NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 8 Chapter 3

Chapter 3

Fajar Biru


Setelah mengucapkan perpisahan pada Night Sky Silver Rabbit dan melangkah keluar, matahari rupanya telah terbenam.

Di langit, bulan purnama memancarkan cahayanya dalam kesendirian.

Berkat perkembangan teknologi alat sihir, lampu jalan yang menerangi kegelapan malam telah terpasang di seluruh penjuru kota.

Malam tidak lagi menjadi gelap gulita.

Namun, cahaya bulan terasa jauh lebih hangat bagiku.

"Hahaha…… Kenapa aku jadi melankolis begini?"

Aku tahu ini akan terjadi.

Meski begitu, aku tetap memilih jalan ini.

Tetap saja, perasaan memang sesuatu yang merepotkan.

Hal-hal yang terlintas di kepalaku adalah hari-hari bahagia yang kuhabiskan bersama semua orang di Night Sky Silver Rabbit.

Demi memastikan mereka bisa menjalani hari-hari biasa seperti itulah, aku bertarung.

Bahkan jika aku tak lagi bisa berada di sana bersama mereka.

"—Kalau begitu, mari kita mulai."

Begitu meneguhkan kembali tujuanku, aku mulai melangkah seolah menggilas habis perasaan melankolis itu dengan logika.

Bagiku, hari ini adalah hari bersejarah karena aku keluar dari Night Sky Silver Rabbit.

Namun, bagi mayoritas orang, ini hanyalah hari biasa.

Tak ada perayaan besar.

Tak ada insiden luar biasa.

Tsutrail sering disebut sebagai Kota Penjelajah.

Mungkin karena itulah, malam di kota ini sangat ramai oleh para penjelajah yang baru kembali dari labirin.

Pemandangan keseharian yang sudah bosan kulihat.

Aku kini berada di tempat yang sangat kontras dengan keseharian itu.

Sambil memastikan situasi di sekitar tempat penahanan Oliver, aku berjalan menuju gerbang depan.

Di sana, dua orang prajurit berjaga.

"Hm? Siapa itu? Bahaya berkeliaran di tempat seperti ini jam segini, tahu?"

Salah satu prajurit yang menjaga tempat penahanan itu menegurku begitu melihat kehadiranku.

"Benar juga. ……Malam-malam begini memang banyak bahaya."

Aku mendekati mereka sambil menyahuti ucapannya sekenanya.

"Hm? Kamu, jangan-jangan Orn Doula dari Night Sky Silver Rabbit?"

Salah satu prajurit sepertinya mengenali wajahku dan menyadari identitasku.

"Ya, benar."

"Ada urusan apa pahlawan kerajaan di tempat seperti ini?"

"Aku hanya ingin membebaskan rekanku yang berharga, Oliver. Kalau kalian menghalangi, aku tidak akan segan menebas kalian."

Aku menggenggam Schwarzhase sambil memberi peringatan.

Aku merangsek maju dengan kecepatan yang masih bisa direspons prajurit itu, lalu mengayunkan pedang dengan lebar.

"Apa!?"

Meski terkejut, prajurit itu berhasil menahan pedangku dengan senjatanya sendiri.

"Membebaskan Oliver!? Mana mungkin diizinkan! Tahun lalu dia mengamuk dan hampir menyebabkan bencana besar, tahu!? Apa yang kamu pikirkan sampai ingin mengeluarkan orang berbahaya seperti itu!?"

Prajurit itu melontarkan kecaman yang sangat masuk akal.

"Aku hanya ingin menolong sahabatku."

Dilihat dari jawabannya, dia pasti tidak tahu kalau Oliver selama ini membantu urusan Marquis Forgas.

Yah, Oliver bergerak secara rahasia. Kasarnya, mana mungkin prajurit rendahan tahu soal itu.

Selagi aku beradu pedang dengan prajurit itu, prajurit satunya mengangkat sebuah alat sihir ke atas kepala.

Begitu alat sihir itu aktif, seberkas cahaya meluncur ke langit dan meledak di udara.

Sepertinya itu peluru sinyal untuk memberitahu prajurit lain tentang adanya gangguan.

