NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonda Otome Gēmu no Akuyaku Mobu desu ga ⁓ Danzai wa Iya na no de Mattō ni Ikimasu Volume 9 Side Story 2

Kisah Sampingan 2

Mereka yang Bergerak di Balik Bayang-Bayang


Di dalam sebuah ruangan yang diterangi temaram cahaya lilin, beberapa sosok berkumpul. Tubuh mereka terbungkus rapat oleh jubah dan tudung hitam.

Wajah mereka pun tersembunyi di balik berbagai bentuk topeng, membuat identitas mereka mustahil untuk dikenali. Pemandangan sekelompok orang berpakaian mencurigakan yang duduk melingkari meja bundar ini benar-benar memberikan kesan yang ganjil.

"Baiklah, Semuanya. Aku berterima kasih karena kalian bersedia berkumpul di sini meskipun pemberitahuanku sangat mendadak."

Sosok bertopeng hitam-putih yang duduk di kursi paling ujung angkat bicara. Anggota lainnya merespons dengan anggukan pelan tanpa suara.

"Alasan aku mengumpulkan kalian tidak lain adalah berita dari 'Rekan' kita. Beliau mengabarkan bahwa 'setelah persiapan selesai, saatnya untuk bergerak'."

"Ooh."

Gumam kekaguman terdengar samar dari sana-sini.

"Tentu saja, demi 'Rekan' kita itu, aku ingin kalian semua mengerahkan bantuan. Bagaimana? Apakah kalian bersedia?"

Mendengar ucapan si Topeng Hitam-Putih, orang-orang di sana kembali merespons dengan anggukan dalam diam. Namun, ada satu orang yang mengangkat tangannya.

Dia mengenakan topeng putih polos tanpa hiasan apa pun.

"Boleh aku bertanya?"

"Silakan."

"Hanya untuk memastikan. Jika 'Rekan' kita menyerang 'wilayah itu', keuntungan apa yang akan kita dapatkan? Bisakah Anda menjelaskannya?"

Setelah terdiam sejenak, si Topeng Hitam-Putih menyahut pelan.

"Baiklah. Kalau begitu, mari kita samakan kembali persepsi kita."

"Terima kasih banyak."

Si Topeng Putih membungkuk hormat, diikuti oleh anggota lainnya.

Si Topeng Hitam-Putih berdehem pelan, lalu mulai berbicara dengan nada santai.

"Jika 'Rekan' kita menyerang 'wilayah itu', cara pandang orang-orang yang sudah terlalu lama dimanjakan oleh kedamaian akan berubah drastis. Mereka akan sadar bahwa kedamaian yang mereka agungkan hanyalah istana pasir belaka."

"Bahwa demi menciptakan perdamaian abadi, hanya ada satu cara: membiarkan negara besar memegang hegemoni dan menyatukan seluruh benua. Jika itu terjadi, opini publik di negara kita akan berpihak pada perluasan militer."

"Begitu rupanya. Namun, aku masih punya keraguan. Jika 'Rekan' kita menyerang 'wilayah itu' dan menang, bukankah itu justru bertentangan dengan 'keuntungan' yang kita cari?"

"Kau tidak perlu khawatir soal itu."

Si Topeng Hitam-Putih menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan si Topeng Putih.

"Jika mereka menyerang dan menduduki wilayah itu, kita akan mendapatkan alasan kuat untuk bergerak demi 'penyatuan benua'. Kita bisa mengerahkan pasukan kita."

"Andai mereka kalah pun, fakta bahwa serangan itu terjadi akan tetap ada. Apa pun hasilnya, dengan melihat kenyataan tentang 'ancaman negara asing', orang-orang yang setuju dengan pendapat kita akan semakin banyak."

"Saya mengerti. Ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan."

"Apa itu?"

"Setelah 'Rekan' kita menang, bagaimana Anda berencana membereskannya?"

