NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 8 Fragment 1

Fragment 1

Sang Pembawa Kepunahan


Manusia adalah makhluk yang tidak punya nilai untuk hidup. Pinjamkan aku kekuatanmu untuk melenyapkan hama-hama itu dari dunia ini, Philly.

──Ah. Ternyata, mimpi masa lalu itu lagi……

"Jangan mendekat ke sini, Iblis! Kau berniat membuat kami menuruti semua kata-katamu, hah!?"

"B-bukan begitu……! Aku bukan iblis! Aku hanya ingin berteman dengan semuanya……!"

"Mana bisa dipercaya! Nenekmu dan ibumu pun begitu, kan!? Kau juga pasti sama saja!"

"Tidak begitu! Kalau memang Nenek dan Ibu memanipulasi orang-orang di kota, kenapa kalian semua justru menunjukkan permusuhan pada kami? Bukankah itu karena kalian sedang tidak dimanipulasi!?"

Aku berusaha setengah mati untuk menyampaikan bahwa aku tidak berbahaya, tapi para penduduk kota sama sekali tidak mau mendengar.

"……Kenapa…… Padahal aku manusia……. Aku bukan iblis…… padahal……"

Tidak ada satu pun orang yang mendengarkan ratapanku, tidak ada juga yang mau menemani kesedihanku.

Beberapa waktu setelah kejadian itu, para penduduk kota mendatangi rumahku dengan senjata di tangan mereka.

"Dasar iblis! Beraninya kau…… beraninya kau membunuh Pak Walikota!"

Begitu masuk ke rumahku, seorang pria berteriak sambil memukulku.

Berdasarkan informasi yang kudengar kemudian, kabarnya Walikota dibunuh oleh seseorang sehari sebelum mereka menyerbu rumahku. Mereka datang karena berasumsi bahwa akulah pelakunya.

Benar-benar alasan yang sangat tidak masuk akal. Waktu itu, aku benar-benar mengira aku akan mati. Namun di saat yang sama, aku juga berpikir begini.

──Bukankah kalianlah yang jauh lebih pantas disebut iblis?

Melakukan kekerasan secara sepihak hanya berdasarkan asumsi, dan tidak ragu sedikit pun bahwa itu adalah hal yang benar.

Dan sebagian besar dari kelompok itu hanyalah sekumpulan binatang yang tidak memiliki kehendak, hanya mengekor pada tokoh sentralnya saja—bahkan terlalu lancang untuk menyebut mereka manusia.

Orang yang menghasut binatang demi kepentingannya sendiri, maupun binatang tak berakal itu, sama-sama tidak memiliki nilai untuk hidup.

Setelah berhasil melewati situasi itu, aku berkeliling ke berbagai tempat. Aku melihat dan mendengar berbagai macam kejadian.

Dan kesimpulan yang kuambil adalah: manusia merupakan makhluk yang tidak bisa diselamatkan. ──Termasuk diriku sendiri.

Karena itulah, aku menjawab panggilan itu. Demi memunahkan umat manusia──.

◆◆◆

Aku sedang duduk di salah satu ruangan di kediaman keluarga Asagiri, memandang pemandangan kota Kyokuto sambil merasakan hembusan angin hangat yang masuk.

Sepertinya aku sempat tertidur ayam. Kesadaranku terbangun sepenuhnya saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat.

"Phi-Philly-sama! Gawat!"

Saat aku menoleh ke arah suara itu, kulihat seorang gadis mengenakan pakaian miko dengan rambut hitam pekat yang bergoyang, wajahnya menunjukkan ekspresi terdesak.

Namanya adalah Nagisa Asagiri. Meski masih berusia lima belas tahun, dia sudah menjadi kepala keluarga yang memerintah Kyokuto saat ini.

Selain itu, dia menduduki Ordo Cyclamen: Kursi Kelima, dan diberi gelar Spirit oleh Belia.

"Kenapa kau begitu panik? Apa ada pesan dari Rakshasa?"

Kami seharusnya sudah bersiap untuk berpindah ke lokasi lain di Tsutrail, bertepatan dengan waktu teleportasi Stieg dan yang lainnya.

Nagisa memiliki peran sebagai perantara komunikasi antara Stieg dan kami. Aku mengira dia datang karena sudah waktunya menerima kabar dari Stieg, tapi sikapnya ini sangat aneh.

