NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonda Otome Gēmu no Akuyaku Mobu desu ga ⁓ Danzai wa Iya na no de Mattō ni Ikimasu Volume 9 Chapter 4

Chapter 4

Pertemuan dengan Suku Manusia Rubah


Beberapa hari lalu, surat pribadi dari ras rubah yang sampai ke tangan Ayah menyatakan bahwa putra mahkota suku, Elba Grandork, dan putra kedua, Malbas Grandork, akan mengunjungi Baldia untuk melakukan pertemuan dengan kami.

Apa pun tujuan ras rubah, ini akan menjadi kesempatan bagus untuk memperjelas semuanya.

Karena pertimbangan itu, Ayah mengirimkan surat balasan yang menyetujui kunjungan dan pertemuan tersebut. Kabar ini pun tersebar ke seluruh pelayan keluarga Baldia dan menimbulkan kegaduhan besar.

Terutama mereka yang berada di Ksatria Ordo Kesatu dan Kedua yang terkena dampak insiden penyerangan; mereka sangat geram dan berkata, "Benar-benar tidak tahu malu!" sampai-sampai sulit untuk menenangkan mereka. Tapi, aku senang mereka begitu peduli.

Meskipun ras rubah sangat mencurigakan dan kemungkinan besar bersalah, kenyataannya kami tidak punya bukti nyata tentang pelakunya.

Karena ini melibatkan negara yang berbeda, pertempuran ini akan menjadi pertempuran politik. Itulah sebabnya aku dan Ayah menganggap pertemuan ini sebagai kesempatan efektif untuk menggali niat mereka.

Selain itu, belakangan ini Baldia memperkuat penjagaan di benteng yang berbatasan dengan wilayah ras rubah, patroli perbatasan, serta patroli di dalam wilayah. Ordo Kesatu menjalankan tugas mereka dengan ketegangan yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Di bawah bimbingan Curtis, Ordo Kedua memulai latihan keras untuk memperkuat koordinasi organisasi serta keunggulan individu.

Latihan dari Curtis yang mantan prajurit ternyata jauh lebih berat dari bayangan, namun anak-anak beastman mengejarnya dengan gigih. Semangat pantang menyerah mereka sangat luar biasa, hingga Curtis pun memuji mereka dan menjamin masa depan mereka akan sangat cerah.

Di tengah hari-hari yang sibuk mempersiapkan kunjungan ras rubah, sebuah masalah muncul yang membuatku pusing.

"Kenapa kita tidak jadi pergi ke ibu kota!? Padahal aku sudah sangat menantikannya bersama Kakak Putri dan semuanya. Aku benci Kakak! Aku benci Ayah!"

"Ma-maafkan aku, Mel."

Di kamarku di kediaman utama, Mel yang matanya berkaca-kaca memukuli dadaku dengan kedua tangannya sekuat tenaga. Saat aku kewalahan, Farah yang berada di samping mencoba menasihatinya dengan lembut.

"Mel-chan, kali ini memang disayangkan, tapi pasti akan ada kesempatan lagi untuk pergi ke ibu kota. Jadi, jangan marah terus ya?"

Seolah mendukung kata-katanya, Cookie dan Biscuit yang berwujud anak kucing mendekat ke kaki Mel sambil mendengkur.

"Uuu... Tapi, hanya aku yang belum pernah ke ibu kota! Padahal aku sudah sangat tidak sabar ingin pergi bersama semuanya!"

Mel berteriak lalu mulai menangis, membuat kami kebingungan.

Sebenarnya, jika tidak ada insiden penyerangan dan kunjungan ras rubah, kami memang berencana pergi ke ibu kota bersama-sama seperti yang Mel katakan.

Meskipun Ibunda belum bisa ikut karena perjalanan jauh masih sulit baginya yang sedang dalam masa pengobatan.

Semuanya bermula ketika aku dan Farah menceritakan berbagai kejadian di ibu kota, yang membuat Mel berteriak kencang, "Aku juga ingin melihat ibu kota!".

Saat aku mengonsultasikannya pada Ayah dan Ibu, mereka setuju dan menganggap memperlihatkan ibu kota pada Mel akan menjadi pelajaran yang bagus. Akhirnya rencana perjalanan bersama pun disusun.

Namun, penyerangan terjadi. Ditambah lagi dengan situasi kunjungan ras rubah dalam waktu dekat, rencana ke ibu kota terpaksa ditunda. Akhirnya, Mel tidak berhenti menangis karena kata-kata kami, sehingga kami harus membawanya ke kamar Ibunda.

"Oalah... Sayang sekali, ya."

"Habisnya... habisnya... kan sudah janji mau pergi bareng semuanya!"

Mel menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Ibunda yang berada di atas tempat tidur.




"Maafkan aku, Mel. Kakak janji, setelah masalah ini selesai, kita semua akan pergi ke ibu kota. Kali ini Kakak benar-benar janji."

"Iya, nanti kita berkeliling ibu kota bersama Kakak dan Kakak Asna juga."

"Uun..."

Melihat Mel yang mengangguk sambil masih terisak mendengar suaraku dan Farah, Ibunda pun tersenyum.

"Benar kata mereka. Apalagi kondisiku sudah semakin membaik, mungkin di kesempatan berikutnya aku juga bisa ikut pergi."

"Eh, benarkah?"

Mel tersentak dan berhenti menangis. Ibunda pun melanjutkan kata-katanya.

"Tentu saja benar. Berkat kalian semua, aku sudah mulai berlatih bangun dan berjalan sedikit demi sedikit. Jadi, mari kita sekeluarga pergi bermain ke ibu kota lain kali."

"Iya! Bunda, janji ya!"

"Iya, janji."

Saat Ibunda dan Mel saling menautkan jari kelingking, Cookie dan Biscuit yang sejak tadi meringkuk di sana menjilat air mata di pipi Mel dengan lembut.

Tepat saat semua orang merasa lega, pintu kamar diketuk dengan sopan. Begitu aku membukanya, tampak Ayah berdiri di sana dengan wajah yang agak serba salah.

"Ayah, ada apa?"

"Tidak... hanya saja, aku mendengar Mel menangis."

Ayah menggaruk pipinya seolah sedang menutupi rasa malunya. Ibunda pun tertawa kecil melihat hal itu.

"Tadi kami baru saja berjanji untuk pergi ke ibu kota bersama-sama."

"Hm. Begitukah, Reed?"

"Iya. Karena masalah dengan ras rubah ini, rencana kita ke ibu kota jadi tertunda. Tapi kurasa di perjalanan berikutnya, Ibunda juga sudah bisa ikut."

"Begitu ya. Aku mengerti."

Ayah mengangguk, lalu mendekati Mel yang matanya masih sembap di pelukan Ibunda. Beliau berdehem sejenak.

"Aku juga berjanji. Begitu masalah yang sekarang sudah tenang, kita semua akan pergi ke ibu kota."

"Benarkah!? Ayah, janji ya!"

"Tentu saja."

Ayah pun menautkan jari kelingkingnya dengan Mel.

"Baguslah kalau begitu, Mel. Tapi Sayang, janji itu harus ditepati, lho."

"Aku tahu kok."

Ayah mengangguk menanggapi peringatan halus Ibunda, lalu beliau mengalihkan pandangan padaku.

"Omong-omong, Reed. Ada yang ingin kubicarakan sedikit. Bisa ke ruang kerjaku?"

"Baik. Kalau begitu, aku permisi dulu bersama Ayah."

"Iya, Kakak. Sampai nanti."

Diiringi lambaian tangan semua orang di kamar, aku pun keluar bersama Ayah.

Sesampainya di ruang kerja, Ayah mengambil sebuah 'amplop' yang tergeletak di meja kerja dan menyodorkannya kepadaku.

"Ras rubah. Jadwal pertemuan dengan Elba dan yang lainnya sudah diputuskan."

"Baik. Akhirnya tiba saatnya ya, Ayah."

Apa pun niat ras rubah, kegagalan dalam pertemuan ini tidak bisa ditoleransi. Untuk melindungi Baldia, tidak diragukan lagi ini akan menjadi salah satu momen krusial. Aku menarik napas dalam-dalam, mengambil amplop itu, dan mulai memeriksa isinya.

Hari itu, aku berada di kamarku di kediaman utama, berkali-kali memeriksa dokumen yang akan digunakan dalam pertemuan. Tentu saja, tujuannya untuk memastikan tidak ada celah atau masalah sekecil apa pun.

"Oke, semua persiapan yang bisa dilakukan sudah beres. Tapi tetap saja, aku merasa sedikit gugup."

Hari ini adalah hari pertemuan dengan ras rubah, dan seluruh kediaman utama diselimuti ketegangan yang tidak biasa.

Setelah Ayah membalas surat permohonan pertemuan dari keluarga Grandork yang tiba di hari kepulangan beliau dari ibu kota, diputuskan bahwa pertemuan akan diadakan di kediaman utama keluarga Baldia.

Sebenarnya ada usulan untuk mengadakan pertemuan di benteng dekat perbatasan, tapi karena niat dan langkah ras rubah belum jelas, kewaspadaan adalah prioritas utama. Aku menyarankan kepada Ayah bahwa sebaiknya kita memperlakukan mereka sebagai tamu kehormatan terlebih dahulu, dan beliau menerima saran tersebut.

Meskipun begitu, fakta bahwa kelompok Claire—sang penyerang—serta Almond yang membantu kami semuanya adalah ras rubah, ditambah lagi fakta bahwa mereka melarikan diri ke wilayah ras rubah, membuatku yakin bahwa mereka terlibat dalam insiden penyerangan kemarin.

Namun, masalahnya bukan hanya itu. Mengingat rumor buruk tentang Baldia yang tersebar di ibu kota pada waktu yang hampir bersamaan dengan kejadian, ada kemungkinan besar ada dalang atau kolaborator lain. Apa pun itu, mereka pasti merencanakan sesuatu yang tidak baik.

Saat aku sedang tenggelam dalam pikiran sambil melihat dokumen, pintu kamarku diketuk. Setelah aku memberi izin, Diana masuk dan membungkuk hormat.

"Tuan Reed. Keluarga Grandork dari ras rubah dikabarkan akan segera tiba."

"Baiklah. Kalau begitu aku harus segera menyambut mereka. Tolong bawa dokumen ini ke ruang tamu tempat pertemuan akan diadakan."

"Dimengerti."

Aku menyerahkan setumpuk dokumen yang baru saja kuperiksa kepadanya. Saat membuka pintu untuk keluar, tampak Farah, Mel, dan yang lainnya sudah berkumpul dengan ekspresi cemas.

"Lho, ada apa kalian semua di sini?"

"Karena kami tidak bisa hadir dalam pertemuan, kami ingin mengantarmu di sini."

"Ah, benar juga ya."

Dalam pertemuan kali ini, hanya aku dan Ayah yang akan berpartisipasi sebagai perwakilan keluarga Baldia.

Karena tujuan ras rubah belum jelas, Ayah memutuskan—dan aku pun setuju—bahwa Farah dan Mel tidak boleh diperlihatkan secara sembarangan di depan keluarga Grandork.

Aku mengangguk pada Farah, lalu Mel, yang menggendong Cookie dan Biscuit di pundaknya, menatapku dengan mata menyipit sambil menggembungkan pipi.

"Kakak. Gara-gara orang yang mau datang ini, rencana kita ke ibu kota jadi ditunda, kan?"

"Eh? E-eh, ya, mungkin bisa dibilang begitu."

Aku sedikit ciut melihat atmosfer Mel yang terasa sangat tajam.

"Ternyata benar..."

Mel menunduk dan bergumam kesal, lalu tiba-tiba mendongak.

"Kakak. Aku tidak terlalu mengerti, tapi Kakak tidak boleh kalah dari mereka. Janji!"

Mel berkata begitu sambil menyodorkan jari kelingking tangan kanannya tepat di depan wajahku.

"Baiklah, Kakak janji."

Setelah kami menautkan jari, wajah Mel langsung cerah dan dia tersenyum riang. Melihat itu, Farah sedikit merona dan ikut menyodorkan jari kelingkingnya dengan malu-malu.

"A-anu. Bolehkah aku juga meminta janji yang sama?"

"I-iya."

Saat jari kami bertaut, entah kenapa jantungku berdebar kencang saat mata kami bertemu.

"Pertemuan antar perwakilan negara adalah sebuah medan perang yang lain. Semoga keberuntungan selalu menyertaimu."

"Benar. Terima kasih, Farah. Mel juga. Kalau begitu, aku berangkat dulu."

"Iya."

"Kakak, semangat ya!"

Sambil tersenyum dan mengangguk, aku melangkah pergi untuk menyambut tamu kehormatan kami.

Dalam perjalanan singkat di koridor, aku mengatur kembali informasi tentang lawan bicara kami di dalam kepala.

Keluarga Grandork adalah klan pemimpin suku yang secara turun-temurun memerintah wilayah ras rubah di Negara Beastman Zvera.

