Chapter 8
Kemenangan Gemilang Reed
Pertempuran
Benteng Hazama berakhir dengan kemenangan Baldia, namun pergerakan setelahnya
sangatlah sibuk.
Pada hari itu
juga, Ayah memimpin Dainas dan para ksatria yang masih sanggup bergerak untuk
berangkat menuju Forneu, ibu kota wilayah suku Foxman, bersama Amon dan Rapha.
Para ksatria klan
dan prajurit suku Foxman yang berkumpul di medan perang pun turut mundur
mengikuti Amon.
Jenazah 'Gareth
Grandoke' yang ditumbangkan oleh Ayah dan Amon diperlakukan dengan penuh
hormat. Kabarnya, upacara pemakaman kepala suku akan diadakan di ibu kota suku Foxman.
Dengan Amon yang
memimpin pemakaman mantan kepala suku tersebut, pergantian kekuasaan akan
diumumkan secara resmi kepada rakyat suku Foxman, negara-negara tetangga, serta
suku-suku lainnya.
Selain itu, hal
ini juga bertujuan untuk menunjukkan bahwa keluarga Baldia adalah pendukung
utama Amon, sekaligus mempertegas hubungan baru antara kedua belah pihak.
Sementara itu,
aku sendiri—setelah mengantar keberangkatan Ayah dan yang lainnya—memulai
perjalanan pulang menuju kediaman utama keluarga Baldia bersama para korban
luka, anggota Ksatria Orde Kedua, serta Mel dan Chris.
Benteng Hazama
yang baru saja kehilangan komandannya, Cross, kini diserahkan kepada Rubens
yang memiliki posisi sama dengannya sebagai wakil komandan.
Sebagai tindakan
pencegahan, aku meminta Curtis, Stein, dan Raymond untuk tetap tinggal guna
membantunya. Mereka menerima permintaan itu dengan tangan terbuka tanpa ragu
sedikit pun.
Para ksatria,
termasuk Dainas dan Rubens, awalnya tampak terpaku saat mengetahui kematian
Cross, namun mereka segera kembali ke ekspresi wajah biasanya.
"Kematian
orang yang dihormati adalah hal yang menyakitkan. Namun, kita tidak punya waktu
untuk terus bersedih. Mereka yang selamat dan memenangkan pertempuran harus
membuat masa depan menjadi lebih cerah," ujar Rubens dengan mata menyipit dan senyum
lembut saat kami berpisah.
Ketika aku
bertanya kepada Diana yang ikut pulang bersamaku, dia bilang bahwa para ksatria
memang berusaha keras untuk tidak pernah menangis di depan umum atas kematian
rekan mereka.
Mendengar itu,
aku kembali menyadari betapa kuatnya mental para ksatria itu.
Saat mobil arang
yang kami tumpangi berguncang menyusuri jalanan wilayah Baldia, suara
sorak-sorai mulai terdengar.
Ada apa, ya?
Ketika aku
melongok dari jendela mobil, terlihat banyak orang yang melambaikan tangan
dengan wajah penuh senyum.
"Sepertinya
berita kemenangan kita sudah menyebar ke kota-kota di sekitar Benteng Hazama.
Semua orang pasti sedang merayakan kemenangan Baldia dari lubuk hati
mereka," ujar Diana yang duduk di sampingku sambil tersenyum bahagia.
"Begitu ya.
Aku senang rakyat juga ikut bahagia."
Sambil
menjawabnya, wajahku tanpa sadar melunak melihat pemandangan di luar jendela.
Sepanjang
jalan, orang-orang yang berpapasan terus memberikan sorakan. Mulai dari orang
dewasa hingga anak-anak melambaikan tangan dengan riang. Seiring laju mobil
arang, hari pun perlahan mulai gelap.
◇
Saat kami
menyusuri jalan malam yang hanya diterangi cahaya bulan, lampu-lampu kediaman
utama mulai terlihat.
