Kisah Sampingan 2
Mereka yang Bergerak di Balik Bayang-Bayang
Di dalam
sebuah ruangan yang diterangi temaram cahaya lilin, beberapa sosok berkumpul.
Tubuh mereka terbungkus rapat oleh jubah dan tudung hitam.
Wajah
mereka pun tersembunyi di balik berbagai bentuk topeng, membuat identitas
mereka mustahil untuk dikenali. Pemandangan sekelompok orang berpakaian
mencurigakan yang duduk melingkari meja bundar ini benar-benar memberikan kesan
yang ganjil.
"Baiklah,
Semuanya. Aku berterima kasih karena kalian bersedia berkumpul di sini meskipun
pemberitahuanku sangat mendadak."
Sosok
bertopeng hitam-putih yang duduk di kursi paling ujung angkat bicara. Anggota lainnya merespons dengan anggukan
pelan tanpa suara.
"Alasan aku
mengumpulkan kalian tidak lain adalah berita dari 'Rekan' kita. Beliau
mengabarkan bahwa 'setelah persiapan selesai, saatnya untuk bergerak'."
"Ooh."
Gumam kekaguman
terdengar samar dari sana-sini.
"Tentu saja,
demi 'Rekan' kita itu, aku ingin kalian semua mengerahkan bantuan. Bagaimana?
Apakah kalian bersedia?"
Mendengar ucapan
si Topeng Hitam-Putih, orang-orang di sana kembali merespons dengan anggukan
dalam diam. Namun, ada satu orang yang mengangkat tangannya.
Dia mengenakan
topeng putih polos tanpa hiasan apa pun.
"Boleh aku
bertanya?"
"Silakan."
"Hanya untuk
memastikan. Jika 'Rekan' kita menyerang 'wilayah itu', keuntungan apa yang akan
kita dapatkan? Bisakah Anda menjelaskannya?"
Setelah terdiam
sejenak, si Topeng Hitam-Putih menyahut pelan.
"Baiklah.
Kalau begitu, mari kita samakan kembali persepsi kita."
"Terima
kasih banyak."
Si Topeng Putih
membungkuk hormat, diikuti oleh anggota lainnya.
Si Topeng
Hitam-Putih berdehem pelan, lalu mulai berbicara dengan nada santai.
"Jika
'Rekan' kita menyerang 'wilayah itu', cara pandang orang-orang yang sudah
terlalu lama dimanjakan oleh kedamaian akan berubah drastis. Mereka akan sadar
bahwa kedamaian yang mereka agungkan hanyalah istana pasir belaka."
"Bahwa demi
menciptakan perdamaian abadi, hanya ada satu cara: membiarkan negara besar
memegang hegemoni dan menyatukan seluruh benua. Jika itu terjadi, opini publik
di negara kita akan berpihak pada perluasan militer."
"Begitu
rupanya. Namun, aku masih punya keraguan. Jika 'Rekan' kita menyerang 'wilayah
itu' dan menang, bukankah itu justru bertentangan dengan 'keuntungan' yang kita
cari?"
"Kau tidak perlu khawatir soal itu."
Si Topeng
Hitam-Putih menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan si Topeng Putih.
"Jika
mereka menyerang dan menduduki wilayah itu, kita akan mendapatkan alasan kuat
untuk bergerak demi 'penyatuan benua'. Kita bisa mengerahkan pasukan kita."
"Andai
mereka kalah pun, fakta bahwa serangan itu terjadi akan tetap ada. Apa pun
hasilnya, dengan melihat kenyataan tentang 'ancaman negara asing', orang-orang
yang setuju dengan pendapat kita akan semakin banyak."
"Saya
mengerti. Ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan."
"Apa
itu?"
"Setelah
'Rekan' kita menang, bagaimana Anda berencana membereskannya?"
Pertanyaan si
Topeng Putih tampaknya menjadi perhatian semua orang di sana. Di tengah tatapan
penuh tanya itu, si Topeng Hitam-Putih menjawab dengan nada bicara yang lembut
seolah sedang membujuk.