"Hentikan! Biarpun kamu pahlawan kerajaan, jika menyerang kami lebih jauh lagi, kamu akan dipidana!"

Prajurit yang menembakkan peluru sinyal itu memberi peringatan.

Dia orang yang baik, masih sempat mencemaskanku padahal aku sedang mengacau begini.

Namun, jika kata-kata seperti itu bisa menghentikanku, aku tidak akan melakukan ini dari awal.

"Memidanaku? Coba saja kalau bisa. Itu pun kalau orang-orang seperti kalian mampu menghakimiku!"

Aku mengamuk dengan mencolok, sambil berhati-hati agar tidak melukai kedua prajurit itu.

Seiring berjalannya waktu, jumlah prajurit yang datang bertambah satu demi satu.

"Apa yang terjadi!?"

Bahkan prajurit tentara pusat yang ditempatkan di Tsutrail pun akhirnya berdatangan.

(……Sudah waktunya.)

Setelah dikepung oleh banyak prajurit, aku mulai berakting seolah-olah aku sudah putus asa.

"Datang lagi, datang lagi. Ah, menyebalkan sekali! Akan kuhancurkan kalian semua beserta seluruh area ini!"

Aku memunculkan lingkaran sihir raksasa di atas kepala.

"A-apa itu!? Lingkaran sihir apa itu!?"

Salah satu prajurit berteriak sambil mendongak.

Lingkaran sihir yang bersinar memang terlihat sangat jelas di langit malam. Sambil memikirkan hal itu di sudut kepalaku, aku menggunakan Bird’s Eye View untuk memastikan kondisi orang-orang di dalam jangkauan serangan.

"Hei, jangan bodoh, Orn Doula! Kamu itu pahlawan negeri ini, kan!?"

Seseorang yang tampak seperti komandan tentara pusat berteriak dengan wajah penuh amarah.

Aku sama sekali tidak bisa membantahnya.

Karena setelah ini, aku akan melancarkan serangan yang melibatkan orang-orang yang tidak bersalah.

Meski begitu, kerusakan yang bisa kutoleransi hanyalah kerusakan material.

Aku tidak boleh menimbulkan korban jiwa.

Dengan sangat teliti, aku menyusun formula sihir untuk memastikan tidak ada yang terluka, lalu merapalkannya.

"Mau pahlawan atau apa pun, persetan! Super Explosion!!"

Ledakan dahsyat menghantam area di sekitar tempat penahanan.

Di saat bersamaan, aku merapalkan beberapa sihir sekaligus untuk melindungi orang-orang di dalam jangkauan ledakan tanpa terlihat tidak wajar.

Aku langsung melompat ke dalam kabut debu yang membumbung menyelimuti tempat penahanan tersebut.

"Maaf membuatmu menunggu, Oliver."

Begitu sampai di hadapan Oliver, aku menyapanya.

"Aku sudah dengar rencananya, tapi kamu melakukannya dengan sangat mencolok ya. Bagaimana dengan tahanan lain yang mencoba kabur?"

"Ah. Aku sudah memberitahu Marquis Forgas tentang semuanya, termasuk kondisi tempat penahanan setelah ledakan. Dia yang akan membereskan sisanya nanti."

"Ada korban luka?"

"Tidak ada. Semuanya tanpa luka sedikit pun."

"Begitu ya. ……Sekarang, kita sudah tidak bisa kembali lagi."

"……Ya. Tapi aku sudah siap dengan konsekuensinya. Kalau begitu, mari kita bergabung dengan Annerie dan yang lain, lalu pergi dari sini."

"Dimengerti."

◆◇◆

"Kamu benar-benar melakukannya ya……"

"Sampai muncul kobaran api begitu, apa benar-benar tidak apa-apa?"

Begitu tiba di atas tembok luar, Derrick dan Annerie yang menatap ke arah kota mulai bicara.

Saat menjenguk dulu, Oliver memintaku untuk membawa Annerie dan Derrick bersamanya.

Meskipun kejadian ini sangat mendadak, mereka berdua tidak terlalu panik karena sepertinya sudah tahu rencana ini dari Oliver.

