Epilog 2
Di Bawah Sinar Rembulan
Beberapa saat
setelah perayaan kedewasaan Carol dan perayaan pembatalan pertunangan Sophie
(?), Sophie memanggilku untuk datang ke balkon kediaman Claudel.
Omong-omong,
berkat kebaikan Marius-san, kami diizinkan untuk menginap di salah satu kamar
di kediaman Claudel ini.
"Ah,
Orn-san, selamat malam! Maaf ya, aku memanggilmu selarut ini."
Begitu aku tiba
di balkon, Sophie yang sedari tadi sedang menatap bulan menyadari kehadiranku
dan menyapaku.
"Sama sekali
bukan masalah. Kamu benar-benar menyukai bulan ya, Sophie?"
"Kurasa
begitu. Bulan adalah motif dari Night Sky Silver Rabbit, dan aku merasa
mendapatkan kekuatan setiap kali menatapnya."
Ekspresi Sophie
saat mengatakan hal itu tampak sangat cerah.
"...Sebenarnya,
aku baru saja mengobrol dengan Kakakku—ah, maksudku Marius-san. Mungkin itu
pertama kalinya aku mengobrol dengan layak bersamanya."
"...Begitukah?
Fakta bahwa kamu sempat memanggilnya 'Kakak' berarti kalian sudah
berdamai?"
"Iya. Selama
ini aku selalu mengira Kakak membenciku. Tapi setelah berbicara dengannya, aku
baru tahu kalau sebenarnya dia justru membantuku."
Sophie kemudian
menceritakan detail pembicaraannya dengan Marius-san kepadaku.
Tampaknya
Marius-san sebenarnya adalah orang yang sangat penyayang. Dia memiliki hubungan
saudara yang baik dengan Selma-san dan ingin membangun hubungan serupa dengan
Sophie, namun keadaan tidak memungkinkan.
Ibu Marius-san
dan Selma-san adalah mendiang countess, sementara ibu Sophie adalah
seorang pelayan yang meninggal saat melahirkan. Mendiang countess yang
memiliki kecenderungan pemurnian garis keturunan sangat tidak senang karena
darah rakyat jelata masuk ke keluarga Claudel.
Dalam situasi
itu, jika Marius-san bersikap ramah pada Sophie, hal itu justru akan membuat
posisi Sophie semakin sulit. Karena itulah dia mempertahankan sikap acuh tak
acuh sambil bergerak di balik layar untuk mencegah kebencian orang tuanya
tertuju langsung pada Sophie.
"...Dulu aku
mengira satu-satunya keluargaku hanyalah Kakak Selma, tapi ternyata aku salah.
Sejak aku lahir, bukan hanya Kakak, tapi abangku juga adalah keluargaku."
"Aku
akhirnya memahami hal itu, dan aku sangat bahagia sekarang! Rumah dan tempatku
untuk kembali memang Night Sky Silver Rabbit, tapi sekarang aku memiliki
satu tempat lagi seperti itu."
"Itu bagus
sekali."
"Iya!"
Aku sendiri sudah
tidak memiliki keluarga, jadi aku tidak terlalu paham bagaimana rasanya
memiliki mereka. Namun, aku bisa membayangkan betapa menyakitkannya merasa
terasing dari keluarga padahal mereka ada di dekatmu.
Itulah sebabnya
aku merasa tulus bahagia karena Sophie bisa berdamai dengan kakaknya.
"Lalu, anu,
alasan aku memintamu ke sini adalah karena ada sesuatu yang ingin
kusampaikan."
"Sesuatu
yang ingin kamu sampaikan...?"
Karena tidak
mengerti maksud perkataannya, aku hanya membeo. Dia mengangguk sekali sebelum
mulai berbicara.
"Pada hari
Orn-san menjadi Master kami, kamu mengajukan sebuah pertanyaan kepada kami,
bukan? 'Beri tahu aku mimpi dan tujuan kalian'."
"Ya, aku
melakukannya. Aku ingat betul soal itu. Saat itu, kamu menjawab, 'Aku menjadi petualang untuk menemukan mimpi dan
tujuanku'."
"Fakta bahwa
kamu membicarakan ini sekarang berarti kamu sudah menemukannya, kan?"
"Iya. Sudah.
—Aku ingin menjadi seseorang yang bisa menerangi semua orang, seperti rembulan
yang menerangi kegelapan malam."
Sophie menjawab
pertanyaanku dengan senyuman yang berseri-seri.
"...Kurasa
ada banyak orang di luar sana seperti aku dan Carol yang memiliki pengalaman
menyakitkan di masa lalu. Dan jika perang antara kerajaan dan kekaisaran
semakin memanas, lingkungan yang keras mungkin menanti anak-anak masa kini dan
anak-anak yang akan lahir nanti."
"Aku ingin
menjadi seseorang yang bisa menghalau kegelapan dari orang-orang itu dan
menuntun mereka."
"Kamu ingin
berada di posisi untuk membimbing orang lain, ya? Itu mimpi yang mulia. Tapi,
itu jalan yang sulit."
"Iya. Aku
mengerti hal itu. Tapi aku sudah memutuskan. Untuk itu, aku akan menjadi lebih
kuat. Baik secara mental maupun fisik. Dan aku akan melampauimu, Orn-san, juga
Kakakku!"
Sophie menatapku
dengan mata yang mantap. Tatapan mata itu adalah sesuatu yang tidak bisa
kubayangkan dari dirinya saat pertama kali kami bertemu.
Sama seperti saat
dia menyampaikan perasaannya kepada Putri Lucila tadi, Sophie kini memiliki
kekuatan untuk melangkah maju dengan kakinya sendiri. Dia bahkan tidak butuh
bantuanku lagi.
Rasanya sedikit
menyedihkan, tapi ini juga sesuatu yang patut disyukuri.
"Berani
sekali ya. Aku tidak akan membiarkanmu melampauiku dengan mudah."
"Jika itu
mudah, maka tidak akan berharga untuk dikejar. Dan aku tidak menginginkan jalan
yang mudah!"
Ekspresinya saat tersenyum di bawah sinar rembulan yang benderang adalah pemandangan paling bercahaya yang pernah kulihat—.



Post a Comment