Fragmen 1
Pemanggilan Dewa
Periode
Festival Tari Roh berlangsung selama tiga hari.
Aliran
umum festival ini adalah menghabiskan tiga hari dengan bersenang-senang, lalu
di malam terakhir Nagisa akan mempersembahkan tarian di kuil yang ada di gunung
suci sebagai penutup.
……Seharusnya,
setelah itu ada ritual memotong kejahatan dengan Pedang Iblis, tapi karena
sekarang tidak ada Pedang Iblis maupun orang yang bisa menggunakannya, hal itu
tidak bisa dilakukan.
Menjelang
Festival Tari Roh besok, aku mendatangi jalanan di mana kedai-kedai mulai
berjajar.
"Ini
Nagisa-sama! Terima kasih banyak sudah menyempatkan diri datang ke tempat
seperti ini."
Seorang pria yang
sedang memberi instruksi kepada orang-orang menyadari keberadaanku, lalu
menghentikan pekerjaannya dan menghampiriku.
Orang-orang lain
pun ikut membungkukkan kepala dengan ringan.
Melihat hal itu,
rasa bersalah menumpuk di dalam hatiku.
Kupikir tidak
perlu bersikap serendah itu padaku, tapi karena abdi dalem bilang ini demi
menjaga ketertiban negara, aku menekan rasa bersalah itu dan menghadap ke pria
yang memberi instruksi tadi.
"Maaf sudah
membuatmu menghentikan pekerjaan. Aku hanya merasa sangat penasaran....
Sepertinya tidak ada masalah, ya."
Mendengar
kata-kataku, pria itu tersenyum lebar.
"Ya. Kami
tidak boleh membuat Nagisa-sama malu. Kami akan meramaikannya dengan sekuat
tenaga mulai besok, jadi tolong tunjukkan tarian terbaik di hari terakhir
nanti."
"Terima
kasih. Aku berjanji akan mengerahkan segalanya untuk membalas kerja keras
kalian dengan tarian terbaik."
Setelah itu, aku
mendatangi berbagai tempat lainnya untuk menyapa.
Berbicara dengan
semua orang membuatku yakin. Negara ini mulai mendapatkan kembali vitalitasnya.
Perang
saudara──bukan, tepat setelah pemberontakan terjadi, negara ini menjadi kacau
dan situasinya sangat mengerikan.
Namun, setelah
beberapa tahun, akhirnya rakyat mulai beradaptasi dengan situasi sekarang.
Aku tidak merasa
ini adalah bentuk negara yang benar, tapi aku juga tidak bisa bilang bahwa
situasi yang didominasi emosi negatif itu baik.
Pada akhirnya,
meskipun kami tidak punya pilihan selain tunduk pada Yang Mulia Philly atau
orang-orang Orde, sebagai salah satu anggota keluarga yang mendirikan negara
ini, aku tidak akan pernah membuang harga diri itu.
Meski memakan
waktu, aku akan melepaskan diri dari kekuasaan Yang Mulia Philly.
"Nagisa-sama,
jika persiapan sudah selesai, bukankah lebih baik melapor kepada Tuan Philly
untuk berjaga-jaga?"
Saat aku sedang
menyalakan api tekad di dalam hati, aku menerima saran dari Guru Kiryu yang
berjaga sebagai pengawal di sampingku.
Sejak
pemberontakan itu, Guru Kiryu selalu berada di sisiku dan melindungiku sejak
aku menjadi putri negara ini.
Berkat
beliau, orang-orang Orde tidak pernah berbuat kasar padaku. Aku bisa
menghabiskan waktu dengan bebas berkat Guru Kiryu.
Beliau
juga guru dari Kakak Fuuka, dan menjadi satu-satunya orang yang sangat
kupercayai saat ini.
"I-iya,
benar juga."
Akhir-akhir
ini Yang Mulia Philly hanya sibuk membaca literatur kuno Kyokuto dan tidak
menunjukkan pergerakan besar seperti janjinya sejak kembali.
Berkat
itu aku bisa fokus pada persiapan Festival Tari Roh, tapi aku tidak boleh
lengah.
Sebab,
keamanan setelah festival berakhir tidaklah terjamin.
Sangat
mungkin bagi Yang Mulia Philly untuk mulai bergerak tepat setelah festival
selesai.
Dia bukan
lawan yang boleh dipandang sebelah mata.
Mungkin
menyadari isi hatiku, Guru Kiryu tersenyum lembut padaku.
