NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 8 Chapter 6

Chapter 6

Hujan di Musim Kemarau


Seorang gadis muda berlari di tengah hutan, mencoba mempersingkat waktu kepulangannya setelah merawat hewan ternak di sebuah peternakan di Kepangeranan Hitia.

"Sudah terlambat. Aku harus cepat pulang……!"

Gadis itu terus memacu kakinya, namun tiba-tiba, sebuah perasaan tidak enak merayap di punggungnya. Sesuatu sedang mengawasinya. Ia menoleh dengan gemetar, dan—

"—Hii!?"

Seekor serigala raksasa dengan bulu merah semerah darah sudah berdiri menjulang di hadapannya. Padahal, beberapa detik lalu tidak ada siapa pun di sana.

Rasa takut yang luar biasa membuat kaki gadis itu lemas hingga ia terduduk di tanah.

Serigala itu sepertinya adalah jenis yang bisa menggunakan sihir; tanpa ampun, ia menembakkan peluru energi sihir ke arah si gadis yang tak berdaya.

Gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat.

"—Alteration: Fifth Form, Mont Fünf."

Orn melompat ke antara gadis itu dan si serigala, menahan peluru sihir tersebut dengan perisai sihirnya.

"……Aku, masih hidup……?"

Mendengar suara dentuman keras di depannya namun tak merasakan sakit sedikit pun, gadis itu bergumam tak percaya.

"Kamu baik-baik saja? Ada yang luka?"

Orn menoleh dan bertanya dengan nada suara yang lembut.

"A-ah, eto…… iya…… saya baik-baik saja."

Gadis itu menjawab sambil mengerjapkan mata, mencoba memproses situasi yang terjadi begitu cepat.

"Syukurlah. Pasti menakutkan, tapi tolong bertahanlah sebentar lagi, ya."

Orn tersenyum kecil untuk menenangkannya.

"Iya…… —Ah! Awas!"

Dalam pandangan si gadis, serigala raksasa itu sudah mengangkat kaki depannya untuk menggilas Orn.

Serangan itu datang dari titik buta, namun Orn yang telah mengaktifkan Bird’s Eye View bisa mengantisipasinya dengan mudah.

Sebelum cakar serigala itu sempat menyentuhnya, sebuah garis hitam pekat melintas. Perisai sihir di tangan Orn telah berubah menjadi pedang sihir tanpa disadari.

Pedang itu menebas kaki si serigala hingga putus. Seharusnya darah menyembur deras, namun luka itu langsung membeku seketika, tak membiarkan setetes darah pun jatuh.

"—Pedang Sihir Es."

Orn mengayunkan pedangnya tepat ke arah serigala itu. Tebasan beruntun yang tak terhitung jumlahnya menghujam sang monster.

Mengalami luka fatal, serigala itu pun lenyap menjadi kabut hitam.

"L-luar biasa……"

Mata gadis itu berbinar melihat Orn yang mampu menumbangkan monster raksasa itu dalam sekejap. Orn berjongkok, menyamakan tinggi pandangannya dengan si gadis.

"Aku senang bisa membantumu. Tapi, jangan pernah keluar sendirian lagi, ya. Kalau mau keluar, harus bersama orang yang bisa bertarung melawan monster. Mengerti?"

"I-iya…… saya mengerti. Anu, terima kasih banyak sudah menyelamatkan saya!"

"Sama-sama. ……Apakah itu ibumu?"

Orn menunjuk ke kejauhan. Terlihat seorang wanita dan beberapa explorer bersenjata sedang berlari ke arah mereka dari arah kota.

"Ah, iya! Benar!"

"Baguslah. Dia pasti sangat khawatir, cepatlah kembali padanya. Jangan buat ibumu cemas lagi, ya."

Gadis itu mengangguk mantap, lalu berlari menuju ibunya.

"Ia!"

Wanita itu—ibu dari gadis bernama Ia tersebut—memeluk putrinya dengan erat.

Orn memandang pemandangan hangat itu sejenak sebelum berbalik pergi.

Sambil berjalan, ia menyeka hidungnya yang tiba-tiba berdarah.

