Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 8
Tanaka-san Sangat Wangi
Sehari setelah diajak Tanaka-san untuk datang ke konser di acara open school. Saat aku sedang mengirim pesan kepada Manajer toko agar tidak memasukkan jadwal shift kerja sambilan khusus di hari itu, si "Raksasa Otot" mendekatiku.
"Hei Nakayama, kau tahu tidak? Katanya, orang yang aromanya terasa wangi bagi kita itu adalah belahan jiwa, lho."
Begitu kata Hayashi, sambil merangkul bahuku entah apa maksudnya. Dia memang tipe orang yang sok akrab, tapi hari ini dia jauh lebih parah dari biasanya. Sepertinya, dia baru saja mengalami sesuatu yang menyenangkan.
"Tiba-tiba sekali? Ada apa?"
Melihat temanku yang sudah gatal ingin bercerita, mau tak mau aku melayaninya. Sesuai dugaan, senyum Hayashi langsung merekah lebar.
"Hehe~ Sebenarnya, kemarin aku tidak sengaja melihat artikel tentang aroma di internet. Ini lho artikelnya."
"Hoo, begitu. Ujung-ujungnya paling kau mau bilang kalau salah satu dari 'Shikihime' favoritmu itu baunya wangi, kan?"
"Tepat sekali! Tadi waktu naik kereta bareng Haruno-san, dia wangi banget, tahu! Artinya, Haruno-san itu belahan jiwaku! Makanya, sepulang sekolah nanti aku mau menembaknya. Nakayama, kau tahu tempat yang suasananya 'emo' (estetik/romantis) tidak?"
Sepertinya dia benar-benar menelan mentah-mentah informasi internet itu dan merasa di atas awan karena mengira Haruno adalah jodohnya. Sayangnya, Haruno adalah main heroine. Menembak gadis yang sedang tergila-gila pada Kaisei sekarang sama saja dengan bunuh diri yang sudah terlihat hasilnya.
Tapi ya, benar kata orang kalau cinta itu buta.
"Oi, tunggu. Jangan gegabah! Bergerak hanya karena alasan sepele begitu terlalu ceroboh. Pikirkan lagi, kau bisa mati!"
"Berisik! Haruno-san itu belahan jiwaku. Pasti berhasil! Cih! Salahku cerita padamu. Biar aku cari sendiri tempat nembaknya. Besok, silakan gigit jari ya saat mendengar aku dan Haruno-san sudah jadian!"
"Oi, tunggu dulu!"
Usaha persuasiku sia-sia, Hayashi langsung melesat keluar kelas dengan penuh semangat.
(Aduh, tamatlah riwayat anak itu.)
"Anu, apakah Hayashi-kun akan baik-baik saja?"
Saat aku sedang menatap pintu tempat Hayashi menghilang dengan tatapan lelah, Tanaka-san yang berada di sampingku bertanya dengan nada khawatir.
Mengkhawatirkan orang bodoh yang polos seperti itu... Tanaka-san benar-benar seorang malaikat. Aku benar-benar heran kenapa tidak ada orang lain yang memuja malaikat seperti dia.
"Yah, biarkan saja dia. Biar dia kapok dan belajar bahayanya menelan informasi internet mentah-mentah."
"Ternyata Nakayama-kun cukup pedas ya kalau sama teman sendiri."
Namun, karena dia terlalu baik, Tanaka-san tampak merasa tidak enak mendengar kata-kata dinginku dan tersenyum kecut.
(Gawat, ini tidak bagus.)
"Tidak juga, kok. Tadi aku sudah mencoba menghentikannya."
Kalau aku tidak bicara apa-apa, dia bisa membenciku. Begitu aku melontarkan pembelaan diri, dia sepertinya mengerti dan berhenti menatap ke arah koridor. "Kalau begitu, mungkin memang tidak ada pilihan lain ya," ucapnya.
Saat aku sedang menyeka keringat dingin karena berhasil menghindari penurunan affection point, dia bertanya lagi dengan sedikit ragu-ragu.
"Ngomong-ngomong... soal pembicaraan tadi, seberapa besar tingkat kebenarannya?"
"Yang mana? Soal aroma itu?"