Pertanyaan si Topeng Putih tampaknya menjadi perhatian semua orang di sana. Di tengah tatapan penuh tanya itu, si Topeng Hitam-Putih menjawab dengan nada bicara yang lembut seolah sedang membujuk.

"Kita akan memimpin 'Negosiasi Damai' yang setelah melalui berbagai kesulitan, akhirnya berhasil. Pada saat itu, tanggung jawab atas perang akan dilimpahkan kepada penguasa 'wilayah itu' beserta putra mahkotanya."

"Yah, karena saat itu mereka seharusnya sudah menjadi 'mendiang'. Orang mati tidak bisa bicara, jadi tidak akan ada yang merasa bersalah. Mari kita biarkan mereka menjadi batu fondasi demi tanah air kita."

"Anda benar-benar orang yang mengerikan. Terima kasih atas jawabannya."

Si Topeng Putih menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Tidak masalah, itu pertanyaan yang bagus. Berkat itu, kita semua di sini bisa menyamakan persepsi sekali lagi."

Si Topeng Hitam-Putih mengangguk puas, lalu bergumam pelan seolah baru teringat sesuatu.

"Ah, aku lupa mengatakannya. Meskipun penguasa wilayah dan putra mahkotanya akan menjadi 'mendiang', aku sendiri yang akan mengambil istri dan putri sang penguasa melalui 'Negosiasi Damai' itu."

"Mereka masih memiliki nilai guna. Jadi, kuharap kalian semua sudah memahami poin tersebut."

Mendengar kata-katanya, semua orang di ruangan itu memberikan hormat tanpa sepatah kata pun. Setelah pertemuan usai dan hanya si Topeng Hitam-Putih yang tersisa di ruangan, pintu diketuk dengan sopan.

"Tuanku. Apa saya boleh masuk?"

"Suara itu... 'Robe', ya? Masuklah."

Suara si Topeng Hitam-Putih kini tidak lagi lembut seperti saat pertemuan tadi, melainkan rendah dan penuh wibawa. Robe memasuki ruangan setelah mendapat izin, mendekat ke arah si Topeng Hitam-Putih, lalu berlutut.

Sesuai namanya, dia mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuh dengan tudung yang dalam. Bagian mulutnya juga tertutup kain hitam, sehingga wajah aslinya tidak terlihat.

"Setelah negosiasi gagal, mereka bergerak sesuai rencana awal."

"Begitu ya. Kerja bagus."

Si Topeng Hitam-Putih mengangguk datar, namun dia merasakan ada keraguan dari aura Robe.

"Ada apa? Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?"

"Mohon maaf sebelumnya. Rubah-rubah itu bukanlah tipe orang yang akan patuh diam begitu saja. Saya merasa mereka tidak akan mau ikut dalam 'Negosiasi Damai' setelah kita mengalahkan mereka."

Si Topeng Hitam-Putih tertawa kecil mendengar kekhawatiran Robe.

"Memang benar."

"Itulah sebabnya aku menambahkan kalimat 'setelah melalui berbagai kesulitan' saat pertemuan tadi. Yah, aku sudah menyiapkan rencana untuk itu. Kau tidak perlu cemas."

"Saya mengerti. Mohon maaf atas kelancangan saya."

"Tidak apa-apa. Katakan saja jika ada hal lain yang mengusik pikiranmu."

"Sesuai perintah."

Setelah membungkuk khidmat, Robe meninggalkan ruangan. Kini si Topeng Hitam-Putih kembali sendiri. Dia duduk sambil bertopang dagu, lalu tiba-tiba menatap ke arah langit-langit.

"Nah, apakah mereka akan menari di atas telapak tanganku lalu mati? Ataukah mereka akan melawan takdir dan membuka jalan baru? Berusahalah sekuat tenaga untuk menghiburku."

Dia bergumam pelan, lalu terus tertawa dengan suara yang mengerikan.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close