Interlude 4
Keluarga Count
Claudel
"Selma-dono, boleh aku minta waktunya sebentar?"
Mengenakan gaun dan topeng wanita bangsawan, aku tengah
menghadiri pesta—sebuah pertemuan sosial dengan orang-orang dari negara
lain—ketika seorang pria berusia akhir dua puluhan mendekatiku.
Namanya Lyle Howard, pria yang terhubung dengan keluarga
adipati Kerajaan Stris, negara tetangga Nohitant.
"Lyle-sama,
aku merasa terhormat Anda bersedia menyapaku. Aku percaya pernyataan dukungan
Anda yang cepat dalam masalah ini adalah faktor penentu terbentuknya pasukan
sekutu dengan begitu lekas. Terima kasih banyak."
Dengan senyum
seorang putri Count, aku mengungkapkan rasa terima kasihku kepada Lyle-sama.
Alasan aku datang
ke Dal Ane bersama Putri Lucila—Lucy—adalah untuk mencari kerja sama dari
negara-negara tetangga demi memenangkan perang melawan Kekaisaran yang sudah di
depan mata.
Negosiasi dengan
para utusan negara lain yang menanggapi panggilan Lucy telah berakhir sukses,
dan baru saja diputuskan bahwa pasukan sekutu akan dibentuk.
"Apa yang
kulakukan bukanlah hal besar. Kerajaan Nohitant telah berjasa besar bagi kami.
Jika kami tidak membalas kebaikan itu di saat seperti ini, nama negara kami
akan tercoreng."
Lyle-sama
mengatakan itu dengan ekspresi lembut seolah itu bukan apa-apa, lalu
melanjutkan.
"Meski
begitu, aku terkejut dengan kecantikanmu yang persis seperti rumor yang
beredar. Selain penampilanmu, kau juga salah satu petualang terkemuka di dunia
yang dijuluki 'Enchanter Terhebat di Benua'. Di hadapanmu, Selma-dono, pepatah
'langit tidak memberikan dua anugerah sekaligus' jadi tidak bermakna."
Terkejut
oleh pujian tiba-tiba dari Lyle-sama, aku berhati-hati agar perasaan asliku
tidak terlihat di wajah dan melanjutkan percakapan dengannya untuk sementara
waktu.
Haaah... Atmosfer ini benar-benar tidak cocok denganku.
Lingkungan yang tampak indah di permukaan namun keruh di
bawahnya ini tidak selaras denganku. Itulah alasan aku menjadi petualang; untuk
menjaga jarak dari masyarakat bangsawan.
Meski begitu, aku tetap menghadiri pesta beberapa kali
bahkan setelah menjadi petualang.
Aku tahu sebagai putri sulung Keluarga Count Claudel,
menghadiri acara seperti ini tidak bisa dihindari, tapi tetap saja ini membuat
semangatku turun.
Lucy, yang secara teknis adalah atasan kaku saat ini, berada
di tengah ruangan dengan senyum sempurna di wajahnya sambil bercakap-cakap
dengan berbagai orang. Aku pun
menekan perasaanku sendiri dan entah bagaimana berhasil melewati pertemuan
sosial itu.
◆◇◆
"Fufufu,
melihat Selma di sebuah pesta selalu menjadi pemandangan yang segar dan
menghibur."
Setelah pesta
usai, saat aku sedang berendam di pemandian kediaman Claudel untuk membasuh
kelelahan, Lucy yang juga berada di dalam air menggodaku dengan tawa kecil.
Berendam bersama
putri negara adalah sesuatu yang seharusnya tidak terpikirkan.
Namun, entah dari
mana dia mendengarnya, Lucy menyatakan, "Di Kyokuto, mereka punya
kebiasaan 'bersosialisasi sambil telanjang'!", jadi akhirnya kami berendam
bersama selama kami tinggal di rumah ini.
"Aku ini
petualang. Aku hadir kali ini hanya untuk menjaga martabatmu, tapi ini
benar-benar tidak cocok denganku."
Aku menepis
godaan Lucy sambil mengingat kembali keadaan yang membuat kami berakhir
berendam bersama.
