NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Main Heroine yori Kawaii Mobu no Tanaka-san V1 Chapter 7

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 7

Tanaka-san Itu Pekerja Keras

Suatu hari sepulang sekolah. Karena tidak ada jadwal kerja paruh waktu, aku melangkah menuju ruang kelas yang terletak di ujung gedung sekolah lama.


Tap, tap, tap, tap.


Aku tidak pernah bisa terbiasa dengan suara langkah kakiku sendiri yang bergema di koridor sunyi tak berpenghuni ini. 


Sejujurnya, aku ingin meminta lokasi lain, tapi karena pihak lawan bersikeras di sini, apa boleh buat aku datang juga.


"Haa..."


Sambil terus berjalan dengan perasaan enggan, akhirnya aku tiba di tujuan. Aku memegang kenop pintu, lalu masuk ke dalam kelas sembari menimbulkan suara decitan yang tidak menyenangkan. Di sana, seorang gadis cantik berambut merah muda sedang duduk di atas meja guru.


"Yahho, akhirnya datang juga ya, Nakayama-kun. Aku lelah menunggumu, lho."


Sambil berkata begitu, dia melompat turun dari meja guru untuk menyambutku. Dialah dalang yang memanggilku ke sini.


Namanya adalah Haruno Mika.


Dia adalah main heroine di dunia ini, sekaligus satu dari empat gadis tercantik yang menjadi kebanggaan sekolah kami.


Aku datang lumayan cepat, jadi jangan merasa tidak enak. Jadi, apa yang mau dibicarakan?"


"Ah, emm, itu lho..."


Sang Main Heroine itu menatapku, lalu tiba-tiba pipinya merona dan dia mulai terbata-bata.


Dipanggil. Ruang kelas kosong sepulang sekolah. Hanya ada satu laki-laki dan satu perempuan. Jawaban yang bisa ditarik dari situasi ini cuma satu.


Ya. Pengakuan cinta—


"Kemarin, akhirnya aku pulang sambil bergandengan tangan dengan Kaisei!"


"Lembek. Kita sudah buat rencana sedetail itu, harusnya sampai ciuman dong. Dasar si rambut pink payah. Karena kamu begini, makanya perempuan lain jadi punya celah buat masuk. Dasar bodoh."


"Fuguhh!?"


—Bukan pengakuan, tapi konsultasi cinta.


Karena suatu kejadian tak terduga, aku berakhir menjadi penasihat bagi Main Heroine yang agak payah ini. Jadi, sama sekali tidak ada hubungan asmara antara Haruno dan aku; kami hanyalah teman dengan sedikit dinamika senior-junior dalam hal pengalaman hidup.


Kisah tentang "Figuran yang berpacaran dengan Heroine Utama" yang belakangan ini sedang populer tidak akan dimulai di sini. Lagipula, karena dunia ini memiliki kekuatan paksaan alur cerita, hal itu benar-benar mustahil.


Makhluk selevel figuran tidak akan bisa merebut hati para Main Heroine. Namun, sepertinya perubahan kecil di luar itu tidak masalah, karena berkat saranku, hubungan asmara antara Haruno dan Kaisei terus mengalami kemajuan... seharusnya begitu. Aku sudah mencoba ini-itu selama setahun, tapi karena tidak ada kemajuan yang nyata, aku tidak punya bukti kuat.


Yah, kalau dipikir ini adalah kesempatan melihat sub-event yang tidak digambarkan di karya aslinya, ini lumayan menarik juga. Tapi sebagai penasihat, aku benar-benar merasa gemas, aku ingin mereka segera menghancurkan status "teman masa kecil" itu.


"Nggak perlu sampai segitunya, aku kan sudah berjuang sebisaku tahu~! Kali ini, aku bahkan pakai banyak deodoran supaya tanganku tidak berkeringat. Puji aku sedikit kenapa sih~"


"Sudah kubilang kan, aku baru akan memujimu kalau kamu sudah ciuman atau menyatakan cinta."


"Mustahil, mustahil! Dua-duanya tingkat kesulitannya terlalu tinggi!"


"Kalau begitu, tidak ada pujian sampai saat itu tiba."


"Tega banget~!?"


"Yah, tapi sepertinya ada kemajuan meski selambat siput. Ini, aku kasih permen Pine* sebagai hadiah."


"Benarkah!? Makasih!"


Melihat Haruno yang langsung ceria begitu tahu akan diberi permen, aku hanya bisa menghela napas.


