Chapter 4
Mereka yang Berada di Dasar
Begitu
aku melewati celah di antara pepohonan, pandanganku mendadak terbuka luas.
Di tengah
Gunung Suci yang dipenuhi barisan batang pohon melintir, hanya area itu yang
sunyi senyap, seolah-olah berada di dunia lain.
──Gerbang
Torii Kuil Tenrei.
Pilar-pilar
merahnya telah terpapar hujan dan angin, membuat catnya terkelupas di
sana-sini. Meski begitu, gerbang itu tetap memancarkan aura keberadaan yang
ganjil.
Sebelum
datang ke Kyokuto, aku berpikir bahwa menginjakkan kaki di sini akan secara
alami membuat hatiku merasa khidmat. Namun, kenyataannya berbeda.
Aku tahu
alasannya. Sebab, dari tanah ini, mana hitam pekat menyembur keluar dalam
jumlah besar, seolah-olah ingin menghancurkan atmosfer agung Kuil Tenrei.
Begitu
melintasi gerbang Torii dan masuk ke area kuil, suasananya berubah lagi.
Mana
hitam legam berpusar dan menyembur dari tanah, seolah hendak menelan menara
pengawas yang dibangun di samping bangunan utama kuil.
Di dekat
sana, berdiri seorang wanita berambut hijau segar──Filly Carpenter. Aku ingin segera meringkusnya dan
menghentikan semburan mana itu, tapi sepertinya itu akan sulit.
Sejumlah besar
sihir telah dipasang di seluruh area ini. Butuh waktu untuk membedah rumusnya,
tapi kemungkinan besar ini adalah sihir orisinal yang setara dengan sihir
tingkat khusus.
"Kau datang juga, Orn Doula."
Filly membuka suara, nadanya terdengar entah kenapa tampak
senang.
"Kurasa kau sudah tahu, tapi jangan bergerak lebih jauh
lagi. Aku sudah memasang banyak hal di sekitar sini."
Gerbang Torii
Kuil Tenrei adalah satu-satunya jalan menuju Prinsip Sihir.
Aku tidak boleh
membiarkannya hancur. Jika itu sampai hancur, bahkan dengan menggunakan Time
Regression pun, tidak ada jaminan jalan menuju Prinsip Sihir akan kembali
seperti semula.
Untuk saat ini,
cara terbaik adalah mengulur waktu dengan percakapan sambil melumpuhkan
sihir-sihir ini.
"Aku tahu. ……Lagipula, meski kita beberapa kali hampir
berpapasan, ini pertama kalinya kita benar-benar bertukar kata, Filly
Carpenter."
"Ya, benar juga. Jika bisa, aku sebenarnya ingin terus
seperti ini tanpa pernah memiliki kontak langsung denganmu."
Filly mengedikkan bahunya, lalu mengembuskan napas dengan
gaya yang dibuat-buat.
"Soalnya, tidak ada satu hal pun yang ingin kubicarakan
denganmu."
"……Kira-kira
begitu."
Aku
menjawab dengan datar sambil terus menyelidiki struktur rumus sihir yang
terpasang.
"Tapi ya,
karena kita sudah telanjur bertemu, mau bagaimana lagi. Mumpung ada kesempatan,
bagaimana kalau kita mengobrol sedikit? Aku tidak suka pertikaian yang sia-sia.
Aku berencana segera pergi dari negara ini, jadi jika bisa, aku ingin menyelesaikannya
dengan damai."
Kata-kata 'Berani-beraninya
kau bicara begitu' hampir saja meluncur dari tenggorokanku, namun kupaksa
telan kembali.
Aku tidak percaya
Filly Carpenter menginginkan sesuatu yang damai.
Namun bagiku,
jika ini bisa mengulur waktu, ini adalah perkembangan yang sangat
menguntungkan.
"Kalau
begitu, beri tahu aku. Apa tujuanmu?"
"Mari kita
lihat. Jika harus dirangkum dalam satu kalimat, mungkin 'aku ingin menjadikan
dunia ini murni'."
Dia mulai
berbicara dengan nada seolah-olah sedang membicarakan cuaca.
"Ketertiban,
hukum, moral, niat baik. Manusia yang hidup tampak sesak karena terikat oleh
hal-hal seperti itu terlihat sangat konyol di mataku."
Bibir Filly membentuk senyum tipis yang lembut.
