NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonda Otome Gēmu no Akuyaku Mobu desu ga ⁓ Danzai wa Iya na no de Mattō ni Ikimasu Volume 10 Side Story 2

Cerita Sampingan 2

Riak yang Bergejolak


Informasi mengenai invasi keluarga Grandoke ke wilayah Baldia segera mengguncang seluruh negeri Zubeera.

Namun, keesokan harinya, sebuah kabar baru muncul dan membuat semua orang meragukan telinga mereka sendiri.

Kepala Suku Foxman, Gareth Grandoke, dikabarkan telah ditumbangkan oleh Amon Grandoke yang bangkit dengan bantuan kekuatan keluarga Baldia. Dengan kata lain, Gareth tewas di tangan putra ketiganya sendiri.

Putra sulung yang digadang-gadang sebagai calon Beast King berikutnya, Elba Grandoke, beserta putra kedua yang menjadi asistennya, Malbus Grandoke, dinyatakan melarikan diri dan menghilang.

Putri sulung, Rapha Grandoke, mengambil posisi mendukung Amon.

Dikabarkan bahwa suku Foxman mulai bergerak untuk menyusun struktur pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Kepala Suku yang baru.

Tentu saja, masalah ini sampai ke telinga para Kepala Suku di negeri Beastman tersebut.

Di sebuah ruangan mewah di dalam kastil kerajaan yang terletak di ibu kota, para Kepala Suku selain dari suku Foxman tengah berkumpul mengelilingi meja bundar.

"Rekan-rekan sesama pemimpin suku. Terima kasih telah berkumpul di sini meskipun aku memanggil kalian secara mendadak. Pertama-tama, izinkan aku menyampaikan rasa terima kasih."

Para Kepala Suku mengangguk mendengar kata-kata dari Beast King, Sekhmetos, yang duduk di kursi paling megah di ujung ruangan dengan separuh wajah tertutup topeng besi.

Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang melontarkan ejekan atau gurauan seperti biasanya.

Sekhmetos memancarkan aura intimidasi yang kuat, lalu perlahan mulai berbicara.

"Melihat reaksi kalian, aku yakin kalian sudah mendengarnya. Kepala Suku Foxman, Gareth Grandoke, telah ditumbangkan oleh pemberontakan putra ketiganya, Amon Grandoke."

"Apakah informasi itu akurat?"

Jackass, Kepala Suku Beast-Wolf, memberikan tatapan tajam yang penuh keraguan.

"Ya. Aku pun terkejut, tapi itu pasti. Baru saja aku menerima surat pribadi yang ditujukan kepadaku."

Sekhmetos mengeluarkan amplop dari balik pakaiannya dan membacakan isinya.

Singkatnya, isi surat itu adalah: "Upacara pemakaman mantan Kepala Suku Gareth Grandoke akan dipimpin oleh Kepala Suku yang baru, Amon Grandoke."

"……Demikian isinya. Dan dalam pemakaman ini, aku akan hadir sebagai 'Beast King'."

Saat dia tersenyum penuh percaya diri, suara gumaman terdengar dari para Kepala Suku lainnya.

Amon yang mengaku sebagai Kepala Suku Foxman yang baru akan memimpin pemakaman ayahnya, dan Beast King Sekhmetos akan menghadirinya.

Itu artinya, Sang Beast King telah mengakui Amon Grandoke sebagai Kepala Suku berikutnya secara sah.

Kehadiran raja dalam upacara tersebut juga mengandung maksud untuk mengumumkan pengakuan itu kepada negara-negara tetangga.

"Lalu, bagaimana dengan kalian?"

Mendengar pertanyaan Beast King, para Kepala Suku menunjukkan ekspresi yang sulit.

Jika mereka tidak menghadiri pemakaman, itu berarti mereka menentang keinginan Beast King. Hal tersebut bisa dianggap sebagai pernyataan bahwa mereka tidak mengakui Amon Grandoke dan memilih untuk bermusuhan.

"Baiklah. Aku juga akan ikut, Sekhmetos."

Yang pertama kali angkat bicara adalah Gyoubu, Kepala Suku Beast-Raccoon yang duduk sambil menyilangkan tangan dan kaki.