"Kamu ini, kenapa keluar sendirian! Kamu tidak apa-apa!? Ada yang luka!?"

"Iya! Aku tidak apa-apa kok! Soalnya ada yang——eh……?"

Ia mencoba menceritakan penyelamatnya kepada ibunya, namun tiba-tiba ia memiringkan kepala dengan bingung.

"Tadi…… bagaimana caranya aku selamat, ya?"

Orn telah menggunakan Cognitive Alteration untuk menghapus ingatan Ia tentang dirinya.

Ia tahu bahwa sebentar lagi ia akan ditetapkan sebagai musuh dunia dan berita itu akan tersebar luas.

Meskipun Kepangeranan Hitia berada di pihaknya, secara resmi mereka akan mengambil sikap yang sama dengan negara lain yang mengecamnya.

Baginya, Hitia pun bukan lagi tempat yang sepenuhnya aman.

Jika Ia tetap mengingatnya, ada kemungkinan gadis itu terseret masalah di kemudian hari.

Itulah sebabnya, Orn menghapus bagian memori yang berkaitan dengan dirinya dari ingatan gadis itu—.

◇◇◇

"……Jadi aku adalah Demon King, ya."

Setelah menyelamatkan gadis itu dari monster raksasa ciptaan Ordo—golongan Behemoth—aku kembali ke Celeste. Di sela waktu luang yang singkat, aku membaca koran terbitan pagi ini.

Isinya adalah detail mengenai konferensi tingkat tinggi tempo hari. Tertulis juga bahwa aku telah ditetapkan sebagai musuh dunia dan menjadi buronan internasional.

Sepertinya Putri Lucilla bergerak persis seperti yang kuminta. Menyusup sebagai mata-mata adalah tugas yang sangat berbahaya.

Aku hanya bisa berterima kasih padanya yang mau menerima peran itu.

Aku yakin dia bisa mengatasi situasi apa pun, tapi aku harus tetap bersiap untuk membantunya jika terjadi sesuatu.

……Bicara soal Putri Lucilla, Special Ability miliknya, Magic Stone Detection, yang ia interpretasikan secara luas menjadi deteksi monster, sangat membantu.

Di tengah kekacauan Outbreak, Ordo sengaja melepaskan golongan Behemoth hanya di Kepangeranan Hitia.

Mungkin tujuannya agar aku dan faksi Amunzuas terpaku untuk menangani mereka.

Atas egoku yang ingin meminimalisir korban, sebagian besar petarung Amunzuas kini membantu negara lain melawan monster, yang berarti pertahanan di Hitia berkurang. Aku mengisi celah itu sendirian.

Karena deteksi monster bisa membedakan monster biasa dengan golongan Behemoth, aku menyerahkan monster biasa kepada explorer negara ini, sementara aku menghabiskan dua bulan terakhir berburu Behemoth. T

anpa bantuan deteksi itu, aku pasti akan jauh lebih kesulitan. Untuk poin itu pun, aku berterima kasih pada Putri Lucilla.

"Terlepas dari itu, syukurlah situasi dunia mulai stabil."

Melalui koran, aku tahu bahwa tiap negara sudah memiliki cara masing-masing untuk melindungi diri, dan jumlah korban telah menurun drastis dibanding awal kejadian. Aku sedikit lega.

(……Tapi, menempatkan Labyrinth Core di berbagai tempat, ya? Jika dilihat di permukaan, tujuannya memang untuk menjauhkan monster dari pemukiman. Tapi apa mungkin orang-orang itu mau membuang-buang batu sihir berharga seperti Labyrinth Core hanya untuk itu……? Aku ingin menyelidikinya. Siapa yang cocok? Zuriel? Atau aku minta Guild Master Leon untuk mendaftarkan beberapa explorer fiktif—)

"—Akhirnya ketemu!"

Saat aku sedang menyusun rencana di kepala, suara Shion terdengar bersamaan dengan langkah kaki yang mendekat.