"Tingkat kerusakannya sesuai dengan yang kusampaikan pada Marquis Forgas. Aku sudah mengecek dengan Bird’s Eye View, tidak ada korban luka, dan tahanan lain yang mencoba kabur sudah diamankan semuanya."

"Begitu ya. Bukan kapasitas pribadiku yang baru saja kabur untuk bicara begini, tapi syukurlah kalau begitu."

Annerie bergumam lega.

Tepat setelah turnamen bela diri tahun lalu, dia hampir saja melepaskan sihir ke arah seluruh penonton jika tidak dihentikan oleh Titania.

Meski pernah melakukan hal semacam itu, kini Annerie merasa lega karena tidak ada yang terluka.

Seperti dugaanku, kejadian waktu itu memang disebabkan oleh Perception Alteration milik Philly Carpenter, sebuah tindakan yang bertentangan dengan kehendak aslinya.

Sepertinya tidak ada efek samping dari Perception Alteration juga. Syukurlah.

"—Oi, Orn."

"……Ada apa, Derrick?"

Selagi aku menganalisis perkataan Annerie, Derrick memanggilku.

"……Ah— itu— ……apa ya……"

Padahal dia sendiri yang memanggil, tapi orangnya malah memalingkan muka dan terbata-bata.

Melihat tingkah laku yang tidak biasa dari Derrick yang biasanya bergerak sesuka hati ini, aku memiringkan kepala menunggu kelanjutannya. Kemudian, dia seolah memantapkan tekad dan menatap lurus ke arahku.

Lalu, dia menundukkan kepalanya perlahan.

"—Soal saat aku mengusirmu dari party, dan setelah itu juga…… Aku minta maaf sudah bicara kasar padamu!"

Aku terperangah melihat tindakan Derrick yang tak terduga, lalu—

"—Aku juga, maaf sudah menghinamu sebagai orang yang serba bisa tapi tidak berguna. Maafkan aku!"

Annerie pun ikut menundukkan kepala dan meminta maaf.

Perkembangan yang terlalu mengejutkan ini membuatku terdiam seribu bahasa.

"…………Aku tidak menyangka akan mendapat permintaan maaf langsung dari kalian berdua."

Saking terkejutnya, apa yang kupikirkan langsung keluar begitu saja dari mulutku.

Mendengar gumamanku, mereka berdua memalingkan wajah dengan canggung.

Melihat mereka, sudut bibirku terangkat.

"Tapi, aku bisa merasakan kalau permintaan maaf kalian tulus. ……Karena itu, —aku memaafkan kalian."

Mungkin karena mereka sudah bersiap menerima omelan atau makian dariku, mereka berdua tampak melongo saat aku menerima permintaan maaf itu dengan mudah.

"Benar-benar…… tidak apa-apa……?"

"Iya, sudah lupakan saja. Aku sudah menerima permintaan maaf kalian. Lagipula, fakta bahwa kalian datang ke sini berarti kalian mau membantuku, kan? Bagiku, itu sudah lebih dari cukup."

Aku mengutarakan apa yang kupikirkan secara jujur tanpa menutup-nutupi perasaan.

"Rasanya, aku benar-benar kalah darimu ya."

"Benar. Orn dalam satu tahun ini sudah tumbuh jadi jauh lebih besar."

Mungkin karena sudah lepas dari ketegangan, mereka berdua mengeluarkan suara yang terdengar lemas.

"Itu artinya bukan cuma kalian saja yang berubah. Mohon bantuannya lagi mulai sekarang, kalian berdua."

"Ouh!"

"Mohon bantuannya, Orn!"

Ekspresi Annerie dan Derrick yang kini kembali menjadi rekan terasa sangat cerah.

"Lagipula, melihat empat anggota Golden Dawn berkumpul kembali seperti ini, rasanya cukup mengharukan ya."

Saat Oliver, yang sejak tadi memperhatikan interaksi kami, bergumam lega, terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah kami.

"Kalau begitu, bukankah kalian melupakan satu orang lagi?"

Kami semua menoleh ke arah sumber suara.

Di sana berdiri orang terakhir dari Golden Dawn yang seharusnya tidak ada di sini—Luna.

