NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 6 Epilog 2

Epilog 2

Di Bawah Sinar Rembulan


Beberapa saat setelah perayaan kedewasaan Carol dan perayaan pembatalan pertunangan Sophie (?), Sophie memanggilku untuk datang ke balkon kediaman Claudel.

Omong-omong, berkat kebaikan Marius-san, kami diizinkan untuk menginap di salah satu kamar di kediaman Claudel ini.

"Ah, Orn-san, selamat malam! Maaf ya, aku memanggilmu selarut ini."

Begitu aku tiba di balkon, Sophie yang sedari tadi sedang menatap bulan menyadari kehadiranku dan menyapaku.

"Sama sekali bukan masalah. Kamu benar-benar menyukai bulan ya, Sophie?"

"Kurasa begitu. Bulan adalah motif dari Night Sky Silver Rabbit, dan aku merasa mendapatkan kekuatan setiap kali menatapnya."

Ekspresi Sophie saat mengatakan hal itu tampak sangat cerah.

"...Sebenarnya, aku baru saja mengobrol dengan Kakakku—ah, maksudku Marius-san. Mungkin itu pertama kalinya aku mengobrol dengan layak bersamanya."

"...Begitukah? Fakta bahwa kamu sempat memanggilnya 'Kakak' berarti kalian sudah berdamai?"

"Iya. Selama ini aku selalu mengira Kakak membenciku. Tapi setelah berbicara dengannya, aku baru tahu kalau sebenarnya dia justru membantuku."

Sophie kemudian menceritakan detail pembicaraannya dengan Marius-san kepadaku.

Tampaknya Marius-san sebenarnya adalah orang yang sangat penyayang. Dia memiliki hubungan saudara yang baik dengan Selma-san dan ingin membangun hubungan serupa dengan Sophie, namun keadaan tidak memungkinkan.

Ibu Marius-san dan Selma-san adalah mendiang countess, sementara ibu Sophie adalah seorang pelayan yang meninggal saat melahirkan. Mendiang countess yang memiliki kecenderungan pemurnian garis keturunan sangat tidak senang karena darah rakyat jelata masuk ke keluarga Claudel.

Dalam situasi itu, jika Marius-san bersikap ramah pada Sophie, hal itu justru akan membuat posisi Sophie semakin sulit. Karena itulah dia mempertahankan sikap acuh tak acuh sambil bergerak di balik layar untuk mencegah kebencian orang tuanya tertuju langsung pada Sophie.

"...Dulu aku mengira satu-satunya keluargaku hanyalah Kakak Selma, tapi ternyata aku salah. Sejak aku lahir, bukan hanya Kakak, tapi abangku juga adalah keluargaku."

"Aku akhirnya memahami hal itu, dan aku sangat bahagia sekarang! Rumah dan tempatku untuk kembali memang Night Sky Silver Rabbit, tapi sekarang aku memiliki satu tempat lagi seperti itu."

"Itu bagus sekali."

"Iya!"

Aku sendiri sudah tidak memiliki keluarga, jadi aku tidak terlalu paham bagaimana rasanya memiliki mereka. Namun, aku bisa membayangkan betapa menyakitkannya merasa terasing dari keluarga padahal mereka ada di dekatmu.

Itulah sebabnya aku merasa tulus bahagia karena Sophie bisa berdamai dengan kakaknya.

"Lalu, anu, alasan aku memintamu ke sini adalah karena ada sesuatu yang ingin kusampaikan."

"Sesuatu yang ingin kamu sampaikan...?"

Karena tidak mengerti maksud perkataannya, aku hanya membeo. Dia mengangguk sekali sebelum mulai berbicara.

"Pada hari Orn-san menjadi Master kami, kamu mengajukan sebuah pertanyaan kepada kami, bukan? 'Beri tahu aku mimpi dan tujuan kalian'."

"Ya, aku melakukannya. Aku ingat betul soal itu. Saat itu, kamu menjawab, 'Aku menjadi petualang untuk menemukan mimpi dan tujuanku'."

"Fakta bahwa kamu membicarakan ini sekarang berarti kamu sudah menemukannya, kan?"

"Iya. Sudah. —Aku ingin menjadi seseorang yang bisa menerangi semua orang, seperti rembulan yang menerangi kegelapan malam."

Sophie menjawab pertanyaanku dengan senyuman yang berseri-seri.

"...Kurasa ada banyak orang di luar sana seperti aku dan Carol yang memiliki pengalaman menyakitkan di masa lalu. Dan jika perang antara kerajaan dan kekaisaran semakin memanas, lingkungan yang keras mungkin menanti anak-anak masa kini dan anak-anak yang akan lahir nanti."

"Aku ingin menjadi seseorang yang bisa menghalau kegelapan dari orang-orang itu dan menuntun mereka."

"Kamu ingin berada di posisi untuk membimbing orang lain, ya? Itu mimpi yang mulia. Tapi, itu jalan yang sulit."

"Iya. Aku mengerti hal itu. Tapi aku sudah memutuskan. Untuk itu, aku akan menjadi lebih kuat. Baik secara mental maupun fisik. Dan aku akan melampauimu, Orn-san, juga Kakakku!"

Sophie menatapku dengan mata yang mantap. Tatapan mata itu adalah sesuatu yang tidak bisa kubayangkan dari dirinya saat pertama kali kami bertemu.

Sama seperti saat dia menyampaikan perasaannya kepada Putri Lucila tadi, Sophie kini memiliki kekuatan untuk melangkah maju dengan kakinya sendiri. Dia bahkan tidak butuh bantuanku lagi.

Rasanya sedikit menyedihkan, tapi ini juga sesuatu yang patut disyukuri.

"Berani sekali ya. Aku tidak akan membiarkanmu melampauiku dengan mudah."

"Jika itu mudah, maka tidak akan berharga untuk dikejar. Dan aku tidak menginginkan jalan yang mudah!"

Ekspresinya saat tersenyum di bawah sinar rembulan yang benderang adalah pemandangan paling bercahaya yang pernah kulihat—.






Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close