Epilog
Kenangan
dan Harapan
Tempat aku membawa Shion adalah sebuah hutan di dekat
Desa Reimei. Begitu sampai di tujuan, aku menghentikan langkah.
Bagi orang asing, tempat ini hanyalah bagian dari hutan
biasa yang tidak memiliki keistimewaan apa pun.
"Tempat ini……"
Tapi, sepertinya Shion menyadarinya.
"Ya. Di tempat inilah, 'hari itu', kita saling
bertukar janji. Hei, Shion, bolehkah aku meminta tolong sekali lagi?"
Tanpa perlu mengatakannya secara spesifik, maksudku
tersampaikan padanya. Shion mengangguk dengan senyum lebar yang menghiasi
wajahnya.
"Iya! Serahkan padaku!"
Shion menjulurkan tangannya sedikit ke depan dan
merapalkan sihir. Saat terakhir kali dia menunjukkannya padaku, dia baru saja
menguasai sihir tingkat Special, sehingga butuh waktu untuk merapalnya.
Namun sekarang, sihir itu tercipta hanya dalam sekejap mata.
"──Extreme Cold Blizzard."
Pemandangan di sekitar berubah seketika. Dunia perak yang
terbuat dari embun beku terbentang luas di depan mata.
"Hmm, sepertinya kali ini aku melakukannya lebih
baik dari sebelumnya," gumam Shion puas sambil menatap dunia perak
tersebut.
"……Memang benar-benar indah."
Perasaan jujurku terlepas begitu saja dari bibir.
"Benar-benar banyak hal yang terjadi sejak hari
itu."
Sambil memandang dunia perak, aku teringat kembali
masa-masa yang telah berlalu.
Masa kecil yang kuhabiskan di Desa Reimei, sepuluh
tahun setelah membentuk party penjelajah bersama Oliver dan Luna, dan satu
tahun terakhir ini sejak bergabung dengan Night Sky Silver Rabbit.
Benar-benar banyak hal yang terjadi.
Shion tersenyum lembut menyetujui gumamanku.
"Benar juga. Hari-hari yang sama sekali tidak
terbayangkan oleh kita yang dulu. ……Seandainya ada yang bilang padaku saat itu,
'Sepuluh tahun lagi, kau akan mencoba membunuh Orn', aku pasti tidak akan
pernah percaya."
"Maksudmu kejadian di lantai tiga puluh Labirin
Selatan tahun lalu? Saat itu aku terkejut karena ada orang sekuat itu. Kejadian
itu benar-benar bisa membuatku mati."
"Waktu itu aku mengira Orn sudah mati, jadi meski
aku merasakan bayanganmu, aku memaksa untuk membunuh perasaan itu. Tapi, begitu
melihat mana hitam pekat yang kau kendalikan, aku yakin itu adalah Orn.
Perasaanku jadi kacau balau antara rasa senang dan emosi lainnya."
"Aku juga, meskipun aku kehilangan ingatan, saat
melihat wajah Shion aku diserang perasaan yang sulit dijelaskan. Jika saat itu
ingatanku kembali, mungkin perasaanku juga akan sekacau dirimu."
"……Pertemuan kita selanjutnya adalah di wilayah
Legriff, tepat setelah Orn selesai bertarung dengan Hero."
"Ah, benar juga. Kalau diingat kembali, saat aku
mengusulkan untuk bekerja sama, ekspresi Shion yang berusaha keras
menyembunyikan rasa senangnya benar-benar berkesan bagiku."
"I-itu kan tidak bisa dihindari! Orn tidak tahu
perasaanku. Orn yang seharusnya tidak bisa menang dengan kekuatan saat itu
justru berhasil mengalahkan Hero, dan warna matamu pun berubah menjadi
hitam."
Bersamaan dengan Shion yang memalingkan wajah
sejenak, suara langkah kaki di atas tanah yang membeku terdengar pelan.
