Fragment 2
Keputusan Masing-Masing
"Ah,
Sophie, selamat pagi~!"
Begitu
aku melangkah masuk ke ruangan yang dikhususkan bagi para explorer Silver
Rabbit of the Night Sky, Carol yang sudah ada di sana menyapaku.
"Ya.
Selamat pagi, Carol."
Carol
pun pasti sudah sangat kelelahan, tapi dia sama sekali tidak memperlihatkan hal
itu dan tetap memasang wajah ceria seperti biasanya.
Waktu
berlalu begitu cepat. Sudah dua bulan sejak Orn-san dan Luu-nee keluar dari Silver
Rabbit of the Night Sky.
Dalam
dua bulan ini, labirin di seluruh benua mengalami Outbreak yang
menyebabkan monster merajalela di permukaan, dan perang antara Kerajaan dan
Kekaisaran pun memasuki masa gencatan senjata. Lingkungan di sekitar kami
berubah drastis.
Namun
bagi kami, perubahan yang paling terasa adalah kesempatan pergi ke luar
Tutoirail yang meningkat pesat.
Demi
membasmi monster yang muncul di permukaan, kami para explorer harus berangkat
ke berbagai pelosok negeri.
Hari
ini pun, kami berencana pergi memberikan bantuan ke kota tetangga.
"Log,
selamat pagi juga."
Aku
menyapa Log yang sedang membaca koran di sebelah Carol dengan dahi berkerut.
Log
mengalihkan pandangannya dari koran ke arahku, dan ekspresinya tampak sedikit
melunak.
"Ah,
selamat pagi. Sophie, apa kamu sudah baca koran pagi ini?"
"Belum, tadi aku tidur sampai menit-menit terakhir,
jadi belum sempat lihat. Apa ada berita luar biasa?"
"Hmm, bisa dibilang berita besar, sih."
Carol
menjawab pertanyaanku. Sepertinya dia juga sudah membacanya.
Sejak Orn-san menyarankan kami untuk rajin membaca koran
tahun lalu, kami berusaha sebisa mungkin untuk memantau berita.
"Nih, baca saja sendiri."
Aku menerima koran yang disodorkan Log dan mulai
menelusuri isinya.
Halaman utama koran tersebut memuat hasil konferensi
tingkat tinggi antar pemimpin negara yang diadakan tempo hari.
Konferensi tersebut akhirnya terlaksana setelah Explorer
Guild memanggil berbagai negara sesaat setelah monster muncul di permukaan.
Dalam pertemuan itu, pertama-tama diumumkan penunjukan
Grand Master baru untuk Explorer Guild.
Selain itu, ada tiga poin utama yang disepakati dalam
pertemuan tersebut.
Pertama, kesepakatan bahwa umat manusia harus bersatu
melampaui batas negara demi menghadapi ancaman monster.
Kedua, penaklukan tiga Labirin Besar yang masih tersisa
di benua ini.
Dan yang ketiga adalah status buronan internasional bagi
Orn-san, yang dianggap berpihak pada monster, dengan julukan Demon King
sebagai musuh bersama dunia.
"Luar biasa……. Semuanya terjadi persis seperti kata
Orn-san."
Aku bergumam tanpa sadar setelah selesai membaca artikel
itu.
Hari itu, saat kami baru kembali dari Dalarna, Orn-san
tiba-tiba menyatakan keluar dari klan.
Bersamaan dengan itu, dia juga menceritakan gambaran masa
depan yang akan terjadi.
Sulit dipercaya bahkan meski itu keluar dari mulut
Orn-san bahwa labirin di seluruh benua akan mengalami Outbreak, namun
kenyataannya hal itu benar-benar terjadi.
Saat itu, Orn-san bilang dia akan menyebabkan sebuah
insiden besar untuk menyebarkan asumsi bahwa dialah dalang di balik semua ini.
Kurasa, insiden yang dimaksud adalah pembunuhan Grand
Master di ibu kota.
Dan sesuai keinginan Orn-san, kini dia telah menjadi
musuh dunia.
Semuanya berjalan sesuai skenario yang dia ceritakan
kepada kami hari itu.
"Iya, kan~? Tapi, julukan Demon King, ya.
Kedengarannya keren juga."
Carol menanggapi gumamanku.
Keren, katamu……?
"Itu artinya 'Raja para Monster', lho? Sama sekali
tidak ada keren-kerennya."
Log membantah pendapat Carol.
