Prolog 2
Tekad di Masa Kecil
Setelah
meletakkan pedang, aku menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. Angin
musim panas pun berembus lembut, membelai kulitku.
Rambutku
sengaja dibiarkan pendek agar tidak mengganggu saat mengayunkan pedang. Karena itu, embusan angin terasa sangat
nyaman menyentuh tengkuk yang terasa panas.
Aku menyukai
musim panas.
Aku menyukai
momen setelah latihan ini, saat aku bisa merasakan angin yang membawa aroma
rerumputan di sekujur tubuhku.
"……?"
Saat sedang
memejamkan mata menikmati angin, tiba-tiba sebuah suara samar sampai ke
telingaku.
Aku segera
mengaktifkan Ki untuk meningkatkan ketajaman indra pendengaranku.
Hasilnya, suara itu terdengar jauh lebih jelas dari sebelumnya.
(……Suara
tangisan?)
Suara itu sangat
lirih hingga nyaris menyatu dengan aliran angin. Namun, aku yakin itu adalah
suara isak tangis seseorang.
Aku melangkah
maju sembari menyibak rerumputan, berjalan menuju arah datangnya suara.
Di sana, aku
menemukan sosok gadis kecil berpakaian miko yang sedang duduk meringkuk seolah
bersembunyi di balik bayangan pohon—Nagisa.
"Ada
apa?"
Saat aku
menyapanya, bahu Nagisa bergetar hebat karena terkejut.
Dia
mengangkat wajahnya dengan ragu-ragu. Di matanya, genangan air mata tampak
sudah hampir tumpah.
"……Kak
Fuuka……"
Begitu
menyadari bahwa akulah yang mendekat, Nagisa langsung berlari ke arahku.
Dia
kemudian membenamkan wajahnya ke dalam pakaian tradisional yang kukenakan.
Aku
melingkarkan tangan di punggungnya, lalu mengusap kepalanya dengan lembut.
"Kakak,
aku benar-benar tidak sanggup melakukannya……"
Nagisa
mengeluh dengan suara yang parau akibat tangisan.
"……Maksudmu
'tidak sanggup', apa itu tentang tarian untuk festival bulan depan?"
"Iya…… Aku tidak punya bakat sama sekali……. Tugas
sepenting itu, tidak mungkin bisa kulakukan sendirian……"
Di Kyokuto ini, setiap pertengahan Agustus selalu diadakan
sebuah perayaan bernama Festival Tari Roh. Penyelenggara utamanya adalah
keluargaku, Keluarga Shinonome, dan keluarga Nagisa, Keluarga Asagiri.
Meski masih anak-anak dan belum diberitahu detailnya, aku
dengar festival ini adalah acara paling sakral di negeri ini.
Nagisa adalah anak dari keluarga cabang, namun bagiku dia
sudah seperti adik kandung sendiri.
Mulai tahun ini, dia diberikan tanggung jawab untuk
mempersembahkan tarian di festival tersebut.
Tampaknya latihan itu tidak berjalan lancar, tapi menurutku
itu wajar saja.
Tarian memiliki posisi yang sangat krusial di dalam festival
tersebut.
Lagipula, membebankan tanggung jawab seberat itu pada gadis
yang bahkan belum genap sepuluh tahun adalah hal yang gila.
……Akhir-akhir
ini, aku tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh orang-orang dewasa.
Dulu mereka akan
menjawab apa pun yang kutanyakan, tapi sekarang aku merasa mereka seolah
menyembunyikan sesuatu dariku.
Aku sendiri tidak
tahu kenapa, tapi perasaan janggal ini terasa sangat tidak menyenangkan.
Bagiku, Nagisa
adalah sosok berharga yang sudah seperti adik sendiri. Jika aku tidak bisa
berharap pada orang dewasa sekarang, maka akulah yang harus menolongnya.
"Kalau
begitu, mau melakukannya bersama?"
"……Bersama……?"
Nagisa mengangkat
wajahnya setelah mendengar usulanku.
"Iya. Kalau
sulit dilakukan sendirian, aku akan menemanimu di sampingmu. Kalau
bersamaku, kamu pasti bisa, kan?"
"Ta-Tapi…… nanti tugas Kakak bagaimana……!"
"Tugasku hanya mengayunkan pedang terkutuk, itu
pekerjaan mudah. Kalau keberadaanku
di sampingmu bisa membuatmu semangat menari, aku akan melakukannya
bersamamu."
"Kakak, terima kasih banyak…… Kalau begitu, aku akan
berusaha keras!"
Sosok Nagisa yang rapuh tadi menghilang, dan kini yang ada hanyalah seorang gadis dengan ekspresi yang cerah.
"Kalau sudah
diputuskan, ayo segera latihan! Aku memang bisa dasar-dasarnya, tapi belum
cukup hebat untuk melakukan tugas itu dengan sempurna. Mari kita balapan, siapa
yang paling cepat jago!"
"Ehm!!"
Itu adalah janji
terakhir yang kuucapkan bersama Nagisa.