Pemimpin suku saat ini adalah 'Gareth Grandork', yang kudengar juga dikenal oleh Ayah. Gareth memiliki lima orang anak.

Anak pertama, putra sulung: Elba Grandork. Anak kedua, putri sulung: Rapha Grandork. Anak ketiga, putra kedua: Malbas Grandork. Anak keempat, putra ketiga: Amon Grandork. Anak kelima, putri kedua: Sitri Grandork.

Yang mengunjungi Baldia kali ini adalah 'Elba Grandork' dan 'Malbas Grandork'. Ayah pun baru pertama kali akan bertemu mereka secara langsung, namun dari informasi yang kukumpulkan, mereka sepertinya bukan tipe lawan yang bisa diajak berbicara dengan ramah.

Saat ini, yang bertahta sebagai Raja Beast di Zvera adalah seorang wanita tangguh dari ras manusia kucing bernama 'Sekhmetos Bestia'.

Dia memiliki seorang anak yang seumuran denganku bernama 'Yohan Bestia'. Dari nama dan usianya, tidak salah lagi dia adalah salah satu pangeran yang muncul di gim Toki-Rera.

Yang mengusik pikiranku adalah rumor bahwa kandidat kuat Raja Beast generasi berikutnya bukanlah 'Yohan', melainkan lawan bicaraku kali ini, 'Elba Grandork'.

Aku sudah mencoba mencari informasi soal ini melalui memori kehidupanku sebelumnya, tapi tidak ada informasi yang spesifik. Yah, itu wajar saja.

Informasi dari gim Toki-Rera hanyalah kejadian yang terjadi sekitar 'sepuluh tahun dari sekarang'. Apa yang terjadi sebelum masa itu tidak pernah diceritakan di dalam gim.

Mungkin, bahkan Valery Elasenese—sang antagonis yang sepertiku juga memiliki ingatan masa lalu—pun tidak akan tahu.

Masalah utama saat ini adalah Elba. Di waktu yang hampir bersamaan saat Ayah mewarisi gelar Margrave Baldia, dia dikabarkan telah menumpas pemberontakan internal di wilayah ras rubah dengan kekuatan militer dalam waktu singkat.

Dalang pemberontakan itu adalah Gleas Grandork, adik dari pemimpin suku Gareth, yang berarti paman kandung Elba sendiri.

Namun, dia tidak memberikan ampun sedikit pun dan mengeksekusi pamannya dengan tangannya sendiri.

Orang-orang yang terlibat dalam rencana pemberontakan itu, termasuk keluarga dan relasi mereka, semuanya dihukum mati atas perintah Elba—bahkan sampai ke anak kecil sekalipun. Insiden ini membuat nama Elba Grandork menggetarkan seluruh Negara Beastman.

Saat ini, Elba memiliki pengaruh yang setara dengan ayahnya, Gareth, dan merupakan tokoh kunci yang mendorong ekspansi militer ras rubah.

Dan orang yang dikabarkan menyokongnya dari balik layar adalah adiknya, 'Malbas Grandork', yang sangat ahli dalam urusan pemerintahan.

Aku sudah menyelidiki tentang Malbas; dia tidak memiliki kemampuan tempur yang menonjol seperti Elba.

Namun, urusan pemerintahan yang diperlukan untuk ekspansi militer ras rubah dipercayakan sepenuhnya kepadanya, dan kemampuannya dinilai tinggi baik di dalam maupun luar negeri.

Faktanya, dari apa yang kulihat, situasi ras rubah sebenarnya tidak bisa dibilang kaya secara ekonomi. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ekspansi militer mereka berjalan dengan sangat stabil. Ini pasti hasil kombinasi antara pengaruh Elba dan kepiawaian Malbas.

Entah bagaimana ceritanya, padahal aku hanya ingin bersiap menghadapi 'Hukuman Mati' di masa depan, tapi aku malah harus berhadapan dengan orang-orang yang sangat berbahaya seperti mereka.

Yah, siapa pun lawannya, aku akan melindungi Baldia dengan tanganku sendiri.

Saat pintu depan kediaman mulai terlihat, Ayah sudah berdiri di sana.

"Kau sudah datang, Reed."

"Maaf membuat Anda menunggu, Ayah."

Selain Ayah, tampak pula Garun dan seluruh pelayan kediaman sudah berkumpul. Namun, ekspresi mereka terasa lebih kaku dari biasanya. Aku mengedarkan pandangan, tapi belum melihat orang yang dimaksud.

"Keluarga Grandork sepertinya... belum sampai ya."

"Umu. Tapi mereka akan segera tiba. Kita tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Jangan lengah."

"Baik. Dimengerti."

Tepat setelah aku menjawab, pintu depan diketuk.

"Saya Cross, Wakil Komandan Ksatria Baldia. Keluarga Grandork dari ras rubah telah tiba."

Mendengar suara itu, kepala pelayan Garun menatap kami. Setelah aku dan Ayah mengangguk pelan, dia memegang kenop pintu dan membukanya perlahan.

Di sana berdiri Cross dengan sikap formal yang sangat berbeda dari atmosfer santainya yang biasa. Di belakangnya, tampak seorang pria raksasa dari ras rubah yang tingginya jauh melampaui Ayah. Rambut panjangnya yang berwarna kuning berkibar, dan dia menyeringai penuh percaya diri.

Instingku langsung berkata bahwa dialah Elba Grandork.

Di sampingnya, berdiri seorang pemuda berkacamata dari ras rubah dengan rambut kuning yang sama, tampak bersikap tenang dan sopan.

Dia pastilah sang adik, Malbas Grandork. Tinggi Malbas lebih pendek dari Ayah, kira-kira setara dengan orang kekaisaran pada umumnya.




Para pejuang ras rubah yang berjaga sebagai pengawal keduanya memiliki tinggi badan yang tidak jauh berbeda dengan Malbas. Mungkin hanya Elba yang ukurannya sangat besar.

"Selamat datang di wilayah Baldia, Kekaisaran Magnolia."

Ayah melangkah maju di hadapan Elba dan mengulurkan tangan kanannya.

"Aku adalah Margrave yang memerintah wilayah ini, Reiner Baldia. Jika tidak salah lihat, Anda adalah Tuan Elba Grandork, benar?"

"Ah, ya, benar. Aku berterima kasih atas sambutan hangat ini meskipun permintaan kunjungan kami mendadak. Sekali lagi, aku Elba Grandork."

Di luar dugaan, Elba menjabat tangan Ayah dengan sangat sopan. Saat Elba melirik ke arah di sampingnya, pemuda itu mengangguk dan mengulurkan tangannya kepada Ayah.

"Saya Malbas Grandork. Senang berkenalan dengan Anda."

"Senang berkenalan denganmu juga."

Sekilas, interaksi Ayah dengan pihak Elba terlihat sangat ramah dan akrab. Namun, mata mereka sama sekali tidak tersenyum, dan entah kenapa udara terasa sangat tegang. Aksi saling meraba niat satu sama lain sudah dimulai; sapaan tadi hanyalah basa-basi diplomasi.

"Jadi, anak laki-laki ini adalah putra Tuan Reiner?"

Elba tiba-tiba mengalihkan pandangannya kepadaku, lalu menyeringai tipis. Sambil merasakan firasat buruk dari senyumnya itu, aku melangkah maju dan mengulurkan tangan kananku.

"Benar. Namaku ReedBaldia. Sebuah kehormatan bisa menyapa Anda sekalian dari keluarga Grandork."

"Hoh, dia tampak sangat dewasa untuk usianya. Bukannya gemetar melihat sosokku, dia malah mengulurkan tangan seperti ini."

Elba berkata demikian lalu menjabat tanganku. Tangannya sangat besar, rasanya seolah bayi dan orang dewasa sedang bersalaman. Setelah berjabat tangan dengan Malbas, Ayah pun berdehem.

"Kalau begitu, mari kita pindah ke ruangan. Aku yakin kita punya banyak hal yang ingin dibicarakan."

"Fufu, benar sekali."

Elba mengangguk dengan senyum menantang.

Sama seperti sebelumnya, aku merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan dari ekspresinya. Melalui sihir pendeteksi hawa keberadaan, Electric Field, aku tidak mendapatkan kesan baik dari mereka berdua.

Kedua orang ini pasti datang membawa niat buruk. Setelah berhadapan langsung dan meyakini adanya kebencian tersembunyi, aku diam-diam memperkuat kewaspadaanku tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.

Ayah memandu mereka sendiri ke ruang tamu kehormatan, lalu kami duduk saling berhadapan dengan meja di tengah. Di belakang kursi kami berdiri Komandan Ksatria Dynas, Wakil Komandan Cross, serta Rubens dan Diana.

Sementara di belakang Elba dan Malbas, para pejuang ras rubah berbaris rapi. Ketegangan yang luar biasa mulai menyelimuti ruangan itu ketika tiba-tiba pintu diketuk.

Setelah Ayah memberi izin, kepala pelayan Garun datang bersama kepala pelayan wanita Marietta dan wakilnya, Frau, membawakan teh serta kudapan.

Di tengah atmosfer yang mencekam, Garun dan yang lainnya menyajikan teh dan kudapan ke atas meja tanpa satu pun kesalahan, lalu membungkuk dan meninggalkan ruangan dengan tenang.

"Benar-benar kepala pelayan dan pelayan wanita yang hebat dalam melayani keluarga Baldia. Gerakan mereka sungguh sempurna. Aku jadi ingin memiliki orang-orang seperti itu di rumahku. Benar kan, Malbas?"

Elba yang sejak tadi memperhatikan mereka mulai membuka pembicaraan.

"Benar, Kak. Terlebih lagi, teh dan kudapan ini... semuanya adalah barang kelas satu. Kami sangat menghargai perlakuan istimewa ini, Tuan Reiner."

"Sama-sama. Keluarga Grandork dari Negara Beastman adalah tetangga yang berbatasan langsung dengan wilayah Baldia. Memberikan penghormatan maksimal adalah hal yang wajar."

Mendengar jawaban Ayah yang penuh makna tersirat, Elba mendengus tipis.

"Begitu ya. Kalau begitu, mari kita langsung ke topik utama. Surat yang kami kirim... aku yakin Anda sudah membacanya, dan kedatanganku ke sini adalah untuk menanyakan bagaimana jawaban Anda."

Mata Elba memancarkan kilatan licik. Sambil merasakan keringat dingin mengucur di punggung akibat tekanan yang dipancarkannya, aku memberi isyarat mata kepada Ayah yang duduk di sampingku.

"Kuserahkan padamu."

"Terima kasih, Ayah."

Aku menyipitkan mata dan mengangguk, lalu berdehem sambil menatap Elba dan Malbas.

"Tentu saja kami sudah membaca surat yang dikirimkan. Namun, kami merasa keluarga Grandork telah melakukan sebuah kesalahpahaman. Atas dasar itulah pertemuan ini diadakan."

Alis Elba berkedut dan dia menggumamkan "Hoh" sambil menyandarkan punggungnya dalam-dalam ke sofa.

"Kalau begitu, biarkan aku mendengar pendapat Tuan Reedmengenai bagian mana yang kami salahpahami."

"Pertama-tama, aku ingin Anda berdua membaca dokumen-dokumen ini."

Cara bicara Elba yang menantang dan mengintimidasi ini membuatku sedikit jengkel, tapi aku tahu kalah secara emosional berarti kalah dalam negosiasi. Sambil mengingatkan diri sendiri, aku membagikan dokumen yang telah disiapkan sebelumnya kepada mereka.

"Untuk penjelasan selanjutnya, aku telah memanggil pihak yang bersangkutan. Kalian berdua, silakan masuk."

Pintu ruang tamu terbuka dengan sopan, dan dua orang wanita masuk. Mereka menghampiri sisiku, lalu membungkuk hormat kepada Elba dan Malbas.

"Tuan Elba, Tuan Malbas. Senang bisa bertemu dengan Anda sekalian. Saya adalah Christy Merchants Guild, Christy Saffron."

"Saya Emma, asisten Nona Christy di Serikat Dagang Christy."

Setelah mereka mengangkat kepala, aku mulai menjelaskan situasi kepada Elba dan Malbas.

Setelah insiden penyerangan, surat yang dikirim Ayah kepada keluarga Grandork secara garis besar terbagi menjadi empat poin.

"Satu, sebuah kelompok tidak dikenal yang terdiri dari ras rubah telah menyerang bengkel di wilayah Baldia.

Dua, kelompok penyerang tersebut melarikan diri melintasi perbatasan Baldia menuju wilayah ras rubah.

Tiga, kerusakan bengkel akibat serangan ini tergolong kecil, dan para teknisi yang diculik berhasil direbut kembali berkat tindakan Ksatria Baldia.

Empat, berdasarkan fakta-fakta tersebut, ini bukan lagi sekadar masalah antara keluarga Grandork dan keluarga Baldia, melainkan kasus serius yang bisa merusak hubungan antara Negara Beastman Zvera dan Kekaisaran Magnolia.

