Prolog 1
Festival Tari Roh
"Ugh…. Ini
terlalu sulit, rasanya kepalaku mau meledak…."
Sambil
mendengarkan laporan dari para bawahan, aku mengeluh dalam hati.
"Kekacauan
akibat luapan Dungeon yang terjadi sejak tiga bulan lalu sudah bisa
dikatakan mereda. Lalu, mengenai masalah pangan yang sempat dikhawatirkan
akibat serangan Magic Beast… Nona Nagisa, Anda mendengarkan?"
Aku
sempat tertegun akibat tumpukan informasi masif yang dijejalkan bertubi-tubi.
Melihat itu, bawahanku yang jauh-jauh datang untuk melapor langsung menunjukkan
ekspresi curiga.
"I-Iya,
aku dengar! Silakan lanjutkan!"
Aku
bergegas menegakkan punggung dan menatap mata bawahanku dengan mantap.
Meski
sulit, aku tidak boleh menyerah di sini.
Ini
adalah tanggung jawab keluarga Asagiri yang telah merampas Kyokuto dari
Keluarga Shinonome dan Kakak Fuuka.
Selama
aku berdiri di posisi yang menyokong negara ini, sesulit apa pun itu, aku harus
melaluinya.
Bawahanku sempat
mengerutkan alis sejenak, namun dia segera melanjutkan laporannya.
"…Baiklah.
Mengenai masalah pangan—"
Setelah
itu, demi bisa mengikuti pembicaraan mereka, aku kembali memusatkan fokus pada
laporan. Namun, tiba-tiba aku menangkap sebuah hawa keberadaan yang sangat
kukenal.
"Ah!
Ma-Maaf! Ada urusan mendadak. Laporannya dilanjutkan nanti saja, ya!"
Setelah
mengatakan itu, aku bergegas keluar ruangan dan menuju ke tempat hawa itu
berada.
◆◇◆
"Nona
Philly. Se-Selamat datang kembali…!"
Aku mendekati
Nona Philly, sang pemilik hawa keberadaan tersebut, lalu menyapanya.
"Astaga,
Nagisa. Bukankah sudah sering kukatakan, kau tidak perlu repot-repot
menyambutku."
Nona Philly tersenyum tipis ke arahku.
"Bukankah kau sudah dewasa dan aktif berpartisipasi
dalam pemerintahan Kyokuto? Jangan cemaskan aku, fokuslah pada
pekerjaanmu."
Nona Philly berucap seolah memikirkanku. Senyum lembut
tersungging di wajahnya, membuat sosoknya terlihat sangat bersahabat.
Melihat itu, pertahananku nyaris saja goyah.
Namun, aku tidak boleh lupa.
—Bahwa Nona Philly tidak memiliki hati nurani layaknya
manusia.
Sudah tak
terhitung berapa kali rakyat menderita setiap kali orang ini dibiarkan bebas.
Bagi Nona
Philly, aku tampak seperti manusia yang punya nilai untuk dimanfaatkan, karena
itulah dia tidak pernah melakukan hal buruk secara langsung kepadaku.
Maka dari
itu, selama dia berada di negeri ini, aku harus terus mengawasinya dan menjadi
benteng pelindung bagi rakyat.
…Eh?
Biasanya,
meski Nona Philly berpura-pura ramah, tatapan matanya selalu terasa dingin
membeku.
Namun, hari ini
aku tidak merasakan kedinginan itu.
"Te-Terima
kasih atas perhatian Anda…. Anu, Nona Philly, apa terjadi sesuatu yang
menyenangkan?"
"Oh, kau
bisa menyadarinya? Sebenarnya, harapanku yang terdalam akhirnya akan segera
terwujud."
"Ha-Harapan…?"
"Fufufu.
Tidak perlu waspada begitu. Aku tidak akan memulainya sekarang, kok. Untuk
sementara aku ingin bersantai dulu. Kebetulan di negeri ini akan ada festival,
kan?"
"…Maksud
Anda, Festival Tari Roh?"
"Iya, itu dia. Sesekali, aku ingin menikmati festival
dengan tulus. Jadi, aku tidak berniat mengganggu jalannya acara. Aku berjanji
tidak akan menyentuh manusia di Kyokuto sampai Festival Tari Roh
berakhir."
"Be-Benarkah?!"
"Iya. Karena itu, bekerjalah dengan giat dalam
persiapannya agar tidak ada kekurangan. Aku sangat menantikannya, lho."
Nona Philly memang orang yang berbahaya, tapi dia adalah
tipe yang menepati janji.
Sampai sekarang, dia belum pernah sekalipun mengingkari
janji denganku.
Tentu ini sangat membantu, karena menyiapkan Festival Tari
Roh sambil mengawasi Nona Philly akan sangat menguras tenaga.
"Baiklah! Saya akan berusaha sekuat tenaga agar Nona
Philly bisa menikmatinya!"
"Ya. Aku benar-benar menantikannya."



Post a Comment