"Iya. Apakah benar kita akan lebih mudah menjalin hubungan dengan orang yang aromanya kita sukai?"
Aku tidak menyangka Tanaka-san akan tertarik dengan topik seperti ini, tapi sepertinya dia sangat menyukainya. Manis sekali.
Sambil menahan gemas, aku memutuskan untuk melayaninya mengobrol sampai dia puas. Aku berpikir sejenak bagaimana cara memulainya, lalu memberikan kesimpulan terlebih dahulu.
"Kurasa memang lebih mudah, sih."
Mendengar itu, Tanaka-san memiringkan kepalanya dengan bingung. Lucu sekali.
"Apakah itu karena kesan pertama saat mencium aroma yang wangi itu bagus?"
"Itu salah satunya. Tapi, kurasa maksud 'wangi' di sini adalah aroma nyaman yang membuat kita ingin terus menghirupnya. Jadi, setelah bertemu pun, itu akan terus menjadi poin plus. Seperti, 'Ah, orang ini wangi,' atau 'Aroma orang ini benar-benar menenangkan.' Itu keunggulan yang besar, bukan?"
"Begitu ya. Itu memang bisa dibilang sangat menguntungkan."
Setelah aku jelaskan dengan saksama, dia tampaknya paham. Tanaka-san menegakkan kembali kepalanya dan mengangguk berkali-kali dengan wajah serius. Imutnya.
"Tapi ya, meski kita merasa aroma kita wangi, tidak ada gunanya kalau pihak lawan tidak berpikiran hal yang sama."
Lalu, saat aku menyindir Hayashi secara halus, Tanaka-san tertawa kering dengan canggung, "Ahaha, benar juga ya."
Sabar ya, Hayashi. Sepertinya di tempat ini tidak ada satu pun orang yang menganggapmu akan sukses. Dalam hati, aku mendoakan ketenangan bagi temanku yang sekarang mungkin sudah sampai di medan tempur.
"Anu, Nakayama-kun sendiri punya aroma yang tidak disukai?"
"Bau yang tidak kusukai? Yah, bau busuk atau bau keringat tentu aku tidak suka. Selain itu, pengharum ruangan atau parfum yang baunya terlalu menyengat. Menghirup yang seperti itu lama-lama membuatku mual."
"Aku sangat mengerti itu! Terutama jenis pengharum yang dipasang di mobil, aku sangat tidak kuat."
"Paham, paham banget. Baru lima menit saja rasanya sudah tidak tahan dan ingin buka jendela, kan?"
"Hei hei, kalian berdua lagi asyik ngobrolin apa, sih?"
Saat kami sedang seru membahas soal aroma, Norimizu-san yang merasa tertarik ikut bergabung dalam percakapan.
"Hee~ kecocokan aroma ya... Ta-chan, boleh aku cium sedikit?"
Begitu selesai mendengarkan penjelasan kami, Norimizu-san langsung memeluk Tanaka-san dan mengatakan hal itu.
"Eh!? Anu, kalau Mikoto-chan sih tidak apa-apa, tapi..."
Tanaka-san tampak bingung dengan permintaan mendadak itu. Matanya melirik gelisah antara aku dan Norimizu-san. Mungkin dia malu jika aromanya dikomentari di depan laki-laki.
"Aku—"
"Benarkah!? Kalau begitu, permisi ya. Sniff sniff."
Tapi, sebelum aku sempat bertindak untuk mengalihkan situasi, wajah Norimizu-san sudah terbenam di leher Tanaka-san. Detik berikutnya, suara dia menghirup aroma terdenngar jelas di ruangan itu.
(Wah, Norimizu-san tidak kenal ampun.)
"Uwaa~ Wanginya seperti bunga mawar, tipe floral yang enak banget~"
"Eh!? Ah..."
Mendengar pujian itu, pipi Tanaka-san langsung merona merah seperti apel matang, dan dia segera menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
(Dikomentari soal bau badan di depan orang lain memang memalukan, ya. Maaf Tanaka-san, aku tidak sempat menghentikannya. Tapi, kamu manis sekali. Manis banget, woi. Kerja bagus, Norimizu-san!)
