Epilog
Surat Cinta yang Tak Tersampaikan
Aku
berniat menjadikan seluruh dua minggu ini sebagai surat cinta dariku.
Pemicu
awalnya adalah saat Banjo mulai membicarakan soal "Fujite"
atau langkah terkunci itu.
Awalnya
aku cuma berpikir, "Wah, dia mulai melakukan hal yang merepotkan
lagi."
Tapi seiring
berjalannya cerita, aku merasa hal itu terdengar puitis dan aku jadi iri.
Habisnya, itu
kan seperti surat cinta yang melampaui waktu.
Sebagai gadis
yang belakangan ini sedang jatuh cinta, tidak mungkin aku tidak mendambakannya.
Tapi, bukan
berarti aku bisa membuat langkah terkunci yang sama dengan Banjo.
Yang
terpenting, aku tidak boleh melakukan hal aneh yang bisa merusak suasana
pengakuan dosa Uta-chan atau jawaban Banjo.
Karena aku
ingin Banjo bahagia.
Seperti di
dongeng, alasan awal aku muncul di hadapannya adalah untuk membalas budi.
Di sisi lain,
memang benar belakangan ini aku ingin berhenti "bersembunyi" dan
menunjukkan perasaanku dengan jujur.
Sama seperti
Banjo, meskipun tidak tersampaikan, aku hanya ingin meluapkannya.
Itulah kenapa
aku sangat iri dengan ide "Fujite" itu.
Selama dua
minggu ini, baik Banjo maupun Uta-chan berjuang keras demi cinta mereka.
Aku
pun ingin melakukan hal serupa, dengan syarat tidak menjadi pengganggu.
Jadi, aku
memutuskan untuk mencari caraku sendiri.
Tepat saat
itu, aku sedang berkonsultasi dengan Akarin via LINE soal latihan akting peran
pelaku dalam Murder Mystery.
Saat itu, dia
bilang, "Bukannya latihan terbaik itu dengan mematuhi aturan di
keseharian?" dan aku merasa itulah jawabannya.
Aturan peran
pelaku yang dimainkan olehku, Mifuru Takanashi.
〈Setiap dialog saat berbohong, harus
selalu diakhiri dengan nama panggilan lawan bicara.〉
Aku
menerapkan ini dalam kehidupan sehari-hari sebagai latihan akting. Aku pun
mengambil saran dari Akarin tersebut.
Dengan kedok
itu, aku memasukkan perasaan jujurku kepada Banjo ke dalam perkataan dan
perilaku sehari-hariku... perasaan suka yang sangat meluap-luap.
Jika begini,
di permukaan aku sama sekali tidak akan mengganggu drama pengakuan cinta antara
Banjo dan Uta-chan.
Dan kemudian,
setelah akhir dari pengakuan mereka berdua selesai.
Seandainya
Banjo tidak memilih Uta-chan, pada saat itulah...
Gim Murder
Mystery "Pembunuhan di Atas Papan" akan dirilis, dan aturan yang
dipatuhi serta dilatih olehku sebagai pemeran pelaku akan terungkap kepada
Banjo.
Di saat yang
sama, tumpukan ucapan "Aku sangat suka" yang tersembunyi selama dua
minggu ini akan tersampaikan sekaligus kepadanya.
Rencana
semacam itulah yang sedang aku susun. ...Tapi.
"Begitu
ya... isi dari langkah terkunci itu, ternyata benar-benar nama Uta-chan,
ya."
Aku bergumam
sendirian di salah satu kursi kafe terbuka yang menyatu dengan taman bermain di
kala senja.
Di tanganku
ada dadu inventaris Kurumaza yang entah kapan sudah terselip di dalam tas.
Sambil
menggelindingkan dadu itu di atas meja, aku menatap punggung Banjo yang sedang
pergi mengambilkan kafe latte untuk kami berdua.
...Setelah
ini, Banjo akan pergi memberikan jawaban atas pengakuan cinta Uta-chan.
