NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 9 Chapter 4

Chapter 4

Mereka yang Berada di Dasar


Begitu aku melewati celah di antara pepohonan, pandanganku mendadak terbuka luas.

Di tengah Gunung Suci yang dipenuhi barisan batang pohon melintir, hanya area itu yang sunyi senyap, seolah-olah berada di dunia lain.

──Gerbang Torii Kuil Tenrei.

Pilar-pilar merahnya telah terpapar hujan dan angin, membuat catnya terkelupas di sana-sini. Meski begitu, gerbang itu tetap memancarkan aura keberadaan yang ganjil.

Sebelum datang ke Kyokuto, aku berpikir bahwa menginjakkan kaki di sini akan secara alami membuat hatiku merasa khidmat. Namun, kenyataannya berbeda.

Aku tahu alasannya. Sebab, dari tanah ini, mana hitam pekat menyembur keluar dalam jumlah besar, seolah-olah ingin menghancurkan atmosfer agung Kuil Tenrei.

Begitu melintasi gerbang Torii dan masuk ke area kuil, suasananya berubah lagi.

Mana hitam legam berpusar dan menyembur dari tanah, seolah hendak menelan menara pengawas yang dibangun di samping bangunan utama kuil.

Di dekat sana, berdiri seorang wanita berambut hijau segar──Filly Carpenter. Aku ingin segera meringkusnya dan menghentikan semburan mana itu, tapi sepertinya itu akan sulit.

Sejumlah besar sihir telah dipasang di seluruh area ini. Butuh waktu untuk membedah rumusnya, tapi kemungkinan besar ini adalah sihir orisinal yang setara dengan sihir tingkat khusus.

"Kau datang juga, Orn Doula."

Filly membuka suara, nadanya terdengar entah kenapa tampak senang.

"Kurasa kau sudah tahu, tapi jangan bergerak lebih jauh lagi. Aku sudah memasang banyak hal di sekitar sini."

Gerbang Torii Kuil Tenrei adalah satu-satunya jalan menuju Prinsip Sihir.

Aku tidak boleh membiarkannya hancur. Jika itu sampai hancur, bahkan dengan menggunakan Time Regression pun, tidak ada jaminan jalan menuju Prinsip Sihir akan kembali seperti semula.

Untuk saat ini, cara terbaik adalah mengulur waktu dengan percakapan sambil melumpuhkan sihir-sihir ini.

"Aku tahu. ……Lagipula, meski kita beberapa kali hampir berpapasan, ini pertama kalinya kita benar-benar bertukar kata, Filly Carpenter."

"Ya, benar juga. Jika bisa, aku sebenarnya ingin terus seperti ini tanpa pernah memiliki kontak langsung denganmu."

Filly mengedikkan bahunya, lalu mengembuskan napas dengan gaya yang dibuat-buat.

"Soalnya, tidak ada satu hal pun yang ingin kubicarakan denganmu."

"……Kira-kira begitu."

Aku menjawab dengan datar sambil terus menyelidiki struktur rumus sihir yang terpasang.

"Tapi ya, karena kita sudah telanjur bertemu, mau bagaimana lagi. Mumpung ada kesempatan, bagaimana kalau kita mengobrol sedikit? Aku tidak suka pertikaian yang sia-sia. Aku berencana segera pergi dari negara ini, jadi jika bisa, aku ingin menyelesaikannya dengan damai."

Kata-kata 'Berani-beraninya kau bicara begitu' hampir saja meluncur dari tenggorokanku, namun kupaksa telan kembali.

Aku tidak percaya Filly Carpenter menginginkan sesuatu yang damai.

Namun bagiku, jika ini bisa mengulur waktu, ini adalah perkembangan yang sangat menguntungkan.

"Kalau begitu, beri tahu aku. Apa tujuanmu?"

"Mari kita lihat. Jika harus dirangkum dalam satu kalimat, mungkin 'aku ingin menjadikan dunia ini murni'."

Dia mulai berbicara dengan nada seolah-olah sedang membicarakan cuaca.

"Ketertiban, hukum, moral, niat baik. Manusia yang hidup tampak sesak karena terikat oleh hal-hal seperti itu terlihat sangat konyol di mataku."

Bibir Filly membentuk senyum tipis yang lembut.