"Tidak
apa-apa. Ada hamba di sisi Anda. Siapa pun yang mencoba mencelakai Nagisa-sama
akan hamba tebas."
"Fufu. Itu
sangat meyakinkan, tapi terdengar berbahaya. Tolong simpan penggunaan kekuatan
fisik sebagai jalan terakhir saja."
"……Dimengerti."
Setelah
percakapan yang menghangatkan hati dengan Guru Kiryu, aku menuju kediaman
keluarga Shinonome tempat Yang Mulia Philly berada.
◆◇◆
Saat aku tiba di
kediaman keluarga Shinonome, bulan sudah menampakkan wajahnya di langit yang
gelap.
Aku
langsung menuju ke kamar tempat Yang Mulia Philly berada.
Meskipun
ini rumah Kakak Fuuka, selama Yang Mulia Philly tinggal di sini, aku tidak
boleh lengah.
Keberadaan
Guru Kiryu sebagai pengawal di belakangku terasa sangat meyakinkan saat ini.
"Yang Mulia Philly, apa saya boleh bicara
sebentar?"
Aku masuk
ke dalam ruangan dan menyapanya.
"Oh
Nagisa, ada apa?"
Yang
Mulia Philly yang sedang membaca gulungan kertas mengangkat wajahnya dengan
senyum tenang.
Namun, aku tidak
bisa menerima ketenangan itu dengan tulus.
Ini adalah rumah
Kakak Fuuka. Tempat keluarga Shinonome.
Melihatnya
melangkah masuk ke ruang ini tanpa sungkan dan membaca buku-buku warisan
keluarga Shinonome seolah itu adalah haknya, membuat lubuk hatiku sedikit
bergejolak.
……Rasanya seperti
tempat tinggal kami telah dirampas.
Aku merasa payah
karena merasa seperti ini.
Tapi tetap saja,
perasaan itu tidak bisa dihapus.
(Menyebalkan....
Seandainya aku punya kekuatan lebih, aku pasti bisa mengusir orang ini dari
negara ini demi melindungi tempat berharga milik Kakak Fuuka....)
Rasa sesal muncul
terhadap ketidakberdayaanku sendiri.
(Tapi, meluapkan
emosi di sini sekarang tidak akan menguntungkan rakyat sama sekali.)
Sambil menelan
perasaan yang berkecamuk di dada, aku membuka mulut.
"Persiapan
Festival Tari Roh telah selesai tanpa hambatan, jadi saya datang untuk
melaporkannya."
"Begitu,
sudah selesai ya. Apakah itu termasuk kuil di gunung suci tempat tarian
dipersembahkan?"
"……? Iya.
Sudah disucikan agar persembahan tarian bisa dilakukan kapan saja."
"Begitu.
Kerja bagus."
Setelah
mengatakan itu, senyum Yang Mulia Philly semakin dalam.
Namun senyum itu
seolah mengandung makna tersirat.
"Akhirnya
ya."
Dia bergumam
seperti itu, lalu perlahan menutup gulungan kertas di tangannya.
"Ini sudah
sangat lama. Aku merasa tidak sabar karena tahu ini adalah sesuatu yang hanya
bisa dilakukan oleh keturunan Asagiri, tapi itu pun akhirnya selesai
juga."
Suaranya tidak
mengandung kekesalan maupun ketergesaan.
Hanya saja, ada
tekad dingin yang merembes, seolah sesuatu yang selama ini tertahan kini mulai
dilepaskan dengan tenang.
"──Dengan
ini, panggungnya akhirnya sudah siap."
Sesuatu yang
dingin merambat di punggungku.
Tiba-tiba, aku
merasakan hawa keberadaan di belakangku.
Guru Kiryu yang
berjaga di balik bayang-bayang lorong mengalihkan pandangannya ke sini hanya
untuk sesaat.
Aku merasa mata
kami bertemu, tapi dia tidak mengatakan apa-apa, hanya berdiri diam di sana.
Sikap diamnya itu
justru memberiku rasa aman.
"Kalau
begitu, kau 'diamlah di sana'."
"…………Eh?"
Yang Mulia Philly
berdiri sambil memberiku perintah.
Begitu saja, dia
melewatiku dan hendak keluar dari ruangan.
Aku hanya bisa
menatapnya saja.
(Lho? Kenapa aku
hanya diam saja melihat Yang Mulia Philly pergi?)
Saat aku merasa
ada yang aneh dengan tindakanku, pintu geser telah tertutup, meninggalkan aku
sendirian di dalam ruangan.