"Anu, soal serangan ke Tsutrail, mungkin sebaiknya kita tunda dulu!"

"……Masalah itu lagi? Ini sudah keputusan bulat. Tidak bisa diubah hanya karena perasaanmu."

"Kali ini tidak ada hubungannya dengan perasaanku! Memang benar aku menentang serangan ke Tsutrail, tapi…… bu-bukan itu maksudnya……"

"Lalu, apa yang ingin kau katakan?"

"Keberadaan Rakshasa-sama tiba-tiba terputus!"

Mendengar perkataan Nagisa, aku nyaris tidak mempercayai telingaku sendiri.

"…………Apa katamu?"

"I-ini bukan bohong! Saat ini pun aku masih bisa merasakan keberadaan Immolation-sama dan Thunder Emperor-sama. Tapi, hanya keberadaan Rakshasa-sama yang tidak bisa ditemukan di mana pun!"

(Hanya sinyal Rakshasa yang terputus……? Itu artinya……)

Selagi aku terdiam sambil memutar otak, Nagisa kembali memohon dengan gelisah.

"Anu, anu! Aku sudah langsung melaporkannya dengan benar! Jadi, kumohon jangan lakukan hal buruk pada rakyatku! Mereka adalah rakyat berharga yang dititipkan oleh Kakak padaku……!"




Sambil mengaktifkan Perception Alteration kepada gadis itu, aku mulai merangkai kata.

"Bukannya 'direbut', bukan 'dititipkan'?"

"U-uuh…… Aku, tidak bermaksud begitu……"

Mendengar kata-kataku, Nagisa menundukkan kepalanya dengan lesu.

……Sepertinya aku sedikit terlalu berlebihan menjahilinya.

Meski begitu, anak ini tetap saja sulit dipengaruhi oleh Perception Alteration.

Entah itu karena Special Ability-nya atau karena garis keturunannya.

Apa pun alasannya, aku harus ingat bahwa membunuh kemauannya sepenuhnya adalah hal yang sulit.

"Sudahlah, tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, sudah berapa lama sejak keberadaan Rakshasa tidak bisa dikonfirmasi?"

"Anu…… sekitar satu jam."

"Begitu. Terima kasih sudah melaporkannya dengan benar."

"Aku sudah menjalankan peran yang diberikan Philly-sama! Jadi, kumohon jangan sentuh rakyatku……! Aku mohon!"

Nagisa memohon sambil membungkukkan kepalanya dalam-dalam.

Padahal semuanya akan musnah pada akhirnya, entah kenapa anak ini bisa seserius ini. Aku benar-benar tidak mengerti.

Bahkan jika dia melindungi mereka sampai seperti itu, orang-orang yang dilindungi hanya akan menikmatinya sebagai hal yang wajar tanpa pernah merasa berterima kasih.

Untuk hal yang tidak tertolong seperti itu, kenapa……

"……Ya. Aku mengerti."

Begitu aku menyatakan tidak akan menyentuh rakyat Kyokuto, Nagisa mengembuskan napas lega dengan ekspresi tenang.

Aku pun melangkah menuju tempat Belia untuk menyampaikan informasi yang baru saja kudapatkan.

◆◇◆

"Belia-sama, boleh aku bicara?"

Aku menyapa Belia yang sedang menatap bunga sakura yang sedang mekar dengan indahnya.

"Philly, ya. Apa akhirnya ada kabar dari Rakshasa?"

"Ini keadaan darurat. Spirit melaporkan bahwa keberadaan Rakshasa telah terputus."

Mata Belia membelalak lebar.

"Dia itu makhluk hidup dari energi sihir, kan? Orang yang bisa melenyapkan keberadaannya…… Jangan-jangan……"

"Ya. Sangat wajar jika menganggap Orn Doula telah mendapatkan kembali kekuatannya. Kemungkinan Fuuka Shinonome yang melakukannya juga tidak bisa ditepis, tapi berdasarkan laporan terakhir Rakshasa, sepertinya mereka berdua sedang bergerak bersama sekarang. Bagaimanapun juga, kemungkinan besar Orn terlibat."

Belia tidak membantah pendapatku dan hanya mendecak lidah dengan kesal.

