Chapter Terakhir
Persiapan untuk Tidak Menangis
Akhir
pekan duel yang dinanti pun tiba. Sekitar dua jam perjalanan dengan kereta dan
bus dari Ogikubo, kami sampai di sebuah fasilitas water park raksasa
dengan kolam renang indoor berbentuk kubah besar yang bisa dinikmati
tanpa mempedulikan musim maupun cuaca.
Di
ruang ganti wanita, aku berganti pakaian dengan baju renang yang sedikit
"menyerang", lalu melangkah dengan ragu menuju area lapangan depan
pantai (area di depan kolam ombak) tempatku berjanji temu dengan Kotaro-san.
Seingatku,
sejak SD hingga SMA aku tidak pernah mengikuti pelajaran renang campuran
laki-laki dan perempuan.
Jadi
kalau dipikir-pikir, mungkin ini adalah kali pertama dalam hidupku
memperlihatkan sosok berbaju renang kepada lawan jenis sebayaku.
"……Begitu
rupanya…… ini…… yang pertama……"
Berbagai
emosi kompleks yang bergejolak di dada membuat detak jantungku semakin kencang.
Setelah
berjalan beberapa saat, area lapangan depan pantai mulai terlihat.
Katanya area
ini akan sangat padat pengunjung saat musim panas, tapi sekarang sudah memasuki
masa sepi tepat sebelum penutupan musim dingin.
Pengunjungnya
jarang, terasa sedikit sunyi, namun justru karena itulah tempat ini cocok untuk
kencan yang tenang.
Di tengah
lapangan itu, aku menemukan punggung seorang pemuda yang sedang melamun menatap
riak ombak yang datang dan pergi di kolam dangkal. Itu dia. Kotaro-san.
Melihatnya
mengenakan celana renang half-pants sepanjang lutut, meski hanya
punggungnya saja, bagian atas tubuhnya yang polos sukses membuatku terpana.
Karena
biasanya dia selalu memakai celemek dan identik dengan citra "pelayan
kafe", rasanya seolah aku sedang melihat sesuatu yang tidak seharusnya
kulihat.
Namun,
sebagai pemegang gelar Utakata sang Female Meijin, tidaklah pantas jika
aku sampai salah tingkah hanya karena melihat lawan jenis yang setengah
telanjang.
Aku mengatur
napas, lalu kembali melangkah menuju ke arahnya——namun, dengan langkah yang
sangat amat lambat.
"(Aku
tidak boleh goyah hanya karena melihatnya berbaju renang. Justru, seharusnya dia yang
melihatku……)"
Begitu
sampai pada pemikiran itu, rasa cemas tiba-tiba memenuhi dadaku.
Apa yang akan
dia katakan setelah melihat penampilanku?
……Seandainya
dia menunjukkan wajah kecewa, aku pasti tidak akan bisa bangkit lagi.
Meski
begitu, aku tidak boleh gentar.
Karena
hari ini adalah "Hari Terakhir" yang sangat penting.
Hari
terakhir yang krusial, hari di mana keberhasilan atau kegagalan pengakuanku
akan ditentukan.
Aku
memantapkan hati, lalu memanggil punggungnya.
"Maaf
membuatmu menunggu."
Mendengar
kata-kata itu, dia menoleh. Aku pun menegang.
Lalu, saat
Kotaro-san menangkap sosokku di matanya.
Dia tidak
menjadi salah tingkah sepertiku tadi, dan tentu saja tidak merasa ilfil.
Dia hanya
tersenyum lembut dan membalas dengan sikap pria budiman.
"Sama
sekali tidak. Aku juga baru saja sampai. ……Lagipula, memang apa pun yang kamu
pakai selalu cocok ya. Iya, menurutku ini sangat bagus."
"A-ah,
terima kasih……"
Sungguh
sangat Great. Peristiwa pertama dalam hidupku memperlihatkan baju renang
kepada orang yang kusukai sepertinya berakhir dengan kesuksesan besar. Ini
benar-benar pertanda yang bagus. ……Iya.
Yah, hanya
ada satu poin saja——
"Beneran, itu cocok banget
buatmu——Usa-kun! Hoodie dan celana pendek itu!"
"Terima
kasih ya, Tokiwa-kun!"
——Kecuali
fakta bahwa saat ini aku berada dalam mode "Usa Itsuki"!
Melihat
potret masa muda yang begitu menyimpang, di mana "sosok berbaju renang
untuk orang yang disukai" yang pertama dalam hidupku justru dalam wujud
penyamaran pria total, aku pun hanya bisa memasang senyum melankolis.
Entah apa
yang ada di pikiran Kotaro-san, dia terus memberikan pujian dengan tatapan mata
yang berbinar-binar polos.
"Wah,
tapi beneran deh, Usa-kun itu kalau pakai baju apa pun rasanya selalu keren ya.
Hebat banget."
"Be-begitu
ya……?"
Ya ampun, dia
bisa-bisanya memuji baju renang rival cintanya sampai segitunya. Bukankah dia
terlalu baik hati?
Di saat aku
merasa tak habis pikir, Kotaro-san melanjutkan bicaranya.
"Tapi,
apa memakai hoodie lengan panjang di kolam renang indoor begini
tidak kepanasan?"
"Eh.
A-ah…… aku, anu, kulitku lemah terhadap sinar matahari. Jadi sebisa mungkin
ingin kututupi."
"Oh,
begitu ya? Ah, memang sih, kulit Usa-kun itu terlihat sangat cantik ya. Lihat
saja, kakimu itu sudah seperti model wanita……"
Mendengar dia
berkata begitu sambil menatap kaki telanjangku yang menyembul dari bawah celana
pendek.
Aku……
dengan pipi yang memerah, langsung membalasnya.
"……Tokiwa-kun,
dasar mesum."
"Mesum!?
Eh, baru lihat daerah pergelangan kaki saja sudah kena vonis begitu!?"
"Ka-kalau
dilihat dengan tatapan menjilat begitu, tidak peduli bagian mana pun, rasanya
tetap memalukan tahu."
"Mungkin
benar juga sih. Tapi, aku tidak punya niat aneh, beneran cuma refleks berpikir
kalau itu cantik secara jujur……"
"……Uuuh."
"Ma-maaf,
sungguh. Aku tidak menyangka Usa-kun bakal semalu itu. Ah, tapi."
Ucap
Kotaro-san, lalu dia melanjutkan dengan senyum jahil.
"Melihat
Usa-kun yang sedang malu begitu, menurutku itu cukup segar dan imut juga
sih."
"To-Tokiwa-kun!"
"Haha!"
Kami pun
bercanda ria dengan riangnya. ……Meski ini sama sekali berbeda dari bayanganku,
tapi yah, begini pun boleh juga……
"……Heh,
kukira bakal Usa x Tokiwa, ternyata malah Tokiwa x Usa ya."
"Kalau
diputar sekali lagi, ini malah terasa seperti jalan yang normal."
"!"
Sadar-sadar,
entah sejak kapan di belakang kami sudah berdiri dua orang gadis——Hangui Akari
dan Takeshi Momoai.
Hangui Akari
mengenakan bikini hitam dengan balutan syal renda yang memberinya aura
misterius.
Sedangkan
Takeshi Momoai terlihat sangat menyilaukan dengan baju renang oranye yang
sangat cocok dengan kulit cokelat dan proporsi tubuhnya yang sehat.
Intinya,
keduanya adalah wanita yang sangat menarik bahkan dari sudut pandang sesama
perempuan.
Kenyataannya,
sejak mereka muncul, pandangan dari pengunjung sekitar…… terutama dari kaum
pria, benar-benar luar biasa.
Sebaliknya,
kalau bicara soal diriku…… saat ini aku hanyalah orang yang sedang menyamar
jadi pria dengan hoodie dan celana pendek.
"……Tokiwa-kun.
Kamu boleh kok lihat pergelangan kakiku lebih banyak lagi."
"Eh,
tiba-tiba kasih izin apa? Enggak usah, lagian aku bukan penganut fetis
pergelangan kaki atau semacamnya……"
"Fuu-n.
Jadi maksudmu, kamu lebih ingin melihat baju renang Hangui-san dan Takeshi-san
ya. Begitu ya. ……Mesum."
"Kejam
banget sih, kenapa hari ini semua penilaianmu padaku harus berakhir dengan kata
'mesum'?"
Sambil
membalas sindiran itu, Kotaro-san kembali mengalihkan pandangannya ke arah
Hangui-san dan Takeshi-san.
Ternyata di
luar dugaan, dia tidak terlalu salah tingkah melihat baju renang mereka berdua
dan bersikap sangat natural.
"Kalian
berdua cocok memakainya."
"Terima
kasih banyak! Tokiwa-shi juga terlihat keren!"
"Terima
kasih, Takeshi."
Ya, mereka
berdua saling membalas reaksi yang benar-benar murni seperti "teman".
Saat aku melamun melihat pemandangan itu, Hangui Akari perlahan mendekat ke
arahku dan membisikkan penjelasan dengan volume yang tidak terdengar oleh
mereka berdua.
"Semakin
banyak bagian tubuh Takeshi yang terekspos, Tokiwa cenderung akan menyegel sisi
'pria' dalam dirinya sendiri. Dia pasti akan langsung masuk ke mode pria budiman yang sempurna."
"Ah……
itu informasi tambahan yang membuatku merasa paham sekaligus lega, tapi di saat
yang sama juga terasa agak menyedihkan."
"Beneran
deh. Yah, tapi justru bagian dari diri Tokiwa yang seperti itulah yang
kusukai."
Hangui-san
mengucapkan perasaannya terhadap Kotaro-san dengan santai, lalu menjauh dariku.
……Entahlah,
sungguh, orang ini sepertinya tipe yang besok-besok bisa saja tiba-tiba
mengirimkan kartu pos pengumuman "Sudah Menikah" dengan Kotaro-san
tanpa peringatan.
Meskipun
di sisi lain, fakta bahwa sama sekali tidak terlihat perasaan cinta yang
menempel lengket di antara mereka berdua adalah sebuah penyelamat bagiku.
Saat
aku sedang memikirkan hal itu, kulihat Hangui-san dengan niat menggoda yang
meluap-luap mendekati Kotaro-san sambil meliuk-liukkan tubuhnya.
"Hei,
hei, Tokiwa. Tadi kamu bilang padaku kalau baju renangku 'cocok' sekalian saat
memuji Takeshi, kan?"
"Eh? Ah,
mungkin saja…… tapi memangnya kenapa, Hangui?"
"Enggak,
aku cuma mikir apa kamu nggak mau menarik ucapanmu. Soalnya, itu sama saja
dengan kamu memberikan penilaian kalau aku 'imut' juga, kan? Bagi Tokiwa yang
bermusuhan denganku, apa itu tidak masalah?"
Sambil
terkikik geli, Hangui-san terus memprovokasi Kotaro-san.
Namun, bagi
Hangui-san maupun diriku, Kotaro-san memberikan serangan balik dari sudut yang
tak terduga dengan sangat santai.
"……?
Enggak, terlepas dari soal permusuhan atau apa pun, aku memang sudah menganggap
Hangui imut dari dulu kok."
"Heh?"
"……?
Habisnya kamu memang imut, kan? Secara normal. Ah, bukan secara normal deng.
Imut banget."
"!?!?!?"
Mungkin
karena jawabannya terlalu di luar dugaan, mata Hangui-san berputar-putar dan
wajahnya memerah padam.
……Ugh,
meskipun menyebalkan, tapi di saat seperti inilah orang ini benar-benar
terlihat imut.
Dia
menunduk seolah ingin membuang muka dari Kotaro-san, lalu membalas dengan
terbata-bata.
"E-eh,
ya, anu, a…… te-terima kasih? Tokiwa……"
"?
Sama-sama. Tapi untuk apa? Aku kan cuma mengatakan fakta yang sebenarnya……"
"Ya,
anu, sudah deh, beneran, maaf, ampuni aku……Bisa meledak tahu……"
"???"
"Fuhihi,
Tokiwa-shi dan Syuri-chan masih tetap akrab seperti biasanya ya."
Takeshi-san tersenyum geli melihat
pemandangan itu. Jika dia sudah melihat hal semacam ini sejak masa SMA, tentu
saja dia akan berpendapat bahwa "mereka berdua bisa menjadi sangat
akrab".
……Yah, kalau aku sih, tidak berniat
hanya berpangku tangan melihat hal itu terjadi.
"Ngomong-ngomong, apa Mifuru tidak
bersama kalian?"
Saat aku menanyakan hal itu untuk
mengubah topik, Hangui-san menjawab.
"Ah, meskipun kami semua dari
kelompok ruang ganti wanita, bukan berarti kami terus bergerak bersama-sama.
……Termasuk si gadis bergaya tomboi itu, kan?"
Ucap Hangui-san sambil menatapku dengan
nada menggoda. Kenapa sih orang ini hobi sekali melempar bola-bola berbahaya.
Lalu, entah sadar atau tidak dengan adu taktik di antara kami, Kotaro-san tiba-tiba melontarkan sebuah pengamatan yang cukup kritis.
"Ah,
kalau dipikir-pikir aku juga sama sekali tidak melihat Usa-kun di ruang ganti
pria tadi."
"Ugh.
Itu... yah, begitulah."
Saat aku
tertawa untuk menutupi kegugupanku, kali ini Takeshi-san melemparkan sebuah
"bola berbahaya" dengan sangat polos... Tidak, justru karena
kepolosannya itulah serangannya jadi mematikan.
"Ngomong-ngomong,
bukankah Utakata-shi yang merupakan tokoh utama dari acara jalan-jalan ini
belum datang?"
"Ugh..."
Di hadapanku
yang sedang berkeringat dingin tanpa ada yang tahu, Kotaro-san menjawab,
"Soal itu..."
"Tadi
aku sempat jelaskan sedikit di jalan, katanya dia ada pekerjaan mendadak jadi
agak terlambat. Barusan dia juga kirim LINE, sepertinya masih butuh waktu
sedikit lagi."
"Fumu,
itu sangat disayangkan. Padahal bermain bersama dengan keenam orang lengkap adalah yang
terbaik."
"Iya,
benar sekali."
Kotaro-san
dan Takeshi-san—dua orang di pihak yang "benar-benar tidak tahu
apa-apa"—bergumam dengan nada yang tulus merasa kecewa.
Melihat
mereka berdua, aku dan Hangui-san pun melontarkan tsukkomi di dalam
hati.
(Mustahil
"keenam orang" itu bisa berkumpul bersama seumur hidup, tahu.)
Sayang
sekali, entah kenapa hanya satu di antara Usa Itsuki atau Utakata Tsukino yang
bisa eksis di satu waktu. Kecuali kalau kami mendapat bantuan dari Kaito Kid.
Lalu,
Hangui-san kembali melontarkan kata-kata jahil kepada Kotaro-san.
"Ara,
tapi bukankah itu bagus bagi Tokiwa? Berkat itu, kamu bisa menikmati baju
renang para gadis... baju renang Takanashi Mifuru, tanpa perlu merasa sungkan
karena diawasi Utakata Tsukino."
"Tunggu,
Hangui, apa yang kamu katakan di depan Usa-kun... di depan pacarnya Mifuru-san,
sih?"
"Duh,
maaf ya. Tapi bukannya fakta kalau kamu merasa sangat lega tanpa ada Utakata
Tsukino di sini? Karena dengan begitu, kamu tidak perlu menjaga perasaan orang
lain."
Hangui Akari
terus mengulang pertanyaan dengan niat buruk seperti biasanya. Orang ini
benar-benar ya, kenapa dia selalu bisa menusuk tepat di bagian yang paling
tidak disukai orang... saat aku sedang memikirkan hal itu.
"Itu...
memang benar sih, aku tidak bilang kalau perasaan semacam itu sama sekali tidak
ada."
Mendengar
Kotaro-san menjawab sambil tertawa kecut, tanpa sadar aku merasa depresi.
Begitu... ya.
Baginya, aku masihlah sosok yang membuatnya harus merasa sungkan. Tentu saja
aku masih jauh dibandingkan Takanashi-san, bahkan dari posisi teman seperti
Hangui-san atau Takeshi-san pun, aku masih terasa jauh.
Di saat
hatiku perlahan-lahan tenggelam semakin dalam.
"Meskipun
begitu,"
Kotaro-san
melanjutkan bicaranya sambil tersenyum malu-malu, dan mengucapkan kata-kata
yang sama sekali tidak kuduga.
"Tetap
saja aku merasa jauh lebih menyenangkan jika Tsukino-san ada bersama kita.
Kuharap dia bisa segera bergabung."
Itu adalah...
perasaan jujur darinya yang murni tanpa kepura-puraan sedikit pun, yang
tersampaikan justru karena ucapan itu tidak ditujukan kepadaku, Utakata
Tsukino, secara langsung.
Tanpa sadar
aku hampir saja menangis. Namun, aku berusaha keras menahannya. Karena tidak
masuk akal jika Usa Itsuki tiba-tiba merasa terharu di sini.
Saat aku
sedang berjuang keras menahan dorongan rasa bahagia itu, aku menyadari
Hangui-san sedang menatapku dengan tatapan mata yang entah kenapa terasa
lembut.
Seolah-olah
dia sedang berkata, "Syukurlah untukmu."
...Ah,
mungkinkah orang ini sebenarnya tidak bermaksud jahat saat mengangkat topik
tadi?
Sepertinya
dia juga sedikit menghargaiku sebagai teman, sungguh sangat Great—
"Huh,
aku tidak yakin pecatur wanita yang muram seperti dia bisa membuat suasana
pesta kolam renang ini jadi seru."
"Iya,
kamu memang tipe orang yang seperti itu ya."
Tanpa sadar
aku melontarkan tsukkomi keras dalam mode Usa. Benar-benar rugi. Aku benar-benar merasa rugi karena
sempat mengevaluasi ulang dirinya di dalam hati.
Di
saat Kotaro-san memiringkan kepala dengan ekspresi seolah bertanya,
"Memangnya Usa-kun dan Hangui pernah punya hubungan sedekat itu ya?",
Takeshi-san menyela dengan polosnya.
"Tapi
Utakata-shi juga kasihan ya. Menurutku acara jalan-jalan seperti ini adalah
sebuah event yang mencakup perjalanannya juga."
"Benar
kan, Takeshi. Kalau bicara hari ini saja, di dalam kereta tadi kita bisa main
'Sea Turtle's Soup' atau 'Word Wolf'."
"Benar
sekali. Itu tadi sangat menyenangkan!"
Melihat
keduanya bercerita dengan senyum lebar, Hangui-san menyela dengan tawa kecut.
"Duh,
aku tidak menyangka bakal dipaksa main board game... atau lebih tepatnya
analog game? Bahkan sampai di dalam kereta. Beginilah susahnya kalau
jalan-jalan bareng para otaku board game..."
