NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Asobi no Kankei Volume 3 Epilog

Epilog

Surat Cinta yang Tak Tersampaikan


Aku berniat menjadikan seluruh dua minggu ini sebagai surat cinta dariku.

Pemicu awalnya adalah saat Banjo mulai membicarakan soal "Fujite" atau langkah terkunci itu.

Awalnya aku cuma berpikir, "Wah, dia mulai melakukan hal yang merepotkan lagi."

Tapi seiring berjalannya cerita, aku merasa hal itu terdengar puitis dan aku jadi iri.

Habisnya, itu kan seperti surat cinta yang melampaui waktu.

Sebagai gadis yang belakangan ini sedang jatuh cinta, tidak mungkin aku tidak mendambakannya.

Tapi, bukan berarti aku bisa membuat langkah terkunci yang sama dengan Banjo.

Yang terpenting, aku tidak boleh melakukan hal aneh yang bisa merusak suasana pengakuan dosa Uta-chan atau jawaban Banjo.

Karena aku ingin Banjo bahagia.

Seperti di dongeng, alasan awal aku muncul di hadapannya adalah untuk membalas budi.

Di sisi lain, memang benar belakangan ini aku ingin berhenti "bersembunyi" dan menunjukkan perasaanku dengan jujur.

Sama seperti Banjo, meskipun tidak tersampaikan, aku hanya ingin meluapkannya.

Itulah kenapa aku sangat iri dengan ide "Fujite" itu.

Selama dua minggu ini, baik Banjo maupun Uta-chan berjuang keras demi cinta mereka.

Aku pun ingin melakukan hal serupa, dengan syarat tidak menjadi pengganggu.

Jadi, aku memutuskan untuk mencari caraku sendiri.

Tepat saat itu, aku sedang berkonsultasi dengan Akarin via LINE soal latihan akting peran pelaku dalam Murder Mystery.

Saat itu, dia bilang, "Bukannya latihan terbaik itu dengan mematuhi aturan di keseharian?" dan aku merasa itulah jawabannya.

Aturan peran pelaku yang dimainkan olehku, Mifuru Takanashi.

Setiap dialog saat berbohong, harus selalu diakhiri dengan nama panggilan lawan bicara.

Aku menerapkan ini dalam kehidupan sehari-hari sebagai latihan akting. Aku pun mengambil saran dari Akarin tersebut.

Dengan kedok itu, aku memasukkan perasaan jujurku kepada Banjo ke dalam perkataan dan perilaku sehari-hariku... perasaan suka yang sangat meluap-luap.

Jika begini, di permukaan aku sama sekali tidak akan mengganggu drama pengakuan cinta antara Banjo dan Uta-chan.

Dan kemudian, setelah akhir dari pengakuan mereka berdua selesai.

Seandainya Banjo tidak memilih Uta-chan, pada saat itulah...

Gim Murder Mystery "Pembunuhan di Atas Papan" akan dirilis, dan aturan yang dipatuhi serta dilatih olehku sebagai pemeran pelaku akan terungkap kepada Banjo.

Di saat yang sama, tumpukan ucapan "Aku sangat suka" yang tersembunyi selama dua minggu ini akan tersampaikan sekaligus kepadanya.

Rencana semacam itulah yang sedang aku susun. ...Tapi.

"Begitu ya... isi dari langkah terkunci itu, ternyata benar-benar nama Uta-chan, ya."

Aku bergumam sendirian di salah satu kursi kafe terbuka yang menyatu dengan taman bermain di kala senja.

Di tanganku ada dadu inventaris Kurumaza yang entah kapan sudah terselip di dalam tas.

Sambil menggelindingkan dadu itu di atas meja, aku menatap punggung Banjo yang sedang pergi mengambilkan kafe latte untuk kami berdua.

...Setelah ini, Banjo akan pergi memberikan jawaban atas pengakuan cinta Uta-chan.

Aku tidak tahu detail mengenai apa yang akan dia katakan di sana.

Namun meski tidak tahu detailnya... memikirkan isi dari langkah terkunci itu, aku bisa menebak arah tujuannya.

Pasti Banjo berniat untuk benar-benar melangkah maju.

Melampaui pengkhianatan besar yang dilakukan kakak laki-lakiku yang tak berguna, serta perselisihan dengan Akarin dan Tamo-san.

Sekarang akhirnya, dia akan maju satu langkah...

Meski dengan ragu-ragu, dia mencoba melangkahkan kaki menuju arah yang akan membuatnya bahagia.




"……Astaga. Kamu lama banget sih, Banjo. Parah deh lambatnya."

Aku menyunggingkan senyum kecut sambil mengatur angka dadu di tanganku ke angka "3".

Padahal, akan lebih baik kalau dia bisa mengambil keputusan untuk melangkah maju sedikit lebih cepat.

Kalau saja begitu.

Perasaan "suka" ini tidak akan membengkak sampai terasa sesakit ini.

 

………… Tapi, tetap saja. Jika ini memang demi kebahagiaan Banjo.

Sama seperti Tamo-san dan Akarin, hal yang harus kulakukan sekarang pun, pastinya adalah……

"Maaf membuatmu menunggu."