"Mendapatkan kembali kekuatannya sebelum penyerangan Tsutrail, waktunya benar-benar buruk. Padahal sebentar lagi aku bisa menghancurkan hatinya. Lagipula, bagaimana bisa dia mendapatkan kembali kekuatannya?"

"Aku tidak tahu sampai sejauh itu. Tapi, memikirkan hal yang sudah terjadi hanya akan membuang-buang waktu. Aku menyarankan kita harus mengambil langkah selanjutnya dengan asumsi bahwa Orn telah pulih."

"……Benar juga."

Mungkin berkat Perception Alteration yang selama bertahun-tahun telah mengikis kesadaran Belia secara perlahan, dia menelan kata-kataku tanpa ragu sedikit pun.

Orang ini sudah menjadi bidak caturku. Sekarang yang tersisa hanyalah membuatnya membocorkan di mana letak tempat yang disebut "Kuil Phoenix", yang merupakan bagian inti dari dunia ini.

Namun, hanya soal itu saja dia sangat keras kepala untuk tidak membukanya.

Tetapi dalam situasi ini, mungkin saja akan berhasil.

"Waktu sangat mendesak. Kita harus segera melakukannya."

"Aku tahu!"

Aku juga menggunakan Perception Alteration untuk memberikan kesadaran kuat bahwa ini adalah situasi yang mendesak, namun masih terlihat keraguan di matanya.

Itu mungkin karena aku berada di sini.

Tapi, aku harus tahu di mana Kuil Phoenix berada. Aku tidak bisa mundur.

"……Aku adalah pelayanmu yang setia. Sifat Belia-sama yang tetap waspada maksimal bahkan kepadaku adalah sebuah kebajikan. Tapi, tidak bisakah kau mempercayaiku? Aku telah mengubah ingatan Orn demi dirimu, dan memicu perang saudara di Kyokuto untuk dipersembahkan kepadamu. Selain itu, aku telah menjadi tangan dan kakimu untuk menggerakkan dunia. Apa semua kerja keras ini masih belum cukup?"

(……Ah, memikirkan aku harus menjilat pria menyedihkan ini membuatku ingin muntah. Tapi aku tahu ini perlu. Karena aku adalah pelayanmu yang setia. Demi dirimu, aku bahkan bersedia meminum air lumpur sekalipun. Jika itu bisa membawa pada kepunahan manusia.)

Sambil berhati-hati agar isi hatiku tidak terlihat, aku menatap lurus ke arah Belia dan memohon pada emosinya.

"…………Benar juga. Baiklah. Aku akan mempercayaimu. Tolong jangan ceritakan hal ini pada siapa pun."

Setelah keheningan yang lama, akhirnya Belia menyerah.

"Ya, tentu saja. Terima kasih sudah mempercayaiku."

Aku merangkai kata sambil menekan emosi yang meluap dari dalam agar tidak terbawa ke suaraku.

Dengan ini, akhirnya aku bisa mengetahui keberadaan Kuil Phoenix. Kehilangan Rakshasa memang sebuah kesalahan perhitungan, tapi kematianmu ada gunanya juga ya, Rakshasa.

◆◇◆

Tempat yang didatangi bersama Belia adalah hutan pegunungan di belakang kediaman keluarga Shinonome yang dulu menguasai negeri ini. Penduduk negeri ini menyebut hutan ini sebagai "Gunung Suci".

Gunung Suci dikelola oleh keluarga Shinonome sejak negeri ini berdiri di pulau ini, dan dulunya merupakan tanah terlarang yang hanya boleh dimasuki oleh anggota keluarga Shinonome serta keluarga cabangnya, Tendo dan Asagiri.

Alasan kami bisa masuk ke tempat seperti ini adalah karena Ordo telah menguasai negeri ini setelah perang saudara beberapa tahun lalu.

Biasanya tempat ini tidak boleh dimasuki oleh orang luar, namun setahun sekali, pada hari terakhir festival musim panas yang dikelola negara, masyarakat umum diizinkan masuk ke gunung ini.

Begitu menyusuri jalan setapak berbatu, sebuah gerbang torii besar mulai terlihat. Setelah melangkah lebih jauh, sebuah kuil yang megah dan agung menampakkan wujudnya di balik gerbang tersebut.

