Chapter 1
Masa Depan
yang Dituju
Aku menatap ke luar jendela kamar yang diberikan oleh
Marius-san. Dia adalah kepala keluarga Claudel sekaligus kakak dari Sophie dan
Selma-san.
Sembari memandang pemandangan di luar, aku teringat
kembali pada kejadian-kejadian sebelum waktu diputar kembali.
Di dunia sebelumnya, aku sempat menghubungi Christopher
Downing, ketua Kamar Dagang Downing yang berbasis di Kadipaten Hitia, demi
memulihkan ingatanku yang hilang.
Namun, di saat yang sama, masuk informasi bahwa Tsutrail
sedang diserang oleh "Ordo Cyclamen". Aku pun segera kembali ke sana.
Pemandangan yang menantiku di sana adalah bangunan yang
runtuh, jeritan orang-orang yang menggema, bau darah yang menusuk hidung, serta
murid-muridku yang telah merenggang nyawa.
Di tengah pemandangan mengerikan itu, Steig sang
"Raksasa" berdiri tegak.
Aku menyerang dengan penuh emosi, namun malah
terpukul balik. Di depan mataku sendiri, nyawa rekan-rekanku dari "Night
Sky Silver Rabbit" dirampas.
Aku telah kalah dari "Ordo Cyclamen"──.
Di tengah jurang keputusasaan karena kehilangan
segalanya, Kakek datang menyelamatkanku.
Dia menukar nyawanya sendiri untuk memutar balik
waktu dunia.
Selama waktu diputar kembali, aku menghabiskan waktu
bersama Shion dan August-san sang "Pahlawan Dongeng" di ruang dimensi
berbeda yang disebut Dunia Antara.
Di sanalah aku mendapatkan kembali ingatan dan
kekuatanku.
Dan sekarang, pemutaran waktu telah berakhir. Aku telah
kembali ke "hari ini untuk kedua kalinya".
Aku tahu apa yang akan terjadi dan siapa yang akan
bergerak.
Demi mencegah pemandangan putus asa itu terulang kembali,
aku harus bertarung.
Aku akan menggunakan segala cara untuk menggenggam akhir
yang aku inginkan.
Bahkan jika seluruh orang di dunia ini harus menjadi
musuhku──.
Saat aku sedang merenung, pintu terbuka dan dua orang
masuk ke dalam ruangan. Mereka adalah Fuuka dan Haruto-san.
"Aku datang memenuhi panggilanmu, sang Raja."
Haruto-san berucap dengan nada bercanda.
Dulu dia pernah memanggilku "Raja" beberapa
kali, namun setelah mendapatkan kembali ingatanku, aku hanya bisa tersenyum
pahit mendengarnya sekarang.
"'Raja', ya. Apa kau memanggilku begitu karena aku
adalah keturunan langsung dari 'Raja Para Inang'?"
Pada akhir zaman dongeng, August-san yang kutemui di
Dunia Antara mendirikan sebuah negara bernama Kerajaan Hitia.
Karena kejadian itu, selain dijuluki "Pahlawan
Dongeng", August-san juga dipanggil dengan nama lain yaitu "Raja Para
Inang".
Dan aku adalah keturunan dari August-san.
Hal ini sangat jelas karena aku dan dia memiliki
kemampuan khusus (Innate Ability) yang sama, yaitu All-Encompassing
Nature.
Karena kemampuan khusus adalah sesuatu yang
diwariskan secara genetik.
Meski begitu, sejak August-san menghilang dari
panggung sejarah, Kerajaan Hitia berubah menjadi Kadipaten Hitia. August-san
pun menjadi raja pertama sekaligus terakhir di negara tersebut.
Jadi, meskipun darah bangsawan mengalir di tubuhku,
hal itu hampir tidak memiliki arti di masa sekarang.
Aku pun tidak berniat mengaku sebagai keluarga kerajaan
Hitia demi menjadi pemimpin negara.
"……Keturunan langsung……? Orn, jangan-jangan
kau……"
Mendengar jawabanku, Haruto-san mematung dengan wajah
melongo.
Aku tidak tahu seberapa banyak yang dia ketahui, namun
melihat reaksinya, sepertinya dia sudah tahu kalau aku adalah keturunan
langsung dari keluarga kerajaan Hitia.
Dulu aku melupakan fakta itu karena ingatanku
dimanipulasi oleh Recognition Alteration.
Fakta bahwa aku tahu aku adalah keluarga kerajaan Hitia
sama saja dengan mengatakan bahwa ingatanku telah kembali.
Haruto-san pasti menyadari hal itu, makanya dia bereaksi
demikian. Ini menghemat waktuku untuk menjelaskan.
"Ya, ingatanku sudah kembali. Salah satu alasan aku
memanggil Haruto-san adalah untuk menyampaikan hal ini."
"Tu-tunggu sebentar! Kemarin setelah kita bertarung
melawan 'Doktor', kau terlihat biasa saja. Kenapa tiba-tiba……!?"
Haruto-san memegangi kepalanya karena kebingungan.
Yah, reaksi itu wajar saja.
Baginya, hari ini adalah hari setelah kami mengalahkan
"Doktor" (petinggi Ordo) demi menyelamatkan Sophie yang dibawa ke
Dal-Arne, serta menjatuhkan hukuman pada mantan Earl Claudel, ayah Sophie.
Hanya aku dan Shion yang sadar bahwa waktu dunia telah
diputar kembali.
Dari sudut pandang Haruto-san, tidak ada pertanda sama
sekali kalau aku akan mendapatkan kembali ingatanku yang hilang akibat pengaruh
Recognition Alteration.
"Bagi Haruto-san ini terasa mendadak, tapi banyak
kejadian luar biasa yang terjadi sampai ingatanku pulih. Aku pasti akan
menyiapkan waktu untuk menceritakan semuanya nanti. Jadi untuk sekarang, tolong
tunggu sebentar."
"……Baiklah, aku mengerti. Lalu? Kau tidak
memanggilku ke sini hanya untuk pamer kalau ingatanmu sudah kembali, kan?"
Meskipun wajahnya terlihat rumit, Haruto-san menerima
penjelasanku.
"……Ya. Aku tidak ingin membuang waktu. Bisakah kau
memegang tanganku tanpa bertanya apa pun?"
Setelah memulihkan ingatan dan mendengar rahasia dunia
ini dari August-san, aku bisa melakukan intervensi terhadap prinsip dunia meski
hanya sebagian.
Waktu di dunia ini memang sudah diputar kembali. Namun,
fakta bahwa kejadian di dunia sebelumnya "pernah terjadi" tetap
tercatat di dalam prinsip dunia.
Aku yang sekarang bisa mengetahui apa yang dilihat dan
didengar seseorang di dunia sebelumnya hanya dengan menyentuh orang tersebut.
Pagi tadi saat bangun tidur, aku sudah memeriksa
informasi yang dimiliki Fuuka dengan cara ini.
Rangkaian kejadian di dunia sebelumnya, mulai dari saat
aku meninggalkan Dal-Arne hingga pemutaran waktu terjadi, adalah rencana yang
dijalankan oleh Kakek.
Fuuka
dan Haruto-san pun terlibat dalam rencana tersebut.
Lalu,
Fuuka sempat bertarung melawan "War Demon" di Tsutrail sebelumnya dan
berhasil menggali informasi musuh sebanyak mungkin.
Haruto-san
juga pasti melihat banyak hal untuk melengkapi bagian yang tidak bisa kulihat.
Apalagi
dia pasti menggunakan kemampuan khususnya, Bird’s Eye View, untuk
mengumpulkan informasi sebanyak mungkin mengenai pergerakan Ordo dan kekuatan
tempur yang dikirim ke Tsutrail.
"……Yah,
tidak ada gunanya juga kalau orang sepertiku berpikir macam-macam. Jadi, cuma
perlu pegangan tangan?"
"Ya.
Itu saja cukup."
Haruto-san
menggenggam tangan yang kuulurkan.
Di saat
yang sama, aku mengakses informasi melalui prinsip dunia.
Yang
mengalir ke dalam kepalaku adalah pemandangan Tsutrail yang sangat tragis
hingga rasanya ingin kututup mataku.
Bangunan
yang hancur terbakar, penduduk yang lari ketakutan dari anggota Ordo, serta
para penjelajah yang bertarung melawan kawanan monster yang menuju kota.
Amarah yang hebat terhadap Ordo meluap di dalam
diriku.
Aku menggertakkan gigi sekuat tenaga untuk menahan
emosi tersebut.
Detak jantungku terasa berdegup kencang hingga ke
gendang telinga.
"Sakit, sakit, sakit!"
Suara panik Haruto-san terdengar dari depanku.
Saat aku melihatnya, wajahnya meringis kesakitan.
Sepertinya tanpa sadar aku meremas tangannya terlalu
kuat.
"Ah, maaf……"
Aku melepaskan tangan Haruto-san.
Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri,
lalu kembali menyelam ke dalam lautan pikiran.
Berkat Haruto-san, aku memahami situasi Tsutrail saat itu
dengan lebih mendetail.
Namun, ada satu hal yang mengganjal.
Yaitu sosok Oliver dan Luna yang tidak terlihat di mana
pun di Tsutrail.
Jika mereka berdua ada, seharusnya mereka bisa memberikan
perlawanan yang lebih baik terhadap monster-monster itu. Apa mereka berdua
kebetulan sedang berada di luar kota?
Sepertinya masih ada beberapa informasi yang terputus.
Demi mendapatkan lebih banyak info tentang Steig, aku
perlu memastikan pertarungan seperti apa yang dilakukan murid-muridku
melawannya, dan aku juga ingin tahu apa yang dilakukan Luna di hari itu.
……Nanti aku harus memeriksa informasi dari Luna dan
murid-muridku.
◆◇◆
Setelah mendapatkan informasi dunia sebelumnya melalui
Haruto-san, aku memenuhi panggilan Yang Mulia Lucilla sama seperti sebelumnya.
Aku bergabung dengan Fuuka yang baru saja menerima barang
bantuan dari Kamar Dagang Downing untuk Kerajaan Hitia, lalu menuju tempat Yang
Mulia Lucilla.
"Permisi."
"Selamat pagi, Orn. Maaf memanggilmu mendadak."
Begitu masuk ke ruangan, Lucilla yang menyadari
kehadiranku langsung membalas sapaanku.
Inora-san, pelayan pribadi Lucilla yang mengantar kami,
membungkuk sekali lalu segera meninggalkan ruangan.
Seingatku sebelumnya dia sempat enggan pergi, tapi kali
ini dia pergi dengan tenang.
Meskipun mengulangi waktu yang sama, ternyata ada
perbedaan kecil dibandingkan sebelumnya.