"Bukankah manusia itu sebenarnya makhluk yang jauh lebih buruk dan egois? Marah, takut, saling mengkhianati, saling menipu, saling memangsa……. Tidakkah menurutmu sosok seperti itu jauh lebih jujur dan alami?"

Dia terus berbicara dengan nada riang.

"Karena itulah, aku ingin mengembalikan mereka ke bentuk yang alami itu."

"……Kau sadar kan, jika dunia seperti itu datang, ketertiban akan hancur lebih parah dari sekarang?"

Mendengar pertanyaanku, senyumnya tidak memudar sedikit pun.

"Ya, tentu saja. Namun, suara ketertiban yang sedang runtuh itu terdengar indah, lho. Apalagi jika dibarengi dengan jeritan seseorang."

Lalu, dia menyipitkan mata dan menjatuhkan satu kalimat yang terasa seperti racun.

"Meski begitu, itu hanyalah bagian dari proses. Pada akhirnya,──aku berpikir akan lebih baik jika manusia tidak tersisa satu ekor pun."

Kata-kata itu membuatku merasa sekujur tubuhku menjadi dingin.

"Jika sudah begitu, tidak akan ada lagi yang berputus asa, tidak akan ada yang menderita. Lihat, bukankah ini akhir yang indah?"

"Indah dari mananya?"

Aku mengembuskan napas pelan dan membalas perkataannya.

"Sampai akhir yang kau tuju itu tercapai, entah berapa banyak orang yang harus berputus asa dan menderita. Apa kau tidak mau melihat kenyataan itu?"

Senyum Filly tidak goyah. Namun, aku tetap melanjutkan.

"Memang benar, dunia ini penuh dengan ketidakadilan. Terkadang orang baik tidak mendapat balasan, hanya niat buruk yang merajalela, dan usaha pun tidak membuahkan hasil. Aku sendiri pun sudah berkali-kali menyadari hal itu."

Memang benar manusia itu egois. Terbawa nafsu, kalah oleh rasa takut, dan terkadang mengorbankan orang lain.

"──Namun, meski begitu."

Aku menjeda kalimatku sejenak. Masa lalu yang telah kutumpuk. Hal-hal yang telah hilang. Harapan yang dititipkan padaku.──Sambil merasakan semua itu membebani punggungku, aku merangkai kata-kata.

"Meski begitu, manusia tetap melangkah maju. Walau terluka dan menyesal, mereka terus menumpuk masa lalu. Karena itulah, ada 'masa sekarang'."

Aku menatap lurus ke depan sambil mengepalkan tangan.

"Yang sedang kau coba hancurkan adalah 'harapan semua orang' yang telah dibangun dengan susah payah seperti itu."

"'Harapan semua orang'……? Kau serius percaya pada hal semacam itu? Benar-benar membuatku merinding."

Filly mengucapkannya dengan nada mencemooh.

"Dulu, ada anak yang memercayai hal semacam itu. Meski diinjak-injak berkali-kali, dia tetap percaya, bertahan, dan bergantung padanya. Pada akhirnya, dia menghilang tanpa ada yang tahu. Seolah-olah dia memang tidak pernah ada sejak awal."

Suaranya seolah tercampur dengan sedikit kebencian.

"Harapan itu, pada akhirnya hanyalah ilusi."

Filly melayangkan tatapan penuh penghinaan padaku.

"……Melihat sikapmu, sepertinya kau akan mengatakan bahwa nyawa yang tidak dicintai siapa pun, tidak dipahami siapa pun, dan hanya berakhir dengan diinjak-injak pun 'memiliki makna'.──Ini sudah lebih dari sekadar konyol, rasanya aku mau muntah."

Kalimat terakhirnya merembeskan emosi yang tidak bisa dia sembunyikan.

"Ya, aku akan mengatakannya. Bahkan jika seluruh dunia menyangkalnya, aku akan tetap menegaskan bahwa nyawa itu 'memiliki makna'."

Aku membalas tatapannya secara langsung.

"Jika tidak ada yang mengatakannya, nyawa itu benar-benar akan menjadi tidak berarti."

Lalu, tanpa mengalihkan pandangan, aku melontarkan kata-kataku.

"Dunia ini memang penuh dengan ketidakadilan, tapi aku tetap akan mengulurkan tangan. Mewarisi harapan dan menghubungkannya ke masa depan.──Sebab, itulah jalan hidup yang kupilih."

