Interlude 4
Prajurit Boneka
Setelah
meninggalkan Kyokuto, Filly melakukan teleportasi ke negara tetangga yang
dipisahkan oleh lautan──Federasi Ludine.
Dia
merasakan ketidaknyamanan yang tak terlukiskan meresap bersama aliran darah
yang mengalir di sekujur tubuhnya.
Dengan
seluruh kesadarannya, dia mati-matian menahan aliran kekuatan dahsyat yang
seolah hendak meledakkan tubuhnya kapan saja.
"Haa…… haa…… kh……"
Dengan napas tersengal-sengal, dia berjalan menyusuri
koridor Gedung Pusat Pemerintahan.
Dengan langkah kaki yang sempoyongan, dia tiba di lantai
teratas dan sempat terhenti sejenak di depan pintu.
Lalu, seolah bergantung pada pegangan pintu itu, dia masuk
ke dalam ruangan dengan dorongan tubuh yang hampir jatuh.
"……Tamu
yang langka."
Suara
seorang pria bergema. Seorang lelaki tua berseragam militer dengan rambut dan
janggut putih serta punggung tegak berdiri di depan meja kerja.
Namanya
adalah Gunnar Stern. Pemegang kekuasaan tertinggi di Federasi Ludine yang
menyandang jabatan Ketua Federasi.
Namun di balik
itu, dia memiliki wajah lain.
Dialah──[Peringkat
Kedua Kultus Cyclamen]: "Thunder Emperor".
Di
hadapannya, berdiri seorang pria lain. Grand Master baru dari Explorer Guild,
Solda.
Wajahnya
sangat pasaran. Perawakannya rata-rata dan tidak meninggalkan kesan.
Jika
seseorang lengah, otaknya akan secara otomatis melupakan keberadaannya; sebuah
eksistensi yang setipis udara. Justru itulah makna dari keberadaannya.
Filly
menutup pintu, lalu menyandarkan punggungnya dan merosot duduk di lantai.
Sambil mengatur napas yang memburu, dia mencoba memeras suaranya.
"……Maaf……
sudah menyela pembicaraan kalian……"
Dari
tubuhnya, Miasma hitam merembes keluar secara perlahan.
"Filly,"
Gunnar menyipitkan mata dan bertanya. "Kenapa kau menyerap mana milik
Oberon? Bukankah seharusnya ada wadahnya?"
"……Wadah itu
tidak bisa digunakan," jawab Filly dengan nada enggan dan terdengar
kesakitan. "Karena itulah…… aku tidak punya pilihan lain……"
"Kau
melakukan hal yang nekat," gumam Gunnar dengan nada mendesah.
"Meskipun kau telah dianugerahi Cognitive Alteration dari Oberon,
jika kau memaksakan diri, kau akan hancur."
Dalam
nada suaranya, terselip sedikit rasa khawatir. Namun, ekspresi Filly
berubah dingin.
"……Aku tidak butuh kekhawatiran dangkal seperti
itu," ucap Filly ketus. "Aku tidak bisa bergerak untuk sementara
waktu. Tapi tenang saja, aku akan menuntaskan peranku."
"Begitu.
Baiklah kalau begitu." Gunnar mengangguk tanda mengerti, lalu segera
melanjutkan. "Solda."
"……Ya."
"Sedotlah
mana Oberon dari tubuh Filly."
"Baik,
dimengerti."
Solda
menuruti instruksi Gunnar dan mendekati Filly. Dia berlutut di depan Filly, mengucap
"Permisi" sebagai tanda sopan santun, lalu perlahan mengulurkan
tangannya.
Ujung jari Solda
menyentuh bahu kiri Filly dengan lembut. Seketika itu juga, kabut hitam
membubung dari tubuh Filly.
Aliran mana
dahsyat yang menggerogoti sekujur tubuh Filly mengalir balik ke lengan Solda.
Bagaikan menyedot
racun, kekuatan hitam itu merayap turun dari bahu ke dada, lalu ke perut.
Wajah Solda
berubah pucat pasi dalam sekejap, dan bibirnya mulai gemetar. Retakan kecil
muncul di ujung jarinya, dan suara derit tulang terdengar dari persendiannya.
Tak lama
kemudian, tubuh Solda mulai hancur secara bertahap. Bagaikan menara pasir yang
tertiup angin.
Dalam sekejap,
tubuhnya lenyap tanpa menyisakan sebutir pasir pun, seolah meleleh ke udara.
"…………"
Filly menatap
kejadian itu tanpa emosi.
"……Rasanya
sedikit lebih lega," ucap Filly sambil mengembuskan napas. "Maaf ya,
Gunnar."
"Tidak perlu
dipikirkan. Dia hanyalah prajurit boneka yang dibuat dengan teknologi klon.
Penggantinya bisa disiapkan sebanyak apa pun," jawab Gunnar datar sambil
memandangi dokumen di mejanya.
"Aku
akan menyiapkan Solda berikutnya. Aku juga akan mengirimkan Solda ke tempatmu secara rutin. Untuk sementara,
fokuslah untuk menyatukan mana Oberon dengan tubuhmu."
"……Aku
mengerti."
Filly bangkit
berdiri perlahan. Meski sempoyongan, dia membetulkan postur tubuhnya dan
memegang gagang pintu. Sambil membelakangi mereka, dia menjatuhkan sebuah
informasi.
"Oya, satu
hal lagi. Orn saat ini sedang berada di Kyokuto."
"……Hoh?"
"Hampir bisa
dipastikan dia mulai menyelidiki Prinsip Sihir."
Gunnar
menyipitkan matanya sedikit, lalu menyunggingkan senyum ironis.
"Terima
kasih atas informasinya."
Lalu, dia
bergumam dengan suara yang tidak terdengar oleh siapa pun. "Begitu ya.
Jadi dia di Kyokuto. Memang merepotkan karena aku tidak bisa meminta Filly
melakukan manipulasi informasi, tapi ini sudah cukup sebagai alasan pembenaran.
Untuk pembentukan opini publik level ini……"
Gunnar
mengalihkan pandangannya ke peta di dinding. Tujuannya adalah negara kepulauan
di ujung timur.
Di sana, secara
diam-diam namun pasti, bayangan hitam mulai mendekat. Siapakah yang akan
menumpahkan darah berikutnya? Belum ada satu pun yang tahu──.



Post a Comment