Interlude 1
Saat
Perpisahan Tiba
Beberapa hari lalu kami berangkat dari Dal'uane, dan kini
kami tiba di sebuah kota bernama Lintes untuk menginap semalam.
Saat kami sedang menyantap makan malam di kedai minuman
yang menyatu dengan penginapan,
"Wah, ini enak sekali~"
Wajah Carol tampak berbinar gembira setelah meminum
minuman keras buah yang direkomendasikan Kakak.
"Benar, kan? Pemilik kedai ini adalah pencinta
alkohol kelas berat. Semua minuman yang dia pilih tidak pernah meleset."
Melihat Carol senang, Kakak mengangguk dengan bangga.
Kakak tahu banyak soal kota yang jauh dari Tsutrail
ini karena penguasa di sini adalah sponsor Night Sky Silver Rabbit,
sehingga dia sudah beberapa kali berkunjung untuk urusan klan.
(Ah, benar juga. Minuman buah ini enak sekali.)
Rasanya manis dan sangat mudah diminum.
Kami pun asyik mengobrol sambil menikmati hidangan
lezat dan minuman tersebut.
"Eh, benarkah begitu? Kalau level penjelajah
sudah tinggi, aktivitas di luar Tsutrail bakal makin sering?"
Log mengeluarkan suara terkejut setelah mendengar
cerita Kakak.
"Yah, begitulah. Begitu namamu makin dikenal
sebagai penjelajah, banyak orang akan tahu tentangmu. Luna, waktu di Kelompok
Pahlawan dulu bukankah kamu cukup sibuk?"
Kakak mengalihkan pandangannya ke Kak Lu.
"Begitulah. Namanya juga 'Kelompok Pahlawan'. Karena
persaingan pengaruh antar-bangsawan dan semacamnya, kami sering dipanggil ke
berbagai tempat dan hampir terseret ke dalam masalah mereka."
Kak Lu membenarkan dengan senyum pahit.
Sekarang karena sedang perang, semua orang bersatu,
jadi kami tidak terseret masalah seperti itu. Namun, saat
perang berakhir nanti, kemungkinan besar tingkat pencapaian labirin kami sudah
makin jauh.
Apakah kami juga akan terseret ke hal-hal seperti
itu? Aku tidak mau……
"Ugh,
persaingan pengaruh bangsawan…… Mendengarnya saja sudah bikin malas……"
Carol sepertinya berpikiran sama denganku, dia tampak
muak.
"Tapi tidak semuanya hal buruk, lho?"
"Hmm? Contohnya seperti apa?"
"Yang paling membahagiakan adalah dukungan dari
semua orang. Bahkan orang yang tidak kukenal akan menyapa, 'Semangat ya,
taklukkan labirinnya'. Anehnya itu benar-benar memberiku energi dan
meningkatkan motivasi."
"Ah, itu benar. Aku sudah sering menyadari bahwa
dukungan itu kekuatannya tidak main-main."
Kak Lu berpendapat dan Kakak mengangguk berkali-kali
tanda setuju.
Meskipun kami sudah mencapai lantai bawah dan masuk
kategori penjelajah tingkat atas, ternyata kami masih jauh dari itu.
Suatu hari nanti, aku ingin mengobrol seru soal hal
seperti ini dengan Kakak.
◆◇◆
Tengah malam itu, tiba-tiba aku terbangun.
"……Kak Lu?"
Saat berbalik badan, aku menyadari kasur tempat Kak
Lu seharusnya tidur sudah kosong.
Ketika melihat ke luar jendela, aku melihat sosoknya di
sana. Aku pun keluar pelan-pelan agar tidak membangunkan yang lain.
"Sophie? Ada apa di jam selarut ini?"
Begitu aku mendekat, Kak Lu yang menyadariku tampak
terkejut.
"Tadi aku terbangun, dan ternyata Kak Lu tidak
ada di tempat tidur."
"Begitu ya. Aku sudah membuatmu khawatir. Maaf,
ya."
"Tidak apa-apa. ……Sedang
melihat bulan?"
Aku duduk di samping Kak Lu dan bertanya.
"……Begitulah. Sedikit memikirkan sesuatu."
"Memikirkan sesuatu?"
"Iya.
……Mungkin ini terdengar aneh, tapi Sophie, apakah kamu pernah merasa seperti
melupakan sesuatu yang sangat penting?"
"Eh?
