NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 9 Prolog 2

Prolog 2

Tekad di Masa Kecil


Setelah meletakkan pedang, aku menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. Angin musim panas pun berembus lembut, membelai kulitku.

Rambutku sengaja dibiarkan pendek agar tidak mengganggu saat mengayunkan pedang. Karena itu, embusan angin terasa sangat nyaman menyentuh tengkuk yang terasa panas.

Aku menyukai musim panas.

Aku menyukai momen setelah latihan ini, saat aku bisa merasakan angin yang membawa aroma rerumputan di sekujur tubuhku.

"……?"

Saat sedang memejamkan mata menikmati angin, tiba-tiba sebuah suara samar sampai ke telingaku.

Aku segera mengaktifkan Ki untuk meningkatkan ketajaman indra pendengaranku. Hasilnya, suara itu terdengar jauh lebih jelas dari sebelumnya.

(……Suara tangisan?)

Suara itu sangat lirih hingga nyaris menyatu dengan aliran angin. Namun, aku yakin itu adalah suara isak tangis seseorang.

Aku melangkah maju sembari menyibak rerumputan, berjalan menuju arah datangnya suara.

Di sana, aku menemukan sosok gadis kecil berpakaian miko yang sedang duduk meringkuk seolah bersembunyi di balik bayangan pohon—Nagisa.

"Ada apa?"

Saat aku menyapanya, bahu Nagisa bergetar hebat karena terkejut.

Dia mengangkat wajahnya dengan ragu-ragu. Di matanya, genangan air mata tampak sudah hampir tumpah.

"……Kak Fuuka……"

Begitu menyadari bahwa akulah yang mendekat, Nagisa langsung berlari ke arahku.

Dia kemudian membenamkan wajahnya ke dalam pakaian tradisional yang kukenakan.

Aku melingkarkan tangan di punggungnya, lalu mengusap kepalanya dengan lembut.

"Kakak, aku benar-benar tidak sanggup melakukannya……"

Nagisa mengeluh dengan suara yang parau akibat tangisan.

"……Maksudmu 'tidak sanggup', apa itu tentang tarian untuk festival bulan depan?"

"Iya…… Aku tidak punya bakat sama sekali……. Tugas sepenting itu, tidak mungkin bisa kulakukan sendirian……"

Di Kyokuto ini, setiap pertengahan Agustus selalu diadakan sebuah perayaan bernama Festival Tari Roh. Penyelenggara utamanya adalah keluargaku, Keluarga Shinonome, dan keluarga Nagisa, Keluarga Asagiri.

Meski masih anak-anak dan belum diberitahu detailnya, aku dengar festival ini adalah acara paling sakral di negeri ini.

Nagisa adalah anak dari keluarga cabang, namun bagiku dia sudah seperti adik kandung sendiri.

Mulai tahun ini, dia diberikan tanggung jawab untuk mempersembahkan tarian di festival tersebut.

Tampaknya latihan itu tidak berjalan lancar, tapi menurutku itu wajar saja.

Tarian memiliki posisi yang sangat krusial di dalam festival tersebut.

Lagipula, membebankan tanggung jawab seberat itu pada gadis yang bahkan belum genap sepuluh tahun adalah hal yang gila.

……Akhir-akhir ini, aku tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh orang-orang dewasa.

Dulu mereka akan menjawab apa pun yang kutanyakan, tapi sekarang aku merasa mereka seolah menyembunyikan sesuatu dariku.

Aku sendiri tidak tahu kenapa, tapi perasaan janggal ini terasa sangat tidak menyenangkan.

Bagiku, Nagisa adalah sosok berharga yang sudah seperti adik sendiri. Jika aku tidak bisa berharap pada orang dewasa sekarang, maka akulah yang harus menolongnya.

"Kalau begitu, mau melakukannya bersama?"

"……Bersama……?"

Nagisa mengangkat wajahnya setelah mendengar usulanku.

"Iya. Kalau sulit dilakukan sendirian, aku akan menemanimu di sampingmu. Kalau bersamaku, kamu pasti bisa, kan?"

"Ta-Tapi…… nanti tugas Kakak bagaimana……!"

"Tugasku hanya mengayunkan pedang terkutuk, itu pekerjaan mudah. Kalau keberadaanku di sampingmu bisa membuatmu semangat menari, aku akan melakukannya bersamamu."

"Kakak, terima kasih banyak…… Kalau begitu, aku akan berusaha keras!"

Sosok Nagisa yang rapuh tadi menghilang, dan kini yang ada hanyalah seorang gadis dengan ekspresi yang cerah.




"Kalau sudah diputuskan, ayo segera latihan! Aku memang bisa dasar-dasarnya, tapi belum cukup hebat untuk melakukan tugas itu dengan sempurna. Mari kita balapan, siapa yang paling cepat jago!"

"Ehm!!"

