Prolog 1
Raja Kami
"Dengarkan aku! Ini adalah sebuah keajaiban! Kesempatan
seperti ini, di mana sang Pahlawan dan sang Penyihir muncul di era yang sama,
tidak akan pernah datang lagi!"
Ah, mulai lagi... Tidak peduli berapa kali pun aku
mengatakan bahwa aku bukan sang Penyihir, orang-orang dewasa di sini tetap saja
memanggilku sebagai reinkarnasinya.
Meskipun
kelelahan kami terlihat jelas, pria di depan kami tidak memedulikannya. Matanya
memerah karena kegirangan saat dia mengeraskan suaranya lebih tinggi lagi.
"Karena
itulah! Sekarang! Di era ini! Kita harus mencapai keinginan yang sudah lama
kita dambakan!! Itulah misi kalian!"
Aku sudah sangat
muak mendengarnya. Aku bahkan sudah lelah untuk mencoba menyangkalnya.
Mungkin jika aku
mengaku saja bahwa aku adalah sang Penyihir, mereka akhirnya akan
meninggalkanku sendirian.
Jika aku
melakukan apa yang dikatakan orang-orang dewasa itu, apakah aku akan bisa
bebas?
"Jangan
konyol!!"
Saat rasa pasrah
menyelimutiku dan aku menundukkan pandangan, bocah laki-laki berambut hitam
yang berdiri protektif di depan kami—Orn—melepaskan teriakan penuh amarah.
"Ke-Kenapa
kau ada di sini...?!"
Pria itu, yang
benar-benar lengah oleh kemunculan Orn yang tiba-tiba, tampak sangat
kebingungan.
"Apa
peduliku soal kenapa aku di sini?! Yang lebih penting, berhenti memanggil mereka dengan label bodoh itu!
Orang-orang yang berdiri di sini adalah Oliver dan Shion! Bukan Pahlawan atau
Penyihir!"
Dari
tempatku berdiri, punggung Orn tampak begitu lebar. Kami seumuran, bahkan
tinggi badan kami tidak jauh berbeda, namun... saat ini, dia sedang
melindungiku.
Tampak
sangat tidak nyaman dengan kehadiran Orn, pria itu bergumam, "Aku akan
lebih berhati-hati di masa depan," lalu bergegas pergi.
"Jadi
itu salah satu dari orang-orang ekstremis yang dibicarakan Ayah. Benar-benar
merepotkan...!" Orn menggerutu sambil menatap tajam ke arah punggung pria
yang menjauh itu.
"Orn,
kenapa... kau ada di sini...?" tanyaku, menyuarakan pertanyaan terbesar di
benakku. Aku dengar dia akan pergi melakukan perjalanan jauh bersama ayahnya
hari ini, jadi aku sama sekali tidak menyangka dia akan ada di sini.
Itu pasti alasan
mengapa pria tadi berani mendekati Oliver dan aku.
"Sebenarnya,
ada urusan mendesak yang mendatangi ayahku, jadi kami harus menunda
perjalanannya. Tapi mungkin ini yang terbaik. Ini membuatku bisa melihat apa
yang harus kalian hadapi dari orang-orang itu setiap saat."
Ekspresi Orn
berubah dari tatapan mengintimidasi sesaat yang lalu menjadi senyuman
menenangkan yang seperti biasanya.
"Tapi apa
yang dikatakan orang dewasa itu benar. Shion dan aku adalah..."
Oliver, yang berdiri di sampingku, bergumam dengan putus asa sambil menundukkan
kepalanya dalam-dalam.
"Ya. Kurasa
mereka juga tidak sepenuhnya salah. Kalian berdua memiliki bakat yang luar
biasa, dan ditambah lagi, kemampuan kalian memang seperti itu."
Bahkan Orn pun
mengatakannya. Mungkin aku memang benar-benar sang Penyihir...?
"—Tapi aku
akan tetap berteriak 'Kalian salah!' sekeras mungkin, sebanyak apa pun yang
diperlukan! Shion adalah Shion, dan Oliver adalah Oliver. Tidak ada alasan
kalian harus menjadi boneka bagi orang dewasa!"
