Fragmen 2
Penyatuan Jiwa dan Pedang
Setelah
berpisah dengan Orn, Fuuka melangkah ke arah kiri di persimpangan jalan. Dia
melewati gerbang dan masuk ke dalam area kediaman keluarga Shinonome.
Halaman
depan yang membentang di hadapannya hampir tidak berubah dari ingatannya.
Jalan
setapak berbatu putih yang tertata rapi mengarah lurus menuju bangunan utama,
dengan semak-semak yang ditanam teratur di kedua sisinya.
Warna
hijau dedaunan yang diterangi sinar matahari musim panas tampak menyilaukan,
dan bunga-bunga musiman yang mekar di sana-sini memberikan sentuhan warna yang
tenang. Ini adalah tempat yang dulu sering dia lewati berkali-kali.
Namun,
sekarang segalanya sudah berbeda.
Fuuka mengarahkan
pandangannya lurus ke depan. Di sana, seorang pria berdiri dengan tenang.
Kiryuu
Tendou.
Rambut
putihnya tampak bertambah, namun ada rasa rindu yang terselip di hati Fuuka.
Meski begitu, bagi Fuuka yang sekarang, pria itu tampak seperti dinding raksasa
yang menghalangi jalannya.
Angin berhembus.
Angin musim panas yang dulu sangat dia sukai. Namun saat ini, dia bahkan tidak
memiliki kelonggaran untuk merasakannya.
Fuuka
menghentikan langkahnya. Halaman ini adalah tempat dia dulu belajar ilmu pedang
dari Kiryuu.
Di tempat yang
penuh kenangan ini—kini, sang murid bersiap mengarahkan bilah pedangnya kepada
sang guru.
"Ternyata
Anda benar-benar datang ke sini."
"Seperti
ajaran Guru, aku sudah menjadi lebih kuat. Sekarang aku memiliki banyak rekan
yang bisa diandalkan. Karena itu, aku hanya akan melakukan apa yang bisa
kulakukan."
"Begitulah
rupanya. Tanpa perlu beradu pedang pun, saya sudah bisa merasakan betapa
kuatnya Tuan Putri sekarang."
"……Apa Guru
punya niat untuk minggir?"
"Tidak ada.
Karena inilah satu-satunya peran yang tersisa bagi saya."
"Begitu.
Kalau begitu, ──aku akan menerobos masuk, meski harus dengan paksa."
Fuuka
mengeluarkan pedang terkutuk yang masih tersimpan di sarungnya dari alat sihir
penyimpanan di pinggang kirinya, lalu menggenggamnya tenang dengan tangan kiri.
"Haha…… Bagaimana Anda bisa membual seperti itu?
──Seorang gadis kecil yang baru memegang pedang selama sepuluh tahun, apa Anda
benar-benar berpikir bisa menang melawan saya yang telah menyerahkan lebih dari
setengah abad hidup saya demi pedang?"
Suara
Kiryuu merendah, perlahan memanas dengan intensitas yang tenang. Suasananya
berubah dari tenang menjadi sesuatu yang mengancam dan berbahaya.
Namun,
Fuuka tidak gentar.
Bersamaan
dengan bunyi koiguchi yang terbuka, dia memperpendek jarak dalam sekejap
dengan Ground Shrink.
Tidak ada
keraguan. Dia sudah lama memantapkan tekad untuk beradu pedang.
Namun──Kiryuu
sama sekali tidak bergerak.
Tidak
hanya dalam realita, bahkan dalam Future Sight, sosoknya tidak
menunjukkan perubahan. Dia hanya berdiri tenang, menatap lurus ke arahnya.
Pemandangan
itu menimbulkan keraguan dalam diri Fuuka.
(……Dia
tidak bergerak? Kalau begitu, langsung saja──)
Tapi jika
dia ragu meski hanya sesaat, dialah yang akan tertebas. Fuuka menghentakkan
kakinya seolah membuang keraguan tersebut. Dia mengayunkan pedangnya.
Pada saat
itu.
Kiryuu
bergerak.
Future
Sight
memperlihatkan kepada Fuuka──pemandangan masa depan di mana dia ditebas oleh
Kiryuu.
Namun,
penglihatan itu datang terlambat. Fuuka sudah terlanjur memulai ayunannya.
Pedang
Kiryuu menangkis jalur pedang Fuuka. Kemudian, tebasan kedua yang dilepaskan tanpa ragu mendekat ke arahnya.
"──kh!!"
Fuuka berusaha
menghindar sekuat tenaga. Namun, dia tidak sempat menghindar sepenuhnya. Jejak serangan tajam
menyabet pipinya, rasa panas menjalar bersama luka sayatan yang dangkal.
Fuuka
menendang tanah, kembali mengambil jarak.
"……Hmm.
Sepertinya gerakan saya masih terlalu cepat. Jika saya menunggu satu ketukan
lagi, saya pasti sudah menebas Anda dengan telak."
Kiryuu
bergumam pelan. Suaranya tetap tenang, namun tatapannya menilai situasi dengan
dingin.
