NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonda Otome Gēmu no Akuyaku Mobu desu ga ⁓ Danzai wa Iya na no de Mattō ni Ikimasu Volume 10 Side Story 1

Cerita Sampingan 1

Guncangan di Benteng Hazama


Pada hari itu, tajuk utama dari sebuah majalah informasi memberikan guncangan hebat bagi ibu kota kekaisaran.

Hari ini, perundingan antara keluarga Baldia dan keluarga Grandoke berakhir buntu. Di hari yang sama, suku Foxman memulai invasi.

Banyak bangsawan yang sebelumnya memandang masalah kedua keluarga ini dengan perasaan dengki—karena Baldia berkembang pesat sendirian—dan hanya menganggapnya sebagai gangguan kecil.

Namun, hampir tidak ada yang menyangka bahwa keluarga Grandoke benar-benar akan melakukan invasi.

Informasi ini membuat para bangsawan kebingungan dan memperlambat reaksi awal kekaisaran. Hal ini dikarenakan jarak yang cukup jauh antara wilayah Baldia dan ibu kota.

Secara logika, bahkan jika keluarga Grandoke menyerang, seharusnya butuh waktu lama bagi informasi tersebut untuk sampai ke ibu kota.

Bahwa kejadian di Baldia bisa dilaporkan begitu cepat adalah hal yang mustahil menurut standar kewajaran saat itu.

Jika tidak, maka pasti ada pihak yang sengaja menyebarkan informasi palsu.

Prajurit ibu kota segera menyelidiki persekutuan dagang yang menerbitkan majalah tersebut untuk memverifikasi informasi.

Namun, sang jurnalis telah menghilang—mungkin karena takut ditangkap—dan sumber informasi tetap menjadi misteri.

Kaisar Irwin segera memanggil para bangsawan untuk rapat darurat dan menyatakan akan segera mengirim pasukan kekaisaran sekaligus memverifikasi kebenaran informasi.

Namun, pihak Konservatif mengajukan keberatan.

Mereka berpendapat bahwa mengirim 'Pasukan Kekaisaran' dalam jumlah besar akan memprovokasi Zubera.

Skenario terburuknya, hal ini bisa berkembang menjadi perang skala penuh antar kedua negara.

Tidak peduli seberapa penting menyelamatkan Baldia, perang total akan menjadi tindakan yang kontraproduktif. Mereka menyarankan untuk mengirim unit pengintai terlebih dahulu guna mengonfirmasi fakta.

Di sisi lain, pihak Inovator menyatakan dukungan penuh terhadap pendapat Kaisar.

Menurut mereka, jika harus menunggu unit pengintai baru kemudian menyiapkan dan mengirim pasukan besar, maka semuanya sudah terlambat dan Baldia akan jatuh ke tangan suku Foxman.

Jika itu terjadi, melemahnya solidaritas dan wibawa bangsawan kekaisaran tidak dapat dihindari, dan diplomasi dengan negara luar tidak akan lagi menguntungkan. Pendapat mereka adalah kekaisaran harus menunjukkan kesiapan untuk berperang total.

Karena perbedaan pendapat antara kedua kubu, rapat menjadi sangat kacau, dan waktu yang berharga terus terbuang.

Di tengah situasi tersebut, Marquis Berlutty mengajukan jalan tengah.

"Kekhawatiran akan perang total dengan Zubera, dan keinginan untuk memikirkan kekaisaran serta Baldia; keduanya berasal dari rasa cinta yang sama terhadap kekaisaran. Bagaimana jika kita mengakomodasi perasaan semua orang dengan mengirimkan pasukan dalam waktu yang sedikit bertahap?"

Rencananya adalah mengirim unit pelopor kecil dengan mobilitas tinggi terlebih dahulu. Setelah itu, setiap beberapa hari, dikirimkan kompi-kompi yang juga mengutamakan mobilitas.

Unit pelopor akan memverifikasi informasi; jika ternyata laporan palsu, mereka akan memberitahu unit pengikut untuk mundur.

Jika benar, maka unit pelopor dan pasukan kekaisaran yang menyusul akan berkumpul tepat sebelum perbatasan Baldia untuk menghadapi keluarga Grandoke.

Dengan begitu, provokasi terhadap Zubera tetap minimal namun pasukan besar tetap dapat dikirim.

"Bagaimana menurut Anda, Yang Mulia? Dengan rencana ini, martabat kekaisaran tetap terjaga sementara kita tetap bisa mengirim pasukan besar untuk menyelamatkan Baldia."

"Hmm..."