"Eh? Shion? Bukannya kamu sedang berada di negara lain……"

"Situasi sudah mulai tenang, setiap negara sudah bisa menangani monster sendiri. Jadi kami mulai mengambil cuti secara bergiliran, dan hari ini adalah giliranku."

"Ah…… kemarin Chris memang sempat bilang begitu, sih."

"Jangan cuma bilang 'bilang begitu'! Orn juga harus istirahat hari ini. Semuanya mengkhawatirkanmu. Serahkan tugas hari ini pada orang lain dan istirahatkan tubuhmu, oke?"

"Tidak, aku tidak apa-apa. Behemoth masih ada yang tersisa. Aku tidak boleh istirahat."

"Itu tidak boleh! Orn sudah bertarung hampir tanpa tidur selama dua bulan, kan? Kalau terus begini, kamu bisa tumbang! Kumohon, istirahatlah hari ini!"

Aku bisa merasakan kekhawatiran yang tulus dari nada suaranya. Tapi, ini adalah hal yang tidak bisa kutawar.

"Aku akan baik-baik saja. Aku punya Self-Healing untuk memulihkan kelelahan, dan kalaupun tubuhku rusak, ada Time Trace. Lihat, tidak apa-apa, kan?"

Tepat saat aku mencoba menenangkannya, di waktu yang sangat buruk, darah mengalir dari hidungku. Aku buru-buru menyekanya. Aku tahu tubuhku sudah menjerit sejak minggu lalu. Tapi aku tidak bisa berhenti di sini.

Bahkan di saat seperti ini pun, orang-orang masih gemetar ketakutan karena monster. Demi memberikan rasa aman bagi mereka, aku harus terus bertarung. Aku merasa itu adalah tanggung jawabku sebagai orang yang memiliki kekuatan.

"Itu sama sekali tidak bisa disebut baik-baik saja……!"

Melihat darah mengucur dari hidungku, Shion menggelengkan kepalanya dengan sedih.

"Aku tahu pemikiran Orn itu mulia. Kamu yang berjuang hingga mengorbankan nyawa demi menyelamatkan sebanyak mungkin orang itu luar biasa. Tapi, aku tidak merasa bahwa terus memacu diri sendirian adalah hal yang benar."

"Shion……"

"Orn sedang tidak tenang sekarang. Coba pikirkan baik-baik. Menyelamatkan orang di depan mata memang penting. Itu benar. Tapi hari ini, tugasmu bisa diserahkan pada orang lain. Kalau Orn tumbang di sini, itu justru akan membawa kita semua menuju kehancuran. Orn adalah orang yang tidak boleh tumbang sampai akhir. Memang sekarang kamu bisa melakukan apa saja sendiri, tapi tubuhmu itu cuma satu. Ada batasnya. Jadi, kumohon. Andalkanlah aku, andalkanlah teman-temanmu. Jangan bertarung lagi dengan tubuh seperti itu. Setidaknya hari ini saja, istirahatlah……!"

Shion berusaha menghentikanku dengan sekuat tenaga. Melihatnya seperti itu membuat hatiku perih.

Mungkin selama ini aku memang mencoba menyelesaikan segalanya hanya dengan kekuatanku sendiri.

Padahal, apa yang bisa dilakukan satu orang itu sangatlah terbatas. Tanpa sadar, aku mungkin telah menjadi sombong dengan mengira bisa melakukan segalanya sendirian.

"……Maaf, Shion. Kamu benar, aku mungkin sedang tidak tenang. Maaf sudah membuatmu khawatir."

"Bukan cuma aku, semuanya juga khawatir tahu! Nanti minta maaf juga pada mereka!"

"Iya, aku mengerti. Sesuai perintahmu, aku tidak akan bertarung lagi hari ini."

"Aku lega mendengarnya. Tapi, sebagai hukuman karena sudah membuatku cemas, aku akan mengambil sedikit waktumu!"

"……Eh?"

Setelah berkata demikian, Shion menggenggam tanganku dan mengaktifkan Transfer Shift.

◆◇◆

Pemandangan di depanku berubah, diiringi aroma pepohonan yang menyegarkan.

"…………Tempat ini adalah……"

Aku merasakan nostalgia yang mendalam, meski pemandangan ini sudah jauh berbeda dari ingatanku.