"Bukankah manusia itu sebenarnya makhluk yang jauh
lebih buruk dan egois? Marah, takut, saling mengkhianati, saling menipu, saling
memangsa……. Tidakkah menurutmu sosok seperti itu jauh lebih jujur dan
alami?"
Dia terus
berbicara dengan nada riang.
"Karena
itulah, aku ingin mengembalikan mereka ke bentuk yang alami itu."
"……Kau sadar
kan, jika dunia seperti itu datang, ketertiban akan hancur lebih parah dari
sekarang?"
Mendengar
pertanyaanku, senyumnya tidak memudar sedikit pun.
"Ya, tentu
saja. Namun, suara ketertiban yang sedang runtuh itu terdengar indah, lho.
Apalagi jika dibarengi dengan jeritan seseorang."
Lalu, dia
menyipitkan mata dan menjatuhkan satu kalimat yang terasa seperti racun.
"Meski
begitu, itu hanyalah bagian dari proses. Pada akhirnya,──aku berpikir akan
lebih baik jika manusia tidak tersisa satu ekor pun."
Kata-kata itu
membuatku merasa sekujur tubuhku menjadi dingin.
"Jika sudah
begitu, tidak akan ada lagi yang berputus asa, tidak akan ada yang menderita.
Lihat, bukankah ini akhir yang indah?"
"Indah dari
mananya?"
Aku mengembuskan
napas pelan dan membalas perkataannya.
"Sampai
akhir yang kau tuju itu tercapai, entah berapa banyak orang yang harus berputus
asa dan menderita. Apa kau tidak mau melihat kenyataan itu?"
Senyum Filly
tidak goyah. Namun, aku tetap melanjutkan.
"Memang
benar, dunia ini penuh dengan ketidakadilan. Terkadang orang baik tidak
mendapat balasan, hanya niat buruk yang merajalela, dan usaha pun tidak
membuahkan hasil. Aku sendiri pun sudah berkali-kali menyadari hal itu."
Memang benar
manusia itu egois. Terbawa nafsu, kalah oleh rasa takut, dan terkadang
mengorbankan orang lain.
"──Namun,
meski begitu."
Aku menjeda
kalimatku sejenak. Masa lalu yang telah kutumpuk. Hal-hal yang telah hilang. Harapan yang dititipkan padaku.──Sambil
merasakan semua itu membebani punggungku, aku merangkai kata-kata.
"Meski
begitu, manusia tetap melangkah maju. Walau terluka dan menyesal, mereka terus
menumpuk masa lalu. Karena itulah, ada 'masa sekarang'."
Aku menatap lurus
ke depan sambil mengepalkan tangan.
"Yang sedang
kau coba hancurkan adalah 'harapan semua orang' yang telah dibangun dengan
susah payah seperti itu."
"'Harapan
semua orang'……? Kau serius percaya pada hal semacam itu? Benar-benar membuatku
merinding."
Filly
mengucapkannya dengan nada mencemooh.
"Dulu, ada
anak yang memercayai hal semacam itu. Meski diinjak-injak berkali-kali, dia tetap
percaya, bertahan, dan bergantung padanya. Pada akhirnya, dia menghilang tanpa
ada yang tahu. Seolah-olah dia memang tidak pernah ada sejak awal."
Suaranya seolah tercampur dengan sedikit kebencian.
"Harapan
itu, pada akhirnya hanyalah ilusi."
Filly melayangkan
tatapan penuh penghinaan padaku.
"……Melihat
sikapmu, sepertinya kau akan mengatakan bahwa nyawa yang tidak dicintai siapa
pun, tidak dipahami siapa pun, dan hanya berakhir dengan diinjak-injak pun
'memiliki makna'.──Ini sudah lebih dari sekadar konyol, rasanya aku mau
muntah."
Kalimat
terakhirnya merembeskan emosi yang tidak bisa dia sembunyikan.
"Ya, aku
akan mengatakannya. Bahkan jika seluruh dunia menyangkalnya, aku akan tetap
menegaskan bahwa nyawa itu 'memiliki makna'."
Aku membalas
tatapannya secara langsung.
"Jika tidak
ada yang mengatakannya, nyawa itu benar-benar akan menjadi tidak berarti."
Lalu, tanpa
mengalihkan pandangan, aku melontarkan kata-kataku.
"Dunia ini
memang penuh dengan ketidakadilan, tapi aku tetap akan mengulurkan tangan.
Mewarisi harapan dan menghubungkannya ke masa depan.──Sebab, itulah jalan hidup
yang kupilih."