Setelah berbagai pendapat lain bermunculan, Kaisar akhirnya mengadopsi usulan Marquis Berlutty. Keputusan untuk mengirim pasukan ke wilayah Baldia pun ditetapkan.

Namun, meski informasi sampai di pagi hari, matahari sudah terbenam saat rapat berakhir.

Esok malamnya, saat ibu kota sedang sibuk mempersiapkan pengiriman pasukan, guncangan hebat kembali melanda.

Persekutuan Dagang Christy, yang memiliki hubungan mendalam dengan Baldia, menyebarkan edisi luar biasa ke seluruh penjuru ibu kota dengan tajuk utama: Pertempuran Benteng Hazama: Kemenangan Telak Keluarga Baldia.

Kepala Suku Foxman, Gareth Grandoke, menyerang Benteng Hazama dengan 60.000 pasukan. Di saat yang sama, putranya, Amon Grandoke, bangkit untuk menyelamatkan rakyat yang menderita di bawah tirani rezim saat ini. Kepala Keluarga Baldia, Reiner Baldia, bersama putra sulungnya, Reed Baldia, bekerja sama dengan Amon dan menumbangkan Gareth Grandoke hanya dengan sekitar 9.000 prajurit. Putra sulung, Elba Grandoke, dan putra kedua, Malbus Grandoke, melarikan diri. Mayoritas suku Foxman, dipimpin oleh putri sulung Rapha Grandoke, menyatakan dukungan bagi Amon Grandoke sebagai Kepala Suku berikutnya. Pertempuran Benteng Hazama berakhir dengan kemenangan dramatis yang bersejarah bagi Baldia dan Amon Grandoke.

Kabar ini segera sampai ke telinga Kaisar, Permaisuri, dan para bangsawan. Emma, yang berada di ibu kota untuk mewakili Persekutuan Dagang Christy guna memverifikasi informasi, segera dipanggil ke istana.

Di tengah kepungan para bangsawan, Emma menghadap Kaisar dan Permaisuri, menegaskan bahwa isi berita tersebut adalah fakta, lalu menjelaskan kronologinya.

Emma menjelaskan bahwa ia segera berangkat dari wilayah Baldia menggunakan mobil arang tepat setelah pertempuran usai.

Dengan melakukan perjalanan tanpa henti, ia berhasil sampai di ibu kota di hari yang sama untuk menerbitkan berita tersebut.

Semua orang yang ada di sana terpana melihat kegigihan Emma dan kecepatan penyampaian informasi yang meruntuhkan standar kewajaran selama ini.

Namun, yang paling membuat mereka terperangah adalah fakta bahwa 60.000 pasukan suku Foxman pimpinan Gareth Grandoke berhasil dikalahkan oleh keluarga Baldia dan Amon Grandoke yang hanya berjumlah sekitar 9.000 orang.

Dalam perang, lazim bagi pemenang untuk melebih-lebihkan hasil guna menakut-nakuti negara lain, namun dikatakan bahwa hasil kali ini sama sekali tidak dilebih-lebihkan.

Terlebih lagi, sosok Elba Grandoke yang melarikan diri adalah orang yang dikenal luas sebagai kandidat terkuat Beast King berikutnya.

Bahkan di beberapa kalangan, Elba lebih terkenal dibanding ayahnya sendiri.

Selain kekuatan militer, ia juga memiliki kemampuan politik yang luar biasa dan dikabarkan memiliki koneksi dengan para bangsawan serta petinggi berbagai negara melalui rumor-rumor gelap.

Setelah mendengar seluruh penjelasan, Kaisar dan Permaisuri tampak sangat gembira, dan para bangsawan kekaisaran pun bersorak atas hasil perang luar biasa yang mengangkat martabat kekaisaran.

Berita luar biasa yang disebarkan Emma di ibu kota serta laporannya di hadapan Yang Mulia dan para bangsawan, tanpa bisa dibantah lagi, memberikan pengaruh besar terhadap reputasi keluarga Baldia dan Reed Baldia.

Mereka yang berada di wilayah Baldia belum mengetahui keributan ini, dan baru akan merasakannya beberapa waktu kemudian.

Beberapa hari setelah Pertempuran Benteng Hazama berakhir.

Di sebuah ruangan di mana cahaya lilin bergoyang di sebuah kediaman tertentu, berkumpullah orang-orang yang menutupi seluruh tubuh dengan jubah hitam bertudung serta menyembunyikan wajah di balik topeng.

Mereka mengelilingi meja bundar, menciptakan atmosfer yang berat.

"...Tak kusangka Gareth akan ditumbangkan, dan Elba Grandoke akan melarikan diri. Benar-benar di luar dugaan," ucap sosok dengan topeng putih polos dengan nada pahit.