Sesuatu yang penting……?"
Aku
mengerjapkan mata mendengar pertanyaan Kak Lu yang tidak terduga.
"Iya. Aku merasa seperti melupakan sesuatu. Aku
tidak tahu itu apa, tapi setiap kali memikirkannya, hatiku terasa sesak."
"Hmm, maaf. Sepertinya aku tidak punya perasaan
seperti itu."
"……Begitu ya. Mungkin aku hanya sedang sedikit
melankolis saja. Tolong jangan dipikirkan."
Kak Lu mengatakan itu sambil tersenyum lembut padaku.
"Apa Kakak punya masalah?"
"Tidak, bukan hal besar yang bisa disebut
masalah kok."
"Cerita saja kalau ada sesuatu. Aku kan selalu
dibantu oleh Kak Lu. Mungkin aku kurang mampu, tapi aku ingin membantu meski
cuma sedikit!"
"……Terima kasih. Kalau begitu, aku akan sedikit
bercerita. Tapi ini benar-benar bukan masalah berat atau semacamnya. Aku hanya
berpikir, sepertinya sebentar lagi waktunya Festival Syukur."
"Festival
Syukur……? ……Ah……"
Mendengar
kata itu, aku menyadari bahwa dia teringat kejadian setahun yang lalu.
Festival
Syukur adalah festival yang diadakan di Tsutrail dari akhir Mei hingga awal
Juni.
Akibat
insiden di festival tahun lalu, kelompok Pahlawan Golden Dawn praktis
bubar, dan Kak Lu pindah ke Night Sky Silver Rabbit.
"Di
hari pertama festival, orang tua angkatku ditangkap atas tuduhan penculikan
anak. Lalu setelahnya, seperti yang kamu tahu, Oliver-san dan yang lain
tiba-tiba mengamuk, dan Golden Dawn pun bubar."
Aku
juga sudah mendengar kronologi bagaimana Kak Lu masuk ke klan dan bergabung
dengan kelompokku.
Karena Kak Lu menceritakannya dengan nada biasa saja, aku
mengira dia sudah sepenuhnya merelakan kejadian itu.
Namun jika dipikir-pikir lagi, itu bukan hal yang bisa
direlakan begitu saja dengan mudah.
Dulu aku menjaga jarak dengan keluargaku, tapi setelah
berdamai dengan Abang, sekarang aku mulai merasa sayang pada keluarga Claudel.
Jika apa yang dialami Kak Lu terjadi padaku, itu ibarat
tanpa sepengetahuanku keluarga Claudel terlibat kriminalitas hingga keluarga
kami hancur, lalu Log dan Carol mengamuk secara egois kemudian ditangkap, dan
tiba-tiba tempat tinggalku dirampas secara tidak adil.
"Seluruh tempat tinggalku dirampas saat Festival
Syukur itu. Di saat itulah Orn-san mengulurkan tangan padaku. Dia memberiku
tempat tinggal baru di Night Sky Silver Rabbit, dan mempertemukanku
dengan rekan-rekan hebat seperti Sophie dan yang lain."
"Kak Lu……"
"Saat itulah aku memutuskan untuk terus mengikuti
Orn-san. ……Sophie, apa kamu menyadari perubahan pada Orn-san di hari kita
berangkat dari Dal'uane?"
"Eh, perubahan……?"
Pertanyaan mendadak itu membuat tanda tanya muncul di
kepalaku.
Seingatku, Orn-san hari itu tampak biasa saja seperti
biasanya……
"Iya. Saat itu, Orn-san memiliki ekspresi seperti
seseorang yang baru saja mengambil keputusan besar. Aku tidak tahu keputusan
apa itu. Tapi, jika Orn-san berencana melakukan sesuatu yang besar, aku berniat
membantunya dengan segenap kekuatanku."
Aku sama sekali tidak menyadarinya.
Kenyataan bahwa Kak Lu sadar sedangkan aku tidak, rasanya
agak menyesakkan.
Padahal aku merasa sudah selalu memperhatikan Orn-san.
Ternyata, Kak Lu juga menyukai Orn-san……
"……Maaf aku malah bicara yang tidak jelas. Tapi
berkat ini, pikiranku jadi sedikit lebih tertata. Terima kasih sudah
mendengarkan."
"Aku benar-benar cuma mendengarkan saja dan tidak
bisa memberi saran yang bagus, tapi kalau Kak Lu merasa lebih lega,
syukurlah!"