"Meski
mengeluh begitu, sejauh yang kulihat, Syuri-chan adalah yang paling
bersenang-senang tadi."
"Mo-Momo-chan!
Ti... tidak begitu, kok."
"Menurutku
juga Hangui terlihat sangat menikmatinya. Yah, kedua game itu kan punya elemen pemecahan
misteri yang mirip dengan Murder Mystery. Dari awal aku sudah mengira
kalau Hangui bakal suka."
"Duh,
kenapa Tokiwa malah sibuk menusuk seleraku sih. Harusnya kamu buat Takanashi
Mifuru saja yang bersenang-senang."
"Kalau
dipikir-pikir benar juga. Tapi entah kenapa, karena biasanya kamu selalu
cemberut, aku jadi merasa sangat senang kalau melihat Hangui tampak gembira.
Benar kan, Takeshi?"
"Benar
sekali, Tokiwa-shi."
"U-uuu...!"
...Entahlah,
kalau dilihat sekali lagi, bukankah kecocokan mereka bertiga sebagai teman itu
terlalu luar biasa?
Interaksi
saling serang antara Takanashi-san dan Kotaro-san memang hebat, tapi
pemandangan mereka bertiga ini juga terasa sangat berharga.
...Dibandingkan
dengan mereka, aku sendiri... saat aku menyadari diriku mulai menjadi pesimis,
aku segera menepuk kedua pipiku dengan tangan.
"? Ada
apa, Usa-kun?"
"Ti-tidak,
bukan apa-apa. Lagipula,
game di kereta tadi memang seru kok. Terutama 'Word Wolf', aku merasa sangat
kagum. Tidak menyangka game semacam 'Werewolf' bisa dimainkan dengan semudah
itu."
Itu adalah
kejujuran yang tulus. 'Word Wolf' pada dasarnya adalah game yang bisa dimainkan
hanya dengan satu ponsel.
Aplikasi akan
menentukan tema obrolan, dan semua orang akan berdiskusi tentangnya.
Namun, di
antara mereka ada satu orang (atau lebih tergantung pengaturan) yang diberikan
tema yang berbeda... begitulah permainannya.
Misalnya jika
tema semua orang adalah "Nikujaga", tapi si serigala diberikan tema
"Kari".
Diskusi
mungkin akan berjalan lancar saat membahas soal daging atau kentang, tapi
tiba-tiba si serigala bilang "rasanya pedas rempah-rempah ya", dan
semua orang pun mulai curiga.
Kotaro-san
dan Takeshi-san menceritakan daya tariknya secara bergantian.
"Fakta
kalau game ini bisa dimainkan dengan praktis lewat satu aplikasi tapi tetap
seru dan punya replayability tinggi, membuat 'Word Wolf' menjadi salah
satu jenis permainan yang mendekati ideal."
"Benar
sekali. Bagi kami yang biasanya menuntut kualitas komponen dari sebuah board
game, game ini sukses membuat kami sadar kembali saat memainkannya
sesekali."
"Benar,
benar."
"Wah,
wah, ini dia, rasa terasing yang sangat nostalgia."
Hangui Akari
menunjukkan senyuman yang disertai aura tekanan yang aneh. Aku pun menyapanya.
"Tapi
sejujurnya Hangui-san juga menikmati 'Word Wolf', kan?"
"I-itu
karena game-nya mengandung elemen yang cukup mirip dengan Murder Mystery...
terutama yang biasa kubuat..."
"Begitu
ya? Contohnya seperti apa?"
"Hmm,
kalau dipaksa menjelaskan, mungkin rasanya seperti ada satu orang yang bergerak
dengan aturan berbeda, dan dia harus bersikap sedemikian rupa agar tidak
ketahuan oleh sekelilingnya."
"Begitu
rupanya."
"Fufu,
berdasarkan pengalaman ini, mungkin aku akan memasukkan karakter gadis yang
menyamar jadi pria di karya Murder Mystery berikutnya."
"Bo-boleh
saja kan, tidak masalah."
Jawabku,
alias Usa Itsuki, dengan pipi yang sedikit berkedut. Apakah orang ini sedang
melampiaskan stresnya padaku karena tadi dibuat deg-degan oleh Kotaro-san?
Aku
pun mengalihkan pembicaraan ke Kotaro-san tentang Murder Mystery.
"Soal
Murder Mystery yang dibuat Hangui-san untuk Kurumaza, apakah sudah bisa
dimainkan dalam waktu dekat?"
"Ah,
iya, mungkin mulai minggu depan sudah bisa diperkenalkan. ...Meski
persiapannya cukup membuatku menderita."
Kotaro-san menatap Hangui-san dengan
tatapan penuh dendam. Hangui-san
mengabaikannya begitu saja.
"Ara,
itu pasti berat ya Tokiwa. Tapi kalau bicara soal itu, aku pun mengalami
penderitaan yang tak terduga tahu. Terutama karena pemeran pelakunya yang
aktingnya sangat kaku seperti kayu..."
"Siapa
yang kamu bilang aktingnya kaku?"
Sebuah
suara menyela kalimat Hangui-san dari arah belakang. Saat kami semua menoleh,
di sana berdiri seorang idola papan atas—bukan, seorang wanita cantik berbaju
renang dengan aura luar biasa yang bisa membuat orang salah mengira dia adalah
publik figur di media. Dialah Takanashi Mifuru.
Mengenakan
bikini merah muda yang serasi dengan warna rambutnya, dia memancarkan kehadiran
yang sanggup membuat siapa pun yang melihatnya terpana.
Jika
Takeshi-san adalah tipe yang memiliki daya tarik seperti model majalah dewasa,
maka Takanashi-san memancarkan kesegaran seperti seorang idola yang pertama
kali memamerkan sosok berbaju renangnya.
Sebagai
sesama wanita, aku hampir saja keceplosan bilang "Sangat Great",
tapi aku buru-buru menutup mulut. Kulihat Takeshi-san dan Hangui-san tentu saja
terpesona.
Bahkan
Kotaro-san yang seharusnya memasang mode "Pria Budiman" lebih dari
biasanya hari ini pun, sampai menganga tak berkedip melihatnya.
Mendapat
tatapan dari semua orang di sana, Takanashi-san melayangkan protes dengan wajah
malu yang jarang diperlihatkan.
"A-apa
sih? Duh, berhenti deh kasih reaksi kayak gitu."
Mendengar
kata-kata itu, aku pun tersadar bahwa sebagai "Pacar, Usa Itsuki",
akulah yang seharusnya memberikan reaksi pertama. Aku pun tersenyum dan
menyapanya.
"Baju
renangnya cantik banget ya, Mifuru."
"Eh, aku
senang mendengarnya. Kamu juga terlihat paling menarik di antara para pria lho,
Usa-kun."
"Waduh,
gadis menyebalkan ini malah memberikan sindiran halus tentang peringkat
terbawah sambil memuji pacarnya ya."
"Wuaah,
rasa 'nggak mau pegang' dari bidang dadamu itu entah kenapa bikin ngakak ya,
Banjo."
"Nggak
perlu bilang hal sekejam itu juga kan!?"
"Maaf,
maaf. Sebagai permintaan maaf karena sudah melukaimu, kamu boleh kok pegang
dadaku... tapi kalau kamu pikir aku bakal kasih izin beneran, kamu salah besar
ya, Banjo."
"Aku
tidak minta hal semacam itu, kan!? Kenapa tatapan matamu jadi penuh penghinaan begitu!? Ah, sudahlah..."
Kotaro-san
mengacak-acak rambutnya sendiri dengan ekspresi bingung. Lalu, Takanashi-san...
mendekatinya dengan langkah yang sedikit ragu.
Dia
membungkukkan badannya sedikit seperti sedang berpose, lalu menatap Kotaro-san
dari bawah.
"Ngomong-ngomong, menurut Banjo,
gimana baju renangku?"
"Hah? Berani-beraninya kamu tanya
begitu setelah alur tadi. Yang kayak gitu sih, tentu saja—"
"Tentu saja?"
"............ Ra-rasanya itu bukan
sesuatu yang pantas diucapkan di depan pacarmu sendiri."
"Heh? Hooh? Fuu-n? Jadi begitu ya?
Heee."
Sambil senyum-senyum mesem,
Takanashi-san menatap wajah Kotaro-san dengan raut bahagia.
Yah, kalau aku diperlakukan seperti itu
setiap hari, aku pasti sudah langsung KO dalam sekali serang... saat aku
memikirkan hal itu, aku kembali teringat posisiku sebagai "Usa
Itsuki", lalu aku berdehem kecil.
"Sudah,
sudah, Mifuru. Jangan menggoda Tokiwa-kun terus."
"Iya,
iya. Sikap posesif khas pacar seperti itu pun aku suka lho, Usa-kun."
Takanashi-san
langsung melemparkan tanda cinta kepadaku, membuat Kotaro-san menerima serangan
telak.
...Entah
kenapa, di saat seperti ini aku jadi merasa kasihan padanya sampai-sampai
melupakan posisiku sendiri.
Lalu,
Takeshi-san bertepuk tangan dengan keras untuk menarik perhatian kami.
"Dengan
ini semua orang sudah berkumpul kecuali Utakata-shi yang akan menyusul nanti!
Kalau begitu, sekali lagi..."
Seolah ingin
mengeringkan suasana canggung yang sempat berantakan karena masalah asmara
tadi.
Dan sebagai
"Pemenang AIUE Battle" yang mencetuskan ide jalan-jalan ini. Dia
memimpin aba-aba untuk memulai hari dengan senyuman ceria yang khas darinya.
"Hari
ini mari kita semua menikmati kolam renangnya!"
"Ooooh!"
◆◇◆
Tokiwa
Kotaro
Bagi orang
sepertiku, kata "bermain air" itu tidak memberikan gambaran yang
jelas.
Jika
"bermain pasir" mungkin masih masuk akal, tapi cakupan bermain
menggunakan air rasanya tidak terlalu luas.
Aku malah
berpikir kalau menyediakan satu buah dadu saja pasti jauh lebih bisa dimainkan.
Jadi
sejujurnya, saat acara kencan ini diputuskan, di dalam hati aku sempat
membatin, "Kolam renang ya... kolam renang..." Tapi kesimpulannya.
Bermain air
itu ternyata seru sekali. Hidup pengelola fasilitas kolam renang indoor
raksasa!
Sekadar
saling mencipratkan air, lomba renang, seluncuran air, bahkan hanya berjalan di
dalam air setinggi pinggang saja pun.
Meskipun
tidak ada aturan atau adu taktik sama sekali, hanya dengan berbagi
"pengalaman yang sedikit berbeda dari keseharian (bermain air)"
bersama teman-teman, itu sudah cukup menyenangkan.
Malah, kalau
dipikir-pikir ada pengalaman buruk saat bermain board game di mana lima
sampai enam pemain menghabiskan waktu seharian tapi hanya merasa "repot
dan sama sekali tidak seru"...
"Haah, bermain air ternyata
benar-benar sangat Great."
Sambil menggumamkan kesan itu, aku
berendam sendirian di soft water jacuzzi untuk beristirahat.
Mungkin karena sedang bukan musimnya,
pengunjung hari ini sangat sedikit sehingga kami bisa menggunakan setiap
fasilitas tanpa perlu mengantre.
Berkat itu, salah satu bak jacuzzi
yang disediakan kini terasa seperti milik pribadi.
"............"
Aku menatap langit-langit sambil
tenggelam dalam pikiran.
Alasan kenapa aku memisahkan diri saat
yang lain sedang asyik bermain bukan hanya karena butuh istirahat. Karena, hari
ini...
"Jangan-jangan Banjo akhirnya
bakal punya pacar hari ini ya."
"Tolong
jangan masuk ke dalam pikiran orang lain dengan seenaknya begitu."
Sadar-sadar,
sesosok malaikat sudah berdiri di sampingku—Mifuru-san dengan baju renangnya.
Tanpa
sengaja aku melihatnya dari sudut pandang rendah, membuatku bingung harus
menatap ke mana sehingga aku memalingkan wajah.
Entah
dia sadar atau tidak dengan kegugupanku, dia bilang "Permisi ya" lalu
masuk ke dalam jacuzzi.
Yah,
karena ini adalah fasilitas berendam campuran berbaju renang, itu hal yang
wajar, tapi kenyataan bahwa aku sedang berendam di spa bersama Mifuru-san
membuatku sangat deg-degan.
"Iya,
iya, aku paham kok kalau perjaka sepertimu pasti ingin berpikir
sendirian."
"Kalau
sudah tahu, kenapa Anda malah datang menggangguku?"
"Tentu
saja untuk mendorong punggungmu, Banjo."
"Eh, itu
maksudnya..."
Menanggapi
harapanku, Mifuru-san tersenyum manis.
"Habisnya
kamu tidak kunjung lengah saat berjalan di pinggir kolam sih."
"Ah,
ternyata itu rencana serangan fisik biasa ya."
Sepertinya
dia berniat membuntutiku dan mendorongku dari belakang, tapi karena
kesempatannya tidak kunjung datang dan aku malah masuk ke jacuzzi, si
gadis gal ini akhirnya menyerah untuk menjahiliku dan ikut masuk berendam.
...Duh,
bukankah perilakunya terlalu imut?
Apalagi
seperti biasa, jaraknya benar-benar tidak masuk akal.
Bahkan
dalam kondisi berbaju renang pun dia duduk sangat dekat sampai-sampai kulit
kami hampir bersentuhan, membuatku sangat cemas.
Aku sama
sekali tidak bisa tenang untuk memikirkan soal pengakuan Tsukino-san.
Terpaksa, aku
memutuskan untuk mengalihkan kesadaran dengan mengobrol bersamanya.
"Eeto
Mifuru-san, apa tidak apa-apa kamu tidak main bareng Usa-kun dan yang
lainnya?"
"Ah.
Itu, mereka bertiga malah asyik tanding retro game di fasilitas semacam game
center di sana. Bagiku itu agak membosankan jadi aku keluar saja. Lagipula, aku kan tidak tertarik
dengan segala hal yang berbau game."
"Sebagai
pelayan kafe board game, kamu benar-benar sosok yang unik ya."
Duh,
orang ini sebenarnya kenapa ya mau bekerja paruh waktu di Kurumaza?
Seingatku di
awal dia bilang "ada sedikit ketertarikan", tapi kalau dipikir
sekarang, itu pun sangat mencurigakan.
Yah, meski
begitu, alasan utamanya tidak mungkin bisa kusimpulkan hanya dengan informasi
yang kupunya sekarang.
...Ah, benar
juga, bicara soal kesimpulan.
"Ngomong-ngomong
Mifuru-san, sebentar lagi kita akan meluncurkan Murder Mystery buatan
kami, 'Murder on the Board', apakah peran pelakunya sudah aman? Aku dengar dari
Hangui kalau kamu cukup kesulitan."
"Ah, itu
ya. Hmm, gimana ya. Kurasa sih bakal aman... tapi tergantung situasi, mungkin
aku bakal minta tolong ke Akalin buat sedikit mengubah pengaturannya."
"Eh, apa
ada elemen yang menuntut kemampuan akting tingkat tinggi sesulit itu?"
Padahal aku
sudah meminta Hangui untuk membuatnya sebagai permainan bagi pemula.
Jika beban
pemeran pelakunya sebesar itu, mungkin perubahan pengaturan memang tidak
terelakkan.
Melihatku
mengernyitkan dahi, Mifuru-san membalas dengan sedikit panik.
"Ah,
maaf, maaf, ini bukan salah Akalin kok. Lebih ke masalahku sendiri."
"Maksudnya?
Kemampuan
akting Mifuru-san tidak sanggup mengejarnya?"
Mendengar
pertanyaanku, Mifuru-san berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Yah,
dengan bantuan Akalin, aktingku sendiri sebenarnya sudah tidak masalah. Tapi
sekarang masalahnya justru muncul dari metode latihan yang kuambil untuk
itu."
"Masalah
dalam metode latihan? Ah, apa kamu melakukan sesuatu yang ilegal?"
"Iya.
Karena stres kerja lembur, Takanashi Mifuru akhirnya menggunakan obat-obatan
terlarang."
"Kalau
begitu habislah Kurumaza."
Dan
habis juga masa mudaku. Ini malah jadi mirip kasus "Idol Oshi
Meninggal" milik Takeshi.
Orang
yang kucintai ternyata hancur karena obat-obatan di tempat yang tidak
kuketahui. Benar-benar tidak tertahankan.
Saat
aku pura-pura menangis tersedu-sedu, Mifuru-san melanjutkan dengan santai.
"Nah,
kesampingkan bercandaan itu."
"Bukankah
candaanmu itu terlalu parah untuk sekadar diabaikan?"
Yah, aku juga
tidak benar-benar mengira dia pakai narkoba sih.
"Pokoknya,
'tergantung situasi' mungkin akan ada perubahan pengaturan, tapi bagaimanapun
juga aku yakin 'Murder on the Board' sudah bisa dimulai di toko minggu
depan."
"Dimengerti.
Tapi, kapan penilaian 'tergantung situasi' itu akan keluar?"
"Hmm?
Kalau itu sih, sepertinya bakal diputuskan hari ini."
"Eh?"
Diputuskan
hari ini? Apa maksudnya?
Kalau bicara
soal hal penting yang diputuskan hari ini... bagiku, aku hanya terpikir soal
masalah Tsukino-san.
Tapi, aku
tidak merasa hal itu berhubungan dengan Murder Mystery atau rencana
akting Mifuru-san. Apakah itu dua hal yang berbeda?
Saat aku
sedang memiringkan kepala kebingungan sendirian, kali ini Mifuru-san yang
bertanya balik.
"Ngomong-ngomong, bagaimana
denganmu?"
"Persiapan? Masalah?"
"Eh? Ah,
kalau itu sih aman. Belanja barang-barang yang dibutuhkan sudah selesai, dan
yang paling penting, tugas melipat seribu burung kertas yang paling berat pun
sudah tuntas."
"Oh, itu
ya. Tapi, apa melipat burung kertas itu beneran perlu? Sebagai pemeran pelaku,
aku tidak merasa kasus itu butuh bukti yang serepot itu."
"Ah...
rahasia di antara kita saja ya, sejujurnya tidak ada keharusan benda itu harus
berupa burung kertas."
"Lho,
ternyata nggak perlu!?"
"Iya.
Nggak perlu sih, tapi benda itu memang digunakan secara mengesankan saat
mengungkap pelaku, jadi aku merasa itu 'boleh juga' untuk meningkatkan
nilainya. ...Dan sebagai orang yang hobi melakukan persiapan matang, aku harus
melakukannya, kan. Duh, Hangui beneran menyebalkan ya."
"Bener
banget."
Kami berdua
menghela napas memikirkan penderitaan masing-masing. Kalau ini cuma soal
ketidakadilan, aku pasti bakal lebih marah.
