Chapter 3
Fajar Biru
Setelah mengucapkan perpisahan pada Night Sky Silver
Rabbit dan melangkah keluar, matahari rupanya telah terbenam.
Di langit, bulan purnama memancarkan cahayanya dalam
kesendirian.
Berkat perkembangan teknologi alat sihir, lampu jalan
yang menerangi kegelapan malam telah terpasang di seluruh penjuru kota.
Malam tidak lagi menjadi gelap gulita.
Namun, cahaya bulan terasa jauh lebih hangat bagiku.
"Hahaha…… Kenapa aku jadi melankolis
begini?"
Aku tahu ini akan terjadi.
Meski begitu, aku tetap memilih jalan ini.
Tetap saja, perasaan memang sesuatu yang merepotkan.
Hal-hal yang terlintas di kepalaku adalah hari-hari
bahagia yang kuhabiskan bersama semua orang di Night Sky Silver Rabbit.
Demi memastikan mereka bisa menjalani hari-hari biasa
seperti itulah, aku bertarung.
Bahkan jika aku tak lagi bisa berada di sana bersama
mereka.
"—Kalau begitu, mari kita mulai."
Begitu meneguhkan kembali tujuanku, aku mulai melangkah
seolah menggilas habis perasaan melankolis itu dengan logika.
Bagiku, hari ini adalah hari bersejarah karena aku keluar
dari Night Sky Silver Rabbit.
Namun, bagi mayoritas orang, ini hanyalah hari biasa.
Tak ada perayaan besar.
Tak ada insiden luar biasa.
Tsutrail
sering disebut sebagai Kota Penjelajah.
Mungkin
karena itulah, malam di kota ini sangat ramai oleh para penjelajah yang baru
kembali dari labirin.
Pemandangan keseharian yang sudah bosan kulihat.
Aku kini berada di tempat yang sangat kontras dengan
keseharian itu.
Sambil memastikan situasi di sekitar tempat penahanan
Oliver, aku berjalan menuju gerbang depan.
Di sana, dua orang prajurit berjaga.
"Hm? Siapa itu? Bahaya berkeliaran di tempat
seperti ini jam segini, tahu?"
Salah satu prajurit yang menjaga tempat penahanan itu
menegurku begitu melihat kehadiranku.
"Benar
juga. ……Malam-malam begini memang banyak bahaya."
Aku
mendekati mereka sambil menyahuti ucapannya sekenanya.
"Hm?
Kamu, jangan-jangan Orn Doula dari Night Sky Silver Rabbit?"
Salah satu prajurit sepertinya mengenali wajahku dan
menyadari identitasku.
"Ya, benar."
"Ada urusan apa pahlawan kerajaan di tempat seperti
ini?"
"Aku hanya ingin membebaskan rekanku yang berharga,
Oliver. Kalau kalian menghalangi, aku tidak akan segan menebas kalian."
Aku menggenggam Schwarzhase sambil memberi
peringatan.
Aku merangsek maju dengan kecepatan yang masih bisa
direspons prajurit itu, lalu mengayunkan pedang dengan lebar.
"Apa!?"
Meski terkejut, prajurit itu berhasil menahan pedangku
dengan senjatanya sendiri.
"Membebaskan Oliver!? Mana mungkin diizinkan! Tahun lalu dia mengamuk dan hampir menyebabkan bencana besar, tahu!? Apa
yang kamu pikirkan sampai ingin mengeluarkan orang berbahaya seperti
itu!?"
Prajurit itu melontarkan kecaman yang sangat masuk akal.
"Aku hanya ingin menolong sahabatku."
Dilihat dari jawabannya, dia pasti tidak tahu kalau
Oliver selama ini membantu urusan Marquis Forgas.
Yah, Oliver bergerak secara rahasia. Kasarnya, mana
mungkin prajurit rendahan tahu soal itu.
Selagi aku beradu pedang dengan prajurit itu, prajurit
satunya mengangkat sebuah alat sihir ke atas kepala.
Begitu alat sihir itu aktif, seberkas cahaya meluncur ke
langit dan meledak di udara.
Sepertinya itu peluru sinyal untuk memberitahu prajurit
lain tentang adanya gangguan.