Apakah Heroine yang super penakut ini benar-benar bisa menyatakan cintanya dalam waktu satu tahun ke depan? Aku tahu dia sudah berusaha keras, tapi sejujurnya aku sangat merasa cemas. 


Aku memasukkan permen ke mulut untuk mengalihkan perasaan suram itu. Manisnya permen terasa sedikit meredakan kecemasanku.


Sambil menatap ke luar jendela memikirkan saran apa lagi yang harus kuberikan, Haruno tiba-tiba menarik ujung seragamku. 


"Nee, nee, Nakayama-kun?"


"Apa?"


"Sudah setahun sejak kita masuk sekolah, apa kamu masih belum menemukan gadis yang kamu rasa cocok?"


Biasanya di saat seperti ini dia akan bertanya, "Apa kamu punya ide bagus?" untuk meminta saran, tapi sepertinya hari ini arah anginnya berbeda. Terkena serangan mendadak dari arah yang sama sekali tidak terduga membuat jantungku berdegup kencang.


Kalau diingat-ingat, saat SMP dulu Haruno pernah bertanya dengan gigih, "Kenapa kamu tidak jatuh cinta padaku?", dan saat itulah aku menceritakan tentang targetku. Kupikir dia sudah lupa sepenuhnya, tapi sepertinya ada sesuatu yang membuatnya teringat kembali.


"...Yah, aku sudah menemukan orangnya."


Meski dalam hati mengeluh karena urusannya jadi merepotkan, aku menjawab dengan jujur. Karena aku sudah jatuh hati pada Tanaka-san, akan jadi masalah kalau aku menutup-nutupinya di sini lalu dia malah menawariku untuk mengenalkannya pada teman-temannya.


"Benarkah!? Siapa-siapa, beri tahu dong? Apa aku mengenalnya?"


Seperti yang sudah kuduga, Sang Main Heroine di sampingku ini langsung menanggapi dengan antusiasme yang luar biasa. Matanya berbinar-binar sambil mengguncang bahuku, menyuruhku cepat mengaku. Benar-benar menjengkelkan.


"Mungkin kamu pernah bicara dengannya."


"Eh!? Berarti, jangan-jangan dia teman sekelas kita? Kalau begitu, pasti Reno-chan ya."


Haruno menyebutkan nama Main Heroine lain dengan wajah sok tahu.

Kalau lawannya adalah figuran laki-laki biasa di sekolah ini, menebak salah satu dari 'Empat Putri Musim' selain Haruno pasti akan kena, tapi sayangnya aku bukan figuran biasa.


"Kan aku bilang 'mungkin', dasar bodoh. Dia orang yang hampir tidak punya hubungan denganmu. Bukan salah satu dari Empat Putri Musim."


Mendengar nada bicaraku yang lelah, dia setuju. 


"Begitu ya. Yah, Nakayama memang musuh kuat yang bahkan aku pun tidak bisa menaklukkannya. Pasti seleramu tidak sesederhana itu."


Tapi ada kata-kata yang tidak bisa kuabaikan dalam ucapannya.


"Lagipula kamu memang tidak pernah mencoba menaklukkanku, kan?"


"............"


"Kenapa diam?"


Saat aku mendesaknya, Haruno memalingkan wajah dengan canggung.


"...Sebenarnya, waktu kita pertama kali bertemu, aku sempat mengetes apakah kamu benar-benar tidak akan jatuh cinta padaku."


"Hah!?"


Mendengar pengakuan tak terduga dengan suara lirih itu, aku spontan berteriak kaget.


Aku terkejut karena Haruno, sang Main Heroine, melakukan hal seperti itu, tapi yang lebih mengejutkan adalah aku sama sekali tidak merasa pernah diperlakukan begitu.


"Omong-omong, apa saja yang kamu lakukan?"


"Menyentuh tangan atau bahu tipis-tipis, mencoba mengandalkanmu saat sedang sedikit kesulitan, atau memberikan 'Senyuman Haruno' tepat di depan wajahmu."


"Laki-laki tidak segampang itu jatuh cinta cuma gara-gara hal receh begitu, tahu!? Jangan remehkan kami!"


"Ma-maafkan aku."


Tapi setelah mendengar ceritanya, wajar saja aku tidak sadar. Pendekatan dari Haruno itu terlalu remeh untuk disebut sebagai pendekatan. Biasanya kalau mau mengetes apakah seseorang akan jatuh cinta, orang akan memberikan kode soal ciuman tidak langsung, atau menunggu di depan gerbang sekolah untuk pulang bersama, kan?