"Tepat setelah aku diberi harapan tipis bahwa
mungkin kau sudah mendapatkan ingatanmu kembali, kenyataan justru menepis
pemikiran itu. Saat itu, aku hanya bisa menangis di dalam hati."
Saat dia kembali menatapku, dia sedikit menurunkan
alisnya dan mengembuskan napas kecil. Napasnya berubah menjadi kabut putih yang
mencair ke udara.
"Di saat seperti itu kau malah menawarkan kerja
sama, aku jadi tidak tahu harus menunjukkan wajah seperti apa! Ditambah lagi,
Orn memanggilku dengan sebutan aneh seperti 'Wanita Berjubah'!"
Di tengah keheningan hutan yang membeku, suaranya
terdengar semakin jelas.
Saat itu Shion bertanya, 'Apakah kau mengingatku?'. Dan
aku menjawabnya dengan dingin, 'Mana mungkin aku lupa. ──Kenapa kau berpikir
aku bisa melupakan orang yang mencoba membunuh murid-muridku?'.
……Yah, jika aku berada di posisi Shion, aku pasti akan
merasa sangat sedih.
"Kalau diingat kembali, aku memang memberikan
perlakuan yang cukup kejam pada Shion, ya."
"Benar! Makanya, renungkanlah!"
"Iya, maaf. Aku berjanji tidak akan memperlakukan
Shion seperti itu lagi."
"……Eh!? Kenapa nada bicaramu serius sekali? Itu…… aku mengerti situasinya,
dan aku tidak benar-benar marah, kok……?"
"Aku
tahu. Tapi, ──memang benar aku telah terus-menerus membuat orang yang berharga
bagiku merasa sedih."
"…………ah……"
Shion
tampak ingin mengatakan sesuatu, mulutnya terbuka dan tertutup, namun tidak ada
suara yang keluar. Mata kuning ambar miliknya diliputi badai emosi dan
kebingungan.
"Pertemuan
kita selanjutnya adalah di Dunia Antara (Kakuriyo). Saat
itu aku benar-benar putus asa. Jika Shion tidak ada, aku tidak akan bisa
bangkit kembali, dan bahkan jika aku pulang, aku pasti sudah hancur
diinjak-injak oleh Kultus. Aku diselamatkan oleh Shion. Tadi pun begitu. Kau
memarahiku saat pandanganku mulai menyempit. Aku benar-benar menyadarinya
sekarang. Bagiku, Shion adalah sosok yang istimewa."
"Tu-tunggu! Tunggu sebentar……!"
Saat aku mengutarakan isi hatiku yang paling dalam, Shion
memotong kata-kataku dengan suara panik.
Wajahnya tertunduk, namun dari sela-sela rambut peraknya,
terlihat jelas pipinya yang merona merah.
"…………"
Sambil menunggu kata-kata Shion selanjutnya yang terdiam
menunduk, dia mendongak menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
Di sana, berlawanan dengan kekuatannya yang biasa, kini
terlihat kerapuhan yang tersembunyi.
"Hei, jika kau ingin meralatnya, sekaranglah
saatnya……? Kalau terus begini, aku akan menerima kata-katamu apa adanya,
lho?"
Shion bertanya dengan suara yang bergetar. Kerinduan yang
mendalam merembes dalam suaranya.
"Terima saja apa adanya. ──Aku menyukaimu,
Shion."
Sebenarnya aku belum berniat mengatakannya sekarang.
Tapi, berada di tempat kita bertukar janji ini dan
mengingat kembali semua hal yang telah berlalu, perasaanku tidak bisa lagi
dibendung.
Setetes air mata mengalir dari mata Shion. Air mata itu
membasahi pipinya. Itu adalah momen di mana emosinya tumpah seketika.
"……Benarkah?"
"Benar. Orang yang paling berharga bagiku hanya Shion."
Begitu
aku melontarkan kata-kata jujur tanpa dusta padanya, dia dengan ragu-ragu
mencengkeram ujung bajuku dengan ringan.