Perubahan pada Orn-san, ya.
Nanti saat bertemu dengannya lagi, aku akan mencoba
memperhatikannya baik-baik.
◆◇◆
Beberapa hari kemudian, saat langit mulai berwarna jingga
kemerahan,
"Ah! Tsutrail sudah kelihatan~!"
Carol bersorak gembira saat tembok luar yang mengelilingi
Tsutrail mulai terlihat.
Aku sendiri merasakan kegembiraan yang membuncah.
Aku meninggalkan Tsutrail dalam kondisi dipaksa pergi
oleh Aldo-san, tangan kanan Ayahku.
Waktu itu aku diberitahu bahwa pertunanganku sudah
diputuskan, jadi kupikir aku tidak akan pernah bisa kembali lagi ke sini.
Namun, berkat bantuan Orn-san dan rekan-rekan yang lain,
aku bisa kembali.
Mana mungkin aku tidak bahagia.
"Hei, Log! Kita langsung pergi menaklukkan Labirin
Besar saja?"
Carol mengajak Log menyelam ke labirin seolah sudah tidak
sabar lagi.
Log yang mendengarnya menunjukkan ekspresi sedikit
lelah.
"Mana mungkin kita langsung menyelam hari
ini."
"Benar. Kelelahan setelah perjalanan tidak boleh
diremehkan. Lagipula ini sudah sore, hari ini kita istirahat saja dan
baru mulai besok. Oke, Carol?"
Kak Lu menyetujui pendapat Log dan menenangkan Carol.
"Hmm, baiklah……"
Meskipun lesu, Carol menuruti mereka berdua.
Alasan dia ingin segera masuk ke labirin pasti karena
ingin mencoba alat sihir yang dia terima dari kakak-kakaknya di Dal'uane dalam
pertarungan sungguhan.
Anting yang dia pakai sekarang sepertinya adalah alat
sihir itu.
Menurut Carol, sihir yang terpatri di dalamnya adalah
untuk memperluas indra, sekaligus membantu penginderaan dan pengendalian mana.
Alat sihir, ya. Karena alat sihir butuh batu sihir
sebagai sumber tenaga, aku selalu berpikir itu tidak cocok untuk penjelajahan
labirin. Sebab, membawa banyak batu sihir hanya akan memancing monster.
Tapi kalau dipikir-pikir lagi, Orn-san hanya bilang
'sebaiknya selektif membawa alat sihir ke labirin', dia tidak pernah bilang
'tidak boleh dibawa'.
Kak Lu punya Sihir Roh yang menggabungkan kekuatan khusus
dan sihir—sesuatu yang hanya bisa dia lakukan. Carol dan Log juga sudah mulai
memantapkan gaya bertarung unik mereka sendiri.
Sebaliknya, aku merasa masih terjebak dalam kerangka
"Penyihir Biasa".
Apakah kemampuan khususku, Psychokinesis, memiliki
sinergi dengan alat sihir?
"Ada apa, Sophia?"
Saat aku sedang melamun memikirkan hal itu, Kakak yang
duduk di sampingku bertanya dengan cemas.
"Hei, Kak. Kalau aku ingin tahu soal alat sihir,
sebaiknya belajar dari mana dulu?"
"Alat sihir? Sophia mau jadi pengrajin alat
sihir?"
"Bukan, bukan begitu. Aku cuma berpikir mungkin aku
bisa jadi lebih kuat kalau paham soal itu."
"Memang alat sihir itu sangat berguna. Untuk
memahaminya, kamu harus punya pengetahuan dasar tentang fondasi sihir. Selain
itu, ada pengrajin alat sihir di klan kita, mungkin bagus kalau kamu bertanya
langsung pada mereka."
Belajar sihir, ya. Meskipun aku sudah bisa menggunakan
sihir tingkat special, pengetahuanku masih dangkal. Mengembangkan sihir
orisinal saja masih terasa mustahil bagiku sekarang. Baiklah! Pertama-tama, aku
akan berusaha belajar sihir dengan giat!
"Iya, benar juga. Itu sangat membantu. Terima kasih,
Kak!"
"Sama-sama."
Saat aku berterima kasih, Kakak tersenyum bahagia.
◆◇◆
Tak terasa kereta kuda sudah sampai di area klan Night
Sky Silver Rabbit.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada kusir, kami turun
dan langsung masuk ke gedung utama.
