NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 9 Interlude 2

Interlude 2

Rencana Baru Selma


Langit Tsutrail hari ini pun dihiasi hamparan biru yang luas tanpa awan sedikit pun.

Kota yang paling dekat dengan South Grand Dungeon ini kerap dijuluki sebagai kota kedua di Kerajaan Nohitant.

Orang-orang dan barang dagangan datang dan pergi dengan sibuknya setiap hari.

Di alun-alun yang terletak di pusat kota tersebut, aku bersama Will dan Lucre datang untuk mengantar keberangkatan Rain.

"Berhati-hatilah di jalan."

"Iya. Terima kasih, Selma. ……Lucre, Will, maaf ya aku harus meninggalkan klan di saat-saat sibuk seperti ini."

"Aduh, jangan minta maaf terus, dong. Ini hal yang sangat penting buat Kak Rain, kan? Kalau begitu, aku juga pasti mendukungmu."

"Benar itu, Rain. Lagipula meski kamu pergi, kamu bakal balik dalam kurang dari seminggu, kan? Selama itu sih, kami saja sudah cukup. Anggap saja ini waktu liburan, jadi jangan cemaskan kami dan fokuslah pada urusanmu."

"Kalian berdua…… terima kasih."

Mulai hari ini, Rain akan meninggalkan Tsutrail untuk sementara waktu.

Namun, dia tidak pernah sekalipun menyebutkan ke mana tujuannya.

Rain yang biasanya tegas dan bisa diandalkan seperti sosok kakak perempuan tidak mungkin sekadar lupa bicara. Pasti ada alasan kuat kenapa dia sengaja tidak memberitahu kami tujuannya.

Terlebih lagi, jika melihat mata Rain, tersirat pesan bahwa dia pergi untuk melakukan sesuatu yang sangat penting bagi dirinya.

"Aku akan segera kembali, jadi selama aku pergi, tolong jaga klan, ya."

"Ya, serahkan saja pada kami."

Begitu aku menjawabnya, dia mengangguk sambil tersenyum, lalu berbalik dan mulai melangkah pergi.




"Sampai jumpa!"

Begitu punggung Rain menghilang dari pandangan, Lucre berseru dengan riang.

"Ayo kita semangat hari ini, supaya Kak Rain tidak geleng-geleng kepala saat pulang nanti!"

Aku tersenyum mendengar ucapannya, lalu mulai melangkah bersama Will dan Lucre.

Ada hal-hal yang berubah. Namun, justru karena itulah aku ingin melindungi rekan-rekanku yang sekarang.

Hari ini pun, patroli keliling Tsutrail yang belakangan menjadi rutinitas harian kami dimulai.

◆◇◆

Setelah mengantar keberangkatan Rain, kami pergi berpatroli di sepanjang jalan raya bagian selatan Tsutrail.

Sejak beberapa bulan lalu, Dungeon di seluruh dunia mengalami luapan secara serentak, membuat monster merajalela di permukaan.

Awalnya, pekerjaan utama penjelajah adalah masuk ke dalam Dungeon untuk mengambil Mana Stone dan material lainnya.

Namun belakangan ini, pekerjaan di permukaan seperti pertahanan kota dan pengamanan jalur logistik semakin meningkat.

Meski terlihat sepele, aku merasa ini adalah pekerjaan yang penting.

Baik sebagai petinggi Night Sky Silver Rabbit maupun sebagai anggota kaum bangsawan negeri ini, aku memiliki tanggung jawab untuk menjaga keamanan kota.

"Kak Selma, hari ini…… aku ingin mencoba bertarung tanpa Buff darimu, boleh?"

Will yang berjalan di depan bertanya dengan suara yang sedikit tegang.

"Tanpa Buff?"

"Aku ingin mulai mencoba pengendalian Ki dalam pertarungan sungguhan."

"Begitu ya, aku mengerti. Tapi, jika ada monster berbahaya, kita akan bertarung dengan cara seperti biasanya. Apa kau tidak keberatan?"

"Ya, tidak masalah."

Aku mengangguk pelan. Dadaku terasa sedikit nyeri, tapi aku tidak menunjukkannya di wajah.

Ki—aku mendengar itu adalah teknik untuk melatih dan mengeluarkan kekuatan dalam diri manusia guna memperkuat tubuh dan memperluas indra.

Tampaknya Will dan yang lainnya mulai menguasai dasar-dasarnya.

(Jika memiliki Ki, mereka bisa memperkuat diri sendiri. Dengan kata lain, Buff dariku tidak akan diperlukan lagi.)

