NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 5 Epilog 1

Epilog 1

Menjadi Perisai yang Melindungi Raja


Sekitar waktu yang sama saat Orn dan yang lainnya sedang mendengarkan permintaan Sang Putri di Guild Petualang, Oliver tengah mengunjungi toko serba ada milik Kavadeal.

"Jadi kau sudah kembali. Bagaimana hasilnya?" tanya Kavadeal saat Oliver melangkah masuk.

"Persis seperti prediksimu. Labirin di dekat desa Farila mengalami stampede, dan Sang Putri beserta rombongannya diserang dalam perjalanan mereka ke sini."

"Begitu ya. Mengirimmu adalah keputusan yang tepat. Dengan ini, kerajaan seharusnya bisa terhindar dari kehancuran total akibat serangan tentara Kekaisaran."

"Apakah keberadaan Sang Putri sebegitu pentingnya?"

"Melawan tentara Kekaisaran, pasukan kerajaan tidak akan bisa mengulur banyak waktu. Untuk membentuk pasukan koalisi dengan cepat, menjadikannya sebagai simbol adalah cara tercepat. Sang Putri pasti memikirkan hal yang sama, itulah sebabnya dia menjadikan dirinya sendiri sebagai pion."

"Gambaran besar, ya. Aku masih belum bisa melihat seberapa besar dampak yang akan ditimbulkan dari hal ini."

"Ho ho ho. Itu adalah sesuatu yang hanya bisa diasah melalui pengalaman. Kecuali, tentu saja, jika kau adalah seorang genius."

"Seperti Orn?"

"Orn sedikit berbeda dari seorang 'genius'. Meski jika dilihat dari luar, dia memang tampak seperti itu."

"…Kita sudah melenceng dari topik. Untuk saat ini, bisakah kuanggap syarat kesepakatan kita telah terpenuhi?"

"Mm. Tidak masalah."

"Kalau begitu, berikan padaku. Spirit Eye itu."

"…Apa kau benar-benar yakin? Memang ada preseden dari Shion-chan, tapi di sisi lain, hanya itulah satu-satunya contoh yang ada. Ada kemungkinan kau bisa menjadi cacat."

"Aku tahu. Aku sadar akan risikonya. Tapi sudah jelas bahwa dalam pertempuran-pertempuran mendatang, kemampuan untuk melihat roh akan menjadi sangat krusial. Dan saat ini, aku mungkin lebih kuat dari Orn, tapi ketika dia mendapatkan kembali kekuatannya, aku hanya akan menjadi beban jika tetap seperti ini. Aku tidak boleh berhenti di sini."

"…Begitu ya. Jika tekadmu sudah sekuat itu, tidak ada lagi yang bisa kukatakan. Aku sudah menyiapkan tempatnya, ikuti aku."

Setelah memastikan tekad Oliver, Kavadeal menuntunnya ke ruang bawah tanah toko tersebut.

Itu adalah ruangan yang digunakan untuk bereksperimen dengan sihir hasil pengembangan dan alat Magitech, sehingga ruangannya luas sekaligus kokoh.

Ketika Oliver sampai di tengah ruangan, Kavadeal mengoperasikan alat penyimpanannya, dan enam pilar silinder setinggi masing-masing sekitar dua meter muncul dengan jarak yang sama, mengelilingi Oliver.

"Di dalam area yang dikelilingi pilar-pilar itu, kau bisa mengamuk sesukamu tanpa perlu khawatir merusak sekitarnya. Jangan menahan diri."

"Aku berutang budi padamu."

Dengan itu, Kavadeal mengaktifkan alat Magitech silinder tersebut.

Pilar-pilar itu saling beresonansi, dan sebuah penghalang mana terbentuk, mengurung Oliver di dalamnya.

Setelah memastikan hal itu, Oliver melepas helmnya, memperlihatkan wajahnya, lalu mendekatkan kristal serupa batu topaz—Spirit Eye—ke dahi.

Setelah menarik napas dalam beberapa kali, dia menghancurkan Spirit Eye itu dengan ekspresi penuh tekad.

Saat mana pekat yang terkandung di dalamnya mulai merembes keluar, Oliver menggunakan Mana Convergence untuk menariknya masuk ke mata kirinya.

Sesaat kemudian, teriakannya bergema di seluruh ruang bawah tanah.

Rasa sakit yang luar biasa, seolah cairan di matanya mendidih dan seluruh otaknya hangus terbakar melalui saraf optik, terasa seperti keabadian bagi Oliver.

Beberapa menit kemudian, ruang bawah tanah itu kembali sunyi.

"Hah… hah… hah…"

Oliver mencengkeram mata kirinya sambil terengah-engah, namun dia masih berdiri dengan kedua kakinya sendiri, meski tampak goyah.

"…Oliver, kau mengenaliku?"

"…Ya. Kau si tua bangka tak punya hati, Kavadeal Evans, kan?"

Mendengar ucapan kasar Oliver, wajah Kavadeal pun merekah dalam senyuman.

"Ho ho ho. Jika kau masih bisa melontarkan lelucon seperti itu, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kerja bagus, Oliver."

"Jadi ini dunia yang dilihat oleh Orn, Shion, dan Luna…"

Oliver melepaskan tangan yang menutupi mata kirinya, lalu mengembuskan napas kagum melihat dunia yang kini terpampang di hadapannya.

Dari mata itu, mana emas dengan kepadatan tinggi yang dapat dilihat dengan mata telanjang merembes keluar, dan sebuah pola geometris yang berbeda dari lingkaran sihir tampak mengambang di dalamnya.






Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close