Chapter 6
Hujan di
Musim Kemarau
Seorang gadis muda berlari di tengah hutan, mencoba
mempersingkat waktu kepulangannya setelah merawat hewan ternak di sebuah
peternakan di Kepangeranan Hitia.
"Sudah terlambat. Aku harus cepat pulang……!"
Gadis itu terus memacu kakinya, namun tiba-tiba, sebuah
perasaan tidak enak merayap di punggungnya. Sesuatu sedang mengawasinya. Ia
menoleh dengan gemetar, dan—
"—Hii!?"
Seekor serigala raksasa dengan bulu merah semerah darah
sudah berdiri menjulang di hadapannya. Padahal, beberapa detik lalu tidak ada
siapa pun di sana.
Rasa takut yang luar biasa membuat kaki gadis itu lemas
hingga ia terduduk di tanah.
Serigala itu sepertinya adalah jenis yang bisa
menggunakan sihir; tanpa ampun, ia menembakkan peluru energi sihir ke arah si
gadis yang tak berdaya.
Gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat.
"—Alteration:
Fifth Form, Mont Fünf."
Orn
melompat ke antara gadis itu dan si serigala, menahan peluru sihir tersebut
dengan perisai sihirnya.
"……Aku,
masih hidup……?"
Mendengar
suara dentuman keras di depannya namun tak merasakan sakit sedikit pun, gadis
itu bergumam tak percaya.
"Kamu
baik-baik saja? Ada yang luka?"
Orn
menoleh dan bertanya dengan nada suara yang lembut.
"A-ah,
eto…… iya…… saya baik-baik saja."
Gadis
itu menjawab sambil mengerjapkan mata, mencoba memproses situasi yang terjadi
begitu cepat.
"Syukurlah. Pasti menakutkan, tapi tolong
bertahanlah sebentar lagi, ya."
Orn tersenyum kecil untuk menenangkannya.
"Iya…… —Ah! Awas!"
Dalam pandangan si gadis, serigala raksasa itu sudah
mengangkat kaki depannya untuk menggilas Orn.
Serangan itu datang dari titik buta, namun Orn yang
telah mengaktifkan Bird’s Eye View bisa mengantisipasinya dengan mudah.
Sebelum cakar serigala itu sempat menyentuhnya,
sebuah garis hitam pekat melintas. Perisai sihir di tangan Orn telah berubah
menjadi pedang sihir tanpa disadari.
Pedang itu menebas kaki si serigala hingga putus.
Seharusnya darah menyembur deras, namun luka itu langsung membeku seketika, tak
membiarkan setetes darah pun jatuh.
"—Pedang Sihir Es."
Orn mengayunkan pedangnya tepat ke arah serigala itu.
Tebasan beruntun yang tak terhitung jumlahnya menghujam sang monster.
Mengalami luka fatal, serigala itu pun lenyap menjadi
kabut hitam.
"L-luar biasa……"
Mata gadis itu berbinar melihat Orn yang mampu
menumbangkan monster raksasa itu dalam sekejap. Orn berjongkok, menyamakan
tinggi pandangannya dengan si gadis.
"Aku senang bisa membantumu. Tapi, jangan pernah
keluar sendirian lagi, ya. Kalau mau keluar, harus bersama orang yang bisa
bertarung melawan monster. Mengerti?"
"I-iya……
saya mengerti. Anu, terima kasih banyak sudah menyelamatkan saya!"
"Sama-sama.
……Apakah itu ibumu?"
Orn
menunjuk ke kejauhan. Terlihat seorang wanita dan beberapa explorer bersenjata
sedang berlari ke arah mereka dari arah kota.
"Ah,
iya! Benar!"
"Baguslah.
Dia pasti sangat khawatir, cepatlah kembali padanya. Jangan buat ibumu cemas
lagi, ya."
Gadis
itu mengangguk mantap, lalu berlari menuju ibunya.
"Ia!"
Wanita
itu—ibu dari gadis bernama Ia tersebut—memeluk putrinya dengan erat.
Orn
memandang pemandangan hangat itu sejenak sebelum berbalik pergi.
Sambil
berjalan, ia menyeka hidungnya yang tiba-tiba berdarah.