"Luna, kenapa kamu ada di sini……?"

"Tentu saja karena aku sudah memutuskan untuk mengikuti Orn-san."

Saat aku bertanya, Luna menjawab dengan santai seolah itu hal yang sudah jelas.

Padahal aku berniat membiarkannya tetap di Night Sky Silver Rabbit.

"Apa maksudmu…… Bagaimana dengan Night Sky Silver Rabbit?"

"Apa pantas Orn-san yang baru saja keluar dari klan mengatakan itu?"

"……Kalau ditanya begitu, aku tidak bisa membantah. Tapi, Luna tidak perlu sampai ikut ke sisi ini—"

"—Yang menentukan itu adalah aku!"

Aku mencoba mendebat, tapi Luna langsung memotongnya dengan tegas.

"Orn-san adalah orang yang menunjukkan jalan padaku saat aku tersesat di kegelapan. Aku memang merasa bersalah pada semua orang di Twilight Rainbow, tapi sejak saat itu aku sudah memutuskan untuk mengikuti Orn-san. Jika Orn-san akan bertarung melawan Ordo sebagai anggota Amunzerath, aku juga akan ikut bertarung!"

Luna mencurahkan perasaannya dengan tekad yang kuat terpancar dari matanya.

"Luna memang punya sisi keras kepala ya."

"Benar sekali."

Mendengar ucapan Luna, Annerie bergumam yang kemudian disetujui oleh Derrick.

"Orn, Luna sudah bicara sejauh itu. Bukankah sebaiknya kamu menghormati keinginannya?"

Oliver pun ikut memberikan dukungan.

"Jangan menyesal nanti, ya?"

"Tidak masalah. Justru jika aku tetap tinggal di sini, aku pasti akan menyesal."

"………… Baiklah. Luna, mari pergi bersama kami."

"Iya! Mohon bantuannya!"

Begitu kuizinkan untuk ikut, Luna memamerkan senyum lebar.

Setelah itu, kami memandang Tsutrail yang mungkin tidak akan pernah kami datangi lagi untuk beberapa waktu, lalu membalikkan punggung pada kota itu.

"—Ayo jalan."

Begitu aku memberi komando,

Oliver menjawab dengan mata menyipit senang, "Ya!"

Luna menjawab dengan wajah serius, "Baik!"

Annerie menjawab dengan senyum menantang, "Tentu!"

Derrick menjawab dengan ekspresi penuh semangat, "Ouh!"

Masing-masing dari mereka menyahut.

Hal itu mengingatkanku pada satu adegan tepat sebelum Golden Dawn menantang Labirin Besar dulu—.

◇◇◇

"Sudah dimulai ya……"

Sambil menatap lingkaran sihir yang terlukis di langit malam dari jendela ruang kerja, aku—Ketua Night Sky Silver Rabbit, Vince Briars—bergumam pelan.

Saat menurunkan pandangan ke meja, dua lembar surat pengunduran diri terlihat di depan mataku.

Aku sudah diberitahu apa yang akan dilakukan Orn.

Meskipun terdengar suara ledakan besar di kejauhan, aku tidak terlalu terkejut.

Meski aku baru berinteraksi dengannya selama setahun, itu sudah lebih dari cukup untuk mengetahui bahwa dia adalah orang yang sangat baik hati.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Orn memicu keributan ini demi melindungi Night Sky Silver Rabbit, dan yang terpenting, demi melindungi para anggota yang bernaung di dalamnya.

Aku teringat kata-kata yang diucapkan Orn di hadapan para petinggi klan.

"Aku tidak berniat menyerahkan seluruh hidupku untuk klan ini. Tapi, —sebagai anggota Night Sky Silver Rabbit, dalam situasi apa pun, aku akan mengerahkan segalanya demi melindungi rekan-rekanku."

Karena kekuatan kami tidak cukup, Orn terpaksa menggunakan cara seperti ini. Jika saja kami memiliki kekuatan lebih, mungkin ada jalan yang berbeda.

"……Percuma saja mengeluh sekarang. Jika memang tidak punya kekuatan, kami hanya bisa melakukan apa yang kami bisa dengan segenap tenaga."