"…………"
"Saya rasa
saya pernah mengajari Anda dulu, Tuan Putri. Jika Anda terlalu bergantung pada
mata itu, Anda akan terjatuh."
Detik berikutnya,
sekali lagi, Fuuka melihat masa depan di mana dia ditebas.
"──kh!?"
Secara refleks dia melompat menjauh, melarikan diri dari
jangkauan Kiryuu. ……Namun, Kiryuu tidak bergerak satu langkah pun.
Melihat kenyataan itu, ujung pedang Fuuka sedikit bergetar.
"Melihat terlalu banyak hal juga bisa menjadi masalah,
ya."
Suara Kiryuu yang tenang membuat dada Fuuka bergejolak.
──Future Sight.
Sama seperti Self Healing, kemampuan itu selalu aktif
tanpa memedulikan kehendak penggunanya.
Dalam penglihatan Fuuka, dua pemandangan—'Masa Sekarang' dan
'Masa Depan yang Sedikit Lebih Maju'—selalu tumpang tindih.
Biasanya, masa
depan yang terlihat akan menjadi kenyataan. Namun ada pengecualian. Yaitu saat
Fuuka, sang pemilik penglihatan, mengubah tindakannya.
Jika dia mengubah
tindakan, hal itu akan memicu perubahan pada tindakan orang-orang di
sekitarnya. Dan masa depan yang baru akan terproyeksi di matanya.
Dalam turnamen
bela diri tahun lalu, Orn memanfaatkan karakteristik tersebut.
Begitu Fuuka
bergerak untuk merespons, Orn akan mengubah pola serangannya—strategi itu
diulangi dengan kecepatan tinggi.
Akibatnya, Fuuka
terpaksa melihat masa depan yang tak terhitung jumlahnya dalam sekejap, dan
beban pada otaknya melampaui batas.
Memanfaatkan
celah saat Fuuka hampir kehilangan kesadaran berpikir, Orn memenangkan
pertandingan.
──Pertukaran tadi
pun menggunakan logika yang sama.
Kiryuu
seolah hendak menebas Fuuka. Melihat masa depan itu, Fuuka menghindar.
Merespons
gerakan menghindar tersebut, Kiryuu menghentikan serangannya. Karena itulah,
pemandangan di Future Sight dan kenyataan menjadi berbeda.
Tentu
saja, tidak semua orang bisa melakukan hal seperti ini. Namun, lawan di
hadapannya berbeda.
Baik dalam ilmu
bela diri maupun taktik, dia melampaui Fuuka. Dan yang terpenting, dia adalah
lawan yang sangat memahami cara menangani Future Sight.
"Namun, saya
terkejut. Tidak
sangka Anda sudah menjadi sekuat ini. Jika lawan Anda bukan saya, Anda mungkin
tidak akan kalah dengan mudah. Tapi sayangnya, dalam pertempuran ini, Anda
tidak punya peluang menang jika terus begini."
"Pertarungan
ini belum berakhir."
Fuuka
bergumam sambil memasukkan sarung pedangnya kembali ke penyimpanan, dan
perubahan muncul pada pedang yang digenggamnya.
Dari
pangkal hingga ujung bilah mulai memerah, hingga akhirnya seluruh bilah pedang
berwarna perunggu.
"……Bilah
berwarna perunggu, ya. Begitu rupanya……"
"Aku
datang, Guru."
"Ya.
Tunjukkanlah segalanya kepada saya, Tuan Putri."
Setelah
percakapan itu, keduanya kembali saling menerjang.
◆◇◆
Keringat
yang mengalir di pipi masuk ke dalam luka, memberikan rasa perih. Sambil
bernapas terengah-engah, Fuuka sedikit menurunkan ujung pedangnya.
Pakaiannya robek
di sana-sini, dan banyak luka sayatan baru di kulitnya. Padahal dia yang terus
menyerang, namun perlahan dia justru terdesak dan ayunannya mulai tumpul.
Setiap kali
pedang beradu, rasanya seolah hanya gerakannya saja yang terbaca sepenuhnya.
Kiryuu tetap menjaga jarak dengan tenang, bahkan kuda-kudanya tidak goyah
sedikit pun.
"Wajar jika
hasilnya menjadi seperti ini."
Suara Kiryuu yang
akhirnya angkat bicara tidak mengandung ejekan maupun rasa kasihan, melainkan
hanya pemaparan fakta yang datar.
"Inti dari
seni bela diri pedang kita adalah Go no Sen (menyerang setelah lawan).
Bagi Tuan Putri yang terpaksa bergerak duluan untuk mengusir saya, sudah
sewajarnya jika Anda terkena serangan balik."
Fuuka menggigit
bibirnya. Namun, Kiryuu masih melanjutkan.
"Lagi pula,
ada beberapa penyebab kekalahan Anda yang lain."
"Penyebab...
kekalahan yang lain...?"
Mendengar
pertanyaan balik Fuuka, Kiryuu menjawab setelah jeda sejenak.
