NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 9 Fragment 1

Fragmen 1

Pemanggilan Dewa


Periode Festival Tari Roh berlangsung selama tiga hari.

Aliran umum festival ini adalah menghabiskan tiga hari dengan bersenang-senang, lalu di malam terakhir Nagisa akan mempersembahkan tarian di kuil yang ada di gunung suci sebagai penutup.

……Seharusnya, setelah itu ada ritual memotong kejahatan dengan Pedang Iblis, tapi karena sekarang tidak ada Pedang Iblis maupun orang yang bisa menggunakannya, hal itu tidak bisa dilakukan.

Menjelang Festival Tari Roh besok, aku mendatangi jalanan di mana kedai-kedai mulai berjajar.

"Ini Nagisa-sama! Terima kasih banyak sudah menyempatkan diri datang ke tempat seperti ini."

Seorang pria yang sedang memberi instruksi kepada orang-orang menyadari keberadaanku, lalu menghentikan pekerjaannya dan menghampiriku.

Orang-orang lain pun ikut membungkukkan kepala dengan ringan.

Melihat hal itu, rasa bersalah menumpuk di dalam hatiku.

Kupikir tidak perlu bersikap serendah itu padaku, tapi karena abdi dalem bilang ini demi menjaga ketertiban negara, aku menekan rasa bersalah itu dan menghadap ke pria yang memberi instruksi tadi.

"Maaf sudah membuatmu menghentikan pekerjaan. Aku hanya merasa sangat penasaran.... Sepertinya tidak ada masalah, ya."

Mendengar kata-kataku, pria itu tersenyum lebar.

"Ya. Kami tidak boleh membuat Nagisa-sama malu. Kami akan meramaikannya dengan sekuat tenaga mulai besok, jadi tolong tunjukkan tarian terbaik di hari terakhir nanti."

"Terima kasih. Aku berjanji akan mengerahkan segalanya untuk membalas kerja keras kalian dengan tarian terbaik."

Setelah itu, aku mendatangi berbagai tempat lainnya untuk menyapa.

Berbicara dengan semua orang membuatku yakin. Negara ini mulai mendapatkan kembali vitalitasnya.

Perang saudara──bukan, tepat setelah pemberontakan terjadi, negara ini menjadi kacau dan situasinya sangat mengerikan.

Namun, setelah beberapa tahun, akhirnya rakyat mulai beradaptasi dengan situasi sekarang.

Aku tidak merasa ini adalah bentuk negara yang benar, tapi aku juga tidak bisa bilang bahwa situasi yang didominasi emosi negatif itu baik.

Pada akhirnya, meskipun kami tidak punya pilihan selain tunduk pada Yang Mulia Philly atau orang-orang Orde, sebagai salah satu anggota keluarga yang mendirikan negara ini, aku tidak akan pernah membuang harga diri itu.

Meski memakan waktu, aku akan melepaskan diri dari kekuasaan Yang Mulia Philly.

"Nagisa-sama, jika persiapan sudah selesai, bukankah lebih baik melapor kepada Tuan Philly untuk berjaga-jaga?"

Saat aku sedang menyalakan api tekad di dalam hati, aku menerima saran dari Guru Kiryu yang berjaga sebagai pengawal di sampingku.

Sejak pemberontakan itu, Guru Kiryu selalu berada di sisiku dan melindungiku sejak aku menjadi putri negara ini.

Berkat beliau, orang-orang Orde tidak pernah berbuat kasar padaku. Aku bisa menghabiskan waktu dengan bebas berkat Guru Kiryu.

Beliau juga guru dari Kakak Fuuka, dan menjadi satu-satunya orang yang sangat kupercayai saat ini.

"I-iya, benar juga."

Akhir-akhir ini Yang Mulia Philly hanya sibuk membaca literatur kuno Kyokuto dan tidak menunjukkan pergerakan besar seperti janjinya sejak kembali.

Berkat itu aku bisa fokus pada persiapan Festival Tari Roh, tapi aku tidak boleh lengah.

Sebab, keamanan setelah festival berakhir tidaklah terjamin.

Sangat mungkin bagi Yang Mulia Philly untuk mulai bergerak tepat setelah festival selesai.

Dia bukan lawan yang boleh dipandang sebelah mata.

Mungkin menyadari isi hatiku, Guru Kiryu tersenyum lembut padaku.