"!? Ma-Mau
pergi ke mana, Yang Mulia Philly!? ──Tidak bisa dibuka……?"
Aku segera
mencoba mengejarnya dan memegang pintu geser, tapi pintu itu tidak terbuka
tidak peduli seberapa besar tenaga yang kukeluarkan.
"Oh, sudah
lepas ya pengaruhnya. Ternyata Cognitive Alteration memang kurang mempan
padamu."
Sambil mendengar
suara Yang Mulia Philly dari balik pintu, aku melepaskan sihir serangan untuk
meledakkan pintu geser tersebut.
"Kakak,
maafkan aku karena harus merusak rumah ini──Kyaa!?"
Namun, serangan
itu terhalang oleh sesuatu seperti pelindung mana, sehingga tidak sampai ke
pintu geser.
Bahkan
sebaliknya, seolah bereaksi terhadap seranganku, peluru mana justru ditembakkan
ke arahku.
"Ah, aku
lupa bilang, lebih baik jangan macam-macam. Kau sendiri yang akan celaka
nantinya."
"A-Apa yang
Anda rencanakan dengan mengurungku……!?"
"Tentu saja
sesuatu yang pasti ingin kau cegah."
Menanggapi
pertanyaanku, Yang Mulia Philly──bukan, Philly, menjawab dengan nada mengejek.
Meski terhalang
pintu, aku tahu dia sedang memasang senyum kelam.
"Jangan-jangan,
melibatkan rakyat……?"
"Bukan aku
yang akan turun tangan langsung. Tapi, kemungkinan besar masa depan di mana
tidak ada satu pun manusia yang tersisa di negara ini akan menjadi sangat
tinggi."
"…! Aku
tidak akan membiarkan itu! Keluarkan aku sekarang juga! Jika tidak, aku tidak akan bekerja
sama lagi denganmu! Apa kau
yakin!? Kau butuh kekuatanku untuk menahan iblis di dunia ini, kan!?"
Setelah tahu
sulit melarikan diri dengan kekuatan sendiri, aku mati-matian menjelaskan
nilaiku kepada Philly.
Kekuatan tempur
maksimal Orde yaitu iblis Cremation, Thunder Emperor, dan Rakshasa
terpaku pada tubuh manusia berkat kekuatan unikku.
Salah satu dari
mereka, Rakshasa, telah dikalahkan oleh Demon King.
Baik untuk
mendatangkan lebih banyak iblis ke dunia ini maupun untuk menahan mereka tetap
di sini, kekuatan unikku sangat diperlukan.
Aku tidak ingin
bekerja sama lagi, tapi ini bukan saatnya memikirkan hal itu.
Saat ini
prioritas utama adalah keluar dari sini.
Jika Philly butuh
kekuatan unikku, ada kemungkinan dia akan menerimanya──.
"──Ah, soal
itu. Sudah tidak perlu lagi."
"……Ken-napa?
Bukankah Anda butuh kekuatan tempur lebih banyak untuk melawan Demon King,
Orn Doula?"
"Justru
karena repot kalau hal itu dijadikan bahan negosiasi seperti ini. Kekuatan
unikmu sudah direproduksi oleh 'The Doctor' sebelum dia meninggal."
"'The Doctor'……? Reproduksi……?"
"Pria itu sepertinya sempat mereproduksi beberapa
kekuatan unik yang bahkan tidak kuminta, seperti Self-Healing, tapi
target utamanya adalah analisis dan reproduksi Soul Interference
milikmu. Singkatnya, kau sudah tidak berguna lagi."
(Ti-tidak mungkin.... Philly sudah tidak melihat nilai
gunaku lagi……? Kalau begitu, kenapa aku……)
Rasa sesal dan ketidakberdayaan membuatku hampir ambruk.
Tapi──masih ada
cara!
"Kalau
begitu…… Guru Kiryu! Tolong segera tahan dia!"
(Aku datang ke
sini bersama Guru Kiryu. Di dekat Philly ada beliau, pendekar pedang terkuat di
negara ini! Beliau pasti bisa melawan Philly!)
"Hee, kenapa
begitu ya?"
Seolah
menghancurkan harapanku, Guru Kiryu justru melontarkan pertanyaan balik.
"Kenapa...
itu... karena orang itu... mencoba melakukan... sesuatu yang buruk."
Dihadapkan pada
fakta yang tidak ingin kuakui, tubuhku gemetar namun aku tetap merangkai kata
demi secercah harapan.