Banjo muncul sambil membawa nampan berisi dua cangkir kafe latte panas.

"Makasih, ya."

Ucapku sambil menerima minuman itu dengan senyuman.

Sebab, jika aku yang biasanya, di saat seperti ini aku pasti akan memanggil namanya.

Barusan pun jika aku tidak berhati-hati, aku pasti sudah mengucap, "Makasih ya, Banjo."

Tapi, karena aturan dua minggu ini, jika aku menambahkan nama di akhir kalimat, ucapanku akan berubah jadi kebohongan. Jadi, aku menahan diri sekuat tenaga.

"(Kalau harus terus berhati-hati begini, pantas saja aku jadi sia-sia membaca 'Panduan Pelaku' itu……)"

Saran yang tertulis di sana hampir tidak ada gunanya sama sekali.

Namun setidaknya ada satu efek positif, yaitu membuatku tidak melupakan aturan ini.

Yah…… tapi itu pun sudah tidak ada artinya lagi sekarang.

Sebab aku sudah memutuskan untuk membuang semua persiapan surat cinta selama dua minggu ini.

Ini bukanlah perasaan yang pantas disampaikan kepada Banjo yang sedang berusaha melangkah maju.

Aku merasa tidak enak pada Akarin, tapi aku harus memintanya mengubah aturan pelaku itu.

Pesan tersembunyi yang kuselipkan selama dua minggu ini tidak boleh sampai ke Banjo selamanya.

……Yah, Akarin pasti bakal marah besar, sih. Dia sepertinya sangat menyukai pengaturan ini.

Buktinya saat main "Aiué Battle", dia memuji habis-habisan aturan yang sekilas terlihat sepele itu.

—Jawaban sendiri disusun terbalik agar mudah dilihat semua orang.

—Kata-kata yang kuucapkan, terkadang memiliki arti yang terbalik dari apa yang diterima orang lain.

Itu memang aturan yang mengandung pertimbangan khas Murder Mystery. Aku paham kenapa Akari Hangui menghargainya.

Justru karena itulah, rasanya berat harus meminta dia mengubah pengaturan favoritnya. Namun aku pun punya alasan yang tidak bisa dikompromikan.

Nanti aku harus mentraktirnya kue atau apa pun agar dia mau mengubahnya.

Namun meski sudah memutuskan begitu, alasan kenapa aku masih mematuhi aturan itu sekarang adalah karena aturan ini belum resmi dihapus.

Aturan dalam "Pembunuhan di Atas Papan" itu secara teknis masih berlaku.

Siapa tahu Akarin bakal bersikeras bilang, "Enggak, mau Mifuru-san bilang apa pun, kalau bukan pengaturan ini pokoknya enggak boleh."

Yah, kurasa dia tidak sekejam itu, sih.

Tetap saja, sampai nanti resmi diubah, aku berniat melanjutkan latihan pengaturan ini.

……Sejujurnya, separuh alasannya cuma karena gengsi akibat merajuk kekanak-kanakan, sih.

"…………"

Sambil memikirkan hal itu, aku membasahi bibirku dengan kafe latte hangat.

Rasa hangat yang samar perlahan menyebar ke dalam tubuhku.

Namun, entah kenapa. Sejak tadi…… bagian dalam dadaku terasa sangat dingin hingga menyakitkan.

Untuk beberapa saat kami berdua meminum minuman kami dalam diam.

Karena aku yang mengajaknya keluar, Banjo pasti ingin segera mendengar apa yang ingin kubicarakan.

Tapi, dia tidak tampak mendesakku sama sekali.

Entah kenapa…… di mataku, itu terlihat seperti perilaku seseorang yang hatinya sudah mantap.

Lalu, tiba-tiba dia menyadari dadu di atas meja.

"Lho? Bukannya ini dadu toko kita……"

"Hm. Entah kapan sudah terselip di dalam tas."

"Begitu ya."

Percakapan terhenti lagi.

Namun, dia menatap lekat-lekat angka dadu "3" yang sudah kuatur itu.

Dengan raut wajah yang tampak tegang, dia mulai bicara.

"Rasanya…… Mifuru-san, kalau sedang memainkan dadu, pasti langsung mengubahnya jadi angka '3' ya."

"……Masa sih?"

"Iya, lho."

Percakapan terhenti lagi.

Setelah meminum beberapa teguk kafe latte, Banjo kembali membuka suara.

"Anu…… a-aku mau tanya sesuatu yang sangat memalukan sekarang. Boleh?"

"Hm."

"Itu…… 'Angka Sukapi' yang Mifuru-san bilang dulu, apakah……"

Banjo menelan ludah, lalu melontarkan pertanyaan itu seolah sedang mengumpulkan seluruh keberaniannya.

"Apakah angka itu adalah '3'……?"

"…………"

Itu pasti pertanyaan yang didasari fakta bahwa aku sering menyebutnya sebagai si nomor "3".

Tergantung jawabanku, aku bisa saja membuat jantungnya berdebar kencang.

Itu adalah imajinasi yang sangat menggoda bagi aku yang sedang jatuh cinta.