Orn terus
berbicara dengan senyuman yang sama di wajahnya. Rasanya setiap kata yang dia
ucapkan melelehkan es yang telah membekukan hatiku.
"Dan jika
para ekstremis itu tidak berhenti mengatakan omong kosong ini kepada kalian,
maka aku akan menjadi raja kalian!"
"...Seorang
raja?"
"Ya, seorang
raja! Raja memiliki tugas untuk melindungi bawahan dan rakyatnya, jadi aku akan
menjadi raja kalian dan aku akan melindungi kalian!—Jadi kalian berdua,
jalanilah jalan yang kalian pilih sendiri. Apa pun yang kalian putuskan, aku
akan menghormatinya!"
Itulah deklarasi
Orn kepada kami. Kata-katanya memberikan kenyamanan, dan memenuhi diriku dengan
rasa harapan.
◆◇◆
Sinar matahari
pagi mengalir masuk melalui jendela, membangunkanku dari tidur lelap.
"...Ngh... mimpi...?"
Seolah sesuai aba-aba, pintu terbuka dan seorang wanita
dengan rambut hitam serta mata biru langit memasuki ruangan.
Namanya adalah Tershe Hagwell. Dia telah melayaniku sejak
aku masih kecil dan merupakan orang yang paling aku percayai di dunia ini.
"Selamat pagi, Nona Shion."
Menyadari bahwa aku sudah terbangun, Tershe memberikan senyuman lembut dan salam kepadaku.
"Selamat pagi, Tershe."
"Anda tampak lebih ceria dari biasanya pagi ini. Apakah Anda mendapatkan mimpi yang
menyenangkan?"
Kemampuan observasi Tershe benar-benar patut dikagumi.
Ataukah ekspresiku memang sedemikian berbedanya dari biasanya?
"Ya, aku
memimpikan hal yang nostalgia. Itu membuat hatiku terasa hangat."
"Aku sangat
senang mendengarnya. Berat bagiku harus merusak suasana hati Anda, Nona Shion,
tapi ada satu hal yang harus kulaporkan."
Saat dia
berbicara, senyum lembut Tershe menghilang, digantikan oleh raut wajah yang
sangat serius.
"Apakah ini
tentang Kultus?"
Kami saat ini
berada di wilayah barat Kekaisaran Saubel. Tujuan kami di sini adalah untuk
menghalangi Kultus Cyclamen yang telah menaklukkan berbagai Dungeon di
seluruh wilayah kekaisaran.
Jika mereka terus
menyapu bersih Dungeon dengan kecepatan seperti ini, jelas bahwa
Kekaisaran akan segera menghadapi krisis kekurangan Magic Stone.
Lebih buruk lagi,
ada kemungkinan besar bahwa Kultus Cyclamen telah menyusup ke jajaran tertinggi
pemerintahan Kekaisaran. Dengan begitu banyak faktor yang mencemaskan, hasil
akhirnya terlalu mudah untuk diprediksi.
"Benar. Kami
telah menerima intelijen bahwa pasukan mereka sedang berkumpul di barat laut.
Kemungkinan besar kedatangan Anda di Kekaisaran telah memicu mereka untuk lebih
memprioritaskan kepastian daripada efisiensi."
"Musuh ada
di barat laut, ya? Bisa jadi itu jebakan, tapi kita tidak boleh melewatkan
kesempatan untuk menyapu bersih mereka sekaligus dalam satu serangan."
"Tepat
sekali. Tampaknya tidak ada satu pun perwira tinggi mereka yang hadir, jadi
meskipun itu adalah jebakan, seharusnya hal itu bisa ditangani dengan mudah.
Meski dalam hal ini, aku khawatir itu akan membutuhkan perhatian langsung dari
Anda sendiri."
"Itu bukan masalah besar. Kalau begitu, mari kita pergi dan melenyapkan mereka sekarang juga."



Post a Comment