NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonda Otome Gēmu no Akuyaku Mobu desu ga ⁓ Danzai wa Iya na no de Mattō ni Ikimasu Volume 9 Chapter 6

Chapter 6

Napas Lega di Wilayah Baldia


Kami berpindah dari ruang kerja asrama menuju kediaman utama, lalu mengunjungi kamar tempat Ibu sedang menjalani 'rehabilitasi'. Di dalam ruangan ada Mel dan juga Tiss, putri dari Kross. Mel dan Tiss sangat akrab belakangan ini dan sering menghabiskan waktu bersama.

"Ibu, semangat ya."

"Semangat, Ibu!"

Menyusul panggilanku, Mel juga ikut bersuara.

"Ya. Terima kasih."




Ibu mengangguk ke arahku. Dengan peluh yang mulai bercucuran di dahi, beliau menggunakan alat bantu jalan dan mulai menggerakkan kakinya dengan sekuat tenaga. Namun, gerakan melangkahnya terlihat sangat kaku dan berat.

Di sisi Ibu, Sandra dan para pelayan setia mendampingi, berjalan selangkah demi selangkah. Mereka bersiap siaga jika sewaktu-waktu Ibu kehilangan keseimbangan.

Sebenarnya, aku dan Mel ingin sekali berada di sana untuk memapah beliau, tapi Sandra melarang. "Untuk saat ini, itu tidak diperbolehkan," katanya tegas.

Sejak sebelum aku mendapatkan kembali ingatan masa laluku, Ibu sudah terbaring lumpuh di tempat tidur. Mengingat durasinya, otot-otot tubuhnya pasti sudah sangat menyusut. Berjalan biasa saja pasti terasa seperti mendaki gunung baginya.

Berkat kombinasi Magic Recovery Potion berbahan dasar Gekkousou dan Healing Medicine berbahan dasar Lutesou yang diberikan Sandra secara rutin, kondisi fisik Ibu perlahan membaik.

Sekarang, beliau bahkan sudah bisa berkeliling kediaman bersama keluarga menggunakan kursi roda.

Lalu, atas permintaan Ibu sendiri, diagnosis dari Sandra, dan izin dari Ayah, dimulailah 'Rehabilitasi' ini.

Alat bantu jalan itu kubuat berdasarkan informasi dari dunia lamaku yang kupanggil melalui Memory. Aku meminta Ellen dan para kurcaci, serta anak-anak ras rubah untuk mengerjakannya.

Memikirkan jangka panjang, aku juga memberikan desain berbagai 'Alat Pelatihan' yang lazim di dunia modern kepada Ellen.

Seiring pulihnya kesehatan Ibu, beberapa alat itu pasti bisa digunakan.

Selain itu, jika Chris bisa memperkenalkannya kepada para nona bangsawan di ibu kota yang mengeluh kurang gerak atau masalah bentuk tubuh, ini akan menjadi komoditas dagang yang menjanjikan.

Saat aku terus menyemangati Ibu, Sandra mengeluarkan jam sakunya dan memeriksa waktu.

"Nyonya Nanaly. Mari kita sudahi untuk hari ini."

"Tidak. Sebentar lagi. Aku masih kuat."

Ibu menggeleng pelan, menatap Sandra dengan sorot mata yang penuh tekad. Namun, Sandra membalasnya dengan nada bicara yang sedikit lebih tegas.

"Nyonya Nanaly, saya mengerti perasaan Anda, tapi memaksakan diri adalah musuh utama. Hal terpenting dalam rehabilitasi adalah konsistensi. Tidak ada artinya jika Anda bisa melakukannya hari ini tapi tidak bisa melakukannya besok karena kelelahan. Tuan Reiner juga sudah berpesan, jika Anda bertindak nekat, rehabilitasi ini harus dihentikan. Mohon, dengarkan kata-kata saya."

"Ugh..."

Ibu memasang ekspresi canggung karena ditegur.

Sejatinya, Sandra bukanlah seorang dokter. Sebutan yang lebih tepat adalah sarjana yang menguasai berbagai bidang ilmu, terutama sihir. Sampai sekarang pun, dia tetap menjadi guruku dalam hal sihir.