Kalau dipikir-pikir, August-san pernah memperingatkanku
di Dunia Antara. Kalau tidak salah namanya Efek Kupu-kupu?
Karena perkataan dan tindakanku sejak pagi sudah berbeda
dari sebelumnya, mustahil alurnya akan sama persis.
Aku harus menanamkan dalam hati bahwa terlalu percaya
pada informasi dari dunia sebelumnya itu berbahaya.
"Tidak apa-apa. Saya juga ingin bicara dengan Yang
Mulia Lucilla, jadi saya justru berterima kasih telah dipanggil."
Mendengar perkataanku, ekspresi Lucilla menjadi lebih
lembut.
Sebaliknya, Fuuka yang berada di sampingku malah
memberiku tatapan dingin.
"Aku akan lapor pada Shion kalau kau genit pada sang
Putri."
Fuuka membuka suara dengan nada sedingin tatapannya.
"Aku tidak genit, kok. Jangan katakan hal yang
merepotkan itu pada Shion, ya?"
"Aku tidak sudi membantu orang yang
berselingkuh. Aku hanya akan menyampaikan apa yang terjadi apa
adanya."
"Selingkuh……
Aku sama sekali tidak tergoda, tahu……"
"Itu
artinya, Orn benar-benar serius padaku, ya! Begitu ya, akhirnya Orn menyadari
pesonaku. Aku senang dengan perasaanmu, tapi karena aku adalah
keluarga kerajaan, aku tidak bisa memberikan jawaban di sini sekarang. Maaf
ya……"
Yang Mulia Lucilla ikut menimpali percakapan kami.
Matanya benar-benar menunjukkan kalau dia sedang
menggodaku.
"Tolong hentikan, masalahnya jadi makin rumit
nanti……"
Aku mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
"Fufufu, sepertinya aku terlalu keasyikan
bercanda. Aku terkejut karena aura Orn hari ini sangat berbeda dari kemarin,
tapi aku lega karena sifat aslimu tidak berubah."
Yang Mulia Lucilla menunjukkan senyum yang biasa,
namun di balik senyuman itu terlihat rona kelegaan.
(Berbeda,
ya. ……Mungkin memang begitu.)
Baginya──bukan,
bagi semua orang selain aku, hari ini adalah hari setelah insiden dengan
"Doktor" dan penghakiman mantan Earl Claudel.
Wajar
saja jika dia merasa aku yang sudah melewati kejadian di Tsutrail dan Dunia
Antara sebagai orang yang berbeda.
Apalagi
ingatanku juga sudah kembali.
Namun,
seperti yang Lucilla katakan, esensi diriku tidak berubah.
Aku
adalah aku.
Saat
aku sedang berpikir demikian, ekspresi Lucilla yang tadinya lembut tiba-tiba
berubah menjadi serius.
"Terlepas
dari itu, apa nama 'Shion' yang diucapkan Fuuka tadi merujuk pada 'White Demon'
dari 'Amunzerath'?"
"…………"
Keheningan menyelimuti ruangan karena aku berpikir
bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.
……Kenapa dia tahu soal Shion?
Nama "White Demon" dari organisasi kriminal
"Amunzerath" memang terkenal di masyarakat.
Namun, harusnya hanya sedikit orang yang tahu bahwa nama
asli wanita yang dijuluki "White Demon" adalah "Shion".
Meski aku berencana untuk bergerak secara terang-terangan
ke depannya, aku tidak berniat mempublikasikan nama rekan-rekanku secara luas.
Meskipun aku ingin menjalin hubungan kerja sama dengan
Kerajaan Nohitant, atau lebih tepatnya dengan Lucilla, kenyataannya dia
memiliki sesuatu yang sulit ditebak.
Apalagi di pihak musuh ada Filly Carpenter, pemilik
kemampuan khusus Recognition Alteration.
Aku ingin merahasiakan informasi sebanyak mungkin, tapi……
"Orn,
Lucilla sudah tahu banyak hal. Misalnya, hubungan antara 'Amunzerath' dengan
Kadipaten Hitia."
Seolah
mengerti pikiranku, Fuuka membuka suara.
"……Itu artinya, para petinggi negara ini selain Yang
Mulia Lucilla juga sudah tahu?"
Mendengar pertanyaanku, Fuuka mengalihkan pandangannya ke
arah Lucilla.
"Tidak, hanya aku yang tahu sedalam itu. Yang
diketahui negara ini tentang Orn hanyalah fakta bahwa Orn bukan berasal dari
negara ini."
"……Tentu saja kalian menyelidiki tentangku,
ya."
"Ya. Karena kau sangat aktif tahun lalu, negara
tidak punya pilihan selain menyelidikimu. Meski begitu, penyelidikannya sangat
sulit. Pasalnya, tidak ada informasi sama sekali tentang Orn sebelum kau tiba
di Tsutrail."
Yah, itu wajar.
Anak berumur sembilan tahun tidak mungkin bisa pergi dari
Kadipaten Hitia ke Kerajaan Nohitant tanpa bantuan apa pun.
Dulu aku dan Oliver berpindah dari Desa Reimei ke Tsutrail
menggunakan sihir teleportasi jarak jauh.
Meskipun diselidiki, mereka tidak akan bisa melacak
jejakku sebelum Tsutrail. Dengan metode normal, mustahil untuk melacak
asal-usulku.
Namun, apa dia sudah menemukan jawabannya?
"Apa tidak apa-apa mengatakan hal itu langsung
kepada orang yang bersangkutan?"
"Ya. Aku sudah mengerti banyak hal dari percakapan
Orn dan Fuuka. Ke depannya, negara ini dan orang-orang akan dipaksa
untuk memilih, bukan?"
Lucilla menatapku dengan mata yang tajam.
"──Memihak padamu, atau memihak pada Ordo."
……Sejauh mana dia bisa melihat? Orang
ini benar-benar mengerikan.
"Kemungkinan besar akan begitu. Tapi, apa tidak
apa-apa? Jika Anda bisa melihat sejauh itu, bukankah Anda juga tahu kalau
jumlah orang yang memihak kami mungkin hampir nol?"
"……Ya, aku menyadarinya. Tentu saja, aku tidak
memasukkan perasaan pribadiku dalam pilihan ini. Sejujurnya ini adalah pilihan
yang penuh perhitungan. Jika kami tidak memilih sekarang, sepertinya kami akan
kehilangan hak untuk memilih bahkan sebelum sempat melakukannya."
"Maksud Anda perang dengan Kekaisaran?"
"Benar. Kami sudah melakukan segala cara untuk
menang melawan Kekaisaran. Namun sayangnya, fakta bahwa peluang kemenangan
negara kami rendah tetap tidak berubah. ……Aku harus melindungi rakyatku dengan
cara apa pun. Karena itulah tugasku sebagai orang yang lahir di keluarga
kerajaan."
Kata-katanya memiliki bobot yang kuat.
Tugas keluarga kerajaan, ya. Dia benar-benar memikirkan
rakyatnya sebagai prioritas utama.
Mungkin itu adalah sesuatu yang tidak kumiliki.
"……Itu tawaran yang sangat membantu. Saya juga
berharap bisa mendapatkan bantuan dari Yang Mulia Lucilla."
"Itu artinya, cinta kita tidak bertepuk sebelah
tangan, ya!"
Entah ke mana perginya suasana serius tadi, Lucilla
berucap demikian sambil tersenyum senang setelah mendengar jawabanku.
Di sampingku, wajah Fuuka kembali terlihat kesal.
"Benar-benar seling──"
"──Bukan, ini adalah kesamaan kepentingan."
Aku langsung membantah ucapan Fuuka sebelum dia
menyelesaikannya.
"Muu……
tidak perlu membantah sekeras itu juga, kan……"
Sepertinya
jawaban itu tidak memuaskan bagi Lucilla karena dia menggembungkan pipinya.
Aku
tidak bisa mengatakannya kepada seorang bangsawan, tapi dengan wajahnya yang
terlihat awet muda, ekspresi itu membuatnya tampak sangat kekanak-kanakan.
Padahal seingatku umur Lucilla sama dengan Selma-san……
"Maafkan
saya. ……Kalau begitu, sekali lagi, mohon bantuannya ke depan."
Aku
mengulurkan tanganku.
Lucilla
melihat tangan yang kuulurkan, lalu dengan wajah berseri dia menyambut
genggamanku.
Di saat yang sama, aku mengakses prinsip dunia seperti
yang kulakukan pada Haruto-san.
Aku memeriksa informasi yang terekam──informasi yang
dilihat dan didengar Lucilla sebelum waktu diputar kembali.
(Bersamaan dengan serangan ke Tsutrail, sang 'Hero'
menyerang ibu kota, ya……)
Beruntung sekali, dalam informasi yang kuperiksa
terdapat hal yang kucari.
"……Terima kasih."
Aku melepaskan tangan Lucilla lalu mengucapkan terima
kasih.
"Itu bukan masalah besar. Nah, selanjutnya apa kita
harus berpelukan?"
Suaranya terdengar sangat ceria.
"Tawaran Yang Mulia sangat menarik, tapi mohon
simpan untuk lain kali saja. Sekarang izinkan saya membicarakan hal yang
serius."
"……Tadinya aku ingin mencairkan suasana, tapi
melihat ekspresi Orn, sepertinya ini bukan berita yang bagus, ya."
"Ya. Singkatnya, jika dibiarkan begini, perang
antara Kerajaan dan Kekaisaran akan berakhir dengan penyerahan diri tanpa
syarat dari Kerajaan."
Mendengar perkataanku, senyum di wajah Lucilla pun
lenyap.
Setelah itu, aku menyampaikan secara singkat informasi
yang kudapat melalui prinsip dunia.
Aku sadar kalau apa yang kukatakan terdengar seperti
bualan belaka.
Mana mungkin sosok terkenal seperti sang "Hero"
bisa masuk sendirian tanpa ketahuan ke dalam istana kerajaan, tempat yang
penjagaannya paling ketat di seluruh negeri.
Namun, dia tidak mengabaikan kata-kataku.
Mungkin karena dia tahu bahwa sihir teleportasi jarak
jauh itu benar-benar ada.
"──Itulah skenario yang kemungkinan besar akan
terjadi ke depannya."
"……Serangan tunggal sang 'Hero' ke ibu kota saja
sudah terdengar mustahil, tapi apa masa depan seperti itu benar-benar akan
datang?"
Lucilla masih setengah percaya dengan masa depan yang
kuceritakan.
"Aku juga baru pertama kali dengar ini. Kenapa
dunia bisa menjadi tempat yang dipenuhi monster di daratan?" tanya Fuuka.
