Interlude 3
Hal yang Bisa Kulakukan demi Adik Perempuan
"Dokter,
saya telah menerima kabar dari Count Claudel mengenai penyerahan Sophia
Claudel."
Luella
Inglot tiba di bagian terdalam sebuah labirin di dekat Dal Ane. Ia memanggil
pria berjubah merah yang tengah sibuk mengutak-atik Dungeon Core—Oswald
McLeod.
"Akhirnya... Mereka lama sekali ya," gumam Oswald
sambil meregangkan tubuh.
"Mungkin itu benar menurut standar Anda, Dokter, karena
Anda bisa berkelana di benua ini dengan bebas seolah sedang jalan-jalan santai.
Namun, dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menempuh perjalanan dari Tutril
ke Dal Ane."
"Yah, kurasa begitu. Sudahlah. Sepertinya kita akan
mendapatkan Sophia Claudel sebelum fase kedua rencana ini dimulai. Aku harus
puas dengan hal itu."
"Saya dengar fase pertama rencana yang telah dihabiskan
Ordo selama bertahun-tahun ini hampir selesai, tapi apa sebenarnya yang sedang
Anda lakukan?"
Tujuan utama dari Cyclamen Order, dan juga pemimpinnya,
Beria Santh, adalah kebangkitan dewa jahat. Fase pertama rencana yang
meletakkan dasar untuk hal itu telah memakan waktu yang sangat lama.
Kini, dengan akhir yang sudah terlihat, Oswald yakin hanya
tinggal masalah waktu sebelum Ordo beralih ke fase kedua.
"Hmm,
sederhananya, ini seperti memulihkan apa yang telah dihapus oleh 'Raja Para
Pengguna Kemampuan'. Tapi kau tidak perlu berpikir terlalu dalam. Cukup fokus
saja menjadi tangan dan kakiku."
"...Baiklah.
Pertanyaan yang konyol. Saya akan memberi tahu Anda jika tanggal penyerahan
Sophia Claudel sudah dekat."
"Ya, tolong
lakukan itu."
Setelah mendengar
laporan Luella, Oswald kembali bekerja. Melihat hal itu, Luella pun
mengundurkan diri.
◆◇◆
Mengamankan
Sophia Claudel, ya?
Sembari aku,
Luella, berjalan menemui adik laki-lakiku, Fredrick, yang sedang menunggu tidak
jauh dari ruang terakhir, masa laluku dan adik perempuanku, Caroline, terlintas
di pikiran——.
Saat kami masih
anak-anak, aku, adik laki-lakiku Fredrick—Fred—, dan Caroline diculik oleh sang
Dokter, salah satu eksekutif dari Cyclamen Order.
Alasannya adalah
karena dia percaya salah satu dari kami kembar tiga akan membangkitkan
kemampuan Self-Heal.
Prediksi Dokter
itu tepat. Caroline membangkitkan Self-Heal di tengah rangkaian
eksperimennya.
Sejak saat itu,
sebagian besar minatnya beralih kepada Caroline, dan adikku itu pun menjadi
subjek perlakuan tidak manusiawi saat Dokter menguji batas kemampuannya.
Mengingat
kepribadian Dokter, aku dan Fred yang kehilangan kemungkinan untuk
membangkitkan kemampuan—dan otomatis kehilangan daya tariknya—seharusnya sudah
dibunuh.
Namun, mungkin
karena iseng, kami tidak dibunuh. Sebaliknya, kami diberikan obat-obatan dan
perawatan lain yang memberikan kami Hypersenses (Indra Hiper) buatan.
Dalam kasusku,
kelima indraku menjadi sangat tajam, dan kemampuan fisikku jauh melampaui orang
biasa.
Dalam kasus Fred,
dia menjadi mampu merasakan mana yang tidak terlihat oleh manusia, bahkan bisa
membedakan tingkat resistensi sihir target hanya dengan melihatnya.
Ini adalah
kemampuan yang akan membuat iri para prajurit dan petualang yang mencari nafkah
dengan bertarung, dan memang kemampuan ini telah membantu kami bertahan hidup
dalam situasi berbahaya.
Sekarang, aku
sudah berhasil berdamai dengan indra hiper ini sampai batas tertentu, tetapi
saat aku pertama kali membangkitkannya, rasanya seperti neraka.
Telinga
berdenging dan mual sudah menjadi hal biasa, tetapi aku juga terus-menerus
merasakan sakit seperti terbakar di sekujur tubuh dan sensasi seolah organ
dalamku sedang diaduk-aduk.
Kehabisan tenaga
baik secara fisik maupun mental, ego kami hampir runtuh.
Kami membenci
Caroline yang diperlakukan berbeda dari kami, dan bukan hal aneh bagi kami
untuk melontarkan makian serta kekerasan padanya.
Menoleh ke
belakang sekarang, aku adalah kakak perempuan yang paling buruk, melampiaskan
rasa frustrasiku pada Caroline yang menderita sama seperti kami.
Beberapa waktu
kemudian, saat mental kami akhirnya mulai stabil, kami mendapat kabar bahwa
Caroline telah "dibuang".
Berita itu lebih
dari cukup untuk membuat aku dan Fred berputus asa.
Meskipun kami
bisa merasakan dunia lebih dari orang lain, semua warna telah lenyap darinya.
Kami hidup seperti mayat, hanya sekadar menjalankan perintah Dokter.
Titik balik bagi
kami datang enam bulan lalu. Di wilayah Regriff, Kerajaan Nohitant, kami
bertemu kembali dengan Caroline yang kami kira sudah mati.
Perasaan kami
saat itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kami ingin segera membawanya
pergi, melarikan diri dari Ordo, dan hidup tenang bertiga saja.
Namun, Caroline
yang bertemu kembali dengan kami telah memiliki teman-teman yang tulus peduli
padanya. Melihat itu, aku dan Fred membuat keputusan yang sama tanpa ragu.
Kami akan
menggunakan sisa hidup kami demi kebahagiaan Caroline—.
——.
"Jaaadi, apa
rencananya, Kak?"
Saat aku
tenggelam dalam kenangan, Fred yang baru saja kutemui bertanya dengan nada
bicara yang santai seperti biasanya.
"Rencana
untuk apa?"
"Soal Sophia
Claudel, tentu saja. Dia salah satu teman Caroline, jadi jika gadis seperti itu
jatuh ke tangan Dokter—"
"Aku
tahu," aku memotong kalimatnya sebelum dia selesai.
Setelah
memastikan tidak ada orang di sekitar, aku memberitahu Fred rencanaku.
"Kebetulan
sekali, aku dengar Ordo akan segera beralih ke fase kedua rencana mereka.
Sepertinya semua eksekutif akan terlibat dalam tahap awal, jadi Dokter pun
tidak akan bisa bergerak bebas."
"...Jadi
maksudmu kita akan membiarkan Sophia Claudel melarikan diri selagi Dokter sibuk
dengan rencana itu?"
"Itulah
intinya. Masih banyak detail yang harus dikerjakan, tetapi sampai Dokter
dipanggil, kita akan membuat alasan apa pun yang diperlukan untuk melindungi
Sophia Claudel. Itulah yang harus kita lakukan sekarang."
"Ya,
mengerti."
Fred, setelah mendengar rencanaku, menghilangkan nada bicara santainya dan mengangguk dengan ekspresi serius.



Post a Comment