Jackass menimpali
perkataan Azteca. Saat Kepala Suku lainnya menunjukkan ekspresi curiga,
Sekhmetos justru menyunggingkan senyum tipis.
"Rekan
sekalian, jangan khawatir soal itu. Wilayah suku Foxman akan diserahkan kepada
Amon Grandoke selaku Kepala Suku baru. Yah, lebih tepatnya, kita akan
menyerahkannya kepada Baldia yang berdiri di belakangnya, dan kita tidak perlu
melakukan apa-apa. Dalam perang kali ini, Amon memang maju di depan, tapi sosok
yang ada di baliknya adalah 'mereka'."
"Aduh,
Sekhmetos, kau benar-benar licik. Bukankah itu berarti kau berniat memeras uang
dari bangsawan yang menjadi sumber penghasilan utama Kekaisaran untuk dialirkan
ke Zubeera?"
Jetti, Kepala
Suku Beast-Monkey, bertanya balik dengan nada ceria, sementara Sang Beast King
hanya mengangkat bahu dengan gaya mengejek.
"Jangan
bicara seolah-olah aku punya niat buruk. Karena kita sudah mendudukkannya
sebagai Kepala Suku yang baru, dia hanya perlu menjalankan tanggung
jawabnya."
"Wilayah
yang sudah telantar seperti itu... mau punya uang sebanyak apa pun tidak akan
pernah cukup."
"Benar. Apa
yang akan kau lakukan jika Baldia ternyata tidak mendukung Amon?"
Kamui, Kepala
Suku Beast-Bear, menggelengkan kepala dengan wajah pasrah, sementara Hapis,
Kepala Suku Beast-Bull, menimpali dengan raut wajah serius.
"Jika itu
terjadi, negeri Zubeera akan mengambil tindakan yang sesuai. Skenario
terburuknya, wilayah Foxman akan dijadikan wilayah di bawah kendali langsung
kerajaan yang dikelola oleh Beast King secara turun-temurun. Kita bisa
memulihkannya sedikit demi sedikit."
"Merepotkan
sekali. Kalau begitu, kenapa tidak langsung saja dijadikan wilayah kendali raja
dari sekarang?"
Vene, Kepala Suku
Beast-Rabbit, merasa heran. Ayahnya, Shia, yang berdiri di belakangnya segera
memperingatkan, "Jaga bicaramu, Vene."
"Sekhmetos
sedang merencanakan cara memanfaatkan wilayah Foxman. Lagipula, jika tiba-tiba
dijadikan wilayah kendali raja, Amon selaku Kepala Suku baru, suku Foxman, dan
pihak Baldia tidak akan terima. Jika kita membiarkan mereka melakukannya sesuka
hati dan mereka berhasil, kita yang untung. Jika mereka gagal, kita tinggal
menghisap keuntungan sebanyak mungkin baru kemudian menjadikannya wilayah
kendali raja. Dengan begitu, hasil mana pun akan menguntungkan kita."
"Heh, jadi
begitu cara kerjanya ya."
"Itulah yang
disebut politik. Intinya, jika para Kepala Suku di sini menghadiri pemakaman
dan mengakui Amon sebagai pemimpin berikutnya, maka setiap suku tidak perlu
repot-rekan membantu pengelolaan wilayah mereka."
Shia menasihati
Vene dengan nada bicara yang sangat berpengalaman, lalu mengalihkan
pandangannya kepada Sang Beast King.
"Bukankah
begitu, Sekhmetos?"
"Tepat
sekali. Karena itu, apakah aku bisa menganggap semua yang ada di sini setuju
untuk hadir?"
Saat Beast King
bertanya sekali lagi, hanya ada satu orang yang tetap mempertahankan ekspresi
wajah yang kaku. Dia adalah Holst, Kepala Suku Beast-Bird.
"Baldia……
ya. Hanya dengan nama itu, rasanya kurang akurat."
"Ada apa,
Holst? Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan?"
Suara Holst
terdengar sangat pelan, sehingga Sekhmetos yang tidak mendengarnya hanya bisa
memiringkan kepala.
"Aku sudah
paham pemikiranmu. Karena tidak ada keberatan, aku juga akan menghadiri
pemakaman tersebut."
"Begitu ya.
Kalau begitu, selanjutnya adalah mengenai jadwal upacara pemakamannya……"
Seluruh Kepala
Suku yang hadir di sana memutuskan untuk ikut serta. Hal ini berarti, secara de
facto, mereka telah mengakui Amon Grandoke sebagai Kepala Suku berikutnya.
Suasana di
sekitar Sekhmetos menjadi sedikit lebih santai, dan rapat tersebut pun berakhir
tanpa hambatan.
Sementara itu, di
sebuah ruangan lain di dalam kastil yang sama, seorang anak laki-laki bertubuh
kecil sedang menatap ke arah wilayah Baldia dan suku Foxman dari balik jendela.
Dia adalah putra
tunggal Sekhmetos sekaligus Pangeran dari Kerajaan Zubeera saat ini, Johann
Bestia.
"Amon dan Baldia
yang berhasil mengalahkan Gareth dan membuat Elba melarikan diri setelah
melukai Ibu, ya. Ternyata ada orang-orang hebat di luar sana. Kalau ada
kesempatan bertemu, aku pasti ingin berduel dengan mereka. Dan kalau ternyata
ada yang perempuan, mungkin akan kujadikan istriku saja."
Johann tersenyum
lebar sambil menatap langit, lalu beberapa sosok bayangan terlihat oleh
matanya.