Aku tidak
tahu detail mengenai apa yang akan dia katakan di sana.
Namun meski
tidak tahu detailnya... memikirkan isi dari langkah terkunci itu, aku bisa
menebak arah tujuannya.
Pasti
Banjo berniat untuk benar-benar melangkah maju.
Melampaui
pengkhianatan besar yang dilakukan kakak laki-lakiku yang tak berguna, serta
perselisihan dengan Akarin dan Tamo-san.
Sekarang
akhirnya, dia akan maju satu langkah...
Meski dengan ragu-ragu, dia mencoba melangkahkan kaki menuju arah yang akan membuatnya bahagia.
"……Astaga.
Kamu lama banget sih, Banjo. Parah deh lambatnya."
Aku
menyunggingkan senyum kecut sambil mengatur angka dadu di tanganku ke angka
"3".
Padahal, akan
lebih baik kalau dia bisa mengambil keputusan untuk melangkah maju sedikit
lebih cepat.
Kalau saja
begitu.
Perasaan
"suka" ini tidak akan membengkak sampai terasa sesakit ini.
………… Tapi,
tetap saja. Jika ini memang demi kebahagiaan Banjo.
Sama seperti
Tamo-san dan Akarin, hal yang harus kulakukan sekarang pun, pastinya adalah……
"Maaf
membuatmu menunggu."
Banjo muncul
sambil membawa nampan berisi dua cangkir kafe latte panas.
"Makasih,
ya."
Ucapku sambil
menerima minuman itu dengan senyuman.
Sebab, jika
aku yang biasanya, di saat seperti ini aku pasti akan memanggil namanya.
Barusan pun
jika aku tidak berhati-hati, aku pasti sudah mengucap, "Makasih ya,
Banjo."
Tapi, karena
aturan dua minggu ini, jika aku menambahkan nama di akhir kalimat, ucapanku
akan berubah jadi kebohongan. Jadi, aku menahan diri sekuat tenaga.
"(Kalau
harus terus berhati-hati begini, pantas saja aku jadi sia-sia membaca 'Panduan
Pelaku' itu……)"
Saran yang
tertulis di sana hampir tidak ada gunanya sama sekali.
Namun
setidaknya ada satu efek positif, yaitu membuatku tidak melupakan aturan ini.
Yah…… tapi
itu pun sudah tidak ada artinya lagi sekarang.
Sebab aku
sudah memutuskan untuk membuang semua persiapan surat cinta selama dua minggu
ini.
Ini bukanlah
perasaan yang pantas disampaikan kepada Banjo yang sedang berusaha melangkah
maju.
Aku merasa
tidak enak pada Akarin, tapi aku harus memintanya mengubah aturan pelaku itu.
Pesan
tersembunyi yang kuselipkan selama dua minggu ini tidak boleh sampai ke Banjo
selamanya.
……Yah, Akarin
pasti bakal marah besar, sih. Dia sepertinya sangat menyukai pengaturan ini.
Buktinya saat
main "Aiué Battle", dia memuji habis-habisan aturan yang sekilas
terlihat sepele itu.
—Jawaban
sendiri disusun terbalik agar mudah dilihat semua orang.
—Kata-kata
yang kuucapkan, terkadang memiliki arti yang terbalik dari apa yang diterima
orang lain.
Itu memang
aturan yang mengandung pertimbangan khas Murder Mystery. Aku paham
kenapa Akari Hangui menghargainya.
Justru karena
itulah, rasanya berat harus meminta dia mengubah pengaturan favoritnya. Namun
aku pun punya alasan yang tidak bisa dikompromikan.
Nanti aku
harus mentraktirnya kue atau apa pun agar dia mau mengubahnya.
Namun meski
sudah memutuskan begitu, alasan kenapa aku masih mematuhi aturan itu sekarang
adalah karena aturan ini belum resmi dihapus.
Aturan dalam
"Pembunuhan di Atas Papan" itu secara teknis masih berlaku.
