NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 9 Interlude 3

Interlude 3

Malam Sebelum Pulang ke Kampung Halaman


"Akhirnya, besok ya."

"Iya."

Menjelang hari keberangkatan ke Kyokuto besok, aku merasa tegang tidak seperti biasanya.

Sebaliknya, Fuuka yang merupakan tuanku sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda itu. Seperti biasa, dia memasukkan camilan malam ke mulutnya dengan mata berbinar bahagia.

"Besok kita berangkat ke Kyokuto, lho? Apa kamu tidak merasa tegang sedikit pun?"

Merebut kembali Kyokuto seharusnya adalah ambisi terbesar Fuuka. Namun, aku sama sekali tidak melihat beban di raut wajahnya.

"Lagipula tidak ada gunanya panik. Malah Haruto yang terlalu tegang. Kalau begitu terus, tenagamu bisa habis duluan."

"……Ketahuan ya."

"Karena kita selalu bersama, aku pasti tahu."

"Begitu ya."

Sejak kecil, Fuuka memang jarang menunjukkan gejolak emosi dan selalu menyelesaikan segala sesuatu dengan tenang.

Meski begitu, kupikir dulu dia jauh lebih sering tersenyum secara alami daripada sekarang.

Dia berhenti tersenyum sejak hari itu—hari ketika kami diusir dari Kyokuto.

Sejak saat itu, dia berubah.

Demi mengendalikan kekuatan Pedang Iblis, dia rela memikul penderitaan yang bahkan tidak sanggup ditahan oleh manusia biasa.

Demi mendapatkan kartu as bernama Orn, dia melanjutkan kehidupan sebagai penjelajah yang tampak seperti jalan memutar, dan bahkan mengerahkan segalanya agar Orn bisa mendapatkan kembali ingatannya.

Akan tetapi, karena waktu dunia telah diputar kembali, hampir semua orang termasuk aku tidak mengingat apa yang terjadi di periode paling krusial itu.

Baik catatan maupun ingatan, semuanya lenyap tanpa sisa.

Namun, sepertinya Fuuka samar-samar mengingat waktu tersebut.

Aku dengar dia masih mempertahankan ingatan yang jelas mengenai sosok Orn.

Yah, karena mereka berdua bisa menggunakan kekuatan unik yang mengintervensi waktu, mungkin itu pengaruhnya.

Karena itu, pengetahuan yang kupunya tentang periode tersebut adalah apa yang kudengar dari mereka berdua.

Sejak hari itu—saat dia diusir dari Kyokuto, kehilangan tempat pulang, dan memendam tekad yang bisa dibilang sebagai balas dendam—Fuuka berhenti tersenyum.

Bukan, bukan begitu.

Dia bukannya tidak tersenyum sama sekali.

Hanya saja, itu adalah senyuman yang entah bagaimana terasa dibuat-buat, atau seperti sedang memaksakan diri.

"Haruto?"

Tiba-tiba suara Fuuka menyapa telingaku.

Tanpa sadar, rupanya aku sedang menatapnya lekat-lekat.

"……Tidak, bukan apa-apa."

Aku berdalih seadanya sambil menyesap teh di tanganku. Namun, ada sesuatu yang masih mengganjal di dalam hati.

Setelah perjalanan ini berakhir dan Kyokuto berhasil direbut kembali, apakah Fuuka akan benar-benar bisa tersenyum lagi?

Bukan senyum yang terasa hambar seperti sekarang, tapi senyuman seperti saat masih kecil dulu—senyum yang terlihat sangat bahagia dari lubuk hati terdalam.

……Aku ingin melihat senyuman itu sekali lagi.

Ambisi terbesar Fuuka adalah merebut kembali kampung halamannya.

Kalau begitu, ambisiku mungkin adalah—mengembalikan senyum tulus Fuuka.

"Aku tidur dulu."

Fuuka berdiri perlahan.

"Begitu ya. Selamat tidur, Fuuka."

"Selamat tidur, Haruto."

Punggung Fuuka menghilang di balik pintu.

  Apa yang dimulai besok bukan sekadar pertarungan biasa bagi dia maupun aku.

Ini adalah pertarungan untuk merebut kembali kampung halaman, sekaligus perjalanan untuk menghadapi masa lalu.

Aku meminum sisa teh dalam sekali teguk, lalu meletakkan cangkir kosong itu di atas meja.

Percuma saja panik sekarang. Tapi, ada hal yang bisa kulakukan.

──Aku akan mendukungnya.

Meski sulit dibayangkan, tapi jika Fuuka hampir terjatuh, setidaknya aku pasti bisa bertahan untuk tetap berdiri di sampingnya.

Demi itu pun, hari ini aku harus istirahat dengan benar untuk menyambut hari esok.

Sambil masuk ke dalam futon, aku memejamkan mata perlahan.

Berdoa agar di depan sana, ada masa depan di mana senyuman itu akan kembali──.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close