Meskipun durasi perjalanan ini lebih singkat daripada
saat tugas ke wilayah Legriff, rasanya sangat melegakan.
Aku benar-benar sudah kembali ke Night Sky Silver
Rabbit……
Kakak yang berjalan di depan berbalik menghadap kami.
"Semuanya, kerja bagus. Kalian pasti lelah setelah
perjalanan, jadi—"
"—Tidak
mungkin…… Benar-benar tepat sasaran……"
Saat
Kakak sedang bicara, terdengar suara wanita yang terkejut dari dekat kami.
Saat menoleh, aku melihat seseorang yang sangat
kukenal berdiri dengan ekspresi bengong.
"Estella? Ada apa, kamu menjemput kami?"
Kakak menyapa Estella-san dengan akrab.
"Ah—iya. Yah, bisa dibilang…… menjemput? Pokoknya,
selamat datang kembali!"
Estella-san menjawab dengan agak terbata. Ada apa ya?
"Terus, maaf ya baru saja sampai, tapi bisa kalian
ikut denganku sebentar?"
"……? Iya, baiklah."
Meskipun merasa aneh dengan sikapnya, kami tetap
mengikutinya karena tidak ada alasan untuk menolak.
◇◇◇
Tempat yang dituju Estella-san adalah ruang kerja Sang
Ketua.
Ini pertama kalinya aku masuk ke sini…… Eh, apakah
anggota baru sepertiku boleh masuk ke sini?
Estella-san yang tidak tahu kegelisahanku langsung
membuka pintu dan masuk.
"Ketua, Orn-occhi, aku sudah membawa mereka. Benar
kata Orn-occhi, saat aku baru sampai di depan pintu masuk, Selma-cchi dan yang
lain baru saja tiba. Aku sampai kaget. Orn-occhi, apa kamu ini cenayang?"
……Orn-occhi?
"Yah, bisa dibilang mirip seperti itu."
Suara pria yang menjawab pertanyaan Estella-san itu
sangat akrab di telingaku. Kami pun masuk ke dalam ruangan.
Di dalam sana ada beberapa orang.
Selain Estella-san dan Sang Ketua selaku pemilik ruangan,
ada Rain-san, Lucrezia-san, dan Wilks-san dari Divisi Pertama. Serta, Orn-san.
(Eh!? Kenapa Orn-san ada di sini!? Bukannya dia sedang
menjalankan misi rahasia dari Putri dan bergerak terpisah!?)
"Semuanya sudah berkumpul. Maaf aku memanggil kalian
mendadak. Ada hal mendesak yang harus kusampaikan."
"Jadi, ada insiden apa?"
Rain-san bertanya menanggapi ucapan Sang Ketua.
"Kalau disebut insiden, secara teknis ini memang
sebuah insiden."
"Vince-san,
biarkan aku saja yang bicara."
Saat
Sang Ketua dengan wajah lelah hendak menjawab pertanyaan Rain-san, Orn-san yang
berada di sampingnya angkat bicara.
Sang
Ketua hanya menjawab "Baiklah" dan menyerahkan kelanjutannya kepada
Orn-san.
(Tapi,
Orn-san terasa berbeda dari biasanya. Apanya yang beda, ya?)
Sambil
berpikir begitu, aku memperhatikan Orn-san dan menyadari kejanggalannya.
Pakaiannya.
Sejak
bergabung dengan Night Sky Silver Rabbit, Orn-san selalu memakai seragam
klan. Namun sekarang penampilannya berbeda.
Lalu,
biasanya Orn-san memanggil Sang Ketua dengan sebutan 'Ketua'. Tapi tadi dia
memanggilnya dengan nama aslinya.
Kenapa
ya? Aku merasa punya firasat yang sangat buruk……
"Tidak
perlu bertele-tele, aku akan mengatakannya dengan singkat. —Mulai hari ini, aku
keluar dari Night Sky Silver Rabbit."
………………Eh?
"…………Maaf,
Orn. Sepertinya aku salah dengar. Bisa tolong ulangi sekali lagi?"
Suara
Wilks-san jelas-gelar bergetar.
Bukan
cuma aku, semua orang di ruangan itu menunjukkan ekspresi tidak percaya.
Tentu
saja begitu. Orn-san keluar dari Night Sky Silver Rabbit? Kenapa?
"Aku
bilang, aku keluar dari Night Sky Silver Rabbit."