Filly menunduk,
lalu mengembuskan napas pendek seolah sedang mengambil napas dalam-dalam. Saat
dia kembali menatapku, matanya sudah tidak memancarkan emosi apa pun.
"……Aku sudah paham garis besarnya. Sepertinya kita memang tidak akan pernah
sejalan."
Seolah merespons
kata-kata itu, mana di sekitar mulai bergerak.
"Sepertinya
begitu.──Annihilation."
Selama percakapan
tadi, aku sudah selesai membedah seluruh sihir yang terpasang. Aku meniadakan
seluruh sihir tersebut sebelum sempat diaktifkan.
"Cih!"
Menyadari
sihirnya gagal aktif, Filly mendecak kesal.
"──Bind."
Begitu aku
mengaktifkan sihirku, rantai hitam pekat muncul dari udara kosong dan mengikat
Filly. Aku pun melangkah menuju titik semburan mana. Aku mengamati dengan
saksama untuk mencari tahu cara menghentikan aliran mana yang menderu ini.
Mana Convergence hanya akan memperparah keadaan. Spirit
Control tidak bisa digunakan untuk mengendalikannya.
Mungkin Soul Interference bisa membantu, tapi karena
aku belum melihat Nagisa Asagiri menggunakannya, aku tidak bisa menirunya.
Terpaksa, aku
akan menggunakan kekuatan kasar!
"──Alteration, End Form: Mond Ende!"
Aku menyatukan pedang sihir Schwarz Hase ke dalam tubuhku,
lalu mencampurkannya dengan Ki milikku.
Aku menciptakan pedang sihir baru dengan kekuatan yang telah
kuolah ulang, lalu—
"──Exorcism Heavenly Flash!"
Aku melepaskan tebasan berkekuatan penghancur mana Dewa
Jahat. Mana Dewa Jahat yang tadinya menyembur dari titik itu seketika sirna.
……Tepat waktu.
Aku melepaskan End Form: Mond Ende dan
mengembalikannya menjadi pedang sihir biasa.
Lalu perlahan, aku mengalihkan pandangan pada Filly yang
kini jatuh tersungkur di tanah.
Dengan ini, rencananya seharusnya sudah hancur total.
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ingin kau lakukan,
tapi sekarang kau sudah skakmat, Filly."
"Skakmat……? Fufufu."
Tiba-tiba, Filly tertawa kecil.
"……Apa yang lucu?"
Mendengar pertanyaanku, Filly perlahan menoleh padaku. Di matanya, tidak ada sedikit pun raut
wajah pecundang.
"Yang lucu
itu──"
Dia membuka
suaranya pelan, sarat akan ejekan.
"Adalah
bagian di mana kau merasa telah menghancurkan rencanaku."
Udara dingin
menjalar di punggungku.
"Apa
jangan-jangan, kau berpikir aku benar-benar termakan oleh strategimu yang
mengulur waktu itu?"
"……kh."
"Sayang
sekali, tapi──"
Suaranya
terdengar sangat yakin akan kemenangan.
"Saat kau
tiba di sini, semuanya sudah──berakhir, tahu?"
Detik berikutnya,
aku merasakan aura mengerikan dari arah belakang.
"──kh!?"
Tepat saat aku
hendak berbalik secara refleks, pandanganku mendadak bergeser ke samping.
Sadar-sadar, tubuhku sudah melayang di udara seolah terpental.
Benturan dahsyat
menghantam punggungku, membuat udara di paru-paruku terpompa keluar seketika.
Aku
berusaha mengambil posisi jatuh yang benar dan berlutut di tanah.
"Ugh……!"
Aku
mengangkat wajah sambil mengatur napas yang memburu.
"Filly,
kerja bagus. Aku pujilah kau."
"……Terima
kasih banyak."
Sosok yang
berdiri di hadapanku adalah mantan Grand Master Guild Explorer yang telah
dinyatakan tewas, Belia Sans.
"Kenapa kau
ada di sini. ……Bukan, ini bukan──"
Memang benar rupa
dan bentuknya adalah Belia. Tapi, ada yang salah. Secara mendasar dan krusial,
'sesuatu' terasa berbeda.
"──Siapa kau
sebenarnya?"
Merespons
kata-kataku, 'sosok itu' perlahan membuka mulut.
"Kau
bertanya siapa aku?"
Penutup mata yang
menutupi mata kanan Belia merosot jatuh melewati pipinya, seolah tugasnya telah
selesai.