Yah, karena Haruno adalah main heroine, meski dia tidak melakukan hal-hal ekstrem pun, lawan bicaranya biasanya akan jatuh cinta sendiri, jadi wajar kalau dia berpikiran begitu. Tapi tetap saja, usahanya itu terlalu payah.


Benar kata para pembaca (di kehidupanku sebelumnya) yang menjulukinya "Si Paling Payah dalam Percintaan" atau "Bahkan Lebih Cupu dari Kita-kita". Gelar itu memang bukan sekadar isapan jempol.


"Begitu ya. Tapi kalau bukan salah satu dari kami, aku jadi tidak tahu siapa. Nakayama-kun tipe yang bisa mengobrol dengan siapa saja, jadi kalau dibilang ada orang yang spesifik, aku tidak bisa membayangkannya. Ah, aku tahu! Pasti gadis yang duduk di sebelahmu, kan?"


"......Yah, entahlah."


Namun, kemampuannya menunjukkan ketajaman insting di saat-saat aneh memang persis seperti di karya aslinya. Meski jantungku berdegup kencang, aku bersikap ambigu agar isi hatiku tidak terbongkar.


Haruno menatap wajahku lekat-lekat, tapi akhirnya dia berkata, "Kayaknya bukan, deh," lalu memandang ke arah lain sambil bersedekap dan mulai bergumam bingung.


Sepertinya aku berhasil mengelabuhinya. Aku mengembuskan napas yang sedari tadi kutahan dan menatap ke luar jendela. Tak lama, mataku bertemu dengan bayangan Haruno di kaca jendela.


"Benar-benar tidak tahu, nih. Hei, beri tahu inisialnya saja dong?"


"Ditolak. Tidak ada untungnya memberi tahumu."


"Eeh, tidak juga kan!? Saran dari sudut pandang perempuan itu sangat berguna, lho."


"Tanpa saranmu pun aku bisa melakukannya sendiri."


"Hah!? Benar juga."


"Kamu ini pintar sekolah tapi sebenarnya bodoh ya."


"Berisik! Apa salahnya memberi tahu, kita kan sudah kenal sejak SMP. Tidak adil kalau cuma rahasiaku yang terbongkar—!"


"Iya, iya. Yah, mungkin suatu saat nanti kalau waktunya sudah tepat aku akan cerita."


"Suatu saat itu kapan?!~~"


"Mungkin sekitar saat kamu sudah masuk liang kubur."


"Itu sih namanya tidak niat cerita selamanya!?"


Setelah itu, aku terus meladeni rengekan Haruno yang berusaha mencari tahu siapa orang yang kusukai, hingga akhirnya hari itu berakhir tanpa rapat strategi apa pun.


"Oh iya, Nakayama-kun. Ini untukmu."


Saat berpisah, dia menyerahkan sebuah wadah kedap udara padaku.

Begitu tutupnya dibuka, terlihat dua potong karaage dengan warna keemasan yang cantik.


"Ini jangan-jangan...?"


"Iya. Akhirnya, aku berhasil mereproduksi rasa masakan rumah Kaisei! Hebat, kan?"


Melihat tatapanku, Haruno membusungkan dada dengan bangga.


"Aku tidak tahu soal rasanya, tapi intinya kamu sudah berjuang keras ya. Mengingat dulu saat SMP kamu itu 'mesin pembuat arang', fakta bahwa kamu bisa membuat ayam goreng secantik ini benar-benar mengejutkan."


"Duh, lupakan soal masa lalu itu!"


Haruno wajahnya memerah malu karena ejekanku. Melihatnya memukul-mukul bahuku dengan pelan, aku merasa agak haru.


Haruno aslinya adalah tipe heroine yang tidak bisa masak. Tapi dia sendiri merasa minder akan hal itu, apalagi heroine lain punya kemampuan masak tingkat tinggi. Karena itu, dia sempat menghindari memasak. Namun, sejak cokelat buatan tangan yang kupaksa dia buat pada hari Valentine tahun lalu berhasil—aku bilang saat itu, "Meski bentuknya jelek, barang buatan tangan itu bikin senang. Jadi, biarpun payah, lakukan saja"—dia jadi sering berlatih masak.