Filly menunduk, lalu mengembuskan napas pendek seolah sedang mengambil napas dalam-dalam. Saat dia kembali menatapku, matanya sudah tidak memancarkan emosi apa pun.

"……Aku sudah paham garis besarnya. Sepertinya kita memang tidak akan pernah sejalan."

Seolah merespons kata-kata itu, mana di sekitar mulai bergerak.

"Sepertinya begitu.──Annihilation."

Selama percakapan tadi, aku sudah selesai membedah seluruh sihir yang terpasang. Aku meniadakan seluruh sihir tersebut sebelum sempat diaktifkan.

"Cih!"

Menyadari sihirnya gagal aktif, Filly mendecak kesal.

"──Bind."

Begitu aku mengaktifkan sihirku, rantai hitam pekat muncul dari udara kosong dan mengikat Filly. Aku pun melangkah menuju titik semburan mana. Aku mengamati dengan saksama untuk mencari tahu cara menghentikan aliran mana yang menderu ini.

Mana Convergence hanya akan memperparah keadaan. Spirit Control tidak bisa digunakan untuk mengendalikannya.

Mungkin Soul Interference bisa membantu, tapi karena aku belum melihat Nagisa Asagiri menggunakannya, aku tidak bisa menirunya.

Terpaksa, aku akan menggunakan kekuatan kasar!

"──Alteration, End Form: Mond Ende!"

Aku menyatukan pedang sihir Schwarz Hase ke dalam tubuhku, lalu mencampurkannya dengan Ki milikku.

Aku menciptakan pedang sihir baru dengan kekuatan yang telah kuolah ulang, lalu—

"──Exorcism Heavenly Flash!"

Aku melepaskan tebasan berkekuatan penghancur mana Dewa Jahat. Mana Dewa Jahat yang tadinya menyembur dari titik itu seketika sirna.

……Tepat waktu.

Aku melepaskan End Form: Mond Ende dan mengembalikannya menjadi pedang sihir biasa.

Lalu perlahan, aku mengalihkan pandangan pada Filly yang kini jatuh tersungkur di tanah.

Dengan ini, rencananya seharusnya sudah hancur total.

"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ingin kau lakukan, tapi sekarang kau sudah skakmat, Filly."

"Skakmat……? Fufufu."

Tiba-tiba, Filly tertawa kecil.

"……Apa yang lucu?"

Mendengar pertanyaanku, Filly perlahan menoleh padaku. Di matanya, tidak ada sedikit pun raut wajah pecundang.

"Yang lucu itu──"

Dia membuka suaranya pelan, sarat akan ejekan.

"Adalah bagian di mana kau merasa telah menghancurkan rencanaku."

Udara dingin menjalar di punggungku.

"Apa jangan-jangan, kau berpikir aku benar-benar termakan oleh strategimu yang mengulur waktu itu?"

"……kh."

"Sayang sekali, tapi──"

Suaranya terdengar sangat yakin akan kemenangan.

"Saat kau tiba di sini, semuanya sudah──berakhir, tahu?"

Detik berikutnya, aku merasakan aura mengerikan dari arah belakang.

"──kh!?"

Tepat saat aku hendak berbalik secara refleks, pandanganku mendadak bergeser ke samping. Sadar-sadar, tubuhku sudah melayang di udara seolah terpental.

Benturan dahsyat menghantam punggungku, membuat udara di paru-paruku terpompa keluar seketika.

Aku berusaha mengambil posisi jatuh yang benar dan berlutut di tanah.

"Ugh……!"

Aku mengangkat wajah sambil mengatur napas yang memburu.

"Filly, kerja bagus. Aku pujilah kau."

"……Terima kasih banyak."

Sosok yang berdiri di hadapanku adalah mantan Grand Master Guild Explorer yang telah dinyatakan tewas, Belia Sans.

"Kenapa kau ada di sini. ……Bukan, ini bukan──"

Memang benar rupa dan bentuknya adalah Belia. Tapi, ada yang salah. Secara mendasar dan krusial, 'sesuatu' terasa berbeda.

"──Siapa kau sebenarnya?"

Merespons kata-kataku, 'sosok itu' perlahan membuka mulut.

"Kau bertanya siapa aku?"