"Kenapa……
Kenapa mendadak sekali……!?"
Kakak
tampak panik dan langsung menghujani Orn-san dengan pertanyaan.
"Ada banyak alasan, tapi alasan utamanya adalah
karena ingatanku telah kembali."
"Ingatanmu... kembali? Apa selama ini Orn-kun
amnesia? Aku baru pertama kali mendengarnya."
"Ya. Tapi aku sendiri tidak menyadarinya, karena
ingatan yang hilang adalah ingatan masa kecil. Jadi ini bukan kejadian
baru-baru ini."
"Bagaimana mungkin kembalinya ingatan masa kecil
bisa berujung pada pengunduran diri dari klan?"
"Itu karena aku harus kembali ke organisasi tempatku
seharusnya berada."
"Organisasi tempat Orn seharusnya berada...?"
"Amunzerath."
"—!"
Semua orang di ruangan itu—kecuali Orn-san—tersentak
tertahan.
Pikiranku sudah tidak mampu lagi mengejar kenyataan ini. Orn-san bagian dari Amunzerath?
Organisasi
kriminal pembunuh penjelajah itu?
Sama
dengan orang-orang yang menyerang kami saat penaklukan lantai tiga puluh
Labirin Besar Selatan dulu?
"I-itu
tidak mungkin!" teriak Log dengan suara keras.
"Sebab,
orang-orang Amunzerath itu mencoba membunuh Guru! Waktu itu
kita semua memang selamat, tapi Guru sendiri yang bilang, 'Ada kemungkinan kita
semua bisa mati'!"
"Itu hanyalah kesalahpahaman akibat manipulasi
musuh. Saat itu, kami benar-benar dijebak."
"Bohong... Itu bohong! Aku tidak percaya! Karena
kalau apa yang Guru katakan itu benar, berarti kita ini musuh, kan! Aku tidak
mau!"
Carol berseru sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Memang
benar Amunzerath adalah musuh para penjelajah. Apa yang telah dilakukan
organisasi itu selama ini benar-benar tidak bisa dimaafkan. Tapi itu juga
salahku. Karena sepuluh tahun lalu aku kalah dari musuh dan
ingatanku dirampas."
"Sepuluh tahun lalu... kalah...? Jangan-jangan,
Orn-kun... Tidak
mungkin... Tapi... kalau begitu..."
Rain-san
menggumam dengan tubuh yang gemetar hebat.
"Aku
rasa aku mengerti apa yang Rain-san pikirkan sekarang. Karena itu,
izinkan aku mengatakannya. —Ini bukan salahmu. Membunuh semua orang di desa
adalah dosa mereka. Rain-san tidak perlu menyalahkan diri sendiri."
Orn-san berbicara dengan nada suara yang sangat lembut
kepadanya.
Namun, Rain-san terus menangis, matanya terbuka lebar.
Dia tampak sangat ketakutan, seperti baru saja melihat sesuatu yang mustahil,
atau seperti rahasia yang paling dalam telah terbongkar.
"Ternyata
benar... Kalau begitu, aku telah membunuh orang tua dan teman-teman Orn-kun...?
...Ma-maaf. Maafkan aku, maafkan aku—"
Rain-san jatuh terduduk dan terus membisikkan kata maaf
berulang kali.
Orn-san mendekati Rain-san, berjongkok, dan meletakkan
tangannya dengan lembut di bahu wanita itu.
"Tidak apa-apa. Aku
benar-benar tidak keberatan. Yang bersalah adalah mereka yang memaksamu
terlibat. Aku tahu Rain-san tidak punya niat buruk."
"Jangan memaafkan orang sepertiku semudah itu...
Ini salahku...
Meskipun Orn-kun memaafkanku, tetap saja aku... aku tidak bisa memaafkan diriku
sendiri...!"
"……Kalau begitu, mari kita sepakati ini. Di masa
depan, mungkin akan ada saatnya aku membutuhkan kekuatan Rain-san. Jadi saat
itu tiba, tolong pinjamkan kekuatanmu. Terus menyalahkan diri sendiri tidak
akan membawa mereka kembali. Aku tidak ingin melihat Rain-san hanya menyakiti
diri sendiri tanpa tujuan."
"Orn-kun...
Terima kasih... Maafkan aku... Jika saatnya tiba, aku akan melakukan apa pun...
Jadi jangan ragu untuk menggunakanku..."