Meski laporan kegagalannya masih lebih banyak, justru karena itulah aku merasa senang saat mendengar laporan keberhasilannya seperti ini. Mungkin karena dia punya sisi pekerja keras seperti inilah aku tetap mau menjadi penasihatnya.


"Enak kok, beneran."


"Benarkah!? Yess!"


Mendapat jaminan dariku, Haruno melompat-lompat kegirangan. Pemandangan itu sangat menyejukkan hati, sampai-masih aku ikut merasa senang.


"Ngomong-ngomong, kudengar Kaisei malam ini bakal makan malam sendirian di rumah, lho."


"Eh?"


"Makanya, bawakan ini untuknya. Dia pasti senang."


"Be-benarkah? Kaisei tahu aku payah memasak, apa dia tidak akan keberatan?"


"Kalau disuguhi ayam goreng seenak ini, dia pasti senang. Aku jamin. Jadi, pergi sana. Kalau tidak pergi, aku tidak mau memberimu saran lagi selamanya."


"Tega banget!?"


"Yah, begitulah. Dah!"


Memberi bantuan sekecil ini tidak masalah, kan? Hari ini tidak ada hubungannya dengan alur cerita utama di novel, jadi harusnya tidak akan ada yang mengganggu mereka.


"Tunggu sebentar dulu dong—!?"


Haruno yang tidak tahu urusan di balik layar tentu saja kebingungan dengan desakanku yang tiba-tiba, tapi aku mengabaikannya dan meninggalkan gedung sekolah lama.


Saat hendak langsung pulang, tenggorokanku terasa kering, jadi aku mampir ke mesin penjual otomatis terdekat. Seperti biasa, aku membeli Poca*i untuk membasahi kerongkongan, dan saat itulah terdengar suara trompet dan seruling. Karena lagu yang dimainkan berbeda-beda, sepertinya hari ini adalah jadwal latihan mandiri.


Berpikir mungkin Tanaka-san juga sedang latihan, aku mengarahkan pandangan ke gedung sekolah utama dan kebetulan melihatnya sedang meniup trompet di pojok koridor.


"Aku pernah mendengar permainan orkestranya, tapi aku belum pernah mendengar permainan solo Tanaka-san."


Merasa penasaran, aku diam-diam berpindah ke posisi di mana suaranya terdengar lebih jelas. Lalu, sambil meminum Poca*i, aku mempertajam pendengaran.


Permainan Tanaka-san sangat teliti, bahkan orang awam pun bisa tahu betapa dia sangat memperhatikan setiap nada.


"っ!?"


Namun, bukan berarti dia tidak pernah melakukan kesalahan. Terkadang nadanya meleset sedikit. Tapi, setiap kali itu terjadi, Tanaka-san akan mengulang-ulang bagian yang sama berkali-kali. Jika dia merasa bagian itu sangat sulit, dia akan bergumam seperti, "Di sini harusnya begini," atau "Jari harus bergerak lebih cepat," sambil terus meniup trompetnya.


Mungkin waktu sudah berlalu sekitar tiga puluh menit?


Akhirnya, dia berhasil meniup seluruh bagian lagu tanpa melakukan satu pun kesalahan. Terdengar suara "Yess!" dari mulut Tanaka-san. Suara itu dipenuhi dengan rasa kepuasan dan kegembiraan yang luar biasa.


Tanpa sadar, aku yang ikut merasa senang pun melakukan fist pump. Tapi, itu adalah kesalahan besar. Sialnya, tanganku mengenai botol minuman yang kutaruh di sampingku, lalu klontang, klontang, botol itu jatuh menggelinding menuruni tangga.


"Nakayama-kun!?"


"Yo-yo."


Akhirnya, aku berpapasan dengan Tanaka-san yang datang untuk memastikan asal suara tersebut.


Begitu dia melihatku sedang duduk di tangga, wajahnya seketika memerah padam.


"Kamu... mendengarnya, kan?"


"Iya."


Dalam suasana yang canggung itu, saat aku mengangguk pelan menjawab pertanyaannya, dia seolah sudah tidak tahan lagi dan menyembunyikan wajahnya di balik trompet.


"Maafkan aku. Sudah membuat telingamu kotor karena suara burukku."


"Tidak, sama sekali tidak. Aku justru merasa senang mendengarnya perlahan-lahan mulai terbentuk menjadi lagu."


"Kamu tidak perlu memaksakan diri menghiburku begitu. Aku ini payah, jadi mendengarnya pun pasti tidak akan menyenangkan. Padahal lagu ini sangat bagus, aku merasa bersalah karena tidak bisa menunjukkan permainan yang sempurna kepadamu."