"Kita akan
memimpin 'Negosiasi Damai' yang setelah melalui berbagai kesulitan, akhirnya
berhasil. Pada saat itu, tanggung jawab atas perang akan dilimpahkan kepada
penguasa 'wilayah itu' beserta putra mahkotanya."
"Yah, karena
saat itu mereka seharusnya sudah menjadi 'mendiang'. Orang mati tidak bisa
bicara, jadi tidak akan ada yang merasa bersalah. Mari kita biarkan mereka
menjadi batu fondasi demi tanah air kita."
"Anda
benar-benar orang yang mengerikan. Terima kasih atas jawabannya."
Si Topeng
Putih menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Tidak
masalah, itu pertanyaan yang bagus. Berkat itu, kita semua di sini bisa
menyamakan persepsi sekali lagi."
Si Topeng
Hitam-Putih mengangguk puas, lalu bergumam pelan seolah baru teringat sesuatu.
"Ah, aku
lupa mengatakannya. Meskipun penguasa wilayah dan putra mahkotanya akan menjadi
'mendiang', aku sendiri yang akan mengambil istri dan putri sang penguasa
melalui 'Negosiasi Damai' itu."
"Mereka
masih memiliki nilai guna. Jadi, kuharap kalian semua sudah memahami poin
tersebut."
Mendengar
kata-katanya, semua orang di ruangan itu memberikan hormat tanpa sepatah kata
pun. Setelah pertemuan usai dan hanya si Topeng Hitam-Putih yang tersisa di
ruangan, pintu diketuk dengan sopan.
"Tuanku. Apa
saya boleh masuk?"
"Suara itu... 'Robe', ya? Masuklah."
Suara si Topeng Hitam-Putih kini tidak lagi lembut seperti
saat pertemuan tadi, melainkan rendah dan penuh wibawa. Robe memasuki ruangan
setelah mendapat izin, mendekat ke arah si Topeng Hitam-Putih, lalu berlutut.
Sesuai namanya, dia mengenakan jubah hitam yang menutupi
seluruh tubuh dengan tudung yang dalam. Bagian mulutnya juga tertutup kain
hitam, sehingga wajah aslinya tidak terlihat.
"Setelah negosiasi gagal, mereka bergerak sesuai
rencana awal."
"Begitu ya. Kerja bagus."
Si Topeng Hitam-Putih mengangguk datar, namun dia merasakan
ada keraguan dari aura Robe.
"Ada apa?
Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?"
"Mohon maaf
sebelumnya. Rubah-rubah itu bukanlah tipe orang yang akan patuh diam begitu
saja. Saya merasa mereka tidak akan mau ikut dalam 'Negosiasi Damai' setelah
kita mengalahkan mereka."
Si Topeng
Hitam-Putih tertawa kecil mendengar kekhawatiran Robe.
"Memang
benar."
"Itulah
sebabnya aku menambahkan kalimat 'setelah melalui berbagai kesulitan' saat
pertemuan tadi. Yah, aku sudah menyiapkan rencana untuk itu. Kau tidak perlu
cemas."
"Saya
mengerti. Mohon maaf atas kelancangan saya."
"Tidak
apa-apa. Katakan saja jika ada hal lain yang mengusik pikiranmu."
"Sesuai
perintah."
Setelah
membungkuk khidmat, Robe meninggalkan ruangan. Kini si Topeng Hitam-Putih kembali sendiri.
Dia duduk sambil bertopang dagu, lalu tiba-tiba menatap ke arah langit-langit.
"Nah, apakah
mereka akan menari di atas telapak tanganku lalu mati? Ataukah mereka akan
melawan takdir dan membuka jalan baru? Berusahalah sekuat tenaga untuk
menghiburku."
Dia bergumam pelan, lalu terus tertawa dengan suara yang mengerikan.



Post a Comment