Chapter 9
Ingatan Reed dan Kebangkitannya
Saat tersadar,
aku mendapati diriku melayang di sebuah ruang putih yang kosong melompong.
Aku menoleh ke
sekeliling, namun tak ada apa pun. Benar-benar hanya hamparan ruang putih yang tak berujung.
Di
mana ini?
Tepat
saat aku memiringkan kepala, sebuah cahaya terang memancar kuat, membuatku
refleks memejamkan mata.
A-apa
itu...?
Perlahan
aku membuka mata, dan ruang putih yang tadinya kosong kini dipenuhi deretan
bangunan yang berjajar rapi.
Aku
melayang di langit, menatap pemandangan di bawahku dengan mata terbelalak.
Pemandangan
yang mendadak muncul itu adalah sesuatu yang ada dalam ingatan kehidupanku
sebelumnya.
Apakah
ini... dunia ingatan? Saat aku sedang mengamati daratan dari angkasa, cahaya terang kembali
memancar dan memaksaku memejamkan mata lagi.
Lagi!?
Kali ini
apa!?
Begitu
membuka mata, aku sudah berdiri di sebuah tempat yang menyerupai 'kantor
perusahaan'.
Di
depanku, ada punggung seorang karyawan pria. Entah kenapa aku merasa akrab dengannya. Saat
itulah, aku merasakan kehadiran seseorang dari belakang.
Aku berbalik, dan
melihat seorang wanita muda berseragam kantor berdiri dengan senyuman di
wajahnya.
"Senior
Kanda. Apa Anda punya waktu sebentar?"
"Ah, Nitobe
ya. Boleh saja. Ada apa?"
Kanda...?
Kanda!? Aku tertegun saat
melihat wajah karyawan yang berbalik karena suara wanita itu. Wajah itu adalah
wujud diriku yang ada dalam ingatan kehidupanku sebelumnya.
Benar, tempat ini
tak salah lagi adalah dunia ingatan. Jika diperhatikan baik-baik, wanita muda
itu adalah 'Nitobe Narumi'. Dia adalah junior yang sering bekerja bersamaku
saat aku masih menjadi karyawan kantoran dulu.
Di tengah
ketegangan yang membuatku menahan napas, Nitobe melangkah maju di depan Kanda.
"Senior,
Anda suka game jenis simulasi, taktik, atau dungeon, kan?"
"Eh? Iya,
begitulah. Tapi
belakangan ini aku sangat sibuk dengan pekerjaan dan pertemuan dengan klien.
Sampai-sampai tidak sempat main game sama sekali."
Kanda
melipat tangan dan menunduk lesu, namun ia segera mendongak kembali.
"Kemarin
saja, saat akhirnya dapat libur setelah sekian lama, aku mencoba main game FPS
(First-Person Shooter). Tapi karena sudah terlalu lama tidak login, akunku malah diblokir.
Katanya bisa dibuka kembali lewat pengajuan online, tapi akhirnya tidak
kukerjakan juga."
"Be-begitu ya..." Nitobe menunjukkan ekspresi
canggung seolah merasa bersalah.
"Ah, maaf,
maaf. Jadi, ada apa?"
"Sebenarnya,
ada satu game yang ingin saya rekomendasikan kepada Senior."
"Eh,
benarkah? Game seperti apa itu?"
Kanda
mencondongkan tubuhnya dengan antusias, dan Nitobe pun menyodorkan sebuah kotak
game yang sedari tadi disembunyikannya di balik punggung.
"Ini,
Senior."
"...'Tokimeku
Cinderella!' ya. Ini judul yang asing bagiku. Game macam apa ini?"
"Ah, i-iya. Jadi game ini adalah..."
Seolah lega melihat Kanda tertarik, Nitobe mulai
menceritakan tentang 'Tokimeku Cinderella!' atau yang biasa disebut
'Toki-Rela!' dengan penuh semangat dan gaya yang lucu.