"Itu karena Ordo akan meningkatkan level kewaspadaan
terhadapku. Tujuan mereka adalah kebangkitan Dewa Jahat. Sekarang Ordo bergerak
untuk menyingkirkanku secara fisik karena aku menghalangi mereka. Namun, aku
berencana untuk menggagalkan rencana mereka sejak awal. Dengan begitu, mereka
akan sadar kalau aku sudah mendapatkan kembali kekuatanku."
"Aku mengerti. Jika kerusakan akibat monster meluas,
perhatian akan tertuju pada Serikat Penjelajah yang memiliki hubungan kuat
dengan para penjelajah yang terbiasa melawan monster. Dan Serikat Penjelajah
adalah kedok dari 'Ordo Cyclamen'. Artinya, Serikat Penjelajah, atau lebih
tepatnya 'Ordo Cyclamen', ingin memegang inisiatif dalam situasi dunia,
begitu?"
Lucilla
bergumam seolah sudah paham.
Padahal
aku baru menceritakan bagian awalnya, bagaimana bisa daya tangkap orang ini
sehebat itu?
"Ya.
Hal terpenting untuk melepas segel Dewa Jahat adalah penaklukan Labirin Besar. Dan
itu adalah bagian yang tidak bisa mereka lakukan hanya dengan kekuatan mereka
sendiri. Itulah sebabnya setelah dunia dipenuhi monster, mereka akan
menyebarkan informasi yang membuat orang-orang secara sukarela bergerak
menaklukkan Labirin Besar. Itulah taktik yang menurutku akan mereka
ambil."
"Benar juga. Saat ini Serikat Penjelajah sudah
berdiri sebagai organisasi raksasa netral yang tidak memihak negara mana pun.
Jika Serikat memiliki kekuatan lebih besar, propaganda akan menjadi sangat
mudah bagi mereka."
"……Aku tidak terlalu paham soal politik, tapi apa
negara-negara tidak bisa bekerja sama untuk menghentikan pergerakan Serikat
Penjelajah?"
Fuuka memiringkan kepalanya sedikit sambil menanyakan hal
itu.
Aku dan Lucilla menggelengkan kepala bersamaan.
"Itu sulit."
"Kenapa?"
"Dalam situasi seperti itu, perkataan Serikat
Penjelajah sebagai organisasi yang paling tahu tentang monster akan dianggap
seperti wahyu suci. Jika mereka bilang 'Penaklukan Labirin Besar adalah
satu-satunya cara agar monster menghilang dari daratan', perasaan rakyat pasti
akan sangat menginginkan penaklukan Labirin Besar."
"Karena arah kemudi politik negara itu sedikit
banyak akan dipengaruhi oleh perasaan rakyatnya."
"Perasaan
rakyat…… begitu ya."
Fuuka
mengangguk paham.
Dia
adalah anggota keluarga Shinonome yang dulu memerintah Kyokuto. Walaupun tidak
terlibat langsung dalam politik, sepertinya dia bisa memahaminya secara
intuitif.
"Selain
itu, pasti ada negara yang sudah berada di bawah pengaruh Ordo. Bahkan mungkin
ada negara yang pusat pemerintahannya sudah disusupi. Jadi, mustahil bagi semua
negara untuk bekerja sama menghancurkan Serikat Penjelajah."
Kekaisaran
Saubel yang saat ini berperang dengan Kerajaan adalah kandidat utamanya.
Mengingat
"Doktor" yang merupakan petinggi Ordo berteman dengan Felix, putra
mahkota Kekaisaran, kemungkinan itu sangat tinggi.
"Karena itulah, aku berencana memanfaatkan situasi
ini."
"Beri tahu aku apa yang ada di pikiranmu, Orn."
"Dalam situasi ini, kekacauan akan meluas ke seluruh
dunia. Jadi, demi menstabilkan keadaan secepat mungkin, seluruh negara harus
bersatu."
"Benar. Jika antarnegara saling menjatuhkan di
tengah perang, mereka semua akan hancur oleh monster. Sebaliknya, jika
antarnegara bisa bekerja sama, aku rasa kita bisa mengatasi masa depan
tersebut. Namun……"
Aku mengangguk mendengar ucapan Lucilla lalu kembali
bicara.
"Ya. Hanya saja, menyatukan negara-negara dengan
pemikiran dan budaya yang berbeda itu tidak mudah. Semakin lama waktu yang
dibutuhkan, semakin banyak orang yang akan terluka. Karena itu, demi membuat
mereka bekerja sama dengan cepat, aku akan menyiapkan 'Musuh Bersama'."
"Musuh bersama?"
"Ya. ──Aku akan membuat seolah-olah akulah penyebab
dari semua kejadian ini."
"……Eh?"
Lucilla mengeluarkan suara terkejut mendengar
pernyataanku, namun aku tetap melanjutkan.
"Yah, lagipula sejak awal Ordo──Serikat
Penjelajah──memang berniat begitu, jadi aku hanya akan mengikuti permainan
mereka. Mengenai penaklukan Labirin Besar, karena itu juga sejalan dengan
tujuanku, aku akan membiarkan mereka melanjutkannya."
"……Tu-tunggu sebentar! Apa yang kau katakan!?"
"Kejadian monster yang meluas di daratan akan lebih
cepat tertangani jika dianggap sebagai bencana akibat perbuatanku, bukan
bencana alam."
"Tapi kalau kau melakukan itu, Orn akan──"
"──Aku sudah siap menanggung risikonya. ……Seharusnya
aku sudah kehilangan banyak hal yang berharga. Namun berkat penolongku, aku
mendapatkan kesempatan untuk mengulang kembali. Aku yang sekarang tidak punya
pilihan untuk berkompromi. Aku akan berjuang mati-matian demi mencapai akhir
yang terbaik. Lalu, aku akan tertawa dan hidup di masa depan nanti. Karena
itulah yang diinginkan oleh penolongku."
Tepat sebelum Kakek menghilang, dia berkata sambil
tersenyum: "Aku berdoa dari lubuk hatiku agar Orn bisa menghabiskan sisa
hidupnya dengan penuh tawa."
Aku bisa berada di sini karena Kakek mempertaruhkan
nyawanya.
Maka, keinginan Kakek adalah masa depan di mana aku bisa
tertawa.
Jika demikian, tidak ada jalan lain bagiku selain
melangkah menuju masa depan itu, meskipun itu terasa mustahil, gila, ataupun
nekat.
"……Baiklah. Aku akan menghargai tekadmu, Orn. Kau
benar. Seharusnya Kerajaan sudah kalah dari Kekaisaran, bukan? Jika tujuannya
adalah menghindari masa depan itu demi akhir yang terbaik, aku tidak punya
alasan untuk menolak. Aku percaya padamu, Orn. Aku cukup percaya diri dengan
kemampuanku menilai orang, tahu?"
"……Terima kasih."
"Fufufu. Orn tetaplah Orn, ya. Kalau begitu, mari
kita lanjutkan pembicaraan dengan arah tersebut."
Selama ini aku merasa Yang Mulia Lucilla selalu
menyembunyikan maksud tertentu di balik senyumannya karena posisinya.
Namun sekarang, senyuman yang dia tunjukkan padaku terlihat sangat murni tanpa ada maksud terselubung sedikit pun.
Setelah itu, aku dan Yang Mulia Lucilla merundingkan
rencana matang mengenai apa yang akan kami lakukan pada hari sang Hero
menyerang ibu kota.
"Secara garis besar, tidak ada masalah dengan
rencana ini. Namun, variabel yang paling tidak pasti tetaplah Filly Carpenter,
si pemilik kemampuan khusus Recognition Alteration. Jika dia ikut
campur, keadaan jelas akan menjadi merepotkan."
"Saya sudah memikirkan tindakan pencegahannya. Yang
Mulia Lucilla, ada berapa alat sihir pertahanan diri yang biasa Anda
kenakan?"
"Biasanya aku memakai dua buah."
"Jika memungkinkan, bolehkah saya meminjam salah
satunya? Saya
berniat menanamkan fungsi untuk membatalkan Recognition Alteration ke
dalam alat sihir tersebut."
"……Apa hal seperti itu bisa dilakukan?"
Kemampuan khususku, All-Encompassing Nature,
memungkinkanku untuk menggunakan kemampuan khusus apa pun asalkan aku sudah
memahaminya.
Dan aku sudah pernah terkena Recognition Alteration
sebanyak dua kali.
Pertama, saat Belia dan kelompok "Ordo
Cyclamen" menyerang kampung halamanku, Desa Reimei.
Kedua, saat invasi sang Hero yang terjadi setelah
aku mengunjungi wilayah Legriff atas permintaan Earl Eddington untuk
menyelidiki labirin pada musim panas tahun lalu.
Melalui dua pengalaman tersebut, aku kini sudah bisa
menggunakan Recognition Alteration.
Meski begitu, kemampuan yang kudapat melalui All-Encompassing
Nature memiliki beberapa batasan, sehingga aku tidak bisa menggunakannya
sembarangan.
Jika aku memasang fungsi itu pada alat sihir milik
Lucilla, sepertinya untuk sementara aku tidak akan bisa menggunakan Recognition
Alteration.
"Ya. Namun, alat sihir yang membatalkan Recognition
Alteration ini hanya akan saya berikan kepada Yang Mulia Lucilla
saja."
"Itu agar kita tidak menghalangi orang lain,
sehingga dia tidak menyadari bahwa kita sudah menyiapkan tindakan pencegahan
terhadap Recognition Alteration, ya?"
"Benar. Yah, meski sebenarnya saya juga belum tahu
pasti apakah ini benar-benar bisa menangkalnya secara total."
"Kalau begitu, aku ingin kita menentukan semacam
kata sandi. Ah, tapi karena kita tidak tahu apakah akan ada waktu untuk saling
bicara, mungkin gerakan tubuh lebih baik daripada kata sandi?"
"Saya juga berpikir untuk menentukan tanda yang
hanya dimengerti oleh kita berdua. Gerakan tubuh memang lebih mudah dilakukan
secara alami dibandingkan kata-kata."
"Baiklah.
Kalau begitu…… bagaimana kalau 'menutup mata kiri dengan tangan kiri'? Itu
bukan gerakan yang biasa dilakukan sehari-hari, tapi menurutku tidak terlalu
mencolok."
"Sepertinya itu tidak masalah."
"Maka, mari kita jadikan ini sebagai tanda rahasia
kita. Fufufu, berbagi rahasia seperti ini membuat jantungku berdebar, ya."
Setelah pembicaraan serius selesai, sisi jahilnya kembali
muncul.
"Kalau saya justru merasa tidak tenang karena
khawatir."
"Tenang saja. Aku punya alat sihir dari Orn, dan aku
tidak akan melupakan tandanya. Tapi, jika suatu saat aku melupakannya, kau
boleh mengabaikan dan membuangku tanpa ragu. Namun, aku mohon, tolong
selamatkan rakyatku."