"Maaf karena
membuatmu datang ke tempat yang kau benci. Tapi partisipasimu sangat membantu,
Selma! Bagaimanapun, kau adalah petualang cantik yang dikenal di negara-negara
tetangga sebagai 'Enchanter Terhebat di Benua'!"
"Benar.
Meskipun mereka tahu julukan dan prestasimu, Selma, hanya sedikit yang
benar-benar pernah melihatmu secara langsung. Para utusan semua senang bisa
berkenalan denganmu," Loretta—Lore—yang juga ada di pemandian, menambahkan
setuju dengan Lucy.
"...Begitu
ya. Jika itu demi kepentinganmu dan negara, maka kehadiranku tidak
sia-sia."
"Ya! Itu
sangat membantu! Omong-omong—"
Lucy berhenti
sejenak dan sedikit menundukkan pandangannya.
"Sosok
tubuhmu luar biasa seperti biasa, Selma. Gaun yang kau pakai tadi
memperlihatkan garis tubuhmu dengan jelas, dan semua pria di ruangan itu
menatapmu! Kau dan Lyle-sama dari Kerajaan Stris terlihat sangat serasi saat
mengobrol. Tidakkah menurutmu Lyle-sama terpikat padamu?"
Lucy, layaknya
anak kecil yang senang dengan mainan baru, mengatakan sesuatu yang tidak pantas
bagi seorang putri.
"Kau adalah
seorang putri. Bukankah seharusnya kau menahan diri dari ucapan tidak sopan
seperti itu?"
"Seorang
putri pun manusia biasa. Aku tidak berniat menjadi orang suci di depan kalian,
teman-temanku!"
Dia rupanya
menjalankan tugas resminya dengan ekspresi dan sikap masa bodoh, tapi dia pasti
terus-menerus merasa tertekan. Itu pasti menyesakkan. Kuharap waktu yang
dihabiskan bersama kami ini bisa menjadi sumber penghiburan baginya.
"Jadi, jadi?
Apa pendapatmu tentang Lyle-sama, Selma? Kita sudah sampai di usia di mana kita
harus mulai mencari pasangan nikah, dan Lyle-sama adalah pilihan yang cukup
bagus, bukan? Dari sudut pandang orang luar, sepertinya dia punya perasaan
padamu."
Mata Lucy
berbinar saat bertanya.
"...Kau
sepertinya sangat menikmati ini."
"Tentu saja!
Kudengar sudah jadi kebiasaan bagi wanita untuk melakukan 'obrolan cinta'
seperti ini saat berkumpul."
"Dari mana
sebenarnya kau mendapatkan informasi tidak berguna semacam itu, Lucy...?"
"Fufufu.
Jangan remehkan jaringan informasi seorang putri!"
Lucy memasang
wajah bangga, seolah-olah ada efek suara kemenangan yang mengiringinya.
Tetap saja,
pernikahan, ya?
Sebagai anggota
bangsawan, aku sudah siap untuk menikah demi kepentingan keluarga, dan aku
tidak berniat pilih-pilih soal pasangan, tapi jika memungkinkan, kuharap itu
adalah seseorang yang bisa membuatku merasa nyaman.
"Aku masih
ingin menjadi petualang. Tidak peduli siapa pasangannya, aku tidak punya niat
untuk menikah sekarang... Bagaimana denganmu sendiri, Lucy? Tidak aneh jika
pembicaraan pernikahan sudah berjalan untukmu."
"Itu benar.
Ada beberapa desas-desus pembicaraan pernikahan di istana kerajaan beberapa
waktu lalu. Tapi dengan situasi Kekaisaran sekarang, ini bukan waktunya untuk
hal-hal seperti itu."
Saat Lucy
mengatakan itu, Lore yang sejak tadi menyimak, masuk ke percakapan dengan
senyum penuh arti.
"Tahukah
kau, Selma? Jika bukan karena insiden dengan Kekaisaran, Lucy sempat
mempertimbangkan Orn sebagai pasangan nikahnya."
"...Huh?
Orn, maksudmu petualang dari klan kami, Night Sky Silver Rabbit?"
Lore baru
saja menjatuhkan bom informasi. Itu sangat mendadak hingga pikiranku membeku sesaat.
"Lore?! Apa
yang kau katakan tiba-tiba begini?!"