"Kamu ini, kenapa keluar sendirian! Kamu tidak
apa-apa!? Ada yang luka!?"
"Iya! Aku tidak apa-apa kok! Soalnya ada yang——eh……?"
Ia mencoba menceritakan penyelamatnya kepada ibunya,
namun tiba-tiba ia memiringkan kepala dengan bingung.
"Tadi……
bagaimana caranya aku selamat, ya?"
Orn
telah menggunakan Cognitive Alteration untuk menghapus ingatan Ia
tentang dirinya.
Ia tahu
bahwa sebentar lagi ia akan ditetapkan sebagai musuh dunia dan berita itu akan
tersebar luas.
Meskipun
Kepangeranan Hitia berada di pihaknya, secara resmi mereka akan mengambil sikap
yang sama dengan negara lain yang mengecamnya.
Baginya, Hitia pun bukan lagi tempat yang sepenuhnya
aman.
Jika Ia tetap mengingatnya, ada kemungkinan gadis itu
terseret masalah di kemudian hari.
Itulah sebabnya, Orn menghapus bagian memori yang
berkaitan dengan dirinya dari ingatan gadis itu—.
◇◇◇
"……Jadi aku adalah Demon King, ya."
Setelah menyelamatkan gadis itu dari monster raksasa
ciptaan Ordo—golongan Behemoth—aku kembali ke Celeste. Di sela waktu luang yang
singkat, aku membaca koran terbitan pagi ini.
Isinya adalah detail mengenai konferensi tingkat
tinggi tempo hari. Tertulis juga bahwa aku telah ditetapkan sebagai musuh dunia
dan menjadi buronan internasional.
Sepertinya Putri Lucilla bergerak persis seperti yang
kuminta. Menyusup sebagai mata-mata adalah tugas yang sangat berbahaya.
Aku hanya bisa berterima kasih padanya yang mau menerima
peran itu.
Aku yakin dia bisa mengatasi situasi apa pun, tapi aku
harus tetap bersiap untuk membantunya jika terjadi sesuatu.
……Bicara soal Putri Lucilla, Special Ability
miliknya, Magic Stone Detection, yang ia interpretasikan secara luas
menjadi deteksi monster, sangat membantu.
Di tengah kekacauan Outbreak, Ordo sengaja
melepaskan golongan Behemoth hanya di Kepangeranan Hitia.
Mungkin tujuannya agar aku dan faksi Amunzuas terpaku
untuk menangani mereka.
Atas egoku yang ingin meminimalisir korban, sebagian
besar petarung Amunzuas kini membantu negara lain melawan monster, yang berarti
pertahanan di Hitia berkurang. Aku mengisi celah itu sendirian.
Karena deteksi monster bisa membedakan monster biasa
dengan golongan Behemoth, aku menyerahkan monster biasa kepada explorer negara
ini, sementara aku menghabiskan dua bulan terakhir berburu Behemoth. T
anpa bantuan deteksi itu, aku pasti akan jauh lebih
kesulitan. Untuk poin itu pun, aku berterima kasih pada Putri Lucilla.
"Terlepas dari itu, syukurlah situasi dunia mulai
stabil."
Melalui koran, aku tahu bahwa tiap negara sudah memiliki
cara masing-masing untuk melindungi diri, dan jumlah korban telah menurun
drastis dibanding awal kejadian. Aku sedikit lega.
(……Tapi, menempatkan Labyrinth Core di berbagai
tempat, ya? Jika dilihat di permukaan, tujuannya memang untuk menjauhkan
monster dari pemukiman. Tapi apa mungkin orang-orang itu mau membuang-buang
batu sihir berharga seperti Labyrinth Core hanya untuk itu……? Aku ingin
menyelidikinya. Siapa yang cocok? Zuriel? Atau aku minta Guild Master Leon
untuk mendaftarkan beberapa explorer fiktif—)
"—Akhirnya ketemu!"
Saat aku sedang menyusun rencana di kepala, suara Shion
terdengar bersamaan dengan langkah kaki yang mendekat.
"Eh? Shion? Bukannya kamu sedang berada di negara
lain……"
"Situasi sudah mulai tenang, setiap negara sudah
bisa menangani monster sendiri. Jadi kami mulai mengambil cuti secara
bergiliran, dan hari ini adalah giliranku."
