Chapter 6
Napas Lega di Wilayah Baldia
Kami berpindah dari ruang kerja asrama menuju kediaman
utama, lalu mengunjungi kamar tempat Ibu sedang menjalani 'rehabilitasi'. Di dalam ruangan ada Mel dan juga
Tiss, putri dari Kross. Mel dan Tiss sangat akrab belakangan ini dan sering
menghabiskan waktu bersama.
"Ibu,
semangat ya."
"Semangat,
Ibu!"
Menyusul
panggilanku, Mel juga ikut bersuara.
"Ya. Terima kasih."
Ibu mengangguk ke
arahku. Dengan peluh yang mulai bercucuran di dahi, beliau menggunakan alat
bantu jalan dan mulai menggerakkan kakinya dengan sekuat tenaga. Namun, gerakan
melangkahnya terlihat sangat kaku dan berat.
Di sisi Ibu,
Sandra dan para pelayan setia mendampingi, berjalan selangkah demi selangkah.
Mereka bersiap siaga jika sewaktu-waktu Ibu kehilangan keseimbangan.
Sebenarnya, aku
dan Mel ingin sekali berada di sana untuk memapah beliau, tapi Sandra melarang.
"Untuk saat ini, itu tidak diperbolehkan," katanya tegas.
Sejak sebelum aku
mendapatkan kembali ingatan masa laluku, Ibu sudah terbaring lumpuh di tempat
tidur. Mengingat durasinya, otot-otot tubuhnya pasti sudah sangat menyusut.
Berjalan biasa saja pasti terasa seperti mendaki gunung baginya.
Berkat kombinasi Magic
Recovery Potion berbahan dasar Gekkousou dan Healing Medicine
berbahan dasar Lutesou yang diberikan Sandra secara rutin, kondisi fisik
Ibu perlahan membaik.
Sekarang, beliau
bahkan sudah bisa berkeliling kediaman bersama keluarga menggunakan kursi roda.
Lalu, atas
permintaan Ibu sendiri, diagnosis dari Sandra, dan izin dari Ayah, dimulailah
'Rehabilitasi' ini.
Alat bantu jalan
itu kubuat berdasarkan informasi dari dunia lamaku yang kupanggil melalui Memory.
Aku meminta Ellen dan para kurcaci, serta anak-anak ras rubah untuk
mengerjakannya.
Memikirkan jangka
panjang, aku juga memberikan desain berbagai 'Alat Pelatihan' yang lazim di
dunia modern kepada Ellen.
Seiring pulihnya
kesehatan Ibu, beberapa alat itu pasti bisa digunakan.
Selain itu, jika
Chris bisa memperkenalkannya kepada para nona bangsawan di ibu kota yang
mengeluh kurang gerak atau masalah bentuk tubuh, ini akan menjadi komoditas
dagang yang menjanjikan.
Saat aku terus
menyemangati Ibu, Sandra mengeluarkan jam sakunya dan memeriksa waktu.
"Nyonya
Nanaly. Mari kita sudahi untuk hari ini."
"Tidak.
Sebentar lagi. Aku masih kuat."
Ibu
menggeleng pelan, menatap Sandra dengan sorot mata yang penuh tekad. Namun,
Sandra membalasnya dengan nada bicara yang sedikit lebih tegas.
"Nyonya
Nanaly, saya mengerti perasaan Anda, tapi memaksakan diri adalah musuh utama.
Hal terpenting dalam rehabilitasi adalah konsistensi. Tidak ada artinya jika
Anda bisa melakukannya hari ini tapi tidak bisa melakukannya besok karena
kelelahan. Tuan
Reiner juga sudah berpesan, jika Anda bertindak nekat, rehabilitasi ini harus
dihentikan. Mohon, dengarkan kata-kata saya."
"Ugh..."
Ibu
memasang ekspresi canggung karena ditegur.
Sejatinya,
Sandra bukanlah seorang dokter. Sebutan yang lebih tepat adalah sarjana yang
menguasai berbagai bidang ilmu, terutama sihir. Sampai sekarang pun, dia tetap
menjadi guruku dalam hal sihir.
Namun,
dalam pengobatan penyakit Mana Depletion, dialah dokter penanggung
jawabnya. Ibu sangat memercayainya.