"Anda bicara
hal aneh ya, Nagisa-sama. Memang benar saat ini secara publik Anda adalah
pemimpin tertinggi negara ini. Tapi, Anda bukan lagi seorang Putri. Pemimpin
yang sebenarnya bukankah Tuan Philly? Menyuruhku 'mengarahkan pedang pada sang
Putri', itu sama saja menyuruhku melakukan seppuku, tahu?"
"Ti-tidak
mungkin……"
"Fufufu,
sayang sekali ya, Nagisa. Kiryu juga ada di pihak sini. Tidak ada satu orang
pun yang akan menolongmu sekarang. Turut berduka cita."
"…………Ken……napa…………"
Sesuatu yang
menopangku telah hilang, dan akhirnya aku pun ambruk.
Dua pasang
langkah kaki menjauh dari ruangan.
Pandanganku
kabur, dan satu per satu tetesan jatuh dari sudut mataku.
"Kenapa…… kenapa aku kali ini pun tidak bisa melakukan
apa-apa……!"
Aku memukul lantai dengan lemah.
Rasa sesal mencekik tenggorokan, membuat isak tangis yang
tak terkata meluap.
"Seandainya aku lebih…… lebih kuat lagi……!"
Tinju
yang kugenggam gemetar.
Air mata
tidak berhenti mengalir.
Lubuk hatiku terasa sakit seperti dikorek-korek.
"Maaf…… maafkan aku……!"
Saat ini bagiku,
hanya menangis terus menerus yang bisa kulakukan──.
◇◇◇
Sehari
setelah mengurung Nagisa di salah satu ruangan kediaman Shinonome, aku mendaki
gunung suci.
"Jadi, Tuan
Philly. Apa yang akan Anda lakukan terhadap Nagisa-sama?"
Kiryu yang
mengikutiku menanyakan hal itu.
"Aku tidak
terlalu memikirkannya. Yah, karena sudah tidak berguna lagi, mungkin akan
kubuang saja setelah ini selesai."
"…………Begitu
ya."
Sambil berbincang
ringan dengan Kiryu, Kuil Tenrei yang merupakan tempat tujuan mulai terlihat.
Begitu saja aku
melewati gerbang torii dan melangkah masuk ke area kuil.
Di samping
bangunan utama kuil yang berdiri megah di depan, sebuah panggung kayu tinggi
untuk persembahan tarian telah dibangun.
Dari panggung
itu, aku merasakan mana yang sangat besar hingga membuat udara bergetar.
Kenyataan itu membuatku tanpa sadar tersenyum.
Berdiri di atas
panggung, aku merasa seolah-olah bisa melihat mana yang sangat besar terkumpul
di sana.
Bahkan aku yang
kekurangan kemampuan untuk merasakan mana pun bisa merasakan besarnya energi
itu. Begitu banyaknya mana di tempat ini.
"Fufufu.
Syarat-syaratnya sudah terpenuhi ya."
Aku bergumam,
lalu memunculkan sesuatu seperti telur hitam legam yang menelan Belia di dekat
ibu kota Kerajaan Nohitant beberapa bulan lalu, dan meletakkannya di tengah
panggung.
"Tuan Philly, apa yang Anda coba lakukan?"
Setelah menyelesaikan pemasangan dan turun dari panggung,
Kiryu bertanya.
"Memanggil Dewa."
Dunia ini ada di dalam sebuah penghalang raksasa yang
menghalangi mana dari dunia luar yang merupakan racun bagi manusia.
Dan untuk
mempertahankan penghalang tersebut, dibutuhkan energi yang sangat besar.
Namun, di
dunia yang memutus mana dari dunia luar ini, bahkan sang Hero of Fairy Tales
sekalipun tidak mampu mengamankan energi sebanyak itu.
Karena
itulah, dia melirik sosok yang telah menyudutkan umat manusia hingga hampir
punah, yang dikenal sebagai Dewa Jahat.
Dewa Jahat
Oberon-sama juga merupakan makhluk hidup mana. Dengan mengunci pergerakan
Oberon-sama, mana tersebut digunakan sebagai sumber energi untuk mempertahankan
penghalang dunia ini.
Tidak berlebihan
jika dikatakan bahwa Oberon-sama-lah yang memikul kelangsungan dunia ini.
Padahal begitu,
sebagian besar manusia menghabiskan waktu mereka tanpa mengetahui fakta ini.
"Bukankah
itu konyol?"
Aku terus
bercerita dengan tenang.
