NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 8 Short Story

Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Acara Perkumpulan Wanita


Udara musim semi yang lembut masuk melalui jendela bersama dengan sinar matahari yang tenang.

Di sebuah ruangan yang menghadap ke taman di mana cahaya matahari menembus celah dedaunan, empat orang perempuan sedang berkumpul mengelilingi meja.

Fuuka menyesap teh dari cangkirnya, menikmati aroma dan sedikit rasa sepatnya.

Setelah meletakkan cangkir perlahan, ia melunakkan ekspresi wajahnya dan menatap orang yang menyajikan teh tersebut.

"Sudah lama aku tidak minum teh buatan Telshe…… tapi rasanya masih tetap enak."

"Terima kasih banyak. Saya juga sudah memanggang banyak kue agar Anda merasa puas, Fuuka-sama. Silakan dinikmati tanpa sungkan."

"Kalau begitu, akan sangat tidak sopan jika aku tidak menghabiskan semuanya."

Berlawanan dengan Fuuka yang berbicara dengan santai seperti biasa, Luna dan Anneri tampak bingung dengan situasi ini.

"Hei, jadi sebenarnya ini acara apa……?" tanya Anneri yang sudah tidak tahan lagi kepada Shion yang sedang asyik menikmati tehnya.

"Apa maksudmu? Bukannya aku sudah bilang saat mengajak kalian?"

"Untuk memperdalam keakraban, begitu……?" tanya Luna memastikan.

"Benar! Karena mulai sekarang kita adalah rekan yang akan berjuang bersama, bukankah sebaiknya kita saling mengenal satu sama lain? ……Yah, kalau harus menyebutkan alasan lain, aku hanya ingin mencoba apa yang disebut 'Acara Kumpul Perempuan' (Joshi-kai). Aku dengar, perempuan seumuran yang berkumpul untuk mengadakan pesta teh disebut seperti itu."

"Shion, kalau ini adalah acara keakraban, menyembunyikan sesuatu itu tidak baik."

Fuuka, yang sedari tadi sibuk memakan kue seperti seekor tupai kecil, tiba-tiba membuka suara.

"……Aku tidak menyembunyikan apa-apa, kok?"

Berlawanan dengan kata-katanya, pupil mata Shion sedikit bergetar. Melihat Shion yang mencoba menghindar, Fuuka menatapnya tajam (jitome) dan mendesak lebih jauh.

"Memang benar kalau kau ingin akrab dengan Luna dan Anneri, atau ingin mencoba mengadakan Joshi-kai. Tapi, yang paling ingin kau dengar dari kami adalah tentang Orn, kan?"

"Ugh……"

Shion sempat ingin membalas, tapi sebelum sempat berucap, wajahnya memerah dan ia memalingkan muka.

"B-bukan berarti hal itu…… tidak benar, sih……"

"Kalau dipikir-pikir, penampilan Shion-san saat kami tiba di Kadipaten Hitia kemarin……" Luna mulai mengingat-ingat, lalu Anneri menyambung.

"Benar juga. Kalau diingat kembali setelah mendengar ini, ekspresi gembiramu saat itu benar-benar terlihat seperti gadis yang sedang jatuh cinta! Fufu, ternyata kau punya sisi yang imut juga ya."

"Uuu…… Padahal aku berniat menanyakannya dengan alur yang lebih alami…… Kau benar-benar melakukannya ya, Fuuka……!" keluh Shion dengan pipi merona.

"Aku hanya menghargai perasaan Shion yang ingin memperdalam keakraban."

"Memang benar, aku merasa kita jadi jauh lebih dekat sekarang."

"Benar juga. Karena aku dengar Shion-san adalah salah satu tokoh sentral di Amunzerath, aku sempat punya kesan kalau Anda itu menyeramkan, tapi sepertinya kesan itu akan berubah."

"~~~~kh! Sudahlah! Jadi, bagaimana sosok Orn saat masih di Tsutrail!?"

"Ah, dia akhirnya mengaku terang-terangan."

"Tidak ada gunanya berpura-pura sekarang! Tapi, setelah aku mendengar tentang Orn dari kalian bertiga, giliran kalian yang akan merasakan malu nanti, jadi bersiaplah!"

Suasana canggung yang ada di awal entah kapan telah menghilang, dan acara kumpul perempuan itu pun diselimuti atmosfer yang damai hingga akhir.

Meskipun begitu, kenyataannya sangat jauh dari apa yang dibayangkan Shion di awal.

Ia terus digoda oleh mereka bertiga sampai akhir, dan pada akhirnya, ia tidak pernah berhasil membalikkan keadaan.

Dan di dalam hatinya, ia pun bersumpah untuk melakukan balas dendam suatu hari nanti──.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close