"Pertama,
karena Tuan Putri adalah seorang Pemilik Kekuatan Unik. Pemilik Kekuatan Unik
bisa menggunakan kemampuan unik yang tidak bisa ditiru orang lain, namun karena
itu berasal dari mana, Anda tidak bisa menggunakan Ki Anda secara
sempurna."
Kiryuu mulai
menjelaskan dengan tenang.
"Tuan Putri
mampu mengendalikan 99,99% dari Ki Anda sendiri. Namun, ──saya
mengendalikan 100%."
Hanya selisih
satu per sekian persen. Namun bagi dua orang yang sedang menjangkau puncak bela
diri, perbedaan ini sangat fatal.
"Dan yang
terpenting dari semuanya adalah──Tuan Putri kurang memiliki tekad."
"Tekad?
Kalau soal itu……"
"Tidak.
Masih kurang. Buktinya adalah……"
Kiryuu
mengalihkan pandangannya ke pedang Fuuka.
"Bilah
pedang itu berwarna perunggu, bukan?"
"Apa...
maksudmu...?"
Mata Fuuka
bergetar.
"Sesuai apa
adanya. Sebenarnya Anda pasti sudah menyadarinya. Anda menyadarinya namun
pura-pura tidak melihat. Itulah yang menunjukkan kurangnya tekad Anda."
Untuk pertama
kalinya, muncul sedikit bayang kegelapan di mata Kiryuu.
"──Sudah
cukup. Tuan Putri tidak bisa menang melawan saya. Inilah hasilnya."
Begitu selesai
bicara, sosok Kiryuu tampak kabur.
"──kh!?"
Seketika, Future
Sight membombardir Fuuka dengan masa depan yang tak terhitung jumlahnya.
Fuuka mengabaikan
pemandangan masa depan di penglihatannya dan mencoba menangkis dengan fokus
pada pedang yang digenggam Kiryuu saat ini.
Namun, Kiryuu
jauh lebih lihai. Dia menjadikan pedangnya sebagai umpan dan meluncurkan
tendangan telak ke arah Fuuka.
"Aggh!?"
Fuuka yang
menerima benturan keras di perutnya terpental ke udara. Dia menabrak dinding
lantai dua bangunan utama hingga hancur, lalu berguling di lantai bersama
serpihan kayu dan pecahan kaca.
Sambil
mengerang kesakitan, Fuuka tergeletak telungkup tak berdaya. Meski tidak
kehilangan kesadaran, dia harus berjuang keras hanya untuk mengatur napasnya.
◆◇◆
Sekitar
satu minggu sebelum Fuuka dan yang lainnya datang ke Kyokuto──.
"Hei,
Orn."
Fuuka,
yang baru saja selesai mengalahkan monster raksasa yang muncul di Kadipaten
Hitia, tiba-tiba membuka suara.
"Hm? Ada
apa?"
"Apa Orn
tidak takut mati?"
"Kenapa
tiba-tiba tanya begitu... Tentu saja aku takut mati. Itu normal, kan."
Sambil
tersenyum kecut, Orn menjawab.
"Lalu kenapa
kamu bisa menggunakan Exorcism? Padahal jika salah sedikit saja dalam
menanganinya, kamu sendiri yang akan mati."
"……Begitu
ya, jadi itu maksudmu."
Menyadari maksud
dari pertanyaan Fuuka, Orn tersenyum tipis.
"Seperti
yang kubilang tadi, aku takut mati. Tapi, dibandingkan hal itu──kehilangan
sesuatu yang berharga jauh, jauh lebih menakutkan bagiku."
Orn terus
berbicara dengan pandangan mata yang menerawang.
"Dulu
aku pernah dua kali gagal melindungi hal yang berharga. Keduanya karena
kekuatanku yang tidak cukup... aku kehilangannya tepat di depan mataku."
Suaranya
menyiratkan tekad tenang yang menyimpan rasa sakit.
"Aku sudah
kapok merasakan hal seperti itu. Jika dengan mempertaruhkan nyawaku sendiri
peluang untuk melindungi sesuatu yang berharga bisa meningkat sedikit saja,
aku──tidak akan ragu untuk mempertaruhkan nyawaku."
◆◇◆
Sambil meringis
menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya, Fuuka teringat
percakapannya dengan Orn.
Sosok pria yang
berkata akan melindungi hal berharga meski harus mempertaruhkan nyawa terbayang
di balik kelopak matanya.
Dirinya yang
selama ini mengaku sebagai 'pedang Orn', bagaimana dengan dirinya sendiri?
Apakah dia sudah
melindungi? Apakah dia sudah teguh? Apakah dia memiliki tekad yang sepadan
dengan pria itu?
Pada saat itulah.
Sesuatu yang
tumpul dan berat mendesak naik dari lubuk hatinya yang terdalam.
Pedang
terkutuk yang digenggam tangan kanan Fuuka bergetar sedikit. Dan dia merasa
seolah ada seseorang yang membisikkan sesuatu di telinganya.
'──Memprihatinkan
sekali.'
Itu bukan
sebuah suara. Melainkan gelombang emosi negatif yang meresap langsung ke otak,
menyusup ke dalam jiwanya.
