Interlude 2
Rencana Baru Selma
Langit Tsutrail
hari ini pun dihiasi hamparan biru yang luas tanpa awan sedikit pun.
Kota yang
paling dekat dengan South Grand Dungeon ini kerap dijuluki sebagai kota
kedua di Kerajaan Nohitant.
Orang-orang
dan barang dagangan datang dan pergi dengan sibuknya setiap hari.
Di
alun-alun yang terletak di pusat kota tersebut, aku bersama Will dan Lucre
datang untuk mengantar keberangkatan Rain.
"Berhati-hatilah
di jalan."
"Iya. Terima
kasih, Selma. ……Lucre, Will, maaf ya aku harus meninggalkan klan di saat-saat
sibuk seperti ini."
"Aduh,
jangan minta maaf terus, dong. Ini hal yang sangat penting buat Kak Rain, kan? Kalau begitu, aku juga
pasti mendukungmu."
"Benar
itu, Rain. Lagipula meski kamu pergi, kamu bakal balik dalam kurang dari
seminggu, kan? Selama itu sih, kami saja sudah cukup. Anggap saja ini waktu
liburan, jadi jangan cemaskan kami dan fokuslah pada urusanmu."
"Kalian berdua…… terima kasih."
Mulai hari ini,
Rain akan meninggalkan Tsutrail untuk sementara waktu.
Namun, dia tidak
pernah sekalipun menyebutkan ke mana tujuannya.
Rain yang
biasanya tegas dan bisa diandalkan seperti sosok kakak perempuan tidak mungkin
sekadar lupa bicara. Pasti ada alasan kuat kenapa dia sengaja tidak memberitahu
kami tujuannya.
Terlebih lagi,
jika melihat mata Rain, tersirat pesan bahwa dia pergi untuk melakukan sesuatu
yang sangat penting bagi dirinya.
"Aku akan
segera kembali, jadi selama aku pergi, tolong jaga klan, ya."
"Ya,
serahkan saja pada kami."
Begitu aku menjawabnya, dia mengangguk sambil tersenyum, lalu berbalik dan mulai melangkah pergi.
"Sampai
jumpa!"
Begitu punggung
Rain menghilang dari pandangan, Lucre berseru dengan riang.
"Ayo kita
semangat hari ini, supaya Kak Rain tidak geleng-geleng kepala saat pulang
nanti!"
Aku tersenyum
mendengar ucapannya, lalu mulai melangkah bersama Will dan Lucre.
Ada
hal-hal yang berubah. Namun, justru karena itulah aku ingin melindungi
rekan-rekanku yang sekarang.
Hari ini
pun, patroli keliling Tsutrail yang belakangan menjadi rutinitas harian kami
dimulai.
◆◇◆
Setelah
mengantar keberangkatan Rain, kami pergi berpatroli di sepanjang jalan raya
bagian selatan Tsutrail.
Sejak
beberapa bulan lalu, Dungeon di seluruh dunia mengalami luapan secara
serentak, membuat monster merajalela di permukaan.
Awalnya,
pekerjaan utama penjelajah adalah masuk ke dalam Dungeon untuk mengambil
Mana Stone dan material lainnya.
Namun belakangan
ini, pekerjaan di permukaan seperti pertahanan kota dan pengamanan jalur
logistik semakin meningkat.
Meski terlihat
sepele, aku merasa ini adalah pekerjaan yang penting.
Baik sebagai
petinggi Night Sky Silver Rabbit maupun sebagai anggota kaum bangsawan
negeri ini, aku memiliki tanggung jawab untuk menjaga keamanan kota.
"Kak Selma, hari ini…… aku ingin mencoba bertarung
tanpa Buff darimu, boleh?"
Will yang
berjalan di depan bertanya dengan suara yang sedikit tegang.
"Tanpa
Buff?"
"Aku
ingin mulai mencoba pengendalian Ki dalam pertarungan sungguhan."
"Begitu
ya, aku mengerti. Tapi, jika ada monster berbahaya, kita akan bertarung dengan
cara seperti biasanya. Apa kau tidak keberatan?"
"Ya,
tidak masalah."
Aku
mengangguk pelan. Dadaku terasa sedikit nyeri, tapi aku tidak menunjukkannya di
wajah.
Ki—aku mendengar itu adalah teknik
untuk melatih dan mengeluarkan kekuatan dalam diri manusia guna memperkuat
tubuh dan memperluas indra.
Tampaknya
Will dan yang lainnya mulai menguasai dasar-dasarnya.
(Jika memiliki Ki,
mereka bisa memperkuat diri sendiri. Dengan kata lain, Buff dariku tidak
akan diperlukan lagi.)