Penutup mata yang menutupi mata kanan Belia merosot jatuh melewati pipinya, seolah tugasnya telah selesai.

Di mata kanannya yang kini tak terhalang apa pun, terdapat──Mata Spirit yang warnanya hitam legam, seolah-olah merupakan kegelapan tanpa dasar.

Aku pernah mendengar dari Sang Pahlawan di Dunia Arwah bahwa Belia, yang kehilangan mata kanannya di zaman dongeng, menanamkan Mata Spirit untuk melawan iblis.

Namun, mata itu sekarang begitu keruh dan hitam hingga tidak terlihat seperti Mata Spirit lagi.

"Aku adalah dia yang hendak memusnahkan manusia yang menggerogoti dunia ini."

Suara itu bergema seolah merayap di tanah, bahkan mendistorsi udara di sekitarnya. Makna maupun emosi yang terkandung dalam kata-katanya terasa sangat asing.

Mataku terbelalak merasakan sensasi yang seolah menusuk dari bawah telapak kaki. Tidak salah lagi. Sosok di hadapanku ini adalah──.

"──Dewa Jahat, Oberon……!"

Mendengar gumamanku, Oberon melayangkan tatapan tanpa emosi padaku.

"Begitu rupanya. Keturunan Augustus yang mewarisi 'kekuatan pengejawantahan potensi manusia', ya. Saat ini kau bukan lawan yang harus kuhadapi. Filly, kita mundur."

"Baik."

Entah sejak kapan, Filly yang tadinya terikat rantai sudah bebas dan berdiri.

"Jangan harap bisa lari!"

Sebelum Oberon mengaktifkan sihir teleportasi, aku menyelimuti seluruh area ini dengan penghalang anti-teleportasi.

"…………Merepotkan saja."

Begitu Oberon bergumam pelan, mana yang menyerupai bayangan mulai merembes dari tanah.

"Enyahlah."

Detik berikutnya, mana hitam pekat berubah bentuk menjadi seperti tombak-tombak dan menyerangku dari segala arah untuk menusukku.

"──End Form: Mond Ende."

Sekali lagi aku menyatukan pedang sihir dengan Ki, lalu menebas tombak-tombak yang mendekat dengan pedang sihir baru yang tercipta.

Aku langsung merangsek maju ke arah Oberon dengan Ground Shrink dan mengayunkan pedang sihirku.

Oberon mencoba mundur, namun reaksinya lamban. Pedang sihirku berhasil mengenainya sebelum dia benar-benar bisa melarikan diri dari jangkauanku.

"Ugh!"

Apakah kekuatan unik Belia, Eternal Immutability, sudah kehilangan efeknya?

Pedang sihirku berhasil menyayat tubuh Oberon. Oberon menundukkan pandangannya ke dadanya yang kini mengeluarkan darah.

Karena pedang sihirku sempat menyentuhnya, aku bisa sedikit memahami situasi apa yang sedang dialami sosok itu saat ini. Eternal Immutability sebenarnya masih aktif.

Namun, kekuatan itu digunakan di bagian dalam──untuk menekan sejumlah besar mana Dewa Jahat yang diperlukan demi membangun kesadaran Oberon.

Dengan kata lain, terhadap serangan dari luar, dia berada dalam kondisi yang sama dengan manusia biasa.

Namun, seiring berjalannya waktu, mana Dewa Jahat itu akan semakin menyatu dengan tubuh Belia.

Selain itu, tubuhku tidak akan kuat jika mempertahankan End Form: Mond Ende terlalu lama.

Aku harus menyelesaikannya dengan cepat!

"……Dalam kondisi sekarang, pertarungan jarak dekat sepertinya mustahil."

Begitu Oberon mengangkat tangan kanannya, ruang di sekitarnya seolah mengeluarkan suara berderit, dan mana hitam menghujam turun seperti ribuan anak panah.

 Masing-masing anak panah itu memiliki kekuatan yang cukup untuk melubangi daratan itu sendiri.

(Aku harus menjauh dari gerbang Torii!)

Aku keluar dari area kuil dan menghindari anak-anak panah yang mendekat dengan cara berkelit di antara pepohonan.

Sambil menahan hujan anak panah dari langit, aku mencari kesempatan untuk membalas.

Setiap kali anak panah mana itu menghujam tanah, ledakannya membuat pepohonan berderit dan batang-batangnya terbelah lalu tumbang satu demi satu.

