NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonda Otome Gēmu no Akuyaku Mobu desu ga ⁓ Danzai wa Iya na no de Mattō ni Ikimasu Volume 10 Chapter 9

Chapter 9

Ingatan Reed dan Kebangkitannya


Saat tersadar, aku mendapati diriku melayang di sebuah ruang putih yang kosong melompong.

Aku menoleh ke sekeliling, namun tak ada apa pun. Benar-benar hanya hamparan ruang putih yang tak berujung.

Di mana ini?

Tepat saat aku memiringkan kepala, sebuah cahaya terang memancar kuat, membuatku refleks memejamkan mata.

A-apa itu...?

Perlahan aku membuka mata, dan ruang putih yang tadinya kosong kini dipenuhi deretan bangunan yang berjajar rapi.

Aku melayang di langit, menatap pemandangan di bawahku dengan mata terbelalak.

Pemandangan yang mendadak muncul itu adalah sesuatu yang ada dalam ingatan kehidupanku sebelumnya.

Apakah ini... dunia ingatan? Saat aku sedang mengamati daratan dari angkasa, cahaya terang kembali memancar dan memaksaku memejamkan mata lagi.

Lagi!?

Kali ini apa!?

Begitu membuka mata, aku sudah berdiri di sebuah tempat yang menyerupai 'kantor perusahaan'.

Di depanku, ada punggung seorang karyawan pria. Entah kenapa aku merasa akrab dengannya. Saat itulah, aku merasakan kehadiran seseorang dari belakang.

Aku berbalik, dan melihat seorang wanita muda berseragam kantor berdiri dengan senyuman di wajahnya.

"Senior Kanda. Apa Anda punya waktu sebentar?"

"Ah, Nitobe ya. Boleh saja. Ada apa?"

Kanda...? Kanda!? Aku tertegun saat melihat wajah karyawan yang berbalik karena suara wanita itu. Wajah itu adalah wujud diriku yang ada dalam ingatan kehidupanku sebelumnya.

Benar, tempat ini tak salah lagi adalah dunia ingatan. Jika diperhatikan baik-baik, wanita muda itu adalah 'Nitobe Narumi'. Dia adalah junior yang sering bekerja bersamaku saat aku masih menjadi karyawan kantoran dulu.

Di tengah ketegangan yang membuatku menahan napas, Nitobe melangkah maju di depan Kanda.

"Senior, Anda suka game jenis simulasi, taktik, atau dungeon, kan?"

"Eh? Iya, begitulah. Tapi belakangan ini aku sangat sibuk dengan pekerjaan dan pertemuan dengan klien. Sampai-sampai tidak sempat main game sama sekali."

Kanda melipat tangan dan menunduk lesu, namun ia segera mendongak kembali.

"Kemarin saja, saat akhirnya dapat libur setelah sekian lama, aku mencoba main game FPS (First-Person Shooter). Tapi karena sudah terlalu lama tidak login, akunku malah diblokir. Katanya bisa dibuka kembali lewat pengajuan online, tapi akhirnya tidak kukerjakan juga."

"Be-begitu ya..." Nitobe menunjukkan ekspresi canggung seolah merasa bersalah.

"Ah, maaf, maaf. Jadi, ada apa?"

"Sebenarnya, ada satu game yang ingin saya rekomendasikan kepada Senior."

"Eh, benarkah? Game seperti apa itu?"

Kanda mencondongkan tubuhnya dengan antusias, dan Nitobe pun menyodorkan sebuah kotak game yang sedari tadi disembunyikannya di balik punggung.

"Ini, Senior."

"...'Tokimeku Cinderella!' ya. Ini judul yang asing bagiku. Game macam apa ini?"

"Ah, i-iya. Jadi game ini adalah..."

Seolah lega melihat Kanda tertarik, Nitobe mulai menceritakan tentang 'Tokimeku Cinderella!' atau yang biasa disebut 'Toki-Rela!' dengan penuh semangat dan gaya yang lucu.