Kami
hanya bisa terdiam melihat interaksi antara Orn-san dan Rain-san.
Aku
tahu ada sesuatu yang hanya dipahami oleh mereka berdua, tapi aku sama sekali
tidak punya gambaran apa itu sebenarnya.
...Tapi, saat melihat mereka berdua dari dekat seperti
ini, entah kenapa mereka terasa mirip. Mengapa aku berpikir begitu? Apakah
karena mereka berdua berambut hitam dan memiliki warna mata biru yang serupa?
Aku pernah dengar kalau warna rambut dan mata itu mudah
diwariskan secara genetik. Itu cuma kebetulan, kan?
"Jadi, Orn. Apa kau serius soal keluar dari
klan?"
Setelah
Rain-san sedikit lebih tenang, Wilks-san kembali bertanya pada Orn-san.
"……Ya. Aku tidak akan bercanda soal hal seperti
ini."
"Artinya, kau akan menjadi musuh kami?"
Suasana di ruangan itu seketika menjadi tegang mendengar
pertanyaan Wilks-san. Di tengah ketegangan itu, Orn-san perlahan menggelengkan
kepalanya.
"Mungkin terdengar egois setelah aku bilang akan
keluar dari klan, tapi aku ingin kita tetap berteman meski aku sudah tidak di
sini lagi. Namun, aku memang akan bermusuhan dengan Night Sky Silver Rabbit."
"Apa maksudnya? Tetap berteman, tapi bermusuhan
dengan klan?"
Kakak memiringkan kepalanya. Lebih tepatnya, aku rasa
kami semua tidak paham apa yang dimaksud Orn-san.
"Mulai sekarang, aku akan bergerak secara mencolok
untuk menghancurkan Ordo Cyclamen. Jika aku tetap berada di Night Sky
Silver Rabbit, itu hanya akan menyusahkan anggota klan yang lain. Karena
itu, aku ingin membuat Ordo percaya bahwa aku dan Night Sky Silver Rabbit
telah memutuskan hubungan."
"Guru akan bertarung melawan Ordo?"
"Ya. Aku punya dendam pribadi dengan mereka. Aku
ingin menyelesaikannya dengan tanganku sendiri. Aku tidak bisa melibatkan
kalian semua dalam keegoisanku."
"Kalau begitu aku juga akan ikut bertarung! Aku
juga punya dendam dengan Ordo!"
"Aku juga akan bertarung!"
"A-aku juga!"
"Jangan sungkan begitu, Orn. Kalau
kau bilang, kami pasti akan meminjamkan kekuatan kami!"
"Benar! Aku sudah tidak mau lagi kehilangan teman.
Biarkan kami bertarung bersamamu!"
"Orn adalah temanku—teman berharga kami. Jika teman
kami bertarung, kami juga akan ikut bertarung!"
Semua orang mengikuti pernyataan Carol. Ya, benar.
Mungkin ini akan menjadi pertarungan yang berat, tapi kalau kita semua bersama,
pasti bisa!
Orn-san tampak terkejut, seolah reaksi kami di luar
dugaannya. Perlahan, ekspresi itu berubah menjadi senyuman.
"Semuanya, terima kasih."
Semua orang merasa lega mendengar kata-kata Orn-san.
Syukurlah. Dengan begini, kita tidak perlu berpisah dengan Orn-san.
Namun, saat aku berpikir begitu, senyum Orn-san seketika
menghilang.
"—Tapi, tidak bisa."
Dia melontarkan kata-kata penolakan.
"……Kenapa?"
"Aku sangat menghargai tawaran bantuan kalian. Tapi,
jika kalian ingin membantuku, aku ingin kalian bertarung di tempat yang berbeda
dari pertempuranku melawan Ordo."
"Tempat yang berbeda?"
"Ya. Tempat itu adalah Labirin Besar. Yang ingin aku
minta dari kalian adalah menaklukkan Labirin Besar Selatan."
"Menaklukkan
Labirin Besar... Apa itu artinya bertarung bersamamu?"
"Ya.
……Mulai sekarang, dunia akan dilanda kekacauan besar. Akan ada saat-saat di
mana akal sehat tidak lagi berlaku. Kunci untuk meredam semua itu adalah
penaklukan Labirin Besar."
"Orn, apa sebenarnya yang kau lihat...?" tanya
Kakak pada Orn-san.