Siapa tahu
Akarin bakal bersikeras bilang, "Enggak, mau Mifuru-san bilang apa pun,
kalau bukan pengaturan ini pokoknya enggak boleh."
Yah, kurasa
dia tidak sekejam itu, sih.
Tetap saja,
sampai nanti resmi diubah, aku berniat melanjutkan latihan pengaturan ini.
……Sejujurnya,
separuh alasannya cuma karena gengsi akibat merajuk kekanak-kanakan, sih.
"…………"
Sambil
memikirkan hal itu, aku membasahi bibirku dengan kafe latte hangat.
Rasa
hangat yang samar perlahan menyebar ke dalam tubuhku.
Namun, entah
kenapa. Sejak tadi…… bagian dalam dadaku terasa sangat dingin hingga
menyakitkan.
Untuk
beberapa saat kami berdua meminum minuman kami dalam diam.
Karena aku
yang mengajaknya keluar, Banjo pasti ingin segera mendengar apa yang ingin
kubicarakan.
Tapi, dia
tidak tampak mendesakku sama sekali.
Entah
kenapa…… di mataku, itu terlihat seperti perilaku seseorang yang hatinya sudah
mantap.
Lalu,
tiba-tiba dia menyadari dadu di atas meja.
"Lho?
Bukannya ini dadu toko kita……"
"Hm.
Entah kapan sudah terselip di dalam tas."
"Begitu
ya."
Percakapan
terhenti lagi.
Namun, dia
menatap lekat-lekat angka dadu "3" yang sudah kuatur itu.
Dengan raut
wajah yang tampak tegang, dia mulai bicara.
"Rasanya……
Mifuru-san, kalau sedang memainkan dadu, pasti langsung mengubahnya jadi angka
'3' ya."
"……Masa
sih?"
"Iya,
lho."
Percakapan
terhenti lagi.
Setelah
meminum beberapa teguk kafe latte, Banjo kembali membuka suara.
"Anu……
a-aku mau tanya sesuatu yang sangat memalukan sekarang. Boleh?"
"Hm."
"Itu……
'Angka Sukapi' yang Mifuru-san bilang dulu, apakah……"
Banjo menelan
ludah, lalu melontarkan pertanyaan itu seolah sedang mengumpulkan seluruh
keberaniannya.
"Apakah
angka itu adalah '3'……?"
"…………"
Itu pasti
pertanyaan yang didasari fakta bahwa aku sering menyebutnya sebagai si nomor
"3".
Tergantung
jawabanku, aku bisa saja membuat jantungnya berdebar kencang.
Itu adalah
imajinasi yang sangat menggoda bagi aku yang sedang jatuh cinta.
Tapi, justru
karena itulah.
"Fufu,
kalau soal itu……"
Aku pun
memberikan senyuman misterius yang sia-sia seperti biasanya.
……Dan pada
akhirnya, aku menyampaikannya dengan nada bercanda yang luar biasa.
"Salah
besar, Banjo!"
"Salah
besar!"
Dia tampak
terkejut dan bahunya merosot lemas.
Di sisi lain,
aku pun terluka karena ekspresi cintaku dipastikan tidak akan tersampaikan.
……Jawabanmu
benar, lho. Sebenarnya jawabanmu sangat tepat, Banjo.
Angka
kesukaanku adalah…… bukan, orang yang kusukai itu, kamu. Adalah kamu. ………….
"……Padahal,
aku ingin ini tersampaikan……"
"?
Eh?"
"Bukan
apa-apa."
Aku meminum
habis kafe latte-ku dengan sekali teguk, lalu menatapnya lurus-lurus.
"Oke, ke
topik utama. Ada hal yang ingin kusampaikan sebelum Banjo menjawab pengakuan
Uta-chan."
"I-iya."
Banjo
meletakkan minumannya di meja dan menegakkan punggungnya dengan sigap.
Dia mungkin
sekarang sedang mengharapkan sebuah pengakuan cinta dariku.
Ya…… kalau
benar begitu, pasti menyenangkan. Aku pun berpikir alangkah indahnya jika
memang begitu.