Di mata kanannya
yang kini tak terhalang apa pun, terdapat──Mata Spirit yang warnanya hitam
legam, seolah-olah merupakan kegelapan tanpa dasar.
Aku pernah
mendengar dari Sang Pahlawan di Dunia Arwah bahwa Belia, yang kehilangan mata
kanannya di zaman dongeng, menanamkan Mata Spirit untuk melawan iblis.
Namun, mata itu
sekarang begitu keruh dan hitam hingga tidak terlihat seperti Mata Spirit lagi.
"Aku adalah
dia yang hendak memusnahkan manusia yang menggerogoti dunia ini."
Suara itu bergema
seolah merayap di tanah, bahkan mendistorsi udara di sekitarnya. Makna maupun
emosi yang terkandung dalam kata-katanya terasa sangat asing.
Mataku terbelalak
merasakan sensasi yang seolah menusuk dari bawah telapak kaki. Tidak salah
lagi. Sosok di hadapanku ini adalah──.
"──Dewa
Jahat, Oberon……!"
Mendengar
gumamanku, Oberon melayangkan tatapan tanpa emosi padaku.
"Begitu
rupanya. Keturunan Augustus yang mewarisi 'kekuatan pengejawantahan potensi
manusia', ya. Saat ini kau bukan lawan yang harus kuhadapi. Filly, kita
mundur."
"Baik."
Entah sejak
kapan, Filly yang tadinya terikat rantai sudah bebas dan berdiri.
"Jangan
harap bisa lari!"
Sebelum Oberon
mengaktifkan sihir teleportasi, aku menyelimuti seluruh area ini dengan
penghalang anti-teleportasi.
"…………Merepotkan
saja."
Begitu Oberon
bergumam pelan, mana yang menyerupai bayangan mulai merembes dari tanah.
"Enyahlah."
Detik berikutnya,
mana hitam pekat berubah bentuk menjadi seperti tombak-tombak dan menyerangku
dari segala arah untuk menusukku.
"──End
Form: Mond Ende."
Sekali lagi aku
menyatukan pedang sihir dengan Ki, lalu menebas tombak-tombak yang
mendekat dengan pedang sihir baru yang tercipta.
Aku langsung
merangsek maju ke arah Oberon dengan Ground Shrink dan mengayunkan
pedang sihirku.
Oberon mencoba mundur, namun reaksinya lamban. Pedang
sihirku berhasil mengenainya sebelum dia benar-benar bisa melarikan diri dari
jangkauanku.
"Ugh!"
Apakah kekuatan unik Belia, Eternal Immutability,
sudah kehilangan efeknya?
Pedang sihirku berhasil menyayat tubuh Oberon. Oberon
menundukkan pandangannya ke dadanya yang kini mengeluarkan darah.
Karena pedang sihirku sempat menyentuhnya, aku bisa sedikit
memahami situasi apa yang sedang dialami sosok itu saat ini. Eternal
Immutability sebenarnya masih aktif.
Namun, kekuatan itu digunakan di bagian dalam──untuk menekan
sejumlah besar mana Dewa Jahat yang diperlukan demi membangun kesadaran Oberon.
Dengan kata lain, terhadap serangan dari luar, dia berada
dalam kondisi yang sama dengan manusia biasa.
Namun, seiring berjalannya waktu, mana Dewa Jahat itu akan
semakin menyatu dengan tubuh Belia.
Selain itu,
tubuhku tidak akan kuat jika mempertahankan End Form: Mond Ende terlalu
lama.
Aku harus
menyelesaikannya dengan cepat!
"……Dalam
kondisi sekarang, pertarungan jarak dekat sepertinya mustahil."
Begitu
Oberon mengangkat tangan kanannya, ruang di sekitarnya seolah mengeluarkan
suara berderit, dan mana hitam menghujam turun seperti ribuan anak panah.
Masing-masing anak panah itu memiliki kekuatan
yang cukup untuk melubangi daratan itu sendiri.
(Aku
harus menjauh dari gerbang Torii!)
Aku
keluar dari area kuil dan menghindari anak-anak panah yang mendekat dengan cara
berkelit di antara pepohonan.
Sambil menahan
hujan anak panah dari langit, aku mencari kesempatan untuk membalas.
Setiap kali anak
panah mana itu menghujam tanah, ledakannya membuat pepohonan berderit dan
batang-batangnya terbelah lalu tumbang satu demi satu.