"Dunia ini
dipertahankan berkat keberadaan musuh bebuyutan yang menyudutkan manusia hingga
hampir punah. Padahal manusia sekarang adalah makhluk yang hanya akan
menghadapi kemusnahan jika Oberon-sama tidak ada."
Meski begitu,
jumlah mana yang sangat besar di dalam diri Oberon-sama yang kuat bahkan
melampaui jumlah yang dibutuhkan untuk mempertahankan Logika Dunia.
Mana yang
berlebih itu mengalir melalui urat bumi dan menciptakan Dungeon di
berbagai penjuru dunia.
Monster yang
lahir di Dungeon itu, dengan kata lain, adalah pion-pion yang lahir dari
mana Oberon-sama.
Dan ketika
monster itu mati, sebagian mana akan mengkristal menjadi Mana Stone dan
tertinggal di sana, sisanya akan menjadi "kabut hitam" yang melayang
di udara.
Kabut hitam
inilah mana Oberon-sama yang telah diencerkan.
Dan akhirnya,
kabut-kabut hitam itu berkumpul di sini──di gunung suci.
"Kiryu,
apakah kau tahu? Apa sebenarnya identitas ritual Festival Tari Roh yang
dilakukan setahun sekali itu?"
"Hamba
adalah orang dari keluarga Tendo. Hamba hanya tahu bahwa Festival Tari Roh
adalah ritual tradisional."
"Begitu.
Kalau begitu akan kuberitahu. Esensi dari ritual itu adalah melepaskan mana
Oberon-sama yang tertahan di gunung suci ini ke dunia luar."
Dalam ritual
Festival Tari Roh, persembahan tarian akan menciptakan jalan untuk mengirim
mana Oberon-sama ke dunia luar, dan kekuatan iblis yang bersemayam dalam Pedang
Iblis akan mengirimkan mana tersebut melalui jalan itu.
"Namun,
selama beberapa tahun ini, karena tidak adanya keluarga Shinonome, ritual yang
sempurna tidak pernah dilakukan."
Hanya dengan
persembahan tarian saja mungkin sedikit mana bisa dikirim ke dunia luar, tapi
bisa mengirim tiga puluh persen dari total jumlah yang tertahan di gunung suci
saja sudah untung.
"Akibatnya,
saat ini mana Oberon-sama di gunung suci ini sudah terkumpul hingga hampir
meluap. Dengan jumlah sebanyak itu, membangkitkan kepribadian Oberon-sama pun
sangat mungkin dilakukan."
Setelah selesai
bicara, aku mengambil alat sihir khusus yang kubuatkan kepada 'The Doctor'.
Alat sihir itu
memanipulasi mana yang sangat besar yang terkandung dalam gunung suci.
Sesaat setelah
aku merasakan tanah bergetar, mana menyembur keluar dari dalam tanah seolah
gunung berapi sedang meletus, lalu menelan panggung kayu itu.
Mana yang sangat
besar itu diterima oleh telur hitam legam yang diletakkan di tengah panggung.
Namun,
tidak semua mana dialirkan ke telur tersebut. Mana yang bocor dari telur mulai
menyebar dan perlahan mewarnai langit di atas ibu kota yang terletak di kaki
gunung suci dengan warna hitam legam.
"Fufufu, pemandangan yang indah ya. Ternyata menanti
matahari benar-benar terbit adalah pilihan yang tepat."
Aku tersenyum puas sambil menatap langit biru yang mulai
terwarnai hitam legam.
Tak lama kemudian, dari langit yang telah menghitam, mulai
jatuh tetesan hitam seperti hujan.
"Sebentar
lagi. Sebentar lagi. Betapa aku telah menantikan saat ini."
Hujan
hitam yang mengguyur permukaan tanah di sekitar gunung suci mulai mewarnai
daratan menjadi hitam, sama seperti langit.
Lalu,
tanah yang basah itu mulai menggeliat, dan mulai membubung seperti gelombang.
Hal itu
perlahan mulai memiliki bentuk, membentuk sosok mengerikan yang mengingatkan
pada monster.
Dan
akhirnya, mereka mulai memiliki sesuatu seperti kehendak.
Udara
menjadi berat dan pengap, dipenuhi oleh hawa keberadaan itu.
Mereka
yang mulai bergerak mulai menginjak-injak daratan secara serentak.
Seolah
menyeret orang-orang menuju dunia akhir.
Raungan "Monster Hitam Legam" itu dipenuhi oleh
kemarahan dan kebencian. Itu adalah kemarahan itu sendiri yang dilepaskan dari
lubuk hati Oberon-sama.