"Kalau apa yang dikatakan Guru benar, maka Explorer
Guild-lah yang menyebabkan situasi ini, kan? Tapi kenapa sekarang Guild itu
malah jadi pihak pembela dunia! Guru sama sekali tidak melakukan kesalahan apa
pun!"
Log berteriak, seolah rasa tidak puasnya meledak.
"Sst, gawat kalau sampai didengar orang
lain!"
Aku bergegas menenangkan Log.
Yang mengetahui niat asli Orn-san hanyalah sembilan
orang yang mendengar penjelasannya di ruang kerja Ketua hari itu.
Ditambah lagi dengan keputusan Ketua yang memecat
Orn-san sesuai rencana awal, anggota klan lainnya hanya menerima apa yang
terlihat di permukaan saja.
Banyak anggota klan, terutama para explorer, yang
sangat mengagumi Orn-san. Karena itulah mereka sangat terpukul, dan tak sedikit
dari mereka yang kini menaruh dendam padanya.
"Terlepas dari itu, apa rencana kalian berdua
sekarang?"
Carol melemparkan pertanyaan padaku dan Log.
Pertanyaan yang sangat ambigu, namun kami tahu apa maksud
sebenarnya.
"Tentu saja menaklukkan Labirin Besar Selatan.
Karena itu adalah keinginan Guru, aku pasti akan mewujudkannya!"
"Aku juga merasakan hal yang sama! Orn-san sampai
menyebabkan insiden itu demi melindungi kita. Kita harus membalas budi!"
Log dan aku menjawab dengan seketika.
"Begitu ya! Syukurlah! Aku juga merasakan hal
yang sama! Mari kita taklukkan Labirin Besar itu dengan tangan kita
sendiri!"
Syukurlah. Sepertinya mereka berdua memiliki perasaan
yang sama denganku.
Saat aku merasa lega mendengar perasaan mereka, Log
kembali angkat bicara.
"Tapi, dengan kita yang sekarang, kita tidak akan
bisa menaklukkannya—"
Log mengungkapkan perasaannya sambil menggertakkan
gigi karena kesal.
Ya. Aku juga berpikir begitu. Selama satu
tahun ini, aku merasa telah menjadi jauh lebih kuat berkat latihan dari
Orn-san. Tapi, level ini masih jauh dari kata cukup.
Kata-kata yang diucapkan Luu-nee saat dia bergabung
dengan Twilight Rainbow tahun lalu masih terngiang jelas di benakku.
"Bahkan di mataku yang sesama S-Rank, Orn-san adalah
sosok yang luar biasa. Wajar jika kalian menganggapnya sebagai dewa. Tapi, apa
kalian lupa? Target kalian, yaitu menaklukkan Labirin Besar Selatan, adalah hal
yang bahkan belum bisa dicapai oleh Orn-san sendiri."
Meskipun kami bertiga bersatu sekarang pun, masih
diragukan apakah kekuatan kami sudah mencapai level Orn-san tahun lalu.
Dalam kondisi seperti ini, menantang Labirin Besar
Selatan adalah sebuah kecerobohan.
Labirin Besar bukanlah tempat yang lunak yang bisa
ditaklukkan hanya dengan nekat.
"—Karena itulah, aku berencana pergi ke Kepangeranan
Hitia!"
Pernyataan Log mengejutkanku dan Carol.
"Kepangeranan Hitia? Apa Log mau mengejar Orn-san
juga? Bagaimana dengan penaklukan Labirin Besar?"
"Fakta bahwa dia ada di Kepangeranan itu hanya
kebetulan saja. Guru pasti tidak punya waktu untuk mengurusi aku
sekarang."
"Lalu, kenapa?"
"Aku ingin masuk ke Akademi Sihir Alstroemeria di
Kepangeranan Hitia. Untuk mempelajari sihir lebih dalam lagi."
Akademi, ya.
Aku tidak pernah terpikir untuk pergi ke luar negeri.
Tapi begitu mendengar ucapan Log, aku merasa seperti
melihat seberkas cahaya.
Belakangan ini aku juga terus berpikir.
Bahwa aku ingin mempelajari tentang perangkat sihir.
Kepangeranan Hitia adalah negara yang sangat maju dalam
hal sihir sampai-sampai dijuluki negara sihir, dan di sana juga terdapat
Downing Company, salah satu perusahaan perangkat sihir terkemuka di dunia.
Untuk mempelajari perangkat sihir, Kepangeranan Hitia
mungkin lingkungan yang lebih baik daripada Tutoirail!
Sambil memikirkan hal itu, bibirku bergerak secara
alami.
"Aku juga ingin pergi ke Kepangeranan Hitia!"
