NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 3 Interlude 1

Interlude 1

Copper Sunset


Namaku Haruto Tendo. Aku lahir dan besar di sebuah negara kepulauan kecil bernama "Kyokuto" yang terletak jauh di sebelah timur Tutril.

Melalui berbagai peristiwa, aku akhirnya terdampar di kota ini dan menjadi seorang petualang.

Bahkan setelah menjadi petualang pun, banyak hal yang terjadi. Tahu-tahu, aku sudah menjabat sebagai pemimpin klan Copper Sunset, sebuah klan yang membanggakan party peringkat S.

Copper Sunset dibangun dengan konsep "sedikit tapi elit". Anggota kami hanya berjumlah sebelas orang: empat orang petualang dan tujuh orang non-tempur.

Meskipun kami adalah party peringkat S, penjelajahan labirin kami hampir eksklusif hanya di lapisan bawah. Kami nyaris tidak pernah pergi ke lapisan dalam.

Ah, biar kuanjelaskan, bukannya kami takut pada lapisan dalam—kami hanya ingin menjadi spesialis penjelajahan lapisan bawah, oke?

Nah, sedari tadi aku sibuk merenungkan diri sebagai bentuk pelarian dari kenyataan, tapi sudah waktunya aku menghadapi fakta yang ada. Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku sekali lagi.

Selain tiga rekanku, penglihatanku dipenuhi oleh lebih dari dua puluh naga dari berbagai spesies—Fire Dragon, Earth Dragon, hingga Wyvern. Yap, melarikan diri dari kenyataan di sini benar-benar sia-sia.

Satu atau dua ekor dari makhluk ini saja sudah cukup untuk membuat petualang peringkat tinggi kesulitan, dan sekarang ada dua puluh ekor. Kita benar-benar bisa mati.

"Oi, Fuuka, apa kau sudah memikirkan apa yang akan kita lakukan?"

Aku memanggil gadis yang berdiri di sampingku, yang memasang wajah tanpa ekspresi hingga mustahil untuk menebak apa yang sedang dia pikirkan.

Namanya adalah Fuuka Shinonome. Rambut hitam legamnya yang sehalus bulu gagak berkibar tertiup angin.

Dia mengenakan pakaian tradisional dari kampung halaman kami yang telah dimodifikasi agar mudah untuk bergerak.

Dia adalah kartu as dari party ini, sekaligus biang keladi yang menciptakan situasi ini. Kami semua cukup sering terseret oleh ulahnya.




"...?"

Fuuka memiringkan kepalanya ke samping dengan wajah yang tampak seolah dia sama sekali tidak mengerti apa pun.

"Bukan, aku bertanya apakah kau punya rencana untuk mengalahkan mereka."

"Tinggal berburu saja. Kau butuh sisik naga, kan?"

...Yah, sudah kuduga. Tidak, kurasa itu tidak masalah bagimu, Fuuka! Lagipula kau tidak pernah terkena serangan. Tapi kami yang lain ini hanyalah manusia biasa... Tolong pahami penderitaan orang biasa, Nona Jenius.

Tepat saat aku merasakan keinginan tulus untuk memegangi kepalaku karena putus asa, seekor Fire Dragon di dekat kami mengeluarkan raungan.

"Berisik! Aku sedang memikirkan apa yang harus kulakukan pada kalian sekarang! Diamlah, bodoh!"

Secara impulsif, aku menghantamkan tinjuku ke wajah Fire Dragon itu.

"Ah, gawat..."

"Hei! Jangan memulai pertarungan sendiri saat kami belum siap!"

Huey, Healer kami, mengeluhkan tindakanku.

"Maaf, refleks."

"Itu bukan sesuatu yang kau lakukan hanya karena 'refleks'!"

Keseimbangan yang tadinya terjaga kini runtuh begitu aku memukul Fire Dragon tersebut. Naga-naga itu bergerak secara serentak.

"...Sihir datang dari arah jam dua dan jam sembilan. Tangani itu."

Tanpa kusadari, Fuuka sudah berdiri di dekat Huey dan baris belakang kami yang lain, Catina—yang dipanggil Caty—seolah-olah sedang melindungi mereka. Dia memberikan instruksi layaknya sebuah ramalan.

"Haa... Seperti biasa, aku bertarung sendirian, ya... Kesepian sekali!"

Sambil menggerutu, aku menerjang ke dalam pertahanan naga itu dan memukul perutnya sekuat tenaga. Naga yang terpukul itu menyemburkan darah dari seluruh tubuhnya sebelum berubah menjadi kabut hitam.

Ini adalah teknik yang diwariskan dalam keluargaku. Seranganku, yang dijalin dengan teknik ini, menyalurkan dampak ke bagian dalam lawan, menghancurkan mereka dari dalam ke luar.

Sejumlah besar naga juga mengerumuni tiga orang di belakangku. Cakar, ekor, taring—bagian-bagian tubuh yang mematikan menyerang mereka—Namun, tidak ada satu pun yang berhasil masuk ke jarak tertentu.