Setiap kali pepohonan yang tadinya menjadi penghalang roboh, pandanganku perlahan-lahan menjadi semakin luas. Pada saat itulah, mana mulai terkumpul di sekitar Oberon.

(Serangan besar akan datang……!)

Tepat saat aku sedang mempertajam kesadaran untuk mengincar celah yang tercipta setelah dia melepaskan serangan, tiba-tiba—

"──Sudah cukup."

Sebuah lintasan tajam menyambar leher Oberon.

"──kh!?"

Kepala Belia-Oberon melayang di udara. Sambil merasa terguncang oleh pemandangan yang sangat tidak terduga itu, aku mengalihkan pandangan pada pelakunya──Filly Carpenter.

Dengan wajah tenang, dia melepaskan sihir ke arah kepala yang sedang melayang itu.

"──Super Explosion."

Ledakan raksasa menghantam tepat di bagian kepala yang beterbangan. Ruang terdistorsi, dan gelombang ledakan menelan segalanya.

Saat suasana kembali sunyi, tubuh Belia telah lenyap tanpa sisa. Hanya saja, ada satu hal yang tertinggal di sana. Tergeletak di tanah──sebuah 'Mata Spirit' yang keruh dan hitam.

"……Tidak kusangka, cuma segini saja. Pada akhirnya ini hanyalah sisa-sisa dari Oberon-sama, ya."

Filly menatap Mata Spirit yang tergeletak di tanah itu dengan pandangan seolah-olah sedang melihat barang rongsokan. Suaranya tidak mengandung kebencian maupun kemarahan, hanya ada kekecewaan yang mendalam.

"……Kau sendiri yang membangkitkannya, tapi kau sudah membuangnya begitu saja."

Aku tanpa sadar menggumamkan hal itu. Kenapa dia membuangnya, padahal Oberon tidak kalah dariku? Aku tidak bisa memahaminya.

Namun, Filly tidak memedulikan kebingunganku dan melanjutkan perkataannya dengan tenang.

"Pada akhirnya ini cuma barang palsu. Tidak ada sedikit pun sisa keagungan dewa yang dulu pernah membuat dunia gemetar."

Dalam tatapannya, sama sekali tidak terlihat adanya perasaan kasih sayang. Begitu dingin, seolah-olah dia sedang membuang alat yang sudah tidak berguna lagi.

"Jika begini, akan lebih cepat jika aku sendiri yang menggunakannya."

Gumam Filly sambil memungut Mata Spirit yang hitam itu. Aku mengepalkan tangan. Rasa amarah mulai meluap.

Memang benar, keputusannya membuang Oberon sangat tidak masuk akal bagiku. Namun, lebih dari itu──.

"……Jadi kau benar-benar menjadikan Belia sebagai wadah sekali pakai?"

Aku melepaskan End Form: Mond Ende dan membuka suara dengan susah payah sambil menahan rasa sakit luar biasa yang membakar sekujur tubuh.

Aku tidak bisa menahan emosi yang tercampur dalam kata-kataku.

"Ya, benar sekali. Karena dia adalah alatku."

Belia telah dikendalikan dengan Cognitive Alteration. Kehendaknya diputarbalikkan, dan dia terus dimanfaatkan sebagai roda gigi gereja selama ratusan tahun.

Dan pada akhirnya, dia dijadikan wadah Dewa Jahat, lalu dilenyapkan begitu saja hanya karena dia tidak memenuhi ekspektasi Filly.

Ini benar-benar keterlaluan……!

"Bicara apa kau ini……! Kau pikir kau boleh mengakhiri hidup orang lain hanya dengan satu kalimat 'dia adalah alatku'!!?"

"Boleh saja, kan? Apa masalahnya?"

Dia mengatakannya dengan wajah yang terlihat benar-benar heran. Hal itu justru membuatku semakin naik pitam.

"Aku tidak pernah menuntut Belia untuk 'memiliki kehendak'. Dia hanyalah boneka yang cukup menjalankan peran yang diberikan.──Jika perannya sudah selesai, wajar saja kalau dimusnahkan, kan?"

"Kau ini benar-benar──"

Aku menelan kembali makian yang sudah di ujung lidah. Apa pun yang kukatakan tidak akan sampai padanya.