"Sophie juga?"
"Iya! Aku ingin belajar tentang perangkat sihir!
Setelah melihat anting Carol, aku merasa taktik bertarungku akan semakin luas
jika aku punya perangkat sihir khusus untukku sendiri!"
"Begitu ya. Kalau begitu, mari kita pergi
bersama!"
"Aaa! Curang, cuma berdua saja! Aku juga mau
ikut!"
"Kita pergi bukan untuk main atau jalan-jalan,
lho?"
"Buuu, aku juga tahu itu! Aku juga punya alasan
sendiri kenapa aku ingin pergi ke Kepangeranan Hitia."
"……? Alasan sendiri?"
"Hmm, maaf, itu masih rahasia. Ah, lalu, aku juga
harus pergi mengomeli Luu-nee!"
"Ah, benar juga. Karena itu tempat yang dijadikan
markas oleh Orn-san, tidak aneh jika Luu-nee juga ada di sana!"
Luu-nee meninggalkan Silver Rabbit of the Night Sky
tepat pada hari Orn-san keluar, hanya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk
kami.
Dalam surat itu memang tertulis permintaan maaf karena
pergi tiba-tiba, tapi memang terasa sedih jika semuanya berakhir begitu saja.
"Kalau begitu, mari kita bertiga pergi ke
Kepangeranan Hitia! Tapi tujuannya bukan untuk mengejar Guru. Melainkan untuk
mencari kekuatan demi menaklukkan Labirin Besar Selatan. Dan juga untuk
mengomeli Luu-nee yang pergi tanpa pamit. Itulah tujuan kita!"
"Iya, setuju!"
"Tidak ada keberatan~!"
Begitu saja,
akhirnya kami memutuskan untuk berangkat ke Kepangeranan Hitia.
Entah pilihan ini benar atau tidak, aku tidak tahu.
Namun, ada pepatah yang mengatakan "biar lambat asal selamat". Demi
menaklukkan Labirin Besar, kami akan menjadi jauh, jauh lebih kuat!
◇◇◇
Haruto dan Telshe yang sebelumnya berada di Kepangeranan
Hitia, kini tinggal di Tutoirail.
Berkat konferensi tingkat tinggi tempo hari yang
menetapkan Orn sebagai musuh dunia, ditambah dengan kelihaian Lucilla dalam
bersiasat, kemungkinan Ordo akan menyerang Tutoirail menjadi sangat rendah.
Namun, tetap ada kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
Karena itulah Haruto dan Telshe datang ke Tutoirail, agar jika Ordo benar-benar
menyerbu, mereka bisa melakukan serangan balasan sekaligus segera menghubungi
kelompok Orn.
"Haruto, ada tamu."
Telshe memberi tahu Haruto yang sedang tidur siang di
markas klan Shakudou no Banka (Senja Tembaga Merah) di Tutoirail.
"Tamu? Malas ah meladeni mereka, usir saja
sana."
Haruto menguap sambil mengucek kelopak matanya yang masih
terasa mengantuk. Melihat sikap itu, aura membunuh terpancar dari Telshe.
"Aku tidak ingat pernah menjadi pelayanmu,
lho?"
"Maaf, saya sudah kelewatan……"
Mendengar suara rendah Telshe yang penuh amarah, Haruto
seketika bersujud dalam posisi dogeza.
"Pfftt. Ketua, bukankah itu terlalu memalukan?"
"Benar-benar sudah jadi budak cinta ya, Ketua."
Katina dan Huey yang melihat interaksi mereka berdua
melontarkan komentar.
"Woi, kalian berdua! Berisik tahu!"
"Sudah kubilang kan, tamunya sudah menunggu.
Cepat sana."
"Baik……"
Haruto sempat membalas ejekan kedua rekannya, namun
setelah mendapat teguran dari Telshe, ia bergegas menuju ruang tamu.
◆◇◆
"Hah? Kalian kan……"
Saat Haruto sampai di ruang tamu, di sana sudah ada
Wilkes dan Lucrezia dari Silver Rabbit of the Night Sky.
"Sudah lama tidak bertemu, Haruto-san."
Wilkes menyapa Haruto sambil mengangkat tangan
ringan.
"Tamu yang tak terduga. Untuk apa para explorer
sibuk dari Silver Rabbit of the Night Sky datang ke klan kecil seperti
ini?"
"……Maaf jika ini terlalu mendadak, tapi Haruto-san,
apa rencana klan Shakudou no Banka mulai sekarang?"
Wilkes langsung masuk ke inti pembicaraan.
"Rencana apa maksudmu?"