Aku menyentuh
dadaku, lalu tanpa sadar menghela napas.
Pekerjaanku
sebagai Enchanter—dukungan dan komando, itulah peranku selama ini.
Aku bangga bisa
menjadi kekuatan bagi orang lain, dan aku pikir itulah tempatku berada.
Namun,
segala hal akan berubah.
Dunia, begitu
pula rekan-rekan.
"Ada
monster! Musuhnya satu ekor Orc!"
Lucre berseru.
Satu ekor Orc,
ya. Bagi kami, itu bukan lawan yang berarti.
"Will, tidak
ada Buff dariku. Bisa?"
"Hah!
Gampang sekali!"
Pertarungan
melawan Orc dimulai, dan Will menunjukkan pergerakan yang lebih baik dari
dugaanku.
Gerakannya hampir
tidak berbeda dengan saat menerima Buff dariku, dan dalam sekejap dia
mengubah Orc itu menjadi kabut hitam.
"Ooh! Hebat juga kamu, Will!"
Lucre tersenyum senang.
Melihat pemandangan itu, aku pun ikut tersenyum secara
alami.
Di saat yang
sama, ada sedikit rasa pahit di lubuk hatiku.
(Aku juga tidak
boleh hanya jalan di tempat. Aku tidak boleh tertinggal sendirian.)
Setelah
pertarungan usai, aku menyapa Will.
"Will,
bagaimana rasanya mencoba di pertarungan sungguhan?"
"Tidak
buruk. Meski hal yang harus dipikirkan bertambah, tapi aku yakin bisa jadi
lebih kuat dari sebelumnya."
"Aku juga
tidak mau kalah!"
Wajah mereka
berdua terlihat sangat bisa diandalkan.
—Aku pun hanya
perlu terus melangkah maju dengan caraku sendiri.
◆◇◆
Setelah
menyelesaikan patroli dan kembali ke markas, aku bertemu dengan sosok yang
jarang terlihat di lobi.
"Terima
kasih atas kerja keras patrolinya, Selma."
"Yang Mulia
Lucilla……"
Dia adalah
Lucilla N.Edelweiss. Putri pertama Kerajaan Nohitant.
Alasan mengapa
dia yang seharusnya tinggal di istana kerajaan berada di sini adalah karena dia
memindahkan basis aktivitasnya ke Tsutrail sebagai Perwakilan Kerajaan.
Sejak muncul
informasi bahwa penaklukan Grand Dungeon diperlukan untuk menghentikan
luapan Dungeon serentak di seluruh dunia, penaklukan tersebut kini bukan
lagi sekadar tugas penjelajah, melainkan tujuan bersama umat manusia.
Oleh karena itu,
pihak kerajaan mengumumkan dukungan penuh kepada Night Sky Silver Rabbit,
klan dengan skala terbesar di negeri ini yang progres penaklukan South Grand
Dungeon-nya paling maju.
Lalu, dia diutus
sebagai perwakilan kerajaan ke Night Sky Silver Rabbit.
"Apa Anda
punya waktu sebentar? Jika tidak keberatan, bagaimana kalau kita minum teh
bersama?"
Lucilla
memancarkan aura keramahan ke arahku.
"Saya merasa
terhormat atas ajakannya. Kebetulan tenggorokan saya terasa kering setelah patroli, jadi dengan
senang hati saya akan menemani Anda."
"Fufufu.
Kalau begitu, ayo pergi."
Dipandu
olehnya, aku melangkah menuju ruang tamu pribadi yang ada di dalam markas.
Ruangan
itu awalnya disiapkan untuk pertemuan dengan bangsawan tingkat tinggi. Di balik
pintu yang kokoh, terdapat kursi berkualitas tinggi dan sebuah meja bundar
kecil yang tertata sunyi.
Begitu
masuk ke ruangan, Lucilla sendiri yang mulai menyiapkan perangkat minum teh.
Seharusnya
dia bisa memanggil pelayan, tapi sejak dulu dia memang tipe orang yang suka
bergerak sendiri dalam situasi seperti ini.
"Silakan
duduk, Selma. Ini campuran mint dan lemon. Kurasa cocok untuk
menyegarkan suasana."
"Terima
kasih banyak, saya merasa sangat tersanjung."
Aroma yang
menguar dari cangkir membuat tubuhku yang tadi tegang menjadi sedikit rileks.
Tak lama
kemudian, pintu berat itu tertutup, membuat ruangan ini sepenuhnya menjadi
ruang berdua bagi kami.
Aku menghela
napas sekali, membawa cangkir ke bibir, lalu tersenyum perlahan.
"Meski
begitu, persiapanmu matang sekali ya, Lucy. Sampai menungguku tanpa membawa
satu pun ajudan. Apa kau sedang merencanakan sesuatu?"