Terlihat
dari cara mereka berinteraksi yang terasa sangat akrab. Mungkin, Ibu sering
mencurahkan keluh kesah atau kecemasan yang tidak bisa beliau ceritakan kepada
kami kepada Sandra.
"Baiklah.
Tapi, kau akan mengizinkanku minum teh bersama anak-anak, kan?"
"Tentu
saja."
Sandra
tersenyum kecil dan mengangguk. Dengan bantuan para pelayan, Ibu pun duduk
kembali di kursi rodanya.
"Fuu,
terima kasih. Ternyata aku berkeringat lebih banyak dari dugaanku. Semuanya,
maaf ya. Bolehkah aku berganti baju dulu sebelum kita minum teh?"
"Tentu, Bu. Kami akan menunggu di halaman tengah sambil
menyiapkan semuanya."
"Ya, terima kasih."
Setelah aku mengangguk, Ibu keluar ruangan bersama Sandra
dan para pelayan. Mel melambaikan tangan ke arah punggung beliau. "Ibu,
sampai nanti!"
◇
Kami keluar
menuju halaman tengah kediaman utama dan mulai menyiapkan jamuan teh.
Di sini ada aku,
Mel, Farah, Asna, Diana, Danae, Tiss, dan para pelayan. Capella sendiri masih
berada di asrama Ordo Ksatria Kedua, menyelesaikan urusan administrasi sambil
bersiaga jika terjadi sesuatu yang darurat.
Tepat saat
persiapan selesai dan kudapan sudah tertata rapi di meja bundar, Ibu yang sudah
berganti pakaian datang menggunakan kursi roda bersama Sandra.
"Wah, apa
aku membuat kalian menunggu lama?"
"Tidak sama sekali, Bu. Kami juga baru saja selesai
bersiap."
"Ibu! Sini, sini!"
Mel melambai dengan gembira, memanggil Ibu agar duduk di
sebelahnya.
"Fufu, iya, iya."
Ibu mengarahkan kursi rodanya ke posisi di antara aku dan
Mel. Diana dan Danae mulai menuangkan teh untuk semua orang. Setelah semua
mendapatkan minumannya, Ibu menyipitkan mata dengan bahagia.
"Bisa menikmati teh bersama kalian semua seperti ini...
aku benar-benar bahagia."
"Kami juga, Bu. Benar kan, semuanya?"
Semua
orang di sana mengangguk setuju. Sandra kemudian berdehem pelan.
"Kondisi
Nyonya Nanaly membaik setiap harinya. Jika pengobatan dan rehabilitasi ini
terus dilanjutkan, saat penyakitnya sembuh total nanti, beliau akan bisa
menjalani aktivitas sehari-hari tanpa hambatan sama sekali."
Wajah Farah
dan Mel langsung berbinar cerah.
Meski
banyak kekacauan yang terjadi, kondisi Ibu terus membaik. Dengan pengobatan dan
rehabilitasi saat ini, kesembuhan total dari Mana Depletion hanyalah
masalah waktu.
Sesuatu yang dulu
terasa sangat sulit dan jauh saat aku pertama kali mendapatkan ingatan masa
laluku, kini akhirnya tampak mulai terjangkau.
Melihat Ibu
bercengkrama dengan riang membuatku sangat terharu. Saat mataku mulai terasa
panas, Farah menoleh ke arahku dengan heran.
"Tuan Reed?
Apa ada sesuatu?"
"Eh!? Ah,
tidak, tidak apa-apa. Mataku cuma sedikit gatal."
Aku tersentak dan
tertawa canggung sambil mengusap mataku yang mulai basah dengan lengan baju.
"Begitu
ya... syukurlah kalau begitu..."
Di saat Farah
masih menatapku khawatir, Mel tiba-tiba mencondongkan tubuhnya dan mengalihkan
topik pembicaraan.
"Ibu, apa
nanti kita semua bisa pergi ke ibu kota bersama-sama?"
"Sepertinya
untuk saat ini masih sulit, Mel. Ibu baru saja memulai rehabilitasi."
"Eeeh!?
Terus kapan kita bisa ke sana? Padahal waktu itu Kakak bilang dalam waktu
dekat!"
Mel
menggembungkan pipinya dengan kesal.
Sebenarnya,
gara-gara kegagalan negosiasi dengan keluarga Grandork dan latihan militer
mereka di perbatasan, rencana kunjungan ke ibu kota yang diinginkan Mel
terpaksa ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
"Iya kan,
Tiss? Kamu juga ingin mencoba pergi ke ibu kota, kan?"
