NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 9 Interlude 4

Interlude 4

Prajurit Boneka


Setelah meninggalkan Kyokuto, Filly melakukan teleportasi ke negara tetangga yang dipisahkan oleh lautan──Federasi Ludine.

Dia merasakan ketidaknyamanan yang tak terlukiskan meresap bersama aliran darah yang mengalir di sekujur tubuhnya.

Dengan seluruh kesadarannya, dia mati-matian menahan aliran kekuatan dahsyat yang seolah hendak meledakkan tubuhnya kapan saja.

"Haa…… haa…… kh……"

Dengan napas tersengal-sengal, dia berjalan menyusuri koridor Gedung Pusat Pemerintahan.

Dengan langkah kaki yang sempoyongan, dia tiba di lantai teratas dan sempat terhenti sejenak di depan pintu.

Lalu, seolah bergantung pada pegangan pintu itu, dia masuk ke dalam ruangan dengan dorongan tubuh yang hampir jatuh.

"……Tamu yang langka."

Suara seorang pria bergema. Seorang lelaki tua berseragam militer dengan rambut dan janggut putih serta punggung tegak berdiri di depan meja kerja.

Namanya adalah Gunnar Stern. Pemegang kekuasaan tertinggi di Federasi Ludine yang menyandang jabatan Ketua Federasi.

Namun di balik itu, dia memiliki wajah lain.

Dialah──[Peringkat Kedua Kultus Cyclamen]: "Thunder Emperor".

Di hadapannya, berdiri seorang pria lain. Grand Master baru dari Explorer Guild, Solda.

Wajahnya sangat pasaran. Perawakannya rata-rata dan tidak meninggalkan kesan.

Jika seseorang lengah, otaknya akan secara otomatis melupakan keberadaannya; sebuah eksistensi yang setipis udara. Justru itulah makna dari keberadaannya.

Filly menutup pintu, lalu menyandarkan punggungnya dan merosot duduk di lantai. Sambil mengatur napas yang memburu, dia mencoba memeras suaranya.

"……Maaf…… sudah menyela pembicaraan kalian……"

Dari tubuhnya, Miasma hitam merembes keluar secara perlahan.

"Filly," Gunnar menyipitkan mata dan bertanya. "Kenapa kau menyerap mana milik Oberon? Bukankah seharusnya ada wadahnya?"

"……Wadah itu tidak bisa digunakan," jawab Filly dengan nada enggan dan terdengar kesakitan. "Karena itulah…… aku tidak punya pilihan lain……"

"Kau melakukan hal yang nekat," gumam Gunnar dengan nada mendesah. "Meskipun kau telah dianugerahi Cognitive Alteration dari Oberon, jika kau memaksakan diri, kau akan hancur."

Dalam nada suaranya, terselip sedikit rasa khawatir. Namun, ekspresi Filly berubah dingin.

"……Aku tidak butuh kekhawatiran dangkal seperti itu," ucap Filly ketus. "Aku tidak bisa bergerak untuk sementara waktu. Tapi tenang saja, aku akan menuntaskan peranku."

"Begitu. Baiklah kalau begitu." Gunnar mengangguk tanda mengerti, lalu segera melanjutkan. "Solda."

"……Ya."

"Sedotlah mana Oberon dari tubuh Filly."

"Baik, dimengerti."

Solda menuruti instruksi Gunnar dan mendekati Filly. Dia berlutut di depan Filly, mengucap "Permisi" sebagai tanda sopan santun, lalu perlahan mengulurkan tangannya.

Ujung jari Solda menyentuh bahu kiri Filly dengan lembut. Seketika itu juga, kabut hitam membubung dari tubuh Filly.

Aliran mana dahsyat yang menggerogoti sekujur tubuh Filly mengalir balik ke lengan Solda.

Bagaikan menyedot racun, kekuatan hitam itu merayap turun dari bahu ke dada, lalu ke perut.

Wajah Solda berubah pucat pasi dalam sekejap, dan bibirnya mulai gemetar. Retakan kecil muncul di ujung jarinya, dan suara derit tulang terdengar dari persendiannya.

Tak lama kemudian, tubuh Solda mulai hancur secara bertahap. Bagaikan menara pasir yang tertiup angin.

Dalam sekejap, tubuhnya lenyap tanpa menyisakan sebutir pasir pun, seolah meleleh ke udara.

"…………"

Filly menatap kejadian itu tanpa emosi.

"……Rasanya sedikit lebih lega," ucap Filly sambil mengembuskan napas. "Maaf ya, Gunnar."

"Tidak perlu dipikirkan. Dia hanyalah prajurit boneka yang dibuat dengan teknologi klon. Penggantinya bisa disiapkan sebanyak apa pun," jawab Gunnar datar sambil memandangi dokumen di mejanya.

"Aku akan menyiapkan Solda berikutnya. Aku juga akan mengirimkan Solda ke tempatmu secara rutin. Untuk sementara, fokuslah untuk menyatukan mana Oberon dengan tubuhmu."

"……Aku mengerti."

Filly bangkit berdiri perlahan. Meski sempoyongan, dia membetulkan postur tubuhnya dan memegang gagang pintu. Sambil membelakangi mereka, dia menjatuhkan sebuah informasi.

"Oya, satu hal lagi. Orn saat ini sedang berada di Kyokuto."

"……Hoh?"

"Hampir bisa dipastikan dia mulai menyelidiki Prinsip Sihir."

Gunnar menyipitkan matanya sedikit, lalu menyunggingkan senyum ironis.

"Terima kasih atas informasinya."

Lalu, dia bergumam dengan suara yang tidak terdengar oleh siapa pun. "Begitu ya. Jadi dia di Kyokuto. Memang merepotkan karena aku tidak bisa meminta Filly melakukan manipulasi informasi, tapi ini sudah cukup sebagai alasan pembenaran. Untuk pembentukan opini publik level ini……"

Gunnar mengalihkan pandangannya ke peta di dinding. Tujuannya adalah negara kepulauan di ujung timur.

Di sana, secara diam-diam namun pasti, bayangan hitam mulai mendekat. Siapakah yang akan menumpahkan darah berikutnya? Belum ada satu pun yang tahu──.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close