"Mungkin, masa depan yang sedikit lebih jauh. Aku
memprediksi bahwa ke depannya, dunia akan sangat membutuhkan penaklukan Labirin
Besar. Lagipula, menaklukkan Labirin Besar adalah tujuan awal klan ini,
kan?"
"Memang benar, tapi..."
"Aku percaya klan ini bisa mengubah badai besar
menjadi angin pendorong. Karena itu aku memohon pada kalian. Atas nama kekuatan
Night Sky Silver Rabbit, tolong selesaikan penaklukan Labirin Besar
Selatan."
"……Itukah yang kau inginkan dari kami?" Kakak
bertanya sambil menatap lurus ke arah Orn-san.
"Ya. Cepat atau lambat, seseorang harus menaklukkan
Labirin Besar itu. Jika begitu, aku ingin teman-temanku dari Night Sky
Silver Rabbit yang melakukannya."
Kakak sempat menundukkan matanya dengan sedih sejenak,
namun segera menatap Orn-san dengan pandangan yang kuat.
"Begitu ya. Baiklah. Sebenarnya aku ingin
menaklukkan Labirin Besar bersamamu. Tapi tekadmu sudah bulat, kan?"
Orn-san mengangguk mantap menanggapi pertanyaan Kakak.
"Kalau begitu, serahkan penaklukan Labirin Besar
pada kami! Kami pasti akan menyelesaikannya! Jadi kau juga, tuntaskanlah apa
yang harus kau kerjakan."
"……Terima kasih, Selma-san. Aku juga tidak akan
pernah menyerah. Aku berjanji akan memberikan seluruh jiwa dan ragaku sampai
akhir."
Setelah itu, Orn-san menceritakan apa yang kemungkinan
akan terjadi dan apa yang sedang dia coba lakukan. Itu adalah masa depan yang
bahkan tidak pernah terlintas dalam mimpi.
"……Satu tahun sejak bergabung dengan Night Sky
Silver Rabbit benar-benar menyenangkan. Terima kasih telah menerimaku
sebagai teman. —Selma-san."
"……Ada apa?"
"Terima kasih telah mengajakku yang diusir dari
kelompok Pahlawan untuk melakukan eksplorasi bimbingan. Tanpa itu, hari-hari
menyenangkan seperti ini tidak akan pernah datang. Aku tidak bisa cukup
berterima kasih padamu."
"Akulah yang harus berterima kasih. Kami bisa
menghancurkan tembok yang menghalangi kami selama ini pastinya berkat bantuan
Orn. Rasanya sepi karena tidak bisa bersamamu lagi, tapi mari
kita sama-sama berjuang ke depannya."
Setelah
Kakak dan Orn-san saling mengangguk, Orn-san mengalihkan wajahnya ke arah
Rain-san.
"—Rain-san."
"……Apa?" Rain-san menunggu kata-kata Orn-san
sambil sesenggukan.
"Sebenarnya, aku merasa sangat terselamatkan oleh
kata-katamu saat kita mengalahkan Naga Hitam di Divisi Pertama dulu. 'Jangan
takut, aku akan menerimamu apa adanya'. Terima kasih telah mengulurkan tangan
padaku saat aku sedang takut untuk menjalin pertemanan."
"Itu sudah sewajarnya. Aku kan 'Kakak'-mu. Beritahu
aku kalau kau butuh kekuatanku, ya. Aku akan membantu dalam hal apa pun."
"Itu sangat membesarkan hati. —Lucre."
"Apa ya yang bakal dibilang buatku~?"
Ketika Orn-san memanggil Lucrezia-san, dia tampak sangat bersemangat.
"Aku selalu terbantu oleh keceriaan Lucre. Suasana
nyaman di Divisi Pertama pastinya tercipta berkat bantuan Lucre. Eksplorasi
labirin bersamamu selalu menyenangkan. Terima kasih."
"Duh, dipuji setinggi langit begitu bikin aku malu~.
Aku juga sangat senang eksplorasi labirin bareng
Orn-kun! Kalau semuanya sudah beres, mari kita eksplorasi labirin
bareng lagi, ya!"
"Ya. —Will."
"……Yo."
"Kita sering melakukan hal-hal konyol berdua, ya.
Sejak menjadi penjelajah, aku hampir selalu menghabiskan waktu di dalam
labirin, jadi tempat-tempat yang kau kunjungi bersamaku semuanya terasa segar.