Tapi, itu
tidak boleh terjadi.
Aku pun
mengeraskan hati—dan memulai akting terbaik dalam hidup Mifuru Takanashi.
"Begini
lho, soal pertanyaan angka kesukaan tadi juga sama. Jangan-jangan, Banjo sedang
salah paham?"
"……Maksudnya?"
"Ya,
makanya."
Aku
melanjutkan kalimatku sambil memasang senyum wanita paling menyebalkan yang
pernah ada.
"Aku
berpikir, jangan-jangan aku sudah membuatmu berharap kalau aku mungkin lebih
tertarik padamu daripada Usa-kun?"
Ucapku
sambil tertawa terbahak-bahak.
Aku
bisa melihat kepalan tangan Banjo di atas meja meremas dengan kuat seolah
sedang menahan sakit.
"Hal
seperti itu……"
"Ooh,
begitu. Baguslah kalau begitu. Iya, iya, maaf ya aku bicara yang
aneh-aneh."
"Oke,
pergilah jawab pengakuan Uta-chan tanpa perlu merasa terbebani."
"……Cuh!
Tanpa dibilang begitu pun aku akan……. ……Tapi, anu, Mifuru-san."
"Apa?"
Aku
menanggapi dengan sikap cengengesan, benar-benar seperti wanita berperangai
buruk.
Namun dia……
secara mengejutkan, justru mengucapkan kata-kata penuh kekhawatiran.
"Kalau
ada sesuatu yang menyakitkan, tolong jangan sungkan untuk mengatakannya
padaku."
"Eh."
Di saat
itulah, aku akhirnya menyadari betapa dangkalnya pikiranku.
Benar.
Dia memang orang yang seperti itu, Banjo-ku ini.
Meskipun dia
tidak peka terhadap rahasia di balik ucapanku atau perasaan cinta orang lain
kepadanya.
Tapi saat aku
butuh bantuan, dia selalu menjadi orang pertama yang menyadarinya dan
mendekapku.
Sampai
sekarang pun, Kotaro Tokiwa adalah pahlawan yang luar biasa bagiku, Mifuru
Takanashi.
"…………"
Perasaan suka
memenuhi dadaku, namun di saat yang sama, semuanya berubah menjadi warna
kesedihan.
Di saat aku
tidak bisa berkata-kata, dia malah mengesampingkan fakta bahwa dirinya baru
saja "ditolak" olehku.
"Anu,
aku…… itu. Meskipun Anda menganggap aku seperti apa pun, tetap saja……"
Dia
menggaruk pipinya dengan canggung.
Lalu
dia mengucapkan isi hatinya yang paling jujur, sangat berbeda denganku yang
penuh kepalsuan.
"Aku
mendoakan kebahagiaan Mifuru-san dari lubuk hatiku yang terdalam. Tolong,
percayalah pada hal itu saja."
"──!"
Seharusnya
itu adalah kalimatku.
Aku pun
mendoakan kebahagiaanmu lebih dari siapa pun, Banjo.
Demi Tuhan,
itu bukan kebohongan.
Tapi, justru
karena itulah. ──Tekadku sudah bulat.
"……Hal-hal
seperti itulah yang bikin risi, Banjo."
Aku berdiri
dari kursi sambil mengibaskan tangannya, mendorongnya menjauh.
"Serius
deh, bisa jangan salah paham?"
Aku
menatapnya dengan pandangan merendahkan dari lubuk hati yang terdalam.
Meskipun di
dalam hati, aku sedang meneriakkan perasaan yang tidak akan pernah sampai ini
sekuat tenaga.
Ini akan
menjadi latihan terakhirku mengikuti "Aturan Pelaku" versi saat ini.
Demi
melepasnya menuju masa depan yang cerah, aku melontarkan kalimat penolakan yang
telak.
"Bagiku,
kamu itu cuma sebatas Asobi no Kankei (Hubungan dalam Bermain),
Banjo."



Post a Comment