Tapi, justru karena itulah.

"Fufu, kalau soal itu……"

Aku pun memberikan senyuman misterius yang sia-sia seperti biasanya.

……Dan pada akhirnya, aku menyampaikannya dengan nada bercanda yang luar biasa.

"Salah besar, Banjo!"

"Salah besar!"

Dia tampak terkejut dan bahunya merosot lemas.

Di sisi lain, aku pun terluka karena ekspresi cintaku dipastikan tidak akan tersampaikan.

……Jawabanmu benar, lho. Sebenarnya jawabanmu sangat tepat, Banjo.

Angka kesukaanku adalah…… bukan, orang yang kusukai itu, kamu. Adalah kamu. ………….

"……Padahal, aku ingin ini tersampaikan……"

"? Eh?"

"Bukan apa-apa."

Aku meminum habis kafe latte-ku dengan sekali teguk, lalu menatapnya lurus-lurus.

"Oke, ke topik utama. Ada hal yang ingin kusampaikan sebelum Banjo menjawab pengakuan Uta-chan."

"I-iya."

Banjo meletakkan minumannya di meja dan menegakkan punggungnya dengan sigap.

Dia mungkin sekarang sedang mengharapkan sebuah pengakuan cinta dariku.

Ya…… kalau benar begitu, pasti menyenangkan. Aku pun berpikir alangkah indahnya jika memang begitu.

Tapi, itu tidak boleh terjadi.

Aku pun mengeraskan hati—dan memulai akting terbaik dalam hidup Mifuru Takanashi.

"Begini lho, soal pertanyaan angka kesukaan tadi juga sama. Jangan-jangan, Banjo sedang salah paham?"

"……Maksudnya?"

"Ya, makanya."

Aku melanjutkan kalimatku sambil memasang senyum wanita paling menyebalkan yang pernah ada.

"Aku berpikir, jangan-jangan aku sudah membuatmu berharap kalau aku mungkin lebih tertarik padamu daripada Usa-kun?"

Ucapku sambil tertawa terbahak-bahak.

Aku bisa melihat kepalan tangan Banjo di atas meja meremas dengan kuat seolah sedang menahan sakit.

"Hal seperti itu……"

"Ooh, begitu. Baguslah kalau begitu. Iya, iya, maaf ya aku bicara yang aneh-aneh."

"Oke, pergilah jawab pengakuan Uta-chan tanpa perlu merasa terbebani."

"……Cuh! Tanpa dibilang begitu pun aku akan……. ……Tapi, anu, Mifuru-san."

"Apa?"

Aku menanggapi dengan sikap cengengesan, benar-benar seperti wanita berperangai buruk.

Namun dia…… secara mengejutkan, justru mengucapkan kata-kata penuh kekhawatiran.

"Kalau ada sesuatu yang menyakitkan, tolong jangan sungkan untuk mengatakannya padaku."

"Eh."

Di saat itulah, aku akhirnya menyadari betapa dangkalnya pikiranku.

Benar. Dia memang orang yang seperti itu, Banjo-ku ini.

Meskipun dia tidak peka terhadap rahasia di balik ucapanku atau perasaan cinta orang lain kepadanya.

Tapi saat aku butuh bantuan, dia selalu menjadi orang pertama yang menyadarinya dan mendekapku.

Sampai sekarang pun, Kotaro Tokiwa adalah pahlawan yang luar biasa bagiku, Mifuru Takanashi.

"…………"

Perasaan suka memenuhi dadaku, namun di saat yang sama, semuanya berubah menjadi warna kesedihan.

Di saat aku tidak bisa berkata-kata, dia malah mengesampingkan fakta bahwa dirinya baru saja "ditolak" olehku.

"Anu, aku…… itu. Meskipun Anda menganggap aku seperti apa pun, tetap saja……"

Dia menggaruk pipinya dengan canggung.

Lalu dia mengucapkan isi hatinya yang paling jujur, sangat berbeda denganku yang penuh kepalsuan.

"Aku mendoakan kebahagiaan Mifuru-san dari lubuk hatiku yang terdalam. Tolong, percayalah pada hal itu saja."

"──!"

Seharusnya itu adalah kalimatku.

Aku pun mendoakan kebahagiaanmu lebih dari siapa pun, Banjo.

Demi Tuhan, itu bukan kebohongan.

Tapi, justru karena itulah. ──Tekadku sudah bulat.

"……Hal-hal seperti itulah yang bikin risi, Banjo."

Aku berdiri dari kursi sambil mengibaskan tangannya, mendorongnya menjauh.

"Serius deh, bisa jangan salah paham?"

Aku menatapnya dengan pandangan merendahkan dari lubuk hati yang terdalam.

Meskipun di dalam hati, aku sedang meneriakkan perasaan yang tidak akan pernah sampai ini sekuat tenaga.

Ini akan menjadi latihan terakhirku mengikuti "Aturan Pelaku" versi saat ini.

Demi melepasnya menuju masa depan yang cerah, aku melontarkan kalimat penolakan yang telak.

"Bagiku, kamu itu cuma sebatas Asobi no Kankei (Hubungan dalam Bermain), Banjo."




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close