Tapi
sejujurnya, saat seorang kreator mengeluarkan ide yang bikin kita berpikir
"beban kerjanya gila sih, tapi idenya bagus", kita jadi merasa
tertantang untuk menjawabnya.
Sesaat
percakapan kami terhenti. Di tengah suara jacuzzi dan hangatnya air yang
perlahan meluluhkan ketegangan tubuh dan hati, Mifuru-san bertanya.
"Tapi
Banjo, kenapa tiba-tiba terpikir buat memperkenalkan Murder Mystery? Apa
karena kamu sudah balikan sama Akalin?"
"Balikan
apa sih. Terlepas dari apakah istilah itu bisa dipakai buat teman, yah, itu
memang salah satu alasannya."
"Cara
bicaramu itu kayak masih ada alasan lain saja?"
"Ah,
tidak, sebenarnya bukan masalah besar sih. Hanya saja..."
Aku
menggerakkan tanganku seolah mengaduk air jacuzzi dengan pelan sambil
melanjutkan.
"Aku
merasa tidak ada salahnya membawa angin baru ke Kurumaza. Akhir-akhir ini aku mulai berpikir
begitu."
Seolah-olah
Tsukino-san telah mengubah atmosfer diriku yang sempat stagnan dan terpuruk
sendirian akibat cinta bertepuk sebelah tangan pada Mifuru-san, dengan cara
yang tak terduga.
"...Begitu
ya. ...Mungkin saja."
Entah
kenapa Mifuru-san menunduk dan memberikan persetujuan dengan emosi yang sulit
dibaca. Dia sempat terdiam sejenak, lalu tiba-tiba mengubah topik.
"Hei,
Banjo, akhirnya di 'Langkah Tersegel' itu, kamu tulis apa?"
"A-apa
sih tiba-tiba sekali."
"Nggak
apa-apa. Cuma pengin tahu sedikit saja."
"Begitu
ya. Tapi seperti dugaanku, rasanya sudah jadi kewajiban kalau aku harus
mengungkapkannya di depan Tsukino-san terlebih dahulu."
"Iya
sih. Aku paham soal itu."
Di sana dia
berhenti sejenak, lalu kali ini dia menatap mataku secara langsung dengan
serius. Di saat aku menelan ludah, dia melanjutkan dengan senyuman.
"Tergantung
nama yang tertulis di sana, mungkin aku juga harus sedikit memantapkan hati...
atau semacamnya."
"Mifuru-san..."
Kemudian, aku
menatap matanya dalam-dalam. Sadar-sadar, sebuah nama sudah hampir keluar dari
tenggorokanku. Aku merasa terdorong untuk mengucapkannya saat ini juga.
Namun, saat
itu wajah seseorang melintas di pikiranku—dan aku berhasil menahannya di detik
terakhir.
Meski begitu,
aku masih belum bisa melepaskan pandangan dari Mifuru-san. Aku merasakan panas
yang sama seperti yang kurasakan saat kencan di Shinjuku hari itu di antara
kami. Sadar-sadar, jarak tubuh kami pun perlahan-lahan terkikis—
"Kotaro-san."
—dan
tiba-tiba, seseorang memanggilku dari arah belakang. Karena aku sedang
terhanyut dalam "dunia kami berdua" baik dalam arti baik maupun
buruk, aku pun refleks menoleh ke arah suara dengan sikap yang sedikit kasar
tanpa berpikir.
Namun
itu adalah——Langkah yang sangat buruk, langkah yang sangat amat buruk. Karena,
sosok yang berada di arah kami menoleh adalah——
"Saat
kencan pertama denganku, kamu malah asyik berendam berduaan dengan wanita lain
ya. Memang Kotaro-san yang sangat populer ini punya posisi yang hebat,
ya?"
——Utakata
Tsukino sang Female Meijin, itulah orangnya. Mengenakan baju renang
putih yang memadukan kesan berani dan suci, pasangan kencan resmiku hari ini
yang memancarkan daya tarik luar biasa layaknya seorang malaikat.
Aku sudah
terlihat persis seperti suami yang tertangkap basah sedang berselingkuh, dan
menjawabnya dengan gemetar.
"Tsu-Tsukino-san.
Halo. Ka-kamu sampai sedikit lebih awal dari jadwal ya..."
"Iya,
urusanku selesai lebih cepat. Berkat itu, aku bisa bergabung dengan kalian
berdua lebih awal——"
Meskipun dia
memberikan penjelasan itu dengan senyuman yang manis.
Namun di
akhir kalimat, dia mengeluarkan sebuah "tekanan" yang sangat dahsyat
yang belum pernah dia keluarkan selama bermain board game, bahkan selama
pertandingan resmi yang kulihat di streaming.
"Benar-benar
sangat Great."
Kalimat
andalan yang sanggup membuat kami berdua gemetar ketakutan itu pun terlontar.
◆◇◆
Utakata
Tsukino
Awalnya,
rencananya aku akan bergabung sebagai "Utakata Tsukino" sedikit lebih
lambat dari ini.
Karena
rencananya, hari ini aku akan membagi kencan menjadi dua bagian, bagian pertama
sebagai "Usa Itsuki" dan bagian kedua sebagai "Utakata
Tsukino".
Menurut
rencana awal, seharusnya aku masih akan menghabiskan waktu sekitar satu jam
lagi sebagai "Usa Itsuki".
Namun, aku
tidak bisa membiarkannya begitu saja. Penyebabnya tentu saja adalah
Takanashi-san.
Kejadian itu
terjadi saat aku sedang asyik bermain arcade game bersama Hangui-san dan
Takeshi-san dalam wujud Usa Itsuki.
Tiba-tiba
saja Takanashi-san meninggalkan kami dengan alasan yang sangat klise seperti
"Aku tidak tertarik game".
Indra
keenamku bereaksi terhadap hal ini.
Jika
diibaratkan dalam shogi, rasanya seperti merasakan firasat bahaya saat lawan
sedang diam-diam melancarkan "Langkah Kemenangan".
Oleh
karena itu, aku segera mempercepat jadwal dan berlari menuju ruang ganti.
Aku
mengganti wujud dari Usa Itsuki menjadi Utakata Tsukino, dan sekarang akhirnya
bisa bergabung dengan mereka berdua.
Terkait
hal ini, aku harus bilang kalau ini benar-benar langkah yang bagus.
Siapa
sangka, mereka berdua ternyata sedang membangun suasana yang manis sambil
berendam di air yang sama.
Menghadapi
diriku yang terus memancarkan tekanan meskipun secara lahiriah tetap tersenyum.
Keduanya
langsung melompat keluar dari jacuzzi seolah-olah pasangan selingkuh
yang melompat keluar dari tempat tidur, lalu memberikan alasan sembari menjaga
jarak yang aneh satu sama lain.
"Tsu-Tsukino-san!
Ini, lihat, kami cuma kebetulan saja masuk ke jacuzzi bareng..."
"Be-benar
sekali. Ini kan fasilitas berendam campuran berbaju renang, jadi bagi kami
nggak ada hal yang perlu dicurigai kok, Banjo."
"Te-tentu
saja! Iya, benar sekali..."
Kepada mereka
berdua yang masih berusaha melontarkan alasan, aku menjawab dengan tegas.
"Untuk
ukuran orang yang merasa tidak punya hal yang perlu dicurigai, kalian berdua
jadi sangat cerewet ya."
"Ugh!"
"Kurasa
reaksi kalian berdua saat inilah yang menjadi jawaban yang paling fasih
dibandingkan apa pun..."
Ucapku,
sambil berjalan perlahan di sekeliling mereka dengan senyuman, aku melanjutkan.
"Tapi
tidak apa-apa kok bagiku. Iya, aku sama sekali tidak keberatan. Karena, saat
ini aku belum menjadi pacar maupun istri Kotaro-san. Yah, meskipun bagi Utakata
Tsukino itu tidak masalah... tapi entahlah bagaimana pendapat Usa Itsuki-san
ya?"
.......Hmm,
setelah diucapkan, aku baru sadar kalau kalimat ini jadi mirip kutipan terkenal
"Bagiku sih tidak masalah, tapi entah apa yang akan dikatakan oleh YAZAWA
ya?". Memikirkan hal itu, aku hampir saja tertawa.
"............"
Namun, bagi
mereka berdua yang tidak tahu kalau aku dan Usa Itsuki adalah orang yang sama,
sepertinya pemikiran semacam itu tidak terlintas.
Mereka hanya
bisa gemetar ketakutan sambil mengkerutkan tubuh.
...Entahlah,
aku merasa kesepian karena hanya aku sendiri yang menyadari lelucon aneh ini.
Rasanya saat ini aku ingin Hangui-san ada di sini.
Mana pun yang
benar, gara-gara YAZAWA... tidak, berkat YAZAWA, rasa cemburu dan amarah di
dalam diriku sedikit menyusut. Aku menghela napas panjang, lalu mulai berbicara
dengan tawa kecut.
"Bercanda,
kok. Sebenarnya aku tidak semarah itu. Lagipula kalian berdua memang cuma
sedang mengobrol, jadi tolong jangan terlalu kaku begitu."
"Tsukino-san..."
Kotaro-san
memperlihatkan wajah lega. Namun di detik berikutnya, ekspresinya kembali
mengeras dan ia meminta maaf kepadaku dengan sungguh-sungguh.
"Meski
begitu, mengingat tujuan utama hari ini adalah kencan denganmu, tindakanku tadi
tetaplah gegabah. Aku minta maaf."
Kotaro-san
membungkukkan badannya dalam-dalam. Melihat orang yang begitu lurus dan serius
ini meminta maaf, aku malah jadi merasa bersalah karena telah menuduhnya
"selingkuh".
Takanashi-san
pun menyela dengan ekspresi heran, "Serius amat sih," sebelum
akhirnya menatapku dengan canggung.
"Aku
juga minta maaf ya. Serius, aku kurang peka sama perasaan Uta-chan. Mosee—mohon
maaf lahir batin deh."
"Ti-tidak,
bukan begitu.... Tapi, terima kasih ya, kalian berdua. Kalau begitu, masalah
ini kita anggap selesai sampai di sini."
Aku
bertepuk tangan sekali untuk mengatur ulang suasana.
"Dengan
ini, Utakata Tsukino resmi bergabung kembali!"
Sambil
menyembunyikan rasa malu, aku memberi salam dengan nada bercanda sembari
sedikit mengangkat ujung renda baju renangku.
Kotaro-san
pun menyambutku, "Ya, aku juga senang bisa cepat bertemu denganmu,
Tsukino-san," dan di saat yang bersamaan...
"Ah,
baju renang itu sangat cocok untukmu, Tsukino-san. Kamu terlihat sangat manis.
Tentu saja, penampilanmu dengan baju biasa, pakaian tradisional, sampai seragam
sekolah pun semuanya manis, sih."
Tanpa
sedikit pun keraguan, ia melontarkan pujian itu seolah-olah itu adalah
kejujuran yang mengalir alami dari lubuk hatinya.
Ternyata
bukan hanya aku yang terkejut dengan sikapnya yang "tidak biasa" itu.
Takanashi-san pun menatap Kotaro-san dengan campuran rasa kagum dan syok.
"Eh,
ada apa nih Banjo? Tiba-tiba melakukan move cowok populer yang nggak
mirip kamu banget."
"Hah?
Tidak, aku merasa tidak melakukan hal semacam itu..."
"Melakukan,
tahu! Biasanya kan kamu nggak bisa memuji lawan jenis selancar itu."
"Be-begitukah...?"
Kotaro-san
memiringkan kepalanya dengan bingung, seolah benar-benar tidak sadar.
Takanashi-san yang sepertinya belum puas kembali melancarkan interogasinya.
"Iya,
tahu! Banjo itu cuma bisa bicara tanpa ragu kalau lagi bahas board game,
atau... kalau lagi jujur seratus persen, kayak waktu kamu nolongin aku
kemarin..."
Sampai di
titik itu, tiba-tiba semangat bicara Takanashi-san meredup seketika.
Sejujurnya, baik aku maupun Kotaro-san tidak bisa mendengar bagian akhir
kalimatnya dengan jelas karena beradu dengan suara jacuzzi, jadi kami
hanya bisa memiringkan kepala.
Takanashi-san
lalu tersenyum seolah baru saja memantapkan hati, kemudian menepuk punggung
Kotaro-san dengan cukup keras hingga terdengar bunyi plak.
"Aduh!
Duh, apa-apaan sih tiba-tiba! Ini pasti bakal berbekas merah, tahu!"
"Maaf,
maaf. Kalau kamu cuma khawatir soal satu bekas merah... mau aku tambah beberapa
puluh tepukan lagi?"
"Aku
nggak mau punggungku jadi kayak kap mobil yang baru pulang dari terowongan
berhantu! Tambah
seram!"
"Kalau
begitu jangan protes. Ini kan bentuk penyemangat dariku."
"Semangat?"
"Iya."
Setelah
berkata begitu, Takanashi-san tiba-tiba berbalik membelakangi kami dan mulai
berjalan. Tanpa menoleh, ia mengangkat tangannya dan berseru.
"Mulai
sekarang, silakan kalian nikmati kencan berdua saja."
"Mifuru-san..."
"Takanashi-san..."
"Silakan
bermesraan sepuasnya selagi nggak ada kami, Banjo."
Ia menoleh
sedikit sambil menyeringai jahil. Untuk hari ini, aku memutuskan untuk menerima
perhatiannya yang mengharukan itu dengan lapang dada.
"Terima
kasih banyak. Aku sangat menghargai perhatianmu."
Setelah aku
menyampaikan rasa terima kasih, Takanashi-san hanya membalas dengan gumaman
pelan. Ia baru saja akan melangkah pergi... namun tiba-tiba berbalik seolah
teringat sesuatu.
"Maaf,
maaf, satu hal saja yang mau aku pastikan."
"Ada
apa?"
"Anu,
hari ini kan Banjo bakal kasih jawaban buat pengakuan yang itu. Itu bakal
dilakukan pas kalian berdua saja, kan? Habisnya, waktu itu kan aku malah jadi
saksi mata..."
Mendengar
pertanyaan itu, aku mewakili dengan anggukan mantap.
"Iya,
rencananya begitu. Kotaro-san juga tidak keberatan, kan?"
"Iya.
Lagipula pengakuan cinta itu kan memang seharusnya dilakukan berdua, kejadian
dua minggu lalu itu rasanya terlalu ireguler..."
Takanashi-san
setuju dengan jawaban kami. Ia kemudian melanjutkan lagi.
"Lalu,
maaf ya kalau pertanyaanku jadi sok tahu terus, tapi bagian itu bakal dilakukan
di akhir kencan, kan?"
"I-iya.
Aku pun berencana begitu. Soalnya kalau tiba-tiba diberi jawaban sekarang dan
ternyata ditolak, sisa kencan setelahnya pasti bakal terasa seperti
neraka."
"Benar
juga, sih. wkwkwk."
Sambil
tertawa lepas, Takanashi-san menyambung ucapannya.
"Kalau
begitu, sebelum event jawaban pengakuan terakhir itu dimulai... boleh
tidak kalau aku minta sedikit saja waktu buat bicara berdua dengan Banjo?"
"Eh?"
Mendengar
permintaan itu, aku dan Kotaro-san spontan berseru dan saling berpandangan.
...Ini adalah
usulan yang, jika dipikirkan matang-matang, sangatlah krusial. Setidaknya
secara strategis, aku merasa tidak seharusnya memberikan izin dengan mudah.
Kotaro-san
sepertinya juga memahami hal itu, karena aku menyadari ia mengirimkan tatapan
yang seolah menjaga perasaanku. Seakan-akan ia ingin bilang, "Tidak
apa-apa kalau kamu mau menolaknya." ...Padahal jauh di dalam lubuk
hatinya, ia pasti ingin mendengar apa yang ingin dibicarakan Takanashi-san
lebih dari siapa pun.
Melihat
matanya, aku pun—langsung memutuskan.
"Boleh
saja."
"Tsukino-san!?"
Mungkin
karena jawabanku tidak terduga, Kotaro-san sempat ingin melayangkan protes,
namun aku menghentikannya dengan senyuman dan beralih kembali ke Takanashi-san.
"Lagipula
aku tidak punya hak untuk mengekang tindakan Takanashi-san. Namun, meski
begitu, kamu tetap meminta izin kepadaku. Aku ingin membalas rasa hormatmu
itu."
"Rasa
hormat ya. Yah, tapi makasih ya."
"Iya.
...Tapi ya, selagi menunggu kalian bertemu, aku pasti bakal menggigit bibir
sampai mau mati karena cemburu."
"Seram
banget."
Takanashi-san
tertawa kecut, lalu memberikan salam terakhir pada Kotaro-san sebelum mulai
melangkah.
"Kalau
begitu, Banjo, sampai nanti ya. Nikmati kencannya."
"I-iya.
Mifuru-san juga."
"Sip!"
Takanashi-san
pun pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah yang tegap. Setelah kami
berdua melepas kepergiannya, Kotaro-san mulai angkat bicara.
"Kalau
begitu, bagaimana kalau kita juga pergi?"
"Iya,
mari kita pergi."
Aku
menyahut dan tersenyum manis, tapi tidak bergerak satu langkah pun. Kotaro-san
berbalik dengan raut bingung.
"...Tsukino-san?
Anu... ayo kita pergi kencan kolam renang."
"Iya,
Kotaro-san. Ayo kita pergi kencan kolam renang."
Meski
berkata begitu, aku tetap berdiri terpaku sembari terus tersenyum. Menghadapi
hal itu, Kotaro-san menggaruk kepalanya dengan bingung untuk sesaat... sampai
tiba-tiba ia menggumamkan, "Ah."
Sepertinya ia
akhirnya menemukan jawabannya. Namun meski begitu, ia masih terlihat ragu dan
malu-malu untuk mengeksekusi "hal itu".
Sampai pada
akhirnya... dengan wajah yang memerah padam, ia mengulurkan tangannya kepadaku.
"...Ayo
pergi, Tsukino-san. Untuk kencan kita."
Menerima
ajakan yang sangat Great itu, aku pun menjawab "Iya" dengan
senyuman yang lebih lebar dari sebelumnya. Sambil menggenggam balik tangannya dengan erat, aku
mulai melangkah maju.
"Ayo
pergi, Kotaro-san. Untuk kencan kita."
Begitulah,
aku tidak hanya sekadar bergandengan tangan, tapi berjalan hampir menempel
padanya.
Kotaro-san
menunjukkan ekspresi rumit yang mencampurkan rasa malu, heran, sekaligus rasa
hormat kepadaku.
"...Serius
deh, Tsukino-san itu hebat banget ya kalau soal 'menyerang'. Aku benar-benar
kagum."
"Fufu.
Kalau begitu—tentu saja itu sangat Great."
◆◇◆
Tokiwa
Kotaro
Kencan kolam
renang berdua dengan seseorang yang sudah saling sadar akan perasaan cinta
masing-masing.