Hanya dengan melihatnya sekarang, aku sudah sangat menyadari hal itu.

"……Filly. Seberapa jauh kau berniat untuk jatuh?"

Tanyaku dengan suara tenang namun tertahan. Namun, Filly hanya mengulas senyum tipis di bibirnya dan menggelengkan kepala.

"Jatuh? Fufu, kau salah. Aku sejak awal sudah berada di titik terendah. Karena permulaanku adalah 'dasar', maka tidak ada tempat lagi bagiku untuk jatuh lebih jauh."

Suaranya terdengar seolah-olah dia sedang menyatakan hal yang sudah sewajarnya. Aku sampai kehilangan kata-kata.

Namun, Filly tetap terus berbicara. Seolah-olah dia sudah tidak membutuhkan simpati maupun penyangkalan lagi sekarang.

"Dengar ya, Orn. Aku sudah putus asa terhadap makhluk bernama manusia yang tidak tertolong ini."

Tidak ada panas dalam suaranya. Tidak terasa dingin, tidak pula terasa sedih. Nadanya seolah hanya sedang memaparkan fakta secara datar.

"Tempat ini adalah dunia yang penuh dengan ketidakadilan, tanpa ada keselamatan sedikit pun. Semua orang saling memaksakan kebenaran masing-masing, dan berpura-pura tidak melihat penderitaan orang lain.──Di tempat seperti itu, apa yang kau harapkan untuk kupercayai?"

Filly perlahan memutar-mutar Mata Spirit di telapak tangannya.




"Harapan? Kasih sayang? Kepercayaan? Itu semua hanyalah kata-kata manis yang digunakan demi kenyamanan belaka. Akan kukatakan berkali-kali. ──'Harapan' itu, pada akhirnya hanyalah ilusi."

Di kedalaman matanya, cahaya gelap bergejolak.

"Aku sudah disadarkan akan hal itu berkali-kali, berkali-kali. ……Karena itulah, aku ingin menyangkal segala bentuk 'omong kosong indah' seperti itu."

Di sana, tatapan Filly kembali tertuju padaku. Matanya yang diarahkan padaku terasa seolah-olah sedang mencoba meraba bagian terdalam diriku, tempat yang paling rapuh di hatiku.

"……Meskipun begitu, kau tetap percaya, ya. Tak peduli berapa kali pun kau dikhianati atau disakiti, kau tetap tidak melepaskan pilihan untuk memercayai 'harapan'."

Suaranya terdengar seolah sedang merasa muak, namun ada sedikit nada iri yang terselip di sana.

"Benar-benar tidak berguna. Konyol…… dan begitu bodoh hingga menyilaukan mata."

Senyum yang tersungging di bibirnya membawa warna yang tak bisa dibedakan antara cemoohan atau pun ejekan pada diri sendiri.

"Sejujurnya, aku berniat untuk menyaksikan penutupan tirai ini dengan tenang setelah ritual pemanggilan dewa selesai. Melihat bagaimana dunia ini akan hancur. Hanya memperhatikannya──lalu berakhir di sana."

Tiba-tiba, suaranya mengandung sedikit panas. Itu bukan kemarahan. Bukan pula kegelisahan atau kegembiraan.

"Tapi, setelah berbicara denganmu, aku berubah pikiran."

Kata-kata itu terdengar sunyi seperti kutukan, namun seberat sebuah tekad.

"Sekarang, aku sangat ingin──mematahkanmu dengan tanganku sendiri."

Raut wajah Filly yang tadi tersenyum tipis mendadak sirna.

"Aku ingin menunjukkan padamu bahwa tidak ada yang tersisa di ujung kepercayaanmu pada 'harapan' itu. Aku ingin menyaksikan dengan mataku sendiri saat kau tenggelam dalam keputusasaan dan hancur berantakan……"

"……Apa boleh kau mengubah rencana hanya karena emosi pribadi seperti itu? Bukankah kalian sudah menghabiskan waktu yang lama untuk menjalankan rencana ini?"

"Fufufu, kau memberiku penilaian yang cukup tinggi, ya. Tapi, pemahamanmu itu salah. Aku sendiri pun tidak menaruh harapan pada 'masa depan'."

Suaranya tidak mencerminkan beratnya beban seseorang yang mengemban rencana jangka panjang. Setelah berhadapan seperti ini, aku rasa aku sedikit memahami Filly.