Oleh karena itu, keluarga Baldia meminta kerja sama penuh dari keluarga Grandork untuk mengungkap seluruh fakta di balik insiden ini."

Yah, kira-kira seperti itulah isinya. Namun sayangnya, jawaban mereka justru sangat memusuhi.

"Mengenai insiden penyerangan bengkel di wilayah Baldia, pertama-tama kami sampaikan simpati kami yang terdalam.

Namun, kami sangat keberatan atas tuduhan bahwa pelakunya berasal dari ras rubah kami. Sebagai keluarga Grandork, kami tidak memiliki informasi mengenai adanya orang-orang seperti itu yang melarikan diri ke wilayah kami, dan tidak ada hal yang bisa kami bantu untuk pengungkapan insiden tersebut.

Pernyataan yang menyinggung kerusakan hubungan kedua negara tanpa bukti adalah ucapan yang bisa dianggap sebagai ancaman atau provokasi, dan itu sangatlah gegabah.

Sebagai tambahan, dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi banyak kasus anak hilang di berbagai tempat di Negara Beastman, dan ada informasi yang menyebutkan bahwa anak-anak tersebut berada di wilayah Baldia, Kekaisaran Magnolia.

Jika itu benar, maka hal inilah yang justru akan menjadi penyebab rusaknya hubungan kedua negara. Karena itu, keluarga Baldia harus segera membuka informasi tersebut, atau setidaknya setuju untuk mengadakan pertemuan dengan keluarga kami."

Keluarga Grandork sama sekali tidak mengakui poin-poin dari pihak kami dan justru menganggapnya sebagai ancaman.

Sebaliknya, mereka malah menuduh bahwa perlindungan anak-anak ras beastman yang kami lakukan adalah penyebab rusaknya hubungan kedua belah pihak.

Aku dan Ayah tentu saja merasa geram, tapi dalam politik dan negosiasi, siapa yang emosional maka dia kalah. Karena itulah kami sengaja mengundang mereka ke Baldia untuk mengadakan pertemuan. Tentu saja, aku sudah memiliki rencana kemenangan.

Saat membeli anak-anak ras beastman melalui Balst, aku sudah memperkirakan tuduhan semacam ini akan muncul. Chris dan yang lainnya dari Serikat Dagang Christy telah menyiapkan latar belakang dan dokumen untuk membuktikan legalitas pembelian anak-anak tersebut.

Kronologinya seperti ini: Emma, ras kucing yang mendukung Chris di Serikat Dagang Christy, mendapatkan informasi bahwa anak-anak ras beastman dijual sebagai budak di Balst. Itulah 'pemicu' awalnya.

Emma yang merasa pedih melihat kaumnya dijual sebagai budak meminta bantuan kepada pemimpin serikat dagangnya, Christy Saffron.

Chris teringat bahwa keluarga Baldia sedang berkonsultasi mengenai perekrutan personel, lalu dia berpikir, "Bagaimana jika aku menghubungkan permintaan perekrutan itu dengan penjualan budak ini untuk menyelamatkan anak-anak ras beastman?".

Namun, karena perbudakan dilarang di Kekaisaran Magnolia, Chris menyusun sebuah rencana. Pertama-tama, Serikat Dagang Christy membeli seluruh anak-anak ras beastman yang dijual sebagai budak di Balst.

Selanjutnya, dengan dalih 'perlindungan', keluarga Baldia menjamin identitas anak-anak tersebut dan menerima mereka sebagai rakyat wilayah.

Biaya pembelian budak dibayarkan oleh keluarga Baldia kepada Serikat Dagang Christy sebagai imbalan atas tugas 'perekrutan personel' yang diminta semula. Kemudian, biaya 'perlindungan' tersebut dibagi rata oleh keluarga Baldia dan dipinjamkan kepada anak-anak itu.

Sebagai catatan, jumlah pinjaman tersebut juga mencakup biaya pendidikan yang diperlukan untuk masa depan mereka. Dengan kata lain, di depan publik, Serikat Dagang Christy adalah perencana ide ini, dan keluarga Baldia hanya membantu sebagai bentuk 'bantuan kemanusiaan'.

Perencana aslinya sebenarnya adalah aku dan Ayah, tapi untuk sementara hal ini akan dirahasiakan dari publik.

Dokumen yang kusiapkan kali ini berisi rincian transaksi jual beli budak yang dilakukan Serikat Dagang Christy di Balst. Dokumen tersebut membuktikan bahwa seluruh transaksi dilakukan secara legal sesuai hukum negara masing-masing.

Chris, Emma, dan aku menjelaskan kronologi serta dokumen tersebut secara mendetail. Namun, reaksi Elba dan Malbas dari ras rubah tidak terlalu baik.

"……Berdasarkan poin-poin tersebut, keluarga kami tidak memperlakukan anak-anak ras beastman sebagai 'budak'."

Begitu aku selesai menjelaskan, Chris yang membantuku dari samping mengangguk.

"Mohon maaf saya menyela, setelah menyerahkan anak-anak tersebut, saya sesekali memantau keadaan mereka. Pada saat itu, anak-anak tersebut selalu menunjukkan ekspresi yang sangat ceria."

"Benar apa yang dikatakan Nona Chris. Sebagai sesama ras beastman, saya juga sering mengobrol dengan mereka. Dan mereka semua berkata bahwa mereka sangat senang bisa datang ke wilayah Baldia."

"Hoh."

Elba menggumam menanggapi tambahan penjelasan Emma yang penuh permohonan itu.

Apakah kata-kata Emma sebagai sesama ras beastman sedikit menyentuh hatinya? Aku tahu dia bukan tipe orang yang mudah tersentuh, tapi dengan secercah harapan di hati, aku kembali bicara.

"Memang benar setelah memberikan perlindungan melalui Serikat Dagang Christy sesuai hukum negara masing-masing, kami mempekerjakan anak-anak itu di Ksatria Ordo Kedua. Namun, hal itu murni merupakan perpanjangan dari bantuan kemanusiaan. Oleh karena itu, kekhawatiran yang dirasakan keluarga Grandork tidaklah beralasan. Demi hubungan kedua negara dan kedua keluarga, kami mohon kerja sama Anda untuk mengungkap seluruh fakta mengenai 'insiden penyerangan' yang telah kami sampaikan."

Elba dan Malbas mendengarkan penjelasan itu dalam diam. Tiba-tiba Malbas mengangkat pandangannya dari dokumen di tangannya.

"Apakah Tuan Reiner juga memiliki pemikiran yang sama?"

"Tentu saja. Seperti yang baru saja dikatakan Reeddan Chris, keluarga kami hanya melindungi anak-anak ras beastman dan menjadikan mereka rakyat wilayah. Tidak ada hal yang perlu Anda sekalian khawatirkan."

"Begitu ya. Saya mengerti argumen Anda. Kakak, bagaimana menurutmu?"

Saat ditanya oleh Malbas, Elba tertawa menantang dan mendengus.

"Cih, omong kosong. Penjelasan barusan dan dokumen ini, semuanya tak lebih dari rangkuman yang dibuat demi keuntungan kalian sendiri. Perlindungan, bantuan kemanusiaan, diterima sebagai rakyat wilayah... apa pun istilah indah yang kalian gunakan, kenyataannya keluarga Baldia mempekerjakan anak-anak yang dilaporkan hilang di Negara Beastman. Sejak awal, mempekerjakan mereka sebagai ganti utang itu tidak ada bedanya dengan 'budak', bukan?"

Elba menyeringai licik dan melemparkan dokumen di tangannya ke atas meja. Tindakannya itu sangat provokatif hingga udara di ruangan terasa mencekam sampai menusuk kulit.

"……Tuan Elba. Sebagai sesama penguasa wilayah, aku bisa memahami gejolak di hatimu. Namun, ini adalah pertemuan yang menentukan masa depan kedua keluarga dan kedua negara. Karena kata-katamu membawa tanggung jawab besar, sebaiknya Anda lebih menjaga sikap dan ucapan."

Ayah mengerutkan dahi dan memancarkan aura mengintimidasi, namun Elba tetap memasang wajah tenang.

"Begitu ya, maaf kalau begitu. Namun, dalam surat yang kami kirim juga sudah tertulis jelas. Pihak Andalah yang lebih dulu melempar tuduhan tak berdasar bahwa penyerang bersembunyi di kalangan ras rubah kami. Jadi sekarang kita impas."

"Hoh..."

Ayah menanggapi dengan gumaman penuh makna, sementara Elba mengangkat bahu dengan gaya mengejek.

"Yah, apa pun itu, argumen kami tetap sama seperti yang kukatakan sebelumnya. Oleh karena itu, segera serahkan seluruh anak-anak yang dilindungi di wilayah Baldia kepada kami."

"Mohon maaf, tapi melalui dokumen tadi, aku sudah menjelaskan bahwa keluarga kami tidak memiliki kesalahan apa pun. Permintaan seperti itu sama sekali tidak bisa kami terima."

Aku menjawab sambil menahan emosi, sementara Malbas memegang dokumen di satu tangannya dan menyeringai.

"Itu justru aneh sekali. Tuan Reedbaru saja mengatakan di dokumen ini bahwa kalian 'melindungi' orang-orang yang hilang dari negara kami, kan?"

"Benar. Lalu apa masalahnya?"

Saat aku bertanya balik, dia memasang wajah seolah telah memenangkan argumen.

"Kalau begitu, mengembalikan anak-anak yang hilang itu kepada orang tua atau kerabat mereka di tanah air adalah tindakan yang paling sesuai dengan prinsip kemanusiaan yang Tuan Reedagung-agungkan tadi, bukan? Jika itu pun tidak bisa dilakukan, maka wajar saja jika orang-orang menganggap kalian memperlakukan mereka sebagai 'budak'."

"Tuan Malbas, apakah Anda sudah lupa peringatan Ayahku untuk menjaga ucapan?"

"Tidak, tidak, tentu saja tidak. Saya hanya menyatakan fakta."

"Begitukah. Kalau begitu, izinkan aku juga mengatakan sesuatu."

Aku mulai bicara dengan tenang agar tidak terpancing provokasi jahat Elba dan Malbas, tapi aku menyuntikkan kemarahan yang jelas ke dalam kata-kataku.

"Kami sudah mendengar langsung dari mulut anak-anak beastman yang kami lindungi. Tentang bagaimana mereka dijual sebagai budak dari kampung halaman mereka. Semuanya, tanpa terkecuali."

Aku menekankan akhir kalimatku dengan nada marah, namun Elba justru mengangguk senang.

"Itu menarik. Silakan, biarkan aku mendengarnya."

"Hampir semua dari mereka berkata bahwa mereka dijual sebagai budak dari desa-desa miskin di setiap suku dengan alasan 'uang', 'mengurangi beban mulut yang harus diberi makan', atau 'tidak berguna'. Aku juga mendengar ada perintah dari bangsawan yang tunduk pada pemimpin suku. Dalam situasi di mana mereka dibuang oleh negaranya sendiri, aku tidak merasa mereka punya kampung halaman tempat mereka bisa kembali di negara Anda. Karena itulah, atas keinginan mereka sendiri, mereka menjadi rakyat Baldia. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kami untuk menyerahkan mereka kepada Anda sekalian."

Setelah aku menyatakan hal itu, Elba mengalihkan pandangannya pada Ayah.

"Tuan Reedberkata begitu, tapi apakah Tuan Reiner juga memiliki pemikiran yang sama mengenai hal ini?"

"Ya, benar. Karena aku pun mendengar kata-kata itu langsung dari mereka. Tidak ada kebohongan dalam ucapan putraku."

"Hmm, begitu ya."

Elba menunduk seolah sedang memikirkan sesuatu, namun tak lama kemudian bahunya mulai bergetar hebat. Saat kami merasa heran, dia mengangkat wajahnya dan tertawa terbahak-bahak.

"Jangan-jangan, kalian benar-benar menelan mentah-mentah ucapan bocah ingusan yang sempat jadi budak itu? Ini lucu sekali. Asal kalian tahu, ucapan anak kecil itu bisa berubah-ubah tergantung perintah orang dewasa. Meminta kami mempercayai hal semacam itu benar-benar membuat perutku sakit. Aku butuh alasan yang sedikit lebih masuk akal."

Melihat sikapnya yang sangat kurang ajar, kesabaranku rasanya sudah mencapai batas. Ayah dan Chris juga terdiam, tapi wajah mereka tampak merengut. Aku menahan amarah sekuat tenaga dan menatapnya tajam.

"Ini adalah sebuah pertemuan resmi. Sikap Anda barusan benar-benar tidak sopan. Lagi pula, usiaku tidak jauh berbeda dengan anak-anak itu. Apakah Anda ingin mengatakan bahwa tidak ada kebenaran juga dalam kata-kataku?"

Meskipun rasanya seperti memutarbalikkan kata-katanya, tidak salah lagi bahwa ucapannya memang mengarah ke sana.