Karena tidak
menyangka akan ditanya oleh Mel, Tiss mengerjapkan matanya berulang kali.
"Eh!?
I-iya... karena saya belum pernah keluar dari wilayah Baldia, saya cukup
tertarik. Tapi, sekarang 'Papa' sedang sibuk, jadi..."
Mendengar ucapan
Tiss, Mel langsung memasang wajah merasa bersalah.
Ayah Tiss adalah Kross, wakil komandan Ksatria Baldia. Saat
ini dia sedang berada di 'Benteng Hazama' di perbatasan untuk memimpin pasukan
guna mengantisipasi latihan militer keluarga Grandork.
Di tengah
situasi yang tidak menentu ini, Tiss pasti merasa sangat khawatir di dalam
hatinya.
"Mel.
Saat ini wilayah Baldia sedang sedikit kacau. Jika keadaan sudah tenang, Ayah
pasti akan mencari waktu yang tepat untuk membawa kita ke ibu kota. Kau
mengerti, kan?"
Ibu
berdehem pelan dan menasihati Mel dengan lembut. Mel mengangguk lesu.
"Baik,
Ibu..."
Suasana
jamuan teh mendadak menjadi agak suram.
Aku ingin
mencairkan suasana. Tiba-tiba, aku teringat sebuah surat yang datang dari ibu
kota.
"Ah,
ngomong-ngomong, Ibu dulu sangat dekat dengan Yang Mulia Matilda saat masih di
ibu kota, kan?"
"Iya,
benar. Yang Mulia Matilda sudah akrab denganku bahkan sebelum beliau menjadi
Permaisuri. Tapi, kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"
"Sebenarnya
tempo hari, ada surat pribadi dari keluarga Duke Loveless—keluarga asal Yang
Mulia Matilda—yang ingin dihubungkan dengan Persekutuan Dagang Christy."
Keluarga
Duke Loveless adalah salah satu keluarga bangsawan terpandang sejak pendirian
Kekaisaran dan termasuk dalam faksi konservatif.
Di dalam
faksi tersebut, pengaruh mereka hanya kalah dari keluarga Erasenese. Mereka
adalah keluarga bangsawan agung yang sejati.
Kepala
keluarga Duke Loveless saat ini adalah Tuan August Loveless. Kudengar dia
adalah orang yang sangat menjunjung tinggi kesetiakawanan dan sangat tepercaya,
serta memiliki hubungan dekat dengan Ayah.
Isi
suratnya adalah: "Kami ingin meningkatkan volume transaksi dengan
Persekutuan Dagang Christy. Karena itu, bisakah Anda memperkenalkan pimpinan mereka, Tuan Chris
Saffron? Jika memungkinkan, setelah memberi jawaban, kami mengundangnya untuk
datang langsung ke kediaman Duke Loveless di ibu kota."
Ketika aku
menghubungi Ayah di ibu kota melalui Silvia, beliau berkata: "Kalau
keluarga Loveless, tidak akan ada masalah. Sampaikan pada Chris untuk melayani
mereka dengan sopan. Jika aku punya kesempatan bertemu Duke August nanti, aku
juga akan menyapa beliau."
"...Begitulah
ceritanya, Bu."
"Wah, itu
luar biasa. Jadi, apa Chris dan yang lainnya sudah berangkat ke kediaman Duke
di ibu kota?"
Ibu mengerjapkan
mata setelah mendengar penjelasanku. Bagi Ibu yang berasal dari ibu kota,
keberadaan keluarga Duke Loveless memang sangat signifikan.
"Belum,
Chris dan yang lainnya dijadwalkan berangkat besok pagi. Mereka akan
menggunakan mobil bertenaga arang untuk menarik kereta barang yang penuh dengan
produk."
Jarak dari
wilayah Baldia ke ibu kota memang cukup jauh, tapi dengan mobil arang, waktu
tempuh bisa dipangkas dan bisa menarik beban yang lebih besar daripada kereta
kuda biasa.
Tujuannya juga
untuk memamerkan hubungan erat antara Persekutuan Dagang Christy dan keluarga Baldia.
"Begitu ya.