"Tidak apa-apa. Ada hamba di sisi Anda. Siapa pun yang mencoba mencelakai Nagisa-sama akan hamba tebas."

"Fufu. Itu sangat meyakinkan, tapi terdengar berbahaya. Tolong simpan penggunaan kekuatan fisik sebagai jalan terakhir saja."

"……Dimengerti."

Setelah percakapan yang menghangatkan hati dengan Guru Kiryu, aku menuju kediaman keluarga Shinonome tempat Yang Mulia Philly berada.

◆◇◆

Saat aku tiba di kediaman keluarga Shinonome, bulan sudah menampakkan wajahnya di langit yang gelap.

Aku langsung menuju ke kamar tempat Yang Mulia Philly berada.

Meskipun ini rumah Kakak Fuuka, selama Yang Mulia Philly tinggal di sini, aku tidak boleh lengah.

Keberadaan Guru Kiryu sebagai pengawal di belakangku terasa sangat meyakinkan saat ini.

"Yang Mulia Philly, apa saya boleh bicara sebentar?"

Aku masuk ke dalam ruangan dan menyapanya.

"Oh Nagisa, ada apa?"

Yang Mulia Philly yang sedang membaca gulungan kertas mengangkat wajahnya dengan senyum tenang.

Namun, aku tidak bisa menerima ketenangan itu dengan tulus.

Ini adalah rumah Kakak Fuuka. Tempat keluarga Shinonome.

Melihatnya melangkah masuk ke ruang ini tanpa sungkan dan membaca buku-buku warisan keluarga Shinonome seolah itu adalah haknya, membuat lubuk hatiku sedikit bergejolak.

……Rasanya seperti tempat tinggal kami telah dirampas.

Aku merasa payah karena merasa seperti ini.

Tapi tetap saja, perasaan itu tidak bisa dihapus.

(Menyebalkan.... Seandainya aku punya kekuatan lebih, aku pasti bisa mengusir orang ini dari negara ini demi melindungi tempat berharga milik Kakak Fuuka....)

Rasa sesal muncul terhadap ketidakberdayaanku sendiri.

(Tapi, meluapkan emosi di sini sekarang tidak akan menguntungkan rakyat sama sekali.)

Sambil menelan perasaan yang berkecamuk di dada, aku membuka mulut.

"Persiapan Festival Tari Roh telah selesai tanpa hambatan, jadi saya datang untuk melaporkannya."

"Begitu, sudah selesai ya. Apakah itu termasuk kuil di gunung suci tempat tarian dipersembahkan?"

"……? Iya. Sudah disucikan agar persembahan tarian bisa dilakukan kapan saja."

"Begitu. Kerja bagus."

Setelah mengatakan itu, senyum Yang Mulia Philly semakin dalam.

Namun senyum itu seolah mengandung makna tersirat.

"Akhirnya ya."

Dia bergumam seperti itu, lalu perlahan menutup gulungan kertas di tangannya.

"Ini sudah sangat lama. Aku merasa tidak sabar karena tahu ini adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh keturunan Asagiri, tapi itu pun akhirnya selesai juga."

Suaranya tidak mengandung kekesalan maupun ketergesaan.

Hanya saja, ada tekad dingin yang merembes, seolah sesuatu yang selama ini tertahan kini mulai dilepaskan dengan tenang.

"──Dengan ini, panggungnya akhirnya sudah siap."

Sesuatu yang dingin merambat di punggungku.

Tiba-tiba, aku merasakan hawa keberadaan di belakangku.

Guru Kiryu yang berjaga di balik bayang-bayang lorong mengalihkan pandangannya ke sini hanya untuk sesaat.

Aku merasa mata kami bertemu, tapi dia tidak mengatakan apa-apa, hanya berdiri diam di sana.

Sikap diamnya itu justru memberiku rasa aman.

"Kalau begitu, kau 'diamlah di sana'."

"…………Eh?"

Yang Mulia Philly berdiri sambil memberiku perintah.

Begitu saja, dia melewatiku dan hendak keluar dari ruangan.

Aku hanya bisa menatapnya saja.

(Lho? Kenapa aku hanya diam saja melihat Yang Mulia Philly pergi?)

Saat aku merasa ada yang aneh dengan tindakanku, pintu geser telah tertutup, meninggalkan aku sendirian di dalam ruangan.