"Aku minta maaf jika itu menyinggungmu. Tapi Tuan Reedadalah putra mahkota keluarga Baldia. Karena 'posisi' Anda berbeda dengan anak-anak budak itu, aku tidak menganggap semua ucapan Anda bohong. Lagipula..."

Elba sengaja menggantung kalimatnya, lalu menyeringai licik.

"Andaikata ucapan anak-anak itu benar pun, hal itu tidak ada hubungannya dengan pertemuan ini. Mengembalikan anak-anak beastman yang hilang ke negara asal, fakta itulah yang paling penting dalam hubungan kedua negara. Soal apakah anak-anak itu punya tempat tinggal atau tidak setelah kembali ke sana, itu bukan urusan kami."

"Apa...!?"

Semua orang di ruangan itu terbelalak, termasuk aku. Namun, hanya Ayah yang tetap tenang. Beliau memajukan tubuhnya dan menatap lurus ke arah Elba.

"Kami mengharapkan solusi damai dan tetap diam mendengarkan, tapi Anda benar-benar bicara seenaknya. Kalau begitu, biar aku perjelas juga. Anak-anak beastman yang kami lindungi adalah rakyat wilayah Baldia kami. Oleh karena itu, kami tidak bisa menerima permintaan Anda... pertemuan lebih lanjut tidak ada gunanya lagi. Silakan Anda sekalian segera meninggalkan tempat ini."

"Begitu ya. Kalau begitu, kami permisi."

"Setelah kembali ke tanah air, sampaikanlah pada Pemimpin Suku Gareth. Keluarga Baldia tidak akan menyerahkan rakyatnya begitu saja. Dan sampaikan juga bahwa kami tidak akan pernah memaafkan ucapan kalian tadi."

Ayah menunjukkan sikap yang tegas, namun Elba mengangguk tanpa sedikit pun merasa tertekan.

"Dimengerti. Akan kusampaikan pesan itu bulat-bulat. Tapi biar kuberikan satu peringatan. Di dalam negeri Zvera, terdapat faksi radikal yang mencoba menyelamatkan rekan-rekan mereka yang jadi budak. Ke depannya, wilayah Baldia mungkin akan menjadi incaran orang-orang semacam itu. Berhati-hatilah."

Dia berdiri perlahan dari kursinya.

"Mari kita pulang, Malbas. Pertemuan ini batal."

"Baik, Kak."

Demikianlah, pertemuan itu berakhir dengan kegagalan.

Aku sudah menduga hal ini sejak membaca surat mereka, tapi ternyata ucapan mereka jauh lebih memusuhi dan provokatif dari bayanganku. Seolah-olah mereka memang ingin bermusuhan. Akhirnya, apa sebenarnya tujuan Elba dan Malbas dalam pertemuan ini?

Sebagai bentuk kesopanan terakhir, aku mengantar mereka sampai ke kereta kuda di luar. Di tengah perjalanan, sosok gadis dan pemuda ras rubah yang mengenakan seragam Ksatria Ordo Kedua masuk ke dalam pandanganku. Karena mereka adalah wajah-wajah yang sangat kukenal, aku buru-buru menghampiri mereka.

"Lagard, Noir. Sedang apa kalian di tempat seperti ini?"

Saat aku bertanya dengan heran, keduanya menundukkan kepala dalam-dalam dengan ekspresi yang tampak sangat tertekan.

"Tuan Reed, mohon maafkan kami karena membalas budi Anda dengan pengkhianatan seperti ini."

"Saya juga. Mohon maafkan kami."

"Tunggu, apa maksud kalian?"

Di tengah kebingunganku atas ucapan mendadak itu, mereka berdua mengangkat wajah dan melangkah maju ke hadapan Elba.

"Namaku Noir."

"Namaku Lagard."

Setelah menyebutkan nama mereka, Noir menatap Elba dengan tajam.

"Elba Grandork. Dendam atas kematian Tuan Gleas yang telah tiada, di sini kami menantangmu untuk berduel sekarang juga. Perlu kuingatkan, ini adalah pertarungan pribadi. Jadi, keluarga Baldia tidak ada hubungannya dengan ini."

"Apa...!?"

Semua orang di tempat itu terbelalak.

Kehadiran mereka di sini benar-benar di luar rencana. Terlebih lagi menantang duel, aku tidak pernah mendengar rencana gila seperti ini dari siapa pun.

Sementara itu, Elba sepertinya menyadari sesuatu. Dia menggumamkan "Hoh" dan menatap Noir dengan tajam.

"Orang-orang yang berhubungan dengan Paman, ya? Fufu, menarik."

"Kami datang!"

"Tunggu dulu!"

Tepat saat Noir dan Lagard memasang kuda-kuda, aku menyelinap masuk di antara mereka dan Elba.

"Kalian berdua, tenanglah. Apa pun alasannya, kalian adalah anggota ksatria yang melayani keluarga Baldia. Aku tidak mengizinkan adanya 'pertarungan pribadi' semacam ini."

"Tuan Reed. Hanya pria ini, hanya Elba yang tidak bisa kumaafkan. Mohon, jangan hentikan kami!"

"Tuan Reed, minggirlah!"

"Tidak boleh. Apa pun kata kalian, jika kalian bertarung di sini, ini akan menjadi masalah antara keluarga Baldia dan keluarga Grandork. Apa kalian tidak mengerti?"

Aku meninggikan suaraku untuk menenangkan mereka yang sedang emosi.

"Guu...!?"

Keduanya menggertakkan gigi sambil menatap tajam ke arah Elba, tapi mereka melepaskan kuda-kuda mereka.

Sepertinya mereka sudah sedikit tenang. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu berbalik ke belakang.

"Tuan Elba. Aku tidak tahu apa masalah di antara kalian. Namun, aku minta maaf atas ketidaksopanan ksatria yang melayaniku. Aku sungguh minta maaf."

"Tuan Reed!?"

"Mana mungkin!?"

Saat aku membungkuk dalam-dalam, terdengar suara Noir dan Lagard yang terkejut luar biasa.

Mengingat pertemuan tadi sudah gagal, aku tidak boleh membiarkan masalah ini semakin membesar. Jika membungkukkan kepala bisa menyelesaikan masalah, aku akan melakukannya berkali-kali. Tak lama kemudian saat aku mengangkat kepala, Elba menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak, tidak, akulah yang harus meminta maaf. Karena penyebab masalah ini adalah 'kelalaianku'."

"Apa maksud Anda?"

Sambil mengerutkan dahi, aku melihat Elba menatap Noir dan Lagard.

"Itu kejadian beberapa tahun lalu. Seorang pria yang merupakan adik ayahku tapi merencanakan pengkhianatan, 'Gleas Grandork'. Aku mengeksekusi orang itu dengan tanganku sendiri. Dan atas perintahku, semua yang membantu pamanku itu dimusnahkan hingga ke akar-akarnya. Tak kusangka ternyata masih ada yang selamat. Aku memang masih terlalu lembek."

"Pengkhianatan apa!? Tuan Gleas terpaksa bergerak demi menyelamatkan ras rubah yang menderita akibat ekspansi militer!"

Lagard berteriak marah secara spontan, namun Elba hanya mendengus.

"Omong kosong. Apa pun alasannya, kenyataannya dia telah 'berkhianat'."

"Elba, kau benar-benar..."

Noir menatapnya dengan tatapan yang semakin penuh kebencian.

"Namun, karena mereka adalah orang-orang yang berhubungan dengan Paman yang berkhianat, aku tidak bisa membiarkan mereka begitu saja. Karena ini adalah masalah keluarga Grandork."

Elba menyeringai licik.

"Baiklah. Aku terima tantangan 'pertarungan pribadi' yang kalian katakan tadi. Apa pun hasilnya, keluarga Baldia tidak ada hubungannya."

"Apa...!? Kami tidak akan mengizinkan hal sewenang-wenang seperti itu!"

Aku segera memprotes dengan suara keras, namun Malbas yang berada di sampingnya melangkah maju.

"Ini bukan soal mengizinkan atau tidak. Bagi kami, kedua orang itu adalah sisa-sisa pengkhianat yang seharusnya sudah dihukum mati. Dengan kata lain, di dalam bangsa ras rubah kami, mereka adalah penjahat berat yang pantas menerima hukuman mati. Apa artinya jika Anda melindungi mereka? Rasanya tidak perlu kujelaskan lagi, kan?"

"Guu..."

Dia menyerang titik lemahku. Melindungi secara publik penjahat berat yang seharusnya dihukum mati di negara lain akan berkembang menjadi masalah politik yang sangat besar. Terlebih lagi, pertemuan antara keluarga Baldia dan keluarga Grandork baru saja berakhir dengan kegagalan.

"Atau mungkin, Anda punya alasan untuk melindungi penjahat berat itu? Misalnya, kasus pengkhianatan yang dilakukan pamanku di wilayah kami beberapa tahun lalu... apakah keluarga Baldia ada di baliknya?"

"Ma-mana mung—"

Tepat saat aku akan bersuara, udara di sekitar tiba-tiba terasa sangat berat seolah menekan seluruh tubuh. Aku tersentak dan menoleh, ternyata Ayah memancarkan tekanan yang luar biasa dahsyat.

"Tuan Malbas, aku sudah cukup diam mendengarkan ucapanmu yang seenaknya. Itu adalah penghinaan bagi keluarga kami. Atau mungkin, kau memang sengaja memancing amarah kami agar terjadi pertempuran?"

"Ti-tidak mungkin. Itu hanya salah bicara. Mohon ampuni saya."

Melihat tatapan tajam Ayah, dia gemetar ketakutan dan membungkuk dalam-dalam sambil mundur. Namun, bukannya takut, Elba justru tertawa senang.

"Kekuatan itu. Pantas saja Anda disebut sebagai Pedang Kekaisaran. Namun, seperti yang sudah kukatakan tadi, aku tidak bisa membiarkan kedua orang itu lolos begitu saja. Seperti kata adikku, di suku kami mereka adalah orang yang pantas dihukum mati."

"Kau ingin aku mengakui pertarungan pribadi ini, begitu kan?"

"Tuan Reiner memang cepat mengerti, sangat membantuku. Lagipula keduanya juga terlihat sangat bersemangat."

Elba menatap Noir dan Lagard dengan tatapan merendahkan, seolah sedang memprovokasi mereka.

"Tuan Reiner, Tuan Reed. Mohon, izinkan kami melakukan pertarungan pribadi ini."

"Kami mohon."

Melihat permohonan yang dilakukan keduanya dengan wajah penuh tekad, Ayah menghela napas panjang.

"Baiklah. Aku izinkan."

"Apa Ayah sadar apa yang Ayah katakan!?"

Aku mencoba menghentikannya, namun Ayah menggelengkan kepalanya pelan lalu menatap Elba.

"Tapi kita pindah tempat. Tuan Elba tidak keberatan, kan?"

"Tentu saja, tidak masalah."

Demikianlah, pertarungan pribadi antara Elba melawan Noir dan Lagard mendadak akan dilaksanakan.

Dalam perjalanan menuju tempat pertarungan pribadi, aku mendekati Ayah dan bertanya dengan suara pelan.

"Kenapa Ayah mengizinkan pertarungan pribadi ini?"

"Karena kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah, tidak ada pilihan lain selain mengizinkannya sekali. Setelah itu, kita tinggal mencari titik kesepakatan yang baru."

"Mungkin itu benar. Tapi, Elba adalah orang yang dikabarkan paling dekat untuk menjadi Raja Beast berikutnya. Aku tidak yakin mereka berdua bisa menandinginya."

Mungkin itu adalah keputusan yang terpaksa diambil untuk menenangkan situasi tadi.

Elba dan pihak lainnya pasti akan terus memprovokasi, dan Noir serta Lagard juga tidak akan mau mundur.

Namun, aku hanya merasakan kebencian yang mendalam dari setiap kata dan tindakan pria bernama Elba itu. Dia tidak mungkin melakukan pertarungan pribadi yang adil. Di dalam hatiku, rasa cemas dan keyakinan buruk berkecamuk.

"Jika terjadi sesuatu, aku akan melompat masuk untuk melindungi mereka berdua."

"Aku juga berniat begitu. Karena mereka berdua adalah rakyat Baldia dan anggota ksatria kita. Tapi ingat, kau jangan melakukan hal yang nekat."

Aku tidak menjawab peringatan Ayah.

Tak lama setelah kami mulai berpindah bersama pihak Elba, kami sampai di lapangan latihan yang juga sering kugunakan. Chris, Emma, Diana, dan yang lainnya yang tadi ikut mengantar juga ada di sana.

"Ini adalah lapangan latihan keluarga kami. Di sini kalian bisa bergerak sepuasnya."

"Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Tuan Reiner."

Elba menanggapi dengan senyum yang tidak menyenangkan, lalu mulai berjalan menuju tengah lapangan latihan.

Noir dan Lagard berbalik ke arah kami dan membungkuk dalam-dalam.

