Bonus E-book: Cerita Pendek
Tambahan
Acara Perkumpulan Wanita
Udara
musim semi yang lembut masuk melalui jendela bersama dengan sinar matahari yang
tenang.
Di
sebuah ruangan yang menghadap ke taman di mana cahaya matahari menembus celah
dedaunan, empat orang perempuan sedang berkumpul mengelilingi meja.
Fuuka
menyesap teh dari cangkirnya, menikmati aroma dan sedikit rasa sepatnya.
Setelah
meletakkan cangkir perlahan, ia melunakkan ekspresi wajahnya dan menatap orang
yang menyajikan teh tersebut.
"Sudah lama aku tidak minum teh buatan Telshe…… tapi
rasanya masih tetap enak."
"Terima kasih banyak. Saya juga sudah memanggang
banyak kue agar Anda merasa puas, Fuuka-sama. Silakan dinikmati tanpa
sungkan."
"Kalau begitu, akan sangat tidak sopan jika aku
tidak menghabiskan semuanya."
Berlawanan dengan Fuuka yang berbicara dengan santai
seperti biasa, Luna dan Anneri tampak bingung dengan situasi ini.
"Hei, jadi sebenarnya ini acara apa……?" tanya
Anneri yang sudah tidak tahan lagi kepada Shion yang sedang asyik menikmati
tehnya.
"Apa maksudmu? Bukannya aku sudah bilang saat
mengajak kalian?"
"Untuk
memperdalam keakraban, begitu……?" tanya Luna memastikan.
"Benar!
Karena mulai sekarang kita adalah rekan yang akan berjuang bersama, bukankah
sebaiknya kita saling mengenal satu sama lain? ……Yah, kalau harus menyebutkan
alasan lain, aku hanya ingin mencoba apa yang disebut 'Acara Kumpul Perempuan'
(Joshi-kai). Aku dengar, perempuan seumuran yang berkumpul untuk
mengadakan pesta teh disebut seperti itu."
"Shion,
kalau ini adalah acara keakraban, menyembunyikan sesuatu itu tidak baik."
Fuuka,
yang sedari tadi sibuk memakan kue seperti seekor tupai kecil, tiba-tiba
membuka suara.
"……Aku
tidak menyembunyikan apa-apa, kok?"
Berlawanan
dengan kata-katanya, pupil mata Shion sedikit bergetar. Melihat Shion yang
mencoba menghindar, Fuuka menatapnya tajam (jitome) dan mendesak lebih
jauh.
"Memang
benar kalau kau ingin akrab dengan Luna dan Anneri, atau ingin mencoba
mengadakan Joshi-kai. Tapi, yang paling ingin kau dengar dari kami
adalah tentang Orn, kan?"
"Ugh……"
Shion
sempat ingin membalas, tapi sebelum sempat berucap, wajahnya memerah dan ia
memalingkan muka.
"B-bukan
berarti hal itu…… tidak benar, sih……"
"Kalau dipikir-pikir, penampilan Shion-san saat kami
tiba di Kadipaten Hitia kemarin……" Luna mulai mengingat-ingat, lalu Anneri
menyambung.
"Benar juga. Kalau diingat kembali setelah mendengar
ini, ekspresi gembiramu saat itu benar-benar terlihat seperti gadis yang sedang
jatuh cinta! Fufu, ternyata kau punya sisi yang imut juga ya."
"Uuu…… Padahal aku berniat menanyakannya dengan alur
yang lebih alami…… Kau
benar-benar melakukannya ya, Fuuka……!" keluh Shion dengan pipi merona.
"Aku
hanya menghargai perasaan Shion yang ingin memperdalam keakraban."
"Memang
benar, aku merasa kita jadi jauh lebih dekat sekarang."
"Benar
juga. Karena aku dengar Shion-san adalah salah satu tokoh sentral di Amunzerath,
aku sempat punya kesan kalau Anda itu menyeramkan, tapi sepertinya kesan itu
akan berubah."
"~~~~kh!
Sudahlah! Jadi, bagaimana sosok Orn saat masih di Tsutrail!?"
"Ah,
dia akhirnya mengaku terang-terangan."
"Tidak
ada gunanya berpura-pura sekarang! Tapi, setelah aku mendengar tentang Orn dari
kalian bertiga, giliran kalian yang akan merasakan malu nanti, jadi
bersiaplah!"
Suasana
canggung yang ada di awal entah kapan telah menghilang, dan acara kumpul
perempuan itu pun diselimuti atmosfer yang damai hingga akhir.
Meskipun
begitu, kenyataannya sangat jauh dari apa yang dibayangkan Shion di awal.
Ia
terus digoda oleh mereka bertiga sampai akhir, dan pada akhirnya, ia tidak
pernah berhasil membalikkan keadaan.
Dan di
dalam hatinya, ia pun bersumpah untuk melakukan balas dendam suatu hari
nanti──.



Post a Comment