Dia mungkin terlihat bergerak berdasarkan rencana yang matang dan penuh perhitungan, tapi sebenarnya tidak. Yang menggerakkan Filly bukanlah rencana demi masa depan, melainkan impuls yang dia rasakan saat itu juga.

Dia tidak peduli soal masa depan──di balik pernyataan teguh itu, terdapat kehausan yang mendalam untuk mengakhiri segala sesuatu dan menyeret semuanya dalam keputusasaan.

Hasrat akan kehancuran tampak mengintip di balik setiap kata dan gerak-geriknya.

"Lagipula manusia akan mati sendirian, jadi tidak mungkin ada hal yang lebih berharga daripada momen saat ini, kan?"

Sambil berkata demikian, di tangannya tiba-tiba sudah tergenggam sesuatu yang tampak seperti alat sihir selain Mata Spirit. Begitu Filly mengoperasikan alat sihir tersebut—

Mana hitam pekat yang tadinya meluap dari Mata Spirit tersedot masuk ke mata kanannya dalam bentuk spiral.

Melihat pemandangan ganjil itu, aku merasakan firasat buruk dan secara refleks mencoba menerjang maju.

"kh……!?"

Namun, saat aku melangkahkan kaki, seluruh tubuhku terpental balik oleh mana yang berhembus kencang seperti badai hitam dari arah depan.

Mana itu mengerang seperti angin dan mendistorsi ruang di sekitarnya. Meski mencoba melangkah maju, aku merasa seolah seluruh tubuhku ditarik paksa ke belakang.

Mungkin karena efek samping dari End Form: Mond Ende masih menggerogoti tubuhku, aku tidak bisa mengerahkan tenaga dengan baik.

Meski begitu, aku mengertakkan gigi dan mencoba merangsek maju.

Namun, badai mana yang berpusar di sekeliling Filly justru semakin menguat seolah menolak keberadaanku.

Di tengah pusat badai itu, tubuh Filly sedikit gemetar. Namun itu bukan gemetar karena penolakan atau rasa sakit, melainkan gemetar karena rasa nikmat yang merasuki dirinya.

"……Fufu. Ini…… ini adalah mana dari Oberon-sama……!"

Di mata kanannya, pola geometris menyerupai lingkaran sihir perlahan muncul. Mana hitam pekat yang menetes dari sana mengalir di pipinya seperti air mata.

Badai mana itu mendadak mereda, namun ruang di sekitarnya masih tampak bergejolak. Keheningan ganjil menyelimuti area tersebut. Di pusat ruang itu, dia tertawa pelan.

"Begitu rupanya…… Jadi kalian para Transcendent melihat pemandangan seperti ini, ya."

Kata-katanya meluncur seolah sedang memuntahkan sesuatu.

"Aku rasa…… aku sedikit bisa memahami 'ilusi' yang ingin kau percayai itu."

Sambil bergumam begitu, dia menyipitkan matanya. Di matanya bersemayam emosi rumit yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

"Tapi tetap saja, kita tidak akan pernah sejalan. ──Meskipun begitu, aku sudah sangat mengerti bahwa ilusi itu adalah sesuatu yang berharga untuk dihancurkan."

Sama seperti Shion dan Oliver, Filly menyatukan Mata Spirit dengan matanya sendiri. Terlebih lagi, mana itu milik Dewa Jahat.

Mana hitam yang menetes dari mata kanan Filly jatuh ke tanah. Pada saat itu, suara gemuruh seperti raungan terdengar dari dasar bumi.

Tanah berguncang hebat. Miasma pekat berpusar di puncak Gunung Suci. Sebuah bayangan raksasa yang mustahil muncul di puncak gunung.

Tubuh ular raksasa yang meliit berkali-kali, menjulang lebih tinggi dari awan. Delapan kepala meliuk-liuk, melepaskan raungan ke langit.

"Ular berkepala delapan……?"

"Monster mitos dari negara pendahulu Kyokuto di zaman kuno──aku mencoba mereproduksi Yata no Hebi. Bagaimana menurutmu?"

"Yata no Hebi……"

Mungkin terasa sakit, Filly memegangi mata kanannya, namun ekspresinya ternoda oleh senyum yang seolah sedang dalam keadaan ekstasi.