Namun, dalam pengobatan penyakit Mana Depletion, dialah dokter penanggung jawabnya. Ibu sangat memercayainya.

Terlihat dari cara mereka berinteraksi yang terasa sangat akrab. Mungkin, Ibu sering mencurahkan keluh kesah atau kecemasan yang tidak bisa beliau ceritakan kepada kami kepada Sandra.

"Baiklah. Tapi, kau akan mengizinkanku minum teh bersama anak-anak, kan?"

"Tentu saja."

Sandra tersenyum kecil dan mengangguk. Dengan bantuan para pelayan, Ibu pun duduk kembali di kursi rodanya.

"Fuu, terima kasih. Ternyata aku berkeringat lebih banyak dari dugaanku. Semuanya, maaf ya. Bolehkah aku berganti baju dulu sebelum kita minum teh?"

"Tentu, Bu. Kami akan menunggu di halaman tengah sambil menyiapkan semuanya."

"Ya, terima kasih."

Setelah aku mengangguk, Ibu keluar ruangan bersama Sandra dan para pelayan. Mel melambaikan tangan ke arah punggung beliau. "Ibu, sampai nanti!"

Kami keluar menuju halaman tengah kediaman utama dan mulai menyiapkan jamuan teh.

Di sini ada aku, Mel, Farah, Asna, Diana, Danae, Tiss, dan para pelayan. Capella sendiri masih berada di asrama Ordo Ksatria Kedua, menyelesaikan urusan administrasi sambil bersiaga jika terjadi sesuatu yang darurat.

Tepat saat persiapan selesai dan kudapan sudah tertata rapi di meja bundar, Ibu yang sudah berganti pakaian datang menggunakan kursi roda bersama Sandra.

"Wah, apa aku membuat kalian menunggu lama?"

"Tidak sama sekali, Bu. Kami juga baru saja selesai bersiap."

"Ibu! Sini, sini!"

Mel melambai dengan gembira, memanggil Ibu agar duduk di sebelahnya.

"Fufu, iya, iya."

Ibu mengarahkan kursi rodanya ke posisi di antara aku dan Mel. Diana dan Danae mulai menuangkan teh untuk semua orang. Setelah semua mendapatkan minumannya, Ibu menyipitkan mata dengan bahagia.

"Bisa menikmati teh bersama kalian semua seperti ini... aku benar-benar bahagia."

"Kami juga, Bu. Benar kan, semuanya?"

Semua orang di sana mengangguk setuju. Sandra kemudian berdehem pelan.

"Kondisi Nyonya Nanaly membaik setiap harinya. Jika pengobatan dan rehabilitasi ini terus dilanjutkan, saat penyakitnya sembuh total nanti, beliau akan bisa menjalani aktivitas sehari-hari tanpa hambatan sama sekali."

Wajah Farah dan Mel langsung berbinar cerah.

Meski banyak kekacauan yang terjadi, kondisi Ibu terus membaik. Dengan pengobatan dan rehabilitasi saat ini, kesembuhan total dari Mana Depletion hanyalah masalah waktu.

Sesuatu yang dulu terasa sangat sulit dan jauh saat aku pertama kali mendapatkan ingatan masa laluku, kini akhirnya tampak mulai terjangkau.

Melihat Ibu bercengkrama dengan riang membuatku sangat terharu. Saat mataku mulai terasa panas, Farah menoleh ke arahku dengan heran.

"Tuan Reed? Apa ada sesuatu?"

"Eh!? Ah, tidak, tidak apa-apa. Mataku cuma sedikit gatal."

Aku tersentak dan tertawa canggung sambil mengusap mataku yang mulai basah dengan lengan baju.

"Begitu ya... syukurlah kalau begitu..."

Di saat Farah masih menatapku khawatir, Mel tiba-tiba mencondongkan tubuhnya dan mengalihkan topik pembicaraan.

"Ibu, apa nanti kita semua bisa pergi ke ibu kota bersama-sama?"

"Sepertinya untuk saat ini masih sulit, Mel. Ibu baru saja memulai rehabilitasi."

"Eeeh!? Terus kapan kita bisa ke sana? Padahal waktu itu Kakak bilang dalam waktu dekat!"

Mel menggembungkan pipinya dengan kesal.