Secara
tertulis, ini adalah event yang penuh dengan aura ceria yang luar biasa.
Aku sendiri merasa sangat terhormat bisa mengalaminya.
Tapi
masalahnya, apa yang akan terjadi jika seorang otaku board game yang
hampir nol pengalaman kencannya dilemparkan ke dalam event impian
semacam ini? Jawabannya ada di sini.
"............"
Iya, benar
sekali. "Topik pembicaraan cepat habis dan berakhir dengan
keheningan."
Nah,
berlanjut ke pertanyaan kedua. Apa yang akan terjadi jika seorang pemain shogi
wanita yang juga nol pengalaman asmara tiba-tiba dilemparkan ke kencan kolam
renang seperti ini? Jawabannya ada di sini.
"............"
Iya, benar
sekali. "Topik pembicaraan cepat habis dan berakhir dengan
keheningan."
............Ini
sih neraka.
Pasangan yang
cuma mondar-mandir di fasilitas kolam renang indoor sambil bergandengan
tangan dengan wajah tegang begini, apa ini sedang operasi penyamaran?
Tidak,
rasanya rekan kerja yang sedang melakukan operasi penyamaran sungguhan pun
pasti masih bisa mengobrol lebih lancar.
Karena
hubungan kami berdua ini sudah mengarah ke hubungan asmara yang cukup serius,
ketegangan di antara kami mencapai puncaknya sampai kami benar-benar tidak tahu
harus berbuat apa.
(............)
Serius deh,
apa-apaan rasa buntu yang hanya bisa dirasakan olehku dan Tsukino-san ini.
Dulu saat
pergi belanja dengan Mifuru-san, aku memang tegang, tapi saat itu cuma aku yang
panik.
Apalagi
Mifuru-san adalah tipe orang yang terus-menerus membicarakan hal-hal sepele,
jadi situasi tidak akan jadi seperti ini.
Sepertinya,
aku dan Tsukino-san ini memiliki sifat dasar yang terlalu mirip dalam segala
hal.
Mulai dari
kepribadian, cara menjaga perasaan orang lain, cara menunjukkan ketegangan,
sampai cara kehabisan topik pembicaraan.
"Pffft."
Saat sedang
memikirkan hal itu, tanpa sadar aku tertawa kecil. Dan itu pun terjadi pada
kami berdua secara bersamaan.
Seketika,
ketegangan aneh yang menyelimuti kami pun mencair.
"Haha,
apa yang sedang kita lakukan sih?"
"Fufu,
benar juga ya. Padahal kita sudah jauh-jauh datang ke kolam renang raksasa,
tapi yang kita lakukan cuma berpatroli sambil bergandengan tangan. Yah..."
Di sana,
Tsukino-san menatapku sambil tersenyum malu-malu.
"Bagiku, hal itu saja sudah cukup Great,
lho?"
"–!"
Mendengar kata-kata itu, aku refleks
memalingkan wajah karena malu dan berdehem keras.
"Ta-tapi
tetap saja, kita harus melakukan sesuatu. Tsukino-san, ada atraksi yang
membuatmu tertarik?"
"Tertarik?
...Tidak, sejujurnya aku tidak punya ketertarikan khusus pada segala jenis
permainan air."
"Eh,
kalau begitu kenapa malah minta kencan di kolam renang?"
"Itu
sudah jelas."
Ia
menghentikan langkahnya.
"Tujuannya
adalah untuk membuat Kotaro-san bertekuk lutut dengan melihatku berbaju renang.
Ufun."
Dengan wajah
yang sangat serius, ia berpose sedikit sambil tetap menggenggam tanganku.
Hmm, gimana
ya, jujur saja itu sangat manis.
Tapi di saat
yang sama juga sedikit menyebalkan.
Dan pada
akhirnya, itu adalah uzakawaii—menyebalkan tapi imut.
Aku tidak
bisa menahan tawa melihat tingkah Tsukino-san itu.
"Iya,
iya, aku sudah bertekuk lutut kok. Menurutku Tsukino-san hari ini sangat
manis."
"Ko-kok
rasanya tidak Great ya."
Sepertinya
pujianku tadi kurang Great. Belakangan ini pola seperti ini sering
muncul. Benar-benar menggemaskan.
Saat aku
sedang tertawa kecut, Tsukino-san melanjutkan lagi.
"Lagipula
pada kenyataannya, karena akhirnya gadis-gadis lain yang juga memikat ikut
berpartisipasi, strategi pamungkasku yaitu 'Baju Renang Benteng' (Mizugi
Hisha) jadi hampir tidak berguna sama sekali."
"Aku
tidak tahu ada nama strategi semacam itu. Tapi, aku tidak paham apa hubungannya
dengan kepingan Benteng."
"Nama
itu diambil dari cara Utakata Tsukino yang bergerak secara lurus untuk
mendapatkan Tokiwa Kotaro."
"Ternyata
kamu sendiri yang jadi Bentengnya ya."
Meski rasanya
kamu bukan tipe kepingan menteri (kaku), Tsukino-san.
Tapi tetap
saja, ini menyenangkan. Tentu saja mengobrol dengan Takeshi atau Mifuru-san
juga sangat asyik, tapi ini adalah perasaan yang berbeda.
Sebuah
interaksi yang tidak hanya terasa akrab, tapi juga mengandung ketegangan yang
nyaman... Ah, ngomong-ngomong bagiku, obrolan dengan Hangui itu selalu
mengandung ketegangan level terendah, benar-benar lawan kata dari "obrolan
yang menyenangkan". Orang itu benar-benar...
"Hei
Tokiwa, barusan kamu lagi memikirkan aku ya?"
"Kemampuan
macam apa yang bisa membuatmu berteleportasi lewat imajinasiku begitu? Sumpah
seram banget."
Sadar-sadar,
Hangui dan Takeshi sudah berdiri di belakangku. Bukankah hari ini punggungku
terlalu sering didekati?
Yah, mungkin
karena aku terlalu fokus pada pasangan berbaju renang di depanku ini.
Tsukino-san
melepaskan tanganku sejenak dan berbalik ke arah mereka berdua untuk memberi
salam dengan senyuman.
"Halo,
kalian berdua. Aku, Utakata Tsukino, baru saja bergabung."
"Ooh,
Utakata-shi! Baguslah kamu bisa datang lebih awal!"
Takeshi
menyambut Tsukino-san dengan senyum polos dari lubuk hatinya.
Serius deh,
senyuman Takeshi itu benar-benar murni tanpa ada niat terselubung, sangat
menenangkan... berbeda dengan orang di sebelahnya.
"Ara,
Utakata-san. Entah kenapa aku merasa kita sudah lama tidak bertemu ya. Kenapa
ya kira-kira?"
Hangui
menggoda Tsukino-san dengan senyum yang sangat sadistik. Wah, wajah itu
ternyata diperlihatkan ke orang selain aku juga ya.
Kalau
dipikir-pikir, Tsukino-san memang punya sifat yang mirip denganku dalam hal
itu.
Tsukino-san
mengalihkan pandangannya dari Hangui dan menjawab.
"Fu-fufu,
itu memang hal yang aneh ya, Hangui-san."
"Benar-benar
aneh ya. Terus, ini sebenarnya tidak ada hubungannya denganmu sih, tapi entah
kenapa tiba-tiba Usa Itsuki dapat urusan mendadak dan harus pulang. Benar-benar
aneh ya?"
"Eh,
benarkah?"
Karena ini
informasi baru, aku bertanya pada Hangui dengan terkejut.
Entah kenapa
ia melirik ke arah Tsukino-san sekali sebelum menjawab sambil senyum-senyum
mesem.
"Benar-benar
misterius ya, Tokiwa. Tepat
saat Usa-kun OUT, Utakata-san malah IN. Rasanya
seolah-olah..."
"Boleh
minta waktunya sebentar, Hangui-san?"
Tiba-tiba,
Tsukino-san menarik lengan Hangui dengan kuat dan menjauh dariku. Mereka berdua
mulai berbisik-bisik membicarakan sesuatu yang tidak bisa kudengar.
Di
sampingku yang sedang terpaku, Takeshi mendekat.
"Mereka
berdua terlihat sangat akrab ya padahal baru sebentar kenal."
"Benar
juga. Mungkin karena sesama orang yang otaknya encer, mereka jadi cocok."
Yah,
meski kalau dilihat-lihat, sepertinya Hangui cuma sedang menjadikan Tsukino-san
sebagai mangsanya saja sih.
Faktanya,
dalam interaksi mereka pun, Hangui sepertinya yang memegang kendali.
"Hangui-san,
apa maksudmu melakukan itu...! Akhir-akhir ini kamu juga sepertinya jadi akrab
dengan Takanashi-san lewat Murder Mystery, kan!"
"Ara,
apa kamu cemburu? Manis sekali ya, Utakata-san."
"Bu-bukan
begitu! Maksudku, sebenarnya apa niatmu dan kamu ada di pihak siapa..."
"Aku?
Aku sih... tentu saja. Aku selalu mengincar keuntungan sebagai 'pihak ketiga'
di tengah perselisihan."
"Kamu
benar-benar tipe teman yang paling menyebalkan!"
Tsukino-san
dan Hangui sepertinya sedang "bertengkar tapi akrab". ...Hmm.
"Apakah
kamu sudah paham alasan kenapa aku bilang Syuri-chan dan Tokiwa-shi itu
serasi?"
Sadar-sadar,
Takeshi sudah merapat ke sampingku sambil senyum-senyum. Aku pun buru-buru
membantahnya.
"Tidak
mungkin, aku dan Hangui itu ibarat anjing dan monyet, naga dan macan, atau
puding dan kecap asin."
"Bukankah
kombinasi yang terakhir itu bisa menciptakan perpaduan rasa yang ajaib?"
"...Da-daripada
itu. Takeshi sendiri apa bisa menikmati kolam renangnya?"
Mendengar
pertanyaanku, Takeshi sempat tertegun sejenak.
Namun segera setelah itu, ia membalas
dengan senyuman ceria seperti biasanya.
"Tentu saja! Mana mungkin
jalan-jalan bareng teman akrab tidak menyenangkan!"
"Syukurlah kalau begitu. Aku
sempat khawatir karena ini adalah jenis permainan fisik."
Takeshi punya latar belakang yang agak
rumit terkait klub atletik.
Apalagi biasanya ia hanya menyukai hobi
dalam ruangan seperti board game dan tidak pernah mengajakku main
bowling atau semacamnya, jadi aku sempat mengira ia tidak suka menggerakkan
tubuh.
Sepertinya itu hanya kekhawatiran
berlebih dariku. Saat aku menghela napas lega, aku menyadari Takeshi sedang
menatapku dengan tatapan mata yang lembut.
"...Hal-hal
semacam itu sama sekali tidak berubah ya sejak kita pertama kali bertemu,
Tokiwa-kun."
"?
Tokiwa-kun?"
Rasanya tadi
ia menggunakan gaya bicara yang bukan seperti Takeshi biasanya...
"Fufu,
aku benar-benar merasa sangat senang hari ini, Tokiwa-shi!"
Ah, benar,
itu Takeshi. Sampai rasanya menyebalkan karena ia benar-benar Takeshi.
Berkat itu,
aku bisa menganggapnya sebagai sahabat sejati tanpa perlu peduli soal jenis
kelaminnya, dialah Banjo Momoyai.
Namun,
Takeshi tiba-tiba menunjukkan wajah yang sedikit kesal.
"Ah,
tapi bukan berarti tidak ada dua hal yang mengganjal di hatiku."
"Eh?
Benarkah? Ada apa?"
"Pertama.
Hari ini terasa lebih parah dari biasanya, setiap kali berjalan berdua dengan
Syuri-chan, pasti ada saja laki-laki genit yang menyapa kami."
"Ah...
yah, itu pasti terjadi sih."
Biasanya di
jalanan pun mereka berdua memang sering digoda, apalagi dengan baju renang
seperti ini, wajar saja kalau hasilnya begitu.
Takeshi
mengeluh sembari tanpa sadar menggoyang-goyangkan dadanya yang berlimpah itu.
"Benar-benar
ya, laki-laki yang mengincar Syuri-chan itu bikin repot saja."
"............
Iya, benar juga."
Gawat.
Barusan aku hampir saja melontarkan tsukkomi.
"Eh,
yang diincar kan bukan cuma Hangui doang," hampir saja kata-kata itu
meluncur. "Filter kesadaran lawan jenis" yang kupasang pada Takeshi
hampir saja retak.
Aku harus
waspada. Apalagi karena hari ini Takeshi memakai baju renang.
Di saat aku
sedang berusaha menenangkan diri, Takeshi melanjutkan keluhannya. Dan itu
pun...
"Ketidakpuasanku
yang satu lagi adalah karena Tokiwa-shi tidak terlalu banyak bermain dengan
aku."
...Entah
kenapa, ia merapat padaku dan menyatakan hal itu... menyatakan
"keberadaannya" dalam berbagai arti. ...Ugh.
"Tokiwa-shiii.
Aku tahu ini kencan, tapi aku juga ingin bermain denganmu seperti
biasanya."
Sambil
merengek begitu, ia menempelkan "hal itu" ke lenganku.
Ngomong-ngomong "hal itu"
adalah... anu... apa ya, o-otot dada? Iya, benar, otot dada. Otot dada.
............
Tetap tenang, tetap tenang. Takeshi adalah
Takeshi. Teman board game, Takeshi.
Faktanya, ucapan barusan pun pasti
tidak memiliki maksud lain selain "ayo main bersama" bagi dirinya.
Kalau begitu, aku tidak boleh
mengkhianati kepercayaan itu.
Ingatlah wajah Takeshi yang dulu sempat
tidak bisa menikmati board game karena terlalu diperlakukan seperti tuan
putri di acara komunitas.
Jangan sampai
aku membuat sahabatku merasakan hal itu lagi.
Terutama
sekarang, di mana aku adalah "teman board game nomor satu"
baginya, aku tidak boleh memberikan tatapan semacam itu padanya.
Untuk
memperkuat hatiku, aku menatap langit di balik kaca dan menenangkan diri.
...Fiuuh.
"............
Iya. Hari ini aku sudah sedikit berani dan berusaha keras ya, aku...!"
Sepertinya
aku mendengar bisikan kecil yang misterius dari suatu tempat, tapi aku tidak
punya waktu untuk memikirkannya. Tenang, tenang...
Setelah
aku berhasil mendapatkan kembali ketenanganku dan menurunkan pandangan...
(............)
"Kenapa
sekarang aku malah dipelototi oleh Hangui dan Tsukino-san?"
"Entahlah."
Sadar-sadar
aku sudah mendapat aura kebencian misterius dari dua orang wanita itu.
...Kenapa?
Padahal tadi aku sudah berjuang keras untuk tetap menjadi pria budiman.
Bukankah
Tuhan terlalu tidak adil?
Setelah itu,
Takeshi kembali ceria dan bersemangat seperti biasanya.
"Nah,
aku dan Syuri-chan akan berpisah lagi dari kalian! Silakan kalian berdua lanjut
menikmati sisa kencan dengan santai!"
"Eh? Ah,
Takeshi, kalau mau kita bisa main bareng sebentar lagi..."
Aku mencoba
memberikan perhatian, namun Takeshi menghentikanku dan tertawa lepas.
"Fuhihi!
Yang tadi itu cuma bercanda, Tokiwa-shi! Ini kan kencannya Tokiwa-shi dan
Utakata-shi! Aku tidak boleh mengganggunya!"
"Takeshi..."
Mendengar
percakapan kami, Hangui pun mengangkat bahunya dengan pasrah.
"Benar
sekali Momo-chan. ...Kalau begitu Tokiwa, Utakata-san. Kami pamit dulu
ya."
Ucapnya, dan
kali ini ia pergi tanpa terlalu banyak menjahiliku, sebuah hal yang langka.
Namun di tengah jalan, ia sempat menoleh sekali.
Dan ia
mengulang kembali kalimat yang pernah kudengar di stasiun waktu itu.
Seolah-olah itu adalah hal yang sangat penting untuk ia sampaikan padaku.
"Serius
deh, jadilah bahagia ya, Tokiwa."
◆◇◆
Utakata
Tsukino
Setelah
berpisah sementara dengan Takeshi-san dan Hangui-san, kami melanjutkan kencan
berdua untuk beberapa saat lagi.
Kami bermain
air di kolam, mencoba makanan ringan, dan bahkan seolah ingin menebus yang
tadi, kami berendam di jacuzzi berdua lagi (meskipun Kotaro-san tampak
menunjukkan wajah yang kurang nyaman).
Tapi
bagaimanapun juga, ini adalah fasilitas yang hampir tutup untuk musim dingin.
Karena
fasilitas kolam luar ruangan sudah ditutup, tidak banyak lagi hal yang bisa
dilakukan.
Setelah terakhir kami semua berkumpul dan
bermain lempar-lemparan air dengan meriah, kencan dengan baju renang ini pun
berakhir lebih awal dari dugaan.
Bagiku
sendiri, strategi pamungkas "Baju Renang Benteng" sudah menjalankan
sembilan puluh persen tugasnya sejak aku memamerkan sosok ini, jadi aku tidak
keberatan.
...Maksudku,
anu, sejujurnya aku memang merasa sangat malu memakai baju renang ini.
Selain itu,
fasilitas ini juga memiliki taman bermain kecil yang menyatu dengan area kolam.
Memang
skalanya tidak cukup besar untuk dimainkan seharian, tapi sangat pas untuk
dinikmati dengan santai sebelum pulang setelah lelah bermain air. Fasilitas
makanannya pun lumayan lengkap.
Oleh karena
itu, kami pun menuju pintu keluar dan berpisah dengan Kotaro-san di
persimpangan depan ruang ganti. Dilepas oleh kami berempat, Kotaro-san
mengeluh.
"Kalau
keadaannya jadi begini, rasanya sulit juga ya tanpa adanya Usa-kun. ...Eh, tapi
kalau diingat-ingat, waktu masuk tadi pun aku ganti bajunya pisah dengan
Usa-kun ya."
"Hee,
kira-kira kenapa ya?"
Karena
Hangui-san mulai akan mengatakan hal yang tidak-tidak lagi, aku segera
memotongnya dengan deham keras.
"Kalau
begitu, mari kita bertemu di dekat pintu masuk setelah selesai ganti baju.
Setelah itu..."
"Ah,
soal itu."
Tepat saat
aku baru saja akan mengatakannya, Takanashi-san menyela dengan nada yang penuh
rasa bersalah.
"Boleh
tidak kalau aku minta waktu buat bicara sama Banjo yang tadi sekarang
saja?"
Mendengar
usulan itu, dadaku terasa sedikit sesak, namun aku tetap mengangguk pelan.
"Iya,
boleh saja. ...Lagipula, aku pun sudah mulai ingin mendengar jawaban atas
pengakuanku."
"Begitu
ya."