"Apa
maksudmu? Itu yang kau katakan sendiri, Lucy. 'Sebagai Pahlawan Kerajaan dan
pahlawan sejati yang memukul mundur invasi pertama Kekaisaran, pencapaiannya
lebih dari cukup untuk dianugerahi gelar ksatria.'"
Gelar bangsawan
di Kerajaan Nohitant dibagi menjadi lima kelas: duke, marquis, count,
viscount, dan baron.
Namun, seorang
rakyat jelata yang mencapai sesuatu yang tidak bisa diabaikan negara dapat
dianugerahi gelar ksatria untuk satu generasi. Hanya ada segelintir orang
seperti itu dalam sejarah panjang kerajaan, tapi benar bahwa negara ingin
mengamankan orang seperti Orn.
Sebagai
petualang, tidak ada jaminan Orn akan menghabiskan seluruh hidupnya di Tutril
atau negara ini.
Karena dia
petualang Night Sky Silver Rabbit, dia mungkin pergi ke negara lain
sementara, tapi kemungkinan dia menetap permanen di tempat lain sangat rendah.
Tapi yah,
aku tidak berpikir Orn menginginkan gelar. Aku bisa dengan mudah membayangkan
bahwa mencoba memaksanya tidak akan berakhir baik, setelah menghabiskan setahun
terakhir bersamanya.
"Aku
memang mengatakan itu! Tapi itu kan cuma bercanda?!" Lucy lebih panik
karena pernyataan Lore daripada aku. Untuk seseorang yang suka mempermainkan
orang, dia ternyata sangat lemah terhadap hal semacam ini.
"Masa?
Ekspresi wajahmu saat mengatakannya tampak cukup serius bagiku."
"Kau selalu
menggodaku, majikanmu sendiri! Bagaimana denganmu, Lore? Bukankah kau juga akan
menikah?"
"Aku sudah
punya tunangan, kok."
""Apa?!""
Kira Lore juga
seseorang yang tidak punya hubungan dengan pernikahan, jadi pernyataannya bahwa
dia punya tunangan membuatku dan Lucy berteriak kaget.
"A-Aku
belum pernah mendengar hal ini! Kapan?! Kapan kau bertunangan?!"
"Diputuskan
sekitar musim gugur lalu. Negara sedang dalam keadaan kacau, jadi baru kedua
keluarga kami yang tahu untuk saat ini. Oh, tunggu, Yang Mulia Putra Mahkota
juga tahu."
"Kenapa kau
memberi tahu kakakku tapi tidak padaku, majikanmu?!"
"Hmm, kalau
harus jujur, itu karena aku ingin melihat reaksi ini."
"Hanya
karena alasan itu?! Itu konyol! Aku tidak terima! Ceritakan semuanya sekarang
juga!"
Kami bertiga
menghabiskan lebih banyak waktu bersama, seolah-olah kami kembali ke masa-masa
sekolah.
Dikatakan bahwa
perang antara kerajaan dan Kekaisaran akan dimulai dalam waktu dekat. Tidak,
mungkin saja itu sudah dimulai, dan informasinya saja yang belum sampai ke Dal
Ane.
Kami, suka atau
tidak, adalah anggota keluarga kerajaan dan bangsawan.
Kami harus
bekerja untuk kerajaan lagi besok. Sepertinya butuh waktu sedikit lebih lama
lagi sebelum aku bisa kembali menjadi petualang seutuhnya.
◆◇◆
Keesokan harinya,
aku bangun di kamarku di kediaman Claudel, mengurus beberapa keperluan kecil,
dan sedang berjalan menyusuri rumah untuk pergi ke sisi Lucy.
...Hm?
Di tengah
jalan, perasaan tidak enak yang aneh menyergapku. Aku segera menyadari apa itu. Kemampuanku
mendeteksi kehadiran seseorang yang seharusnya tidak ada di sini.
'...Sophie?'
'Eh? Kakak?'
Suara Sophie
bergema di kepalaku.
Kemampuanku
adalah Telepathy. Itu memungkinkanku bicara dengan orang-orang dalam
radius beberapa kilometer di sekitarku tanpa bertukar kata.
Sebagai perluasan
dari itu, aku juga bisa mendeteksi orang dalam jangkauan tersebut.