'Cuma segini
kemampuanmu?'
'Tebas. Tebas lebih banyak lagi. Tebas,
tebas, dan teruslah menebas……!'
Amarah.
Kebencian. Ketakutan. Kesedihan.
Sisa-sisa
emosi dari para siluman yang dulu ditebas oleh pedang ini mengalir masuk ke
dalam diri Fuuka seperti banjir. Biasanya, dia tidak peduli meski mendengarnya.
Jika dia mengalihkan perhatian, itu hanya akan menjadi kebisingan biasa.
──Tapi
sekarang berbeda.
Rasa
sakit di tubuhnya. Keraguan di hatinya. Suara-suara itu menjadi semakin jelas, seolah menusuk celah di saat dia
sedang lemah.
'Tadi bilang
sudah berusaha menjadi kuat? Hasilnya malah menyedihkan begini.'
'Satu-satunya
kelebihanmu cuma menebas, untuk apa ragu sekarang?'
'Pada akhirnya
kau bukan siapa-siapa. Makanya kau menyebut dirimu "pedang" demi menipu diri
sendiri, kan? Konyol sekali.'
"Berisik……"
Fuuka
menggumamkan suara serak. Namun hal itu justru memberikan efek sebaliknya.
Suara kutukan semakin deras mengalir ke dalam dirinya.
Fuuka
meringis, berusaha melawan agar tidak tertelan oleh emosi negatif tersebut.
Saat itulah, ──tiba-tiba sebuah suara yang berbeda dari sebelumnya sampai ke
telinganya.
"…………Apa ada
seseorang di sana……?"
Itu adalah suara
seorang gadis. Bukan kutukan, bukan pula halusinasi. Suara itu lembut,
gemetar, dan terasa nyata.
(……Suara... barusan……)
Fuuka sedikit mengangkat wajahnya. Dan sekali lagi.
"Anu…… tolong…… keluarkan saya dari sini……!"
Kali ini
terdengar jelas. Itu bukan kutukan, melainkan suara nyata yang meminta
pertolongan.
Sambil menahan
tubuhnya yang sempoyongan, Fuuka mengerahkan tenaga pada lengannya. Di ujung
pandangannya, terdapat ruangan yang dulunya adalah kamarnya sendiri. Di balik
pintu geser fusuma itu, aura yang mengandung mana tampak bergejolak
samar.
(……Dia ada di
sana.)
Fuuka melangkah
perlahan namun pasti menuju pintu geser tersebut. Yakin bahwa gadis itu ada di
sana. Dan seolah menebas suara-suara kutukan yang mengganggu, Fuuka mengayunkan
pedangnya secara horizontal.
Dia menebas habis
sihir yang menutupi ruangan itu, bersamaan dengan suara denting keras, pintu
geser itu terbelah menjadi dua.
Berkat tebasan
Fuuka, cahaya masuk ke dalam ruangan. Di balik pintu yang tumbang──di ujung
keheningan itu, seorang gadis berada di sana.
Di ruangan yang
tadinya tidak terjangkau cahaya, gadis itu menatap ke arahnya dengan pandangan
kosong.
Dia pasti sudah
berusaha keras melakukan sesuatu untuk keluar dari sana. Gadis berbaju miko itu
tampak berantakan, baik tubuh maupun pakaiannya.
Meski
begitu──hanya matanya saja yang berkaca-kaca, persis seperti anak kecil yang
tersesat dan akhirnya menemukan kakaknya.
"Kakak... Fuuka……?"
Pemilik suara itu tampak sedikit lebih dewasa dari gadis
yang ada dalam ingatan Fuuka. Namun,
dia tidak mungkin salah mengenalinya.
"……Lama
tidak bertemu, Nagisa. Kita berdua sama-sama berantakan, ya."
Fuuka mencoba
tersenyum, namun wajahnya meringis karena rasa sakit dari luka di pipinya.
Melihat Fuuka,
Nagisa berdiri seolah bendungan perasaannya pecah. Dia berlari sempoyongan dan
menubruk dada Fuuka.
"Kakak……!"
Itu adalah
teriakan yang seolah melepaskan segala ketegangan yang tertahan.
Tubuh kecil
Nagisa yang memeluknya gemetar hebat. Isak tangis yang tertahan kini meluap,
menghantarkan rasa panas dan basah ke dada Fuuka.
"……Maaf,
Nagisa. Aku terlambat."
Fuuka mencoba
melingkarkan lengannya, namun rasa sakit di sekujur tubuh menghalanginya untuk
bergerak bebas.
Meski
begitu, dia melingkarkan satu lengannya di punggung adiknya yang gemetar dan
memeluknya erat.
"Sudah
tidak apa-apa. ──Semua akan baik-baik saja……"
Suara
yang seolah ditujukan untuk menenangkan dirinya sendiri itu terdengar serak di
pangkal tenggorokan.
Fuuka
perlahan memejamkan mata. Merasakan kehangatan nyawa yang akhirnya berhasil dia
renggut kembali──.