Hal yang dia minta dari kami adalah penaklukan Labirin Besar Selatan.

Kami harus menyelesaikannya apa pun yang terjadi.

Sebab, itulah cara kami membalas budi kepadanya yang telah mencoba melindungi kami.

Dadu telah dilemparkan.

Aku juga akan melakukan pekerjaanku.

Tak lama lagi, Marquis Forgas pasti akan mengumumkan bahwa pelaku insiden ini adalah Orn.

Di saat yang sama, Orn akan menjadi buronan resmi.

"Setelah itu, barulah giliranku. Aku akan segera mengumumkan pencopotan nama Orn dan Luna dari keanggotaan klan. Semua itu demi menyebarkan kabar luas bahwa Orn dan Night Sky Silver Rabbit telah resmi memutuskan hubungan."

Setelah meneguhkan kembali tugas yang harus kulakukan, aku membakar dua pucuk surat pengunduran diri di tanganku agar tidak terpantau oleh siapa pun.

◇◇◇

"Tuan Lintas, laporan mengenai ledakan tadi baru saja tiba. Fasilitas penahanan hancur separuh akibat ledakan tersebut. Beberapa bangunan di sekitarnya juga dikabarkan runtuh."

Prajurit yang datang ke ruang kerjaku mulai melapor. Karena sudah mendengar detailnya dari Orn sebelumnya, aku tidak terlalu terkejut.

Untungnya, penguatan patroli di sekitar fasilitas penahanan yang dilakukan sebelumnya membuahkan hasil. Semua pelaku kriminal yang mencoba kabur berhasil ditangkap, kecuali kelompok Oliver.

Kebakaran yang terjadi sesaat setelah ledakan juga sudah berhasil dipadamkan.

"Bagaimana dengan warga?"

"Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai korban luka. Mengingat skala ledakannya, ini benar-benar sebuah keajaiban."

Sepertinya Orn menepati janjinya. Aku tidak yakin ada orang lain yang bisa melakukan teknik serumit itu. Memang hebat, tidak ada kata lain yang bisa menggambarkannya.

"Baiklah. Lalu, apakah insiden kali ini ada hubungannya dengan Kekaisaran?"

Meski aku tahu kebenaran di baliknya, aku harus tetap berpura-pura tidak tahu apa-apa di depan publik. Saat aku bertanya dengan wajah polos, prajurit itu menggelengkan kepala.

"Tidak, sepertinya ini tidak ada hubungannya dengan Kekaisaran."

"Apa dasar pemikiranmu?"

"Itu... anu..."

"Apa yang perlu disembunyikan? Cepat katakan."

"Si-siap! Di lokasi kejadian, banyak prajurit yang bersaksi bahwa Orn Doula adalah pelakunya..."

"Orn pelakunya?"

"Sebelum ledakan terjadi, dia dikabarkan berkata kepada prajurit jaga bahwa tujuannya adalah membebaskan Oliver Cardiff. Karena kami melawan dan dia dikepung oleh banyak pasukan, sepertinya dia meledakkan tempat itu karena merasa terdesak."

Mendengar ceritanya, dia benar-benar berakting dengan sangat mencolok. Saksi matanya begitu banyak sampai tidak ada celah untuk mengelak.

"……Begitu ya. Masukkan Orn ke dalam daftar buronan. Segera umumkan ke seluruh wilayah. Laporan untuk pihak istana biar aku sendiri yang urus."

"Dimengerti! Akan segera saya laksanakan!"

Prajurit yang menerima instruksiku segera meninggalkan ruangan. Setelah suasana menjadi sepi, aku bersandar pada sandaran kursi dan menatap langit-langit.

Demi mendapatkan keselamatan bagi warga lainnya, aku telah mengorbankan pemuda yang selama setahun ini telah membawa banyak manfaat bagi Tsutrail.

Aku sangat sadar bahwa dunia ini tidak bisa berputar hanya dengan kata-kata indah saja. Meski begitu, rasa bersalah tetap menyesakkan dada.

"Orn-kun, maafkan aku. Aku tidak punya hak untuk mengatakan ini, tapi kumohon, raihlah masa depan yang kau harapkan. Masa depan di mana kau bisa menghabiskan hari-hari dengan tersenyum."