Sambil berkata demikian, dia menundukkan kepalanya
dalam-dalam kepada kami.
"Saya mengerti. Saya juga menyukai negara ini. Saya
akan mengerahkan seluruh kemampuan saya untuk menyelamatkan sebanyak mungkin
rakyat Kerajaan Nohitant."
"Aku lega mendengarnya."
Lucilla mengangkat wajahnya dan mengembuskan napas
lega.
"Masalah
serangan sang Hero sudah selesai. ……Lalu, meski agak kurang sopan, ada
satu permohonan lagi yang ingin saya ajukan pada Yang Mulia Lucilla."
Masalah
sang Hero adalah hal yang saling menguntungkan, tapi apa yang akan
kubicarakan sekarang sama sekali tidak memberi keuntungan bagi Lucilla. Aku
tidak bisa menahan rasa gugupku.
"Jangan-jangan, kau mau pelukan? Aduh, mau bagaimana
lagi ya~. Ini pengecualian, lho?"
Tanpa menyadari kegugupanku, sisi jahilnya muncul lagi.
"……Maafkan saya. Bukan itu."
"Aduh, sayang sekali ya. Kalau begitu, ada urusan
apa? Karena hubungan aku dan Orn sekarang sudah tidak biasa lagi, jangan
sungkan-sungkan."
Lagi-lagi aku merasakan tatapan dingin dari Fuuka.
Padahal ini jelas-jelas cuma candaan Yang Mulia Lucilla……
Aku menggerutu dalam hati sebelum membuka mulut.
"Permintaan saya adalah mengenai Lueria dan
Frederick yang ditangkap kemarin."
Lueria dan Frederick adalah bawahan "Doktor",
sekaligus kakak dari Carol. Keberadaan mereka berdua tidak bisa kuabaikan
begitu saja.
Aku tidak berpikir Lucilla akan memperlakukan mereka
dengan kejam, tapi jika bisa, aku ingin mereka tetap berada di dekatku.
"Kalau soal itu, kemarin aku sudah bicara dengan
Lucilla agar kami yang mengawasi mereka."
Yang menjawab bukanlah Lucilla, melainkan Fuuka.
"Kemarin? Apa maksudnya?"
"Sesuai ucapanku. Sebagai syarat Kadipaten Hitia
membantu Kerajaan, aku meminta hak pengawasan atas mereka berdua."
Saat aku menoleh ke arah Lucilla, dia mengangguk mantap.
"Benar apa yang dikatakan Fuuka. Sejak kemarin, kami
sudah sepakat untuk menyerahkan pengawasan mereka berdua kepada pihak
kalian."
Sejak kemarin, ya.
Fuuka tahu bahwa hari ini adalah titik balik.
Dulu kami membiarkan mereka berdua, tapi aku kembali
menyadari bahwa sejak kemarin Fuuka sudah bergerak dengan memperhitungkan
situasi "sekarang".
"Terima kasih, Fuuka."
"Tidak perlu berterima kasih. Aku adalah pedang Orn.
Tugas utamaku adalah menyingkirkan segala penghalang bagi Orn."
Fuuka mengucapkannya dengan nada datar seolah itu hal
yang remeh.
Kukira dia payah dalam hal perhitungan masa depan atau
lobi politik seperti ini.
Tapi benar juga, ya. Bagaimanapun, dia adalah tuan putri
dari Kyokuto.
Tidak ada yang lebih menenangkan daripada bisa
mengandalkannya, tidak hanya dalam pertarungan, tapi juga dalam hal seperti
ini.
◆◇◆
"Kalau begitu Orn-san, kami akan pulang duluan ke Tsutrail,
ya!"
Setelah urusan lobi dengan Lucilla selesai, aku datang
untuk mengantar rombongan Sophie yang akan pulang ke Tsutrail, sama seperti
sebelumnya.
"Semuanya, maaf aku tidak bisa pulang bersama
kalian. Seharusnya aku tidak perlu khawatir jika itu kalian, tapi tetaplah
berhati-hati di jalan."
"Kami justru lebih mengkhawatirkan Orn. Katanya
ini misi rahasia dari Lucy, tapi apa benar tidak ada bahaya?"
Mendengar perkataanku, Selma-san bertanya dengan ekspresi
cemas.
Kali ini pun aku beralasan mendapat misi rahasia dari
Lucilla, sehingga aku akan bergerak terpisah dari mereka mulai dari sini.
"Ya. Ini bukan tugas yang mengancam nyawa, kok.
Aku akan menyelesaikannya dengan cepat dan segera pulang ke Tsutrail, jadi
jangan khawatir."
"Begitu ya. Jika terjadi sesuatu, kau bisa
hubungi aku atau klan. Kami akan segera datang membantumu."
"Kami juga! Walaupun saya yakin Guru bisa
menyelesaikannya dengan mudah, tapi jika terjadi sesuatu yang menyulitkan,
jangan sungkan untuk mengandalkan kami!"
"Terima kasih, Selma-san, Log. Itu sangat
membesarkan hati. Jika terjadi sesuatu, aku pasti akan meminta bantuan
kalian."
"Guru, cepat pulang ya! Aku ingin Guru melihat
langsung kemajuan pesat kami!"
"Tentu saja. Agar aku tidak tertinggal oleh kalian
saat aku kembali nanti, aku akan berusaha sekuat tenaga supaya bisa pulang ke Tsutrail
secepat mungkin."
Aku terus melanjutkan percakapan yang sama dengan
sebelumnya agar tidak terlalu melenceng dari masa depan yang kuketahui.
Namun, perasaan di dalam diriku benar-benar berbeda.
Dulu, aku merasa cemas karena baru mengetahui masa laluku
sendiri.
Sebaliknya sekarang, aku diserang rasa sedih karena harus
berpisah dengan mereka.
Tapi, inilah jalan yang telah kupilih.
Bahkan jika penyesalan menanti di ujung jalan ini, aku
sudah bersumpah tidak akan menghentikan langkahku.
Setelah selesai berbicaradengan semua anggota, para
personil "Twilight Lunar Rainbow" pun naik ke kereta kuda.
Luna menoleh ke arahku saat kakinya sudah menginjak
tangga kereta.
"──Orn-san."
"Ya?"
"……Aku tidak tahu apa yang sedang Orn-san pikirkan
sekarang, tapi aku menghargai pilihanmu. Karena itu, majulah terus di jalan
yang kau yakini tanpa perlu ragu."
"…………"
Setelah berkata demikian, Luna tersenyum dalam lalu masuk
ke dalam kereta.
Aku belum menceritakan hal spesifik padanya tentang
apa yang akan terjadi.
Namun, sepertinya dia samar-samar menyadari bahwa aku
sedang merencanakan sesuatu.
Wajar saja, aku sudah bergerak bersama Luna selama
hampir sepuluh tahun sejak menjadi penjelajah.
Dalam hubungan yang lama itu, sepertinya dia bisa
merasakan perubahanku.
Lagipula, secara kebetulan kata-kata yang dia ucapkan
mirip dengan apa yang dikatakan Oliver saat dia sadar dari amukannya setelah
turnamen bela diri tahun lalu, serta kata-kata perpisahan dari Shion di wilayah
Legriff.
(Terima kasih, Luna.)
Gumamku dalam hati sambil mengantar kereta kuda yang
perlahan mulai bergerak.
Saat aku sedang memperhatikan kereta itu perlahan
mengecil dalam pandanganku, suara langkah kaki mendekat.
"……Kau sudah datang, ya."
Gumamku sambil menoleh ke arah datangnya langkah kaki
tersebut.
Di sana ada Fuuka, Haruto-san, serta Lueria dan
Frederick, kakak dari Carol.
"……Kenapa kami yang ditahan bisa keluar secepat
ini?"
Lueria bertanya dengan nada gelisah, namun tetap berusaha
terlihat tegar.
"Hak pengawasan kalian berdua sudah diserahkan
kepada kami. Sesederhana itu."
Kemarin mereka berdua berada di ambang kematian, namun
akhirnya berhasil selamat berkat kemampuan khusus Carol.
Saat pertarungan kemarin berakhir, mereka bahkan hampir
tidak bisa berjalan, tapi sepertinya sekarang sudah cukup pulih.
Meskipun belum bisa melakukan pertarungan sengit, hal itu
tidak masalah sama sekali.
"Jadi tuan putri itu menyerahkan pengawasan kami
ya~. Itu artinya, aku boleh menganggap ini 'begitu', kan~?"
"Ya. Kau boleh menganggapnya begitu. Aku tidak
berniat memperlakukan kalian dengan kejam, tapi aku ingin kalian bekerja
sama."
"Kami tidak punya hak suara untuk menolak, kan? Selama
hak-hak kami dijamin, kami akan memberikan informasi yang kami miliki."
"Terima kasih."
"……Rasanya aneh ya disyukuri dengan tulus oleh
seorang 'Raja Para Inang'."
"Iya ya~. Orang-orang di Ordo selalu bilang kalau
'Raja Para Inang' itu akar dari segala kejahatan, jadi kami terlanjur punya
citra negatif duluan~."
"Akar
segala kejahatan, ya…… Yah, bagi mereka mungkin memang begitu…… Tapi kan aku
dan August-san itu orang yang berbeda……"
Mengetahui
pandangan Ordo terhadapku membuatku tersenyum pahit.
Yah, aku tidak peduli apa yang mereka pikirkan tentangku,
tapi persepsi mereka ini mungkin bisa kumanfaatkan. Akan kuingat-ingat.
Saat aku sedang berpikir, wajah Lueria tampak merasa
tidak enak.
"……Tidak boleh menilai orang hanya dari kemampuan
khususnya, ya. Anu, maaf ya sudah bicara yang aneh-aneh."
Aku terkejut melihat Lueria meminta maaf dengan jujur.
Karena dia sudah berada di "Ordo Cyclamen"
selama bertahun-tahun sejak kecil, kupikir akal sehatnya akan sedikit berbeda
dari manusia normal.
Namun, gadis di depanku ini sepertinya memiliki kepekaan
yang sangat normal.
"Jangan dipikirkan. Wajar saja kalau kau berpikir
begitu. Aku hanya perlu berusaha agar tidak dianggap sama dengannya."
Setelah percakapan dengan mereka berdua selesai,
Haruto-san memanggilku.
"Jadi, apa rencana kita sekarang?"
"Pertama, kita akan pergi ke kantor pusat Kamar
Dagang Downing di Kadipaten Hitia untuk bertemu dengan Shion.
Setelah itu, aku ingin berbagi rencana kita ke depannya
dengan menyertakan Christopher-san."