"………… ……Pemandangan neraka, mungkin inilah sebutan yang
tepat untuk ini."
Saat aku merasa puas dengan pemandangan monster hitam yang
mulai mengamuk, suara dingin Kiryu terdengar dari sampingku.
Aku mengangguk pada kata-kata itu sambil mengalihkan
pandangan ke puncak gunung suci.
Di kejauhan, suara seperti guntur bergema, dan di kota,
monster hitam lahir satu demi satu.
Berbanding lurus dengan itu, kebingungan dan jeritan
orang-orang semakin membesar.
Ayo, ini dimulai.
Mulai dari
Kyokuto ini, dunia akan ditelan oleh kematian.
Tunjukkanlah
kekacauan yang lebih besar lagi kepadaku──.
◆◇◆
"Fufufu.
Mendengar jeritan orang-orang memang selalu menyenangkan."
Jeritan
orang-orang yang mulai diserang oleh monster hitam yang muncul mendadak telah
membesar hingga mencapai lereng gunung suci.
"Tuan Philly sepertinya punya selera yang bagus
ya."
Kiryu yang berdiri di samping melontarkan kata-kata yang
bisa dianggap sebagai ejekan.
Saat aku menoleh
padanya, wajahnya sangat datar tanpa ekspresi.
Dari wajah itu
sama sekali tidak bisa terbaca apa yang sedang dia pikirkan.
Saat aku merasa
aneh dengan perilaku Kiryu, dia kembali membuka mulut.
"Namun,
segala sesuatu tidak akan berjalan sesuai rencana ya."
"……Apa
maksudmu?"
Sambil menanyakan
maksud sebenarnya dari kata-katanya, aku meningkatkan kewaspadaanku
terhadapnya.
Aku telah
memberikan Cognitive Alteration pada Kiryu.
Seharusnya aku
melarangnya dengan keras untuk mengarahkan pedang padaku, tapi entah kenapa dia
memancarkan aura yang seolah bisa menebasku kapan saja sekarang.
"Tidak ada
maksud lain. Hanya saja, hamba merasakan hawa keberadaan yang sedikit
familier."
"Hawa
keberadaan……?"
Aku sendiri tidak
bisa merasakan hawa keberadaan yang dikatakan Kiryu.
Apakah ini
semacam indra khusus seorang petarung?
"Iya. Hawa
keberadaan murid kesayangan hamba, putri satu-satunya keluarga Shinonome.
Selain itu, ada beberapa hawa keberadaan kuat lainnya yang tiba-tiba muncul di
dalam negeri."
"Jangan-jangan,
Shinonome Fuuka!? Dan beberapa hawa keberadaan kuat lainnya……!"
Seharusnya Fuuka
masih bergerak bersama Orn dan yang lainnya sekarang.
Itu berarti,
bukan hanya Fuuka, tapi Orn pun telah datang ke Kyokuto.
"Malah
datang tepat di saat seperti ini, benar-benar di luar perkiraan."
"Apa yang
akan Anda lakukan?"
Menanggapi
pertanyaan Kiryu, aku sedikit menggigit bibir.
Dalam situasi
seperti ini, tidak salah lagi Orn dan yang lainnya pasti akan mendaki gunung
suci.
Meski
begitu, apa yang kulakukan tidak akan berubah. Aku akan menyelesaikan Pemanggilan Dewa di sini.
"Kiryu,
turunlah gunung dan cegat mereka."
"Dimengerti.
Kalau begitu, hamba pergi
dulu."
Mengikuti
perintahku, Kiryu mulai menuruni gunung.
Sambil melepas
keberangkatannya, aku menghela napas kecil dalam hati.
(Kalau bakal jadi
begini, seharusnya aku membawa Luari juga. ……Tidak, percuma saja memikirkan hal
itu sekarang.)
Setelah beralih
pikiran karena merasa percuma memikirkan hal yang sudah terjadi, aku
mengalihkan perhatian ke arah kota.
Meskipun jeritan
masih terdengar, perlahan-lahan suara pertempuran juga mulai terdengar dari
sana-sini.
"Nah, kalau
begitu aku juga harus bersiap-siap."
Meskipun
kemampuan Kiryu itu nyata, tapi aku merasa aneh dengan sikapnya tadi.
Lagipula, seperti
katanya, segala sesuatu jarang berjalan sesuai rencana.
Aku harus menyiapkan langkah antisipasi seandainya Orn dan yang lainnya berhasil mendaki gunung ini.



Post a Comment