"Apakah itu
orang-orang dari suku Beast-Bird? Ah, itu artinya rapatnya sudah selesai.
Baiklah, aku akan minta Ibu untuk mengajakku ke wilayah keluarga Baldia dan
suku Foxman!"
Dia pun
mengaktifkan Physical Enhancement dan melesat keluar dari ruangan dengan
kecepatan yang luar biasa.
◇
Setelah rapat
berakhir, Holst melompat keluar dari jendela kastil dan terbang tinggi ke
angkasa dalam sekejap. Tak lama kemudian, dua orang dari suku Beast-Bird
mendekatinya dengan penuh hormat.
"Kami telah
menunggu Anda."
"Maaf
membuat kalian menunggu, Ibi."
Gadis suku
Beast-Bird yang dipanggil Ibi memiliki tatapan mata yang sangat tajam hingga
terasa mengerikan.
Pupil matanya
hitam, namun bagian korneanya berwarna merah. Rambut panjangnya diikat di kedua
sisi, menjuntai sangat panjang hingga mendekati kaki.
Holst memberikan
jawaban singkat, lalu mengalihkan pandangannya kepada gadis yang satunya lagi.
"Iria, ini
pertama kalinya kau datang ke ibu kota, kan?"
"Benar.
Saya merasa terhormat bisa mendampingi Anda."
Gadis
bernama Iria itu memiliki rambut berwarna oranye dan mata biru dengan tatapan
yang tajam, namun tidak ada emosi yang terpancar dari ekspresinya.
Melihat
gadis itu menjawab dengan datar sambil membungkuk dalam, Holst menyunggingkan
senyum puas.
"Kau adalah
anak yang sopan dan penuh bakat. Karena itulah aku sangat memperhatikanmu. Kau
mengerti maksudnya, kan?"
"Benar.
Tentu saja. Saya sangat berterima kasih atas perhatian luar biasa dari Anda
kepada saya yang hanyalah 'barang' milik Tuan Holst."
"Baguslah
kalau kau sadar. Jangan lupakan perasaan itu."
"……Baik."
Holst menatap ibu kota yang terbentang di bawah kakinya dengan tatapan merendahkan.
"Lihatlah
baik-baik, Iria. Tidak lama lagi, ibu kota ini akan menjadi kastel kediaman
kita. Saat waktunya tiba, aku ingin kalian bersaudara bekerja dengan
sungguh-sungguh."
"Dimengerti."
"Lagipula,
sistem 'Beast King' ini benar-benar tidak berguna."
Setelah
meludah seakan muak dengan segalanya, Holst membawa kedua gadis itu terbang
menjauh menuju wilayah kekuasaannya sendiri.
◇
Sekitar waktu
yang sama saat pertemuan para kepala suku diadakan di Negeri Beastman, Zubeera.
Seorang pria di
sebuah negara tertentu baru saja selesai membaca edisi luar biasa yang
dibagikan oleh Persekutuan Dagang Christy. Dia tertawa terbahak-bahak di dalam
kamarnya.
"Tuan
Clarence, apa yang terjadi!?"
Seorang pria
berotot membuka pintu kamar dengan panik. Dia mendapati seorang pemuda sedang
berbaring di sofa sambil memegangi perutnya.
"Ahahaha!
Ternyata hal lucu seperti ini bisa terjadi juga. Tidak, maaf sudah membuatmu
terkejut. Coba lihat ini."
Pemuda yang
dipanggil Clarence itu memiliki rambut merah kehitaman dengan kulit cokelat
yang tampak sehat. Matanya sipit dengan manik hitam pekat.
Dia bangkit dari
sofa, lalu menyerahkan lembaran berita itu kepada si pria berotot.
"Ini
adalah……"
"Benar-benar
ya, dia sudah melakukan hal yang luar biasa dengan memanfaatkan anak-anak itu.
Berkat ini, aku terus membayangkan wajah kesal kakak laki-laki dan kakak
perempuanku satu per satu. Aku jadi tidak bisa berhenti tertawa."
Dia kembali
menyemburkan tawa. Namun, pria berotot itu justru menunjukkan raut wajah
khawatir.
"Bukankah
para saudara Anda akan menaruh dendam? Jika ditelusuri ke belakang, bukankah
kekacauan ini bermula dari keputusan Tuan Clarence sendiri yang menjual
'semuanya' kepada Christy Merchants Guild secara sepihak?"
"Memang
benar. Kakak-kakakku pasti merasa sangat menyesal sekarang."
Clarence
menyilangkan tangan di belakang kepala, lalu kembali berbaring di sofa.
"……Apa
yang sedang Anda lakukan?"
"Hm?
Sudah jelas, kan? Aku sedang memikirkan masa depan."
"Hah,
dimengerti. Kalau begitu, saya akan kembali menjaga di luar agar tidak
mengganggu Anda."
"Ya,
aku serahkan padamu."
Pria
berotot itu mengangkat bahu dengan wajah pasrah, lalu mengembalikan lembaran
berita itu kepada Clarence dan meninggalkan ruangan. Setelah suara pintu
tertutup terdengar, Clarence menatap langit-langit dengan saksama.
"Tak
kusangka mereka bisa meraih kemenangan besar yang tak terduga ini. Nah, di mana
letak 'kunci penyelesaiannya'?"
Dia
menyunggingkan senyum penuh minat, lalu mulai memusatkan seluruh pikirannya.



Post a Comment