Tujuan pertama kami sama seperti sebelumnya, yaitu kantor
pusat Kamar Dagang Downing di Celeste, ibu kota Kadipaten Hitia.
"……? Bukannya Shion masih tertidur dan tidak
bangun-bangun?" tanya Fuuka sambil memiringkan kepalanya.
"Memang ada kemungkinan dia masih tidur, tapi aku
yakin dia sudah bangun."
Di dunia sebelumnya, Shion memang masih tertidur pada
hari ini.
Karena itu, wajar jika orang-orang menganggap dia masih
tidur sekarang.
Namun, Shion yang memiliki kemampuan khusus memanipulasi
waktu bernama Time Retrocession adalah pengecualian.
Alasan Shion terus tertidur adalah untuk mengatur
informasi.
Sesaat sebelum tertidur, dia menyentuh "Mana
Luar" dan "Akar Prinsip Dunia" hampir secara bersamaan.
Salah satu darinya saja sudah merupakan gumpalan
informasi yang sangat besar dan sulit diatur di dalam kepala.
Apalagi dua sekaligus. Demi merapikan informasi tersebut,
tubuhnya secara tidak sadar memutus rangsangan dari luar, yang berakibat dia
tetap tertidur.
Namun Shion yang sekarang sudah mempelajari kedua hal itu
dari August-san di Dunia Antara.
Karena itulah aku berpikir bahwa Shion pasti sudah
bangun.
"Begitu ya. Kalau dia sudah bangun, aku tidak sabar
ingin bertemu lagi."
Sudut bibir Fuuka yang biasanya jarang berekspresi
sedikit terangkat.
"Kalau tujuannya Kadipaten Hitia, lebih cepat pergi
pakai sihir teleportasi. Tempat dengan lingkaran teleportasi terdekat dari sini
adalah ibu kota Kerajaan Tsaharib, kan?"
Haruto-san menyebutkan rute menuju Kadipaten Hitia.
"Tidak, kalau lewat sana tidak akan sempat."
"Tidak sempat? Apa maksudmu?" tanya Haruto-san
heran.
Sejak pagi tadi, aku juga sudah memeriksa informasi
prinsip dunia dari Fuuka dan Haruto-san dengan menyentuh mereka, sama seperti
pada Lucilla.
Sebelum waktu diputar kembali, mereka berdua bergerak
untuk mencocokkan waktu kedatangan kami di Kadipaten Hitia dengan waktu Ordo
menyerang Tsutrail.
Namun, sepertinya kali ini mereka tidak tahu kalau
serangan itu akan terjadi.
Yah, wajar saja karena yang menyusun rencana tersebut
adalah Kakek.
"Sesuai ucapanku. Jika lewat sana, saat kita sampai
di Kadipaten Hitia, semuanya sudah kalah."
"Meskipun kau bilang begitu, bukankah tidak ada cara
yang lebih cepat untuk pergi ke Kadipaten Hitia?"
"Tentu saja ada. Kita akan teleportasi dari sini
langsung ke Kadipaten Hitia."
"……Hah? Tidak, tidak, tidak! Sihir teleportasi jarak
jauh itu kan 'berpindah dalam sekejap dari satu lingkaran teleportasi ke
lingkaran lainnya', kan?"
"Benar. Di Ordo pun begitu. Kita bisa berpindah
antarlingkaran teleportasi, tapi aku belum pernah dengar ada sihir teleportasi
jarak jauh tanpa lingkaran teleportasi……"
Lueria ikut menimpali keheranan Haruto-san.
"Prinsip teleportasi jarak jauh itu kasarnya hanya
memanfaatkan prinsip dunia dan aliran mana bumi (Ley Lines). Dengan
kemampuanku sekarang, aku bisa membuat lingkaran teleportasi dadakan."
Sambil menjawab pertanyaan Haruto-san, aku membuat
lingkaran teleportasi dadakan melalui prinsip dunia.
"Ternyata lingkaran teleportasi bisa dibuat semudah
itu ya~……" gumam Frederick dengan nada takjub.
Aku bisa membuatnya semudah ini karena aku sudah
mempelajari prinsip dunia dari August-san.
Meski begitu, bukan berarti tidak ada risiko.
Normalnya, pembuatan lingkaran teleportasi
membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Lingkaran teleportasi yang digunakan
"Amunzerath" sudah diberi berbagai macam pengaman, namun lingkaran
dadakan ini tidak memilikinya. Karena itu, perpindahan ini akan terdeteksi oleh
"Ordo Cyclamen".
Cepat atau lambat, Belia pasti akan tahu kalau aku
menuju Kadipaten Hitia menggunakan teleportasi jarak jauh.
Tetap saja, saat ini waktu adalah segalanya. Aku akan
menyelesaikan apa yang harus dilakukan sebelum Belia menyadarinya.
"Sekarang kalian mengerti kan salah satu alasan
kenapa Ordo menganggapku berbahaya? Nah, semuanya, masuklah ke dalam
lingkaran."
Setelah memanggil mereka berempat dan memastikan semuanya
berdiri di atas lingkaran, aku mengaktifkan sihirnya.
Pemandangan di depan mata mulai terdistorsi.
◇◇◇
Selama waktu dunia diputar kembali, aku──Shion
Nasturtium──yang memiliki kemampuan khusus Time Retrocession, dan Orn
yang bisa menggunakan Time Retrocession melalui All-Encompassing
Nature, telah menghabiskan waktu yang terasa lama namun sekejap di Dunia
Antara, sebuah ruang dimensi yang berbeda dari dunia nyata maupun prinsip
dunia.
Yah, meskipun sebagian besar waktu kami habiskan untuk
berlatih bersama August-san……
Untungnya, Orn berhasil mendapatkan kembali ingatannya di
akhir.
Itu adalah waktu yang sangat membahagiakan.
Karena aku bisa mendapatkan kembali ikatan dengan Orn
yang sempat kukira telah hilang selamanya.
Begitu kembali dari Dunia Antara, langit-langit kamar
yang kukenal muncul dalam pandanganku.
"……Kamar pribadiku di Kamar Dagang Downing, ya.
──Tunggu, badanku tidak bisa digerakkan……"
Aku mencoba bangun, namun seluruh tubuhku terasa
berat seolah menempel pada tempat tidur.
Pada awal tahun ini, aku mencapai puncak keajaiban
sihir dalam pertarungan melawan Due, manusia iblis ciptaan "Ordo
Cyclamen", dan setelah itu aku terus tertidur.
Mungkin karena tertidur selama berbulan-bulan, kekuatan
ototku sudah menyusut.
Saat aku sedang berpikir apa yang harus kulakukan karena
tubuhku tidak mau menurut, pintu kamar terbuka perlahan.
Lalu Telshe yang mengenakan pakaian pelayan seperti
biasanya masuk ke dalam ruangan.
"────Shion, -sama……?"
Telshe yang matanya bertemu denganku menggumamkan namaku
sambil terbelalak lebar.
"Selamat pagi, Telshe. Maaf ya, sepertinya aku tidur
terlalu lama."
"……Itu artinya mimpi Anda pasti sangat indah.
……Selamat pagi, Shion-sama."
Telshe yang matanya berkaca-kaca tersenyum sambil
menggenggam tanganku erat-erat. Hanya dari tindakannya itu, aku tahu betapa
cemasnya dia selama ini. Aku merasa bersalah pada Telshe.
"Iya. Itu adalah mimpi yang sangat
membahagiakan."
Rasanya agak berbeda jika disebut mimpi, tapi aku bisa
menghabiskan waktu bersama Orn di Dunia Antara. Bagi kusemua itu adalah waktu
yang indah bagaikan mimpi.
"Saya sangat bersyukur mendengarnya. Namun, karena
Anda sudah tertidur selama beberapa bulan, kekuatan otot Anda pasti sangat
menyusut. Mohon istirahatlah dengan tenang untuk sementara. Biarkan saya yang
terus mengurus keperluan Anda."
"Tadi aku baru saja merasakannya sendiri saat tidak
bisa bangun. Tapi, maaf ya. Aku tidak bisa terus berbaring di
sini."
"……Saya mengerti. Namun,
mohon jangan memaksakan diri."
"Terima kasih, Telshe. Kalau aku mengaktifkan Qi
untuk sementara, kurasa aku setidaknya bisa melakukan aktivitas
sehari-hari."
Meskipun sebenarnya ingin melarang, Telshe menahan
perasaannya dan menghargai keinginanku.
Sambil mengucapkan terima kasih padanya, aku mengalirkan
Qi ke seluruh tubuh.
……Sip, kalau begini aku bisa menggerakkan tubuh tanpa
masalah.
Memang berat untuk mempertahankan kondisi ini
terus-menerus, jadi aku ingin segera melakukan rehabilitasi, tapi sekarang aku
harus pergi menyambut Orn!
Setelah berhasil berdiri dan mengganti pakaian, aku
menyantap makanan ringan.
Lalu aku bersama Telshe menuju ruangan tempat lingkaran
teleportasi berada.
Aku dan Orn tidak hanya sekadar bersenang-senang
menghabiskan waktu di Dunia Antara.
Kami juga sudah membicarakan langkah-langkah kami
setelah kembali ke sini.
Karena kami tidak tahu kapan tepatnya kami akan
kembali, rencananya memang tidak bisa disusun terlalu mendetail.
Namun, Orn yang sudah bisa menguasai All-Encompassing
Nature dan sudah diajarkan segala hal tentang prinsip dunia oleh August-san
pasti bisa membuat lingkaran sihir teleportasi jarak jauh dadakan.
Karena itulah kami menetapkan ruangan dengan
lingkaran teleportasi di kantor pusat Kamar Dagang Downing ini sebagai tempat
pertemuan.
Sambil menunggu kedatangan Orn, aku mendengarkan
cerita Telshe tentang kejadian selama aku tertidur, dan sebaliknya aku
menceritakan pengalamanku di Dunia Antara padanya.
Waktu pun berlalu dengan cepat.
"……Artinya, setelah ini Anda akan berangkat
untuk merebut kembali Kyokuto?" tanya Telshe setelah selesai mendengarkan
ceritaku.
"Iya. Tapi sebelumnya Orn bilang ada hal yang
ingin dia lakukan, jadi baru setelah itu."
"Saya mengerti. Saya akan segera menghubungi
unit operasional 'Amunzerath'."
"Itu akan sangat membantu. Yah, tapi pertama-tama
kita harus mendengar rencana besar yang dipikirkan Orn. Walaupun aku sudah tahu
tujuan akhirnya di Dunia Antara, aku belum mendengar cara untuk mencapainya. ──Ah, benar juga. Chris ada di kantor pusat seharian ini, kan?"