Sebenarnya, gara-gara kegagalan negosiasi dengan keluarga Grandork dan latihan militer mereka di perbatasan, rencana kunjungan ke ibu kota yang diinginkan Mel terpaksa ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

"Iya kan, Tiss? Kamu juga ingin mencoba pergi ke ibu kota, kan?"

Karena tidak menyangka akan ditanya oleh Mel, Tiss mengerjapkan matanya berulang kali.

"Eh!? I-iya... karena saya belum pernah keluar dari wilayah Baldia, saya cukup tertarik. Tapi, sekarang 'Papa' sedang sibuk, jadi..."

Mendengar ucapan Tiss, Mel langsung memasang wajah merasa bersalah.

Ayah Tiss adalah Kross, wakil komandan Ksatria Baldia. Saat ini dia sedang berada di 'Benteng Hazama' di perbatasan untuk memimpin pasukan guna mengantisipasi latihan militer keluarga Grandork.

Di tengah situasi yang tidak menentu ini, Tiss pasti merasa sangat khawatir di dalam hatinya.

"Mel. Saat ini wilayah Baldia sedang sedikit kacau. Jika keadaan sudah tenang, Ayah pasti akan mencari waktu yang tepat untuk membawa kita ke ibu kota. Kau mengerti, kan?"

Ibu berdehem pelan dan menasihati Mel dengan lembut. Mel mengangguk lesu.

"Baik, Ibu..."

Suasana jamuan teh mendadak menjadi agak suram.

Aku ingin mencairkan suasana. Tiba-tiba, aku teringat sebuah surat yang datang dari ibu kota.

"Ah, ngomong-ngomong, Ibu dulu sangat dekat dengan Yang Mulia Matilda saat masih di ibu kota, kan?"

"Iya, benar. Yang Mulia Matilda sudah akrab denganku bahkan sebelum beliau menjadi Permaisuri. Tapi, kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"

"Sebenarnya tempo hari, ada surat pribadi dari keluarga Duke Loveless—keluarga asal Yang Mulia Matilda—yang ingin dihubungkan dengan Persekutuan Dagang Christy."

Keluarga Duke Loveless adalah salah satu keluarga bangsawan terpandang sejak pendirian Kekaisaran dan termasuk dalam faksi konservatif.

Di dalam faksi tersebut, pengaruh mereka hanya kalah dari keluarga Erasenese. Mereka adalah keluarga bangsawan agung yang sejati.

Kepala keluarga Duke Loveless saat ini adalah Tuan August Loveless. Kudengar dia adalah orang yang sangat menjunjung tinggi kesetiakawanan dan sangat tepercaya, serta memiliki hubungan dekat dengan Ayah.

Isi suratnya adalah: "Kami ingin meningkatkan volume transaksi dengan Persekutuan Dagang Christy. Karena itu, bisakah Anda memperkenalkan pimpinan mereka, Tuan Chris Saffron? Jika memungkinkan, setelah memberi jawaban, kami mengundangnya untuk datang langsung ke kediaman Duke Loveless di ibu kota."

Ketika aku menghubungi Ayah di ibu kota melalui Silvia, beliau berkata: "Kalau keluarga Loveless, tidak akan ada masalah. Sampaikan pada Chris untuk melayani mereka dengan sopan. Jika aku punya kesempatan bertemu Duke August nanti, aku juga akan menyapa beliau."

"...Begitulah ceritanya, Bu."

"Wah, itu luar biasa. Jadi, apa Chris dan yang lainnya sudah berangkat ke kediaman Duke di ibu kota?"

Ibu mengerjapkan mata setelah mendengar penjelasanku. Bagi Ibu yang berasal dari ibu kota, keberadaan keluarga Duke Loveless memang sangat signifikan.

"Belum, Chris dan yang lainnya dijadwalkan berangkat besok pagi. Mereka akan menggunakan mobil bertenaga arang untuk menarik kereta barang yang penuh dengan produk."

Jarak dari wilayah Baldia ke ibu kota memang cukup jauh, tapi dengan mobil arang, waktu tempuh bisa dipangkas dan bisa menarik beban yang lebih besar daripada kereta kuda biasa.

Tujuannya juga untuk memamerkan hubungan erat antara Persekutuan Dagang Christy dan keluarga Baldia.