Takanashi-san
menyahut dengan ekspresi yang kaku. Suasana di tempat itu seketika menjadi sedikit tegang.
Seolah ingin
mencairkan suasana yang berat itu, Takeshi-san berseru dengan lantang.
"Kalau
begitu, saatnya ganti baju! Tokiwa-shi, kalau merasa kesepian, mau ikut ke sini
saja?"
"Itu
jebakan yang terlalu berbahaya, seolah-olah kamu mau memberikan separuh dunia
padaku. Aku tidak akan ke sana. Meski memang aku merasa kesepian, sih."
"Fumu?
Tokiwa-shi benar-benar kasihan ya. Ah, kalau begitu biar aku saja yang ke
sana—"
"Jangan
konyol!"
Kami
para gadis serentak menahan Takeshi-san yang benar-benar terlihat berniat pergi
ke ruang ganti pria.
...Orang
ini, tadi dia serius kan? Benar-benar "tuan putri" sekali.
Sensitivitasnya
benar-benar seorang "tuan putri".
Aku
mulai bisa memahami perlindungan berlebih dari Hangui-san dan sikap Kotaro-san
yang "menarik garis tegas demi dirinya sendiri" dari lubuk hatiku
yang terdalam.
Bagaimanapun
juga, berkat itu ketegangan aneh tadi pun langsung sirna.
Kami
melepas kepergian Kotaro-san yang tertawa kecut menuju ruang ganti pria, dan
kami berempat pun—sambil menyeret Takeshi-san yang masih mengeluh
"Tokiwa-shiii"—menuju ruang ganti wanita.
Setelah
melewati koridor dan masuk ke ruang ganti, aku memisahkan diri menuju loker
yang agak jauh.
Hal ini
kulakukan karena aku tidak boleh membiarkan Takanashi-san atau Takeshi-san
melihat proses pergantian kostum dari Usa Itsuki kembali menjadi Utakata
Tsukino.
Aku
memastikan keadaan sekitar, lalu perlahan membuka loker. Meskipun sudah
kusimpan di dalam tas, di dalam sini masih tersimpan perlengkapan penyamaranku
sebagai Usa. Dan juga...
"...Langkah
Tersegel..."
Tentu saja,
benda itu juga kubawa agar bisa dibuka pada hari yang bersejarah ini. Tanpa sadar, aku merogoh tas dan
mengeluarkan amplop Langkah Tersegel itu.
"............"
Sejujurnya,
sampai hari ini aku pun berusaha untuk tidak terlalu sering melihatnya.
Karena...
aku sudah sangat tahu bahwa apa yang tertulis di sana pastilah sesuatu yang
tidak akan membuatku senang.
Persis
seperti alasan yang kukatakan saat aku memutuskan untuk menyimpannya sendiri
dulu, aku punya firasat bahwa isinya bukanlah hal yang akan terasa menyenangkan
bagiku.
Namun...
hari ini aku harus menghadapinya.
Sambil
memeluk tas yang berisi perlengkapan penyamaran Usa, aku menatap tajam amplop
Langkah Tersegel tersebut.
Berbagai
perasaan berkecamuk di hatiku hingga membuat gerakanku terhenti sesaat.
Sampai
akhirnya—
"Uta-chan,
boleh bicara sebentar?"
"–!?"
Tiba-tiba
Takanashi-san, yang sepertinya sudah selesai berganti pakaian lebih cepat,
muncul dari balik sudut deretan loker.
Aku
tersentak kaget dengan gerakan yang sangat hebat. Akibatnya...
"Ah."
Tas
dan amplop Langkah Tersegel terlepas dari tanganku dan jatuh berantakan ke
lantai. Di tengah kepanikan akibat situasi darurat ini, sudut pikiranku tetap
bekerja cepat menyusun prioritas. Aku harus bergerak agar "perlengkapan
penyamaran Usa Itsuki" tidak terlihat olehnya.
Dengan
kecepatan tinggi, aku memunguti peralatan penyamaran yang tercecer dari tas,
terutama wig pirang yang bisa berakibat fatal jika sampai terlihat oleh
Takanashi-san.
"Wah,
Uta-chan, maaf!"
"Tidak
apa-apa, tidak apa-apa! Takanashi-san jangan khawatir!"
"Eh, ah,
iya. ……? Ini kan……"
Takanashi-san
masih menggumamkan sesuatu, tapi aku tidak punya waktu untuk mendengarkan.
Mataku menyapu area sekitar dengan cepat, memastikan semua barang kecil sudah
terkumpul. ……Sip, kalau begini harusnya aman. Rahasia soal Usa Itsuki
sepertinya tidak terbongkar…… mungkin.
Sambil
menghela napas lega, aku merasakan bahuku dicolek pelan oleh Takanashi-san.
Saat aku berbalik, Takanashi-san tampak menunjukkan ekspresi yang sangat tidak
enak hati.
Apa
penyamaranku sebagai Usa ketahuan? Pikirku sesaat.
Namun tak
lama kemudian, aku menyadari bahwa di tangannya kini tergenggam amplop Langkah
Tersegel milikku. Sepertinya saat kejadian kacau tadi, amplop itu terlempar
sampai ke dekat kakinya.
Yah,
meskipun ini barang penting, amplopnya belum dibuka. Tidak seperti wig pirang
yang jika terlihat berarti kiamat bagiku, benda ini harusnya tidak bermasalah.
Aku
menerimanya sambil menyahut, "Terima kasih banyak." Takanashi-san
membalas dengan gumaman singkat, tapi wajahnya masih tampak mendung.
"?
Ada apa?"
Tanyaku sambil memegang amplop
tersebut. Takanashi-san sempat terlihat ragu sejenak, sebelum tiba-tiba
menyatukan kedua telapak tangan di depan wajahnya dan bersujud meminta maaf.
"Maaf banget! Tadi sepertinya aku
sempat mengintip isi Langkah Tersegel-nya!"
"Hah?
Mengintip? Tapi, anu, ini kan masih tersegel rapat……"
"Iya,
aku tahu! Tapi maksudku, secara tidak sengaja aku jadi bisa menebak isinya!
Serius, ini benar-benar bukan sengaja!"
"Ha,
haah."
Ucapannya
sedikit sulit dimengerti, tapi aku bisa merasakan bahwa dia benar-benar merasa
bersalah. Aku mencoba menenangkannya.
"Aku
sungguh tidak marah, kok. Lagipula, ini salahku sendiri karena
menjatuhkannya."
"Tapi
tetap saja, itu kan karena aku mengagetkanmu……"
"Ngomong-ngomong,
ada keperluan apa mencariku?"
"Ah,
iya. Aku cuma mau memastikan, saat aku bicara dengan Banjo nanti, apa ada
atraksi yang sebaiknya tidak aku datangi? Kamu tahu kan, tempat yang mungkin
ingin kamu gunakan saat mendengar jawaban pengakuannya nanti?"
"Ah,
terima kasih atas perhatiannya. Begitu ya. Rencananya, aku berniat mendengar
jawabannya di kincir ria……"
"Kincir
ria ya, bagus! Oke,
dimengerti—bukan, bukan itu. Duh, maaf banget ya soal Langkah Tersegel
tadi."
"Sungguh,
tidak apa-apa. Kalaupun ada yang merasa keberatan jika isinya ketahuan, aku
rasa itu justru Kotaro-san……"
"Aaah…….
……Entahlah. Kalau cuma begini, kurasa Banjo tidak akan keberatan?"
"? Apa maksudnya?"
"Maksudku,
justru bagiku hal ini malah terasa seperti memberi dorongan semangat sebelum
aku bicara dengan Banjo nanti?"
"Eh, itu
maksudnya……"
Dadaku terasa
sesak mendengar kata-kata Takanashi-san yang penuh makna itu. Melihat wajahku,
dia segera menundukkan kepala lagi.
"Wawa,
Uta-chan, maaf! Iya ya, tidak baik ya kalau aku bersikap seolah-olah menang
karena punya informasi lebih! Tapi tenang saja!"
"Tenang?"
"Iya."
Di sana,
Takanashi-san berujar dengan senyuman tipis yang seolah hampir menghilang.
"Karena
aku yakin, segalanya tidak akan berakhir buruk bagimu, Uta-chan."
"…………"
Aku tidak
mampu memberikan balasan apa pun untuk kata-kata itu.
Takanashi-san
berbalik membelakangiku sambil berseru, "Kalau begitu, aku duluan
ya."
"……Iya.
Hati-hati."
"Sip,
aku pergi dulu."
Takanashi-san
melangkah beberapa tindak. Namun, ia sempat berhenti sejenak, lalu menoleh ke
arahku.
Dengan
senyuman yang tampak sedikit pedih, ia melontarkan kata-kata menyebalkan tapi
manis seperti biasanya.
"Tapi
ya, seleramu buruk banget sih mau menjadikan Banjo pacar, Uta-chan."
"Bukan
urusanmu."
"Bener
juga wkwk."
Mendengar balasanku, Takanashi-san
tertawa lepas.
"Dah ya!"
Sambil melambaikan tangan ke belakang,
ia pergi menuju tempatnya—menuju tempat orang yang kucintai berada.
………….
Segala
penyelesaian kini sudah berada tepat di depan mata.
◆◇◆
"…………"
Sambil
memendam kegelisahan yang samar, aku terus menunggu Kotaro-san di bangku depan
kincir ria yang menjadi tempat pertemuan kami.
"Wah,
lihat ini. Ada pemain shogi wanita yang sepertinya sudah mencium bau
kekalahan."
"Hangui-san……"
Sejujurnya,
orang yang paling tidak ingin kutemui sebelum momen besar dalam percintaan
adalah orang seperti dia. Saat dia duduk dengan santai di sampingku, aku
bertanya dengan wajah masam yang sangat kentara.
"Di mana
Takeshi-san?"
"Momo-chan
sedang mencoba tantangan 'Menaklukkan Semua Atraksi' sendirian. Karena aku
tidak sanggup menemaninya, aku datang ke atraksi khusus di sini: 'Menggoda
Heroine yang Kalah'."
"Mau
kupukul?"
Ini pertama
kalinya aku benar-benar ingin melakukan kekerasan fisik secara serius kepada
seseorang.
Hangui-san
membalas dengan reaksi ketakutan palsu yang sangat menyebalkan,
"Seraaam," sebelum kemudian melanjutkan dengan wajah yang sedikit
lebih serius.
"Yah,
sebenarnya aku menghormatimu, tahu. Pengakuan cinta meskipun tahu
kemungkinannya kecil adalah langkah yang butuh keberanian besar. Orang yang sok
pintar sepertiku tidak akan pernah bisa melakukannya."
"……Begitukah?"
"Iya."
"……Great
kalau begitu."
"Sama-sama."
Angin sejuk
berhembus di antara kami. Sambil menatap kincir ria di depan mata tanpa
benar-benar memfokuskan pandangan, aku bertanya padanya.
"……Tentang
Murder Mystery bertema Kurumaza yang isinya sangat merepotkan
itu……"
"Hm?"
"Itu
demi Kotaro-san dan Takanashi-san, kan?"
"……Iya."
Tumben
sekali dia tidak mengelak dan menjawab dengan jujur. Dia melanjutkan.
"Aku
berpikir akan bagus jika hubungan mereka berdua semakin erat melalui kesempatan
ini. Dan aku juga merasa akan lebih Great jika mereka bisa melampaui
kesulitan yang sepadan selama proses latihan."
"Kenapa
begitu?"
"Sudah
jelas, kan?"
Di sana,
Hangui-san tersenyum manis, lalu mengungkapkan kejujuran yang kurasa tanpa
sedikit pun kepalsuan.
"Karena
aku ingin membuat Tokiwa bahagia."
"…………"
Profil
wajahnya saat itu terlihat lebih cantik dari apa pun yang pernah kulihat
belakangan ini.
Namun, ia
segera menyadari ucapannya dan buru-buru meralatnya.
"Ah,
tapi jangan salah paham. Aku sama sekali tidak berniat menjadi musuhmu. Aku
juga bukan berarti berada di pihak Takanashi Mifuru."
"Aku
tahu. Kau selalu, dari awal hingga akhir——"
Aku
mengambil jeda sejenak sebelum menyampaikan inti sarinya.
"——Hanya
berada di pihak Kotaro-san."
Mendengar
itu…… Hangui-san tersenyum lembut dengan malu-malu, sebuah pemandangan yang
langka.
"Iya.
……Jangan bilang-bilang dia, ya?"
"Tentu."
Lalu kami
berdua tertawa kecil bersama. Menyebalkan memang, tapi aku sangat memahami cara
berpikirnya.
Dan pastinya,
dia pun merasakan hal yang sama terhadapku. Hangui-san melanjutkan.
"……Sebenarnya,
kau merasa tidak punya peluang menang, kan?"
"……Iya.
Tapi……"
"Benar.
Fakta bahwa kau menyatakan perasaanmu pada Tokiwa memiliki nilai yang besar.
Itu seperti melemparkan batu besar ke dalam kolam nilai-nilainya yang sedikit
menyimpang."
"……Jika
begitu, syukurlah (Great)."
Hening
sejenak menyelimuti kami. Setelah itu, Hangui-san mengalihkan pembicaraan ke
topik santai.
"Lagipula,
Takanashi Mifuru itu benar-benar merepotkan."
"? Ah, soal aktingnya sebagai pelaku di Murder
Mystery ya?"
"Iya.
Masa aktingnya kaku sekali begitu. Bagaimana dia bisa berperan sebagai pasangan
palsu Usa Itsuki dengan lancar ya?"
"Ah……
kalau soal itu, sepertinya dia lebih banyak terbantu oleh ketidakpekaan
Kotaro-san."
"Begitu
ya. ……Yah, kalau soal kemampuan akting sih apa boleh buat. Tapi masalahnya, di
saat seperti ini dia malah mengisyaratkan kemungkinan perubahan setting
karena situasi pribadinya, itu benar-benar……"
"? Perubahan setting karena
situasi pribadi Takanashi-san? Apa maksudnya——"
Tepat saat
aku hendak bertanya lebih detail padanya.
"Maaf
membuat menunggu!"
Terdengar
suara lantang dari kejauhan, dan terlihat Kotaro-san datang berlari kecil ke
arah kami. Sepertinya pembicaraannya dengan Takanashi-san sudah selesai.
Aku berdiri
dari bangku dan melambaikan tangan padanya. Hangui-san pun ikut berdiri dan berpamitan.
"Aku
pergi dulu ya. ……Semoga beruntung."
"Hangui-san……
terima kasih
banyak."
"Kapan-kapan
kita buat pesta penghiburan atas kekalahanmu, ya."
"Beneran
kupukul nih?"
Saat aku
benar-benar mengepalkan tinju, Hangui-san melontarkan kalimat manja andalannya
"Seraaam," lalu bergegas pergi dari sana.
Kotaro-san
yang baru sampai menunjukkan kemampuan observasi yang tajam melihat kejadian
itu.
"Ah,
sepertinya kamu baru saja digoda Hangui, lalu dia kabur tepat saat kamu
benar-benar berniat membunuhnya ya."
"Hebat
ya, kamu mengatakannya seolah itu sudah jadi 'kebiasaan Hangui-san'. Padahal
memang benar sih."
"Kalau
soal dia, kesimpulanku belakangan ini adalah sebaiknya kita kuatkan hati dan
langsung menghajarnya secara fisik saat pertama kali bertemu, bahkan sebelum
dia melakukan apa pun."
"Begitu
ya. Akan kujadikan referensi untuk 'RTA Penaklukan Hangui Akari'
berikutnya."
"Silakan,
silakan."
Setelah
bertukar obrolan ringan dan tertawa bersama.
Kotaro-san,
dengan sedikit malu-malu…… namun dengan tatapan mata yang menyimpan tekad kuat,
mengulurkan tangannya padaku.
"Kalau
begitu…… mari kita pergi, Tsukino-san."
"Iya,
Kotaro-san."
Aku menyahut
dan menyambut tangannya dengan tatapan yang juga penuh tekad.
Kotaro-san……
dengan gaya yang seolah sudah "menantikan saat ini", melontarkan
kalimatnya dengan nada yang sedikit berlebihan.
"——Ayo
kita akhiri drama pengakuan ini…… Confession
Showdown!"
"Ah! Memang ada ya nama setting
seperti itu!"
"Eh,
kamu lupa!? Ja-jahatnya, Tsukino-san!"
"I-iya,
habisnya di situasi seserius ini, nama yang mirip lelucon begitu mana mungkin
kuingat sekarang……"
"Lelucon!?
Kamu bilang lelucon!? Sejak dulu aku sama sekali tidak bermaksud
melucu……!"
"Ah—iya,
iya, sudah ayo jalan, Kotaro-san. Petugas kincir rianya
sampai bingung melihat kita."
"Ah,
ma-maaf. Anu, untuk dua orang……"
………….
Begitulah,
dengan cara yang entah kenapa sangat berantakan, pertempuran penentu bagiku pun
dimulai.
◆◇◆
Kami menaiki
kincir ria tua yang catnya terkelupas di sana-sini, jauh dari kata indah.
Begitu pintu
tertutup dan kami lepas dari pandangan petugas, Kotaro-san berujar dengan nada
sedikit bersalah.
"Aku
mengajakmu naik ini hanya karena kita bisa bicara berdua dengan tenang…… apa
benar tidak apa-apa di sini?"
"Iya,
tidak masalah. Justru menurutku, tempat yang tidak terlalu sempurna ini bisa
dibilang Great."
"Eh?
Kenapa begitu?"
"Tentu
saja, karena itu menghilangkan kemungkinan Kotaro-san terbawa suasana atau
situasi dan akhirnya mengambil keputusan manis yang sebenarnya tidak sesuai
keinginanmu."
"Cara
berpikirmu benar-benar mencerminkan seorang petarung di setiap
kesempatan."
Kotaro-san tertawa kecut dengan nada
kagum. Aku membalas
senyumannya namun segera melanjutkan.
"Sebenarnya
aku ingin berbincang santai, tapi kincir ria ini satu putarannya hanya sepuluh
menit lebih sedikit. Kita tidak bisa terlalu santai. Mari segera kita
'langkahkan', Kotaro-san."
"Langkahkan
ya. ……Yah, aku setuju."
Kotaro-san
menatap mataku dengan lurus.
……Sejujurnya,
memikirkan apa yang akan terjadi membuat hatiku hampir hancur.
Namun justru
karena itulah, aku hanya bisa menghadapinya dengan memakai 'topeng' diriku saat
sedang bertanding shogi.
Sambil
menatap pemandangan luar yang sejujurnya tidak terlalu menarik, aku bertanya
padanya dengan nada datar.
"Jadi,
bagaimana baiknya? Apa aku boleh langsung menanyakan jawabannya?"
"Begitu
ya. Aku juga berpikir sebaiknya menjawab dengan ringkas."
"Tapi?"