"Benar. Saat Shion-sama sedang makan tadi, saya
sekalian melapor pada Ketua bahwa Anda sudah bangun dan memastikan jadwal
beliau. Beliau berencana fokus pada pekerjaan administrasi seharian ini, jadi
saya sudah berpesan agar beliau mengosongkan jadwal untuk Shion-sama
nanti."
"Luar biasa, Telshe. Kau memang cekatan dan sangat
membantu."
"Anda terlalu memuji saya."
Saat aku sedang berbincang dengan Telshe, lingkaran sihir
yang digambarkan di lantai ruangan mulai bercahaya.
Lima siluet muncul seolah berdiri di atas lingkaran
sihir tersebut.
Lalu, Orn dan yang lainnya menampakkan diri.
Begitu mataku bertemu dengan Orn, dia tersenyum
padaku.
Tak tertahankan lagi, aku berlari menuju Orn.
"Orn!! Selamat datan, g!?"
Karena terlalu senang, aku melakukan kesalahan dalam
pengendalian Qi sehingga kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh terjungkal.
◇◇◇
Shion berlari ke arahku dengan senyum lebar di
wajahnya.
"Orn!! Selamat datan, g!?"
Saat aku menyadari pipiku sendiri melemas secara
alami, tiba-tiba Shion kehilangan keseimbangan seolah kakinya tersangkut.
"Shion!
……Kau tidak apa-apa?"
Aku segera merangkul dan menangkap Shion.
"A-ahaha……
Malu-maluin ya…… Terima kasih sudah menangkapku……"
Shion memalingkan wajahnya dengan malu-malu sementara
pipinya merona merah.
Setelah memastikan dia tidak terluka, aku melepaskan
pelukanku.
"Ternyata
kau benar-benar sudah bangun. Tapi, sampai hampir jatuh karena kegirangan
begitu, apa Shion jadi kembali seperti anak kecil karena kebanyakan
tidur?" gumam Fuuka.
Sebelum
sampai di sini, aku sudah memberi tahu semua orang bahwa kemungkinan besar
Shion sudah bangun, tapi sepertinya Fuuka masih setengah percaya.
Di
belakangnya, Haruto-san mengguncangkan bahunya sambil menahan tawa.
"Guh……
Tidak kusangka aku akan dikomentari begitu oleh Fuuka……"
Wajah
Shion terlihat masam, sepertinya dia syok dikomentari begitu oleh Fuuka.
"Shion-sama,
tolong beri saya izin untuk menampar pria tidak sopan yang tertawa di belakang
itu."
Telshe-san
sepertinya tidak senang dengan Haruto-san yang menertawakan Shion, dan dia
meminta izin untuk melakukan kekerasan.
"Kenapa
jadi aku!? Yang tidak sopan itu kan Fuuka!?"
"Fuuka-sama
adalah teman Shion-sama jadi tidak masalah, tapi orang sepertimu menertawakan
Shion-sama? Mana mungkin aku membiarkannya?"
"Ini
sangat tidak adil!"
Meskipun
Haruto-san membantah alasan Telshe-san, wanita itu sama sekali tidak mau
mendengar.
Hmm,
aku sudah merasakannya sejak dulu, tapi mereka berdua ini sebenarnya cukup
akrab ya.
Sepertinya
Telshe-san hanya menunjukkan sifat aslinya kepada Haruto-san saja.
"…………Orang-orang
yang berkumpul di sini adalah para petinggi 'Amunzerath', kan? Apa 'Amunzerath'
itu kelompok pelawak……?"
"Padahal
di dalam Ordo, 'White Demon' dan 'Sword Princess' dibilang sosok yang sangat
mengancam~ Citra mereka jadi hancur nih~"
Lueria
dan Frederick yang melihat interaksi itu memasang wajah yang agak kaku.
"Orn, anak-anak ini siapa……?"
Aku mengangguk menanggapi pertanyaan Shion.
"Hingga kemarin mereka berdua adalah bawahan
'Doktor'. Namun, 'Doktor' telah dibunuh oleh sesama petinggi Ordo, sang
'Raksasa', dan sepertinya mereka sendiri tidak berniat kembali ke Ordo. Karena
saat ini mereka tidak menunjukkan niat bermusuh, aku yang mengawasi
mereka."
"Hmm. Yah, kupikir Orn sudah mempertimbangkan ini
baik-baik, jadi aku tidak akan banyak komentar."
Shion sepertinya ingin mengatakan sesuatu, namun dia
menelan kembali kata-katanya.
"Terlepas dari itu, aku senang kau bisa bangun tanpa
masalah."
"Ehem. Aku sudah bangun dengan selamat! Kepalaku
terasa segar. Meskipun tubuhku butuh sedikit rehabilitasi, aku akan segera
mengembalikannya ke kondisi puncak!"
"Aku
lega mendengarnya. ……Di mana Christopher-san sekarang? Aku ingin segera mendiskusikan rencana ke depan bersamanya."
"Orn-sama, saya sudah menghubungi Ketua untuk
meluangkan waktunya tadi. Beliau seharusnya ada di ruang kerjanya
sekarang."
Telshe-san menjawab pertanyaanku.
Meski dipanggil dengan embel-embel "-sama"
masih terasa janggal, sepertinya aku harus menerimanya saja.
"Terima kasih. —Kalau begitu, ayo kita ke
tempatnya."
◆◇◆
Kami membiarkan Lueria dan Frederick menunggu di ruang
tamu, lalu aku, Shion, Fuuka, Telshe-san, dan Haruto-san menuju ruang kerja
Christopher-san.
Aku tidak berpikir Lueria dan kakaknya akan membuat
keributan, tapi untuk berjaga-jaga, aku terus memantau situasi dengan Bird’s
Eye View agar tidak ada masalah yang terjadi.
Begitu memasuki ruangan mengikuti panduan Telshe-san,
Christopher-san yang mengenakan monocle menyambut kami, persis seperti
sebelumnya.
Satu-satunya perbedaan adalah ekspresi terkejut yang
muncul di wajahnya saat melihatku.
"Aku sudah dengar Shion yang sudah siuman akan
datang, tapi tidak kusangka kalian semua juga ikut kemari."
"Maaf
kami datang tiba-tiba, Christopher-san."
"……Tidak,
aku akan meluangkan waktu sebanyak apa pun untukmu, Orn."
Meskipun
tampak terguncang, tatapan yang diarahkan Christopher-san kepadaku sangat
lembut dan penuh kasih sayang, seperti seorang kakak yang menyayangi adiknya
yang terpaut usia jauh.
Dia
adalah pengrajin alat sihir yang pernah berguru pada Ayah.
Dulu
saat aku masih tinggal di Desa Reimei, dia sering mengunjungi Ayah.
Dia
selalu menyempatkan diri bermain bersamaku, dan kenangan-kenangan masa itu kini
mulai bangkit kembali.
Melihat tatapannya, aku merasa rindu sekaligus nyaman.
"Terima kasih. Ada banyak hal yang ingin kubicarakan
denganmu, tapi sebelumnya ada yang harus kusampaikan. Aku sudah mendapatkan
kembali ingatanku."
Begitu aku mengatakannya, Christopher-san memejamkan mata
sambil menumpukan kepala pada tangannya yang bertaut di depan wajah, seolah
sedang memikirkan sesuatu.
Namun itu hanya sekejap, dia segera tersenyum lembut ke
arahku.
"……Sejak melihatmu, entah kenapa aku sudah merasa
begitu. Kalau ingatanmu sudah kembali, kau tidak perlu memanggilku
'Christopher-san' yang terasa kaku seperti orang asing begitu. Kau boleh
memanggilku 'Kak Chris' seperti dulu, tahu?"
Dulu aku memang sangat menyayanginya seperti kakak
kandung sendiri.
Tapi….
"……Tidak, seingatku waktu kecil aku memanggilmu
'Chris' tanpa embel-embel apa pun. Tolong jangan membuat-buat kenangan
palsu."
Benar. Aku dulu memanggilnya 'Chris'.
Meskipun dia bersikeras memintaku memanggilnya 'Kak
Chris', aku mengabaikannya dan tetap memanggil 'Chris'.
Itu karena aku suka melihat ekspresi pasrahnya yang
tersenyum pahit sambil bergumam, "Ya sudahlah," setiap kali aku
memanggilnya begitu.
"Hahaha!
Benar juga, ya. ……Begitu ya, ingatanmu benar-benar sudah kembali. Syukurlah,
benar-benar syukurlah……"
Mungkin
baru sekarang kenyataan bahwa ingatanku telah pulih benar-benar meresap,
Christopher-san bergumam dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Jika
kamu tidak keberatan, bolehkah aku bersikap seperti dulu?"
Saat aku mendekatinya, dia tersenyum lebar.
"Tentu saja. Malah, kau boleh memanggilku 'Kak
Chris' mulai sekarang, lho?"
"Tidak, tetap 'Chris' seperti biasa."
Begitu aku menolaknya mentah-mentah, dia menunjukkan
senyum pahit yang sangat kurindukan itu.
Di tengah interaksi nostalgia itu, Shion melangkah maju.
"Maaf mengganggu momen nostalgianya, tapi aku sedang
marah pada Chris."
"Kenapa?
Karena Orn direbut?"
Chris
mengoda Shion.
Shion merengut kesal namun menggelengkan kepalanya.
"Bukan itu. Chris menyembunyikan banyak hal
dariku, kan? Misalnya, soal Cavadale Evans."
Cavadale Evans. Kakekku, pengrajin alat sihir
legendaris yang memberikan kontribusi besar pada perkembangan alat sihir selama
Perang Wilayah Utara puluhan tahun silam, dan dikatakan telah 'memajukan
standar teknologi alat sihir selama seratus tahun'.
Dunia mengenalnya telah bunuh diri sekitar sepuluh
tahun yang lalu. Padahal, kenyataannya dia masih hidup, mengelola toko serba
ada di Tsutrail sambil mengawasiku.
"Cavadale Evans……? Maksudmu pengrajin alat sihir
yang meninggal sepuluh tahun lalu itu? Aku tidak menyembunyikan apa pun,
kok."
Chris tampak bingung menghadapi Shion yang mencoba
menginterogasinya.
Bukan hanya dia, Haruto-san dan Telshe-san pun
menunjukkan reaksi serupa.
Hanya Fuuka yang tetap bersikap masa bodoh seperti
biasanya.
"……Ternyata persepsinya memang begitu."
Melihat reaksi orang-orang di sekitarnya terhadap Kakek,
Shion bergumam seolah sudah menduga hal ini.
"……Sepertinya begitu. Dunia ini pasti 'dunia di mana
Kakek meninggal sepuluh tahun yang lalu'."
Dulu aku mengira alasan Kakek memalsukan kematiannya
adalah untuk mengatur ulang hubungan sosial di sekitarnya.