"!? Ma-Mau pergi ke mana, Yang Mulia Philly!? ──Tidak bisa dibuka……?"

Aku segera mencoba mengejarnya dan memegang pintu geser, tapi pintu itu tidak terbuka tidak peduli seberapa besar tenaga yang kukeluarkan.

"Oh, sudah lepas ya pengaruhnya. Ternyata Cognitive Alteration memang kurang mempan padamu."

Sambil mendengar suara Yang Mulia Philly dari balik pintu, aku melepaskan sihir serangan untuk meledakkan pintu geser tersebut.

"Kakak, maafkan aku karena harus merusak rumah ini──Kyaa!?"

Namun, serangan itu terhalang oleh sesuatu seperti pelindung mana, sehingga tidak sampai ke pintu geser.

Bahkan sebaliknya, seolah bereaksi terhadap seranganku, peluru mana justru ditembakkan ke arahku.

"Ah, aku lupa bilang, lebih baik jangan macam-macam. Kau sendiri yang akan celaka nantinya."

"A-Apa yang Anda rencanakan dengan mengurungku……!?"

"Tentu saja sesuatu yang pasti ingin kau cegah."

Menanggapi pertanyaanku, Yang Mulia Philly──bukan, Philly, menjawab dengan nada mengejek.

Meski terhalang pintu, aku tahu dia sedang memasang senyum kelam.

"Jangan-jangan, melibatkan rakyat……?"

"Bukan aku yang akan turun tangan langsung. Tapi, kemungkinan besar masa depan di mana tidak ada satu pun manusia yang tersisa di negara ini akan menjadi sangat tinggi."

"…! Aku tidak akan membiarkan itu! Keluarkan aku sekarang juga! Jika tidak, aku tidak akan bekerja sama lagi denganmu! Apa kau yakin!? Kau butuh kekuatanku untuk menahan iblis di dunia ini, kan!?"

Setelah tahu sulit melarikan diri dengan kekuatan sendiri, aku mati-matian menjelaskan nilaiku kepada Philly.

Kekuatan tempur maksimal Orde yaitu iblis Cremation, Thunder Emperor, dan Rakshasa terpaku pada tubuh manusia berkat kekuatan unikku.

Salah satu dari mereka, Rakshasa, telah dikalahkan oleh Demon King.

Baik untuk mendatangkan lebih banyak iblis ke dunia ini maupun untuk menahan mereka tetap di sini, kekuatan unikku sangat diperlukan.

Aku tidak ingin bekerja sama lagi, tapi ini bukan saatnya memikirkan hal itu.

Saat ini prioritas utama adalah keluar dari sini.

Jika Philly butuh kekuatan unikku, ada kemungkinan dia akan menerimanya──.

"──Ah, soal itu. Sudah tidak perlu lagi."

"……Ken-napa? Bukankah Anda butuh kekuatan tempur lebih banyak untuk melawan Demon King, Orn Doula?"

"Justru karena repot kalau hal itu dijadikan bahan negosiasi seperti ini. Kekuatan unikmu sudah direproduksi oleh 'The Doctor' sebelum dia meninggal."

"'The Doctor'……? Reproduksi……?"

"Pria itu sepertinya sempat mereproduksi beberapa kekuatan unik yang bahkan tidak kuminta, seperti Self-Healing, tapi target utamanya adalah analisis dan reproduksi Soul Interference milikmu. Singkatnya, kau sudah tidak berguna lagi."

(Ti-tidak mungkin.... Philly sudah tidak melihat nilai gunaku lagi……? Kalau begitu, kenapa aku……)

Rasa sesal dan ketidakberdayaan membuatku hampir ambruk.

Tapi──masih ada cara!

"Kalau begitu…… Guru Kiryu! Tolong segera tahan dia!"

(Aku datang ke sini bersama Guru Kiryu. Di dekat Philly ada beliau, pendekar pedang terkuat di negara ini! Beliau pasti bisa melawan Philly!)

"Hee, kenapa begitu ya?"

Seolah menghancurkan harapanku, Guru Kiryu justru melontarkan pertanyaan balik.

"Kenapa... itu... karena orang itu... mencoba melakukan... sesuatu yang buruk."

Dihadapkan pada fakta yang tidak ingin kuakui, tubuhku gemetar namun aku tetap merangkai kata demi secercah harapan.