Jika merunut garis keturunan manusia yang tinggal di Kyokuto, mereka berasal dari negara kepulauan di Timur di dunia luar.

Kudengar negara itu mengalami perkembangan unik yang berbeda dari negara lain.

Dan bagi mereka, pemikiran bahwa dewa bersemayam dalam segala hal, baik alam maupun aktivitas manusia, adalah pemikiran yang utama.

Karena banyaknya dewa, tentu saja banyak kuil yang menjadi tempat untuk memuja mereka di seluruh negeri. Entah itu sisa dari kebudayaan tersebut, di Kyokuto pun terdapat beberapa kuil.

Beberapa ratus tahun sejak dunia ini diciptakan, manusia di Kyokuto kini telah melupakan alasan keberadaan kuil-kuil tersebut.

Namun, alasan kuil ini tetap berdiri tegak tanpa dihancurkan mungkin karena cara berpikir negara asal mereka telah mengakar di alam bawah sadar mereka.

……Jika memang benar ada begitu banyak dewa, aku benar-benar ingin bertanya kepada mereka, mengapa mereka membiarkan makhluk tidak sempurna seperti manusia tetap hidup.

"Apakah ini Kuil Phoenix-nya?"

Aku bertanya kepada Belia sambil menatap kuil yang berdiri kokoh di bagian dalam.

Aku sudah lama mencari Kuil Phoenix. Sudah sangat jelas bahwa kuil yang telah dijaga turun-temurun oleh keturunan Sword Saint dan Shrine Maiden—rekan yang menciptakan dunia ini bersama Hero of Fairytales August di akhir masa dongeng—adalah tempat yang mencurigakan.

Begitu menguasai Kyokuto, aku langsung menyelidiki kuil ini. Namun, aku tidak menemukan petunjuk apa pun.

Kuil ini memang megah, tapi meski diselidiki dengan teliti, ini hanyalah "bangunan biasa" dan sama sekali tidak terlihat seperti bangunan yang berkaitan dengan hukum dunia.

Itulah sebabnya aku sempat berpikir bahwa ini hanyalah bangunan pengalih perhatian dari Kuil Phoenix yang sebenarnya.

"Ya. Ini adalah pintu masuk menuju Kuil Phoenix."

Belia menghentikan langkahnya di depan gerbang torii dan menjawab pertanyaanku.

Begitu dia menjulurkan tangan ke arah gerbang, ruang yang dikelilingi gerbang torii itu bergetar seperti permukaan air.

"……Ini adalah,"

"Sama seperti bagian dalam labirin, Kuil Phoenix berada di tempat yang ruangnya terpisah dari dunia ini. Dan gerbang torii ini adalah pintu yang menghubungkan tempat ini dengan tempat di sana. Kuil yang ada di dalam sana hanyalah bangunan pajangan agar menyatu secara alami dengan gerbang ini."

Ruang lain yang berbeda dari sini…… Begitu ya, pantas saja tidak bisa ditemukan dengan pencarian biasa.

Karena Belia hendak melintasi gerbang torii, aku pun mengikutinya dari belakang.

Namun, dia menghentikanku.

"Mulai dari sini, aku tidak bisa membiarkan Philly masuk."

"Kenapa? Kita sudah sampai di sini, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan dariku, kan?"

Aku merasa kesal dengan Belia yang masih saja bersikap enggan di saat-saat terakhir.

"Ini bukan soal aku tidak mempercayai Philly. Di dalam sini secara praktis lingkungannya sama dengan dunia luar. Bagi Philly yang bukan seorang Transcendent, bisa dibilang ini adalah ruangan yang penuh dengan racun mematikan."

"……Begitu. Jika memang begitu, apa boleh buat."

Memang jika dipikir-pikir, itu masuk akal. Sebenarnya aku ingin memastikan situasi di dalam terlebih dahulu, tapi aku tidak bisa melangkah ke tempat yang bisa membunuhku jika memasukinya.

Nanti biar Thunder Emperor yang memeriksa bagian dalamnya.

Wujud Belia menghilang ke udara hampa setelah melangkah melintasi gerbang torii.