Aku benar-benar merasa bersalah, tapi wajah malu-malu Tanaka-san terlalu manis sampai-sampai rasa bersalahku kalah telak.
Aku memberikan acungan jempol kepada Norimizu-san dari bawah meja atas momen emas yang dia berikan.
"Ihh, Mikoto-chan jahat banget! Masak melakukan hal seperti itu di depan Nakayama-kun!"
"Ah, maaf, maaf. Habisnya aku penasaran banget sama baunya Ta-chan, jadi tidak sengaja. Sebagai gantinya, kamu boleh kok cium bauku sepuasnya?"
Ucap Norimizu-san sambil merentangkan tangan, berpose minta dipeluk.
"Tidak butuh!"
Sayangnya, Tanaka-san tidak menginginkan hal itu. Yang dia inginkan saat ini hanyalah memulihkan harga dirinya yang terluka karena malu.
"Yah, jangan marah begitu dong. Jadi, Ta-chan, aku baunya seperti apa?"
"......"
Meski begitu, Norimizu-san tetap bersikeras menyodorkan dirinya. Tanaka-san menatap temannya itu dengan tatapan curiga, tapi sepertinya dia tidak bisa memikirkan kata-kata untuk membalas.
Sambil menghela napas pasrah, dia mendekatkan wajahnya ke leher Norimizu-san.
"Sniff sniff... Baunya manis, seperti karamel."
Tanaka-san memberikan kesan yang jujur. Di saat seperti ini pun, dia tidak berbohong dengan mengatakan baunya aneh atau busuk—benar-benar mencerminkan kepribadiannya yang baik.
"Benarkah?! Kalau begitu kita jodoh dong! Ta-chan, ayo kita menikah!"
"Aku tidak mau menikah dengan orang yang suka menjahiliku!"
Sepertinya rasa sayang Norimizu-san kepada temannya yang imut ini sudah melampaui batas, dia kembali memeluk Tanaka-san dengan erat. Sebaliknya, Tanaka-san meronta-ronta mencoba kabur, tapi entah karena dia terlalu lemah atau tenaga Norimizu-san yang terlalu kuat, usahanya sia-sia.
Melihat Tanaka-san yang matanya mulai berkaca-kaca karena malu benar-benar sangat imut. Aku pun menikmati "pemandangan Yuri" yang indah ini sampai waktu istirahat berakhir.
Sebagai catatan tambahan, Hayashi yang kembali tepat sebelum jam wali kelas dimulai, berakhir dengan penolakan telak. Dia datang menggerutu padaku di jam istirahat berikutnya, "Aku tidak akan pernah percaya internet lagi!"
◇
Keesokan paginya.
"Ugeh, yang benar saja."
Saat aku berniat berangkat ke sekolah dengan sepeda seperti biasa, aku menyadari ban depannya bocor. Sepertinya kemarin saat pulang aku melindas sesuatu yang tajam. Setelah diperiksa lebih teliti, ada batu sekecil kacang merah yang menancap di ban.
"Hah~ ya sudahlah. Hari ini naik kereta saja."
Terpaksa aku mencabut batu itu, lalu mengambil tas di keranjang sepeda dan mulai berlari. Setibanya di stasiun, tempat itu sudah penuh sesak karena jam sibuk orang berangkat kerja. Inilah alasan kenapa aku selalu menghindari kereta, tapi hari ini aku tidak punya pilihan lain.
Aku mengeluarkan kartu IC yang sudah lama "tertidur" di dasar tas, lalu melewati gerbang tiket. Setelah menunggu sekitar tiga menit di peron pada barisan yang paling sepi, kereta pun tiba.
(Sempit banget!)
Aku berhasil memaksakan diri masuk, tapi sebagai gantinya, aku hampir tidak bisa bergerak sama sekali. Dengan kondisi begini, bermain HP untuk membunuh waktu pun mustahil. Terpaksa aku menyerah soal HP dan fokus memandangi jendela luar untuk menghabiskan waktu.
Beberapa saat kemudian, kereta mulai melaju. Saat berhenti di stasiun berikutnya, separuh penumpang turun, membuat suasana sesak tadi lenyap seketika. Stasiun ini bukan daerah perkantoran atau pusat keramaian, tapi sepertinya secara kebetulan tujuan para penumpang ini sama.