Awalnya, Kanda tampak bingung dan menyandarkan punggungnya di kursi saat mengetahui bahwa 'Toki-Rela' adalah sebuah otome game di mana pemain meningkatkan kesukaan karakter pemuda tampan.

"Yah... Maaf ya, tapi sepertinya aku tidak akan memainkan game seperti itu."

"Jangan salah, Senior! Game ini punya elemen grinding yang sangat dalam, saya yakin Anda pasti akan menikmatinya!"

"Eh, benarkah?"

Mendengar kata 'elemen grinding', ketertarikan Kanda bangkit kembali dan ia mencondongkan tubuhnya lagi.

Aku hanya bisa tertegun menyaksikan interaksi mereka, sampai aku tersadar. Ini adalah adegan saat dia pertama kali memberitahuku tentang 'Toki-Rela' dan meminjamkan kaset gamenya padaku.

"...Karena itulah, game ini punya keasyikan yang tidak seperti otome game biasa. Sangat saya rekomendasikan untuk Senior!"

"Begitu ya. Kalau Nitobe sampai bicara sejauh itu, mungkin aku akan mencobanya sedikit."

Saat Kanda menerima kaset itu, Nitobe mendekatkan wajahnya dan berbisik, "Tapi ada satu hal..."

"Meskipun ini sedikit spoiler, tolong jadikan rute 'Johann Bestia' sebagai rute terakhir yang Anda selesaikan."

"Eh, kenapa?"

"Johann adalah karakter dengan latar belakang mantan pangeran suku Beastman, dan dia adalah karakter terkuat dalam cerita dengan kemampuan tempur yang paling diistimewakan. Namun sebagai gantinya, Bos Terakhir yang muncul di rutenya, 'Elba Grandoke', punya kekuatan yang tidak masuk akal untuk ukuran otome game. Jika sudah mengumpulkan elemen dari rute lain, dia memang mudah dikalahkan. Tapi kalau langsung melawannya di permainan pertama tanpa tahu apa-apa, Anda bisa tamat di tengah jalan."

"Apa-apaan itu. Terdengar seperti game klasik yang tingkat kesulitannya tinggi ya," Kanda tertawa.

Nitobe hanya bisa menggelengkan kepala.

"Benar sekali. Di internet bahkan ada komunitas yang melakukan RTA (Real-Time Attack) untuk melihat seberapa cepat mereka bisa mengalahkan Elba Grandoke dalam kondisi level awal. Saya ingin Senior mencobanya, tapi mengingat Senior sangat sibuk, mungkin itu akan terlalu berat."

"Benar juga. Kalau begitu, beri tahu aku urutan rute yang paling direkomendasikan ya. Penaklukan yang sulit dan memakan waktu akan kucoba nanti-nanti saja."

"Baik! Jadi rekomendasi saya adalah..."

Percakapan mereka terus berlanjut, namun sosok mereka perlahan memudar dan menghilang. Akhirnya, tempatku berdiri kembali menjadi ruang putih yang kosong.

Elba Grandoke. Ternyata dia juga ada di dunia 'Toki-Rela'. Tapi kenapa aku baru mengingat percakapan itu sekarang?

Menurut penjelasan Nitobe, Elba adalah Bos Terakhir yang ada di akhir rute 'Johann Bestia'. Bahkan jika aku tidak mengingat tentang Elba pun, garis waktu antara game dan dunia nyata ini tidak terasa sinkron.

"Itu kan sudah jelas jawabannya."

"……!?"

Aku terkejut mendengar suara tiba-tiba itu dan berbalik. Di sana berdiri diriku yang lain. Memory muncul di dunia putih itu dengan senyum penuh rahasia.

"Jika menggunakan istilah dari ingatanmu, ini yang disebut dengan 'Efek Kupu-kupu' (Butterfly Effect)."

"Efek... Kupu-kupu?"