Sosok yang duduk di kursi paling ujung ruangan menyahut, "Ya, kau benar." Topeng orang ini terbagi menjadi warna hitam dan putih.

"Rencana awal kita adalah membiarkan wilayah Baldia diinjak-injak oleh Gareth dan Elba guna menyadarkan para bangsawan yang sudah terlalu nyaman dalam kedamaian hingga pola pikir mereka menjadi tumpul. Rencana itu hancur."

Sosok bertopeng hitam-putih itu mengangkat bahu, namun suaranya kemudian memberat.

"Namun... hal ini tetap bisa kita arahkan ke tujuan yang menguntungkan bagi kita."

Semua orang di ruangan itu memiringkan kepala dengan skeptis.

"Apa maksud Anda?" tanya sosok bertopeng putih mewakili yang lain.

"Maafkan aku, detailnya akan kujelaskan setelah rencana ini dimatangkan lebih lanjut. Kasarnya, 'mereka' memiliki nilai guna. Aku berniat membuat mereka mengerahkan kekuatannya demi kita."

"Demi kita...? Saya rasa 'mereka' tidak akan setuju dengan ideologi kita," ujar si topeng putih, yang disetujui oleh anggota lainnya. Namun, si topeng hitam-putih menggeleng.

"Aku juga tidak berpikir mereka akan memiliki visi yang sama. Tapi, kita harus melihat segalanya dari perspektif yang lebih luas. Meski mereka tidak bermaksud demikian, selama hasilnya sesuai dengan keinginan kita, itu sudah cukup."

"Ah, begitu ya. Berarti kedepannya kita akan lebih banyak bergantung pada kekuatan mereka."

Melihat si topeng putih yang seolah menyadari sesuatu, si topeng hitam-putih mengangguk pelan.

"Begitulah. Yah, aku sudah menyebar banyak benih. Mari kita nikmati masa panennya bersama-sama."

Si topeng hitam-putih merentangkan tangannya, dan orang-orang di ruangan itu mengangguk dengan suasana yang misterius.

Setelah pertemuan usai dan si topeng hitam-putih tinggal sendirian di ruangan, pintu diketuk dengan sopan.

"Tuan, bolehkah saya masuk?"

"Ah, Robe. Masuklah."

"Permisi."

Robe memasuki ruangan, mendekati si topeng hitam-putih, lalu berlutut dan menundukkan kepala.

"Mohon maaf. Jalannya Pertempuran Benteng Hazama memang tepat seperti yang dilaporkan oleh Persekutuan Dagang Christy."

"Begitu ya. Tapi hal ini akan membawa opini publik ke arah yang menguntungkan bagi kita. Kerja bagus."

"Sama-sama, Tuan."

 Robe menjawab dengan takzim, namun ia menggumamkan sesuatu dengan nada kesal yang jarang ia tunjukkan.

"Saya sangat menyesalkan kejadian Meldy Baldia. Itu adalah kesempatan emas untuk menangkapnya ke tangan kita, namun Elba melanggar janji dengan dalih 'hanya akan menyerahkannya setelah menang melawan Baldia', dan upaya perebutan paksa dihalangi oleh Rapha."

"Hmm. Kejadian Meldy memang disayangkan, tapi kita harus menerimanya sebagai ketidaberuntungan kali ini. Sebagai gantinya, bukankah kita mendapatkan 'bidak' yang sulit dikendalikan namun sangat berguna di pihak kita?"

Si topeng hitam-putih menjawab sambil tertawa, namun Robe menggeleng.

"...Saya tidak setuju. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya tidak yakin dia akan menuruti perkataan Tuan dengan patuh. Faktanya, 'kejadian serupa' sudah pernah terjadi."

"Bahkan dengan risiko itu, dia tetap akan menjadi kekuatan tempur yang luar biasa. Yah, meski sepertinya dia butuh istirahat untuk sementara waktu."

Setelah berkata demikian, si topeng hitam-putih tiba-tiba terbatuk-batuk.

"Tuan, Anda baik-baik saja?"

 "Ah, maaf. Sepertinya belakangan ini aku terkena flu yang buruk, kesehatanku sedikit menurun. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa."

Si topeng hitam-putih bangkit berdiri, lalu bergumam dengan penuh perasaan.

"Meski begitu... tak kusangka mereka berhasil membuka 'Jalan Baru' yang kupikir kemungkinannya paling rendah. Fufu, sepertinya mereka akan terus menghiburku di masa depan."

Kedua orang itu meninggalkan ruang pertemuan dan menghilang ke dalam kegelapan lorong yang sunyi.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close