"Merencanakan
sesuatu? Kedengarannya buruk sekali. Aku murni hanya ingin menikmati teh
bersama Selma, kok."
"Wah, aku
merasa terhormat."
Aku mengedikkan
bahu pelan sambil menggoyangkan cangkir. Aroma lemon dan mint yang
lembut meresap ke tenggorokanku.
Cara Lucy
menyeduh teh tidak berubah sejak dulu. Teliti, dan entah kenapa terasa hangat.
"Jadi,
bagaimana sebenarnya? Aku tidak yakin seorang Perwakilan Kerajaan mengajakku
hanya untuk sekadar melepas penat."
"Kau ini
curigaan sekali, ya. Yah, sejujurnya aku menunggumu karena mengira kau akan
merasa terpuruk, tapi sepertinya kekhawatiranku itu sia-sia."
"……Apa
maksudmu? Mengenai pertumbuhan Will dan yang lainnya?"
Saat aku
bertanya sambil menyesap teh, Lucy mengangguk pelan.
"Iya.
Soalnya telingaku mendengar kabar kalau Wilks dan Lucretia mulai menguasai 'Buff
selain sihir pendukung'."
"……Jaringan
informasimu selalu saja membuatku terkejut."
"Tentu saja,
bagaimanapun juga aku ini seorang putri!"
Lucy memasang
ekspresi bangga yang seolah-olah mengeluarkan efek suara 'tadaaa'.
Namun, aku tidak
melewatkan kilatan matanya yang goyah sesaat. Dia benar-benar mencemaskanku
dengan tulus.
"……Yah,
terima kasih sudah mencemaskanku, tapi aku baik-baik saja. Aku pun sudah mulai
bergerak dengan caraku sendiri."
Lucy meletakkan
cangkirnya.
Lalu, dia
menatapku dengan tatapan penuh minat.
"Gerakan
seperti apa itu secara spesifik? Sepertinya sebagai Perwakilan Kerajaan, aku
harus mengetahuinya."
Lucy bertanya dengan nada bercanda.
"Saat ini
masih dalam tahap konsep. Tapi, konsep ini sendiri sebenarnya sudah ada di
kepalaku sejak dua tahun lalu."
"Sejak dua
tahun lalu?"
"Ya. Dua
tahun lalu—sejak kita kehilangan kartu as yang luar biasa seperti Tuan Albert,
aku mulai memikirkannya. Pada akhirnya rencana ini sempat kubatalkan saat Orn
bergabung tahun lalu, tapi karena Orn sudah keluar, aku berniat menuangkannya
kembali ke dalam strategi."
"Sepertinya
kau sedang memikirkan hal yang menarik. Beritahu aku duluan."
"Tidak
banyak yang bisa kukatakan saat ini. ……Hanya saja, ada satu hal yang ingin
kukonsultasikan."
Aku menatap
matanya dalam-dalam.
"Lucy.
Pasukan pengawalmu—Emerald Gale, tolong pinjamkan mereka padaku."
Seketika, kurasa
udara di sekitar kami membeku sejenak.
"…………Emerald
Gale?"
"Ya. Tentu
saja, bukan cuma Lauretta saja. Semuanya. Aku ingin mengambil alih mereka
semua."
Lucy menatap
cangkirnya, mengambil waktu untuk berpikir.
Namun keheningan
itu bukanlah untuk menolak. Itu adalah waktu untuk melakukan deduksi dengan
tenang.
"……Kau
berniat mengoperasikan beberapa faksi secara bersamaan, ya?"
Pertanyaannya
sangat tepat sasaran.
Hebat juga. Dia
bisa menebak tujuanku hanya dengan informasi sesedikit itu.
Aku mengangguk
mantap.
Tak lama
kemudian, Lucy tersenyum.
"Baiklah.
Termasuk Lauretta, aku akan menyerahkan seluruh pasukan itu padamu,
Selma."
"Terima
kasih banyak."
"Tapi, ada
satu syarat."
"……Apa?"
"Bocorkan
sedikit saja nama konsepnya padaku. Ini masalah rasa ingin tahuku."
Aku menahan tawa,
lalu sedikit menundukkan mata.
"Aku belum
memikirkan nama khusus, tapi kalau harus disebut…… mungkin—'Konsep Raid'."
"……Fufu,
kedengarannya sangat penuh makna."
Gerakan Lucy saat
membawa cangkir ke bibirnya terlihat sangat puas.
Saat teh ini
mendingin nanti, bentuk pertempuran yang baru pasti sudah mulai bergerak.
Menuju masa depan yang belum kami ketahui—secara tenang, namun pasti.



Post a Comment