Katana Fuuka yang digenggam di tangan kanannya menebas mereka semua.

Di hadapan Fuuka, serangan bahkan tidak sempat menjadi serangan.

Jika orang yang tidak tahu melihat pemandangan ini, itu akan tampak seolah-olah naga-naga tersebut menawarkan tubuh mereka sendiri untuk dipotong.

...Yah, gerakannya begitu cepat sehingga hampir tidak ada yang bisa mengikutinya dengan mata telanjang.

Tepat seperti prediksi Fuuka, seekor Fire Dragon menembakkan peluru api, tetapi dua orang di baris belakang mencegatnya dengan mudah menggunakan sihir.

Meskipun menghadapi jumlah spesies naga yang sangat banyak, kami memberikan perlawanan yang sengit.

"Fuuka, tolong akuuuu!"

Beberapa saat setelah pertempuran dimulai, aku berteriak meminta tolong pada Fuuka.

Tidak, serius, ini mustahil! Aku bisa mati! Melawan naga sebanyak ini adalah kegilaan!

"Sibuk melindungi mereka berdua."

Fuuka bergumam dengan ekspresi yang sama sulitnya dibaca.

"Jangan bohong! Sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sekitarmu! Kau sudah memancarkan aura 'pertarungan berakhir'!"

Fuuka ternyata sudah menebas semua gerombolan naga yang mendekati mereka bertiga dan sekarang sedang memunguti batu sihir serta material.

Aku baru menjatuhkan enam...

"Bahaya jika ada sesuatu yang terbang ke arah mereka."

"Kau bisa mendeteksi hal itu lebih awal, kan!? Dan yang mencegatnya adalah dua orang lainnya, bukan kau!"

"......"

"Jangan abaikan aku!"

"Pemimpin, kau dikelilingi naga tapi kau tampak santai."

"Aku tidak santai! Makanya aku minta tolong!"

Terlepas dari permohonanku, aku akhirnya bertarung melawan naga yang tersisa sendirian. Kenapa dia tidak mau membantuku!?

Aku menyelinap melalui serangan Earth Dragon dan memukulnya hingga jatuh.

"Baiklah! Sisa dua!"

Akhirnya, akhir dari pertarungan ini mulai terlihat. Dua lagi, saatnya fokus dan hancurkan mereka!

—Tepat saat aku menyemangati diri sendiri, kepala dua naga yang tersisa jatuh dengan suara debum.

......Hah?

Di dekat dua bangkai itu, Fuuka, yang telah bergerak tanpa kusadari, mengibaskan darah dari bilah pedangnya dan menyarungkan katananya.

"Penaklukan selesai."

"Sekarang bukan saatnya ikut campur! Baca suasananyaaa!!"

◆◇◆

Setelah pertempuran sengit dengan gerombolan naga yang masif berakhir, kami menjelajah sebentar lagi sebelum kembali ke markas klan.

"Kami pulang."

"Ah, selamat datang kembali, semuanya. Kalian pulang cukup awal."

Memasuki markas, seorang anak laki-laki mungil berwajah kekanakan menyambut kami. Namanya Miles Rampling. Dia adalah pemuda luar biasa yang menangani semua pekerjaan administratif klan sendirian.

"Ya, berkat si bodoh bernama Fuuka yang mengamuk."

Caty menjawab pertanyaan Miles mewakili kami.

"Jangan bicara kasar. Aku tidak mengamuk."

"Hah!? Kau melakukan perilaku aneh dengan menyebarkan batu sihir ke mana-mana begitu kita sampai di lantai 90, dan kau masih berani bicara begitu?"

"Tapi Haruto bilang dia butuh banyak sisik naga."

"Aku memang bilang begitu, tapi maksudku secara bertahap, kan!? Bukan itu alasan kita mulai menjelajah pagi ini!"

"...Begitukah?"

Ditegur oleh Caty, Fuuka akhirnya tampak memahami gambaran penuh dari jadwal hari ini.

"Ahaha... Fuuka-san masih sama seperti biasanya, ya."

"Hari ini adalah yang terburuk setelah sekian lama..."

"Ah, benar juga. Ayah sedang menunggu di ruang tamu, jadi bisakah Pemimpin dan Fuuka-san pergi ke sana?"

Ayah Miles adalah kepala keluarga Viscount Rampling. Bertahun-tahun lalu, merasa berutang budi karena kami menyelamatkan Miles dari penjahat, dia secara pribadi membantu klan, dan ayahnya memberikan dukungan finansial.

Meskipun kami tidak melakukan sesuatu yang sangat besar, mereka adalah ayah dan anak yang penuh rasa tanggung jawab.

"Jarang sekali dia datang ke sini. Dimengerti. Ayo pergi, Fuuka."

Memasuki ruang tamu, kami menemukan seorang pria berpakaian rapi dan seorang pelayan wanita.