"Anu,
maaf, tapi bolehkah aku mengikuti beberapa tahapan dulu? Karena menurutku ini
adalah prosedur yang diperlukan agar aku bisa menyampaikan perasaanku saat ini
dengan 'tepat dan akurat'."
Dia
mengajukan permohonan itu dengan wajah sedikit bersalah. Meski dalam hati aku
merasa lega, aku tidak menunjukkannya dan menyahut dengan datar,
"Baiklah."
Kotaro-san
menghela napas lega dan mulai berbicara lagi.
"Kalau
begitu, pertama-tama…… aku
ingin membuka Langkah Tersegel-nya."
Mendengar
usulan itu, aku bereaksi secara spontan.
……Sejujurnya,
ini adalah momen yang tidak kunantikan.
Karena,
aku sudah bisa menebak apa yang tertulis di sana.
Memikirkannya
saja membuat hatiku terasa berat.
Namun,
bukan berarti aku boleh lari.
Setelah
jeda sejenak, aku menjawab "Baiklah," lalu mengeluarkan amplop itu
dari tas—Langkah Tersegel yang ia tulis.
Mungkin dia
menyadari tatapan melankolisku pada amplop itu. Kotaro-san bertanya, "Apa
sebaiknya aku yang membukanya?" Namun aku menggelengkan kepala.
"Tidak.
Ini adalah benda yang kusimpan selama dua minggu terakhir. Jika boleh, biarkan
aku yang membukanya."
"Baiklah.
Silakan."
Atas
dorongannya, aku menghela napas sekali dan menyobek segelnya.
Benda yang
terlihat sangat rapat itu ternyata terbuka dengan sangat mudah. Aku menelan
ludah.
Aku
mengeluarkan kertas yang terlipat tiga dari dalam amplop. Lalu, dengan segenap
keberanian, aku membukanya.
……Ternyata,
tulisan yang muncul di sana benar-benar di luar dugaanku.
◆◇◆
Utakata
Tsukino
Begitulah
yang tertulis di sana dengan jelas menggunakan pulpen hitam. Melihat itu……
"……Fuuu."
Aku menghela
napas tanpa rasa senang, melipat kembali kertasnya, lalu menatap Kotaro-san di
depanku.
"Ini——sama seperti saat bermain
'A-I-U-E Battle', ya. Intinya——ini
adalah bentuk perhatian di permukaan. Sesuatu yang kau tuliskan sebagai etika
minimal saat membiarkanku memegang Langkah Tersegel ini selama dua
minggu."
Mendengar
penilaianku, Kotaro-san membelalakkan mata dengan kagum.
"Wa-wah,
hebat ya, Tsukino-san. Kau
bisa langsung mengetahuinya dalam sekejap."
"Entahlah.
Ini bukan soal kemampuan deduksiku, tapi lebih karena……"
Aku
menatapnya tajam dan menyatakan.
"Karena
sudah sangat jelas bahwa ini adalah kebohongan. ……Bukankah seleramu sedikit
buruk?"
"Ugh.
Ma-maaf. Jika itu membuatmu tidak nyaman, aku benar-benar minta maaf."
Kotaro-san
menundukkan kepalanya dalam-dalam padaku. Setelah menghela napas, aku
membalasnya dengan senyuman.
"Angkat
kepalamu, Kotaro-san. Ini bukan soal tidak nyaman. Justru
ini hanya membingungkan."
"Membingungkan?"
"Iya. Karena jika kau memberikan
perhatian semacam ini, maka Langkah Tersegel ini jadi tidak ada gunanya.
Padahal awalnya ini adalah alat untuk menuliskan dan mengeluarkan 'kejujuran'mu
saat itu dalam bentuk yang tidak bisa dilihat siapa pun……"
Sampai di situ, ada sesuatu yang
mengganjal.
Menuliskan dan mengeluarkan dalam
bentuk yang tidak bisa dilihat siapa pun?
"…………"
Sekali lagi aku membuka kertasnya dan
memeriksanya dengan detail.
……Tadi aku tidak menyadarinya, tapi
tulisan 'Utakata Tsukino' itu entah kenapa tidak berada di tengah…… melainkan sedikit agak ke kiri.
……Kenapa
tidak di tengah, tapi di posisi seperti ini?
Saat
memikirkan hal itu, tiba-tiba berbagai informasi dalam kepalaku terhubung.
Sesuatu yang
tampak tidak berhubungan, tapi sebenarnya adalah elemen yang saling bertautan.
Dengan kata lain……
"Kotaro-san.
Jika boleh, aku ingin bertanya bagaimana caramu meninggalkan pesan kematian
dalam drama Murder Mystery 'Pembunuhan di Atas Papan'?"
Mendengar
pertanyaanku yang langsung menusuk ke inti masalah, Kotaro-san bergumam
"Ooh" dengan nada sangat kagum.
"Wah,
hebat. Kurasa itu benar-benar jenius. Bagaimana kau bisa menghubungkan hal
itu?"
Kotaro-san
memberikan pujian atas kesimpulan yang kucapai.
Ia
melanjutkan.
"Lagipula,
sepertinya kau sudah bisa menebak metode yang kugunakan, kan?"
Aku
mengangguk mantap mendengar ucapannya. Setelah merapikan informasi di kepala, aku mulai berbicara.
"Selama
ini ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Setiap kali kau membicarakan Murder
Mystery 'Pembunuhan di Atas Papan' buatan Hangui-san. Kenapa kau tidak
pernah menggunakan kata 'menebak' atau 'mencari tahu' identitas pelakunya,
melainkan dengan sangat gigih selalu menggunakan kata……"
Aku berhenti
sejenak, lalu menunjukkan Langkah Tersegel yang "tampak memiliki ruang
kosong yang tidak perlu" itu padanya.
"Selalu
menggunakan kata 'Menyingkap' (Aburidashi)?"
"……Maksudmu?"
Kotaro-san
meminta jawaban yang akurat. Aku menunjuk ke area di sebelah kanan nama yang
tertulis di kertas itu.
"Dalam Murder
Mystery 'Pembunuhan di Atas Papan', bukti terbesar yang menunjukkan
pelakunya——mungkin pesan kematian yang ditinggalkan di kertas burung
bangau——pastinya menggunakan trik klasik yang sangat cocok untuk 'Murder
Mystery pengenalan bagi pemula', yaitu trik Menyingkap Tulisan Rahasia (Aburidashi).
Dan trik itu
juga diterapkan pada Langkah Tersegel ini."
"Luar
biasa!"
Kotaro-san bertepuk tangan memujiku.
"Wah, padahal kau bahkan belum
membaca skenario 'Pembunuhan di Atas Papan' apalagi mengikutinya, tapi kau bisa
sampai pada kesimpulan seperti itu, Tsukino-san."
"Terima kasih. Tapi kalau soal
itu, bukankah Kotaro-san sendiri yang hebat karena tetap konsisten menggunakan
ekspresi 'Menyingkap' meskipun belum berada di depan pelanggan?"
Mendengar itu, Kotaro-san menggaruk
kepalanya dengan bingung.
"Ah, tidak, itu sebenarnya lebih
karena aku ingin bersikap adil kepada Mifuru-san daripada kepada
Tsukino-san."
"Kepada
Takanashi-san?"
"Iya.
Sebenarnya Hangui ingin agar kami para pemeran juga bisa menikmati ceritanya
saat pertama kali tampil."
"Ah,
jadi kalian berdua tidak tahu informasi yang dimiliki satu sama lain?"
"Iya.
Tapi jika saat aku berinteraksi dengan Mifuru-san aku tidak sengaja menggunakan
pilihan kata yang aneh dan malah menyesatkannya, bukankah itu tidak adil? Jadi kupikir lebih baik aku
konsisten menggunakan ekspresi yang adil."
"Ooh,
jadi karena itulah kau bersikeras memakai kata 'Menyingkap'. Kau seolah sudah
memberi tahu jawabannya, tapi secara tata bahasa Jepang itu tidak terasa
aneh."
"Begitulah.
……Ah, tapi meski begitu, pada akhirnya secara teknis ini jadi tidak terlalu
adil juga sih."
"Apa
maksudnya?"
"Maksudnya
persis seperti yang kukatakan. Metode untuk menampilkan pesan kematian di Murder
Mystery atau tulisan tersembunyi di Langkah Tersegel ini, sebenarnya bukan
benar-benar teknik 'Menyingkap dengan Api' (Aburidashi)."
"Eh?"
Aku tertegun
mendengar plot twist kecil itu. Kotaro-san tertawa kecut sambil merogoh
tasnya dan mengeluarkan sebuah pulpen.
"Ah,
itu kan yang kau beli di toko serba seribu……"
"Iya,
'Magic Light Pen'…… satu set yang berisi senter ultraviolet kecil dan pulpen
dengan tinta yang hanya terlihat saat disorot lampu itu. Masalahnya, di kafe board
game rasanya kurang tepat kalau kita melakukan teknik 'Menyingkap'
menggunakan api sungguhan."
"Benar
juga ya."
Kalau
dipikir-pikir memang benar. Kotaro-san melanjutkan.
"Lalu
setelah berdiskusi dengan Hangui, kami segera menggantinya dengan metode sinar
ultraviolet. Tapi saat itu ekspresi 'Menyingkap' sudah terlanjur digunakan, dan
karena maknanya tidak terlalu jauh, kami tetap memakainya."
"Begitu
ya. …………"
Percakapan
kami terhenti. Hanya terdengar suara derit kincir ria tua yang berputar.
Aku
memberanikan diri, lalu mengulurkan tangan meminta pulpen itu padanya.
"……Kalau
begitu, bolehkah aku menggunakan lampu ultraviolet itu?"
"……Silakan."
Kotaro-san
sempat ragu sejenak.
Namun pada
akhirnya, ia menyerahkan pulpen itu dengan tatapan penuh tekad.
Aku
menerimanya, lalu mengarahkan bagian lampu ke kertas Langkah Tersegel.
Dan
kemudian…… dengan satu keputusan bulat, aku menyinari bagian itu.
Di sebelah
tulisan "Utakata Tsukino". Aku menyingkap jawaban yang sebenarnya
mengenai orang yang ia sukai saat itu.
◆◇◆
Mifuru
Takanashi
"…………"
Itu adalah
akhir yang sangat wajar. Tidak mungkin ada jawaban lain, dan tidak boleh ada
jawaban lain. Sesuatu yang sudah sangat jelas. Namun meski begitu.
Tanpa sadar,
satu tetes air mata jatuh dari mata kananku.
"Tsukino-san……"
"Ah……
tidak, maaf. Padahal aku sudah tahu hal ini akan terjadi. Bagaimana ya, ini
seperti reaksi refleks saja. Fufu, aneh ya, perasaan manusia itu."
"…………"
Kotaro-san
tampak mengernyitkan wajah seolah merasa pedih melihat keadaanku. Namun, ia
tidak berusaha menutup-nutupi apa pun, ia menatapku lurus dari depan dan
menyatakan dengan tegas.
"Tsukino-san.
Aku dulu menyukai Mifuru-san…… Takanashi Mifuru-san."
"……Iya."
Aku pun
menerima pernyataan itu dengan sikap tegak.
……Sesuatu
yang sudah jelas. Sudah jelas tapi…… tetap saja bagian dalam dadaku terasa
dingin sampai terasa sakit.
Aku tidak
bisa tersenyum, bahkan tidak bisa memasang wajah biasa saja.
Pasti saat
ini wajahku terlihat sangat buruk…… sampai-sampai Kotaro-san pun mungkin tidak
sanggup melihatnya.
Aku tidak
ingin memberinya beban pikiran yang berlebihan, apalagi mencari rasa ibanya.
Aku sangat
berharap tidak menjadi wanita yang lemah seperti itu——tapi aku benar-benar
tidak bisa mengendalikannya.
Pasti itu
adalah wajah yang sangat tidak tega untuk dilihat oleh Kotaro-san yang lebih
baik hati dari siapa pun.
Namun ia
tetap melanjutkan bicaranya tanpa memalingkan wajah sedikit pun dariku.
"Tidak,
barusan itu caraku bicara yang sedikit melarikan diri. Aku akan mengatakan
kejujuranku dengan lebih mantap lagi."
Ia
melontarkan pengakuan seumur hidup yang pastinya tidak ingin ia katakan di
situasi seperti ini, sebuah kejujuran yang terasa kejam bagi siapa pun.
Ia
mengatakannya tanpa ragu sedikit pun, hingga aku bisa merasakan betapa
seringnya ia mengulang simulasi pengakuan ini di dalam kepalanya.
"Bahkan
sampai sekarang pun, dari lubuk hatiku yang terdalam, aku menyukai Takanashi
Mifuru. Aku sangat mencintainya."
"……Iya.
Aku sudah mengetahuinya."
Aku
memaksakan diri, seolah memeras seluruh tenaga hanya untuk membalas kalimat
itu.
Ya... aku
sudah tahu. Aku sudah sangat tahu. Tanpa perlu dia mengatakannya pun, aku sudah
menyadarinya sejak lama.
Aku tahu dia
bukan tipe orang yang bisa dengan mudah memindahkan target hatinya. Aku juga
tahu dia bukan tipe pria yang mau berkencan denganku dengan perasaan setengah
hati, hanya karena dia sedang jomlo.
Lalu,
Kotaro-san akhirnya... mengutarakan jawaban pemungkasnya.
"Karena
itu, untuk pengakuan Tsukino-san kali ini... permintaanmu agar kita berpacaran,
aku tidak bisa memenuhinya. Maafkan aku."
Kotaro-san
menundukkan kepalanya dalam-dalam saat menolakku. Aku hanya bisa menjawab
dengan satu kata, "Iya."
...Ini adalah
kekalahan yang sudah digariskan. Rasanya, bahkan untuk merasa terluka pun aku
tidak pantas.
Tapi... meski
begitu, kenapa.
"……Maaf,
kan aku."
Air mata yang
meluap dari mataku tak bisa dibendung lagi. Tanpa sadar aku menutupi wajah
dengan kedua tangan. Betapa memalukannya penampilanku sekarang.
Aku
benar-benar benci diriku sendiri. Ini hanyalah kepuasan ego semata. Reaksi ini
hanya akan melukai perasaannya tanpa alasan. Aku tahu itu, tapi... kenapa.
Kenapa.
Tanpa
kusadari, kincir ria sudah mencapai titik puncaknya. ……Mulai dari sini, kami
hanya akan terus bergerak turun. Sungguh sebuah ironi.
Setelah
keheningan menyelimuti sejenak, Kotaro-san angkat bicara sementara aku masih
menundukkan wajah.
"……Bidding
Game itu, sebenarnya adalah permainan tentang merelakan, ya."
"……Fufu.
Benar-benar... di saat seperti ini pun kamu masih membahas board game."
"Maaf."
"Tidak,
kurasa itu sangat mirip denganmu. ……Aku juga suka sisi dirimu yang itu."
"……Terima
kasih."
Tersenyum
tipis, dia melanjutkan.
"Kita
tidak bisa membeli semuanya. Karena itu, kita harus mendapatkan apa yang paling
penting bagi kita sendiri... Dengan kata lain, kita harus 'merelakan' hal-hal
lain demi meraih hal yang paling berharga di akhir nanti... yaitu kemenangan.
Itulah inti dari Bidding Game."
"……Iya."
"Lalu...
yah, kalau aku bicara soal kehidupan lewat board game, mungkin
Mifuru-san akan marah. Tapi bagiku, hal besar pertama yang harus aku 'relakan'
dalam hidup... sepertinya adalah Natsumi-san."
"Eh?"
Aku refleks
mengangkat wajah karena alur pembicaraan yang tak terduga. Kotaro-san
memastikan sesuatu padaku.
"Anu,
Tsukino-san, soal Natsumi-san, bukankah kamu sudah mendengar garis besarnya
dari Hangui?"
"Ah,
maaf. Soal itu, termasuk keributan seputar Hakiri Omitora, kira-kira aku sudah
tahu……"
"Tidak,
tidak perlu minta maaf. Justru itu membuat
ceritanya jadi lebih mudah. Lagipula, maaf ya, aku jadi terlalu banyak
bercerita tentang diriku padamu."
Setelah meminta maaf, dia menatap
pemandangan senja di luar yang sejujurnya tidak terlalu istimewa, lalu
melanjutkan.
"Ini
cerita saat Hakiri-sensei datang... pria yang nantinya menjadi suaminya,
Omitora-san. Saat itu aku mencintai Natsumi-san, tapi pada akhirnya, jangankan
merebutnya... menyampaikan perasaanku saja tidak aku lakukan sampai akhir. Aku
memilih memendam perasaanku dan hanya memberkati mereka berdua."
"……Itu
pasti pilihan yang membutuhkan kekuatan mental luar biasa. Terus mengawasi
orang yang disukai hidup bahagia dengan pasangannya tepat di depan mata……"
"Iya.
Sejujurnya, sampai sekarang aku terkadang berpikir, apa lebih baik waktu itu
aku bersikap egois dan tidak bertanggung jawab saja dengan menembak
Natsumi-san. Biar saja aku ditolak mentah-mentah, terluka parah, lalu pergi
dari hadapan mereka dengan perasaan dongkol. Tapi aku yang dulu tidak memilih
itu. Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Alasan
terbesarnya, ya karena aku ini pengecut yang nyalinya ciut."
Kotaro-san
tertawa dengan nada yang sangat meremehkan diri sendiri. Aku menahan diri untuk
tidak membantah agar tidak memotong pembicaraannya, sementara dia terus
bercerita.
"Dulu
Hangui pernah menilai kepribadianku sebagai 'tipe orang yang bisa melakukan apa
saja jika dia rasa itu demi orang yang disayanginya'. Tapi sisi sebaliknya juga
berlaku."
"Sisi
sebaliknya?"
Kotaro-san
menarik napas sejenak sebelum menjawab pertanyaanku.
"Yaitu
'tipe orang yang tidak bisa melakukan apa-apa jika dia rasa itu tidak membawa
kebaikan bagi orang yang disayanginya'."
"——!"
"Benar-benar,
aku sendiri pun muak karena selalu saja memperhatikan perasaan orang lain,
sungguh memalukan—"
"Bagiku,
itu bukan begitu."
Aku memotong
ucapannya yang terus mengejek diri sendiri, dan mengutarakan pendapatku dalam
satu kalimat.
"——Aku
tidak menyebutnya sebagai 'orang yang memalukan', tapi 'orang yang baik
hati'."
"…………"
"Maaf.
Hanya itu saja. Silakan dilanjutkan."
"……Haha,
Tsukino-san benar-benar hebat ya. ……Iya, terima kasih. Baiklah, aku lanjut
ya."
"Iya."
"Tadi
aku cuma menyebut diriku pengecut sebagai ejekan. Tapi sebenarnya, aku punya
logika yang masuk akal kenapa aku menahan diri untuk tidak menyatakan cinta
pada Natsumi-san. Dan itu adalah..."