Setelah Nagisa
mulai tenang, Fuuka membuka suara.
"Nagisa, ada
yang ingin kuminta tolong."
"I-iya! Tentu saja! Meski terkurung di kamar, aku bisa
merasakan situasi di luar samar-samar…… Aku harus mengusir monster-monster itu
dengan kekuatan unikku, kan?"
Suara
Nagisa tidak lagi mengandung kecemasan seperti tadi.
"Itu juga
hal yang ingin kuminta, tapi saat ini bukan itu."
Fuuka perlahan
menggelengkan kepalanya.
"Saat
ini──aku ingin kamu meminjamkan kekuatanmu untuk membantuku menebas dinding
yang menghalangi jalanku."
"Dinding……?
Apa yang harus kulakukan?"
"Gunakan
kekuatan unik Nagisa untuk menghubungkan Ki milikku dengan kekuatan gaib
(妖力 - Youryoku) pedang terkutuk ini."
"Eh!?
Menghubungkan kekuatan gaib dengan Ki itu sangat berbahaya! Kalau salah sedikit saja, kepribadian
Kakak bisa tertelan oleh pedang itu!?"
"Aku tahu.
Tapi, inilah yang namanya 'menunjukkan tekad'."
"…………Baiklah."
Nagisa
menundukkan wajahnya dengan sedih, lalu mengangguk pelan.
"Kakak,
jangan sampai kalah oleh kekuatan gaibnya, ya."
"Tidak apa-apa. Karena aku adalah──Blade of Demon
King."
Nagisa mengaktifkan Soul Interference. Detik
berikutnya, Fuuka merasakan sesuatu mengalir masuk ke dalam tubuhnya dari
pedang terkutuk itu.
◆◆◆
Begitu tersadar, Fuuka berdiri di tempat yang asing. Sebuah
cakrawala putih bersih tanpa rintangan apa pun yang mengingatkan pada padang
es, dengan langit seperti fajar menyingsing (Shinonome) yang membentang
luas──dia berada di Dunia Arwah.
Dan di sana, kabut berwarna perunggu yang mengingatkan pada
warna darah melayang-layang mengelilinginya.
'……Apa maumu?
Sebagai seorang wanita manusia biasa, apa kau berniat memegang kendali atas
kami?'
'Padahal kau
sempat terpuruk cuma karena hal sepele tadi, apa kau merasa sudah mendapatkan
sesuatu?'
Suara-suara yang
saling tumpang tindih menggema di dalam kepalanya. Teriakan amarah. Ejekan.
Caci maki. Semuanya penuh dengan kebencian.
Dulu, Fuuka
mengabaikan suara kutukan itu sebagai kebisingan biasa. Namun bagi dirinya yang sekarang,
itu bukan lagi sekadar kebisingan.
Meskipun
meminjam kekuatan pedang terkutuk itu, dia tidak pernah melangkah masuk ke
bagian dalamnya. Karena dia takut akan tertelan.
──Namun,
dia menyadari bahwa dengan begitu, dia tidak akan sampai ke tujuannya.
Saat dia
kalah dari Kiryuu dan dihadapkan pada kenaifannya sendiri, dia menyadari
ketakutan yang ada di lubuk hatinya.
'Gadis bodoh.
Biarkan dirimu tertelan oleh kami.'
Fuuka menarik
napas pelan. Melangkah ke dalam aliran kutukan itu tetap menakutkan baginya
hingga saat ini.
Namun jika dia
tidak maju, ada hal yang tidak bisa dia lindungi.
Negara ini.
Rekan-rekannya. Adiknya.
"……Cuma itu
saja yang mau kalian katakan?"
Fuuka mengangkat
pandangannya. Di matanya tidak ada lagi keraguan.
"Kalau
begitu, sekarang giliranku. Dengarkan."
'……Kau mau
memerintah kami? Dasar gadis kecil yang bukan siapa-siapa.'
Fuuka perlahan
menutup mata, lalu membukanya kembali. Api tekad yang ada di dasar hatinya
bersemayam dalam tatapannya.
"──Aku adalah Blade of Demon King. Sosok yang
akan merebut kembali negara ini, dan bersama rekan-rekanku, berjalan di jalan
kejayaan yang ditempuh sang Raja."
Suara tenangnya melebur di langit Dunia Arwah. Namun
kata-kata itu benar-benar menggetarkan kabut-kabut perunggu di sekitarnya.
'Cih, kalau cuma menggonggong, binatang pun bisa.'
'Menyesallah selagi mulutmu masih bisa bicara, bocah.'
Fuuka melangkah
satu tindak menuju pusat kabut. Tekanan yang tidak terlihat membebani tubuhnya.
Napasnya menjadi
pendek. Namun, matanya tidak mati.
"Kekuatan
kalian memang kuat. Aku tidak membantahnya."
Di dalam kabut,
suara-suara itu berhenti. Mendengar kata-kata yang dimulai bukan dengan
permusuhan melainkan pemahaman, suara-suara kutukan itu bergejolak seolah
bingung.