Sambil melamun memikirkan betapa jarangnya kebetulan seperti ini, seorang gadis yang kukenal muncul dari gerbong sebelah.
(Fuyusora, ya?)
Yang datang ternyata adalah sang "Putri Musim Dingin", gadis yang kecantikannya disebut-sebut setara dengan Haruno di kelas kami. Mungkin dia muak dengan keramaian di gerbong sebelah, atau merasa terganggu dengan tatapan para lelaki, sehingga dia mengungsi ke gerbong yang lebih lega ini.
Saat aku sedang mengamatinya sambil berpikir begitu, mata kami bertemu. Aku tahu dia benci laki-laki, tapi sebagai teman sekelas, kurasa kurang sopan jika tidak melakukan apa-apa, jadi aku mengangguk kecil padanya. Fuyusora sempat mengernyitkan dahi seolah tidak suka, tapi dia tetap membalas anggukanku.
Aku tertegun. Kupikir dia akan mengabaikanku sepenuhnya.
Sepertinya, entah kenapa, penilaiannya terhadapku tidak terlalu buruk. Aku tidak tahu alasannya. Namun, fakta bahwa sang main heroine yang biasanya bersikap sedingin es kepada pria mana pun selain Kaisei mau merespons dengan normal, membuatku sedikit senang. Sebagai balasannya, aku memutuskan untuk sedikit ikut campur.
"Pakai saja kursi itu. Tidak terlalu mencolok."
Ucapku sambil menunjuk ke kursi untuk dua orang yang berada di pojok, tempat yang sebenarnya ingin kududuki. Namun, Fuyusora Reno bukanlah tipe gadis yang bisa menerima kebaikan orang lain begitu saja.
"......Kamu tidak berniat duduk di sebelahku, kan?"
Ucapnya sambil melemparkan tatapan tajam yang menusuk.
"Tidak akan. Aku tidak mau membuat gadis yang kusukai salah paham, jadi aku tidak akan pernah duduk di sebelahmu, Fuyusora."
Aku membalas tatapannya secara frontal dan menepis tuduhannya. Kali ini, giliran Fuyusora yang membelalakkan mata, sebelum akhirnya sudut bibirnya sedikit melengkung.
"Begitu ya. Kalau begitu, aku terima tawaranmu."
"Anggap saja aku juga memberi layanan tambahan dengan mengawasi agar tidak ada pria aneh yang mendekatimu."
"Ara, sampai melakukan hal sejauh itu? Memang pantas disebut 'Gentleman nomor 1 di kelas'."
"Panggilan macam apa itu? Jangan seenaknya memberi julukan aneh."
"Bukan aku yang membuatnya. Teman-teman sekelas yang bilang begitu."
"...... Serius?"
Mendengar informasi tak terduga dari sang main heroine, aku langsung memegang kepala. Apa-apaan itu "Gentleman "? Aku merasa tidak pernah sekalipun bertingkah sok sopan seperti itu.
Ini pasti...
Itu adalah jenis sebutan yang sama dengan kalimat "Kamu orang baik, ya" yang sering diucapkan para gadis. Tipe yang artinya: "Kamu oke sebagai teman, tapi kalau jadi pacar, kayaknya tidak dulu."
(Sial, ini yang terburuk.)
Bagian mana yang harus kuperbaiki?
Saat aku sedang mengerang frustrasi, Fuyusora yang melihatku entah kenapa malah mulai terkikik geli.
"Mungkin, kamu yang seperti sekarang ini sudah cukup, kok."
"Jangan-jangan, Fuyusora, kamu ini esper?"
Aku bergidik ngeri karena kata-katanya seolah bisa menembus pikiranku sepenuhnya, sementara dia menunjukkan ekspresi yang benar-benar jengah.
"Bukan. Kamunya saja yang terlalu mudah dibaca."
"Begitu ya. Terima kasih banyak atas sarannya. Ah, Nenek, di sebelah sini kosong, silakan duduk."