"Ah……
kemarin Chris memang sempat bilang begitu, sih."
"Jangan cuma bilang 'bilang begitu'! Orn
juga harus istirahat hari ini. Semuanya mengkhawatirkanmu. Serahkan tugas hari
ini pada orang lain dan istirahatkan tubuhmu, oke?"
"Tidak, aku tidak apa-apa. Behemoth masih ada yang tersisa.
Aku tidak boleh istirahat."
"Itu tidak boleh! Orn
sudah bertarung hampir tanpa tidur selama dua bulan, kan? Kalau terus
begini, kamu bisa tumbang! Kumohon, istirahatlah hari ini!"
Aku bisa merasakan kekhawatiran yang tulus dari nada
suaranya. Tapi, ini adalah hal yang tidak bisa kutawar.
"Aku akan baik-baik saja. Aku punya Self-Healing
untuk memulihkan kelelahan, dan kalaupun tubuhku rusak, ada Time Trace.
Lihat, tidak apa-apa, kan?"
Tepat saat aku mencoba menenangkannya, di waktu yang
sangat buruk, darah mengalir dari hidungku. Aku buru-buru menyekanya. Aku tahu
tubuhku sudah menjerit sejak minggu lalu. Tapi aku tidak bisa berhenti di sini.
Bahkan di saat seperti ini pun, orang-orang masih
gemetar ketakutan karena monster. Demi memberikan rasa aman bagi mereka, aku
harus terus bertarung. Aku merasa itu adalah tanggung jawabku sebagai orang
yang memiliki kekuatan.
"Itu sama sekali tidak bisa disebut baik-baik
saja……!"
Melihat darah mengucur dari hidungku, Shion menggelengkan
kepalanya dengan sedih.
"Aku tahu pemikiran Orn itu mulia. Kamu yang
berjuang hingga mengorbankan nyawa demi menyelamatkan sebanyak mungkin orang
itu luar biasa. Tapi, aku tidak merasa bahwa terus memacu diri sendirian adalah
hal yang benar."
"Shion……"
"Orn sedang tidak tenang sekarang. Coba pikirkan
baik-baik. Menyelamatkan orang di depan mata memang penting. Itu benar. Tapi
hari ini, tugasmu bisa diserahkan pada orang lain. Kalau Orn tumbang di sini,
itu justru akan membawa kita semua menuju kehancuran. Orn adalah orang yang
tidak boleh tumbang sampai akhir. Memang sekarang kamu bisa melakukan apa saja
sendiri, tapi tubuhmu itu cuma satu. Ada batasnya. Jadi, kumohon. Andalkanlah
aku, andalkanlah teman-temanmu. Jangan bertarung lagi dengan tubuh seperti itu.
Setidaknya hari ini saja, istirahatlah……!"
Shion berusaha menghentikanku dengan sekuat tenaga. Melihatnya
seperti itu membuat hatiku perih.
Mungkin selama ini aku memang mencoba menyelesaikan
segalanya hanya dengan kekuatanku sendiri.
Padahal, apa yang bisa dilakukan satu orang itu sangatlah
terbatas. Tanpa sadar, aku mungkin telah menjadi sombong dengan mengira bisa
melakukan segalanya sendirian.
"……Maaf, Shion. Kamu benar, aku mungkin sedang tidak
tenang. Maaf sudah membuatmu khawatir."
"Bukan cuma aku, semuanya juga khawatir tahu! Nanti
minta maaf juga pada mereka!"
"Iya, aku mengerti. Sesuai perintahmu, aku tidak
akan bertarung lagi hari ini."
"Aku lega mendengarnya. Tapi, sebagai hukuman
karena sudah membuatku cemas, aku akan mengambil sedikit waktumu!"
"……Eh?"
Setelah berkata demikian, Shion menggenggam tanganku
dan mengaktifkan Transfer Shift.
◆◇◆
Pemandangan di depanku berubah, diiringi aroma
pepohonan yang menyegarkan.
"…………Tempat ini adalah……"
Aku merasakan nostalgia yang mendalam, meski
pemandangan ini sudah jauh berbeda dari ingatanku.