Awalnya, Kanda tampak bingung dan menyandarkan punggungnya
di kursi saat mengetahui bahwa 'Toki-Rela' adalah sebuah otome game di
mana pemain meningkatkan kesukaan karakter pemuda tampan.
"Yah... Maaf
ya, tapi sepertinya aku tidak akan memainkan game seperti itu."
"Jangan
salah, Senior! Game ini punya elemen grinding yang sangat dalam, saya
yakin Anda pasti akan menikmatinya!"
"Eh,
benarkah?"
Mendengar kata
'elemen grinding', ketertarikan Kanda bangkit kembali dan ia
mencondongkan tubuhnya lagi.
Aku hanya bisa
tertegun menyaksikan interaksi mereka, sampai aku tersadar. Ini adalah adegan
saat dia pertama kali memberitahuku tentang 'Toki-Rela' dan meminjamkan kaset
gamenya padaku.
"...Karena
itulah, game ini punya keasyikan yang tidak seperti otome game biasa.
Sangat saya rekomendasikan untuk Senior!"
"Begitu ya.
Kalau Nitobe sampai bicara sejauh itu, mungkin aku akan mencobanya
sedikit."
Saat Kanda
menerima kaset itu, Nitobe mendekatkan wajahnya dan berbisik, "Tapi ada
satu hal..."
"Meskipun
ini sedikit spoiler, tolong jadikan rute 'Johann Bestia' sebagai rute
terakhir yang Anda selesaikan."
"Eh,
kenapa?"
"Johann
adalah karakter dengan latar belakang mantan pangeran suku Beastman, dan dia
adalah karakter terkuat dalam cerita dengan kemampuan tempur yang paling
diistimewakan. Namun sebagai gantinya, Bos Terakhir yang muncul di rutenya,
'Elba Grandoke', punya kekuatan yang tidak masuk akal untuk ukuran otome
game. Jika sudah
mengumpulkan elemen dari rute lain, dia memang mudah dikalahkan. Tapi kalau
langsung melawannya di permainan pertama tanpa tahu apa-apa, Anda bisa tamat di
tengah jalan."
"Apa-apaan
itu. Terdengar seperti game klasik yang tingkat kesulitannya tinggi ya,"
Kanda tertawa.
Nitobe hanya bisa
menggelengkan kepala.
"Benar
sekali. Di internet bahkan ada komunitas yang melakukan RTA (Real-Time
Attack) untuk melihat seberapa cepat mereka bisa mengalahkan Elba Grandoke
dalam kondisi level awal. Saya ingin Senior mencobanya, tapi mengingat
Senior sangat sibuk, mungkin itu akan terlalu berat."
"Benar
juga. Kalau begitu, beri tahu aku urutan rute yang paling direkomendasikan ya. Penaklukan yang sulit dan memakan waktu
akan kucoba nanti-nanti saja."
"Baik! Jadi
rekomendasi saya adalah..."
Percakapan mereka
terus berlanjut, namun sosok mereka perlahan memudar dan menghilang. Akhirnya,
tempatku berdiri kembali menjadi ruang putih yang kosong.
Elba Grandoke.
Ternyata dia juga ada di dunia 'Toki-Rela'. Tapi kenapa aku baru mengingat
percakapan itu sekarang?
Menurut
penjelasan Nitobe, Elba adalah Bos Terakhir yang ada di akhir rute 'Johann
Bestia'. Bahkan jika aku tidak mengingat tentang Elba pun, garis waktu antara
game dan dunia nyata ini tidak terasa sinkron.
"Itu kan
sudah jelas jawabannya."
"……!?"
Aku
terkejut mendengar suara tiba-tiba itu dan berbalik. Di sana berdiri diriku
yang lain. Memory muncul di dunia putih itu dengan senyum penuh rahasia.
"Jika menggunakan istilah dari ingatanmu, ini yang
disebut dengan 'Efek Kupu-kupu' (Butterfly Effect)."
"Efek... Kupu-kupu?"
