NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Asobi no Kankei Volume 3 Chapter 3

Chapter 3

Pertandingan yang Tak Ter menangkan


Sabtu di minggu terakhir bulan Oktober. Di sebuah venue acara.

Di atas panggung khusus, berdiri Utakata Tsukino—pemain Shogi profesional wanita yang kecantikannya dalam balutan kimono sanggup membuat siapa pun, tanpa memandang usia atau gender, menahan napas kagum. Dan kemudian—

"Ya, ya! Kakak Tsukino! Kakak Tsukino!"

"A-ada apa ya, Nifu-kun?"

—berdirilah Nifu-kun, maskot tidak resmi dari Asosiasi Shogi Jepang.

Bentuknya sangat amatir, "hanya dua pion (fu) yang ditumpuk secara vertikal demi merepresentasikan aturan Nifu (dua pion)".

Bahkan anak kecil pun bisa melihat kualitas rendahnya; terlihat jelas kalau itu hanyalah bidak yang ditumpuk tanpa kreativitas agar orang dewasa di dalamnya bisa muat dalam bentuk memanjang.

Tentu saja, orang-orang akan tetap tertarik jika obrolan atau karakternya lucu. Namun...

"Hei, hei—'Furibisha' (Benteng Bergerak) yang tadi dijelaskan itu, maksudnya apa-Nifu?"

"Wah, terima kasih pertanyaannya yang lumayan berbobot biarpun akhiran 'Nifu'-nya agak maksa ya, Guru—maksudku, Nifu-kun. ……Anu, ini kan acara sosialisasi untuk keluarga—"

"Wah, Kakak Tsukino, masa gelar Female Meijin tapi tidak bisa menjelaskan-Nifu?"

"Wah, baru kali ini Kakak Tsukino diprovokasi sama monster penunggu. Benar-benar Great yaaa."

Suasana di panggung mulai menegang.

Para orang tua di barisan penonton tampak sedikit gaduh. Entah kenapa, anak-anak malah bersorak kegirangan.

Di tengah atmosfer yang agak kacau itu, acara Utakata Tsukino Female Meijin dan Nifu-kun terus berlanjut.

"Jadi, Furibisha itu apa-Nifu?"

"Eeto, begini ya. Kalau dijelaskan secara sederhana—"

"Ah, itu insiden saat kita memegang kantong kentang goreng kocok terlalu longgar ya-Nifu!"

"Iya, itu mah 'kocok, byarr'. Lagipula kenapa situ yang bertanya tapi situ juga yang memotong penjelasan Kakak dengan lawakan garing?"

"Maaf-Nifu~. Sebagai permintaan maaf, aku akan menyanyi satu lagu-Nifu~"

"Kenapa jadi menyanyi?"

"Tes, tes. ……Ehem. ……Oya maano, mashiraa ga, warabe wo, kuraitee (Aduhai, kera gunung memakan anak manusia)..."

"Nifu-kun, menyanyikan lagu rakyat kuno yang menyeramkan di acara seperti ini benar-benar di luar nalar. Kalau tidak mau video ini viral dan bikin skandal, mending berhenti sekarang juga."

"Begitu ya-Nifu? Sayang sekali-Nifu~. Niffu-nifu~"

"Bisa berhenti menebar kata 'Nifu' sembarangan? Penggunaannya terlalu berantakan, Nifu-kun."

"Berisik-Nifu. Bilang saja 'Great, Great' begitu, nanti orang-orang yang menganggapmu manis juga bakal diam-Nifu."

"Mau pion itu aku jadikan satu saja?"

"M-maaf-Nifu. Aku tidak akan membantah Kakak Tsukino lagi-Nifu."

"Ara, itu baru Great."

Para orang tua dan staf acara tampak meringis. Entah kenapa, anak-anak justru tertawa terbahak-bahak. Acara pun semakin berlanjut.

"Hei, Kakak Tsukino. Lupakan soal Furibisha, aku mau dengar cerita yang lebih seru-Nifu."

"Wah, bicaramu seolah aku yang mulai duluan soal Furibisha ya. Eeto, cerita seru ya? Apa boleh kalau soal suka duka selama menekuni Shogi?"

"Nggaklah, sudah pasti soal obrolan cinta dong-Nifu."

"Nifu-kuuun?"

Utakata Female Meijin memancarkan sesuatu yang mirip dengan Haki penguasa.

Para orang tua mulai mengeluarkan keringat dingin. Sebaliknya, anak-anak justru terlihat sangat menikmati suasana itu.

Nifu-kun melanjutkan.

"Jujur saja, bagaimana situasinya, Kakak Tsukino?"

"Setidaknya konsistenlah dengan akhiran bicaramu, Nifu-kun."

"Nifufu, untuk level Kakak, apa setiap malam selalu pergi main-Nifu?"

"Ah, sepertinya aku memang ingin Kamu berhenti pakai akhiran itu. Kesan mesumnya jadi nambah dua puluh persen, Nifu-kun."

"Nifu-nifu-nifu!"

"Cara tertawamu benar-benar menjijikkan. Pantas saja keberadaanmu diabaikan sepenuhnya oleh Asosiasi Shogi maupun Persatuan Pecatur Wanita, Nifu-kun."

"Memang benar-Nifu. Hasilnya, cuma pecatur wanita yang lagi pengangguran seperti Kakak Tsukino saja yang mau meladeniku-Nifu."

"Aku pulang ya?"

"Maaf-Nifu! Aku minta maaf, jadi tolong hari ini jangan pukul aku di belakang panggung-Nifu!"

"Jangan bicara seolah aku selalu memukulmu di belakang dong!? Aduh, sudah lah…… tadi sampai mana? Ah, obrolan cinta ya. Kalau soal itu sih……"

"Tolong kasih episode yang lucunya nendang ya-Nifu."

"Cara melempar topik yang sangat buruk sampai pelawak pun bakal marah. Ini benar-benar bukan pekerjaan pecatur wanita."

"Eh, tidak ada-Nifu?"

"Tidak ada-Nifu."

Meski nada bicaranya tidak sengaja tertular, Utakata Tsukino menjawab dengan datar.

Dia melirik arloji sejenak, lalu berkata, "Ah, sayang sekali, sepertinya sudah waktunya kita berpisah."

Para orang dewasa menghela napas lega, sementara anak-anak tampak sangat kecewa.

Di tengah suara riuh anak-anak yang menahan mereka agar tidak pergi, Nifu-kun memberikan desakan terakhirnya.

"Kakak Tsukino, setidaknya berikan satu kalimat bocoran untuk obrolan cinta yang seru di lain waktu-Nifu!"

"Mana ada maskot yang menuntut begitu? Haa…… tapi karena waktu sudah habis, baiklah."

Setelah memberikan prakata itu.

Utakata Tsukino, si cantik jelita dalam balutan kimono, memegang mikrofon dan tersenyum manis.

Di saat semua penonton dari segala usia merasa terpesona melihatnya——

——dia justru melontarkan pernyataan bom secara tiba-tiba.

"Dalam waktu dekat, aku berencana pergi berkencan dengan pria yang membuatku tertarik. ……Tentu saja dengan menyamar sebagai laki-laki. Kalau begitu, sampai jumpa."

"SAMPAI JUMPA!?"

Begitulah, di tengah guncangan yang melanda seluruh area acara, Utakata Tsukino dan Nifu-kun melangkah pergi dari panggung dengan senyuman cerah.

◆◇◆

Utakata Tsukino

"Wah, hari ini sukses besar ya-Nifu!"

"Eh, jangan-jangan dunia yang Kita lihat ini berbeda?"

Begitu sampai di belakang panggung, aku langsung memberikan komentar dingin kepada Nifu-kun yang tampak sangat puas dengan pekerjaannya.

Namun, Nifu-kun seolah tidak peduli. Dia tertawa sambil menggoyang-goyangkan kostumnya.

"Nifufufufu, bayaran setinggi itu untuk kerjaan begini sih benar-benar menguntungkan sampai air liurku tak mau berhenti-Nifu. Aku sangat bersyukur pada mal yang punya anggaran iklan melimpah begini-Nifu."

"Kenapa Bibi malah jadi jauh lebih mesum saat menjadi Nifu-kun sih—Mari-san."

"Mari-san? Siapa itu-Nifu? Sekarang aku adalah Nifu-kun-Nifu."

"Entah bibi punya profesionalitas atau tidak..."

"……Tapi aku sudah ingin kembali ke ruang ganti dan—aku tidak akan bilang apa—tapi aku 'ingin segera melepas ini'-Nifu."

"Keluhan dari sebuah maskot benar-benar terasa sangat melankolis ya. Baiklah, mari bergegas."

Aku dan bibiku—maksudku, Nifu-kun—segera berpamitan secukupnya kepada staf dan orang-orang terkait, lalu bergegas menuju ruang ganti pribadi kami (yang sebenarnya hanyalah gudang penyimpanan barang).

Begitu tiba di ruangan, Nifu-kun segera bergerak gelisah hendak melepas kostumnya. Agar tidak mengganggu, aku pergi ke pojok ruangan dan mengecek ponsel untuk melihat apakah ada pesan yang masuk. Ternyata, ada pesan LINE dari Takanashi-san untuk Usa Itsuki. Isinya adalah "kalimat yang sudah biasa".

Aku mencintaimu, Usa-kun.

"Iya, iya."

Sambil tersenyum kecut, aku segera membalasnya dengan: Aku juga mencintaimu.

Melihatku yang jarang-jarang asyik dengan ponsel, Nifu-kun pun bertanya.

"Oya, oya, apa itu pacarmu-Nifu?"

"Ah— jawabanmu hampir benar. Lebih tepatnya, pacar pura-pura."

"Ah, anak itu ya-Nifu. Tapi, apa kalian sampai bertukar pesan LINE di waktu pribadi begini-Nifu?"

"Biasanya sih tidak. Tapi terkadang pesan 'aku mencintaimu' semacam ini memang datang. Kemungkinan besar, saat ini di depannya sedang ada Ban... Kotaro-san."

"Ah, LINE palsu ya-Nifu. Semangat ya-Nifu."

Selagi kami berbincang, pesan LINE baru masuk lagi.

Aku ingin segera memelukmu erat, Usa-kun.

"Na-nampaknya hari ini dia memberikan serangan mental yang cukup telak padanya ya."

Apakah saat ini Kotaro-san sedang dipaksa melihat pesan ini? Jika benar, meski aku yang mengatakannya, rasanya kasihan sekali. ……Tidak, sungguh, aku tidak pantas bicara begitu.

Setelah membalas seadanya, aku mengembuskan napas panjang.

Lalu, saat aku mendongak…… aku baru menyadarinya.

"……Eeto…… kenapa Bibi masih dalam wujud Nifu-kun, Guru?"

"Bukan Guru-Nifu. Nifu-kun-Nifu."

"Iya, iya, aku paham profesionalitas Bibi yang luar biasa itu. Tapi setidaknya lepaslah saat di ruang ganti……"

"……Tidak bisa lepas-Nifu."

"Hah?"

Saat aku bertanya ulang, Nifu-kun langsung terduduk lemas di lantai dengan putus asa.

"Nifu-kun tidak bisa melepas ini sendirian-Nifu! Hueeeeeee!"

"Aku benar-benar tidak ingin melihat bibiku sendiri menangis bombay karena tidak bisa melepas kostum maskot."

Aku mengedikkan bahu lalu menghampiri Nifu-kun untuk membantunya melepas kostum.

"Sini aku bantu. Harus diapakan ini?"




"Terima kasih, Nifu-kun. Eeto, ritsleting di punggungku tidak bisa dibuka sendiri-Nifu. Jadi Kakak Tsukino, tolong bantu ritsletingnya-Nifu."

Ucap Nifu-kun sambil memunggungiku. Namun, alih-alih langsung bergerak menuruti permintaan itu, aku justru mengerucutkan bibir dan membalasnya.

"……Sebagai maskot, aku harap Kamu tidak terlalu sering membicarakan ritsleting punggung dengan mulut itu."

"Gawat, aku lupa kalau anak ini terlalu fanatik Shogi sampai-sampai usia mentalnya bisa jadi rendah di saat-saat aneh-Nifu."

"Oleh karena itu, Nifu-kun tidak punya ritsleting. Paham?"

"Mana mungkin paham-Nifu!? Kalau ritsletingnya dianggap tidak ada, maka Bibi sekaligus Guru sekaligus majikan paruh waktumu saat ini, Tatsumi Marisa, bakal hilang secara misterius-Nifu!?"

"Yah, kalau sebagai gantinya Nifu-kun yang menetap, kurasa itu pertukaran yang seimbang."

"Kamu anggap Bibimu ini apa-Nifu!? Nggak mau-Nifu, nggak mauuu-Nifu!"

"Mulut bilang tidak mau, tapi akhiran bicaranya jalan terus, ya. Hatimu jujur sekali."

"Aku pun merasa begitu-Nifu! Tapi justru itu yang bikin takut-Nifu! Rasanya kalau kelamaan di dalam kostum, jiwaku mulai tererosi oleh kepribadian Nifu-kun-Nifu!"

"……Itu baru Great."

"Great apanya-Nifu!? Tidak ada hal Great sedikit pun dari seorang Bibi yang berubah jadi Nifu-kun-Nifu!"

"Tenanglah, Nifu-kun. Aah…… begini saja, bagaimana kalau Kamu coba berbaring dulu?"

"Sekarang Kamu benar-benar mulai merencanakan skenario untuk mengubah Bibimu jadi Nifu-kun seutuhnya-Nifu!"

"Mungkin sudah saatnya bagi Guru, yang dulu sering membuat bidak-bidaknya 'Promosi' saat masih aktif, untuk 'Promosi' menjadi sesuatu yang baru juga."

"Mana ada hukum karma seperti itu-Nifu! Lagipula kalau pakai istilah 'Promosi', kesannya Nifu-kun itu versi upgrade dari Tatsumi Marisa-Nifu! Itu sangat menghina-Nifu!"

Setelah berbalas argumen konyol antar keluarga itu selama beberapa saat.

Nifu-kun…… tidak, Bibiku yang sudah berumur kepala tiga itu mendadak berhenti menggunakan akhiran bicaranya dan membocorkan keluhan jujur.

"……Panas."

"Ah, maaf, segera kulepaskan ya."

Aku langsung merespons dengan sigap. Sepertinya Nifu-kun terlalu lucu sampai-sampai aku keasyikan bercanda. Aku harus introspeksi diri.

Aku berputar ke belakang Nifu-kun, mencari ritsletingnya dan menariknya. Tapi……

"……Kabar buruk, Nifu-kun. Ritsletingnya macet, tidak mau turun sama sekali."

"Sialan, bener-bener dah."

Umpatan yang sangat tidak pantas bagi Nifu-kun——tidak, sangat tidak pantas bagi seorang wanita dewasa——terdengar dari dalam kostum. Meski aku terus berusaha, Nifu-kun menghela napas pasrah.

"Ah, sudah kuduga-Nifu. Produsen ini memang sudah terkenal karena ritsletingnya yang ampas-Nifu."

"Kalau sudah tahu terkenal begitu, kenapa Bibi membelinya……"

"Karena harganya murah banget-Nifu."

Jawaban yang sangat singkat, padat, dan jelas. Aku hanya bisa mengangguk paham.

Nifu-kun pun duduk merosot di lantai dengan punggung membungkuk.