"Tempat di mana Desa Reimei dulu berada."
Shion memberi tahu tentang tempat ini.
"…………"
Kampung halamanku yang dihancurkan oleh Ordo sepuluh
tahun lalu.
Bangunan yang runtuh dan jalanan yang dulu diaspal kini
tertutup semak belukar.
Tempat yang dulu dipenuhi suara orang-orang kini hanya
menyisakan suara angin yang menggoyang dedaunan.
"Maaf, apa kamu tidak suka datang ke sini……?"
Melihatku
terdiam, Shion bertanya dengan nada ragu.
"……Tidak,
bukan begitu. Aku tahu suatu saat aku harus datang ke sini. Tapi aku merasa
takut, dan selalu mencari alasan untuk menghindarinya."
"……Begitu
ya."
Sambil
menjawab pertanyaan Shion, aku melangkahkan kaki. Kami berjalan tanpa bicara
hingga sampai di sebuah tempat di mana terdapat beberapa nisan yang tak
beraturan. Itu adalah makam semua orang yang dulu kubuat bersama Oliver.
"Orn, mau menyapa orang tuamu dan semua orang di
desa?"
"Iya, benar juga."
Sesuai saran Shion, aku berjalan ke depan makam lalu
berlutut.
"Anu……
Ayah, Ibu, semuanya. Aku pulang. Maaf aku tidak bisa kembali selama sepuluh
tahun."
Begitu
berada di depan mereka, berbagai kenangan yang kualami hingga hari ini
berkelebat dalam ingatanku.
"Banyak
yang ingin kukatakan, tapi beberapa waktu lalu, aku sudah menyelesaikan urusan
dengan Belia. Meski pada akhirnya tetap diselesaikan oleh Phily, sih."
Aku
mengira emosiku akan meluap-luap saat datang ke sini, entah itu sedih atau
marah. Tapi kenyataannya, saat menghadapi mereka, hatiku terasa jauh lebih
tenang dari yang kubayangkan.
"Dulu aku punya impian. Aku tidak pernah
mengatakannya pada siapa pun karena takut akan reaksi kalian, tapi—aku ingin
pergi melihat dunia luar. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri
seperti apa dunia ini setelah ratusan tahun tanpa manusia."
Aku mengungkapkan impian yang selama ini hanya
kuceritakan pada Shion.
Dulu aku takut mengatakannya, tapi sekarang aku menyesal
tidak mengatakannya lebih awal.
Mungkin aku akan diejek. Mungkin mereka akan heran. Atau
mungkin dimarahi.
Tapi aku seharusnya tetap bicara. Karena sekarang, meski
aku bicara, tidak akan ada jawaban yang kembali.
Penyesalan memang selalu mengikuti, ya.
"Aku tahu, untuk pergi ke dunia luar, aku harus
menghancurkan dinding hukum sihir. Jika aku melakukannya sekarang, sebagian
besar manusia akan mati. Karena itulah aku akan menyelesaikan masalah ini. Aku
juga tidak ingin dunia tempatku tumbuh ini lenyap."
Aku menyatakan tujuanku saat ini di depan mereka semua.
Sambil berharap mereka mendukungku dari surga.
"Lain kali aku akan datang lagi saat aku berangkat
ke dunia luar. Sampai jumpa, semuanya."
Setelah selesai menyapa, aku berdiri perlahan dan
berbalik menghadap Shion yang mengawasiku dari belakang.
"Sudah selesai?"
"Iya. Shion, terima kasih sudah membawaku ke
sini."
"E-eh, ada apa? Tiba-tiba sekali. Ini bukan hal besar kok."
Saat aku menyampaikan rasa terima kasih yang tulus, wajah
Shion memerah dan ia tampak panik.
"Hei, ada satu tempat lagi yang ingin kukunjungi,
mau ikut bersamaku?"
Aku memohon pada Shion yang sedang mengipasi wajahnya
dengan tangan.
"Eh? Tempat yang ingin dikunjungi? Tentu, ayo!"
Setelah mendapat persetujuan Shion, aku mulai melangkah menuju tujuan kami berikutnya.



Post a Comment