"Anda bicara hal aneh ya, Nagisa-sama. Memang benar saat ini secara publik Anda adalah pemimpin tertinggi negara ini. Tapi, Anda bukan lagi seorang Putri. Pemimpin yang sebenarnya bukankah Tuan Philly? Menyuruhku 'mengarahkan pedang pada sang Putri', itu sama saja menyuruhku melakukan seppuku, tahu?"

"Ti-tidak mungkin……"

"Fufufu, sayang sekali ya, Nagisa. Kiryu juga ada di pihak sini. Tidak ada satu orang pun yang akan menolongmu sekarang. Turut berduka cita."

"…………Ken……napa…………"

Sesuatu yang menopangku telah hilang, dan akhirnya aku pun ambruk.

Dua pasang langkah kaki menjauh dari ruangan.

Pandanganku kabur, dan satu per satu tetesan jatuh dari sudut mataku.

"Kenapa…… kenapa aku kali ini pun tidak bisa melakukan apa-apa……!"

Aku memukul lantai dengan lemah.

Rasa sesal mencekik tenggorokan, membuat isak tangis yang tak terkata meluap.

"Seandainya aku lebih…… lebih kuat lagi……!"

Tinju yang kugenggam gemetar.

Air mata tidak berhenti mengalir.

Lubuk hatiku terasa sakit seperti dikorek-korek.

"Maaf…… maafkan aku……!"

Saat ini bagiku, hanya menangis terus menerus yang bisa kulakukan──.

◇◇◇

  Sehari setelah mengurung Nagisa di salah satu ruangan kediaman Shinonome, aku mendaki gunung suci.

"Jadi, Tuan Philly. Apa yang akan Anda lakukan terhadap Nagisa-sama?"

Kiryu yang mengikutiku menanyakan hal itu.

"Aku tidak terlalu memikirkannya. Yah, karena sudah tidak berguna lagi, mungkin akan kubuang saja setelah ini selesai."

"…………Begitu ya."

Sambil berbincang ringan dengan Kiryu, Kuil Tenrei yang merupakan tempat tujuan mulai terlihat.

Begitu saja aku melewati gerbang torii dan melangkah masuk ke area kuil.

Di samping bangunan utama kuil yang berdiri megah di depan, sebuah panggung kayu tinggi untuk persembahan tarian telah dibangun.

Dari panggung itu, aku merasakan mana yang sangat besar hingga membuat udara bergetar. Kenyataan itu membuatku tanpa sadar tersenyum.

Berdiri di atas panggung, aku merasa seolah-olah bisa melihat mana yang sangat besar terkumpul di sana.

Bahkan aku yang kekurangan kemampuan untuk merasakan mana pun bisa merasakan besarnya energi itu. Begitu banyaknya mana di tempat ini.

"Fufufu. Syarat-syaratnya sudah terpenuhi ya."

Aku bergumam, lalu memunculkan sesuatu seperti telur hitam legam yang menelan Belia di dekat ibu kota Kerajaan Nohitant beberapa bulan lalu, dan meletakkannya di tengah panggung.

"Tuan Philly, apa yang Anda coba lakukan?"

Setelah menyelesaikan pemasangan dan turun dari panggung, Kiryu bertanya.

"Memanggil Dewa."

Dunia ini ada di dalam sebuah penghalang raksasa yang menghalangi mana dari dunia luar yang merupakan racun bagi manusia.

Dan untuk mempertahankan penghalang tersebut, dibutuhkan energi yang sangat besar.

Namun, di dunia yang memutus mana dari dunia luar ini, bahkan sang Hero of Fairy Tales sekalipun tidak mampu mengamankan energi sebanyak itu.

Karena itulah, dia melirik sosok yang telah menyudutkan umat manusia hingga hampir punah, yang dikenal sebagai Dewa Jahat.

Dewa Jahat Oberon-sama juga merupakan makhluk hidup mana. Dengan mengunci pergerakan Oberon-sama, mana tersebut digunakan sebagai sumber energi untuk mempertahankan penghalang dunia ini.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Oberon-sama-lah yang memikul kelangsungan dunia ini.

Padahal begitu, sebagian besar manusia menghabiskan waktu mereka tanpa mengetahui fakta ini.

"Bukankah itu konyol?"

Aku terus bercerita dengan tenang.