Setiap kali
pepohonan yang tadinya menjadi penghalang roboh, pandanganku perlahan-lahan
menjadi semakin luas. Pada saat itulah, mana mulai terkumpul di sekitar Oberon.
(Serangan besar
akan datang……!)
Tepat saat aku
sedang mempertajam kesadaran untuk mengincar celah yang tercipta setelah dia
melepaskan serangan, tiba-tiba—
"──Sudah
cukup."
Sebuah lintasan
tajam menyambar leher Oberon.
"──kh!?"
Kepala
Belia-Oberon melayang di udara. Sambil merasa terguncang oleh pemandangan yang
sangat tidak terduga itu, aku mengalihkan pandangan pada pelakunya──Filly
Carpenter.
Dengan wajah
tenang, dia melepaskan sihir ke arah kepala yang sedang melayang itu.
"──Super
Explosion."
Ledakan raksasa
menghantam tepat di bagian kepala yang beterbangan. Ruang terdistorsi, dan
gelombang ledakan menelan segalanya.
Saat suasana
kembali sunyi, tubuh Belia telah lenyap tanpa sisa. Hanya saja, ada satu hal
yang tertinggal di sana. Tergeletak di tanah──sebuah 'Mata Spirit' yang keruh
dan hitam.
"……Tidak
kusangka, cuma segini saja. Pada akhirnya ini hanyalah sisa-sisa dari
Oberon-sama, ya."
Filly menatap
Mata Spirit yang tergeletak di tanah itu dengan pandangan seolah-olah sedang
melihat barang rongsokan. Suaranya tidak mengandung kebencian maupun kemarahan,
hanya ada kekecewaan yang mendalam.
"……Kau
sendiri yang membangkitkannya, tapi kau sudah membuangnya begitu saja."
Aku tanpa sadar
menggumamkan hal itu. Kenapa dia membuangnya, padahal Oberon tidak kalah
dariku? Aku tidak bisa memahaminya.
Namun, Filly
tidak memedulikan kebingunganku dan melanjutkan perkataannya dengan tenang.
"Pada
akhirnya ini cuma barang palsu. Tidak ada sedikit pun sisa keagungan dewa yang
dulu pernah membuat dunia gemetar."
Dalam tatapannya,
sama sekali tidak terlihat adanya perasaan kasih sayang. Begitu dingin,
seolah-olah dia sedang membuang alat yang sudah tidak berguna lagi.
"Jika
begini, akan lebih cepat jika aku sendiri yang menggunakannya."
Gumam Filly sambil memungut Mata Spirit yang hitam itu. Aku mengepalkan tangan. Rasa amarah mulai
meluap.
Memang benar,
keputusannya membuang Oberon sangat tidak masuk akal bagiku. Namun, lebih dari
itu──.
"……Jadi kau
benar-benar menjadikan Belia sebagai wadah sekali pakai?"
Aku melepaskan End
Form: Mond Ende dan membuka suara dengan susah payah sambil menahan rasa
sakit luar biasa yang membakar sekujur tubuh.
Aku tidak bisa
menahan emosi yang tercampur dalam kata-kataku.
"Ya, benar
sekali. Karena dia adalah alatku."
Belia telah
dikendalikan dengan Cognitive Alteration. Kehendaknya diputarbalikkan,
dan dia terus dimanfaatkan sebagai roda gigi gereja selama ratusan tahun.
Dan pada
akhirnya, dia dijadikan wadah Dewa Jahat, lalu dilenyapkan begitu saja hanya
karena dia tidak memenuhi ekspektasi Filly.
Ini benar-benar
keterlaluan……!
"Bicara apa
kau ini……! Kau pikir kau boleh mengakhiri hidup orang lain hanya dengan satu
kalimat 'dia adalah alatku'!!?"
"Boleh saja,
kan? Apa masalahnya?"
Dia
mengatakannya dengan wajah yang terlihat benar-benar heran. Hal itu justru membuatku semakin naik
pitam.
"Aku tidak
pernah menuntut Belia untuk 'memiliki kehendak'. Dia hanyalah boneka yang cukup
menjalankan peran yang diberikan.──Jika perannya sudah selesai, wajar saja
kalau dimusnahkan, kan?"
"Kau ini
benar-benar──"
Aku menelan
kembali makian yang sudah di ujung lidah. Apa pun yang kukatakan tidak akan
sampai padanya.