"Dunia menginginkan penaklukan Labirin Besar. Shakudou
no Banka sepertinya selama ini tidak pernah melakukan penjelajahan di
lantai dalam, tapi apakah kalian punya niat untuk ikut menaklukkannya? Aku ingin tahu itu."
"Penaklukan,
ya…… Mungkin ini akan mengecewakanmu, tapi untuk saat ini aku tidak punya minat
untuk menaklukkan Labirin Besar."
Hasil konferensi tingkat tinggi tempo hari telah
menyebar luas dengan cepat melalui koran dan kabar burung.
Di saat informasi bahwa penaklukan Labirin Besar
adalah langkah awal untuk melenyapkan monster dari permukaan telah diketahui
publik, jumlah orang yang mendambakan penaklukan itu semakin meningkat setiap
harinya.
"Kenapa kamu tidak tertarik?"
Lucrezia melontarkan pertanyaan kepada Haruto.
"Jangan salah paham, aku tidak menolak ide
penaklukan itu. Malah, aku pikir itu memang harus dilakukan."
"Kalau begitu, kenapa—"
"Ini soal perbedaan prioritas. Saat ini, ada hal
lain yang ingin kuprioritaskan daripada menaklukkan Labirin Besar."
"Hal yang ingin diprioritaskan?"
"……Ya. Hal itu sangat penting bagiku, bahkan mungkin
akan menjadi pekerjaan terbesar dalam hidupku."
"……Begitu ya. Hei, Haruto-san, apa 'hal yang
diprioritaskan' itu akan segera dimulai?"
Lucrezia bertanya sekali lagi.
"Tidak. Untuk sekarang aku masih menunggu kabar,
jadi bukan sesuatu yang dilakukan hari ini atau besok."
"Kalau begitu, setidaknya sampai hal penting itu
dimulai, maukah kamu mengajari kami cara bertarung?"
"Hah? Cara bertarung? Bukankah kalian sudah cukup
kuat?"
"Tidak, kami sadar kalau kekuatan kami yang sekarang
tidak akan mampu menaklukkan Labirin Besar……"
Wilkes mengepalkan tinjunya yang bergetar seolah
sedang menahan rasa kesal.
"Aku hargai ambisi kalian, tapi kenapa kalian datang
ke tempatku?"
"Sebenarnya kami diberi saran oleh Orn-kun."
Mata Haruto membelalak lebar mendengar perkataan
Lucrezia.
"……Orn yang bilang?"
"Iya……. Dia bilang kalau kami ingin naik ke
tingkat yang lebih tinggi, kami harus mencoba mengandalkan Haruto-san. Orn-kun
juga bilang dia belajar sebuah teknik darimu. Tolong, Haruto-san! Meski
hanya di waktu luangmu saja tidak apa-apa, ajari kami teknik itu!"
"Kumohon!"
Lucrezia dan Wilkes menundukkan kepala sedalam-dalamnya
di hadapan Haruto.
"…………Biarkan aku berpikir sebentar."
Haruto berkata demikian lalu tenggelam dalam lautan
pemikiran.
(Dilihat dari standar explorer secara keseluruhan,
orang-orang ini adalah petarung tingkat atas. Tapi mereka masih lebih lemah
dariku. Kalau begini, penaklukan Labirin Besar pasti akan sulit. Padahal Orn
sangat menghargai Unit Pertama Silver Rabbit dan murid-muridnya. Bahkan
sampai memercayakan penaklukan Labirin Besar Selatan kepada mereka. ……Berarti
dengan mengirim mereka ke sini, maksudnya mereka akan berkembang pesat jika
menguasai pengendalian Ki, ya? Ki, ya……)
Setelah menimbang-nimbang namun tetap tidak menemukan
kesimpulan, Haruto membatin:
(…………Ugh! Aku tidak mengerti! Lagipula, kenapa cuma aku
sendiri yang harus memikul beban berat tambahan seperti ini? Pasti ada yang
salah. Oke, aku akan menyeret Telshe juga!)
Haruto memutuskan untuk berhenti berpikir dan menyeret
Telshe ke dalam urusan ini. Sampai akhir pun, ia tidak pernah menyadari bahwa
itulah yang sebenarnya direncanakan oleh Orn.
◆◇◆
Haruto memberi tahu Wilkes dan yang lain untuk menunggu
sejenak, lalu ia menghampiri Telshe.
"Woi, Telshe!"
Telshe yang sedang memasak di dapur mengerutkan dahi.
"……Ada apa?"
Haruto menunduk dan melihat sebuah panci berisi
daging besar yang sedang direbus.