"Lagipula, kalau ritsletingnya susah turun, itu artinya rahasia isi di dalamnya tidak akan terbongkar secara tidak sengaja-Nifu."

"Begitu ya, jadi produsennya punya kebijakan seperti itu……"

"Nggaklah, itu murni karena mereka malas-Nifu. Presiden direkturnya sendiri yang bilang begitu, jadi sudah pasti-Nifu. Kudengar belakangan ini mereka bahkan menyuplai barang ke mahasiswa-mahasiswa lugu, benar-benar pebisnis jahat kelas kakap-Nifu."

"Aku sebenarnya tidak ingin melihat maskot yang menjelek-jelekkan penciptanya sendiri."

"Nifufufufu."

"Cara tertawa itu lama-lama malah bikin nagih ya."

Mungkin nanti saat aku berhasil melakukan langkah jitu dalam pertandingan, aku akan mencoba tertawa seperti itu juga. Nifufufufu. …………Yah, aku pasti bakal dipukul kalau melakukannya, jadi lupakan saja.

Nifu-kun yang masih duduk merana itu memanggilku.

"Maaf ya, tapi aku butuh bantuanmu sedikit lagi-Nifu. Triknya adalah dengan terus memberikan tekanan yang stabil-Nifu. Kalau dilakukan terus, biasanya nanti ritsletingnya bakal lepas sendiri-Nifu."

"Ah, kalau begitu akan kulanjutkan sebentar lagi."

Maka, di dalam ruangan yang sunyi dan hanya berisi seorang Pecatur Wanita serta maskot berbentuk Nifu itu, hanya terdengar suara ritsleting yang ditarik-tarik. ………….

"Ini sama sekali tidak Great."

"Aku kagum Kamu sampai punya bentuk negatifnya-Nifu," sahut Nifu-kun sambil menghela napas, lalu mencoba mengalihkan perhatian dengan obrolan ringan.

"Ngomong-ngomong, soal kencan dengan menyamar jadi laki-laki yang Kamu bilang di akhir acara tadi itu apa-Nifu? Apa Kamu mau beraksi sebagai Usa Itsuki-Nifu?"

"Ah, itu ya. Yah, setengahnya benar sih……"

Aku mengembuskan napas menanggapi pertanyaan itu sambil memberikan tenaga lebih pada ritsletingnya.

"Masalahnya adalah, di hari itu aku juga harus beraksi sebagai 'Utakata Tsukino'."

"? Apa ada jadwal pertandingan-Nifu?"

"Kalau cuma itu, rasanya malah lebih mending."

"Maksudnya-Nifu?"

"Jadi, karena berbagai alasan, aku terjebak dalam situasi di mana 'Usa Itsuki' dan 'Utakata Tsukino' harus berpartisipasi dalam satu acara kencan yang sama. Singkatnya, ini seperti……"

Nifu-kun membalas dengan nada yang sangat penuh percaya diri, meski terhalang kostum.

"Seperti Nifu (dua pion), ya-Nifu?"

"Iya, Nifu-Nifu," balasku sambil menghela napas panjang. Di depanku, Nifu-kun tertawa kegirangan.

"Usa Itsuki dan Utakata Tsukino dikerahkan sebagai bagian dari pasangan yang berbeda, itu benar-benar mahakarya-Nifu!"

"Ini bukan lelucon lho. Lagipula, awalnya gara-gara siapa aku sampai harus jadi Usa……"

"Eh, kurasa itu murni tanggung jawab pribadi Kakak Tsukino sendiri-Nifu."

"Benar juga. Maafkan aku."

Memang salah jika aku melampiaskannya pada Bibiku. Setelah meminta maaf dengan tulus, aku menenangkan diri dan melanjutkan.

"Awalnya rencananya tidak begini. Sejak awal, aku hanya ingin pergi kencan berdua saja dengan Kotaro-san."

"Ah, sekarang kan Kamu masih dalam masa pendekatan dua minggu setelah pernyataan cinta itu, kan-Nifu?"

"Iya, benar-Nifu."

Tanpa sadar aku pun tertular gaya bicaranya. Aku berdehem kecil untuk menjernihkan suara dan melanjutkan.

"Biasanya aku tidak keberatan berkumpul ramai-ramai, tapi saat ini situasinya beda. Karena saking sibuknya dengan pekerjaan, sisa waktuku tinggal satu minggu lagi. Padahal kami baru sampai tahap saling memanggil nama dengan malu-malu dan cuma main board game saja……"

"Makanya setidaknya Kamu ingin menyerang dengan kencan yang berani di akhir dua minggu ini-Nifu?"

"Benar. Karena itulah beberapa hari lalu di Kurumaza, aku mengumpulkan keberanian untuk mengajaknya kencan. Murni kencan berdua saja. Waktu itu Takanashi-san juga ada di sana, tapi karena dia paham situasinya, dia tidak ikut campur. ……Ya, dia sama sekali bukan masalahnya."

"Aah…… dari caramu bicara, berarti waktu itu ada orang lain lagi di sana-Nifu?"

"Tepat sekali. Di saat aku sedang lengah karena gugup, tiba-tiba saja ada dua orang siswi SMA yang masuk dan berdiri di belakangku. Salah satunya adalah orang yang jelas-jelas menyukai Kotaro-san. Dan satu lagi adalah gadis tipe trickster yang hobi mengacau demi kesenangannya sendiri."

"Ah, aku tahu-Nifu. Mereka itu……"

"Iya."

Aku mengembuskan napas yang sangat panjang, lalu menjawab sambil mengenang kejadian hari itu.

"Takeshi Momoai dan Hangui Akari."

"……Begitu ya, begitu ya. Aku sudah paham garis besar situasinya."

Sambil meletakkan cangkir teh Darjeeling ke atas tatakannya, gadis bergaya busana Jirai-kei——Hangui Akari——tersenyum dengan anggun.

Sudah sepuluh menit berlalu sejak dia memergokiku, Utakata Tsukino, sedang mengajak Kotaro-san berkencan.

Sebelum kusadari, Hangui Akari sudah membuat kami menjelaskan seluruh rangkaian kejadian dari pengakuan cinta hingga saat ini.

Hasilnya, Takeshi-san bereaksi seperti paman-paman dengan berujar, "Wah, wah, masa muda ya," sementara Hangui Akari asyik menggoda Kotaro-san dengan riang, "Tokiwa, Kamu populer banget ya."

……Entah kenapa, aku merasa mereka berdua memancarkan aura "ketenangan istri sah" dengan tipe yang berbeda; apa ini cuma perasaan cemburuku saja?

Bagaimanapun, setelah selesai mendengar semuanya, Hangui-san mengubah topik dan menatapku dengan senyuman.

"Tapi omong-omong, Utakata Tsukino-san."

"Kudengar katanya kita ini 'teman di kereta', benarkah?"

Aku pun terpojok karena kebohongan…… atau lebih tepatnya pernyataan berlebihanku pada Kotaro-san tempo hari (meskipun kenyataannya kami memang pernah tidak sengaja bertemu di kereta dua kali). ……Seram sekali.

"E-eh, iya, begitulah…… kan?" balasku dengan ragu sambil membaca situasi.

Hari itu aku sudah meminta bantuannya lewat LINE, dan dia seharusnya sudah membalas "oke".

……Namun, kalau sudah menyangkut gadis bernama Hangui Akari ini, kita tidak pernah tahu apa yang akan dia lakukan.

Di saat aku menatapnya dengan penuh harap, Hangui Akari——tersenyum lebar dan menyahut.

"Iya, tentu saja. Aku hanya merasa sangat terhormat sampai bingung harus bereaksi bagaimana karena Utakata Female Meijin yang agung mau menganggap orang sepertiku sebagai 'teman'."

"A-ahaha."

"Ufufu."

……Sumpah, aku benar-benar tidak jago menghadapi orang ini.

Bahkan di dunia Shogi yang kejam pun, tidak ada orang yang membuatku merasa "sekali menunjukkan kelemahan maka habislah aku" seperti dia.

……Yah, padahal dia sudah memegang cukup banyak kelemahanku.

"…………"

Tanpa kusadari, Kotaro-san menatapku dengan tatapan yang sangat kasihan dari lubuk hatinya.

Meskipun dia tidak tahu detailnya, mungkin dia merasa simpati karena menganggapku sesama "teman Hangui Akari".

Yah, kalau dipikir-pikir itu hal yang Great, sih……

Saat aku dan Kotaro-san sedang saling tatap, Takanashi-san berdehem untuk mengambil kendali pembicaraan.

"Tapi ya, tadi Akalin tiba-tiba datang dan langsung menginterogasi soal kencan jadi kita cuma ikut arus aja. Kalau dipikir-pikir, bukannya ini pertama kalinya Tamo-san ketemu sama Uta-chan?"

"Eh?"

Mendengar itu, aku refleks memiringkan kepala. Apa yang dia bicarakan?

Seharusnya aku sudah berkali-kali berinteraksi dengan Takeshi-san. Sebagai Usa Itsuki. ……Ah.

"P-perkenalkan! Aku Utakata Tsukino, pecatur wanita! S-senang bertemu denganmu!"

Menyadari kelalaianku yang melamun, aku buru-buru menegakkan punggung dan memberi salam.

Di sisi lain, Takeshi-san yang punya kulit kecokelatan dan pakaian gaya sporty yang terbuka—sebuah penampilan kecantikan yang sehat—justru menyahut dengan……

"Ooh, sopan sekali! Aku pun senang bertemu denganmu! Namaku Takeshi Momoai! Mohon bantuannya ya, Utakata-shi!"

——Tetap menggunakan gaya bicara otaku kelas berat yang sama sekali tidak cocok dengan penampilannya.

Aku membalasnya dengan senyuman, "Mohon bantuannya juga," sambil berjabat tangan.

Melihat interaksiku dengannya, Takanashi-san menatapku dengan tatapan yang sedikit kagum.

"Uta-chan, Kamu sama sekali nggak kaget ya dengar gaya bicara Tamo-san?"

"He!? A-ah, iya begitulah. Di dunia ini kan ada berbagai macam orang."

"Hebat ya gelar Pecatur Wanita itu. Padahal aku belum jelasin kalau 'Tamo-san' itu merujuk ke siapa, tapi Kamu langsung konek."

"B-bisa kupahami dari konteksnya kok, iya."

"Ooh. Level otaknya emang beda."

……Entahlah. Kadang aku merasa Takanashi-san sebenarnya sudah tahu segalanya dan sengaja bertindak begitu. Meski aku yakin rasa kagumnya barusan itu tulus.

Ada semacam aura menyeramkan yang berbeda dari Hangui-san, sebuah kemampuan untuk menangkap inti masalah secara instan.

Lalu, Kotaro-san berdehem kecil untuk mengembalikan pembicaraan ke topik utama.

"Jadi, Hangui. Apa Kamu sudah paham soal hubunganku dengan Tsukino-san?"

"Iya, Tokiwa. Sepertinya Kamu populer sekali ya, syukurlah. Benar-benar hal yang 'membahagiakan'."

"Hangui……"

Kotaro-san menyahut karena merasa ada sesuatu di balik senyumannya.

Namun, Takeshi-san ikut menimpali kata-kata Hangui-san.

"Benar kata Syuri-chan, selamat ya, Tokiwa-shi!"

"Eh? Ah, terima kasih Takeshi."

"Tidak, tidak! Sebagai teman, aku sangat senang karena Female Meijin yang agung bisa memahami kebaikan Tokiwa-shi!"

Ucap Takeshi Momoai-san dengan senyum yang tulus dari lubuk hatinya.

Reaksinya itu sebenarnya membuatku merasa sedikit "bingung", tapi itu adalah kebingungan berdasarkan informasi yang kudapat saat menjadi "Usa".

Aku tidak bisa menanyakannya secara terbuka.

Namun, sebagai gantinya, Takanashi-san yang sepertinya merasakan kebingungan yang sama denganku, memanggil Takeshi-san mendekat ke arahnya.

Karena Hangui-san dan Kotaro-san sudah mulai berdebat sengit seperti biasanya, Takeshi-san pun menghampiri Takanashi-san dengan polos. Sambil berpura-pura menenangkan Kotaro-san dan yang lainnya, aku memasang telinga lebar-lebar untuk mencuri dengar percakapan mereka.

Takanashi-san langsung bertanya secara telak pada Takeshi-san.

"……Anu. Bukannya Tamo-san itu suka sama Banjo?"

"Suka sekali lho."

Jawab Takeshi-san dengan santai seolah itu hal yang wajar. Aku tercengang mendengar pernyataan yang begitu alami itu. Kalau pakai istilah mereka, ini adalah tipe "Anak ini serius?".

Takanashi-san yang jarang-jarang terlihat goyah pun melemparkan pertanyaan berikutnya.

"E-eto…… kalau gitu kenapa dari tadi Kamu terus-terusan dalam mode kasih selamat? Nggak apa-apa kalau nggak cemburu?"

"Eh? Aah…… begitu ya? Memang sih?"

Reaksi Takeshi-san seolah dia baru menyadarinya sekarang.

Namun, dia tersenyum polos, "Ehehe."

Lalu——dengan wajah yang sedikit malu-malu, dia mengutarakan "perasaan jujurnya" sampai lupa menjaga karakter otaku-nya.

"Tapi yang paling penting itu kan kebahagiaan orang yang paling kita dukung, bukan?"

""

Mendengar itu, Takanashi-san tampak kehilangan kata-kata. Jarang sekali melihatnya seperti ini. Memang benar kasih sayang Takeshi-san yang dalam itu sangat menyentuh, tapi reaksi Takanashi-san ini……

"Aku pun…… awalnya…… ………… ……Tapi……"

Namun, meski aku sudah berusaha keras mendengarkan, aku tidak bisa menangkap sisa dari gumaman kecilnya itu.

Di saat aku sedang fokus penuh pada Takanashi-san, Kotaro-san yang sepertinya sudah selesai berdebat dengan Hangui-san, mengumumkan sesuatu sambil memegang kotak board game.

"Kalau begitu, mari kita mulai saja Tsukino-san. Untuk mendapatkan 'hak keputusan terhadap segala masalah terkait kencan', mari kita mainkan A-I-U-E Battle ini!"

"Ah, maaf, sepertinya aku benar-benar melewatkan 'Episode Satu' ya."

Tanpa kusadari, sebuah alur cerita sudah berkembang pesat. Takanashi-san dan Takeshi-san pun tampak tertarik dan menoleh ke arah kami, sementara Hangui-san menjelaskan dengan datar.

"Akan kujelaskan dari awal. Jadi, setelah Utakata-san mengajak Tokiwa berkencan, aku mengajukan diri pada Tokiwa untuk ikut serta. Sampai sini oke?"

"Nggak oke dong. Nggak jelas banget. Lagipula kenapa Akalin mau ikut segala?"

Takanashi-san langsung memprotes perkembangan mendadak ini. Aku pun merasakan hal yang sama.

Namun, di sisi lain, hanya sahabatnya yaitu Takeshi-san yang menunjukkan kepahaman. "Begitu ya."

"Belakangan ini Hangui-shi memang jadi sangat protektif pada Tokiwa-shi ya."

"Heh, Momo-chan diam dulu deh. Lagipula jangan panggil Hangui-shi, panggil Syuri-chan aja."

Jarang-jarang Hangui Akari protes dengan kekanakan.

……Begitu ya, aku memang sudah dengar dari Kotaro-san, tapi benar juga, Hangui-san saat sedang bersama Takeshi-san terlihat sedikit manis.