"Pangkal
dari cerita ini. Sesuatu yang juga terhubung dengan 'inti dari Bidding Game'
dalam board game, ya?"
"Benar
sekali. Maaf ya, aku selalu mengumpamakan hal penting dengan board game."
Kotaro-san tertawa seolah sedang
bercanda. ……Baru sekarang aku menyadari bahwa alasannya sering mengumpamakan
hidup dengan board game adalah cara dia bertahan hidup—cara dia
"berdamai dengan hal-hal pahit yang sulit untuk ditelan."
Sambil memberikan senyuman tipis yang
terasa menyayat hati, dia menyampaikan kesimpulan dari ceritanya.
"Inti dari Bidding Game
adalah 'memastikan apa yang boleh direlakan dan apa yang harus diprioritaskan'.
Bagiku saat itu, 'hal yang boleh direlakan' adalah perasaan cintaku pada
Natsumi-san. Dan
lebih dari itu, hal yang harus menjadi prioritas utama adalah——"
Jeda
sejenak, Kotaro-san tersenyum malu.
"——Senyum
Natsumi-san."
"…………"
"Demi
melindunginya, aku bisa mengabaikan hal lainnya. Berada di posisi paling dekat
dengannya, atau sekadar meluapkan perasaan demi memuaskan hasrat diri sendiri.
Ego semacam itu bukan hal penting bagiku. Aku bisa memilahnya dengan baik dalam
diriku, dan merelakannya."
Dadaku terasa
sangat sesak. Meskipun tahu ini mungkin pertanyaan yang kurang sopan, aku harus
memastikannya.
"Pada
akhirnya... apakah strategi itu membuahkan hasil?"
Mendengar
pertanyaan itu, Kotaro-san mengangguk dengan senyum yang benar-benar cerah.
"Iya.
Sampai sekarang Natsumi-san tampak sangat bahagia dengan suaminya yang sangat
dia cintai. Aku sama sekali tidak menyesal."
"Itu...
syukurlah kalau begitu."
"Iya,
begitulah. Ah... tapi, anu..."
Tiba-tiba wajah Kotaro-san berubah
muram.
"Belakangan, aku malah dibuat
menyesal luar biasa gara-gara suaminya itu……"
"Ha, haha……"
Aku hanya bisa tertawa hambar. Ka-kalau
soal itu sih... aku hanya bisa bilang turut berduka cita, ya. Hakiri Omitora
memang seharusnya dipukul sekali oleh Kotaro-san.
Dia berdehem untuk mengembalikan
pembicaraan yang sedikit melenceng, lalu melanjutkan.
"Anu.
Jadi intinya yang ingin aku katakan adalah... Saat ini, perasaanku terhadap
Mifuru-san pun kurang lebih sama."
"……Eh?"
Alur
pembicaraan yang berbelok ke arah tak terduga membuatku mengeluarkan suara
kebingungan.
Sambil terus
menatap ke luar dengan tatapan pedih, Kotaro-san melanjutkan.
"Aku
suka Takanashi Mifuru. Sangat suka. Sejujurnya sampai sekarang, aku masih
mencintainya dari lubuk hatiku. Pasti berkali-kali lipat lebih besar dibanding
kekaguman polosku pada Natsumi-san dulu. ……Tapi, justru karena itulah."
Dia kemudian
menoleh ke arahku dengan senyum sedih yang dipaksakan, lalu mendeklarasikan
sesuatu.
"Perasaan
ini bukanlah sesuatu yang harus diprioritaskan sampai-sampai harus
menghancurkan kebahagiaannya."
"Itu……"
Itu berarti
semacam "deklarasi untuk merelakan Takanashi Mifuru". Aku refleks
bersuara karena bingung dengan keputusan itu.
Sebab, jika
keputusan itu diambil karena rasa sungkan terhadap status "Usa
Itsuki" sebagai pacar palsunya, maka itu terlalu...
"Anu,
bukannya aku ingin ikut campur, tapi jika ini bukan hal yang menentukan seperti
rencana pernikahan Natsumi-san dulu…… itu……"
"Benar.
Aku juga berpikir begitu selama ini. Tapi, ada satu hal yang menentukan."
"Hal
yang menentukan?"
Apa aku
melewatkan sesuatu? Saat aku sedang berpikir yang bukan-bukan, Kotaro-san
melanjutkan.
"Aku
ditolak. Oleh Mifuru-san. Secara jelas."
Itu
benar-benar informasi yang baru pertama kali kudengar. Aku bertanya dengan
panik.
"Eh?
Ka-kapan dan dalam situasi seperti apa itu terjadi!?"
"Tentu
saja Tsukino-san tidak tahu. Karena ini terjadi tepat sebelum aku naik kincir
ria bersamamu. Saat aku pergi menemui Mifuru-san tadi."
"Eh.
Berarti... mungkinkah saat itu Kotaro-san menyatakan cinta padanya?"
"Tidak,
tidak mungkin! Bukankah itu berarti aku melanggar janji dengan
Tsukino-san?"
Benar juga.
Lagipula, salah satu tujuan pengakuan cintaku ini adalah untuk mencegah
Kotaro-san menembak Mifuru-san. Aku tidak yakin orang seserius Kotaro-san akan
mengingkari janji itu tiba-tiba.
"……Tapi,
kalau begitu, apa maksudnya penolakan dari Takanashi-san?"
"Ya
sesuai maknanya. Aku memang tidak menembaknya. Tapi meskipun begitu, dia pasti
merasakan sesuatu dari sikapku sehari-hari. Akhir-akhir ini aku merasa nada
bicara dan sikapnya lebih galak dari biasanya. Dan hari ini, akhirnya dia mengatakannya dengan
gamblang."
"Mengatakan
apa?"
"Dia
bilang, dia tidak menganggapku sebagai apa-apa."
"…………"
Memang
benar, sesaat sebelum aku menemuinya, Takanashi-san sempat bilang sesuatu
seperti "aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu,
Uta-chan", tapi... kenapa sekarang tiba-tiba...
Kotaro-san
tertawa kecut.
"Karena
itulah, sebenarnya aku pun sudah ditolak lebih dulu daripada Tsukino-san."
"I-itu
benar-benar... anu, aku turut berduka cita."
"Terima
kasih atas simpatinya. Tapi, Tsukino-san sendiri pun juga……"
"Jangan
diteruskan."
Setelah itu,
kami berdua tertawa kecil bersama.
……Tanpa
disadari, anehnya hatiku terasa sedikit lebih ringan.
……Apakah dia
menceritakan kegagalannya ini hanya agar aku merasa lebih baik?
Jika iya, dia
benar-benar orang yang sangat baik hati dari lubuk jiwanya.
……Aku memang
benar-benar mencintainya.
Saat aku
menatapnya dengan pandangan penuh rasa suka seperti biasa, dia sepertinya
menyadari hal itu.
Dia menggaruk
kepalanya dengan malu-malu, memalingkan wajah, lalu lanjut bicara.
"Ah—tapi
aku tegaskan sekali lagi. Aku masih menyukai Takanashi Mifuru-san. Meskipun
ditolak... meskipun tidak bisa menjadi pasangannya, bukan berarti aku jadi
'membencinya'. Malah, aku masih terus mendoakan kebahagiaannya dengan sepenuh
hati."
"Aku
mengerti."
Aku
mengangguk dengan penuh keyakinan. Melihatku, Kotaro-san tersenyum manis padaku.
Di wajahnya
itu... aku merasa ada sedikit emosi yang belum pernah ia tunjukkan padaku
sebelumnya.
Saat aku
terpana melihatnya, dia angkat bicara dengan nada sungkan.
"……Anu,
maaf kalau pembicaraannya jadi bolak-balik. Di sini, anu, bolehkah aku
menceritakan sedikit tentang apa yang terjadi beberapa tahun lalu... setelah
aku patah hati karena Natsumi-san?"
"Eh? Ya,
silakan saja……"
Ada apa
tiba-tiba? Meski berpikir begitu, karena dia bukan tipe orang yang membawa
topik tanpa alasan, aku pun memasang telinga.
"Aku,
anu, sebenarnya tidak terus-menerus galau karena patah hati dari Natsumi-san.
Tapi, saat aku bisa benar-benar merasa sudah 'benar-benar move on'
darinya... itu adalah, anu, setelah aku bertemu dengan Mifuru-san."
"……Oh. Be-begitu ya."
"Iya. Begitulah."
Sejujurnya,
aku tidak tahu harus menanggapi apa.
Kenapa
Kotaro-san membicarakan ini sekarang?
Aku tidak
menangkap maksudnya. Tapi di sisi lain, dia terlihat jauh lebih gelisah dan
gugup dibanding sebelumnya.
……Aku
benar-benar tidak paham.
Keheningan
kembali turun di antara kami. Kotaro-san berdehem, lalu berbalik menghadapku
sepenuhnya.
"Lalu,
anu, Tsukino-san. Mulai dari sini adalah... inti pembicaraanku yang sebenarnya
untuk hari ini."
"Eh?
Hah? Eh? Mulai dari sini inti pembicaraannya?"
Apa
yang sedang dibicarakan orang ini?
Inti
pembicaraan atau apa pun, bukankah drama pengakuan cinta hari ini sudah selesai
dengan kekalahan telakku? Mau apa lagi sekarang……
Berbeda
denganku yang merasa heran, Kotaro-san justru... entah kenapa, menatapku
lurus-lurus dengan pandangan paling serius yang pernah kulihat hari ini.
Karena
tekanan auranya yang begitu kuat, aku refleks membetulkan posisi dudukku.
Di tengah
ketegangan aneh yang kembali menyelimuti kincir ria, Kotaro-san... meski
bicaranya terbata-bata karena gugup dan wajahnya memerah padam, ia tetap
mengatakannya dengan jelas.
"Aku
suka Tsukino-san."
"Ha,
iya?"
……Meskipun
aku belum benar-benar paham apa yang sedang dimulai, aku merasakan panas
menjalar dengan cepat ke wajahku. Aku menjawab dengan terbata-bata.
"I-i-i-iya!
Apa yang kamu katakan? Kotaro-san, bukankah baru beberapa menit yang lalu kamu
menolak pengakuan cintaku mentah-mentah!?"
"Ah,
soal itu, iya. Untuk saat ini aku tidak bisa berpacaran denganmu. Karena aku masih sangat mencintai
Takanashi Mifuru-san."
"Dua
kali! Eh, kenapa aku harus ditolak dua kali dengan kalimat yang sama!? Aku
bakal nangis lho!? Aku bakal nangis kencang-kencang lho!?"
"Ah,
maaf! Bukan begitu! Me-memang benar, untuk pengakuan Tsukino-san kali ini——soal
permintaan 'mari berpacaran' itu, bagaimanapun juga di pihakku belum siap untuk
melakukan hubungan yang benar-benar jujur di mana aku bisa bilang aku hanya
mencintaimu sepenuh hati. Ja-jadi, anu, aku hanya bisa minta maaf soal itu.
Tapi."
Di sana, ia
membiarkan tekad membara di matanya.
Seolah meniru
tindakanku saat aku menembaknya dulu... dia menggenggam tanganku dengan erat.
Lalu...
dengan tatapan mata yang sangat jujur.
Secara
mengejutkan, dialah yang melontarkan "pengakuan balik".
"Maukah
kamu menjadi teman——bukan. Maukah kamu memulainya 'dari' teman denganku?"
"……——!"
Pengakuan
yang begitu tiba-tiba dari Kotaro-san membuatku refleks menundukkan mata.
Melihat
reaksiku, sepertinya dia salah menangkap maksudnya dan melanjutkan dengan nada
serius.
"Pria
berengsek ini, karena ditolak oleh orang yang disukai——Mifuru-san, lalu mencoba
beralih ke orang lain. Aku rasa wajar jika kau berpikir begitu."
"Ti-tidak,
aku tidak berpikir begitu……"
"Tidak,
aku tidak berniat menutup-nutupi hal itu. Akan kukatakan berkali-kali, aku masih menyukai
Mifuru-san. Sangat menyukainya."
"Apa
kamu harus mengatakannya berkali-kali padaku!?"
"Iya,
karena aku tidak boleh bersikap tidak jujur padamu."
"Jadi
menyakitiku tidak apa-apa begitu!?"
"Iya.
Habisnya Tsukino-san, kamu lebih suka 'kejujuranku' atau 'perhatian omong
kosongku'?"
"Ah, itu
sih jelas 'kejujuran' nomor satu."
"Kan,
sudah kuduga."
Kotaro-san
tertawa seolah sudah tahu jawabannya.
Di satu sisi
aku merasa malu karena sifat asliku sudah diketahui sepenuhnya, tapi di sisi
lain rasanya sangat menyenangkan.
Setelah
tertawa lepas, ketegangannya sedikit mencair dan dia melanjutkan.
"Aku
suka Mifuru-san. Itu adalah kenyataan yang tak tergoyahkan sampai sekarang.
Tapi di sisi lain, aku nyatakan bahwa perasaan ini pun adalah kejujuran yang
nyata."
Jeda sejenak,
dia kembali menatap mataku dan berujar.
"Aku
suka Tsukino-san."
"…………"
"Meski
masih ada kata 'sebagai manusia' di depannya. Tapi, fakta bahwa aku sangat
menyukaimu, bagaimanapun juga aku ingin menyampaikannya."
"Karena
itu... setelah menolak pengakuanku. Kamu memintaku untuk memulai 'dari
teman'?"
"Iya.
Itulah hal maksimal yang bisa kukatakan saat ini. Jika ini terdengar tidak
tulus bagimu, kau boleh menolak permintaan pertemanan ini."
Bahu pria
yang bicara seperti itu sedikit gemetar.
……Kemungkinan
besar, dia melakukan pengakuan ini dengan pikiran bahwa dia akan ditolak
sembilan puluh persen.
Menolak
pengakuanku, menekankan berkali-kali bahwa perasaannya pada Takanashi-san tidak
berubah, merendahkan nilainya sendiri, namun tetap tidak bisa menahan diri
untuk tidak mengungkapkan rasa sukanya padaku.
Pasti itulah
alasan di balik tindakannya ini.
……Astaga.
Padahal dia jago main board game, kenapa orang ini begitu payah dalam
urusan hubungan antarmanusia.
Aku sedikit
heran, lalu mulai berbicara padanya.
"……Bolehkah
aku memastikan satu hal?"
"Apa
itu?"
"Bolehkan
aku menganggap bahwa kata 'dari' dalam kalimat 'memulai dari teman' itu
mengandung makna yang sepadan?"
"…………"
Mendengar
pertanyaanku, dia sempat ragu untuk menjawab.
Itu bukan
karena dia bingung, tapi karena dia mempertimbangkan ketidaktulusan jika dia
mengucapkan hal itu——hal yang bisa jadi sekadar kata-kata manis bagi orang yang
menyukainya.
Namun pada
akhirnya, dia lebih memprioritaskan keinginanku akan jawaban, dan membuka mulut
sambil memilih kata-kata dengan hati-hati.
"Iya.
Itulah alasan kenapa tadi aku menceritakan soal Natsumi-san. Karena aku ingin
'menatap ke depan' bersamamu, aku mengatakannya dengan tekad tertentu, memulai
'dari' teman."
"Lalu,
seandainya aku menerima tawaran itu. Karena kita belum berpacaran, berarti
masih ada kemungkinan kamu menjalin hubungan dengan Takanashi-san——"
"Itu
tidak mungkin terjadi."
Kotaro-san
memotong dengan tegas. Sementara aku sedikit terintimidasi oleh auranya, dia
melanjutkan.
"Meskipun
belum sampai tahap 'pacaran'. Di pihakku yang menggunakan kata 'dari', aku
merasa harus menarik garis tegas. Tentu saja Tsukino-san tidak perlu terikat
olehku yang statusnya hanya 'teman', tapi setidaknya di pihakku, aku tidak akan
pernah melakukan pengkhianatan padamu."
"I-itu,
anu…… syukurlah kalau begitu (Great)."
"Tidak,
jangan bilang 'syukurlah' untuk hal ini. Ini adalah
'kewajiban'."
"Be-begitu ya."
"Iya."
Keheningan
kembali menyelimuti kabin kincir ria. Sambil menatap pemandangan luar, aku berujar pelan.
"Kotaro-san...
kamu berniat menjadikan aku alasan untuk 'melupakan' Takanashi-san, ya."
"……Iya.
Benar sekali."
Kotaro-san
tidak melanjutkan kata-katanya lagi.
Padahal dia
pasti ingin memberikan banyak penjelasan atau ejekan pada diri sendiri.
Seolah tidak
ingin mengaburkan keputusanku, saat ini dia sangat hemat bicara.
Aku
benar-benar heran padanya, aku mengangkat bahu dan menghela napas panjang.
"Sisi
dirimu yang itu, bisa jadi kelebihan tapi juga kekurangan besar,
menurutku."
"……Maaf.
Kalau begitu……"
"Iya.
——Mohon bantuannya untuk waktu yang sangat lama."
"Tunggu,
alurnya aneh!"
Kotaro-san
sangat bingung dan langsung memprotes dengan keras.
"Bukan,
apa-apaan tadi! Tidak apa-apa!? Kamu mau jadi teman dengan orang berengsek sepertiku!?"
"Ka-kamu
merendahkan diri sendiri parah banget ya. Apa kamu lupa kalau aku baru saja
menembakmu beberapa menit lalu?"
"Itu
benar sih! Ta-tapi aku kan berniat memanfaatkanmu untuk melupakan
Mifuru-san……"
"Ah,
kalau soal itu, aku justru merasa 'terhormat', tahu?"
"Eh?"
"Habisnya,
itu berarti kamu melihat kemungkinan padaku untuk 'menjadi sangat suka sampai
bisa melupakan Takanashi-san'... dengan kata lain kamu melihat masa depan untuk
berjalan bersama denganku, kan?"
"Itu,
kalau dikatakan seperti itu, memang benar sih. Tapi……"
"Tidak
ada tapi-tapi. Kotaro-san sepertinya ingin sekali merendahkan diri sendiri.
Tapi aku sudah tahu kalau penilaianmu terhadap dirimu sendiri itu sama sekali
tidak layak dipercaya. Jadi untuk saat ini, aku memutuskan untuk lebih
memprioritaskan 'dirimu menurut pendapatku'. Mohon maklum."
"Ugh.
……Ta-tapi lihatlah, kontrak pertemanan yang egois ini——"
"Ah,
kalau soal itu, bolehkah aku mengajukan satu permintaan saat kita membuat
kontrak ini?"
"Eh?
I-iya, tentu saja!"
"Kalau
begitu, aku ingin meminta sedikit revisi pada pilihan kata dalam
kontraknya."
"Revisi
pilihan kata?"
"Iya."
Setelah
berkata begitu, aku menempelkan jari telunjuk di dagu dan mengajukan usul
dengan penuh semangat.