"Dunia ini dipertahankan berkat keberadaan musuh bebuyutan yang menyudutkan manusia hingga hampir punah. Padahal manusia sekarang adalah makhluk yang hanya akan menghadapi kemusnahan jika Oberon-sama tidak ada."

Meski begitu, jumlah mana yang sangat besar di dalam diri Oberon-sama yang kuat bahkan melampaui jumlah yang dibutuhkan untuk mempertahankan Logika Dunia.

Mana yang berlebih itu mengalir melalui urat bumi dan menciptakan Dungeon di berbagai penjuru dunia.

Monster yang lahir di Dungeon itu, dengan kata lain, adalah pion-pion yang lahir dari mana Oberon-sama.

Dan ketika monster itu mati, sebagian mana akan mengkristal menjadi Mana Stone dan tertinggal di sana, sisanya akan menjadi "kabut hitam" yang melayang di udara.

Kabut hitam inilah mana Oberon-sama yang telah diencerkan.

Dan akhirnya, kabut-kabut hitam itu berkumpul di sini──di gunung suci.

"Kiryu, apakah kau tahu? Apa sebenarnya identitas ritual Festival Tari Roh yang dilakukan setahun sekali itu?"

"Hamba adalah orang dari keluarga Tendo. Hamba hanya tahu bahwa Festival Tari Roh adalah ritual tradisional."

"Begitu. Kalau begitu akan kuberitahu. Esensi dari ritual itu adalah melepaskan mana Oberon-sama yang tertahan di gunung suci ini ke dunia luar."

Dalam ritual Festival Tari Roh, persembahan tarian akan menciptakan jalan untuk mengirim mana Oberon-sama ke dunia luar, dan kekuatan iblis yang bersemayam dalam Pedang Iblis akan mengirimkan mana tersebut melalui jalan itu.

"Namun, selama beberapa tahun ini, karena tidak adanya keluarga Shinonome, ritual yang sempurna tidak pernah dilakukan."

Hanya dengan persembahan tarian saja mungkin sedikit mana bisa dikirim ke dunia luar, tapi bisa mengirim tiga puluh persen dari total jumlah yang tertahan di gunung suci saja sudah untung.

"Akibatnya, saat ini mana Oberon-sama di gunung suci ini sudah terkumpul hingga hampir meluap. Dengan jumlah sebanyak itu, membangkitkan kepribadian Oberon-sama pun sangat mungkin dilakukan."

Setelah selesai bicara, aku mengambil alat sihir khusus yang kubuatkan kepada 'The Doctor'.

Alat sihir itu memanipulasi mana yang sangat besar yang terkandung dalam gunung suci.

Sesaat setelah aku merasakan tanah bergetar, mana menyembur keluar dari dalam tanah seolah gunung berapi sedang meletus, lalu menelan panggung kayu itu.

Mana yang sangat besar itu diterima oleh telur hitam legam yang diletakkan di tengah panggung.

Namun, tidak semua mana dialirkan ke telur tersebut. Mana yang bocor dari telur mulai menyebar dan perlahan mewarnai langit di atas ibu kota yang terletak di kaki gunung suci dengan warna hitam legam.

"Fufufu, pemandangan yang indah ya. Ternyata menanti matahari benar-benar terbit adalah pilihan yang tepat."

Aku tersenyum puas sambil menatap langit biru yang mulai terwarnai hitam legam.

Tak lama kemudian, dari langit yang telah menghitam, mulai jatuh tetesan hitam seperti hujan.

"Sebentar lagi. Sebentar lagi. Betapa aku telah menantikan saat ini."

Hujan hitam yang mengguyur permukaan tanah di sekitar gunung suci mulai mewarnai daratan menjadi hitam, sama seperti langit.

Lalu, tanah yang basah itu mulai menggeliat, dan mulai membubung seperti gelombang.

Hal itu perlahan mulai memiliki bentuk, membentuk sosok mengerikan yang mengingatkan pada monster.

Dan akhirnya, mereka mulai memiliki sesuatu seperti kehendak.

Udara menjadi berat dan pengap, dipenuhi oleh hawa keberadaan itu.

Mereka yang mulai bergerak mulai menginjak-injak daratan secara serentak.

Seolah menyeret orang-orang menuju dunia akhir.

Raungan "Monster Hitam Legam" itu dipenuhi oleh kemarahan dan kebencian. Itu adalah kemarahan itu sendiri yang dilepaskan dari lubuk hati Oberon-sama.