Aku yakin Chris bisa menanganinya, tapi ingatkan dia untuk tetap menjaga sopan
santun dan jangan sampai bertindak tidak hormat, ya."
"Baik, saya
mengerti."
Setelah aku
mengangguk, Ibu tersenyum seolah sudah bisa menebak niatku.
"Padahal Reed
masih kecil, tapi kau benar-benar memikirkan banyak hal. Cara berpikirmu bahkan
tidak kalah dari orang dewasa. Aku benar-benar bangga padamu."
"I-iya ke?
Terima kasih, Bu."
Aku terkejut
karena dipuji secara tiba-tiba. Farah ikut menimpali, "Benar. Apa yang
dikatakan Ibu itu benar sekali."
"Melihat
cara Tuan Reed berpikir dari dekat selalu membuatku terkejut. Aku harus
berjuang lebih keras lagi agar tidak tertinggal jauh di belakang Anda."
"Terima
kasih, Farah. Tapi berkat bantuanmu, operasional Ordo Ksatria Kedua sangat
terbantu. Aku benar-benar berutang budi padamu."
Farah tidak hanya
memiliki kemampuan administrasi yang hebat, tapi dia juga sangat cepat memahami
pekerjaan. Melihat caranya bekerja, seolah-olah dia bisa memproses berbagai
dokumen secara bersamaan.
Karena kerjanya
yang sangat cepat, aku pernah bertanya karena khawatir, "Apa kau tidak
memaksakan diri? Kau baik-baik saja?". Farah hanya memiringkan kepala
dengan heran, lalu tersenyum tipis.
"Iya.
Dokumen sebanyak ini jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah PR yang dulu
diberikan oleh Ibu padaku. Aku masih sanggup melakukan lebih banyak lagi."
Aku ingat betapa
terperangahnya aku mendengar jawaban itu. Sepertinya itu adalah hasil dari
bakat alaminya yang dipadukan dengan pendidikan elit dari Ibu Elthiar.
Apapun itu, Farah
sekarang sudah menjadi sosok yang sangat krusial dalam operasional Ordo Ksatria
Kedua. Anak-anak ras beastman bahkan memanggilnya 'Hime-neesama' (Kakak Putri)
sebagai tanda hormat.
Meskipun kurasa,
panggilan 'Hime-neesama' dari mereka memiliki makna yang sedikit berbeda dari
panggilan Mel.
"Benarkah?
Aku senang sekali jika Tuan Reed berkata begitu."
Wajah Farah
memerah dan dia tersenyum malu-malu, membuat kedua telinganya bergerak
naik-turun sedikit. Melihat itu, mata Ibu menyipit bahagia.
"Aduh, aduh,
kalian benar-benar akrab ya. Reed, kau harus terus menjaga Farah dengan baik, ya."
"Tentu
saja, Bu."
Saat aku
mengangguk mantap, tak sengaja mataku bertemu dengan mata Farah, dan wajahku
langsung terasa panas.
Sepertinya
dia juga begitu, karena dia langsung menunduk dengan wajah yang memerah. Aku merasa semua orang di sana menatap
kami dengan pandangan yang menggoda.
"Ahaha..."
Sambil menggaruk
pipi untuk menutupi rasa malu, Mel tiba-tiba mengubah topik.
"Ngomong-ngomong,
Kak. Apa besok Chris dan yang lainnya berangkat dari kediaman utama?"
"Eh? Tidak,
Chris akan berangkat bersama Serbia dari ras tikus, jadi mereka akan berangkat
dari asrama Ordo Ksatria Kedua."
Dengan
menyertakan Serbia, jika terjadi sesuatu di jalan, mereka bisa saling memberi
kabar melalui Sihir Komunikasi. Untuk negosiasi dengan keluarga Duke
Loveless, aku merasa jalur komunikasi langsung dengan Chris sangat diperlukan.
Namun, karena aku
belum berniat memublikasikan perihal sihir komunikasi ini, aku sudah berpesan
kepada mereka untuk sangat berhati-hati saat menggunakannya. Tapi, apa maksud
pertanyaan Mel? Karena penasaran, aku bertanya balik.
"Memangnya
ada apa, Mel?"
"Ah, itu...
aku juga ingin ikut mengantar mereka berangkat."
Mengantar,
ya? Melihat mobil arang menarik beban besar memang pemandangan yang langka.
Mungkin dia ingin melihatnya dari dekat.