"Tempat di mana Desa Reimei dulu berada."

Shion memberi tahu tentang tempat ini.

"…………"

Kampung halamanku yang dihancurkan oleh Ordo sepuluh tahun lalu.

Bangunan yang runtuh dan jalanan yang dulu diaspal kini tertutup semak belukar.

Tempat yang dulu dipenuhi suara orang-orang kini hanya menyisakan suara angin yang menggoyang dedaunan.

"Maaf, apa kamu tidak suka datang ke sini……?"

Melihatku terdiam, Shion bertanya dengan nada ragu.

"……Tidak, bukan begitu. Aku tahu suatu saat aku harus datang ke sini. Tapi aku merasa takut, dan selalu mencari alasan untuk menghindarinya."

"……Begitu ya."

Sambil menjawab pertanyaan Shion, aku melangkahkan kaki. Kami berjalan tanpa bicara hingga sampai di sebuah tempat di mana terdapat beberapa nisan yang tak beraturan. Itu adalah makam semua orang yang dulu kubuat bersama Oliver.

"Orn, mau menyapa orang tuamu dan semua orang di desa?"

"Iya, benar juga."

Sesuai saran Shion, aku berjalan ke depan makam lalu berlutut.

"Anu…… Ayah, Ibu, semuanya. Aku pulang. Maaf aku tidak bisa kembali selama sepuluh tahun."

Begitu berada di depan mereka, berbagai kenangan yang kualami hingga hari ini berkelebat dalam ingatanku.

"Banyak yang ingin kukatakan, tapi beberapa waktu lalu, aku sudah menyelesaikan urusan dengan Belia. Meski pada akhirnya tetap diselesaikan oleh Phily, sih."

Aku mengira emosiku akan meluap-luap saat datang ke sini, entah itu sedih atau marah. Tapi kenyataannya, saat menghadapi mereka, hatiku terasa jauh lebih tenang dari yang kubayangkan.

"Dulu aku punya impian. Aku tidak pernah mengatakannya pada siapa pun karena takut akan reaksi kalian, tapi—aku ingin pergi melihat dunia luar. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri seperti apa dunia ini setelah ratusan tahun tanpa manusia."

Aku mengungkapkan impian yang selama ini hanya kuceritakan pada Shion.

Dulu aku takut mengatakannya, tapi sekarang aku menyesal tidak mengatakannya lebih awal.

Mungkin aku akan diejek. Mungkin mereka akan heran. Atau mungkin dimarahi.

Tapi aku seharusnya tetap bicara. Karena sekarang, meski aku bicara, tidak akan ada jawaban yang kembali.

Penyesalan memang selalu mengikuti, ya.

"Aku tahu, untuk pergi ke dunia luar, aku harus menghancurkan dinding hukum sihir. Jika aku melakukannya sekarang, sebagian besar manusia akan mati. Karena itulah aku akan menyelesaikan masalah ini. Aku juga tidak ingin dunia tempatku tumbuh ini lenyap."

Aku menyatakan tujuanku saat ini di depan mereka semua. Sambil berharap mereka mendukungku dari surga.

"Lain kali aku akan datang lagi saat aku berangkat ke dunia luar. Sampai jumpa, semuanya."

Setelah selesai menyapa, aku berdiri perlahan dan berbalik menghadap Shion yang mengawasiku dari belakang.

"Sudah selesai?"

"Iya. Shion, terima kasih sudah membawaku ke sini."

"E-eh, ada apa? Tiba-tiba sekali. Ini bukan hal besar kok."

Saat aku menyampaikan rasa terima kasih yang tulus, wajah Shion memerah dan ia tampak panik.

"Hei, ada satu tempat lagi yang ingin kukunjungi, mau ikut bersamaku?"

Aku memohon pada Shion yang sedang mengipasi wajahnya dengan tangan.

"Eh? Tempat yang ingin dikunjungi? Tentu, ayo!"

Setelah mendapat persetujuan Shion, aku mulai melangkah menuju tujuan kami berikutnya.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close