"Begitu ya. Aku yakin Chris bisa menanganinya, tapi ingatkan dia untuk tetap menjaga sopan santun dan jangan sampai bertindak tidak hormat, ya."

"Baik, saya mengerti."

Setelah aku mengangguk, Ibu tersenyum seolah sudah bisa menebak niatku.

"Padahal Reed masih kecil, tapi kau benar-benar memikirkan banyak hal. Cara berpikirmu bahkan tidak kalah dari orang dewasa. Aku benar-benar bangga padamu."

"I-iya ke? Terima kasih, Bu."

Aku terkejut karena dipuji secara tiba-tiba. Farah ikut menimpali, "Benar. Apa yang dikatakan Ibu itu benar sekali."

"Melihat cara Tuan Reed berpikir dari dekat selalu membuatku terkejut. Aku harus berjuang lebih keras lagi agar tidak tertinggal jauh di belakang Anda."

"Terima kasih, Farah. Tapi berkat bantuanmu, operasional Ordo Ksatria Kedua sangat terbantu. Aku benar-benar berutang budi padamu."

Farah tidak hanya memiliki kemampuan administrasi yang hebat, tapi dia juga sangat cepat memahami pekerjaan. Melihat caranya bekerja, seolah-olah dia bisa memproses berbagai dokumen secara bersamaan.

Karena kerjanya yang sangat cepat, aku pernah bertanya karena khawatir, "Apa kau tidak memaksakan diri? Kau baik-baik saja?". Farah hanya memiringkan kepala dengan heran, lalu tersenyum tipis.

"Iya. Dokumen sebanyak ini jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah PR yang dulu diberikan oleh Ibu padaku. Aku masih sanggup melakukan lebih banyak lagi."

Aku ingat betapa terperangahnya aku mendengar jawaban itu. Sepertinya itu adalah hasil dari bakat alaminya yang dipadukan dengan pendidikan elit dari Ibu Elthiar.

Apapun itu, Farah sekarang sudah menjadi sosok yang sangat krusial dalam operasional Ordo Ksatria Kedua. Anak-anak ras beastman bahkan memanggilnya 'Hime-neesama' (Kakak Putri) sebagai tanda hormat.

Meskipun kurasa, panggilan 'Hime-neesama' dari mereka memiliki makna yang sedikit berbeda dari panggilan Mel.

"Benarkah? Aku senang sekali jika Tuan Reed berkata begitu."

Wajah Farah memerah dan dia tersenyum malu-malu, membuat kedua telinganya bergerak naik-turun sedikit. Melihat itu, mata Ibu menyipit bahagia.

"Aduh, aduh, kalian benar-benar akrab ya. Reed, kau harus terus menjaga Farah dengan baik, ya."

"Tentu saja, Bu."

Saat aku mengangguk mantap, tak sengaja mataku bertemu dengan mata Farah, dan wajahku langsung terasa panas.

Sepertinya dia juga begitu, karena dia langsung menunduk dengan wajah yang memerah. Aku merasa semua orang di sana menatap kami dengan pandangan yang menggoda.

"Ahaha..."

Sambil menggaruk pipi untuk menutupi rasa malu, Mel tiba-tiba mengubah topik.

"Ngomong-ngomong, Kak. Apa besok Chris dan yang lainnya berangkat dari kediaman utama?"

"Eh? Tidak, Chris akan berangkat bersama Serbia dari ras tikus, jadi mereka akan berangkat dari asrama Ordo Ksatria Kedua."

Dengan menyertakan Serbia, jika terjadi sesuatu di jalan, mereka bisa saling memberi kabar melalui Sihir Komunikasi. Untuk negosiasi dengan keluarga Duke Loveless, aku merasa jalur komunikasi langsung dengan Chris sangat diperlukan.

Namun, karena aku belum berniat memublikasikan perihal sihir komunikasi ini, aku sudah berpesan kepada mereka untuk sangat berhati-hati saat menggunakannya. Tapi, apa maksud pertanyaan Mel? Karena penasaran, aku bertanya balik.

"Memangnya ada apa, Mel?"

"Ah, itu... aku juga ingin ikut mengantar mereka berangkat."

Mengantar, ya? Melihat mobil arang menarik beban besar memang pemandangan yang langka. Mungkin dia ingin melihatnya dari dekat.