"Begitu
ya. Chris pasti akan senang."
"Iya!
Karena aku tidak bisa ke ibu kota, aku mau menitip oleh-oleh. Ehehe."
"Oh,
begitu. Eh, tapi bukannya kau bisa titip ke Ayah saja?"
Mendengar
saranku, Mel menggembungkan pipi dan menggeleng kuat-kuat.
"Kalau
Ayah tidak boleh! Habisnya, waktu kemarin aku titip, Ayah malah membelikanku
'Patung Kayu Yang Mulia Kaisar'!"
"Patung kayu... Yang Mulia Kaisar? Pfft...
Hahaha!"
Aku
spontan tertawa terbahak-bahak. Aku ingat waktu ke ibu kota, memang ada
berbagai ukuran 'Patung Kayu Yang Mulia Kaisar' yang dijual sebagai oleh-oleh
khas sana.
Katanya,
patung kayu keluarga kekaisaran adalah oleh-oleh paling standar dari ibu kota.
Meskipun aku pribadi sama sekali tidak pernah ingin memilikinya.
"Ta-tapi,
patung kayu keluarga kekaisaran itu katanya oleh-oleh yang sangat populer
lho."
Aku
mencoba membela selera Ayah, tapi Mel tetap tidak terima.
"Tapi
kan tidak asyik! Masa oleh-olehnya patung kayu kaisar yang tangan kanannya
dipinggang dan tangan kirinya menunjuk ke entah mana. Tidak ada lucu-lucunya
sama sekali!"
Mel
memonyongkan bibirnya dan memalingkan muka. Dalam hati aku berpikir, bukankah
ini sedikit tidak hormat kepada Kaisar? Di saat itu, Ibu mulai tertawa.
"Fufu,
Ayahmu itu memang kadang suka membeli barang aneh. Ibu juga pernah dibelikan
oleh-oleh 'Patung Kayu Yang Mulia Permaisuri'. Beliau bilang dengan wajah
serius, 'Kau dulu dekat dengan Yang Mulia Matilda, kan? Semoga ini bisa
mengobati rasa rindumu sedikit'. Mel, Ayah tidak bermaksud buruk. Maafkan dia
ya."
"Muuu...
aku tahu Ayah itu baik, tapi seleranya itu salah!"
Mel
kembali menggembungkan pipinya.
Semua
orang di sana berusaha sekuat tenaga menahan tawa sampai bahu mereka bergetar.
Tiss bahkan sampai menangkupkan kedua tangan di mulutnya dan menunduk dalam.
Waduh, bagaimana
cara menenangkan situasi ini? Tepat saat itu, mataku bertemu dengan mata Farah.
Sebuah ide muncul di benakku: 'Patung Kayu' dan 'Farah'.
"Ah, benar
juga!"
Suaraku membuat
semua orang menoleh ke arahku.
"Bagaimana
kalau di Baldia kita juga membuat patung kayu dengan model Farah untuk dijual?
Namanya: 'Patung Kayu Farah, Simbol Pembawa Keberuntungan'."
"Eeeeh!?"
Farah terbelalak
mendengar usulanku yang sangat tiba-tiba itu. Tapi mata Ibu malah berbinar.
"Ide bagus! Reed, mumpung masih hangat, sampaikan usul
itu saat rapat dengan Chris besok pagi."
"Eh!?"
"I-Ibu!?"
Saat aku
dan Farah bengong, Mel malah mengangkat tangannya dengan penuh semangat.
"Aku juga
mau kalau patung Kakak Putri!"
"Me-Mel
juga!? Tuan Reed, apa-apaan usul Anda itu!"
"Eh,
lho?"
Reaksinya sedikit
berbeda dari yang kubayangkan. Padahal aku cuma bercanda untuk mencairkan
suasana, tapi Ibu dan Mel malah menanggapi dengan sangat serius.
Setelah itu,
berkat protes keras dari Farah yang wajahnya merah padam sampai ke telinga,
proyek 'Patung Kayu Farah, Simbol Pembawa Keberuntungan' resmi menjadi legenda
yang tak pernah terwujud.
Oh iya, sudah
tidak perlu ditanya lagi, Farah merajuk hebat seharian itu, dan aku terpaksa
menghabiskan waktu seharian untuk meminta maaf padanya.



Post a Comment