Aku sudah mengutarakan perasaanku yang jujur, tapi sepertinya situasinya tidak memungkinkan bagi Tanaka-san untuk menerima kata-kataku apa adanya. Dia pun berjongkok sambil tetap memeluk trompetnya. Dari sosoknya itu, terpancar aura negatif yang cukup kuat.


Yah, kalau sesama anggota klub mungkin masih mending, tapi didengarkan berkali-kali saat sedang melakukan kesalahan oleh orang yang tidak ada hubungannya sama sekali... wajar saja dia merasa begitu.


(Sumpah, maaf banget ya.) 


Aku merasa bersalah melihatnya seperti itu, tapi aku bingung harus berkata apa, jadi mataku hanya bisa memandang ke sana kemari. Kemudian, aku mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, dan rasanya berbagai emosi di kepalaku sedikit terurai. Mungkin, kalau sekarang aku bisa mengatakannya.


"Meskipun tidak sempurna, setelah mendengar permainanmu, aku tetap merasa lagu ini adalah lagu yang indah."


"......"


"Ini benar-benar bukan sekadar penghiburan. Karena mendengarnya berulang-ulang, aku jadi menyadari hal-hal yang biasanya terlewatkan. Seperti, 'oh, di bagian ini berubahnya begini', atau 'ternyata nada di sini sulit ya'. Pemahamanku terhadap lagunya jadi lebih dalam dan itu menyenangkan. Kalau permainannya sudah sempurna sejak awal, aku rasa aku tidak akan menyadari hal-hal seperti itu. Terima kasih ya."


Setelah selesai bicara, aku jadi cemas apakah maksudku tersampaikan dengan baik. Soalnya aku bicara begitu saja mengikuti dorongan perasaan tanpa rencana. Namun, aku hanya berharap Tanaka-san tahu bahwa apa yang dia lakukan itu tidak sia-sia dan punya arti. Bahwa pemandangan latihannya adalah sesuatu yang hebat karena mampu menggerakkan hati seorang pendengar.


Setelah keheningan menyelimuti selama sekitar sepuluh detik, suara lirih seperti desisan nyamuk bergema pelan di tangga, "............Kalau begitu, syukurlah."


"Tapi, aku tetap ingin kamu mendengar permainan yang sempurna di acara resminya nanti, jadi aku akan berusaha. Aku yakin kalau begitu, kamu akan semakin menyukai lagu ini."


Setelah itu, Tanaka-san akhirnya memunculkan wajahnya dari balik trompet dengan pipi yang masih sedikit merona. Namun, aura negatif yang tadi meluap-luap sepertinya sudah agak mendingan.


"Sip, begitu dong semangatnya. Tapi, jangan terlalu memaksakan diri demi kesempurnaan ya."


"Aku mengerti. Tapi, aku akan berusaha sebisa mungkin. Karena impianku adalah bisa bermain sesempurna orang itu."


Ujar Tanaka-san sambil tersenyum malu-malu. Sepertinya dia memiliki sosok yang dia jadikan panutan.


Aku sempat penasaran siapa orang itu, tapi karena instingku bilang itu bukan laki-laki, aku memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.


Yah, meskipun laki-laki pun, katanya "kagum" adalah perasaan yang paling jauh dari "cinta", jadi harusnya aman.


Mungkin.


Sambil meyakinkan diri sendiri, aku pun berdiri. "Maaf ya tadi mendengarkan tanpa izin. Aku pergi dulu supaya tidak mengganggu." Sebenarnya aku ingin mendengar lebih lama lagi, tapi dia pasti belum ingin permainannya didengar olehku sekarang. Lebih baik segera mundur sebelum mengganggu latihannya.


"Anu, Nakayama-kun."


"Hmm?"


Tepat sebelum aku menuruni tangga, Tanaka-san memanggil namaku, dan aku menoleh ke belakang.


"Lagu hari ini... akan dimainkan di Open School bulan depan. Jadi, kalau kamu ada waktu, datanglah untuk mendengarkannya. Kalau begitu, hati-hati di jalan ya saat pulang."


Setelah mengatakan itu, Tanaka-san menghilang dari bordes tangga.


(Eh? Barusan aku... baru saja diajak oleh Tanaka-san?) 


Ditinggal sendirian, aku hanya bisa berdiri terpaku di tempat seperti orang yang baru saja terkena sihir.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close