Tapi sekarang aku tahu itu salah.
Kakek sudah memprediksi alur kejadian sebelumnya sejak
sepuluh tahun lalu, dan dia bertindak lebih awal agar keberadaannya dalam garis
waktu ini dianggap sebagai 'seseorang yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu'.
Kemungkinan besar, segala hal yang melibatkan Kakek
selama sepuluh tahun terakhir telah dianggap tidak pernah ada, atau digantikan
oleh hal lain.
Sambil memikirkan hal itu, aku melirik alat sihir
penyimpanan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku.
Ini awalnya adalah barang buatan khusus yang diberikan
Kakek tak lama setelah aku menjadi penjelajah.
Bentuknya memang sama dengan yang ada di dunia
sebelumnya, tapi kemungkinan besar sirkuit sihir yang terpatri di dalamnya sama
dengan alat penyimpanan biasa.
Kapasitasnya mungkin tidak sebesar dulu, dan tidak bisa
menyimpan mana.
Untungnya, aku masih ingat sirkuit sihir yang dibuat
Kakek, jadi aku yang sekarang seharusnya bisa mereproduksinya.
"Ya. Pasti begitu."
Shion membenarkan dugaanku.
Namun di sisi lain, muncul keraguan di benak Chris dan
yang lainnya.
"Banyak istilah menarik yang keluar dari mulut Orn,
bolehkah aku bertanya?"
Mewakili yang lain, Chris menyuarakan rasa penasarannya.
"Tentu saja. Aku kemari memang untuk menceritakan
itu."
Setelah itu, aku menceritakan kejadian-kejadian yang
terjadi sebelum waktu diputar kembali.
Tentang bagaimana "Ordo Cyclamen" menyerang Tsutrail
demi menghancurkan mentalku.
Tentang bagaimana Kakek memanfaatkan kekejaman Ordo untuk
menyusun rencana memutar balik waktu dunia.
Tentang
bagaimana Chris, Haruto-san, dan yang lainnya juga ikut serta dalam rencana
itu.
Dan hasilnya, aku mendapatkan kembali ingatan serta
kekuatan khususku.
"……Itu artinya, kami membiarkan penduduk Tsutrail
dibantai oleh Ordo……? Hahaha……
Benar-benar organisasi kriminal sesuai reputasinya, ya……"
Mendengar
ceritaku, Chris tertawa getir tanpa tenaga.
"Aku bukan tidak punya perasaan mengenai rangkaian
kejadian ini. Tapi, tanpa itu, 'sekarang' tidak akan ada, dan dunia yang
diinginkan Belia…… tidak, dunia yang diinginkan Ordo pasti akan terwujud. —Karena
itu, aku tidak akan melupakan kekalahan ini. Aku bersumpah akan memikul
kenyataan pahit ini dan terus melangkah demi memenuhi tujuanku."
"Kau kuat, Orn. Lalu, apa tujuanmu? Mengalahkan 'Ordo
Cyclamen'?"
"Itu
hanya batu loncatan, Chris. Aku akan menghancurkan dunia ini. Lalu,
aku akan membawa orang-orang di dunia ini ke dunia luar. Itulah tujuanku."
Pada akhir zaman dongeng yang penuh kekacauan,
orang-orang yang dipimpin oleh August-san berhasil menang tipis dengan menyegel
Dewa Jahat.
Namun, pertempuran hebat melawan Dewa Jahat telah merusak
dunia, menciptakan lingkungan yang sulit ditinggali bagi sebagian besar
manusia.
Saat kepunahan umat manusia hanya tinggal menunggu waktu,
August-san menciptakan dunia baru —dunia sirkuit sihir— dan orang-orang
melarikan diri ke sana untuk menghindari kepunahan.
Dan mereka berharap suatu saat nanti bisa kembali ke
kampung halaman mereka, dunia luar.
Namun, seiring berjalannya waktu yang sangat lama,
harapan itu perlahan-lahan terlupakan.
"Jadi
itu tujuanmu sekarang. ……Boleh aku bertanya satu hal? Dunia ini
telah berkembang selama ratusan tahun. Ditambah lagi dengan campur tangan 'Ordo
Cyclamen', jangankan orang yang ingin kembali ke dunia luar, keberadaan dunia
luar itu sendiri pun sudah terlupakan. Mungkin saja tidak ada yang menginginkan
hal itu?"
"Aku tahu. Tapi aku akan tetap melakukannya.
Meskipun tidak ada yang menginginkannya, —karena akulah, bukan orang lain, yang
ingin pergi ke dunia luar."
"Menghancurkan dunia ini yang menjadi penghalangnya,
ya. …………Begitu ya, akhirnya saat ini tiba juga."
Chris bergumam. Suaranya mengandung berbagai macam emosi
yang saling berkelindan, emosi mendalam yang tidak bisa diungkapkan dengan
kata-kata sederhana.
"Amunzerath". Itu adalah organisasi yang
dikenal sebagai organisasi kriminal yang sangat kuat setara dengan "Ordo
Cyclamen".
Alasan utamanya adalah karena selama bertahun-tahun
mereka telah membunuh para penjelajah untuk mencegah penaklukan Labirin Besar.
Labirin Besar adalah perangkat untuk menyegel Dewa Jahat,
sesuatu yang sangat krusial untuk mempertahankan dunia ini.
Jika seluruh Labirin Besar berhasil ditaklukkan, tidak
hanya Dewa Jahat yang akan bangkit, tapi dunia sirkuit sihir ini juga akan
runtuh dan tertelan oleh dunia luar.
Jika itu terjadi, lingkungan akan menjadi tidak layak
huni dan umat manusia akan punah.
Namun, sekarang setelah sejarah dan ingatan orang-orang
dibelokkan oleh "Ordo Cyclamen", hampir tidak ada lagi yang
mengetahui kebenaran tersebut.
Dewa Jahat dianggap sudah dikalahkan sepenuhnya, dan jika
ada yang mengklaim bahwa Labirin Besar berperan menjaga kestabilan dunia,
mereka hanya akan ditertawakan.
Lagipula, keinginan manusia tidak bisa dihentikan.
Begitu ada tantangan menaklukkan Labirin Besar yang belum
pernah dicapai oleh siapa pun, wajar jika muncul orang-orang yang ingin
mencobanya.
Aku pun termasuk salah satu orang yang terpesona oleh
daya tarik penaklukan Labirin Besar. Aku sangat mengerti perasaan para
penjelajah itu.
Hasilnya, hampir tidak ada penjelajah yang menggubris
peringatan "Amunzerath", sehingga "Amunzerath" terpaksa
menggunakan kekerasan.
"…………Demi hari ini, kami telah terus mengotori
tangan ini dengan darah. Apakah akhirnya aku bisa mengatakan bahwa semua itu ada
maknanya……"
Chris bergumam sambil menatap tangannya sendiri.
Shion yang berada di sampingku menunduk dengan
ekspresi yang rumit.
"Aku tidak tahu apakah perbuatan 'Amunzerath'
itu benar atau bermakna. Tapi—"
Mereka menghalangi penaklukan Labirin Besar bahkan
dengan membunuh penjelajah adalah demi melindungi dunia, seperti yang kukatakan
tadi.
Demi melindungi mayoritas orang yang hidup di dunia
ini, mereka terpaksa memangkas minoritas yang disebut penjelajah.
Mengorbankan yang kecil demi menyelamatkan yang
besar.
Itu adalah salah satu strategi bertahan hidup yang
telah diambil berkali-kali sepanjang sejarah panjang.
Apakah ini benar atau tidak, aku yang merupakan orang
dekat mereka tidak bisa menghakiminya.
Yang paling bisa menghakimi secara adil adalah
orang-orang yang akan hidup di masa depan nanti.
Di masa depan, apakah "Amunzerath" akan
dicaci sebagai pembantai yang membunuh banyak orang, atau dipuja sebagai
penyelamat umat manusia, aku tidak tahu.
Selama hasilnya belum diketahui, kita tidak punya pilihan
selain melangkah di jalan yang kita yakini benar.
"……Ke depannya, aku pun mungkin akan menghadapi
situasi di mana pertarungan hidup dan mati dengan lawan tidak bisa dihindari.
Meski begitu, yang kukejar adalah apa yang disebut happy ending. Aku
tahu ini adalah batasan yang sangat berat. Tapi, aku ingin Chris dan yang
lainnya tetap membantuku di bawah kondisi ini."
"Orn……"
Shion menggumamkan namaku dengan ekspresi pedih.
Shion juga sebagai anggota "Amunzerath" telah
membunuh banyak penjelajah.
Mengingat dia dijuluki "White Demon", tidak
sulit membayangkan betapa kuatnya kehadiran dia di dalam
"Amunzerath".
Dari ekspresi Shion, aku bisa melihat bahwa dia memikul
beban rasa bersalah yang sangat besar.
Di Dunia Antara, dia telah menerima dan membenarkanku
saat aku merasa putus asa. Dia telah menyelamatkanku. Karena itulah aku juga
ingin mengulurkan tangan kepadanya.
Sambil memikirkan hal itu, Chris membuka mulut dengan
senyum tulus.
"Baiklah. Jika tujuan bisa dicapai tanpa membunuh,
itu jauh lebih baik. 'Amunzerath' sendiri adalah organisasi yang dibentuk
bersama 'Pahlawan Dongeng' untuk 'menemukan cara kembali ke dunia luar'. Jika
Orn sudah mewarisi wasiatnya, tidak ada alasan bagi kami untuk menolak. Secara
pribadi pun, aku ingin mendukung impian adik kecilku ini."
"Terima kasih. Itu sangat membesarkan hati."
Dengan begitu, aku berhasil mendapatkan kerja sama dari
"Amunzerath". Yah, meskipun sebenarnya kami hanya kembali ke posisi
semula.
◆◇◆
Setelah urusan dengan Chris selesai dan kami bubar, aku
segera menyelesaikan hal-hal yang harus segera dikerjakan, seperti menyesuaikan
alat sihir penyimpanan.
Dan sekarang, aku sedang berjalan-jalan di Celeste, ibu
kota Kadipaten Hitia, untuk menyegarkan pikiran.
Sebagai ibu kota dari negara besar sihir, banyak alat
sihir raksasa yang tidak ditemukan di tempat lain beroperasi di sini.
Waktu kecil, aku tinggal di Desa Reimei yang berjarak
sekitar dua jam perjalanan dengan kereta kuda dari sini.
Karena aku sudah beberapa kali mengunjungi Celeste,
pemandangan kota ini membangkitkan rasa rindu.
Setiap bangunannya juga lebih tinggi dibandingkan
bangunan di tempat lain.