"Tuan Reed, Tuan Reiner. Kami sungguh minta maaf karena telah bersikap egois."

"Aku juga minta maaf. Mohon maafkan kami."

Aku menghela napas pendek dan meminta mereka mengangkat kepala.

"Sebenarnya aku ingin kalian memberitahuku sebelum semuanya jadi begini."

"Benar sekali."

Ayah menggelengkan kepala seolah merasa lelah, lalu menatap mereka dengan tajam.

Karena tatapannya yang sangat menakutkan, tubuh keduanya gemetar hebat. Sambil tersenyum kecut melihat reaksi mereka, Ayah pun berkata...

"Kalian pasti punya sesuatu yang tidak bisa kalian korbankan, kan?"

Melihat tekad yang berkobar di mata mereka, keduanya mengangguk mantap.

"Kalau begitu, lakukanlah sepuas hati kalian. Sebagai gantinya, nanti kalian harus menjelaskan semuanya padaku."

"Baik. Kalau begitu, kami berangkat."

Setelah membungkuk hormat, keduanya berlari menuju tengah lapangan latihan. Menatap punggung mereka, Diana yang berjaga di belakangku bergumam cemas.

"Tuan Reed. Apakah mereka berdua akan baik-baik saja?"

"Aku tidak tahu. Untuk sekarang, kita hanya bisa mengawasi."

Informasi yang kukumpulkan untuk pertemuan ini tentu mencakup kemampuan Elba. Jika laporan itu akurat, hasil pertarungan ini kemungkinan besar akan sangat pahit.

Namun, kemampuan Lagard dan Noir saat bekerja sama berada di jajaran teratas Ksatria Ordo Kedua. Meski mungkin tidak bisa menang melawan Elba, setidaknya mereka bisa mendaratkan satu serangan balasan. Mempertimbangkan perasaan mereka, momen itulah yang seharusnya menjadi titik untuk menghentikan 'pertarungan pribadi' ini.

Elba yang berjalan di depan mereka berhenti tepat di tengah lapangan.

"Yah, katanya singa akan mengerahkan seluruh kemampuannya meski lawannya hanya seekor kelinci. Tapi sebagai seorang pria sejati, aku akan menghargai perasaan kalian yang menginginkan pertarungan ini dan memberi kalian sebuah kesempatan."

Dia tampak memiliki kepercayaan diri yang absolut. Dia merentangkan kedua tangannya, bergaya jenaka seolah sedang bersenang-senang.

"Kesempatan, katamu?"

Noir mengernyitkan dahi, merasa curiga.

"Benar. Meskipun kalian adalah orang-orang yang berhubungan dengan pengkhianat Gleas, kalian tetaplah anak-anak. Karena itu, selama tiga menit ke depan, 'aku' tidak akan menyerang."

"Brengsek, jangan meremehkan kami!"

Lagard meraung murka. Dia langsung berubah ke wujud Beastification, di mana bulunya berubah menjadi kuning dan ekornya tumbuh menjadi dua. Noir pun ikut melakukan Beastification, namun ekornya tetap satu dan warna bulunya kuning pucat.

"Hoh, bisa menguasai Beastification di usia segini, masa depan kalian patut dinantikan. Aku jadi ingin menjadikan kalian bawahanku."

Noir menatap tajam ke arah Elba yang menyeringai licik itu.

"Ini demi Tuan Gleas dan semua orang yang kau bunuh. Ayo, Lagard!"

"Ya, aku mengerti!"

Keduanya mencabut pedang secara bersamaan dan menerjang Elba dengan sangat cepat. Saat suara benturan tumpul bergema di lapangan, semua orang tertegun melihat apa yang terjadi di depan mata mereka.

Pedang Lagard tertuju tepat di leher Elba, sementara pedang Noir menusuk dada kirinya, tepat di posisi jantung. Namun, pria itu sama sekali tidak terluka.

"Aku sempat sedikit berharap, tapi ternyata 'Yako' dan 'Kiko' cuma sampai di sini, ya?"

Dia mendengus bosan, lalu menggenggam masing-masing pedang yang menempel di leher dan dadanya itu dengan satu tangan.

'Yako' dan 'Kiko'.

Mendengar istilah yang asing di telinga itu, Chris memiringkan kepalanya dengan cemas.

"Tuan Reed. Apa maksudnya 'Yako' dan 'Kiko' itu?"

"Ah, itu—"

Tepat saat aku hendak menjawab, Malbas berdehem dengan gaya yang dibuat-buat.

"Agar tidak ada kekeliruan, biarkan aku sebagai perwakilan ras rubah yang menjelaskannya."

"……Silakan."

Setelah Chris membungkuk singkat, Malbas mulai menjelaskan dengan nada bicara yang menyombongkan diri.

Katanya, ras rubah akan memiliki jumlah ekor yang bertambah saat dalam wujud Beastification, tergantung pada jumlah mana individu tersebut.

Wujud yang tergolong Beastification biasa disebut Yako, memiliki satu ekor dengan bulu kuning pucat.

Wujud yang tergolong Fox Tingkat Bawah disebut Kiko, memiliki dua ekor dengan bulu kuning.

Wujud yang tergolong Fox Tingkat Menengah disebut Senko, memiliki tiga ekor dengan bulu kuning pekat.

Wujud yang tergolong Fox Tingkat Atas disebut Kuroko, memiliki empat ekor dengan bulu hitam.

Wujud yang tergolong Youko Tingkat Bawah disebut Byakko, memiliki lima ekor dengan bulu putih.

Wujud yang tergolong Youko Tingkat Menengah disebut Ginko, memiliki enam ekor dengan bulu perak.

Wujud yang tergolong Youko Tingkat Atas disebut Kinko, memiliki tujuh ekor dengan bulu emas.

Wujud yang tergolong Great Youko disebut Hakko, memiliki delapan ekor.

Wujud yang tergolong Divine Fox disebut Kyuko, memiliki sembilan ekor.

Setelah selesai menjelaskan, Malbas memasang senyum puas.

"Yah, Hakko dan Kyuko hanyalah legenda di kalangan ras rubah, hampir tidak ada yang pernah melihat wujudnya. Semakin banyak jumlah ekornya, maka semakin besar pula kekuatannya."

"Terima kasih atas penjelasannya."

Chris tampak mengerti dan kembali membungkuk. Penjelasan Malbas sama dengan informasi yang kudapatkan saat menyelidiki Elba. Sayangnya, aku tidak mendapatkan data mengenai wujud Beastification tokoh-tokoh kunci keluarga Grandork. Mungkin ini saat yang tepat untuk bertanya.

"Sialan!? Rasakan ini...!"

"Le-lepaskan!"

Teriakan Lagard dan Noir bergema. Jika diperhatikan, keduanya sedang mati-matian mencoba menggerakkan pedang mereka yang dicengkeram oleh Elba.

Namun tak lama kemudian, suara ledakan kering yang keras terdengar. Elba meremukkan dan menghancurkan pedang mereka hanya dengan genggaman tangannya.

Noir terpaku menatap pemandangan di depan matanya.

"Pe-pedangnya..."

"Noir, mundur dulu!"

Kehilangan senjata mereka, keduanya melompat mundur untuk menjaga jarak.

Elba tetap diam di tempatnya, lalu mulai tertawa dengan suara yang mengerikan.

"Sebagai referensi bagi kalian, jumlah ekorku saat melakukan Beastification adalah 'tujuh'. Tentu saja, aku tidak berniat mengerahkan seluruh kekuatanku melawan sampah seperti kalian. Aku ini baik sekali, kan?"

Mendengar nada bicara yang mengejek itu, Lagard mengerutkan dahi dan menatapnya tajam.

"Lalu kenapa kalau tujuh? Hal seperti itu tidak akan ketahuan kalau belum dicoba!"

"Benar. Jumlah ekor hanyalah hiasan semata!"

"Hoh, tatapan yang bagus. Sepertinya kalian bisa membuatku lebih bersenang-senang sedikit lagi."

Begitu Elba menyeringai, Lagard dan Noir melancarkan serangan secara bersamaan.

Karena pedang mereka sudah patah, keduanya menggunakan serangan cakar yang tajam hasil Beastification serta teknik tendangan dan bela diri lainnya. Namun, mereka sama sekali tidak bisa memberikan luka sedikit pun.

Elba membaca semua gerakan mereka. Dia tidak hanya menghindar, tapi sengaja menerima serangan itu sambil tersenyum licik.

Melihat gerakan mereka, sebuah pertanyaan muncul di benakku.

Mengapa tebasan pedang pertama tadi tidak melukai Elba sama sekali?

Padahal sekarang pun, serangan cakar Noir dan Lagard seharusnya jauh lebih tajam daripada pedang biasa.

"Mungkin itu adalah jenis teknik penguatan atribut tubuh yang disebut Vajra."

Seolah menyadari keraguanku, Ayah bergumam dengan suara pelan.

"Vajra?"

Saat aku bertanya balik, Ayah mengangguk dan menjelaskan sambil terus mengawasi gerakan cepat Elba dan yang lainnya.

Body Attribute Enhancement: Vajra adalah kombinasi antara bakat elemen Tanah dan Body Enhancement: Type 2.

Mana yang menyelimuti pengguna saat Vajra aktif memberikan efek peningkatan Defense tertinggi di antara berbagai penguatan atribut tubuh lainnya.

Jika Blaze adalah spesialis serangan, maka Vajra adalah spesialis pertahanan. Konsumsi mana saat mengaktifkannya seharusnya sangat besar, sama seperti Blaze. Namun, tidak terlihat tanda-tanda kelelahan sedikit pun pada Elba.

"Tapi, kalau begitu..."

Menyadari apa yang ingin kukatakan, Ayah memasang ekspresi serius.

"Umu. Bagi Noir dan Lagard yang sekarang, bahkan memberikan satu serangan balasan pun mungkin akan sangat sulit."

"Ma-mana mungkin!?"

Chris terbelalak cemas. Jika melihat sekeliling, Emma dan Diana pun memasang ekspresi penuh penyesalan.

"Menangis pun tidak akan mengubah keadaan. Nasib mereka berdua sudah ditentukan saat mereka memutuskan untuk berhadapan dengan Kakak."

Malbas menyeringai sambil melirik ke arah semua orang yang merasa khawatir.

"Kita belum tahu apa yang akan terjadi. Noir dan Lagard melayani keluarga Baldia sebagai ksatria. Sebaiknya Anda jangan terlalu meremehkan mereka."

Saat aku menatapnya tajam, dia hanya melirik sekilas, mendengus "Cih", lalu melipat tangan di dadanya.

Kedua orang itu punya 'kartu as', pertanyaannya adalah kapan mereka akan menggunakannya.

Saat aku memeriksa jam saku di balik pakaianku, tiga menit sejak pertarungan dimulai hampir berlalu.

Saat kembali menatap ke depan, Elba masih tertawa dengan tangan terlipat. Tidak ada tanda-tanda dia kelelahan. Lagipula, sejak awal Elba bahkan belum melakukan Beastification.

Sebaliknya, Noir dan Lagard sudah terengah-engah, jelas-jelas kehabisan tenaga. Itu pasti karena mereka terus mempertahankan wujud Beastification sambil menyerang secara membabi buta.

"Semangat, kalian berdua."

Tepat saat aku bergumam pelan, Elba perlahan melepaskan lipatan tangannya.

"Yah, sudah waktunya. Bersiaplah."

"Hah... hah... Bre-brengsek..."

Lagard yang terengah-engah mengumpat dengan kesal, sementara Noir menatap Elba seolah telah memantapkan sebuah tekad.

"Lagard. Mari kita lakukan."

"Eh!? Ta-tapi, kalau kita menggunakan itu di sini..."

"Tidak apa-apa. Aku serahkan segalanya padamu."

"……Aku mengerti."

Lagard mengangguk, lalu melangkah ke depan untuk melindungi Noir.

Akhirnya, mereka akan menggunakan 'itu'.

"Apa ini? Kalian mau memohon ampun?"

Saat Elba memiringkan kepalanya, Noir menangkupkan kedua tangannya seolah sedang berdoa. Sesaat kemudian, api biru yang disebut Will-o'-the-Wisp: Blue Flame meluap dari tubuhnya dan terbang ke angkasa.

"Lagard. Terimalah pelita api ini dariku."

Melihat kejadian di depan matanya, Malbas terbelalak kaget.

"Flame of the Will-o'-the-Wisp? Tidak mungkin. Klan itu seharusnya sudah musnah."

"Apa maksudmu dengan musnah?"

Apakah Noir berasal dari klan istimewa di antara ras rubah?

"……Ini adalah masalah internal suku kami, jadi aku menolak untuk menjawab."

Mendengar pertanyaanku, Malbas langsung bungkam. Dia sepertinya sadar baru saja salah bicara.

Pelita api biru yang terbang tadi kemudian mengalir masuk ke dalam tubuh Lagard, membuatnya diselimuti api biru dalam wujud Beastification. Inilah kartu as mereka berdua.