Hanya dengan
melihatnya sekarang, aku sudah sangat menyadari hal itu.
"……Filly.
Seberapa jauh kau berniat untuk jatuh?"
Tanyaku dengan
suara tenang namun tertahan. Namun, Filly hanya mengulas senyum tipis di
bibirnya dan menggelengkan kepala.
"Jatuh?
Fufu, kau salah. Aku sejak awal sudah berada di titik terendah. Karena
permulaanku adalah 'dasar', maka tidak ada tempat lagi bagiku untuk jatuh lebih
jauh."
Suaranya
terdengar seolah-olah dia sedang menyatakan hal yang sudah sewajarnya. Aku
sampai kehilangan kata-kata.
Namun, Filly
tetap terus berbicara. Seolah-olah dia sudah tidak membutuhkan simpati maupun
penyangkalan lagi sekarang.
"Dengar ya,
Orn. Aku sudah putus asa terhadap makhluk bernama manusia yang tidak tertolong
ini."
Tidak ada panas
dalam suaranya. Tidak terasa dingin, tidak pula terasa sedih. Nadanya seolah
hanya sedang memaparkan fakta secara datar.
"Tempat ini
adalah dunia yang penuh dengan ketidakadilan, tanpa ada keselamatan sedikit
pun. Semua orang saling memaksakan kebenaran masing-masing, dan berpura-pura
tidak melihat penderitaan orang lain.──Di tempat seperti itu, apa yang kau
harapkan untuk kupercayai?"
Filly perlahan memutar-mutar Mata Spirit di telapak tangannya.
"Harapan? Kasih sayang? Kepercayaan? Itu semua hanyalah
kata-kata manis yang digunakan demi kenyamanan belaka. Akan kukatakan berkali-kali. ──'Harapan' itu, pada
akhirnya hanyalah ilusi."
Di kedalaman
matanya, cahaya gelap bergejolak.
"Aku sudah
disadarkan akan hal itu berkali-kali, berkali-kali. ……Karena itulah, aku ingin
menyangkal segala bentuk 'omong kosong indah' seperti itu."
Di sana, tatapan
Filly kembali tertuju padaku. Matanya yang diarahkan padaku terasa seolah-olah
sedang mencoba meraba bagian terdalam diriku, tempat yang paling rapuh di
hatiku.
"……Meskipun
begitu, kau tetap percaya, ya. Tak peduli berapa kali pun kau dikhianati atau
disakiti, kau tetap tidak melepaskan pilihan untuk memercayai 'harapan'."
Suaranya
terdengar seolah sedang merasa muak, namun ada sedikit nada iri yang terselip
di sana.
"Benar-benar
tidak berguna. Konyol…… dan begitu bodoh hingga menyilaukan mata."
Senyum
yang tersungging di bibirnya membawa warna yang tak bisa dibedakan antara
cemoohan atau pun ejekan pada diri sendiri.
"Sejujurnya,
aku berniat untuk menyaksikan penutupan tirai ini dengan tenang setelah ritual
pemanggilan dewa selesai. Melihat bagaimana dunia ini akan hancur. Hanya
memperhatikannya──lalu berakhir di sana."
Tiba-tiba,
suaranya mengandung sedikit panas. Itu bukan kemarahan. Bukan pula kegelisahan
atau kegembiraan.
"Tapi,
setelah berbicara denganmu, aku berubah pikiran."
Kata-kata itu
terdengar sunyi seperti kutukan, namun seberat sebuah tekad.
"Sekarang,
aku sangat ingin──mematahkanmu dengan tanganku sendiri."
Raut wajah Filly
yang tadi tersenyum tipis mendadak sirna.
"Aku ingin
menunjukkan padamu bahwa tidak ada yang tersisa di ujung kepercayaanmu pada
'harapan' itu. Aku ingin menyaksikan dengan mataku sendiri saat kau tenggelam
dalam keputusasaan dan hancur berantakan……"
"……Apa boleh
kau mengubah rencana hanya karena emosi pribadi seperti itu? Bukankah kalian
sudah menghabiskan waktu yang lama untuk menjalankan rencana ini?"
"Fufufu, kau
memberiku penilaian yang cukup tinggi, ya. Tapi, pemahamanmu itu salah. Aku
sendiri pun tidak menaruh harapan pada 'masa depan'."
Suaranya tidak
mencerminkan beratnya beban seseorang yang mengemban rencana jangka panjang.