"Benar," ia mengangguk. "Gangguan aliran udara sekecil kepakan sayap kupu-kupu pun bisa memicu badai di tempat yang sangat jauh. Dengan kata lain, karena kau melakukan suatu tindakan, apa yang seharusnya terjadi di masa depan malah terjadi lebih awal. Begitulah cara berpikirnya."

"A-apa...!?"

Aku mengerjapkan mata mendengar jawaban yang tak terduga itu, namun Memory tetap tersenyum.

"Reed, kenapa kau kaget sekarang? Kau pasti sudah memikirkan kemungkinan itu sebelumnya, kan?"

"……Tentu saja aku memikirkannya. Tapi, tak kusangka salah satu Bos Terakhir dari cerita aslinya akan muncul secepat ini. Ini benar-benar di luar dugaan."

Menyelamatkan nyawa Ibu dengan ramuan pemulih mana, lalu meneliti obat khusus untuk penyakit penipisan mana demi kesembuhannya. Semua ini seharusnya tidak terjadi di dunia 'Toki-Rela'. Karena itulah, aku sudah menduga akan ada berbagai dampak di masa depan.

Aku bermaksud memajukan wilayah Baldia dan membuat diriku sendiri menjadi lebih kuat demi menghadapi hal itu. Namun jujur saja, aku tidak menyangka pengaruhnya akan muncul secepat ini.

"Yah, tidak ada yang tahu masa depan, termasuk dirimu sendiri."

"Tidak ada yang tahu masa depan, ya."

Sepertinya karena tindakanku selama ini, masa depan telah berubah drastis dari apa yang kuketahui.

Jika sudah begini, mungkin aku harus menganggap konten 'Toki-Rela' bukan lagi sebagai ramalan, melainkan hanya petunjuk kasar saja.

Meski begitu, keuntunganku dalam mengetahui kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi di masa depan tetap tidak berubah.

"Ngomong-ngomong, ingatan tentang percakapan tadi adalah bagian dari memori yang pulih akibat tindakan nekatmu, Reed."

"Ingatan yang pulih?"

Aku memiringkan kepala, sementara Memory hanya bisa menggelengkan kepala.

"Coba pikirkan. Ingatan seumur hidup di dunia sebelumnya saja sudah sangat banyak, ditambah lagi ingatan harian di dunia ini yang terus bertambah. Aku memang manifestasi dari ingatanmu, tapi bukan berarti aku menguasai seluruh ingatan itu secara sempurna. Seperti yang pernah kukatakan, semakin sedikit kesan yang kau terima di kehidupan sebelumnya, semakin sulit untuk mereproduksinya. Namun, berkat kenekatanmu, sebagian dari ingatan itu berhasil dipulihkan."

Menurutnya, ingatan dalam diriku bervariasi; mulai dari yang mudah ditarik seperti pencarian internet, hingga yang sudah hancur seperti 'serpihan kertas' dalam mesin penghancur dokumen. Ingatan yang mudah ditarik adalah hal-hal yang memberikan kesan kuat padaku di kehidupan sebelumnya.

Sedangkan ingatan yang seperti serpihan kertas adalah pemandangan perjalanan kerja harian, teks game yang dilewati (skip) tanpa dibaca, atau konten yang dangkal.

Meskipun aku memintanya untuk mereproduksi ingatan yang hancur itu, Memory selalu mengeluh; "Itu memakan waktu terlalu lama dan membuat pencarian memori lain terhambat, sangat tidak efisien."

"Begitu ya, aku paham. Tapi, apakah ada ingatan baru lainnya yang kau temukan, Memory?"

"Ada, tapi kurasa lebih baik kau tidak tahu."

"Eh, kenapa?" Padahal aku ingin tahu informasi baru sekecil apa pun, namun wajah Memory malah mendung.

"Karena itu adalah ingatan saat kau masih bayi di kehidupan sebelumnya, saat ibumu mengganti popokmu atau saat kau sedang menyusu."