Biasanya hal itu akan memberikan kesan sesak, tapi karena
bangunan-bangunan ini berdiri berjajar di setiap blok yang tertata rapi,
rasanya tidak terlalu menyesakkan.
Setelah sekitar satu jam di luar, aku kembali ke kantor
pusat Kamar Dagang Downing untuk melanjutkan pekerjaan, dan aku merasakan
banyak kehadiran roh es.
Sepertinya roh-roh es itu menuju ke atap.
Aku mengikuti roh-roh es tersebut hingga ke atap gedung.
Di antara gedung-gedung tinggi di Celeste, gedung Kamar
Dagang Downing termasuk yang paling tinggi, sehingga dari atapnya aku bisa
melihat seluruh pemandangan kota.
Saat aku melayangkan pandangan ke arah tempat roh-roh es
berkumpul, rambut perak Shion yang sedang duduk di tepian atap tampak melambai
tertiup angin.
Secara alami, aku melangkah menuju ke arahnya.
"Hm? Orn? Bukannya kau ada pekerjaan?"
Shion menyadari kehadiranku dan menyapaku.
"Penyesuaian alat sihir penyimpanannya sudah
selesai. Masih ada hal-hal kecil yang tersisa, tapi sebelum itu aku ingin
berkeliling kota untuk ganti suasana. Ngomong-ngomong,
memang luar biasa ya Kamar Dagang Downing ini. Di mana pun aku melihat, isinya
hanya peralatan tercanggih. Kalau punya lebih banyak waktu, rasanya aku ingin
menikmatinya lebih lama."
Seperti dugaanku, alat sihir penyimpananku tidak
terpatri sirkuit sihir khusus buatan Kakek.
Karena aku sudah meminjam peralatan Kamar Dagang
Downing untuk mengubah sirkuitnya, mulai sekarang aku bisa menggunakan alat
sihir penyimpanan itu tanpa masalah seperti di dunia sebelumnya.
"Bukannya tanpa alasan kami disebut sebagai salah
satu kamar dagang alat sihir terkemuka di dunia.
Yah, tapi karena aku cuma belajar sihir di akademi dan
payah soal alat sihir, aku tidak terlalu paham sehebat apa peralatan di sini,
sih."
Shion tertawa malu-malu.
Di Kadipaten Hitia, terdapat fasilitas bernama
"Akademi Sihir Alstroemeria" tempat mempelajari sihir dan alat sihir.
Berkat adanya akademi ini, rakyat Kadipaten Hitia secara
keseluruhan memiliki pengetahuan yang lebih dalam soal sihir dan alat sihir
dibandingkan rakyat negara lain, dan ini menjadi faktor utama mereka disebut
negara besar sihir.
Hal menarik dari akademi ini adalah mereka juga aktif
menerima orang dari luar Kadipaten Hitia.
Tentu saja ada sedikit seleksi bagi warga negara asing,
namun dikatakan standarnya jauh lebih baik hati dibandingkan standar normal.
Shion
sudah bersekolah di akademi tersebut sejak kecil.
"Akademi,
ya. Ngomong-ngomong, aku belum sempat mendengar cerita masa lalu Shion bahkan
saat di Dunia Antara. Sampai kapan Shion bersekolah di akademi?"
"Sampai usia lima belas tahun. Karena aku masuk
akademi di usia tujuh tahun, berarti aku sekolah di sana selama delapan tahun.
Awalnya aku masuk karena disuruh orang tuaku dan terpaksa, tapi sejak hari itu,
saat aku mendengar kabar Orn meninggal, aku sekolah atas keinginanku sendiri.
Demi menepati janji 'pergi ke dunia luar' yang kuucapkan pada Orn."
Saat mengatakannya, tatapan Shion tampak merindu, namun
sekaligus menyiratkan rasa bersalah.
'Hari itu' pasti merujuk pada hari saat Desa Reimei
diserang oleh "Ordo Cyclamen" dan Filly Carpenter sang pemilik
kemampuan khusus Recognition Alteration mengubah ingatanku.
Kenyataannya aku dan Oliver selamat, tapi saat
"Amunzerath" dan pihak Kadipaten mengetahui fakta itu, kami sudah
pindah ke Kerajaan Nohitant.
Melihat kondisi desa yang mengerikan ditambah tidak
adanya penyintas yang terkonfirmasi, aku mendengar kabar bahwa semua penduduk
Desa Reimei, termasuk aku dan Oliver, dianggap telah meninggal.
"Setelah lulus akademi, aku bergabung dengan
'Amunzerath'. Karena hanya di sinilah ada kesempatan untuk mengetahui tentang
prinsip dunia dan dunia luar. Masuk ke Ordo pun mustahil bagiku. …………Dan aku,
dengan dalih melindungi dunia, telah membunuh banyak penjelajah."
Aku sudah menduga alasan Shion bergabung dengan
"Amunzerath", tapi mendengarnya langsung dari mulutnya memberikan
beban tersendiri di hatiku.
Seandainya hari itu aku tidak kalah dari "Ordo
Cyclamen", seandainya ingatanku tidak diubah, mungkin dia tidak akan
memilih jalan untuk mengotori tangannya sendiri dengan darah.
"……Begitu ya. Kalau kau tidak mau menjawab juga
tidak apa-apa, tapi Shion, apa kau menyesal? Menyesali masa lalumu yang telah
membunuh penjelajah."
"Aku tidak menyesal. Karena itu adalah jalan yang
kupilih setelah berpikir sampai aku merasa yakin. Lagipula, karena aku sudah
merampas nyawa orang, aku tidak punya hak untuk menyesal. ……Tapi, ada hal yang
terus kupikirkan."
Shion mengungkapkan kegundahan hatinya sambil menutupi
wajahnya.
"……Selama ini aku hidup dengan berpegang pada
janji dengan Orn. Sekarang setelah Orn kembali, aku ingin bertarung bersamamu,
aku ingin pergi ke dunia luar bersamamu. Tapi, apa aku punya kualifikasi untuk
itu……? Orang sepertiku yang terus berjalan di jalan berlumuran darah
ini……"
"Shion—"
Saat aku membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, bahu
Shion tersentak.
"—Aduh, kenapa aku malah mengeluh lemah begini.
Memalukan sekali! Padahal didengar pun hanya akan membuat Orn bingung. Maaf, lupakan yang tadi. ……Ah,
benar juga! Aku ada hal yang harus kubicarakan dengan Telshe—"
Shion
meracau dengan nada bercanda untuk mengalihkan pembicaraan, lalu mencoba
berjalan cepat melewatiku.
Gumamannya
tadi jelas adalah isi hati Shion yang paling dalam, sebagian dari beban rasa
bersalahnya.
Aku
tidak bisa membiarkannya seolah tidak mendengar apa-apa.
Aku
mencengkeram pergelangan tangan Shion yang mencoba melarikan diri dariku.
"—Tidak
perlu."
"Eh?"
"Kualifikasi
semacam itu, tidak perlu."
Aku
menarik perlahan pergelangan tangan yang kucengkeram, membuat Shion berbalik. Lalu
aku menatapnya lurus-lurus.
"Aku sangat senang saat Shion menerimaku yang sempat
putus asa di Dunia Antara. Waktu itu kau bilang, kan? 'Kalau ada hal yang
berat, tumpahkan saja padaku'. 'Aku ingin memikulnya bersama'. Aku pun
merasakan hal yang sama. Aku ingin memikul dosa Shion bersama-sama."
Shion menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Tidak boleh……! Ini adalah hal yang kulakukan
atas keinginanku sendiri! Ini adalah beban yang harus kupikul sendirian!"
"Jika itu dilakukan demi memenuhi janji
denganku, maka aku pun menanggung dosa yang sama dengan Shion. Lagipula,
seandainya hari itu aku tidak kalah, 'sekarang' yang ada pasti akan berbeda
jauh. Dalam artian itu pun, aku juga punya tanggung jawab."
"Itu…… logika yang tidak masuk akal……"
"Logika tidak masuk akal pun tidak masalah. Selama
itu bisa membuatku memikul beban Shion bersama-sama."
Sebelum ingatanku diubah oleh Filly, sejak hari pertama
aku tahu ada dunia yang terbentang di luar dunia sirkuit sihir ini, aku sudah
bermimpi untuk pergi ke dunia luar.
Aku ingin berkeliling di dunia yang penuh dengan akar
sejarah umat manusia.
Alasanku mengejar penaklukan Labirin Besar di selatan
sebagai penjelajah mungkin dipengaruhi oleh Recognition Alteration,
namun aku yakin perasaan mendasar inilah yang menjadi intinya.
'Kembali ke dunia luar' adalah cita-cita awal
"Amunzerath".
Namun setelah ratusan tahun berlalu, tujuan utama
"Amunzerath" berubah menjadi 'Menjaga ketertiban dunia ini' dan
'Menghancurkan Ordo', sehingga keinginan untuk pergi ke dunia luar dianggap
menyimpang.
Aku yang membangkitkan kemampuan khusus segera setelah
lahir, sempat dipermainkan oleh kemampuan itu.
Namun hal itu berhasil teratasi berkat sihir penyegel
yang dipasang Ayah, sehingga aku bisa hidup berdampingan dengan baik dengan
kekuatanku.
Dan berkat daya tangkap tinggi yang merupakan ciri khas
kemampuan khusus, sejak dini aku sudah menyadari bahwa pemikiranku itu berbeda
dari yang lain.
Karena itulah aku tidak pernah menceritakan impianku
kepada siapa pun dan menyimpannya jauh di dalam lubuk hati.
Hingga kemudian, saat melihat pemandangan dunia perak
indah yang diciptakan Shion, impian itu tanpa sengaja terucap.
Dalam hati aku gemetar ketakutan, bersiap menerima
reaksi penolakan dari Shion.
Karena itu aku malah nekat sekalian mengajak Shion ke
dunia luar, dan di luar dugaan dia dengan senang hati menjawab, 'Aku mau pergi
bersamamu'.
Bagi aku yang selalu merasa kesepian meskipun
rekan-rekan di desa bersikap baik padaku, janji itu bagaikan penyelamat.
"……Aku tidak ingin melihat Shion menderita. Aku
ingin Shion tersenyum di sampingku. Karena bagiku, Shion adalah sosok yang
istimewa."
"Kata-kata itu, curang sekali……"
Bahu Shion yang tertunduk sedikit gemetar.
Aku merangkul Shion dan menarik wajahnya perlahan ke
dadaku.
Aku bisa merasakan air matanya mulai meresap ke
pakaianku.
Aku mengelus kepalanya dengan lembut tanpa mengucapkan
kata-kata lebih lanjut, hanya menunjukkan bahwa aku ada di sisinya.
Dalam pelukan itu, tangisannya perlahan-lahan mulai mereda—.



Post a Comment