"Oh, kelihatannya enak. Makan malam hari ini daging
ya? Terima kasih ya sudah selalu memasak untuk kami."
Mendengar ucapan terima kasih tulus dari Haruto, ekspresi
Telshe sedikit melunak. Namun, ia segera kembali memasang wajah ketus.
"Bukan apa-apa, aku cuma sekalian saja. ……Apa kau
datang hanya untuk mengatakan itu? Kalau iya, kau mengganggu, sana pergi."
"Jangan galak-galak begitu dong."
"Berisik. Jika benar-benar tidak ada urusan, bisakah
kau keluar?"
"Iya, iya, maaf. Sebenarnya aku datang karena ada
hal yang ingin kuminta padamu."
"……Minta tolong padaku?"
Haruto pun menceritakan bahwa Wilkes dan Lucrezia baru
saja memintanya untuk diajarkan tentang Ki. Telshe mendengarkan
penjelasan Haruto meski dengan ekspresi curiga.
"Jika Orn-sama yang mengatakannya pada mereka, pasti
ada niat tertentu di baliknya……"
Telshe menyentuh dagunya, mencoba menyelami niat Orn.
"Wilkes adalah kandidat untuk mencapai titik
puncak Ki, kan?"
Haruto mengungkapkan pendapatnya, yang kemudian
diangguki oleh Telshe.
"Ya, itu sudah pasti. Bagi orang tanpa Special
Ability, satu-satunya cara untuk menandingi pengguna kekuatan atau iblis
adalah dengan mencapai Hama (Evil-Destruction). Itu syarat mutlak untuk
menghadapi Floor Boss lantai seratus Labirin Besar Selatan."
Dikatakan bahwa pada zaman dongeng, manusia yang
terpaksa berperang melawan Dewa Jahat dan iblis mengalami evolusi besar.
Evolusi itu adalah perolehan Special Ability
dan kemampuan untuk mengendalikan Ki.
Ki pada dasarnya adalah kekuatan yang
dimiliki manusia sejak lahir.
Karena terdesak, muncul orang-orang yang mulai mampu
mengendalikannya.
Teknik itu menyebar dari mulut ke mulut dan menjadi
kekuatan besar umat manusia.
Terlebih lagi, mereka yang mencapai puncak Ki akan
mendapatkan kekuatan untuk menghancurkan sihir.
Itulah Hama.
Namun, yang berhak mencapai titik itu hanyalah
orang-orang tanpa Special Ability. Mengapa? Karena Special Ability
berasal dari energi sihir.
Jika pengguna Special Ability yang sudah menyatu
dengan sihir menggunakan Hama, mereka sendiri akan menerima kerusakan
besar.
Karena itulah pengguna Special Ability secara
tidak sadar memasang penghambat sehingga tidak bisa menggunakan Hama.
Puncak dari pelepasan penghambat itulah yang menjadi inti
dari Final Form: Mont Ende milik Orn.
"Tapi apa mungkin bisa dikuasai dalam waktu singkat?
Lagipula, bahkan di zaman dongeng pun, jumlah orang yang mencapainya bisa
dihitung dengan jari, kan?"
"Orn-sama pasti sudah menilai kalau mereka bisa
menguasainya. Masalahnya adalah orang yang satunya lagi…… Special Ability bernama Mana Trace……
mengejar sisa-sisa energi sihir…… —Ah, mungkinkah……"
Telshe
sempat memasang wajah serius saat mencari kemungkinan bagi Lucrezia, namun
kemudian ekspresinya berubah seolah telah menemukan jawaban.
"Kau sudah paham?"
"Ya, mungkin saja. Aku yang akan menangani pengguna Mana
Trace itu. Haruto, fokuslah pada pemuda tanpa kekuatan khusus itu."
◆◇◆
"Karena itulah, kami akan mengabulkan permintaan
kalian dan menurunkan teknik kami!"
Itulah kalimat pertama yang diucapkan Haruto saat ia
kembali ke ruang tamu bersama Telshe.
"Eto……
Terima kasih……"
Lucrezia
berterima kasih meski dengan nada bingung. Perubahan sikap Haruto yang
sebelumnya serius menjadi santai membuat mereka berdua sulit menyembunyikan
kebingungan.
Mengabaikan suasana itu, Telshe mendekati Lucrezia.
"Kau Lucrezia Otis, ya. Aku Telshe. Aku yang akan
membimbingmu. Aku tidak berniat memanjakanmu, jadi jika kau ingin menyerah,
katakanlah secepatnya. Dengan begitu kita tidak akan membuang-buang
waktu."