"Tapi, apa
yang sudah kalian capai dengan kekuatan itu? Hanya meneriakkan kebencian,
melukai, dan terus mengulangi hal yang sama. Hal seperti itu tidak ada artinya.
Kalian sendirilah yang bukan siapa-siapa."
Suara Fuuka tenang. Namun, di intinya bersemayam panas yang
membara.
"Aku pun dulu takut. Aku pura-pura tidak melihat
kalian, dan hanya mengeruk kekuatan di permukaan saja di saat yang
menguntungkan. Karena aku takut
tertelan kutukan, takut kehilangan diriku sendiri──karena itulah aku terus
melarikan diri."
Di sekeliling
pandangannya, kabut perunggu berpusar. Seolah-olah mereka bergejolak merespons
kata-kata Fuuka.
"Tapi itu
salah. Menggunakan kekuatan di permukaan saja karena menguntungkan namun tidak
mau melihat ke dalamnya──hal itu tidak bisa disebut sebagai menghadapi
kalian."
Fuuka
menggenggam erat pedang terkutuknya.
"Mungkin
sudah terlambat, tapi aku akan menghadapi kalian. Amarah itu, kebencian itu,
kesedihan itu──aku akan menanggung semuanya, dan terus melangkah maju."
'……Apa yang
kau katakan?'
'Kau
sepertinya belum paham betapa bodohnya hal itu.'
"Aku paham.
Tapi, aku tetap memutuskan untuk melakukannya."
Dari
dalam diri Fuuka, Ki perlahan membubung tinggi. Ki berwarna merah
muda pucat (Usuzakura) yang mengingatkan pada musim semi.
"Aku yang
akan memberikan arti pada kalian. Bersama kalian, aku akan menebas masa depan.
Karena itu, ──pinjamkan kekuatan kalian padaku."
Saat kabut
perunggu menyentuh Ki milik Fuuka, partikel cahaya bertebaran.
'……Aku tidak
suka, tapi ini menarik.'
Pusaran warna
perunggu perlahan-lahan berubah warna menjadi merah muda pucat yang lembut.
'Baiklah. Akan
kupinjamkan kekuatan kami.'
Seolah-olah hati
mereka telah berubah. Seolah-olah amarah itu meleleh dan mendapatkan makna
baru.
'Tapi jangan
lupa. Kami bukanlah pelayan yang patuh. Jika kau menunjukkan celah──'
"──Kalian
berniat memangsaku, kan?"
Sudut bibir Fuuka
sedikit terangkat. Tidak ada lagi ketakutan di sana. Yang ada hanyalah tekad.
"Baguslah.
Begitu justru lebih menantang."
Kebisingan
itu pun mereda.
Kabut
dari kekuatan gaib itu seolah dipandu oleh angin, memusat dan menyatu ke dalam
tubuh Fuuka.
Kekuatan
gaib yang tadinya berwarna perunggu kini ternoda oleh warna merah muda pucat,
lalu bersemayam di dalam dirinya.
──Gadis
itu tetap menggenggam pedangnya. Fajar yang berwarna perunggu perlahan-lahan mulai memudar. Tak lama
kemudian, langit timur mulai merembeskan cahaya merah muda pucat yang lembut.
Melewati fajar dari segala kutukan, dia pun mulai melangkah dengan tenang──.
◆◆◆
"Kakak……"
Suara cemas
Nagisa menarik Fuuka kembali ke kenyataan. Meski apa yang terjadi terasa
seperti mimpi, pedang yang digenggamnya seolah menjadi saksi bisu bahwa
segalanya benar-benar nyata.
"Apa Kakak
baik-baik saja……?"
Fuuka
mengembuskan napas panjang satu kali, lalu mengangguk perlahan.
"Iya. Aku
baik-baik saja. Terima kasih, Nagisa."
Setelah
mengucapkan terima kasih, Fuuka membalikkan badan dan mulai berjalan.
"Tu-tunggu!"
Nagisa
menghentikan langkah Fuuka, lalu—
"──Heal!"
Dia merapalkan
sihir pemulihan kepada kakaknya.
"Maafkan
aku. Saat ini hanya sihir seperti ini yang bisa kugunakan……"
"Tidak
apa-apa. Ini sangat membantu. Sekarang, aku merasa tidak akan kalah dari siapa
pun."
Fuuka tersenyum
kepada Nagisa, lalu kembali melangkah maju. Begitu tiba di depan lubang dinding
hasil tendangan Kiryuu tadi, dia menatap ke arah halaman depan.
Di ujung
pandangannya—tepat di tengah halaman—Kiryuu masih berdiri diam dengan posisi
yang persis sama seperti sebelumnya.
Tidak ada
tanda-tanda dia akan melakukan serangan susulan, tidak pula ada jejak bahwa dia
telah berpindah tempat.
Seolah-olah sejak
awal dia memang tidak berniat beranjak dari sana.
Menyadari
keberadaan Fuuka, Kiryuu membuka matanya perlahan. Begitu tatapannya menangkap
sosok Fuuka, matanya sedikit membelalak.