"Benar," ia mengangguk. "Gangguan aliran
udara sekecil kepakan sayap kupu-kupu pun bisa memicu badai di tempat yang
sangat jauh. Dengan kata lain, karena kau melakukan suatu tindakan, apa yang
seharusnya terjadi di masa depan malah terjadi lebih awal. Begitulah cara
berpikirnya."
"A-apa...!?"
Aku mengerjapkan mata mendengar jawaban yang tak terduga
itu, namun Memory tetap tersenyum.
"Reed,
kenapa kau kaget sekarang? Kau pasti sudah memikirkan kemungkinan itu
sebelumnya, kan?"
"……Tentu
saja aku memikirkannya. Tapi, tak kusangka salah satu Bos Terakhir dari cerita
aslinya akan muncul secepat ini. Ini benar-benar di luar dugaan."
Menyelamatkan
nyawa Ibu dengan ramuan pemulih mana, lalu meneliti obat khusus untuk penyakit
penipisan mana demi kesembuhannya. Semua ini seharusnya tidak terjadi di dunia
'Toki-Rela'. Karena itulah, aku sudah menduga akan ada berbagai dampak di masa
depan.
Aku bermaksud
memajukan wilayah Baldia dan membuat diriku sendiri menjadi lebih kuat demi
menghadapi hal itu. Namun jujur saja, aku tidak menyangka pengaruhnya akan
muncul secepat ini.
"Yah, tidak
ada yang tahu masa depan, termasuk dirimu sendiri."
"Tidak ada
yang tahu masa depan, ya."
Sepertinya karena
tindakanku selama ini, masa depan telah berubah drastis dari apa yang
kuketahui.
Jika sudah
begini, mungkin aku harus menganggap konten 'Toki-Rela' bukan lagi sebagai
ramalan, melainkan hanya petunjuk kasar saja.
Meski begitu,
keuntunganku dalam mengetahui kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi di masa
depan tetap tidak berubah.
"Ngomong-ngomong,
ingatan tentang percakapan tadi adalah bagian dari memori yang pulih akibat
tindakan nekatmu, Reed."
"Ingatan
yang pulih?"
Aku memiringkan
kepala, sementara Memory hanya bisa menggelengkan kepala.
"Coba
pikirkan. Ingatan seumur hidup di dunia sebelumnya saja sudah sangat banyak,
ditambah lagi ingatan harian di dunia ini yang terus bertambah. Aku memang
manifestasi dari ingatanmu, tapi bukan berarti aku menguasai seluruh ingatan
itu secara sempurna. Seperti yang pernah kukatakan, semakin sedikit kesan yang
kau terima di kehidupan sebelumnya, semakin sulit untuk mereproduksinya. Namun,
berkat kenekatanmu, sebagian dari ingatan itu berhasil dipulihkan."
Menurutnya,
ingatan dalam diriku bervariasi; mulai dari yang mudah ditarik seperti
pencarian internet, hingga yang sudah hancur seperti 'serpihan kertas' dalam
mesin penghancur dokumen. Ingatan yang mudah ditarik adalah hal-hal yang
memberikan kesan kuat padaku di kehidupan sebelumnya.
Sedangkan ingatan
yang seperti serpihan kertas adalah pemandangan perjalanan kerja harian, teks
game yang dilewati (skip) tanpa dibaca, atau konten yang dangkal.
Meskipun aku
memintanya untuk mereproduksi ingatan yang hancur itu, Memory selalu mengeluh;
"Itu memakan waktu terlalu lama dan membuat pencarian memori lain
terhambat, sangat tidak efisien."
"Begitu ya,
aku paham. Tapi, apakah ada ingatan baru lainnya yang kau temukan,
Memory?"
"Ada, tapi
kurasa lebih baik kau tidak tahu."
"Eh,
kenapa?" Padahal aku ingin tahu informasi baru sekecil apa pun, namun
wajah Memory malah mendung.
"Karena itu
adalah ingatan saat kau masih bayi di kehidupan sebelumnya, saat ibumu
mengganti popokmu atau saat kau sedang menyusu."
"I-itu
sepertinya tidak perlu. Ka-kalau begitu, bagaimana kalau setelah aku bangun
nanti, aku melakukan hal yang sama lagi..."