Telshe memperkenalkan diri tanpa menyebutkan nama
keluarganya, lalu langsung memberikan peringatan keras. Meskipun kata-katanya
tajam, kelembutan tersirat dari tatapan dan pembawaannya. Lucrezia menyadari
hal itu.
"Aku tidak akan menyerah……! Mohon bantuannya!"
"……Kalau kau tidak terbiasa dengan bahasa
formal, tidak usah dipaksakan."
"Eh? Ah, iya. Terima kasih."
"Kalau begitu, kita berangkat ke labirin sekarang.
Ikuti aku."
Setelah mengatakan apa yang perlu dikatakan, Telshe
berjalan cepat keluar.
"Ah, tunggu sebentar!"
Lucrezia terburu-buru mengejar Telshe.
"……Apa tidak apa-apa?"
Wilkes bergumam cemas melihat interaksi Telshe dan yang
lain.
"Yah, tidak apa-apa. Biar begitu, Telshe sebenarnya
orang yang baik. Kalau begitu, mari kita juga mulai sekarang."
Haruto memberikan kata-kata penenang lalu menghadap ke
arah Wilkes.
"Siap! Mohon bimbingannya!"
Wilkes pun beralih fokus dan menatap lurus ke arah
Haruto.
"Tujuanmu adalah menjadi bentuk sempurna dari
seorang Defender. Aku akan menghantamkan segala hal dasar seperti cara
penggunaan tatapan mata dan gerakan tubuh, hingga teknik yang kau dambakan itu.
Aku juga akan melatihmu dengan keras, jadi bersiaplah untuk mengejar
ketertinggalan!"
"Siapa takut! Aku pasti akan menguasainya!"
Wilkes menyeringai menantang mendengar perkataan
Haruto yang provokatif.
Begitulah, keduanya memulai bimbingan di bawah asuhan
Haruto dan Telshe masing-masing—.
◇◇◇
Rain sedang duduk di tepi atap bangunan utama Silver
Rabbit of the Night Sky sambil menatap bulan.
"Ternyata kau di sini."
Seorang wanita mendekati Rain—Selma—dan menyapanya.
"……Ya. Aku sedang melihat bulan."
Selma mendongak mendengar perkataan Rain. Di sana,
bulan purnama yang bersinar megah di tengah kegelapan menghiasi langit malam.
"Belakangan ini aku jarang melihat bulan, tapi
kalau diperhatikan lagi, ternyata indah ya."
"Benar."
Setelah itu, keduanya terdiam sejenak sambil menatap
bulan.
"Jadi, ada urusan apa denganku? Apa kau mau menegur
atau menceramahiku karena sudah menurunkan moral anggota yang lain?"
Rain menatap Selma dengan ekspresi yang sangat lesu.
Sejak hari di mana Orn memberi tahu mereka tentang pengunduran dirinya dari
klan, Rain terus kehilangan semangat hidup.
Meskipun ia tetap berpartisipasi dalam unit yang
berkeliling untuk membasmi monster di permukaan, kondisinya sangat jauh dari
dirinya yang biasanya, sehingga explorer lain pun merasa bingung.
"Mana mungkin aku bisa memarahi orang yang memasang
wajah seperti itu. Aku justru berterima kasih karena meskipun dalam kondisi
sulit, kau tetap membantu membasmi monster. Aku tidak bisa mengatakannya
keras-keras, tapi Rain yang tidak dalam kondisi terbaik pun tetap berkontribusi
lebih besar daripada anggota lainnya."
"Begitu ya. Aku juga tahu kalau aku tidak boleh
begini terus. Tapi rasanya hatiku belum bisa menerima semuanya. Pokoknya, maaf
ya sudah merepotkan."
Melihat Rain yang meminta maaf dengan senyum lemah, Selma
menunjukkan ekspresi sedih dan getir.
"Dengar, Rain. Bisakah kau bicara padaku? Selama ini
aku diam saja karena kupikir kau bisa menyelesaikannya sendiri, tapi bukannya
membaik, kau malah terlihat semakin menderita seiring berjalannya waktu. Aku…… sudah tidak tahan lagi
melihatmu seperti itu……"
"Sungguh, maaf ya. Tapi, aku kan seorang
kakak."
Mendengar ucapan Rain, tatapan Selma berubah menjadi
penuh kecaman.
"……Memangnya kenapa kalau kau seorang kakak?
Maksudmu kau tidak boleh menunjukkan kelemahan di depan bawahan? Padahal kau menderita secara
terang-terangan seperti ini……!"