"………… ……Pemandangan neraka, mungkin inilah sebutan yang tepat untuk ini."

Saat aku merasa puas dengan pemandangan monster hitam yang mulai mengamuk, suara dingin Kiryu terdengar dari sampingku.

Aku mengangguk pada kata-kata itu sambil mengalihkan pandangan ke puncak gunung suci.

Di kejauhan, suara seperti guntur bergema, dan di kota, monster hitam lahir satu demi satu.

Berbanding lurus dengan itu, kebingungan dan jeritan orang-orang semakin membesar.

Ayo, ini dimulai.

Mulai dari Kyokuto ini, dunia akan ditelan oleh kematian.

Tunjukkanlah kekacauan yang lebih besar lagi kepadaku──.

◆◇◆

"Fufufu. Mendengar jeritan orang-orang memang selalu menyenangkan."

Jeritan orang-orang yang mulai diserang oleh monster hitam yang muncul mendadak telah membesar hingga mencapai lereng gunung suci.

"Tuan Philly sepertinya punya selera yang bagus ya."

Kiryu yang berdiri di samping melontarkan kata-kata yang bisa dianggap sebagai ejekan.

Saat aku menoleh padanya, wajahnya sangat datar tanpa ekspresi.

Dari wajah itu sama sekali tidak bisa terbaca apa yang sedang dia pikirkan.

Saat aku merasa aneh dengan perilaku Kiryu, dia kembali membuka mulut.

"Namun, segala sesuatu tidak akan berjalan sesuai rencana ya."

"……Apa maksudmu?"

Sambil menanyakan maksud sebenarnya dari kata-katanya, aku meningkatkan kewaspadaanku terhadapnya.

Aku telah memberikan Cognitive Alteration pada Kiryu.

Seharusnya aku melarangnya dengan keras untuk mengarahkan pedang padaku, tapi entah kenapa dia memancarkan aura yang seolah bisa menebasku kapan saja sekarang.

"Tidak ada maksud lain. Hanya saja, hamba merasakan hawa keberadaan yang sedikit familier."

"Hawa keberadaan……?"

Aku sendiri tidak bisa merasakan hawa keberadaan yang dikatakan Kiryu.

Apakah ini semacam indra khusus seorang petarung?

"Iya. Hawa keberadaan murid kesayangan hamba, putri satu-satunya keluarga Shinonome. Selain itu, ada beberapa hawa keberadaan kuat lainnya yang tiba-tiba muncul di dalam negeri."

"Jangan-jangan, Shinonome Fuuka!? Dan beberapa hawa keberadaan kuat lainnya……!"

Seharusnya Fuuka masih bergerak bersama Orn dan yang lainnya sekarang.

Itu berarti, bukan hanya Fuuka, tapi Orn pun telah datang ke Kyokuto.

"Malah datang tepat di saat seperti ini, benar-benar di luar perkiraan."

"Apa yang akan Anda lakukan?"

Menanggapi pertanyaan Kiryu, aku sedikit menggigit bibir.

Dalam situasi seperti ini, tidak salah lagi Orn dan yang lainnya pasti akan mendaki gunung suci.

Meski begitu, apa yang kulakukan tidak akan berubah. Aku akan menyelesaikan Pemanggilan Dewa di sini.

"Kiryu, turunlah gunung dan cegat mereka."

"Dimengerti. Kalau begitu, hamba pergi dulu."

Mengikuti perintahku, Kiryu mulai menuruni gunung.

Sambil melepas keberangkatannya, aku menghela napas kecil dalam hati.

(Kalau bakal jadi begini, seharusnya aku membawa Luari juga. ……Tidak, percuma saja memikirkan hal itu sekarang.)

Setelah beralih pikiran karena merasa percuma memikirkan hal yang sudah terjadi, aku mengalihkan perhatian ke arah kota.

Meskipun jeritan masih terdengar, perlahan-lahan suara pertempuran juga mulai terdengar dari sana-sini.

"Nah, kalau begitu aku juga harus bersiap-siap."

Meskipun kemampuan Kiryu itu nyata, tapi aku merasa aneh dengan sikapnya tadi.

Lagipula, seperti katanya, segala sesuatu jarang berjalan sesuai rencana.

Aku harus menyiapkan langkah antisipasi seandainya Orn dan yang lainnya berhasil mendaki gunung ini.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close