Sihir Flame of the Will-o'-the-Wisp yang diaktifkan Noir adalah 'sihir pendukung yang meningkatkan kemampuan target'.

Mereka juga menggunakannya saat kompetisi ikat kepala denganku dulu, tapi kekuatannya sekarang jauh berbeda dengan hasil latihan asal-asalan saat itu. Dengan menggunakan sihir tersebut, kemampuan Lagard saat ini bisa dibilang berada di peringkat teratas Ksatria Ordo Kedua.

"Lagard. Sisanya... aku serahkan padamu."

Mungkin karena seluruh tenaganya terkuras untuk mengaktifkan sihir itu, Noir yang napasnya tersengal langsung jatuh berlutut di tempat.

"Ya. Akan kuhajar Elba untukmu!"

Lagard menjawab dengan mantap, lalu menatap tajam ke arah Elba yang berdiri di depannya.

Di sisi lain, Elba sepertinya menyadari sesuatu dari perubahan mereka. Tiba-tiba kedua bahunya mulai bergetar hebat.

"Fuhahahahahaha! Nuhahahaha!"

Melihat tingkah laku Elba yang tiba-tiba tertawa aneh, semua orang di tempat itu merasa heran.

"A-apa yang lucu!?"

Saat Lagard yang menghadapinya berteriak murka, Elba terus tertawa sambil menggelengkan kepalanya.

"Bagaimana mungkin aku tidak tertawa? Begitu ya, jadi begitu. Benar-benar wasiat Gleas. Bukan, lebih tepat disebut hantu, ya? Baiklah, akan kuselesaikan ini dengan cepat. Ayo, serang aku!"

"Jangan meremehkanku! Jangan pikir aku sama dengan yang tadi!"

Lagard menerjang dengan kecepatan yang hampir tidak tertangkap mata, namun serangan cakarnya yang mengincar leher Elba hanya menebas udara.

"Apa!?"

Saat Lagard terbelalak, tangan Elba sudah mencengkeram bagian belakang kepalanya dari belakang.

"Kau masih sama saja seperti tadi. Bodoh."

Tanpa ampun, Elba menghantamkan Lagard ke tanah. Saking kuatnya dampak benturan tersebut, tanah di sekitar mereka sampai ambles. Suara dentuman keras bergema, dan debu tebal terbang ke angkasa.

"Gwaaaaaaaaaa!"

Di tengah jeritan pedih Lagard, Elba memasang senyum dingin.

"Nah, bagaimana? Apa kau mau dihancurkan dengan mengenaskan seperti serangga begini? Atau mau memohon ampun dengan memalukan sambil merangkak di tanah? Silakan pilih salah satu, karena aku ini seorang pria sejati."

"Ja-jangan bercan—Gwaaaaaaaa!"

"Kuku, bagus, lagi! Ayo berteriak lebih keras, biarkan suara sekaratmu bergema!"

Elba tertawa keras sambil terus menambah tekanan tangannya ke tanah. Suara Lagard pun menjadi semakin menyakitkan untuk didengar.

Tanpa kusadari, api biru yang menyelimuti Lagard mulai meredup. Jika api itu menghilang, efek peningkatan kemampuannya akan lenyap. Jika itu terjadi, Lagard tidak akan sanggup menahan situasi ini, dan dalam skenario terburuk, dia bisa mati.

"Ini keterlaluan! Pemenangnya sudah jelas, kan!?"

Chris berteriak keras melihat pemandangan yang mengerikan itu, namun Malbas hanya memiringkan kepala.

"Hah? Apa maksud Anda pemenangnya sudah jelas?"

"Anda bisa melihatnya sendiri, kan!? Aku bilang tidak perlu ada pertarungan lebih lanjut lagi!"

"Nona Chris. Mohon maaf, tapi ini bukan 'pertandingan' untuk menentukan menang atau kalah. Ini adalah 'pertarungan pribadi' untuk membalas dendam atau dibalas dendam. Mereka yang mengajukannya, dan Kakak menerimanya. Sekarang sudah terlambat untuk mengharapkan penyelesaian tanpa ada yang tewas."

Dia menggelengkan kepalanya dengan gaya seolah merasa lelah.

"Memang benar mereka yang mengajukan 'pertarungan pribadi'. Tapi mereka berdua masih anak-anak. Ditambah lagi, mereka adalah ksatria dan rakyat yang melayani keluarga Baldia. Jika Anda mempertimbangkan hal itu demi masa depan kedua keluarga, seharusnya ada cukup ruang untuk keringanan hukuman."

Saat aku memprotes, dia berpura-pura berpikir dengan gaya yang dibuat-buat, lalu bergumam "Hmm".

"Aku mengerti perasaan Tuan Reed. Yah, kalau mau menghentikannya silakan saja sesuka hati Anda. Namun, jika itu terjadi, maka artinya keluarga Baldia telah mencampuri urusan internal ras rubah kami. Tolong jangan lupakan hal itu."

"Apa...!?"

Malbas tersenyum seolah telah menang.

Pada saat itu, aku menyadari sesuatu. Sejak awal orang-orang ini tidak berniat melakukan negosiasi yang benar; tujuan utama mereka adalah memprovokasi kami habis-habisan.

Tujuan di balik itu pastilah untuk mendapatkan alasan kuat yang menguntungkan keluarga Grandork agar bisa bermusuhan dengan keluarga Baldia. Jika tidak, tidak akan ada orang yang menginginkan penyelesaian lewat 'kematian' yang secara drastis akan memperburuk hubungan kedua belah pihak.

"K-kurang ajar..."

Tepat saat aku mengepalkan tangan karena marah, sebuah tangan menyentuh bahuku. Saat aku menoleh, Ayah menggelengkan kepalanya pelan.

"Tuan Malbas, aku ingin bertanya untuk memastikan. Tuan Elba akan 'membunuh' ksatria yang melayani keluargaku meski ini pertarungan pribadi. Aku boleh menganggap ini sebagai konsensus keluarga Grandork, dengan memahami sepenuhnya hasil apa yang akan dibawa bagi kedua keluarga, bukan?"

"Fufu, benar sekali. Silakan anggap seperti itu."

Tepat saat suasana mencekam menyelimuti Ayah dan Malbas, teriakan pedih Lagard kembali terdengar.

"Lagard!"

Aku mencoba melompat untuk membantunya, namun Noir berteriak keras, "Mohon tunggu!".

"Tuan Reiner, Tuan Reed! Ini adalah pertarungan pribadi kami! Kami tidak akan menyesal meski harus mati! Mohon... mohon jangan ikut campur!"

Mendengar suaranya yang penuh keputusasaan, gerakanku tertahan secara spontan. Namun, Elba justru mulai tertawa mendengar kata-kata Noir.

"Tidak menyesal meski mati, ya? Kalau begitu, akan kuberikan informasi sebagai bekal ke akhirat."

Sambil berkata demikian, dia menyeret Lagard yang kepalanya masih dicengkeram, mendekat ke depan Noir, lalu mencondongkan wajahnya.

"Gleas, pria itu benar-benar bodoh. Jika dia mau bekerja di bawahku, aku tidak berniat mengambil nyawanya. Tapi dia menolak peringatanku dengan alasan 'hidup demi rakyat' dan malah memimpin pemberontakan. Dan akhirnya dia gagal. Hasilnya, mulai dari istrinya yang sedang hamil sampai semua orang yang terlibat pengkhianatan, seluruh garis keturunannya dimusnahkan. Bahkan mereka yang bekerja di kediamannya pun semuanya dieksekusi mati."

"No-Noir... jangan dengarkan dia. Ti-tidak ada bukti kalau dia bicara jujur!"

Lagard berusaha sekuat tenaga mengangkat wajahnya meski kepalanya ditahan, menatap tajam ke arah Elba dari sudut matanya.

"Hoh, itu menyakitkan hati. Tapi, asal kau tahu..."

Elba menyeringai licik.

"Kau sendirilah yang merencanakan pemberontakan tanpa perhitungan itu, hingga menyeret seluruh garis keturunanmu ke jurang kehancuran. Kalau kau memang menyayangi keluarga dan klanmu, kau seharusnya menahan napas dan hidup dalam persembunyian, betapapun hinanya itu. Tapi kau malah memberontak. Artinya, kalian yang selamat ini telah dibuang olehnya."

"Ja-jangan bicara sembarangan. Mereka adalah..."

Tepat saat Lagard hendak membantah, Elba kembali menghantamkannya ke tanah.

"Ughaa!?"

"Aku sedang bicara, jangan memotong."

"Lagard!?"

Noir meneriakkan namanya, tapi Elba mencengkeram dagu gadis itu dan memaksanya untuk saling tatap.

"Lagipula, fakta bahwa kau ada di sini berarti ibumu sudah mati, kan?"

Mata Noir berkaca-kaca, dia menatap Elba dengan tatapan penuh kebencian dan kepedihan.

"Tapi, cara matinya sudah bisa ditebak. Demi sedikit uang dan makanan, dia pasti menjual tubuhnya dengan hina, kurus kering dengan cara yang menjijikkan, lalu mati dalam kesia-siaan. Kasihan sekali. Memiliki orang tua bodoh hanya akan membuat penderitaan turun ke anaknya. Yah, anak memang tidak bisa memilih orang tua, sih."

"Ibuku... jangan berani-berani menghina ibuku!"

Noir membalas dengan teriakan penuh keputusasaan. Suaranya bergetar hebat.

"Ibu selalu bilang, Ayahku bangkit untuk menyelamatkan rakyat yang menderita. Ayah yang berani mempertaruhkan nyawa demi orang lain adalah kebanggaan Ibu. 'Jangan biarkan tekad Ayahmu padam,' katanya, sambil berjuang mati-matian melindungiku. Jangan... jangan berani menghina keluargaku!"

"Itulah yang kusebut bodoh. Rakyat, kebanggaan, keluarga. Karena pemikiran dungu seperti itulah dia mati dengan mengenaskan."

Elba mendengus dan meludah, lalu melempar Lagard ke arah Noir dengan sembarangan.

"Auh!?"

Elba menatap ke bawah ke arah mereka berdua yang terkapar bertumpukan, seolah-olah dia sudah bosan.

"Sepertinya 'tekad' yang dikatakan ibumu itu akan berakhir di sini."

Sambil berkata demikian, dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, menciptakan kobaran api hitam yang bergoyang pekat.

"Bersyukurlah, kalian akan mati terbakar oleh Black Flame ini, sama seperti Gleas."

Jika dibiarkan, mereka berdua akan dibunuh. Saat pikiran itu melintas, tanpa sadar tubuhku bergerak sendiri.

"Cukup sampai di sana, Elba!"

"Ngh...!?"

Menyadari hawa keberadaanku, Elba secara refleks menggunakan Black Flame di tangan kanannya untuk menangkis Fire Spear yang kulepaskan. Seketika, ledakan keras dan debu tanah membubung tinggi. Dari balik kabut asap yang pekat, Elba muncul dengan seringai lebar di wajahnya.

"Apa maksudnya ini, ReedBaldia?"

"Aku tidak akan membiarkanmu membunuh mereka. Kalau kau masih ingin lanjut, akulah lawanmu."

"Hoh. Menarik juga."

Saat pria itu menyahut, Malbas melompat maju sambil merentangkan kedua tangannya.

"Anda melakukan tindakan yang cukup kasar, ya. Seperti yang kukatakan tadi, ini berarti keluarga Baldia telah mencampuri urusan internal ras rubah. Anda sadar akan hal itu, kan?"

"Anda bicara hal yang aneh sekali. Sudah kukatakan berkali-kali, Noir dan Lagard adalah ksatria dan rakyat yang melayani keluarga Baldia. Mengabaikan status mereka dan memaksakan kepentingan negara Anda kepada keluarga kami yang berada di bawah naungan Kekaisaran, itulah yang disebut campur tangan urusan internal. Ini bukan wilayah Negara Beastman. Apa Anda melupakan hal mendasar seperti itu?"

"A-apa...!?"

Sepertinya tidak menyangka akan dibalas telak, Malbas terbelalak.

"Kami sudah mencoba bersabar demi hubungan kedua negara, demi perasaan mereka berdua, dan demi posisi Anda sekalian. Tapi Anda malah bertindak semena-mena. Ini adalah diplomasi yang sangat kekanak-kanakan, aku sampai kehilangan kata-kata saking herannya."

"Kau... kau berani-beraninya—!"

Gemetar karena amarah, Malbas mendekati Ayah dengan aura yang sangat mengintimidasi.

"Tuan Reiner! Meskipun dia putramu, penghinaan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja!"

"Tuan Malbas. Aku minta maaf jika kata-katanya terdengar agak kasar karena dia berusaha menjelaskan dengan cara yang mudah dimengerti. Namun, apa yang dikatakan Reedsecara garis besar adalah fakta. Lagipula, jika kau bicara soal penghinaan, bagaimana kalau kau berkaca dulu pada ucapan kalian terhadap kami sedari tadi?"