"Hentikan! Biarpun kamu pahlawan kerajaan, jika
menyerang kami lebih jauh lagi, kamu akan dipidana!"
Prajurit yang menembakkan peluru sinyal itu memberi
peringatan.
Dia orang yang baik, masih sempat mencemaskanku padahal
aku sedang mengacau begini.
Namun, jika kata-kata seperti itu bisa menghentikanku,
aku tidak akan melakukan ini dari awal.
"Memidanaku? Coba saja kalau bisa. Itu pun kalau
orang-orang seperti kalian mampu menghakimiku!"
Aku mengamuk dengan mencolok, sambil berhati-hati agar
tidak melukai kedua prajurit itu.
Seiring berjalannya waktu, jumlah prajurit yang datang
bertambah satu demi satu.
"Apa yang terjadi!?"
Bahkan prajurit tentara pusat yang ditempatkan di Tsutrail
pun akhirnya berdatangan.
(……Sudah waktunya.)
Setelah dikepung oleh banyak prajurit, aku mulai
berakting seolah-olah aku sudah putus asa.
"Datang lagi, datang lagi. Ah, menyebalkan
sekali! Akan kuhancurkan kalian semua beserta seluruh area
ini!"
Aku memunculkan lingkaran sihir raksasa di atas kepala.
"A-apa itu!? Lingkaran sihir apa itu!?"
Salah satu prajurit berteriak sambil mendongak.
Lingkaran sihir yang bersinar memang terlihat sangat
jelas di langit malam. Sambil memikirkan hal itu di sudut kepalaku, aku
menggunakan Bird’s Eye View untuk memastikan kondisi orang-orang di
dalam jangkauan serangan.
"Hei,
jangan bodoh, Orn Doula! Kamu itu pahlawan negeri ini, kan!?"
Seseorang yang tampak seperti komandan tentara pusat
berteriak dengan wajah penuh amarah.
Aku sama sekali tidak bisa membantahnya.
Karena setelah ini, aku akan melancarkan serangan
yang melibatkan orang-orang yang tidak bersalah.
Meski begitu, kerusakan yang bisa kutoleransi hanyalah
kerusakan material.
Aku tidak boleh menimbulkan korban jiwa.
Dengan sangat teliti, aku menyusun formula sihir untuk
memastikan tidak ada yang terluka, lalu merapalkannya.
"Mau pahlawan atau apa pun, persetan! Super
Explosion!!"
Ledakan dahsyat menghantam area di sekitar tempat
penahanan.
Di saat bersamaan, aku merapalkan beberapa sihir
sekaligus untuk melindungi orang-orang di dalam jangkauan ledakan tanpa
terlihat tidak wajar.
Aku langsung melompat ke dalam kabut debu yang membumbung
menyelimuti tempat penahanan tersebut.
"Maaf membuatmu menunggu, Oliver."
Begitu sampai di hadapan Oliver, aku menyapanya.
"Aku sudah dengar rencananya, tapi kamu melakukannya
dengan sangat mencolok ya. Bagaimana dengan tahanan lain yang mencoba
kabur?"
"Ah. Aku sudah memberitahu Marquis Forgas tentang
semuanya, termasuk kondisi tempat penahanan setelah ledakan. Dia yang akan
membereskan sisanya nanti."
"Ada korban luka?"
"Tidak ada. Semuanya tanpa luka sedikit pun."
"Begitu
ya. ……Sekarang, kita sudah tidak bisa kembali lagi."
"……Ya. Tapi aku sudah siap dengan
konsekuensinya. Kalau begitu, mari kita bergabung dengan Annerie dan yang lain,
lalu pergi dari sini."
"Dimengerti."
◆◇◆
"Kamu benar-benar melakukannya ya……"
"Sampai muncul kobaran api begitu, apa
benar-benar tidak apa-apa?"
Begitu tiba di atas tembok luar, Derrick dan Annerie
yang menatap ke arah kota mulai bicara.
Saat menjenguk dulu, Oliver memintaku untuk membawa
Annerie dan Derrick bersamanya.
Meskipun kejadian ini sangat mendadak, mereka berdua
tidak terlalu panik karena sepertinya sudah tahu rencana ini dari Oliver.