Namun, aku hanya
bisa mengidentifikasi siapa mereka jika aku sering bicara dengan mereka lewat
telepati.
Contohnya,
anggota regu pertama, Estella, Guildmaster, dan sebagainya.
Sayangnya,
meskipun bisa mendeteksi mereka dengan kemampuanku, aku tidak bisa tahu di mana
posisi tepatnya. Itu kemampuan yang agak sulit digunakan.
Tentu saja, di
antara orang-orang yang bisa kuidentifikasi adalah Sophie, orang yang paling
sering kugunakan telepati bersamanya.
Mustahil, itulah pikiran yang muncul di benakku.
Mustahil untuk mengirim pesan telepatis dari Dal Ane yang dekat perbatasan
timur, ke Tutril yang berada di bagian tengah kerajaan.
Namun, fakta
bahwa aku bisa bicara dengan Sophie lewat Telepathy berarti dia berada
dalam jangkauan kemampuanku.
'Sophie, di
mana kau sekarang...?'
'...Aku tidak
percaya bisa bicara dengan Kakak untuk terakhir kalinya... Kakak, terima
kasih untuk semuanya. ............Selamat tinggal.'
'A-Apa yang
kau bicarakan...? Hei, Sophie! Apa yang terjadi?!'
Dengan kata-kata
itu, Sophie berhenti menanggapi telepatiku. Telepathy-ku masih
mendeteksi kehadirannya.
Fakta bahwa tidak
ada jawaban berarti dia secara sukarela menolak untuk berkomunikasi.
Kata-kata
terakhir Sophie terdengar sangat lirih, seolah-olah dia hampir menangis.
"...Apa yang
sebenarnya terjadi? Apa yang terjadi pada Sophie selama aku meninggalkan
Tutril...?"
Kepalaku dalam
keadaan bingung karena kejadian mendadak ini, tapi aku meyakinkan diri bahwa
ini bukan waktunya untuk itu dan mencoba menenangkan diri.
"Sulit
dipercaya Sophie datang ke Dal Ane atas kemauannya sendiri. Kalau begitu, orang
yang tahu apa yang terjadi dengannya adalah...!"
◆◇◆
Mengetahui bahwa
Sophie ada di Dal Ane, aku tidak menuju ke sisi Lucy, melainkan ke kantor
ayahku—Count Claudel.
Begitu sampai di
depan pintu, aku membukanya dengan paksa.
"...Selma,
masuk tanpa mengetuk pintu bukanlah hal yang terpuji."
Seorang pria
berusia akhir dua puluhan dengan rambut merah tua yang sama denganku dan Sophie
berbicara dengan nada menegur yang lembut setelah menyadari akulah yang masuk.
Namanya Marius
Claudel. Kakak laki-lakiku dan penerus Keluarga Count Claudel berikutnya.
"Maaf atas
ketidaksopananku. Tapi ada sesuatu yang harus segera kutanyakan pada Ayah. Maaf
menyela, tapi bolehkah urusanku diprioritaskan?"
Setelah meminta
maaf pada Kakak, aku memelototi ayahku yang duduk di kursi di belakangnya.
"...Sejujurnya.
Kau tampaknya sedang terburu-buru, jadi mari selesaikan urusanmu dulu. Tidak
apa-apa kan, Ayah?"
Kakakku hanya
tersenyum kecut melihat tuntutanku yang sombong dan memprioritaskan urusanku.
Kakak adalah
orang yang paling kuhormati di masa kecilku. Dia cerdas, baik, dan
dicintai oleh orang-orang di wilayah kami—seorang pria tanpa cela.
Dia mengajariku banyak hal sebagai adiknya dan akan
melindungiku bahkan saat aku melakukan kesalahan. Dia adalah 'kakak laki-laki
idaman'.
—Bagiku.
Aku masih menghormati Kakak. Tapi aku tidak bisa menerima
fakta bahwa dia sepenuhnya tidak peduli pada Sophie, yang juga adiknya.
Aku pernah mengonfrontasinya soal itu sebelumnya, tapi dia
mengabaikanku dan berkata, "Aku tidak punya waktu untuk berurusan dengan
aib keluarga," dan sejak saat itu, jarak di antara kami perlahan melebar.