"A-apa katamu?"

Saat Malbas tertegun melihat balasan tegas Ayah, Elba mulai tertawa terbahak-bahak.

"Begitu ya. Alasan keluarga Baldia juga ada benarnya. Baiklah kalau begitu..."

Sambil berkata demikian, dia menunjukku dengan jari telunjuk kanannya.

"ReedBaldia. Jika kau bisa memberiku luka gores sedikit saja, aku akan menganggap masalah pertarungan pribadi ini selesai. Kami akan mundur dengan tenang."

"Kakak! Mereka itu sisa-sisa kelompok pemberontak!"

Malbas membelalakkan mata sambil menunjuk Noir dan Lagard. Namun, Elba hanya meliriknya dengan tajam.

"Diamlah sebentar."

"Ma-maafkan saya."

Setelah Malbas membungkuk ketakutan, Elba menyeringai ke arahku.

"Ayo, ReedBaldia. Kemarilah. Kau mau jadi lawanku, kan?"

"Baiklah."

Saat aku hendak melangkah, Ayah merentangkan lengannya di depanku untuk menghentikanku.

"Jangan memutuskan sendiri. Tuan Elba, sebagai kepala keluarga Baldia, akulah yang akan menjadi lawanmu."

"Tuan Reiner. Sayang sekali, tapi bocah itu sudah bicara besar padaku. Aku tidak akan terima jika lawannya bukan ReedBaldia."

Elba tertawa serak sambil menggelengkan kepalanya.

"Kau...!"

Di tengah ketegangan antara mereka berdua, aku menyelinap di bawah lengan Ayah dan maju ke depan.

"Jika aku menghadapinya, situasi ini akan mereda untuk sementara. Inilah titik kesepakatan terbaik untuk saat ini. Tenang saja, aku tidak akan melakukan hal yang nekat."

Ayah mengernyitkan wajah, tapi tak lama kemudian beliau menghela napas panjang.

"Jangan memaksakan diri. Jika terjadi sesuatu, aku akan segera menghentikannya."

"Iya. Mohon bantuannya."

Aku mengangguk sambil tersenyum, lalu segera berlari menuju Noir dan Lagard yang terkapar. Noir sedang memeluk Lagard yang penuh luka dengan sangat erat sambil menangis.

"Kalian berdua, apa kalian baik-baik saja?"

"Iya... tapi gara-gara aku, Lagard jadi begini..."

Dia menjawab di sela isak tangisnya, lalu menunduk penuh penyesalan.

"Tu-Tuan Reed. Maafkan saya sudah merepotkan Anda."

Lagard menatapku dengan napas yang tersengal. Aku bisa melihat berbagai emosi yang rumit bercampur di dalam matanya.

"Benar sekali. Tapi syukurlah kalian selamat."

Aku sengaja menjawab dengan nada bercanda sambil tersenyum, lalu mengelus kepala mereka dengan lembut.

"Oke. Ayo pergi dari sini. Noir, kau bisa bergerak?"

"I-iya. Sebisa mungkin."

Aku menerima Lagard dengan hati-hati dari pelukannya, lalu mengangkatnya dengan kedua tanganku.

Gaya menggendong tuan putri, begitulah sebutannya. Tak lama kemudian, Emma dan Diana berlari mendekat.

"Tuan Reed. Biar kami yang urus sisanya."

"Ya, tolong ya."

Aku mengangguk mendengar ucapan Emma, lalu dia mengambil alih Noir dalam gendongannya.

"A-anu. Saya bisa berjalan sendiri."

Melihat Noir yang kebingungan, Emma menggelengkan kepala.

"Bahaya jika terjadi sesuatu, dan kau juga tidak bisa lari, kan? Kalau tetap di sini, kau hanya akan mengganggu Tuan Reed."

Sambil melirik interaksi Emma dan Noir, aku menyerahkan Lagard kepada Diana.

"Segera bawa mereka untuk diperiksa oleh Sandra."

"Dimengerti."

Diana membungkuk sambil menggendong Lagard, lalu segera berlari menuju kediaman. Emma yang menggendong Noir menyusul dari belakang. Sambil mengepalkan tangan dan melepas kepergian mereka, sebuah suara terdengar dari belakangku.

"Sudah selesai membersihkan sampahnya?"

"Fuu."

Sambil menghela napas, aku berbalik perlahan.

"Seperti yang kukatakan, akulah lawanmu."

"Akhirnya."

Elba melipat tangannya perlahan sambil tertawa serak.

"Sama seperti mereka, kuberikan waktu tiga menit dulu. Ayo, buat aku bersenang-senang semaksimal mungkin."

"Begitu ya. Kalau begitu, aku tidak akan sungkan-sungkan."

Aku mengaktifkan Body Enhancement: Type 2 dan secara instan memperpendek jarak.

Meski menyebalkan, faktanya Elba sangat kuat. Aku yang sekarang mungkin tidak akan bisa menang. Tapi, jika dia sedang lengah seperti sekarang, 'memberinya luka' seharusnya bisa kulakukan.

"Ngh...!?"

Sepertinya menyadari sesuatu, Elba mengernyitkan dahi.

"Aku tidak akan menahan diri. Sejak awal aku akan mengeluarkan segalanya!"

Aku berteriak dan mengaktifkan Body Attribute Enhancement: Blaze. Kemudian, aku melepaskan sihir yang selama ini diam-diam kukompres di dalam kedua kepalan tanganku.

"Spiral Spear!"

"A-apa ini!?"

Elba menyilangkan tangannya untuk menahan Spiral Spear, tapi dia terpental ke belakang karena tekanannya. Namun, itu bukanlah sihir yang bisa ditangkis semudah itu.

Blaze yang diajarkan Ayah tidak hanya meningkatkan kemampuan fisik, tapi juga memperkuat kekuatan sihir atribut api. Artinya, kekuatan Spiral Spear yang merupakan campuran tombak sihir dari seluruh atribut juga ikut meningkat.

Sejak penyerangan terhadap Baldia, aku telah meningkatkan intensitas pelatihan bela diri dan sihirku. Meski hanya dalam waktu singkat, kekuatannya seharusnya sudah jauh berbeda dari sebelumnya.

Tak lama kemudian, terjadi ledakan hebat di titik Elba terpental, menyebabkan suara dentuman dan angin kencang menerjang sekeliling.

"Hah... hah..."

Karena hampir seluruh mana-ku terkuras, aku jatuh bertumpu pada satu lutut.

Kombinasi antara Spiral Spear daya maksimal dan Blaze memang memberikan beban yang sangat besar pada tubuh. Ini akan menjadi PR bagiku ke depannya. Sambil memikirkan hal itu, aku terus menatap ke arah ledakan.

Orang yang mampu menekan Lagard dalam kondisi diperkuat Flame of the Will-o'-the-Wisp tidak mungkin kalah hanya dengan serangan tadi.

Benar saja, dari balik asap yang mengepul, sosok Elba samar-samar terlihat. Namun, jika dilihat baik-baik, aku bisa melihat tujuh bayangan yang bergerak perlahan di belakangnya.

"Tak kusangka kau bisa memaksaku masuk ke wujud Beastification."

"Jadi itu Golden Fox berekor tujuh, ya?"

Elba yang muncul dari balik asap ledakan telah diselimuti bulu berwarna emas. Namun, penampilannya tidak terasa agung, melainkan terasa seperti perwujudan dari nafsu dan aura jahatnya.

"Sihir tadi lumayan kuat juga. Sekarang, biarkan aku memperlihatkan sihirku padamu."

"Tiga menit. Bukannya kau bilang tidak akan menyerang?"

Aku berdiri sambil mengatur napas dan memasang kuda-kuda, menatap tajam ke arah Elba yang mendekat.

"Karena kau di luar dugaanku, kuberikan diskon waktu tiga menit. Lagipula..."

Dia menatapku seolah merendahkan, lalu melepaskan wujud Beastification-nya.

"Apa maksudnya ini?"

"Wujud ini sudah lebih dari cukup untuk menghadapi kau yang sudah kelelahan. Ayo, coba bertahanlah."

Elba berkata demikian, lalu mengangkat tangan kanannya dan menyelimuti seluruh lengan kanannya dengan Black Flame. Merasakan aura mana yang sangat jahat itu, keringat dingin mulai mengucur di punggungku.

"Itu... sepertinya sangat berbahaya."

Mendengar gumamanku, pria itu tertawa licik.

"Terimalah!"

Elba mengayunkan lengan kanannya ke bawah, menembakkan Black Flame yang menyelimuti lengannya ke arahku. Suara menderu terdengar saat kobaran api hitam yang mengerikan terbang lurus seperti sinar laser.

"Hanya serangan seperti ini...!"

Aku berteriak untuk menyemangati diri sendiri, lalu mengerahkan seluruh sisa mana-ku untuk membentangkan Magic Barrier.

Aku pasti akan menahannya. Tepat saat aku memantapkan tekad, sebuah bayangan muncul di depanku.

"Ayah!?"

Aku terbelalak melihat punggung lebar yang sangat kukenal itu.

"Reed, kau sudah berjuang dengan sangat baik."




Ayah tetap menghadap ke depan, lalu dengan tenang mencabut pedangnya dan menebas kobaran api hitam yang menerjang. Seketika, suara guntur menggelegar dan angin kencang bertiup dengan dahsyatnya.

Tanpa kusadari, rambut belakang Ayah yang biasanya terikat rapi kini terurai bebas. Penampilannya persis seperti saat beliau mengajariku Body Attribute Enhancement: Blaze dulu.

Namun, atmosfernya benar-benar berbeda. Aura membunuh meluap dari punggungnya; beliau bukan lagi sosok Ayah yang lembut, melainkan sosok yang sangat mengerikan.

"Hoh. Meskipun aku sudah menahan diri, kau bisa menetralkan Black Flame hanya dengan satu tebasan. Benar-benar luar biasa, Tuan Reiner sang Pedang Kekaisaran. Tapi, apa maksud dari tindakanmu ini?"

Tanpa menjawab pertanyaan Elba, Ayah menyarungkan kembali pedangnya. Namun, sorot matanya tetap tajam dengan aura membunuh yang masih membara.

"Bukannya kau sendiri yang mengatakannya? 'Jika bisa memberi luka gores sedikit saja, maka masalah pertarungan pribadi ini akan dianggap selesai dan kalian akan mundur'."

Ayah berkata demikian sambil menunjuk ke arah lengan Elba.

"Lihatlah kedua lenganmu, maka semuanya akan jelas. Dalam duel ini, serangan yang dilepaskan Reedtadi sudah menentukan hasilnya."

Aku tersentak mendengar teguran itu. Saat Elba dalam wujud Beastification, aku tidak menyadarinya. Namun jika diperhatikan baik-baik, kini terlihat darah merembes dari kedua lengannya.

"Kau terluka, itu artinya kau 'kalah'. Sesuai janji, silakan angkat kaki dari sini. Jika kau berniat mengingkari janji itu, maka akulah yang akan menjadi lawanmu."

Ayah mencengkeram gagang pedangnya dan menatap Elba dengan tajam. Pria itu menatap kedua lengannya perlahan, lalu mengangguk kecil.

"Tuan Reiner benar. Sepertinya aku sudah terlalu terbawa suasana. Dalam duel ini, Tuan Reed-lah pemenangnya."

Elba menyeringai, lalu berbalik dan mulai berjalan pergi.

"Malbas, kita pergi."

"Ba-baik!"

Dengan Malbas yang mengekor di belakangnya dengan panik, Elba meninggalkan lapangan latihan sambil tertawa senang.

Sambil menatap kepergian mereka, Ayah merapikan kembali rambutnya dan meludah dengan kesal.

"Dasar penjahat kelas teri..."

"Reed. Aku akan mengantar mereka sekaligus mengawasi sampai mereka benar-benar pergi. Kau istirahatlah di sini."

"Tidak, aku juga ikut. Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan orang-orang itu."

"Begitu ya. Tapi, jangan memaksakan diri."

Setelah merapikan penampilanku yang agak berantakan, aku menyusul mereka bersama Ayah.

Setibanya di depan kereta kuda, Elba menatap kami berdua sambil menyeringai tipis.

"Sudah kubilang, kan? Kami akan mundur dengan tenang. Kalau begitu, Tuan Reiner, Tuan Reed. Kita pasti akan bertemu lagi suatu saat nanti. Aku menantikan momen itu. Ayo, Malbas."

"Kalau begitu, kami permisi."

Begitu Elba dan Malbas masuk ke dalam kereta, Dainas dari Ksatria Baldia mendekat ke arah kami.

"Tuan Reiner. Izinkan kami mengawal mereka sampai ke perbatasan."

"Umu. Jangan lengah sedikit pun."

"Dimengerti!"

Dainas mengangguk dengan ekspresi yang jauh lebih serius dari biasanya. Kereta yang membawa Elba dan rombongannya pun berangkat dengan dikawal oleh para Ksatria Baldia.