"……Untuk sementara, mengetahui tempat ini saja sudah cukup. —Kau sudah menjalankan peranmu, Belia. Aku sudah tidak butuh dirimu lagi. Cepatlah pergi dari panggung ini."

Untung saja tidak ada siapa-siapa di sini. Karena sudut bibirku naik secara alami, dan akan sulit untuk menyembunyikan senyumanku.

Setelah beberapa saat memikirkan cara untuk melumpuhkan Belia, dia pun kembali dari balik gerbang.

"Selamat datang kembali, Belia-sama. Apa semuanya selesai dengan lancar?"

"……Ya. Aku sudah menulis ulang hukum labirin. Saat ini seharusnya labirin di seluruh dunia sedang mengalami luapan (Stampede). Selain itu, aku juga baru saja mengonfirmasi bahwa ada seseorang yang melakukan Long-Distance Teleportation dari Ibu Kota Kadipaten Hitia, Selest, menuju pulau tempat Second Farm berada. Kemungkinan besar itu adalah Orn."

Labirin adalah ruang yang menciptakan monster.

Dan menurut hukum dunia, monster secara prinsip tidak boleh dipindahkan dari lantainya.

Namun karena berbagai faktor, terkadang hukum itu terlanggar secara langka dan monster muncul ke permukaan tanah.

Ordo Cyclamen juga memicu luapan secara buatan dengan memanfaatkan celah hukum ini.

Sekalipun terjadi luapan, waktu yang dibutuhkan akan berbeda tergantung situasinya, namun pada akhirnya fungsi labirin akan diperbaiki oleh hukum dunia dan luapan akan berhenti.

Tetapi, karena Belia telah memanipulasi hukum dunia, peraturan bahwa "monster di dalam labirin dilarang berpindah antar lantai" telah dihapus.

Karena itu, luapan labirin ini akan berlangsung hampir selamanya.

Itu sama saja dengan mengubah situasi dunia secara drastis. Selama ini, yang bertarung melawan monster hanyalah para penjelajah, dan pertarungan itu hanya terjadi di dalam labirin.

Namun mulai sekarang, tidak akan seperti itu lagi.

Perebutan wilayah hidup antara manusia dan monster akan terjadi di berbagai tempat.

Dunia telah menjadi tempat di mana siapa pun, baik manusia maupun monster, yang lemah akan mati.

(Fu-fu-fu. Dunia ini akan menjadi sangat menarik. Kekacauan inilah yang kucari. Lagipula manusia akan segera punah dalam waktu dekat, jadi sampai saat itu tiba, hiburlah aku sebentar.)

Alasan kami memicu luapan labirin di berbagai tempat adalah karena Orn Doula telah mendapatkan kembali kekuatannya.

Orn Doula akan menjadi lawan yang merepotkan bagi kami.

Secara logika, dia seharusnya sudah dibunuh sepuluh tahun lalu, saat penyerangan Desa Reimei.

Alasan tidak membunuhnya dan hanya berhenti pada pengubahan ingatan adalah karena akan sulit untuk membunuhnya, namun alasan utamanya adalah dia bisa membantu memekatkan konsentrasi energi sihir di dunia ini.

Sebagai penjelajah, selama sepuluh tahun ini dia telah menggunakan Special Ability-nya berkali-kali.

Dan hampir semuanya adalah Magic Convergence. Kekuatan itu secara akseleratif memekatkan konsentrasi energi sihir di dunia ini.

Dalam perhitungan awal, diperkirakan butuh waktu hampir seratus tahun lagi sampai konsentrasi energi sihir melampaui batas yang ditentukan.

(Padahal begitu, seolah menertawakan perhitungan itu, Orn dan Oliver telah menggunakan Magic Convergence berkali-kali dalam proses penjelajahan labirin, sehingga hanya dalam sepuluh tahun konsentrasinya sudah melampaui batas. Mereka berdua benar-benar eksistensi di luar standar.)

Selama ini, kami fokus untuk memekatkan energi sihir dunia agar Dewa Jahat—Oberon-sama bisa beraktivitas tanpa masalah di dunia ini.

Namun, setelah tujuan itu tercapai, eksistensi bernama Orn Doula yang sudah tidak memiliki nilai guna hanyalah sebuah gangguan.

Itulah sebabnya aku berniat menghancurkan hatinya untuk melenyapkan Orn Doula yang sudah menyelesaikan tugasnya.