"Ya, aku mengerti. Selma, buatlah jadi singkat."
"Apakah ini akan berakhir singkat atau tidak, itu
tergantung padamu, Ayah. Hanya ada
satu hal yang ingin kupastikan. —Apa yang telah kau lakukan pada Sophie?"
Aku bertanya pada
ayahku dengan suara yang terasa sangat rendah bahkan bagi diriku sendiri.
Kakakku yang
mendengarkan di sampingku mengernyit, tapi ekspresi ayahku tetap tidak berubah.
"Apa yang
kau bicarakan?" jawabnya acuh tak acuh.
"Percuma
berpura-pura bodoh. Kau tahu kemampuanku, kan, Ayah? Aku sudah tahu bahwa
Sophie berada di dalam wilayah ini."
"Ayah,
aku belum mendengar apa pun tentang ini. Apakah Ayah merencanakan sesuatu menggunakan adikku?"
Saat aku
menginterogasi Ayah, Kakak ikut menimpali. Kenapa dia tampak begitu tidak
senang, padahal seharusnya dia tidak peduli pada Sophie...?
"...Ini
bukan rencana yang jahat. Sebuah lamaran pernikahan datang untuk Sophie—untuk
'makhluk itu'—dan aku hanya memanggilnya kembali untuk menerimanya."
Ayahku, yang
dipelototi oleh aku dan Kakak, mengembuskan napas dan menjawab pertanyaanku
seolah dia sudah pasrah.
"Lamaran
pernikahan untuk Sophie...? Dari keluarga mana...?"
"Keluarga Viscount Elmet."
"Viscount Elmet?!"
Saat Ayah mengungkapkan nama keluarga yang melamar, Kakak
berteriak kaget. Aku pun tersentak oleh pasangan yang tidak terduga itu.
Wajar jika aku dan Kakak terkejut. Viscount Elmet adalah
bangsawan dari Kekaisaran.
"Bangsawan
Kekaisaran? Apa yang Ayah pikirkan! Ini bisa saja, jika salah langkah—"
"Aku tidak
punya pilihan!!"
Ayahku berteriak,
suaranya lebih keras dari nada marah Kakak. Kakak terdiam, dan Ayah bicara
lagi.
"Itu terjadi
tak lama setelah berita kematian Baginda Raja tiba. Seseorang yang mengaku
utusan dari Viscount Elmet berkunjung secara rahasia—"
Ayah kemudian
mulai menjelaskan mengapa dia menerima lamaran pernikahan untuk Sophie.
Singkatnya, itu adalah ancaman dari Kekaisaran.
Dia diberitahu
bahwa Kekaisaran telah menemukan cara untuk memicu Dungeon Stampede
secara buatan.
Satu-satunya
labirin di wilayah ini sudah dipenuhi dengan monster kuat yang seharusnya
menghuni lapisan bawah Labirin Besar.
Mereka bilang
jika dia menyerahkan Sophie ke Kekaisaran, mereka tidak akan memicu serbuan
monster.
"Omong
kosong macam apa ini... Jangan bercanda denganku!"
Mendengar
alasannya, aku berjuang menekan amarah yang mengancam akan membuatku gila dan
mencengkeram kerah baju Ayah.
Terkejut
karena dicengkeram oleh putrinya sendiri, Ayah menatapku dengan ekspresi kaget.
"Ayah
menuruti cerita sekonyol itu?! Pihak lawan adalah negara musuh yang sedang
berperang!"
"Cih! Kalau
begitu apa kau bilang kau tidak peduli apa yang terjadi pada rakyat di wilayah
kita?! Jika keselamatan mereka bisa dibeli dengan nyawa 'makhluk itu', bukankah
itu harga yang murah?! Lagipula, makhluk itu, suka atau tidak, adalah putriku.
Pernikahan demi kepentingan keluarga adalah hal yang wajar! Itulah tugas
seorang bangsawan!"
Terpancing
kemarahanku, Ayah mulai menegaskan kebenarannya sendiri.
Mendengar
klaimnya, kemarahanku mencapai puncaknya.
"Cukup omong
kosongmu...! Setelah memperlakukan Sophie dengan begitu dingin selama ini,
tiba-tiba memperlakukannya seperti putri hanya saat itu menguntungkanmu
benar-benar keterlaluan! Benar bahwa bangsawan menikah demi keluarga itu wajar,
dan aku tidak membantah bahwa itu adalah tugas bangsawan."