"Jangan
pernah lakukan itu!"
Belum
sempat aku menyelesaikan kalimatku, Memory langsung memotongnya dengan tegas.
Ia menatapku dengan tatapan serius yang mengancam.
"Kau
mungkin tidak sadar, tapi kau sudah tertidur lelap selama tiga hari tiga
malam."
"Eh...?"
Aku
terpaku, sementara Memory melanjutkan dengan nada bicara yang keras.
"Meskipun
tidak ada pilihan lain untuk mengalahkan Elba, beban yang diterima tubuhmu
sangatlah luar biasa. Walaupun aku sudah menahannya dari dalam, umurmu pasti
berkurang beberapa tahun, bahkan mungkin lebih dari sepuluh tahun dalam
skenario terburuk."
"Begitu
ya..."
Aku
mengangguk, namun ia tetap menatapku tajam tanpa berkata apa-apa.
Mengorbankan
umur beberapa tahun hingga sepuluh tahun lebih... Saat diberitahu fakta itu, anehnya aku tidak
merasa kaget, malah merasa itu masuk akal.
Kekuatan sebesar
itu memang tidak mungkin bisa dikeluarkan dengan mudah. Itu adalah risiko yang
setimpal.
"Kalau
begitu, aku tidak bisa menggunakan sihir itu lagi, ya. Tapi, Memory..."
Aku tersenyum
lebar hingga memperlihatkan gigiku.
"Aku sama
sekali tidak menyesal telah mengorbankan umurku. Jika aku tidak menghentikan
Elba, jujur saja Baldia mungkin sudah kalah. Kasarnya, pilihannya hanyalah mati
karena hukuman yang akan terjadi di masa depan, atau bertaruh nyawa melawan
Elba. Hanya ada dua pilihan itu."
"Reed..."
"Hanya saja,
seandainya saat itu aku lebih cepat mempertaruhkan nyawaku, mungkin kematian
Cross bisa dicegah. Itulah satu-satunya hal yang kusesali."
Saat aku
menunduk, Memory menggelengkan kepala.
"Itu
salah."
"Saat itu,
kematian Cross-lah yang membangkitkan mana yang tertidur di kedalaman dirimu.
Seperti yang dikatakan Ayahmu, dia telah menunaikan kewajibannya sebagai
ksatria yang melayani Baldia. Aku paham perasaanmu yang ingin melakukannya
lebih awal, tapi itu hanyalah pengandaian belaka."
Memory mendekat
dan memelukku dengan lembut.
"Hal yang
harus kau lakukan bukanlah menyesal. Melainkan menerima kematian Cross dan
melangkah maju. Aku tahu itu hal yang sangat sulit untuk dilakukan."
"……Iya, kau
benar. Terima kasih, Memory."
Setelah aku
berterima kasih, dia sedikit menjauh dan menggaruk pipinya dengan malu-malu
sambil tersenyum simpul.
"Jangan
dipikirkan. Kau adalah aku, dan aku adalah kau. Nah, ada hal yang lebih penting dari
itu."
Wajahnya
kembali menjadi serius.
"Sebentar
lagi kau akan terbangun. Tapi, manamu telah bertambah secara drastis
dibandingkan sebelumnya."
"Eh,
benarkah?"
"Tadi
kukatakan umurmu berkurang, 'kan? Akibat pengaruh itu, meski tubuhmu masih
anak-anak, kapasitas manamu telah meningkat melampaui orang dewasa. Itu juga salah satu alasan kenapa kau
tertidur selama tiga hari tiga malam."
"Eeeeh!?"
Aku
benar-benar terperangah. Jika dipikir-pikir, situasi ini mirip dengan saat aku
pertama kali mengaktifkan Physical Attribute Enhancement: Rekka.
Sepertinya
akibat terus memberikan beban pada tubuh sambil menguras nyawa, daya tahan
terhadap beban mana meningkat, sehingga kapasitas mana pun naik drastis. Meski
aku sama sekali tidak berniat melakukannya.