"……Aku tahu Orn bukan tipe orang yang mengatakan
hal seperti ini dengan main-main. Tapi, hanya dengan kata-kata saja aku merasa cemas. ……Jadi
tolong, buatlah aku merasa tenang."
Shion menatapku dengan mata yang bergetar. Parasnya
yang cantik kini diguncang oleh emosi yang kuat.
Ketenangannya yang biasa telah hilang, menyisakan
perasaan mendalam yang terpancar apa adanya.
Tanpa berkata apa-apa, aku semakin mendekatkan wajahku
pada Shion. Matanya perlahan terpejam, sebuah tanda bahwa dia telah membuka
hatinya padaku.
Aku menyentuh bibir Shion yang terpejam. Untuk sesaat,
waktu di antara kami seolah berhenti, dan aku merasa hati kami saling bertaut.
Saat perlahan menjauh, Shion menunjukkan senyum yang
sangat dalam. Senyumnya terasa lembut, tampak bahagia dari lubuk hatinya.
"Aku sangat bahagia sampai rasanya bisa mati……"
"Itu akan merepotkan. Padahal aku ingin Shion terus
berada di sampingku mulai sekarang. Lagipula, kita masih punya janji untuk
pergi ke dunia luar bersama-sama."
"……Iya, benar juga. Semuanya baru dimulai, ya."
"Benar. Hal yang harus dilakukan dan hal yang wajib
dilakukan masih sangat banyak. Untuk saat ini kita akan fokus ke sana, tapi aku
ingin kita bersama-sama membangun kenangan yang cukup indah untuk bisa kita
tertawakan saat menceritakan sepuluh tahun perpisahan kita nanti."
"Aku juga akan membantu! Karena saat kita menjadi
kakek dan nenek nanti, aku ingin kita bisa mengingatnya kembali sebagai
kenangan yang indah. Untuk itu, kita harus membuatnya menjadi akhir yang
bahagia (Happy Ending)!"
"Tentu saja. Untuk itu, pertama-tama……"
"Perebutan kembali Kyokuto, kan?"
"Ya. Di Kyokuto terdapat akar dari Prinsip
Sihir──Kuil Fudoushou. Demi tujuanku, aku ingin segera mengamankannya. Terlebih
lagi, merebut kembali Kyokuto adalah harapan terbesar Fuuka dan Haruto-san. Ini
juga merupakan balas budiku kepada mereka berdua yang telah banyak membantuku.
Aku akan mengerahkan seluruh kekuatanku untuk mengambilnya kembali."
"Aku juga akan pergi bersamamu! Fuuka adalah sahabat
baikku. Dan jika itu memang diperlukan untuk memenuhi 'janji' kita, tidak ada
alasan bagiku untuk tidak pergi!"
"Ya, aku mengandalkanmu."
"Iya! Serahkan padaku!"
Demi tujuanku sendiri, demi memenuhi janji dengan Shion,
dan demi mengabulkan impian rekan-rekanku, aku akan terus bertarung dengan
mempertaruhkan seluruh jiwa dan ragaku.
Saat ini, aku dianggap sebagai musuh dunia oleh hampir
semua orang yang hidup di dunia ini.
Dilihat dari situasi politik saja, aku berada dalam
posisi yang sangat tidak menguntungkan. Tapi, anehnya aku tidak merasa akan
kalah.
Aku memiliki rekan-rekan yang bisa diandalkan,
dimulai dari Shion. Karena aku tidak pernah sendirian.
Sinar matahari yang muncul dari celah awan menerangi
dunia perak tersebut.
Rambut perak Shion menari ditiup angin, dan di
matanya yang berkilau kuning ambar terpancar harapan akan masa depan.
Kami saling menatap dan tertawa bersama, lalu tanpa
komando, kami kembali mendekatkan wajah kami satu sama lain──



Post a Comment