"Seberapa rapuh dan tak berdayanya hal-hal yang kau percayai itu──mulai sekarang, aku akan mengajarkannya padamu secara perlahan dan saksama."

Setelah berkata begitu, dia menunjuk ke arah langit. Salah satu dari delapan kepala Yata no Hebi bergerak perlahan. Tujuan pandangannya adalah──Ibu Kota Kyokuto, Hanemiya.

"Pertama-tama, pelajarilah betapa mudahnya nyawa manusia lenyap tanpa sisa."

Kepala itu membuka mulutnya, dan mana mulai terkonsentrasi. Mana yang mengerikan mendistorsi udara di sekitarnya.

"Hentikan!"

Saat suara itu keluar, tubuhku sudah bergerak. Mengabaikan tubuhku yang menjerit kesakitan, aku menggenggam pedang sihirku erat-erat.

"──Fifth Form: Mont Fünf."

Aku mengubah pedang sihir menjadi perisai sihir. Detik berikutnya, gumpalan bencana dilepaskan dari mulut Yata no Hebi. Aku melompat tepat ke jalur serangannya dan menahannya dengan perisai sihir.

"Ugh……!"

Aliran mana menghantam perisai. Aku berusaha sekuat tenaga menahan benturan yang seolah hendak menghancurkanku. Tak lama kemudian, aliran mana itu memudar, dan keheningan singkat pun datang.

(Haa…… haa…… Setidaknya, aku berhasil mencegah kerusakan pada kota……)

Saat aku merasa lega karena bisa melindungi kota yang membentang di bawah sana,

"Hebat juga kau."

Dari tengah mana hitam yang melayang di dekat puncak gunung, Filly menatapku dari atas. Ekspresinya tidak berubah, masih penuh dengan ketenangan dan cemoohan──setidaknya terlihat seperti itu.

Namun, ada sesuatu yang terasa janggal. Napasnya tidak memburu. Akan tetapi, siluet tubuhnya sedikit bergetar, dan mana yang menyelimutinya terasa tidak stabil.

(……Apakah dia kelelahan karena menciptakan Yata no Hebi?)

Bukan, bukan itu. Sebaliknya, dia tampak sedang berjuang keras menekan sesuatu yang meluap dari dalam dirinya.

Sesuatu yang liar mencoba mengamuk, dan Filly saat ini sedang menahannya secara paksa. Aku hanya bisa berpikir demikian.

"Karena itulah, kau memang pantas untuk dipatahkan."

Siluet tubuhnya perlahan memudar seolah meleleh ke dalam mana.

"Saat kita bertemu lagi nanti, tunjukkanlah wajahmu yang penuh penderitaan itu padaku."

Meninggalkan kata-kata itu, keberadaan Filly lenyap.

(……Dia kabur? Bukan──)

Sama sekali tidak terlihat bayang-bayang kegelisahan pada punggung yang mempertahankan ketenangan luar biasa itu. Tapi aku tahu. Dia belum sepenuhnya bisa mengendalikan mana Dewa Jahat.

Bahkan dengan Eternal Immutability milik Belia pun, dia hanya mampu menekannya sekuat tenaga.

Sebagai pemilik kekuatan unik Cognitive Alteration, dia memang memiliki afinitas lebih tinggi dengan mana Dewa Jahat dibandingkan pemilik kekuatan unik lainnya.

Meski begitu, wajar jika menganggap dia belum bisa menjadikannya miliknya sendiri.

Lagipula, jika memercayai perkataannya, tindakannya menyerap mana Dewa Jahat itu sendiri kemungkinan besar tidak ada dalam rencana awal mereka. 

Yata no Hebi yang ditinggalkan melepaskan raungan dari puncak gunung.

"……Malah meninggalkan hadiah yang merepotkan──First Form: Mont Eins."

Aku menarik napas dalam-dalam dan menggenggam kembali pedang sihirku. Efek samping dari End Form: Mond Ende sudah pulih sampai batas tertentu.

Aku telah berhasil mencapai salah satu tujuan awal, yaitu mengusir lawan paling merepotkan dari kelompok gereja dari negara ini.

Tapi, belum ada yang berakhir. Aku akan menyelesaikannya dengan benar.

Hanya setelah itu tercapai, barulah negara ini bisa melangkah maju.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close