"Tingkat kerusakannya sesuai dengan yang
kusampaikan pada Marquis Forgas. Aku sudah mengecek dengan Bird’s Eye View,
tidak ada korban luka, dan tahanan lain yang mencoba kabur sudah diamankan
semuanya."
"Begitu ya. Bukan kapasitas pribadiku yang baru
saja kabur untuk bicara begini, tapi syukurlah kalau begitu."
Annerie bergumam lega.
Tepat setelah turnamen bela diri tahun lalu, dia
hampir saja melepaskan sihir ke arah seluruh penonton jika tidak dihentikan
oleh Titania.
Meski pernah melakukan hal semacam itu, kini Annerie
merasa lega karena tidak ada yang terluka.
Seperti dugaanku, kejadian waktu itu memang disebabkan
oleh Perception Alteration milik Philly Carpenter, sebuah tindakan yang
bertentangan dengan kehendak aslinya.
Sepertinya
tidak ada efek samping dari Perception Alteration juga. Syukurlah.
"—Oi,
Orn."
"……Ada
apa, Derrick?"
Selagi
aku menganalisis perkataan Annerie, Derrick memanggilku.
"……Ah—
itu— ……apa ya……"
Padahal
dia sendiri yang memanggil, tapi orangnya malah memalingkan muka dan
terbata-bata.
Melihat
tingkah laku yang tidak biasa dari Derrick yang biasanya bergerak sesuka hati
ini, aku memiringkan kepala menunggu kelanjutannya. Kemudian,
dia seolah memantapkan tekad dan menatap lurus ke arahku.
Lalu, dia menundukkan kepalanya perlahan.
"—Soal saat aku mengusirmu dari party, dan setelah
itu juga…… Aku minta maaf sudah bicara kasar padamu!"
Aku terperangah melihat tindakan Derrick yang tak
terduga, lalu—
"—Aku juga, maaf sudah menghinamu sebagai orang yang
serba bisa tapi tidak berguna. Maafkan aku!"
Annerie pun ikut menundukkan kepala dan meminta maaf.
Perkembangan yang terlalu mengejutkan ini membuatku
terdiam seribu bahasa.
"…………Aku tidak menyangka akan mendapat
permintaan maaf langsung dari kalian berdua."
Saking terkejutnya, apa yang kupikirkan langsung
keluar begitu saja dari mulutku.
Mendengar gumamanku, mereka berdua memalingkan wajah
dengan canggung.
Melihat mereka, sudut bibirku terangkat.
"Tapi, aku bisa merasakan kalau permintaan maaf
kalian tulus. ……Karena itu, —aku memaafkan kalian."
Mungkin karena mereka sudah bersiap menerima omelan atau
makian dariku, mereka berdua tampak melongo saat aku menerima permintaan maaf
itu dengan mudah.
"Benar-benar……
tidak apa-apa……?"
"Iya, sudah lupakan saja. Aku sudah menerima
permintaan maaf kalian. Lagipula, fakta bahwa kalian datang ke sini berarti
kalian mau membantuku, kan? Bagiku, itu sudah lebih dari cukup."
Aku mengutarakan apa yang kupikirkan secara jujur tanpa
menutup-nutupi perasaan.
"Rasanya, aku benar-benar kalah darimu ya."
"Benar. Orn dalam satu tahun ini sudah tumbuh jadi
jauh lebih besar."
Mungkin karena sudah lepas dari ketegangan, mereka berdua
mengeluarkan suara yang terdengar lemas.
"Itu artinya bukan cuma kalian saja yang berubah.
Mohon bantuannya lagi mulai sekarang, kalian berdua."
"Ouh!"
"Mohon bantuannya, Orn!"
Ekspresi Annerie dan Derrick yang kini kembali menjadi
rekan terasa sangat cerah.
"Lagipula, melihat empat anggota Golden Dawn
berkumpul kembali seperti ini, rasanya cukup mengharukan ya."
Saat Oliver, yang sejak tadi memperhatikan interaksi
kami, bergumam lega, terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah kami.
"Kalau begitu, bukankah kalian melupakan satu orang
lagi?"
Kami semua menoleh ke arah sumber suara.
Di sana berdiri orang terakhir dari Golden Dawn
yang seharusnya tidak ada di sini—Luna.
"Luna, kenapa kamu ada di sini……?"