"I-itu sepertinya tidak perlu. Ka-kalau begitu, bagaimana kalau setelah aku bangun nanti, aku melakukan hal yang sama lagi..."

"Jangan pernah lakukan itu!"

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Memory langsung memotongnya dengan tegas. Ia menatapku dengan tatapan serius yang mengancam.

"Kau mungkin tidak sadar, tapi kau sudah tertidur lelap selama tiga hari tiga malam."

"Eh...?"

Aku terpaku, sementara Memory melanjutkan dengan nada bicara yang keras.

"Meskipun tidak ada pilihan lain untuk mengalahkan Elba, beban yang diterima tubuhmu sangatlah luar biasa. Walaupun aku sudah menahannya dari dalam, umurmu pasti berkurang beberapa tahun, bahkan mungkin lebih dari sepuluh tahun dalam skenario terburuk."

"Begitu ya..."

Aku mengangguk, namun ia tetap menatapku tajam tanpa berkata apa-apa.

Mengorbankan umur beberapa tahun hingga sepuluh tahun lebih... Saat diberitahu fakta itu, anehnya aku tidak merasa kaget, malah merasa itu masuk akal.

Kekuatan sebesar itu memang tidak mungkin bisa dikeluarkan dengan mudah. Itu adalah risiko yang setimpal.

"Kalau begitu, aku tidak bisa menggunakan sihir itu lagi, ya. Tapi, Memory..."

Aku tersenyum lebar hingga memperlihatkan gigiku.

"Aku sama sekali tidak menyesal telah mengorbankan umurku. Jika aku tidak menghentikan Elba, jujur saja Baldia mungkin sudah kalah. Kasarnya, pilihannya hanyalah mati karena hukuman yang akan terjadi di masa depan, atau bertaruh nyawa melawan Elba. Hanya ada dua pilihan itu."

"Reed..."

"Hanya saja, seandainya saat itu aku lebih cepat mempertaruhkan nyawaku, mungkin kematian Cross bisa dicegah. Itulah satu-satunya hal yang kusesali."

Saat aku menunduk, Memory menggelengkan kepala.

"Itu salah."

"Saat itu, kematian Cross-lah yang membangkitkan mana yang tertidur di kedalaman dirimu. Seperti yang dikatakan Ayahmu, dia telah menunaikan kewajibannya sebagai ksatria yang melayani Baldia. Aku paham perasaanmu yang ingin melakukannya lebih awal, tapi itu hanyalah pengandaian belaka."

Memory mendekat dan memelukku dengan lembut.

"Hal yang harus kau lakukan bukanlah menyesal. Melainkan menerima kematian Cross dan melangkah maju. Aku tahu itu hal yang sangat sulit untuk dilakukan."

"……Iya, kau benar. Terima kasih, Memory."

Setelah aku berterima kasih, dia sedikit menjauh dan menggaruk pipinya dengan malu-malu sambil tersenyum simpul.

"Jangan dipikirkan. Kau adalah aku, dan aku adalah kau. Nah, ada hal yang lebih penting dari itu."

Wajahnya kembali menjadi serius.

"Sebentar lagi kau akan terbangun. Tapi, manamu telah bertambah secara drastis dibandingkan sebelumnya."

"Eh, benarkah?"

"Tadi kukatakan umurmu berkurang, 'kan? Akibat pengaruh itu, meski tubuhmu masih anak-anak, kapasitas manamu telah meningkat melampaui orang dewasa. Itu juga salah satu alasan kenapa kau tertidur selama tiga hari tiga malam."

"Eeeeh!?"

Aku benar-benar terperangah. Jika dipikir-pikir, situasi ini mirip dengan saat aku pertama kali mengaktifkan Physical Attribute Enhancement: Rekka.

Sepertinya akibat terus memberikan beban pada tubuh sambil menguras nyawa, daya tahan terhadap beban mana meningkat, sehingga kapasitas mana pun naik drastis. Meski aku sama sekali tidak berniat melakukannya.