Karena merasa agak malu, aku mempersilakan seorang nenek berwajah ramah untuk duduk di sebelah Fuyusora. Saat itu, aroma segar seperti mint dari Fuyusora sempat tercium oleh hidungku, dan aku merasa itu bukan aroma favoritku.
Sekadar mempertegas saja, ini bukan karena aku dendam telah dipermainkan atau hanya sekadar ucapan pecundang, ya.
Setelah selesai memberikan "layanan" pada Fuyusora, aku meninggalkan area itu dan mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari kursi kosong lainnya. Lalu, sekali lagi aku menemukan gadis yang kukenal.
"......Nenek, kalau berkenan di sini kosong, silakan duduk."
"......Oh, terima kasih ya. Apa kau sengaja mengosongkannya untukku? Harusnya kau saja yang duduk daripada berdiri begitu."
"......Tidak apa-apa, saya sudah mau turun sebentar lagi."
"......Begitu ya. Terima kasih banyak, Nak."
"......Sama-sama."
Gadis yang tersenyum lembut dan tulus kepada nenek itu benar-benar terlihat seperti malaikat. Aku yang menyaksikannya dari kejauhan kembali dibuat berdebar oleh kebaikan hati dan keimutan Tanaka-san.
Sampai detik ini aku tidak sadar kalau ternyata Tanaka-san naik kereta yang sama dengan Fuyusora. Aku mengutuki diriku sendiri karena tidak menyadarinya padahal kami berada di gerbong yang sama. Kalau aku sadar lebih awal, kami pasti bisa berangkat sekolah bersama-sama.
Tapi, menyesal sekarang pun tidak akan mengubah keadaan. Aku berniat menghampirinya, namun sialnya kereta mulai bergerak. Terpaksa aku berpegangan pada tiang terdekat dan mengeluarkan HP dari saku.
Setelah menghabiskan waktu sejenak, kereta tiba di sebuah stasiun. Bukan stasiun terdekat dari sekolah, melainkan satu stasiun sebelumnya. Agar tidak menghalangi orang yang keluar masuk, aku bergeser ke pinggir pintu sambil menunggu pintu tertutup. Tiba-tiba, namaku dipanggil dari samping.
"......Nakayama-kun."
"!? "
Karena benar-benar tidak menduga, tubuhku tersentak kaget. Saat aku menoleh ke arah suara itu, ternyata di sana ada Tanaka-san.
"......Tanaka-san. Asli, aku kaget banget."
"......Fufu, aku melihat Nakayama-kun tadi, jadi tidak tahan untuk menyapa. Kejutan sukses besar, ya."
Saat aku mengaku dengan jujur kalau aku kaget, Tanaka-san tersenyum malu-malu seperti anak kecil yang berhasil menjahili temannya. Kekuatan serangannya sungguh luar biasa sampai aku merasa hampir mimisan, tapi aku berusaha menahannya dengan mendongak ke atas.
"Kahaha!? Uhuk, uhuk!"
"Uwaa... ka-kamu tidak apa-apa!? Nakayama-kun!"
"Tidak apa-apa. Uhuk, cuma sedikit tersedak saja."
Tapi gara-gara itu, darah (imajiner) malah masuk ke tenggorokan dan membuatku tersedak hebat.
(Memalukan sekali.)
Sambil menyeka mulut dengan perasaan tidak berdaya karena telah menunjukkan sisi payah di depan Tanaka-san, kereta kembali melaju. Bersamaan dengan itu, kereta berguncang hebat.
"!?"
Aku tidak apa-apa karena kebetulan punggungku bersandar pada kursi dua penumpang, tapi tidak dengan Tanaka-san. Karena tadi dia sedang mengkhawatirkanku, dia melepaskan tangannya dari gantungan kereta. Akibatnya, keseimbangan Tanaka-san goyah seketika.
"Awas!?"
Kalau dibiarkan, Tanaka-san bisa menabrak orang lain atau terluka. Berpikir begitu, secara refleks aku melingkarkan tanganku ke punggungnya dan menariknya mendekat.
Detik berikutnya, Tanaka-san terjatuh ke pelukanku, dan sesuatu yang lembut terasa tertekan di bagian dadaku. Tentu saja, tubuhku langsung kaku seketika.