Dan janji itu...
aku tidak pernah bisa menepatinya.
◆◇◆
Panas. Panas.
Panas.
Dulu, aku sangat
menyukai angin musim panas yang membawa aroma rerumputan ini.
Seharusnya,
sekarang adalah musim di mana aku bisa menikmati hal itu.
Namun... mengapa
yang menusuk hidungku justru bau pepohonan yang terbakar, serta aroma amis
darah yang bercampur dengan besi?
Api menari-nari
di langit, menyebar luas seolah ingin menelan kegelapan malam.
"Kenapa...
kenapa jadi begini...?"
"Lari,
Fuuka!"
Aku masih terpaku
linglung menghadapi kejadian yang mendadak ini, namun Haruto menarik tanganku
dan memaksa kakiku berlari menembus hutan.
Seharusnya hari
ini adalah hari festival yang menyenangkan.
Siang tadi, suara
tawa rakyat masih terdengar di mana-mana.
Tapi sekarang,
suara itu telah berubah menjadi jeritan dan amukan.
Dan di
antara kebisingan itu, ada banyak suara orang-orang yang sedang mencariku.
Tujuan mereka
mencariku sama sekali bukan untuk melindungiku.
—Melainkan untuk
membunuhku.
Segera setelah
kekacauan ini pecah, kedua orang tuaku tewas terbunuh.
Jika bukan karena
kegesitan Haruto, mungkin aku pun sudah mati.
"Sial! Apa
melarikan diri ke dalam hutan adalah kesalahan? Di sini aku tidak bisa
menggunakan Bird's Eye View dengan maksi—!?"
Suara Haruto yang
penuh kecemasan tiba-tiba terhenti saat dia tersentak kaget.
Di ujung
pandangan Haruto, berdiri seorang pria tua dengan tubuh yang sangat terlatih,
hingga tak tampak seperti pria yang hampir berusia enam puluh tahun.
"Guru……"
Namanya adalah
Kiryu Tendo. Guru pedangku sekaligus kakek Haruto. Sosok yang dijuluki sebagai
ahli pedang terkuat di Kyokuto.
"Akhirnya
saya menemukan Anda, Tuan Putri."
Guru
mendekat dengan senyum tenang di wajahnya.
Haruto
menatap tajam seolah ingin melubangi kakeknya sendiri, lalu membuka suara.
"Kau juga,
ya, Tua Bangka Sialan! Tugas Keluarga Tendo adalah melindungi Keluarga
Shinonome dan Keluarga Asagiri, kan?! Apa maksudnya orang sepertimu malah
mengarahkan pedang ke arah Fuuka dan orang tuanya!"
Guru melihat ke
arah Haruto yang sedang memasang kuda-kuda tempur sambil memakinya. Ekspresinya
tampak terkesan.
"Ho... ada
pepatah yang mengatakan bahwa sifat asli manusia akan terlihat saat mereka
terpojok. Tak kusangka cucuku yang malas menjalankan tugas ini, menjadi
satu-satunya orang yang bergerak demi melindungi Tuan Putri."
"Berisik,
banyak omong kau! Dasar pengkhianat!!"
Haruto
berteriak sambil menerjang Guru.
Itu
adalah serangan sekuat tenaga dengan Ki yang diaktifkan hingga titik
maksimal.
Namun,
Guru menahannya dengan sangat mudah menggunakan sarung pedang tanpa mencabut
bilahnya sedikit pun.
"……Hmm.
Tadinya kukira kau melalaikan latihanmu. Tapi dengan ini, aku bisa memberimu
nilai lulus."
"Jangan
bicara seolah kau berada di ata—"
"Tenanglah
sedikit."
"—Gakh!?"
Sebelum Haruto
sempat meluncurkan serangan berikutnya, dia sudah tersungkur ke tanah.
Semua itu terjadi
dalam sekejap mata hingga gerakannya pun tak tertangkap oleh penglihatanku.
"Aku datang
bukan untuk membunuh Tuan Putri. Aku datang untuk membantu kalian melarikan
diri dari negeri ini."
"Melarikan
diri...?"
Mendengar
beoan Haruto, Guru mengangguk mantap. Dia kemudian berbalik menghadapku dan
membungkukkan kepalanya dalam-dalam.
"—Tuan
Putri. Pertama-tama, saya memohon maaf karena tidak mampu mencegah situasi
seperti ini terjadi. Saya benar-benar minta maaf."
"Kenapa hal
seperti ini bisa terjadi?"
"Keluarga
Asagiri telah memberontak, dan para pemuda, termasuk putra bodohku, ikut
mengikuti mereka."
"Keluarga
Asagiri……. Ah! Nagisa. Apa Nagisa baik-baik saja!?"
Aku sempat
melupakan Nagisa karena terlalu fokus pada keselamatanku sendiri. Jika dia juga
terjebak dalam pertempuran ini....
"Jangan
khawatir. Saat ini beliau kabarnya sedang dalam tahanan rumah, namun nyawanya
tidak terancam."