Karena
aku sudah memberi kabar melalui sihir komunikasi bahwa kami akan tiba di tengah
malam, mereka pasti sudah bersiap menunggu.
Kondisi
tubuhku terasa sedikit lebih tenang dibandingkan saat pertempuran baru
berakhir, namun rasa nyeri tumpul mulai menjalar di setiap sendi, ditambah
dengan rasa lelah yang luar biasa. Jika aku menyerah dan memejamkan mata, aku pasti akan langsung pingsan.
Pikiranku
melayang pada saat pertama kali aku menggunakan Physical Enhancement: Rekka,
di mana setelahnya aku jatuh sakit cukup lama.
Beban yang
kuterima saat melawan Elba kali ini jauh lebih berat daripada saat itu.
Memory secara
diam-diam menopangku dari dalam, sehingga aku masih bisa mempertahankan
kesadaran. Meski aku mati-matian tersenyum dan menjawab "aku baik-baik
saja" kepada orang di sekitar, sepertinya aku sudah mencapai batas.
"Sedikit
lagi... tinggal sedikit lagi," gumamku sambil menekan dada.
Tepat saat itu,
suara Alex yang mengemudikan mobil arang bergema di dalam kabin, "Tuan Reed,
kita sudah sampai."
Aku
tersentak dan mendongak. Mataku membelalak melihat pemandangan di luar mobil,
dan aku pun bergegas turun. Meski sudah tengah malam, Ibu dan Farah berdiri di
sana mengenakan pakaian formal.
Tidak,
bukan hanya mereka berdua. Semua orang yang bekerja di kediaman, termasuk
Sandra dan Ellen, juga berkumpul di sana.
Ibu dan Farah
berlari keluar dari barisan dan menghampiriku. Tanpa membuang waktu, Ibu
langsung memelukku dengan sekuat tenaga ke dalam dekapannya.
"Syukurlah.
Aku sangat bersyukur kau selamat."
"Iya. Saya
selalu mendoakan keselamatan Anda."
Suara Ibu
dan Farah sedikit bergetar, dan air mata mengalir di pipi mereka.
"Maaf
telah membuat kalian khawatir. Tapi, kami telah memenangkan pertempuran dengan
selamat, dan adikku Mel serta Chris juga baik-baik saja."
Begitu
aku berkata demikian, Diana datang sambil menggendong Mel yang sedang tertidur.
Mata Ibu
berkaca-kaca. Sambil menutupi mulut dengan tangan, ia melangkah mendekat ke
arah mereka.
"Mel……!?"
"Dia
sepertinya terus memaksakan diri. Sejak memulai perjalanan pulang, dia tertidur
lelap," jelas Diana.
Dengan bantuan
Diana, Ibu menerima Mel yang sedang bernapas teratur dalam tidurnya ke dalam
kedua lengannya.
"Syukurlah
kau selamat. Kau sudah tumbuh sebesar ini, ya..."
Bukan
kekhawatiran atau amarah, ekspresi yang ditunjukkan Ibu adalah wajah lembut
yang penuh dengan cinta kasih.
Dengan
ini, akhirnya satu babak telah selesai. Tepat saat aku mengembuskan napas lega, tiba-tiba kakiku limbung.
"Ugh……"
"Tuan Reed? Ada apa?"
Farah menatapku dengan cemas, tapi aku sudah tidak kuat
lagi. Sepertinya melihat wajah Ibu dan Farah membuat pertahananku runtuh.
Rasa lelah,
keletihan, dan kantuk yang selama ini kutahan, semuanya menyerang secara
bersamaan.
"Maaf, Farah."
Aku memeluknya
dengan sisa tenaga yang kumiliki.
"Tuan Reed……?
Tuan Reed!?"
Di tengah
sayup-sayup suara teriakan orang-orang yang memanggil namaku, kelopak mataku
perlahan-lahan tertutup rapat.



Post a Comment