"Ahaha……
Kalau dibilang begitu aku tidak bisa membantah. Yah, begitulah. Seorang kakak
itu harus menanggung segalanya sendirian."
Bahu
Selma bergetar.
"Apakah
itu sosok kakak menurutmu, Rain……? Jika iya, maka itu salah besar! Selama
ini aku sudah berkali-kali menunjukkan kelemahanku di depan adikku! Hal-hal yang memalukan, bahkan hal-hal yang membuatnya jengkel! Tapi
tetap saja, adikku Sophia menerimaku apa adanya. Jika bersaudara, bukankah
seharusnya kita memperlihatkan sisi baik dan buruk kita secara
keseluruhan!?"
"…………"
"Aku menganggap Rain sebagai rekan yang
berharga! Aku mengandalkanmu seperti seorang kakak! Aku selalu dibantu oleh Rain.
Aku pun…… ingin menjadi kekuatan bagi Rain……!"
Selma
menumpahkan seluruh emosinya. Kata-kata penuh kesungguhan itu akhirnya sampai
ke hati Rain, hingga air mata mulai mengalir membasahi pipinya.
"……Bolehkah……? Orang sepertiku ini, mengandalkan
orang lain…… Orang sepertiku, yang seharusnya tidak pantas untuk diselamatkan
ini……"
Selma mengangguk mantap mendengar perkataan Rain.
"Tentu saja boleh!"
Sambil terus meneteskan air mata, Rain bergumam pelan, "Terima kasih……"
◆◇◆
Setelah beberapa saat, Rain mulai mendapatkan kembali
ketenangannya. Ia mulai menceritakan masa lalunya sedikit demi sedikit dengan
suara pelan.
Itu adalah kejadian di masa kecilnya, saat ia masih
merasa jemawa karena disanjung-sanjung sebagai penyihir dengan kemampuan khusus
(Unique Mage).
Suatu hari, seorang pria dengan penutup mata di sebelah
kanan mendatanginya.
Pria itu meminta Rain untuk memindahkan kelompok yang
dipimpinnya ke Desa Reimei menggunakan sihir transfer.
Percaya bahwa itu dilakukan demi menolong orang, Rain pun
menuruti permintaan mereka.
Beberapa hari kemudian, kakaknya, Telshe, mengungkapkan
kebenaran yang pahit.
Tujuan mereka justru berbanding terbalik dengan niat
menolong; mereka datang untuk menghancurkan desa tersebut.
Di saat yang sama, Telshe memberitahunya bahwa karena ia
terlibat secara tidak langsung, cepat atau lambat ia akan dibunuh jika tetap
tinggal.
Setelah diperlihatkan kondisi desa yang telah hancur
lebur, Telshe memberikan perlengkapan seadanya dan menyuruhnya pergi
meninggalkan negara tersebut. Rain pun hanya bisa menurut.
"Desa Reimei……? Aku belum pernah mendengar nama
tempat itu," gumam Selma yang mendengarkan cerita Rain.
"……Iya.
Karena tempat itu memang sejak awal disembunyikan. …………Da-dan, lalu……"
Meski sudah memutuskan untuk bicara, bibir Rain mendadak
kelu saat sampai di bagian inti.
Sepertinya ia sangat ketakutan membayangkan reaksi Selma
setelah mendengar ini.
(Aku sudah memutuskan untuk mengatakannya. Kalaupun
setelah bicara Selma akan kecewa padaku, itu memang kesalahanku, jadi aku harus
menerimanya……)
Rain mengambil napas dalam beberapa kali, lalu dengan
memantapkan hati, ia kembali membuka suara.
"Lalu, Desa Reimei itu sebenarnya adalah—kampung
halaman Orn-kun."
"…………Eh?"
Suara cengo keluar dari mulut Selma, seolah ia
benar-benar tidak menyangka.
"Tentu saja, dia juga ada di desa hari itu. Orn-kun
beruntung bisa selamat, tapi orang tua Orn-kun dan hampir semua orang di desa
tewas terbunuh saat itu."
"…………"
"Karena itulah, bisa dibilang akulah yang telah
membunuh orang tua Orn-kun. Aku juga berpikir bahwa amnesia yang dialami
Orn-kun adalah akibat syok dari kejadian itu. ……Padahal aku sudah merenggut
orang tuanya, tapi aku malah bersikap seperti kakaknya selama ini? ……Lihat,
kan? Aku bukan orang yang pantas untuk diselamatkan, bukan?"
Rain menunjukkan senyum pahit yang mengejek dirinya
sendiri.