Bagaimana tidak? Meski karena keadaan darurat, aku sedang memeluk gadis yang kusukai. Otakku langsung panik dan mengalami freeze karena perkembangan situasi yang luar biasa ini adalah hal yang wajar.
" "........." "
Keheningan menyelimuti kami berdua, hanya menyisakan suara gerakan orang-orang di sekitar dan deru kereta yang bergoyang. Namun, yang terdengar olehku bukan hanya itu; detak jantungku yang berpacu kencang meledak-ledak terdengar begitu jelas hingga membuatku risih.
Sejujurnya, aku sangat cemas kalau-kalau Tanaka-san bisa mendengarnya. Tapi, memikirkan bahwa keberuntungan seperti ini mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya, membuatku sulit untuk segera menjauh.
Setelah membeku beberapa saat, akhirnya Tanaka-san membuka suara,
"......Te-terima kasih banyak."
"......Ti-tidak, tidak perlu berterima kasih. Maksudku, maaf. Jadi begini kejadiannya. Kamu pasti tidak suka, kan? Aku segera lepas sekarang."
Berawal dari situ, aku akhirnya bisa bergerak lagi. Aku segera meminta maaf dan melepaskan pelukanku dari Tanaka-san.
"Ah....... Tidak, itu, bukannya aku merasa tidak suka, kok. Aku tahu kamu melakukannya demi menolongku."
Tanaka-san memaafkanku, tapi matanya sedikit melirik ke sana kemari, jadi aku tidak tahu apakah dia mengatakannya dengan tulus atau tidak. Mungkin ada hal lain yang sebaiknya aku mintakan maaf.
"......Tapi, aku bau keringat, kan? Tadi aku baru saja lari ke stasiun, jadi lumayan berkeringat. Benar-benar minta maaf."
"......Tidak juga. Malah, tercium aroma wangi seperti sabun, ah, maksudku, pokoknya tidak membuat tidak nyaman, kok. Iya. Justru, apa aku yang tidak bau tadi?"
"......Sama sekali tidak. Aromanya manis dan lembut seperti bunga, untunglah—maksudku, syukurlah kalau kamu tidak keberatan."
"......Be-begitu ya."
Akibat meminta maaf karena rasa cemas, jawaban yang tak terduga malah terlontar padaku. Aku merasa tubuhku memanas lagi dan segera memalingkan wajah.
Setelah itu, keheningan kembali melanda hingga kami tiba di stasiun terdekat sekolah. Ingatanku selama waktu itu terasa samar, sejujurnya aku hampir tidak ingat apa pun, kecuali satu hal: keempukan sosok Tanaka-san dan aroma menenangkan yang terpancar darinya.
『Hei Nakayama, kau tahu tidak? Katanya, orang yang aromanya terasa wangi bagi kita itu adalah belahan jiwa, lho.』
『Yah, meski kita merasa aroma kita wangi, tidak ada gunanya kalau pihak lawan tidak berpikiran hal yang sama.』
『...... Tidak juga. Malah, tercium aroma wangi seperti sabun, ah, maksudku, pokoknya tidak membuat tidak nyaman, kok. Iya.』
"Ugh~~!?"
Dalam perjalanan menuju sekolah, isi percakapan kemarin dan ucapan Tanaka-san barusan terbayang kembali di kepalaku. Tidak perlu ditanya lagi, aku langsung dibuat meronta-ronta karena malu sekaligus senang.
"Ah, Ta-chan! Selamat pagi! Hari ini kamu kelihatan senang sekali, ada kejadian apa?"
"Fueh!? Ti-tidak ada kejadian apa-apa kok!"
"Pfftt, reaksi itu pasti sudah jelas terjadi sesuatu. Kamu ini mudah ditebak sekali ya, Ta-chan."
"Uuuh, kubilang benar-benar tidak ada apa-apa kok~~ ...... Fufu."
"...... Tuh kan, tidak bisa disembunyikan. Biasanya kamu bisa diandalkan, tapi ternyata agak ceroboh juga ya, Ta-chan. Sepertinya perasaan ini bakal awet terus, ya."





Post a Comment