"Gareth dan Amon…… atau lebih tepatnya, Baldia, ya. Karena wilayahku bertetangga dengan suku Foxman, aku sengaja pergi ke tempat yang bisa memantau medan perang untuk melihat aliran pertempurannya. Dan coba tebak apa yang kulihat?"

Gyoubu mengangkat bahu dan merentangkan kedua tangannya.

"Strategi keluarga Baldia benar-benar luar biasa. Aku sama sekali tidak menyangka mereka bisa menumbangkan Gareth dan membuat Elba serta Malbus melarikan diri. Sepertinya, kita harus menjalin hubungan 'persahabatan' dengan mereka."

Mengikuti perkataan Gyoubu, para Kepala Suku lainnya satu per satu mulai menyatakan persetujuan mereka.

"Hmm. Tersisa Azteca dan Holst, ya. Apakah kalian berdua berniat tidak hadir?"

Mendengar pertanyaan Sekhmetos yang penuh penekanan, Azteca, Kepala Suku Beast-Horse, mengerutkan keningnya dengan curiga.

"……Aku tidak peduli apa yang terjadi pada Gareth atau Elba. Tapi, apa yang akan kau lakukan dengan wilayah suku Foxman?"

"Apa maksudmu?"

Ketika Luva, Kepala Suku Beast-Mouse bertanya balik, Azteca hanya bisa menggelengkan kepala dengan lesu.

"Pengelolaan wilayah yang dilakukan Gareth dan Elba demi memperkuat militer itu benar-benar kacau. Sebagai tetangga yang melihatnya langsung, menurutku wilayah itu sudah hancur lebur. Tidak ada seorang pun di sini yang menginginkan tanah seperti itu. Butuh uang dan tenaga yang sangat besar untuk memulihkannya. Jangan-jangan, mengakuinya si bocah Amon sebagai Kepala Suku hanyalah kedok. Sebenarnya kau berniat menguras pundi-pundi kami dengan memaksa kami mengeluarkan dana bantuan nantinya, kan, Sekhmetos?"

"Benar juga. Aku memang setuju, tapi aku tidak sudi membuang-buang uang. Aku juga ingin mendengar bagaimana pemikiranmu soal ini."

Jackass menimpali perkataan Azteca. Saat Kepala Suku lainnya menunjukkan ekspresi curiga, Sekhmetos justru menyunggingkan senyum tipis.

"Rekan sekalian, jangan khawatir soal itu. Wilayah suku Foxman akan diserahkan kepada Amon Grandoke selaku Kepala Suku baru. Yah, lebih tepatnya, kita akan menyerahkannya kepada Baldia yang berdiri di belakangnya, dan kita tidak perlu melakukan apa-apa. Dalam perang kali ini, Amon memang maju di depan, tapi sosok yang ada di baliknya adalah 'mereka'."

"Aduh, Sekhmetos, kau benar-benar licik. Bukankah itu berarti kau berniat memeras uang dari bangsawan yang menjadi sumber penghasilan utama Kekaisaran untuk dialirkan ke Zubeera?"

Jetti, Kepala Suku Beast-Monkey, bertanya balik dengan nada ceria, sementara Sang Beast King hanya mengangkat bahu dengan gaya mengejek.

"Jangan bicara seolah-olah aku punya niat buruk. Karena kita sudah mendudukkannya sebagai Kepala Suku yang baru, dia hanya perlu menjalankan tanggung jawabnya."

"Wilayah yang sudah telantar seperti itu... mau punya uang sebanyak apa pun tidak akan pernah cukup."

"Benar. Apa yang akan kau lakukan jika Baldia ternyata tidak mendukung Amon?"

Kamui, Kepala Suku Beast-Bear, menggelengkan kepala dengan wajah pasrah, sementara Hapis, Kepala Suku Beast-Bull, menimpali dengan raut wajah serius.

"Jika itu terjadi, negeri Zubeera akan mengambil tindakan yang sesuai. Skenario terburuknya, wilayah Foxman akan dijadikan wilayah di bawah kendali langsung kerajaan yang dikelola oleh Beast King secara turun-temurun. Kita bisa memulihkannya sedikit demi sedikit."

"Merepotkan sekali. Kalau begitu, kenapa tidak langsung saja dijadikan wilayah kendali raja dari sekarang?"