Saat aku tersenyum kecil melihatnya, dia yang menyadari tatapanku langsung berdehem.

"Bukannya aku khawatir pada Tokiwa atau gimana ya. Yah, meskipun aku akan tetap mengintervensi urusan asmaranya kapan saja."

"Kenapa Kamu bisa ngomong begitu seolah itu adalah hak mutlakmu?"

Kotaro-san melayangkan protes yang sangat wajar. Mendengar itu, Hangui Akari terkekeh dengan sangat riang.

"Tenang saja Tokiwa. Mulai sekarang pasanganmu, pernikahanmu, kehamilanmu, persalinanmu, sampai kebijakan pola asuh anakmu, semuanya akan aku kelola sendiri secara langsung."

"Bagian mana dari ucapanmu itu yang bisa bikin tenang?"

Wajah Kotaro-san memucat.

Aku dan Takanashi-san pun ikut merasa ngeri mendengarnya, tapi hanya Takeshi-san yang tetap tersenyum tenang seolah berkata, "Yah, dia memang begitu."

……Meski sering tertutup oleh kegilaan Hangui-san, sepertinya orang ini pun sebenarnya punya sisi yang cukup unik.

Hangui-san berdehem dan melanjutkan.

"Karena itulah, tentu saja aku ingin ikut dalam kencan Tokiwa kali ini. Tapi dasar Tokiwa ini, dia malah mulai merengek bilang 'jangan ikut'."

"Jangan seenaknya menganggap protes yang wajar itu sebagai 'merengek'. Gaya bicaramu benar-benar kayak orang tua toksik."

Meskipun Kotaro-san memberikan protes yang menurutku sangat wajar, Hangui-san tidak goyah. Dia terus melanjutkan penjelasannya dengan lancar.

"Dan…… yang sangat aneh adalah, berdasarkan pengalaman, kalau aku dan Tokiwa terlibat konflik pendapat yang serius hingga menjadi perang strategi, biasanya hasilnya berakhir dengan sangat tragis."

"'Aku tahu kok kalau itu'."

Suaraku dan suara Takeshi-san bersahutan.

Apa yang terjadi jika dua orang dengan kekuatan mental, kecerdasan, dan daya gerak yang luar biasa saling bertarung dengan sengit?

Kepahitan dari hasilnya justru lebih dipahami oleh orang-orang di sekitar mereka daripada oleh mereka sendiri.

Hanya Takanashi-san yang belum tahu detail tentang apa yang pernah dilakukan Hangui-san, jadi dia tampak kurang paham, tapi sekarang bukan saatnya menjelaskan itu.

Sebelum pembicaraan masuk terlalu dalam, Kotaro-san melanjutkan penjelasan Hangui-san.

"Jadi, dalam situasi seperti ini, kami pikir lebih baik kalau kita putuskan saja lewat pertandingan sederhana demi kebaikan bersama. Dan karena kita sedang berada di Kurumaza……"

"Ah, jadi diputuskan lewat board game——lewat A-I-U-E Battle yang ada di sana itu ya."

"Sesuai dugaan Tsukino-san, Kamu cepat sekali paham."

"Aku sangat merasa Great mendapatkan pujian itu. Tapi…… kalau alasannya seperti itu, bukankah lebih alami kalau board game ini dimainkan oleh kalian berdua saja? Tidak perlu sampai mengajak kami ikut serta……"

Saat aku menanyakan hal itu, kali ini Hangui-san yang menjawab sambil tertawa kecil.

"Itu ide dari Tokiwa. Dia bilang kalau mau main board game, lebih baik kalau dimainkan oleh semua orang yang ada di sini."

"Ah, itu memang ide yang sangat khas Kotaro-san ya."

"Iya, benar. Tapi alasannya bukan cuma itu. Tokiwa bilang, 'Karena dalam kencan ini, kurasa setiap orang punya pendapat yang sedikit berbeda'."

"Setiap orang punya pendapat yang berbeda?"

Menanggapi pertanyaanku, Kotaro-san menjawab sambil menggaruk kepalanya.

"Begini, soal kencanku dengan Tsukino-san, memang benar pendapat Hangui yang 'mau ikut' dan pendapatku yang 'ingin Hangui menahan diri' sedang berbenturan. Tapi di sisi lain, Tsukino-san kan punya pendapat sendiri yang ingin 'benar-benar kencan berdua saja', yang mana itu sedikit berbeda dari pendapatku, kan?"

"Aah……"

Kalau dipikir-pikir memang benar. Pendapat Kotaro-san yang "ingin Hangui menahan diri" memang mirip dengan pendapatku, tapi ada sedikit perbedaan.

Jika dia mengatakannya seperti itu, berarti "dia tidak keberatan jika orang selain Hangui-san yang ikut".

Kenyataannya bagi dia, misalnya jika Takanashi-san yang ikut mungkin dia malah senang, atau dia juga tidak keberatan jika sahabatnya yaitu Takeshi-san yang datang.

Namun, hal itu jelas berbeda dari keinginanku. Sebagai orang yang ingin lebih dekat dengan Kotaro-san di kesempatan ini, aku benar-benar ingin "hanya berdua saja".

Di sampingku yang sedang merenungkan hal itu, Takanashi-san juga mengangguk setuju dan langsung mengutarakan keinginannya dengan santai.

"Kalau aku sih, mending ajak Usa-kun sekalian biar jadi kencan ganda, seru kan?"

Mata Takanashi-san berbinar seolah dia baru saja menemukan ide cemerlang.

……Begitu ya, kencan ganda. Tentu saja bagi Takanashi-san, itu adalah hal yang Great.

Dia bisa ikut campur dalam kencan Kotaro-san secara alami dan terang-terangan.

 Bisa dibilang, di saat seperti inilah gunanya menyewa pacar pura-pura seperti Usa Itsuki.

Aku dengan Kotaro-san, dan Usa Itsuki dengan Takanashi Mifuru, kencan ganda yang terlihat rukun berempat.

Yah, dalam sekilas pandang, itu adalah pemandangan yang sangat ramai dan terlihat bahagia.

Bahkan mungkin akan jadi hari yang lebih bermakna daripada aku harus merasa gugup seharian jika kencan berdua saja dengan Kotaro-san. Bisa dibilang itu usulan yang sangat Great.

……Hanya ada satu masalah.

Yaitu fakta kalau hal itu "secara fisik mustahil untuk diwujudkan!".

Karena di sana ada satu orang yang merupakan individu yang sama!

"A-aku tidak boleh kalah dalam pertarungan ini!"

Melihatku yang refleks menyingsingkan lengan baju, Kotaro-san memiringkan kepala dengan heran.

"Wah, Tsukino-san, kenapa tiba-tiba jadi bersemangat begitu?"

"Iya…… karena tiba-tiba ini benar-benar menjadi 'pertarungan yang tidak boleh kalah' dalam arti yang sesungguhnya. Dalam artian tertentu, ini jauh lebih penting daripada pertandingan tim nasional."

"M-masa sampai segitunya?"

"Memang begitu, mau bagaimana lagi. Mari kita mulai——perang hidup dan matinya."

"Hebat ya, auramu sampai bisa bikin kata-kata 'perang' itu terdengar sangat mengerikan……"

Meskipun Kotaro-san tampak kagum, dia segera menyiapkan permainan setelah memastikan semua orang setuju untuk ikut bertanding.

"Ah, Banjo, tolong ambilkan yang itu."

"Terima kasih."

Takanashi-san langsung berdiri dan membantu Kotaro-san mengeluarkan komponen permainan dari kotaknya.

……Meski sering bertengkar, kerja sama mereka sebagai sesama staf toko benar-benar kompak.

Memang wajar karena ini pekerjaan mereka, tapi melihat mereka berdua yang bisa saling mengerti jauh lebih baik dariku saat ini, mau tidak mau dadaku terasa sesak.

Saat ini, aku lebih bisa membayangkan gambaran mereka berdua hidup sebagai suami istri daripada gambaran diriku dan Kotaro-san hidup sebagai pasangan di masa depan.

Itu sangat menyebalkan. ……Tapi di sisi lain, merasa kesal karena hal seperti ini seolah menunjukkan betapa besarnya rasa cintaku pada Kotaro-san, dan itu membuatku merasa malu. ……Lalu.

"……Hei. Mau aku kasih kemenangannya nggak, Uta-chan?"

Takanashi-san menghampiriku dan memberikan tawaran bagai iblis. Namun aku menolaknya dengan tegas.

"Tidak perlu."

"Ooh, sesuai dugaan, di sini Kamu nggak bilang 'Great' ya."

"Takanashi-san sendiri juga cuma omong kosong soal 'memberikan kemenangan' itu, kan?"

"Eeh, kira-kira gimana ya?"

Takanashi-san menjauh dariku sambil tertawa terbahak-bahak. ……Sumpah, di mataku pun dia adalah orang yang penuh dengan pesona seperti iblis kecil. Sulit untuk tidak menyukainya jika terus bersamanya.

Tanpa mengetahui gejolak perasaanku yang rumit itu, Kotaro-san mulai memberikan penjelasan aturan dengan sangat terampil sambil terus menyiapkan permainan.

"A-I-U-E Battle ini adalah game kata yang sangat sederhana. Intinya kita harus saling menebak kata rahasia yang sudah ditentukan masing-masing. Siapa yang katanya terbongkar sepenuhnya akan tereliminasi, dan yang bertahan sampai akhir dialah pemenangnya."

Mendengar itu, Takanashi-san menyahut.

"Asyik banget nggak ada elemen ribet kayak 'kombo' atau 'efek kartu' yang aku benci!"

"Iya. Tapi strateginya tetap ada, jadi tolong dengarkan aturannya baik-baik ya."

"Siiaap!"

Jawab Takanashi-san dengan riang seolah-olah dia adalah anak kecil yang sedang mendengarkan penjelasan guru TK.

Kotaro-san melanjutkan penjelasannya.

"Pertama, sebuah tema akan diberikan. Masing-masing peserta harus menentukan satu kata berdasarkan tema tersebut. Misalnya kalau temanya 'Menu Sushi Putar', maka katanya bisa Salmon atau Maguro."

"Kalau gitu, aku pilih 'Hamburger' saja."

"Untuk 'Sushi Putar', itu juga bisa sih. Nah, setelah menentukan kata masing-masing, tuliskan kata tersebut ke papan yang ada di depan kalian satu per satu per huruf, supaya tidak terlihat oleh orang lain."

Sambil menjelaskan, mereka berdua menata tujuh papan mungil di depan kami masing-masing.

Kotaro-san melanjutkan penjelasannya dengan sigap sambil bekerja.

"Masing-masing akan menerima tujuh papan, di mana satu papan hanya boleh ditulis satu huruf. Setelah membuat kata maksimal tujuh huruf, hadapkan papan tersebut ke arah diri sendiri agar tidak terlihat oleh orang lain. Baiklah, untuk contoh, aku akan menulis 'Te-n-ne-n-i-wa-si' (Ikan Sarden Alami)."

"Hm? Kalau pakai Kanji 'Ikan Sarden Alami' bukannya cuma lima huruf?"

"Bukan, di papannya wajib ditulis pakai Hiragana, jadi 'Te-n-ne-n-i-wa-si' itu tujuh huruf."

"Oke. Terus, apa harus pakai pas tujuh huruf?"

"Tidak, boleh berapa saja asal tidak lebih dari tujuh huruf. Tapi papan yang tidak terpakai tolong diberi tanda silang saja."

"Aah, kalau nggak gitu nanti jumlah hurufnya ketahuan dari gerakan saat menulis ya."

Begitulah mereka berdua saling menimpali.

Sebenarnya Takanashi-san pasti sudah tahu aturannya tapi dia sengaja bertanya.

Memang benar kalau formatnya percakapan begini jadi lebih mudah dipahami, apalagi mereka berdua tidak terlihat seperti sedang berakting, jadi penjelasannya terasa sangat nyaman didengar.

Tapi…… itu juga membuatku merasa sedikit kesal lagi.

Kotaro-san akhirnya membentangkan sesuatu yang mirip tabel suku kata Hiragana di tengah meja, lalu meletakkan tumpukan kepingan bulat di sampingnya.

"Nah, inti dari gamenya adalah menebak kata rahasia masing-masing. Cara menyerangnya adalah dengan menggunakan tabel ini. Setiap kali giliranmu tiba, Kamu harus menyebutkan satu huruf dan menutup huruf itu dengan kepingan. Pemain yang memiliki huruf tersebut dalam katanya harus membuka papan yang berisi huruf itu. Misalnya, saat ini aku punya papan 'Te-n-ne-n-i-wa-si' yang semuanya tertutup……"

Saat Kotaro-san sampai di situ, Takanashi-san mengangkat tangannya.

"Giliranku! Eeto…… huruf 'N'!"

Sambil berkata begitu, Takanashi-san menggunakan kepingan untuk menutup huruf "N" pada tabel suku kata.

Menanggapi hal itu, Kotaro-san mengerang kesal sambil mengungkap papan huruf kedua dan keempatnya yang berisi "N" kepada semua orang.

"Mantap, langsung dapat dua!"

"Seperti ini, huruf yang berhasil ditebak akan dibuka untuk umum. Kalau ada dua huruf yang sama, semuanya harus dibuka. Begitulah cara kita membongkar kata lawan menggunakan tabel suku kata ini. Orang yang seluruh hurufnya sudah terbuka akan tereliminasi. Dasarnya cuma itu."

"Meskipun di tengah jalan kita sudah bisa menebak kata lawan, kita tetap cuma bisa menutup satu huruf per giliran, kan?"

"Benar. Kita tetap menebaknya satu per satu. Oh ya, ada aturan tambahan; kita tidak menulis tanda petik (dakuon) atau huruf kecil (youon). Jadi misalnya kata 'Ebi' (Udang), di papan harus ditulis 'E-hi'. Lalu, kalau berhasil menebak huruf lawan, akan ada bonus satu giliran tambahan..."

Kotaro-san menjelaskan sisa aturan tambahan itu dengan cekatan.

Selama proses itu, Takanashi-san tidak lagi menyela dan fokus menyusun komponen permainan.

...Mereka benar-benar kompak.

Rasanya mereka berdua sudah bisa mengelola kafe board game sebagai pasangan suami istri. ………….

"? Tsukino-san? Ada apa?"

"Eh?"

Aku tersentak dan mendongak mendengar suaranya.

...Sepertinya, tanpa sadar aku telah menggenggam erat ujung lengan baju Kotaro-san saat dia berjalan melewataniku ketika menjelaskan aturan.

Pipiku mendadak terasa panas. Aku buru-buru melepaskan tangan dan melontarkan alasan.

"Ti-tidak ada apa-apa! Cuma, anu, bagaimana bilangnya ya... semacam 'keinginan untuk menangkapmu' itu termanifestasi secara fisik tanpa kusadari!"

"Eh? Itu maksudnya..."

"Ah."

...Ya, meskipun nadanya terdengar seperti sedang memberi alasan, kalau dipikir-pikir lagi, itu sama sekali bukan alasan.

Aku baru saja mengungkapkan seluruh perasaanku secara gamblang.

Pipiku semakin memanas, dan tanpa sadar aku menutupi wajah dengan kedua tangan sambil bergumam.

"……Ini tidak Great sama sekali."

"Aha, ha. ……Eeto. Bagaimana ya bilangnya. A-anu, kalau bagiku, ini sangat Great kok."

"Uu."

