Interlude 3
Cahaya Rembulan Yang Menerangi Gelapnya Malam
"Hanya
sendirian, mansion ini terasa sangat luas......"
Menatap
sekeliling mansion Party Pahlawan yang kukunjungi kembali untuk pertama kalinya
setelah beberapa hari, aku bergumam pelan.
Setelah insiden
baru-baru ini mereda, aku ditahan selama beberapa hari untuk dimintai
keterangan mengenai penculikan anak dan masalah lain yang melibatkan Perusahaan
Flockhart milik keluargaku.
Kemudian, entah
mengapa, aku dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan, hingga akhirnya kembali
ke mansion ini.
"Sekarang,
apa yang harus kulakukan..."
Dengan
ditangkapnya Oliver-san dan yang lainnya, Party Pahlawan secara efektif telah
bubar, dan sudah diputuskan bahwa Perusahaan Flockhart akan diakuisisi oleh
perusahaan dagang lain.
Aku tidak punya
apa-apa lagi sekarang. Tidak ada tempat bernaung, tidak ada tempat untuk
pulang.
Aku sering
meninggalkan mansion ini untuk membantu keluargaku, namun saat aku berada di
sini, salah satu anggota party pasti selalu ada.
Kami memang tidak
akrab, tapi mereka adalah rekan yang sudah lama tinggal bersamaku. Berkat
kehadiran mereka, aku jarang merasa kesepian.
Namun, sekarang
tidak ada siapa pun di sini. Aku dipaksa menyadari bahwa aku telah benar-benar
menjadi sebatang kara.
"Luna,
jangan menangis."
Sesosok
peri—seorang Pixie—yang selalu berada di sisiku tiba-tiba berbicara
padaku. Sang Pixie jarang berbicara atas kemauannya sendiri.
Dia adalah peri
yang hanya mengawasiku dan sesekali menawarkan bantuan.
Disapa oleh sang Pixie,
aku baru menyadari untuk pertama kalinya bahwa aku sedang meneteskan air mata.
"Tidak
apa-apa. Luna tidak sendirian."
"Benar
juga. Aku masih memiliki
kalian semua, bukan?"
"Ya. Itu
benar, tapi bukan hanya itu..."
Tepat saat sang Pixie
mencoba mengatakan sesuatu, aku mendengar suara ketukan di pintu mansion.
Aku tidak bisa
membayangkan ada orang yang berkunjung ke sini di jam seperti ini, tapi
kira-kira siapa?
Sambil menyeka
air mata, aku membuka pintu, dan di sana berdirilah—.
"Aku tahu
kamu pasti ada di sini. Sudah lama ya, Luna."
—Orn-san ada di
sana.
◇
"Tidak
banyak berubah. Yah, ini baru sekitar tiga bulan, jadi kurasa itu wajar."
Mengundang
Orn-san masuk karena dia bilang ingin melihat bagian dalam mansion, dia
memasuki ruang tamu, melihat sekeliling, dan menunjukkan ekspresi nostalgia.
"Anu, Orn-san..."
"Ah, maaf. Tiba-tiba
merasa rindu saja."
"Tidak, aku
tidak keberatan, tapi kenapa Anda ada di sini...?"
"Itu sudah
jelas, bukan? Untuk menemuimu, Luna."
"Menemui...
aku?"
"...Apa kamu
sudah memutuskan apa yang akan kamu lakukan mulai sekarang, Luna?"
"Tidak,
belum ada rencana khusus."
"Yah, sudah
kuduga. Kalau begitu—maukah kamu bergabung dengan Night Sky Silver
Rabbit?"
"————Eh?"
Pikiranku menjadi
kosong mendengar tawaran yang tiba-tiba itu. Aku, bergabung dengan Night Sky
Silver Rabbit?
"Mengejutkan,
ya? Tapi aku tidak mengatakannya sebagai lelucon. Mendengar bahwa petualang hebat sepertimu
sedang tidak terikat klan, aku tidak tahan untuk tidak mengajakmu."
"......"
Ekspresi
Orn-san berubah dari raut wajah anak kecil yang jahil menjadi ekspresi serius
saat dia berbicara lagi.
"Aku
tidak bermaksud bilang kalau aku mengerti perasaanmu saat orang tuamu ditangkap
sebagai kriminal. Tapi kurasa aku mengerti kesedihan karena kehilangan
keluarga. Aku akan mengakuinya sekarang, sebenarnya semua orang di desaku
dibunuh oleh bandit, dan hanya Oliver dan aku yang selamat. Meski kami berdua,
kami merasa sangat kesepian. Aku benar-benar berterima kasih kepada Luna, yang
menyapa kami dan membentuk party bersama kami saat itu—"
Orn-san
berbicara kepadaku dengan nada lembut sementara aku masih terpaku dalam
lamunan.
...Aku tidak tahu
Orn-san merasa seperti itu. Aku hanya mendekati Orn-san dan yang lainnya
mengikuti instruksi Marquis Fergus. Jika ada, akulah yang berterima kasih
kepada Orn-san dan Oliver-san karena telah menerima orang sepertiku, yang
hanyalah sebuah boneka, sebagai rekan...
"—Itulah
sebabnya, kali ini giliranku. Aku ingin menciptakan tempat untuk Luna. Aku akan
bersamamu agar kesepianmu bisa teralihkan, meski hanya sedikit. Mari kita
menjelajahi dungeon bersama sebagai rekan lagi. Kita akan berada di party yang
berbeda, tapi di hari libur, kita bisa membentuk party bersama."
Orn-san tersenyum
padaku. Ekspresi itu adalah tatapan lembut dan sangat menenangkan yang biasa
dia berikan kepada kami saat dia masih berada di Party Pahlawan.
Aku bisa menjadi
rekan Orn-san lagi, ya...
Tanpa kusadari,
sebutir air mata jatuh dari mataku. Namun air mata ini benar-benar berbeda dari yang sebelumnya.
Ironisnya,
karena orang tuaku ditangkap, aku justru terbebas dari kekangan mereka.
Aku
dengar Orn-san berperan besar dalam penangkapan mereka, jadi dalam artian
tertentu, bisa dibilang Orn-san telah membebaskanku dari kutukanku.
Tidak
berhenti di situ, dia bahkan memberiku, yang kehilangan tempat di Party
Pahlawan, sebuah tempat baru untuk bernaung...
Aku
merasa seolah-olah Orn-san sedang menerangiku dengan cahaya penuntun saat aku
tersesat di dalam kegelapan.
"...Iya.
Mohon bantuannya."
Bukan karena rancangan Marquis Fergus maupun instruksi orang tuaku, aku memperbarui tekadku untuk mengikuti Orn-san mulai sekarang dengan kehendakku sendiri—.



Post a Comment