Gumamanku melebur ke dalam kegelapan malam, tanpa pernah sampai ke telinga siapa pun—.

◇◇◇

"…………Eungh, sudah pagi……?"

Saat aku terbangun, cahaya matahari yang menembus tirai tipis menerangi kamar dengan lembut.

Mungkin karena kelelahan perjalanan dari Dal'uane ke Tsutrail, atau efek dari pengumuman mendadak Orn-san kemarin tentang pengunduran dirinya, kelopak mataku terasa lebih berat dari biasanya.

Namun, aku sadar tidak bisa terus bermalas-malasan, jadi aku perlahan bangkit dari tempat tidur.

"—Selamat pagi, Sophia."

Suara Kakak yang sedang bersiap-siap memecah keheningan pagi yang tenang. Kakak berjalan mendekat ke arahku dengan senyum lembut tersungging di wajahnya.

"Ehm. Pagi, Kak."

Aku duduk di tepi ranjang sambil menggeleng-gelengkan kepala yang belum sepenuhnya sadar.

Kakak meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja nakas. Di atas nampan itu terdapat cangkir teh yang uapnya masih mengepul.

"Bisa tidur nyenyak semalam?" tanya Kakak. Ada nada perhatian yang tulus dalam suaranya.

"Terima kasih. ……Yah, lumayan lah. Aku masih kepikiran banyak hal soal kemarin."

Sambil menjawab, aku meraih cangkir teh tersebut. Begitu aku mendekatkannya ke wajah, aroma teh yang kaya menyapa indra penciumanku.

"……Benar juga. Hanya dalam satu hari kemarin, lingkungan di sekitar klan berubah drastis."

Aku mengangguk sambil menyesap teh tersebut. Aroma yang elegan dan menenangkan menyebar di mulut, membuat hatiku sedikit lebih rileks.

Seperti kata Kakak, informasi bahwa Orn-san menyerang fasilitas penahanan kemarin tersebar ke seluruh Tsutrail dalam sekejap mata.

Berhasil melumpuhkan Oliver-san yang mengamuk di Festival Syukur tahun lalu demi melindungi Tsutrail, hingga pencapaian Night Sky Silver Rabbit mencapai lantai sembilan puluh empat Labirin Besar Selatan—setara dengan Kelompok Pahlawan—membuat reputasi Orn-san sebagai penjelajah nomor satu di Tsutrail kian kokoh selama setahun terakhir.

Ada banyak anggota klan yang sangat mengagumi Orn-san, dan aku yakin banyak orang di luar klan yang menantikan kiprahnya lebih jauh.

Justru karena itulah, kabar bahwa Orn-san menyerang fasilitas penahanan dan menghilang bersama anggota Kelompok Pahlawan menjadi kejutan yang terlalu besar.

Karena aku sudah diberitahu oleh Orn-san sebelumnya, aku tidak terlalu panik. Namun, kekacauan di antara para anggota klan yang mendengarnya secara tiba-tiba benar-benar luar biasa.

……Tentu saja. Semua kejadian kemarin itu bukan mimpi, ya.

"Sophia, jangan terlalu memaksakan diri, ya? Aku harus berangkat sekarang, tapi kalau ada apa-apa, segera hubungi aku."

"Iya. Kakak juga jangan memaksakan diri, ya?"

"Ah, aku mengerti. Kalau begitu, aku pergi du—oh, iya hampir lupa. Pagi tadi ada surat untuk Sophia. Sudah kutaruh di atas meja, nanti tolong dicek, ya."

"……Surat untukku? Iya, baiklah."

"Kalau begitu, kali ini benar-benar—aku berangkat dulu."

"Hati-hati di jalan, Kak."

Sambil merasa heran karena jarang-jarang menerima surat sejak pindah ke sini, aku mengantar kepergian Kakak.

◆◇◆

"Yang ini, ya?"

Setelah Kakak pergi, aku mengambil amplop yang tergeletak di meja. Meski merasa aneh karena tidak ada nama pengirimnya, aku membuka segelnya perlahan.