Vene, Kepala Suku Beast-Rabbit, merasa heran. Ayahnya, Shia, yang berdiri di belakangnya segera memperingatkan, "Jaga bicaramu, Vene."

"Sekhmetos sedang merencanakan cara memanfaatkan wilayah Foxman. Lagipula, jika tiba-tiba dijadikan wilayah kendali raja, Amon selaku Kepala Suku baru, suku Foxman, dan pihak Baldia tidak akan terima. Jika kita membiarkan mereka melakukannya sesuka hati dan mereka berhasil, kita yang untung. Jika mereka gagal, kita tinggal menghisap keuntungan sebanyak mungkin baru kemudian menjadikannya wilayah kendali raja. Dengan begitu, hasil mana pun akan menguntungkan kita."

"Heh, jadi begitu cara kerjanya ya."

"Itulah yang disebut politik. Intinya, jika para Kepala Suku di sini menghadiri pemakaman dan mengakui Amon sebagai pemimpin berikutnya, maka setiap suku tidak perlu repot-rekan membantu pengelolaan wilayah mereka."

Shia menasihati Vene dengan nada bicara yang sangat berpengalaman, lalu mengalihkan pandangannya kepada Sang Beast King.

"Bukankah begitu, Sekhmetos?"

"Tepat sekali. Karena itu, apakah aku bisa menganggap semua yang ada di sini setuju untuk hadir?"

Saat Beast King bertanya sekali lagi, hanya ada satu orang yang tetap mempertahankan ekspresi wajah yang kaku. Dia adalah Holst, Kepala Suku Beast-Bird.

"Baldia…… ya. Hanya dengan nama itu, rasanya kurang akurat."

"Ada apa, Holst? Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan?"

Suara Holst terdengar sangat pelan, sehingga Sekhmetos yang tidak mendengarnya hanya bisa memiringkan kepala.

"Aku sudah paham pemikiranmu. Karena tidak ada keberatan, aku juga akan menghadiri pemakaman tersebut."

"Begitu ya. Kalau begitu, selanjutnya adalah mengenai jadwal upacara pemakamannya……"

Seluruh Kepala Suku yang hadir di sana memutuskan untuk ikut serta. Hal ini berarti, secara de facto, mereka telah mengakui Amon Grandoke sebagai Kepala Suku berikutnya.

Suasana di sekitar Sekhmetos menjadi sedikit lebih santai, dan rapat tersebut pun berakhir tanpa hambatan.

Sementara itu, di sebuah ruangan lain di dalam kastil yang sama, seorang anak laki-laki bertubuh kecil sedang menatap ke arah wilayah Baldia dan suku Foxman dari balik jendela.

Dia adalah putra tunggal Sekhmetos sekaligus Pangeran dari Kerajaan Zubeera saat ini, Johann Bestia.

"Amon dan Baldia yang berhasil mengalahkan Gareth dan membuat Elba melarikan diri setelah melukai Ibu, ya. Ternyata ada orang-orang hebat di luar sana. Kalau ada kesempatan bertemu, aku pasti ingin berduel dengan mereka. Dan kalau ternyata ada yang perempuan, mungkin akan kujadikan istriku saja."

Johann tersenyum lebar sambil menatap langit, lalu beberapa sosok bayangan terlihat oleh matanya.

"Apakah itu orang-orang dari suku Beast-Bird? Ah, itu artinya rapatnya sudah selesai. Baiklah, aku akan minta Ibu untuk mengajakku ke wilayah keluarga Baldia dan suku Foxman!"

Dia pun mengaktifkan Physical Enhancement dan melesat keluar dari ruangan dengan kecepatan yang luar biasa.

Setelah rapat berakhir, Holst melompat keluar dari jendela kastil dan terbang tinggi ke angkasa dalam sekejap. Tak lama kemudian, dua orang dari suku Beast-Bird mendekatinya dengan penuh hormat.

"Kami telah menunggu Anda."

"Maaf membuat kalian menunggu, Ibi."

Gadis suku Beast-Bird yang dipanggil Ibi memiliki tatapan mata yang sangat tajam hingga terasa mengerikan.

Pupil matanya hitam, namun bagian korneanya berwarna merah. Rambut panjangnya diikat di kedua sisi, menjuntai sangat panjang hingga mendekati kaki.