Terima kasih telah mengajarkan banyak hal padaku."
"Aku cuma mengajakmu ke tempat-tempat yang ingin
kukunjungi secara sepihak saja, sih. Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke lebih
banyak tempat lagi. Seperti kata Lucre, setelah semuanya berakhir, bersiaplah
untuk aku ajak berkeliling ke berbagai tempat lagi."
"Tentu. —Sophie."
"Ya, baik!"
"Sophie adalah orang yang sangat pekerja keras,
sampai-sampai ada banyak hal yang aku rasa harus kupelajari darimu. Kau pernah
menceritakan mimpimu di Dal'uane, kan? Meskipun jalannya akan sangat berat, aku
yakin Sophie bisa menjadi 'Seseorang yang bisa menyinari semua orang, seperti
rembulan yang menyinari malam'."
"……Te-terima kasih banyak. Alasan aku berada di sini
sekarang, dan alasan aku bisa menemukan tujuanku, adalah berkat Orn-san. Aku
berutang budi yang tidak akan pernah bisa kubalas. Suatu saat nanti aku pasti
akan membalasnya, jadi tolong jangan lupakan aku—lupakan kami, ya!"
"Tentu saja. Aku tidak akan pernah lupa. —Carol."
"Hmm~?"
"Carol sudah berkembang sangat pesat secara mental
dalam setahun ini. Setahun lalu kau terasa rapuh, tapi sekarang kau sudah
menjadi orang yang hebat. Teruslah buat semua orang bahagia dengan senyum
manismu itu. Tentu saja, dirimu sendiri termasuk dalam 'semua orang' itu, ya?
Jangan lupakan itu."
"Aku tahu kok~! Sekarang aku akan terus tersenyum
bukan hanya untuk orang lain, tapi juga untuk diriku sendiri! Aku bisa berpikir
begini juga berkat Guru! Terima kasih ya, Guru!"
"Sama-sama. —Log."
"……Ya."
"Kau memiliki bakat terbesar di antara semua
penjelajah yang pernah kutemui. Tidak perlu dikatakan lagi, tapi jangan sampai
kau menjadi tinggi hati karena bakat itu. Jika kau terus berkembang seperti
ini, kau akan menjadi penjelajah terbaik. Aku, sebagai gurumu, menjamin hal
itu."
"Terima
kasih banyak... Guru, aku bersumpah! Aku akan menjadi jauh lebih kuat, mengejar
dan melampaui anggota Divisi Pertama, dan aku akan menjadi penerus Guru sebagai
jagoan utama Night Sky Silver Rabbit! Aku tidak
akan memberikan posisi itu pada siapa pun!"
"Ya, berjuanglah. —Luna."
Ketika Orn-san memanggil Kak Lu, Kak Lu perlahan
menggelengkan kepalanya.
"Orn-san tidak perlu mengatakan apa-apa kepadaku. Aku sudah mengatakannya di Dal'uane, kan? 'Aku akan
menghormati pilihan Orn-san'. Silakan Orn-san maju di jalan yang kau
yakini."
"……Terima kasih. Sangat membesarkan hati mendengar
Luna berkata begitu."
Setelah itu, Orn-san bertukar kata dengan Estella-san dan
Sang Ketua. Dia kembali menatap kami semua sekali lagi.
"Semuanya, sekali lagi terima kasih untuk semuanya.
Satu tahun ini adalah harta karun bagiku. Aku serahkan penaklukan Labirin Besar
pada kalian."
Kami semua menjawab perkataan Orn-san dengan perasaan
masing-masing.
"Kalau begitu──── semuanya, jaga diri
baik-baik."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Orn-san keluar dari
ruangan.
Keheningan menyelimuti ruangan. Padahal aku sudah tidak
bisa lagi bersama Orn-san, tapi rasanya masih belum nyata.
Aku merasa jika keluar dari ruangan ini, atau besok tiba,
aku masih bisa mengobrol lagi dengan Orn-san. Padahal itu tidak mungkin.
Selama satu tahun ini, kehadiran Orn-san di dekat kami
adalah hal yang wajar. Berpikir bahwa hal yang wajar itu tidak akan datang
lagi, membuat hatiku terasa seperti berlubang besar.
"Orn-san..."
Suara yang tak sengaja keluar dari mulutku itu tidak sampai ke siapa pun, hanya lenyap begitu saja ke dalam kehampaan—.



Post a Comment