"……Begitu
rupanya. Itukah tekad Tuan Putri?"
Sosok Fuuka yang
berdiri di hadapannya bukan lagi sosok yang sama seperti tadi.
Bilah pedang yang
ada di tangannya telah berubah warna menjadi merah muda pucat yang lembut.
Cahaya redup yang
membubung dari bilah pedang yang bergetar itu seolah merembes ke udara,
memberikan nuansa kabut sakura yang indah.
Dan yang paling
berubah dari segalanya adalah—matanya. Di tengah iris hitamnya, setitik warna
merah muda pucat terpancar, dengan cahaya menyerupai kelopak bunga yang mekar
dengan tenang di sana.
Nama pedang
terkutuk yang digenggam Fuuka adalah—Hakuou (Sakura Putih). Sosoknya
yang sekarang barulah benar-benar layak menyandang nama tersebut.
"──Aku
datang, Guru."
"Ya. Kali
ini, tunjukkanlah segalanya kepada saya. Seluruh diri Tuan Putri!"
Sama seperti
pertukaran pertama, Fuuka memperpendek jarak dengan Ground Shrink.
Kiryuu
meresponsnya dengan sedikit menggeser titik berat tubuhnya. Sekali lagi, Future
Sight membombardir Fuuka dengan masa depan yang tak terhitung jumlahnya.
Bilah
pedang mereka belum sekalipun beradu. Hanya saja, gerakan kecil dari
masing-masing pihak memicu masa depan berikutnya dan terus menulis ulang
kenyataan.
Selisih
satu per sekian persen yang sebelumnya tidak bisa dikejar Fuuka, masih tetap
ada di sana.
Dalam hal
teknik maupun pengalaman, Kiryuu masih berada di atas.
Jumlah
jalur tebasan yang bisa dipilih Kiryuu jauh lebih banyak daripada Fuuka. Teknik
Fuuka masih belum cukup untuk menangani semuanya dengan akurat.
Meski
begitu, Fuuka yang sekarang tidaklah sendirian. Dia memiliki 'kekuatan' untuk menutupi selisih
yang tak terkejar itu.
(Semuanya, akan
kutebas!)
Dengan pedangnya
sendiri, dia menimpakan tebasannya pada masa depan yang terlihat. Dia
mendahului langkah Kiryuu dan menyegel gerakannya.
Namun, ada masa
depan yang tidak terjangkau oleh tangannya untuk ditebas.
Pada saat itu,
kabut sakura yang membubung dari bilah pedang terkutuk itu menenun serangan
yang meleleh bersama angin. Seolah menambal celah masa depan yang tak tergapai,
kilatan cahaya pedang itu merampas pilihan Kiryuu satu per satu.
Kekuatan gaib
yang kini menyatu dengan Fuuka benar-benar menyokongnya.
Kiryuu memilih
masa depan baru. Fuuka menebasnya, dan jika tebasannya masih kurang satu
langkah, kekuatan gaib itu akan melengkapinya.
Dalam adu taktik
itu, pilihan Kiryuu terkikis satu demi satu, hingga akhirnya masa depan
mengerucut pada satu titik.
Lalu──.
Kenyataan pun
mengejar pemandangan di masa depan. Di akhir pertarungan sengit yang hanya
berlangsung sesaat, Kiryuu memilih satu tebasan terakhir.
Tebasan itu
ditangkis dengan mulus oleh pedang yang berkilauan merah muda pucat.
"──Ngh!?"
Tercipta celah yang sangat kecil, namun pasti. Fuuka tidak mungkin melewatkan kesempatan
itu.
"──Kobore
Zakura (Sakura yang Berguguran)."
Pedang
yang diayunkan balik itu menggambar lintasan yang lembut tanpa keraguan sedikit
pun. Bilah pedang Fuuka akhirnya mencapai sang guru.
"Bisa
melepaskan jalur tebasan sehebat ini... Anda benar-benar……"
Seolah
sedang meresapi pertumbuhan sang murid,
"──Sangat
mengagumkan."
Sudut
bibir Kiryuu mengulas senyum, lalu dia berlutut dengan lemas. Sosoknya yang
jatuh terduduk itu tidak menunjukkan kekalahan, melainkan tersirat rasa bangga
yang mendalam──.
◆◇◆
"Kakak
Fuuka! Guru Kiryuu!"
Nagisa
berlari mendekat dari dalam kediaman. Meski masih mengenakan baju miko yang
penuh luka dan langkahnya goyah, dia berusaha sekuat tenaga.
Fuuka menyadari
suara itu dan menoleh. Matanya sudah kembali normal, selaras dengan bilah
pedang terkutuknya yang juga telah kembali ke wujud semula.
"Nagisa,
terima kasih untuk yang tadi. Berkat kamu, aku tidak perlu kehilangan apa
pun."
"Tidak.
Akulah yang seharusnya berterima kasih. Karena Kakak datang, aku jadi bisa keluar ke sini."
Keduanya kembali
bertukar pandang, sejenak merasakan kehangatan yang menyentuh hati.