Bagi Kotaro-san, itu mungkin diniatkan sebagai upaya maksimal untuk menghiburku, tapi kata-katanya justru membuat pipiku semakin terbakar.

Di tengah suasana itu, Hangui-san melontarkan komentar dengan nada datar.

"Tokiwa, aku memang bilang ingin ikut kencan kalian, tapi tolong jangan tiba-tiba langsung ke hotel ya."

"Mana mungkin!""Tidak akan!"

Kami berdua membantah serempak dengan wajah memerah padam.

Melihat hal itu, Takanashi-san menimpali dengan nada menggoda yang sensual.

"Dari dulu Banjo memang suka 'melakukannya sambil dilihat orang', sih."

"Hebat ya, Kamu bisa melontarkan kalimat yang memicu banyak kesalahpahaman fatal secepat itu!"

"…………h! ………A-aku akan berusaha sebaik mungkin."

"Tsukino-san!? Kamu tidak perlu sampai punya tekad seperti itu!"

"Ta-tapi, anu, Kotaro-san... Kamu melakukannya secara blak-blakan dengan Takanashi-san...!"

"Jangan tertipu dengan omongannya! Aku dan Mifuru-san tidak ada hubungan apa-apa!"

"Eeeh? Jahat banget. Padahal selama ini kita sudah sering melakukannya berdua, dan ke depannya kita berencana untuk melakukannya berkali-kali di depan orang sambil dilihat terus, lho. …………Maksudku menjelaskan aturan board game."

"Bisa berhenti tidak menggunakan trik klasik mengecilkan suara di bagian akhir begitu!?"

"Ngomong-ngomong, Tokiwa, bisa tidak berhenti bicara mesum di depan Momo-chan?"

"Hei, bukannya Hangui yang mulai duluan soal ini! Ah, sudahlah!"

Di tengah-tengah Kotaro-san yang sibuk melayangkan protes ke sekelilingnya.

Sampai di tahap ini, bahkan aku pun sadar kalau itu semua hanya candaan, sehingga aku bisa menghela napas lega.

Lalu, di sana aku mendadak menyadari sosok Takeshi-san yang sama sekali tidak ikut campur dalam topik pembicaraan ini.

"Fumu, fumu."

Seolah merasa pembicaraan cinta tidak ada hubungannya dengan dirinya, dia membuka buku panduan aturan dengan gerakan tangan yang hati-hati namun luwes khas seorang board gamer, lalu membacanya dengan penuh minat.

...Entah kenapa, hal semacam inilah yang benar-benar memberikan kesan "teman board game sejati Kotaro-san".

Dalam artian tertentu, ini jauh lebih membuatku cemburu daripada obrolan mesum tadi, karena terasa menyentuh bagian yang sangat dalam.

Setelah selesai membaca buku panduan dengan cepat, Takeshi-san memanggil Kotaro-san dengan wajah yang tampak sangat senang.

"Ini adalah party game yang bagus, Tokiwa-shi."

"Hm? Oh, kan? Aku sudah tahu Takeshi pasti akan paham."

Kotaro-san langsung menyahut dengan senyum lebar yang terlihat sangat puas.

...Senyum itu juga merupakan senyum yang belum pernah dia tunjukkan padaku maupun Takanashi-san.

Mereka berdua terus mengobrol dengan jarak yang terasa sangat dekat.

"Tapi sayang sekali ya. Menurutku, aslinya ini adalah tipe board game yang ingin dimainkan berkali-kali dengan mengganti temanya."

"Benar! Tepat sekali, Takeshi. Memang benar, game seperti ini baru terasa seru kalau dimainkan berturut-turut dengan tempo cepat. Tapi karena kali ini tujuannya adalah menentukan kemenangan secara jelas..."

"Maka memang harus diputuskan dalam satu pertandingan ya. Padahal aku masih ingin menikmatinya sedikit lagi..."

"Iya, sih. Tapi mau bagaimana lagi. Kita main sepuasnya di lain kesempatan saja."

"Fumu. Ah, kalau begitu Tokiwa-shi, setelah ini apa Kamu mau datang ke rumahku untuk main berdua sebentar?"

"Eh, boleh? Kalau begitu—"

"TIDAK BOLEH!"

Aku dan Takanashi-san buru-buru menyela saat si pemuda board gamer yang tidak peka itu baru saja akan "diundang ke kamar perempuan" dengan begitu lancarnya.

Sementara Hangui-san mengamati situasi dengan mata menyipit penuh kegembiraan, Takeshi-san memiringkan kepalanya dengan sangat polos.

"Oya? Apa mungkin kalian berdua sudah punya janji lebih dulu dengan Tokiwa-shi?"

"Ti-tidak, bukan begitu juga, sih..."

Aku dan Takanashi-san tergagap secara bersamaan.

Takeshi-san memiringkan kepalanya dengan heran sejenak, namun segera melanjutkan dengan semangat seolah-olah baru saja mendapat ide cemerlang.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kalian berdua ikut sekalian! Board game kan lebih seru kalau dimainkan banyak orang!"

"Uu."

Melihat ajakan yang sangat tulus dan penuh energi positif itu, aku dan Takanashi-san benar-benar merasa ciut.

Kepada kami berdua, Hangui-san tiba-tiba berujar dengan nada tinggi.

"Fufu, selamat datang di dunia di mana kalian akan hangus terbakar oleh aura 'Positif' murni milik Takeshi Momoai!"

"Khu...!"

"?"

Aku dan Takanashi-san mengerang, sementara Takeshi-san dan Kotaro-san hanya melongo bingung. ...Khu, Takeshi-san, orang yang mengerikan sekali...!

Sama seperti Kotaro-san, orang yang memiliki kemuliaan di dasar jiwa dan akar keberadaannya, sepertinya memang memiliki bakat untuk "mengambil segalanya" hanya dengan itu saja.

Benar-benar seperti tokoh utama dalam sebuah cerita. Di sisi lain...

"Entah kenapa, aku merasa sangat hampa sampai ingin menangis kalau mengingat kita baru saja berlumuran obrolan mesum dan rasa cemburu."

"Kebetulan sekali, Takanashi-san. Aku juga."

Kami berdua mengusap ujung mata perlahan.

Entah kenapa, rasanya kami baru saja mengalami kekalahan telak dalam hal yang jauh lebih penting daripada menang-kalah dalam urusan cinta—yaitu sebagai seorang manusia.

...Begitu ya, jadi ini yang namanya Takeshi Momoai-san...

Dan orang yang mengembalikan kami ke topik utama setelah sempat melenceng jauh adalah Takeshi-san sendiri.

"Nah, soal urusan nanti lupakan dulu, sekarang mari kita mulai permainannya, Tokiwa-shi."

"Ah, benar juga. Kalau begitu pertama-tama kita harus menentukan temanya..."

"Di buku instruksi memang ada daftar contoh tema, tapi dasarnya sih bebas, kan?"

"Iya. Tapi karena ini pertandingan penting, kita tidak bisa memilih tema yang sembarangan..."

Tepat saat Kotaro-san mulai kebingungan, Hangui-san langsung melontarkan usulan tanpa jeda.

"Kalau begitu, bagaimana kalau temanya 'Orang yang Disukai'?"

"!"

Aku, Takanashi-san, dan Kotaro-san tersentak mendengar tema tersebut. Di sisi lain, hanya Takeshi-san yang setuju dengan tulus tanpa merasa terbebani sedikit pun.

"Bagus itu! Itu benar-benar cocok dengan situasi saat ini, Syuri-chan! Kalau begitu, mari segera..."

"Tu-tunggu sebentar, Tamo-san."

Takanashi-san memanggil nama panggilan Takeshi-san dengan panik untuk menghentikannya. Kepada Takeshi-san yang kebingungan, dia melanjutkan.

"Eeto, kalau pakai topik itu, anu, bukannya bakal ada orang yang kesulitan untuk menuliskannya?"

"Begitu ya? Setidaknya aku sendiri sama sekali tidak masalah untuk menulisnya kok."

Sambil berkata demikian, Takeshi-san menatap Kotaro-san dan tersenyum manis tanpa sedikit pun rasa malu. Melihat tingkahnya itu, Takanashi-san akhirnya mengutarakan isi hatinya secara langsung.

"Anak ini serius, ya."

"Kenapa kalian semua kompak memberikan penilaian itu padaku!?"

Aku merasa kasihan pada Takeshi-san yang tampak terkejut, tapi pendapatku sama dengan Takanashi-san. Anak ini serius. Orang bernama Takeshi Momoai memang tidak bisa digambarkan dengan kata lain selain itu.

Lalu, Kotaro-san berdehem kecil dan melayangkan protes kepada Hangui-san.

"Bukan begitu, Hangui. Kalau temanya terlalu mudah ditebak satu sama lain, permainannya tidak akan berjalan..."

"Aduuh, Tokiwa. Kamu pikir Kamu tahu jawaban apa yang akan ditulis oleh para wanita di sekitarmu dengan tema 'Orang yang Disukai'? Fufu, percaya diri sekali ya."

"Hangui..."

Kotaro-san melanjutkan dengan nada yang benar-benar lelah.

"Ini bukan soal aku percaya diri atau apa. Misalnya saja Mifuru-san, dia kan sudah jelas punya pasangan yang sangat dia cintai. Jawabannya kan sudah pasti, kan?"

"Oya, bukankah itu tidak akan ketahuan sebelum dicoba? Benar kan, Takanashi Mifuru?"

"Eh."

Takanashi-san tampak goyah karena tiba-tiba diseret ke dalam pembicaraan. Dia melirik sedikit ke arah Kotaro-san, lalu menggaruk pipinya sambil menyahut.

"……Mungkin, bisa dibilang begitu."

"Mi-Mifuru-san?"

Kotaro-san menunjukkan kegoyahan yang sangat jelas. Melihat itu, Takanashi-san segera berkata untuk menutupi rasa malunya.

"Tatapmu yang penuh harapan itu benar-benar menjijikkan, Banjo."

"B-bukan harapan! Aku cuma tidak ingin Mifuru-san merasa dirugikan dalam permainan ini...!"

"Hal semacam itu bukan urusanmu. Baiklah, aku terima tema ini."

"Kh! Ka-kalau Mifuru-san oke pun, dengar ya, Hangui sendiri juga akan dirugikan dengan tema ini!"

"Aku? Kenapa?"

"Kalau aku tanya 'Orang yang Disukai' padamu, jawabannya kan cuma ada satu pilihan, kan?"

Ucap Kotaro-san sambil melirik ke arah Takeshi-san. Menanggapi poin tersebut, Hangui-san justru...

"Oya."

Tersenyum dengan sangat sensual, dia tiba-tiba mendekatkan tubuhnya ke arah Kotaro-san, membelai dagunya dengan ujung jari sambil menyipitkan mata dan menyahut.

"Apa Kamu benar-benar yakin jawabannya cuma itu?"

"Eh."

Kotaro-san terbelalak mendengar kata-kata itu. Di saat aku dan Takanashi Mifuru-san hampir bereaksi melihat pendekatan mendadak Hangui-san, Kotaro-san yang seperti biasa tidak peka di saat-saat krusial justru melontarkan deduksi yang melenceng.

"Ah, benar juga. Hangui sudah punya teman lain di SMA, ya. Kalau begitu memang pilihannya tidak cuma satu..."

"…………"

"Bukan, tapi itu malah jadi masalah. Kalau Kamu menulis nama yang tidak kami kenal..."

"Tokiwa."

Hangui-san menghela napas dari lubuk hatinya yang paling dalam sambil kembali ke tempat duduknya. Dia melanjutkan dengan nada lelah.

"Tenang saja. Aku akan menulis nama yang diketahui oleh kalian semua kok."

"Begitu ya? Oh, atau mungkin ada kemungkinan nama artis ya."

"……Terserah apa katamu. Pokoknya ayo kita mulai. Lihat, selain dirimu, semua orang sepertinya sudah setuju kalau 'temanya itu saja sudah cukup'."

Memang benar, dalam beberapa puluh detik ini kami masing-masing sudah menyusun strategi di dalam kepala. Jadi, persis seperti yang dikatakan Hangui-san. "Itu saja sudah cukup". Hanya kalimat itu yang tersisa.




"Aa…… e-eto, Tsukino-san juga tidak apa-apa?"

"Iya, tidak masalah. Tentu saja awalnya aku sempat terkejut, tapi memang benar tidak ada tema yang lebih pas untuk taruhan kencan selain ini. Setidaknya, aku sudah memantapkan tekad."

"Be-begitu ya……"

Meski tampak belum sepenuhnya sreg, Kotaro-san terpaksa menerimanya dan kembali melanjutkan permainan.

"Kalau begitu, temanya 'Orang yang Disukai'. Semuanya, tolong tulis jawabannya di papan masing-masing dalam huruf Hiragana tanpa memperlihatkannya kepada orang lain. Maksimal tujuh huruf, dan jika kurang dari itu, sisanya beri tanda silang (X)."

Mendengar instruksi itu, kami mulai menulis di papan masing-masing.

Nah, kalau aku sendiri…… yah, rasanya tidak perlu berpikir dua kali.

To-ki-wa-ko-ta-ro-u

Aku menuliskan nama itu dengan jujur tanpa keraguan sedikit pun. Jika bicara soal strategi, ini sebenarnya pilihan kata yang membuatku berada di ambang kekalahan telak.

Benar-benar langkah yang buruk. Sebab, semua orang di sini tahu kalau aku baru saja menyatakan cinta padanya kemarin lusa.

Namun——meski begitu, bagiku, hanya ada nama ini.

Karena saat ini, aku memang mencintai Kotaro-san dengan setulus hati.

"(Kalau aku mencoba bertingkah sok pintar di sini, ujung-ujungnya aku hanya akan 'menang di permainan tapi kalah dalam pertaruhan'. Kalau begitu, lebih baik aku…… menempuh jalan utama tanpa penyesalan!)"

Sembari memantapkan tekad, aku menyelesaikan tulisanku lebih cepat dari siapa pun.

Dengan tetap menjaga etika permainan (agar tidak membocorkan jumlah huruf atau jawaban), aku mengamati orang-orang di sekitar.

Pertama, sesuai dugaan, Takeshi-san yang sepertinya sudah menentukan jawaban sejak awal selesai menulis hampir bersamaan denganku.

……Dalam arti tertentu, mungkin dialah orang yang paling harus diwaspadai kali ini.

Setelah jeda sejenak, giliran Hangui-san yang selesai. Begitu meletakkan papan terakhirnya di meja, dia melemparkan senyum penuh arti ke arahku.

……Sumpah, aku benar-benar tidak jago menghadapi orang ini. Aku sama sekali tidak bisa menebak apa yang dia tulis.

Secara logika, satu-satunya pilihan adalah "Ta-ke-si-mo-mo-a", tapi…… dalam kasusnya, aku merasa dia benar-benar datang untuk "menang", jadi mungkin saja tidak sesederhana itu. Tapi tidak mungkin juga dia menulis "To-ki-wa-ko-ta-ro-u"……

Tiba-tiba, Hangui-san membuka obrolan ringan.

"Ngomong-ngomong Kotaro, saat menyusun kata jawaban di game ini, kita harus menjajarkannya secara terbalik dari sudut pandang kita sendiri, ya."

"Hm? Oh, iya. Itu supaya saat papannya dibuka, orang lain bisa membacanya dengan mudah. Misalnya kalau jawabannya 'Ho-u-re-n-so-u', maka dari sudut pandang kita, urutannya jadi 'U-so-n-re-u-ho' dari kiri ke kanan. Jadi pas dibalik, semua orang bisa baca 'Ho-u-re-n-so-u'."

