Epilog 1
Menjadi Perisai yang Melindungi Raja
Sekitar
waktu yang sama saat Orn dan yang lainnya sedang mendengarkan permintaan Sang
Putri di Guild Petualang, Oliver tengah mengunjungi toko serba ada milik
Kavadeal.
"Jadi
kau sudah kembali. Bagaimana hasilnya?" tanya Kavadeal saat Oliver
melangkah masuk.
"Persis
seperti prediksimu. Labirin di dekat desa Farila mengalami stampede, dan
Sang Putri beserta rombongannya diserang dalam perjalanan mereka ke sini."
"Begitu
ya. Mengirimmu adalah keputusan yang tepat. Dengan ini, kerajaan seharusnya bisa terhindar
dari kehancuran total akibat serangan tentara Kekaisaran."
"Apakah
keberadaan Sang Putri sebegitu pentingnya?"
"Melawan
tentara Kekaisaran, pasukan kerajaan tidak akan bisa mengulur banyak waktu.
Untuk membentuk pasukan koalisi dengan cepat, menjadikannya sebagai simbol
adalah cara tercepat. Sang Putri pasti memikirkan hal yang sama, itulah
sebabnya dia menjadikan dirinya sendiri sebagai pion."
"Gambaran
besar, ya. Aku masih belum bisa melihat seberapa besar dampak yang akan
ditimbulkan dari hal ini."
"Ho ho ho.
Itu adalah sesuatu yang hanya bisa diasah melalui pengalaman. Kecuali, tentu
saja, jika kau adalah seorang genius."
"Seperti
Orn?"
"Orn
sedikit berbeda dari seorang 'genius'. Meski jika dilihat dari luar, dia memang tampak seperti itu."
"…Kita sudah
melenceng dari topik. Untuk saat ini, bisakah kuanggap syarat kesepakatan kita
telah terpenuhi?"
"Mm. Tidak
masalah."
"Kalau
begitu, berikan padaku. Spirit Eye itu."
"…Apa kau
benar-benar yakin? Memang ada preseden dari Shion-chan, tapi di sisi lain,
hanya itulah satu-satunya contoh yang ada. Ada kemungkinan kau bisa menjadi
cacat."
"Aku tahu.
Aku sadar akan risikonya. Tapi sudah jelas bahwa dalam pertempuran-pertempuran
mendatang, kemampuan untuk melihat roh akan menjadi sangat krusial. Dan saat
ini, aku mungkin lebih kuat dari Orn, tapi ketika dia mendapatkan kembali
kekuatannya, aku hanya akan menjadi beban jika tetap seperti ini. Aku tidak
boleh berhenti di sini."
"…Begitu ya.
Jika tekadmu sudah sekuat itu, tidak ada lagi yang bisa kukatakan. Aku sudah
menyiapkan tempatnya, ikuti aku."
Setelah
memastikan tekad Oliver, Kavadeal menuntunnya ke ruang bawah tanah toko
tersebut.
Itu adalah
ruangan yang digunakan untuk bereksperimen dengan sihir hasil pengembangan dan
alat Magitech, sehingga ruangannya luas sekaligus kokoh.
Ketika Oliver
sampai di tengah ruangan, Kavadeal mengoperasikan alat penyimpanannya, dan enam
pilar silinder setinggi masing-masing sekitar dua meter muncul dengan jarak
yang sama, mengelilingi Oliver.
"Di dalam
area yang dikelilingi pilar-pilar itu, kau bisa mengamuk sesukamu tanpa perlu
khawatir merusak sekitarnya. Jangan menahan diri."
"Aku
berutang budi padamu."
Dengan itu,
Kavadeal mengaktifkan alat Magitech silinder tersebut.
Pilar-pilar
itu saling beresonansi, dan sebuah penghalang mana terbentuk, mengurung Oliver
di dalamnya.
Setelah
memastikan hal itu, Oliver melepas helmnya, memperlihatkan wajahnya, lalu
mendekatkan kristal serupa batu topaz—Spirit Eye—ke dahi.
Setelah
menarik napas dalam beberapa kali, dia menghancurkan Spirit Eye itu
dengan ekspresi penuh tekad.
Saat mana
pekat yang terkandung di dalamnya mulai merembes keluar, Oliver menggunakan Mana
Convergence untuk menariknya masuk ke mata kirinya.
Sesaat kemudian,
teriakannya bergema di seluruh ruang bawah tanah.
Rasa sakit yang
luar biasa, seolah cairan di matanya mendidih dan seluruh otaknya hangus
terbakar melalui saraf optik, terasa seperti keabadian bagi Oliver.
Beberapa menit
kemudian, ruang bawah tanah itu kembali sunyi.
"Hah… hah…
hah…"
Oliver
mencengkeram mata kirinya sambil terengah-engah, namun dia masih berdiri dengan
kedua kakinya sendiri, meski tampak goyah.
"…Oliver,
kau mengenaliku?"
"…Ya.
Kau si tua bangka tak punya hati, Kavadeal Evans, kan?"
Mendengar
ucapan kasar Oliver, wajah Kavadeal pun merekah dalam senyuman.
"Ho
ho ho. Jika kau masih bisa melontarkan lelucon seperti itu, maka tidak ada yang
perlu dikhawatirkan. Kerja bagus, Oliver."
"Jadi ini dunia yang dilihat oleh Orn, Shion, dan
Luna…"
Oliver melepaskan tangan yang menutupi mata kirinya, lalu
mengembuskan napas kagum melihat dunia yang kini terpampang di hadapannya.
Dari mata itu, mana emas dengan kepadatan tinggi yang dapat dilihat dengan mata telanjang merembes keluar, dan sebuah pola geometris yang berbeda dari lingkaran sihir tampak mengambang di dalamnya.



Post a Comment