Setelah berhadapan seperti ini, aku rasa aku sedikit memahami Filly.
Dia mungkin
terlihat bergerak berdasarkan rencana yang matang dan penuh perhitungan, tapi
sebenarnya tidak. Yang menggerakkan Filly bukanlah rencana demi masa depan,
melainkan impuls yang dia rasakan saat itu juga.
Dia tidak peduli
soal masa depan──di balik pernyataan teguh itu, terdapat kehausan yang mendalam
untuk mengakhiri segala sesuatu dan menyeret semuanya dalam keputusasaan.
Hasrat akan
kehancuran tampak mengintip di balik setiap kata dan gerak-geriknya.
"Lagipula
manusia akan mati sendirian, jadi tidak mungkin ada hal yang lebih berharga
daripada momen saat ini, kan?"
Sambil berkata
demikian, di tangannya tiba-tiba sudah tergenggam sesuatu yang tampak seperti
alat sihir selain Mata Spirit. Begitu Filly mengoperasikan alat sihir tersebut—
Mana hitam pekat
yang tadinya meluap dari Mata Spirit tersedot masuk ke mata kanannya dalam
bentuk spiral.
Melihat
pemandangan ganjil itu, aku merasakan firasat buruk dan secara refleks mencoba
menerjang maju.
"kh……!?"
Namun, saat aku
melangkahkan kaki, seluruh tubuhku terpental balik oleh mana yang berhembus
kencang seperti badai hitam dari arah depan.
Mana itu
mengerang seperti angin dan mendistorsi ruang di sekitarnya. Meski mencoba
melangkah maju, aku merasa seolah seluruh tubuhku ditarik paksa ke belakang.
Mungkin karena
efek samping dari End Form: Mond Ende masih menggerogoti
tubuhku, aku tidak bisa mengerahkan tenaga dengan baik.
Meski
begitu, aku mengertakkan gigi dan mencoba merangsek maju.
Namun,
badai mana yang berpusar di sekeliling Filly justru semakin menguat seolah
menolak keberadaanku.
Di tengah pusat badai itu, tubuh Filly sedikit gemetar. Namun itu bukan gemetar karena penolakan
atau rasa sakit, melainkan gemetar karena rasa nikmat yang merasuki dirinya.
"……Fufu.
Ini…… ini adalah mana dari Oberon-sama……!"
Di mata kanannya,
pola geometris menyerupai lingkaran sihir perlahan muncul. Mana hitam pekat
yang menetes dari sana mengalir di pipinya seperti air mata.
Badai mana itu
mendadak mereda, namun ruang di sekitarnya masih tampak bergejolak. Keheningan
ganjil menyelimuti area tersebut. Di pusat ruang itu, dia tertawa pelan.
"Begitu rupanya…… Jadi kalian para Transcendent melihat
pemandangan seperti ini, ya."
Kata-katanya
meluncur seolah sedang memuntahkan sesuatu.
"Aku rasa…… aku sedikit bisa memahami 'ilusi' yang
ingin kau percayai itu."
Sambil
bergumam begitu, dia menyipitkan matanya. Di matanya bersemayam emosi rumit
yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Tapi tetap
saja, kita tidak akan pernah sejalan. ──Meskipun begitu, aku sudah sangat
mengerti bahwa ilusi itu adalah sesuatu yang berharga untuk dihancurkan."
Sama seperti
Shion dan Oliver, Filly menyatukan Mata Spirit dengan matanya sendiri. Terlebih
lagi, mana itu milik Dewa Jahat.
Mana hitam yang
menetes dari mata kanan Filly jatuh ke tanah. Pada saat itu, suara gemuruh
seperti raungan terdengar dari dasar bumi.
Tanah berguncang
hebat. Miasma pekat berpusar di puncak Gunung Suci. Sebuah bayangan raksasa
yang mustahil muncul di puncak gunung.
Tubuh ular
raksasa yang meliit berkali-kali, menjulang lebih tinggi dari awan. Delapan
kepala meliuk-liuk, melepaskan raungan ke langit.
"Ular
berkepala delapan……?"
"Monster
mitos dari negara pendahulu Kyokuto di zaman kuno──aku mencoba
mereproduksi Yata no Hebi. Bagaimana menurutmu?"
"Yata no
Hebi……"
Mungkin terasa
sakit, Filly memegangi mata kanannya, namun ekspresinya ternoda oleh senyum
yang seolah sedang dalam keadaan ekstasi.