Setelah itu, aku berniat menaklukkan Labirin Besar yang merupakan perangkat penyegel Oberon-sama secara perlahan.

(Tapi, jalan setelah itu pun sama sekali tidak mudah. Bahkan setelah mati pun, The Hero of Fairytales August Sans masih menghalangi langkah kami, jadi wajar saja jika menjadi sulit.)

Kekuatan tempur tertinggi kami, Immolation dan Thunder Emperor, sama seperti Rakshasa, identitas asli mereka adalah peri yang merasuki tubuh manusia—atau yang disebut iblis.

Kekuatan mereka tidak akan kalah meskipun melawan bos lantai Labirin Besar. Mereka bisa mencapai lantai seratus dengan mudah.

Namun, yang menghalangi di sana adalah bos lantai lantai seratus.

Jika hanya membandingkan kemampuan tempur murni, Immolation dan kawan-kawan lebih kuat dari bos lantai lantai seratus.

Namun, bos lantai seratus memiliki kemampuan Magic Eater.

Bagi peri, kecocokan dengan kemampuan ini adalah yang terburuk.

Itu saja sudah cukup untuk menjadi musuh alami peri. Karena itu, hanya manusia yang memiliki kemungkinan untuk mengalahkan bos lantai lantai seratus.

Itulah sebabnya setelah melenyapkan Orn, aku berniat menghancurkan Amunzerath dan menyuruh manusia yang tersisa untuk menaklukkan Labirin Besar.

(Namun, Orn justru mendapatkan kembali kekuatannya di saat aku hendak melenyapkannya, dan dia sudah memiliki kekuatan yang cukup untuk mengalahkan Rakshasa. ……Benar-benar segala sesuatu tidak pernah berjalan sesuai keinginanku.)

Tujuan Ordo adalah membangkitkan kembali Oberon-sama. Sekalipun itu Orn, dia tidak akan bisa menang melawan Oberon-sama. Itu sudah pasti.

Akan tetapi, Orn yang sekarang menyadari Special Ability: Omniscience-nya akan berkembang lebih cepat dari sebelumnya seiring berjalannya waktu.

Faktanya, August sang pahlawan dongeng yang kemampuan tempurnya tidak jauh beda dari amatir pun langsung memuncaki posisi manusia terkuat setelah membangkitkan Omniscience.

Jika membiarkan lawan seperti itu memiliki waktu, hal yang tidak terduga pun bisa terjadi.

Karena itulah sekarang aku mengancam kelangsungan hidup manusia dan memicu rasa krisis mereka agar mereka benar-benar serius menaklukkan Labirin Besar.

Dan dengan membiarkan monster mengamuk secara serentak dalam skala global alih-alih memusatkan kekuatan di satu tempat, aku bisa menghambat pergerakan Orn.

Karena berdasarkan kepribadiannya, dia tidak akan membiarkan orang-orang menjadi korban.

Lalu dengan membuat alasan palsu atas penyebab luapan di seluruh dunia dan melimpahkannya kepada Orn, aku bisa mengekang Orn tidak hanya secara fisik tapi juga secara sosial.

Dunia saat ini sedang berada dalam kekacauan, dan banyak orang tertimpa kemalangan.

(Mengarahkan kebencian itu kepada Orn dan menciptakan situasi di mana dia sulit bergerak, itulah yang menjadi tujuan sementaraku.)

"Tapi, apa sebenarnya maksud dari semua ini……?"

Setelah merencanakan ulang tujuan jangka pendek berdasarkan tindakan Orn Doula, Belia bergumam seolah tidak bisa menerima sesuatu.

"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"

"Sebenarnya, aku menyadarinya saat sedang memanipulasi hukum dunia tadi, tanggal yang terukir di hukum dunia tidak cocok."

"……Tanggal?"

"Ya. Hari ini seharusnya tanggal 21 April 630 Kalender Suci. Tapi, tanggal yang terukir di hukum dunia adalah 13 Mei."

"……Meleset sekitar satu bulan, tepatnya dua puluh dua hari, begitu?"

"Kira-kira begitu."