Holst memberikan jawaban singkat, lalu mengalihkan pandangannya kepada gadis yang satunya lagi.

"Iria, ini pertama kalinya kau datang ke ibu kota, kan?"

"Benar. Saya merasa terhormat bisa mendampingi Anda."

Gadis bernama Iria itu memiliki rambut berwarna oranye dan mata biru dengan tatapan yang tajam, namun tidak ada emosi yang terpancar dari ekspresinya.

Melihat gadis itu menjawab dengan datar sambil membungkuk dalam, Holst menyunggingkan senyum puas.

"Kau adalah anak yang sopan dan penuh bakat. Karena itulah aku sangat memperhatikanmu. Kau mengerti maksudnya, kan?"

"Benar. Tentu saja. Saya sangat berterima kasih atas perhatian luar biasa dari Anda kepada saya yang hanyalah 'barang' milik Tuan Holst."

"Baguslah kalau kau sadar. Jangan lupakan perasaan itu."

"……Baik."

Holst menatap ibu kota yang terbentang di bawah kakinya dengan tatapan merendahkan.




"Lihatlah baik-baik, Iria. Tidak lama lagi, ibu kota ini akan menjadi kastel kediaman kita. Saat waktunya tiba, aku ingin kalian bersaudara bekerja dengan sungguh-sungguh."

"Dimengerti."

"Lagipula, sistem 'Beast King' ini benar-benar tidak berguna."

Setelah meludah seakan muak dengan segalanya, Holst membawa kedua gadis itu terbang menjauh menuju wilayah kekuasaannya sendiri.

Sekitar waktu yang sama saat pertemuan para kepala suku diadakan di Negeri Beastman, Zubeera.

Seorang pria di sebuah negara tertentu baru saja selesai membaca edisi luar biasa yang dibagikan oleh Persekutuan Dagang Christy. Dia tertawa terbahak-bahak di dalam kamarnya.

"Tuan Clarence, apa yang terjadi!?"

Seorang pria berotot membuka pintu kamar dengan panik. Dia mendapati seorang pemuda sedang berbaring di sofa sambil memegangi perutnya.

"Ahahaha! Ternyata hal lucu seperti ini bisa terjadi juga. Tidak, maaf sudah membuatmu terkejut. Coba lihat ini."

Pemuda yang dipanggil Clarence itu memiliki rambut merah kehitaman dengan kulit cokelat yang tampak sehat. Matanya sipit dengan manik hitam pekat.

Dia bangkit dari sofa, lalu menyerahkan lembaran berita itu kepada si pria berotot.

"Ini adalah……"

"Benar-benar ya, dia sudah melakukan hal yang luar biasa dengan memanfaatkan anak-anak itu. Berkat ini, aku terus membayangkan wajah kesal kakak laki-laki dan kakak perempuanku satu per satu. Aku jadi tidak bisa berhenti tertawa."

Dia kembali menyemburkan tawa. Namun, pria berotot itu justru menunjukkan raut wajah khawatir.

"Bukankah para saudara Anda akan menaruh dendam? Jika ditelusuri ke belakang, bukankah kekacauan ini bermula dari keputusan Tuan Clarence sendiri yang menjual 'semuanya' kepada Christy Merchants Guild secara sepihak?"

"Memang benar. Kakak-kakakku pasti merasa sangat menyesal sekarang."

Clarence menyilangkan tangan di belakang kepala, lalu kembali berbaring di sofa.

"……Apa yang sedang Anda lakukan?"

"Hm? Sudah jelas, kan? Aku sedang memikirkan masa depan."

"Hah, dimengerti. Kalau begitu, saya akan kembali menjaga di luar agar tidak mengganggu Anda."

"Ya, aku serahkan padamu."

Pria berotot itu mengangkat bahu dengan wajah pasrah, lalu mengembalikan lembaran berita itu kepada Clarence dan meninggalkan ruangan. Setelah suara pintu tertutup terdengar, Clarence menatap langit-langit dengan saksama.

"Tak kusangka mereka bisa meraih kemenangan besar yang tak terduga ini. Nah, di mana letak 'kunci penyelesaiannya'?"

Dia menyunggingkan senyum penuh minat, lalu mulai memusatkan seluruh pikirannya.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close