"Tentu saja karena aku sudah memutuskan untuk
mengikuti Orn-san."
Saat aku bertanya, Luna menjawab dengan santai seolah itu
hal yang sudah jelas.
Padahal aku berniat membiarkannya tetap di Night Sky
Silver Rabbit.
"Apa
maksudmu…… Bagaimana dengan Night Sky Silver Rabbit?"
"Apa pantas Orn-san yang baru saja keluar dari klan
mengatakan itu?"
"……Kalau ditanya begitu, aku tidak bisa membantah.
Tapi, Luna tidak perlu sampai ikut ke sisi ini—"
"—Yang menentukan itu adalah aku!"
Aku mencoba mendebat, tapi Luna langsung memotongnya
dengan tegas.
"Orn-san adalah orang yang menunjukkan jalan padaku
saat aku tersesat di kegelapan. Aku memang merasa bersalah pada semua orang di Twilight
Rainbow, tapi sejak saat itu aku sudah memutuskan untuk mengikuti Orn-san.
Jika Orn-san akan bertarung melawan Ordo sebagai anggota Amunzerath, aku
juga akan ikut bertarung!"
Luna mencurahkan perasaannya dengan tekad yang kuat
terpancar dari matanya.
"Luna memang punya sisi keras kepala ya."
"Benar sekali."
Mendengar ucapan Luna, Annerie bergumam yang kemudian
disetujui oleh Derrick.
"Orn, Luna sudah bicara sejauh itu. Bukankah
sebaiknya kamu menghormati keinginannya?"
Oliver pun ikut memberikan dukungan.
"Jangan menyesal nanti, ya?"
"Tidak masalah. Justru jika aku tetap tinggal di sini, aku pasti akan
menyesal."
"…………
Baiklah. Luna, mari pergi bersama kami."
"Iya! Mohon bantuannya!"
Begitu kuizinkan untuk ikut, Luna memamerkan senyum
lebar.
Setelah itu, kami memandang Tsutrail yang mungkin tidak
akan pernah kami datangi lagi untuk beberapa waktu, lalu membalikkan punggung
pada kota itu.
"—Ayo jalan."
Begitu aku memberi komando,
Oliver menjawab dengan mata menyipit senang,
"Ya!"
Luna menjawab dengan wajah serius, "Baik!"
Annerie menjawab dengan senyum menantang,
"Tentu!"
Derrick menjawab dengan ekspresi penuh semangat,
"Ouh!"
Masing-masing dari mereka menyahut.
Hal itu mengingatkanku pada satu adegan tepat sebelum
Golden Dawn menantang Labirin Besar dulu—.
◇◇◇
"Sudah dimulai ya……"
Sambil menatap lingkaran sihir yang terlukis di
langit malam dari jendela ruang kerja, aku—Ketua Night Sky Silver Rabbit,
Vince Briars—bergumam pelan.
Saat menurunkan pandangan ke meja, dua lembar surat
pengunduran diri terlihat di depan mataku.
Aku sudah diberitahu apa yang akan dilakukan Orn.
Meskipun terdengar suara ledakan besar di kejauhan, aku
tidak terlalu terkejut.
Meski aku baru berinteraksi dengannya selama setahun, itu
sudah lebih dari cukup untuk mengetahui bahwa dia adalah orang yang sangat baik
hati.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Orn memicu
keributan ini demi melindungi Night Sky Silver Rabbit, dan yang
terpenting, demi melindungi para anggota yang bernaung di dalamnya.
Aku teringat kata-kata yang diucapkan Orn di hadapan para
petinggi klan.
"Aku tidak berniat menyerahkan seluruh hidupku untuk
klan ini. Tapi, —sebagai anggota Night Sky Silver Rabbit, dalam situasi
apa pun, aku akan mengerahkan segalanya demi melindungi rekan-rekanku."
Karena kekuatan kami tidak cukup, Orn terpaksa
menggunakan cara seperti ini. Jika saja kami memiliki kekuatan lebih, mungkin
ada jalan yang berbeda.
"……Percuma saja mengeluh sekarang. Jika memang tidak
punya kekuatan, kami hanya bisa melakukan apa yang kami bisa dengan segenap
tenaga."
Hal yang dia minta dari kami adalah penaklukan Labirin
Besar Selatan.