Aku menyentuh dadaku, lalu tanpa sadar menghela napas.

Pekerjaanku sebagai Enchanter—dukungan dan komando, itulah peranku selama ini.

Aku bangga bisa menjadi kekuatan bagi orang lain, dan aku pikir itulah tempatku berada.

Namun, segala hal akan berubah.

Dunia, begitu pula rekan-rekan.

"Ada monster! Musuhnya satu ekor Orc!"

Lucre berseru.

Satu ekor Orc, ya. Bagi kami, itu bukan lawan yang berarti.

"Will, tidak ada Buff dariku. Bisa?"

"Hah! Gampang sekali!"

Pertarungan melawan Orc dimulai, dan Will menunjukkan pergerakan yang lebih baik dari dugaanku.

Gerakannya hampir tidak berbeda dengan saat menerima Buff dariku, dan dalam sekejap dia mengubah Orc itu menjadi kabut hitam.

"Ooh! Hebat juga kamu, Will!"

Lucre tersenyum senang.

Melihat pemandangan itu, aku pun ikut tersenyum secara alami.

Di saat yang sama, ada sedikit rasa pahit di lubuk hatiku.

(Aku juga tidak boleh hanya jalan di tempat. Aku tidak boleh tertinggal sendirian.)

Setelah pertarungan usai, aku menyapa Will.

"Will, bagaimana rasanya mencoba di pertarungan sungguhan?"

"Tidak buruk. Meski hal yang harus dipikirkan bertambah, tapi aku yakin bisa jadi lebih kuat dari sebelumnya."

"Aku juga tidak mau kalah!"

Wajah mereka berdua terlihat sangat bisa diandalkan.

—Aku pun hanya perlu terus melangkah maju dengan caraku sendiri.

◆◇◆

  Setelah menyelesaikan patroli dan kembali ke markas, aku bertemu dengan sosok yang jarang terlihat di lobi.

"Terima kasih atas kerja keras patrolinya, Selma."

"Yang Mulia Lucilla……"

Dia adalah Lucilla N.Edelweiss. Putri pertama Kerajaan Nohitant.

Alasan mengapa dia yang seharusnya tinggal di istana kerajaan berada di sini adalah karena dia memindahkan basis aktivitasnya ke Tsutrail sebagai Perwakilan Kerajaan.

Sejak muncul informasi bahwa penaklukan Grand Dungeon diperlukan untuk menghentikan luapan Dungeon serentak di seluruh dunia, penaklukan tersebut kini bukan lagi sekadar tugas penjelajah, melainkan tujuan bersama umat manusia.

Oleh karena itu, pihak kerajaan mengumumkan dukungan penuh kepada Night Sky Silver Rabbit, klan dengan skala terbesar di negeri ini yang progres penaklukan South Grand Dungeon-nya paling maju.

Lalu, dia diutus sebagai perwakilan kerajaan ke Night Sky Silver Rabbit.

"Apa Anda punya waktu sebentar? Jika tidak keberatan, bagaimana kalau kita minum teh bersama?"

Lucilla memancarkan aura keramahan ke arahku.

"Saya merasa terhormat atas ajakannya. Kebetulan tenggorokan saya terasa kering setelah patroli, jadi dengan senang hati saya akan menemani Anda."

"Fufufu. Kalau begitu, ayo pergi."

Dipandu olehnya, aku melangkah menuju ruang tamu pribadi yang ada di dalam markas.

Ruangan itu awalnya disiapkan untuk pertemuan dengan bangsawan tingkat tinggi. Di balik pintu yang kokoh, terdapat kursi berkualitas tinggi dan sebuah meja bundar kecil yang tertata sunyi.

Begitu masuk ke ruangan, Lucilla sendiri yang mulai menyiapkan perangkat minum teh.

Seharusnya dia bisa memanggil pelayan, tapi sejak dulu dia memang tipe orang yang suka bergerak sendiri dalam situasi seperti ini.

"Silakan duduk, Selma. Ini campuran mint dan lemon. Kurasa cocok untuk menyegarkan suasana."

"Terima kasih banyak, saya merasa sangat tersanjung."

Aroma yang menguar dari cangkir membuat tubuhku yang tadi tegang menjadi sedikit rileks.

Tak lama kemudian, pintu berat itu tertutup, membuat ruangan ini sepenuhnya menjadi ruang berdua bagi kami.

Aku menghela napas sekali, membawa cangkir ke bibir, lalu tersenyum perlahan.

"Meski begitu, persiapanmu matang sekali ya, Lucy. Sampai menungguku tanpa membawa satu pun ajudan. Apa kau sedang merencanakan sesuatu?"