Saat mereka datang, suasananya sangat formal dengan prinsip 'jangan sampai tidak sopan pada tamu'. Namun sekarang, suasananya berubah total menjadi ketegangan 'mengawasi sebuah ancaman'.

Aku dan Ayah tetap waspada sampai kereta yang membawa Elba tidak lagi terlihat di cakrawala. Setelah kereta itu benar-benar menghilang, Ayah menghela napas pendek.

"Reed, apa tubuhmu benar-benar tidak apa-apa?"

"Iya. Aku memang kehabisan banyak mana, tapi pada akhirnya Ayah melindungiku."

Melihatku bergerak dengan lincah, Ayah meletakkan tangannya dengan lembut di atas kepalaku.

"Begitu ya. Syukurlah kalau begitu. Kau sudah berjuang keras melawan penjahat itu, kau terlihat sangat keren tadi."

"I-iya. Terima kasih banyak."

Dipuji secara tiba-tiba membuat wajahku terasa agak panas. Saat aku menggaruk pipi untuk menutupi rasa malu, ekspresi Ayah kembali menjadi serius.

"Meski aku sudah menduga pertemuan ini akan sulit, aku tidak menyangka keluarga Grandork akan mengambil sikap sekeras itu."

"Benar. Sepertinya mereka sama sekali tidak berniat untuk berkompromi. Melihat perilaku mereka, mungkinkah tujuan pertemuan ini memang untuk mempertegas permusuhan dengan keluarga Baldia?"

Kemarahan kembali memuncak saat aku mengingat tingkah semena-mena Elba. Namun di saat yang sama, rasa cemas membayangi benakku saat memikirkan apa yang mungkin terjadi setelah 'permusuhan' ini dideklarasikan.

"Kemungkinan besar begitu. Tapi, ini bukan hal yang pantas dibicarakan sambil berdiri. Mari kita kembali ke kediaman dan merencanakan langkah selanjutnya."

"Baik, aku mengerti."

Begitu aku kembali ke kediaman bersama Ayah, terdengar suara langkah kaki kecil yang berlari ke arah kami. Sang pemilik langkah kaki itu langsung menghambur ke arahku begitu melihatku.

"Kakak!"

"O-oops!?"

Aku menangkapnya dengan kedua tanganku, lalu berputar sekali di tempat untuk meredam momentumnya.

"Mel, ada apa?"

"Ehehe. Kakak! Tadi Kakak keren sekali!"

"Eh, maksudnya?"

Saat aku masih bingung mencerna perkataannya, Mel melepaskan pelukannya dariku dan berganti memeluk Ayah.

"Tentu saja, Ayah juga keren sekali!"

"U-umu."

Meskipun Ayah mengangguk senang, beliau sepertinya juga tidak paham maksud perkataan Mel. Saat kami berdua sedang memiringkan kepala kebingungan, terdengar lagi suara langkah kaki.

"Tuan Reed."

"Farah. Semuanya juga ada di sini, ada apa?"

Saat aku menoleh, bukan hanya Farah yang ada di sana. Asna, Danae, dan seluruh penghuni kediaman lainnya juga datang berkumpul. Farah yang memasang wajah cemas melangkah maju dan memelukku.

"A-ada apa ini?"

"Duel di lapangan latihan tadi... kami semua mengawasinya dari sini. Syukurlah Anda baik-baik saja."

"Ah..."

Mendengar kata-katanya, aku langsung mengerti.

Dari beberapa jendela di bangunan utama, aktivitas di lapangan latihan memang bisa terlihat dari kejauhan. Duel tiba-tiba dengan Elba tadi pasti membuat mereka yang tidak ikut dalam pertemuan merasa sangat khawatir.

"Maaf ya, sudah membuat kalian cemas."

Saat aku meminta maaf dengan suara pelan, Farah menggelengkan kepalanya.

"Tuan Reedtidak perlu meminta maaf. Kami sudah mendengar garis besar masalahnya. Ini hanyalah 'keegoisanku' semata."

Meskipun masih kecil, dia tetaplah mantan anggota keluarga kerajaan. Dia pasti paham bahwa peran bangsawan adalah 'mempertaruhkan nyawa demi melindungi negara, wilayah, dan rakyatnya'.

"Begitu ya. Terima kasih."

Tepat saat aku menepuk punggungnya dengan lembut, terdengar suara dehaman Ayah yang dibuat-buat.

"Reed. Sepertinya sudah waktunya kita pergi ke ruang kerja."

Aku dan Farah tersentak, lalu segera melepaskan pelukan dengan panik.

"Ba-baik!"

"Mo-mohon maaf, Ayah mertua!"

Melihat kami berdua menunduk dengan wajah memerah, Ayah hanya menyeringai nakal.

"Yah, tidak buruk juga melihat kalian begitu akrab. Aku pergi ke ruangan duluan, ya."

Ayah mengelus kepala Mel, lalu mulai berjalan menuju ruang kerja.

"Baik, aku akan segera menyusul!"

Setelah menjawab, aku kembali menatap Farah.

"Kalau begitu, sampai nanti ya."

"Baik. Ah, selain itu, saya membawakan ini untuk Anda."

Farah mengangguk, lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan 'sesuatu'. Melihat benda yang sangat kukenal itu, aku langsung bergidik.

"Itu... 'cairan murni' yang itu, kan?"

Tentu saja, itu adalah cairan murni dari ramuan pemulih mana.

Farah mengangguk dengan senyum lebar di wajahnya.

"Tadi Anda melepaskan sihir yang luar biasa di lapangan latihan. Setelah ini Anda masih harus melakukan rapat, kan? Kalau begitu, ini adalah benda wajib."

Gayanya saat memberikan ramuan itu persis seperti memberikan minuman penambah energi. Apa yang dia katakan memang benar, tapi masalahnya, rasa ramuan itu benar-benar mengerikan. Jika memungkinkan, aku ingin meminumnya nanti saja, tapi aku tidak bisa mengabaikan niat baik Farah.

"Terima kasih. Akan kuminum."

"Silakan, selamat menikmati."

Aku menerima 'cairan murni' itu, lalu memantapkan tekad dan meminumnya sekaligus dalam satu tegukan. Karena ada seluruh penghuni kediaman di sini, aku tidak boleh memperlihatkan wajah yang memalukan.

"Fuu... Terima kasih. Kalau begitu, aku pergi dulu."

Begitu aku menyerahkan botol kosongnya, Farah menyipitkan mata dan mengangguk puas.

"Baik. Selamat bertugas."

Dengan sisa tenaga, aku tersenyum ramah kepada semua orang yang ada di sana, lalu segera mengejar Ayah. Setibanya di ruang kerja, hal pertama yang kulakukan adalah meminum air putih sebanyak-banyaknya.

Keluarga Baldia dari Kekaisaran dan keluarga Grandork dari Negara Beastman.

Di titik perbatasan yang memisahkan wilayah kedua keluarga tersebut, terdapat sebuah 'Benteng' yang dibangun oleh keluarga Baldia.

Di sekeliling benteng tersebut terbentang dataran tinggi, namun jika berjalan ke arah kiri atau kanan, wilayahnya akan dikelilingi oleh hutan lebat serta bukit-bukit dengan berbagai ukuran.

Jika dilihat dari tempat yang agak tinggi, benteng itu tampak terjepit di sela-sela bukit yang tertutup hutan rimbun. Karena letaknya yang berada tepat di perbatasan kedua wilayah, benteng ini dijuluki 'Benteng Hazama' (Benteng Celah).

Sore itu saat matahari mulai terbenam, sebuah kereta kuda besar yang dikelilingi oleh Ksatria Ordo Baldia tiba di Benteng Hazama.

Dari kejauhan, para ksatria itu tampak seperti sedang mengawal kereta tersebut. Namun jika dilihat dari dekat, akan terlihat jelas bahwa para ksatria itu sedang mengawasi kereta dengan aura yang sangat waspada.

Rombongan itu berhenti setelah masuk ke dalam Benteng Hazama. Salah satu ksatria mendekati kereta dan mengetuk pintunya dengan sopan.

"Tuan Elba, Tuan Malbas. Wilayah di depan adalah wilayah ras rubah milik Anda sekalian, jadi tugas kami berakhir sampai di sini."

"Begitu ya. Terima kasih atas kerja kerasnya."

Tepat saat Malbas yang berada di dalam kereta mengangguk datar, Elba menatap ksatria itu dan menaikkan alisnya.

"Siapa namamu?"

"Nama saya Kross."

Elba mengangguk kecil.

"Nama yang sepertinya pernah kudengar di suatu tempat."

"Tuan Elba. Mohon maaf, itu mungkin karena nama saya adalah nama yang sangat pasaran."

Mendengar jawaban Kross, Elba mengangkat bahu dan mendengus.

"Mungkin saja. Kalau begitu, sampaikan salamku kepada orang-orang di keluarga Baldia."

"Akan saya sampaikan."

Kross menelan kata-kata 'memangnya kau punya muka untuk bicara begitu' dan hanya membungkuk hormat.

Tak lama kemudian, kereta yang membawa Elba dan rombongannya bergerak meninggalkan Benteng Hazama. Begitu kereta memasuki wilayah ras rubah, Elba yang berada di dalam kereta menatap Malbas dan mulai tertawa.

"Kau sepertinya tidak puas, ya?"

Malbas memanyunkan bibirnya dan merentangkan tangan dengan nada emosional.

"Tentu saja! Meskipun hanya secara formal, Kakak telah mengakui kekalahan dari bocah seperti itu. Dan karena itu, pembersihan sisa-sisa pemberontak jadi tidak jelas hasilnya. Bukankah ini sama saja seperti kita pulang dengan ekor terlipat?"

"Jangan bicara begitu. Kita sudah tahu dari awal bahwa pertemuan ini akan berakhir dengan perselisihan. Begitu Reiner muncul, sudah saatnya kita mundur. Karena sekarang memang belum waktunya."

"Kakak sepertinya terlihat sangat senang, ya?"

"Fufu, apa terlihat seperti itu?"

"Ternyata benar, Anda menyukai bocah itu... ReedBaldia."

"Yah, begitulah kira-kira."

Elba menatap luka di kedua lengannya.

"Pantas saja Rapha sampai meliriknya. Masa depannya sangat patut dinantikan. Namun, justru karena itulah aku merasa sayang."

"Sayang? Apa maksudnya?"

"Sepuluh tahun."

"Hah? Sepuluh tahun?"

Melihat Malbas yang memiringkan kepala, Elba menyeringai.

"Sepuluh tahun lagi. Jika dia punya waktu sebanyak itu, Reedmungkin bisa mendapatkan kekuatan yang setara denganku. Jika harus menghancurkannya sekarang, rasanya akan hambar dan membosankan. Itulah yang kusayangkan."

"Begitu rupanya. Benar-benar sesuai dengan gaya Kakak."

Merasa puas dengan jawaban Elba, senyum muncul di wajah Malbas. Namun tak lama kemudian, ekspresinya kembali mendung saat teringat sesuatu.

"Kakak. Ngomong-ngomong, bagaimana pandanganmu terhadap Reiner Baldia?"

"Ah, dia ya..."

Sambil mengingat kembali saat dia saling tatap dengan Reiner, Elba membuka mulutnya perlahan.

"Mungkin dia lebih kuat daripada Gleas. Tapi, dia masih lebih lemah dariku. Kira-kira begitulah."

"Ooh...!"

Mendengar kekaguman Malbas, Elba melanjutkan.

"Lagi pula, jika keadaan mendesak, aku tinggal bekerja sama dengan Ayah atau kalian. Dengan begitu, Reiner pasti bisa kita habisi dengan pasti."

"Saya mengerti. Kalau saat itu tiba, kami akan menyiapkan segalanya dengan sempurna."

Saat Malbas tersenyum dan membungkuk, Elba menyipitkan matanya.

"Nah, mulai sekarang kita akan sangat sibuk."

"Ya, saya mengerti. Selanjutnya adalah tahap provokasi, kan?"

Elba mengangguk mantap mendengar konfirmasi Malbas.

"Benar. Kita akan memanfaatkan jaringan koneksi yang telah kita bangun untuk melakukan provokasi besar-besaran agar keluarga Baldia terisolasi. Tentu saja, melalui 'Robe', kita juga akan meminta 'Pria itu' untuk bergerak demi kepentingan kita."

Elba menatap jauh ke luar jendela kereta sambil tertawa serak.

"Nah, sekaranglah pertunjukan yang sesungguhnya dimulai."

Hampir bersamaan dengan berakhirnya percakapan mereka, matahari telah tenggelam sepenuhnya, menyelimuti sekeliling dengan kegelapan malam.

Hari itu, pertemuan antara keluarga Baldia dan keluarga Grandork berakhir dengan kegagalan total. Dan fakta kegagalan tersebut mulai menimbulkan riak dan gelombang di berbagai tempat.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close