Kami harus menyelesaikannya apa pun yang terjadi.
Sebab, itulah cara kami membalas budi kepadanya yang
telah mencoba melindungi kami.
Dadu telah dilemparkan.
Aku juga akan melakukan pekerjaanku.
Tak lama lagi, Marquis Forgas pasti akan mengumumkan
bahwa pelaku insiden ini adalah Orn.
Di saat yang sama, Orn akan menjadi buronan resmi.
"Setelah itu, barulah giliranku. Aku akan segera
mengumumkan pencopotan nama Orn dan Luna dari keanggotaan klan. Semua itu demi
menyebarkan kabar luas bahwa Orn dan Night Sky Silver Rabbit telah resmi
memutuskan hubungan."
Setelah meneguhkan kembali tugas yang harus kulakukan,
aku membakar dua pucuk surat pengunduran diri di tanganku agar tidak terpantau
oleh siapa pun.
◇◇◇
"Tuan Lintas, laporan mengenai ledakan tadi baru
saja tiba. Fasilitas penahanan hancur separuh akibat ledakan tersebut. Beberapa
bangunan di sekitarnya juga dikabarkan runtuh."
Prajurit yang datang ke ruang kerjaku mulai melapor.
Karena sudah mendengar detailnya dari Orn sebelumnya, aku tidak terlalu
terkejut.
Untungnya, penguatan patroli di sekitar fasilitas
penahanan yang dilakukan sebelumnya membuahkan hasil. Semua pelaku kriminal
yang mencoba kabur berhasil ditangkap, kecuali kelompok Oliver.
Kebakaran yang terjadi sesaat setelah ledakan juga sudah
berhasil dipadamkan.
"Bagaimana dengan warga?"
"Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai korban
luka. Mengingat skala ledakannya, ini benar-benar sebuah keajaiban."
Sepertinya Orn menepati janjinya. Aku tidak yakin ada
orang lain yang bisa melakukan teknik serumit itu. Memang hebat, tidak ada kata
lain yang bisa menggambarkannya.
"Baiklah. Lalu, apakah insiden kali ini ada
hubungannya dengan Kekaisaran?"
Meski aku tahu kebenaran di baliknya, aku harus tetap
berpura-pura tidak tahu apa-apa di depan publik. Saat aku bertanya dengan wajah
polos, prajurit itu menggelengkan kepala.
"Tidak, sepertinya ini tidak ada hubungannya
dengan Kekaisaran."
"Apa dasar pemikiranmu?"
"Itu... anu..."
"Apa yang perlu disembunyikan? Cepat katakan."
"Si-siap! Di lokasi kejadian, banyak prajurit yang
bersaksi bahwa Orn Doula adalah pelakunya..."
"Orn pelakunya?"
"Sebelum ledakan terjadi, dia dikabarkan berkata
kepada prajurit jaga bahwa tujuannya adalah membebaskan Oliver Cardiff. Karena
kami melawan dan dia dikepung oleh banyak pasukan, sepertinya dia meledakkan
tempat itu karena merasa terdesak."
Mendengar ceritanya, dia benar-benar berakting dengan
sangat mencolok. Saksi matanya begitu banyak sampai tidak ada celah untuk
mengelak.
"……Begitu ya. Masukkan Orn ke dalam daftar buronan.
Segera umumkan ke seluruh wilayah. Laporan untuk pihak istana biar aku sendiri
yang urus."
"Dimengerti! Akan segera saya laksanakan!"
Prajurit yang menerima instruksiku segera meninggalkan
ruangan. Setelah suasana menjadi sepi, aku bersandar pada sandaran kursi dan
menatap langit-langit.
Demi mendapatkan keselamatan bagi warga lainnya, aku
telah mengorbankan pemuda yang selama setahun ini telah membawa banyak manfaat
bagi Tsutrail.
Aku sangat sadar bahwa dunia ini tidak bisa berputar
hanya dengan kata-kata indah saja. Meski begitu, rasa bersalah tetap
menyesakkan dada.
"Orn-kun, maafkan aku. Aku tidak punya hak untuk
mengatakan ini, tapi kumohon, raihlah masa depan yang kau harapkan. Masa depan di mana kau bisa menghabiskan hari-hari dengan
tersenyum."
