Prolog
Pintu Keluar dari Persimpangan Jalan
Aku baru hidup
selama sekitar dua puluh tahun, tetapi ada satu hal yang akhirnya kupahami.
Tidak ada yang namanya hidup tanpa penyesalan.
Bahkan ketika kau
berpikir telah membuat pilihan terbaik, kegagalan tetaplah sesuatu yang tak
terelakkan. Namun di saat yang sama, selalu ada sesuatu yang bisa dipetik dari
jalan yang kau tempuh.
Itulah sebabnya,
saat kau merasa tersesat, aku pikir akan lebih konstruktif jika kau fokus pada
apa yang akan kau dapatkan dari pilihan tersebut.
Dan yang paling
penting adalah memberikan segalanya untuk jalan yang telah kau pilih.
Berjuanglah untuk
mendapatkan sebanyak mungkin hal, demi menjalani hidup yang memuaskan.
Bekerjalah begitu keras hingga kau bahkan tidak punya waktu untuk membayangkan
masa depan yang telah kau tinggalkan.
…Meski begitu,
jika aku diberi kesempatan untuk mengulang semuanya dari awal, aku akan—
Aku berdiri di
sebuah ruang yang tidak nyata—hamparan tanah putih tak berujung di bawah langit
yang samar-samar diterangi cahaya fajar. Wanita berambut perak yang berdiri di
sampingku tersenyum dan mengulurkan tangannya.
“Kalau begitu,
mari kita pergi, Orn?”
Wanita berambut
perak itu—Shion—berbicara dengan suara yang sejernih langit tanpa awan.
Senyuman pun merekah secara alami di wajahku saat aku menggenggam tangannya
dengan erat.
“Ya,” jawabku.
“Mari kita pergi hancurkan dunia ini, Shion.”
Seiring dengan kata-kata itu, kesadaranku pun mulai memudar—



Post a Comment