"Maaf membuatmu menunggu, Alf-san."

"Kalian pulang cukup awal."

"Kami mengumpulkan apa yang kami butuhkan lebih cepat dari rencana. Meski begitu, jarang sekali Anda datang ke sini. Apakah ada masalah mendesak?"

"Tidak mendesak, tapi aku punya permintaan untuk kalian."

"Isinya?"

"Kalian tahu bahwa Turnamen Bela Diri akan diadakan sebagai acara utama Festival Thanksgiving dalam dua minggu ke depan?"

"Kurang lebih tahu. Tidak tertarik, jadi aku belum pernah berpartisipasi atau menontonnya."

"Sampai sekarang, pesertanya kebanyakan adalah perwira dari Tentara Pusat atau Tentara Teritorial, serta petualang peringkat B ke bawah. Jarang sekali petualang peringkat A ke atas yang berpartisipasi. Marquess Fergus tampaknya tidak senang dengan situasi itu. Rupanya, dia sedang menciptakan kesempatan untuk mengumpulkan hanya petualang peringkat tinggi untuk bertarung kali ini. Marquess berbicara langsung padaku."

"Merepotkan sekali. Singkatnya, Anda ingin aku dan Fuuka ikut berpartisipasi juga?"

"Sederhananya, ya."

"Aku sampingkan diriku sendiri, tapi apakah Marquess itu bodoh karena membiarkan Fuuka berpartisipasi? Jika dia melakukannya, Fuuka yang akan menang, bukan sang Pahlawan."

"Aku tahu Fuuka-chan kuat, tapi apakah dia sampai sejauh itu?"

"Turnamen Bela Diri adalah pertarungan dengan teknik bela diri dan Ability, tidak boleh ada sihir, kan? Spesifikasi fisik Fuuka itu tidak masuk akal, dan Ability-nya tidak diragukan lagi adalah kelas terkuat. Tidak ada orang yang bisa mengalahkannya bahkan dengan sihir; tidak ada logika di mana siapa pun bisa mengalahkannya dengan sihir yang dilarang. Benar kan, Fuuka?"

"...Mungkin?"

Aku memastikan pada Fuuka, yang sejak masuk ruangan asyik memakan camilan di atas meja seperti tupai. Dia memberikan jawaban yang samar.

"Oi oi, Pahlawan Oliver memang kuat, tapi kau akan menang dengan mudah, kan?"

"Aku bisa mengalahkan Oliver. Aku bicara tentang Orn."

Ha? Orn?

Orn adalah petualang yang kami temui selama penaklukan gabungan baru-baru ini. Dia orang yang cukup asyik untuk diajak bicara.

Dia punya latar belakang yang menarik: awalnya di Kelompok Pahlawan, sekarang pindah ke Night Sky Silver Rabbit.

Aku tahu dia kuat. Mengetahuinya bahkan sebelum datang ke Tutril.

Tapi itu jika dia bisa melepaskan kemampuan tempur aslinya. Aku tidak bisa membayangkan Fuuka kalah darinya ketika kemampuan fisik dan Ability-nya dibatasi.

Yah, dia memang monster yang mengalahkan Black Dragon sendirian, sih.

"...Aku akui dia lawan yang tangguh, tapi jika cerita Christopher benar, kau menyadarinya selama penaklukan gabungan, bukan? Meskipun kau tidak bisa menggunakan katanamu yang biasa, pembatasan pada dirinya jauh lebih ketat secara luar biasa. Aman untuk menganggap kau memiliki keunggulan."

Ability Fuuka adalah Future Sight. Dia bisa melihat sedikit ke masa depan.

Itu saja sudah merupakan keuntungan yang luar biasa, tapi selain itu, Fuuka memiliki kemampuan fisik dan insting bertarung yang jauh melampaui manusia biasa.

Bahkan sebelum Ability-nya bangkit, dia sudah cukup terampil sehingga pendekar pedang terkuat di kampung halaman kami menyatakan bahwa dia 'pasti akan menjadi pendekar pedang yang melampauiku di masa depan.'

Faktanya, sejak menjadi petualang, Fuuka belum pernah menderita satu pun luka gores.

Dia jauh lebih terampil dengan pedang daripada orang seperti Oliver, yang disebut Sword Saint (Saint Pedang) sebelum disebut Pahlawan.

Bukan hanya di kota ini, tapi jika melihat ke seluruh dunia, hanya ada segelintir orang yang punya peluang mengalahkan Fuuka.

"Mm. Tapi dia menaklukkan Black Dragon. Aku ingin tahu seberapa kuat Orn saat ini."

"Haa... Percakapan ini menyebalkan bukan main, tapi kurasa pendapatmu ada benarnya. Alf-san, untuk saat ini, kami menerima masalah pendaftaran turnamen ini."

Turnamen Bela Diri akan menjadi kesempatan yang baik untuk mengukur bukan hanya kekuatan Orn saat ini, tapi juga kekuatan Oliver.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close