Gumamanku melebur ke dalam kegelapan malam, tanpa
pernah sampai ke telinga siapa pun—.
◇◇◇
"…………Eungh, sudah pagi……?"
Saat aku terbangun, cahaya matahari yang menembus
tirai tipis menerangi kamar dengan lembut.
Mungkin karena kelelahan perjalanan dari Dal'uane ke Tsutrail,
atau efek dari pengumuman mendadak Orn-san kemarin tentang pengunduran dirinya,
kelopak mataku terasa lebih berat dari biasanya.
Namun, aku sadar tidak bisa terus bermalas-malasan,
jadi aku perlahan bangkit dari tempat tidur.
"—Selamat pagi, Sophia."
Suara Kakak yang sedang bersiap-siap memecah
keheningan pagi yang tenang. Kakak berjalan mendekat ke arahku dengan senyum
lembut tersungging di wajahnya.
"Ehm. Pagi, Kak."
Aku duduk di tepi ranjang sambil menggeleng-gelengkan
kepala yang belum sepenuhnya sadar.
Kakak meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja
nakas. Di atas nampan itu terdapat cangkir teh yang uapnya masih mengepul.
"Bisa tidur nyenyak semalam?" tanya Kakak. Ada
nada perhatian yang tulus dalam suaranya.
"Terima
kasih. ……Yah, lumayan lah. Aku masih kepikiran banyak hal soal kemarin."
Sambil
menjawab, aku meraih cangkir teh tersebut. Begitu aku mendekatkannya ke wajah,
aroma teh yang kaya menyapa indra penciumanku.
"……Benar
juga. Hanya dalam satu hari kemarin, lingkungan di sekitar klan berubah
drastis."
Aku
mengangguk sambil menyesap teh tersebut. Aroma yang elegan dan menenangkan
menyebar di mulut, membuat hatiku sedikit lebih rileks.
Seperti
kata Kakak, informasi bahwa Orn-san menyerang fasilitas penahanan kemarin
tersebar ke seluruh Tsutrail dalam sekejap mata.
Berhasil
melumpuhkan Oliver-san yang mengamuk di Festival Syukur tahun lalu demi
melindungi Tsutrail, hingga pencapaian Night Sky Silver Rabbit mencapai
lantai sembilan puluh empat Labirin Besar Selatan—setara dengan Kelompok
Pahlawan—membuat reputasi Orn-san sebagai penjelajah nomor satu di Tsutrail
kian kokoh selama setahun terakhir.
Ada
banyak anggota klan yang sangat mengagumi Orn-san, dan aku yakin banyak orang
di luar klan yang menantikan kiprahnya lebih jauh.
Justru
karena itulah, kabar bahwa Orn-san menyerang fasilitas penahanan dan menghilang
bersama anggota Kelompok Pahlawan menjadi kejutan yang terlalu besar.
Karena
aku sudah diberitahu oleh Orn-san sebelumnya, aku tidak terlalu panik. Namun,
kekacauan di antara para anggota klan yang mendengarnya secara tiba-tiba
benar-benar luar biasa.
……Tentu saja. Semua kejadian kemarin itu bukan mimpi, ya.
"Sophia, jangan terlalu memaksakan diri, ya? Aku
harus berangkat sekarang, tapi kalau ada apa-apa, segera hubungi aku."
"Iya. Kakak juga jangan memaksakan diri, ya?"
"Ah, aku mengerti. Kalau begitu, aku pergi du—oh,
iya hampir lupa. Pagi tadi ada surat untuk Sophia. Sudah kutaruh di atas meja,
nanti tolong dicek, ya."
"……Surat untukku? Iya, baiklah."
"Kalau begitu, kali ini benar-benar—aku
berangkat dulu."
"Hati-hati di jalan, Kak."
Sambil merasa heran karena jarang-jarang menerima
surat sejak pindah ke sini, aku mengantar kepergian Kakak.
◆◇◆
"Yang ini, ya?"
Setelah Kakak pergi, aku mengambil amplop yang
tergeletak di meja. Meski merasa aneh karena tidak ada nama pengirimnya, aku
membuka segelnya perlahan.