Ayahku, mengira
dia telah memenangkanku saat aku membenarkan sebagian argumennya, memberikan
senyum tak gentar.
"Lihat,
kau mengerti. Benar—"
"—Tapi
argumenmu tidak berlaku untuk Sophie!"
Namun,
pada kata-kataku selanjutnya, ekspresi Ayah berubah menjadi kebingungan.
"Apa yang
kau bicarakan? Kau baru saja mengakuinya sendiri. 'Bangsawan menikah demi
keluarga itu wajar'."
"...Sophie
bukan seorang bangsawan!"
Kata-kata dan
tindakan Ayah yang terlalu egois membuat amarahku meledak-ledak.
"Apa kau
bilang dia bukan bangsawan karena dia punya darah rakyat jelata? Sofisme
semacam itu—"
"—Bukan!!
Apakah Ayah lupa definisi bangsawan di negara ini? 'Seseorang yang telah lulus
dari Akademi Bangsawan dan secara sosial diizinkan mendapatkan hak istimewa
politik atau hukum.' Itulah bangsawan. Sophie tidak lulus dari Akademi
Bangsawan, jadi dia bukan bangsawan. Bukankah Ayah dan Ibu yang merenggut hak
itu darinya?!"
Mata Ayah melebar mendengar kata-kataku.
"Alasan kita
para bangsawan punya tugas adalah karena kita diberikan hak istimewa. Tapi
Sophie tidak punya hak-hak itu. —Merenggut hak istimewanya lalu hanya menuntut
tugasnya, itu salah!!"
"...Aku
setuju dengan Selma," ucap Kakak setelah mendengarkanku, dan aku
melepaskan kerah baju Ayah. Amarah mulai meresap ke dalam ekspresi Kakak.
"Ayah, dan
aku, kita telah menelantarkan Sophie. Dia adalah anggota Keluarga Count
Claudel, tapi dia bukan bangsawan. Aku akan melaporkan masalah ini kepada Yang
Mulia Putri. Ayah selalu kurang dalam pandangan ke depan. Ayah tidak layak
menjadi penguasa. Aku akan menyeret Ayah turun dari kursi itu segera, jadi
bersiaplah."
"Hahaha..."
Saat Kakak
memberikan serangan terakhirnya, Ayah mulai tertawa kecil.
"Apakah dia
sudah gila?" gumamku, menatap Ayah yang tidak berhenti tertawa dengan
curiga.
"Menyeretku
turun? Itu mustahil. Karena penyerahan Sophie dilakukan hari ini. Aldo mungkin
sedang menyerahkan makhluk itu kepada utusan Viscount Elmet saat kita
bicara."
"Apa
katamu...?!"
"Jika aku
memberi tahu keluarga kerajaan sebelumnya, mereka pasti akan menolaknya. Tapi
begitu pernikahan terjalin, keluarga kerajaan tidak punya pilihan selain
mengikuti rencanaku!"
"Rencanamu?"
"Aku akan
menjadikan makhluk itu mata-mata di Kekaisaran! Keluarga Viscount Elmet sangat
paham dengan urusan militer Kekaisaran. Aku akan menyuruhnya membocorkan
informasi yang dia dapatkan di sana kepada kita! Bahkan dengan pembentukan
pasukan sekutu, negara kita masih dalam posisi tidak menguntungkan. Putri
Lucila pasti tidak punya pilihan selain menyetujui rencanaku!"
"Cih!! Di
mana lokasi penyerahannya?!"
"Hmph,
seolah-olah aku akan memberitahumu," Ayah meludah, ekspresi mengejek di
wajahnya.
Menyadari aku
tidak bisa mendapatkan informasi darinya, aku segera mulai memikirkan
lokasi-lokasi yang memungkinkan di kepalaku.
Tepat saat itu,
'—Selma-san,
bisa mendengarku?!'
Suara
yang familiar bergema di kepalaku. Bertanya-tanya mengapa aku mendengar suara
ini, aku menggumamkan nama orang tersebut di dalam pikiranku.
" —Orn?"



Post a Comment