"Ka-re-na
i-tu," Memory mendekatkan wajahnya dan menudingkan jari telunjuknya ke
ujung hidungku.
"Jika
kau menggunakan sihir dengan perasaan yang sama seperti dulu, ada kemungkinan
sihirmu akan meledak dalam skala yang luar biasa. Jangan pernah menggunakan
sihir sembarangan. Perlakukan sihir seolah-olah kau kembali menjadi pemula
lagi. Mengerti?"
"I-iya,
aku mengerti."
Meskipun
aku mengangguk berulang kali karena terintimidasi, dalam hati aku merasa
sedikit bersemangat. Seolah menyadari hal itu, Memory mengembuskan napas
panjang dengan wajah pasrah.
"Ngomong-ngomong,
aku hanya memberitahukan hal ini kepada 'Farah'."
"Eh...
Eeeh!? Ta-tapi, bagaimana caranya kau memberitahunya?"
Saat aku
bertanya dengan mata membelalak, dia tertawa kecil.
"Berkat
kapasitas manamu yang meningkat, hal yang bisa kulakukan pun bertambah. Kita
bicarakan soal itu lagi nanti pelan-pelan. Nah, sekarang saatnya kau
bangun."
"Eh!? Tunggu
sebentar, Memory!?"
Meskipun aku
berteriak sekuat tenaga, dunia putih itu mulai diselimuti oleh cahaya yang
menyilaukan.
Refleks aku
memejamkan mata, dan tak lama kemudian cahaya terang itu pun menghilang. Saat
perlahan membuka mata, pemandangan langit-langit yang sudah tidak asing lagi
terlihat dalam cahaya remang-remang.
"Ini...
kamarku ya?"
Saat aku perlahan
mendudukkan tubuhku untuk memastikannya, aku melihat Farah, Mel, dan Ibu sedang
tidur berselimutkan bulu domba di samping tempat tidur.
"Ugh...
nngh..."
Mungkin Farah
merasakan gerakan di tempat tidur, ia mengusap matanya dan perlahan mengangkat
wajahnya.
Kemudian, matanya
seketika berkaca-kaca dan membelalak lebar, lalu ia memelukku dengan sangat
kuat.
"Aku membuatmu khawatir lagi, ya."
"Tidak apa-apa. Karena saya sudah bisa mendengar suara
Anda lagi, saya tidak akan mengatakan apa pun."
Aku
mengusap punggungnya yang bergetar karena isak tangis dengan lembut.
"Aku
pulang, Farah."
"Selamat
datang kembali, Tuan Reed."
Mungkin
karena mendengar percakapan kami, Ibu pun perlahan membuka matanya dan mulai
bangkit duduk. Aku dan Farah buru-buru melepaskan pelukan dan tersenyum
malu-malu secara bersamaan.
"Ibu, maaf telah membuatmu khawatir."
Begitu aku tersenyum dan berkata demikian, mata Ibu
berkaca-kaca dan membelalak lebar. Ia mencondongkan tubuhnya dan memelukku
sekuat tenaga.
"Aku sudah mendengar perjuanganmu. Reed, kau adalah
kebanggaanku... tidak, kau adalah kebanggaan keluarga Baldia."
"Te-terima
kasih banyak."
Sepertinya suara
Ibu membuat Mel ikut terbangun.
"Ada
apa?" gumamnya sambil mengusap mata dan bangkit duduk.
"Selamat
pagi, Mel."
"Kakakkk,
Kakaaaaaak!"
Mel
langsung memelukku sambil meneteskan air mata yang sangat besar.
Melihat
Ibu, Mel, dan Farah yang sangat mengkhawatirkanku dengan tulus, ketegangan
dalam diriku pun runtuh, dan berbagai emosi meluap dari dalam dadaku.
"……Syukurlah.
Syukurlah kalian semua selamat."
Aku pun tak kuasa menahan haru, meneteskan air mata yang deras sambil terisak, tenggelam dalam kebahagiaan reuni ini.



Post a Comment