Itu adalah janji terakhir yang kuucapkan bersama Nagisa.

Dan janji itu... aku tidak pernah bisa menepatinya.

◆◇◆

Panas. Panas. Panas.

Dulu, aku sangat menyukai angin musim panas yang membawa aroma rerumputan ini.

Seharusnya, sekarang adalah musim di mana aku bisa menikmati hal itu.

Namun... mengapa yang menusuk hidungku justru bau pepohonan yang terbakar, serta aroma amis darah yang bercampur dengan besi?

Api menari-nari di langit, menyebar luas seolah ingin menelan kegelapan malam.

"Kenapa... kenapa jadi begini...?"

"Lari, Fuuka!"

Aku masih terpaku linglung menghadapi kejadian yang mendadak ini, namun Haruto menarik tanganku dan memaksa kakiku berlari menembus hutan.

Seharusnya hari ini adalah hari festival yang menyenangkan.

Siang tadi, suara tawa rakyat masih terdengar di mana-mana.

Tapi sekarang, suara itu telah berubah menjadi jeritan dan amukan.

Dan di antara kebisingan itu, ada banyak suara orang-orang yang sedang mencariku.

Tujuan mereka mencariku sama sekali bukan untuk melindungiku.

—Melainkan untuk membunuhku.

Segera setelah kekacauan ini pecah, kedua orang tuaku tewas terbunuh.

Jika bukan karena kegesitan Haruto, mungkin aku pun sudah mati.

"Sial! Apa melarikan diri ke dalam hutan adalah kesalahan? Di sini aku tidak bisa menggunakan Bird's Eye View dengan maksi—!?"

Suara Haruto yang penuh kecemasan tiba-tiba terhenti saat dia tersentak kaget.

Di ujung pandangan Haruto, berdiri seorang pria tua dengan tubuh yang sangat terlatih, hingga tak tampak seperti pria yang hampir berusia enam puluh tahun.

"Guru……"

Namanya adalah Kiryu Tendo. Guru pedangku sekaligus kakek Haruto. Sosok yang dijuluki sebagai ahli pedang terkuat di Kyokuto.

"Akhirnya saya menemukan Anda, Tuan Putri."

Guru mendekat dengan senyum tenang di wajahnya.

Haruto menatap tajam seolah ingin melubangi kakeknya sendiri, lalu membuka suara.

"Kau juga, ya, Tua Bangka Sialan! Tugas Keluarga Tendo adalah melindungi Keluarga Shinonome dan Keluarga Asagiri, kan?! Apa maksudnya orang sepertimu malah mengarahkan pedang ke arah Fuuka dan orang tuanya!"

Guru melihat ke arah Haruto yang sedang memasang kuda-kuda tempur sambil memakinya. Ekspresinya tampak terkesan.

"Ho... ada pepatah yang mengatakan bahwa sifat asli manusia akan terlihat saat mereka terpojok. Tak kusangka cucuku yang malas menjalankan tugas ini, menjadi satu-satunya orang yang bergerak demi melindungi Tuan Putri."

"Berisik, banyak omong kau! Dasar pengkhianat!!"

Haruto berteriak sambil menerjang Guru.

Itu adalah serangan sekuat tenaga dengan Ki yang diaktifkan hingga titik maksimal.

Namun, Guru menahannya dengan sangat mudah menggunakan sarung pedang tanpa mencabut bilahnya sedikit pun.

"……Hmm. Tadinya kukira kau melalaikan latihanmu. Tapi dengan ini, aku bisa memberimu nilai lulus."

"Jangan bicara seolah kau berada di ata—"

"Tenanglah sedikit."

"—Gakh!?"

Sebelum Haruto sempat meluncurkan serangan berikutnya, dia sudah tersungkur ke tanah.

Semua itu terjadi dalam sekejap mata hingga gerakannya pun tak tertangkap oleh penglihatanku.

"Aku datang bukan untuk membunuh Tuan Putri. Aku datang untuk membantu kalian melarikan diri dari negeri ini."

"Melarikan diri...?"

Mendengar beoan Haruto, Guru mengangguk mantap. Dia kemudian berbalik menghadapku dan membungkukkan kepalanya dalam-dalam.

"—Tuan Putri. Pertama-tama, saya memohon maaf karena tidak mampu mencegah situasi seperti ini terjadi. Saya benar-benar minta maaf."

"Kenapa hal seperti ini bisa terjadi?"

"Keluarga Asagiri telah memberontak, dan para pemuda, termasuk putra bodohku, ikut mengikuti mereka."

"Keluarga Asagiri……. Ah! Nagisa. Apa Nagisa baik-baik saja!?"

Aku sempat melupakan Nagisa karena terlalu fokus pada keselamatanku sendiri. Jika dia juga terjebak dalam pertempuran ini....

"Jangan khawatir. Saat ini beliau kabarnya sedang dalam tahanan rumah, namun nyawanya tidak terancam."