"Tahanan
rumah……. Aku harus pergi menolongnya."
Aku memutar
tumit, hendak menuju kediaman Keluarga Asagiri.
"Tunggu,
Tuan Putri. Saat ini memastikan keselamatan Anda lebih prioritas daripada Nona
Nagisa yang nyawanya tidak terancam."
"Kenapa? Aku
juga bisa melindungi diriku sendiri. Kalau ada Guru, kita pasti bisa
menyelamatkan Nagisa, kan?"
"Jika
lawannya hanya prajurit negeri ini yang dipimpin putraku, aku sendiri pun
sanggup mengatasinya. Namun, sudah pasti ada pihak asing di balik kejadian ini.
Karena sulit untuk mengukur kekuatan mereka saat ini, saya tidak bisa
membiarkan Tuan Putri ke sana."
"Tidak
mungkin……"
"Kami tidak
boleh kehilangan Anda di sini. Saya, Kiryu, berjanji akan melindungi Nona
Nagisa meski harus bertaruh nyawa. Jadi, meski ini terasa berat, saat ini
pikirkanlah hanya tentang cara untuk tetap hidup."
"…………Aku
mengerti."
"Terima
kasih karena telah mendengarkan saran saya. Kapal sudah disiapkan, jadi
teruslah melaju menuju pantai utara. —Lalu, ambillah ini, Tuan Putri."
Sambil
berkata demikian, Guru mengeluarkan sebuah pedang dari Storage Magic Tool.
"Pedang
ini kan……"
"Benar.
Harta nasional yang diwariskan di negeri ini—Hakuo."
Pedang
bernama Hakuo itu adalah pedang terkutuk yang sudah ada sejak zaman legenda.
Pedang
ini menyimpan "kekuatan" yang berbeda dari Ki maupun Mana,
dan hanya diayunkan saat Festival Tari Roh berlangsung.
"Jika
itu adalah Anda, Anda pasti bisa menguasai pedang ini dalam arti yang
sesungguhnya. Dan saat tiba waktunya Anda kembali untuk merebut kembali negeri
ini, pedang ini pasti akan menjadi kekuatan yang menebas rintangan di hadapan
Anda."
"Saat
merebut kembali negeri ini……"
"Benar. Saat
ini kita sudah sangat terpojok hingga sulit untuk membalikkan keadaan. Namun,
selama Anda tetap hidup, peluang kemenangan bisa ditemukan di masa depan.
Karena itu, bertahanlah untuk saat ini. Dan asahlah kekuatan untuk mengambil
kembali negeri ini."
Aku memahat
kata-kata Guru jauh di dalam lubuk hatiku sambil menerima pedang itu.
Aku menggenggam
erat pedangnya dan menatap lurus ke mata Guru.
"—Aku pasti
akan kembali untuk mengambil negeri ini dan menyelamatkan Nagisa. Jadi, tolong
lindungi Nagisa sampai saat itu tiba, Guru."
Guru mengangguk
dengan senyum lembut di wajahnya.
"Perintah itu saya terima dengan sepenuh hati. ……Kalau
begitu, saya akan menahan pengejar di sini, pergilah kalian berdua.
Berhati-hatilah di jalan. ……Saya akan menantikan kepulangan Anda, Tuan
Putri."
Aku mengangguk
pada kata-kata Guru, lalu mulai berlari bersama Haruto menuju pantai utara.
Angin yang membawa hawa panas membelai pipiku.
Seolah selaras dengan panas itu, api lain mulai berkobar di
dalam dadaku.
◆◇◆
Saat aku sedang mengenang masa lalu, matahari mulai
menampakkan dirinya dari ufuk timur.
Di saat yang sama, angin musim panas yang membawa aroma
rerumputan berembus lewat.
Dulu, aku sangat menyukai angin ini.
Tapi sekarang, rambut panjangku yang basah oleh keringat
bergoyang tertiup angin, membuatku tak bisa lagi merasa nyaman seperti dulu.
Sejak hari itu, aku tidak pernah memotong rambutku sekali
pun.
Agar aku tidak
lupa pada sumpahku untuk merebut kembali Kyokuto.
Kini, rambutku
sudah tumbuh panjang hingga menyentuh pinggang.
Seiring tumbuhnya
rambutku, waktu pun terus berlalu.
Demi merebut
kembali Kyokuto, aku terus mengasah kemampuan pedangku.
Demi merebut
kembali Kyokuto, aku telah menjinakkan pedang terkutuk ini hingga bisa
menguasainya.
Demi merebut
kembali Kyokuto, aku telah mendapatkan kawan-kawan yang bisa diandalkan,
dimulai dari Orn.
"Sebentar
lagi. Sebentar lagi, aku akan pergi mengambil kembali Kyokuto."
Aku
bergumam sambil menggenggam erat Hakuo.
Nada
suaraku terdengar begitu penuh emosi, bahkan sampai membuat diriku sendiri
terkejut.



Post a Comment