"Merencanakan sesuatu? Kedengarannya buruk sekali. Aku murni hanya ingin menikmati teh bersama Selma, kok."

"Wah, aku merasa terhormat."

Aku mengedikkan bahu pelan sambil menggoyangkan cangkir. Aroma lemon dan mint yang lembut meresap ke tenggorokanku.

Cara Lucy menyeduh teh tidak berubah sejak dulu. Teliti, dan entah kenapa terasa hangat.

"Jadi, bagaimana sebenarnya? Aku tidak yakin seorang Perwakilan Kerajaan mengajakku hanya untuk sekadar melepas penat."

"Kau ini curigaan sekali, ya. Yah, sejujurnya aku menunggumu karena mengira kau akan merasa terpuruk, tapi sepertinya kekhawatiranku itu sia-sia."

"……Apa maksudmu? Mengenai pertumbuhan Will dan yang lainnya?"

Saat aku bertanya sambil menyesap teh, Lucy mengangguk pelan.

"Iya. Soalnya telingaku mendengar kabar kalau Wilks dan Lucretia mulai menguasai 'Buff selain sihir pendukung'."

"……Jaringan informasimu selalu saja membuatku terkejut."

"Tentu saja, bagaimanapun juga aku ini seorang putri!"

Lucy memasang ekspresi bangga yang seolah-olah mengeluarkan efek suara 'tadaaa'.

Namun, aku tidak melewatkan kilatan matanya yang goyah sesaat. Dia benar-benar mencemaskanku dengan tulus.

"……Yah, terima kasih sudah mencemaskanku, tapi aku baik-baik saja. Aku pun sudah mulai bergerak dengan caraku sendiri."

Lucy meletakkan cangkirnya.

Lalu, dia menatapku dengan tatapan penuh minat.

"Gerakan seperti apa itu secara spesifik? Sepertinya sebagai Perwakilan Kerajaan, aku harus mengetahuinya."

Lucy bertanya dengan nada bercanda.

"Saat ini masih dalam tahap konsep. Tapi, konsep ini sendiri sebenarnya sudah ada di kepalaku sejak dua tahun lalu."

"Sejak dua tahun lalu?"

"Ya. Dua tahun lalu—sejak kita kehilangan kartu as yang luar biasa seperti Tuan Albert, aku mulai memikirkannya. Pada akhirnya rencana ini sempat kubatalkan saat Orn bergabung tahun lalu, tapi karena Orn sudah keluar, aku berniat menuangkannya kembali ke dalam strategi."

"Sepertinya kau sedang memikirkan hal yang menarik. Beritahu aku duluan."

"Tidak banyak yang bisa kukatakan saat ini. ……Hanya saja, ada satu hal yang ingin kukonsultasikan."

Aku menatap matanya dalam-dalam.

"Lucy. Pasukan pengawalmu—Emerald Gale, tolong pinjamkan mereka padaku."

Seketika, kurasa udara di sekitar kami membeku sejenak.

"…………Emerald Gale?"

"Ya. Tentu saja, bukan cuma Lauretta saja. Semuanya. Aku ingin mengambil alih mereka semua."

Lucy menatap cangkirnya, mengambil waktu untuk berpikir.

Namun keheningan itu bukanlah untuk menolak. Itu adalah waktu untuk melakukan deduksi dengan tenang.

"……Kau berniat mengoperasikan beberapa faksi secara bersamaan, ya?"

Pertanyaannya sangat tepat sasaran.

Hebat juga. Dia bisa menebak tujuanku hanya dengan informasi sesedikit itu.

Aku mengangguk mantap.

Tak lama kemudian, Lucy tersenyum.

"Baiklah. Termasuk Lauretta, aku akan menyerahkan seluruh pasukan itu padamu, Selma."

"Terima kasih banyak."

"Tapi, ada satu syarat."

"……Apa?"

"Bocorkan sedikit saja nama konsepnya padaku. Ini masalah rasa ingin tahuku."

Aku menahan tawa, lalu sedikit menundukkan mata.

"Aku belum memikirkan nama khusus, tapi kalau harus disebut…… mungkin—'Konsep Raid'."

"……Fufu, kedengarannya sangat penuh makna."

Gerakan Lucy saat membawa cangkir ke bibirnya terlihat sangat puas.

Saat teh ini mendingin nanti, bentuk pertempuran yang baru pasti sudah mulai bergerak.

Menuju masa depan yang belum kami ketahui—secara tenang, namun pasti.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close