"Begitu ya. Chris pasti akan senang."

"Iya! Karena aku tidak bisa ke ibu kota, aku mau menitip oleh-oleh. Ehehe."

"Oh, begitu. Eh, tapi bukannya kau bisa titip ke Ayah saja?"

Mendengar saranku, Mel menggembungkan pipi dan menggeleng kuat-kuat.

"Kalau Ayah tidak boleh! Habisnya, waktu kemarin aku titip, Ayah malah membelikanku 'Patung Kayu Yang Mulia Kaisar'!"

"Patung kayu... Yang Mulia Kaisar? Pfft... Hahaha!"

Aku spontan tertawa terbahak-bahak. Aku ingat waktu ke ibu kota, memang ada berbagai ukuran 'Patung Kayu Yang Mulia Kaisar' yang dijual sebagai oleh-oleh khas sana.

Katanya, patung kayu keluarga kekaisaran adalah oleh-oleh paling standar dari ibu kota. Meskipun aku pribadi sama sekali tidak pernah ingin memilikinya.

"Ta-tapi, patung kayu keluarga kekaisaran itu katanya oleh-oleh yang sangat populer lho."

Aku mencoba membela selera Ayah, tapi Mel tetap tidak terima.

"Tapi kan tidak asyik! Masa oleh-olehnya patung kayu kaisar yang tangan kanannya dipinggang dan tangan kirinya menunjuk ke entah mana. Tidak ada lucu-lucunya sama sekali!"

Mel memonyongkan bibirnya dan memalingkan muka. Dalam hati aku berpikir, bukankah ini sedikit tidak hormat kepada Kaisar? Di saat itu, Ibu mulai tertawa.

"Fufu, Ayahmu itu memang kadang suka membeli barang aneh. Ibu juga pernah dibelikan oleh-oleh 'Patung Kayu Yang Mulia Permaisuri'. Beliau bilang dengan wajah serius, 'Kau dulu dekat dengan Yang Mulia Matilda, kan? Semoga ini bisa mengobati rasa rindumu sedikit'. Mel, Ayah tidak bermaksud buruk. Maafkan dia ya."

"Muuu... aku tahu Ayah itu baik, tapi seleranya itu salah!"

Mel kembali menggembungkan pipinya.

Semua orang di sana berusaha sekuat tenaga menahan tawa sampai bahu mereka bergetar. Tiss bahkan sampai menangkupkan kedua tangan di mulutnya dan menunduk dalam.

Waduh, bagaimana cara menenangkan situasi ini? Tepat saat itu, mataku bertemu dengan mata Farah. Sebuah ide muncul di benakku: 'Patung Kayu' dan 'Farah'.

"Ah, benar juga!"

Suaraku membuat semua orang menoleh ke arahku.

"Bagaimana kalau di Baldia kita juga membuat patung kayu dengan model Farah untuk dijual? Namanya: 'Patung Kayu Farah, Simbol Pembawa Keberuntungan'."

"Eeeeh!?"

Farah terbelalak mendengar usulanku yang sangat tiba-tiba itu. Tapi mata Ibu malah berbinar.

"Ide bagus! Reed, mumpung masih hangat, sampaikan usul itu saat rapat dengan Chris besok pagi."

"Eh!?"

"I-Ibu!?"

Saat aku dan Farah bengong, Mel malah mengangkat tangannya dengan penuh semangat.

"Aku juga mau kalau patung Kakak Putri!"

"Me-Mel juga!? Tuan Reed, apa-apaan usul Anda itu!"

"Eh, lho?"

Reaksinya sedikit berbeda dari yang kubayangkan. Padahal aku cuma bercanda untuk mencairkan suasana, tapi Ibu dan Mel malah menanggapi dengan sangat serius.

Setelah itu, berkat protes keras dari Farah yang wajahnya merah padam sampai ke telinga, proyek 'Patung Kayu Farah, Simbol Pembawa Keberuntungan' resmi menjadi legenda yang tak pernah terwujud.

Oh iya, sudah tidak perlu ditanya lagi, Farah merajuk hebat seharian itu, dan aku terpaksa menghabiskan waktu seharian untuk meminta maaf padanya.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close