"Aturan yang bagus, ya. Benar-benar halus dan penuh perhatian karena mempertimbangkan 'bagaimana orang lain melihat kita'. Konsep yang mirip dengan Murder Mystery. ……Ya kan, Takanashi-san?"

"U-uh, kenapa malah lempar ke sini, sih? Tenang saja, aku ini staf toko, tahu! Aku sama sekali tidak lupa soal menyusun jawaban secara terbalik itu, Akalin."

Ucap sang staf kafe board game sembari sibuk menata ulang posisi papan-papannya. ……Ta, Takanashi-san……! Kamu ini benar-benar……!

Hangui-san terkekeh, tampak setengah gemas sekaligus pasrah.

"Aku sudah menduganya. Kamu kan memang payah dalam mengingat aturan Murder Mystery."

"I-kalau itu sih, masalahnya ada di skenario jahat buatanmu!"

Takanashi-san memprotes, namun Kotaro-san ikut menyela dari samping.

"Soal itu, untuk kali ini aku setuju dengan Mifuru-san, Hangui. Persiapan di pihak kami terlalu merepotkan, mulai dari melipat bangau kertas sampai pengadaan barang-barang yang aneh."

"Mau bagaimana lagi, itu kan diperlukan. Lagipula, kalau Takanashi-san sebagai pelaku gagal berakting dan tidak bisa memberikan informasi penting kepada peserta, seluruh acaranya bisa hancur. Berbagai barang bukti yang kupinjamkan padamu juga semuanya barang penting untuk mengungkap pelaku, kan? Kotaro juga pasti paham soal itu?"

"I-itu memang benar, sih…… tapi setidaknya apa proses mengungkap pelakunya tidak bisa dibuat lebih simpel? Misalnya, cukup dengan menaruh noda darah buatan di celemek Mifuru-san atau semacamnya……"

"Oya. Jadi menurut Kotaro, Murder Mystery yang pelakunya cuma ditebak lewat noda darah di celemek itu menarik, begitu?"

"Ugh……"

Kotaro-san mengerang. Dia tampak merenung sejenak, namun akhirnya naluri profesionalnya sebagai staf toko menang. Dia menghela napas pasrah dan bergumam.

"……Proses pengungkapan yang menarik adalah prioritas utama. Tidak ada masalah sama sekali, Wahai Guru Besar."

"Bagus. Oh, dan kamu juga, staf gal kita, pastikan kamu berlatih keras memerankan sosok pelaku sesuai dengan panduan berharga yang kuberikan, ya?"

"He-eh. Siap."

Takanashi-san menyahut dengan lesu. Lalu, Kotaro-san menyapa gadis itu.

"Ngomong-ngomong, Mifuru-san ternyata payah dalam berakting, ya?"

"Ti-tidak juga, kok. Cuma yang kali ini tingkat kesulitannya tinggi saja. Sebenarnya, sehari-hari aku bisa berakting yang lain, kok."

"Akting yang lain?"

"Tentu saja, yang paling utama adalah akting hubungan kekas—"

"Uhuk! Uhuk!"

Aku refleks berdehem dengan keras. Takanashi-san tampak tersentak, lalu tiba-tiba sikapnya terhadap Kotaro-san berubah menjadi kaku.

"E-eto. ……Su-sudah, jangan pedulikan aku lagi, Banjo."

"Mendadak jadi fase pemberontak begitu!?"

Keduanya pun mulai beradu mulut seperti biasa.

……Syukurlah, Takanashi-san tidak sampai membongkar hal aneh.

Orang ini benar-benar payah dalam hal akting rahasia. Aku harus terus mengawasinya.

"Ngomong-ngomong Kotaro, yang belum selesai menulis jawaban tinggal kalian berdua, para staf toko."

"U-uh, maaf."

Ditegur oleh Hangui-san, keduanya berhenti bertengkar dan menciut. Sepertinya itu menjadi pendorong terakhir bagi mereka, karena keduanya segera menuliskan jawaban dengan lancar.

Meski agak luar biasa melihat dua staf kafe board game berpikir lebih lama daripada pelanggannya, mau bagaimana lagi. Pasalnya……

"(Kalian berdua memiliki perbedaan antara 'siapa yang disukai secara publik' dan 'siapa yang sebenarnya ada di hati'.)"

Takanashi-san tidak punya pilihan selain menulis "U-sa-i-tu-ki" yang merupakan pacar publiknya meski hanya pura-pura.

Dan untuk Kotaro-san, dia tidak punya pilihan selain menulis nama orang yang selama ini selalu dia sebut sebagai orang yang disukainya di depan rekan kerjanya——yaitu "U-ta-ka-ta-tu-ki-no".

Ya, dia harus menulis itu. Jadi, meskipun dia menuliskan namaku, aku tidak punya alasan untuk merasa senang. ……Seharusnya tidak, tapi…… anu……

"Utakata-shi? Kamu tampak sangat gelisah, apa tidak apa-apa?"

"Ti-ti-tidak apa-apa kok, Takeshi-shi! Jangan cemaskan aku!"

Tanpa sadar aku malah menjawab dengan gaya bicara Takeshi-san.

Dia tampak bingung dan membalas, "Ka-kalau begitu syukurlah," sementara Hangui-san terkekeh pelan. ……Uuuh.

Di saat itulah, kedua staf toko meletakkan pena mereka secara bersamaan. Sepertinya keduanya sudah selesai.

Nah, kira-kira apa yang mereka pilih sebagai jawaban akhir?

Apakah nama "orang yang disukai" secara publik, ataukah seperti aku, mereka mengikuti kata hati……? ………….

Aku refleks menelan ludah. Meski ini hanya sebuah adegan dalam permainan papan, mungkin karena temanya yang sensitif, rasa tegang yang luar biasa menjalar di punggungku.

Di saat itulah, Hangui Akari menyapaku dengan nada yang sangat geli.

"Fufu, memang sebuah taruhan harus terasa panas seperti ini. ……Benar kan, Nona Female Meijin?"

"……Ya, meski agak terpaksa, aku mengakuinya. Atmosfer di meja pertaruhan ini memang terasa Great."

"Fufu, benar sekali, benar sekali."

"Astaga, Kamu ini benar-benar. Fufufu……"

Hangui-san dan aku tertawa bersama dengan binar kecerdasan di mata kami.

Entah kenapa, rasanya sangat menyenangkan hingga aku tak bisa menahannya.

Namun di sisi lain……

"…………"

Tiga peserta lainnya sepertinya menunjukkan ekspresi seperti, "Ah, sepertinya aku tidak mau lagi berada di meja yang sama dengan dua orang ini"……

Yah, mungkin itu cuma perasaanku saja. Iya, pasti begitu.

◆◇◆

"Kalau begitu, gilirannya dimulai dari Takeshi lalu searah jarum jam."

Kotaro-san mengatur urutan, dan akhirnya permainan dimulai. Sebagai informasi, urutan duduk searah jarum jam dari Takeshi-san adalah Hangui-san, Takanashi-san, aku, Kotaro-san, dan kembali lagi ke Takeshi-san.

Takeshi-san langsung memulai dengan langkah pertama yang sepertinya tanpa strategi khusus.

"Kalau begitu, huruf pertama yang kuhapus adalah…… 'A', mohon bantuannya!"

Sembari berkata demikian, Takeshi-san menutup huruf "A" pada tabel suku kata di tengah meja dengan kepingan.

Nah, apakah ada di antara kami yang menggunakan huruf "A"? Hasilnya adalah……

"…………"

Tidak ada satu pun. Takeshi-san membelalakkan mata dan bergumam, "Aduh, sepertinya aku gagal."

Melihat kepolosannya yang seperti biasa, aku refleks melontarkan komentar.

"Anu, bukankah sebaiknya Kamu memilih huruf dengan sedikit 'tujuan'?"

"Tujuan bagaimana?"

"Maksudku, pilih huruf dari nama yang kemungkinan besar akan muncul di tempat ini berdasarkan temanya……"

Sembari melirik ke arah Kotaro-san, aku malah memberikan saran yang sebenarnya bisa merugikan diriku sendiri. Takeshi-san tampak sangat setuju dengan ucapan itu.

Namun, dia melirik Kotaro-san dan menyahut dengan nada sedikit malu-malu.

"Tapi kalau begitu, aku sendiri bisa-bisa ikut meledak (terbongkar)."

"!"

Keimutan yang sangat polos itu seolah menembus dada semua orang di sana.

Hangui-san bahkan sampai mendongak ke langit seolah-olah sedang menahan mimisan.

Aku dan Takanashi-san tidak sampai sejauh itu, tapi tetap saja ada sesuatu yang menusuk hati.

Jika kami saja begini, apalagi Kotaro-san sebagai laki-laki sekaligus orang yang dituju——

"Ah, maksudnya jawaban Takeshi itu nama artis idola yang kemungkinan besar ditulis orang lain juga ya."

"Anak ini serius, ya."

Komentarku dan Takanashi-san bersahutan. Saat Kotaro-san tampak bengong, Hangui-san yang sudah pulih kembali menimpali dengan wajah bangga.

"Apa kalian berdua akhirnya paham?——Betapa parahnya 'asumsi' Kotaro itu!"

"Ta-tentu saja, ini lebih parah dari yang kudengar."

"?"

Selagi aku mencoba memahaminya, Kotaro-san benar-benar tampak bingung seolah tidak mengerti letak kesalahannya.

Ya, baik dalam arti positif maupun negatif, kekuatan tekad orang ini memang luar biasa.

Takeshi-san tidak perlu diperlakukan seperti tuan putri.

Jangan pernah melihat Takeshi-san dengan tatapan aneh.

Takeshi-san adalah teman bermain board game.

Begitu dia memutuskannya, maka itulah kenyataannya baginya.

Dia bahkan melarang dirinya sendiri untuk sekadar membayangkan kalau Takeshi-san menyukainya.

Dan sebagai tambahan……

"Fuffu~ meski begitu, aku masih tetap mengincar kemenangan lho, Tokiwa-shi!"




"O-oh, boleh juga provokasinya. Terasa sangat 'Takeshi' banget. Wah, jadi makin seru nih!"

"Benar sekali!"

"Vibe kalian saat main board game benar-benar kayak anak cowok kelas tiga SD ya. Termasuk Tamo-san juga."

Melihat interaksi mereka berdua yang asyik sendiri, Takanashi-san bergumam seolah tak habis pikir. Tentu saja, poin utamanya adalah asumsi Kotaro-san yang merupakan masalah terbesar.

Di sisi lain, Takeshi-san punya masalahnya sendiri; dia terlalu murni seperti seorang "tuan putri" sejati. Cara dia menyampaikan rasa sukanya bisa dibilang setingkat anak SD.

Bahkan, dia punya aura menyegarkan yang seolah berkata bahwa dia tidak keberatan jika hubungan mereka tidak berlanjut ke arah romantis.

Hasilnya, di antara Kotaro-san dan Takeshi-san, seolah terjalin ikatan benang yang sangat dalam, transparan, dan begitu suci.

Dan bagi orang yang melihatnya dari samping, rasanya seperti... bagaimana ya bilangnya...

"……Kan? Dalam posisi sebagai rival cinta pun, rasanya malah jadi ingin menjodohkan mereka, kan?"

Hangui-san bergumam pelan sambil menatap ke kejauhan.

……Yah, meskipun gaya pamer misterius orang ini tetap agak menyebalkan, di sisi lain aku mulai merasa kasihan melihat betapa tidak terbalasnya dia dalam urusan Takeshi-san.

Sosok "orang yang paling cerdas namun paling tidak beruntung" ini benar-benar tidak terasa seperti urusan orang lain bagiku. Aku harus menjadikannya referensi.

"Ah, ayo, giliran Hangui selanjutnya."

Karena permainan terlalu lama terhenti, Kotaro-san mendesak. Hangui-san menerimanya, berpikir sejenak... lalu membasahi bibirnya dengan sensual, menunjukkan postur "menyerang" yang jelas.

"Kalau begitu, huruf 'To'."

"!"

Seketika, ketegangan menyelimuti meja. Sebab, itu jelas-jelas ditujukan untuk mengincar huruf "To" dari nama "Tokiwa Kotaro". Dan langkah itu berhasil telak——menembus jawabanku.

"Hit."

Aku mendeklarasikannya sambil membuka huruf pertama di papanku, "To".

Seketika Takanashi-san tertawa terbahak-bahak sambil mengejek "ketebak banget sih", sementara Kotaro-san merona malu.

……Yah, meski sudah siap mental, tetap saja rasanya memalukan membawa huruf "To" di depan untuk tema "Orang yang Disukai". Wajahku kembali memanas.

Di tengah suasana asam manis yang mengalir di antara kami berdua——Takeshi-san menyela dengan polosnya.

"Ah, aku juga hit."

"Eh?"

Reaksi aku dan Takanashi-san berbarengan, dipenuhi firasat buruk. "(Su-sudah kuduga, Takeshi-san juga langsung menulis namanya...!)"

Ini adalah situasi yang cukup mengerikan.

Sebab, sekeras apa pun asumsi Kotaro-san, jika namanya ditulis secara langsung sebagai sosok yang disukai, mustahil baginya untuk tidak menyadari Takeshi-san sebagai lawan jenis.

Apalagi ikatan di antara mereka sudah sangat kokoh.

Jika itu terjadi, hasilnya seperti langkah dewa yang menentukan kemenangan dalam permainan Othello——ada kemungkinan besar papan permainan akan terbalik seketika. Ya, kemungkinan yang sangat besar.

Di tengah kecemasan aku dan Takanashi-san yang mengamati dengan waswas, Takeshi-san dengan wajah menyesal membuka huruf "To" miliknya——.

 ——Huruf "To" yang tertulis di urutan keenam.

"?"

Kali ini, bukan hanya aku dan Takanashi-san, tapi tanda tanya muncul di atas kepala semua orang. ……Eh, bukan huruf pertama, tapi huruf keenamnya "To"? Itu berarti…… setidaknya jawabannya bukan "Tokiwa Kotaro".

Kotaro-san bergumam, "Wah, ini gawat ya."

"Berarti memang ada kemungkinan ini adalah 'Idola Baru' Takeshi yang tidak kukenal, kan?"

"Nah, kira-kira bagaimana ya?"

Takeshi-san tersenyum penuh arti. Aku dan Takanashi-san refleks saling berpandangan.

……Tadi aku sempat membatin "anak ini serius ya".

Tapi jangan-jangan, benar kata Kotaro-san, itu mungkin nama "Idola"-nya. ……Meski terasa agak mengganjal.

Karena situasi sudah tenang, Kotaro-san mempersilakan lanjut.

"Ah, kalau begitu Hangui, karena hit, silakan lanjut satu giliran lagi."

"Benar juga ya. Kalau begitu——tadinya aku berpikir begitu. Tapi sebelum itu, ada satu hal yang harus kuselesaikan."

"? Apa yang..."

Bahkan Kotaro-san yang bertindak sebagai pemandu tampak heran.

Hangui-san tersenyum misterius... sambil memberikan tatapan yang agak panas pada Kotaro-san, dia perlahan mengulurkan tangan ke papannya sendiri dan membukanya.

"Sayangnya, aku melakukan bunuh diri (self-hit), Tokiwa. Jadi, huruf pertamaku juga 'To'."