"Tahanan rumah……. Aku harus pergi menolongnya."

Aku memutar tumit, hendak menuju kediaman Keluarga Asagiri.

"Tunggu, Tuan Putri. Saat ini memastikan keselamatan Anda lebih prioritas daripada Nona Nagisa yang nyawanya tidak terancam."

"Kenapa? Aku juga bisa melindungi diriku sendiri. Kalau ada Guru, kita pasti bisa menyelamatkan Nagisa, kan?"

"Jika lawannya hanya prajurit negeri ini yang dipimpin putraku, aku sendiri pun sanggup mengatasinya. Namun, sudah pasti ada pihak asing di balik kejadian ini. Karena sulit untuk mengukur kekuatan mereka saat ini, saya tidak bisa membiarkan Tuan Putri ke sana."

"Tidak mungkin……"

"Kami tidak boleh kehilangan Anda di sini. Saya, Kiryu, berjanji akan melindungi Nona Nagisa meski harus bertaruh nyawa. Jadi, meski ini terasa berat, saat ini pikirkanlah hanya tentang cara untuk tetap hidup."

"…………Aku mengerti."

"Terima kasih karena telah mendengarkan saran saya. Kapal sudah disiapkan, jadi teruslah melaju menuju pantai utara. —Lalu, ambillah ini, Tuan Putri."

Sambil berkata demikian, Guru mengeluarkan sebuah pedang dari Storage Magic Tool.

"Pedang ini kan……"

"Benar. Harta nasional yang diwariskan di negeri ini—Hakuo."

Pedang bernama Hakuo itu adalah pedang terkutuk yang sudah ada sejak zaman legenda.

Pedang ini menyimpan "kekuatan" yang berbeda dari Ki maupun Mana, dan hanya diayunkan saat Festival Tari Roh berlangsung.

"Jika itu adalah Anda, Anda pasti bisa menguasai pedang ini dalam arti yang sesungguhnya. Dan saat tiba waktunya Anda kembali untuk merebut kembali negeri ini, pedang ini pasti akan menjadi kekuatan yang menebas rintangan di hadapan Anda."

"Saat merebut kembali negeri ini……"

"Benar. Saat ini kita sudah sangat terpojok hingga sulit untuk membalikkan keadaan. Namun, selama Anda tetap hidup, peluang kemenangan bisa ditemukan di masa depan. Karena itu, bertahanlah untuk saat ini. Dan asahlah kekuatan untuk mengambil kembali negeri ini."

Aku memahat kata-kata Guru jauh di dalam lubuk hatiku sambil menerima pedang itu.

Aku menggenggam erat pedangnya dan menatap lurus ke mata Guru.

"—Aku pasti akan kembali untuk mengambil negeri ini dan menyelamatkan Nagisa. Jadi, tolong lindungi Nagisa sampai saat itu tiba, Guru."

Guru mengangguk dengan senyum lembut di wajahnya.

"Perintah itu saya terima dengan sepenuh hati. ……Kalau begitu, saya akan menahan pengejar di sini, pergilah kalian berdua. Berhati-hatilah di jalan. ……Saya akan menantikan kepulangan Anda, Tuan Putri."

Aku mengangguk pada kata-kata Guru, lalu mulai berlari bersama Haruto menuju pantai utara.

Angin yang membawa hawa panas membelai pipiku.

Seolah selaras dengan panas itu, api lain mulai berkobar di dalam dadaku.

◆◇◆

Saat aku sedang mengenang masa lalu, matahari mulai menampakkan dirinya dari ufuk timur.

Di saat yang sama, angin musim panas yang membawa aroma rerumputan berembus lewat.

Dulu, aku sangat menyukai angin ini.

Tapi sekarang, rambut panjangku yang basah oleh keringat bergoyang tertiup angin, membuatku tak bisa lagi merasa nyaman seperti dulu.

Sejak hari itu, aku tidak pernah memotong rambutku sekali pun.

Agar aku tidak lupa pada sumpahku untuk merebut kembali Kyokuto.

Kini, rambutku sudah tumbuh panjang hingga menyentuh pinggang.

Seiring tumbuhnya rambutku, waktu pun terus berlalu.

Demi merebut kembali Kyokuto, aku terus mengasah kemampuan pedangku.

Demi merebut kembali Kyokuto, aku telah menjinakkan pedang terkutuk ini hingga bisa menguasainya.

Demi merebut kembali Kyokuto, aku telah mendapatkan kawan-kawan yang bisa diandalkan, dimulai dari Orn.

"Sebentar lagi. Sebentar lagi, aku akan pergi mengambil kembali Kyokuto."

Aku bergumam sambil menggenggam erat Hakuo.

Nada suaraku terdengar begitu penuh emosi, bahkan sampai membuat diriku sendiri terkejut.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close