"……Tebasan
yang hanya menebas siluman—tebasan yang hanya memutus kekuatan gaib dan mana,
ya."
Meski berlutut di
tanah, Kiryuu mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya tidak menunjukkan rasa
malu atas kekalahan, melainkan sebuah kepasrahan tenang dari seseorang yang
telah menyelesaikan tugasnya.
"Iya.
Guru tadi terkena Cognitive Alteration, kan? Aku rasa Guru sudah mencoba
melawannya dengan Exorcism…… tapi cara ini lebih pasti."
Setelah
berkata begitu, Fuuka menatap gagang pedangnya sejenak.
"Kekuatan
unik terbuat dari mana. Pedang terkutuk ini mampu menebas mana saja. Karena
itu, aku hanya menebas Cognitive Alteration-nya."
Kiryuu telah
mencapai Exorcism, titik ekstrem dari pengendalian Ki. Seharusnya
mustahil bagi pria yang bisa menghancurkan mana sepertinya untuk dikendalikan
dengan mudah.
Itulah sebabnya
Filly meresapi belenggu sihirnya secara perlahan dalam jangka waktu yang lama.
Meski di
permukaan Kiryuu tampak mematuhi Filly, sebenarnya dia terus berjuang melawan
di titik yang paling kritis.
"……Luar
biasa. Anda telah berhasil menguasai pedang terkutuk itu dalam arti yang
sesungguhnya."
"Itu semua
karena ajaran Guru."
"Hahaha…… Mendengar Anda bicara begitu adalah
kebahagiaan terbesar bagi saya sebagai seorang guru."
Kiryuu sempat menunjukkan ekspresi bahagia yang tulus, namun
detik berikutnya, wajahnya berubah menjadi penuh tekad untuk
mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Tugas yang tersisa bagi saya sudah berakhir. ──Yang
tertinggal hanyalah penyelesaian sebagai seorang abdi. Saya telah mengarahkan
pedang kepada Tuan Putri. Sebagai abdi setia, tidak ada pengkhianatan yang
lebih besar dari ini."
Setelah berkata begitu, Kiryuu mengambil belati kecil dari
balik pakaiannya dan memegang gagangnya.
"Oleh karena
itu, izinkan saya meminta maaf di sini."
Ujung belati itu
pun mendekat ke arah perut Kiryuu. Sebelum senjata itu mencapainya—
"Tunggu."
Fuuka
mencengkeram lengan Kiryuu, menghentikan bilah belati itu. Lalu, dia menatap
Kiryuu dengan tajam sambil membuka suara.
"Aku tidak
mengizinkanmu mati."
"Namun, Tuan
Putri──"
"Jika Guru
masih menganggapku sebagai tuanmu, maka sebagai tuan, aku tidak mengizinkan
nyawamu digunakan dengan cara seperti itu. Gunakanlah nyawamu untuk melindungi
negara ini."
Suaranya tenang
namun mengandung amarah yang pasti, serta keinginan kuat yang menyerupai sebuah
permohonan.
Kiryuu
menundukkan pandangannya. Setelah keheningan sesaat, dia menyarungkan kembali
belatinya.
"……Saya
mengerti. Kalau begitu, sampai saat napas saya berakhir, saya akan menggunakan
raga ini untuk bertarung demi negara."
"Guru Kiryuu…… syukurlah……"
Nagisa
menyaksikan pertukaran itu dengan mata berkaca-kaca.
"Nona
Nagisa, saya mohon maaf karena telah membuat Anda mengalami masa-masa yang
sulit."
"Tolong
jangan dipikirkan. Memang rasanya berat dan menyakitkan, tapi berkat itu aku
bisa bertemu kembali dengan Kakak Fuuka! Akhir yang baik menghapus semua
keburukan!"
Sama sekali tidak
ada nada menyalahkan dalam suara Nagisa. Kata-katanya sangat lurus; dia tidak
mencela masa lalu, melainkan penuh kelembutan yang mencoba menerima apa yang
terjadi saat ini.
"Kakak,
aku juga ingin bertarung bersama Kakak. Karena aku tidak ingin melihat siapa pun sedih lagi. Aku ingin menggunakan
kekuatan unikku demi masa depan negara ini!"
"Terima
kasih, Nagisa."
Fuuka mengusap
kepala Nagisa dengan lembut. Melihat pemandangan itu, Kiryuu bangkit berdiri dengan tenang.
"Kalau
begitu, mari kita pergi untuk mengusir para penyusup yang sudah berani
mengacaukan negara ini."
"Hm."
"Iya! ……Eh? Tapi, bagaimana dengan Gunung Suci?"
"Kamu tidak perlu khawatir soal itu. Rekanku yang bisa
diandalkan pasti akan membereskannya. Kita akan memprioritaskan keselamatan
rakyat."
"Kalau begitu, aku mengerti!"
Fuuka memantapkan rencana mereka ke depan dan kembali mulai melangkah. Membawa serta rekan-rekan yang telah dia dapatkan kembali, menuju Hanemiya yang masih terus diguyur hujan hitam──.



Post a Comment