"HAAAAAAAHHHHHHH!?"

Aku, Kotaro-san, dan Takanashi-san sontak terperangah. Hanya Takeshi-san yang tetap tersenyum ceria, seolah sudah menduganya.

Takanashi-san bertanya dengan nada bingung yang jarang terjadi.

"Eh, bu-bunuh diri maksudnya apa sih? Itu nggak kayak kamu banget, Akalin. Apalagi huruf pertamanya 'To', itu kan..."

"Benar. Kemungkinan besar itu adalah 'To'-nya Tokiwa. Iya kan, Tokiwa?"

"——!"

Hangui-san menatap Kotaro-san dengan tatapan menggoda.

Tampaknya Kotaro-san pun dibuat berdebar oleh hal ini, hingga dia hanya bisa terpaku tanpa mampu membalas.

……Ada saja orang yang menggunakan strategi segila ini. Melakukan bunuh diri sekaligus melancarkan pendekatan.

Padahal aku juga membuka huruf "To" di urutan pertama sehingga kondisinya seharusnya sama, tapi yang meninggalkan kesan mendalam di akhir jelas adalah Hangui-san.

Saat aku menggertakkan gigi karena kesal, Takanashi-san bergumam sambil menggembungkan pipinya.

"Kalau gitu, jawabanku juga ganti tema jadi 'Orang yang Dibenci', lalu kutulis Tokiwa Kotaro."

"Mana boleh satu orang ganti tema dan jawaban seenaknya sendiri. Tentu saja ditolak."

Kotaro-san tersenyum kecut. Kenyataannya Takanashi-san belum membuka satu huruf pun, jadi jawabannya pasti bukan "Tokiwa Kotaro".

Teguran Kotaro-san agar dia tidak berbohong itu memang benar. Namun, di sisi lain, aku bisa memahami perasaan Takanashi-san hingga dia bicara begitu.

Jika dibiarkan, semuanya akan direbut oleh mereka berdua——"Aliansi Mantan Teman Sekelas".

Firasat itu menimbulkan rasa cemas di hati kami.

Padahal tema utama game ini adalah tentang kencanku, tapi sekarang kami sudah terjerumus ke dalam "Teater Hangui & Takeshi".

Ini tidak boleh dibiarkan. Tapi……

"Eeto…… Terlepas dari bunuh diri tadi, ini masih giliran beruntun Hangui, jadi silakan——"

"Kalau begitu huruf 'Ki'. Ah, ini aku juga bunuh diri lagi, lho."

Ucap Hangui-san sambil segera membuka huruf "Ki" miliknya sendiri.

……Serangan beruntun yang tak terduga setelah serangan kejutan tadi. Sumpah, aku jadi takut pada orang ini.

Dan kali ini, Kotaro-san yang biasanya tegar pun tampak tak bisa menyembunyikan keguncangannya.

Separah apa pun ketidaka-pekaannya, jika sampai bagian "Toki" dari namanya dibuka oleh seorang kenalan, dia pasti akan mulai sadar.

"(Aku kalah telak. Terutama strategi membuka huruf dengan cara 'Bunuh Diri' itu benar-benar efektif. Hal itu memberikan 'beban' pada ucapannya yang tidak akan pernah muncul dalam percakapan sehari-hari. Kh, sampai-sampai memanfaatkan aturan board game untuk urusan hubungan manusia……!)"

Kata "wanita licik" pun terasa terlalu halus untuk ahli strategi ini. Tempat ini benar-benar telah menjadi panggung tunggal Hangui-san. ……I-ini gawat.

"Hi-hit! A-anu, huruf keduaku juga 'Ki'!"

Aku buru-buru mendeklarasikan bahwa aku juga terkena serangan, dan seperti dia, aku membuka huruf "Ki" yang tertulis di urutan kedua papanku. "Ki"-nya Tokiwa.

Dengan ini, informasi yang terbuka secara teknis menjadi seimbang.

……Seharusnya seimbang, tapi……

"……Khu."

Ternyata tidak ada reaksi spesial terhadap papanku. Singkatnya, semua orang cuma merasa "ya iyalah". Benar, fakta bahwa aku menulis "Tokiwa Kotaro" sudah menjadi rahasia umum. Malah, huruf "To" di giliran pertama tadi adalah puncak debar jantung Kotaro-san untukku.

Tapi lihatlah Hangui-san. Meskipun bagian "Toki" sudah terbuka dan hampir semua orang menduga dia menulis nama Kotaro, situasinya tidak se-jelas diriku. Itulah sebabnya kami——bukan, itulah sebabnya Kotaro-san masih terus dibuat berdebar olehnya.

"(Aku benar-benar…… kalah satu poin.)"

Karena kesal, tanpa sadar aku mengepalkan tangan erat-erat di atas pangkuan.

Bahkan dalam posisi kalah telak di permainan Shogi pun, aku jarang merasakan kekecewaan sedalam ini.

Itu karena dalam Shogi, aku tidak pernah sekalipun meremehkan lawan.

Namun dalam hal "cinta dengan Kotaro-san", kalau dipikir-pikir lagi, belakangan ini aku——benar-benar lengah.

Hanya karena sudah menyatakan cinta, aku merasa seolah sudah melakukan skakmat.

Aku pasti lupa bahwa perjalanannya belum sampai ke tahap untuk benar-benar mengunci lawan.

Kelengahan itulah yang menciptakan situasi di mana "Event Kencanku dijadikan batu loncatan".

Aku tidak membenci Hangui-san. Itu adalah langkah yang luar biasa.

Namun di sisi lain, rasa jemawaku sendiri benar-benar memalukan, sampai-sampai jika aku lengah sedikit saja, air mata rasanya mau jatuh——

"Ah, anu. Aku juga hit."

——Tepat saat aku mulai merasa terpojok sendirian, itulah yang terjadi. Kotaro-san menyatakan hit sambil memutar papannya sendiri.

"Aku——huruf keenamku adalah 'Ki'."

"Eh?"

Mendengar itu, mataku sontak membelalak. ……Huruf keenamnya "Ki"? Itu berarti…… Tanpa sadar aku mengeja namaku sendiri satu per satu seperti anak TK. U, ta, ka, ta, tsu, ki, no. ……Huruf keenamnya adalah……

"——!"

Aku tersentak dan menatap Kotaro-san. Dia balas menatapku, lalu membuang muka dengan malu-malu.

Namun hal itu justru menunjukkan dengan sangat jelas…… bahwa dugaanku benar.

Dari pusat tubuhku yang tadinya mendingin, aku merasakan kehangatan mulai meluap.

……Aku tahu itu. Meskipun dia menuliskan namaku, bukan berarti itu akan langsung berujung pada kemenangan.

Di depan Takanashi-san, dia harus tetap menjaga posisi publiknya sebagai orang yang "menyukai Utakata Tsukino".

Jadi, meskipun dia menuliskan namaku untuk tema "Orang yang Disukai" ini, aku sangat sadar kalau itu bukan berarti sesuatu yang besar.

Aku sangat paham. Namun, meskipun begitu. Tetap saja. Siapa yang bisa menyalahkanku jika api kecil mulai menyala kembali di dada ini?

"……Ini sangat Great."

Mendengar gumamanku, Kotaro-san menggaruk pipinya dengan sangat malu. Lalu, Takanashi-san memberikan komentar pedas pada suasana biru di antara kami.

"Sudahlah, nggak usah bahas kencan-kencanan lagi, kalian jadian saja sana, Banjo."

"I-itu bukan urusanmu."

"Habisnya, saling nulis nama satu sama lain di tema begini, itu mah namanya main-main, main-main romantis!"

"Ja-jangan bilang main-main di depan pelanggan! Lagipula, ayo, selanjutnya giliran Mifuru-san."

"He-eh. ……Mati saja sana, Banjo."

"Kekuatan kata-kata tambahanmu luar biasa banget!"

Keduanya mulai melakukan semacam komedi suami-istri yang mengalir begitu saja. Melihat pemandangan itu, Takeshi-san dan Hangui-san pun sampai ternganga.

……Yah, memang interaksi mereka berdua ini terasa sangat "pas".

Kecocokan percakapan yang luar biasa. Jika ada kamera live di Kurumaza, aku mungkin akan terus menonton interaksi mereka.

Lalu, sebelum gilirannya, Takanashi-san menatap papannya dan bergumam "Ah" seolah menyadari sesuatu.

"Maaf-maaf, sebelum itu aku juga hit. 'Ki'. Di urutan kelima."

"Eh?"

Di tengah reaksi aku dan Kotaro-san yang berbarengan, Takanashi-san membuka huruf "Ki" di urutan kelima.

"Tokoh dengan huruf kelima 'Ki' ya, kira-kira siapa ya?"

Saat Takeshi-san sedang bingung menebak, aku dan Kotaro-san…… tidak, kemungkinan Hangui-san juga, sudah bisa menduganya.

Hanya ada satu orang yang terpikirkan sebagai "Orang yang Disukai" yang mungkin ditulis Takanashi-san dengan huruf "Ki" di urutan kelima. U-sa-i-tsu-ki.

Saat aku melirik wajah Kotaro-san dari samping, dia tampak memasang senyum kecut yang agak perih, seolah ingin berkata bahwa dia sudah sangat paham soal itu. Kenyataan itu malah membuatku ikut merasakan sakitnya.

……Mereka berdua ini, bahkan dalam konten board game sepele seperti ini pun, tetap teguh menjaga kebohongan satu sama lain. Tokiwa Kotaro menyukai Utakata Tsukino.

Takanashi Mifuru mencintai Usa Itsuki. Kebohongan itu…… kebohongan untuk melindungi satu sama lain meski harus menyakiti diri sendiri, yang tidak pernah goyah sejak awal.

Mereka terus menjaganya dengan keras kepala, seolah-olah sedang mengabdi pada sesuatu yang mereka yakini.

Bagiku, hal itu justru terlihat seperti wujud kasih sayang yang besar di antara mereka.

Tapi…… justru karena itulah, meskipun aku harus memanfaatkan kebuntuan ini…… meski curang dan kotor sekalipun, aku……!

Untuk mencairkan suasana canggung di meja, Takanashi-san melanjutkan gilirannya.

"Nah, giliranku ya! Enaknya gimana ya~. Jawaban Uta-chan dan Banjo sudah ketahuan banget dan rasanya bisa kuhancurkan kapan saja. Akalin masih agak harus waspada…… tapi yang lebih misterius itu Tamo-san. Apa-apaan sih, huruf keenamnya 'To'."

Ucap Takanashi-san sambil menatap Takeshi-san. Kalau dipikir-pikir, memang jawabannya dialah yang saat ini paling sulit ditebak. Kotaro-san mengangguk setuju.

"Benar juga ya. Sekarang sepertinya kita semua harus bekerja sama untuk memancing informasi tambahan dari Takeshi."

"Kan? Makanya, aku pilih huruf yang sepertinya tidak akan mengenai diriku atau orang lain…… huruf 'Shi'!"

Ucap Takanashi-san sambil menutup huruf "Shi" pada tabel. Hasilnya adalah……

"O, hit!"

Sambil berkata demikian, Takeshi-san membuka huruf "Shi" yang tertulis di urutan ketiga papannya. ……Seketika, Takanashi-san memiringkan kepala.

"Berhasil kena sih, tapi…… urutan ketiga 'Shi' dan urutan keenam 'To'? Nama apa itu?"

Kami pun hanya bisa ikut bingung. Bahkan Hangui-san yang seharusnya paling dekat dengan Takeshi-san pun tampak benar-benar tidak tahu dan mulai berpikir keras.

"Apa Momo-chan punya idola seperti itu?"

Kalau sudah begitu, bukankah kami benar-benar akan menyerah? Meski atmosfer seperti itu mulai mengalir, Takanashi-san tetap melakukan giliran beruntunnya karena bonus hit.

"Kalau gitu selanjutnya huruf 'Ke'!"

Namun kali ini meleset. Tidak ada yang menggunakan huruf "Ke". Dan giliran pun akhirnya sampai padaku. Hangui-san memanggilku dengan nada memprovokasi.

"Ini situasi yang agak sulit ya. Apakah Kamu akan memilih jawaban yang sudah jelas secara aman, atau mencoba mencari tahu jawaban Momo-chan? Fufu, mari kita lihat kemampuan Nona Female Meijin——"

"Tolong huruf 'No'."

Aku mendeklarasikannya seolah memotong ucapan Hangui-san, lalu menutup huruf "No" pada tabel. Pada saat itu juga, Kotaro-san merespons, "Ah, hit."

"Huruf ketujuhku adalah 'No'."

Ucap Kotaro-san sambil membukanya. Informasi yang terbuka sekarang adalah "○○○○○ki-no". ……Yah, meski sudah bisa ditebak, ini sudah hampir pasti sepuluh banding sembilan……

"(Pasti tidak ada lain selain Utakata Tsukino, kan?)"

Aku yakin akan hal itu dan tersenyum tipis. Saat Kotaro-san tampak serba salah menyadarinya, Takanashi-san kembali menyindir dengan tatapan tajam.

"Hei, ini beneran adegan yang boleh diperlihatkan untuk semua umur?"

"Ini bukan bagian dari permainan main-main romantis!"

Saat aku dan Kotaro-san membalas serempak, Takanashi-san dengan cueknya memberikan serangan tambahan berdaya hancur tinggi, "Hoo. Pokoknya menjijikkan ya, Banjo."

Selagi Takanashi-san dan Kotaro-san bertengkar, aku…… mengalihkan pandanganku ke arah Hangui-san. Aku tersenyum tipis sambil memberikan tekanan.

"Nah…… omong-omong, apa Hangui-san tidak perlu membukanya? Huruf 'No'."

"…………"

Hangui-san tetap diam, sementara Takanashi-san tampak heran.

"Kenapa Akalin? Habisnya kalau dipikir-pikir……"

Ucap Takanashi-san sambil menatap papan Hangui-san yang sudah terbuka bagian "Toki"-nya. ……Memang kalau dipikir secara normal, jawabannya adalah "Tokiwa Kotaro". Tidak ada huruf "No" di sana.

Namun……

"……Luar biasa, sang Female Meijin. Aku kalah satu poin di sini."

Hangui-san tersenyum menantang sambil membuka huruf "No" di urutan keempatnya. Hal ini membuat Takanashi-san dan Kotaro-san tersentak kaget.

Namun, aku tidak terkejut dan tetap melemparkan senyum padanya.

"Ini sangat Great. Ah, karena giliran beruntun, tolong buka juga huruf 'Ta'. Terutama Hangui-san."

"……Orang yang menakutkan ya, Utakata Tsukino ini. Benar-benar tidak boleh lengah sedikit pun."

Sambil berkata demikian, Hangui-san membuka huruf "Ta" di urutan keenamnya.

Sementara Kotaro-san dan Takanashi-san sama sekali tidak bisa mengikuti situasi dan tampak bengong, aku berkata, "Ah, aku juga bunuh diri kok," sambil membuka huruf "Ta" di urutan kelima dari nama "Tokiwa Kotaro" milikku, lalu melanjutkan.

"Aku ingin konfirmasi satu aturan di sini. Dalam game ini, tanda petik (dakuten) memang dihilangkan dalam penulisan, kan? Misalnya kalau ada huruf 'Da', maka ditulis sebagai 'Ta'."

"……Konfirmasi aturan di saat seperti ini rasanya terlalu disengaja ya, Utakata Tsukino."