"Ka-re-na i-tu," Memory mendekatkan wajahnya dan menudingkan jari telunjuknya ke ujung hidungku.

"Jika kau menggunakan sihir dengan perasaan yang sama seperti dulu, ada kemungkinan sihirmu akan meledak dalam skala yang luar biasa. Jangan pernah menggunakan sihir sembarangan. Perlakukan sihir seolah-olah kau kembali menjadi pemula lagi. Mengerti?"

"I-iya, aku mengerti."

Meskipun aku mengangguk berulang kali karena terintimidasi, dalam hati aku merasa sedikit bersemangat. Seolah menyadari hal itu, Memory mengembuskan napas panjang dengan wajah pasrah.

"Ngomong-ngomong, aku hanya memberitahukan hal ini kepada 'Farah'."

"Eh... Eeeh!? Ta-tapi, bagaimana caranya kau memberitahunya?"

Saat aku bertanya dengan mata membelalak, dia tertawa kecil.

"Berkat kapasitas manamu yang meningkat, hal yang bisa kulakukan pun bertambah. Kita bicarakan soal itu lagi nanti pelan-pelan. Nah, sekarang saatnya kau bangun."

"Eh!? Tunggu sebentar, Memory!?"

Meskipun aku berteriak sekuat tenaga, dunia putih itu mulai diselimuti oleh cahaya yang menyilaukan.

Refleks aku memejamkan mata, dan tak lama kemudian cahaya terang itu pun menghilang. Saat perlahan membuka mata, pemandangan langit-langit yang sudah tidak asing lagi terlihat dalam cahaya remang-remang.

"Ini... kamarku ya?"

Saat aku perlahan mendudukkan tubuhku untuk memastikannya, aku melihat Farah, Mel, dan Ibu sedang tidur berselimutkan bulu domba di samping tempat tidur.

"Ugh... nngh..."

Mungkin Farah merasakan gerakan di tempat tidur, ia mengusap matanya dan perlahan mengangkat wajahnya.

Kemudian, matanya seketika berkaca-kaca dan membelalak lebar, lalu ia memelukku dengan sangat kuat.

"Aku membuatmu khawatir lagi, ya."

"Tidak apa-apa. Karena saya sudah bisa mendengar suara Anda lagi, saya tidak akan mengatakan apa pun."

Aku mengusap punggungnya yang bergetar karena isak tangis dengan lembut.

"Aku pulang, Farah."

"Selamat datang kembali, Tuan Reed."

Mungkin karena mendengar percakapan kami, Ibu pun perlahan membuka matanya dan mulai bangkit duduk. Aku dan Farah buru-buru melepaskan pelukan dan tersenyum malu-malu secara bersamaan.

"Ibu, maaf telah membuatmu khawatir."

Begitu aku tersenyum dan berkata demikian, mata Ibu berkaca-kaca dan membelalak lebar. Ia mencondongkan tubuhnya dan memelukku sekuat tenaga.

"Aku sudah mendengar perjuanganmu. Reed, kau adalah kebanggaanku... tidak, kau adalah kebanggaan keluarga Baldia."

"Te-terima kasih banyak."

Sepertinya suara Ibu membuat Mel ikut terbangun.

"Ada apa?" gumamnya sambil mengusap mata dan bangkit duduk.

"Selamat pagi, Mel."

"Kakakkk, Kakaaaaaak!"

Mel langsung memelukku sambil meneteskan air mata yang sangat besar.

Melihat Ibu, Mel, dan Farah yang sangat mengkhawatirkanku dengan tulus, ketegangan dalam diriku pun runtuh, dan berbagai emosi meluap dari dalam dadaku.

"……Syukurlah. Syukurlah kalian semua selamat."

Aku pun tak kuasa menahan haru, meneteskan air mata yang deras sambil terisak, tenggelam dalam kebahagiaan reuni ini.







Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close