"…………Dua puluh dua hari yang lalu…… berarti tanggal 30 Maret. ……! Bukankah itu hari di mana Belia-sama mengumpulkan petinggi Ordo dan menyatakan akan melanjutkan rencana ke tahap kedua?"

Menanggapi pertanyaanku, Belia mengangguk setelah merunut kembali ingatannya.

"Ya. Memang cocok dengan hari itu."

Apa ada sesuatu yang terjadi pada hari itu? Tidak, justru sebaliknya. Waktu yang terukir di hukum dunia seharusnya merujuk pada dunia luar.

Jika begitu, sesuatu terjadi pada tanggal 21 April, dan hanya waktu di dunia hukum yang diputar balik ke tanggal 30 Maret?

Seharusnya, hari ini—21 April—kami menyerang Tsutrail dan berniat membunuh Orn.

Katakanlah rencana kami hampir berhasil, dan Orn yang terdesak mendapatkan kembali kekuatannya tepat sebelum mati, lalu memutar balik waktu dunia?

Jika dia mendapatkan kembali Special Ability-nya, dia yang berhubungan dengan Si Penyihir Putih bisa menggunakan Time Regression.

Seberapa pun hebatnya kemampuan memutar balik waktu, tidak mungkin bisa memutar balik waktu dunia itu sendiri tanpa risiko apa pun, tapi jika dia bisa mengatasinya, itu bukanlah hal yang mustahil.

Aku pun merasa ada bagian dari tindakan Orn yang tidak masuk akal. Dia mendapatkan kembali kekuatannya dan mengalahkan Stieg. Meski mengejutkan, hasil itu sendiri tidak aneh. Itu mungkin saja jika kekuatannya sudah pulih.

Namun, aku tidak mengerti prosesnya. Keberadaan Second Farm seharusnya tidak diketahui oleh Orn maupun orang-orang Amunzerath.

Bagaimana dia bisa tahu keberadaan Second Farm?

Tidak, lagipula bagaimana dia tahu kalau Stieg ada di Second Farm hari ini?

(……Pertanyaan ini akan terjawab jika dia tahu apa yang akan terjadi dalam dua puluh dua hari ini.)

Keberadaan Second Farm mungkin bisa diketahui dengan cara yang sama seperti Belia tadi memeriksa catatan Long-Distance Teleportation dari hukum dunia.

Jika dugaan ini benar, bukankah Orn juga tahu kalau hari ini sang Pahlawan akan menyerang Ibu Kota?

(Fu-fu-fu, ini sepertinya akan menarik.)

Entah dugaanku benar atau salah, penyerangan Ibu Kota harus tetap dijalankan.

Jika ingin mengekang Orn secara sosial, aku ingin memberikan Perception Alteration kepada Lucilla N.Edelweiss, sang putri dari Kerajaan Nohitant yang menjadi basis aktivitasnya, untuk menjadikannya bidak caturku.

"……Kau memasang senyum yang buruk, Philly."

Sepertinya apa yang kupikirkan terpancar di wajahku, dan Belia menegurku.

"Ah, maafkan aku."

"Aku tidak keberatan, tapi apa kau sedang merencanakan kejahatan lagi?"

"Ya, kira-kira begitu. Karena itu aku punya satu permintaan untuk Belia-sama."

"Kau sudah banyak membantuku selama ini. Aku tidak keberatan mendengarkan permintaanmu."

"Terima kasih, Belia-sama."

"Lalu, apa yang kau ingin aku lakukan?"

Sambil mengaktifkan Perception Alteration kepada Belia, aku melontarkan permintaanku.

"Lucilla N.Edelweiss, Sang Putri Kerajaan Nohitant itu, —bisakah kau pergi membunuhnya?"

Jika Lucilla mati karena ini, aku tidak peduli. Jika dia mati, aku tinggal menggunakan Nagisa untuk membuat boneka berdasarkan ingatannya.

Jika Orn Doula mencoba menghalanginya, aku bisa membenturkan Belia dengan Orn. Dalam hal itu, aku juga bisa sekaligus menyingkirkan Belia.

Ke arah mana pun hasilnya bergulir, hanya ada keuntungan bagiku.

Sekarang, pertunjukan yang sesungguhnya dimulai, Orn Doula. Di dunia dengan situasi yang telah berubah drastis ini, siapakah yang akan tertawa terakhir?




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close