"Aduh, maafkan kelancanganku, Hangui Akari-san."

"???????"

Kami berdua saling bertukar kata tanpa memedulikan anggota lain yang sama sekali tidak paham situasinya. ……Sepertinya, akhirnya aku bisa membalasnya. Sangat Great.

Lalu, Kotaro-san yang terlambat menyadari situasi buru-buru membuka papannya.

"Ah, a-aku juga terkena serangan. Huruf kedua dan keempatku adalah 'Ta'."

Ucap Kotaro-san sambil membalik papannya. Dengan ini, papan di depannya menjadi "○-ta-○-ta-○-ki-no". Aduh, benar-benar, bagaimana ya bilangnya……

"A-ah…… kalau aku yang diberikan cara penyampaian cinta seperti itu, mungkin aku bakal ilfil, Banjo."

"Tolong jangan kasih komentar dengan nada serius begitu! Aku juga nggak bermaksud begini!"

Memang benar, sistem game ini yang "membuka jawaban sedikit demi sedikit" benar-benar memperkuat rasa "gelitik" di antara kami. Sekali lagi, aku dibuat kagum dengan kekuatan yang dimiliki sebuah board game.

Setelah giliranku berakhir, giliran berpindah ke Kotaro-san.

"Eeto, giliranku ya, tapi saat ini yang jawabannya masih belum terbayang adalah……"

Ucap Kotaro-san sambil melihat sekeliling. Aku pun memeriksa kembali status huruf yang sudah terbuka saat ini.

Takeshi Momoai: ○○-shi-○○-to-○

Hangui Akari: To-ki-○-no-○-ta-○

Takanashi Mifuru: U-○-i-tsu-ki-○-○

 (Dua huruf terakhir kemungkinan adalah tanda silang "×")

Utakata Tsukino: To-ki-○-○-ta-○-○

Tokiwa Kotaro: ○-ta-○-ta-○-ki-no

Setelah memastikan situasinya, Kotaro-san menyimpulkan.

"Terlepas dari aku dan Tsukino-san yang sudah ketahuan banget. Mifuru-san pun sepertinya sudah bisa ditebak. Jawaban Hangui meski aku belum tahu, tapi sepertinya Tsukino-san sudah sadar. Kalau begitu……"

Tatapan semua orang tertuju pada Takeshi-san. ……Ya, orang ini sebenarnya siapa sih. Kotaro-san kembali menyuarakan kecurigaannya.

"Hei, Takeshi. Kalau itu benar-benar idola terkenal yang tidak kami kenal, kami bakal menyerah lho?"

Menanggapi hal itu, Takeshi-san menggelengkan kepalanya.

"Jawabanku bukan hal semacam itu kok. Kalian semua pasti bisa menebaknya!"

"Begitu ya. Yah, aku percaya sih dengan literasi board game milik Takeshi."

"Fufu, aku juga selalu menaruh kepercayaan penuh pada Tokiwa-shi. Tidak terbatas pada board game saja."

"Hm, terima kasih, aku juga begitu, Takeshi. ……Tapi meski begitu…… hmm……"

……Eh, lho?

Tadi mereka berdua baru saja memamerkan hubungan saling percaya yang sangat mendalam secara alami, kan?

Tapi mereka sendiri tidak terlihat terganggu dan terus melanjutkan permainan.

……Entahlah, ada kesucian yang berbeda dari interaksi Takanashi-san di sini.

Setelah merenung cukup lama, Kotaro-san berkata dengan kurang yakin.

"Eeto kalau begitu, sekalian untuk memastikan informasi Mifuru-san, aku pilih huruf 'I'."

Kotaro-san menyerang sambil menghindari bunuh diri. Sesuai dugaan, Takanashi-san membuka huruf "I" di urutan ketiganya dengan wajah kesal.

Yah, dengan ini sudah pasti jawabannya adalah "Usa Itsuki". Berarti, masalahnya tetap ada pada……

"Uuh, aku juga hit. Huruf keempatku adalah 'I'."

"O, mantap kena Takeshi! Dengan ini……!"

Kotaro-san senang. Benar, sekarang huruf yang terbuka di papannya adalah "○○-shi-i-○-to-○".

Jika petunjuknya sudah sebanyak ini, sisanya tinggal………… ………….

"EH, NGGAK TAHU!"

Reaksi semua orang selain Takeshi-san berbarengan.

"Beneran deh, Tamo-san! Di antara karakter-karakter pintar begini, kenapa kamu yang paling misterius sih!?"

"Inilah sisi menakutkan dari Takeshi, Mifuru-san. Dia punya kekuatan board game aneh di luar strategi atau keberuntungan. Dia benar-benar teman yang seru diajak main di satu meja."

"Tidak, tidak, aku sendiri justru merasa waktu bersama Tokiwa-shi adalah yang paling menyenangkan!"

"Aaah, Momo-chan tidak sadar sedang bermesraan dengan Tokiwa lagi……!"

"Ada satu orang yang otaknya mulai terpanggang dengan cara yang aneh ya. Yah, aku juga sedikit merasakannya sih."

Seketika suasana menjadi riuh.

……Fumu, kegaduhan dan gairah aneh ini mungkin tidak akan didapatkan jika hanya bermain berdua atau bertiga.

Mengetahui pesona baru dari board game ini benar-benar sangat Great.

……Eh, bukan saatnya mengagumi hal itu.

"Kotaro-san, karena hit Kamu dapat satu giliran lagi…… apa Kamu akan mengincar Takeshi-san lebih lanjut?"

"Iya Tsukino-san. Sepertinya aku harus benar-benar fokus pada Takeshi, tapi……"

Meski berkata begitu, selama jawabannya belum terbayang, satu-satunya strategi adalah menebak asal-asalan sambil berhati-hati agar tidak bunuh diri.

Kotaro-san sepertinya sampai pada kesimpulan yang sama, dan berkata seolah menyerah.

"Daripada melakukan hal sia-sia…… lebih baik aku hapus huruf 'Wa' saja dulu."

Ucap Kotaro-san sambil menaruh kepingan di huruf "Wa". Seketika Hangui-san menggeliat secara berlebihan.

"Iyaaa~n, dengan ini jawabanku jadi ketahuan sampai bagian 'Tokiwa'. Kyaa, malunya~."

"Hangui……"

Kotaro-san merasa jengah dengan reaksi Hangui-san yang dibuat-buat.

Aku juga membuka huruf "Wa", tapi yah, kalau kasusku sudah terlambat. Tidak ada reaksi dari siapa pun. Sedihnya.

Nah, giliran berikutnya adalah Takeshi-san. Dia melihat jawaban di sekitarnya, lalu sebagai strategi yang wajar, dia mengincar bagian yang sudah hampir pasti——yaitu menghancurkan "Tokiwa Kotaro" milikku.

"Kalau begitu, maaf ya, huruf 'Ko'. Dan karena giliran beruntun, aku hapus juga huruf 'U'."

Aku, Takanashi-san, dan Kotaro-san mengerang karena terkena serangan.

Terlebih lagi, Hangui-san yang mendapat giliran berikutnya segera memberikan serangan pamungkas dengan menunjuk huruf "Ro", hingga akhirnya muncul orang pertama yang tereliminasi.

——Yaitu aku.

To-ki-wa-ko-ta-ro-u

Seorang Female Meijin tereliminasi paling awal sambil merasakan malu karena seluruh nama "Orang yang Disukai" terpampang nyata.

……Eh, lho, jangan-jangan aku ini sebenarnya sangat lemah main board game?

Di saat semua orang memberikan senyum kecut "sudah kuduga" terhadap jawabanku, Hangui-san tidak menunjukkan raut senang karena telah menyingkirkanku, dan mulai memikirkan cara menggunakan giliran beruntunnya.

……Sepertinya dia pun masih belum tahu jawaban Takeshi-san, jadi dia tidak bisa lengah.

Namun pada akhirnya dia sepertinya tidak menemukan jawaban, dan demi menghindari kemacetan game karena berpikir terlalu lama, dia memilih langkah aman untuk menyerang orang lain.

"Kalau begitu, giliran beruntun untuk huruf 'Tsu'."

Akibatnya, Takanashi-san dan Kotaro-san terkena serangan. Saat keduanya mengerang, aku kembali melihat sekeliling untuk memastikan status saat ini.

Takeshi Momoai: ○○-shi-i-○-to-○

Hangui Akari: To-ki-wa-no-○-ta-○

Takanashi Mifuru: U-tsu-i-tsu-ki-○-○

Tokiwa Kotaro: U-ta-ta-ta-tsu-ki-no

Melihat Takanashi-san dan Kotaro-san yang tinggal satu huruf lagi menuju eliminasi, mereka tidak punya pilihan selain strategi "bunuh sebelum dibunuh".

Namun masalahnya, mereka berdua belum tahu jawaban Hangui-san maupun Takeshi-san.

Secara pribadi, aku sebenarnya sudah punya dugaan soal jawaban Hangui-san.

Tapi justru karena dialah yang membuatku tereliminasi lebih awal, sekarang aku tidak bisa ikut campur.

Orang mati tidak bisa bicara. Benar-benar strategi yang licik, Hangui Akari.

Di tengah situasi itu, giliran berikutnya adalah Takanashi-san.

Karena tidak tahu jawaban Hangui-san maupun Takeshi-san, hal terbaik yang bisa dia lakukan hanyalah menebak asal-asalan, dan itu——

"Hmm…… Ya sudah, karena beneran nggak tahu, asal saja deh, huruf 'Ri'."

"Eh."

Seketika, ekspresi Hangui-san yang tadinya santai langsung mendung.

Saat Takanashi-san bertanya "Apa kena?", dia mengerang kesal sambil membuka papannya.

"……Huruf ketujuh adalah 'Ri'."

"O, mantap-mantap. Kalau kata Uta-chan, ini namanya 'Great'!"

"I-inilah kenapa aku benci tipe orang sepertimu……!"

"Eeh? Hmm, kayaknya itu kalimatku deh. Iya kan, Akalin?"

"Kh…… Takanashi Mifuru, Kamu ini benar-benar……!"

Dari samping, ucapan Takanashi-san terdengar seperti pembicaraan biasa, bukan sebuah balasan yang hebat, namun anehnya Hangui-san tampak sangat terguncang.

Sesuai pernyataannya, mungkin dia benar-benar payah menghadapi tipe orang seperti Takanashi-san.

Hangui-san balas melototi Takanashi-san dan melanjutkan.

"Jangan-jangan Kamu masih dendam karena aku memberimu peran pelaku yang merepotkan di Murder Mystery ya?"

"Kira-kira gimana ya~. Lagian Akalin, apa boleh kamu ngajak berantem orang yang lagi dapet giliran beruntun?"

"Kh……!"

Hangui-san tersudut oleh Takanashi-san.

……Ya, Takanashi-san memang musuh bebuyutan bagi para ahli siasat.

Jika sebuah permainan memiliki unsur keberuntungan sedikit saja, dia bisa membalikkan keadaan. Hanya saja……

Takanashi-san menatap Takeshi-san sembari mengernyitkan alis, tampak serba salah.

"Sejujurnya, aku lebih ingin papan Tamo-san yang terbuka. Hmm……"

"Keberuntungan Takanashi-shi memang mengerikan, ya. Mohon jangan terlalu kejam padaku."

"Entah kenapa, tidak seperti Akalin atau Banjo, keberuntunganku sepertinya tidak mempan menghadapi Tamo-san."

Aku mengerti. Kemampuan Takanashi-san itu pada dasarnya adalah "Spesialis Penghancur Ahli Siasat".

Bisa dibilang, kemampuannya punya kecocokan yang buruk dengan orang yang murni polos dari lahir. Faktanya……

"Eeto, kalau begitu huruf 'E'!"

"Sayang sekali, aku tidak punya huruf itu."

"Kuh, dugaanku meleset!"

Begitu dia membidik Takeshi-san, Takanashi-san yang biasanya tak terkalahkan oleh keberuntungan pun mulai kehilangan taringnya.

Omong-omong, sepertinya tidak ada huruf "E" juga di jawaban orang lain.

Giliran pun berpindah ke Kotaro-san. Dia mengeluh, "Aduh, gawat."

"Sepertinya…… aku tidak punya peluang menang di sini."

"Fufu, menyerahlah dan serahkan dirimu padaku, Tokiwa. Dalam segala hal."

Rasanya tadi ada penulis Murder Mystery yang baru saja mengatakan sesuatu yang luar biasa secara sepintas, tapi mungkin itu hanya perasaanku saja.

Kenyataannya, Kotaro-san mengabaikan ucapan itu sepenuhnya seolah tidak peduli. Hangui-san pun tampak sedikit lesu.

……A-apa ya, rasanya aku mulai sedikit kasihan pada Hangui Akari.

Orang ini terlalu sering berakting sebagai dalang di balik layar, sampai-sampai perasaannya tidak tersampaikan sama sekali kepada orang-orang yang dia cintai di saat-saat penting.

Buktinya, tepat pada saat ini……

"Hmm…… oke, kalau sudah begini, setidaknya aku akan membunuh Hangui dengan seluruh kekuatanku!"

"Eh, tunggu, kenapa begitu, Tokiwa!?"

Hangui-san panik mendengar pernyataan berbahaya yang tiba-tiba itu. Kotaro-san membalasnya dengan santai.

"Kenapa? Ya jelas karena pertengkaran antara aku dan kamulah yang menjadi pemicu taruhan ini."

"Ah."

Hangui-san tertegun seolah baru menyadarinya. ……Ternyata orang ini, meski sangat cerdas, bisa jadi sangat ceroboh di bagian yang penting, ya? Entah kenapa, aku merasa ada kemiripan di antara kami.

Dia mulai memprotes Kotaro-san dengan sangat panik.

"Tu-tunggu dulu, Tokiwa. Mari kita gencatan senjata sementara. Kita berdua bekerja sama mencari tahu jawaban Momo-chan dulu……"

"Jawaban Hangui itu To-ki-wa-no-○-da-ri, ya. ……Ngomong-ngomong, tadi Tsukino-san sempat bilang soal tanda petik…… itu pas huruf 'Ta' terungkap……"

"To-Tokiwa, Tokiwa. Hei, Tokiwa!"

Karena rasa paniknya mencapai puncak, Hangui-san akhirnya mulai melompat-lompat kecil di tempat.

……Ada apa dengan orang ini, tiba-tiba dia jadi imut sekali, ini sudah pelanggaran.

Kalau diperhatikan, Takeshi-san juga sedang tersenyum lebar. Sepertinya aku mulai paham salah satu alasan mengapa Takeshi-san menganggap Hangui-san sebagai sahabat terbaiknya meski telah terjadi berbagai hal.

Sementara itu, Kotaro-san yang memang punya otak encer, tentu saja sampai pada satu kesimpulan yang masuk akal.

"'Ta' dibaca 'Da'…… 'To-ki-wa-no-○-da-ri'? ………… Ah."

"Tokiwa! A-anu, aku minta maaf soal menyuruh Takanashi-san membunuhmu di Murder Mystery tadi……!"

"Terima kasih atas permintaan maafnya, Hangui. Kalau begitu, aku akan menanggapinya dengan tulus juga."

"Tokiwa……"

"Aku hapus huruf 'Hi'!"

"Tokiwaaa!"

Kotaro-san tanpa ampun mengeliminasi Hangui-san yang matanya mulai berkaca-kaca.