"Bukan
'mulai dari teman'. Tapi... bolehkah diganti menjadi 'mulai dari setengah
langkah di depan teman'?"
"Eh?"
Kotaro-san
kebingungan. Aku melihat ini sebagai "kesempatan menyerang", lalu
lanjut mendesak dengan tubuh condong ke depan.
"Habisnya,
kalau sekarang baru bilang 'mulai dari teman' itu aneh, kan. Memangnya aku dan
Kotaro-san selama ini bukan teman? Jangan-jangan, cuma aku yang menganggap kita teman?"
"Ti-tidak,
tentu saja tidak begitu!"
"Syukurlah
kalau begitu (Great). Tapi kalau begitu, garis start 'dari teman'
tidak bisa kuterima. Itu sama buruknya dengan acara varietas yang memancing
penonton dengan kalimat 'lanjut setelah pariwara!', tapi begitu iklan selesai
malah mengulang materi lima menit sebelumnya."
"Be-begitukah?
Rasanya agak berbeda……"
"Tidak,
memang begitu!"
Aku
mendesak dengan aura yang tidak menerima bantahan.
Kotaro-san
yang terintimidasi hanya bisa menjawab "I-iya ya," sementara aku
melanjutkan.
"Jadi,
isi kontraknya bukan 'dari teman', tapi 'dari setengah langkah di depan teman'.
Setuju, kan?"
"Eh……
u-uhm. Bagaimana ya——"
"Setuju,
kan!"
"I-iya!"
Aku
memaksanya dengan semangat. Pe-permintaan manja sebesar ini, harusnya boleh kan untukku.
Tanpa terasa,
kincir ria sudah hampir sampai di tanah.
"Ah,
sudah saatnya bersiap turun."
Melihat
Kotaro-san yang hendak berdiri, aku... memantapkan tekadku.
"Ah,
Kotaro-san, sebentar."
Aku menarik
lengannya, lalu menarik tubuhnya mendekat ke arahku. Dan kemudian...
"Eh……"
……Aku
mendaratkan sebuah kecupan ringan di pipinya.
Sangat
singkat seperti anak SD... tapi bagiku, itu adalah ciuman yang dilakukan dengan
mengerahkan seluruh keberanian seumur hidup.
『…………』
Hanya karena
hal itu, wajah kami berdua langsung memerah padam seperti kepiting rebus.
"Anu.
Tadi itu... apa……"
Kotaro-san
bertanya dengan nada bingung.
Kepadanya,
aku...
Sambil
menahan malu dan rasa bahagia yang membuat sudut mataku sedikit berair.
Aku
menunjukkan senyuman yang sedikit nakal padanya.
"……Itu adalah, setengah langkah di depan teman."
◆◇◆
Saat kami
turun dari kincir ria, matahari sudah benar-benar tenggelam.
Kami
memberikan laporan hasil singkat kepada tiga orang yang sudah menunggu dengan
wajah serius di depan tempat keluar, lalu kami segera bergegas pulang untuk
melarikan diri dari godaan——yang mereka sebut sebagai ucapan selamat.
Kami naik bus
menuju stasiun, lalu naik kereta menuju arah Ogikubo.
Karena kami
berlima sudah sangat lelah setelah bermain air seharian, tentu saja kami ingin
duduk, tapi karena situasi di Jalur Chuo tidak memungkinkan kami berlima duduk
bersama, kami pun duduk berpencar.
"Maaf ya
kalau bukan Tokiwa yang duduk di sebelahmu."
Sambil
berkata begitu, Hangui Akari duduk di sampingku.
Kalau
soal itu, aku pun ingin minta maaf karena yang duduk di sini bukan Takeshi
Momoe, tapi karena urutan naik ke gerbong dan tidak ingin mengganggu penumpang
lain, kami tidak punya waktu untuk memilah-milah pasangan duduk. Apa boleh
buat.
Ngomong-ngomong,
saat aku mengecek penumpang lainnya, Kotaro-san dan Takeshi-san duduk berdua.
Tumben
sekali, hanya Takanashi-san yang berdiri sendirian di samping pintu, agak jauh
dari kami, sambil menatap pemandangan luar.
Aku
sempat berpikir mungkin dia tidak kebagian tempat duduk, tapi karena ada
beberapa kursi kosong di sekitarnya, sepertinya dia memang sedang ingin berdiri
saja.
Saat
aku merasa dadaku sedikit berdenyut melihat ekspresi melankolisnya, tiba-tiba
terdengar suara decakan lidah yang sangat kasar dari sampingku.
"Cih."
Ternyata
Hangui Akari sedang melotot ke suatu arah sambil menggigit bibir dengan gemas.
Penasaran, aku pun mengikuti arah pandangannya dan...
"Cih."
Tanpa
sadar aku menunjukkan reaksi yang sama dan menggigit kuku jempolku.
Sebab
di sana... terlihat pemandangan Kotaro Tokiwa dan Momoe Takeshi yang sedang
tertidur pulas dengan kepala saling bersandaran satu sama lain. Tampak sangat
akrab.
"Kugh,
mendingan sih daripada Momo-chan bersandar ke penumpang lain... tapi tetap
saja...!"
"Aku
mengerti betapa beratnya hari ini bagi mental Kotaro-san jadi aku
memaafkannya... tapi tetap saja!"
Kami
berdua saling menggertakkan gigi karena cemburu selama beberapa saat, sebelum
akhirnya merasa konyol sendiri dan tertawa bersama.
Lalu, aku
kembali mengutarakan rasa penasaranku pada Hangui-san.
"Tapi
belakangan ini, bukankah Hangui-san seharusnya merasa senang melihat Kotaro-san
dan Takeshi-san akrab?"
"Itu
beda urusan. Aku mengizinkan Tokiwa dan Momo-chan menikah, tapi aku akan repot
kalau namaku tidak dicantumkan dalam rencana bulan madu, kehidupan baru, bahkan
silsilah keluarga mereka."
"Orang
yang gila secara total dengan wajah tenang dan datar itu benar-benar menakutkan
ya."
Akhirnya,
Hangui Akari berhasil merebut peringkat pertama dalam daftar "Orang yang
Tidak Aku Benci tapi Malas Aku Dekati" versiku. Selamat ya.
Ngomong-ngomong,
peringkat satu sebelumnya adalah bibi sekaligus guruku, Marisa Tatsumi.
……Sepertinya
orang-orang pintar memang banyak yang agak "ajaib".
Ah
syukurlah, Sang Ratu Shogi saat ini adalah pengecualian.
Saat
aku memikirkan hal-hal tidak penting itu, Hangui-san menghela napas panjang
seolah sedang kesulitan.
"Haaah,
tapi ya."
"Rasanya
malas sekali harus melakukan satu pekerjaan lagi setelah sampai di rumah dengan
rasa lelah seperti ini."
"Pekerjaan?
Apa kamu bekerja paruh waktu?"
"Ah,
maaf. Bahasaku mungkin sedikit kurang sopan di depan seorang pemain shogi
profesional. Meskipun aku menyebutnya pekerjaan, bagiku ini hanya sebatas hobi.
Maksudku, soal pembuatan Murder Mystery."
"Satu
pekerjaan dalam Murder Mystery…… ah, mungkinkah soal permintaan
'perubahan setting' dari Takanashi-san yang tadi kamu bicarakan?"
"Tepat
sekali. Benar-benar deh, dia itu merepotkan saja."
Hangui-san
melirik ke arah Takanashi-san yang masih berdiri sendirian di dekat pintu. Ia
menghela napas sambil melanjutkan bicaranya.
"Mengenai
'Pembunuhan di Atas Papan', aku memang sedikit keterlaluan dengan memaksakan
hal-hal sulit pada Tokiwa dan Takanashi-san, termasuk soal burung bangau kertas
itu. Jadi kami sebenarnya impas. Tapi tetap saja, masa dia baru minta ganti di
saat seperti ini……"
Cerita itu
terasa sangat mirip dengan Takanashi-san, tapi di saat yang sama juga tidak.
Memang dia
sering bersikap manja, tapi setahun mengenalnya, dia bukan tipe orang yang akan
merepotkan orang lain secara fatal dengan semudah itu.
Malah, jauh
di lubuk hatinya, dia adalah orang yang paling perhatian dibanding siapa pun.
Meski merasa
sedikit janggal, aku merasa tidak ada gunanya menggali terlalu dalam sekarang,
jadi aku mengalihkan topik.
"Ah,
bicara soal 'Pembunuhan di Atas Papan'. Maaf ya, karena berbagai alasan,
padahal aku belum memainkannya tapi aku sudah tahu poin pentingnya…… soal
bagian 'Menyingkap' itu."
"Ala,
begitu ya. Fufu, itu bukan sesuatu yang perlu kamu minta maaf padaku,
kan?"
"Tapi
Hangui-san, bukankah kamu sangat menjaga pengalaman skenarionya sampai-sampai
melarang Kotaro-san dan Takanashi-san saling membocorkan peran
masing-masing?"
"Ah,
kalau itu rahasia ya. Sebenarnya itu bukan karena komitmen skenarioku, tapi aku
hanya berpikir interaksi mereka berdua akan jadi lebih menarik jika begitu. Dalam board game pun,
interaksi menarik justru muncul di tengah keterbatasan aturan, kan?"
"Benar
juga. Game yang mengharuskan kita menyampaikan tema lewat gestur atau gambar
memang terasa seperti itu."
"Tepat.
Ada komunikasi yang justru jadi lebih menarik jika masing-masing pihak memiliki
batasan. Ah, persis seperti ekspresi 'Menyingkap' milik Tokiwa itu."
"Begitu
ya."
Saat
aku sedang mengangguk-angguk paham, Hangui-san sepertinya salah sangka dan
mengira aku sudah tahu segalanya tentang "Pembunuhan di Atas Papan".
Ia pun
membocorkan hal yang sama sekali di luar dugaanku dengan nada santai.
"
'Batasan' yang diberikan pada Takanashi Mifuru selama dua minggu ini sebagai
latihan akting peran pelakunya juga termasuk dalam hal itu."
"…………
Eh?"
Mendengar
kata-kata itu, entah kenapa jantungku berdegup kencang. Bukan logika, melainkan
instingku yang berteriak.
Bahwa
informasi ini mungkin akan menjungkirbalikkan sebuah asumsi yang sangat penting
dari dasarnya.
Menyadari hal
itu, aku justru mencoba menggali lebih dalam. Aku berakting seolah-olah sudah
tahu trik dari sisi Takanashi-san sebagai pelaku untuk melanjutkan percakapan.
"A-ah……
ngomong-ngomong, sepertinya untuk pihak Takanashi-san juga disediakan semacam
'buku panduan' khusus, ya."
"Huaahm…….
Eh? Buku panduan? Ah, maksudmu 'Petunjuk bagi Pelaku' itu ya. Sebenarnya isinya
tidak seberapa, kok. Lebih ke arah catatan pengingat agar dia tidak tidak
sengaja melupakan aturannya dalam keseharian……"
Hangui-san
kembali menguap. Sepertinya karena kelelahan, otaknya sedang tidak bekerja
dengan tajam seperti biasanya.
……Sungguh Great.
Jika itu dia yang biasanya, dia pasti sudah menyadari sikap tidak alamiku.
Tapi
sekarang, aku bisa mengambil kendali.
Aku
mencoba memintanya dengan gaya bicara yang sealami mungkin.
"Buku
'Petunjuk bagi Pelaku' itu, apa kamu membawanya sekarang?"
"Iya,
karena aku pikir mungkin hari ini akan ada sedikit pengarahan dengan Tokiwa
atau Takanashi-san, jadi aku bawa satu set lengkapnya. Tunggu……"
Hangui-san
merogoh tasnya, lalu mengeluarkan sebuah buku saku kecil dari dalam map dan
menyerahkannya padaku tanpa ragu sedikit pun.
"Petunjuk
bagi Pelaku." Inilah buku saku yang selama ini sering dibaca oleh
Takanashi-san di berbagai kesempatan.
Buku tipis
yang sebelumnya tidak membuatku tertarik sama sekali ini, sekarang entah kenapa
terasa sangat berat.
"Huaaa……"
Hangui-san
menguap sekali lagi lalu berpamitan.
"Maaf
ya, aku mau tidur sebentar. Ah, buku saku itu tidak perlu dikembalikan juga
tidak apa-apa. Toh akan dibuang. Lagipula aturan pelaku yang tertulis di sana
akhirnya diganti juga. ……Nah, selamat malam."
"Iya,
selamat tidur."
Aku menatap
profil wajah Hangui-san yang langsung memejamkan mata.
Yaah, jujur
saja, kalau sedang diam dia benar-benar seorang wanita cantik yang luar
biasa……. Tidak, belakangan ini kalau sedang bicara pun dia terlihat manis, sih.
Setelah
tersenyum kecil melihat wajah tidurnya, aku kembali memfokuskan diri pada buku
saku itu.
"…………"
Jika hanya
dilihat dari luar, ini hanyalah salah satu perlengkapan skenario Murder
Mystery untuk pemula yang akan diperkenalkan di Kurumaza.
Faktanya,
sampai beberapa menit lalu, aku bahkan tidak menyangka benda ini akan memiliki
arti penting. Tapi.
"(……Kalau
dipikir-pikir kembali, memang banyak hal yang janggal.)"
Selama dua
minggu ini, aku terlalu terfokus pada acara pengakuan cintaku sendiri sampai
melewatkan... kejanggalan-kejanggalan pada Takanashi-san. Hal-hal itu kini
mulai tersusun satu per satu di kepalaku.
Pertama-tama.
Padahal dia baru saja mendeklarasikan bahwa dia "berhenti mengalah"
belum lama ini.
Tapi selama
dua minggu ini, dia sama sekali tidak terlihat mencoba mendekati Kotaro-san.
Dia
tetap bersikap seperti biasa…… tidak, menurut penuturan Kotaro-san, pilihan kata dan sikapnya malah terasa
"lebih galak dari biasanya".
Memang benar
pengakuan cintaku membuat pergerakan di sisi Kotaro-san terbatas.
Tapi meski
begitu, aku sama sekali tidak berniat mengintimidasi Takanashi-san untuk tidak
bergerak.
Dan
kejanggalan terbesarnya adalah... isi percakapan antara Kotaro-san dan dia
sesaat sebelum penyelesaian akhir di kincir ria.
Menurut
Kotaro-san, itu adalah interaksi di mana Takanashi-san dengan tegas menyatakan
penolakan. Jika itu benar, kenapa Takanashi-san melakukan hal itu?
Tentu saja,
pikiran normal akan menganggap itu karena bentuk perhatiannya pada kami.
Dia memilih
mendorong punggung Kotaro-san agar bisa melangkah maju menemuiku.
Itu adalah
pemikiran yang paling alami, dan mungkin sembilan puluh persen benar.
Tapi…… apakah
dia benar-benar berniat begitu sejak awal?
Sampai di
sana, tiba-tiba aku teringat interaksi soal "Langkah Tersegel" dengan
Takanashi-san di ruang ganti.
Benar, kalau
tidak salah saat itu dia bilang dia sepertinya sudah bisa menebak isinya……
"——!"
Di sana, aku
akhirnya menyadari kecerobohanku yang fatal.
Kenapa……
kenapa aku tidak menyadarinya sampai sekarang?
Sepertinya
bukan hanya Hangui-san yang otaknya tumpul karena bermain air.
Dengan tangan
gemetar, tanpa sadar aku meremas buku "Petunjuk bagi Pelaku" yang
belum kubuka itu.
Ya, saat itu
dia bilang dia mungkin sudah menebak isi Langkah Tersegel-nya.
Tapi, amplop
itu "belum dibuka". Jika begitu, bagaimana dia bisa menebak isinya?
……Jawabannya sederhana.
"…..?
Ini kan……"
Saat dia
memungut amplop itu, pada saat itulah dia kemungkinan——tanpa sengaja menerawang
amplop itu di bawah cahaya lampu neon. Hasilnya, tulisan di dalamnya terlihat.
Terlihat jelas.
Dan itu bukan
tulisan "Mifuru Takanashi" yang hanya bisa dilihat dengan lampu
ultraviolet sebagai isi hati Kotaro-san yang sebenarnya.
Melainkan
jawaban palsu yang ditulis dengan tinta biasa——tulisan "Utakata
Tsukino".
"…………"
Tanpa sadar
aku menutupi mulut dengan tangan. ……Memikirkan perasaan dia…… perasaan
Takanashi-san saat melihat itu, dan "keputusan" yang dia ambil
setelahnya, membuat dadaku bergetar.
Kalau begitu,
berarti, tapi, hal seperti itu……
Pikiran dan
lubuk hatiku terasa diaduk-aduk.
……Sebuah
lelucon takdir di mana tidak ada satu pun orang yang bersalah.
Untuk
menyimpulkannya sesederhana itu, rasanya terlalu……
Dengan jari
yang sedikit gemetar, aku membuka sampul "Petunjuk bagi Pelaku".
Di sinilah
tertulis aturan pelaku yang harus ia perankan. Aturan yang selama dua minggu
ini kemungkinan besar ia patuhi dan "latih" bahkan dalam kehidupan
pribadinya.
Dan…… aturan
yang sekarang, karena keinginan manja Takanashi-san yang tiba-tiba, akan
dikubur selamanya——aturan yang ditakdirkan lenyap tanpa pernah tersampaikan
pada Kotaro-san.
"…………"
Dalam
kepalaku sudah ada sebuah spekulasi. Beberapa ingatan melintas untuk memperkuat
spekulasi tersebut.
"Sudahlah,
jangan bahas Langkah Tersegel segala, pacaran saja langsung kenapa sih,
Banjo."
"Ahaha,
serius jangan pedulikan aku, bersenang-senanglah sana, Banjo."
〈Aku mencintaimu, Usa-kun.〉
"Tapi
ya, seleramu buruk banget sih mau menjadikan Banjo pacar, Uta-chan."
Hanya dengan
mengingat sedikit saja, begitu banyak kalimat-kalimat selama dua minggu ini
yang... semuanya kemungkinan besar terikat oleh sebuah aturan, dan kini
kalimat-kalimat itu menghantamku dengan rasa sakit yang datang terlambat.
Meski aku
sangat berharap spekulasiku salah karena rasa sakit yang luar biasa ini.
Aku membuka
halaman pertama "Petunjuk bagi Pelaku" yang kudapat dari Hangui-san.
Lalu, saat
aku melihat aturan sederhana bagi pelaku dalam naskah ini…… namun justru karena
sederhana maka sering terlupakan, dan justru karena itulah "aturan itu
diterapkan dan dilatih bahkan dalam keseharian", pada saat itulah.
Melihat
informasi yang sudah sangat terlambat itu, aku mengerang kecil di dalam gerbong
kereta, "Aaah, tidak mungkin."
〈Dialog saat sedang berbohong, wajib diakhiri dengan nama panggilan lawan bicara.〉



Post a Comment