Di dalamnya terdapat selembar kertas surat. Begitu membaca isinya yang ditulis dengan tulisan tangan yang akrab, aku segera tahu bahwa pengirimnya adalah Kak Lu.

Untuk Sophie,

Maaf ya jika surat mendadak ini mengejutkanmu.

Aku langsung ke intinya saja, ya. —Aku memutuskan untuk keluar dari Night Sky Silver Rabbit dan mengikuti Orn-san. Surat ini akan kukirimkan tepat sebelum aku meninggalkan klan, jadi saat Sophie membacanya, aku pasti sudah tidak ada lagi di sini.

Tempo hari aku pernah bilang padamu, kan? Bahwa aku sudah menetapkan hati untuk mengikuti Orn-san.

Walau ini adalah keputusan atas kemauanku sendiri, aku tetap merasa sangat bersalah kepada Sophie dan teman-teman Twilight Rainbow lainnya yang telah menerimaku.

Aku benar-benar minta maaf karena harus berpisah dengan cara seperti ini.

Namun, membantu apa yang sedang diupayakan Orn-san adalah hal yang ingin kulakukan, dan menurutku inilah pilihan terbaik bagiku.

Aku tidak tahu apakah keputusan ini benar atau salah, tapi aku hanya ingin jujur pada kata hatiku.

Selama membentuk party bersama, aku berniat mendukung kalian dari balik layar.

Namun jika diingat kembali, sepertinya akulah yang selalu kalian dukung. Senyum dan kebaikan kalian selalu menyelamatkanku dalam situasi apa pun.

Sophie sudah tumbuh sangat pesat selama setahun ini. Sekarang kau memiliki kemampuan yang tidak kalah dari penjelajah tingkat atas. Aku yang melihatmu dari jarak paling dekat bisa menjamin hal itu.

Dalam waktu dekat, kau pasti akan menjadi salah satu sosok kunci di Night Sky Silver Rabbit dan memimpin klan ini.

Aku tidak bisa membayangkan seberapa berat beban memikul organisasi sebesar itu, tapi aku percaya Sophie pasti bisa melakukannya.

Kekuatan dan kelembutanmu akan menjadi pilar yang mendukung semua orang.

Namun, kumohon jangan memaksakan diri. Karena yang terpenting adalah kau bisa tetap menjadi dirimu sendiri.

Mungkin aku yang meninggalkan kalian tidak punya hak bicara begini, tapi meski terpisah jauh, hatiku selalu bersama kalian.

Terima kasih untuk segalanya selama ini. Aku akan mendukung penaklukan Labirin Besar Selatan dari jauh.

Dari Luna.

"……Kak Lu…………"

Setelah membaca surat dari Kak Lu, ternyata aku tidak sesedih yang kukira.

Bukan berarti aku tidak sedih karena dia pergi, tapi aku lebih merasa iri kepadanya yang bisa dengan teguh mempertahankan prinsipnya sendiri.

Bukan, bukan cuma Kak Lu. Orn-san juga sudah mulai melangkah menuju idealisme yang ia tuju. Begitu juga dengan Kakak.

Padahal Kakak pasti lebih terpukul dariku soal pengunduran diri Orn-san, tapi Kakak melepasnya dengan senyuman dan mencoba melakukan tugas yang harus ia selesaikan.

Semua orang sudah mulai menempuh jalan mereka masing-masing.

"……Kalau cuma aku yang terpuruk di tempat seperti ini, aku bakal tertinggal oleh mereka semua……!"

Masa depan yang diceritakan Orn-san memang mengejutkan. Namun, jika aku melangkah teguh menuju tujuanku, justru di masa depan seperti itulah sosok ideal yang kuincar akan dibutuhkan!

Aku tidak boleh terus meratapi keadaan. Aku harus melangkah maju. Orn-san telah memercayakan mimpi penaklukan Labirin Besar kepada kami. Aku sendiri pun punya sosok yang ingin kucapai.

"Demi mewujudkannya, aku tidak punya waktu untuk diam di tempat!"

Mungkin ke depannya akan ada banyak "perubahan" lainnya. Meski begitu, aku harus terus berjuang sebagai diriku sendiri!






Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close