Di dalamnya terdapat selembar kertas surat. Begitu
membaca isinya yang ditulis dengan tulisan tangan yang akrab, aku segera tahu
bahwa pengirimnya adalah Kak Lu.
Untuk
Sophie,
Maaf ya
jika surat mendadak ini mengejutkanmu.
Aku
langsung ke intinya saja, ya. —Aku memutuskan untuk keluar dari Night Sky
Silver Rabbit dan mengikuti Orn-san. Surat ini akan kukirimkan tepat
sebelum aku meninggalkan klan, jadi saat Sophie membacanya, aku pasti sudah
tidak ada lagi di sini.
Tempo
hari aku pernah bilang padamu, kan? Bahwa aku sudah menetapkan hati untuk
mengikuti Orn-san.
Walau
ini adalah keputusan atas kemauanku sendiri, aku tetap merasa sangat bersalah
kepada Sophie dan teman-teman Twilight Rainbow lainnya yang telah
menerimaku.
Aku
benar-benar minta maaf karena harus berpisah dengan cara seperti ini.
Namun,
membantu apa yang sedang diupayakan Orn-san adalah hal yang ingin kulakukan,
dan menurutku inilah pilihan terbaik bagiku.
Aku
tidak tahu apakah keputusan ini benar atau salah, tapi aku hanya ingin jujur
pada kata hatiku.
Selama
membentuk party bersama, aku berniat mendukung kalian dari balik layar.
Namun
jika diingat kembali, sepertinya akulah yang selalu kalian dukung. Senyum
dan kebaikan kalian selalu menyelamatkanku dalam situasi apa pun.
Sophie
sudah tumbuh sangat pesat selama setahun ini. Sekarang kau memiliki kemampuan
yang tidak kalah dari penjelajah tingkat atas. Aku
yang melihatmu dari jarak paling dekat bisa menjamin hal itu.
Dalam
waktu dekat, kau pasti akan menjadi salah satu sosok kunci di Night Sky
Silver Rabbit dan memimpin klan ini.
Aku
tidak bisa membayangkan seberapa berat beban memikul organisasi sebesar itu,
tapi aku percaya Sophie pasti bisa melakukannya.
Kekuatan
dan kelembutanmu akan menjadi pilar yang mendukung semua orang.
Namun,
kumohon jangan memaksakan diri. Karena yang terpenting adalah kau bisa tetap
menjadi dirimu sendiri.
Mungkin
aku yang meninggalkan kalian tidak punya hak bicara begini, tapi meski terpisah
jauh, hatiku selalu bersama kalian.
Terima
kasih untuk segalanya selama ini. Aku akan mendukung penaklukan Labirin Besar
Selatan dari jauh.
Dari Luna.
"……Kak Lu…………"
Setelah membaca surat dari Kak Lu, ternyata aku tidak
sesedih yang kukira.
Bukan berarti aku tidak sedih karena dia pergi, tapi aku
lebih merasa iri kepadanya yang bisa dengan teguh mempertahankan prinsipnya
sendiri.
Bukan, bukan cuma Kak Lu. Orn-san juga sudah mulai
melangkah menuju idealisme yang ia tuju. Begitu juga dengan Kakak.
Padahal Kakak pasti lebih terpukul dariku soal
pengunduran diri Orn-san, tapi Kakak melepasnya dengan senyuman dan mencoba
melakukan tugas yang harus ia selesaikan.
Semua orang sudah mulai menempuh jalan mereka
masing-masing.
"……Kalau cuma aku yang terpuruk di tempat seperti
ini, aku bakal tertinggal oleh mereka semua……!"
Masa depan yang diceritakan Orn-san memang mengejutkan.
Namun, jika aku melangkah teguh menuju tujuanku, justru di masa depan seperti
itulah sosok ideal yang kuincar akan dibutuhkan!
Aku tidak boleh terus meratapi keadaan. Aku harus
melangkah maju. Orn-san telah memercayakan mimpi penaklukan Labirin Besar
kepada kami. Aku sendiri pun punya sosok yang ingin kucapai.
"Demi mewujudkannya, aku tidak punya waktu untuk
diam di tempat!"
Mungkin ke depannya akan ada banyak "perubahan" lainnya. Meski begitu, aku harus terus berjuang sebagai diriku sendiri!



Post a Comment