"Seberapa
rapuh dan tak berdayanya hal-hal yang kau percayai itu──mulai sekarang, aku
akan mengajarkannya padamu secara perlahan dan saksama."
Setelah
berkata begitu, dia menunjuk ke arah langit. Salah satu dari delapan kepala Yata no
Hebi bergerak perlahan. Tujuan pandangannya adalah──Ibu Kota Kyokuto,
Hanemiya.
"Pertama-tama,
pelajarilah betapa mudahnya nyawa manusia lenyap tanpa sisa."
Kepala itu
membuka mulutnya, dan mana mulai terkonsentrasi. Mana yang mengerikan mendistorsi udara di
sekitarnya.
"Hentikan!"
Saat suara itu
keluar, tubuhku sudah bergerak. Mengabaikan tubuhku yang menjerit kesakitan,
aku menggenggam pedang sihirku erat-erat.
"──Fifth
Form: Mont Fünf."
Aku mengubah
pedang sihir menjadi perisai sihir. Detik berikutnya, gumpalan bencana
dilepaskan dari mulut Yata no Hebi. Aku melompat tepat ke jalur
serangannya dan menahannya dengan perisai sihir.
"Ugh……!"
Aliran mana
menghantam perisai. Aku berusaha sekuat tenaga menahan benturan yang seolah
hendak menghancurkanku. Tak lama kemudian, aliran mana itu memudar, dan
keheningan singkat pun datang.
(Haa…… haa…… Setidaknya, aku berhasil mencegah kerusakan
pada kota……)
Saat aku merasa lega karena bisa melindungi kota yang
membentang di bawah sana,
"Hebat juga kau."
Dari tengah mana hitam yang melayang di dekat puncak gunung,
Filly menatapku dari atas. Ekspresinya tidak berubah, masih penuh dengan
ketenangan dan cemoohan──setidaknya terlihat seperti itu.
Namun, ada
sesuatu yang terasa janggal. Napasnya tidak memburu. Akan tetapi, siluet
tubuhnya sedikit bergetar, dan mana yang menyelimutinya terasa tidak stabil.
(……Apakah dia
kelelahan karena menciptakan Yata no Hebi?)
Bukan, bukan itu.
Sebaliknya, dia tampak sedang berjuang keras menekan sesuatu yang meluap dari
dalam dirinya.
Sesuatu yang liar
mencoba mengamuk, dan Filly saat ini sedang menahannya secara paksa. Aku hanya
bisa berpikir demikian.
"Karena
itulah, kau memang pantas untuk dipatahkan."
Siluet tubuhnya
perlahan memudar seolah meleleh ke dalam mana.
"Saat kita
bertemu lagi nanti, tunjukkanlah wajahmu yang penuh penderitaan itu
padaku."
Meninggalkan
kata-kata itu, keberadaan Filly lenyap.
(……Dia kabur?
Bukan──)
Sama sekali tidak
terlihat bayang-bayang kegelisahan pada punggung yang mempertahankan ketenangan
luar biasa itu. Tapi aku tahu. Dia belum sepenuhnya bisa mengendalikan mana
Dewa Jahat.
Bahkan
dengan Eternal Immutability milik Belia pun, dia hanya mampu
menekannya sekuat tenaga.
Sebagai pemilik
kekuatan unik Cognitive Alteration, dia memang memiliki afinitas
lebih tinggi dengan mana Dewa Jahat dibandingkan pemilik kekuatan unik lainnya.
Meski begitu,
wajar jika menganggap dia belum bisa menjadikannya miliknya sendiri.
Lagipula, jika
memercayai perkataannya, tindakannya menyerap mana Dewa Jahat itu sendiri
kemungkinan besar tidak ada dalam rencana awal mereka.
Yata no Hebi yang ditinggalkan melepaskan raungan
dari puncak gunung.
"……Malah
meninggalkan hadiah yang merepotkan──First Form: Mont Eins."
Aku menarik napas
dalam-dalam dan menggenggam kembali pedang sihirku. Efek samping dari End
Form: Mond Ende sudah pulih sampai batas tertentu.
Aku telah
berhasil mencapai salah satu tujuan awal, yaitu mengusir lawan paling
merepotkan dari kelompok gereja dari negara ini.
Tapi,
belum ada yang berakhir. Aku akan menyelesaikannya dengan benar.
Hanya
setelah itu tercapai, barulah negara ini bisa melangkah maju.



Post a Comment