……Kejam sekali. Mendengar cerita masa SMA mereka, mau tidak mau kami cenderung berpihak pada Kotaro-san dan menganggap Hangui-san sebagai sosok yang menyebalkan.

Namun jangan-jangan, keseimbangan kekuatan dalam kehidupan sehari-hari mereka memang seperti ini. Saling melengkapi…… atau mungkin, serasi.

"Uuu…… Tokiwa bodoh……"

Hangui-san mengeliminasi dirinya sendiri sambil memamerkan jawabannya dengan mata berkaca-kaca, benar-benar seperti kembali ke mentalitas anak kecil.

Ya…… jawabannya adalah To-ki-wa-no-hi-da-ri (Di sebelah kiri Tokiwa).

Dengan kata lain, dalam urutan duduk saat ini——

"Oho, jadi maksudnya adalah aku, ya. Terima kasih banyak, Syuri-chan."

"Sama-sama!"

Hangui-san menjawab sambil merengut.

……Entah kenapa, bukankah keimutan orang ini sangat licik?

Apakah ini yang disebut orang-orang sebagai "Gap Moe"? Mengerikan sekali.

"Tapi Hangui, secara aturan jawabannya harus berupa 'kata benda', bukankah itu sudah masuk hitungan kalimat?"

"Aduh, maaf ya. Anggap saja itu mirip seperti 'Nakatomi no Kamatari', jadi tolong dimaafkan."

"Yah, karena temanya bukan 'Nama Orang yang Disukai' tapi 'Orang yang Disukai', kurasa mau bagaimana lagi."

"Benar, benar sekali! Fuh!"

"Ya, setidaknya aku sudah paham kalau jawaban Takeshi juga berada di batas tipis aturan."

Tiga orang mantan teman sekelas itu tampak asyik mengobrol sendiri.

Bagaimanapun, dengan ini yang tersisa tinggal Takeshi-san, Takanashi-san, dan Kotaro-san. Terlebih lagi, Takanashi-san dan Kotaro-san berada dalam posisi terdesak karena akan tereliminasi jika satu huruf lagi terbuka, apalagi nama mereka sudah jelas-jelas diketahui.

Di sisi lain, jawaban Takeshi-san masih belum jelas sama sekali——tepat saat kami berpikir demikian.

"Waduh, maaf. Di balik eliminasi Syuri-chan, ternyata aku juga terkena serangan. Huruf 'Hi' yang tadi."

"Eh?"

Di tengah keterkejutan semua orang, Takeshi-san membuka panel huruf kelimanya. Dengan kata lain……

○-○-shi-i-hi-to

"…………"

Begitu melihat itu, beberapa spekulasi terlintas di benak kami. Di saat yang sama, Kotaro-san yang memegang giliran beruntun langsung melakukan serangan cepat, "Kalau begitu, huruf 'Ku'!"

Namun, tidak ada satu pun panel yang terbuka. Kotaro-san membelalakkan mata dan bertanya pada Takeshi-san.

"Lho, bukannya 'Ku-wa-shi-i-hi-to' (Orang yang Berwawasan)? Takeshi, kamu kan suka orang yang ahli dalam suatu bidang, kan? Seperti Gori-shin-san…… eh, ah, iya, huruf 'Wa' tadi sudah dihapus, ya. Aku gagal."

"Fufu, Kamu tampak panik, Tokiwa-shi. Lagipula, aku punya orang yang lebih aku sukai."

Sambil berkata demikian, Takeshi-san melemparkan senyum penuh arti kepada Kotaro-san, lalu melanjutkan permainan.

"Ah, sekarang giliranku, ya. Pertama, huruf 'Ka' untuk mengeliminasi Tokiwa-shi. Lalu, untuk giliran beruntun dari bonus hit, aku juga akan melakukan bunuh diri, tapi aku akan menggunakan kata 'Sa' yang bisa memberikan serangan pamungkas kepada Takanashi-shi. Dengan ini, hanya aku yang bertahan, dan permainan pun berakhir."

"Ah."

Seketika, dengan teknik dewa secepat kilat, Takeshi Momoai mengeliminasi Kotaro-san dan Takanashi-san secara gemilang dan meraih kemenangan.

Di tengah rasa tak percaya saat Kotaro-san dan Takanashi-san membuka panel terakhir mereka, Hangui-san menjelaskan kepada aku dan Takanashi-san dengan helaan napas.

"Kalian paham, kan? Inilah Momo-chan. Dia bukan ahli siasat, bukan juga hanya sekadar punya keberuntungan besar, tapi dia punya kekuatan luar biasa di saat kritis. Bisa dibilang dia punya 'Protagonist Correction' yang membuatnya menang di saat harus menang."

"Ah, sisi itunya mungkin agak mirip Banjo."

"Aku setuju dengan Takanashi-san. Kalau dipikir-pikir, fakta bahwa dia memberikan jawaban konyol di langkah pertama tadi, terasa sangat mirip dengan kebiasaan Kotaro-san yang suka menahan diri. ……Aku telah lengah."

"Ti-tidak sampai sehebat itu, kok. Itu hanya kebetulan, kebetulan saja."

Takeshi-san tertawa kecil seolah merendah. ……Apa ya, semakin aku berinteraksi dengannya, semakin aku sadar kalau orang ini memanglah "orang yang paling cocok dengan Kotaro-san".

"Bagaimanapun, selamat atas kemenangannya, Takeshi."

Kotaro-san memimpin suasana, dan kami semua bertepuk tangan merayakan kemenangannya.

Takeshi-san tersenyum malu-malu. Ya, dia tetaplah sosok yang pantas menyandang atribut "Malaikat" atau "Tuan Putri".

Meskipun gaya bicaranya telah merusak segalanya.

"Ah, ngomong-ngomong, sebenarnya apa jawaban Takeshi tadi?"

"Eh? Ah, maaf, aku belum membukanya sampai akhir. Ini dia."

Takeshi-san membuka dua huruf terakhir, termasuk huruf "Sa" yang tadi dia gunakan untuk bunuh diri. Dan jawabannya adalah……

Ya-sa-shi-i-hi-to (Orang yang Baik)

"…………"

Seketika, kami semua saling berpandangan dalam diam. Di saat Takeshi-san bertanya dengan bingung, "A-ada apa?", kami semua merenung.

Merenungi semua perang urat saraf yang licik dan tindakan berdasarkan nafsu bernama cinta yang kami lakukan sepanjang game ini.

Lalu, begitu kami sekali lagi menatap jawaban yang "terlalu menyilaukan" untuk tema "Orang yang Disukai" itu, tanpa sadar kami semua bergumam serempak dengan helaan napas.

"……Rasanya, aku benar-benar minta maaf, ya."

"Minta maaf untuk apa!?"

Takeshi-san yang satu-satunya tidak paham situasi hanya bisa kebingungan. Kotaro-san menepuk bahunya dan berbicara padanya.

"Nah, sekarang katakanlah keinginanmu, Wahai Sang Juara. Kamu punya hak itu, Takeshi."

"Keinginan? Eeto…… soal apa, ya?"

"Maksudku, soal kencanku dan Tsukino-san. Kamu mau menjadikannya seperti apa?"

Mendengar ucapan Kotaro-san, Takeshi-san akhirnya teringat, "Ah, benar juga."

"Awalnya ini adalah perselisihan tentang kencan kalian berdua, ya. Syuri-chan yang ingin ikut, atau dilarang ikut, lalu Takanashi-shi yang juga ingin berpartisipasi, atau lebih baik pergi berdua saja…… intinya bentrokan berbagai argumen."

"Iya, benar. Jadi, apa maumu soal kencanku dan Tsukino-san, Takeshi?"

"Mu. Jika ditanya begitu, aku belum benar-benar memikirkannya."

"Bisa juga lho kalau kamu mau membatalkannya saja, Momo-chan."

Tiba-tiba Hangui-san menyelipkan saran mengerikan dengan senyum jahat dari samping. Aku refleks melotot ke arahnya, namun dia tanpa rasa bersalah membalas, "Habisnya semua terserah Momo-chan. Benar kan, Utakata sang Nona Female Meijin?" sembari memprovokasiku.

Kh, aku benar-benar benci Hangui Akari! Jahat sekali sifatnya! Mengganggu jalan cinta orang lain itu benar-benar tindakan yang biadab——

"Tsukino-san? Ada apa tiba-tiba memegang dahi begitu? Apa kepalamu sakit?"

"Ti-tidak, jangan khawatir Kotaro-san. Hanya saja…… tiba-tiba aku teringat ada seorang pecatur wanita yang baru-baru ini dengan berani menyela jalan cinta orang lain."

"Ha, haha."

Di saat Kotaro-san mengernyitkan dahi karena heran, Hangui-san dan Takanashi-san sedang memprovokasi Takeshi-san yang sedang berpikir keras sambil bersedekap.

"Bagiku, yang paling penting adalah semua orang merasa senang."

"Kalau begitu, bukankah pembatalan kencan adalah hal yang paling adil, Momo-chan?"

"Jangan dong, bukannya seharusnya kamu mendukung Banjo dan Uta-chan secara normal? Tamo-san."

……Apa ya, komposisi gambar ini terlihat seperti seseorang yang sedang dijepit oleh iblis dan malaikat. Lagipula, kalau dipikir-pikir lagi, bukankah aneh kalau nasib kencanku dan Kotaro-san berada di tangan orang lain?

Meski aku merasa tidak enak pada Takeshi-san yang sudah menang, tapi di sini aku harus menuntut pembatalan kontrak——tepat saat aku hendak bergerak.

"Fumu, aku mengerti. Aku sudah sampai pada kesimpulan."

Akhirnya, Takeshi-san menjatuhkan keputusannya. Seketika, kegaduhan yang tadi terjadi langsung sunyi senyap. Kami semua menahan napas sembari memperhatikannya.

Dan Takeshi-san pun…… mengucapkan jawaban yang benar-benar mencerminkan dirinya.

"Hal yang aku inginkan terkait kencan Tokiwa-shi dan Utakata-shi. Itu adalah……"

 

"Jadi, akhirnya diputuskan bahwa kalian semua akan pergi bersama. Dengan kata lain, menjadi triple date, begitu Nifu?"

"Iya, begitulah."

Sambil dengan sabar melanjutkan proses membuka ritsleting Nifu-kun, aku menyelesaikan ceritaku tentang kejadian hari itu dan menghela napas panjang.

"Bagiku, tentu saja aku ingin berkencan berdua saja, tapi yah, taruhan adalah taruhan. Ditambah lagi dengan suasana dan jawaban itu…… rasanya aku tidak tega untuk menolaknya."

"Ah, usulan yang murni mengandung seratus persen niat baik memang lebih kuat dari logika mana pun Nifu. Pecatur sok pintar sepertimu tidak akan punya kesempatan Nifu."

"Benar sekali. Setidaknya jika dia bilang 'Tolong batalkan kencannya', aku masih bisa melawan. Tapi ketika dia datang dengan senyuman dan bilang 'Mari kita semua bermain dengan gembira!', maka……"

"Dia benar-benar sosok yang hebat Nifu ya, Takeshi Momoai."

"Sungguh."

Aku tidak menyangka akan muncul musuh alami tipe lain setelah Takanashi Mifuru dan Hangui Akari. Entah kenapa, Kurumaza benar-benar tidak pernah membosankan.

Sambil tersenyum kecut dan memberikan tenaga pada ritsleting itu, tiba-tiba aku merasakan sensasi yang berbeda di ujung jariku. Ini……

"……Nifu-kun, sayangnya sepertinya ini akan segera terbuka."

"Kenapa kamu melaporkannya dengan nada kecewa begitu Nifu!? Biasanya kamu akan bilang 'Great' Nifu!"

"Ini sangat Great."

"Itu 'Great' yang paling menyebalkan sepanjang sejarah Nifu!"

Nifu-kun marah-marah. Haah…… jika aku membuka ini, karakter maskot yang imut ini akan menghilang, dan majikan sekaligus guru sekaligus bibiku yang cerewet akan kembali. Benar-benar disayangkan.

"……Guru. Benarkah Anda tidak ingin terus hidup sebagai Nifuf-kun saja?"

"Kenapa kamu memberiku pilihan yang bahkan tidak layak untuk dipertimbangkan Nifu?"

"Tentu saja. Mohon bantuannya mulai sekarang juga, Nifu-kun! Sangat Great!"

"Itu 'Great' yang paling menyegarkan sepanjang sejarah Nifu! Sudahlah, cepat buka Nifu! Aku sudah di batas limit Nifu!"

"Mau bagaimana lagi, ya."

Aku menghela napas dalam, lalu mulai menarik ritsletingnya dengan lancar.

Ah…… membuka punggung karakter maskot dengan tanganku sendiri rasanya sangat tidak tega.

Selamat tinggal, Nifu-kun.

Akhirnya, dari celah ritsleting yang sudah terbuka sepenuhnya, melonjaklah seorang wanita setengah telanjang yang sangat seksi.

"Fuu, akhirnya bisa bernapas."

Wanita cantik yang menyebarkan aroma keringat dengan segar sembari mengeluarkan bagian atas tubuhnya dari kostum——Tatsumi Marisa.

Aku menatap Nifu-kun yang kini terkulai lemas di pinggangnya, lalu bergumam dengan helaan napas panjang.

"……Haah, benar-benar disayangkan."

"Aku juga merasa sayang karena keponakanku sendiri merasa menyesal atas kepulanganku."

"Ah, akhiran 'Nifu'-nya sudah hilang……"

"Ugh. ………… Aku…… di dalam diriku, 'aku' yang itu masih hidup Nifu."

"Nifu-kun!"

Aku memeluk guruku yang setengah telanjang itu dengan erat. Sang guru mengelus kepalaku dengan wajah malas, lalu seolah teringat sesuatu, dia bertanya.

"Ah, ngomong-ngomong soal kelanjutan kencan tadi."

"……Aku ingin Anda menambahkan 'Nifu' di akhir kalimat, Nifu."

"………… Meskipun kamu kalah telak dalam pemilihan anggota kencan Nifu. Tapi setidaknya, kapan dan di mana kalian akan melakukannya, kamu masih bisa memilih sendiri kan, Tsuku-chan Nifu?"

"Itu benar, Nifu."

"Ini malah jadi festival Nifu. Setidaknya bagian itu bicaralah dengan normal Nifu."

Mendapat teguran dari bibiku, aku menjawab "Baiklah" sembari melepaskan pelukan. Bibiku yang mengeluarkan tubuh bagian atasnya dari Nifu-kun berkata, "Lagipula."

"Utakata Tsukino bukan tipe wanita yang akan menyerah hanya karena rintangan seperti itu, kan Nifu?"

"Iya, tentu saja. Meskipun tidak bisa berdua saja——aku tidak selemah itu sampai mengendurkan seranganku."

"Hou? Menarik Nifu. Kalau begitu coba beritahu aku Nifu. Apa yang akan dilakukan oleh sang Nona Female Meijin, Utakata Tsukino——demi melakukan 'skakmat' pada Tokiwa Kotaro? Kapan, di mana, dan kencan seperti apa yang kamu rencanakan Nifu?"

Mendengar pertanyaan dari bibiku yang merupakan mantan Nifu-kun itu.

Aku…… sembari sedikit merona. Mendeklarasikan rencana "Serangan" yang luar biasa kepadanya.

"Pada hari terakhir batas waktu, di sebuah taman bermain air raksasa, aku berniat melancarkan Kencan Baju Renang."




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close