Selma menunduk. Ditambah suasana malam yang gelap, Rain
tidak bisa melihat ekspresi wajah sahabatnya itu.
Selma terdiam selama beberapa detik. Namun bagi Rain yang
merasa seperti sedang menunggu vonis pengadilan, waktu yang singkat itu terasa
seperti selamanya.
"……Begitu rupanya," ucap Selma akhirnya.
Rain menahan napas sambil memejamkan matanya rapat-rapat.
"Terima kasih sudah mau bercerita. Pasti sangat
berat bagimu selama ini memikul beban itu sendirian."
Selma memeluk Rain dengan lembut. Rain yang mengira akan
dimarahi, hanya bisa mengerjapkan mata karena terkejut dengan tindakan Selma.
"……Eh? Kenapa? Kenapa kau tidak menyalahkanku?
Padahal aku sudah merenggut orang tua dari orang yang kau sukai……?"
"Kenapa kau harus menyalahkan dirimu sendiri seperti
itu? Bukan kau yang melakukannya, kan. Kau hanya ingin menolong orang saat itu.
Lagipula, hari itu Orn juga sudah mengatakannya, kan? 'Rain tidak salah'. 'Yang
salah adalah mereka yang memanfaatkan Rain'. Mendengar ceritamu barusan,
pendapatku sama dengan Orn. Yang bersalah adalah pria dengan penutup mata itu,
yang memanfaatkan kebaikanmu untuk menyerang desa."
"Tapi, jika aku tidak membantu……"
"Mungkin benar, tragedi itu bisa dicegah jika kau
tidak membantu. Tapi, pria penutup mata itu mungkin saja menyerang desa dengan
cara lain. Pada akhirnya, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi.
Aku tidak bilang kau harus melupakannya sama sekali, tapi kurasa kau tidak
perlu memikul rasa bersalah yang berlebihan."
"……Terima kasih, Selma. Rasanya beban di dadaku
sedikit terangkat. Aku senang sudah bicara padamu."
Seolah beban berat telah lepas dari bahunya, Rain
menunjukkan senyum yang paling cerah selama beberapa waktu terakhir ini.
"Aku senang jika bisa membantumu. Mulai sekarang,
kalau ada masalah, jangan ragu untuk bercerita. Will dan Lucre juga
mengkhawatirkanmu, lho. Karena merasa selama ini selalu mengandalkanmu, mereka
berdua ingin bisa mendukungmu mulai sekarang. Setelah selesai memburu monster,
mereka terus berlatih keras sampai-sampai belakangan ini selalu pulang dalam
keadaan babak belur."
"Begitu, ya……? Aku tidak menyadarinya. Ahaha…… aku benar-benar sudah
tidak mempedulikan sekelilingku, ya…… Aku jadi merasa tidak enak pada mereka
berdua……"
"Kalau kau menunjukkan senyumanmu yang sekarang pada
mereka, mereka pasti akan merasa tenang."
"Iya, benar juga. Apa mereka berdua belum
pulang?"
"Kalau mereka pulang di jam yang sama seperti
biasanya, seharusnya sebentar lagi."
"Begitu ya. Kalau begitu, aku akan pergi
menyambut mereka."
Rain berdiri, lalu melangkah dengan mantap menuju
pintu atap. Selma yang melihat punggungnya merasa lega, namun tiba-tiba
wajahnya berubah seolah teringat sesuatu.
"Ah, Rain! Terakhir, biarkan aku mengoreksi satu
hal!"
"……?"
"A-aku tidak menyukai Orn seperti itu, ya! Maksudku,
aku memang menyukainya sebagai manusia, tapi aku tidak melihatnya sebagai
laki-laki, tahu!"
Melihat Selma yang panik, Rain yang sempat bengong sesaat
akhirnya tertawa terpingkal-pingkal.
"Eeeh, alasanmu itu terlalu dipaksakan. Habisnya,
Selma itu cuma menunjukkan ekspresi yang lebih lembut dari biasanya saat sedang
menatap Orn-kun, lho."
"I-itu……! Itu benar! Karena Orn adalah rekan yang
berharga, dan dia adalah target yang ingin kulampaui! ……Ya, pasti karena
itu!"
Di malam yang sunyi, suara tawa Rain bergema. Rasa
bersalah di dalam dirinya memang belum hilang sepenuhnya. Meski masih memikul
kepedihan, Rain tetap mengukir senyuman.
Senyum itu terpantul di bawah sinar rembulan, bersinar dengan lembut—.



Post a Comment